CAHAYA CINTA ROSULULLOH

Malam sayyidul ayyam
malam penuh bertabur bintang
sholawat salam kucurahkan padamu ya Rosulallah
Alunan syahdu qosidah rindu kami dendangkan

Syaikh Uumar Ad-Dhoba’i As-suury Tsummal Makky
Dengan Suara merdunya
Menggetarkan kalbu insan yang mendengarkannya

Tak lupa Syaikh Nasir Mansur menyuarakan,
Bait-bait rindu mahabbah
Meneteskan air mata cahaya cinta Rosulallah
Bersama Syaikhuna Maimoen Zubair maha guru kami
Para asatidz dan para santri

Cahaya cinta perlahan mengilaukan
Dimata Syaikhuna Maimoen Zubair
Deraian air mata membasahi pipi beliau

Indah dan tenang
Seperti pergi berperang bersama nabi ke badar
Bertabuh genderang perang

Mauidhotul hasanah Syaikhuna Muhammad Najih
Membakar api semangat tuk mencintaimu ya Rosulallah

Rindu kami tak terbendungkan
Ketika sholawat salam tercurahkan padamu
Dengan diiringi tabuhan genderang hadroh

Tubuh bergetar bergoyang dengan lembutnya seperti terhipnotis
Tak terasa air mata ini mengalir,, ya Rosulallah

Kun mai’ ya Rasulallah
Kun mai’ ya Habiballah
Kun mai’ ya Syafi’una

Bahagia hati ini, cahaya cinta kami ya Rosulallah
Rindu Kami tak bertepi ya Rasulullah
Tangisan cinta kami di taman surga bersamamu ya Rosulallah

Galeri

Anasyid wal madaih bersama syeikh umar adl-dlobba’

Acara bersolawat yang diselenggarakan tanggal 05 januari 2018 kemarin bersama syaikh Umar Ad-Doba’ telah memberikan suasana yang meriah, lantunan madaihnya seolah menggetarkan bumi sarang, seakan-akan senandung solawat itu mengundang Nabi Muhammad SAW untuk menyaksikan acara yang semoga diberkahi itu. Syaikh Umar Ad-Doba’ adalah munsyid abuya sayyid Muhammad yang sekarang telah bermukim di mekkah al-mukarromah, sebenarnya belau adalah orang syiria yang mengabdikan dirinya untuk berkhidmah kepada putra sayyid Muhammad yaitu sayyid Ahmad. Karena itu beliau sekarang memilih untuk bermukim di mekkah untuk menelusuri jejak hikmah gurunya dengan menjadi munsyid.
Diacara solawatan tersebut Syaikh Umar ditemani para masyaikh sarang yang juga termasuk khoriji abuya Sayyid Muhammad diantaranya Syaikhuna Muhammad Najih, Syaikhuna Abd.Rouf, Syakhuna Idror dan juga Ags.Roqib. Hadir juga Syaikh Nashir Mansur dari jakarta sebagai pendamping syaikh Umar, suara merdunya syaikh Nasir menambah antusias para hadirin untuk lebih menghayati makna solawat, kemeriahan acara semakin bertambah ketika guru besar kita syaikhuna Maimoen Zubair hadir untuk menikmati keberkahan acara tersebut.
Senandung sholwat memang mempunyai makna yang tinggi, sepatah kata اللهم صل على محمد saja Allah membalasnya dengan 10 kebaikan kepada yang mengucapkannya karena ini sesuai dengan hadist Rasulullah SAW: مَنْ صَلَّى عَلَيَّ مَرَّةً وَاحِدَةً كَتَبَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ لَهُ بِهَا عَشْرَ حَسَنَاتٍ terseling Mauidzotul Hasanah syaikhuna Muhammad Najih yang isinya kurang lebih beliau berharap dengan adanya acara bersolawat ini semoga dapat mengikis kemaksiatan-kemaksiatan yang terjadi di indonesia terutama di sarang.
Dipenghujung acara diberkahi dengan doa syaikhuna Maimoen Zubair sebagai tanda penutup acara, senandung sholawat bersama syaikh Umar Ad-Doba’ ini akan menjadi sejarah yang indah untuk dikenang para santri begitu juga para masyayikh sarang.

Imam Ahmad bin Hanbal Pelopor Gerakan Salafi (?)

Pada hari Sabtu 25 November 2017, penulis mengikuti sebuah diskusi Ilmu Kalam. Temanya adalah tentang gerakan Salafiyah atau yang dimaksud dengan Wahabi. Dalam makalah yang dipresentasikan dalam forum tersebut ada satu pernyataan yang menurut penulis sangat mencengangkan, yakni bahwa termasuk pelopor gerakan Salafiyah adalah Ahmad bin Hanbal disandingkan dengan Ibnu Taimiyyah dan Muhammad bin Abdul Wahab. Jadi selama ini Ahmad bin Hanbal yang diyakini oleh kalangan Ahlussunnah wal Jama’ah sebagai pejuang akidah Aswaja yang begitu terkenal dengan kegigihannya mempertahankan akidah “Al-Quran bukan makhluk” melawan represi pemerintahan khalifah al-Ma’mun, ternyata merupakan salah satu “pelopor” gerakan Salafi yang akhirnya menjadi Wahabi. Dalam makalah tersebut ditulis:
“Ketenarannya sebagai tokoh salafiyah terkait erat dengan masalah yang ia alami yaitu penyiksaan yang dilakukan oleh penguasa Al-Ma’mun. Di mana para penguasa ketika itu memaksa para ulama doktrin Muktazilah tentang kemakhlukan Al-Quran. Diantara butir pemikirannya yang secara umum jelas sebagai dasar dari pemikiran Salafiyah, bahwa ia lebih suka menggunakan pendekatan tekstual daripada pendekatan ta’wil. Sedangkan yang berkaitan dengan Al-Quran apakah makhluk atau tidak, jawabnya hanya bahwa Al-Quran tidak diciptakan. Bagaimana Al-Quran sesungguhnya ia tidak mau membahas lebih lanjut. Artinya, ia kembali menyerahkan kepada Allah SWT.”

Jika ditelusuri lebih lanjut, pandangan Ahmad bin Hanbal sebagai pelopor gerakan Salafiyah sudah didakwahkan sejak lama diantaranya oleh Harun Nasution yang terkenal sebagai tokoh “pro-Muktazilahnya” Indonesia. Menurut Harun Nasution, secara kronologis Salafiyah bermula dari Imam Ahmad bin Hanbal. Lalu ajarannya dikembangkan oleh Ibnu Taimiyyah, kemudian disuburkan oleh Muhammad bin Abdul Wahab, dan akhirnya berkembang di dunia Islam secara sporadis. (Zainuddin, 2008, Ilmu Tauhid Lengkap, Jakarta: Rineka Cipta, hlm. 43-44) Pandangan seperti ini akhirnya bertebaran di berbagai buku studi Ilmu Kalam yang beredar di dunia akademik.

Tulisan ini akan menganalisa pandangan ‘miring’ tentang Ahmad bin Hanbal tersebut. Hal ini untuk tujuan mendudukkan statemen tersebut apakah fakta atau fiktif belaka sehingga yang muncul adalah fitnah kepada salah satu imam agung Madzahibul Arba’ah tersebut.

Pertama: Jalinan Kuat Ahmad bin Hanbal dan Asya’irah

Dalam pernyataan diatas ditulis, “Ketenarannya sebagai tokoh salafiyah terkait erat dengan masalah yang ia alami yaitu penyiksaan yang dilakukan oleh penguasa Al-Ma’mun. Di mana para penguasa ketika itu memaksa para ulama doktrin Muktazilah tentang kemakhlukan Al-Quran.”

Pertanyaannya, benarkah hanya karena Ahmad bin Hanbal membela mati-matian ketidakmakhklukan Al-Quran lalu dengan mudahnya beliau dicap sebagai pelopor gerakan Salafiyah?

Sebelum itu, perlu dibedakan dulu antara salaf dan salafiyah. Syaikh Muhammad Najih menjelaskan bahwa Salaf merupakan nama golongan yang mengikuti manhaj (metodologi) para Shahabat Rasulullah dan Tabi’in, termasuk di dalamnya adalah Imam Madzhab Fiqh Empat: Abu Hanifah, Malik, Syafi’i, dan Ahmad bin Hanbal. (Syaikh Muhammad Najih, al-Imam Abu Hasan al-Asy’ari wa ‘Aqidah Ahl al-Sunnah wa al-Jama’ah, hlm. 10)

Sedangkan ciri-ciri dari Salaf atau salafusshalih ada empat yaitu disebut aliran al-Jama’ah atau mayoritas kaum Muslimin, mengikuti Ijma’ ulama, memelihara kebersamaan dan kolektifitas, dan diikuti oleh al-sawad al-a’zham atau mayoritas kaum Muslimin. (Syaikh Muhammad Najih, Ahlussunnah wal Jama’ah Akidah, Syari’ah, Amaliyah, Sarang: Toko Kitab Al-Anwar 1, hlm. 12-16)

Bandingkan ciri-ciri Salaf diatas dengan kelompok yang menamakan dirinya sebagai Salafiyah yang berkembang sekarang. Selain mereka mengeksklusifkan nama “salafi” untuk diri mereka sendiri, ajaran-ajaran kelompok Salafiyah juga banyak yang bertentangan dengan karakter-karakter Salaf diatas seperti membid’ahkan pelaku tawasul dan ziarah kubur yang jelas-jelas dilakukan oleh para Shahabat dan Tabi’in, mengkafirkan dan mensyirikkan mayoritas umat Islam, meyakini akidah tajsim-tasybih yang jelas ditolak oleh Ijma’ ulama, dan lain sebagainya.

Termasuk bukti bahwa Ahmad bin Hanbal akidahnya sama dengan Asy’ariyah keterangan Syaikh Muhammad Najih, bahwa Imam Abu Hasan al-Asy’ari menyempurnakan diri beliau kembali kepada manhaj salaf ketika belajar kepada para ulama-ulama pengikut Ahmad bin Hanbal, sehingga beliau kembali kepada ajaran para salafusshalih dari Shahabat Nabi dan Tabi’in. (al-Imam Abu Hasan al-Asy’ari wa ‘Aqidah Ahl al-Sunnah wa al-Jama’ah, hlm. 10) Pengikut Hanabilah di Baghdad setelah itu selama bertahun-tahun lamanya mengikuti akidah Asya’irah sebelum terjadi masa perpecahan di zaman Abu Nashr bin Qusyairi dan menteri Nizhamul Mulk. (al-Imam Abu Hasan al-Asy’ari wa ‘Aqidah Ahl al-Sunnah wa al-Jama’ah, hlm. 8)

Jika Imam al-Asy’ari bisa kembali kepada ajaran Ahlussunnah wal Jama’ah berkat ajaran pengikut Ahmad bin Hanbal, maka sangat aneh jika ajaran Ahmad bin Hanbal bertentangan dengan muridnya sendiri. Jika memang ada riwayat valid yang menunjukkan Ahmad bin Hanbal berubah dari keyakinannya yang awal, silahkan saja ditunjukkan!

Bahkan Imam Abu Hasan al-Asy’ari dalam al-Ibanah menyatakan dengan jelas:

“Perkataan dan keyakinan kami adalah berpegang teguh kepada Kitab Tuhan kami, Sunnah Nabi kami, dan riwayat dari Shahabat, Tabi’in, dan Imam-imam Hadits, serta ajaran yang diucapkan oleh Abu Abdullah Ahmad bin Muhammad bin Hanbal.” (al-Imam Abu Hasan al-Asy’ari wa ‘Aqidah Ahl al-Sunnah wa al-Jama’ah, hlm. 16)

Dengan demikian ajaran Ahmad bin Hanbal sesuai dengan ajaran Asy’ariyah. Lalu apalagi argumentasi orang-orang seperti Harun Nasution untuk menolak bukti-bukti ini dan menguatkan pendapat mereka bahwa Imam Ahmad adalah gembong kelompok Salafiyah?

Bahkan banyak bukti yang menjelaskan bahwa Imam Ahmad bin Hanbal banyak berbeda dengan kaum Salafiyah dalam berbagai pandangan mereka, diantara sebagai berikut:

Pertama, ketika kaum Salafiyah menjelek-jelekkan Ilmu Kalam yang ditekuni oleh Asya’irah-Maturidiyah dan mengharamkan pembelajarannya, seorang ulama Hanabilah Yusuf bin Abdul Hadi al-Maqdisi menyebutkan dalam Maqbul al-Manqul min ‘Ilmay al-Jadal wa al-Ushul bahwa mempelajari Ilmu Kalam menurut Imam Ahmad bin Hanbal adalah masyru’ (disyari’atkan) dengan beberapa bukti:

1. Imam Ahmad ditanya, “Apa pendapat Anda tentang lelaki yang sibuk puasa dan shalat namun diam tidak mau membantah omongan ahli bid’ah?” Seketika wajah beliau muram dan berkata, “Apabila dia shalat, puasa, dan mengucilkan diri dari orang lain bukankah hal itu untuk dirinya sendiri?” Penanya tadi menjawab, “Iya.” Imam Ahmad melanjutkan, “Jika dia membantah ahli bid’ah maka manfaatnya bagi dia juga bagi orang lain, maka perkataannya tadi lebih utama.”

2. Imam Ahmad sering membantah dan membungkam argumen kaum Muktazilah dan Jahmiyah, dan hal ini tidak akan muncul kecuali dari orang yang mampu memadukan naql dan ‘aql sekaligus.

3. Imam Ahmad punya satu kitab khusus untuk membantah kaum Zindiq dan Qadariyah tentang ayat-ayat Mutasyabihah dalam Al-Quran dan lainnya, dan sering berhujjah dengan nalar rasional seperti penuturan ulama kenamaan madzhab Hanbali Ibn Muflih dalam al-Adab al-Syar’iyyah. (Musthafa Hamdi dan Alyan Hanbali, al-Hanabilah wa al-Ikhtilaf ma’a al-Salafiyyah al-Mu’ashirah, hlm. 181-182)

Kedua, ketika kaum Salafiyah begitu mudah memberi cah kafir kepada mayoritas umat Islam baik disuarakan secara lantang maupun disembunyikan di dalam hati atau komunitas mereka sendiri, maka Imam Ahmad berkata, “Ketika orang sudah membaca Syahadain maka dia telah masuk Islam.” Ketika Imam Ahmad ditanya tentang seorang Kristen yang masuk Islam apakah wajib bagi dia bebas dari kekristenan dan meninggalkan ajarannya sama sekali baru bisa dianggap orang Islam, maka beliau menjawab, “Ucapkanlah Syahadatain maka dia telah masuk Islam.” (al-Hanabilah wa al-Ikhtilaf ma’a al-Salafiyyah al-Mu’ashirah, hlm. 187)

Dalam hal ini, Imam Ahmad terlihat sangat longgar dalam menyebut keislaman seseorang, sehingga orang Kristen yang belum bisa lepas dari sisa-sisa ajarannya saja ketika sudah membaca syahadat sudah dikatakan Islam. Berbeda sekali dengan kaum Salafiyah-Wahabi yang begitu ‘longgar’ dalam mengkafirkan orang Islam hanya dengan ajaran ‘pembaruannya’.

Bahkan Imam Ahmad malah berkata, “Sifat seorang mukmin adalah bersaksi tiada Tuhan selain Allah, Muhammad adalah utusan Allah, mengakui ajarang yang dibawa para nabi dan rasul, berpegang teguh dengan yang terlihat, tidak ada keraguan iman, tidak mengkafirkan orang yang bertauhid sebab dosa, mengembalikan hal-hal gaib kepada Allah dan menyerahkan kepadanya…” (al-Hanabilah wa al-Ikhtilaf ma’a al-Salafiyyah al-Mu’ashirah, hlm. 188) Ini menjadi tamparan keras Imam Ahmad bin Hanbal kepada kaum Salafiyah yang gemar mengkafirkan dan menisbatkan kelompok mereka kepada beliau.

Ketiga, ketika kaum Salafiyah menjelek-jelekkan tasawuf dan menganggapnya sebagai bid’ah dan biang keladi kemunduran umat, maka Ibn Muflih, al-Bahuti, dan al-Safarini meriwayatkan sebuah cerita bahwa Imam Ahmad pernah diajak bicara seseorang, “Kaum Sufi hanya duduk-duduk di masjid tanpa ilmu dengan modal tawakkal.” Maka Imam Ahmad menjawab, “Ilmu yang menemani duduk mereka.” Lalu beliau ditanya lagi, “Mereka tidak menginginkan dunia kecuali hanya sepotong roti dan selembar kain.” Imam Ahmad menjawab, “Saya tidak pernah melihat kaum yang lebih utama daripada mereka.” Beliau ditanya lagi, “Sebagian dari mereka tidak sadar diri dan bahkan ada yang mati.” Lalu Imam Ahmad menimpali dengan Firman Allah Ta’ala:

وَبَدَا لَهُمْ مِنَ اللَّهِ مَا لَمْ يَكُونُوا يَحْتَسِبُونَ [الزمر : 47]

“Jelaslah bagi mereka dari Allah yang belum pernah mereka perkirakan.” (QS. Al-Zumar: 47) (al-Hanabilah wa al-Ikhtilaf ma’a al-Salafiyyah al-Mu’ashirah, hlm. 678)

Karena itu, Imam Syafi’i berkomentar tentang Imam Ahmad, “Imam Ahmad adalah ahli delapan hal: imam Hadits, imam Fiqh, imam bahasa, imam Al-Quran, imam dalam fakir, imam dalam zuhud, imam dalam wira’i, dan imam dalam membela Sunnah.” Selain itu, dalam kitab-kitab Thabaqat al-Shufiyyah seperti Hilyah al-Auliya karya Abu Nuaim al-Ashfihani, al-Thabaqat al-Kubra karya al-Sya’rawi, dan Kasyf al-Mahjub karya al-Hujwiri, Imam Ahmad dicatat namanya sebagai pembesar dari kaum Sufi. Bahkan kitab-kitab tasawuf seperti al-Risalah karya al-Qusyairi, al-Futuhat al-Makkiyyah karya Abu Bakr Ibn Arabi, dan Ihya ‘Ulum al-Din karya al-Ghazali banyak sekali meriwayatkan sikap sufi Imam Ahmad bin Hanbal. (al-Hanabilah wa al-Ikhtilaf ma’a al-Salafiyyah al-Mu’ashirah, hlm. 677-679)

Dari penjelasan singkat, masihkah ada dari kita yang menisbatkan Imam Ahmad bukan sebagai Imam Ahlussunnah wal Jamaah dan tetap ngotot mengatakan beliau sebagai pelopor gerakan Salafiyah?

Kedua: Ketidakmakhlukan Al-Quran

Statemen tentang Ahmad bin Hanbal selanjutnya adalah, “Diantara butir pemikirannya yang secara umum jelas sebagai dasar dari pemikiran Salafiyah, bahwa ia lebih suka menggunakan pendekatan tekstual daripada pendekatan ta’wil. Sedangkan yang berkaitan dengan Al-Quran apakah makhluk atau tidak, jawabnya hanya bahwa Al-Quran tidak diciptakan. Bagaimana Al-Quran sesungguhnya ia tidak mau membahas lebih lanjut. Artinya, ia kembali menyerahkan kepada Allah SWT.”

Pertanyaannya, apakah pendapat Ahmad bin Hanbal tentang ketidakmakhlukan Al-Quran merupakan ajaran kelompok Salafiyah? Apakah pendapat beliau ini murni tanpa dalil-dalil rasional? Pernyataan diatas seakan ingin mengatakan bahwa Ahmad bin Hanbal tidak mau menggunakan akalnya untuk menyikapi makhluk tidaknya Al-Quran. Inna liLlahi wa inna ilaihi raji’un.

Untuk menguji seberapa rasional akidah ulama salaf tentang ketidakmakhlukan Al-Quran yang diikuti oleh Ahmad bin Hanbal, kita dapat membuktikannya dengan beberapa riwayat berikut yang disebutkan oleh Syaikh Muhammad Najih dalam al-Imam Abu Hasan al-Asy’ari wa ‘Aqidah Ahl al-Sunnah wa al-Jama’ah (hlm. 31-32):

Pertama, Ahmad bin Hanbal pernah ditanya tentang sekelompok orang yang berkata Al-Quran bukanlah makhluk dan juga bukan tidak makhluk, maka beliau menjawab, “Akidah yang saya yakini dan tidak ada keraguan di dalam adalah Al-Quran bukan makhluk.” Lalu beliau memberi argumentasi dengan Firman Allah Ta’ala:

الرَّحْمَنُ (1) عَلَّمَ الْقُرْآنَ (2) خَلَقَ الْإِنْسَانَ (3) [الرحمن : 1 – 3]

“(Tuhan) yang Maha pemurah, (1) Yang telah mengajarkan Al-Quran. (2) Dia menciptakan manusia. (3)” (QS. Al-Rahman: 1-3)

Di dalam ayat ini dibedakan antara manusia dan Al-Quran, hal ini menunjukkan bahwa Al-Quran bukanlah makhluk seperti manusia.

Melihat argumentasi diatas maka terlihat Ahmad bin Hanbal menggunakan logika untuk memahami dalil naqli diatas, tidak melulu berdalil ayat Al-Quran tanpa ada penjelasan logisnya.

Kedua, Ahmad bin Hanbal berkata, “Al-Quran merupakan bagian dari ilmu Allah. Apa kalian tidak memperhatikan Firman Allah Ta’ala:

عَلَّمَ الْقُرْآنَ [الرحمن : 2]

“Yang telah mengajarkan Al-Quran.” (QS. Al-Rahman: 2)

Lanjut Imam Ahmad menjelaskan tentang ketidakmakhlukan Al-Quran:

“Dan Al-Quran termasuk Ilmu Allah. Lalu apa yang akan mereka (Muktazilah) katakan? Bukannya mereka berkata bahwa Asma’ Allah bukan makhluk? Allah selalu bersifat Qadir (Maha Kuasa), ‘Alim (Maha Tahu), ‘Aziz (Maha Agung), Hakim (Maha Bijak), Sami’ (Maha Mendengar), dan Bashir (Maha Melihat). Kita tidak ragu bahwa Asma Allah bukan makhluk, kita tidak ragu bahwa Ilmu Allah bukan makhluk, sedangkan Al-Quran merupakan bagian dari Ilmu Allah dan di dalamnya terdapat Asma Allah, maka kita tidak ragu bahwa Al-Quran bukan makhluk. Al-Quran adalah Kalam Allah Ta’ala, dan Allah selalu bersifat Mutakallim (Maka Berbicara).”

Bagi orang yang sehat pikirannya dan bersih hatinya dari berbagai kepentingan, pernyataan Imam Ahmad diatas tentu dinilai sebagai argumentasi nalar rasional. Argumentasi ini mematahkan tuduhan Muktazilah dan Jahmiyah bahwa Al-Quran adalah makhluk.

Imam Ahmad meneruskan dengan memberi peringatan terhadap orang yang menyuarakan kemakhlukan Al-Quran:

“Jika mereka mengatakan bahwa Al-Quran adalah makhluk, berarti mereka juga beranggapan bahwa Asma Allah juga makhluk, ilmu Allah juga makhluk. Akan tetapi banyak orang yang menganggapnya remeh. Mereka mudah mengatakan Al-Quran makhluk dan menyangka bahwa hal itu tidak ada masalah, padahal di dalamnya ada muatan kufurnya.”

Dari keterangan diatas, masihkah orang yang menuduh Imam Ahmad bin Hanbal tidak rasional dalam mengatakan bahwa Al-Quran bukan makhluk dapat dipertanggungjawabkan pernyataannya?

Ikhtitam

Dengan penjelasan singkat diatas, jelas bahwa penisbatan Imam Ahmad bin Hanbal sebagai salah satu pelopor gerakan Salafiyah merupakan penyimpulan tergesa-gesa tanpa melihat lebih dalam keterangan-keterangan ulama. Hal ini begitu mudah terekspos terutama di dunia akademik perkuliahan karena jargon yang selalu dikoar-koarkan, “makanlah ilmu apapun sebanyak-banyaknya dan berwacanalah sebebas-bebasnya.”

Akhirnya, kami selalu memohon kepada Allah Ta’ala untuk selalu meneguhkan hati dan ta’alluq kami kepada ulama-ulama yang istiqamah dengan ajaran Ahlussunnah wal Jama’ah dan dihindarkan dari berbagai rekayasa yang menjauhkan kami darinya. Amin Ya Rabbal ‘Alamin. WaLlahu A’lam.
** Santri Ribathdeha

​TEMU ALUMNI DEHA 1438 H, ABAH NAJIH: DIBERI TIDAK PUNYA PANGKAT ITU HARUS DISYUKURI

Demikian sepetik ngendikane Syaikh Muhammad Najih dalam acara Temu Alumni Santri Ribath Darusshohihain dan Tahfizhul Quran yang berlangsung pada Kamis 3 Dzul Qa’dah 1438 H atau 27 Juli 2017 M.
Di dalam acara rutin tiap tahun tersebut, Syaikh Muhammad Najih mengawali dengan mengatakan bahwa tawassul itu ada. Beliau lalu menceritakan bahwa tanah Ribath Darusshohihain ini dhawuh Mbah Maimoen Zubair adalah tanah milik Haji Miftah, teman Mbah Manaf Lirboyo ketika mondok dan berguru kepada Mbah Kholil Bangkalan. “Beliau itu tukang adzan. Orang Sarang terkenal suaranya bagus ketika adzan, sehingga Mbah Kholil katanya senang. Mbah Miftah ketika akan boyong diberi isyarah Mbah Kholil bakal punya pangkat. Akhirnya beliau ketika sudah berada di rumah menjadi carik (sekretaris desa). Beliau punya keponakan juga menjadi naib di Rembang,” kata beliau.

“Saya bertawassul kepada Mbah Manaf. AlhamduliLlah punya ta’alluq dengan Mbah Kholil Bangkalan,” lanjut beliau.

Abah Najih menjelaskan bahwa ada berkah dari Kiai Kholil sampai Mbah Zubair sempat diajar oleh Syaikh Said al-Yamani. “Saya pernah ke Demak menghadiri haul seorang kiai yang merupakan muridnya Mbah Kholil. Kalau disini dulu beliau jabatannya lurah pondok. Berkah Mbah Kholil tidak hanya bagi orang Madura saja, kok bisa sampai Demak juga? Di daerah Ciamis juga ada yang membaca shalawat yang berasal dari mbah Kholil. Bahkan khutbah nikah di Kajen Pati itu juga karangannya Mbah kholil.”

Kemudian, Abah Najih menceritakan bahwa zaman dulu Mbah Zubair Dahlan di Makkah ngaji kepada Syaikh Said al-Yamani, belajar Nahwu dan I’rab. “Di Sarang sini Mbah Zubair tidak pernah sekolah, tidak pernah madrasah. Namun waktu itu semarak pendidikan madrasah, barangjali karena didukung Syaikh Said itu. Kalau disini Syaikh Said sama dengan guru guru privat, tapi tidak digaji. Syaikh Said berkata kepada orang Madura bernama Syarqawi bahwa beliau giat mengajar ini karena ingin membalas kebaikan Mbah Kholil Bangkalan yang sudah mengajar tetangga-tetangganya,” ujar beliau.

“Kiai Kholil Bangkalan tiap tahun ketika ada orang haji selalu kirim uang dihaturkan kepada ulama Makkah. Dahulu ulama makkah ekonominya rendah, tapi pakaiannya necis. Pakaian ulama, pakai serban. Memang dulu belum ada tambang minyak. Saudi kaya kan setelah ada minyak. Mungkin Mbah Kholil khidmah kepada ulama begitu karena kepengen anak cucunya alim, tapi takdir Allah ya begitu. Mungkin yang alim bukan anak cucunya, tapi muhibbin beliau seperti Mbah Zubair. Memang begitu Allah Ta’ala, semuanya takdir Allah,” lanjut Abah Najih.

Beliau melanjutkan bahwa biasanya orang alim juga ingin anak cucunya jadi orang alim. “Orang yang hormat kiai biasanya anaknya menjadi kiai. Itu dulu. Tapi sekarang kok tidak? Ya mboh. Sudah mau mondok itu sudah bagus. Nanti jadi kiai malah diundang di istana, tambah repot. Jadi kiai NU, kiai liberal.”

“Jadi terkadang orang kalau banyak muridnya itu anaknya kurang terurus. Begitu ya jangan diejek. Memang begitu takdir Allah. Tapi sudah mending tidak liberal. Imam Tebuireng itu malah cucunya jadi liberal.”

Pada kesempatan tersebut Abah Najih juga menghimbau kepada para santri alumni agar ikut berpartisipasi ketika ada pelaksanaan coblosan saat Pemilu. “Maksud saya kita juga harus punya sifat nasionalis sedikit-sedikit, tapi tidak harus ikut organisasi. Kalau tidak nyoblos ini gimana? Kan namanya tidak taat dengan pemerintah,” tandas Abah mengingatkan.

Lanjutnya, “Kiai Sarang kuno itu tidak ada yang jadi pengurus NU, apalagi Mbah Mad. Orang NU tidak akan berani. Mbah Zubair seingat saya juga bukan pengurus NU, tapi kalo ada Muktamar diundang tapi ya hanya Bahtsul Masailnya saja. Kiai Sarang mendukung NU tapi tidak sepenuh hati. Masih senang mengucapkan “kamubtaghi jahin wa malan man nahadl” (syathr tsani bait Alfiyyah Ibn Malik nomor 436). Kita tidak anti NU, tapi juga tidak NU tenanan. Yang penting ngaji, itu sikap kiai Sarang kuno.”

Beliau menandaskan kembali bahwa umat Islam harus ada nasionalismenya tapi jangan sampai merasuk ke hati. “Pilkada-pilkada apalagi demokrasi itu tidak usah mlebu ati. Tapi kalo tidak ikut Pemilu itu kurang bijak. Yang repot itu besok milihnya gimana? PPP-nya sudah dipimpin orangnya Gus Dur. Romahurmuzi itu pengagum Gus Dur, aslinya PKB,” ujar beliau.

Selanjutnya, Syaikh Muhammad Najih mengharapkan agar santri Deha fokus untuk mengajar dan melakukan aktivitas untuk tujuan akhirat.

“Saya pengen pekerjaanmu untuk akhirat adalah pekerjaan khususmu. Kalau shalat jamaah dan seterusnya itu sudah maklum. Pekerjaan sampeyan dari Deha ini mengajar, ngaji atau ngajar. Kalau bisa mengajar ya AlhamduliLlah, tapi kalau tidak bisa ngajar ya muthala’ah sendiri atau mengajar anak istrinya. Ngajar ‘Uqud al-Lujain atau kitab-kitab kecil lain dalam masalah wanita itu sudah baik. Tidak harus mengajar kitab di sekolahan yang ada ijazahnya itu. Kalau ditawari ijazah sekiranya tidak mengganggu agamamu terima saja. Tapi kalau uang pemerintah ya gimana gitu. Hendaknya tidak digunakan untuk makan, paling-paling untuk beli bensin, bayar pajak, atau listrik. Kalau bisa begitu. Apalagi dapat uang 1 triliun, itu uang bancakane Islam Nusantara. Bisa juga ambil dari Naga Sembilan atau Cina, bisa juga dari dana haji. Sekarang Jokowi rencana ambil dana haji untuk infrastruktur, berarti mungkin sudah pernah ambil. Dulu untuk Islam Nusantara, sekarang untuk dzikir kebangsaan. Harus hati-hati,” tandas beliau.

Beliau kemudian membahas sedikit tentang sejarah kiprah etnis Cina di Indonesia. “Saya kemarin tidak sengaja ngomong di Sumenep, dulu zaman Belanda etnis Cina itu sudah dinomorsatukan oleh penjajah. Kasta pertama tentu Belanda, kedua Cina, ketiga kaum priyayi, kaum santri paling terakhir. Kan ada cerita bahwa dulu di Pandeglang, Cilegon, atau Tangerang orang Cina ditugaskan Belanda untuk memungut pajak. Patungnya ada di TMII, kemudian disindir oleh Habib Rizieq. Patung Cina itu lalu diabadikan oleh Cahyo Kumolo yang keturunan Cina itu. Cina sudah lama dikader oleh Belanda untuk memimpin Indonesia, ini yang bahaya. Dia kelihatannya baik di hadapan kiai, tokoh, apalagi kaum priyayi. Ngerti unggah ungguh, kalau membunuh orang mengerti aturannya untuk tidak banyak-banyak. Beda dengan Perancis,” kata Abah Najih.

Lanjut beliau, “Saya kemarin membaca di Whatsapp grup Brebes, ada info tesis dari doktor perempuan dari Jerman bahwa Perancis telah membantai sejuta lebih orang Aljazair atau Tunisia. Kalau Belanda kan tidak seperti itu, tapi tetap saja jenenge Barat yang tetap mangkel. Akhirnya Cina yang diperintahkan untuk memecah belah dengan menjadi tukang narik pajak. Akhirnya saya ngomong Cina itu bisa kaya karena pajaknya dikurangi, kalau pribumi dipungut penuh. WaLlahu A’lam. Mereka sudah lama digadang untuk memimpin Indonesia, makanya harus hati-hati. Nanti akhirnya jadi komunis. Kerjasama antara orang Cina di daerah asalnya dengan orang Cina di Indonesia lewat komunis.”

Abah Najih menandaskan kembali bahwa berkah itu ada, ketika santri tidak memiliki pangkat itu adalah kondisi yang harus disyukuri, dan agar selalu giat berdoa dan wiridan untuk menjaga dirinya. “Sekarang ada orang ngomong kita ini tidak maksum, kita ini hatta ulama hatta kiai adalah manusia. Kalau kita sewaktu-waktu diundang ke acara yang berbau liberal, ya ngomong saja ada udzur syar’i seperti sakit. Sakit hatinya. Pokoknya giat wiridan, membaca Hizib Sakron, Ratib Atthas, Ratib Haddad, Hizib Nawawi. Diniati untuk menjaga dirinya. Kalau niatnya hanya untuk menolak orang yang ngomel, caci maki, ya kecil itu. Dicaci maki itu fitnah kecil, biasa itu. Yang berat itu kamu dipuja-puja, itu yang paling bahaya. Penting kuat imannya, dicaci tidak apa-apa. Sebenarnya alim tapi dibuat tidak bisa bicara, itu sudah biasa biar tidak diberi pangkat kok. Seng tenang, seng syukur. Dibuat tidak bisa ngomong itu harus syukur. Sekarang bisa mengajar ya syukur tapi harus hati-hati, apalagi yang pinter orasi itu. Nanti direkrut HTI, direkrut NU kan repot. Apalagi direkrut PKB,” ujar Abah Najih.

“Berkah itu ada. Kalian tidak terlalu terlihat di ormas itu harus disyukuri. Yang penting bisa ngajar, kan? Gak dianggep alim ya wes. Nanti dianggep alim malah diincar. Pokoknya santai, banyak-banyak tawadlu’ semoga anak cucunya diselamatkan Allah.”

Di akhir mauizhah, Abah Najih mengajak para alumni untuk selalu berdoa agar diselamatkan oleh Allah Ta’ala. “Moga-moga pondoknya tetap salaf, agar besok bisa untuk mondok anak-anaknya, anak cucu sampeyan. Semoga saya punya keturunan, dan sebelum punya keturunan pokoknya ada yang meneruskan.”

“Yang penting ngajar, muthala’ah, ngaji Al-Quran, dan wiridan untuk keselamatan dan tetap salaf dan lurus. Semoga bisa meneruskan. Semua ini dari Allah. Dulu saya pernah cerita kalau Sayyid Muhammad pernah bertanya, “Kalo kamu punya uang satu juta mau kamu gunakan untuk apa?.” Terus saya jawab ingin bangun zawiyah atau rubath yang banyak wiridannya tapi bukan untuk ndukun, tapi bantu ilmu dan perjuangan Islam.”

Beliau mengakhiri mauizhah beliau dengan membaca doa yang diamini oleh seluruh alumni putra putri yang hadir di acara tersebut. AthalaLlahu baqa’ahu wa razaqahu al-shihhah wa al-‘afiyah wa al-istiqamah ‘ala al-thariqah al-salafiyyah, wa nafa’ana bi ‘ulumihi wa a’malihi wa akhlaqihi. Amin ya Rabb al-‘alami. WaLlahu A’lam.

KEJANGGALAN TAFSIR “RAHMATAN LIL ALAMIN” AHMAD ISHOMUDDIN

TEBARKAN RASA KASIH SAYANG
Oleh: Ahmad Ishomuddin

Islam adalah agama yang membawa misi kasih sayang (rahmat). Allah berfirman dalam Qs. al-Anbiya’ ayat 107:

وما أرسلناك إلا رحمة للعالمين

“Kami tidak mengutusmu kecuali sebagai rahmat bagi alam semesta”

Secara tegas ayat di atas menunjukkan bahwa rahmat (kasih sayang) itu tidak terbatas bagi orang-orang yang beriman saja, melainkan juga mencakup seluruh makhluk-Nya, baik yang beriman maupun tidak.

Rahmat (kasih sayang) dalam perspektif ajaran Islam adalah kebebasan dan kelapangan untuk menentukan pilihan. Manusia bebas memeluk dan mengamalkan agamanya masing-masing. Sedangkan umat Islam tidak dibenarkan berucap atau berbuat untuk mengganggu, menyakiti, merusak, atau menghalangi non muslim untuk melaksanakan ibadah, karena semua itu berlawanan dengan rasa kasih sayang. Apalagi memaksa mereka untuk memeluk Islam. Tidak ada paksaan dalam agama.
____________________________

TANGGAPAN ILMIAH SANTRI-SANTRI RIBATH DARUSSHOHIHAIN

​قال الإمام القرطبي في تفسيره [الجامع لأحكام القرآن؛ ج11/ص350]: قوله سبحانه وتعالى: (وما أرسلناك إلا رحمة للعالمين(، قال سعيد بن جبير عن ابن عباس قال: كان محمدا صلى الله عليه وسلم رحمة لجميع الناس، فمن آمن به وصدّق به سعد, ومن لم يؤمن به سلم مما لحق الأمم من الخسف والغرق. وقال ابن زيد: أراد بالعالمين المؤمنين خاصة.
______TAFSIR IMAM QURTHUBI_______

وأخرج ابن جرير وابن أبي حاتم والطبراني وابن مردويه والبيهقي في الدلائل عن ابن عباس في قوله: (وما أرسلناك إلا رحمة للعالمين( قال: من آمن تمت له الرحمة في الدنيا والآخرة. ومن لم يؤمن عوفي مما كان يصيب الأمم في عاجل الدنيا من العذاب من الخسف والمسخ والقذف.

قوله عزّ وجل: (وما أرسلناك إلا رحمة للعالمين( قيل: كان الناس أهل كفر وجاهلية وضلال وأهل الكتابيين كانوا في حيرة من أمر دينهم لطول مدتهم وانقطاع تواترهم ووقوع الاختلاف في كتبهم فبعث الله محمدا صلى الله عليه وسلم حين لم يكن لطالب الحق سبيل إلى الفوز والثواب فدعاهم إلى الحق وبين لهم سبيل الصواب وشرع لهم الأحكام وبين الحلال من الحرام. قال الله تعالى: (وما أرسلناك إلا رحمة للعالمين( قيل: يعني المؤمنين خاصة فهو رحمة لهم. وقال ابن عباس: هو عام في حق من آمن ومن لم يؤمن. فمن آمن فهو رحمة له في الدنيا والآخرة، ومن لم يؤمن فهو رحمة له في الدنيا بتأخير العذاب عنه ورفع المسخ والخسف الاستئصال، قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: «إنما أنا رحمة مهداة». اهـ [تفسير الخازن؛ ج3/ص278-279].
___________TAFSIR KHOZIN__________

قال الإمام ابن كثير: وقوله: (وما أرسلناك إلا رحمة للعالمين( يخبر الله تعالى أن الله جعل محمدا صلى الله عليه وسلم رحمة للعالمين أي أرسله رحمة لهم كلهم، فمن قبل هذه الرحمة وشكر هذه النعمة سعد في الدنيا والآخرة، ومن ردّها وجحدها خسر الدنيا والآخرة كما قال تعالى: (قل هو للذين آمنوا هدًى وشفاء والذين لا يؤمنون في آذانهم وقرٌ وهو عليهم عمًى أولئك ينادون من مكان بعيد)

وقال مسلم في صحيحه: حدثنا ابن أبي عمر حدثنا مروان الفزاري عن زيد بن كيسان عن ابن أبي حازم عن أبي هريرة قال: قيل: يا رسول الله ادع على المشركين، قال: «إنّي لم أبعث لعانا وإنما بعثت رحمة». انفرد بإخراجه مسلم. وفي الحديث الآخر: «إنما أنا رحمة مهداة» رواه عبد الله بن أبي عوانة وغيره عن وكيع عن الأعمش عن أبي صالح عن أبي هريرة مرفوعا، وأورده ابن عساكر من طريق الصلت عن ابن عمر قال: قال صلى الله عليه وسلم: «إن الله بعثني رحمة مهداة بعثت برفع قوم وخفض آخرين».

وروى الإمام أحمد قال صلى الله عليه وسلم: «والذي نفسي بيده لأقتلنهم ولأصلبنهم ولأهدينهم وهم كارهون إني رحمة بعثني الله ولا يتوفاني حتى يظهر الله دينه، لي خمسة أسماء، أنا محمد، وأحمد، وأنا الماحي الذي يمحو الله بي الكفر، وأنا الحاشر الذي يحشر الناس على قدمي، وأنا العاقب».

وروى الإمام أحمد أيضا عن سلمان الفارسي أنه قال لحذيفة: يا حذيفة إن رسول الله صلى الله عليه وسلم خطب فقال: «أيما رجل سببته في غضبي أو لعنته لعنة فإنما أنا رجل من ولد آدم أغضب كما تغضبون، وإنما بعثني الله رحمة للعالمين فاجعلها صلاة عليه يوم القيامة» ورواه أبو داود. اهـ [تفسير ابن كثير؛ ج3/ص201-201] باختصار وحذف للأسانيد.
________TAFSIR IBNU KATSIR________

وقال الإمام فخر الدين الرازي: أما قوله تعالى: (وما أرسلناك إلا رحمة للعالمين( ففيه مسائل:

المسألة الأولى: أنه عليه السلام كان رحمة في الدين والدنيا؛ أما في الدين فلأنه صلى الله عليه وسلم بعث والناس في جاهلية وضلالة، وأهل الكتابيين كانوا في حيرة من أمر دينهم لطول مكثهم وانقطاع تواترهم ووقوع الاختلاف في كتبهم، فبعث الله تعالى محمدًا صلى الله عليه وسلم حين لم يكن لطالب الحق سبيل إلى الفوز والثواب، فدعاهم إلى الحق وبيّن لهم سبيل الثواب، وشرع لهم الأحكام وميز الحلال من الحرام. ثم إنما ينتفع بهذه الرحمة من كانت همته طلب الحق فلا يركن إلى التقليد ولا إلى العناد والاستكبار، وكان التوفيق قرينا له قال الله تعالى: (قل هو للذين آمنوا هدًى وشفاء( إلى قوله (وهو عليهم عمًى( [فصلت: 44].
________TAFSIR IMAM AR-RAZI_______

وقال الأستاذ الدكتور وهبة الزحيلي في [التفسير المنير: ج17/ص146]: في اختتام سورة الأنبياء دلالات ظاهرة وحجّة بينة على الحق الأبلج، وهي:

1). أن رسول الله صلى الله عليه وسلم خاتم النبيين الذي توّج الله برسالته رسالات الأنبياء المتقدمين رحمة لجميع الناس، فمن آمن به وصدّق بدعوته سعد، ومن لم يؤمن سلم في الدنيا مما لحق الأمم من الخسف والمسخ والغرق وعذاب الآخرة وخسر الآخرة خسرانا مبينا … إلى أن قال …. يقوم شرع الله ودينه على عقيدة التوحيد الخالص من شوائب الشرك وعلى العدل، فالله تعالى يقضي بالحق وينصر أهل الحق والإيمان بالله ويخذل الظلمة والكفار ويدحر الظلم وأهله … إلى أن قال … ويدعو إلى الرحمة والإحسان وينهى عن الفحشاء والمنكر والبغي. وهذه أصول الحضارة الصحيحة ونواة الديموقراطية السديدة. اهـ.

وقال في ص143 في بيان مناسبة الآية لما قبلها: بعد بيان قصص الأنبياء المتقدمين وبعد الإعلام بأن القرآن بلاغ ومنفعة وكفاية للعابدين أخبر الله تعالى عن سبب بعثة النبي صلى الله عليه وسلم وهو أنه رحمة للعالمين في الدين والدنيا؛ أما في الدين فبتخليصهم من الجاهلية والضلالة، وأما في الدنيا فبالتخليص من كثير من الذل والقتال والحرب والنصر والعلو ببركة دينه، وأما مجيئه صلى الله عليه وسلم بالسيف أيضا فهو لتأديب من استكبر وعاند ولم يتفكر ولم يتدبر كما أن الله رحمن رحيم وهو أيضا منتقم من العصاة. اهـ.
_TAFSIR SYAIKH WAHBAH AZZUHAILI___

فكلام الشيخ الدكتور وهبة الزحيلي هو التفسير الظاهر للآية الكريمة ونعما فسر به الآية فإنه جامع بين القولين فيها، فالرحمة العامة العاجلة حاصلة للمسلمين والكافرين والرحمة الخالصة حاصلة للمسلمين في دار الآخرة ببركة رسالته صلى الله عليه وسلم. وهذا التفسير أيضا موافق لما في التفسير الكبير للفخر الرازي السابق أو منقول منه فليست الآية ناسخة لفريضة الجهاد في سبيل الله وفريضة عدم اتخاذ الكافرين أولياء وأصحابا في القوة السياسية والاقتصادية والثقافية عالمية أو محلية.
_____DAWUH KIAI NAJIH MAIMOEN_____