CAHAYA CINTA ROSULULLOH

Malam sayyidul ayyam
malam penuh bertabur bintang
sholawat salam kucurahkan padamu ya Rosulallah
Alunan syahdu qosidah rindu kami dendangkan

Syaikh Uumar Ad-Dhoba’i As-suury Tsummal Makky
Dengan Suara merdunya
Menggetarkan kalbu insan yang mendengarkannya

Tak lupa Syaikh Nasir Mansur menyuarakan,
Bait-bait rindu mahabbah
Meneteskan air mata cahaya cinta Rosulallah
Bersama Syaikhuna Maimoen Zubair maha guru kami
Para asatidz dan para santri

Cahaya cinta perlahan mengilaukan
Dimata Syaikhuna Maimoen Zubair
Deraian air mata membasahi pipi beliau

Indah dan tenang
Seperti pergi berperang bersama nabi ke badar
Bertabuh genderang perang

Mauidhotul hasanah Syaikhuna Muhammad Najih
Membakar api semangat tuk mencintaimu ya Rosulallah

Rindu kami tak terbendungkan
Ketika sholawat salam tercurahkan padamu
Dengan diiringi tabuhan genderang hadroh

Tubuh bergetar bergoyang dengan lembutnya seperti terhipnotis
Tak terasa air mata ini mengalir,, ya Rosulallah

Kun mai’ ya Rasulallah
Kun mai’ ya Habiballah
Kun mai’ ya Syafi’una

Bahagia hati ini, cahaya cinta kami ya Rosulallah
Rindu Kami tak bertepi ya Rasulullah
Tangisan cinta kami di taman surga bersamamu ya Rosulallah

Iklan

Imam Ahmad bin Hanbal Pelopor Gerakan Salafi (?)

Pada hari Sabtu 25 November 2017, penulis mengikuti sebuah diskusi Ilmu Kalam. Temanya adalah tentang gerakan Salafiyah atau yang dimaksud dengan Wahabi. Dalam makalah yang dipresentasikan dalam forum tersebut ada satu pernyataan yang menurut penulis sangat mencengangkan, yakni bahwa termasuk pelopor gerakan Salafiyah adalah Ahmad bin Hanbal disandingkan dengan Ibnu Taimiyyah dan Muhammad bin Abdul Wahab. Jadi selama ini Ahmad bin Hanbal yang diyakini oleh kalangan Ahlussunnah wal Jama’ah sebagai pejuang akidah Aswaja yang begitu terkenal dengan kegigihannya mempertahankan akidah “Al-Quran bukan makhluk” melawan represi pemerintahan khalifah al-Ma’mun, ternyata merupakan salah satu “pelopor” gerakan Salafi yang akhirnya menjadi Wahabi. Dalam makalah tersebut ditulis:
“Ketenarannya sebagai tokoh salafiyah terkait erat dengan masalah yang ia alami yaitu penyiksaan yang dilakukan oleh penguasa Al-Ma’mun. Di mana para penguasa ketika itu memaksa para ulama doktrin Muktazilah tentang kemakhlukan Al-Quran. Diantara butir pemikirannya yang secara umum jelas sebagai dasar dari pemikiran Salafiyah, bahwa ia lebih suka menggunakan pendekatan tekstual daripada pendekatan ta’wil. Sedangkan yang berkaitan dengan Al-Quran apakah makhluk atau tidak, jawabnya hanya bahwa Al-Quran tidak diciptakan. Bagaimana Al-Quran sesungguhnya ia tidak mau membahas lebih lanjut. Artinya, ia kembali menyerahkan kepada Allah SWT.”

Jika ditelusuri lebih lanjut, pandangan Ahmad bin Hanbal sebagai pelopor gerakan Salafiyah sudah didakwahkan sejak lama diantaranya oleh Harun Nasution yang terkenal sebagai tokoh “pro-Muktazilahnya” Indonesia. Menurut Harun Nasution, secara kronologis Salafiyah bermula dari Imam Ahmad bin Hanbal. Lalu ajarannya dikembangkan oleh Ibnu Taimiyyah, kemudian disuburkan oleh Muhammad bin Abdul Wahab, dan akhirnya berkembang di dunia Islam secara sporadis. (Zainuddin, 2008, Ilmu Tauhid Lengkap, Jakarta: Rineka Cipta, hlm. 43-44) Pandangan seperti ini akhirnya bertebaran di berbagai buku studi Ilmu Kalam yang beredar di dunia akademik.

Tulisan ini akan menganalisa pandangan ‘miring’ tentang Ahmad bin Hanbal tersebut. Hal ini untuk tujuan mendudukkan statemen tersebut apakah fakta atau fiktif belaka sehingga yang muncul adalah fitnah kepada salah satu imam agung Madzahibul Arba’ah tersebut.

Pertama: Jalinan Kuat Ahmad bin Hanbal dan Asya’irah

Dalam pernyataan diatas ditulis, “Ketenarannya sebagai tokoh salafiyah terkait erat dengan masalah yang ia alami yaitu penyiksaan yang dilakukan oleh penguasa Al-Ma’mun. Di mana para penguasa ketika itu memaksa para ulama doktrin Muktazilah tentang kemakhlukan Al-Quran.”

Pertanyaannya, benarkah hanya karena Ahmad bin Hanbal membela mati-matian ketidakmakhklukan Al-Quran lalu dengan mudahnya beliau dicap sebagai pelopor gerakan Salafiyah?

Sebelum itu, perlu dibedakan dulu antara salaf dan salafiyah. Syaikh Muhammad Najih menjelaskan bahwa Salaf merupakan nama golongan yang mengikuti manhaj (metodologi) para Shahabat Rasulullah dan Tabi’in, termasuk di dalamnya adalah Imam Madzhab Fiqh Empat: Abu Hanifah, Malik, Syafi’i, dan Ahmad bin Hanbal. (Syaikh Muhammad Najih, al-Imam Abu Hasan al-Asy’ari wa ‘Aqidah Ahl al-Sunnah wa al-Jama’ah, hlm. 10)

Sedangkan ciri-ciri dari Salaf atau salafusshalih ada empat yaitu disebut aliran al-Jama’ah atau mayoritas kaum Muslimin, mengikuti Ijma’ ulama, memelihara kebersamaan dan kolektifitas, dan diikuti oleh al-sawad al-a’zham atau mayoritas kaum Muslimin. (Syaikh Muhammad Najih, Ahlussunnah wal Jama’ah Akidah, Syari’ah, Amaliyah, Sarang: Toko Kitab Al-Anwar 1, hlm. 12-16)

Bandingkan ciri-ciri Salaf diatas dengan kelompok yang menamakan dirinya sebagai Salafiyah yang berkembang sekarang. Selain mereka mengeksklusifkan nama “salafi” untuk diri mereka sendiri, ajaran-ajaran kelompok Salafiyah juga banyak yang bertentangan dengan karakter-karakter Salaf diatas seperti membid’ahkan pelaku tawasul dan ziarah kubur yang jelas-jelas dilakukan oleh para Shahabat dan Tabi’in, mengkafirkan dan mensyirikkan mayoritas umat Islam, meyakini akidah tajsim-tasybih yang jelas ditolak oleh Ijma’ ulama, dan lain sebagainya.

Termasuk bukti bahwa Ahmad bin Hanbal akidahnya sama dengan Asy’ariyah keterangan Syaikh Muhammad Najih, bahwa Imam Abu Hasan al-Asy’ari menyempurnakan diri beliau kembali kepada manhaj salaf ketika belajar kepada para ulama-ulama pengikut Ahmad bin Hanbal, sehingga beliau kembali kepada ajaran para salafusshalih dari Shahabat Nabi dan Tabi’in. (al-Imam Abu Hasan al-Asy’ari wa ‘Aqidah Ahl al-Sunnah wa al-Jama’ah, hlm. 10) Pengikut Hanabilah di Baghdad setelah itu selama bertahun-tahun lamanya mengikuti akidah Asya’irah sebelum terjadi masa perpecahan di zaman Abu Nashr bin Qusyairi dan menteri Nizhamul Mulk. (al-Imam Abu Hasan al-Asy’ari wa ‘Aqidah Ahl al-Sunnah wa al-Jama’ah, hlm. 8)

Jika Imam al-Asy’ari bisa kembali kepada ajaran Ahlussunnah wal Jama’ah berkat ajaran pengikut Ahmad bin Hanbal, maka sangat aneh jika ajaran Ahmad bin Hanbal bertentangan dengan muridnya sendiri. Jika memang ada riwayat valid yang menunjukkan Ahmad bin Hanbal berubah dari keyakinannya yang awal, silahkan saja ditunjukkan!

Bahkan Imam Abu Hasan al-Asy’ari dalam al-Ibanah menyatakan dengan jelas:

“Perkataan dan keyakinan kami adalah berpegang teguh kepada Kitab Tuhan kami, Sunnah Nabi kami, dan riwayat dari Shahabat, Tabi’in, dan Imam-imam Hadits, serta ajaran yang diucapkan oleh Abu Abdullah Ahmad bin Muhammad bin Hanbal.” (al-Imam Abu Hasan al-Asy’ari wa ‘Aqidah Ahl al-Sunnah wa al-Jama’ah, hlm. 16)

Dengan demikian ajaran Ahmad bin Hanbal sesuai dengan ajaran Asy’ariyah. Lalu apalagi argumentasi orang-orang seperti Harun Nasution untuk menolak bukti-bukti ini dan menguatkan pendapat mereka bahwa Imam Ahmad adalah gembong kelompok Salafiyah?

Bahkan banyak bukti yang menjelaskan bahwa Imam Ahmad bin Hanbal banyak berbeda dengan kaum Salafiyah dalam berbagai pandangan mereka, diantara sebagai berikut:

Pertama, ketika kaum Salafiyah menjelek-jelekkan Ilmu Kalam yang ditekuni oleh Asya’irah-Maturidiyah dan mengharamkan pembelajarannya, seorang ulama Hanabilah Yusuf bin Abdul Hadi al-Maqdisi menyebutkan dalam Maqbul al-Manqul min ‘Ilmay al-Jadal wa al-Ushul bahwa mempelajari Ilmu Kalam menurut Imam Ahmad bin Hanbal adalah masyru’ (disyari’atkan) dengan beberapa bukti:

1. Imam Ahmad ditanya, “Apa pendapat Anda tentang lelaki yang sibuk puasa dan shalat namun diam tidak mau membantah omongan ahli bid’ah?” Seketika wajah beliau muram dan berkata, “Apabila dia shalat, puasa, dan mengucilkan diri dari orang lain bukankah hal itu untuk dirinya sendiri?” Penanya tadi menjawab, “Iya.” Imam Ahmad melanjutkan, “Jika dia membantah ahli bid’ah maka manfaatnya bagi dia juga bagi orang lain, maka perkataannya tadi lebih utama.”

2. Imam Ahmad sering membantah dan membungkam argumen kaum Muktazilah dan Jahmiyah, dan hal ini tidak akan muncul kecuali dari orang yang mampu memadukan naql dan ‘aql sekaligus.

3. Imam Ahmad punya satu kitab khusus untuk membantah kaum Zindiq dan Qadariyah tentang ayat-ayat Mutasyabihah dalam Al-Quran dan lainnya, dan sering berhujjah dengan nalar rasional seperti penuturan ulama kenamaan madzhab Hanbali Ibn Muflih dalam al-Adab al-Syar’iyyah. (Musthafa Hamdi dan Alyan Hanbali, al-Hanabilah wa al-Ikhtilaf ma’a al-Salafiyyah al-Mu’ashirah, hlm. 181-182)

Kedua, ketika kaum Salafiyah begitu mudah memberi cah kafir kepada mayoritas umat Islam baik disuarakan secara lantang maupun disembunyikan di dalam hati atau komunitas mereka sendiri, maka Imam Ahmad berkata, “Ketika orang sudah membaca Syahadain maka dia telah masuk Islam.” Ketika Imam Ahmad ditanya tentang seorang Kristen yang masuk Islam apakah wajib bagi dia bebas dari kekristenan dan meninggalkan ajarannya sama sekali baru bisa dianggap orang Islam, maka beliau menjawab, “Ucapkanlah Syahadatain maka dia telah masuk Islam.” (al-Hanabilah wa al-Ikhtilaf ma’a al-Salafiyyah al-Mu’ashirah, hlm. 187)

Dalam hal ini, Imam Ahmad terlihat sangat longgar dalam menyebut keislaman seseorang, sehingga orang Kristen yang belum bisa lepas dari sisa-sisa ajarannya saja ketika sudah membaca syahadat sudah dikatakan Islam. Berbeda sekali dengan kaum Salafiyah-Wahabi yang begitu ‘longgar’ dalam mengkafirkan orang Islam hanya dengan ajaran ‘pembaruannya’.

Bahkan Imam Ahmad malah berkata, “Sifat seorang mukmin adalah bersaksi tiada Tuhan selain Allah, Muhammad adalah utusan Allah, mengakui ajarang yang dibawa para nabi dan rasul, berpegang teguh dengan yang terlihat, tidak ada keraguan iman, tidak mengkafirkan orang yang bertauhid sebab dosa, mengembalikan hal-hal gaib kepada Allah dan menyerahkan kepadanya…” (al-Hanabilah wa al-Ikhtilaf ma’a al-Salafiyyah al-Mu’ashirah, hlm. 188) Ini menjadi tamparan keras Imam Ahmad bin Hanbal kepada kaum Salafiyah yang gemar mengkafirkan dan menisbatkan kelompok mereka kepada beliau.

Ketiga, ketika kaum Salafiyah menjelek-jelekkan tasawuf dan menganggapnya sebagai bid’ah dan biang keladi kemunduran umat, maka Ibn Muflih, al-Bahuti, dan al-Safarini meriwayatkan sebuah cerita bahwa Imam Ahmad pernah diajak bicara seseorang, “Kaum Sufi hanya duduk-duduk di masjid tanpa ilmu dengan modal tawakkal.” Maka Imam Ahmad menjawab, “Ilmu yang menemani duduk mereka.” Lalu beliau ditanya lagi, “Mereka tidak menginginkan dunia kecuali hanya sepotong roti dan selembar kain.” Imam Ahmad menjawab, “Saya tidak pernah melihat kaum yang lebih utama daripada mereka.” Beliau ditanya lagi, “Sebagian dari mereka tidak sadar diri dan bahkan ada yang mati.” Lalu Imam Ahmad menimpali dengan Firman Allah Ta’ala:

وَبَدَا لَهُمْ مِنَ اللَّهِ مَا لَمْ يَكُونُوا يَحْتَسِبُونَ [الزمر : 47]

“Jelaslah bagi mereka dari Allah yang belum pernah mereka perkirakan.” (QS. Al-Zumar: 47) (al-Hanabilah wa al-Ikhtilaf ma’a al-Salafiyyah al-Mu’ashirah, hlm. 678)

Karena itu, Imam Syafi’i berkomentar tentang Imam Ahmad, “Imam Ahmad adalah ahli delapan hal: imam Hadits, imam Fiqh, imam bahasa, imam Al-Quran, imam dalam fakir, imam dalam zuhud, imam dalam wira’i, dan imam dalam membela Sunnah.” Selain itu, dalam kitab-kitab Thabaqat al-Shufiyyah seperti Hilyah al-Auliya karya Abu Nuaim al-Ashfihani, al-Thabaqat al-Kubra karya al-Sya’rawi, dan Kasyf al-Mahjub karya al-Hujwiri, Imam Ahmad dicatat namanya sebagai pembesar dari kaum Sufi. Bahkan kitab-kitab tasawuf seperti al-Risalah karya al-Qusyairi, al-Futuhat al-Makkiyyah karya Abu Bakr Ibn Arabi, dan Ihya ‘Ulum al-Din karya al-Ghazali banyak sekali meriwayatkan sikap sufi Imam Ahmad bin Hanbal. (al-Hanabilah wa al-Ikhtilaf ma’a al-Salafiyyah al-Mu’ashirah, hlm. 677-679)

Dari penjelasan singkat, masihkah ada dari kita yang menisbatkan Imam Ahmad bukan sebagai Imam Ahlussunnah wal Jamaah dan tetap ngotot mengatakan beliau sebagai pelopor gerakan Salafiyah?

Kedua: Ketidakmakhlukan Al-Quran

Statemen tentang Ahmad bin Hanbal selanjutnya adalah, “Diantara butir pemikirannya yang secara umum jelas sebagai dasar dari pemikiran Salafiyah, bahwa ia lebih suka menggunakan pendekatan tekstual daripada pendekatan ta’wil. Sedangkan yang berkaitan dengan Al-Quran apakah makhluk atau tidak, jawabnya hanya bahwa Al-Quran tidak diciptakan. Bagaimana Al-Quran sesungguhnya ia tidak mau membahas lebih lanjut. Artinya, ia kembali menyerahkan kepada Allah SWT.”

Pertanyaannya, apakah pendapat Ahmad bin Hanbal tentang ketidakmakhlukan Al-Quran merupakan ajaran kelompok Salafiyah? Apakah pendapat beliau ini murni tanpa dalil-dalil rasional? Pernyataan diatas seakan ingin mengatakan bahwa Ahmad bin Hanbal tidak mau menggunakan akalnya untuk menyikapi makhluk tidaknya Al-Quran. Inna liLlahi wa inna ilaihi raji’un.

Untuk menguji seberapa rasional akidah ulama salaf tentang ketidakmakhlukan Al-Quran yang diikuti oleh Ahmad bin Hanbal, kita dapat membuktikannya dengan beberapa riwayat berikut yang disebutkan oleh Syaikh Muhammad Najih dalam al-Imam Abu Hasan al-Asy’ari wa ‘Aqidah Ahl al-Sunnah wa al-Jama’ah (hlm. 31-32):

Pertama, Ahmad bin Hanbal pernah ditanya tentang sekelompok orang yang berkata Al-Quran bukanlah makhluk dan juga bukan tidak makhluk, maka beliau menjawab, “Akidah yang saya yakini dan tidak ada keraguan di dalam adalah Al-Quran bukan makhluk.” Lalu beliau memberi argumentasi dengan Firman Allah Ta’ala:

الرَّحْمَنُ (1) عَلَّمَ الْقُرْآنَ (2) خَلَقَ الْإِنْسَانَ (3) [الرحمن : 1 – 3]

“(Tuhan) yang Maha pemurah, (1) Yang telah mengajarkan Al-Quran. (2) Dia menciptakan manusia. (3)” (QS. Al-Rahman: 1-3)

Di dalam ayat ini dibedakan antara manusia dan Al-Quran, hal ini menunjukkan bahwa Al-Quran bukanlah makhluk seperti manusia.

Melihat argumentasi diatas maka terlihat Ahmad bin Hanbal menggunakan logika untuk memahami dalil naqli diatas, tidak melulu berdalil ayat Al-Quran tanpa ada penjelasan logisnya.

Kedua, Ahmad bin Hanbal berkata, “Al-Quran merupakan bagian dari ilmu Allah. Apa kalian tidak memperhatikan Firman Allah Ta’ala:

عَلَّمَ الْقُرْآنَ [الرحمن : 2]

“Yang telah mengajarkan Al-Quran.” (QS. Al-Rahman: 2)

Lanjut Imam Ahmad menjelaskan tentang ketidakmakhlukan Al-Quran:

“Dan Al-Quran termasuk Ilmu Allah. Lalu apa yang akan mereka (Muktazilah) katakan? Bukannya mereka berkata bahwa Asma’ Allah bukan makhluk? Allah selalu bersifat Qadir (Maha Kuasa), ‘Alim (Maha Tahu), ‘Aziz (Maha Agung), Hakim (Maha Bijak), Sami’ (Maha Mendengar), dan Bashir (Maha Melihat). Kita tidak ragu bahwa Asma Allah bukan makhluk, kita tidak ragu bahwa Ilmu Allah bukan makhluk, sedangkan Al-Quran merupakan bagian dari Ilmu Allah dan di dalamnya terdapat Asma Allah, maka kita tidak ragu bahwa Al-Quran bukan makhluk. Al-Quran adalah Kalam Allah Ta’ala, dan Allah selalu bersifat Mutakallim (Maka Berbicara).”

Bagi orang yang sehat pikirannya dan bersih hatinya dari berbagai kepentingan, pernyataan Imam Ahmad diatas tentu dinilai sebagai argumentasi nalar rasional. Argumentasi ini mematahkan tuduhan Muktazilah dan Jahmiyah bahwa Al-Quran adalah makhluk.

Imam Ahmad meneruskan dengan memberi peringatan terhadap orang yang menyuarakan kemakhlukan Al-Quran:

“Jika mereka mengatakan bahwa Al-Quran adalah makhluk, berarti mereka juga beranggapan bahwa Asma Allah juga makhluk, ilmu Allah juga makhluk. Akan tetapi banyak orang yang menganggapnya remeh. Mereka mudah mengatakan Al-Quran makhluk dan menyangka bahwa hal itu tidak ada masalah, padahal di dalamnya ada muatan kufurnya.”

Dari keterangan diatas, masihkah orang yang menuduh Imam Ahmad bin Hanbal tidak rasional dalam mengatakan bahwa Al-Quran bukan makhluk dapat dipertanggungjawabkan pernyataannya?

Ikhtitam

Dengan penjelasan singkat diatas, jelas bahwa penisbatan Imam Ahmad bin Hanbal sebagai salah satu pelopor gerakan Salafiyah merupakan penyimpulan tergesa-gesa tanpa melihat lebih dalam keterangan-keterangan ulama. Hal ini begitu mudah terekspos terutama di dunia akademik perkuliahan karena jargon yang selalu dikoar-koarkan, “makanlah ilmu apapun sebanyak-banyaknya dan berwacanalah sebebas-bebasnya.”

Akhirnya, kami selalu memohon kepada Allah Ta’ala untuk selalu meneguhkan hati dan ta’alluq kami kepada ulama-ulama yang istiqamah dengan ajaran Ahlussunnah wal Jama’ah dan dihindarkan dari berbagai rekayasa yang menjauhkan kami darinya. Amin Ya Rabbal ‘Alamin. WaLlahu A’lam.
** Santri Ribathdeha

​TEMU ALUMNI DEHA 1438 H, ABAH NAJIH: DIBERI TIDAK PUNYA PANGKAT ITU HARUS DISYUKURI

Demikian sepetik ngendikane Syaikh Muhammad Najih dalam acara Temu Alumni Santri Ribath Darusshohihain dan Tahfizhul Quran yang berlangsung pada Kamis 3 Dzul Qa’dah 1438 H atau 27 Juli 2017 M.
Di dalam acara rutin tiap tahun tersebut, Syaikh Muhammad Najih mengawali dengan mengatakan bahwa tawassul itu ada. Beliau lalu menceritakan bahwa tanah Ribath Darusshohihain ini dhawuh Mbah Maimoen Zubair adalah tanah milik Haji Miftah, teman Mbah Manaf Lirboyo ketika mondok dan berguru kepada Mbah Kholil Bangkalan. “Beliau itu tukang adzan. Orang Sarang terkenal suaranya bagus ketika adzan, sehingga Mbah Kholil katanya senang. Mbah Miftah ketika akan boyong diberi isyarah Mbah Kholil bakal punya pangkat. Akhirnya beliau ketika sudah berada di rumah menjadi carik (sekretaris desa). Beliau punya keponakan juga menjadi naib di Rembang,” kata beliau.

“Saya bertawassul kepada Mbah Manaf. AlhamduliLlah punya ta’alluq dengan Mbah Kholil Bangkalan,” lanjut beliau.

Abah Najih menjelaskan bahwa ada berkah dari Kiai Kholil sampai Mbah Zubair sempat diajar oleh Syaikh Said al-Yamani. “Saya pernah ke Demak menghadiri haul seorang kiai yang merupakan muridnya Mbah Kholil. Kalau disini dulu beliau jabatannya lurah pondok. Berkah Mbah Kholil tidak hanya bagi orang Madura saja, kok bisa sampai Demak juga? Di daerah Ciamis juga ada yang membaca shalawat yang berasal dari mbah Kholil. Bahkan khutbah nikah di Kajen Pati itu juga karangannya Mbah kholil.”

Kemudian, Abah Najih menceritakan bahwa zaman dulu Mbah Zubair Dahlan di Makkah ngaji kepada Syaikh Said al-Yamani, belajar Nahwu dan I’rab. “Di Sarang sini Mbah Zubair tidak pernah sekolah, tidak pernah madrasah. Namun waktu itu semarak pendidikan madrasah, barangjali karena didukung Syaikh Said itu. Kalau disini Syaikh Said sama dengan guru guru privat, tapi tidak digaji. Syaikh Said berkata kepada orang Madura bernama Syarqawi bahwa beliau giat mengajar ini karena ingin membalas kebaikan Mbah Kholil Bangkalan yang sudah mengajar tetangga-tetangganya,” ujar beliau.

“Kiai Kholil Bangkalan tiap tahun ketika ada orang haji selalu kirim uang dihaturkan kepada ulama Makkah. Dahulu ulama makkah ekonominya rendah, tapi pakaiannya necis. Pakaian ulama, pakai serban. Memang dulu belum ada tambang minyak. Saudi kaya kan setelah ada minyak. Mungkin Mbah Kholil khidmah kepada ulama begitu karena kepengen anak cucunya alim, tapi takdir Allah ya begitu. Mungkin yang alim bukan anak cucunya, tapi muhibbin beliau seperti Mbah Zubair. Memang begitu Allah Ta’ala, semuanya takdir Allah,” lanjut Abah Najih.

Beliau melanjutkan bahwa biasanya orang alim juga ingin anak cucunya jadi orang alim. “Orang yang hormat kiai biasanya anaknya menjadi kiai. Itu dulu. Tapi sekarang kok tidak? Ya mboh. Sudah mau mondok itu sudah bagus. Nanti jadi kiai malah diundang di istana, tambah repot. Jadi kiai NU, kiai liberal.”

“Jadi terkadang orang kalau banyak muridnya itu anaknya kurang terurus. Begitu ya jangan diejek. Memang begitu takdir Allah. Tapi sudah mending tidak liberal. Imam Tebuireng itu malah cucunya jadi liberal.”

Pada kesempatan tersebut Abah Najih juga menghimbau kepada para santri alumni agar ikut berpartisipasi ketika ada pelaksanaan coblosan saat Pemilu. “Maksud saya kita juga harus punya sifat nasionalis sedikit-sedikit, tapi tidak harus ikut organisasi. Kalau tidak nyoblos ini gimana? Kan namanya tidak taat dengan pemerintah,” tandas Abah mengingatkan.

Lanjutnya, “Kiai Sarang kuno itu tidak ada yang jadi pengurus NU, apalagi Mbah Mad. Orang NU tidak akan berani. Mbah Zubair seingat saya juga bukan pengurus NU, tapi kalo ada Muktamar diundang tapi ya hanya Bahtsul Masailnya saja. Kiai Sarang mendukung NU tapi tidak sepenuh hati. Masih senang mengucapkan “kamubtaghi jahin wa malan man nahadl” (syathr tsani bait Alfiyyah Ibn Malik nomor 436). Kita tidak anti NU, tapi juga tidak NU tenanan. Yang penting ngaji, itu sikap kiai Sarang kuno.”

Beliau menandaskan kembali bahwa umat Islam harus ada nasionalismenya tapi jangan sampai merasuk ke hati. “Pilkada-pilkada apalagi demokrasi itu tidak usah mlebu ati. Tapi kalo tidak ikut Pemilu itu kurang bijak. Yang repot itu besok milihnya gimana? PPP-nya sudah dipimpin orangnya Gus Dur. Romahurmuzi itu pengagum Gus Dur, aslinya PKB,” ujar beliau.

Selanjutnya, Syaikh Muhammad Najih mengharapkan agar santri Deha fokus untuk mengajar dan melakukan aktivitas untuk tujuan akhirat.

“Saya pengen pekerjaanmu untuk akhirat adalah pekerjaan khususmu. Kalau shalat jamaah dan seterusnya itu sudah maklum. Pekerjaan sampeyan dari Deha ini mengajar, ngaji atau ngajar. Kalau bisa mengajar ya AlhamduliLlah, tapi kalau tidak bisa ngajar ya muthala’ah sendiri atau mengajar anak istrinya. Ngajar ‘Uqud al-Lujain atau kitab-kitab kecil lain dalam masalah wanita itu sudah baik. Tidak harus mengajar kitab di sekolahan yang ada ijazahnya itu. Kalau ditawari ijazah sekiranya tidak mengganggu agamamu terima saja. Tapi kalau uang pemerintah ya gimana gitu. Hendaknya tidak digunakan untuk makan, paling-paling untuk beli bensin, bayar pajak, atau listrik. Kalau bisa begitu. Apalagi dapat uang 1 triliun, itu uang bancakane Islam Nusantara. Bisa juga ambil dari Naga Sembilan atau Cina, bisa juga dari dana haji. Sekarang Jokowi rencana ambil dana haji untuk infrastruktur, berarti mungkin sudah pernah ambil. Dulu untuk Islam Nusantara, sekarang untuk dzikir kebangsaan. Harus hati-hati,” tandas beliau.

Beliau kemudian membahas sedikit tentang sejarah kiprah etnis Cina di Indonesia. “Saya kemarin tidak sengaja ngomong di Sumenep, dulu zaman Belanda etnis Cina itu sudah dinomorsatukan oleh penjajah. Kasta pertama tentu Belanda, kedua Cina, ketiga kaum priyayi, kaum santri paling terakhir. Kan ada cerita bahwa dulu di Pandeglang, Cilegon, atau Tangerang orang Cina ditugaskan Belanda untuk memungut pajak. Patungnya ada di TMII, kemudian disindir oleh Habib Rizieq. Patung Cina itu lalu diabadikan oleh Cahyo Kumolo yang keturunan Cina itu. Cina sudah lama dikader oleh Belanda untuk memimpin Indonesia, ini yang bahaya. Dia kelihatannya baik di hadapan kiai, tokoh, apalagi kaum priyayi. Ngerti unggah ungguh, kalau membunuh orang mengerti aturannya untuk tidak banyak-banyak. Beda dengan Perancis,” kata Abah Najih.

Lanjut beliau, “Saya kemarin membaca di Whatsapp grup Brebes, ada info tesis dari doktor perempuan dari Jerman bahwa Perancis telah membantai sejuta lebih orang Aljazair atau Tunisia. Kalau Belanda kan tidak seperti itu, tapi tetap saja jenenge Barat yang tetap mangkel. Akhirnya Cina yang diperintahkan untuk memecah belah dengan menjadi tukang narik pajak. Akhirnya saya ngomong Cina itu bisa kaya karena pajaknya dikurangi, kalau pribumi dipungut penuh. WaLlahu A’lam. Mereka sudah lama digadang untuk memimpin Indonesia, makanya harus hati-hati. Nanti akhirnya jadi komunis. Kerjasama antara orang Cina di daerah asalnya dengan orang Cina di Indonesia lewat komunis.”

Abah Najih menandaskan kembali bahwa berkah itu ada, ketika santri tidak memiliki pangkat itu adalah kondisi yang harus disyukuri, dan agar selalu giat berdoa dan wiridan untuk menjaga dirinya. “Sekarang ada orang ngomong kita ini tidak maksum, kita ini hatta ulama hatta kiai adalah manusia. Kalau kita sewaktu-waktu diundang ke acara yang berbau liberal, ya ngomong saja ada udzur syar’i seperti sakit. Sakit hatinya. Pokoknya giat wiridan, membaca Hizib Sakron, Ratib Atthas, Ratib Haddad, Hizib Nawawi. Diniati untuk menjaga dirinya. Kalau niatnya hanya untuk menolak orang yang ngomel, caci maki, ya kecil itu. Dicaci maki itu fitnah kecil, biasa itu. Yang berat itu kamu dipuja-puja, itu yang paling bahaya. Penting kuat imannya, dicaci tidak apa-apa. Sebenarnya alim tapi dibuat tidak bisa bicara, itu sudah biasa biar tidak diberi pangkat kok. Seng tenang, seng syukur. Dibuat tidak bisa ngomong itu harus syukur. Sekarang bisa mengajar ya syukur tapi harus hati-hati, apalagi yang pinter orasi itu. Nanti direkrut HTI, direkrut NU kan repot. Apalagi direkrut PKB,” ujar Abah Najih.

“Berkah itu ada. Kalian tidak terlalu terlihat di ormas itu harus disyukuri. Yang penting bisa ngajar, kan? Gak dianggep alim ya wes. Nanti dianggep alim malah diincar. Pokoknya santai, banyak-banyak tawadlu’ semoga anak cucunya diselamatkan Allah.”

Di akhir mauizhah, Abah Najih mengajak para alumni untuk selalu berdoa agar diselamatkan oleh Allah Ta’ala. “Moga-moga pondoknya tetap salaf, agar besok bisa untuk mondok anak-anaknya, anak cucu sampeyan. Semoga saya punya keturunan, dan sebelum punya keturunan pokoknya ada yang meneruskan.”

“Yang penting ngajar, muthala’ah, ngaji Al-Quran, dan wiridan untuk keselamatan dan tetap salaf dan lurus. Semoga bisa meneruskan. Semua ini dari Allah. Dulu saya pernah cerita kalau Sayyid Muhammad pernah bertanya, “Kalo kamu punya uang satu juta mau kamu gunakan untuk apa?.” Terus saya jawab ingin bangun zawiyah atau rubath yang banyak wiridannya tapi bukan untuk ndukun, tapi bantu ilmu dan perjuangan Islam.”

Beliau mengakhiri mauizhah beliau dengan membaca doa yang diamini oleh seluruh alumni putra putri yang hadir di acara tersebut. AthalaLlahu baqa’ahu wa razaqahu al-shihhah wa al-‘afiyah wa al-istiqamah ‘ala al-thariqah al-salafiyyah, wa nafa’ana bi ‘ulumihi wa a’malihi wa akhlaqihi. Amin ya Rabb al-‘alami. WaLlahu A’lam.

KEJANGGALAN TAFSIR “RAHMATAN LIL ALAMIN” AHMAD ISHOMUDDIN

TEBARKAN RASA KASIH SAYANG
Oleh: Ahmad Ishomuddin

Islam adalah agama yang membawa misi kasih sayang (rahmat). Allah berfirman dalam Qs. al-Anbiya’ ayat 107:

وما أرسلناك إلا رحمة للعالمين

“Kami tidak mengutusmu kecuali sebagai rahmat bagi alam semesta”

Secara tegas ayat di atas menunjukkan bahwa rahmat (kasih sayang) itu tidak terbatas bagi orang-orang yang beriman saja, melainkan juga mencakup seluruh makhluk-Nya, baik yang beriman maupun tidak.

Rahmat (kasih sayang) dalam perspektif ajaran Islam adalah kebebasan dan kelapangan untuk menentukan pilihan. Manusia bebas memeluk dan mengamalkan agamanya masing-masing. Sedangkan umat Islam tidak dibenarkan berucap atau berbuat untuk mengganggu, menyakiti, merusak, atau menghalangi non muslim untuk melaksanakan ibadah, karena semua itu berlawanan dengan rasa kasih sayang. Apalagi memaksa mereka untuk memeluk Islam. Tidak ada paksaan dalam agama.
____________________________

TANGGAPAN ILMIAH SANTRI-SANTRI RIBATH DARUSSHOHIHAIN

​قال الإمام القرطبي في تفسيره [الجامع لأحكام القرآن؛ ج11/ص350]: قوله سبحانه وتعالى: (وما أرسلناك إلا رحمة للعالمين(، قال سعيد بن جبير عن ابن عباس قال: كان محمدا صلى الله عليه وسلم رحمة لجميع الناس، فمن آمن به وصدّق به سعد, ومن لم يؤمن به سلم مما لحق الأمم من الخسف والغرق. وقال ابن زيد: أراد بالعالمين المؤمنين خاصة.
______TAFSIR IMAM QURTHUBI_______

وأخرج ابن جرير وابن أبي حاتم والطبراني وابن مردويه والبيهقي في الدلائل عن ابن عباس في قوله: (وما أرسلناك إلا رحمة للعالمين( قال: من آمن تمت له الرحمة في الدنيا والآخرة. ومن لم يؤمن عوفي مما كان يصيب الأمم في عاجل الدنيا من العذاب من الخسف والمسخ والقذف.

قوله عزّ وجل: (وما أرسلناك إلا رحمة للعالمين( قيل: كان الناس أهل كفر وجاهلية وضلال وأهل الكتابيين كانوا في حيرة من أمر دينهم لطول مدتهم وانقطاع تواترهم ووقوع الاختلاف في كتبهم فبعث الله محمدا صلى الله عليه وسلم حين لم يكن لطالب الحق سبيل إلى الفوز والثواب فدعاهم إلى الحق وبين لهم سبيل الصواب وشرع لهم الأحكام وبين الحلال من الحرام. قال الله تعالى: (وما أرسلناك إلا رحمة للعالمين( قيل: يعني المؤمنين خاصة فهو رحمة لهم. وقال ابن عباس: هو عام في حق من آمن ومن لم يؤمن. فمن آمن فهو رحمة له في الدنيا والآخرة، ومن لم يؤمن فهو رحمة له في الدنيا بتأخير العذاب عنه ورفع المسخ والخسف الاستئصال، قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: «إنما أنا رحمة مهداة». اهـ [تفسير الخازن؛ ج3/ص278-279].
___________TAFSIR KHOZIN__________

قال الإمام ابن كثير: وقوله: (وما أرسلناك إلا رحمة للعالمين( يخبر الله تعالى أن الله جعل محمدا صلى الله عليه وسلم رحمة للعالمين أي أرسله رحمة لهم كلهم، فمن قبل هذه الرحمة وشكر هذه النعمة سعد في الدنيا والآخرة، ومن ردّها وجحدها خسر الدنيا والآخرة كما قال تعالى: (قل هو للذين آمنوا هدًى وشفاء والذين لا يؤمنون في آذانهم وقرٌ وهو عليهم عمًى أولئك ينادون من مكان بعيد)

وقال مسلم في صحيحه: حدثنا ابن أبي عمر حدثنا مروان الفزاري عن زيد بن كيسان عن ابن أبي حازم عن أبي هريرة قال: قيل: يا رسول الله ادع على المشركين، قال: «إنّي لم أبعث لعانا وإنما بعثت رحمة». انفرد بإخراجه مسلم. وفي الحديث الآخر: «إنما أنا رحمة مهداة» رواه عبد الله بن أبي عوانة وغيره عن وكيع عن الأعمش عن أبي صالح عن أبي هريرة مرفوعا، وأورده ابن عساكر من طريق الصلت عن ابن عمر قال: قال صلى الله عليه وسلم: «إن الله بعثني رحمة مهداة بعثت برفع قوم وخفض آخرين».

وروى الإمام أحمد قال صلى الله عليه وسلم: «والذي نفسي بيده لأقتلنهم ولأصلبنهم ولأهدينهم وهم كارهون إني رحمة بعثني الله ولا يتوفاني حتى يظهر الله دينه، لي خمسة أسماء، أنا محمد، وأحمد، وأنا الماحي الذي يمحو الله بي الكفر، وأنا الحاشر الذي يحشر الناس على قدمي، وأنا العاقب».

وروى الإمام أحمد أيضا عن سلمان الفارسي أنه قال لحذيفة: يا حذيفة إن رسول الله صلى الله عليه وسلم خطب فقال: «أيما رجل سببته في غضبي أو لعنته لعنة فإنما أنا رجل من ولد آدم أغضب كما تغضبون، وإنما بعثني الله رحمة للعالمين فاجعلها صلاة عليه يوم القيامة» ورواه أبو داود. اهـ [تفسير ابن كثير؛ ج3/ص201-201] باختصار وحذف للأسانيد.
________TAFSIR IBNU KATSIR________

وقال الإمام فخر الدين الرازي: أما قوله تعالى: (وما أرسلناك إلا رحمة للعالمين( ففيه مسائل:

المسألة الأولى: أنه عليه السلام كان رحمة في الدين والدنيا؛ أما في الدين فلأنه صلى الله عليه وسلم بعث والناس في جاهلية وضلالة، وأهل الكتابيين كانوا في حيرة من أمر دينهم لطول مكثهم وانقطاع تواترهم ووقوع الاختلاف في كتبهم، فبعث الله تعالى محمدًا صلى الله عليه وسلم حين لم يكن لطالب الحق سبيل إلى الفوز والثواب، فدعاهم إلى الحق وبيّن لهم سبيل الثواب، وشرع لهم الأحكام وميز الحلال من الحرام. ثم إنما ينتفع بهذه الرحمة من كانت همته طلب الحق فلا يركن إلى التقليد ولا إلى العناد والاستكبار، وكان التوفيق قرينا له قال الله تعالى: (قل هو للذين آمنوا هدًى وشفاء( إلى قوله (وهو عليهم عمًى( [فصلت: 44].
________TAFSIR IMAM AR-RAZI_______

وقال الأستاذ الدكتور وهبة الزحيلي في [التفسير المنير: ج17/ص146]: في اختتام سورة الأنبياء دلالات ظاهرة وحجّة بينة على الحق الأبلج، وهي:

1). أن رسول الله صلى الله عليه وسلم خاتم النبيين الذي توّج الله برسالته رسالات الأنبياء المتقدمين رحمة لجميع الناس، فمن آمن به وصدّق بدعوته سعد، ومن لم يؤمن سلم في الدنيا مما لحق الأمم من الخسف والمسخ والغرق وعذاب الآخرة وخسر الآخرة خسرانا مبينا … إلى أن قال …. يقوم شرع الله ودينه على عقيدة التوحيد الخالص من شوائب الشرك وعلى العدل، فالله تعالى يقضي بالحق وينصر أهل الحق والإيمان بالله ويخذل الظلمة والكفار ويدحر الظلم وأهله … إلى أن قال … ويدعو إلى الرحمة والإحسان وينهى عن الفحشاء والمنكر والبغي. وهذه أصول الحضارة الصحيحة ونواة الديموقراطية السديدة. اهـ.

وقال في ص143 في بيان مناسبة الآية لما قبلها: بعد بيان قصص الأنبياء المتقدمين وبعد الإعلام بأن القرآن بلاغ ومنفعة وكفاية للعابدين أخبر الله تعالى عن سبب بعثة النبي صلى الله عليه وسلم وهو أنه رحمة للعالمين في الدين والدنيا؛ أما في الدين فبتخليصهم من الجاهلية والضلالة، وأما في الدنيا فبالتخليص من كثير من الذل والقتال والحرب والنصر والعلو ببركة دينه، وأما مجيئه صلى الله عليه وسلم بالسيف أيضا فهو لتأديب من استكبر وعاند ولم يتفكر ولم يتدبر كما أن الله رحمن رحيم وهو أيضا منتقم من العصاة. اهـ.
_TAFSIR SYAIKH WAHBAH AZZUHAILI___

فكلام الشيخ الدكتور وهبة الزحيلي هو التفسير الظاهر للآية الكريمة ونعما فسر به الآية فإنه جامع بين القولين فيها، فالرحمة العامة العاجلة حاصلة للمسلمين والكافرين والرحمة الخالصة حاصلة للمسلمين في دار الآخرة ببركة رسالته صلى الله عليه وسلم. وهذا التفسير أيضا موافق لما في التفسير الكبير للفخر الرازي السابق أو منقول منه فليست الآية ناسخة لفريضة الجهاد في سبيل الله وفريضة عدم اتخاذ الكافرين أولياء وأصحابا في القوة السياسية والاقتصادية والثقافية عالمية أو محلية.
_____DAWUH KIAI NAJIH MAIMOEN_____

SUMBER KEKUFURAN BERASAL DARI ARAH TIMUR (NAJD)

Termasuk hal yang menunjukkan kesalahan pendapat kalian adalah Hadits Bukhari Muslim dari Abu Hurairah RadliyaLlahu ‘anhu dari Rasulullah SAW, “Sumber kekufuran berasal dari timur Madinah.” (HR. Bukhari, Ahmad, al-Baghawi) Dalam riwayat lain, “Keimanan berasal dari Yaman, sedangkan fitnah berasal dari sini (Najd) dimana akan muncul tanduk setan…” (HR. Bukhari, Muslim, Ahmad, al-Tirmidzi, al-Baghawi) Begitu pula Hadits Bukhari Muslim dari Ibn Umar, Rasulullah SAW bersabda, “Fitnah berasal dari sini (Najd).” (HR. Ibn Hibban, Bukhari, Muslim)
Bukhari meriwayatkan Hadits Marfu’, “Ya Allah, berikanlah barakah kepada kami di negara Syam dan Yaman kami. Ya Allah, berikanlah barakah kepada kami di negara Syam dan Yaman kami.” Orang-orang berkata, “Dan juga Najd kami.” Rasulullah pun menyahut, “Ya Allah, berikanlah barakah kepada kami di negara Syam dan Yaman kami.” Orang-orang berkata lagi, “Dan juga Najd kami.” Rasulullah pun mengucapkan sama untuk ketiga kalian, lalu bersabda, “Di sana banyak gempa penyimpangan agama dan fitnah. Dari sana jugalah akan muncul tanduk setan…” (HR. Bukhari, al-Tirmidzi, al-Baghawi, Ibn Hibban)

Ahmad meriwayatkan dari Ibn Umar secara Marfu’, “Ya Allah, berikanlah barakah kepada kami di kota Madinah kami, takaran Sha’ kami, di takaran Mud kami, dan di negara Yaman dan Syam kami.” Lalu beliau menghadap ke timur dan bersabda, “Disanalah muncul tanduk setan…” Rasulullah SAW juga berkata, “Di sana banyak gempa penyimpangan agama dan fitnah. Dari sana jugalah akan muncul tanduk setan…” (HR. Ahmad, Ibn Khuzaimah, Muslim, Malik, al-Baghawi)

Saya berkata: Aku bersaksi bahwa Rasulullah SAW adalah Nabi yang benar. Semoga shalawat, salam, dan barakah Allah kepada beliau, keluarga, dan shahabat semua. Beliau telah menyampaikan amanat dan risalah.

Syaikh Taqiyuddin Ibn Taimiyyah berkata,”Daerah timur kota Madinah bernama Syaraf. Dari sana muncul Musailimah al-Kadzdzab yang mengaku-ngaku menjadi nabi. Dialah pelopor pertama kali hal tersebut, lalu diikuti oleh beberapa tokoh lainnya. Musailimah dan pengikutnya lalu ditumpas oleh khalifah Abu Bakr al-Shiddiq.”

Terdapat beberapa dalil dari Hadits ini. Diantaranya:

Rasulullah SAW bersabda bahwa keimanan akan muncul dari Yaman, sedangkan fitnah akan muncul dari arah timur. Beliau mengucapkannya berulang kali.

Rasulullah SAW mendoakan Hijaz dan penduduknya berkali-kali, namun tidak mendoakan penduduk daerah timur karena banyak muncul dari sana, khususnya Najd.

Awal fitnah yang muncul setelah Rasulullah SAW berasal dari tanah kita ini (Najd).

Kami katakan bahwa tradisi-tradisi yang kalian gunakan untuk memvonis Muslim menjadi kafir, bahkan kalian gunakan untuk mengkafir-kafirkan orang yang tidak mengkafirkannya, telah beredar luas di Makkah, Madinah, dan Yaman selama beratus-ratus tahun. Bahkan, terdapat informasi bahwa tidak ada tempat di dunia yang lebih banyak berlaku tradisi ini seperti di ketiga daerah diatas.

Sedangkan tanah kita ini (Najd) adalah daerah pertama munculnya berbagai fitnah. Kami tidak pernah menemukan fitnah yang lebih di daerah-daerah Muslim lainnya, baik zaman dulu maupun sekarang.

Sekarang, kalian mewajib-wajibkan orang untuk mengikuti madzhab kalian. Orang yang mengikuti kalian namun tidak dapat menampakkan di daerahnya serta tidak mampu mengkafir-kafirkan penduduknya harus berhijrah ke daerah kalian. Kalian juga menyangka sebagai kelompok yang ditolong Allah SWT. Padahal, semua sangkaan kalian ini bertentangan dengan Hadits.

Rasulullah SAW telah diberitahu oleh Allah tentang kondisi yang terjadi kepada umatnya hingga Hari Kiamat. Rasulullah SAW juga memberitahukan fenomena yang terjadi kepada mereka. Andaikan beliau tahu bahwa Najd sebagai tempat munculnya Musailimah akan menjadi daerah iman, golongan yang menang akan muncul dari sana, serta akan menampakkan keimanan, lalu tidak samar bahwa daerah selain Najd seperti Makkah, Madinah, dan Yaman akan menjadi daerah kafir sentral penyembahan berhala dan wajib hijrah dari sana, tentu Rasulullah akan menceritakan hal tersebut dan mendoakan buruk kepada Haramain dan Yaman serta mendoakan baik penduduk daerah timur khususnya Najd. Beliau juga akan menberitakan bahwa tiga kawasan tersebut adalah kawasan penyembahan berhala.

Namun, Rasulullah SAW lepas tangan dari asumsi semacam ini karena realita yang terjadi berbanding terbalik darinya. Rasulullah SAW mengglobalkan kata daerah timur, namun mengkhususkan menyebut kata Najd sebagai tempat muncul tanduk setan dan sentral fitnah-fitnah, serta tidak mau berdoa untuknya. Ini jelas bertentangan dengan tuduhan kalian.

Sekarang kalian mengatakan bahwa daerah yang didoakan Rasulullah SAW adalah kafir, sedangkan daerah yang beliau tidak mau mendoakannya dan mengatakan akan muncul tanduk setan serta fitnah dari sana adalah daerah iman yang wajib hijrah kesana. Pemaparan dari Hadits diatas kiranya cukup jelas, InsyaAllah.

“Aku tidak Khawatir Umatku akan Kembali Musyrik setelah Aku Wafat”

Termasuk hal yang menunjukkan kesalahan pendapat kalian adalah Hadits riwayat Bukhari Muslim dari Uqbah bin Amir, bahwa Rasulullah SAW bersabda, “Sesungguhnya aku tidak khawatir kalian bertindak syirik setelahku. Tetapi kami khawatir kalian akan saling berebut dunia, lalu saling membunuh hingga binasa seperti hal itu terjadi pada umat sebelum kalian.” Uqbah berkata, “Hadits ini terjadi waktu terakhir aku melihat Rasulullah SAW berdiri di atas mimbar.” (HR. Bukhari, al-Thabarani)

Arah dalil Hadits ini bahwa Rasulullah SAW memberitahukan segala hal yang terjadi pada dan dari umatnya hingga Hari Kiamat seperti dalam Hadits-hadits lain yang tidak dapat disebutkan di sini. Termasuk hal yang dikisahkan dalam Hadits Shahih diatas bahwa Rasulullah SAW merasa aman dan tidak khawatir penyembahan berhala dari umatnya. Namun beliau juga memperingatkan umatnya, dan peringatan itupun terjadi.

Ini jelas bertentangan dengan pendapat kalian. Menurut kalian, semua umat Rasulullah SAW telah menyembah berhala yang memenuhi negara-negara Islam, kecuali jika salah satu penjuru dunia tidak menemui Hadits tersebut. Jika tidak demikian, maka seluruh penjuru dunia mulai ufuk timur hingga ufuk barat, dari Roma hingga Yaman, semuanya penuh dengan tradisi yang kalian kafir-kafirkan itu. Kalian menuduh orang yang tidak mengkafirkan orang yang melakukannya adalah kafir. Padahal, telah maklum bahwa kaum Muslimin telah melaksanakan Islam dengan semestinya dan tidak mengkafir-kafirkan mereka. Karena ucapan kalian ini maka semua negeri Islam telah kafir kecuali negeri kalian. Anehnya, hilangnya tradisi semacam itu tidak terjadi di daerah kalian kecuali sejak sepuluh tahun yang lalu.

Dengan ini maka terlihat jelas kesalahan pendapat kalian, AlhamduliLlahi Rabb al-‘alamin.

Jika kalian berkata, Rasulullah SAW bersabda, “Hal yang paling aku khawatirkan dari kalian adalah syirik.” (HR. Ahmad, al-Haitsami, al-Thabarani, Ibn Hibban, al-Bazzar, Ahmad) Maka saya jawab, Hadits ini benar dan Hadits-hadits Rasulullah SAW tidak akan saling bertentangan. Akan tetapi, setiap Hadits dari Rasulullah yang menerangkan tentang kekhawatiran beliau terhadap syirik maka yang dimaksud adalah syirik kecil, seperti Hadits Syaddad bin Aus, Abu Hurairah, dan Mahmud bin Lubaid. Semuanya menjelaskan terbatas pada kekhawatiran Rasulullah SAW terhadap syirik kecil yang menimpa umatnya. Realitas pun berkata demikian, syirik kecil menjamur di seluruh penjuru dunia. Begitu pula Rasulullah SAW begitu khawatir umatnya tertimpa fitnah dan saling berperang di dunia, lalu kekhawatiran itupun telah terjadi.

Hal yang dianggap syirik kecil tersebut kalian katakan sekarang sebagai syirik besar. Kalian mengkafirkan kaum Muslimin dengannya, bahkan orang yang tidak mengkafirkan mereka juga. Benarlah apa yang dikatakan Hadits-hadits dan kebenaran pun terungkap, AlhamduliLlah.
** Karya Ilmiah Para Santri Ribath Darusshohihain

​MENUJU KEMAJEMUKAN RELIGIUS

Seperti tak pernah ada kata henti umat islam di negri ini terus menerus mengalami nasib yang menyedihkan mulai dari keruntuhan Turki Ustmani, penghapusan sistem khilafah oleh mustofa kemal attaruk pada tahun 1924, sampai dengan pembantaian yang dialami saudara sausara kita di maluku, padahal komponen terbesar bangsa ini adalah umat islam, dan para pemegang kebijaksanaan negeri ini mulai dari RT sampai presiden adalah mereka yang berstatus muslim.

Ada apa…….?

Dalam sejarah umat islam, peristiwa-peristiwa yang mengarah pada disintregrasi, dimana bentrok antar sesama muslim  yang disulut oleh sikap fanatik  (Ta’ashub) terhadap satu kelompok, atau terhadap orang-perorang, sudah beberapa kali terjadi.

Beberapa saat setelah Rosulullah SAW meninggal dunia, orang- orang islam dari golongan Muhajirin (orang orang islam dari Mekkah yang hijrah ke Madinah) terlibat perdebatan sengit dengan orang-orang islam dari kalangan Anshor (orang-orang islam madinah yang menolong saat orang orang islam Mekkah datang mengungsi ke madinah) perdebatan itu berkisar soal siapa yang paling pantas menjadi kholifah (pemimpin) sepeninggal Rosulullah SAW.

Kalangan Muhajirin berpendapat, bahwa merekalah yang berhak, sebab mereka lebih dulu masuk islam, dan yang paling banyak membantu perjuangan Rosulullah SAW dan mereka dari kalangan Anshor berpendapat bahwa mereka inilah yang berhak, karena mereka yang banyak membantu orang-orang Muhajirin. Mereka menyatakan jika tanpa orang-orang Anshor, maka orag orang Muhajirin tidak bisa sukses di tempat yang baru di madinah. Abu Bakar RA. Dari kalangan Muhajirin akhirnya terpilih menjadi kholifah pertama. Dan Sa’ad bin Ubaidah (Anshor) akhirnya terbunuh yang di anggap sebagai  provokator diantara kedua pihak.

Terjadinya perang onta (Waq’atul Jamal) antara tentara islam yang di komandani Siti A’isah (istri Rosulullah) dengan tentara islam yang dikomandani oleh Ali bin Abi Tholib (menantu Rosulullah) salah satu penyulutnya adalah sikap fanatisme  (Ta’ashub) 

Munculnya aliran Syiah dalam islam, salah satu penyulutnya juga sikap fanatisme sebagian orang islam terhadap Ali bin Abi Tholib. Mereka menyamakan kedudukan Ali disamping Rosulullah laksana nabi Harun AS di samping nabi Musa AS mereka juga berpandangan bahwa Ali yang paling berhak menjadi kholifah  setelah Rosulullah SAW meninggal dunia. Karena itu, menurut mereka kholifah sebelum Ali adalah merampas hak Ali .

Itulah beberapa contoh dampak mengerikan dari adanya sikap fanatisme yang berlebihan yang tidak terkontrol dengan baik. Mereka yang fanatic mendukung satu kelompok atau seseorang, selalu menganggap yang di idolakan yang paling sempurna.

Dalam panggung politik umat islam pernah merasakan beberapa pengalaman yang paling menyakitkan. Mereka yang dapat  disatukan dalam satu wadah masyumi (1944) (Majlis Syuro Muslimin Indonesia) akhirnya satu persatu keluar akibat adanya perbedaan pendapat dan perasaan kecewa diantara ormas-ormas islam. NU keluar dari masyumi pada tahun 1952, dan kemudian menjad partai politik (porpol) sendiri dan ikut pemilu pada tahun 1955. Pada tahun 1973, empat partai islam. NU, PSSI, PERTI, PARMUSI, sepakat untuk menfusikan diri dalam satu wadah partai politik, Partai Persatuan Pembangunan (PPP). Menjelang pemilu 1977  barang kali bisa di sebut sebagai klimaks, partai-partai islam dalam satu wadah PPP . sebab keadaan yang harmonis itu. Hanya beberapa tahun saja, dimana pada pemilu 1982 mulai ada pro dan kontra, dan akhirnya NU menyatakan kembali ke khitoh 1926 dalam muktamarnya ke-27, pada tanggal 8-12 Desember 1984 di Situbondo.

Dari ilustrasi di atas dapat di simpulkan, bahwa usaha untuk menyatukan kelompok-kelompok islam tradisional (NU) dan kelompok kelompok islam modern (MUHAMADIYAH) masih sulit untuk diwujutkan. itu semua disebabkan adanya saling curiga mencurigai diantara sesama muslim .

Sementara itu, sudah menjadi keharusan, bahwa kita sebagai umat islam akan senantiasa berusaha mencari ridlo allah SWT dalam setiap denyut nadi  dan perjalanan dalam menapaki kehidupan fana ini. Sebuah cita cita besar yang berbenderakan Izzul islam wal muslimin dan li I’laii kalimatillah hiyal ulya adalah sesuatu yang harus kita realisasikan . 

Ketika diadakan aksi sejuta umat dalam rangka solidaritas terhadap penderitaan umat islam di ambon, maluku utara, Halmahera, Ternate, Tidore dan tempat-tempat lainnya, pada hari terakhir bulan ramadhon 1420 H. jum’at 7 januari 2000 M, mengemukakan pula harapan dan keinginan kuat agar para pemimpin pemimpin islam di Indonesia makin merapatkan barisan dan merakit ukhuwah, demi izzul islam wal muslimin.

Sebuah keinginan dan kerinduan. Yang wajib mendapatkan sambutan positif dari kalangan pemimpin itu sendiri. Karena di yakini bersama, bahwa keinginan untuk menyatu tersebut bukan semata di dorong dengan adanya konflik yang berbau sara antara umat islam dan kaum nasroni, tetapi lantaran kesatuan dan ukhuwah itu merupakan bagian integral dari keimanan kaum muslimin, melakukan ishlah terhadap hubungan sesama muslim merupakan konsekwensi aqidah. 

     Firmannya:

إنما المؤمنون إخوة فأصلحوا بين اخويكم واتقو الله لعلكم ترحمون

“Sesungguhnya orang-orang muslim itu bersaudara, karena itu  damaikanlah antara kedua saudaramu dan bertaqwalah kepada allah SWT supaya kamu mendapat rahmat” ( Qs Hujurat 10)

Disamping itu ukhuwah islamiyah yang solid akan melahirkan ta’awun, kerja sama dan saling membantu antar sesama kaum muslimin didalam melaksanakan berbagai tugas pengabdian kepada allah SWT maupun tugas melakukan perbaikan perbaikan dalam berbagai bidang kehidupan.

Satu hal yang harus kita sadari bersama, bahwasanya untuk mewujudkan semua itu dibutuhkan kerangka berfikir yang baik dan terus menerus meningkatkan TAQORUB (mendekatkan diri) kepada Allah SWT dengan tartil al Quran yang kontinyu, selalu membaca Rotibul Haddad, Wirdul latif, melakukan Qiyamul lail, serta kesamaan aqidah, (Syartul Murofaqoh Muwafaqoh) ibadah, adat dan perilaku,  sejarah, bahasa, jalan dan dustur yang bersumber pada firman-firman Allah SWT (al Quran) dan sabda-sabda  Rosulnya ( Assunah).

Hal ini sangat di perlukan, karena merakit ukhuwah dan kesatuan itu memerlukan keikhlasan yang luar biasa yakni keikhlasan menerima perbedaan pendapat, keikhlasan untuk menerima  nasehat, dan menasehati, keikhlasan untuk tidak mendapatkan jabatan dan kedudukan, dan juga keikhlasan untuk menerima apapun yang sudah menjadi keputusan bersama apalagi jika keinginan untuk menjadikan satu partai islam itu akan diwujudkan, bagaimanapun hambatan psikologis akan jauh lebih berat dibandingkan hambatan teknis.

Sementara itu bagi para tokoh dan pemimpin islam harus terus-menerus melakukan penguatan komponen ukhuwah islamiyah, seperti melakukan silaturahim, tukar menukar pendapat dan pikiran, melakukan berbagai macam dialog secara terbuka tentang berbagai hal yang menyangkut kepentingan bersama. Melaksanakan aktifitas bersama, mulai dari tingkat pusat sampai daerah-daerah dan segera melakukan ishlah bila terjadi berbagai konflik antar sesama muslim. mengedepankan sikap dan budaya husnudzon dan mengembangkan sikap tabayyun, yakni menyeleksi setiap informasi yang bertujuan mengadu-domba dan memecah belah sesama kaum muslimin .

Tranformasai budaya dan komunikasi sebagai dampak bergeloranya modernisasi, ternyata membawa implikasi yang mengarah pada kebingungan psikologis, untuk itu diperlukan figur-figur yang paripurna  sebagai kekuatan moral yang siap beradabtasi dan mengadaptasi zaman yang bisa menyatukan umat, tampil dimasyarakat melakoni teater zaman dengan membawakan peran masing-masing semaksimal mungkin dengan berbenderakan panji- panji aqidah yang bersumberkan pada teksredaksional al Quran dan as Sunah. dua elemen inilah yang memberikan inspirasi serta motivasi  kepada pejuang-pejuang muslim di Indonesia sejak wali songo dilanjutkan oleh Abdul Hamid Diponegoro, Imam Bonjol, Sultan Hasanudin, Sultan Babullah, Tjikditiro, dan lain lainnya untuk berhadapan dengan kaum penjajah kafir yang bercokol di bumi pertiwi selama 350 tahun yang berusaha memisahkan agama dengan politik (Fasluddin A’niddaulah) dalam kehidupan berbangsa dan bernegara dengan sebuah cita-cita agung yaitu “izzul islam wal muslimin”, juga sebuah pengorbanan yang besar untuk mempertahankan sebuah keyakinan dan aqidah yaitu islam.

Ajaran islam jualah yang memberikan semangat bapak-bapak kita para mujahid seperti KH. Wahab Hasbullah, KH. Saifudin Zuhri, Buya Hamka, KH. Bisri Syamsuri KH. Moh Anshori, Moh Natsir, RH kasman Singoedimedjo dan ulama’ ulama’ lainya yang dengan gemuruh suara takbir mereka kumandangkan dalam sidang sidang konstuante pada tahun  50 -an mereka satu kata satu fisi satu semangat yaitu islam sebuah agama yang mengatur segala aspek kehidupan yang di ridloi oleh Allah SWT akan tetapi perjuangan para mujahid-mujahid tersebut harus kandas dan tercabik-cabik ditangan bung Karno yang dengan otoriter dan aroganya membubarkan konstituante pada tahun 1959 .

Sebagai umat islam sudah seharusnya kita bertanya kepada nurani kita masing-masing akan di kemanakan cita-cita pejuang- pejuang islam yang menginginkan dan konsisten dalam mengaplikasikan pesan-pesan Allah SWT dan bahasa bahasa kebenaran yang keluar dari bibir Rosulullah SAW ……?

Muhadloroh sebagai salah satu lembaga pendidikan relegius juga turut serta menelurkan dan melahirkan cendekiawan cendikiawan muslim yang siap menjadi abdi atau pelayan masyarakat mendidik generasi muda untuk di persiapkan secara ekslusif menjadi seniman strategi yang bisa menyiasati zaman dengan dijejali ilmu ilmu Exact tentu saja eksistensi dan keberadaannya di perlukan kegigihan serta di barengi dengan bersungguh sungguh dalam bertafaqquh fiddin .

Akhirul kalam penulis wanti wanti kepada konco konco Muhadloroh lebih-lebih pada diri sendiri tinggalkan semaksimal mungkin tindakan pengkultusan yang akhir akhir ini sedang melanda bangsa kita.

Benih-benih kultus terhadap penguasa di negeri ini begitu tampak merajalela,  sang penguasa telah dimitoskan sebagai The Man Can Do No Wrong  (berbuat tanpa bisa salah ) semua ucapanya adalah sabda padahal dilihat dari segi apapun bahaya kultus sangat mengerikan, secara aqidah kultus menjarah pada kemusyrikan.

Sekarang bagaimana kalau yang dikultuskan itu seorang     wali ……..? justru kalau betul dia seorang wali dia akan menindak tegas (duko) siapa yang mengultuskannya jika dia diam saja dan bahkan malah bangga sangat tidaklah layak bila dia disebut wali. Firmanya :

ألا إن اولياء الله لا خوف عليهم ولا يحزنون .   الذين أمنوا وكانوا يتقون

“Ingatlah …….! Sesungguhnya wali-wali Allah SWT itu tidak pernah dihinggapi kekawatiran dan kesedihan. Mereka adalah orang orang yang beriman dan bertaqwa” (QS. YUNUS 62-63) 

Wali bukanlah martabat yang membuat seseorang  kebal terhadap hukum Allah SWT dia tetap berada dalam jangkauan hukum syariat dengan kata lain jadikanlah al Quran dan as sunnah sebagai pegangan dalam melaksanakan proses dinamisasi kehidupan. 

Semoga bermanfaat.

                                         Sarang, 25 Juli 2000

​MENYOAL BALIK PARA PEJUANG PIMPINAN BEDA AGAMA TERKAIT QS. AL-MAIDAH: 51 DAN MUI

Beberapa waktu terakhir ini QS. Al-Maidah: 51 dan Majelis Ulama Indonesia (MUI) menjadi perbincangan yang sangat hangat di media. Pasalnya, masyarakat lagi-lagi diresahkan dengan pernyataan sumir dari Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaya Purnama, yang mengatakan bahwa masyarakat tidak boleh dibodohi oleh Al-Maidah ayat 51 sehingga tidak mau memilih dirinya dalam Pilkada tahun 2017 mendatang. Sontak ucapan Ahok tersebut mendapat kecaman dari umat Islam, hingga banyak sekali ormas Islam yang turun ke jalan untuk menuntut pihak kepolisian agar menindak Ahok di ranah hukum karena telah melecehkan Al-Quran dan menyulut konflik SARA. Setelah dimintai keterangan oleh kepolisian, MUI juga memutuskan bahwa Basuki Tjahaya Purnama telah melakukan penistaan agama karena melecehkan QS. Al-Maidah: 51.
Setelah keputusan itu dibuat dan Ahok kembali dipanggil pihak berwajib di meja hijau, tiba-tiba muncul pemberitaan yang begitu massif, isinya adalah kritik terhadap sikap MUI tersebut dan (lagi-lagi) kajian terhadap tafsir QS. Al-Maidah: 51. Saking emosinya pihak yang menentang keputusan MUI tersebut, hingga situs change.org membuat sebuah laman voting bertajuk “Petisi Bubarkan MUI” yang telah didukung oleh sekitar 15.000 vote. Tak ketinggalan, beberapa tokoh dan ‘tukang nulis’ berlomba-lomba menulis artikel tentang kecaman terhadap MUI dan penafsiran kembali QS. Al-Maidah: 51 yang mereka klaim sangat kaku dan tidak sesuai dengan Pancasila dan keindonesiaan. Entah bagaimana, setelah Ahok diproses hukum oleh kepolisian, dukungan terhadap gubernur petahana ini tiba-tiba menjadi begitu santer, mereka tanpa kikuk dan malu menjelek-jelekkan serta membodoh-bodohkan lembaga nasional yang telah menaungi Syariah Islam dan kehidupan masyarakat Indonesia selama bertahun-tahun dengan berbagai argumentasi.

Oleh karena itu, tulisan ini akan mengulas dan menanggapi beberapa pernyataan dari para “pejuang pimpinan beda agama anti-MUI” ini, sehingga kita mampu menilai seberapa kadar kekuatan dan ketepatan argumentasi mereka hingga berani memberikan penafsiran terhadap QS. Al-Maidah: 51 dan menyerang MUI sebagai lembaga ulama Indonesia.
Menjaga Spesies Manusia

Berangkat dari pembahasan Maqashid al-Syari’ah, pejuang pimpinan beda agama mengarahkan agar umat Islam lebih mementingkan hifzh al-nafs (menjaga kelangsungan hidup) manusia, meskipun harus mengorbankan hukum yang berasal dari teks Al-Quran Hadits. Mereka menyatakan:

“Maka para ulama itu menyebutkan bahwa paling utama dari semua hal adalah menjaga nyawa manusia. Mereka katakan bahwa asas hukum Islam adalah menolak bahaya dan mudarat bagi manusia. Yang dimaksud manusia di sini tentu bukan sebagai individu tapi sebagai keseluruhan. Dengan demikian, teks atau konteks apa pun yang dapat dipahami sebagai menimpulkan bahaya atau mudarat bagi sebagian terbesar manusia maka wajib disingkirkan atau ditundukkan demi teks dan konteks yang mampu memberi manfaat dan maslahat yang sebesar-besarnya bagi sebanyak mungkin manusia.”

“Dalam kaitan dengan tafsir Al-Maidah 51, teks dan konteks harus tunduk pada 5 prinsip agama yang telah dirumuskan oleh para ulama tersebut, sehingga apa saja tafsir yang dapat menimbulkan bahaya bagi kelima hal yang paling wajib dijaga itu harus ditundukkan dan dinomorduakan atas tafsir yang mampu menjaga kelangsungan kelimanya. Tafsir tekstual dan kontekstual yang mampu menjaga kelangsungan dan kemaslahatan spesies manusia (bangsa) lebih diutamakan daripada tafsir teks dan konteks yang merusaknya.” (islamindonesia.id)

Pernyataan diatas tentu aneh. Di satu sisi pejuang pimpinan beda agama ini mengakui 5 prinsip agama yang biasanya disebut Maqashid al-Syari’ah atau al-Kulliyyat al-Khams, akan tetapi mengajak orang untuk menjaga nyawa manusia meski dengan menggugurkan hukum dari Al-Quran. Sepertinya ada inkonsistensi dalam cara berfikirnya.

Pakar hukum Islam kenamaan dari universitas al-Azhar, Syaikh Ibrahim al-Baijuri menjelaskan bahwa yang dimaksud sebagai hifzh al-din (perlindungan agama) adalah mempertahankan hukum-hukum Tuhan, menjaga dari kekufuran, serta rusaknya hukum halal dan haram. Dari tujuan inilah maka diwajibkan memerangi kafir harbi dan kaum murtad. Sedangkan dari tujuan hifzh al-nafs (perlindungan nyawa) maka disyari’ahkan hukum pidana qishash bagi pembunuh dan perusak organ tubuh manusia. (Syaikh Ibrahim al-Baijuri, Tuhfah al-Murid Syarh Jauharah al-Tauhid, hlm. 217)

Dari keterangan ulama diatas, terlihat bahwa perlindungan hukum dan ajaran Islam menjadi prioritas utama dalam agama Islam meskipun konsekuensinya adalah menghilangkan nyawa seseorang. Dari sini dapat disimpulkan bahwa perlindungan terhadap agama lebih diutamakan daripada perlindungan terhadap nyawa.

Tentang QS. Al-Maidah: 51, sebenarnya apa yang penulis diatas maksud sebagai tafsir yang berbahaya dan memberikan mudharat? Kandungan QS. Al-Maidah: 51 baik secara eksplisit (manthuq sharih) maupun implisit (manthuq ghairu sharih dan mafhum) tidak pernah menganjurkan umat Islam untuk saling membunuh karena topiknya adalah masalah kepemimpinan. Lalu mengapa ayat ini dikaitkan dengan masalah perlindungan nyawa? Ada pemikiran yang tidak nyambung. Yang jelas, ayat ini mewajibkan umat Islam untuk tidak menjadikan kaum Yahudi Nasrani sebagai teman karib, apalagi sebagai pemimpin umat Islam.
Perbedaan Konteks

Sebagian pejuang pimpinan beda agama kembali mengangkat perbedaan konteks sebagai alasan untuk menolak larangan mengangkat non-Muslim sebagai pemimpin umat Islam. Dia mengatakan bahwa kebijakan khalifah Umar bin Khatthab menolak non-Muslim masuk dalam jabatan pemerintahannya adalah karena bukan karena keharaman mengangkat non-Muslim sebagai pemimpin, namun karena kesucian wilayah Madinah serta potensi bocornya rahasia potensi bocornya rahasia negara yang tengah melakukan ekspansi dakwah. (nu.or.id) 

Yang menjadi masalah, benarkah memang kepemimpinan non-Muslim dilarang hanya karena itu saja? Jika demikian, mengapa khalifah Ali bin Abu Thalib juga menulis surat kepada gubernur Umar bin Maslamah yang isinya adalah peringatan kepadanya agar tidak mengangkat non-Muslim sebagai pejabat pemerintahan dengan dasar QS. Al-Maidah: 51 dan QS. Ali Imran: 118, padahal posisi pemerintahannya berada di Baghdad? (al-Ya’qubi, al-Tarikh, juz 1 hlm. 189) Khalifah Umar bin Abdul Aziz juga menulis peringatan yang sama kepada para gubernurnya? (Ibn Atsir, al-Kamil fi al-Tarikh, juz 2 hlm. 372) Khalifah Imaduddin Zanki dari Dinasti Islam Turki juga memperingatkan agar tidak mengangkat non-Muslim sebagai bagian dari pemerintahan, padahal pusat pemerintahan sangat jauh dari Makkah dan Madinah? (al-Daulah al-Zankiyyah, hlm. 187) Alasan kesucian Madinah diatas jelas merupakan alasan yang mengada-ada dan kesannya dipaksakan.
Kesahihan Riwayat

Ini merupakan alasan kedua yang digunakan pejuang pimpinan beda agama untuk menganalisa riwayat penolakan Khalifah Umar terhadap kepemimpinan non-Muslim diatas. Ia mengatakan bahwa riwayat tersebut bukanlah Hadits tapi Atsar shahabat, sehingga mungkin menurutnya tidak dapat menjadi sumber hukum. (nu.or id)

Benarkah Atsar Shahabat tidak dapat digunakan untuk menggali hukum Islam? Jika demikian, lalu bagaimana dengan kesunnahan Shalat Tarawih berjamaah di bulan Ramadhan yang merupakan kebijakan dari khalifah Umar? Bagaimana dengan kebijakan kodifikasi Al-Quran oleh khalifah Abu Bakr dan standardisasi Al-Quran oleh khalifah Utsman? Padahal kesemuanya ini tidak ada di zaman Rasulullah dan murni inovasi dari para shahabat. Menolak larangan mengangkat pimpinan non-Muslim hanya karena riwayatnya berupa Atsar Shahabat merupakan alasan yang tidak tepat dan mereduksi makna Ahlussunnah wal Jama’ah sendiri yang berarti “pengikut Sunnah Nabi dan Ijma’ Shahabat”.

Selanjutnya, anggapan bahwa tidak ada dalil Hadits Rasulullah ShallaLlahu ‘alaihi wa Sallama yang menunjukkan keharaman mengangkat non-Muslim sebagai pimpinan juga keliru. Banyak hadits-hadits yang menunjukkan hal ini, diantaranya:

عَنْ أَبِي سَعِيدٍ الْخُدْرِيِّ رضي الله عنه، أَنَّهُ سَمِعَ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ: «لَا تُصَاحِبْ إِلَّا مُؤْمِنًا، وَلَا يَأْكُلْ طَعَامَكَ إِلَّا تَقِيٌّ» )رواه الترمذي( 

Dari Abu Sa’id al-Khudri RadliyaLlahu ‘anhu, ia berkata: Rasulullah ShallaLlahu ‘alaihi wa Sallama bersabda, “Janganlah berkawan kecuali dengan orang mukmin, dan janganlah memakan makananmu kecuali orang yang bertakwa.” (HR. al-Tirmidzi)

عَنْ عَبْدِ اللهِ بْنِ مَسْعُودٍ رَضِىَ اللهُ عَنْهُ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللهِ صلى الله عليه وسلم :« يَا عَبْدَ اللهِ أَىُّ عُرَى الإِسْلاَمِ أَوْثَقُ؟ ». قَالَ قُلْتُ : اللهُ وَرَسُولُهُ أَعْلَمُ. قَالَ :« الْوَلاَيَةُ فِى اللهِ الْحُبُّ فِى اللهِ وَالْبُغْضُ فِى اللهِ ». (رواه البيهقي)

Dari Abdullah bin Mas’ud RadliyaLlahu ‘anhu, ia berkata: Rasulullah ShallaLlahu ‘alaihi wa Sallama bersabda, “Wahai Abdullah, apa tali Islam yang paling kokoh?” Aku menjawab, “Allah dan Rasul-Nya lebih mengetahui.” Kemudian Rasulullah bersabda, “Yaitu kesetiaan karena Allah, cinta karena Allah, dan benci karena Allah.” (HR. al-Baihaqi)

عَنْ عَبْدِ اللهِ بْنِ عَباسْ -رضي الله عنهما- : قال: سَمِعْتُ رَسُوْلَ الله -صلى الله عليه وسلم- اللَّهُمَّ اجْعَلْنَا هَادِيْنَ مُهْتَدِيْنَ، غَيْرَ ضَالِّينَ وَلَا مُضِلِّينَ، سِلْمًا لِأَوْلِيَائِكَ، وَعَدُوًّا لِأَعْدَائِكَ، نُحِبُّ بِحُبِّكَ مَنْ أَحَبَّكَ، وَنُعَادِي بِعَدَاوَتِكَ مَنْ خَالَفَكَ (رواه الترمذي)

Dari Abdullah bin Abbas RadliyaLlahu ‘anhu, ia berkata: Aku mendengar Rasulullah ShallaLlahu ‘alaihi wa Sallama berdoa, “Ya Allah, jadikanlah kami sebagai orang-orang yang memberi petunjuk (kepada selain kami) dan dianugerahi petunjuk (dari Engkau), janganlah Engkau jadikan kami termasuk orang-orang tersesat lagi menyesatkan, dan jadikanlah kami sebagai orang-orang pendamai kepada setiap kekasih-Mu dan (sebagai) pemusuh kepada setiap musuh-Mu. Dengan dasar cinta-Mu kami dapat mencintai setiap orang yang mencintai-Mu, dan karena benci-Mu (pula) kami memusuhi setiap orang yang mendurhakai-Mu.” (HR. al-Tirmidzi)

Hadits-hadits di atas ketika ditinjau secara Ushul Fiqh menunjukkan bahwa berkawan dan berteman dengan orang-orang kafir saja dilarang oleh agama Islam, apalagi menjadikan mereka sebagai pimpinan umat Islam. Hal ini dalam tataran Ushul Fiqh dinamakan Qiyas Aulawiy.

عَنْ أَبِيْ بَكْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: لَنْ يُفْلِحَ قَوْمٌ وَلَّوْا أَمْرَهُمْ اِمْرَأَةً  )رواه البخاري(

Dari Abu Bakrah RadliyaLlahu ‘anhu, ia berkata: Rasulullah ShallaLlahu ‘alaihi wa Sallama bersabda: “Tidak akan berhasil (baik) suatu kaum yang menguasakan urusannya kepada seorang perempuan (menjadikannya pemimpin).” (HR.  al-Bukhari)

Dari hadits diatas, Rasulullah ShallaLlahu ‘alaihi wa Sallama menjelaskan bahwa suatu kaum yang menjadikan wanita sebagai pimpinannya maka urusan mereka tidak akan pernah baik alias tidak akan memperoleh keberhasilan, apalagi menjadikan kafir yang notabenenya musuh Allah Ta’ala sebagai pimpinan. WaLlahu A’lam.

Dengan demikian, dapat semakin terkuak berbagai kesalahan yang dilakukan oleh pejuang pimpinan beda agama dalam membela mati-matian non-Muslim agar mendapatkan kedudukan politis dengan permainan dalil yang beraneka macam, entah kesalahan tersebut murni kealpaan atau memang sengaja ingin memutarbalikkan fakta dan membohongi umat Islam. Inna liLlahi wa Inna Ilaihi Raji’un.
Keputusan Khalifah Umar adalah Qaulus Shahabi

Ini adalah alasan ketiga dari pejuang pimpinan beda agama diatas untuk mengkritik kebijakan khalifah Umar. Ia mengatakan: 

“Umar bin Khattab adalah sahabat Nabi. Abu Musa al-Asy’ari juga sahabat Nabi. Keduanya berbeda pandangan dalam hal ini. Pendapat keduanya dalam usul al-fiqh disebut sebagai qaulus shahabi. Singkatnya ini adalah ijtihad para sahabat Nabi yang tidak disandarkan kepada Nabi. Artinya murni pemahaman mereka sepeninggal Nabi SAW.”

“Itu kalau kita memahami dari sudut usul al-fiqh. Kalau kita melihatnya dari sudut Fiqh Siyasah, maka keputusan Umar lebih kuat karena ia memutuskan dalam posisi sebagai khalifah, dan suka atau tidak suka, sebagai Gubernur bawahan Khalifah, Abu Musa harus ikut keputusan Umar. Namun keputusan Khalifah itu tidak otomatis dianggap ijma’ (kesepakatan) karena jelas ada perbedaan pendapat dikalangan sahabat.

Dengan kata lain, sikap Umar itu adalah kebijaksanaan beliau saat itu, yang seperti dicatat oleh sejarah, berbeda dengan kebijakan para Khalifah lainnya yang mengangkat non-Muslim sebagai pejabat seperti yang dilakukan oleh Khalifah Mu’awiyah, Khalifah al-Mu’tadhid, Khalifah al-Mu’tamid, dan Khalifah al-Muqtadir.” (nu.or.id)

Memang ada khilaf antar madzhab tentang Qaul Shahabat. Akan tetapi, jika dikatakan bahwa masalah larangan mengangkat pemimpin non-Muslim bukan ijma’ maka ucapan ini keliru karena beberapa hal. 

Pertama, keputusan khalifah Umar untuk tidak mengangkat non-Muslim sebagai pemimpin juga diikuti oleh khalifah Ali dalam surat peringatannya kepada gubernur Umar bin Maslamah (al-Ya’qubi, al-Tarikh, juz 1 hlm. 189), dan secara praksis kebijakan ini diikuti oleh seluruh Khulafa Rasyidun. Kedua, kebijakan hukum Khulafa Rasyidun tersebut sudah dianggap sebagai ijma’ dan dapat menjadi hujjah karena tidak ada shahabat yang menentang kebijakan tersebut. (lihat: Wahbah al-Zuhaili, Ushul al-Fiqh al-Islami, juz 1 hlm. 491) Ketiga, Abu Musa al-Asy’ari menerima keputusan khalifah Umar tersebut setelah mengetahui dalil yang jelas yakni dari QS. Al-Maidah: 51, bukan karena terpaksa sebagai seorang bawahan khalifah. 

Oleh karena itu, klaim pejuang pimpinan beda agama bahwa tidak ada ijma’ tentang keharaman mengangkat pimpinan dari non-Muslim keliru dan tidak sesuai fakta.

Adapun catatan sejarah tentang beberapa khalifah yang memberikan jabatan politik kepada non-Muslim, maka data sejarah tersebut tidak dapat menjadi landasan dalil hukum Islam karena jelas sekali berseberangan dengan nash Al-Quran Hadits dan perilaku para Shahabat.

Terkait hal ini, penulis kitab al-Ayyubiyyun ba’da Shalah al-Din menjelaskan, “Adapun pada masa pemerintahan Sultan Kamil maka pelaksanaan al-wala wa al-bara’ lemah sekali. Hal ini terlihat dari kebijakan menyerahkan al-Quds kepada Kaisar Frederick II dengan imbalan emas dan tanpa ada perlawanan sama sekali. Sontak hal ini menjadikan kaum Muslim sangat kecewa, menyesal, dan sedih tiada terkira. Sultan Kamil juga menjalin hubungan diplomasi dengan kaum Kristen untuk menyerang saudaranya Mu’azham yang menjalin diplomasi dengan kaum Khawarizm. Seperti halnya juga Sultan Najmuddin Ismail yang menjalin hubungan bilateral dengan Pasukan Salib, menyerahkan salah satu benteng pertahanan kepada mereka, dan memenjarakan Syaikh Ibn Abdissalam dan Ibn Hajib selama beberapa waktu kemudian memberikan mereka status tahanan rumah. Sultan Najmuddin juga bekerjasama dengan Pasukan Salib memerangi Sultan Shalih Najmuddin Ayyub yang menentang penyerahan al-Quds…” (al-Ayyubiyyun ba’da Shalah al-Din, juz 2 hlm. 412)
Lembaga Fatwa Mesir Bolehkan Pimpinan Beda Agama

Ini merupakan argumen yang disebutkan oleh salah satu pejuang pimpinan beda agama, setelah ia mengaku bertanya kepada lembaga fatwa Mesir (tanpa menyebutkan secara jelas nama lembaganya) tentang masalah kepemimpinan non-Muslim terhadap kaum Muslimin. Dalam pengakuannya ia mengatakan:

“Untuk menjawab polemik ini, beberapa hari lalu, tepatnya tanggal 14 Oktober 2016, akun twitter intelektual  Zuhairi Misrawi mengunggah potongan gambar berisi istifta (permonohan fatwa) seseorang dari Indonesia kepada Lembaga Fatwa Mesir. Permohonan fatwa ini dilayangkan pada 12 Oktober 2016.

Isi pertanyaannya: “Apa hukum pencalonan non Muslim untuk jabatan gubernur di daerah yang mayoritasnya berpenduduk Muslim tetapi negara memiliki sistem demokratis yang membolehkan semua warganegara, Muslim ataupun non Muslim, untuk mencalonkan diri dalam pemilihan umum secara langsung? Apa pendapat fiqih terhadap status gubernur maupun anggota parlemen seperti dalam khazanah fiqih Islam?”

Dalam surat jawaban bernomor 983348 atas istifta (permohonan fatwa) tersebut, Lembaga Fatwa Mesir berfatwa: “Konsep penguasa/pemegang wewenang (al-hakim) dalam negara modern telah berubah. Dia sudah menjadi bagian dari lembaga dan pranata (seperti undang-undang dasar, peraturan perundang-undangan, eksekutif, legislatif, yudikatif) yang ada, sehingga orang yang duduk di pucuk pimpinan lembaga dan institusi seperti raja, presiden, kaisar atau sejenisnya tidak lagi dapat melanggar seluruh aturan dan undang-undang yang ada. Maka itu, pemegang jabatan dalam situasi seperti ini lebih mirip dengan pegawai yang dibatasi oleh kompetensi dan kewenangan tertentu yang diatur dalam sistem tersebut. Pemilihan orang ini dari kalangan Muslim maupun non Muslim, laki-laki maupun perempuan, tidak bertentangan dengan hukum-hukum syariah Islam, karena penguasa/pimpinan ini telah menjadi bagian dari badan hukum (syakhsh i’itibari/rechtspersoon) dan bukan manusia pribadi (syakhsh thabi’i/natuurlijke persoon).” (islamindonesia.id)

Dari keterangan diatas, ada beberapa catatan yang perlu diperhatikan. Catatan pertama, dalam berbagai literatur kitab salaf banyak sekali keterangan ulama yang melarang pengangkatan non-Muslim sebagai pemimpin kaum Muslimin baik kekuasaan universal, regional, maupun sektoral.

Pakar hukum Fiqh Syafi’I al-Mawardi menegaskan bahwa jabatan kementerian atau wazir harus diisi oleh orang yang memenuhi syarat Imam A’zham kecuali syarat dari Quraisy, sehingga memasukkan syarat harus Muslim. (Abu Hasan al-Mawardi, al-Ahkam al-Sulthaniyyah, hlm. 41) Selain itu, al-imarah al-khasshah atau kekuasaan yang mengurusi kewenangan tertentu baik regional maupun sektoral juga disyaratkan harus Muslim dan merdeka. (Abu Hasan al-Mawardi, al-Ahkam al-Sulthaniyyah, hlm. 54)

Al-Nawawi juga mengatakan bahwa mengangkat pejabat penarik iuran wajib dari non-Muslim jika ditujukan untuk masyarakat Muslim hukumnya tidak boleh. (Muhammad Syaraf al-Nawawi, Raudlah al-Thalibin, juz 6 hlm. 367)

Melihat keterangan ulama salaf diatas, maka aneh jika pejuang pimpinan beda agama diatas mengaku bahwa lembaga fatwa Mesir bersikap kontras dengan ulama-ulama pendahulunya. Meski seumpama memang faktanya demikian, maka fatwa tersebut berseberangan dengan keterangan ulama salaf.

Catatan kedua, setelah fatwa yang disebutkan oleh Zuhairi Misrawi diatas menjadi viral di media sosial, banyak pula yang memberikan kritik atas fatwa tersebut, diantaranya adalah situs http://www.albayan.co.uk. (www.albayan.co.uk/Mobile/Article2.aspx?id=1531) Dalam situs majalah Islam ternama di Arab Saudi pimpinan Ahmad bin Abdurrahman al-Shawayan tersebut dimuat sebuah tulisan berjudul Hukm I’tha al-Muslim Shautahu al-Intikhabiy li Ghair al-Muslim (Hukum Muslim Memberikan Suaranya saat Pemilu kepada Non-Muslim), yang isinya mengkritik pernyataan tentang kebolehan memilih non-Muslim memegang jabatan dalam pemerintahan sistem parlementer negara Islam. Tulisan ini dimuat pada hari Ahad 22 Muharram 1438 H atau 23 Oktober 2016 M, satu minggu setelah tulisan dari Zuhairi Misrawi tersebut dilayangkan.

Artikel tersebut mengawali pembahasan dengan mengkritik analisa tentang status anggota parlemen sebagai wakil karena tidak sesuai dengan kaidah-kaidah perwakilan dalam kitab-kitab Fiqh. Pertama, anggota parlemen tersebut merupakan wakil dari seluruh rakyat suatu negara, bukan hanya wakil dari orang-orang yang memilihnya. Lalu bagaimana dia menjadi berstatus wakil dari orang-orang yang tidak memberikan suara kepadanya? Hal ini menjadikan statusnya sebagai wakil dalam Fiqh menjadi janggal.

Kedua, anggota pemerintahan parlementer setelah menjadi anggota di dalamnya tidak dapat mengundurkan diri dari sesuai kehendaknya sendiri. Hal ini tidak sesuai dengan hak seorang wakil yang dapat mengundurkan diri dari apa yang diwakilkan kepada dirinya kapanpun dia mau. Dua hal ini menjadi posisinya sebagai wakil menjadi tidak tepat, akan tetapi jika ditinjau dari kewenangannya menduduki posisi di parlemen berdasarkan suara para pendukungnya maka status wakilnya dapat dikatakan sebagai wakalah naqishah (wakil yang tidak sempurna).

Ketiga, pemerintahan parlementer memiliki wewenang untuk mengawasi dan mengangkat pemerintahan eksekutif, sehingga mereka bertindak sebagai ahlul halli wal ‘aqdi yang bertindak sebagai pengawal berbagai kekuasaan eksekutif dan memiliki kekuasaan penuh dalam menjalankan roda pemerintahan, dimana non-Muslim tidak memiliki wewenang menjabat kekuasaan tersebut.

Keempat, anggota parlemen juga memiliki wewenang membuat serta melaksanakan undang-undang dan kebijakan dimana dalam negara yang mayoritas umatnya adalah Muslim harus selalu sesuai dengan Syari’ah Islam. Adapun non-Muslim tidak memiliki kecakapan dalam memahami agama Islam, sehingga tidak patut menduduki jabatan di pemerintahan ini.

Karena posisi dan tugas pemerintahan yang sangat krusial bagi masyarakat khususnya umat Islam ini, maka posisi ini tidak boleh diberikan kepada non-Muslim seperti halnya tidak boleh diberikan kepada Muslim yang tidak memiliki integritas keislaman yang kuat. (selengkapnya lihat link berikut: http://www.albayan.co.uk/Mobile/Article2.aspx?id=1531)

Dari beberapa argumentasi diatas, maka kebolehan mengangkat non-Muslim sebagai pimpinan umat Islam adalah pendapat yang lemah dan tidak memahami seberapa pentingnya posisi politik sebagai penentu kehidupan masyarakat.
Ibn Taimiyah: Non-Muslim Adil Lebih Baik daripada Muslim Zalim (?)

Untuk mendukung pendapatnya, pejuang pimpinan beda agama seringkali mengangkat berbagai pernyataan ulama yang kemudian dimaknai sesuai keinginannya. Termasuk yang seringkali dikutip adalah pendapat Ibn Taimiyyah:

فَإِنَّ النَّاسَ لَمْ يَتَنَازَعُوا فِي أَنَّ عَاقِبَةَ الظُّلْمِ وَخِيمَةٌ وَعَاقِبَةُ الْعَدْلِ كَرِيمَةٌ وَلِهَذَا يُرْوَى : ” اللَّهُ يَنْصُرُ الدَّوْلَةَ الْعَادِلَةَ وَإِنْ كَانَتْ كَافِرَةً وَلَا يَنْصُرُ الدَّوْلَةَ الظَّالِمَةَ وَإِنْ كَانَتْ مُؤْمِنَةً ”

“Sesungguhnya manusia telah sepakat bahwa akibat (atau efek) sikap zhalim adalah kebinasaan dan akibat sikap adil adalah kemuliaan. Oleh karena itu diriwayatkan bahwa Allah akan menolong negara yang adil meski ia kafir dan tidak akan menolong negara yang zalim, meski ia mukmin.”

Dengan demikian, spirit Islam adalah keadilan, dan lawannya adalah kezhaliman. Kalau ada orang yang adil (mampu berbuat adil dan menegakkan keadilan) ya kita dukung meskipun dia bukan Muslim dan Allah akan menolong orang yang adil tersebut. (MusliModerat.Com)

Pernyataan Ibn Taimiyah ini berasal dari kitab beliau Majmu’ Fatawa (juz 8 hlm. 63-64, shamela ishdar 3.15). Akan tetapi, makna dari pernyataan tersebut jika diteliti lebih lanjut sangat berbeda dengan yang disebutkan oleh pejuang pimpinan beda agama diatas. Kutipan ucapan Ibn Taimiyyah tersebut adalah sebagai berikut:

وَكُلُّ بَنِي آدَمَ لَا تَتِمُّ مَصْلَحَتُهُمْ لَا فِي الدُّنْيَا وَلَا فِي الْآخِرَةِ إلَّا بِالِاجْتِمَاعِ وَالتَّعَاوُنِ وَالتَّنَاصُرِ فَالتَّعَاوُنُ وَالتَّنَاصُرُ عَلَى جَلْبِ مَنَافِعِهِمْ ؛ وَالتَّنَاصُرُ لِدَفْعِ مَضَارِّهِمْ ؛ وَلِهَذَا يُقَالُ : الْإِنْسَانُ مَدَنِيٌّ بِالطَّبْعِ . فَإِذَا اجْتَمَعُوا فَلَا بُدَّ لَهُمْ مِنْ أُمُورٍ يَفْعَلُونَهَا يَجْتَلِبُونَ بِهَا الْمَصْلَحَةَ . وَأُمُورٍ يَجْتَنِبُونَهَا لِمَا فِيهَا مِنْ الْمَفْسَدَةِ ؛ وَيَكُونُونَ مُطِيعِينَ لِلْآمِرِ بِتِلْكَ الْمَقَاصِدِ وَالنَّاهِي عَنْ تِلْكَ الْمَفَاسِدِ فَجَمِيعُ بَنِي آدَمَ لَا بُدَّ لَهُمْ مِنْ طَاعَةِ آمِرٍ وَنَاهٍ ……… وَلَكِنَّ الْجَزَاءَ فِي الدُّنْيَا مُتَّفِقٌ عَلَيْهِ أَهْلُ الْأَرْضِ . فَإِنَّ النَّاسَ لَمْ يَتَنَازَعُوا فِي أَنَّ عَاقِبَةَ الظُّلْمِ وَخِيمَةٌ وَعَاقِبَةُ الْعَدْلِ كَرِيمَةٌ وَلِهَذَا يُرْوَى : ” { اللَّهُ يَنْصُرُ الدَّوْلَةَ الْعَادِلَةَ وَإِنْ كَانَتْ كَافِرَةً وَلَا يَنْصُرُ الدَّوْلَةَ الظَّالِمَةَ وَإِنْ كَانَتْ مُؤْمِنَةً } ” (مجموع الفتاوى – 28 / 63-64)

“Seluruh manusia tidak dapat sempurna kemaslahatannya di dunia maupun di akhirat kecuali dengan persatuan, kerjasama, dan tolong-menolong. Saling kerjasama dalam mencapai berbagai kemanfaatan, dan saling tolong-menolong dalam menghadapi berbagai bahaya. Karena itu, dikatakan bahwa manusia dapat maju peradabannya secara alami. Jika manusia bermasyarakat maka mereka harus melakukan berbagai usaha untuk mencapai kemajuan dan menolak kemudharatan, serta harus patuh terhadap orang yang memerintahkan untuk mencapai kemajuan dan mencegah dari bahaya tersebut. Karena itulah, maka manusia harus patuh terhadap pimpinan yang memberikan perintah dan larangan….. Akan tetapi balasan di dunia diakui adanya oleh seluruh penduduk bumi. Semua manusia tidak menyangkal bahwa akibat kezaliman adalah kemunduran, sedangkan akibat keadilan adalah kemuliaan. Karena itu dikatakan bahwa Allah menolong negara yang adil meski kafir dan tidak menolong negara zalim meski Mu’min.” (Ibn Taimiyah, Majmu’ Fatawa, juz 28 hlm. 63-64)

Jika dilihat pernyataan Ibn Taimiyah diatas, maka terlihat bahwa tema yang beliau bahas adalah ketaatan dan sikap kooperatif terhadap pemimpin, bukan masalah kepemimpinan non-Muslim. Beliau mengakui ketaatan terhadap pemimpin merupakan modal utama kemajuan suatu bangsa, tanpa melihat status negara tersebut Islam atau kafir. Namun dalam hal ini, tidak ada yang menyebutkan bahwa Ibn Taimiyah memerintahkan Muslim untuk memilih non-Muslim sebagai pimpinan umat Islam.

Namun yang perlu diperhatikan, bahwa Ibn Taimiyyah juga menyatakan bahwa pengangkatan pemimpin ditujukan untuk menjadi jalan umat Islam melakukan amar ma’ruf nahi munkar, jihad, serta penegakan hukum-hukum had. Menurutnya, agama dan dunia tidak dapat berjalan kecuali dengan ada pemerintahan. (al-Siyasah al-Syari’yyah, hlm. 168) Tentu semua ini secara faktual dari dulu sampai sekarang tidak akan pernah terwujud kecuali jika kepemimpinan umat Islam dipegang oleh orang Islam juga. Oleh karena itu, jika disimpulkan bahwa Ibn Taimiyyah membolehkan umat Islam dipimpin oleh non-Muslim akan menjadi sangat janggal, terlebih lagi melihat sosok Ibn Taimiyyah yang jauh lebih radikal dalam masalah kekafiran dibanding ulama-ulama al-madzahib al-arba’ah.

Selain itu, menurut Syaikh Muhammad Najih dalam makalahnya berjudul Kepemimpinan Non Muslim Sumber Malapetaka, beliau menyebutkan bahwa ucapan Ibn Taimiyah ini termasuk Syawadzdzi ibn Taimiyah (pendapat-pendapat syadz Ibn Taimiyah). Pasalnya, banyak beberapa pernyataan Ibn Taimiyah yang tidak sah dibuat pijakan dalil, seperti pendapatnya dalam masalah talak yang menyatakan ‘jatuh talak satu’ bagi istri yang ditalak suaminya tiga talakan dalam satu majlis, pendapatnya yang membolehkan pajak (lihat: al-Fatawa al-Kubra li Ibn Taimiyah) dan masih banyak lagi. (selengkapnya lihat: Syaikh Muhammad Najih Maimoen, al-Tahdzir al-Mubin; Syaikh Abdullah al-Harari, Sharih al-Bayan). Kecorobahan Ibn Taimiyah ini  sebagai bukti kurang wira’i/ berhati-hati dalam berpendapat. 

Logika Ibn Taimiyah yang menyatakan sebuah negara akan tenteram sejahtera apabila keadilan diterapkan meski pemimpinnya non muslim itu jelas bertentangan dengan Al-Quran. Pasalnya, di dalam kitab-kitab tafsir telah maklum bahwa tiang utama keadilan adalah tauhid, sehingga mustahil non-Muslim memiliki sifat keadilan. WaLlahu A’lam.
Ikhtitam

Dari beberapa pemaparan diatas, dapat ditarik kesimpulan besar bahwa berbagai alasan dan argumentasi yang disodorkan oleh para pejuang pimpinan beda agama untuk mendiskreditkan dan mementahkan fatwa MUI terhadap Basuki Tjahaya Purnama hanyalah menjadi buih dan sarat dengan pembohongan serta penyelewengan dalil. Karena itu, berkali-kali kami sampaikan bahwa jangan mudah terbujuk dan tertipu dengan alasan-alasan manis yang dibuat-buat oleh para pejuang pimpinan beda agama, selama mereka tidak kapok untuk menentang ajaran ulama Islam Salafusshalih dan menjerumuskan umat Islam kedalam kebodohan.

Karena begitu maraknya kejahatan yang dilakukan oleh para penjahat dalil inilah, maka masyarakat sudah seharusnya waspada dan segera bertindak serta melapor kepada ulama ketika timbul kasus munculnya hukum-hukum aneh semacam ini. Ingatlah, rasa sakit dan pedih karena memperjuangkan ajaran yang benar lebih mudah pertanggungjawabannya di hadapan Allah Ta’ala daripada gelimang harta yang didapat dari menjual agama. WaLlahu A’lam.

PEMIMPIN NON MUSLIM, HARAM!

wp-1467901694399.jpg

Setelah membaca buku yang mengupas beberapa ijtihad Islam Nusantara, kami terkejut dengan kajian pada halaman 28, disitu ditulis:

“Dalam paradigma seperti ini, tentu syarat seorang pemimpin yang paling mendasar adalah faktor integritasnya, bukan agamanya. Lebih-lebih jika melihat fenomena keagamaan masyarakat kontemporer, dimana identitas tidak lagi menjadi jaminan bagi perilaku dan integritasnya, sehingga tidak jarang dijumpai seorang pemimpin muslim tapi korup, sementara ada pemimpin non muslim tapi amanah dan anti korupsi. Di samping itu, tidak terdapat dalil yang tegas melarang non muslim dijadikan sebagai pemimpin.”

Tanggapan: Kewajiban tentang mengangkat pemimpin muslim sudah tertera jelas dalam al-Qur’an dan al-Hadits, Allah SWT berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لاَ تَتَّخِذُوا الْيَهُودَ وَالنَّصَارَى أَوْلِيَاءَ بَعْضُهُمْ أَوْلِيَاءُ بَعْضٍ وَمَنْ يَتَوَلَّهُمْ مِنْكُمْ فَإِنَّهُ مِنْهُمْ إِنَّ اللهَ لاَ يَهْدِي الْقَوْمَ الظَّالِمِينَ [المائدة : 51]

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil orang-orang Yahudi dan Nasrani menjadi pemimpin-pemimpin-mu; sebagian mereka adalah pemimpin bagi sebagian yang lain. Barangsiapa diantara kamu mengambil mereka menjadi pemimpin, maka Sesungguhnya orang itu termasuk golongan mereka. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zalim. (QS. Al-Ma-idah: 51)

وَلَنْ يَجْعَلَ اللهُ لِلْكَافِرِينَ عَلَى الْمُؤْمِنِينَ سَبِيلًا [النساء : 141]

“Dan Allah sekali-kali tidak akan memberi jalan kepada orang-orang kafir untuk memusnahkan orang-orang yang beriman.” (QS. An-Nisa’: 141)

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَتَّخِذُوا الْكَافِرِينَ أَوْلِيَاءَ مِنْ دُونِ الْمُؤْمِنِينَ أَتُرِيدُونَ أَنْ تَجْعَلُوا لِلهِ عَلَيْكُمْ سُلْطَانًا مُبِينًا  [النساء : 144]

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil orang-orang kafir menjadi wali dengan meninggalkan orang-orang yang mu’min. Inginkah kamu mengadakan alasan yang nyata bagi Allah (untuk menyiksamu)?” (QS. An-Nisa’: 144)

فَإِنَّ اللهَ عَدُوٌّ لِلْكَافِرِينَ [البقرة : 98]

“Sesungguhnya Allah SWT adalah musuh orang-orang kafir” (QS. An-Nisa’: 144)

عَنْ أَبِيْ بَكْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: لَنْ يُفْلِحَ قَوْمٌ وَلَّوْا أَمْرَهُمْ اِمْرَأَةً  [رواه البخاري]

“Dari Abu Bakroh RA, berkata bahwa Rasulullah SAW bersabda:”Tidak akan berhasil (baik) suatu kaum yang menguasakan urusannya kepada seorang perempuan (menjadikannya pemimpin)”. (HR. Imam al-Bukhari)

عَنْ أَبِي سَعِيدٍ الْخُدْرِيِّ رضي الله عنه، أَنَّهُ سَمِعَ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ: «لَا تُصَاحِبْ إِلَّا مُؤْمِنًا، وَلَا يَأْكُلْ طَعَامَكَ إِلَّا تَقِيٌّ» [رواه الترمذي]

“Dari Abu Sa’id al-Khudri RA, berkata bahwa Rasulullah SAW bersabda: “Janganlah berkawan kecuali dengan orang mukmin, dan janganlah memakan makanmu kecuali orang yang bertaqwa”. (HR. Imam at-Tirmidzi)

عَنْ عَبْدِ اللهِ بْنِ مَسْعُودٍ رَضِىَ اللهُ عَنْهُ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللهِ -صلى الله عليه وسلم- :« يَا عَبْدَ اللهِ أَىُّ عُرَى الإِسْلاَمِ أَوْثَقُ؟ ». قَالَ قُلْتُ : اللهُ وَرَسُولُهُ أَعْلَمُ. قَالَ :« الْوَلاَيَةُ فِى اللهِ الْحُبُّ فِى اللهِ وَالْبُغْضُ فِى اللهِ ». (رواه البيهقي)

“Dari Abdullah bin Mas’ud RA, berkata bahwa Rasulullah SAW bersabda: “Wahai Abdullah, apa tali Islam yang paling kokoh?, aku menjawab: ‘Allah dan Rasul-Nya lebih mengetahui’, kemudian Rasulullah SAW bersabda: Yaitu al-walayah fillah (cinta dan benci karena Allah) ”. (HR. Imam al-Baihaqi)

عبد الله بن عباس – رضي الله عنهما – : قال : سمعتُ رسولَ الله -صلى الله عليه وسلم- يقول اللهم اجعلنا هَادِينَ مهتدينَ ، غير ضالِّينَ ، ولا مُضِلِّينَ ، سِلْما لأوليَائِكَ ، وحَرْبا لأعدائِكَ ، نُحِبُّ بِحُبِّكَ مَنْ أَحَبَّكَ ، ونُعَادي بِعَدَاوتِكَ مَن خالَفَكَ (رواه الترمذي)

“Dari Abdullah bin Abbas RA, berkata saya mendengar Rasulullah SAW bersabda (dalam do’anya): “Ya Allah, jadikanlah kami sebagai orang-orang yang memberi petunjuk (kepada selain kami) dan dianugerahi petunjuk (dari Engkau), janganlah Engkau jadikan kami termasuk orang-orang tersesat lagi menyesatkan, dan jadikanlah kami sebagai orang-orang pendamai kepada setiap kekasih-Mu dan (sebagai) pemusuh kepada setiap musuh-Mu. Dengan dasar cinta-Mu kami dapat mencintai setiap orang yang mencintai-Mu, dan karena benci-Mu (pula) kami memusuhi setiap orang yang mendurhakai-Mu. (HR. Imam at-Tirmidzi)

Ayat-ayat al-Qur’an dan hadits-hadits  di atas secara tegas menunjukkan berkawan dan berteman dengan orang-orang kafir saja dilarang oleh agama Islam, apalagi menjadikan mereka sebagai pimpinan umat Islam! Kemudian dijelaskan pula, Rasulullah SAW memastikan bahwa suatu kaum yang menjadikan wanita sebagai pimpinannya, urusan mereka tidak akan pernah baik alias tidak akan memperoleh keberhasilan, apalagi menjadikan kafir yang notabenenya musuh Allah SWT sebagai pimpinan! Dalam diskursus ushul fiqh, seringkali permasalahan semacam ini dibuat contoh konsep qiyas awlawi.

Dalam kitab al Mufasshol fi Syarhi Ayatil Bala wal Baro  menyitir al Quran surat al Hujurot: 9-10 juga dijelaskan bahwa memilih pemimpin muslim yang buruk dan jahat (korup) lebih baik dari pada memilih pemimpin kafir yang baik dan bagus.

وَلْيُعْلَم أنَّ المؤْمِن تَجِب مُوالاتُه وَإِنْ ظَلَمكَ وَاعْتَدَي عَلَيْك ، وَالكَافِر تَجِب مُعَادَاتُه وَإِنْ أَعْطَاكَ وَأحْسَنَ إِلَيك. [المفصل في شرح آية الولاء والبراء]

“Dan harus diketahui bahwa orang mukmin wajib dijadikan teman walaupun dia berbuat dzolim dan memusuhi kamu, sedangkan orang kafir wajib dimusuhi walaupun dermawan dan berbuat baik kepadamu.”

Fenomena ibu kota Jakarta yang dipimpin Kafir Ahok patut menjadi bukti nyata bahwa kepemimpinan musuh Allah SWT di suatu daerah yang mayoritas muslim sudah tentu menyebabkan puluhan krisis (krisis aqidah, syariah seperti pelarangan penyembelihan hewan qurban di tempat umum oleh Ahok, ekonomi seperti rupiah tidak stabil dan rakyat jelata semakin miskin dan sengsara, politik dan kepercayaan), malapetaka, carut marut, tidak barokah, fitnah di sana sini, dan kerusakan-kerusakan di seluruh lapisan masyarakat, seperti penggusuran luar batang, pasar ikan, kampung pulo dst…

Dukungan Parpol-parpol besar seperti Golkar, Nasdem, Hanura terhadap Ahok dalam Pilgub mendatang merupakan konspirasi musuh-musuh Islam yang ingin menghancurkan umat Islam.

Oleh karena itu, umat Islam di Indonesia wajib bersatu memilih pemimpin muslim adil dan melawan kebiadaban si kafir Arogan Ahok. Jika berdiam diri, maka di kesempatan berikutnya umat ini betul-betul akan menjadi sekerumunan manusia yang hilang haibah-nya (kemuliaan dan kewibawaannya) di hadapan musuh-musuhnya yang siang dan malam mengintai untuk menghancurkan dirinya.

Wallahu A’lam

*PemikiranSyaikhina

Atas ↑

%d blogger menyukai ini: