PERNYATAAN SIKAP KH. M. NAJIH MAIMOEN

Kami sangat menyayangkan langkah pemerintah Indonesia memberikan izin import daging beku dari Australia yang katanya bertujuan untuk menstabilkan harga daging sesuai dengan target Presiden Joko Widodo sebesar Rp 80 ribu per kilogram di bulan Ramadhan tahun ini.

Kebijakan ini tentu melukai hati peternak nasional dan semakin memperlihatkan wajah asli rezim kepala besi yang tidak pro rakyat. Kami menilai penurunan harga daging sapi sangat tidak memihak kepada peternak lokal sehingga langkah impor tersebut sangat disayangkan.

Menteri Perdagangan Thomas Lembong setelah menggelar rapat koordinasi dengan sejumlah kementerian di Gedung Kementerian Pertanian, Selasa, 31 Mei 2016, menegaskan “Untuk mencapai target presiden, kami akan terus menambah pasokan daging dan impor daging sapi”. Menurut dia, saat ini sudah terkumpul 27.400 ton daging sapi dari berbagai negara. Ia menyebutkan Australia adalah pemasok utama daging sapi mentah dan potong saat ini”, demikian Tempo mewartakan.

Penstabilan harga adalah bentuk pengelabuhan dan penipuan, bahkan menjadi kedok pemerintah dalam mengimplementasikan ide sosialis-komunis di negeri ini. Dengan kebijakan diatas, seolah-olah peternak tidak boleh mendapatkan laba banyak alias tidak boleh kaya, sehingga bisa disimpulkan kebijakan-kebijakan pemerintah sekarang adalah menghalang-halangi rakyatnya menjadi kaya, dan mengeksploitasi kekayaan negeri hanya untuk pemerintah, inilah hakikat Sosialisme-Komunisme-nya Karl Max, Lenin, Stalin, dan Mao Tse Tung.

Seharusnya pemerintah menangkap mafia-mafia pasar, mencegah terjadinya penimbunan, dan melakukan operasi pasar secara berkala. Kemudian pemerintah harus bisa mengendalikan harga pupuk, sentrat dan obat-obatan untuk tumbuhan dan hewan ternak, sehingga petani, peternak dan pembeli berimbang pendapatannya. Karena sudah menjadi rahasia umum, cukong-cukong china bermain licik di balik ekonomi Indonesia.

Aroma komunisme sangat kental mewarnai kebijakan pemerintah Indonesia saat ini. Bagaimana tidak, baru kali ini ada presiden Indonesia melarang TNI dan Polri melakukan Sweping terhadap orang-orang yang mengkampanyekan PKI, padahal UUD sudah jelas melarang PKI, apa pak presiden merasa berhasil jika bahaya laten PKI bangkit kembali di bumi pertiwi?!, sungguh mencengangkan.

Meski Panglima TNI Gatot Nurmantyo menegaskan PKI tidak akan bangkit kembali di bumi pertiwi, namun perlu diketahui, bahwa kader-kader partai politik nasionalis bahkan mungkin partai Islam banyak sekali yang terjangkit virus komunisme, jadi bukan tidak mungkin bendera PKI akan berkibar dikemudian hari, dan pemerintah tidak menyadari hal ini.

Sebagai negara berpenduduk mayoritas muslim, pemerintah Indonesia dituntut lebih hati-hati dalam urusan makanan (ikhtiyath). Dalam tinjauan Fiqh Islam, import daging (Sapi, Kambing, Ayam dst) dari luar negeri sangat beresiko, pertama memandang tata cara  penyembelihannya yang tidak sesuai aturan syar’i, yakni dengan menggunakan mesin (ada unsur mencekik), kedua melihat penyembelihnya yang berstatus non muslim yang bukan ahli kitab, sembelihan model seperti ini jelas diharamkan oleh Fiqh Islam.

Pemerintah juga dituntut untuk lebih fokus menjaga konsumsi rakyat muslim agar benar benar halal dan steril dari daging daging yang diharamkan seperti babi, anjing dan sejenisnya. Oleh karena itu, segala produk makanan terlebih obat masak, seperti Ajinomoto yang disinyalir ada campuran babinya harus ditindak tegas. Inilah hak hak konstitusional umat Islam sebagai penduduk mayoritas negeri yang harus dipenuhi pemerintah.

Akibat kelalaian pemerintah dalam menjaga kehalalan makanan penduduk mayoritas, umat Islam Indonesia mengalami degradasi aqidah (terpengaruh ide Sekulerisme, Liberalisme, dan pluralisme, kalah dengan kristenisasi dan komunisme, dan lebih mengidolakan pemimpin kafir daripada pemimpin muslim, dan luntur ghiroh Islamiyahnya), kelemahan dalam mempertahankan syi’ar syi’ar Islam seperti masjid, majlis ta’lim, dan kuburan para wali, padahal semua itu adalah saksi sejarah peradaban Islam Indonesia. Apalagi para remaja Muslim Indonesia yang semakin rusak moralnya. Pembunuhan, pemerkosaan, penggunaan Narkoba dan Miras semakin hari semakin menunjukkan angka kenaikannya yang signifikan.

Krisis sosial ini bukan hanya tanggung jawab pemerintah saja akan tetapi seluruh elemen masyarakat, termasuknya para ulama dan tokoh masyarakat agar lebih istiqomah memberi suri tauladan yang baik dan tahdzir kepada umat akan bahaya penyakit sosial (Pembunuhan, Perzinaan, Miras, Narkoba).

Umat Islam Indonesia harus divaksin Sholat berjamaah di Masjid, Ngaji Al-Quran, memperbanyak sholat sunnah, Ngaji Syari’at Islam dengan karya karya imam imam umat Islam, Ngaji di Madrasah diniyah, dan pengamalan  dengan ikhlas terhadap semua ilmu yang sudah dipelajari. Dengan demikian, haqqul yakin kemakmuran dan kesejahteraan rakyat Indonesia akan segera terealisasi, karena Allah SWT berfirman:
إن الصلاة تنهى عن الفحشاء والمنكر

{وَلَوْ أَنَّ أَهْل الْقُرَى} الْمُكَذِّبِينَ {آمَنُوا} بِاَللَّهِ وَرُسُلهمْ {وَاتَّقَوْا} الْكُفْر وَالْمَعَاصِي {لَفَتَحْنَا} بِالتَّخْفِيفِ وَالتَّشْدِيد {عَلَيْهِمْ بَرَكَات مِنْ السَّمَاء} بِالْمَطَرِ {وَالْأَرْض} بِالنَّبَات

Sarang, 1 Juni 2016
KH. M. Najih Maimoen

Iklan

Wejangan- wejangan Syaikhina Najih Maimoen

Kita kaum NU sudah besar, aqidah sudah mapan, syari’ah sudah lumayan, negara Indonesia juga sudah dipenuhi dengan orang-orang kita. Jadi jangan terbuai alias ke-GR-an dengan Muhammadiyah, MTA, PKS, apalagi Wahhabi yang akhir-akhir ini mengikuti sebagian amaliyah kita, seperti tahlilan, ziarah kubur, bahkan mengadakan perlombaan baca kitab kuning. Yang perlu kita benahi adalah orang-orang kita sendiri, bersihkan mereka dari korupsi, tingkatkan kredibilitasnya di depan publik sebagai nahdliyin sejati, jujur, amanah, cerdas dan penuh inovasi, agar mereka siap menjadi kader-kader unggulan yang siap mengelola bumi pertiwi dan memegang negara Indonesia dengan penuh kebijaksanaan. Jangan sampai NU digerogoti dari dalam, dengan memasukkan orang-orang yang pro abangan, liberalisme, pluralisme, sekulerisme, syi’ahisme bahkan komunisme. Rendah sekali mental kaum nahdliyin yang lebih bangga mendapat sanjungan dari negara-negara barat (dalam menjaga kedamaian negeri, yang akhirnya mendewakan Pancasila diatas Al-quran) melebihi bangga memepertahankan Identitas NU dari gempuran musuh-musuhnya. Lebih hina lagi oknum-oknum NU yang rela menjadi budak Kristen-Konghucu yang senantiasa menjaga acara natalan, imlek disaat saudara seimannya hidup tanpa masa depan, rumahnya digusur, hak-haknya dikebiri,masjidnya dihancurkan, dan kehidupannya dizhalimi oleh pemimpin kafir biadab Ahok.
Apa pantas pimpinan kaum nahdliyyin mengunggulkan sosok pemimpin kafir daripada muslim??? Apa benar argumentasinya??? Pantaskah hal demikian diklaim ijtihad Islam Nusantara?
Alangkah bodohnya tokoh NU yang menafsiri Islam rahmatan lil alamin dengan “Islam yang husnul khuluq degan kuffar”.
Sungguh memprihatinkan!

Mari kita rapatkan barisan NU dengan istiqomah melestarikan ajaran ajaran leluhur kita, mengaji kitab salaf, memakmurkan masjid dengan jamaah, bertawassul, membaca tahlil, maulid dst dan membentengi anak cucu kita fari paham-paham menyimpang, melawan pemerintahan zhalim Jokowi-Ahok yang pro Aseng (seperti Reklamasi, kereta cepat dan sejenisnya).

#masukandarisyaikhinanajih

PENGAYOM UMAT, INILAH KRITERIA ULAMA ASWAJA

image

Di antara kriteria dan ciri khas Ahlussunnah wal Jamaah ialah ulama-ulama mereka selalu tampil sebagai penyebar ilmu agama dan rujukan kaum muslimin dalam setiap generasi. Hal ini seperti ditegaskan oleh hadlrotussyaikh KH. Hasyim Asyari berikut ini;
قَالَ الشِّهَابُ الخَفَاجِي رَحِمَهُ الله فِي نَسِيْمِ الرِّيَاض: الفِرْقَة النَّاجِيَة هُمْ أَهْلُ السُّنَّة وَالجَمَاعَةِ وَفِي حَاشِيَةِ الشَّنْوَانِي عَلَى مُخْتَصَر ابْنِ أَبِيْ جَمْرَة: هُمْ أَبُو الحَسَن الأَشْعَرِي وَجَمَاعَتُهُ أَهْلُ السُّنَّةِ وَأَئِمَّةِ العُلَمَاءِ لِأَنَّ الله تَعَالَى جَعَلَهُمْ حُجَّةً عَلَى خَلْقِهِ وًَإِلَيْهِم يَفْزَعُ العَامَّة فِي دِيْنِهِمْ وَهُمْ المَعْنِيُّوْنَ بِقَوْلِهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وًَسَلَّم: إِنَّ اللهَ لَا يَجْمَعُ أُمَّتِي عَلَى ضَلَالَةٍ.
Asy-Syihab al-Khofaji RA berkata dalam kitab Nasimur Riyadl (fi Syarkhi asy-Syifa al-Qodli Iyadl), Golongan yang selamat hanyalah Ahlussunnah wal Jamaah. Dalam catatan pinggir al-Imam asy-Syanwani atas Mukhtashor Ibnu Abi Jamrah terdapat keterangan, Mereka (Ahlussunnah wal Jamaah) adalah Imam Abul Hasan al-Asyari dan para pengikutnya yang merupakan Ahlussunnah dan para pemimpin para ulama, karena Allah SWT menjadikan mereka sebagai hujjah atas makhluk-Nya dan hanya mereka yang menjadikan rujukan kaum muslimin dalam urusan agama. Mereka yang dimaksud dengan sabda Rasulullah “Sesungguhnya Allah tidak akan mengumpilkan umatku atas kesesatan”.
Penjelasan di atas seiring dengan hadits shahih berikut ini:
عَنْ إِبْرَاهِيْم العُذْرِي رَضِيَ الله تَعَالَى عَنْهُ قَالَ قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم يَحْمِلُ هَذَا العِلْمَ مِنْ كُلِّ خَلَفٍ عُدُوْلُهُ يَنْفَوْنَ عَنْهُ تَحْرِيْفَ الغَالِيْن وَانْتِحَالَ المُبْطِلِيْن وَتَأْوِيْلَ الجَاهِلِيْنَ.
Dari Ibrahim al-Udzri RA, beliau berkata: “Rasulullah SAW bersabda: Ilmu agama ini akan disebarkan oleh orang-orang yang terbaik dalam setiap generasi. Mereka akan membersihkan ilmu agama dari distorsi (pemalsuan) kelompok yang ekstrim, kebohongan mereka yang bermaksud jahat dan penafsiran mereka yang bodoh.
Hadits di atas memberi penjelasan bahwa ajaran agama Islam akan disebarkan dari generasi ke generasi oleh golongan terbaik yang selalu berperan memelihara orisinilitas agama dengan cara membersihkan ajaran agama dari pemalsuan kelompok yang ekstrim, kebohongan kelompok yang bermaksud jahat dan penafsiran orang-orang yang bodoh. Hadits tersebut memberi pengertian bahwa para ulama yang berperan menyebarkan ilmu agama dan menjaga kemurnian ajarannya adalah golongan terbaik. Pertanyaannya sekarang, di antara sekian aliran yang ada, golongan manakah yang para ulamanya berperan sebagai penyebar ilmu agama dan penjaga kemurnian ajarannya? Jawaban terhadap pertanyaan tersebut adalah mayoritas ulama yang mengikuti madzhab al-Asyari dan al-Maturidi seperti al-Asyari, Abu Ishaq al-Isfirayini, al-Baqillani dan lain-lain. Imam Abul Walid Ibnu Rusyd al-Maliki al-Qurthubi memaparkan bahwa yang dimaksud dengan golongan terbaik dalam hadits di atas adalah para ulama pengikut madzhab al-Asy’ari. Berikut fatwa tersebut:
القَوْلُ فِي أَبِي الحَسَنِ الأَشْعَرِيِّ وَأَبِي إِسْحَاقَ الإِسْفِرَايِيْنِي وَأَبِي بَكْرٍ البَاقِلَّانِي وَأَبِي بَكْرٍ بْنِ فُوْرَك وَأَبِي المَعَالِي وَنُظَرَائِهِمْ مِمَّنْ يَنْتَحِلُ عِلْمَ الكَلَام وَيَتَكَلَّمُ فِي أُصُوْلِ الدِّيَانَاتِ وَيُصَنِّفُ لِلرَّدِّ عَلَى أَهْلِ الأَهْوَاءِ فَهَؤُلَاءِ أَئِمَّةُ خَيْرٍ وَهُدًى وَمِمَّنْ يَجِبُ بِهِمْ الِاقْتِدَاء لِأَنَّهُمْ قَامُوْا بِنَصْرِ الشَّرِيْعَةِ وَأَبْطَلُوا شُبَهَ أَهْلِ الزَّيْغِ وَالضَّلَالَةِ وَأَوْضَحُوا المُشْكِلَاتِ وَبَيَّنُوا مَا يَجِبُ أَنْ يُدَانَ بِهِ مِنَ المُعْتَقَدَاتِ فَهُمْ بِمَعْرِفَتِهِمْ بِأُصُوْلِ الدِّيَانَاتِ العُلَمَاءُ عَلَى الحَقِيْقَةِ لِعِلْمِهِمْ بِالله عَزَّ وَجَلَّ وَمَا يَجِبُ لَهُ وَمَا يَجُوْزُ عَلَيْهِ وَمَا يَنْتَفِي عَنْهٌُ إِذْ لَا تُعْلَمُ الفُرُوْعٌُ إِلَّا بَعْدَ مَعْرِفَةِ الأُصُوْلِ فَمِنَ الوَاجِبِ أَنْ يُعْتَرَفَ بِفَضَائِلِهِمْ وَيُقَرُّ لَهُمْ بِسَوَابِقِهِمْ فَهُمُ الَّذِيْنَ عَنَى رَسُوْلُ الله صلى الله عليه وسلم بِقَوْلِهِ: يَحْمِلُ هَذَا العِلْمَ مِنْ كُلِّ خَلَفٍ عُدُوْلُهُ يَنْفَوْنَ عَنْهُ تَحْرِيْفَ الغَالِيْن وَانْتِحَالَ المُبْطِلِيْن وَتَأْوِيْلَ الجَاهِلِيْنَ.

Pendapat tentang Abul Hasan al-Asy’ari, Abu Ishaq al-Isfirayini, Abu Bakar al-Baqillani, Abu Bakar bin Furak, Abul Ma’ali dan ulama-ulama selevel mereka dari mereka yang menekuni ilmu kalam dan membicarakan pokok-pokok agama serta mengarang untuk membantah ahlul ahwa. Mereka adalah para pemimpin kebaikan dan petunjuk, termasuk orang yang wajib dikuti karena mereka telah berusaha membela syariat, membatalkan keserupaan orang-orang yang menyimpang dan tersesat, menjelaskan berbagai problematika dan menguraikan keyakinan-keyakinan yang wajib dianut. Dengan pengetahuan mereka terhadap pokok-pokok agama, mereka adalah ulama yang sebenarnya karena ilmu mereka tentang Allah, apa-apa yang wajib, jaiz dan muhal bagi Allah. Merekalah yang dimaksud oleh Rasulullah SAW dengan sabdanya: Ilmu agama ini akan disebarkan oleh orang-orang yang terbaik dalam setiap generasi. Mereka akan membersihkan ilmu agama dari distorsi (pemalsuan) kelompok yang ekstrim, kebohongan mereka yang bermaksud jahat dan penafsiran mereka yang bodoh.
Mayoritas umat Islam di seluruh dunia, mengikuti madzhab Imam al-Asyari dan al-Maturidi, karena para ulama yang menyebarkan Islam juga bermadzhab Imam al-Asyari dan al-Maturidi. Imam Ibnu Asyakir RHA berkata:
وَأَكْثَرُ العُلَمَاءِ فِي جَمِيْعِ الأَقْطَارِ عَلَيْهِ أَيْ عَلَى مَذْهَبِ الأَشْعَرِي وَأَئِمَّةِ الأَمْصَارِ فِي سَائِرِ الأَعْصَارِ يَدْعُوْنَ إِلَيْهِ وَمُنْتَحِلُوْهُ هُمُ الَّذِيْنَ عَلَيْهِمْ مَدَارُ الأَحْكَامِ وَإِلَيْهِمْ يُرْجَعُ فِي مَعْرِفَةِ الحَلَالِ وَاْلحَرَامِ وَهُمْ الَّذِيْنَ يُفْتُوْنَ النَّاسَ فِي صِعَابِ المَسَائِلِ وَيَعْتَمِدُ عَلَيْهِمْ الخَلْقُ فِي إِيْضَاحِ المُشْكِلَاتِ وَالنَّوَازِلِ وَهَلْ مِنَ الفُقَهَاءِ مِنَ الحَنَفِيَّةِ وَاْلمَالِكِيَّةِ وَالشَّافِعِيَّةِ إِلَّا مُوَافِقٌ لَهُ أَوْ مُنْتَسِبٌ إِلَيْهِ أَوْ رَاضٍ بِحَمِيْدٍ فِي دِيْنِ اللهِ.
Mayoritas ulama di seluruh daerah mengikuti Imam al-Asy’ari. Para imam berbagai kota dalam setiap masa, mengajak kepada madzhabnya. Para penganutnya adalah mereka yang memegang kendali hokum-hukum agama dan menjadi rujukan dalam mengetahui halal dan haram. Mereka yang memberikan fatwa kepada manusia dalam soal-soal yang rumit. Umat Islam berpegang dengan mereka dalam penjelasan berbagai problematika dan persoalan aktual. Para ulama fuqoha dari madzhab Hanafi Maliki dan SyafiI pasti menyetujuinya atau menisbatkan diri kepadanya dan atau rela dengan usahanya yang terpuji dalam membela agama Allah.
Dalam realita yang ada, akidah Imam al-Asyari telah diikuti secara aklamasi oleh para ulama yang bermadzhab Hanafi, Maliki, Syafi’I dan kelompok yang utama dari penganut madzhab Hambali. Imam Tajuddin as-Subki mengutip pernyataan Imam Izzuddin bin Abdussalam sebagai berikut:
وَقَدْ ذَكَرَ الشَّيْخُ شَيْخَ الْإِسْلَام عِزُّ الدِّينَ بنِ عَبْدِ السَّلَام أَنَّ عَقِيْدَتَهُ اجْتَمَعَ عَلَيْهَا الشَّافِعِيَّةُ والمَالِكِيَّةُ وَالْحَنَفِيَّة وَفُضَلَاءُ الْحَنَابِلَة وَوَافَقَهُ عَلَى ذَلِك مِنْ أَهْلِ عَصْرِهِ شَيْخُ الْمَالِكِيَّة في زَمَانِهِ أَبُو عَمْرٍو بنُ الْحَاجِب وَشَيخ الْحَنَفِيَّة جَمَالُ الدّين الحَصِيْرِى. [طبقات الشافعية الكبرى للسبكي 3/ 365]
Syaikhul Islam Izzuddin bin Abdissalam telah menyebutkan bahwa akidah al-Asy’ari telah disepakati oleh para ulama madzhab Syafi’I, Maliki, Hanafi dan kelompok yang utama dari madzhab Hanbali. Pernyataan tersebut telah disetujui oleh guru besar madzhab Maliki pada masanya, Abu Amr bin al-Hajib dan guru besar madzhab Hanafi, Jamaluddin al-Hashiri yang semasa dengan Imam Izzuddin.
Pemaparan di atas menyimpulkan bahwa golongan yang berperan sebagai penyebar ilmu agama dan penjaga kemurnian ajaran agama adalah golongan terbaik. Sementara sebagian besar ulama yang berperan dalam menyebarkan ilmu agama dan menjaga kemurnian ajaran agama adalah para ulama pengikut madzhab al-Asyari dan al-Maturidi. Hal ini menjadi bukti bahwa madzhab al-Asyari dan al-Maturidi adalah golongan terbaik yang layak dianggap sebagai representasi Ahlussunnah wal Jamaah.