Seminar Kebangsaan di PP. Sidogiri, Syaikhina KH. M. Najih Maimoen: Ketika Kiai dan Santri Ikhlas Berkiprah Pasti Ada Barokahnya

Pada hari Kamis kemarin tepatnya tanggal 16 Sya’ban 1439 H/2 Mei 2018 H, Syaikhina Muhammad Najih untuk kesekian kalinya diundang oleh Pondok Pesantren Sidogiri untuk menjadi narasumber dalam acara seminar yang diselenggarakan oleh panitia. Kali ini beliau diundang dalam acara Daurah Kebangsaan bertajuk “Revitalisasi Ghirah Islamiyah-Wathoniyah” yang bertempat di aula sekretariat PP Sidogiri. Acara ini merupakan salah satu rangkaian acara dalam rangka Hari Ulang Tahun PP Sidogiri ke-281 dan Ikhtibar Madrasah Miftahul Ulum ke-82. Selain Abah Najih, tokoh lainnya yang diundang sebagai narasumber adalah Prof. Ahmad Mansur Suryanegara rektor Universitas Padjajaran sekaligus penulis buku sejarah monumental “Api Sejarah” yang ramai menjadi bahan perbincangan baru karena memuat banyak fakta dan penafsiran sejarah tentang perjuangan ulama dan santri dalam mengembangkan Islam di Nusantara mulai zaman kerajaan Islam hingga masa kemerdekaan dan modern di Indonesia.

Dalam daurah kebangsaan tersebut, Syaikhina Najih banyak menambahi dan melanjutkan perbincangan tentang sejarah ulama dan santri yang berkiprah dalam sejarah mencapai dan mempertahankan kemerdekaan Indonesia yang telah disampaikan terlebih dahulu oleh Profesor Mansur. Berikut kutipan kuliah beliau berdurasi kurang lebih satu setengah jam tersebut:

Ulama yang Memperjuangkan Indonesia sudah Puncak

“Walhasil, dari tulisan yang saya konsepkan itu, bahwa kami atau saya Muhammad Najih punya asumsi atau pemikiran bahwa para ulama yang mempertahankan Indonesia dan kemerdekaan Indonesia ini adalah ulama-ulama yang menurut saya sudah puncak baik keilmuannya, kearifannya, kewirainya, dst. Disana ada Hadlratus Syaikh Hasyim Asy’ari. Ini merupakan ulama besar dan mutakharrij (alumni) pondok-pondok atau kiai-kiai besar, wa bil khusus KH Kholil Bangkalan. Ketika di Makkah Mukarramah beliau juga mengaji pada masyayikh besar. Sebelum KH Hasyim Asy’ari ada Kiai Nawawi Banten yang juga murid KH Kholil Bangkalan. Ini semuanya memperjuangkan untuk kemerdekaan, artinya mengusir Belanda dengan cara masing-masing. Kalau Kiai Nawawi dengan kitabnya yang penuh dengan Ghirah Islamiyah Imaniyah, yakni bughdl (benci) kepada kufur. Sedangkan Kiai Kholil dengan mengajar dan mengisi pondok pesantren dengan ngajar atau ngaji yang salaf dan jauh dari ilmu umum dan sekolah, dst. Namun juga ada yang masuk ke pemerintahan, ada yang sekolah umum seperti Muhammad Hatta. Muhammad Hatta itu putranya seorang alim, lalu belajar di sekolah Belanda. Mr. Muhammad Roem juga santri tapi belajar atau sekolah di Belanda, dan menurut saya orang yang berjasa adalah Mr. Roem itu.
Saya pernah membaca sejarah, entah di buku Api Sejarah ini ada atau tidak, bahwa Pancasila adalah buatan orang macam-macam, tapi yang pokok yang saya tahu itu dari Soekarno. Dia menggali dari seorang pengarang dari zaman Majapahit. Pancasila sudah ada zaman Majapahit. Jadi konsepnya Pak Karno itu bukan “Ketuhahan yang Maha Esa” tapi “Peri Ketuhanan”, “Peri Kemanusiaan”, “Peri Keadilan”, dst. Hanya “Pri Ketuhanan”, yakni maksudnya bangsa Indonesia itu punya tuhan, tapi yang dari Hindu Budha ketuhanan aslinya yang punya tuhan, entah itu Allah Ta’ala atau yang lainnya. Yang penting ada tuhannya. Dan memang tuhan terbesar itu Allah. Sang Hyang Widhi dalam bahasa mereka. Jadi asalnya hanya “Pri Ketuhanan”, lalu oleh Mr. Muhammad Roem ditambah “Yang Maha Esa” yang bermakna tauhid. Andaikan tidak ada Mr. Roem maka mungkin hanya “Pri Ketuhanan” atau “Ketuhanan”, belum sampai tauhid. Dia asalnya dari Pekalongan, dan Pekalongan itu terkenal kota santri.

Pancasila Tidak Mungkin Komunis

Saya baca juga di facebook entah tulisannya siapa, dia merangkum pidatonya Gus Dur mulai akhir 80-an atau awal 90-an ketika awal dia jadi ketua PBNU. Disitu ada pernyataan, saya perhatikan, bahwa Pancasila adalah kompromi dari beberapa ideologi. Ada Islam, kapitalis, sosialis, dan komunis. Jadi keadilan sosial itu adalah ideologi komunis, sosialis, atau sak bangsane itu.
Akan tetapi walau begitu, kita harus bersyukur bahwa yang ikut menunggu panitia kemerdekaan yang membahas asas-asas negara seperti yang disebut Pak Mansur tadi adalah seperti Wahid Hasyim, Ki Bagus Hadikusumo dari Muhammadiyah, dst. Artinya dari kiai. Perwakilan Kristen hanya ada satu. Sesuatu yang melibatkan ulama atau kiai menurut persepsi kita kaum santri atau bahasa sekarang kaum nahdliyyin itu pasti ada baiknya, tidak mungkin sesat. La tajtami’u ummati ‘ala dlalalah (umatku tidak akan sepakat dalam kesesatan). Walaupun disitu campur ideologi, namun ulama kita mesti mentakwil atau punya takwilan ke Islam. Artinya tidak mungkin memaknai “Keadilan Sosial bagi Seluruh Rakyat Indonesia” dengan sistem komunis. Manusia tidak punya hak milik, semua milik negara atau pemerintah. Kekayaan miliki pemerintah. Ini gak mungkin, kan? Mereka adalah orang yang baca kitab Fathul Qarib, Fathul Mu’in, dan Fathul Wahhab. Masa’ menafikan milkiyyatul afrad (kepemilikan pribadi)? Ini hal yang mustahil. Konsep komunis dan sosialis itu gak mungkin, itu permainan dari yang punya konsep. Kepemilikan mau dihilangkan itu gimana? Tapi memang Islam tidak senang dengan monopoli, ketidakpedulian dengan rakyat, dan tidak mau membayar zakat. Jadi keadilan sosial itu ya zakat bagi yang Muslim. Yang kaya memberi zakat kepada fakir miskin yang Muslimin. Kita husnnuzzhan begitu, kan? Masa’ kiai nasionalismenya mengalahkan keagamaaanya? Ini kan tidak mungkin. Mereka seperti difirmankan Allah Ta’ala:
فِطْرَتَ اللَّهِ الَّتِي فَطَرَ النَّاسَ عَلَيْهَا [الروم : 30]
“Fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu.” (QS. Al-Rum: 30)
Mereka dididik di pesantren yang bermadzhab Syafi’i, dan berakidah tauhid. Laa ilaha illaLlah, kita harus menyembah Allah. Muhammad RasuluLlah, kita harus mematuhi perintah rasul dan mengikuti jejaknya.
Adapun KH Wahid Hasyim dan sebagainya sudah memperjuangkan agar syarat presiden harus Islam yang ditolak oleh kaum nasionalis. Itu ngalahnya beliau, bukan ikhtiar. Kan sudah memperjuangkan. Banyak musyawarah yang condong dilobi oleh kaum nasionalis sehingga bisa kalah. Bisa juga pakai uang dari Jepang atau Belanda, dst.
Kemudian ulama kita tadi disampaikan oleh Profesor Mansur memperjuangkan NKRI. Konferensi Meja Bundar itu saya kira pimpinannya mungkin Pak Natsir, tapi di belakangnya atau yang mensupport agar Indonesia diakui dan memiliki kekuasaan itu ada tokoh lagi. Saya lupa siapa namanya, namun Pak Natsir tidak sendirian.

Surabaya, Peristiwa 10 November, dan Hari Santri

Jadi perjuangan kita ini sudah sangat luar biasa. Kemudian KH Hasyim Asy’ari berfatwa wajib jihad, ini karena beliau tahu bahwa Sekutu baik Inggris, Jerman, Itali, dan seterusnya itu ingin menguasai kembali Surabaya. Sedangkan Surabaya adalah simbol Aswaja sekaligus ibukota Walisongo dan komunitas pengikutnya. Ada Sunan Ampel, walaupun bukan yang pertama dari Walisongo tapi dia adalah penunggul. Dia yang benar-benar menguak dakwah kemana-mana serta mendirikan pesantren Ampel Denta yang sekarang masih eksis, artinya syi’arnya masih bisa kita rasakan sampai sekarang. Ini kalau jatuh di tangan Sekutu maka pasti daerah lain akan gampang dikuasai.
Jadi orang Belanda dan Kristen sudah mempelajari mana satu daerah yang sangat strategis dimana kalau dikalahkan pasti yang lain akan ikut. Ini sudah tau sekali. Kekuatan di Jawa ini adalah Surabaya.
Saya sudah pernah diwawancarai oleh majalah Ijtihad Sidogiri, bahwa Hari Santri itu bahkan Hari Ulama Kiai itu tanggal 10 November (Hari Pahlawan), tapi di sejarah disebut “Arek-arek Surabaya”. Itu sebenarnya santri yang berani dan jadug (sakti). Yang saya ketahui, yang merobek bendera Belanda itu adalah mertuanya KH Hamid Baidhawi Lasem dari Bojonegoro. Dulu beliau pernah belajar di Pondok Pesantren Termas. Kamarnya itu angker sekali sampai sekarang. Beliau ahli wiridan dan jadug, jarang orang berani masuk kamar itu sampai sekarang. Dialah yang berani merobek, padahal di belakangnya ada tentara Belanda dan Sekutu yang canggih.

Bahaya Laten Komunis dan Cina

Dan perlu saya informasikan disini, pada catatan sejarah yang berbeda, saya diberitahu oleh orang Arab tapi bukan habib. Ada tamu dari Malang, waktu itu datang pada saya masih agak muda. Dia bercerita, “Ati-ati, Gus. Ada istilah bahaya laten. Ada dua, ada komunis, ada Cina. Jangan hanya PKI saja, Cina juga bahaya laten.” Dia cerita bahwa ketika Sekutu datang ke Surabaya, sebelum mereka datang itu orang-orang Cina memecah batu-batu menjadi kerikil lalu ditaburkan di depan rumah umat Islam khususnya bapak-bapak haji karena Surabaya itu tempatnya orang-orang kaya dulu. Zaman Belanda orang Islam banyak yang makmur. Makanya NU berdiri dan kiai berani mendirikan NU karena di belakang kiai banyak pak kaji-pak kaji. Mereka kaya. Bukan pak kaji sekarang yang mengantri sampai 25 tahun. Dulu mereka kaya-kaya.
Saya punya mbah, Kiai Baidhawi sebelum menikah dengan mbah saya dari Blora itu nikah dengan anak kiai yang alim, sakti, dan kaya dari Rembang. Dia berhaji dengan nyarter (menyewa kendaraan. Dia tidak mau ke Semarang, apalagi ke Jakarta. Dia menyewa kapal, kapalnya disuruh ke Rembang. Luar biasa, kayak-kayak membeli kapal. Orang zaman dulu kalau kadung kaya maka kaya sekali karena Belanda dari sisi ekonomi tidak memeras kepada pribumi secara lahiriah. Akan tetapi dia mengambil sumber daya alam tentunya seperti yang disampaikan pak Mansur yaitu dengan membangun rel-rel kereta api. Tujuannya adalah memudahkan pemantauan kiai-kiai yang ingin berjuang khususnya di kota-kota. Makanya kiai itu kebanyakan di desa, karena kalau di kota diawasi oleh Belanda. Kiai Kholil Rembang Kasingan gurunya Kiai Mahrus Lirboyo tidak boleh mengajar Tafsir Jalalain, hanya Alfiyyah saja. Karena kalau baca Tafsir Jalalain khawatir membangkitkan semangat melawan Belanda.

Belanda yang Membesarkan Komunis

Saya setuju itu. Dan menurut saya, saya tambahi, bahwa Belanda-lah yang membesarkan komunis. Jadi komunis sebenarnya kan mazhab baru, dulu-dulu tidak ada. Paham komunis dari Karl Marx. Itu buatan Yahudi. Nah, dia membesarkan komunis di Solo tepatnya. Bahkan tadi Syarikat Islam ada dua. Ada yang kanan, ada yang kiri. Syarikat Islam H. Samanhudi itu kanan, kalau yang kiri itu julukannya ASU. Artinya jadi komunis, di Solo.
Jadi komunis itu dibesarkan. Ada istilah Islam Abangan, ada istilah Islam Santri, ada istilah Priyayi. Ini semua dibesar-besarkan Belanda untuk menghancurkan santri. Snouck Hugronje ingin menghilangkan kesantrian, kemudian menguasai masalah haji dst untuk mengawasi gerakan karena takut Indonesia atau umat Islam belajar di Makkah dan menggerakkan ruh jihad melawan Belanda. Makanya tadi Kiai Nawawi tidak membuat gerakan politik. Kiai Kholil Bangkalan juga tidak. Hanya gerakan mengaji, tapi isinya adalah kita disuruh jauh dari Belanda. Kemudian bangkitlah Pergerakan Nasional.
Di sejarah-sejarah dan saya sudah pernah baca buku Api Sejarah itu sedikit, disitu diterangkan bahwa kebangkitan nasional dimulai oleh Budi Utomo. Yang bikin Ki Hajar Dewantara. Itu sebetulmnya salah sekali, karena Ki Hajar Dewantara itu bukan nasionalis. Dia itu Jawanis, fanatik Jawa. Walaumpun melawan Belanda tapi masih budaya Jawa. Namanya saja Budi Utomo, itu kan sudah kelihatan kejawaaannya. Mungkin itu gerakan nasionalis ala priyayi Jawa. Kemudian yang Islam itu SI (Syarikat Islam) yang kemudian terpecah jadi dua. Tentu yang memecah adalah Belanda, itu maklum. Liciknya Belanda untuk mengikis kesantrian. Jadi Belanda mengkader orang-orang nasionalis bahkan anak-anak kiai seperti Muhammad Hatta supaya menghilangkan jasa-jasa ulama atau santri.
Tadi saya diberitahu protokol untuk membahas setelah kemerdekaan saja. Langsung saja bahwa Kiai Kholil dan Kiai Nawawi berjuang sebagai agamis nasioanalis, artinya memperjuangkan hilangnya atau terusirnya Belanda dari Indonesia, tapi Belanda bisa terusir oleh Jepang. Dia pintar dengan membuat batalion-batalion dikuasai kiai, karena Jepang tahu dia ingin beda dengan Belanda. Tahu kalau Belanda sangat benci kiai dan santri. Santri dilatih menjadi tentara. Tapi AlhamduliLlah, justru latihan itu berdampak baik yaitu para kiai mengusir Sekutu tadi.

Kiai-Santri ketika Berkiprah Pasti Ada Barakahnya

Jadi SubhanaLlah, kiai dan santri yang liLlahi Ta’ala, tadi disebutkan tidak niat jadi PNS, itu kalau berkiprah pasti ada barakahnya. Dulu ada istilah khittah, itu kan banyak kiai masuk Golkar. Pasalnya Golkar itu tempat strategis Kristen untuk berkiprah disana, selain ada sisa-sisa PKI disitu. Jadi kelihatannya mengusir PKI tapi pimpinannya diamankan, dibawa ke Swiss. Dibawa Barat. Yang dibunuh oleh NU-Ansor-Banser itu PKI kroco-kroco, yang kelas kakap diamankan.
Walhasil, saya sampaikan kenapa PKI yang anti kiai, agama, dan pesantren kok bisa besar karena didikan dari Belanda. Kaderasisasi dari Belanda. Sekarang kita AlhamduliLlah sudah besar. sekarng ada Hari Santri. Saya takutnya Hari Santri sama dengan tadi, Jepang beda dengan Belanda. Kalau era sebelumnya, SBY dan Soeharto, tidak begitu senang santri tapi senang Islam. Tadi dikatakan Soeharto membangun seribu masjid, bahkan di Bosnia. Dia senang Islam itu tidak berarti senang kaum santri atau NU, karena dia dulu-dulunya kebanyakan berguru dari Muhammadiyah. Tapi kecilnya Soeharto itu didikan santri. Saya tahu ini karena keturunan dari kiai yang mengajarinya dari kecil itu ada sebagian yang di Sarang. Mbahnya Shalahuddin dekat jembatan Sarang itu.
Jadi kiai itu ketika bertemu Soeharto ketika pertama jadi presiden pesannya, “Hei, Harto! Niruo Sultan Agung Raja Mataram.” Makanya dia lalu membuat masjid-masjid Pancasila, walaupun bukan uangnya Pak Harto sendiri tapi hasil menyunat gaji-gaji pegawai saat itu.
Dulu kalau ada Kiai dari Golkar itu diambilkan dari dana haji yang sekarang jadi dana abadi umat, yang kepengen ditampung oleh era Jokowi untuk infrastruktur bukan untuk pendidikan. Pak Harto untuk Islam, tapi ini pengen untuk infrastuktur, untuk pembuatan jalan. Bisa-bisa nanti menyembelih kiai kalau cinanya sudah ratusan, ribuan, bahkan jutaan. Lama-lama pekerja seksual yang datang dan dijual murah. Itu merusak dan berbahaya sekali.
Jadi yang mendidik memang Belanda dengan liciknya, artinya Jepang merekrut atau menghormati kiai dengan tujuan untuk melawan Belanda kalau mereka datang. AlhamduliLlah, dengan izin Allah Hiroshima dibom dan akhirnya Jepang mundur begitu saja dengan teratur artinya pelan, namun ya masih saja. Jepang kayaknya baik dengan kaum santri, tapi tetap mereka adalah musuh. Buktinya ada Tujuh Kalimat yang disepakati oleh panitia kemerdekaan yaitu “Ketuhanan dengan kewajiban mengamalkan Syariat Islam bagi pemeluknya” ini disuruh dicoret oleh jenderal Jepang. Kelihatannya baik dengan kiai, tapi hatinya tetap busuk kepada kiai dan ulama serta Islam secara umum. Ini mungkin ditekan juga oleh Amerika, karena Amerika sudah menang terhadap Jepang. Maka tadi bahasanya pak Mansur, Soekarno ketakutan. Itu menunjukkan dia juga nggak senang kiai. Dia tidak tahu bahwa Indonesia ini terjaga karena barakahnya kiai. Mereka tidak tahu, seolah-olah yang bikin Indonesia merdeka adalah nasionalis. Padahal dia ketakutan dan ragu-ragu sekali.

Hubungan Ulama dengan Peristiwa Proklamasi

Di catatan sejarah yang memaksa Soekarno proklamasi adalah mahasiswa. Ini bohong. Yang memberitahu saya adalah tetangganya Pak Mansur ini. Dia ketemu dengan Pak Mansur, lalu dia bilang bahwa yang memaksa Soekarno proklamasi adalah ulama-ulama dan kiai-kiai ajengan Sunda di Rangkasbitung. Itu tetangganya. Saya pernah kesana karena suaminya yang dari keluarga situ ada keponakan saya, lalu saya mampir.
Jadi asalnya Soekarno itu ragu. Soekarno itu pernah memang jadi menantunya HOS Cokroaminoto, tapi juga pernah jadi menantunya Belanda. Jangan dipungkiri sejarah. Akhirnya punya istri dari Jepang itu. Yang membuat Soekarno agak baik dan kenal agama adalah ibunya, karena istrinya Rahmawati aslinya dari Riau atau Jambi. Katanya masih ada trah kerajaan entah Melayu atau mana. Jadi ini yang menjadikannya masih punya kebaikan-kebaikan. Anak Soekarno Ada yang pro Hindu Budha atau PKI seperti Sukmawati, Megawati juga. Meragukan Hari Kiamat. Pesantren kita ini dianggap peramal-peramal saja, tidak tahu fakta. Lho, ente yang tidak tahu fakta bahwa Indonesia ini berdiri lewat darah para santri dan ulama. Bapak kamu ragu tentang proklamasi asalnya, yang menyuruh itu adalah dari ajengan kiai-kiai Sunda. Bahkan tetangganya pak Mansur tadi cerita, waktu malam 17 ada istighatsah supaya cepat merdeka. Pak Karno datang membawa anak perempuan. Anaknya menangis, akhirnya diberi susu oleh sebagian kiai. Susu kaleng atau apa.
Jadi kiai-kiai sangat berjasa sekali, tapi karena penulis-penulis sejarah adalah bukan kaum pesantren melainkan nasionalis bahkan ada yang PKI, akhirnya sejarah dihilangkan. Untungnya Soekarno masih hormat dengan Hasyim Asy’ari. Beliau adalah orang yang berwibawa sekali. Ketika Pak Karno jadi presiden, dia cepat-cepat ke Kiai Hasyim Asy’ari. Hubungan Pak Karno dengan Wahid Hasyim ini saingan istilahnya, jegal-jegalan. Pak Karno sering menjegal Wahid Hasyim supaya tidak jadi presiden. Tapi hubungan Soekarno dengan Hasyim Asy’ari baik sekali. Dia pernah ke Jombang. Ini yang cerita saya adalah Kiai Hamid Baidhawi, khali (paman saya) dari ibu. Ceritanya dia sowan kepada Hasyim Asy’ari, lalu Soekarno diberi kesempatan untuk sambutan atau pidato. Saking gemetarnya karena ta’zhim maka tidak berani tampil, malah berkata, “Njenengan mawon.” Akhirnya Hasyim Asy’ari memberi sambutan. Pertama kali yg dikatakan, “Wahai Soekarno! Kenimatan terbesar yang diberikan kepadamu sekarang adalah jadi presiden RI. Syukurilah.”
Untungnya disitu, akhirnya Soekarno dipesan agar alumni pesantren bisa jadi naib dan KUA di seluruh Indonesia. Akhirnya AlhamduliLlah banyak naib-baib waktu itu dari kiai karena itu instruksi dari presiden saking ta’zhimnya. Tapi kemudian ketika dilanjutkan oleh Kiai Wahid Hasyim, mungkin dia ditekan juga karena banyak KUA dari kiai maka sekarang yang jadi KUA harus dari lulusan sekolah. Akhirnya Kiai Wahid Hasyim memasarkan atau mengajak pesantren untuk ada sekolah umumnya. AlhamduliLlah waktu itu banyak yang menentang, namun di era-era setelahnya sudah tidak ada yang menentang lagi.

Sejarah Kiai-Santri Banyak Dihapuskan dalam Sejarah
Jadi saya ulangi lagi, inilah hasil perjuangan kiai dihapuskan dari sejarah. Ini adalah rekayasa dari Belanda yang licik itu. Walaupun Belanda memanjakan urusan ekonomi kepada umat Islam, tapi umat Islam tetap dibuat kalah oleh Cina. Yang diistimewakan tetap Cina. Tapi walaupun begitu yang kaya tadi masih bisa kaya. Luar biasa. Kalau muktamar NU zaman Belanda, Kiai Hasyim Asy’ari dan ketua PBNU dulu (Hasan Basri Gipo) kalau tidak salah dari Sulawesi, dia mukim di Surabaya lalu dijadikan ketua PBNU. Jadi dulu ketua PBNU itu dari orang biasa, bukan orang alim, doktor, atau profesor. Orang biasa namun kaya. Mbah Hasyim tinggal mengetuk rumah-rumah aghniya’, daerah Babat dulu andalannya. “Ji. Ape enek muktamar, Ji. Bantu piro?”
Jadi di belakang NU ada aghniya’, tapi zaman Jepang jadi berat. Tirakat. Tadi diceritakan banyak batalion dipimpin kiai, tapi beras rakyat diambil oleh jepang untuk makan tentaranya. Kita tidak makan apa-apa, tapi kok kuat keluar keramatnya kiai-kiai itu. Tadi keterangan pak Mansur, hanya punya sarung thok, tidak punya senjata maksudnya, tapi kalau sudah kepepet senjatanya keluar.
Jadi ini kalau kita sibuk dengan ilmu agama, murni liLlahi Ta’ala bukan karena PNS, kalau tidak bisa begitu maka paling tidak senang dan mengakui bahwa sistem salaf ini afdhal daripada sistem khalaf/kurikulum, InsyaAllah ada jiwa kesantrian. Kalau kita dianiaya PKI mau bangkit menyembelih kita, InsyaAllah mereka disembelih dulu sebelum mereka menyembelih. Allahumma Amin. Allahu Akbar. Ini Allahu Akbar-nya Bung Tomo. Allahu Akbar adalah kekuatan yang luar biasa. Kalau kita niat ikhlas li i’lai KalimatiLlah, ini akan mengeluarkan karamah-karamah Ilahiyah. Allahu Akbar ini bukan untuk mencari dunia, tapi mencari akhirat. Dan sebetulnya secara strategi politik, kalau kiai-kiai tadi masuk ke Jakarta jadi pemimpin, kata abah saya nukil dari abahnya yakni Kiai Zubair, tentu TNI dikuasai santri. Tapi banyak juga kiai-kiai batalion yang tidak dimasukkan ke TNI. Mbah saya memimpin batalion seratus prajurit, semuanya dimasukkan ke TNI tp beliau tidak masuk. Alasannya mungkin karena ada kesibukan pesantren karena mbah saya alim.

Mbah Zubair sebagai Pimpinan Militer

Mbah saya pernah dicurigai ikut DI/TII karena dalam sejarahnya mbah saya pernah memimpin batalion. Oleh pemerintahan Soekarno dicurigai, lalu RPKAD disuruh ke Sarang. Waktu itu Sarang belum besar. RPKAD bersembunyi di balik rumput. Akhirnya waktu subuh ketika Mbah Ahmad ngimami, dia masuk ke rumah Mbah Mad dan Mbah Zubair untuk menyelidiki apakah ada senjata atau mungkin data bahwa beliau masuk DI/TII. Tapi AlhamduliLlah tidak ada, tidak ditemukan. Waktu itu Mbah Zubair sedang muktamar di Surabaya. Yang bercerita ini adalah guru saya namanya Haris Thahar, diceritai sama warganya. Ada santri yang hasud dengan Mbah Zubair lalu melaporkan bahwa Mbah Zubair memiliki senjata. Mereka tidak berani ketika Mbah Zubair di rumah, entah karena apa. Beraninya ketika Mbah Zubair ke Surabaya ikut muktamar. Tapi AlhamduliLlah tidak ditemukan.
Jadi karena beliau memimpin batalion dianggap bahaya oleh zaman Soekarno. Jadi mereka tidak mau dan takut dengan hukum Islam. “Ketuhanan Yang Maha Esa” itu yang penting punya tuhan, tidak ada agama apalagi tauhid La Ilaha IllaLlah. Tadi dibela bahwa itu Pancasila sama dengan Al-Quran, surah al-Baqarah dan Ali Imran. Kata orang sekarang Al-Quran banyak matsal-nya atau yang radikal bilang banyak fiksinya. Na’udzubiLlah min dzalika. Yang jelas mereka tidak berani dengan hukum Islam, takut nanti kalau Islam berjalan yang menguasai santri. Padahal yang santri senang sarungan liLlahi Ta’ala. Dulu dasi saja diharamkan.
Ketika ada majelis Konstituante, perjuangan ulama dan mujahid kita untuk penegakan Syari’ah Islam sudah sangat-sangat maksimal. Sampai Soekarno dituntut terus soal Tujuh Kalimat yang dihapus, lalu akhirnya dia bikin majelis Konstituante. Pada perdebatan ini yang pro-Islam akan menang atau sudah menang dengan argumen-argumen bukan dengan golok atau senjata karena kita mayoritas Islam, jika ingin kuat negaranya harus berdasar Islam dan kita umat Islam memang diwajibkan berdasar Islam. Sudah hampir menang atau malah sudah menang, majelis Konstutiante dibubarkan oleh Soekarno dengan berdalih Sila Pertama menjiwai seluruh sila-sila yang lain. Kalau yang tidak paham politik ya enak aja. “Wah, bagus ini.” Tapi tujuannya adalah untuk menghalang-halangi Syari’ah Islam. Terus akhirnya ada Pemilu tapi ditunda-tunda, itu sebenarnya untuk membesarkan partai PNI dan PKI serta memecah-belah Masyumi. Setelah dipecah belah akhirnya NU keluar dari Masyumi.

Isyarah Tatal Masjid Demak: Umat Islam Harus Bersatu!

Tadi sudah disinggung bahwa menurut isyarat tatal di Masjid Demak kita harus bersama-sama umat Islam dan kelompok-kelompok Islam jika ingin berjaya. Seperti itu isyarahnya. Tadi hal ini dibilang -WaLlahu A’lam- klenik sama pak protokol atau mitos. Memang begitu, Indonesia ini memang penuh dengan mitos, entah benar atau tidak WaLlahu A’lam bi al-shawab. Negeri kita dulu dijuluki negeri dongeng, negeri khayalan, dst. Orang Arab ketika melanggar aturan negaranya ditakut-takuti, “Kamu kalau melanggar negara kami akan saya buang ke Wakwak.” Sekarang jadi pulau Fakfak di Papua. Sudah terkenal negeri ini. Makanya ada yang bilang masuknya Islam di Indonesia pada zaman Khalifah Muawiyah, ada yang bilang Khalifah Utsman, ada yang bilang zaman Rasulullah. Ini masuknya Islam lho, artinya masuknya orang Islam, entah sudah mengislamkan atau belum.

Merah Putih dan Istana Hambra

Saya dapat ilmu waktu acara DEMU di MGS, saya bilang bahwa masjid Nabawi itu asalnya tidak ada kayu-kayunya yang besar dan tidak beratap, kemudian zaman Utsman diperbesar dan diberi atap-atap dari kayu. Kok sampai sekarang masih bagus, berarti itu ikayu jati. Kayu jati kebanyakan dari Jawa. Mungkin di Pasai atau Sumatra sudah banyak orang Islam, mereka mengimpor kayu jati dibawa ke Madinah dan jadilah masjid Nabawi yang gagah itu. Kayu jati harus diplitur, dan plitur yang baik berwarna merah. Tadi dibilang ada merah putih katanya. Kalau saya tidak begitu suka merah, mungkin masalahnya karena untuk mlitur agar awet harus warna merah. WaLlahu A’lam.
Saya pernah ke Spanyol bersama Mbah Moen, ada namanya Qashr al-Hamra’. Istana Hambra kalau bahasa sekarang, orang Barat dan Indonesia bacanya Hambra. Di bangunan itu memang banyak warna merah. Dan, seperti di Syiria warna tiang-tiang masjid berwarna hitam putih. Di Masjidil Haram dan Masjid Nabawi motif itu masih ada. Ini sisa-sisa Daulah Umawiyah. Tapi di Qasr al-Hamra’ motifnya memang merah dan putih. Saya tidak tahu rahasianya apa, WaLlahu A’lam. Walaupun saya tidak begitu suka warna merah, tapi merah ada di Daulah Andalusia. Tp yg saya ketahui di masjidil haram itu putih hitam. Benderanya nabi kebanyakan hitam.
Islam masuk ke Indonesia itu sudah lama, tapi yang sulit diislamkan memang Jawa. kalau Sulawesi sudah lama, di Kalimantan juga sudah lama. Yang sulit itu di Jawa. Islam agak baik harus mengerahkan Walisongo yang sakti-sakti, baru bisa berdiri negara Demak. Asalnya kerajaannya bukan Demak tapi Giri, namun baru empat puluh hari lalu diserahkan kepada Raden Fatah di kerajaaan Demak. Akan tetapi anak turun Raden Fatah dicabik-cabik oleh Syi’ah, Siti Jenar, atau Kebatinan. Akhirnya berdiri kerajaan Pajang. Pajang masih agak seperti Raden Fatah mangkel lalu akhirnya jadi kerajaan Mataram. Mataram masih bagus ada Sultan Agung, tapi anak cucunya diobrak-abrik agar senang anti-ulama dan anti-kiai. Amangkurat II menyembelih ulama sebanyak dua puluh lima ribu orang di alun-alun Solo.
Disini sudah ada sejarahnya bahwa Sayyid Sulaiman dipanggil oleh Raja Solo entah siapa untuk diangkat menjadi qadli kemudian sampai di Mojoagung dipundhut Allah Ta’ala. Dia sudah berkata, “Kalau diangkat qadli bakal jadi baik ya sampai Solo, kalau jadi buruk maka belum sampai Solo sudah mati.” Akhirnya nadzar Sayyid Sulaiman itu terjadi sehingga pondok pesantren menjadi besar.

Keikutsertaan Santri dalam Tathbiq Syari’ah

Kita tetap tidak boleh putus asa akan adanya Tathbiq al-Syari’ah, tapi dalam penerapan Syari’ah ini semoga kiai lan sampeyan-sampeyan santri bisa ikut, syukur bisa memimpin. Allahumma Amin. Jangan sampai penerapan Syari’ah ini dikuasai oleh radikalis, Wahabi, dan modern. Tapi kita juga jangan anti modern. Artinya jangan anti orang akademis. Mereka juga memiliki Ghirah Islamiyah besar. kalau kampus-kampus sekarang tidak ada orang-orang yang memiliki Ghirah Islamiyah, maka kita sudah habis. Untungnya dari sisa-sisa keturunan entah dari Sunan Cirebon (Gunung Jati) ada yang jadi kiai, ada juga yang jadi akademis. Mungkin Ustadz Mansur itu termasuk mereka, WaLlahu A’lam. Ini artinya kita masih menemukan sambungan-sambungan dengan ulama-ulama kita. Mereka menghargai kita dengan mengatakan kiai itu pejuang Indonesia Raya yang paling ikhlas. Dan AlhamduliLlah, sebagian dari kalangan priyayi dan akademis menurut sejarah tersebut. AlhamduliLlah.
Demikian yang dapat saya sampaikan, semoga ada manfaatnya. Semoga cita-ita dari ahbabuna shalihun pendidikan pesantren salaf tetap berjaya dan tetap dicintai walaupun tidak bisa penuh, dan cita-cita Tujuh Kalimat yang dihapus oleh Pak Karno dan Hatta tetap berjalan walaupun keadannya seperti ini. InnaLlah ‘ala kulli syaiin Qadir. Kala kita mau disembelih, kitalah yag akan menyembelih.”

“Urusan Politik Ikutlah Masyumi, Urusan Agama Ikutlah NU!”

Setelah pemaparan beliau selesai diatas, kemudian beliau menambahi, “KH Hasyim Asy’ari dalam catatan sebagian santri, yang saya tahu dari Kiai Thahir Kajen, dicatat bahwa urusan partai (politik) ikutlah Masyumi, dan urusan keagamaan, bahtsul masail, dan hukum-hukum ikutlah NU. Ini dicatat oleh Kiai Thahir almarhum. Dulu begitu, tapi lama-lama Masyumi dipecah-belah kemudian sampai sekarang kaum Muslimin dipecah-belah, yang terjadi sekarang adalah munculnya liberal-liberal itu.”
Selanjutnya, ketika ditanya oleh moderator tentang partai mana yang paling ideal untuk dipilih, maka Abah Najih menjawab, “Saya sukar menjawabnya, karena nanti kalau saya menjawab A nanti saya dianggap Muhammadiyah, radikal, atau apa, kalau saya membela yang santri juga banyak liberal padahal dari awal saya sudah anti-liberal. Ya, cari-cari sendiri, lah. Pikir-pikir sendiri, dan rahasiakan ini. Strateginya harus matang. Yang penting tadi saya setuju tatal itu kita harus bersama, harus berkelompok.
Kita ada panglima atau tidak, yang penting kita punya Ghirah Islamiyah bagaimana kita eksis. Sekarang Islam pengen dihilangkan sama sekali khususnya santri. Asalnya orang Islam itu 98 % makanya dulu hampir menang di majelis Konstituante, terus menjadi 90% lalu sekarang jadi 80%. Ini rekayasa mereka supaya kita melempem dan patah semangat. Sekarang saya bangkitkan, jangan putus asa tapi tidak usah aneh-aneh. Yang penting tadi nyoblosnya yang pro-Islam. Kita susah tidak punya panglima, tapi kita seperti harus ikhlas. Justru dengan ikhlas InsyaAllah kita menang.”

Hinaan kepada Habaib: Ekspresi Sakit Hati Kaum Liberal

Setelah itu, menganggapi ucapan moderator bahwa Ghirah Islamiyah umat Islam Indonesia sekarang sangat lemah sekali sampai ada hinaan kepada habaib dituduh kluyar-kluyur oleh tokoh liberal, Abah Najih menanggapi, “Saya setuju sekali analisa ini. Tadi habaib dikatakan kluyar-kluyur dan guru Ibtidaiyah, itu sebenarnya merupakan ekspresi sakit hati mereka karena mereka ingin Ghirah Islamiyah ini habis sama sekali.
Yang bilang habaib dari Yaman kluyar-kluyur dan dianggap guru Ibtida’ itu mungkin dia pikir keanehan itu agar nilai rapornya bagus di mata zionis-salibis. Biar bisa jadi wakil presidennya Jokowi atau apa gitu. Dan, mulai presiden sekarang mungkin akan dimunculkan lagi orang yang kelihatannya beda, mungkin dulu panglima TNI. Sebenarnya itu sama dengan dia tapi kelihatannya saja beda, sama-sama dekat dengan Naga Sembilan.” Sontak tepuk tangan gemuruh dari para audien bergema di seluruh ruangan.
Acara daurah kebangsaan ini kemudian ditutup dengan pembacaan doa oleh Abah Najih dilanjutkan dengan pemberian cinderahati dari panitia kepada beliau.(*)

MAKALAH KH. MUHAMMAD NAJIH MAIMOEN DI SIDOGIRI DENGAN TEMA: REVITALISASI GHIRAH ISLAMIYAH-WATHANIYAH

MENELADANI SEJARAH ISLAM DALAM RANGKA MENGUATKAN
GHIRAH ISLAMIYAH-WATHANIYAH

Disampaikan oleh: KH. MUHAMMAD NAJIH MAIMOEN

Pada acara Daurah Kebangsaan “Revitalisasi Ghirah Islamiyah-Wathaniyah” di Aula Sekretariat PP. Sidogiri, Memeriahkan Ultah PP. Sidogiri yang ke-281 dan Ikhtibar Madrasah Miftahul Ulum ke 82 Tahun

بسم الله الرحمن الرحيم
الحمد لله الذي بنعمته تتم الصالحات، وبطاعته تطيب الحياة، وبالإيمان به وتقواه تنال الخيرات وتستنزل البركات وتدفع المكاره والسيئات، وأشهد أن لا إله إلا الله وحده لا شريك له، كل الخلائق غدا بين يديه موقوفون محاسبون، وبأعمالهم مجزيون، وأشهد أن محمدا عبده ورسوله النبي الكريم ذو الخلق العظيم، صلى الله عليه وسلم وعلى آله وأصحابه، أما بعد:

Muqaddimah

Dalam kehidupan di dunia, seorang Muslim dituntut untuk mengamalkan dan mempertahankan ajaran agama dengan segenap kemampuannya. Ini adalah konsekuensi logis dari pengucapan dua syahadat yang dilakukannya, karena Islam tidak hanya sekedar pengakuan tentang ketauhidan Allah Ta’ala dan kebenaran Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallama, namun juga implementasi dari apa yang dibawa oleh Allah dan Rasul-Nya. Selain itu, seorang Muslim sejati juga harus memiliki ghirah Islamiyah yang tinggi, yakni rasa kecemburuan dan pembelaan terhadap agamanya.

Dalam konteks keindonesiaan, menggelorakan dan menguatkan ghirah Islamiyah di kalangan umat Islam semakin terasa urgensinya, apalagi di tengah berbagai macam usaha perusakan ajaran Islam dan semangat umat Islam mengamalkan ajaran agamanya. Dalam mengekspresikan ghirah Islamiyah ini harus sesuai dengan aturan Syari’ah Islam dan menjaga semangat kebersamaan dan cinta kepada tanah air dan bangsanya yang disebut ghirah wathaniyah. Namun dalam pelaksanaannya, ghirah Islamiyah harus dinomorsatukan dan ghirah wathaniyah harus selalu didasarkan pada ghirah Islamiyah.

Bukti nyata ghirah Islamiyah dalam konteks kebangsaan ini telah menjadikan bangsa Indonesia tidak mudah ditumpas oleh penjajah selama 3,5 abad hingga akhirnya mampu merebut kemerdekaan dan kedaulatan negaranya. Hal ini karena bangsa Indonesia merasa memiliki hubungan persaudaraan sesama umat Islam serta memiliki kesamaan tanah air yaitu tanah air Nusantara, sehingga mereka berusaha mati-matian untuk mempertahankan agama dan bangsanya dari pemurtadan dan imperialisme Belanda dan bangsa penjajah Eropa yang lain. Semangat semacam inilah yang harus selalu dipupuk dan ditanamkan dalam sanubari umat Islam di Indonesia.

Memahami Ghirah Islamiyah

Muslim yang memiliki ghirah Islamiyah yang tinggi akan merasa sakit hati dan marah ketika ajaran Islam dilecehkan, ketika Al-Quran dan Sunnah dihina, dan ketika para ulama shalihin tidak lagi didengar suaranya, sekaligus juga memiliki semangat yang tinggi ketika ada ajakan untuk mengamalkan ajaran agama secara kaffah. Ghirah Islamiyah adalah barometer keimanan dan wujud cinta seorang Muslim kepada Islam. Allah Ta’ala berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ [آل عمران : 102]

“Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah sebenar-benar takwa kepada-Nya; dan janganlah sekali-kali kamu mati melainkan dalam keadaan beragama Islam.” (QS. Ali Imran: 102)

Rasulullah ShallaLlahu ‘alaihi wa Sallama bersabda:

إِنَّ اللَّهَ يَغَارُ وَالْمُؤْمِنُ يَغَارُ وَغَيْرَةُ اللَّهِ أَنْ يَأْتِىَ الْمُؤْمِنُ مَا حَرَّمَ عَلَيْهِ . أخرجه الترمذي.

“Sesungguhnya Allah itu cemburu, dan mukmin juga cemburu. Cemburunya Allah ketika seorang Mukmin mendatangi apa yang telah Dia haramkan baginya.” (HR. Tirmidzi)

مَنْ رَأَى مِنْكُمْ مُنْكَرًا فَلْيُغَيِّرْهُ بِيَدِهِ فَإِنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَبِلِسَانِهِ فَإِنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَبِقَلْبِهِ وَذَلِكَ أَضْعَفُ الإِيمَانِ. أخرجه مسلم

“Barangsiapa dari kalian melihat kemunkaran maka rubahlah dengan tangannya. Jika tidak mampu maka dengan lisannya. Jika masih tidak mampu maka dengan hatinya, dan itu adalah selemah-lemahnya iman.” (HR. Muslim)

Allah menggambarkan dalam Al-Qur’an bagaimana Rasulullah dan para Shahabat beliau menjadi perwujudan nyata bagaimana ghirah Islamiyah dilaksanakan. Allah Ta’ala berfirman:

مُحَمَّدٌ رَسُولُ اللَّهِ وَالَّذِينَ مَعَهُ أَشِدَّاءُ عَلَى الْكُفَّارِ رُحَمَاءُ بَيْنَهُمْ تَرَاهُمْ رُكَّعًا سُجَّدًا يَبْتَغُونَ فَضْلًا مِنَ اللَّهِ وَرِضْوَانًا سِيمَاهُمْ فِي وُجُوهِهِمْ مِنْ أَثَرِ السُّجُودِ ذَلِكَ مَثَلُهُمْ فِي التَّوْرَاةِ وَمَثَلُهُمْ فِي الْإِنْجِيلِ كَزَرْعٍ أَخْرَجَ شَطْأَهُ فَآزَرَهُ فَاسْتَغْلَظَ فَاسْتَوَى عَلَى سُوقِهِ يُعْجِبُ الزُّرَّاعَ لِيَغِيظَ بِهِمُ الْكُفَّارَ وَعَدَ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ مِنْهُمْ مَغْفِرَةً وَأَجْرًا عَظِيمًا [الفتح : 29]

“Muhammad itu adalah utusan Allah dan orang-orang yang bersama dengan dia adalah keras terhadap orang-orang kafir, tetapi berkasih sayang sesama mereka. kamu lihat mereka ruku’ dan sujud mencari karunia Allah dan keridhaan-Nya, tanda-tanda mereka tampak pada muka mereka dari bekas sujud. Demikianlah sifat-sifat mereka dalam Taurat dan sifat-sifat mereka dalam Injil, yaitu seperti tanaman yang mengeluarkan tunasnya Maka tunas itu menjadikan tanaman itu kuat lalu menjadi besarlah dia dan tegak lurus di atas pokoknya; tanaman itu menyenangkan hati penanam-penanamnya, karena Allah hendak menjengkelkan hati orang-orang kafir (dengan kekuatan orang-orang mukmin). Allah menjanjikan kepada orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal yang saleh di antara mereka ampunan dan pahala yang besar.” (QS. Al-Fath: 29)

Rasulullah sangat sabar dan tabah ketika orang-orang kafir mencela pribadinya dan melakukan berbagai perbuatan keji kepadanya, akan tetapi tidak ada satupun orang yang mampu menahan amarah beliau ketika agama Islam dilecehkan. Sayyidah Aisyah memaparkan:

مَا خُيِّرَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بَيْنَ أَمْرَيْنِ إِلَّا اخْتَارَ أَيْسَرَهُمَا مَا لَمْ يَأْثَمْ فَإِذَا كَانَ الْإِثْمُ كَانَ أَبْعَدَهُمَا مِنْهُ وَاللَّهِ مَا انْتَقَمَ لِنَفْسِهِ فِي شَيْءٍ يُؤْتَى إِلَيْهِ قَطُّ حَتَّى تُنْتَهَكَ حُرُمَاتُ اللَّهِ فَيَنْتَقِمُ لِلَّهِ. أخرجه البخاري

“Rasul memilih perkara yg ringan jika ada dua pilihan selama tidak mengandung dosa. Jika mengandung dosa, Rasul akan menjauhinya. Demi Allah, beliau tidak pernah marah karena urusan pribadi, tapi jika ajaran Allah dilanggar maka beliau menjadi marah karena Allah (lillah).” (QS. Al-Bukhari)

Hadits diatas juga menunjukkan kekeliruan anggapan kaum liberal bahwa Rasulullah tidak marah dan bersikap toleran jika agama dihina. Ucapan seperti “Tuhan tidak perlu dibela”, “Yang dihina Tuhan kok kamu yang marah?”, dan sebagainya menurut kami merupakan salah satu cara menggerus ghirah Islamiyah dari umat Islam sehingga umat Islam menjadi lemah dan tidak peka hati dan fikirannya melihat pemurtadan, pelecehan Al-Quran, liberalisme, pluralisme, dan LGBT diasongkan begitu massif di tengah-tengah mereka. Tidak lagi menangis ketika melihat sumber daya alam negara dikeruk oleh pihak asing dan direndahkannya kaum pribumi dalam kegiatan ekonomi, sosial, budaya, dan politik. Na’udzubiLlahi min dzalika.

Kondisi seperti ini telah ditangisi oleh pendiri NU Hadlratus Syaikh KH. Hasyim Asy’ari. Beliau menyebutkan:
“Setiap hari mata kita menyaksikan berbaurnya lelaki dan perempuan (termasuk di sekolah-sekolah Islam) dengan pembauran yang menggelisahkan, dan telinga kita mendengarkan fenomena pergaulan bebas antara lelaki dan perempuan “apakah ini halal”, lantas didiamkannya, “ataukah ini haram” yang menyebabkan kemurkaan Allah dan kehinaan di dunia. Selain itu masih ada yang lebih celaka dan lebih pahit dari pada yang tersebut di atas, yaitu tersebarnya ajaran-ajaran kufur dan pemikiran sesat di kalangan anak-anak muda muslim baik di desa maupun di kota.”
“Termasuk dari kerusakan zaman adalah bahwa ada sekelompok orang yang mengaku berasal dari komunitas muslim, bahkan mengaku sebagai pembesar-pembesar Islam, namun mereka tidak mau menundukkan kepala terhadap perintah-perintah Allah, mereka tidak mau menjauhi larangan-larangan-Nya (artinya mereka meninggalkan Syari’at Islam), bahkan dahi-dahi mereka tidak pernah menempel di masjid. Dari sinilah adanya indikasi bahwa jika keagamaan di Negara kita menjadi sangat lemah bahkan hampir mati. (Muktamar NU 24 Mei 1948)” (1)

Syarat Praktek Pengamalan Ghirah Islamiyah

Sebagai seorang Muslim, ghirah atau kecintaan kepada Islam harus ditampakkan melalui pengamalan zahir dengan memperhatikan beberapa hal berikut:

1. Harus dilaksanakan dengan niat ikhlas untuk menolong agama Allah,bukan hanya untuk memenuhi hasrat amarah, nafsu, apalagi kepentingan harta dan jabatan.

2. Menyadari betul bahwa ini adalah cobaan dari Allah Ta’ala untuk mengukur seberapa kuat iman kita kepada-Nya dan Rasul-Nya.

3. Mengetahui dan menggunakan strategi dan metode yang tepat untuk menghadapi berbagai serangan yang terjadi.

4. Melakukan aksi sesuai kadar kemampuannya, tidak bertindak berlebihan sehingga malah menimbulkan masalah baru di tengah masyarakat.

5. Mempertimbangan maslahat dan mafsadah yang akan timbul.

6. Mengetahui peran dan tugasnya sesuai posisi dan kemampuan masing-masing.

7. Dilakukan dengan tenang, tidak bertindak anarkis, dan tetap memperhatikan kondisi masyarakat

8. Dilakukan dengan sabar, telaten, dan tidak mudah menyerah. (2)

Ghirah Wathaniyah berdasarkan Ghirah Islamiyah

Konsep ghirah Islamiyah dalam Islam terbatas dalam lingkup satu agama dan atas dasar prinsip agama bukan didasarkan pada kepentingan golongan, kelompok dll, serta tetap menjaga hak-hak persaudaraan.
Adapun konsep ghirah Basyariyah dan Wathaniyah, maka keduanya juga harus tetap mengacu pada Syari’at Islam. Keduanya bisa diterapkan sepanjang tidak bertentangan dengan ketentuan-ketentuan Syari’ah dan tidak memposisikannya di atas hukum-hukum Syari’ah.

Islam dengan ajarannya yang samahah (mudah) dan hakimah (berhikmah) tidak melarang seorang Muslim untuk berbuat untuk negaranya, saling mengasihi kepada sesama bangsanya, serta mengerahkan seluruh jiwa dan raganya untuk kepentingan bangsanya, karena hal ini merupakan bagian dari ukhuwah Islamiyah nan agung yang menyatukan umat Islam di seluruh dunia tanpa memandang ras, suku, dan bangsanya.

Adapun Hadits hubbul wathan minal iman sebenarnya adalah palsu. Akan tetapi ulama pakar hadits al-Sakhawi berkata bahwa meski hadits ini lafazhnya palsu namun maknanya sahih, dengan catatan wathonnya wathon islami. (3)

Ghirah Islamiyah Rasulullah ShallaLlahu ‘alaihi wa Sallama

Dalam kajian sejarah Islam, Rasulullah ShallaLlahu ‘alaihi wa Sallama pada awalnya sudah memiliki pengaruh dan kedudukan yang penting di dalam masyarakat Quraisy kala itu. Beliau dijuluki sebagai al-Amin dan diberi kewenangan sebagai mediator dan negosiator pada saat tokoh-tokoh pembesar Quraisy saling berebut memindahkan Hajar Aswad.
Akan tetapi, setelah menerima tugas dakwah Islam oleh Allah Ta’ala, Rasulullah secara tegas mendakwah ajaran Islam meskipun apa yang beliau sampaikan tersebut banyak ditolak oleh bangsanya yaitu bangsa Quraisy, bahkan oleh keluarganya sendiri. Rasa nasionalisme Rasulullah terhadap bangsa Quraisy ditinggalkan demi menegakkan Tauhid.

Rasulullah ShallaLlahu ‘alaihi wa Sallama banyak mengkritik bangsa Arab Jahiliyah karena sikap fanatisme buta terhadap warisan kepercayaan dan budaya nenek moyang mereka sehingga mereka menjadi buta dan tuli akan kebenaran. Hal ini seperti difirmakan Allah Ta’ala:

وَإِذَا قِلَ لَهُمُ اتَّبِعُوا مَا أَنْزَلَ اللَّهُ قَالُوا بَلْ نَتَّبِعُ مَا أَلْفَيْنَا عَلَيْهِ آبَاءَنَا أَوَلَوْ كَانَ آبَاؤُهُمْ لَا يَعْقِلُونَ شَيْئًا وَلَا يَهْتَدُونَ (170) وَمَثَلُ الَّذِينَ كَفَرُوا كَمَثَلِ الَّذِي يَنْعِقُ بِمَا لَا يَسْمَعُ إِلَّا دُعَاءً وَنِدَاءً صُمٌّ بُكْمٌ عُمْيٌ فَهُمْ لَا يَعْقِلُونَ (171) [البقرة : 170 ، 171]

“Dan apabila dikatakan kepada mereka: “Ikutilah apa yang telah diturunkan Allah,” mereka menjawab: “(Tidak), tetapi kami hanya mengikuti apa yang telah kami dapati dari (perbuatan) nenek moyang kami”. “(Apakah mereka akan mengikuti juga), walaupun nenek moyang mereka itu tidak mengetahui suatu apapun, dan tidak mendapat petunjuk?”. (170) Dan perumpamaan (orang-orang yang menyeru) orang-orang kafir adalah seperti penggembala yang memanggil binatang yang tidak mendengar selain panggilan dan seruan saja. mereka tuli, bisu dan buta. Maka (oleh sebab itu) mereka tidak mengerti. (171)” (QS. Al-Baqarah: 170-171)

Rasulullah ShallaLlahu ‘alaihi wa Sallama telah menghimbau umat Islam untuk mendahulukan semangat keislaman di atas semangat kesukuan dan kebangsaan. Dalam hadits disebutkan:

عَنْ أَبِى مُوسَى قَالَ جَاءَ رَجُلٌ إِلَى النَّبِىِّ – صلى الله عليه وسلم – فَقَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ ، مَا الْقِتَالُ فِى سَبِيلِ اللَّهِ فَإِنَّ أَحَدَنَا يُقَاتِلُ غَضَبًا ، وَيُقَاتِلُ حَمِيَّةً . فَرَفَعَ إِلَيْهِ رَأْسَهُ – قَالَ وَمَا رَفَعَ إِلَيْهِ رَأْسَهُ إِلاَّ أَنَّهُ كَانَ قَائِمًا – فَقَالَ مَنْ قَاتَلَ لِتَكُونَ كَلِمَةُ اللَّهِ هِىَ الْعُلْيَا فَهُوَ فِى سَبِيلِ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ . أخرجه البخاري

Dari Abu Musa, ia berkata: Seorang lelaki mendatangi Rasulullah ShallaLlahu ‘alaihi wa Sallama lalu bertanya, “Wahai Rasulullah, apakah yang dinamakan berperang di jalan Allah? Seorang dari kami ada yang berperang karena marah, dan ada yang berperang karena kehormatan bangsa.” Lalu Rasulullah menghadapkan kepala beliau kepadanya – dan beliau tidak mengangkat kepalanya kecuali karena lelaki tersebut berdiri – seraya menjawab, “Barangsiapa berperang untuk meninggikan KalimatuLlah, maka ia berperang di jalan Allah Azza wa Jalla.” (HR. Bukhari)

Contoh selanjutnya adalah perjanjian antara Rasulullah ShallaLlahu ‘alaihi wa Sallama bersama kaum Muhajirin dengan kaum Anshar dan komunitas non-Muslim di Madinah yang biasa disebut Madinah Charter atau Piagam Madinah. Menurut Zainal Abidin Ahmad dalam bukunya Piagam Nabi Muhammad S.A.W.: Konstitusi Negara Tertulis Pertama di Dunia (Jakarta: Bulan Bintang, 1973) Piagam Madinah disebut sebagai konstitusi negara tertulis pertama di dunia, mendahului Magna Charta Inggris selama enam abad; dan mendahului Konstitusi Amerika Serikat dan Perancis selama 12 abad. Beberapa kalangan mengatakan bahwa Piagam Madinah adalah bukti penerimaan Rasulullah terhadap toleransi dan kebhinnekaan berbasis pluralisme. Ini jelas keliru, karena dalam Piagam Madinah tidak ada pengakuan terhadap kebenaran ajaran agama lain. Dalam Piagam Madinah Rasulullah menyatukan kaum Muslimin Muhajirin dan Anshar sebagai satu umat yang saling melindungi, saling menjaga dari sikap zalim, serta siap berjihad dan setia kepada Rasulullah. Dalam Piagam Madinah Rasulullah bersepakat dengan komunitas Yahudi untuk saling menjaga dari bertindak zalim dan serangan dari luar terhadap Negara Madinah, melakukan transaksi tanpa riba dengan kaum Muslimin, serta melaksanakan ajaran agamanya menurut kepercayaan masing-masing(4). Disini Rasulullah ShallaLlahu ‘alaihi wa Sallama menghargai pluralitas masyarakat di Madinah, namun tidak membenarkan ajaran agama selain Islam seperti kata kaum pluralis.

Akan tetapi, ketika Yahudi Bani Qainuqa melanggar Piagam Madinah tersebut dengan melakukan pelecehan seksual terhadap seorang Muslimah yang melewati mereka, maka Rasulullah ShallaLlahu ‘alaihi wa Sallama memperingatkan mereka untuk tidak mengulanginya lagi. Namun Yahudi Bani Qainuqa tidak menggubris dan malah menantang Rasulullah, sehingga akhirnya mereka dikepung lalu diusir dari Madinah.(5)

Keputusan Rasulullah ini bukan tanpa alasan. Menurut Syaikh Ramdlan al-Buthi, Yahudi Bani Qainuqa memang sudah lama menyimpan dendam kesumat dengan Rasulullah apalagi setelah kemenangan umat Islam saat perang Badr. Mereka bahkan sudah berencana untuk melakukan kudeta dan penyerangan terhadap umat Islam. Ketika kaum Muslimin pulang dari perang Badr, Malik bin Shaif berkata kepada Bani Qainuqa, “Apakah kalian takut menghadapi sekelompok klan Quraisy yang tidak tahu cara berperang? Tidak. Apabila kita tidak menyembunyikan rencana kita untuk menyatukan kalian, kalian tidak akan punya kekuatan untuk berperang.”(6)

Setelah itu, Yahudi Bani Nadhir ikut-ikutan melanggar dan membatalkan isi Piagam Madinah yang sudah diputuskan bersama. Mereka dipersilahkan Rasulullah ShallaLlahu ‘alaihi wa Sallama untuk keluar dari Madinah, namun Abdullah bin Ubay lagi-lagi menghasut mereka untuk menyerang Rasulullah dan merebut daerah mereka. Akhirnya mereka dikepung oleh Rasulullah hingga akhirnya mereka menyerah.
Fakta historis Sirah Nabawiyah ini membuktikan bahwa rasa nasionalisme, kebangsaan, dan ukhuwah wathaniyah harus sesuai dan tunduk kepada Syari’ah Islam, dan umat Islam harus tegas kepada oknum-oknum yang melecehkan serta merusak ajaran dan umat Islam.

Ghirah Islamiyah dalam Sejarah para Khalifah

Pada masa Khulafa Rasyidun, ghirah Islamiyah yang tinggi dan membara terlihat dari ketegasan Khalifah Abu Bakr al-Shiddiq untuk memerangi kaum yang murtad karena hasutan nabi-nabi palsu dan kaum yang tidak mau membayar zakat (arab pedusunan), disaat banyak shahabat yang mengajukan usulan untuk menyadarkan mereka dengan jalur negosiasi dan persuasif. Bahkan shahabat Umar yang dikenal sangat keras pun berkata demikian. Namun khalifah Abu Bakr tetap pada ijtihadnya dan malah mengkritik keras Shahabat Umar karena sarannya tersebut. Akhirnya khalifah Abu Bakr menang dan para pembangkang tersebut bertaubat.(7)

Khalifah Umar juga tegas dalam melaksanakan hukum Islam tanpa memandang jabatan dan hubungannya. Khalifah Umar menghukum had terhadap Qudamah bin Mazh’un meski merupakan adik iparnya sekaligus gubernur daerah karena minum khamr(8). Beliau tidak segan-segan menghukum kerabatnya sendiri karena telah melanggar hukum Islam. Ini sesuai dengan ajaran Rasulullah ShallaLlahu ‘alaihi wa Sallama untuk menerapkan hukum Islam tanpa pandang status sosialnya. Beliau bersabda:

إِنَّمَا هَلَكَ الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ أَنَّهُمْ كَانُوا إِذَا سَرَقَ فِيهِمُ الشَّرِيفُ تَرَكُوهُ وَإِذَا سَرَقَ فِيهِمُ الضَّعِيفُ أَقَامُوا عَلَيْهِ الْحَدَّ وَايْمُ اللَّهِ لَوْ أَنَّ فَاطِمَةَ بِنْتَ مُحَمَّدٍ سَرَقَتْ لَقَطَعْتُ يَدَهَا. أخرجه أبو داود

“Orang-orang sebelum kalian hancur gara-gara ketika yang mencuri adalah orang terpandang maka dibiarkan dan jika yang mencuri adalah orang lemah maka ditegakkan sanksi padnaya. Demi Allah, andai Fathimah binti Muhammad mencuri niscaya aku potong tangannya.” (HR. Abu Dawud)

Jejak Pesantren dalam Menegakkan Islam dan Kemerdekaan Indonesia

Dalam konteks keindonesiaan, sejarah membuktikan bahwa pesantren dari zaman dahulu merupakan lembaga pendidikan Islam yang tidak hanya mengajarkan ilmu-ilmu Islam, namun juga menanamkan ghirah Islamiyyah, semangat jihad, dan perjuangan disertai keikhlasan hati dan pengorbanan. Pesantren dalam rekaman sejarah Indonesia telah berhasil menjadi benteng pertahanan bagi masyarakat Indonesia. Tidak sedikit kita temukan para pejuang mulai zaman kolonialisme hingga era kemerdakaan berasal dari kaum santri dan kyai yang gigih menyuarakan jihad secara fisik ataupun intelektual untuk menghalau dan melepaskan diri dari imperialism kaum kafir.

Pada zaman kolonialisme Belanda sejarah mengenal sosok para santri berjuang di medan perang seperti Sultan Agung, Imam Bonjol, dan Pangeran Diponegoro. Sultan Agung dari Kesultanan Mataram bersama Dipati Ukur melancarkan serangan terhadap VOC Belanda tahun 1628-1629 M hingga banyak serdadu Belanda ditawan di Yogyakarta. Imam Bonjol bersama para lama menggelorakan perang Paderi tahun 1821-1837 mennghadapi kaum Adat yang bekerjasama dengan Belanda. Pangeran Diponegoro yang pada masa mudanya hidup di lingkungan pesantren Tegalrejo dan serius dalam belajar ilmu agama berjuang bersama para ulama dan santri melancarkan peperangan hingga hampir membangkrutkan negeri Belanda dan menelan korban dari pihak Belanda hingga 700 jiwa dan biaya perang 20 juta Golden.

Pada era kemerdekaan kita mengenal sosok para ulama pejuang kemerdekaan nasional seperti KH. Hasyim Asy’ari dan KH. Wahab Hasbullah. KH. Hasyim Asy’ari melakukan resolusi jihad bersama kaum santri di Indonesia untuk memperjuangkan kemerdekaan. KH. Wahab Hasbullah dan Mas Mansoer mendirikan Nahdlatul Wathan (embrio Nahdlatul Ulama) yang berjuang mengembangkan pendidikan dan kesadaran politik nasional terhadap kalangan Ahlussunnah wal Jama’ah. Di era ini juga ada organisasi Jam’iyatul khairat, yang didirikan oleh para habaib dan ulama, atas dakwah merekalah semangat juang rakyat menggelora untuk memerdekakan bangsa ini. Sangat tidak beradab jika oknum elite PBNU menghujat dakwah para habaib dari Timur Tengah khususnya Yaman, dan menuduh dakwahnya hanya untuk “kluyar-kluyur” di negeri orang. Apa elite PBNU ini tidak pernah mendengar pidato Soekarno di Semarang Tahun 1948 M. yang isinya “Kita juga harus harus berterima kasih kepada warga keturunan Cina. Kita juga harus berterima kasih kepada warga keturunan India. Tetapi kita jangan berterima kasih kepada warga keturunan Arab, karena …Karena … mereka … sudah menjadi bagian dari keluarga besar bangsa kita sejak ratusan tahun yang lalu….” Maka itu Bung Karno sendiri yang mengusulkan dan membuat PP No.10 yang disetujui MPR bahwa warga keturunan Arab diberi status Kewarganegaan ‘Stelsel pasif’ yang sama dengan warga Pribumi yaitu otomatis dianggap dan dicatat sebagai WNI.

Organisasi Nahdatul Ulama lahir dari gabungan tiga organisasi besar di kala itu, yakni Nahdotuttujjar yang diketuai oleh KH. Hasyim Asy’ari, Nahdatul Wathan oleh KH. Wahhab Hasbullah dan Jam’iyyatunnasihin oleh KH. Asnawi Kudus. Sedangkan pemberian nama Nahdatul Ulama diberikan oleh seorang ulama keturunan Makkah teman KH. Wahhab Hasbullah. Bahkan berdirinya Nahdatul Wathan dilatar belakangi oleh perasaan malu KH. Wahhab Hasbullah terhadap kaum nasionalis yang telah dulu memperjuangkan kemerdekaan, beliau merasa mentalnya terbebani bila kaum santri ketinggalan jauh dalam upaya memperjuangkan kemerdekaan Indonesia, apalagi ditambah sebagian besar orang-orang Islam jaduk (sakti mandraguna) memihak penjajah.

Keberadaan orang-orang jaduk di era penjajahan, meski tidak semuanya akan tetapi kebanyakan dari mereka dimanfaatkan oleh kolonial Belanda, guna melemahkan perjuangan rakyat yang ingin memberontak kekuasaan penjajah, para pendekar pengkhianat bangsa ini dengan sadis membantai saudara setanah air, kelaliman Raja Amangkurat I yang bekerjasama dengan VOC adalah contoh kongkretnya, ribuan kiai dan santri dibantai pada masanya, sehingga ia dijuluki Raja Tiran dari Jawa. Begitulah cara-cara licik penjajah, memanfaatkan peran kejawen dan orang jaduk untuk membackup segala daya upaya pemberontakan rakyat. China-Komunitas juga demikian, dibesar-besarakan dan diunggulkan di atas pribumi, untuk memperkuat hegemoni penjajah. Dalam bidang pendidikan, penjajah sengaja menggalakkan pelajaran-pelajaran umum di sekolah-sekolah mereka, yang sangat membahayakan akidah umat Islam semisal Ilhadiyah yang menafikan Allah SWT sebagai pencipta langit bumi. Kaum santri tempo dulu dilarang membaca tafsir Thantawi, karena tafsir ini menerangkan tata cara merakit bom. Sedangkan para pegawai di masa pemerintahan penjajah, yang mayoritas dijabat oleh kaum priyai, kiga dicekoki ajaran-ajaran Kristen, tapi untungnya dalam telinga mereka masih terngiang lantunan-lantunan kalam ilahi yang diajarkan oleh kiai yang ikhlas di masa kecilnya, oleh karena itu, pengajaran al-Quran harus meneladani metode kiai-kiai kuno, jangan seperti sebagian pendidikan Al-Quran zaman sekarang, yang didominasi guru-guru perempuan dan terlalu banyak iuran. Menurut cerita KH. Maimoen Zubair, ada dua istilah bagi kiai zaman kuno, ada kiai mataram (ketika mengajar perempuan tidak pakai satir) ada kiai pajang (pakai satir ketika mengajar perempuan), akan tetapi lebih banyak kiai mataramnya, Wallahu alam.

Menjaga Indonesia bukan menjadi goyah (tujuan), akan tetapi sebuah wasilah (sarana) untuk memperjuangkan masjid, madrasah diniyah, hukum-hukum Islam dan pendidikan Islam, agar tidak terjadi kevakuman seperti pada zaman penjajahan Jepang. Begitulah manhaj perjuangan para sesepuh ulama tempo dulu yang kami pahami. Tidak seperti yang digaungkan oleh kaum liberalis yang menyatakan semua perjuangan ulama itu berdasarkan jiwa nasionalisme tinggi. Dan perlu kami terangkan bahwa syubbanul yaum rijalul gad itu bukan hadits, akan tetapi maqolah syaikh Musthofa Al-Ghalayini dalam kitab Idzotunnasyiin dan juga hubbul wathan minal iman itu hadits palsu, akan tetapi mungkin maknanya benar jika negara yang dimaksud dalam maqolah tersebut adalah negara Islam atau minimal islami.

Sikap istiqamah dan ikhlas para ulama pesantren dalam mengajarkan ilmu-ilmu Islam juga sebagai implementasi jihad intelektual. Pengajaran terhadap kitab-kitab ulama yang luhur seperti Fath al-Qarib, Fath al-Mu’in, Aqidah al-‘Awam, Ta’lim al-Muta’allim, Bulugh al-Maram, Alfiyyah li Ibni Malik, dan lainnya dilakukan secara intens, disiplin, dan konsisten. Mereka juga mengarang kitab dalam berbagai fan ilmu untuk mengembangkan keilmuan Islam dan meluruskan berbagai kesesatan dari pihak kafir atau muslim sendiri. Jihad intelektual dan amar ma’ruf nahi munkar inilah yang membuat eksistensi pesantren tetap tegap dan megah melewati dinamika sejarah dan tidak bergeming oleh rekayasa kaum penjajah.

Implementasi Ghirah Islamiyah-Wathaniyah Masa Kini

Umat Islam Indonesia memang belum memiliki pemerintahan Islam, namun bukan berarti kita berpangku tangan ketika nilai-nilai Islam dinistakan. Justru dalam kondisi seperti ini ghiroh Islamiyah harus dipupuk dan ditampakkan di khalayak umum, asalkan tidak bertindak anarkis dan inkonstitusional, sebagai bukti besarnya harapan kita akan terwujudnya pemerintahan Islam. Jangan seperti partai-partai Islam akhir-akhir ini yang justru melawan ghiroh Islamiyah dengan dukungannya terhadap kepemimpinan non muslim. Prinsip ini didasari oleh sabda Nabi Muhammad SAW.
من مات وليس في عنقه بيعة مات ميتة جاهلية. أخرجه البيهقي في السنن الكبرى

“Rasulullah SAW bersabda: siapapun yang mati, sedang dalam lehernya tidak diketemukan ikatan baiat (terhadap pemerintahan Islam), sungguh ia mati sebagaimana model kematian jahiliyyah” (HR. Al-Baihaqi, As-Sunan al-Kubra)

Kita jangan buta mata, acuh tak acuh ketika Islam dilecehkan, sebagaimana sikap Wahhabi dan NU yang mengaku moderat. Umat Islam jangan rela agamanya dikebiri di negeri sendiri. Meskipun itu sebuah kenyataan pahit, namun hal ini harus kita lawan dan hilangkan dengan penuh kesabaran, harapan, rasa optimisme yang tinggi serta tidak putus asa sehingga menimbulkan depresi. Semua ini dapat tercapai asal umat Islam tetap istiqomah membaca Al-Qur’an, berdo’a, membaca hizib-hizib seperti hizib bukhari, hizib nashor, mengaji kitab-kitab di pesantren, ngopeni masjid dan madrasah diniyah, tidak terlalu sibuk dan terforsir dengan materi duniawi. Insyaallah harapan nenek moyang kita yang mencita-citakan izzul islam wal muslimin di bumi pertiwi dapat segera terwujud, Innallaha ‘ala kulli syai’in qodir.

Akhir-akhir ini banyak para tokoh Islam menyuarakan “NKRI-Pancasilaharga mati” di tengah-tengah umat Islam, padahal semestinya kita harus mengingatkan kepada umat tentang penghianatan-penghianatan musuh Islam di Majelis Konstituante, penghapusan tujuh kata dalam Piagam Jakarta, penolakan Soekarno terhadap syarat Islam bagi pemimpin Indonesia, bahkan di era reformasi, lewat Amandemen, Amien Rais dkk telah menghapus UUD 45 pasal 6 ayat (1) perihal presiden harus orang Indonesia Asli.

Di samping itu, sangat disayangkan, ada dan bahkan banyak dari mereka justru mencibir takbir. Padahal sejarah mencatat bahwa Indonesia jaya berkat pekikan takbir Bung Tomo dan kawan-kawannya. Begitu juga munculnya resolusi jihad Mbah Hasyim Asy’ari atas dasar membela azan, sholat, dan hukum-hukum Islam yang lain. Namun oleh gerombolan liberal justru dibelokkan atas dasar jiwa nasionalisme. Ini jelas sebuah pemutar balikan fakta.
Gerakan-gerakan seperti ini tidak hanya dilakukan oleh para liberalis. Upaya pengkerdilan terhadap Islam juga datang dari para misionaris. Islam di Indonesia yang tempo dulu mencapai 98% kemudian terkikis menjadi 80% gara-gara kristenisasi, bahkan mungkin bisa kurang dari itu(9). Hal ini karena upaya mereka yang memperbanyak gereja, simbol-simbol kristen di daerah minoritas Islam dan juga menghitung penganut kepercayaan animisme yang tersebar luas di Papua, Sampit, Simalungun dan lain sebagainya.

Kesemua ini masuk dalam ranah al-gozwul fikri Proyek-proyek zionisme melalui beberapa fase:
Ta’lih ‘uqul (menuhankan akal)
Tahrirul ‘uqul (membebaskan akal)
Tahrirunnisa’ (membebaskan wanita)
Muhawalatuttahrif (upaya pendistorsian)
Muhawalatuttasykik (menebar keragu-raguan)
Wad’ul qowanin al-basyariyah (menetapkan undang-undang kemanusiaan)
Muhawalatuttaghrib (westernisasi)
Muhawalatuttakhdits (modernisasi)
Muhawalatuttafriq bainal muslimin (upaya pemecah belahan umat Islam) termasuk takfir ala Wahhabi.

Sejarah mencatat bahwa sekte syiah selalu menjadi biang keladi kericuhan dan pemberontakan terhadap pemerintahan Islam. Penghianatan Syiah pertama dilakukan oleh Abdullah bin Saba’, Alib bin Yaqtin pada masa Harun Al-Rasyid, Dinasti Fatimiyah di Mesir, Menteri Syiah An-Nashir Lidinillah, Muhammad Al-Qami dan Nasiruddin At-Thusi pada masa pmerintahan Al-Mu’tasim Billah, Dinasti Shofawi di Persia, pengkhianatan Khomeini, Organisasi amal yang melahirkan Hizbullah, pengkhianatan Syiah di Bahrain, Yaman, Saudi Arabia, Pakistan dll.

Contoh pengamalan ghiroh wathaniyah yang selaras dengan ghiroh islamiyah di masa kini adalah mewaspadai segala macam bentuk penjajahan asing dan aseng, mulai dari bidang agama, ekonomi, sosial, budaya, dan politik. Kasus-kasus seperti penistaan agama yang marak terjadi akhir-akhir ini, semisal Nabi dikatakan peramal masa depan, puisi yang mengatakan bahwa kidung ibu pertiwi lebih indah dari suara azan dan sari konde yang lebih anggun dari cadar, kitab suci dianggap fiksi, Al-Qur’an bukan kitab suci, Nabi Muhammad bukan pula manusia suci, ujaran-ujaran negatif terhadap Haba’ib Timur Tengah yang berdakwah di Indonesia, imigrasi besar-besaran pekerja asing dari china, mudahnya pemerintah mengimpor barang-barang komoditi tanpa memikirkan petani, secara diam-diam menaikkan harga BBM dukungan penuh pemerintah dalam proyek reklamasi, maraknya barongsai yang diundang dimana-mana, tekanan terhadap partai-partai Islam untuk mendukung segala kebijakan pemerintah yang bertentangan dengan aspirasi umat Islam, harus menjadi obyek ghiroh wathaniyah-islamiyah sebagai bentuk upaya menciptakan bangsa dan negara yang makmur.

Ikhtitam

Kecintaan terhadap bangsa dan negara Indonesia memang diperlukan sebagai wujud cinta kepada tanah kelahiran kita. Akan tetapi, kecintaan kita kepada bangsa dan negara tidak semestinya ditempatkan diatas kecintaan kita kepada Allah dan Rasul-Nya. Bahkan ghirah dan ukhuwah wathaniyah akan menjadi semakin kuat dan bermakna bila didasarkan kepada ghirah dan ukhuwah Islamiyah.

Semoga Allah Ta’ala selalu memberi kita hidayah dan taufiq untuk selalu mencintai dan ikhlas berbuat untuk agama-Nya, serta memberi barakah kepada Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) yang berdiri berkat jasa dan jihad para ulama dan santri bersama pemerintahan Islam dan rakyat Indonesia sehingga selalu dijaga keislamannya untuk kita dan anak cucu kita nanti. Amin Ya Rabbal ‘Alamin.

وصلى الله على سيدنا محمد وعلى آله وصحبه وسلم

Sarang, 14 Sya’ban 1439 H.
30 April 2018 M.

KH. Muhammad Najih Maimoen

** Catatan Kaki;

1. Syaikh Muhammad Najih, Ahlussunnah wal Jama’ah: Akidah, Syari’ah, Amaliyah, Sarang: Maktabah Al-Anwar 1, hlm. 56.

2. Hujjatul Islam Abu Hamid Muhammad bin Muhammad Al-Ghazali. Ihya Ulummiddin. Beirut: Dar al-Kutb al-Ilmiyyah, Juz 2 hlm. 279.

3. Abu Abdullah Muhammad bin Darwish, Asna al-Mathalib fi Ahadits Mukhtalif al-Maratib, Beirut: Dar al-Kutb al-Ilmiyyah, hlm. 181.

4. Syaikh Ramdlan al-Buthi, Fiqh al-Sirah, Beirut: Dar al-Fikr, hlm. 223-224.

5. Fiqh al-Sirah, hlm. 248.

6. Fiqh al-Sirah, Beirut: Dar al-Fikr, hlm. 252.

7. Jalaluddin al-Suyuthi, Tarikh al-Khulafa, Mesir: Mathba’ah al-Sa’adah, hlm. 67.

8. Abu Bakr Ibn al-Arabi, al-‘Awashim min al-Qawashim, Beirut: Dar al-Jil, hlm. 105.

9. Disarikan dari ceramah KH. Sadid Jauhari, di Madrasah Ghazaliyah Syafiiyyah, Sarang Rembang 26 April 2018

Nilai-nilai ASWAJA Dalam Kehidupan pluralitas-kebangsaan

بِسْمِ الله الرحمنِ الرحيمِ
الحمْدُ لله ربِّ العَالَمِيْن أَشْهَدُ أنْ لَا إله إلَّا الله وَحْدَه لَا شَرِيْكَ لَه وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدا عَبْدُه وَرَسُوْلُه صَلَّى الله عَلَيهِ وَعَلَى آلهِ الطَّاهِرِيْن وأَصْحابِهِ المُكْرَمِيْن الْمَهْدِيِّيْن، أمَّا بَعْدُ:

Muqaddimah
Islam sebagai agama yang berasal dari Allah Taala bersifat komprehensif dan relevan di berbagai dimensi ruang dan zaman. Terbukti bahwa ajaran Islam yang berkembang di daerah manapun selalu menjadikan masyarakatnya memiliki pribadi dan peradaban yang baik. Hal ini karena sifat ajaran Islam yang tidak ekstrim dalam menyikapi segala sesuatu, sehingga manusia merasa terayomi dan terlindungi dengan hukum Islam tanpa mencerabut prinsip dan asas Islam itu sendiri. Sifat ini merupakan ciri khas Islam ala Ahlussunnah wal Jamaah dibandingkan dengan berbagai firqah Islam dan agama lainnya.
Indonesia merupakan negara yang memiliki pluralitas dan kemajemukan masyarakat yang tinggi. Dalam kondisi demikian, Islam ala Ahlussunnah wal Jamaah telah terbukti mampu berkembang begitu pesat di seluruh penjuru negeri hingga menjadikan mayoritas masyarakatnya memeluk agama Islam. Selain itu, ajaran Aswaja yang diajarkan oleh ulama dan kyai telah mendarah daging di masyarakat sehingga sikap sopan santun, ramah, dan tawadlu menjadi ciri khas bangsa Indonesia di mata dunia, sekaligus memiliki sikap militan dan teguh dengan agamanya, sehingga selama tiga setengah abad hingga sekarang bangsa Indonesia tidak mudah dimurtadkan oleh penjajahan yang datang silih berganti.

Sekilas Tentang Ahlussunnah wal Jamaah
Islam merupakan agama Allah SWT yang diturunkan untuk seluruh manusia. Di dalamnya terdapat pedoman dan aturan demi meraih kebahagiaan dan keselamatan di dunia dan akhirat. Ada tiga hal yang menjadi sendi utama dalam agama Islam itu, yaitu Iman, Islam dan Ihsan.
Dari sisi keilmuan, semula ketiganya merupakan satu kesatuan yang tidak terbagi-bagi. Namun selanjutnya para ulama mengadakan pemisahan, sehingga menjadi bagian ilmu tersendiri. Bagian-bagian tersebut mereka elaborasi sehingga menjadi bagian ilmu yang berbeda. Perhatian terhadap Iman memunculkan ilmu tauhid atau ilmu kalam. Perhatian khusus pada aspek Islam menghadirkan ilmu fiqh atau ilmu hukum Islam. Sedangkan penelitian terhadap dimensi Ihsan melahirkan ilmu tashawwuf atau ilmu akhlak. Ketiga aspek inilah yang menjadi inti daripada ajaran Ahlussunnah wal Jamaah.
Secara etimologis, Ahlussunnah Wal-Jamaah adalah istilah yang tersusun dari tiga kata:
Pertama, kata Ahl, berarti keluarga, pengikut atau golongan.
Kedua, kata al-sunnah, yang memiliki dua arti kemungkinan;
Segala sesuatu yang telah diajarkan oleh Kanjeng Nabi Muhammad SAW, baik melalui perbuatan, ucapan dan pengakuan Kanjeng Nabi Muhammad SAW dan,
Al-thariqah (jalan dan jejak), maksudnya Ahlussunnah wal Jama’ah itu mengikuti jalan dan jejak para sahabat Kanjeng Nabi Muhammad SAW dan tabi’in dalam memahami teks-teks keagamaan dan mengamalkan ajaran agama.
Ketiga, kata al-Jamaah, yang secara kebahasaan dapat diartikan dengan sejumlah besar orang-orang yang menjalin dan menjaga kebersamaan dalam mencapai suatu tujuan yang sama, sebagai kebalikan dari al-firqah (orang-orang yang memisahkan diri dari golongannya). Dalam beberapa hadits shahih, Kanjeng Nabi Muhammad SAW menyebut kelompok yang selamat dengan nama al-jama’ah.
Kata al-Jamaah menjadi identitas bagi Ahlussunnah wal Jamaah sebagai golongan yang selalu memelihara sikap kebersamaan (Persatuan dalam satu negara atau komunitas Islam Sunni, sejak Awal hingga sekarang, Sunni selalu menjadi aliran mayoritas, maka tidak berlebihan jika dikatakan mempertahankan Sunni berarti mempertahankan Islam. Oleh karena itu, jangan ada usaha-usaha mempertahankan apalagi memperjuangkan sekte-sekte minoritas seperti sekte Syi’ah, Mu’tazilah, Wahhabi dst… karena disamping paham-pahamnya yang sesat juga hanya akan menambah perpecahan dan memperkeruh keadaan).

Akidah Asyariyah adalah Ahlussunnah wal Jamaah
Di antara kriteria dan ciri khas Ahlussunnah wal Jamaah ialah ulama-ulama mereka selalu tampil sebagai penyebar ilmu agama dan rujukan kaum muslimin dalam setiap generasi. Pertanyaannya sekarang, di antara sekian aliran yang ada, golongan manakah yang para ulamanya berperan sebagai penyebar ilmu agama dan penjaga kemurnian ajarannya? Jawaban terhadap pertanyaan tersebut adalah mayoritas ulama yang mengikuti madzhab al-Asyari dan al-Maturidi, seperti Imam al-Asyari, Abu Ishaq al-Isfirayini, al-Baqillani dan lain-lain. Hal ini seperti ditegaskan oleh hadlrotussyaikh KH. Hasyim Asyari berikut ini;
قَالَ الشِّهَابُ الخَفَاجِي رَحِمَهُ الله فِي نَسِيْمِ الرِّيَاض: الفِرْقَة النَّاجِيَة هُمْ أَهْلُ السُّنَّة وَالجَمَاعَةِ وَفِي حَاشِيَةِ الشَّنْوَانِي عَلَى مُخْتَصَر ابْنِ أَبِيْ جَمْرَة: هُمْ أَبُو الحَسَن الأَشْعَرِي وَجَمَاعَتُهُ أَهْلُ السُّنَّةِ وَأَئِمَّة العُلَمَاءِ لِأَنَّ الله تَعَالَى جَعَلَهُمْ حُجَّةً عَلَى خَلْقِهِ وَ إِلَيْهِم يَفْزَعُ العَامَّة فِي دِيْنِهِمْ وَهُمْ المَعْنِيُّوْنَ بِقَوْلِهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وًَسَلَّم: «إِنَّ اللهَ لَا يَجْمَعُ أُمَّتِي عَلَى ضَلَالَةٍ».
Mayoritas umat Islam di seluruh dunia, mengikuti madzhab Imam al-Asyari dan al-Maturidi, karena para ulama yang menyebarkan Islam juga bermadzhab Imam al-Asyari dan al-Maturidi. Imam Ibnu Asyakir RHA berkata:
وَأَكْثَرُ العُلَمَاءِ فِي جَمِيْعِ الأَقْطَارِ عَلَيْهِ أَيْ عَلَى مَذْهَبِ الأَشْعَرِي وَأَئِمَّةُ الأَمْصَارِ فِي سَائِرِ الأَعْصَارِ يَدْعُوْنَ إِلَيْهِ وَمُنْتَحِلُوْهُ هُمُ الَّذِيْنَ عَلَيْهِمْ مَدَارُ الأَحْكَامِ وَإِلَيْهِمْ يُرْجَعُ فِي مَعْرِفَةِ الحَلَالِ وَاْلحَرَامِ وَهُمْ الَّذِيْنَ يُفْتُوْنَ النَّاسَ فِي صِعَابِ المَسَائِلِ وَيَعْتَمِدُ عَلَيْهِمْ الخَلْقُ فِي إِيْضَاحِ المُشْكِلَاتِ وَالنَّوَازِلِ وَهَلْ مِنَ الفُقَهَاءِ مِنَ الحَنَفِيَّةِ وَاْلمَالِكِيَّةِ وَالشَّافِعِيَّةِ إِلَّا مُوَافِقٌ لَهُ أَوْ مُنْتَسِبٌ إِلَيْهِ أَوْ رَاضٍ بِحَمِيْدٍ فِي دِيْنِ اللهِ.

Tataran Praktis Prinsip Ahlussunnah
Aqidah
Dalam hal aqidah, Ahlussunnah wal Jamaah mempertimbangkan dan menetapkan beberapa hal di bawah ini.
Keseimbangan dalam telaah dan penggunaan dalil akal (tajsim dan tasybih) dan dalil syara (mutsbit maa tanzih) agar tidak mengalahkan salah satunya.
Memurnikan aqidah dengan cara membersihkan dan meluruskannya dari pengaruh aqidah yang sesat, baik dari dalam maupun dari luar Islam.
Menjaga keseimbangan berfikir supaya tidak mudah menilai salah, menjatuhkan vonis syirik, bidah pada orang lain yang seaqidah, apalagi mengkafirkannya.
Syariah
Dalam hal syariah, Ahlussunnah wal Jamaah mempertimbangkan dan menetapkan beberapa hal di bawah ini.
Berpegang pada al-Quran dan al-Hadits dengan cara-cara yang benar menurut ahlinya, yakni ulama salaf yang dapat dipertanggungjawabkan kebenarannya.
Akal dapat digunakan ketika terjadi masalah dan tidak ditemukan dalil nash (al-Quran dan Hadits) yang jelas dan mengikat.
Menerima setiap perbedaan pendapat para imam sunni mujtahidin dalam menilai suatu masalah, ketika dalil nash masih mungkin ditafsirkan yang lain.
Selalu mempertimbangkan aspek kemaslahatan dalam mengamalkan syariat di tengah-tengah lapisan masyarakat yang plural.
Tashawwuf
Dalam hal tashawwuf, Ahlussunnah selalu berpegang teguh dan berhati-hati dalam beberapa hal penting, yaitu:
Mendorong dan mengajarkan faham Ahlussunnah dalam bidang tashawwuf dengan menggunakan cara-cara ma’rifat Allah SWT, dzikir, riyadloh dan mujahadah yang tidak bertentangan dengan syariat Islam.
Tidak merasa diri lebih baik dan lebih sempurna dibanding orang lain.
Bersikap sopan santun, rendah diri dan menjaga hati dengan kekhusyuan dan keikhlasan dengan siapapun dan dimanapun berada.
Selalu berusaha mewujudkan rasa aman, tentram pada diri sendiri khususnya dan lapisan masyarakat pada umumnya.
Tidak terlalu berlebihan dalam menilai sesuatu, tenang, dan bijak dalam mengambil sikap serta mempertimbangkan kemaslahatan.
Bergaul antar Kelompok
Dalam pergaulan, Ahlussunnah menilai adanya hal-hal yang terpenting, antara lain:
Bersikap santun dengan keluarga, tetangga dan orang lain demi untuk tujuan dakwah.
Bersikap tegas, bijak dan mengambil posisi yang tepat terhadap pihak-pihak yang ingin merusak Islam.
Kehidupan Bernegara
Dalam kehidupan bernegara, Ahlussunnah menentukan beberapa hal berikut:
Mempertahankan nilai-nilai agama Islam Ahlussunnah wal Jamaah dan UUD 45 dalam bingkai NKRI (Negara Kesatuan Republik Indonesia) sebagai negara yang sah menurut hukum Internasional, atau sah menurut agama Islam dalam setiap undang-undang yang tidak bertentangan dengan syari’atnya.
Mentaati dan mematuhi pemerintah atas semua peraturan dan kebijakan yang berlaku selama tidak bertentangan dengan ajaran Islam.
Tidak melakukan bentuk perbuatan apapun yang berakibat pada jatuhnya kewibawaan, memicu pemberontakan dan penggulingan terhadap pemerintah yang sah.
Jika pemerintah melakukan penyimpangan dari aturan agama Islam, membuat rakyat sengsara, maka harus mengingatkannya dengan cara yang baik.
Mengawal dan mengkritisi kebijakan-kebijakan pemerintah yang melanggar syariat dan UUD 45, demi tercapainya sebuah pemerintah yang adil bersih dan berwibawa.
Tradisi
Dalam masalah tradisi umat Islam, Ahlussunnah memberikan batasan-batasan sebagai berikut:
Meletakkan tradisi umat Islam pada posisi yang tepat serta menilai dan mengukur dengan nilai-nilai ajaran Islam.
Menerima tradisi yang baik dan tidak bertentangan dengan agama Islam siapa-pun yang membawa dan dari manapun datangnya.
Melestarikan tradisi umat Islam lama yang lebih baik dan mengambil tradisi baru yang sesuai dengan syara.
Sebab Rasulullah SAW bersabda:

أَبْغَض النَّاسِ إلَى الله ثَلاَثَةٌ : مُلْحِدٌ فِي الحَرَمِ ، وَمُبْتَغٍ فِي الإسْلاَمِ سُنَّةَ الجَاهِلَيَّة ، وَمُطَّلِبُ دَمِ امْرِئٍ بِغَيْرِ حَق ، لِيُهْرِيقَ دَمَهُ.
أخرجه البخاري في صحيحه
ستة لعنتهم، لعنهم الله وكل نبي مجاب : الزائد في كتاب الله، والمكذب بقدر الله تعالى، والمتسلط بالجبروت فيعز بذلك من أذل الله ويذل من أعز الله، والمستحل لحرم الله، والمستحل من عترتي ما حرم الله، والتارك لسنتي- ( ت ك ) عن عائشة ( ك ) عن ابن عمر (الجامع الصغير من حديث البشير النذير) – (1 / 465)
Dakwah
Dalam hal dakwah, Ahlussunnah menganjurkan berdakwah yang ditujukan kepada seluruh lapisan
masyarakat dengan memperhatikan beberapa ketentuan sebagai berikut:
Dakwah dilakukan dengan nilai yang ikhlas, tulus memberikan bimbingan, pencerahan dan pengarahan demi tercapainya tujuan utama, yaitu mendapatkan kebahagiaan di dunia dan kemuliaan di akhirat.
Materi dakwah disesuaikan dengan kondisi dan kemampuan berfikir masyarakatnya.
Berdakwah bukan bertujuan untuk menyalahkan, menghukumi ataupun mengkafirkan orang lain, akan tetapi untuk memupuk rasa persaudaraan dan mengajak masyarakat menuju jalan yang diridlai Allah SWT.

Realitas ke-Indonesiaan
Dalam konteks berbangsa dan bernegara (sosial kemasyarakatan) Ahlussunnah wal Jamaah mengakui realitas kemajemukan atau pluralistik. Terbukti tatkala tercetus Piagam Madinah, Kanjeng Nabi Muhammad SAW menjumpai adanya pemeluk Yahudi, Nasrani, beliau tetap menegaskan, bahwa Islam adalah satu-satunya agama yang benar. Bahkan beliau mengirim surat ke beberapa Raja Eropa, seperti Heraklius, Muqauqis berupa ajakan untuk memeluk agama Islam.
قَالَ أَبُو سُفْيَانَ: كَتَبَ النَّبِيُّ صَلَّى الله عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِلَى هِرَقْلَ: «تَعَالَوْا إِلَى كَلِمَةٍ سَوَاءٍ بَيْنَنَا وَبَيْنَكُمْ» [آل عمران: 64[[رواه البخاري]
Abu Sufyan RA berkata: Kanjeng Nabi Muhammad SAW mengirimkan surat kepada Raja Hiraklius yang artinya: “Hai ahli Kitab, Marilah (berpegang) kepada suatu kalimat (ketetapan) yang tidak ada perselisihan antara Kami dan kamu” (HR. Bukhori).
Perlu dicatat, agama-agama selain Islam yang para pemeluknya diberi hak hidup oleh Rasulullah SAW hanya agama Yahudi dan Nashrani (Ahli Kitab), Majusi juga seperti Ahli Kitab, karena Rasulullah SAW bersabda: سنوا بهم سنة أهل الكتاب (HR. Imam Malik fil Muwathta’, wa imam Abdurrozaq fil Mushonnaf). Islam mengakui keberadaan kedua agama tersebut bukan berarti membenarkannya, akan tetapi Islam masih menghormati sisa-sisa kebenaran dari ajarannya. Penyembah Berhala tidak ditolerir oleh Rasulullah SAW, terbukti beliau mengusir mereka dari tanah haram dan seluruh jazirah arab, sampai membuat ultimatum pasca penaklukan Makkah, barangsiapa yang tidak keluar dari tanah haram setelah 4 bulan, pasti akan kami perangi. Jadi sekali lagi kami tegaskan bahwa negara Madinah yang dibangun oleh Baginda Rasul SAW tidak menampung para penyembah berhala, apalagi melindunginya. Oleh karenanya sangat tidak masuk akal, jika para liberalis menggunakan “Piagam Madinah” sebagai dalil pembenaran perlindungan negara Indonesia terhadap kafir non ahli kitab (Hindu, Budha, Konghucu dll…).
Meski demikian, bukan berarti kita umat Islam Indonesia kemudian berlaku intoleran atau bertindak diskriminasi kepada mereka, karena pada dasarnya, ada kode etik khusus ketika berinteraksi sosial dengan non muslim dalam konteks ke-Indonesiaa. “Rukun tapi Suloyo, Suloyo tapi Rukun” atau “Sebongso tapi Suloyo, Suloyo tapi Sebongso”, atau yang lebih tepatnya “Sak negoro tapi Suloyo, Suloyo tapi sak negoro”, begitulah kode etiknya, sebab rukun dengan non muslim Indonesia itu sifatnya hanya dharurat, agar supaya umat Islam tidak dituduh Radikal, Ekstrim, Intoleran dan cap-cap buruk lainnya, sedangkan rukun sesama muslim hukumnya wajib, apapun sekte dan alirannya, semisal Santri-non Santri, NU-Muhammadiyah, Wahhabi, HTI, JTA dst… kami mengistilahkan interaksi sosial antar sesama umat Islam di Indonesia dengan jargon “Podo Tapi Bedo, Bedo Tapi Podo”, atau “Seagomo tapi Bedo, Bedo tapi Seagomo”.
Fenomena mengerikan semisal umat Islam ikut natalan, Banser Jaga Gereja, memilih pemimpin non muslim, do’a bersama, FKUB dan lain sebagainya adalah imbas pemahaman keliru terhadap tata cara interaksi antar muslim-non muslim.
Kami tambahkan lagi, bahwa maqolah ulama (Seperti KH. Zubair Dahlan dan KH. Maimoen Zubair) عليكم بالدثار والشعار, hakikat pemahaman Ditsar dan Syi’ar itu sama, yakni kembali pada taqwallah, jika syi’ar adalah urusan membersihkan hati dari sombong, iri, dengki, ujub dan segala penyakit hati (domain thoriqoh), maka ditsar adalah urusuan dhohir, seperti sholat, zakat, puasa, haji dll. Pokoknya syi’ar itu “noto ati” sedangkan ditsar “noto awak”. Tidak seperti orang-orang yang menafsiri syi’ar dengan menetapkan pendidikan salaf, sedangkan ditsar dengan menerima pendidikan umum.
Adapun maqolah: حق عل العاقل أن يعرف زمانه ويحفظ لسانه ويقبل على شأنه (termasuk salah satu hikmah ‘Ali Dawud, dalam kitab al-Bidayah wa an-Nihayah Juz 1. Hal: 102, dan termasuk isi suhuf Ibrahim, dalam kitab Syarah Arba’in Nawawiyah hal: 40) maksudnya arif bizamanih adalah: Seseorang ketika berdakwah harus menggunakan bahasa kaumnya yang kekinian (terupdate), berlandaskan hukum dan tidak menimbulkan fitnah dan kegaduhan, agar mudah dipaham, hal ini senada dengan firman Allah SWT: وَمَا أَرْسَلْنَا مِنْ رَسُولٍ إِلَّا بِلِسَانِ قَوْمِهِ لِيُبَيِّنَ لَهُمْ فَيُضِلُّ اللَّهُ مَنْ يَشَاءُ وَيَهْدِي مَنْ يَشَاءُ وَهُوَ الْعَزِيزُ الْحَكِيم. خذ ما Jadi tidak boleh mengikuti arus zaman dengan dalih maqolah tersebut, karena ada maqolah ulama yang berbunyi: خذ ما صفا ودع ما كدر (setiap perkara menguntungkan akhirat harus diambil, dan yang merugikannya harus ditinggal). Begitu juga tidak boleh berdalil dengan maqolah ulama moderen yang masih diragukan kevalidannya, تتغير الأحكام بتغير الأحوال والأزمان. Kalau zaman rusak, masak kita ikutan rusak?, seperti sekarang lagi marak Pluralisme, Liberalisme, Miras, LGBT, kepemimpinan non muslim, bermesraan dengan kuffar, natalan, perzinaan dan seterusnya… apa dengan dalil tersebut, umat Islam diperbolehkan ikut-ikutan zaman? Naudzubillah min dzalik.
Kanjeng Nabi Muhammad SAW juga melakukan pergaulan sosial secara baik dengan komunitas orang kafir (ahli kitab), seperti Kristen Najron, Yahudi Madinah sebelum mereka mengkhianati Perjanjian Madinah atau yang dikenal dengan Piagam Madinah. Namun, setelah mereka mengkhianati perjanjian tersebut, Kanjeng Nabi SAW menerapkan kebijakan yang berbeda-beda. Terhadap Bani Qoinuqo dan Bani Nadlir, Kanjeng Nabi Muhammad SAW memerangi dan mengusir mereka dari Madinah, terhadap Bani Quroidloh, beliau memerangi dan menumpas mereka. Begitu juga orang tuanya istri Kanjeng Nabi SAW yang bernama Huyay bin al-Akhthob yang merupakan tokoh Yahudi Bani Quroidhoh terbunuh dalam perang khandaq, kemudian putrinya, Shofiyyah yang suaminya Kinanah bin Rabi’ bin Abil Huqaiq terbunuh di perang Khaibar diperistri kanjeng Nabi Muhammad SAW.
Aswaja juga menerima konsep kebangsaan, kebhinekaan dalam konteks berbangsa dan bernegara, sosial kemasyarakatan sebagai bentuk loyalitas tanggungjawab aswaja terhadap stabilitas dan keutuhan NKRI serta demi mewujudkan dan menjaga persatuan dan kesatuan antar komponen bangsa Indonesia, asalkan untuk kemaslahatan umat Islam, dan semua itu tidak bertentangan dengan syari’at Islam itu sendiri (الإسلام يعلو ولا يعلى عليه).
Namun ketika nilai-nilai kebangsaan dan ke-bhinekaan tersebut dikhianati oleh orang-orang liberal dengan dibuat kedok untuk memasarkan ide-ide pluralisme agama, maka Aswaja mempunyai kewajiban untuk membendungnya serta membentengi umat agar tidak ikut-kutan terjebak hanyut ke dalam propaganda untuk meninggalkan dan membuang Islam dengan slogan “pluralisme agama”.
Dampak Pluralisme adalah pendangkalan aqidah. Di negeri ini, kegiatan yang mengandung benih-benih dan aroma pluralisme agama sudah menjadi tren. Kegiatan do’a bersama lintas agama yang melibatkan tokoh-tokoh NU bukan pemandangan asing lagi. Acara yang diberi tema “Forum Silaturahmi Nasional Lintas Agama” di GOR Sidoarjo pada hari Jumat, 22 Januari 2010. Begitu juga sungguh sangat memiriskan umat Islam yang setiap tahun disuguhi berita ”pelamaran” pihak NU (puluhan ribu GP Ansor-Banser) “melamar” kepada orang Kristen dan Katolik untuk menjadi penjaga gereja di upacara natalan. Padahal bukan keadaan darurat, sedangkan polisi pun sudah dikerahkan hingga 93.000 polisi untuk pengamanan. Di zaman Gus Dur, pembangunan gereja besar-besaran marak direalisasikan pada daerah komunitas Muslim. (Sumber: m.tribbunnews.com)
Tindakan salah tokoh NU dan pengasuh pondok pesantren Saka Tunggal di Jl. Sendang Guwo 40-42 Semarang yang dikenal sebagai dedengkot PBM (Pasukan Berani Mati), ceramah di sebuah gereja Bethany Tayu, Pati, Jawa Tengah, Rabo 25 Desember 2013 (Sumber: m.kaskus.co.id) sebagai tindak lanjut dari isu NKRI harga mati, keBhinekaan, dan toleransi kebangsaan yang merupakan kedok untuk menyebarkan paham pluralisme agama.
Entah mengapa orang-orang tersebut begitu getol dan giat melakukan kegiatan-kegiatan pluralisme diatas, padahal tidak ada kondisi darurat sedikitpun yang sah menjadi pendorong umat Islam harus berperilaku seperti, bahkan yang terjadi hal ini lebih terlihat dipaksakan. Buktinya setiap acara tersebut selalu di-blow up besar-besaran di media massa dan bagi Muslim yang mengingkarinya otomatis mendapat cap intoleran, radikalis, anti-kemajemukan, dan cap-cap teror lainnya. Padahal umat Islam sudah dilarang dan diwanti-wanti oleh Allah agar jangan akrab (muwalah) dengan orang kafir.

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَتَّخِذُوا بِطَانَةً مِنْ دُونِكُمْ لَا يَأْلُونَكُمْ خَبَالًا وَدُّوا مَا عَنِتُّمْ قَدْ بَدَتِ الْبَغْضَاءُ مِنْ أَفْوَاهِهِمْ وَمَا تُخْفِي صُدُورُهُمْ أَكْبَرُ قَدْ بَيَّنَّا لَكُمُ الْآيَاتِ إِنْ كُنْتُمْ تَعْقِلُونَ [آل عمران : 118]
“Wahai orang-orang yang beriman, janganlah kamu menjadikan teman orang-orang yang diluar kalanganmu (seagama) sebagai teman kepercayaanmu, (karena) mereka tidak henti-hentinya menyusahkanmu. Mereka mengharapkan kehancuranmu. Sungguh telah nyata kebencian dari mulut mereka, dan apa yang tersembunyi di hati mereka lebih jahat. Sungguh telah kami terangkan kepadamu ayat-ayat (kami), jika kamu mengerti” (QS. Ali Imran: 118)

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَتَّخِذُوا الْيَهُودَ وَالنَّصَارَى أَوْلِيَاءَ بَعْضُهُمْ أَوْلِيَاءُ بَعْضٍ وَمَنْ يَتَوَلَّهُمْ مِنْكُمْ فَإِنَّهُ مِنْهُمْ إِنَّ اللَّهَ لَا يَهْدِي الْقَوْمَ الظَّالِمِينَ [المائدة : 51]
“Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah kamu menjadikan orang Yahudi dan Nashrani sebagai teman setia(mu) mereka satu sama lain saling melindungi. Barangsiapa diantara kamu menjadikan mereka teman setia, maka sesungguhnya dia termasuk golongan mereka, sungguh Allah tidak memberi petunjuk kepada orang yang zhalim.” (QS. Al-Maaidah: 51)

وَدُّوا لَوْ تَكْفُرُونَ كَمَا كَفَرُوا فَتَكُونُونَ سَوَاءً فَلَا تَتَّخِذُوا مِنْهُمْ أَوْلِيَاءَ حَتَّى يُهَاجِرُوا فِي سَبِيلِ اللَّهِ
“Mereka ingin supaya kamu menjadi kafir sebagaimana mereka telah menjadi kafir, lalu kamu menjadi sama (dengan mereka). Maka janganlah kamu jadikan diantara mereka penolong-penolong(mu), hingga mereka berhijrah pada jalan Allah.” (QS. Al-Nisa: 89)
Keputusan Bahtsul Masail PBNU tanggal 21 Januari 2014 tentang wajibnya kondom dan perlunya lokalisasi prostitusi dalam rangka mencegah penyebaran HIV dan AIDS. Menurut siaran pers Komisi Penanggulangan AIDS Nasional (KPAN), PBNU termasuk dari empat penerima dana utama The Global Fund untuk penanggulangan HIV/AIDS. Dari USD. 111,09 juta yang dihibahkan ke Indonesia, PBNU menerima dana sebesar USD. 13,391,651. (161 Milyar) (Sumber: PEPFAR-US President’s Emergency Plan for AIDS Relief), Salah satu bentuk realisasi bantuan dana tersebut adalah diterbitkannya dua buku berjudul “Panduan Penanggulangan AIDS, Perspektif Nahdlatul Ulama” dan Khutbah Jumat “Jihad Melawan HIV & AIDS”. Sudah menjadi rahasia umum jika KB adalah salah satu program Kristenisasi, karena sasaran program ini adalah umat Islam, sedangkan China-Kristen tidak perlu KB, yang lebih mengerikan lagi, umat Islam saat ini diajari LGBT dan dicekoki Miras, naudzubillah min dzalik.
Ini semua adalah bentuk dari propaganda pluralisme agama dan program kristenisasi yang terorganisir. Karena pemakaian kondom bisa menekan kehamilan dan memutuskan keturunan. Allah Taala berfirman:
وَإِذَا تَوَلَّى سَعَى فِي الْأَرْضِ لِيُفْسِدَ فِيهَا وَيُهْلِكَ الْحَرْثَ وَالنَّسْلَ وَالله لَا يُحِبُّ الْفَسَادَ. [البقرة: 205]
Dan apabila ia berpaling (dari kamu), ia berjalan di bumi untuk mengadakan kerusakan padanya, dan merusak tanam-tanaman dan binatang ternak, dan Allah SWT tidak menyukai kebinasaan. (QS. Al-Baqoroh: 205)
Keputusan PBNU ikut melegalkan lokalisasi juga bertentangan dengan keputusan Bahtsul Masail pada Muktamar Nahdlatul Ulama ke- XXXI di Boyolali Solo Jawa Tengah 29 November-01 Desember 2004 yang memutuskan bahwa melegalkan lokalisasi prostitusi bukan taghyir munkarat, tapi justru membenarkan, menolong, dan melestarikan kemaksiatan tersebut dan hukumnya adalah haram. Upaya taghyir munkarat harus dilakukan dengan cara penutupan tempat-tempat maksiat dan memberikan hukuman kepada para pelakunya. Allah SWT berfirman:
وَلَا تَقْرَبُوا الزِّنَا إِنَّهُ كَانَ فَاحِشَةً وَسَآءَ سَبِيلًا. [الإسراء: 32[
Dan janganlah kamu mendekati zina; Sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji dan suatu jalan yang buruk. (QS. Al-Isro: 32)
وَتَعَاوَنُوا عَلَى الْبِرِّ وَالتَّقْوَى وَلَا تَعَاوَنُوا عَلَى الْإِثْمِ وَالْعُدْوَانِ وَاتَّقُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ شَدِيدُ الْعِقَابِ. [المائدة: 2[
Dan tolong-menolonglah kamu dalam (menger-jakan) kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran. (QS: al-Maidah: 2)
Inilah deretan dari berbagai konspirasi dan propaganda Kristen-Liberal lewat tokoh-tokoh Islam dalam memporak-porandakan keutuhan dan kekuatan umat Islam. Mereka kelompok minoritas, namun mereka telah lancang dan terang-terangan menyulut api permusuhan antar umat Islam. Oleh karena itu, jika dikembangkan, apalagi di negara yang mayoritas muslim, seperti Indonesia maka akan melahirkan permasalahan teologis, sosio-politik, dan bahkan HAM yang sangat di luar biasakan.

Ikhtitam
Berbagai bencana telah melanda negara ini, marilah bermuhasabah diri, dengan kembali ke fitrah, memposisikan diri dan berkiprah sesuai dengan karakter dan keahliannya masing-masing, seorang tokoh yang mempunyai kapasitas keilmuan hendaknya mengamalkan ilmunya sesuai syariat Islam dengan mengatakan bahwa benar adalah sebuah kebenaran dan bathil adalah sebuah kebathilan, hendaknya yang kaya mendermakan sebagian hartanya di jalan Allah SWT dan yang miskin hendaknya memperbanyak istighfar.
Pesantren mempunyai tugas melahirkan generasi paripurna untuk menjawab berbagai persoalan umat, menjadi garda depan dalam menolak dan membendung pengaruh pemikiran-pemikiran sesat Liberalisme, Pluralisme, Sekulerisme, Syiah, Wahhabi, MTA dan aliran-aliran sesat lainnya yang semakin tumbuh berkembang di Indonesia, demi menjaga kemurnian aqidah dan umat Islam dari kekufuran.
Semoga Allah SWT memberi rahmat, taufiq dan hidayah-Nya kepada kita semua. Amiin…

PERNYATAAN SYAIKH MUHAMMAD NAJIH TENTANG DONALD TRUMP, LGBT, DAN NATALAN BAGI MUSLIM

Pada hari Kamis tanggal 2 Rabi’ul Akhir 1439 H/21 Desember 2017 kemarin, Syaikh Muhammad Najih memberikan pernyataan tentang beberapa masalah yang ramai diperbicangkan oleh umat Islam menjelang penutupan tahun 2017 ini. Melalui video yang diupload di akun Facebook dan Youtube “Ribath Darusshohihain”, ada tiga isu pokok yang disinggung oleh Abah Najih yaitu keputusan kontroversial presiden Amerika Donald Trump yang ingin menjadikan kota Yerusalem di Palestina sebagai ibukota Israel, LGBT yang semakin dimuluskan ruang geraknya di Indonesia, dan pernyataan para pendukung perayaan natal bagi Muslim. Demikian kutipan pernyataan beliau di dalam video tersebut:
“Rencana Amerika menjadikan Yerusalem sebagai ibukota Israel dengan menempatkan kedutaannya di Yerusalem sudah ditolak oleh umat Islam bahkan sebagian orang Kristen seperti Perancis. “Ini adalah suatu kemenangan secara moral bagi umat Islam. Menjelang natal kita bisa unjuk rasa menolak putusan sepihak yang melanggar keputusan PBB disamping melanggar agama kita, yaitu bahwa Baitul Maqdis adalah tanah suci dan masjid ketiga yang harus kita muliakan setelah Masjidil Haram dan Masjid Nabawi.

Sekarang memang Yerusalem dijajah oleh Israel, namun Israel ibukotanya di Tel Aviv. Artinya tidak terlalu mengganggu kenyamanan orang Islam untuk shalat, berjamaah, berdzikir, dan menjalankan ritual agamanya di Yerusalem. Tapi dengan adanya rencana Donald trump na’udzu biLlah min dzalik, ini sangat meresahkan, tidak menyenangkan, dan ini menyulut peperangan dan permusuhan yang tidak ada habis-habisnya. Tentu yang kita khawatirkan adalah korban banyak dari umat Islam. Kita ini sudah teraniaya, masuk Masjidil Aqsha harus dapat izin dari polisi dan tentara Israel. Kadang kalau masih muda malah digebuki. Saya pernah kesana, jadi begitulah keadaannya. Kita sudah teraniaya dan Palestina sudah terjajah. Kalau Yerusalem jadi ibukota Israel akan tambah teraniaya lagi, khususnya anak-anak muda banyak yang akan dibunuh nanti, dianggap sebagai teroris, dan seterusnya.

Padahal orang Palestina tidak semuanya teroris. Mereka hanya menggunakan hak-hak mereka dan rumah ayah dan kakek mereka. Bahkan para pengungsi Palestina menurut keputusan PBB mestinya dikembalikan lagi, namun ternyata tidak dikembalikan lagi ke tempat aslinya. AlhamduliLlah negara kita dari dulu mendukung perjuangan Palestina, dan sekarang pun InsyaAllah masih begitu.

Sayangnya, sekarang ini kita sendiri terjajah oleh kekufuran-kekufuran atau ateis-ateis dan hukum-hukum yang bertentangan dengan agama samawi yang benar yaitu islam, serta ajaran Yahudi Kristen dimana Taurat dan Injil adalah kitab samawi meski sudah ada penyelewengan, akan tetapi mansubun ila sama’ (dinisbatkan kepada langit). Baik lesbian ataupun sodomi adalah  kabair (dosa besar). LGBT itu semuanya adalah dosa besar, dan kalau diresmikan atau disahkan itu menjadi kufur karena menghalalkan perkara yang diharamkan oleh Allah. LGBT adalah sesuatu yang menjijikkan. Kalau sampai dilegalkan akan menjadi momok besar dan sebab turun laknat Allah kepada negara kita ini. Na’udzu biLlah.

Zaman era SBY dulu MK mengatakan anak zina nasabnya sampai ke bapak biologis. Itu saja sudah dikatakan bencana besar atau bahkan terbesar. Lha sekarang mau ditambahi lagi oleh orang ‘Ateis-Komunis-Abangis’. Kejahatan-kejahatan seksual ingin dilegalkan, tidak ada hukuman ataupun ancaman, dan tidak ada pidana.

Jadi saya mohon kita harus ikut mengurusi Palestina. Artinya kita menolak dengan demo, diplomasi bagi yang ahli diplomasi, memboikot produk-produk Zionis-Amerika-Yahudi, mengirim bantuan kepada Palestina, dan seterusnya. Semua yang kita bisa kita lakukan. Tapi juga jangan lupa di negeri kita dimana di buku mata pelajaran IPS untuk sekolah sudah tercantum Yerusalem sebagai ibukota Israel. Itu siapa yang menulis? Kenapa tidak ditangkap? Kenapa tidak dibredel dan dicabut dari peredaran? Itu berarti negara kita ini memperjuangkan Palestina hanya nostalgia zaman Soekarno saja, zaman negara-negara Non-Blok.

Memang Palestina atau Yerusalem ada Kristen, tapi kan dulu negara Islam. Setelah tumbangnya khilafah mestinya tetap miliknya umat Islam. Meskipun ada Kristen namun mayoritas masyarakatnya umat Islam. Ada pula Masjidil Aqsha yang merupakan milik umat Islam. Walanpun umat Islam sekarang dijajah, dikeruk, dan digerogoti terus oleh Yahudi, namun AlhamduliLlah tidak hancur. Ini menurut saya mukjizat dari Allah Ta’ala.

Meski begitu, marilah negeri kita ini dijaga jangan sampai kecolongan ateis disebarluaskan disini. Menghalalkan LGBT jangan sampai menjadi undang-undang. Kalau bisa keputusan hukum dahulu bahwa ada anak zina sambung nasabnya kepada bapak biologisnya juga harus ditolak, walaupun itu produknya Mahfudh MD yang katanya orang NU. Ini bukan masalah fanatik NU, fanatik organisasi, atau fanatik negara. Ini sudah bukan masanya lagi. Sekarang ini ideologi kufur sudah dipaksakan menguasai Pancasila, bahkan ideologi komunis pun sudah menguasai Pancasila.

Ideologi kita adalah Islam. Adapun Pancasila adalah ideologi negara yang kita terima karena kemaslahatan politik belaka. Tapi ketika maslahat agama dihancurkan dan dirusak maka kita harus membela biar anak cucu kita tidak kehilangan arah, pendirian, dan akidah. Walaupun kita harus mati dalam membela agama, yang penting anak cucu kita tetep iman dan Islam. Kita adalah negara yang mayoritas umat Islam, luar biasa, dan paling besar. Jangan sampai hanya besar bilangannya tapi imannya kropos, kalah dengan duit dan teror-teror Cina.

Sekarang ratusan orang Cina masuk tiap malam tanpa pengawasan. Menurut saya mereka ingin menjajah Indonesia dengan seks, senjata, keburukan, dan makanan. Kita harus waspada. Produksi Indofood mungkin minyaknya dicampuri babi, Mui harus waspada. Jangan dihalalkan hanya ketika diperlihatkan saja, tapi juga harus dirazia dadakan. Produk-produk dari Amerika apalagi Cina harus diwaspadai. Makanlah makanan lokal dari umat Islam. Walaupun tidak keren, ini lebih selamat, lebih higienis, dan lebih aman dari bahaya-bahaya dari mereka.

Mereka benar-benar ingin merusak negeri kita, menjajah negeri kita dg macem-macem. Dengan politik dan pendidikan seperti Yerusalem dikatakan ibukota Israel dalam buku pelajaran sekolah. Ini kecurangan luar biasa dari pemerintah sekarang. Pemerintahan dulu saja bisa begitu, terlebih lagi pemerintahan sekarang. Sekarang sudah nyata orang Cina dimana-mana. Sekarang kadang-kadang jasa travel bisa langsung dari sini sampai Singapura, ini juga agar gampang bagi orang Cina untuk masuk Indonesia.

Saya bukan anti kebangsaan ataupun anti bangsa. Namun ini adalah anti kekufuran, pemurtadan, ateis, dan komunis.

Saya mendapat kiriman tulisan orang liberal yang bikin tasykik (peraguan) kepada orang awam dan ulama. Dia bertanya mana dalilnya keharaman mengucapkan selamat natal. Lalu dia mengatakan bahwa hal itu boleh-boleh saja karena hanya sebatas berbagi kebahagiaan. Dalilnya yang lain, yang melakukan itu adalah ulama seperti Din Syamsuddin, Said Aqil, dan Syafi’i Maarif. Adapun Muhammadiyah melarangnya menurutnya itu lucu.

Menurut saya ini bukan masalah Muhammadiyah dan Nahdlatul Ulama, namun ini masalah ulama. Din Syamsudin menurut saya bukan ulama, melainkan hanya tokoh Muhammadiyah. Syafi’i Maarif adalah tokoh liberal. Said Aqil mungkin juga ulama tapi tokoh liberal juga, bahkan penasihat pemuda Kristen seluruh Indonesia. Jadi wajar kalau mereka terbiasa mengucapkan selamat natal kepada ‘bos-bos’ mereka. Akan tetapi masalahnya ini adalah soal agama. Orang-orang yang mengatakan haram dengan ikut Muhammadiyah termasuk mengikuti jejak perjuangan Buya Hamka. Ia adalah ulama besar. Di akhir hayatnya dia melakukan qunut subuh dan kembali kepada madzhab Syafi’i, karena ayah beliau Kyai Abdul Karim Amrullah bermadzhab Syafi’i bahkan punya Thariqah Naqsyabandi.

Kemarin ada cerita Kyai Wachid Hasyim saat penjajahan Belanda atau Jepang menyarankan kepada pemerintah penjajah agar para tahanan diberi bimbingan dari ulama, termasuk dari Kyai Abdul Karim untuk memberi wejangan kepada penghuni penjara. Beliau menyampaikan dalil Firman Allah Ta’ala:

فَلَا يَغْرُرْكَ تَقَلُّبُهُمْ فِي الْبِلَادِ [غافر : 4]

“Janganlah pulang balik mereka dengan bebas dari suatu kota ke kota yang lain memperdayakan kamu.” (QS. Ghafir: 4)

Penjajah itu hanya sebentar, bisa diusir.

Yahudi dan Nasrani aslinya adalah agama Nabi Musa dan Nabi Isa ‘alaihi al-Salam. Apa agamanya? Yaitu Islam, karena Nabi Ibrahim zaman dulu mewasiatkan kepada anak-anaknya:

وَوَصَّى بِهَا إِبْرَاهِيمُ بَنِيهِ وَيَعْقُوبُ يَا بَنِيَّ إِنَّ اللَّهَ اصْطَفَى لَكُمُ الدِّينَ فَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ [البقرة : 132]

“Dan Ibrahim telah mewasiatkan ucapan itu kepada anak-anaknya, demikian pula Ya’qub. (Ibrahim berkata): “Hai anak-anakku! Sesungguhnya Allah telah memilih agama Ini bagimu, maka janganlah kamu mati kecuali dalam memeluk agama Islam.” (QS. Al-Baqarah: 132)

Semua nabi agamanya Islam. Hanya saja kata “Islam” dicuatkan secara lantang pada zaman Nabi Muhammad ShallaLlahu ‘alaihi wa Sallama. Tentunya Islam ya Tauhid itu. Namun akhirnya Yahudi-Nasrani menyimpang dengan condong kepada agama Majusi dan senang menggunakan jimat. Akhirnya ada istilah Shabi’in, senang dengan tawassul kepada planet, bintang, dan zodiak. Kristen asalnya berajaran Tauhid. Ashabul Kahfi masih mengikuti ajaran Tauhid. Kemudian mereka disebari trinitas oleh Shaul yang mengaku masuk Kristen dan berganti nama menjadi Paulus lalu menjadi mahaguru mereka.

Yahudi Kristen adalah kafir. Banyak ayat Al-Quran menjelaskan tentang kafirnya orang yang tidak bertauhid. Kalau di era Makkah Rasulullah ShallaLlahu ‘alaihi wa Sallama mengajarkan kekufuran penyembah berhala, lalu ketika berpindah ke Madinah mengajarkan kekufuran Yahudi dan Nasrani. Dengan ini kita umat Islam dijaga dengan Tauhid, dilarang toleran atau pro kepada kufur atau syirik.

Ulama bilang bahwa ridha dengan kekafiran maka kafir. Kalau kita mengucapkan selamat natal, ini dapat menumbuhkan simpati dan cinta perlahan-lahan kepada mereka. mungkin sebagian mengingkari bahwa yang diucapkan sekedar di lisan saja. Namun perlu diketahui bahwa umat Islam wajib menghindar dari hal-hal yang bisa menyebabkan kecenderungan dan rasa simpatik kepada orang kafir.

Ini jelas sekali menurut saya, maaf kalo saya lancang, salib itu kan kalau ahli dukun kelihatan ada bentuk dukunnya seperti agama Cina dan kuil-kuil. Kesannya ada banyak mahabbah disitu, makanya kita harus waspada. AlhamduliLlah Rasulullah ShallaLlahu ‘alaihi wa Sallama mengambil istri Khadijah yang faham sekali dengan kitab-kitab Injil dan Taurat karena punya paman bernama Waraqah bin Naufal. Itu adalah anugerah kepada Rasul dengan dijauhkan dari syirik sebelum menjadi nabi dan akhirnya tambah diketahui kenabiannya lewat Waraqah, karena dia bisa menulis Injil dan Taurat yang asli dengan bahasa Ibrani dan menerjemahkannya kedalam bahasa Arab secara lengkap tanpa ada perubahan. Ini adalah suatu keunikan dan taufiq dari Allah Ta’ala.

Saya tidak mengatakan Kristen semuanya dukun. Memang ada yang ahli kitab beneran. Bahkan Paus Paulus ke-16 mengatakan bahwa Yesus Kristus bukan lahir di tanggal 25 Desember, tapi pada bulan Oktober atau November. Saya dapat referensi bahwa yang bikin natal adalah raja Konstantine agar bisa ramai berbarengan dengan acara tradisi negara Romawi.

Saudara-saudara sekalian, marilah kita jaga dan jangan tertipu dengan omelan-omelan liberal yang sekarang lagi bingung, susah, dan sedih karena umat Islam semuanya bergerak melawan Amerika dan Donald Trump. Kalau dulu Yerusalem dikuasai Israel secara pemerintahan atau senjata, dan sekarang Amerika ingin membuat kedutaan di Yerusalem berarti Amerika juga mau menjajah. Penjajahnya bertambah banyak. Bukan hanya oleh Yahudi, tapi juga oleh Kristen. Amerika itu tidak tunduk pada Vatikan karena Kristen Ortodok dan masih banyak sumber-sumber asli yang tidak berubah. Amerika itu Kristen Protestan, sama dengan liberal seenaknya sendiri. 

Tadi saya meminta kepada anak-anak saya untuk melihat ibarat kitab, AlhamduliLlah di dalam kitab Mawahib al-Jalil (Madzhab Maliki) ada keterangan dinukil dari al-Bulqini yang bermadzhab Syafi’i bahwa mengucapkan “’Idun Mubarak” (selamat hari raya) kepada kafir dzimmi seperti halnya mengucapkan selamat nata, jika niatnya mengagungkan agamanya maka kafir secara pasti, jika sengaja menghormati agamanya yang kufur meskipun agama tersebut mengaku termasuk agama langit maka juga kafir. Al-Quran sudah menjelaskan bahwa agama Kristen mengatakan Isa adalah anak tuhan atau salah satu bagian dari trinitas (tiga tuhan).

Jadi waspadalah. Kalau kita mengatakan natal kepada Kristen maka artinya kita sudah kepelet akhirya simpatik dan seolah-olah menginginkan balasan dari mereka. Itulah setan, menjerumuskan manusia dengan cara seperti itu. Ketika kita menghadapi orang kafir seakan-akan kita lemas seolah butuh uang mereka, padahal mereka terkenal pelit, benci sama kita, dan tidak memberi kita kecuali sudah dihipnotis agar kita menjadi murtad dan seterusnya. Na’udzu biLlah.

Mari kita qanaah dengan diri sendiri dan rizki yang diberikan oleh Allah Ta’ala kepada kita. Kita tidak usah bergantung kepada kufur, jam’iyyah, LSM, dan non-Muslim. Mari kita bangga dengan pemberian Allah dan hujan yang diberikan Allah. Mari kita selamatkan diri kita dengan membaca Al-Quran, Shahih Bukhari, Mukhtashar Ibn Abu Jamrah, Mukhtashar al-Zabidi, al-Tajrid al-Sharih, dan kitab-kitab lainnya agar terjaga dari kufur, liberal, dan LGBT. Rencana-rencana mereka untuk melegalkan hal-hal kufur dan amoral semoga digagalkan oleh Allah Ta’ala. Mari kita banyak-banyak tadarru’ dan menghormati Isa sebagai Nabi. Menurut saya dan umat Islam pasti menerima omongan saya ini, Nabi Isa sekarang sedang digodok oleh Allah Ta’ala. Bahasa jawanya digodok di Kawah Condrodimuko, tapi bukan di neraka melainkan di langit kedua agar menjadi ‘setengah malaikat’. Tujuannya untuk membunuh Dajjal. Nabi Isa akan turun ke bumi menjadi umat Muhammad walaupun tetap tidak hilang kenabiannya untuk Bani Israil. Dia akan datang menjadi teman, saudara, guru, qadli, bahkan jimat kita untuk membunuh Dajjal, serta menemani dan membimbing Imam Mahdi.

Nabi Isa bisa kita jadikan tawasul dan bisa kita kirim Surah al-Fatihah sekarang. Kita juga bertawasul kepada nabi Khidlir, nabi Ilyas, dan para terlebih kepada Rasulullah ShallaLlahu ‘alaihi wa Sallama. Kalau kita meminta bimbingan dan penjagaan kepada mereka, meminta kepada Allah lewat mereka, meminta mereka berdoa untuk kita, pasti Allah akan membimbing kita. Tidak ada jalan lain selain tadlarru’ ilaLlah dan tawasul dengan para nabi. Kita menghormati nabi Isa yang telah dilecehkan karena dijadikan anak tuhan atau bahkan tuhan. Ini adalah pelecehan yang sangat luar biasa dan dikutuk oleh nabi Isa sndiri dalam surat QS. al-Maidah: 116-117:

وَإِذْ قَالَ اللَّهُ يَا عِيسَى ابْنَ مَرْيَمَ أَأَنْتَ قُلْتَ لِلنَّاسِ اتَّخِذُونِي وَأُمِّيَ إِلَهَيْنِ مِنْ دُونِ اللَّهِ قَالَ سُبْحَانَكَ مَا يَكُونُ لِي أَنْ أَقُولَ مَا لَيْسَ لِي بِحَقٍّ إِنْ كُنْتُ قُلْتُهُ فَقَدْ عَلِمْتَهُ تَعْلَمُ مَا فِي نَفْسِي وَلَا أَعْلَمُ مَا فِي نَفْسِكَ إِنَّكَ أَنْتَ عَلَّامُ الْغُيُوبِ (116) مَا قُلْتُ لَهُمْ إِلَّا مَا أَمَرْتَنِي بِهِ أَنِ اعْبُدُوا اللَّهَ رَبِّي وَرَبَّكُمْ وَكُنْتُ عَلَيْهِمْ شَهِيدًا مَا دُمْتُ فِيهِمْ فَلَمَّا تَوَفَّيْتَنِي كُنْتَ أَنْتَ الرَّقِيبَ عَلَيْهِمْ وَأَنْتَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ شَهِيدٌ (117) [المائدة : 116 ، 117]

“Dan (Ingatlah) ketika Allah berfirman: “Hai Isa putera Maryam, Adakah kamu mengatakan kepada manusia: “Jadikanlah Aku dan ibuku dua orang Tuhan selain Allah?” Isa menjawab: “Maha Suci Engkau, tidaklah patut bagiku mengatakan apa yang bukan hakku (mengatakannya). Jika Aku pernah mengatakan Maka tentulah Engkau mengetahui apa yang ada pada diriku dan Aku tidak mengetahui apa yang ada pada diri Engkau. Sesungguhnya Engkau Maha mengetahui perkara yang ghaib-ghaib.” (116) Aku tidak pernah mengatakan kepada mereka kecuali apa yang Engkau perintahkan kepadaku (mengatakan)nya yaitu: “Sembahlah Allah, Tuhanku dan Tuhanmu”, dan adalah Aku menjadi saksi terhadap mereka, selama Aku berada di antara mereka. Maka setelah Engkau wafatkan aku, Engkau-lah yang Mengawasi mereka. dan Engkau adalah Maha menyaksikan atas segala sesuatu. (117)” (QS. Al-Maidah: 116-117)

Cukup sekian dari saya, semoga bermanfaat. Mari kita takut kepada Allah Ta’ala, kita takut kepada kemurkaan Allah dengan adanya LGBT dan pemasaran umat Islam untuk natalan. Kalau umat Islam natalan ramai-ramai dengan kafir, akhirnya seolah kita jadi abdi mereka. Padahal mereka sudah sangat untung ketika Idul Fitri dengan harga barang melonjak. Mereka sudah untung dengan ini. Sedangkan kalau kita natalan maka kita rugi akhirat, rugi agama, bahkan duniawi saja kita tidak bisa menikmati. Tapi kalau pada Idul Fitri harga barang melonjak maka yang untung materi banyak adalah non-Muslim. Inilah kerugian dan kesalahan kita.

Marilah kita prihatin, semoga apa yg diberikan Allah apalagi ilmu semoga diberkahi tanpa harus rame-ramenan dan ngetren-ngetrenan dengan orang kafir. Dalam hadits disebutkan:

سَتَتَّبِعُونَ سَنَنَ مَنْ قَبْلَكُمْ بَاعًا بِبَاعٍ ، وَذِرَاعًا بِذِرَاعٍ ، وَشِبْرًا بِشِبْرٍ حَتَّى لَوْ دَخَلُوا جُحْرَ ضَبٍّ لَدَخَلْتُمْ مَعَهُمْ قُلْنَا : يَا رَسُولَ اللهِ ، الْيَهُودَ ، وَالنَّصَارَى ؟ قَالَ : فَمَنْ.

Dalam riwayat lain disebutkan:

كَالْفَارِسِ وَالرُّوْمِ.

Kamu akan mengikuti orang-orang yang beragama Yahudi dan Nasrani dalam masalah agama, serta akan mengikuti gaya-gaya kepemimpinan Persia dan Romawi, artinya Barat dan Timur. Kita umat Islam harus mandiri dan harus ikut kepemimpinan Rasulullah ShallaLlahu ‘alaihi wa Sallama dan Khulafaur Rasyidin. Walau sekarang kita belum punya pemimpin seperti itu, kita mengharapkan dan berdoa kepada Allah. Masalah agama kita tetap punya agama yang lebih agung yang dibawa oleh Nabi Muhammad ini. Semua nabi akan berada di bawah bendera nabi Muhammad. 

Nabi Muhammad ShallaLlahu ‘alaihi wa Sallama mempunyai syafaat di Hari Kiamat, dan semua nabi akan ikut nabi kita. Tidak akan masuk surga kecuali setelah Nabi Muhammad masuk surga. Inilah hubungan erat antara Rasululah dan Nabi Isa, sangat erat sekali. Hati Nabi Isa sangat kumanthil dengan kabar Injil akan seorang mubasyir yang bernama Ahmad. Di injil yang asli di Vatikan berita ini masih ada, kalau Injil yang di gereja-gereja tidak ada. 

Cukup sekian. Semoga kita jauh dari syirik, bid’ah, provokasi, dan jauh dari antek Zionis dan Salibis.” (*)

“Pengantar Menelaah kitab Mafahim” Karya Syaikhina M. Najih Maimoen Versi Arab-Indo 

Islam merupakan agama yang senantiasa mampu mengarahkan perkembangan zaman serta mampu menjawab berbagai macam problematikanya, dari waktu ke waktu akan selalu lahir ulama yang saling berkesinambungan dari berbagai penjuru sehingga setiap kali muncul pihak-pihak yang mengupayakan penyesatan terhadap pemahaman agama yang hanif ini (baik pihak tersebut dari internal Islam yang sudah mengalami brainwash ataupun dari musuh islam) Allah SWT akan mendatangkan golongan orang-orang yang siap berjuang di jalan Allah SWT tanpa peduli banyaknya kecaman atau cercaaan, mereka mengemban tugas mulia untuk melindungi dan mengembalikan pemahaman sebagai mana mestinya. Guru kami Sayyid Muhammad Alawi Al-Maliki merupakan salah satu dari golongan yang membentengi alur pemikiran islam melalui karangan-karangannya, salah satunya ialah kitab ”Mafahim Yajibu Antushohah.” Kitab ini merupakan karya besar beliau yang  dinilai sangat fenomenal karena mengkaji permasalahan-permasalahan substansial yang seringkali tidak diketahui oleh umat islam sehingga menjadi celah bagi musuh islam untuk melakukan penyesatan. Dalam kitab ini beliau menyanggah pihak-pihak yang berseberangan dengan beliau  melalui argumen yang ilmiyah, tegas serta sistematis.

Dan Alhamdulillah, atas anugerah Allah beberapa waktu lalu kami telah menyelesaikan karya kami yang kami beri nama:

“جل المواقف وكلمات الإمام السيد محمد علوي المالكي المسطورة في غير كتابه المفاهيم حول القضايا المهمة معرفتها”

Kitab ini sengaja kami dedikasikan untuk guru tercinta kami Sayyid Muhammad Alawi Al-Maliki rahimahullahu ta’ala. Sebenarnya kami tidak berani lancang untuk membedah keterangan-keterangan serta pandangan-pandangan beliau yang tertuang pada kitab Mafahim yang sudah sangat terkenal dan tersohor. Namun karena banyaknya permintaan dari para santri Madrasah Mafahim serta adanya mandat dari kantor Hai’ah Assofwah Al-Malikiyah kami sedikit menulis seputar isi dari kitab Mafahim yang luar biasa ini. Isi dari kitab Mafahim merupakan intisari dari pemikiran guru kami Sayyid Muhammad Alawi Al-Maliki yakni konklusi dari hasil diskusi beliau dengan para ulama besar Arab Saudi tepatnya di kota Thaif pada akhir dekade 70 sampai awal dekade 80 M. Namun Alasan inilah yang memotivasi kami untuk kemudian menulis risalah ini dan kami menamainya dengan nama:

“المدخل الى دراسة مفاهيم يجب أن تصحح”

sebagai jawaban atas permintaan dari Forum Alumnus Abuya Sayyid Alawi Al-Maliki. Hal ini kami angggap sebagai perintah langsung dari beliau. Semoga Allah SWT menjadikan risalah ini sebagai risalah yang bermanfaat dan bisa menjadi rujukan generasi Ahlussunah Wal Jamaah pada khususnya, serta bermanfaat bagi ummat islam secara menyeluruh dengan barokah kedudukan Rasulullah Alaihi Shalatu Wassalam yang agung dan keluarga beserta shahabat-shahabatnya di sisi Allah SWT, Alhamdulillahirobbil Alamin.
** KH. M. Najih Maimoen.