Kajian Ilmiah, Karya Syaikh Najih Versi Indonesia

TELA’AH KRITIS KH. MUHAMMAD NAJIH MAIMOEN TERHADAP FENOMENA PERAYAAN TAHUN BARU MASEHI

بِسْمِ اللهِ الرَّحمنِ الرَّحِيْمِ

الحمْدُ لله ربِّ العَالَمِيْن والصَّلاةُ والسَّلامُ على رَسُولِه الكَرِيم ونَبِيّهِ مُحَمَّد اْلأَمِيْن وعلى آلِهِ الطَّاهِرِيْن وأَصْحابِهِ الْمَهْدِيِّيْن ، أما بعد.

Tahun baru selalu identik dengan tiupan terompet, pesta kembang api, hingar-bingar pertunjukan musik, pesta pora di hotel-hotel dan tempat wisata, hingga ucapan “Selamat Tahun Baru” atau “Happy New Year” bertebaran dimana-mana. Malam tahun baru menjadi kesempatan terjadinya berbagai kemaksiatan. Lebih jauh lagi, masih banyak sekali masyarakat khususnya umat Islam yang ikut merayakan tahun baru masehi tersebut tanpa tahu bagaimana hukumnya menurut agama Islam dan bagaimana sejarah munculnya perayaan tersebut.

Menurut Syari’ah Islam, hukum perayaan tahun baru masehi melihat sejarah dan bagaimana perayaan tersebut dilakukan adalah haram setidaknya karena empat alasan:
– Alasan pertama, Tasyabbuh bil kuffar wal fussaq (menyerupai orang-orang kafir dan fasiq). Hal ini dilihat dari sejarah perayaan tahun baru tersebut yang berasal dari tradisi umat Kristiani. Perayaan tahun baru tanggal 1 Januari ini ditetapkan pertama kali oleh kaisar Romawi Kristen yaitu Julius sebagai persembahan kepada Janus, yaitu dewa segala gerbang, pintu, dan permulaan (waktu). Maka perayaan tahun baru ini adalah perayaan umat Nasrani, dan umat Islam diharamkan mengikuti perayaan agama lain. Rasulullah ShallaLlahu ‘alaihi wa Sallama bersabda:
مَنْ تَشَبَّهَ بِهِمْ فِيْ نَيْرُوْزِهِمْ وَمِهْرَجَانِهِمْ حُشِرَ مَعَهُمْ
“Barangsiapa menyerupai sebuah kaum dalam tahun baru dan pesta mereka, maka dia akan digiring bersama mereka.” (Syaikh Abu Abbas Wansyarisi al-Maliki, al-Mi’yar al-Mu’arrab, juz 11 hlm. 152-150)

Imam Ghazali dalam Ihya’ ‘Ulum al-Din (juz. 2 hlm. 168) menegaskan bahwa umat Islam wajib menampakkan ketidaksetujuan terhadap orang kafir dan ajarannya, termasuk tidak ikut-ikutan berkecimpung dalam perayaannya. Imam Nawawi menyebutkan dalam Raudlah al-Thalibin (juz 10 hlm. 230) bahwa jika bukan karena udzur maka Muslim tidak boleh memberikan penghormatan sama sekali kepada orang kafir, begitu pula ajaran dan budayanya. Keduanya sepakat bahwa merasa enteng dan nyaman dengan orang kafir dan ajaran mereka hukumnya sangat makruh bahkan bisa haram. Allah Ta’ala berfirman:
لَا تَجِدُ قَوْمًا يُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ يُوَادُّونَ مَنْ حَادَّ اللَّهَ وَرَسُولَهُ وَلَوْ كَانُوا آبَاءَهُمْ أَوْ أَبْنَاءَهُمْ أَوْ إِخْوَانَهُمْ أَوْ عَشِيرَتَهُمْ [المجادلة : 22]
“Engkau (Muhammad) tidak menemui kaum yang beriman kepada Allah dan Hari Akhir saling senang dengan orang yang menentang Allah dan Rasul-Nya, meskipun mereka adalah ayahnya, anaknya, saudara, atau keluarganya.” (QS. Al-Mujadalah: 22)

Maka haram bagi umat Islam ikut menyemarakkan tahun baru, menjual pernak-pernik tahun baru, memberikan ucapan selamat tahun baru, dan sebagainya. Ibn Hajar dalam al-Fatawa al-Fiqhiyyah (juz 4 hlm. 229) menegaskan bahwa hal ini termasuk bid’ah yang paling buruk bagi umat Islam.

– Alasan kedua, perayaan tahun baru adalah ajang untuk melakukan kemaksiatan seperti konser-konser musik, pacaran muda-mudi, minum-minuman keras, perzinaan, perjudian, serta munculnya berbagai tindak kejahatan seperti tawuran, pencurian, dan sebagainya. Maka ikut menghadiri, mengumpulkan uang, dan memfasilitasi perayaan tahun baru adalah haram karena sama saja membantu terlaksananya kegiatan maksiat (i’anah ‘ala al-ma’shiyah).

– Alasan ketiga, dalam perayaan tahun baru seringkali ada kegiatan yang menghamburkan-hamburkan harta (idla’atul mal) seperti pesta kembang api, pawai di tengah jalan yang menghalangi hak pengguna jalan, dan sebagainya. Padahal Allah telah berfirman:
إِنَّ الْمُبَذِّرِينَ كَانُوا إِخْوَانَ الشَّيَاطِينِ وَكَانَ الشَّيْطَانُ لِرَبِّهِ كَفُورًا [الإسراء : 27]
“Orang-orang yang menyiakan hartanya adalah saudaranya setan, dan setan adalah ahli kufur kepada Tuhannya.” (QS. Al-Isra: 27)
Rasulullah ShallaLlahu ‘alaihi wa Sallama bersabda:
مِنْ حُسْنِ إسلامِ المَرءِ تركُهُ ما لا يعنيه
“Termasuk tanda baiknya keislaman seseorang adalah meninggalkan sesuatu yang tidak bermanfaat baginya.”

-Alasan keempat, bulan Desember dan beberapa bulan masehi lain yang sampai tanggal 31 adalah salah secara agama, karena dalam keterangan hadits bulan itu antara 29 dan 30 hari saja, tidak bisa lebih. Allah SWT berfirman;
يَسْأَلُونَكَ عَنِ الْأَهِلَّةِ قُلْ هِيَ مَوَاقِيتُ لِلنَّاسِ وَالْحَجِّ
Mereka bertanya kepadamu tentang bulan sabit. Katakanlah: “Bulan sabit itu adalah tanda-tanda waktu bagi manusia dan (bagi ibadat) haji. (QS. Al-Baqarah; 189)
Rasulullah SAW menjelaskan:
عن ابن عمر عن النبي صلى الله عليه وسلم :الشهر هكذا وهكذا وقبض إبهامه في الثالثة لم يزد
Dari Ibn Umar dari Rasulullah ShallaLlahu ‘alaihi wa Sallama, “Sebulan itu segini (29 hari) dan segini (30 hari, beliau berisyarah dengan tangannya), tidak lebih.” (HR. Bukhari-Muslim)

Maka merayakan tahun baru masehi itu haram karena sama saja mengakui adanya perhitungan hari dalam bulan Desember hingga 31, dan ini bertolak belakang dengan hadits-hadits Rasulullah ShallaLlahu ‘alaihi wa Sallama diatas.

Dari beberapa pertimbangan diatas, maka sudah seharusnya umat Islam tidak ikut-ikutan merayakan malam tahun baru masehi ini, tidak mempercayainya sebagai hari yang spesial bagi umat Islam, dan menganggapnya sama seperti hari-hari biasa. Saat perayaan tahun baru tiba, umat Islam hendaknya tetap berada di rumah dan mengisi waktu luang dengan kegiatan yang positif seperti tidur, belajar, membaca, beribadah, berdoa kepada Allah, dan sebagainya. Atau boleh saja berkumpul dan makan-makan bersama keluarga dan teman-teman dengan niat mu’asyarah (bergaul) dengan baik dan silaturahmi tanpa ada niat merayakan tahun baru, serta menghindarkan diri dari maksiat dan berlebihan (israf).

Khusus untuk masalah mengucapkan selamat tahun baru, maka hukumnya diperinci. Apabila ucapan tersebut karena ada keinginan mencocoki kaum Nasrani, membanggakannya, mempercayai unsur keagamaannya, atau bahkan meyakini adanya tanggal 31, maka hukumnya haram bahkan bisa kufur. Namun apabila orang mengucapkan selamat ulang tahun hanya dengan niat bergaul yang baik secara sosial karena sudah kadung menjadi kebiasaan negara secara nasional tanpa mengaitkan dan mempercayai unsur keagamaannya, maka mungkin saja boleh NAMUN DARURAT. Hal ini memandang Indonesia dahulunya dijajah oleh kerajaan Kristen Belanda dan belum bisa lepas dari pengaruhnya. Meski sekarang sudah merdeka dan bernuansa Islamnya, namun sisa-sisa pengaruh Belanda di Indonesia masih lebih banyak hingga sekarang seperti dalam undang-undang, sistem politik, penentuan hari perayaan dan libur nasional. Di Indonesia hari Minggu dan hari-hari mendekati natal dan tahun baru sekolah-sekolah diliburkan, akan tetapi saat bulan Ramadlan tetap masuk. Akhirnya jadi kesempatan untuk tidak berpuasa karena alasan tidak libur, capek, sibuk, dan sebagainya.

Meski demikian, umat Islam harus tetap beritikad dan berkeyakinan bahwa jika suatu saat umat ini menang dan punya kekuasaan maka akan mengganti dan mengembalikan perayaan tahun baru menjadi 1 Muharram sesuai keputusan dan ijtihad Sayyidina Umar RadliyaLlahu ‘anhu.

Adapun pemerintah berkewajiban mengawal dan memperketat perayaan tahun baru sehingga disana tidak menjadi ajang kemaksiatan dan kejahatan merajalela. Karena itu surat himbauan dari beberapa pemimpin daerah agar tidak melaksanakan kegiatan perayaan tahun baru secara berlebihan dan tidak menyelenggarakan acara maksiat bahkan ada yang tidak memperbolehkan acara tersebut diselenggarakan di daerahnya patut diapresiasi.

Umat Islam harus belajar munculnya berbagai bencana alam di seantero negeri ini seperti gempa dan tsunami di Aceh, NTB, Palu, Lampung, Selat Sunda, pantai Anyer, angin topan di Bekasi, dan sebagainya. Ini adalah peringatan keras dari Allah agar kita sadar dan mau bertaubat serta beristighfar dari kemaksiatan yang merajalela di sekitar kita.

Akhiran, kami memohon kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala agar umat Islam dan bangsa ini selalu diberi petunjuk oleh Allah agar selalu menjalankan Syari’ah-Nya, dijauhkan dari maksiat, malapetaka, serta dipersatukan hatinya untuk selalu kumanthil kepada Allah dan agama Islam ‘ala Ahlissunnah wal Jama’ah. Amin Ya Rabbal ‘Alamin. WaLlahu A’lam. (*)

Madinah, 31 Desember 2018

KH. M. NAJIH MAIMOEN

Kajian Ilmiah, Karya Syaikh Najih Versi Indonesia

MENJADI NARASUMBER HALAQOH ILMIAH DALAM RANGKA HARLAH KE-52 PP. AL-ANWAR, ABAH NAJIH: KITA SEMUA SEMESTINYA RINDU DENGAN SALAF

Demikian kutipan dhawuh Syaikh Muhammad Najih pada acara Halaqoh Ilmiah bertajuk “Mengupas Pendidikan Keagamaan di Zaman Sekarang untuk Pesantren dan Masyarakat”. Acara yang dilaksanakan hari Rabu 6 Rabi’ul Awwal 1440 H/14 November 2018 M kemarin menghadirkan dua narasumber, yaitu KH. Muhammad Najih dan Ags. Baha’uddin Nur Salim.

Acara ini merupakan rangkaian terakhir dari perayaan Maulid Nabi Muhammad ShallaLlahu ‘alaihi wa Sallama sekaligus Harlah Pondok Pesantren Al-Anwar ke-52. Dalam halaqoh ilmiyah tersebut Abah Najih banyak mengupas tentang tantangan eksistensi pesantren salaf dan motivasi serta dorongan bagi para alumni PP. Al-Anwar dan hadirin yang datang agar selalu rindu dan kumanthil (bergantung) hatinya dengan pendidikan dan pesantren salaf. Berikut kutipan dhawuh Syaikh Muhammad Najih di acara tersebut:

“Bahkan saya ngaji Tafsir Baidlawi juz awal dan sebagian juz tsani saya fotokopi dari naskahnya Gus Qayyum sasahannya Mbah Mahfuzh Termas. Luar biasa. Mbah Mahfuzh ini seolah-lah a’lam-nya ahli Jawa. Paling alim. Dan beliau memiliki saudara yaitu Mbah Dimyati. Mbah Mahfuzh di Makkah mengarang, sedangkan Mbah Dimyati yang mengasuh pondok dan mengajar dan kitabnya sudah disediakan oleh Mbah Mahfuzh. Adalagi Mbah Abdul Razaq dan Mbah Abdul Hannan yang fokus di thariqah, punya murid atau teman kiai yaitu Kiai Ahmad Dahlan atau yang asal namanya adalah Darwisy.

Jadi Mbah Mahfuzh bin Mbah Abdullah bin Abdul Manan. Mbah Abdul Manan ngaji kepada Murtadha Zabidi pengarang Syarh Ihya’. Kiai Abdul Manan atau kiai-kiai kidulan biasanya lebih kuat sifat ‘kiai’-nya. Makanya bisa mengarang banyak. Kalau kiai pesisir biasanya kurang sifat kiainya, makanya kurang nulis-nulis. Mungkin Pak Baha’ juga tidak ada kiainya. Tentang Mbah Abdullah ini saya menyampaikan dhawuhe Mbah Moen dahulu.”

Selanjutnya, Syaikh Muhammad Najih membacakan makalah yang sudah beliau tulis dan bagikan untuk para hadirin. Berikut beberapa kutipan makalah tersebut sekaligus penjelasan Abah Najih tentangnya.

Kajian Kitab Kontemporer

Kutipan makalah: Kemudian agar santri mengenal perkembangan Global-Kekinian, maka pesantren telah menampilkan kajian-kajian kitab kontemporer karya ulama-ulama ahlussunnah madzahib arba’ah seperti kitab al-Fiqhu al-Manhaji karya Dr. Mushthofa al-Khin, Mushthofa al-Bugho, Ali al-Syarbaji, as-Salafiah Marhalatun Zamaniyatun Mubarokatun la Madzhabun Islamiyun, Fiqhussiroh, Kubrol Yaqiniyat, Dlowabitul Mashlahah karya Sa’id Romadlon al-Boethi, Rowa’iul Bayan Tafsir Ayatil Ahkam Minal Qur’an karya Syaikh Muhammad Ali al-Shobuni, al-Fiqh al-Islami karya Wahbah Zuhaili, Mafahim Yajibu an Tushohhah, Manhajussalaf fi fahmi an-nushush Baina al-Nadhoriyah wa al-Tathbiq, Muhammad al-Insan al-Kamil, Syaroful Ummah al-Muhammadiyyah, Syari’atullah al-Kholidah, dll. karya Abuya as-Sayyid Muhammad al-Maliki.

Penjelasan Abah Najih: “Jadi maksud saya ini contoh-contoh kitab yang dikarang oleh mutaakhirin (ulama generasi akhir) tapi InsyaAllah masih Thariqah Madzahibul Arba’ah Ahlusssunnah Wal Jamaah.”

Sebagian Ilmu Umum sudah Diajarkan di Pesantren

Kutipan makalah: Sebenarnya sebagian ilmu umum sudah diajarkan di pesantren, seperti ilmu Falak, ilmu Balaghoh, ilmu Nahwu, ilmu Shorof, ilmu Hisab (ilmu yang perannya vital dalam ilmu Faro’id) yang kesemuanya itu dijadikan sebagai alat untuk memahami al-Qur’an, al-Hadits dan kitab-kitab salaf. Begitu juga dalam al-Qur’an, Hadits dan kitab-kitab salaf sudah ada sebagian dari pembahasan-pembahasan ilmu umum, sains, teknologi dan ekonomi, seperti dalam ayat:

وَأَنْزَلْنَا الْحَدِيدَ فِيهِ بَأْسٌ شَدِيدٌ وَمَنَافِعُ لِلنَّاسِ وَلِيَعْلَمَ اللهُ مَنْ يَنْصُرُهُ وَرُسُلَهُ بِالْغَيْبِ ۚ إِنَّ اللهَ قَوِيٌّ عَزِيزٌ (الحديد: 25)

Penjelasan Abah Najih: “Ayat ini maksudnya adalah ilmu persenjataan zaman sekarang, itu semua dari hadid (besi). Tapi kemudian tambah modern hadid dikalahkan dengan air. Air masih kalah dengan shadaqah, uang.”

Modern itu Hakikatnya Teroris

Kutipan makalah: Termasuk dampak negatif dari kurikulum pemerintah terhadap budaya pesantren adalah semakin memudarnya keikhlasan bertholabul ilmi dan khidmah kepada ahlul ilmi, terkikisnya sikap tawadlu’, andap ashor, nurut kepada kyai, sopan santun, berubah menjadi sikap mudah mengkritisi, mengkritik kebijakan dan dawuhnya kyai dan asatidz, mereka menganggap kyai hanya sebatas pemilik pondok atau yayasan, ikhtilath antara lelaki dan perempuan, budaya camping, pramuka, pacaran dan lain sebagainya. Sehingga tanpa disadari, kalau pesantren menerima kurikulum tersebut maka mereka telah terjebak dalam budaya rancangan Yahudi dan Salibis. Perlu diketahui, bahwa hampir keseluruhan ilmu umum itu sekuler (terpisah dari akidah tauhid) karena tidak pernah menyebut Allah sebagai al-Kholiq/Sang Pencipta (persis paham Dahriyyah). Diantaranya mengatakan bahwa langit tidak ada yang ada hanyalah atmosfer saja, kiamat hanyalah proses alam, planet bumi dan planet-planet lainnya sudah ada sejak berjuta-juta ribu tahun alias alam ini dzatnya qodim seperti paham falasifah yang kufur, baik teori evolusi atau revolusi. Begitu juga teori Darwin yang kufur itu, yaitu pendapat yang mengatakan bahwa adanya kekuatan berdiri sendiri di alam ini dan mengatakan kehidupan tidaklah diciptakan tetapi muncul karena kebetulan, manusia berasal dari kera dan masih banyak lagi.

Menyikapi ilmu-ilmu umum diatas, kita harus selalu mengingat dan memegangi dua bait karya Syaikh Ahmad ad-dardir dalam Manzhumah al-Kharidatul Bahiyyah:

وَمَنْ يَقُلْ بِالطبْعِ أَوْ بِالعلَّة ** فَذَاك كفرٌ عِندَ أهلِ الْمِلَّة
وَمَنْ يَقُلْ بِالْقُوَّةِ الْمُوْدَعَةِ ** فَذَاكَ بِدْعِيٌّ فَلَا تَلْتَفِتِ

Menurut kami, Thabi’at, Illat dan Quwwah Dzatiyah itu satu paket, artinya jika seseorang menyakini kejadian di alam raya ini murni karena ketiga faktor tersebut (tanpa ada campur tangan izin Allah SWT), maka hukumnya kafir, namun jika ada campur tangan izin Allah SWT, atau meyakini Quwwah Muda’ah, maka hukumnya sebagai pelaku bid’ah. Kenapa ilmu seperti itu kita bela-bela melebihi ilmu agama padahal ilmu agama adalah penyelamat iman dan Islam (jalan kebahagiaan dunia akhirat), dan ilmu di atas adalah penyebar kekufuran (jalan kehancuran dunia akhirat). Pesantren yang sudah mapan dengan sistem salafnya, biarlah tetap eksis dan wajib kita jaga dan dukung keberadaannya.

Penjelasan Abah Najih: “Kalau quwwah mudda’ah itu kekuatan yang diberi oleh Allah. Tidak kufur orang yang mengatakan bahwa benda ini punya kekuatan dari Allah. Tapi kalau tanpa menyebut Allah, mengatakan itu dari kekuatan alam, tidak ingat bahwa kekuatan itu dari Allah, maka kufur. Na’udzubiLlah min dzalik.

Walhasil, sebagian besar tulisan ini sudah saya tulis waktu acara 100 Tahun Kiai Wachid Hasyim di Universitas Muhammadiyah. Saya diundang waktu itu. Tentu panitianya kecewa. Pengennya saya membolehkan ilmu umum. Saya tampilkan disitu bhwa Kiai Hasyim Asyari itu disamping akidahnya kuat dan pejuang aswaja, tapi juga pembela pendidikan agama. Namun anak-anaknya kemudian merubah, sampai Mbah Khairiyah mengeluh sekali agar disini jangan begitu. Tapi mereka InsyaAllah tidak mangkel karena saya mengkaji sejarah, kan? Bukan dari nafsu. Apa yang saya sampaikan apa adanya.

Saya tidak ingin mengkafirkan orang, jangan salah faham. Pemikiran bi thab’i, bi al-‘illah, atau bi al-quwwa al-dzatiyah ini menurut ulama-ulama kita adalah kufur. Omongan seperti itu kufur. Orangnya ya jangan dianggap kufur apabila orang Islam. Mungkin dia sedang lupa, ingin dapat ijazah. Kalau ngomong liLlahi Ta’ala semua nanti nilainya jelek. Mungkin, husnuzzhan saja.

Jadi orang modern itu saya ulang-ulang itu teroris sebetulnya. Kamu tidak punya ijazah kamu tidak bisa makan. Banyak begitu. Tidak bisa begini tidak bisa mengajar. Ada alumni Sarang bisa mengajar, akan tetapi untuk menghargai yang sudah berpendidikan S2 akhirnya mengajak guru lain untuk kejar paket. Ada yang begitu, tapi tidak disyaratkan. “Gak duwe S, gak iso mlebu kuwe.” Undang-undangnya saja tidak ada.

Dan kita kan mengajar agama. Makanya undang-undang pesantren harus segera digolkan dengan niat bela agama, kita mendoakan. Urusan agama kita mestinya harus mengajar di sekolah-sekolah umum, tapi katanya kalau tidak punya title sarjana tidak boleh. Sebetulnya undang-undangnya tidak ada tapi dibuat-buat sendiri supaya modern menang. Memaksakan kehendak lewat jurkam-jurkam pemaksa-pemaksa itu. Katanya demokrasi, tapi praktiknya memaksa. Na’udzubiLlah. Itu bohong. Jadi demokrasi itu hakikatnya teroris juga bohong. Kita bukan berarti anti modern, tapi gimana lagi sudah darurat. Lingkungannya begitu. Kita ditekan seperti itu, padahal undang-undangnya tidak ada, AlhamduliLlah. Mereka saja yang buat-buat, bohong, hoax.

Memang karena benci. Padahal katanya ormas modern tidak senang pesantren dan tidak senang kiai, kok akhirnya ya pakai kiai juga yang sudah lemes. Biarkan saja, biar jadi pengurus sana. Santri kadang kalau pintar ya diincar begitu-begitu itu. Makanya saya bilang hati-hati. Apalagi NU, ya sudah maklum cah. Ikut partai dan digaet liberal itu sudah maklum.”

Pendidikan Umum Harus Mengadopsi Kitab Salaf

Kutipan makalah: Adapun pesantren yang sudah kadung ada umumnya atau pesantren-pesantren modern, universitas-universitas, itu sifatnya dharurat untuk nasyrul ilmi (sebab zaman sekarang memaksa punya ijazah), dan harus diupayakan untuk mengadopsi kitab-kitab salaf, syukur kalau bisa porsi kesalafan itu diperbanyak sehingga berimbang bahkan kalau perlu melebihi ilmu umumnya. Dan lagi, anak didiknya harus diajari niat belajar yang benar, jika yang dipelajari ilmu agama, maka harus ikhlas lillahi ta’ala, namun jika yang dipelajari ilmu umum seperti IPA, IPS, Matematika dan sejenisnya, maka boleh diniati duniawi (ijazah), akan tetapi lebih baik diniati isti’anah ala i’anatil muslimin fi syu’unihim.

Penjelasan Abah Najih: “Maksudnya agar dirinya mudah untuk mengajar. Kalau kebetulan jadi PNS umpama, nanti bisa bantu-bantu orang Islam. Apalagi jadi bupati, bisa bantu. Tapi dia sendiri hutangnya banyak, belum bisa bayar untuk nyalon dulu.”

Mengajar LiLlahi Ta’ala

Kutipan makalah: Para guru dan pendidik juga harus demikian, mereka mengajar ilmu agama di sekolahan umum harus lillahi ta’ala murni karena ridlo Allah SWT.

Penjelasan Abah Najih: “Kalau bisa jangan di sekolah umum unggulan. Yang agak ndeso saja. masuk sekolah unggulan akhirnya uangnya banyak, tapi cepat mati. Santri kok punya sekolah unggul atau jadi guru di sekolah unggul, cepat mati. Saya sudah pengalaman, muridku ada yang seperti itu. Sayangnya dulu saya ditanya oleh dia, “Di daerah saya guru-guru pesantren ditawari masuk di SMP, sedangkan saya ditawari di SMP Unggulan,” lalu saya jawab, “Ya sudah, monggo.” Setelah saya beri izin, baru setahun malah sudah mati. Yang agak ndeso, yang murah-murah saja. LiLlahi Ta’ala. Mau mengajarkan agama kok. Gaji kecil ya ridha. Katanya bisa mengajar itu sudah kemenangan di zaman akhir.”

Kisah Guru MGS Dibai’at Mbah Khim

Kutipan makalah: Tidak usah memedulikan besar kecilnya gaji, bahkan berkomitmen terus mengajar mesti tidak digaji.

Penjelasan Abah Najih: “Pernyataan ini zaman sekarang sudah sulit. Dulu saya menulis ini karena ingat ada santri MGS yang berhasil menjadi guru bercerita, “Dulu saya ketika menjadi guru dibai’at oleh Mbah Khim (sebutan akrab Mbah Abdurrahim). Meskipun tidak digaji saya tetap mengajar.” Begitu kuno sikapnya. Saiki di MGS banyak yang cari dunia. Bahkan fenomena anak-anak sekarang, barangkali anak-anak sampeyan, pondok MUS atau apa, itu ada yang tidak datang kecuali menjelang ikhtibar. Menurut peraturannya tidak bisa naik itu. Sudah diingatkan kemarin. Ini bagaimana? Berarti malamnya dia muthala’ah hape sampai siangnya tidak bisa melek. Itu MGS, belum Muhadloroh, tambah banyak. Repot zaman akhir ini.”

Pengkaderan Benci Umat Islam

Kutipan makalah: Hendaknya gaji yang bersumber dari iuran siswa ditasharrufkan untuk menafkahi keluarga, dan gaji yang bersumber dari Pemerintah, hendaknya digunakan untuk bayar listrik, PDAM, Pajak, BBM, Pulsa, dan kebutuhan-kebutuhan non konsumtif. Mungkin beginilah penjelasan dari maqolah yang sering didawuhkan oleh KH. Maimoen Zubair, “Awakmu sekolah opo wae, sing penting ojo ninggalno ngaji” seraya mengutip:

حَقٌّ على العاقلِ أَنْ يكونَ عارفا بِزَمَانِهِ، حَافِظا للسانهِ، مُقْبِلًا علَى شأنهِ

Dalam konteks sekarang, Aarifan bizamanihi beliau artikan memakai system sekolahan, sedangkan muqbilan ala sya’nihi diartikan melestarikan ilmu-ilmu agama dengan huruf arab pegon di sela-sela sekolah atau di luarnya (di dalam pesantren selain jam sekolah).

Penjelasan Abah Najih: “Hafizhan li lisanika, artinya disuruh diam. Alaikum bis sukut, wa mulazamatil buyut, waqtina’an bil qut ila an tamut (Hendaknya kalian diam, sering-sering dirumah, dan cari pangan hingga mati). Jangan jadi juru kampanye berarti.”

Di akhir pembacaan makalah, Syaikh Muhammad Najih menambahi, “AlhamduliLlah, makalah ini meski tidak terlalu banyak tapi InsyaAllah bermanfaat bagi Anda sekalian. Yang penting saya memohon agar hatinya selalu rindu dengan mengaji dengan niat ingin selamat. Selamatkanlah kami dan keluarga kami dari fitnah-fitnah Syi’ah, Wahabi, dan Liberal.

Kemarin saya ditelfon oleh Gus Qayyum. Beliau berkata dia dilapori oleh pengurus PBNU bahwa di Ansor-Banser sudah ada pengkaderan untuk membenci umat Islam garis keras, mereka dianggap murtad, dan seterusnya. Saya AlhamduliLlah tidak ikut garis keras, Mbah Moen juga. Ada juga pengkaderan merumuskan tuhan. Akhirnya tuhan itu tidak ada, ateisme. Sudah banyak susupan-susupan PKI. Mari kita waspada dan kita doakan semoga pesantren ini dilestarikan oleh Allah Ta’ala, konsisten ila yaumiddin. Kita mendapatkan barakahnya. Kita jadi tengah-tengah. Tidak radikal, tapi juga tidak liberal. Allahumma amin. Tidak Syi’ah juga tidak Wahabi. Semoga yang saya sampaikan ada manfaatnya. Mohon maaf kalau kebanyakan atau kurang. Ini keterpaksaan, ini darurat untuk pemantapan belaka. WaLlahu A’lam bi shawab.

Mengajar di Pesantren itu Ta’lim, Mengajar di Sekolah Umum itu Dakwah

Selanjutnya, dibuka sesi tanya jawab. Pada sesi ini ada beberapa pertanyaan yang telah dirangkum. Pertama, bagaimana santri hasil produk pesantren menyesuaikan diri untuk berdakwah dengan masyarakat di era sekarang. Kedua, apa maksud dari arifan bi zamanihi. Ketiga, apakah ada nash atau dalil tentang doa dan bagaimana maksud dari:

وأهلك الكفرة والمشركين

Menjawab ketiga pertanyaan diatas, Syaikh Muhammad Najih menjelaskan sebagai berikut:
“Menurut saya, berdakwah ada dua. Yang pokok di pesantren adalah ta’allum dan ta’lim. Itu tujuan utama. Tujuan sambilan kalau ada kesempatan itu dakwah. Kalau kita pikirannya dakwah terus sementara ilmu kita nihil itu repot. Kalau Pak Mansur tadi dakwah karena berkahnya nggeledek (menarik gerobak). Lha sampeyan yang tidak pernah ro’an (kerja bakti) itu dapat barakah apa? Jadi memang dapat barakah, akhirnya bisa membangun pondok dan seterusnya.

Jadi yang kita tuju dari ta’alum di pondok Sarang ini, maaf saya tidak membahas yang lain, adalah ta’allum tsummal amal tsummal ta’lim (belajar kemudian mengamalkan kemudia mengajarkan). Yang jelas karena Allah Ta’ala. Karena kalau kita diberi kesempetan dakwah maka berdakwah. Nah itu tadi, termasuk kesempatan kita mengajar di sekolah-sekolah umum itu termasuk dakwah. Kalau kita mengajar di pesantren salaf yang hanya ngaji-ngaji saja dan senang ngaji, itu namanya ta’lim. Enak. Yang dakwah itu yang berat. Kadang-kadang campur laki-laki dan perempuan, kadang perempuannya pakai gincu, ustadznya mana tahan. Beratnya jadi dakwah itu. Lebih aman ta’allum dan ta’lim. Tapi bukan saya melarang, jangan salaf paham. Saya bukan mengharamkan dakwah. Dakwah itu penting, tapi ya begitu. Ada setengah-setengah haramnya. Saya dulu juga sering pidato. Sudah capek, kadang-kadang hadirinnya ada perempuan cantik. Sekarang saya tidak laku, AlhamduliLlah. Sudah tua.
Saudara-saudara sekalian. Jadi ta’lim itu penting. Di Jakarta ada majelis ta’lim, itu klo orangnya memang ahli shalat, ahli zakat, ahli ngaji, ya benar majelis ta’lim itu. Tapi kalau orangnya macam-macam, tidak pernah berkerudung kecuali ketika majelis ta’lim, itu hakikatnya majelis dakwah.

Santri Salaf Mestinya Rindu Ngaji

Tadi pertanyaannya kita belum punya kendaraan. Maksudnya belum punya ijazah. Memang tadi saya tidak mewajibkan harus salaf semuanya, yang kita bahas ini lingkungan salaf harus kita pertahankan. Kalau ada yang tidak salaf ya itu lahan dakwah dan berjuang. Adapun kita sendiri kalau bisa tetap seperti ini, dan AlhamduliLlah misalnya kalau ditanya ada ijazah atau apa, hatta di salaf kita sudah ada. Tadi disebutkan ada Ma’had Aly, idenya dari Kiai As’ad.

Sudahlah, di Lirboyo saya kira sudah ada. Bahkan sebelum ada Ma’had Aly, di lirboyo paginya sekolah Hidayatul Mubtadiin siangnya anak bisa sekolah umum. Disana banyak sekolah, atau kejar paket. Masalah itu masalah kecil saya kira. Kok dibingungkan? Anda santri Sarang mestinya Anda rindu dengan ngaji. Karena di Sarang ini merosot juga ngaji salaf. Dulu Mbah Moen mengajar Fath al-Wahab, Syarh al-Mahalli, Jam’ al-Jawami’, dsb. Saya dulu juga pernah begitu. Sekarang karena faktor kesehatan, saya sudah tidak ngaji kitab sebesar dulu kecuali saat santrinya masih sedikit. Sekarang santri tambah banyak, imut-imut dan kecil-kecil juga.

Kok kayak takut, maafnya. Mungkin karena sampeyan ketularan orang-orang sana saya maklumi, tapi mestinya beristighfar dan bertaubat. Anda rindu mestinya dengan salaf, masalah ijazah Anda punya sekolah bisa dapat ijazah bahkan tanpa ikhtibar pun diluluskan. Uangnya dikorupsi dst. Kok seperti masalah besar? kan tidak. Semua sudah tersedia. Sekarang saya sudah sampaikan, hatinya saja yang masih bergantung dengan salaf. niyyatul mu’min khairun min amalihi (niat seorang mu’min lebih baik daripada perbuatannya). Hatinya yang penting. Dhawuhe Mbah Moen, zaman ini sekolah apa saja yang penting ngaji. Hatinya senang ngaji.

Arifan Bi Zamanihi: Kalau Cocok Syari’ah Lakukan, Kalau Tidak Tinggalkan

Tentang ‘arifan bi zamanihi, tadi sudah saya terangkan dan saya nukil dari Mbah Moen. WaLlahu A’lam bi shawab. Kalau saya pribadi, kalau halal dan cocok dengan Syari’ah dilakukan, kalau tidak cocok mestinya ditinggalkan. Tapi sekarang cocok Syari’ah persis itu susah. Memang sudah zaman akhir mau diapakan lagi, yang penting tidak banyak-banyak.

Selanjutnya, Muqbilan ini artinya hatinya mantap dengan ilmu agama dann inilah yang menjadi penyelamat kita. Mengapa Banser dan Ansor begitu jahat dengan kalimat tauhid karena orang-orang itu tidak mondok. Pokoknya penting NU begitu saja. Bahkan KTP-nya saja yang NU, padahal PKI. Kita AlhamduliLlah anak keturunan orang ngaji dan sampeyan juga pernah ngaji, mari pertahankan. Muqbilan ‘an sya’nihi. Seumpama punya sekolah umum maka masukkan salaf sedikit-sedikit dan selingi dengan pitutur. Salaf yang menjadi kendaraan agar selamat dunia akhirat. Bukan kendaraan cari uang.

Maksud Doa “Wa Ahlik al-Kafarah wa al-Musyrikin”

Tentang doa khutbah pada kitab Tuhfah al-Saniyah itu kan dibuat pada zaman penjajahan, maka harus dimaklumi. Umat Islam banyak dijajah, doanya biar penjajah segera hengkang. Sekarang ini sudah tidak menjajah, tapi kristenisasi banyak. Komunis banyak, liberal juga banyak. Ahlikil kafarata artinya semoga pemikiran-pemikiran sesat atau kufur itu gagal, Allahumma Amin. Tidak bisa memurtadkan orang Islam, orang Indonesia. Seperti kemarin ada proposal ke bupati Rembang agar Lasem jadi kota toleran, kemudian AlhamduliLlah saya menggagalkan. Sudah kelewatan itu. Allahumma ahlikil kafarata wal musyrikin wal mubtadiah itu artinya mereka yang menyebarkan paham-paham sesat digagalkan oleh Allah Ta’ala. Kita umat kecil, umat akar rumput ini tetap. Meskipun yang diatas sudah tersungkur, wes podo teler, kita tetap ngaji, shalat jama’ah, dizbaan, tahlilan, ratib haddad, dst. AlhamduliLlah.

Masalah Papua, saya juga mengeluh soal itu. Santri Jawa kalau disuruh mengajar diluar Jawa susak sekali. Saya dipesen sama habib Palembang untuk mencari guru, tapi sampai sekarang tidak ada yang mau. Saya mengeluh, kok sampai setakut itu? Apa perlu diberi hizib? Pak Mansur banyak hizibnya. Tapi kok harus pakai hizib terus? Kanjeng Nabi tidak seperti itu, para shahabat juga tidak punya kejadugan. Kesakitan ya sudah, tapi jangan dianggap setiap terkena sakit terus mati. Disantet dikit, akhirnya lemes kayak mati. Kita diberi kekuatan oleh Allah. Orang pakai santet dibalas nyantet. Kita harus sabar dan tegar. Wa tawashau bil haqqi wa tawashau bis shabr. AlhamduliLlah. Sekarang apa-apa mahal, tapi umat Islam dan sampeyan masih banyak. Ini kekuatan dari Allah. Kalau memakai perhitungan sampeyan iki mestinya sudah lemes nglemprak leh.” Acara ini lalu ditutup dengan doa dari Syaikh Muhammad Najih Maimoen.

حرس الله الشيخ محمد نجيح من البلايا وفتن أعدائهم، وأطال بقاءه، ورزقه الصحة والعافية والاستقامة مع الخير والبركة، ومتعنا بعلومه وزهده وورعه في الدين والدنيا والآخرة. آمين يا رب العالمين …

Kajian Ilmiah, Karya Syaikh Najih Versi Indonesia

MENGUPAS PENDIDIKAN KEAGAMAAN DI ZAMAN SEKARANG UNTUK PESANTREN DAN MASYARAKAT

بِسْمِ اللهِ الرَّحمنِ الرَّحِيْمِ

الحمْدُ لله ربِّ العَالَمِيْن والصَّلاةُ والسَّلامُ على رَسُولِه الكَرِيم ونَبِيّهِ مُحَمَّد اْلأَمِيْن وعلى آلِهِ الطَّاهِرِيْن وأَصْحابِهِ الْمَهْدِيِّيْن ، أما بعد.

Pendidikan pesantren selalu menjadi kajian menarik, bukan hanya karena memiliki kekhasan tersendiri dibandingkan dengan pendidikan lainnya, namun juga karena kaya akan konsep-konsep yang selalu relevan dibandingkan dengan pendidikan umum. Keberadaannya sebagai lembaga pendidikan Islam di tanah air mempunyai andil yang sangat besar dalam pembentukan karakter bangsa Indonesia. Dalam kehidupan bangsa Indonesia, pesantren memiliki potensi keberagaman dalam berbagai hal, baik kultur maupun sosial, yang dapat menyatu dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Pesantren juga merupakan sebuah lembaga pendidikan yang tidak hanya mendidik pada pencerahan akal (kecerdasan emosional) saja, akan tetapi juga mendidik terhadap pencerahan jiwa (kecerdasan spritual) dan pembentukan akhlak karimah (kecerdasan sosial). Pesantren tradisional (salaf) merupakan salah satu lembaga pendidikan Islam yang sangat diperhitungkan dalam mempersiapkan ulama masa depan, sekaligus sebagai garda terdepan dalam memfilter dampak negatif kehidupan modern.

Ada sebuah cerita menarik, pada suatu hari, Nyai Khoiriyah putri Hadrotussyaikh mbah Hasyim Asy’ari istri KH. A. Muhaimin bin KH. Abd. Latif Lasem, silaturrahmi ke Hadrotussyaikh KH. Maimoen Zubair. Beliau dawuhan dan berpesan kepada mbah yai Maimoen, mewanti-wanti supaya pondok pesantren Sarang jangan di rubah-rubah, biarlah tetap salaf, karena kalau pondok pesantren sudah berubah kurikulumnya, maka akan sulit untuk kembali ke salaf, seperti pondok Jombang. Begitulah kira-kira dawuhnya Nyai Khoiriyyah kepada Mbah Yai Maimoen. Al-Hamdulilah, di Sarang pendidikan formalnya tidak dicampur dengan yang salaf.

Perlu diketahui, bahwa sejak dulu keberadaan pesantren salaf mampu mencetak ulama-ulama handal, seperti Syaikh Nawawi Banten pengarang Kitab Tafsir Munir dan Nihayatuzzain, Syaikh Mahfudz Termas, pengarang kitab Manhaj Dzawi Annadhor dan Mauhibatu dzi al Fadli, Syaikh Hasyim Asy’ari pengarang kitab Risalah Ahlussunnah wal-Jama’ah, Irsyadul Mu’minin, An-Nurul Mubin, Audlohul Bayan, dll. Syaikh Ihsan Jampes dengan karyanya Siroj at-Thalibin syarh Minhajul Abidin, karya Imam Ghozali, ad Durru al Farid syarh manzhumah jauharuttauhid, al Kawakib al Lama’ah wa syarhuha, karya Syaikh Abu Fadlol Senori Tuban yang keberadaannya diakui dunia internasional.

Kemudian agar santri mengenal perkembangan Global-Kekinian, maka pesantren telah menampilkan kajian-kajian kitab kontemporer karya ulama-ulama ahlussunnah madzahib arba’ah seperti kitab al-Fiqhu al-Manhaji karya Dr. Mushthofa al-Khin, Mushthofa al-Bugho, Ali al-Syarbaji, as-Salafiah Marhalatun Zamaniyatun Mubarokatun la Madzhabun Islamiyun, Fiqhussiroh, Kubrol Yaqiniyat, Dlowabitul Mashlahah karya Sa’id Romadlon al-Boethi, Rowa’iul Bayan Tafsir Ayatil Ahkam Minal Qur’an karya Syaikh Muhammad Ali al-Shobuni, al-Fiqh al-Islami karya Wahbah Zuhaili, Mafahim Yajibu an Tushohhah, Manhajussalaf fi fahmi an-nushush Baina al-Nadhoriyah wa al-Tathbiq, Muhammad al-Insan al-Kamil, Syaroful Ummah al-Muhammadiyyah, Syari’atullah al-Kholidah, dll. karya Abuya as-Sayyid Muhammad al-Maliki.

Sebenarnya sebagian ilmu umum sudah diajarkan di pesantren, seperti ilmu Falak, ilmu Balaghoh, ilmu Nahwu, ilmu Shorof, ilmu Hisab (ilmu yang perannya vital dalam ilmu Faro’id) yang kesemuanya itu dijadikan sebagai alat untuk memahami al-Qur’an, al-Hadits dan kitab-kitab salaf. Begitu juga dalam al-Qur’an, Hadits dan kitab-kitab salaf sudah ada sebagian dari pembahasan-pembahasan ilmu umum, sains, teknologi dan ekonomi, seperti dalam ayat:

وَأَنْزَلْنَا الْحَدِيدَ فِيهِ بَأْسٌ شَدِيدٌ وَمَنَافِعُ لِلنَّاسِ وَلِيَعْلَمَ اللهُ مَنْ يَنْصُرُهُ وَرُسُلَهُ بِالْغَيْبِ ۚ إِنَّ اللهَ قَوِيٌّ عَزِيزٌ [الحديد: 25]

Dari dalil di atas, para ulama menyatakan bahwa mempelajari ilmu-ilmu ataupun pekerjaan-pekerjaan yang bermanfaat dan tidak menimbulkan madlorot termasuk fardlu kifayah. Artinya kalau sudah ada yang mempelajarinya, maka sudah mencukupi, bukan serta-merta harus berbondong-bondong semua umat Islam digiring untuk menjalankannya apalagi mewajibkannya kepada setiap individu umat Islam yang terkesan hal itu termasuk fardlu ‘ain, juga tidak harus terkekang oleh sebuah konsep atau sistem tertentu apalagi sistem sekolah dengan kurikulum ala filsafat Barat-Amerika yang sesat dan menyesatkan, dan dalam mempelajarinya pun harus berniat untuk menunaikan fardlu kifayah sehingga mendapatkan pahala dari Allah SWT.

Termasuk dampak negatif dari kurikulum pemerintah terhadap budaya pesantren adalah semakin memudarnya keikhlasan bertholabul ilmi dan khidmah kepada ahlul ilmi, terkikisnya sikap tawadlu’, andap ashor, nurut kepada kyai, sopan santun, berubah menjadi sikap mudah mengkritisi, mengkritik kebijakan dan dawuhnya kyai dan asatidz, mereka menganggap kyai hanya sebatas pemilik pondok atau yayasan, ikhtilath antara lelaki dan perempuan, budaya camping, pramuka, pacaran dan lain sebagainya. Sehingga tanpa disadari, kalau pesantren menerima kurikulum tersebut maka mereka telah terjebak dalam budaya rancangan Yahudi dan Salibis. Perlu diketahui, bahwa hampir keseluruhan ilmu umum itu sekuler (terpisah dari akidah tauhid) karena tidak pernah menyebut Allah sebagai al-Kholiq/Sang Pencipta (persis paham Dahriyyah). Diantaranya mengatakan bahwa langit tidak ada yang ada hanyalah atmosfer saja, kiamat hanyalah proses alam, planet bumi dan planet-planet lainnya sudah ada sejak berjuta-juta ribu tahun alias alam ini dzatnya qodim seperti paham falasifah yang kufur, baik teori evolusi atau revolusi. Begitu juga teori Darwin yang kufur itu, yaitu pendapat yang mengatakan bahwa adanya kekuatan berdiri sendiri di alam ini dan mengatakan kehidupan tidaklah diciptakan tetapi muncul karena kebetulan, manusia berasal dari kera dan masih banyak lagi.

Menyikapi ilmu-ilmu umum diatas, kita harus selalu mengingat dan memegangi dua bait karya Syaikh Ahmad ad-dardir dalam Manzhumah al-Kharidatul Bahiyyah:

وَمَنْ يَقُلْ بِالطبْعِ أَوْ بِالعلَّة ** فَذَاك كفرٌ عِندَ أهلِ الْمِلَّة

وَمَنْ يَقُلْ بِالْقُوَّةِ الْمُوْدَعَةِ ** فَذَاكَ بِدْعِيٌّ فَلَا تَلْتَفِتِ

Menurut kami, Thabi’at, Illat dan Quwwah Dzatiyah itu satu paket, artinya jika seseorang menyakini kejadian di alam raya ini murni karena ketiga faktor tersebut (tanpa ada campur tangan izin Allah SWT), maka hukumnya kafir, namun jika ada campur tangan izin Allah SWT, atau meyakini Quwwah Muda’ah, maka hukumnya sebagai pelaku bid’ah. Kenapa ilmu seperti itu kita bela-bela melebihi ilmu agama padahal ilmu agama adalah penyelamat iman dan Islam (jalan kebahagiaan dunia akhirat), dan ilmu di atas adalah penyebar kekufuran (jalan kehancuran dunia akhirat). Pesantren yang sudah mapan dengan sistem salafnya, biarlah tetap eksis dan wajib kita jaga dan dukung keberadaannya.

Adapun pesantren yang sudah kadung ada umumnya atau pesantren-pesantren modern, universitas-universitas, itu sifatnya dharurat untuk nasyrul ilmi (sebab zaman sekarang memaksa punya ijazah), dan harus diupayakan untuk mengadopsi kitab-kitab salaf, syukur kalau bisa porsi kesalafan itu diperbanyak sehingga berimbang bahkan kalau perlu melebihi ilmu umumnya. Dan lagi, anak didiknya harus diajari niat belajar yang benar, jika yang dipelajari ilmu agama, maka harus ikhlas lillahi ta’ala, namun jika yang dipelajari ilmu umum seperti IPA, IPS, Matematika dan sejenisnya, maka boleh diniati duniawi (ijazah), akan tetapi lebih baik diniati isti’anah ala i’anatil muslimin fi syu’unihim. Para guru dan pendidik juga harus demikian, mereka mengajar ilmu agama di sekolahan umum harus lillahi ta’ala murni karena ridlo Allah SWT, tidak usah memedulikan besar kecilnya gaji, bahkan berkomitmen terus mengajar mesti tidak digaji. Hendaknya gaji yang bersumber dari iuran siswa ditasharrufkan untuk menafkahi keluarga, dan gaji yang bersumber dari Pemerintah, hendaknya digunakan untuk bayar listrik, PDAM, Pajak, BBM, Pulsa, dan kebutuhan-kebutuhan non konsumtif. Mungkin beginilah penjelasan dari maqolah yang sering didawuhkan oleh KH. Maimoen Zubair, “Awakmu sekolah opo wae, sing penting ojo ninggalno ngaji” seraya mengutip:

حَقٌّ على العاقلِ أَنْ يكونَ عارفا بِزَمَانِهِ، حَافِظا للسانهِ، مُقْبِلًا علَى شأنهِ

Dalam konteks sekarang, Aarifan bizamanihi beliau artikan memakai system sekolahan, sedangkan muqbilan ala sya’nihi diartikan melestarikan ilmu-ilmu agama dengan huruf arab pegon di sela-sela sekolah atau di luarnya (di dalam pesantren selain jam sekolah).

Keunikan pesantren salaf yang tidak dimiliki oleh lembaga selain pesantren adalah adanya barokah, selama para santri mampu untuk berkhidmah kepada para masyayikh dan pondok dengan ikhlas dan didukung oleh kealiman dan kewira’ian para pengasuhnya, pesantren salaf akan selalu bisa beradaptasi dengan zaman, ikut andil dalam mengusir penjajah dan mewujudkan kemerdekaan Negara Republik Indonesia, dikarenakan para pengasuh dan pengelolanya masih berpegang pada nilai-nilai dan tradisi-tradisi kesalafan. Kesalafan ini harus terus dipertahankan dan dikembangkan untuk membendung segala bentuk penjajahan masa kini, baik penjajahan aqidah seperti paham Liberalisme, Sekulerisme, Pluralisme, Komunisme, Ahmadiyah, Syi’ah, NII, dan lainnya, penjajahan ekonomi seperti Neo-Liberalisme atau pro asing-aseng, dan dekadensi moral seperti narkoba, minuman keras, sabu-sabu, ekstasi, pelacuran, kebebasan bergaul, seks bebas, pacaran, semakin maraknya warung remang-remang, warung kopi plus-plus, diskotik dan lain-lainnya yang keberadaannya seakan-akan dilegalkan oleh pemerintah. Sebaliknya kalau pesantren sudah berubah menjadi modern, maka keteguhan Akidah Ahlussunnah wal Jama’ah dan barokah tersebut akan pudar dengan sendirinya, yang tinggal hanyalah ketenaran dunia, pesantren hanya sebagai wadah untuk mencari fasilitas dan materi. Masuk pesantren tidak lagi bertujuan untuk mencari keselamatan dunia akhirat, selamat dari pemikiran dan alirat sesat, tapi bertujuan untuk mendapatkan gelar dan ijazah.

Kerusakan yang ditimbulkan oleh kurikulum umum melalui sistem sekolahannya, juga telah disinyalir oleh Sayyid Ahmad bin Muhammad ash-Shiddiq al-Ghumari dalam sebuah kitabnya Muthobaqotul Ikhtiro’at al-Ashriyah. Beliau menyitir hadits yang berbunyi:

عَنْ عَبْدِ الرَّحْمَنِ الأَنْصَارِي قَالَ: قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: مِنِ اقْتِرَابِ السَّاعَةِ كَثْرَةُ القُرَّاءِ وَقِلَّةُ الفُقَهَاءِ وَكَثْرَةُ الأُمَرَاءِ وَقِلَّةُ الأُمَنَاءِ. [أخرجه الطبراني]

Mengenahi hadits di atas, Sayyid al-Ghumari mengatakan bahwa penyebab fitnah tersebut ialah menjamurnya sekolah-sekolah umum dengan sistem produk penjajah Barat yang malahirkan alumni-alumni yang mahir dalam urusan keduniaan saja tanpa dibarengi pengetahuan tentang ilmu akhirat, lihai dalam urusan duniawi tapi bodoh akan agama mereka, sehingga dunia ini dipenuhi orang-orang yang ahli pidato saja, sedangkan ulama’nya semakin berkurang.

Hendaknya para penyelenggara pendidikan keagaamaan mengupayakan biaya murah, agar tidak memberatkan beban umat sebab, karena biaya murah merupakan ciri khas kesalafan, Rasulullah SAW bersabda;

الرَّاحمونَ يرحمهمُ الرحمنُ، ارحموا من في الأرض يرحمُكمْ مَنْ في السماءِ (أخرجه أبو داود والترمذي)

Selain dari pada itu, pesantren harus mempertahankan pendidikan ala Aswaja-nya, guna membendung penjajahan pendidikan yang massif dilancarkan oleh kaum Salafi-Wahhabi, PKS, dan HTI. Juga jangan terjerumus dalam ide Islam Nusantara, karena sejatinya ide tersebut belum jelas konsepnya, kurikulum dan silabus pendidikan Islam Nusantara saja masih simpang siur. Sudah berkali-kali kami membahas tema Islam Nusantara. Intinya kami berkesimpulan, jika yang dimaksud Islam Nusantara adalah Islam ala amalan-amalan Aswaja, maka itu dapat diterima. Namun jika sebaliknya, sebagaimana yang sudah masyhur digembar-gemborkan oleh para pengusungnya, maka jelas harus ditolak, karena sudah keluar dari jalur nafas pendidikan pesantren.

Kami ingat waktu kecil sebelum mondok ke Makkah, yaitu mauidloh Kyai Ali Ma’shum Lasem pada acara Haul mbah Ma’shum Lasem. Beliau mengulangi perkataan seorang peniliti barat; “Kenapa Islam di Indonesia masih kuat?” Peneliti tersebut mengatakan; ada dua faktor yang menyebabkannya. Pertama masih konsisnya pengajian umum, tahlilan, muludan, al barjanzi, dibaiyyah dan lain sebagainya, karena dengan moment acara tersebut bisa menjadi ajang silaturrahmi antara kyai dan ummat. Dan ini bisa menimbulkan kekuatan yang luar biasa, ummat merasa terayomi, dibimbing langsung walaupun kyai tersebut sekedar hadir, tidak sampai bermauidloh juga tidak berdoa. Yang kedua, masih konsisnya pengajian turutan (al Qur’an). Orang-orang yang dulu berkerja dan menjadi pegawai di pemerintah kolonial Belanda, walaupun mereka diintimidasi, diajak kufur, diajak kristen, disuruh murtad, mereka keberatan, karena keimanan mereka tumbuh kembali saat terngiang-ngiang suara kyai yang mengajar turutan atau al-Qur’an. Menurut kami, dua faktor tersebut disebabkan berkahnya pendidikan pesantren salaf waktu dulu yang istiqamah dengan pengajian kitab-kitab salafnya, yang sepi dari tujuan materi, tidak memprioritaskan ujian akan tetapi fokus pengajaran harian, dan selalu konsis mengajarkan bacaan al-Qur’an, dzikir, shalat berjamaah serta budaya ro’an (kerja bakti), khidmah kepada masyayikh dan pondok. Tentunya, hal-hal tersebut akan lebih mewujudkan kekuatan luar biasa, menumbuhkan kekuatan iman, mencapai hidayah Allah SWT.

Keberadaan madrasah-madrasah diniyyah kelas lima dan enam pun dihabisi dan digilas oleh kegiatan-kegiatan ekstra kurikuler sekolah-sekolah pagi (SD dan SMP) sehingga banyak anak didik madrasah yang keluar dan tidak bisa melanjutkan pendidikannya di madrasah diniyyah, ditambah lagi tekanan program Full Day Scholl akhir-akhir ini, yang telah dipraktekkan oleh sebagian sekolahan-sekolahan di berbagai tempat. Semoga hal ini menjadi pertimbangan Menteri Pendidikan atau instansi-instansi yang terkait untuk memberi instruksi agar anak didik madrasah diniyyah tetap melanjutkan pendidikannya tanpa dibebani atau diganggu oleh pelajaran dan kegiatan ekstra tersebut. Pesantren yang sudah salaf biarlah tetap salaf dan wajib kita dukung, seperti pondok kita ini Al-Anwar I dan MGS, karena Syaikhina Maimoen Zubair dalam banyak kesempatan (llqo’ul mawa’idz acara Harlah, Akhirussanah, Maulidiyah) mewanti-mewanti agar tidak merubah kesalafan di Al-Anwar I dan MGS. Kalau pesantren salaf dipaksa untuk mengikuti kurikulum moderen, maka hilanglah pesantren yang selama ini menjadi benteng aqidah, syari’at, akhlaq Ahlussunnah wal Jama’ah.

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيْم. وَالْعَصْرِ، إِنَّ الإِنْسَانَ لَفِي خُسْرٍ، إِلاَّ الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ [العصر: 1-3]

Sarang, 6 Rabi’ul Awwal 1440 H

14 November 2018 M

KH. MUHAMMAD NAJIH MAIMOEN

Kajian Ilmiah, Karya Syaikh Najih Versi Indonesia

TRANSKIPSI PEMAPARAN MAKALAH ” PROBLEMATIKA ISLAM NUSANTARA” OLEH KH. M. NAJIH MAIMOEN

Pada hari Senin tepatnya tanggal 20 Muharram 1440 H/1 Oktober 2018 M Syaikhina Muhammad Najih Maimoen diundang oleh Aliansi Ulama Ahlussunnah Waljama’ah Tapal Kuda (AUTADA) untuk menjadi narasumber dalam seminar bertajuk “Problematika Islam Nusantara” yang diselenggarakan di Pondok Pesantren Nurul Qodim Paiton Probolinggo Jawa Timur. Selain Abah Najih, diundang pula narasumber lain yaitu Habib Taufiq Assegaf dari Pasuruan. Dalam pemaparan beliau seperti ditayangkan melalui live streaming di fanpage Ribath Darusshohihain, Syaikhina Najih membahas kembali secara detail tentang Islam Nusantara dimana beliau sudah seringkali menjelaskan pada seminar-seminar sebelumnya dalam topik yang sama. Isu Islam Nusantara ini kembali diperbincangkan setelah beberapa lama collapse kemudian muncul lagi ke permukaan menjelang pilpres 2019 mendatang. Berikut kutipan muqaddimah beliau dalam video berdurasi sekitar satu setengah jam tersebut:
“Mereka (kaum mujassimah) menyusupkan tasybih-tajsim di dalam madzhab Ahmad bin Hanbal dalam urusan akidah. AlhamduliLlah hal ini diketahui oleh Ibnu al-Jauziy dan ulama-ulama yang punya akidah yang kuat sekali. Dikokohkan lagi oleh pengarang kitab Kifayah al-Akhyar (Taqiyuddin al-Hishni).
Bapak-bapak dan saudara-saudara sekalian. Organisasi sifatnya bercampur-baur. Ada ilmuannya, ada ulamanya, non-ulamanya juga banyak. Apabila konangan yang liberal-liberal itu adalah anugerah dari Allah, karena organisasi biasanya untuk mencari atau mempengaruhi orang mereka memakai iming-iming pangkat, uang, dan seterusnya. Disini tadi oleh Kiai Fauzi diterangkan untungnya mereka yang berbicara liberal, ngawur, dan keterlaluan seperti mengatakan ada “Islam abal-abal”, “Islam Timur Tengah, dan seterusnya cepat diketahui. Jadi mereka terlihat liberalnya, juga terlihat ngebetnya. Bahasa jawanya kebelet, bahasa maduranya keburu. Mereka kepengen uang dari Amerika atau dari Cina segera cair. Dulu di jaringan Islam liberal Ulil Abshor yang ditampilkan walaupun pemikiran-pemikirannya sudah ada sebelumnya. Saya tidak enak menyebutnya. Ulil Abshar lalu ditampilkan. AlhamduliLlah saya Najih Maimoen ikut melawan, akhirnya tidak laku. Akhirnya ia dimarahi sama Amerika, pulang dengan tangan hampa. Akhirnya dia pindah ke Partai Demokrat dan mencalonkan diri jadi DPR, AlhamduliLlah tidak jadi. Sekarang dia blangkonan jadi Islam Nusantara.
Jadi inilah bangsa kita. Dari dulu ya begini. Ada sebagian orang tidak bertanggung jawab dari bangsa kita. Istilahnya “londo pesek” (Belanda pesek). Mereka cari uang, ngemis-ngemis atau cari sisa-sisa uang dari Belanda. Jadi jagoan, jadi orang sakti, dan seterusnya. Orang nasionalis atau yang benar-benar memperjuangkan negara, rakyat, atau bahkan Islam itu berdikari atau bertawakkal kepada Allah sebesar-besarnya.
Pada zaman penjajahan Belanda dahulu belum ada PBB. Sekarang ini di era modern PBB menjadi rebutan antara kekuatan Amerika, Rusia, dan Cina. Sekarang mereka rebutan di Pulau Malaka. Rezim sekarang diming-imingi dapat segini dari Cina, dapat segini dari Amerika, dan seterusnya. Bahkan saya dengar Indonesia mau dibagi enam. Na’udzubiLlah.
Saudara-saudara. Walhasil, ini semua dari Allah Ta’ala. Sama dengan dulu waktu tahun 1965 atau 1964 PKI mau menghabisi ulama, kiai, atau agamis Islam di Indonesia, lalu tulisan tentang perintah melakukan hal itu tersebut jatuh di jalan. Akhirnya ditemukan oleh seseorang lalu disebarluaskan bahwa detik-detik ini akan terjadi pembantaian kepada ulama. Jadi sebelum hari eksekusinya sudah konangan terlebih dahulu. Padahal seperti kita tahu organisasi komunis itu sedemikian canggihnya, aparaturnya, sistematisnya, dan lain sebagainya. Jadi peristiwa itu adalah anugerah Allah.
Kemarin ketika saya ikut Ijtima’ Ulama 2 di Jakarta, Pak Prabowo bilang, “Untungnya Ahok itu omongannya kasar-kasar.” Saya sendiri agak mangkel, kasar kok untungnya? Maksudnya ya ini, kalau tidak segera keluar keburukannya malah tidak segera terlihat. Bangsa kita ini terlalu polos atau lugu. Terlalu banyak husnuzzhan. Kalau tidak kelihatan langsung buruknya sekalian mereka tidak paham-paham. Tapi yang repot itu yang membangkitkan kita untuk melawan Ahok malah sekarang minta maaf sama Ahokers. Kita kecewa. Bukan karena keulamaannya, kita menghormati ulamanya. Akan tetapi karena pribadinya, kok gampange digoyang begitu saja. Kita tidak boleh ngrasani ulama, pribadi atau mentalnya saja yang kita bahas. WaLlahu A’lam bi al-shawab.”
Setelah memberikan muqaddimah, Abah Najih lalu membacakan dan menjelaskan makalah tentang Islam Nusantara yang telah beliau tulis dan dibagikan kepada peserta seminar. Dalam pembacaan makalah tersebut beliau memberikan penjelasan seperlunya. Berikut adalah keterangan tambahan beliau di beberapa paragraf dalam makalah.

Islam Nusantara dan Kasus Adu Jotos pada Muktamar Jombang
Penggalan makalah: Kenyataannya dalam Muktamar Jombang terjadi kisruh, bahkan sampai adu jotos yang tidak pernah terjadi pada muktamar-muktamar sebelumnya. Bagaimana konsep ini yang katanya memberikan kedamaian untuk peradaban Indonesia dan dunia, sementara di dalam tubuh NU saja sudah menimbulkan kisruh antar warga NU sendiri?!
Tanggapan Syaikhina Muhammad Najih: Itu menunjukkan bahwa IsNus itu wajahnya mengedepankan toleran, namun di dalamnya dia mau menjotos atau menghabisi visi kita, menghabisi akidah kita. Na’udzubiLlah. Muktamar jombang yang akhirnya mengukuhkan Said Aqil itu memakai preman-preman bayaran secara jelas sekali. Itulah permainan-permainan gaya modern khususnya dari komunis. Katanya kemanusiaan tapi nyatanya menghabisi umat Islam secara fisik dan akidah.

Islam Nusantara Adalah Mengislamkan Nusantara
Penggalan makalah: Islam Nusantara sebenarnya gambaran Islam yang tidak perlu dipermasalahkan. Islam tahlilan, yasinan, ziarah kubur, tawassul, muludan dan lain sebagainya, inilah Islam Nusantara, sebuah tatanan yang sudah baku dan mengakar di tengah-tengah umat. Sebuah syari’at dan ajaran Islam yang dibawa para Walisongo untuk meng-Islamkan Nusantara.
Tanggapan Syaikhina Muhammad Najih: Ini maksudnya adalah Islam Nusantara yang tidak liberal. Islam Nusantara buatan kiai-kiai dahulu artinya adalah Islam yang ada di Nusantara. Islam Nusantara itu aslinya adalah mengislamkan Nusantara, artinya tradisi-tradisi Hindu-Budha dijadikan Islami. Tidak menyembah berhala, tidak menyembah danyang-danyang, dan sebagainya.

Al-Quran Langgam Jawa dan Tasyabbuh bi Ahl al-Fisq
Penggalan makalah: Maka keliru jika Quraisy Shihab mengatakan ulama tidak memberikan kaidah baku dalam membaca Al-Quran. Tidak hanya sekedar indah dan benar tajwidnya, namun juga harus mengikuti adab memuliakan Al-Quran.
Tanggapan Syaikhina Muhammad Najih: Jadi lagu-lagu saja atau orkes itu dilarang karena menyerupai ahlul fisq (orang fasiq), apalagi ini membaca Al-Quran yang sakral. Tidak boleh kita membaca Al-Quran di tengah-tengah peminum khamr dan alat malahi (musik). Malah saya punya kiai orang Jenu alumni Makkah lama, kalau ada resepsi pernikahan malah tidak boleh membaca Al-Quran. Alasannya karena resepsi adalah acara senang-senang dan mengobrol. Kadang-kadang membahas pengantinnya. Ketika nantinya ada yang baca Al-Quran, akhirnya Al-Quran dibaca di tengah orang-orang yang ghibah dan bersuka ria.
Saya bukan berfatwa seperti itu. Itu contoh cara menghormati Al-Quran. Maksudnya jangan membaca Al-Quran di tengah orang-orang yang nakal.

Pengaruh Budaya dalam Islam
Penggalan makalah: Selanjutnya, di situs news.merahputih.com pada Rabu 8 Juli 2015 menurunkan berita berjudul Quraish Shihab Setuju Islam Nusantara. Dalam artikel tersebut Quraish Shihab mengatakan bahwa Islam Nusantara bukanlah agama yang baru. “Ini pemahaman ajaran agama yang dipengaruhi budaya.”
Tanggapan Syaikhina Muhammad Najih: Kata Quraisy Shihab Islam Nusantara bukan agama baru, namun pemahaman baru yang dipengaruhi budaya. Jadi bukan agama, ya bid’ah namanya.
Penggalan makalah: Dia mengatakan, al-Qur’an harus dipahami sesuai dengan konteks budaya dan ilmu pengetahuan yang berkembang. Dia mencontohkan, kaum perempuan, baik dari Muhammadiyah maupun Nahdlatul Ulama, pada zaman dahulu tidak memakai jilbab karena menganggap kebaya adalah pakaian terhormat. “Kemudian, bisa jadi di negeri-negeri yang airnya kurang ulama-ulamanya membolehkan bertayammum saja,” sambung mantan Menteri Agama ini.
Tanggapan Syaikhina Muhammad Najih: Jadi menurut Quraisy Shihab budaya berpengaruh dalam hukum. Padahal Islam itu universal. Memang sebagian Syari’ah Islam dari budaya Arab, tapi bukan semuanya dari budaya Arab. Budaya Arab tersebut adalah sisa dari agama Nabi Ibrahim. Tapi kalau budaya Arab seperti buka-bukaan atau membuka aurat ketika thawaf jelas dihilangkan oleh Islam. Kalau budaya ikram al-dliyafah (memuliakan tamu), syaja’ah (keberanian), dan hilm (kedermawanan) itu ditetapkan oleh Al-Quran. Bahkan sumpah rojopati (qasamah) adalah budaya dari Sayyid Abdul Muthalib ketika mengundi anaknya saat akan disembelih kemudian dilakukan undian sampai limapuluh kali kocokan, dan akhirnya yang menang adalah unta. Diyat seratus unta juga dari Sayyid Abdul Muthalib ketika mau membunuh anaknya karena nadzar, lalu orang-orang Quraisy berkata, “Jangan begitu. Nanti setiap ada orang bernadzar untuk menyembelih anaknya akhirnya disembelih beneran. Marilah melakukan sumpah terlebih dahulu. Marilah kita ke dukun-dukun, apakah bisa diganti tebusan unta atau apa.” Akhirnya nadzar tersebut ditebus dengan seratus unta.

Islam Nusantara dan Jilbab
Penggalan makalah: Dari keterangan diatas, terlihat sekali bahwa Quraish Shihab berupaya menginjeksikan pendapatnya tentang jilbab adalah budaya bukan kewajiban agama dalam menerangkan tentang Islam Nusantara. Dia mengatakan bahwa jilbab termasuk pemahaman ajaran agama yang dipengaruhi budaya, yang berarti penggunaan jilbab dipengaruhi oleh tradisi masyarakat yang dapat selalu berubah hukumnya.
Tanggapan Syaikhina Muhammad Najih: Tadi dikatakan bahwa perempuan NU dan Muhammadiyah zaman dulu kelihatan auratnya karena dianggap kebaya itu sudah cukup dan terhormat. Sebetulnya itu kan perilaku orang-orang dulu. Perilaku itu bukan menjadi hujjah. Yang menjadi hujjah adalah dalil-dalil. Adapun ulama-ulama dahulu begitu mungkin belum banyak produk-produk gamis dan jilbab. Memang untuk berdakwah kepada masyarakat umum kalau terlalu ketat mereka pada lari, atau nanti dianggap orang Arab dan kurang supel kepada orang Jawa. namun hal itu tidak bisa menjadi hujjah. AlhamduliLlah sekarang sudah ada produk-produk jilbab, masa’ tidak kita pakai?

Penertiban Adzan di Masjid dan Mushalla
Penggalan makalah: 4. Lembeknya perhatian atau reaksi terhadap wacana akan diundang-undangkannya penertiban adzan ditiap masjid dan mushala.
Tanggapan Syaikhina Muhammad Najih: Ini dari Menag begitu. NU tidak keras melawannya. Kita dengan rezim ini ingin dijadikan seperti di Singapura. Tidak boleh adzan yang keras. Sekarang sudah terjadi, bukan hanya mungkin. Banyak terjadi masjid-masjid digusur, alasannya pelebaran jalan tol. Kecuali kalau masjid bagus atau masjid kuno, maka tidak digusur dan digunakan untuk wisata. Orang-orang Belanda masuk kesitu.
Kemarin saya melihat orang Belanda masuk ke masjid Istiqlal dengan membuka aurat. Kalau dulu ketika saya di masjid Sultan Singapura memang ada orang Barat masuk tapi dengan diberi penutup aurat. Kalau di masjid Istiqlal tidak ada. Dan sekarang Istiqlal sudah memasukkan penceramah-penceraman Syia’h karena kepala imam besarnya yaitu Nazaruddin Umar adalah orang liberal. Dia dijadikan imam masjid besar Istiqlal. Ngeri sekali. Kampanye vaksin di baliho-baliho itu kan dari Nazaruddin Umar bekerjasama dengan Polri.

KH. Ma’ruf Amin dan Pilpres
Penggalan makalah: 6. Dulu KH. Ma’ruf Amin berfatwa untuk tidak memilih pemimpin yang suka ingkar janji. Tapi sekarang setelah “dijongkrokno” (dijerumuskan) oleh Muhaimin Iskandar, Said Aqil, Romahurmuzi dan kawan-kawannya, beliau berubah haluan bahkan membuntuti Jokowi sebagai calon wakil presiden. Padahal dibalik itu, yang paling banyak dapat keuntungan kontrak politik dengan cukong dan bos-bosnya adalah para penjerumus beliau itu. Dan sangat disesalkan ketika Rais Am ikut meramaikan panggung politik Indonesia. Padahal ormas NU mengaku sudah lepas dari politik praktis, maka seharusnya tokoh besar organisasi yang bergerak dalam bidang keagamaan ini tidak ikut pencalonan dalam Pilpres 2019. Parahnya lagi beliau adalah Mufti tertinggi (ketua MUI Pusat) di negeri ini, tidak mau melepaskan jabatan MUI-nya tetap ikut nyalon sebagai Wapres. Justru ini menunjukkan besarnya ambisi kekuasaan, sehingga menjadikan fatwa-fatwanya terasa basi karena ditekan atau dikendalikan penguasa dan akhirnya dianggap angin lalu belaka.
Tanggapan Syaikhina Muhammad Najih: Jadi kami sangat menyayangkan bukan karena keulamaannya, tapi karena pribadinya kok gampang sekali terkena arus. Makanya kita harus waspada jangan terlalu gampang dekat-dekat dengan umara biar kita tidak mudah dibelokkan sana-sini, bahkan didiskon jadi buntut, dan sebagainya.
Setelah pembacaan dan penjelasan makalah selesai, lalu dibukalah sesi tanya jawab dari peserta seminar tentang topik yang diperbincangkan. Cukup banyak pertanyaan yang disampaikan oleh para hadirin melalui tulisan yang diberikan kepada panitia, dan Syaikhina Najih menanggapi serta menjawab seluruh pertanyaan tersebut. Demikian pertanyaan yang masuk sekaligus jawaban dari Abah Najih.

Tentang Hadits Khairul Umara dan Syarrul Ulama
Pertanyaan: Apa ini hadits atau sabda ulama:
خير الأمراء الذين يزورون العلماء وشر العلماء الذي يزورون الأمراء
Jawaban Syaikhina Muhammad Najih: Yang saya ingat ini memang hadits Rasulullah ShallaLlahu ‘alaihi wa Sallama, hanya saja sanadnya bagaimana begitu. Selain itu, terkadang ulama membuat kalimat yang menyimpulkan hadits-hadits yang banyak. Jadi seumpama ini bukan hadits maka ini adalah kesimpulan ulama dari beberapa hadits. Banyak sekali hadits yang mendukung makna hadits ini. Jadi tidak usah diperdebatkan. Yang jelas hadits ini dari Kanjeng Nabi langsung secara lafazhnya atau mungkin hanya secara maknanya.
Makna hadits ini bahwa sebaik-baiknya umara adalah yang sowan kepada ulama. Kalau Habib Taufiq mengatakan bahwa sowannya untuk minta nasehat, bukan minta dukungan. Kemarin Pak Prabowo di ndalem Mbah Maimoen bilang, “Saya tidak cari dukungan. Saya diterima menjadi tamunya beliau sudah terhormat sekali. Saya hanya minta doa.” WaLlahu A’lam.
Sebaliknya, sejelek-jeleknya ulama adalah yang ziarah ke umara, artinya ziarah minta proposal. Kalau ziarah untuk menasihati ya boleh-boleh saja, tapi ini sangat berat. Nanti niatnya menasehati malah dicekoki akhirnya melempem dan hanya untuk publikasi, “Saya yang menasehati umara.” Padahal sudah kongkalikong.

Ulama Pecah Karena Pilpres?
Pertanyaan: Ada Ittifaq Ulama, ada Ijtima’ Ulama, ada Majelis Ulama. Apakah ulama sudah pecah karena pilpres? Apakah ulama harus ikut politik atau sebagai panutan umat?
Jawaban Syaikhina Muhammad Najih: Ini pertanyaan gimana ya? Terserah yang menafsiri masing-masing. Apakah pecah ya memang pecah. Tapi kalau ulama yang konsisten saya kira tidak pecah. Saya akan membantu yang lebih ringan madlaratnya. Rezim sekarang membantu Cina besar-besaran, membantu infrastruktur besar-besaran, menggusur banyak masjid. Nanti menyembelih Islam dengan gampangnya. Klo dulu PKI kesulitan menyembelih ulama karena belum baik jalannya, sekarang tinggal maju saja.
Infrastruktur itu hutangnya banyak dengan Cina. Uganda sudah menggadaikan negaranya kepada Cina. Jadi Cina besar-besaran mencaplok Asia-Afrika. Kalau dulu dikatakan Indonesia mau dijadikan “Tibet kedua”. Bukan hanya itu saja. Negaranya sudah akan digadaikan menjadi tempat Cina. Lha Cina sekarang ingin menggantikan etnis Sunda. Makanya infrastuktur dibangun besar-besaran agar ada kereta super cepat antara Jakarta dan Bandung untuk hal itu.
Jadi kita bukan fanatik Prabowo mesti orang shalih, bukan. WaLlahu A’lam kita tidak tahu. Tapi kalau habib ini mestinya kalau ikut Habib Rizieq mestinya ittiba’ pada Habib Rizieq saja.

Duduk Bersama Tokoh Islam Nusantara (?)
Pertanyaan: Kalo memag isnus visi-misinya tdak sesuai dg ajaran islam, knapa tdak diajak duduk bersma oleh pra tikoh2 itu? Krn msyarakat bwah buta masalah tema tersebut. Bagi masyrakat bawah yg penting islam berjalan di masyarakat. Klo yg disampaikan ke masyarakat msalah pro-kontra antar ulama maka masyarakat kmbali bingung.
Jawaban Syaikhina Muhammad Najih: Saudara-saudara. Kalau kita musyawarah siap-siap saja, tapi masalahnya ketika publikasi atau yang men-shooting kadang-kadang kalau mereka sudah kalah nanti dipublikasikan kita yang kalah. Ini sering terjadi. Seperti dulu Said Aqil dihakimi di rumahnya Kiai Ali tapi seolah-olah Said Aqil yang menang. Bolak-balik selalu begitu. Said Aqil banyak memakai diplomasi. “Saya bukan Syi’ah”. Padahal sudah jelas-jelas banyak bukti video bahwa dia orang Syi’ah. Saya sendiri sudah lama sekali melawan Said Aqil.
Jadi masalahnya ada pada publikasi, yang meliput dan sebagainya. Kita kalah sekali di media. Kalau masyarakat yang datang sendiri AlhamduliLlah. Seperti kita dulu di universitas di Malang bersama Kiai Akhyar, kita diajak agar menerima Islam Nusantara. Dia berdalih sekarang ini Indonesia mau dijadikan rebutan oleh radikalis, artinya Wahabi. Saat itu saya memberi pernyataan diplomasi, kalau Islam Nusantara dipegang selain liberal maka saya menerima. Maksudnya kalau dipegang sama orang liberal saya tidak menerima. Tapi di sebuah situs dikatakan saya sudah menerima.
Jadi masalahnya kalau bermusyawarah liLlahi Ta’ala oke.
أَنْ تَقُومُوا لِلَّهِ مَثْنَى وَفُرَادَى ثُمَّ تَتَفَكَّرُوا [سبأ : 46]
Di Al-Quran dikatakan, “Ayo dzikir satu atau berdua.” Musyawarah yang niatnya liLlahi Ta’ala oke. Tapi kalau musyawarah karena ada kepentingan maka justru kita di dalam mungkin menang tapi diluar kita dikalahkan. Permainan-permainan itu kita harus tahu sampai sekarang.

Sumbar dan Riau Menolak Islam Nusantara
Pertanyaan: Ranting NU Alas Tengah: Kalau Sumbar dan Riau menolak Islam Nusantara, mengapa Jawa tidak ikut? Paling tidak kita harus berdoa agar tokoh NU yang keluar dari sikap pendiri NU dikenakan adzab oleh Allah Ta’ala, karena dia kurang ajar. NU sudah dijual. GP Ansor sekarang sering membela yang diluar Sunni. Bagaimana pertimbangan kita?
Jawaban Syaikhina Muhammad Najih: Ini pendapatnya benar, akan tetapi masalahnya Anda kan Ranting NU. Kalau Anda terlalu keras anda dicopot. Kalau siap dicopot AlhamduliLlah lakukan saja. Tapi repotnya tadi, postingannya seolah-olah kita pemberontak, radikal, ditunggangi HTI, dst. Itu masalahnya. Repotnya itu di publikasi. Kita sekarang ini sudah niat membahas problematika Islam Nusantara berarti kita menolak, kan? Sudah sepakat sekarang ini kita menolak, AlhamduliLlah. Argumen-argumennya sudah terlalu banyak. Cuma kubu sana saja yang:
صُمٌّ بُكْمٌ عُمْيٌ فَهُمْ لَا يَعْقِلُونَ [البقرة : 171]
Silahkan Ranting NU berdoa begitu, yang penting harus waspada. Saya tadi sudah bilang mereka itu pake preman, pake teroris. Jadi teroris itu bukan hanya radikal atau ISIS saja. Teroris itu ya komunis. Teroris pertama itu Yahudi.
وَيَقْتُلُونَ الْأَنْبِيَاءَ بِغَيْرِ حَقٍّ [آل عمران : 112]
Mereka yang sukanya membunuh para nabi. Teroris itu semua bikinan Yahudi.
Menanggapi Habib Abdurrahman Ba’ali bahwa kita harus wafa’ bil ‘ahdi (menepati janji), harus istiqamah (konsisten), harus ta’awun (bekerjasama), dsb. Wafa bil ‘ahdi itu kita menerima Pancasila yang sebelum reformasi, karena di reformasi Pancasila direvisi. Ini yang berbahaya. Di Undang-undang Dasar 1945 syarat presiden harus warga indonesia asli. Ini dicoret, berubah syaratnya harus punya KTP Indonesia. Inna liLlahi wa inna ilaihi raji’un. Ini semua bukan hanya ulah Amien Rais saja. Semua waktu itu yang ada di DPR-MPR terlibat dosanya. Marilah kita taubat, marilah kita kembalikan Pancasila kepada aslinya. Kita pakai warga Indonesia asli itu kemenangan kita. Jangan sampai orang Cina. Tapi kalau direvisi maka orang Cina seperti Ahok bisa jadi presiden. Na’udzu biLlah min dzalik.
Banyak revisi dan perubahan itu, banyak sekali. Masalah ekonomi dan seterusnya. Orang Cina seenaknya punya kekuatan, punya ekonomi besar-besaran. Orang Cina bisa punya tanah seluas-luasnya. Orang bukan Indonesia bisa menguasai sepertiga Indonesia. Na’udzu biLlah. Ini sudah terjadi.

Pemanfaatan Bunga Bank
Pertanyaan: Rizki kita dari bunga bank jika digunakan untuk membeli bensin dan sebagainya, bukankah itu sama saja dengan memanfaatkannya? Apakah hal tersebut tidak termasuk menggunakan rizki yang syubhat?
Jawaban Syaikhina Muhammad Najih: Hal tersebut memang memanfaatkan, akan tetapi selama kita tidak punya simpanan banyak di bank atau tidak banyak-banyak. Tadi sudah saya katakan banyak boleh asal darurat. Jadi kalau Anda sebagai pedagang harus punya rekening, jika hanya untuk sekedar transfer jelas boleh. Kalau Anda menyimpang banyak-banyak disitu maka itulah yang membantu riba. Tapi kalau sekedar jual beli, maka semua uang dari bank. Ini semua kondisi darurat, maka tidak masalah. Yang penting tidak menyimpan banyak-banyak di bank. Kalau simpanan sedikit saja untuk kepentingan darurat rekening maka boleh, karena simpanan rekening seperti itu kan tidak jalan. WaLlahu A’lam. Saya tidak tahu. Kalau menyimpan sedikit saja karena darurat dan sesuai kadar daruratnya semoga dimaafkan selama ada shadaqahnya.
Jadi maksudnya hukum asli bunga bank tetap haram, akan tetapi kita sering kedatangan dan diberi uang oleh seseorang. Maka jelas dia punya rekening. Ini maklum. Itu merupakan hal yang darurat atau gimana, hal yang tidak bisa dihindari.

Pemaknaan Islam Nusantara
Pertanyaan: Pemahaman Islam Nusantara yang benar itu bagaimana? Karena ada ikhtilaf antara para tokoh ulama. Disamping itu konon ada hadits bahwa ulama yang dekat penguasa adalah pencuri, di satu sisi tanpa ulama penguasa menjadi diktator. Bagaimana solusinya?
Jawaban Syaikhina Muhammad Najih: Islam Nusantara yang benar dan tidak kita permasalahkan adalah Islam Nusantara yang artinya Islam yang alus dan tidak radikal. Itu benar. Dalam arti orang Jawa ini punya tradisi yang terkadang syirik, pemborosan, keplekan (judi), minum khamr, sinden-sinden, joget-jogetan, dan seterusnya. Lha dalam Islam Nusantara ini tradisi ada syiriknya dibuang lalu diganti tahlilan, dzibaan, marhabanan, dan seterusnya. Itulah Islam yang InsyaAllah benar. Artinya Islam yang dibawa oleh ulama Nusantara, oleh para Walisongo. Ini kita terima.
Tapi kalo Islam Nusantara diartikan kebebasan, semua agama dibenarkan, tradisi-tradisi yang baru seperti menjaga gereja, dan bid’ah yang dubuat oleh tokoh-tokoh IsNus maka kita tolak. Apalagi mengatakan semua yang baik dengan kita dianggap saudara. Yang baik dengan kita boleh dipilih walaupun non-Muslim. Itu yang kita tolak. Islam Nusantara yang benar tadi sudah ditunggangi oleh liberal, itu masalahnya. Bukan masalah pro dan kontra. Jadi memang kita menolak, bukan sekedar kontra.
Ulama dekat penguasa adalah pencuri, benar menurut hadits. Tapi di satu sisi tanpa ulama penguasa menjadi diktator. Bagaimana solusinya? Semestinya kita tidak harus menjadi mitra penguasa yang diktator itu. Justru kalau kita menjadi mitranya maka kita akan menjadi masukan dalam kediktatoran, menjadi kedok dan alat saja kita ini. Menurut saya diktator itu harus kita lawan dengan menjauhi mereka, jangan memilih mereka. Kalau mereka menggunakan ulama ini hanyalah tipu muslihat belaka. Dan mereka mencalonkan dan menggiring bapak Ma’ruf Amin kan sudah mepet sekali, tidak dari pertama. Megawati pernah bilang PDI-P tidak butuh suara umat Islam. Tapi dengan cara-cara begitu itu akhirnya umat Islam sebagian besar NU mungkin, semoga tidak dan hanya elitnya saja, merasa harus membela jokowi karena ada Kiai Ma’ruf. Tapi itu kan kepepet. Mendadak sekali. Itu jelas-jelas permainan. Kita harus waspada.
Kenapa bapak Ma’ruf Amin bisa begitu? Karena sebelumnya Kiai Ma’ruf sudah diberi mandat untuk masuknya bank-bank rakyat di pesantren. Tidak dengar itu? Di Sarang tidak ada. Di Jombang, bahkan di Jawa Barat sudah banyak. Ada bank-bank kemasyarakatan dikelola oleh pesantren, itu dikelola oleh ma’ruf amin. Makanya waspada dengan jaringan bank-bank itu. Jangan kita yang mengurus, kita saat darurat dan seperlunya saja. Tidak usah punya bank. Kalau punya bank nanti kita yang menjadi korbannya diktator, komunis, dan seterusnya.

Banser Menjaga Gereja
Pertanyaan: Banser menjaga gereja ada yang membolehkan dengan alasan menjaga keamanan dan toleransi. Ada yang mengharamkan karena beda agama, lakun dinukum waliya din. Tindakan yang benar bagaimana?
Jawaban Syaikhina Muhammad Najih: Tidakan yang benar adalah kita mengharapkan aslinya mungkin mereka punya alasan menjaga negara, UUD 45, dan seterusnya. Akan tetapi mereka (aparat keamanan negara) saja sudah cukup. Kenapa kita ikut menjaga? Dan kenapa Polri juga tidak adil? Kenapa gereja yang dijaga, tapi masjid kok tidak dijaga? Seolah mereka punya opini, bahkan bukan seolah-olah lagi, bahwa radikal itu hanya di Islam saja. Teroris hanya di Islam saja. Lho, PKI apa bukan teroris? Apakah komunis bukan radikal? Ini semua sudah terkena virus komunis, liberalis, dan seterusnya.

Islam Nusantara Menggerus Ghirah Islamiyah
Pertanyaan: Bukankah dalam makalah ini disebutkan bahwa beberapa hal yang tidak sepihak dengan kita itu dikarenakan beberapa orang lberal yang menumpang di Islam Nusantara. Lalu mengapa Islam Nusantara yang disalahkan?
Selanjutnya, di awal makalah disebutkan bahwa Islam Nusantara sama dengan Walisongo. Bukankah cukup dengan menyingkirkan mereka yang kontroversial sama seperti masuknya liberal ke beberapa mazhab fiqih?
Jawaban Syaikhina Muhammad Najih: Saya jawab satu-satu. Ya maafnya, tadi sudah saya bilang berulang-ulang Islam Nusantara itu terkadang maknanya benar, yaitu menghidupkan tawassul, dzibaan, thariqah, ngaji kitab, dsb. Sudah maklum. Di negara-negara lain sekarang yang sudah jarang itu ngaji kitab, apalagi dzibaan dan seterusnya. Hal ini bagus dan itu yang dibawa oleh Walisongo. Tapi masalahnya Islam Nusantara yang sekarang ini proyek dari Said Aqil dkk yang disetujui oleh Jokowi, “Islam kita ini toleran dan ramah tamah”, biar kita menghadapi komunis dan Cina tidak garang seperti dulu. Tidak punya ghirah Islamiyah.
Dulu zaman 60-an apalagi zaman 50-an atau zaman Belanda bangsa kita walaupun orang yang tidak shalat saja kalau tahu Islam dicaci-maki langsung marah dan berani membunuh yang mencaci-maki Islam itu. Dulu kan begitu. Sekarang dihilangkan ghirah Islamiyahnya. Sudah terdengar kemana-mana bahwa ciri khas Islam Nusantara adalah mauludan dan dibaan yang kelihatannya ramah, tapi kalau Islam dicaci-maki lalu marah. Kemarahan ini yang mau dihilangkan.
Jadi Islam Nusantara asalnya bisa dikatakan baik, tapi setelah ditunggangi liberal ini maksudnya agar kita tidak punya marah. Tidak punya ghirah Islamiyah sama sekali. Semuanya dianggap baik. Bahkan kita bisa dzibaan di gereja. Orang gereja nanti bisa nyanyi-nyanyi di masjid. Na’udzu biLlah min dzalik.
Seperti itulah. Ketika komunis akan datang kita katakan sebagai saudara, padahal dia membunuh teman. Bukan membunuh saja, bahkan masjid-masjid dihilangkan. Sejarah ini akan dihilangkan di dalam ‘izzul Islam wal Muslimin di Indonesia. Kita tidak punya negara Islam. Zaman dulu kita punya kerajaan Islam tapi ya mlempem dan seterusnya. Kita ini dididik ulama dulu untuk benci kepada penjajah, keecuali yang memang dimasukkan ke penjajah. Ada kiai yang dimasukkan ke kota untuk menjadi naib, tapi itu politik saja biar tahu rahasia-rahasia Belanda. Dulu canggih malah. Sekarang ini amburadul, ini adalah yang membahayakan.
Makanya kita tolak Islam Nusantara dengan artii bid’ah yang baru-baru ini. Bukan yang shalat, tahlilan, dan dzibaan itu.
Tentang menyingkirkan liberal dari tubuh NU, yang kontroversial ini sudah menguasai NU. Inilah yang jadi masalah. Kita tidak bisa apa-apa. Makanya sebagian ingin buat NU tandingan, saya bilang jangan, tidak ada gunanya. Disana dananya lebih kuat, kita tidak bisa apa-apa. Disana itu tidak pernah cari uang dari rakyat, tapi selalu punya uang. Kalau kita ini kan masih cari infaq seperti AUTADA ini. Kalau sana tidak, ada yang membiayai. Kita dalam publikasi akan selalu kalah. Sudahlah, kita apa adanya. Inilah NU yang substansi, yang sana NU yang cari uang. Begitu saja.
كمبتغي جاه ومالا من نهض
Kalau kita:
كمبتغي صفاء وحسن خاتمة، إن شاء الله
Kita cari kebenaran, cari kemurnian, dan cari akidah yang benar agar anak cucu kita terselamatkan. Allahumma amin.

Bahtsul Masail PBNU Jateng tentang Islam Nusantara
Pertanyaan: Bagaimana tanggapan kiai terkait hasil keputusan bahtsul masail PBNU Jawa Tengah terkait Islam Nusantara?
Jawaban Syaikhina Muhammad Najih: Saya bukan anggota NU, jadi saya tidak tahu keputusannya. Tapi paling-paling ya menerima dan mendukung karena ada proyek dan ada dananya. Cari ibarat (dalil) yang membenarkan. Dan itu, Ya Allah, paling-paling dalilnya adalah:
وَمَا أَرْسَلْنَاكَ إِلَّا رَحْمَةً لِلْعَالَمِينَ [الأنبياء : 107]
“Dan tiadalah kami mengutus kamu, melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam.” (QS. Al-Anbiya: 107)
Padahal itu artinya apa? Ayat sebelumnya berbunyi:
وَلَقَدْ كَتَبْنَا فِي الزَّبُورِ مِنْ بَعْدِ الذِّكْرِ أَنَّ الْأَرْضَ يَرِثُهَا عِبَادِيَ الصَّالِحُونَ [الأنبياء : 105]
“Dan sungguh telah Kami tulis didalam Zabur sesudah (Kami tulis dalam) Lauh Mahfuzh, bahwasanya bumi ini dipusakai hamba-hambaKu yang saleh.” (QS. Al-Anbiya: 105)
Jadi orang yang shalih adalah yang menguasai bumi ini. Menurut hadits-hadits adalah zaman Imam Mahdi. Jadi orang shalih dijamin Allah masih ada dan nanti sewaktu-waktu akan berkuasa di bumi. Sebelum Imam Mahdi tentunya ada, namun entah dimana. Kalau di hadits-hadits ada di Khurasan dan seterusnya. Tidak ada haditsnya di Indonesia akan ada Negara Islam, itu tidak ada. Tapi kita tidak boleh putus asa. Kita walaupun bukan Negara Islam, bukan semuanya hamba-hamba yang shalih, semoga kita berada seperti halnya harapan ulama-ulama dulu bahwa kita orang-orang shalih akan menguasai bumi Indonesia lalu menghantarkan Imam Mahdi. Allahumma amin. Itu adalah harapan kita. Semoga dikabulkan oleh Allah.

Mahar dengan Melantunkan Ayat Al-Quran
Pertanyaan: Bagaimana ketika wanita meminta mahar kepada calon suaminya dengan lantunan ayat Al-Quran?
Jawaban Syaikhina Muhammad Najih: Mahar tersebut ada di hadits:
أنكحتك مع ما معك من القرآن
“Aku nikahkan dirimu dengan mahar hafalanmu dari Al-Quran.” (HR. Abu Ya’la, juz 13 hlm. 435)
Misalnya dulu ada perempuan ingin menghibahkan dirinya kepada Rasulullah ShallaLlahu ‘alaihi wa Sallama. Rasulullah melihat dari atas, tengah, dan bawah tidak ada yang bikin hasrat Kanjeng Nabi. Akhirnya ada shahabat yang melarat berkata, “Kalo Anda tidak mau menikahinya, nikahkan dengan saya saja dengan izin Anda, Ya Rasulullah.” Rasulullah bertanya, “Apa yang kamu punya?” Dia menjawab, “Satu sarung saja.” Sarungnya besar tapi satu, tidak ada tambahannya. Maka Rasulullah bersabda, “Iltamis walau khataman min hadidin (nikahilah meski dengan mahar sebuah cincin besi)”. Akhirnya dicari dari keluarganya tidak ada. Dia lalu berkata, “Ma indi illa izari (saya tidak punya apa-apa kecuali sarung saya ini).” Rasulullah bersabda, “Wah, kalau dibagi dua gimana jadinya? Kelihatan nanti auratnya.”
Akhirnya Kanjeng Nabi bertanya, “Apa yang kamu hafal dari Al-Quran?” Dia menjawab, “Al-Baqarah, Ali Imran, dan Al-Nisa.” Akhirnya Rasulullah menikahkannya.
أنكحتك مع ما معك من القرآن
“Aku nikahkan dirimu dengan mahar hafalanmu dari Al-Quran.” (HR. Abu Ya’la, juz 13 hlm. 435)
Mahar berupa Al-Quran ini artinya Al-Quran diajarkan hingga hafal, dibacakan sedikit-sedikit biar hafal. Kalau dibaca saja apalagi dengan lagu, itu bukan termasuk mahar. Masa’ ada orang menikah maharnya membaca dengan lantunan Al-Quran? Kan tidak ada. Yang dimaksud adalah disuruh menghafalkan. Hafalan lelaki diajarkan kepada istrinya.
Selanjutnya Al-Quran tidak boleh dibaca ketika bersenang-senang, maksud guru saya tadi ketika sibuk makan dan minum. Resepsi kan makan minum, itu maksudnya. Tapi kalau sekedar membaca di kamar dan punya wudlu, waktu akan kumpul dengan istrinya, saya kita tidak apa-apa. Asal tidak pas kumpul saja.

Menghindari Vaksin
Pertanyaan: Dalam bahayanya Islam Nusatara masalah vaksin itu sudah mendunia bahkan di desa-desa. Seakan diwajibkan oleh pemerintah setempat. Lalu bagaimana cara menghindari dan memberantas tradisi demikian sebagai generasi NU?
Jawaban Syaikhina Muhammad Najih: Tadi dalam Mabadi’ Khairu Ummah disebutkan istilah ta’awun. Saya sangat berterima kasih, ini pencerahan. Mungkin bisa dimusyawarahkan nanti oleh pengurus AUTADA. Bahwa vaksin sudah mendunia tadi artinya sudah nasional dan memasyarakat di Indonesia. Di Eropa dan Amerika tidak ada vaksin itu.
Jadi cara menghindarinya adalah Anda tegas kalau diminta, katakan bahwa ini adalah tanggung jawab saya. Masalah kesehatan itu tidak ada paksaan. Saya menjadi orang tua bertanggung jawab sepenuhnya. Saya menolak untuk vaksin. InsyaAllah dicarikan madu atau apalah yang membuat anak sehat. Air susu ibu (ASI) itu yang paling sehat untuk membuat anak sehat. Kita sering melupakan air susu ibu. Ibunya saja yang diberi makanan yang sehat-sehat biar air susunya sehat dan bisa menyehatkan anaknya. Saya kira vaksin itu tidak baik.

Menanggulangi Islam Nusantara
Pertanyaan: Bagaimana cara kami menyebarkan kepada saudara-saudara NU agar tidak terjerumus dalam bahaya Islam Nusantara sebagai bukti ta’awun kita dalam Mabadi’ Ahlissunnah (sifat-sifat pokok Ahlussunnah)?
Jawaban Syaikhina Muhammad Najih: Suruh baca buku ini, dan seterusnya. Suruh waspada bahwa organisasi melindungi hal yang disusupkan kepadanya itu biasa. Zaman Ali dan Muawiyah saja dulu ada susupan. Ada pemberontak kepada Utsman. Itu biasa. Marilah kita waspada. Marilah kita pondokkan saja anak-anak kita, InsyaAllah pondok yang kiainya paham tentang susupan-susupan itu. Baik dengan luar tapi tidak terlalu baik. Jangan terlalu percaya dengan luar. Marilah kita percaya dengan apa yang kita miliki. Pesantren, aset-aset pesantren, dan akhlak karimah. Bagaimana kita menjaga anak-anak kita agar ta’allum li ajliLlah (belajar untuk Allah), bukan karena pangkat, bukan karena menjadi pengurus, apalagi kemudian dibawa ke partai, dan seterusnya.

Ikhtitam
Setelah sesi tanya jawab selesai, Syaikhina Muhammad Najih memberi tambahan terakhir sebagai penutup pemaparan beliau. Berikut cuplikannya:
“Saya malu sebetulnya kesini. Tadi saya disindir gimana tanggapan Anda dengan keputusan PBNU Jateng tentang Islam Nusantara. Saya bilang paling-paling membenarkan atau cari pembenaran. Saya itu malu sebagai orang Jawa Tengah karena orang Jateng itu pedenya besar. Dari dulu PKI ini memberontak di Madiun, tapi yang besar itu di Jateng. Di Blora. Purwodadi, dan seterusnya. Kadang kita terkecoh. Muhammadiyah itu munculnya dari Jogja, tapi besarnya di Solo. Muncul itu belum tentu yang paling besar. Munculnya PKI di Madiun, tapi besarnya di Jawa Tengah. Jadi saya ngrasani NU mlempem, apalagi NU Jawa Tengah. Saya merasa begitu. Tadi dibilang Nuril Arifin tetangga saya. Memang dia di Semarang. Tapi dulu dia ketuanya pasukan berani mati, maksudnya semua orang sudah tahu bahwa komandonya dari Jawa Timur. Tapi walhasil begitulah, kami malu orang Jateng belum bisa membuat seperti AUTADA ini. Kami hanya bisa bil lisan. Jadi kalau ditanya bagaimana caranya menyebarluaskan, ini sudah ada AUTADA. Tinggal tanya sama AUTADA agar disebarkan dai-dai agar waspada umat ini dari bahaya komunis, kristenisasi, dan abangan.
PDI ini sudah bekerjasama dengan partai komunis Cina. Ini mengerikan sekali kalau kita tahu. Reklamasi ini tdak hanya di Jakarta, tapi dimana-mana. Mereka ini ingin Indonesia dijadikan Singapura. Yang adzan tidak boleh keras, dan seterusnya. Saya pernah di Singapura melihat kuburan orang Islam dijadikan taman kota. Tanyakan orang Madura yang banyak di Singapura. Itu bisa ditanyakan. Ini mengerikan sekali.
Jadi saya salut sekali dengan himbauan terakhir agar waspada dengan rezim sekarang ini. Walaupun kita tidak tahu kalau diganti apakah bisa merubah, tapi InsyaAllah karena ada Habib Rizieq dan habaib lain dari orang-orang Islam kita harus husnuzzhan. Kita ini susahnya yang Ahlussunnah dan ikut Walisongo diliberalkan, yang anti tahlilan yang mengikuti paslon kedua. Susah. Kalau dari kita tidak ada yang di paslon kedua, apa jadinya negara ini? Andaikan paslon nomor dua ini menang. Kita harus pakai politik, disana dan disini. Seperti zaman dulu, ada yang melawan Belanda, ada juga yang gaya pro Belanda. Kalau gaya pro saja silahkan, tapi hatinya sama kita.

Kajian Ilmiah, Karya Syaikh Najih Versi Indonesia

Seminar Kebangsaan di PP. Sidogiri, Syaikhina KH. M. Najih Maimoen: Ketika Kiai dan Santri Ikhlas Berkiprah Pasti Ada Barokahnya

Pada hari Kamis kemarin tepatnya tanggal 16 Sya’ban 1439 H/2 Mei 2018 H, Syaikhina Muhammad Najih untuk kesekian kalinya diundang oleh Pondok Pesantren Sidogiri untuk menjadi narasumber dalam acara seminar yang diselenggarakan oleh panitia. Kali ini beliau diundang dalam acara Daurah Kebangsaan bertajuk “Revitalisasi Ghirah Islamiyah-Wathoniyah” yang bertempat di aula sekretariat PP Sidogiri. Acara ini merupakan salah satu rangkaian acara dalam rangka Hari Ulang Tahun PP Sidogiri ke-281 dan Ikhtibar Madrasah Miftahul Ulum ke-82. Selain Abah Najih, tokoh lainnya yang diundang sebagai narasumber adalah Prof. Ahmad Mansur Suryanegara rektor Universitas Padjajaran sekaligus penulis buku sejarah monumental “Api Sejarah” yang ramai menjadi bahan perbincangan baru karena memuat banyak fakta dan penafsiran sejarah tentang perjuangan ulama dan santri dalam mengembangkan Islam di Nusantara mulai zaman kerajaan Islam hingga masa kemerdekaan dan modern di Indonesia.

Dalam daurah kebangsaan tersebut, Syaikhina Najih banyak menambahi dan melanjutkan perbincangan tentang sejarah ulama dan santri yang berkiprah dalam sejarah mencapai dan mempertahankan kemerdekaan Indonesia yang telah disampaikan terlebih dahulu oleh Profesor Mansur. Berikut kutipan kuliah beliau berdurasi kurang lebih satu setengah jam tersebut:

Ulama yang Memperjuangkan Indonesia sudah Puncak

“Walhasil, dari tulisan yang saya konsepkan itu, bahwa kami atau saya Muhammad Najih punya asumsi atau pemikiran bahwa para ulama yang mempertahankan Indonesia dan kemerdekaan Indonesia ini adalah ulama-ulama yang menurut saya sudah puncak baik keilmuannya, kearifannya, kewirainya, dst. Disana ada Hadlratus Syaikh Hasyim Asy’ari. Ini merupakan ulama besar dan mutakharrij (alumni) pondok-pondok atau kiai-kiai besar, wa bil khusus KH Kholil Bangkalan. Ketika di Makkah Mukarramah beliau juga mengaji pada masyayikh besar. Sebelum KH Hasyim Asy’ari ada Kiai Nawawi Banten yang juga murid KH Kholil Bangkalan. Ini semuanya memperjuangkan untuk kemerdekaan, artinya mengusir Belanda dengan cara masing-masing. Kalau Kiai Nawawi dengan kitabnya yang penuh dengan Ghirah Islamiyah Imaniyah, yakni bughdl (benci) kepada kufur. Sedangkan Kiai Kholil dengan mengajar dan mengisi pondok pesantren dengan ngajar atau ngaji yang salaf dan jauh dari ilmu umum dan sekolah, dst. Namun juga ada yang masuk ke pemerintahan, ada yang sekolah umum seperti Muhammad Hatta. Muhammad Hatta itu putranya seorang alim, lalu belajar di sekolah Belanda. Mr. Muhammad Roem juga santri tapi belajar atau sekolah di Belanda, dan menurut saya orang yang berjasa adalah Mr. Roem itu.
Saya pernah membaca sejarah, entah di buku Api Sejarah ini ada atau tidak, bahwa Pancasila adalah buatan orang macam-macam, tapi yang pokok yang saya tahu itu dari Soekarno. Dia menggali dari seorang pengarang dari zaman Majapahit. Pancasila sudah ada zaman Majapahit. Jadi konsepnya Pak Karno itu bukan “Ketuhahan yang Maha Esa” tapi “Peri Ketuhanan”, “Peri Kemanusiaan”, “Peri Keadilan”, dst. Hanya “Pri Ketuhanan”, yakni maksudnya bangsa Indonesia itu punya tuhan, tapi yang dari Hindu Budha ketuhanan aslinya yang punya tuhan, entah itu Allah Ta’ala atau yang lainnya. Yang penting ada tuhannya. Dan memang tuhan terbesar itu Allah. Sang Hyang Widhi dalam bahasa mereka. Jadi asalnya hanya “Pri Ketuhanan”, lalu oleh Mr. Muhammad Roem ditambah “Yang Maha Esa” yang bermakna tauhid. Andaikan tidak ada Mr. Roem maka mungkin hanya “Pri Ketuhanan” atau “Ketuhanan”, belum sampai tauhid. Dia asalnya dari Pekalongan, dan Pekalongan itu terkenal kota santri.

Pancasila Tidak Mungkin Komunis

Saya baca juga di facebook entah tulisannya siapa, dia merangkum pidatonya Gus Dur mulai akhir 80-an atau awal 90-an ketika awal dia jadi ketua PBNU. Disitu ada pernyataan, saya perhatikan, bahwa Pancasila adalah kompromi dari beberapa ideologi. Ada Islam, kapitalis, sosialis, dan komunis. Jadi keadilan sosial itu adalah ideologi komunis, sosialis, atau sak bangsane itu.
Akan tetapi walau begitu, kita harus bersyukur bahwa yang ikut menunggu panitia kemerdekaan yang membahas asas-asas negara seperti yang disebut Pak Mansur tadi adalah seperti Wahid Hasyim, Ki Bagus Hadikusumo dari Muhammadiyah, dst. Artinya dari kiai. Perwakilan Kristen hanya ada satu. Sesuatu yang melibatkan ulama atau kiai menurut persepsi kita kaum santri atau bahasa sekarang kaum nahdliyyin itu pasti ada baiknya, tidak mungkin sesat. La tajtami’u ummati ‘ala dlalalah (umatku tidak akan sepakat dalam kesesatan). Walaupun disitu campur ideologi, namun ulama kita mesti mentakwil atau punya takwilan ke Islam. Artinya tidak mungkin memaknai “Keadilan Sosial bagi Seluruh Rakyat Indonesia” dengan sistem komunis. Manusia tidak punya hak milik, semua milik negara atau pemerintah. Kekayaan miliki pemerintah. Ini gak mungkin, kan? Mereka adalah orang yang baca kitab Fathul Qarib, Fathul Mu’in, dan Fathul Wahhab. Masa’ menafikan milkiyyatul afrad (kepemilikan pribadi)? Ini hal yang mustahil. Konsep komunis dan sosialis itu gak mungkin, itu permainan dari yang punya konsep. Kepemilikan mau dihilangkan itu gimana? Tapi memang Islam tidak senang dengan monopoli, ketidakpedulian dengan rakyat, dan tidak mau membayar zakat. Jadi keadilan sosial itu ya zakat bagi yang Muslim. Yang kaya memberi zakat kepada fakir miskin yang Muslimin. Kita husnnuzzhan begitu, kan? Masa’ kiai nasionalismenya mengalahkan keagamaaanya? Ini kan tidak mungkin. Mereka seperti difirmankan Allah Ta’ala:
فِطْرَتَ اللَّهِ الَّتِي فَطَرَ النَّاسَ عَلَيْهَا [الروم : 30]
“Fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu.” (QS. Al-Rum: 30)
Mereka dididik di pesantren yang bermadzhab Syafi’i, dan berakidah tauhid. Laa ilaha illaLlah, kita harus menyembah Allah. Muhammad RasuluLlah, kita harus mematuhi perintah rasul dan mengikuti jejaknya.
Adapun KH Wahid Hasyim dan sebagainya sudah memperjuangkan agar syarat presiden harus Islam yang ditolak oleh kaum nasionalis. Itu ngalahnya beliau, bukan ikhtiar. Kan sudah memperjuangkan. Banyak musyawarah yang condong dilobi oleh kaum nasionalis sehingga bisa kalah. Bisa juga pakai uang dari Jepang atau Belanda, dst.
Kemudian ulama kita tadi disampaikan oleh Profesor Mansur memperjuangkan NKRI. Konferensi Meja Bundar itu saya kira pimpinannya mungkin Pak Natsir, tapi di belakangnya atau yang mensupport agar Indonesia diakui dan memiliki kekuasaan itu ada tokoh lagi. Saya lupa siapa namanya, namun Pak Natsir tidak sendirian.

Surabaya, Peristiwa 10 November, dan Hari Santri

Jadi perjuangan kita ini sudah sangat luar biasa. Kemudian KH Hasyim Asy’ari berfatwa wajib jihad, ini karena beliau tahu bahwa Sekutu baik Inggris, Jerman, Itali, dan seterusnya itu ingin menguasai kembali Surabaya. Sedangkan Surabaya adalah simbol Aswaja sekaligus ibukota Walisongo dan komunitas pengikutnya. Ada Sunan Ampel, walaupun bukan yang pertama dari Walisongo tapi dia adalah penunggul. Dia yang benar-benar menguak dakwah kemana-mana serta mendirikan pesantren Ampel Denta yang sekarang masih eksis, artinya syi’arnya masih bisa kita rasakan sampai sekarang. Ini kalau jatuh di tangan Sekutu maka pasti daerah lain akan gampang dikuasai.
Jadi orang Belanda dan Kristen sudah mempelajari mana satu daerah yang sangat strategis dimana kalau dikalahkan pasti yang lain akan ikut. Ini sudah tau sekali. Kekuatan di Jawa ini adalah Surabaya.
Saya sudah pernah diwawancarai oleh majalah Ijtihad Sidogiri, bahwa Hari Santri itu bahkan Hari Ulama Kiai itu tanggal 10 November (Hari Pahlawan), tapi di sejarah disebut “Arek-arek Surabaya”. Itu sebenarnya santri yang berani dan jadug (sakti). Yang saya ketahui, yang merobek bendera Belanda itu adalah mertuanya KH Hamid Baidhawi Lasem dari Bojonegoro. Dulu beliau pernah belajar di Pondok Pesantren Termas. Kamarnya itu angker sekali sampai sekarang. Beliau ahli wiridan dan jadug, jarang orang berani masuk kamar itu sampai sekarang. Dialah yang berani merobek, padahal di belakangnya ada tentara Belanda dan Sekutu yang canggih.

Bahaya Laten Komunis dan Cina

Dan perlu saya informasikan disini, pada catatan sejarah yang berbeda, saya diberitahu oleh orang Arab tapi bukan habib. Ada tamu dari Malang, waktu itu datang pada saya masih agak muda. Dia bercerita, “Ati-ati, Gus. Ada istilah bahaya laten. Ada dua, ada komunis, ada Cina. Jangan hanya PKI saja, Cina juga bahaya laten.” Dia cerita bahwa ketika Sekutu datang ke Surabaya, sebelum mereka datang itu orang-orang Cina memecah batu-batu menjadi kerikil lalu ditaburkan di depan rumah umat Islam khususnya bapak-bapak haji karena Surabaya itu tempatnya orang-orang kaya dulu. Zaman Belanda orang Islam banyak yang makmur. Makanya NU berdiri dan kiai berani mendirikan NU karena di belakang kiai banyak pak kaji-pak kaji. Mereka kaya. Bukan pak kaji sekarang yang mengantri sampai 25 tahun. Dulu mereka kaya-kaya.
Saya punya mbah, Kiai Baidhawi sebelum menikah dengan mbah saya dari Blora itu nikah dengan anak kiai yang alim, sakti, dan kaya dari Rembang. Dia berhaji dengan nyarter (menyewa kendaraan. Dia tidak mau ke Semarang, apalagi ke Jakarta. Dia menyewa kapal, kapalnya disuruh ke Rembang. Luar biasa, kayak-kayak membeli kapal. Orang zaman dulu kalau kadung kaya maka kaya sekali karena Belanda dari sisi ekonomi tidak memeras kepada pribumi secara lahiriah. Akan tetapi dia mengambil sumber daya alam tentunya seperti yang disampaikan pak Mansur yaitu dengan membangun rel-rel kereta api. Tujuannya adalah memudahkan pemantauan kiai-kiai yang ingin berjuang khususnya di kota-kota. Makanya kiai itu kebanyakan di desa, karena kalau di kota diawasi oleh Belanda. Kiai Kholil Rembang Kasingan gurunya Kiai Mahrus Lirboyo tidak boleh mengajar Tafsir Jalalain, hanya Alfiyyah saja. Karena kalau baca Tafsir Jalalain khawatir membangkitkan semangat melawan Belanda.

Belanda yang Membesarkan Komunis

Saya setuju itu. Dan menurut saya, saya tambahi, bahwa Belanda-lah yang membesarkan komunis. Jadi komunis sebenarnya kan mazhab baru, dulu-dulu tidak ada. Paham komunis dari Karl Marx. Itu buatan Yahudi. Nah, dia membesarkan komunis di Solo tepatnya. Bahkan tadi Syarikat Islam ada dua. Ada yang kanan, ada yang kiri. Syarikat Islam H. Samanhudi itu kanan, kalau yang kiri itu julukannya ASU. Artinya jadi komunis, di Solo.
Jadi komunis itu dibesarkan. Ada istilah Islam Abangan, ada istilah Islam Santri, ada istilah Priyayi. Ini semua dibesar-besarkan Belanda untuk menghancurkan santri. Snouck Hugronje ingin menghilangkan kesantrian, kemudian menguasai masalah haji dst untuk mengawasi gerakan karena takut Indonesia atau umat Islam belajar di Makkah dan menggerakkan ruh jihad melawan Belanda. Makanya tadi Kiai Nawawi tidak membuat gerakan politik. Kiai Kholil Bangkalan juga tidak. Hanya gerakan mengaji, tapi isinya adalah kita disuruh jauh dari Belanda. Kemudian bangkitlah Pergerakan Nasional.
Di sejarah-sejarah dan saya sudah pernah baca buku Api Sejarah itu sedikit, disitu diterangkan bahwa kebangkitan nasional dimulai oleh Budi Utomo. Yang bikin Ki Hajar Dewantara. Itu sebetulmnya salah sekali, karena Ki Hajar Dewantara itu bukan nasionalis. Dia itu Jawanis, fanatik Jawa. Walaumpun melawan Belanda tapi masih budaya Jawa. Namanya saja Budi Utomo, itu kan sudah kelihatan kejawaaannya. Mungkin itu gerakan nasionalis ala priyayi Jawa. Kemudian yang Islam itu SI (Syarikat Islam) yang kemudian terpecah jadi dua. Tentu yang memecah adalah Belanda, itu maklum. Liciknya Belanda untuk mengikis kesantrian. Jadi Belanda mengkader orang-orang nasionalis bahkan anak-anak kiai seperti Muhammad Hatta supaya menghilangkan jasa-jasa ulama atau santri.
Tadi saya diberitahu protokol untuk membahas setelah kemerdekaan saja. Langsung saja bahwa Kiai Kholil dan Kiai Nawawi berjuang sebagai agamis nasioanalis, artinya memperjuangkan hilangnya atau terusirnya Belanda dari Indonesia, tapi Belanda bisa terusir oleh Jepang. Dia pintar dengan membuat batalion-batalion dikuasai kiai, karena Jepang tahu dia ingin beda dengan Belanda. Tahu kalau Belanda sangat benci kiai dan santri. Santri dilatih menjadi tentara. Tapi AlhamduliLlah, justru latihan itu berdampak baik yaitu para kiai mengusir Sekutu tadi.

Kiai-Santri ketika Berkiprah Pasti Ada Barakahnya

Jadi SubhanaLlah, kiai dan santri yang liLlahi Ta’ala, tadi disebutkan tidak niat jadi PNS, itu kalau berkiprah pasti ada barakahnya. Dulu ada istilah khittah, itu kan banyak kiai masuk Golkar. Pasalnya Golkar itu tempat strategis Kristen untuk berkiprah disana, selain ada sisa-sisa PKI disitu. Jadi kelihatannya mengusir PKI tapi pimpinannya diamankan, dibawa ke Swiss. Dibawa Barat. Yang dibunuh oleh NU-Ansor-Banser itu PKI kroco-kroco, yang kelas kakap diamankan.
Walhasil, saya sampaikan kenapa PKI yang anti kiai, agama, dan pesantren kok bisa besar karena didikan dari Belanda. Kaderasisasi dari Belanda. Sekarang kita AlhamduliLlah sudah besar. sekarng ada Hari Santri. Saya takutnya Hari Santri sama dengan tadi, Jepang beda dengan Belanda. Kalau era sebelumnya, SBY dan Soeharto, tidak begitu senang santri tapi senang Islam. Tadi dikatakan Soeharto membangun seribu masjid, bahkan di Bosnia. Dia senang Islam itu tidak berarti senang kaum santri atau NU, karena dia dulu-dulunya kebanyakan berguru dari Muhammadiyah. Tapi kecilnya Soeharto itu didikan santri. Saya tahu ini karena keturunan dari kiai yang mengajarinya dari kecil itu ada sebagian yang di Sarang. Mbahnya Shalahuddin dekat jembatan Sarang itu.
Jadi kiai itu ketika bertemu Soeharto ketika pertama jadi presiden pesannya, “Hei, Harto! Niruo Sultan Agung Raja Mataram.” Makanya dia lalu membuat masjid-masjid Pancasila, walaupun bukan uangnya Pak Harto sendiri tapi hasil menyunat gaji-gaji pegawai saat itu.
Dulu kalau ada Kiai dari Golkar itu diambilkan dari dana haji yang sekarang jadi dana abadi umat, yang kepengen ditampung oleh era Jokowi untuk infrastruktur bukan untuk pendidikan. Pak Harto untuk Islam, tapi ini pengen untuk infrastuktur, untuk pembuatan jalan. Bisa-bisa nanti menyembelih kiai kalau cinanya sudah ratusan, ribuan, bahkan jutaan. Lama-lama pekerja seksual yang datang dan dijual murah. Itu merusak dan berbahaya sekali.
Jadi yang mendidik memang Belanda dengan liciknya, artinya Jepang merekrut atau menghormati kiai dengan tujuan untuk melawan Belanda kalau mereka datang. AlhamduliLlah, dengan izin Allah Hiroshima dibom dan akhirnya Jepang mundur begitu saja dengan teratur artinya pelan, namun ya masih saja. Jepang kayaknya baik dengan kaum santri, tapi tetap mereka adalah musuh. Buktinya ada Tujuh Kalimat yang disepakati oleh panitia kemerdekaan yaitu “Ketuhanan dengan kewajiban mengamalkan Syariat Islam bagi pemeluknya” ini disuruh dicoret oleh jenderal Jepang. Kelihatannya baik dengan kiai, tapi hatinya tetap busuk kepada kiai dan ulama serta Islam secara umum. Ini mungkin ditekan juga oleh Amerika, karena Amerika sudah menang terhadap Jepang. Maka tadi bahasanya pak Mansur, Soekarno ketakutan. Itu menunjukkan dia juga nggak senang kiai. Dia tidak tahu bahwa Indonesia ini terjaga karena barakahnya kiai. Mereka tidak tahu, seolah-olah yang bikin Indonesia merdeka adalah nasionalis. Padahal dia ketakutan dan ragu-ragu sekali.

Hubungan Ulama dengan Peristiwa Proklamasi

Di catatan sejarah yang memaksa Soekarno proklamasi adalah mahasiswa. Ini bohong. Yang memberitahu saya adalah tetangganya Pak Mansur ini. Dia ketemu dengan Pak Mansur, lalu dia bilang bahwa yang memaksa Soekarno proklamasi adalah ulama-ulama dan kiai-kiai ajengan Sunda di Rangkasbitung. Itu tetangganya. Saya pernah kesana karena suaminya yang dari keluarga situ ada keponakan saya, lalu saya mampir.
Jadi asalnya Soekarno itu ragu. Soekarno itu pernah memang jadi menantunya HOS Cokroaminoto, tapi juga pernah jadi menantunya Belanda. Jangan dipungkiri sejarah. Akhirnya punya istri dari Jepang itu. Yang membuat Soekarno agak baik dan kenal agama adalah ibunya, karena istrinya Rahmawati aslinya dari Riau atau Jambi. Katanya masih ada trah kerajaan entah Melayu atau mana. Jadi ini yang menjadikannya masih punya kebaikan-kebaikan. Anak Soekarno Ada yang pro Hindu Budha atau PKI seperti Sukmawati, Megawati juga. Meragukan Hari Kiamat. Pesantren kita ini dianggap peramal-peramal saja, tidak tahu fakta. Lho, ente yang tidak tahu fakta bahwa Indonesia ini berdiri lewat darah para santri dan ulama. Bapak kamu ragu tentang proklamasi asalnya, yang menyuruh itu adalah dari ajengan kiai-kiai Sunda. Bahkan tetangganya pak Mansur tadi cerita, waktu malam 17 ada istighatsah supaya cepat merdeka. Pak Karno datang membawa anak perempuan. Anaknya menangis, akhirnya diberi susu oleh sebagian kiai. Susu kaleng atau apa.
Jadi kiai-kiai sangat berjasa sekali, tapi karena penulis-penulis sejarah adalah bukan kaum pesantren melainkan nasionalis bahkan ada yang PKI, akhirnya sejarah dihilangkan. Untungnya Soekarno masih hormat dengan Hasyim Asy’ari. Beliau adalah orang yang berwibawa sekali. Ketika Pak Karno jadi presiden, dia cepat-cepat ke Kiai Hasyim Asy’ari. Hubungan Pak Karno dengan Wahid Hasyim ini saingan istilahnya, jegal-jegalan. Pak Karno sering menjegal Wahid Hasyim supaya tidak jadi presiden. Tapi hubungan Soekarno dengan Hasyim Asy’ari baik sekali. Dia pernah ke Jombang. Ini yang cerita saya adalah Kiai Hamid Baidhawi, khali (paman saya) dari ibu. Ceritanya dia sowan kepada Hasyim Asy’ari, lalu Soekarno diberi kesempatan untuk sambutan atau pidato. Saking gemetarnya karena ta’zhim maka tidak berani tampil, malah berkata, “Njenengan mawon.” Akhirnya Hasyim Asy’ari memberi sambutan. Pertama kali yg dikatakan, “Wahai Soekarno! Kenimatan terbesar yang diberikan kepadamu sekarang adalah jadi presiden RI. Syukurilah.”
Untungnya disitu, akhirnya Soekarno dipesan agar alumni pesantren bisa jadi naib dan KUA di seluruh Indonesia. Akhirnya AlhamduliLlah banyak naib-baib waktu itu dari kiai karena itu instruksi dari presiden saking ta’zhimnya. Tapi kemudian ketika dilanjutkan oleh Kiai Wahid Hasyim, mungkin dia ditekan juga karena banyak KUA dari kiai maka sekarang yang jadi KUA harus dari lulusan sekolah. Akhirnya Kiai Wahid Hasyim memasarkan atau mengajak pesantren untuk ada sekolah umumnya. AlhamduliLlah waktu itu banyak yang menentang, namun di era-era setelahnya sudah tidak ada yang menentang lagi.

Sejarah Kiai-Santri Banyak Dihapuskan dalam Sejarah
Jadi saya ulangi lagi, inilah hasil perjuangan kiai dihapuskan dari sejarah. Ini adalah rekayasa dari Belanda yang licik itu. Walaupun Belanda memanjakan urusan ekonomi kepada umat Islam, tapi umat Islam tetap dibuat kalah oleh Cina. Yang diistimewakan tetap Cina. Tapi walaupun begitu yang kaya tadi masih bisa kaya. Luar biasa. Kalau muktamar NU zaman Belanda, Kiai Hasyim Asy’ari dan ketua PBNU dulu (Hasan Basri Gipo) kalau tidak salah dari Sulawesi, dia mukim di Surabaya lalu dijadikan ketua PBNU. Jadi dulu ketua PBNU itu dari orang biasa, bukan orang alim, doktor, atau profesor. Orang biasa namun kaya. Mbah Hasyim tinggal mengetuk rumah-rumah aghniya’, daerah Babat dulu andalannya. “Ji. Ape enek muktamar, Ji. Bantu piro?”
Jadi di belakang NU ada aghniya’, tapi zaman Jepang jadi berat. Tirakat. Tadi diceritakan banyak batalion dipimpin kiai, tapi beras rakyat diambil oleh jepang untuk makan tentaranya. Kita tidak makan apa-apa, tapi kok kuat keluar keramatnya kiai-kiai itu. Tadi keterangan pak Mansur, hanya punya sarung thok, tidak punya senjata maksudnya, tapi kalau sudah kepepet senjatanya keluar.
Jadi ini kalau kita sibuk dengan ilmu agama, murni liLlahi Ta’ala bukan karena PNS, kalau tidak bisa begitu maka paling tidak senang dan mengakui bahwa sistem salaf ini afdhal daripada sistem khalaf/kurikulum, InsyaAllah ada jiwa kesantrian. Kalau kita dianiaya PKI mau bangkit menyembelih kita, InsyaAllah mereka disembelih dulu sebelum mereka menyembelih. Allahumma Amin. Allahu Akbar. Ini Allahu Akbar-nya Bung Tomo. Allahu Akbar adalah kekuatan yang luar biasa. Kalau kita niat ikhlas li i’lai KalimatiLlah, ini akan mengeluarkan karamah-karamah Ilahiyah. Allahu Akbar ini bukan untuk mencari dunia, tapi mencari akhirat. Dan sebetulnya secara strategi politik, kalau kiai-kiai tadi masuk ke Jakarta jadi pemimpin, kata abah saya nukil dari abahnya yakni Kiai Zubair, tentu TNI dikuasai santri. Tapi banyak juga kiai-kiai batalion yang tidak dimasukkan ke TNI. Mbah saya memimpin batalion seratus prajurit, semuanya dimasukkan ke TNI tp beliau tidak masuk. Alasannya mungkin karena ada kesibukan pesantren karena mbah saya alim.

Mbah Zubair sebagai Pimpinan Militer

Mbah saya pernah dicurigai ikut DI/TII karena dalam sejarahnya mbah saya pernah memimpin batalion. Oleh pemerintahan Soekarno dicurigai, lalu RPKAD disuruh ke Sarang. Waktu itu Sarang belum besar. RPKAD bersembunyi di balik rumput. Akhirnya waktu subuh ketika Mbah Ahmad ngimami, dia masuk ke rumah Mbah Mad dan Mbah Zubair untuk menyelidiki apakah ada senjata atau mungkin data bahwa beliau masuk DI/TII. Tapi AlhamduliLlah tidak ada, tidak ditemukan. Waktu itu Mbah Zubair sedang muktamar di Surabaya. Yang bercerita ini adalah guru saya namanya Haris Thahar, diceritai sama warganya. Ada santri yang hasud dengan Mbah Zubair lalu melaporkan bahwa Mbah Zubair memiliki senjata. Mereka tidak berani ketika Mbah Zubair di rumah, entah karena apa. Beraninya ketika Mbah Zubair ke Surabaya ikut muktamar. Tapi AlhamduliLlah tidak ditemukan.
Jadi karena beliau memimpin batalion dianggap bahaya oleh zaman Soekarno. Jadi mereka tidak mau dan takut dengan hukum Islam. “Ketuhanan Yang Maha Esa” itu yang penting punya tuhan, tidak ada agama apalagi tauhid La Ilaha IllaLlah. Tadi dibela bahwa itu Pancasila sama dengan Al-Quran, surah al-Baqarah dan Ali Imran. Kata orang sekarang Al-Quran banyak matsal-nya atau yang radikal bilang banyak fiksinya. Na’udzubiLlah min dzalika. Yang jelas mereka tidak berani dengan hukum Islam, takut nanti kalau Islam berjalan yang menguasai santri. Padahal yang santri senang sarungan liLlahi Ta’ala. Dulu dasi saja diharamkan.
Ketika ada majelis Konstituante, perjuangan ulama dan mujahid kita untuk penegakan Syari’ah Islam sudah sangat-sangat maksimal. Sampai Soekarno dituntut terus soal Tujuh Kalimat yang dihapus, lalu akhirnya dia bikin majelis Konstituante. Pada perdebatan ini yang pro-Islam akan menang atau sudah menang dengan argumen-argumen bukan dengan golok atau senjata karena kita mayoritas Islam, jika ingin kuat negaranya harus berdasar Islam dan kita umat Islam memang diwajibkan berdasar Islam. Sudah hampir menang atau malah sudah menang, majelis Konstutiante dibubarkan oleh Soekarno dengan berdalih Sila Pertama menjiwai seluruh sila-sila yang lain. Kalau yang tidak paham politik ya enak aja. “Wah, bagus ini.” Tapi tujuannya adalah untuk menghalang-halangi Syari’ah Islam. Terus akhirnya ada Pemilu tapi ditunda-tunda, itu sebenarnya untuk membesarkan partai PNI dan PKI serta memecah-belah Masyumi. Setelah dipecah belah akhirnya NU keluar dari Masyumi.

Isyarah Tatal Masjid Demak: Umat Islam Harus Bersatu!

Tadi sudah disinggung bahwa menurut isyarat tatal di Masjid Demak kita harus bersama-sama umat Islam dan kelompok-kelompok Islam jika ingin berjaya. Seperti itu isyarahnya. Tadi hal ini dibilang -WaLlahu A’lam- klenik sama pak protokol atau mitos. Memang begitu, Indonesia ini memang penuh dengan mitos, entah benar atau tidak WaLlahu A’lam bi al-shawab. Negeri kita dulu dijuluki negeri dongeng, negeri khayalan, dst. Orang Arab ketika melanggar aturan negaranya ditakut-takuti, “Kamu kalau melanggar negara kami akan saya buang ke Wakwak.” Sekarang jadi pulau Fakfak di Papua. Sudah terkenal negeri ini. Makanya ada yang bilang masuknya Islam di Indonesia pada zaman Khalifah Muawiyah, ada yang bilang Khalifah Utsman, ada yang bilang zaman Rasulullah. Ini masuknya Islam lho, artinya masuknya orang Islam, entah sudah mengislamkan atau belum.

Merah Putih dan Istana Hambra

Saya dapat ilmu waktu acara DEMU di MGS, saya bilang bahwa masjid Nabawi itu asalnya tidak ada kayu-kayunya yang besar dan tidak beratap, kemudian zaman Utsman diperbesar dan diberi atap-atap dari kayu. Kok sampai sekarang masih bagus, berarti itu ikayu jati. Kayu jati kebanyakan dari Jawa. Mungkin di Pasai atau Sumatra sudah banyak orang Islam, mereka mengimpor kayu jati dibawa ke Madinah dan jadilah masjid Nabawi yang gagah itu. Kayu jati harus diplitur, dan plitur yang baik berwarna merah. Tadi dibilang ada merah putih katanya. Kalau saya tidak begitu suka merah, mungkin masalahnya karena untuk mlitur agar awet harus warna merah. WaLlahu A’lam.
Saya pernah ke Spanyol bersama Mbah Moen, ada namanya Qashr al-Hamra’. Istana Hambra kalau bahasa sekarang, orang Barat dan Indonesia bacanya Hambra. Di bangunan itu memang banyak warna merah. Dan, seperti di Syiria warna tiang-tiang masjid berwarna hitam putih. Di Masjidil Haram dan Masjid Nabawi motif itu masih ada. Ini sisa-sisa Daulah Umawiyah. Tapi di Qasr al-Hamra’ motifnya memang merah dan putih. Saya tidak tahu rahasianya apa, WaLlahu A’lam. Walaupun saya tidak begitu suka warna merah, tapi merah ada di Daulah Andalusia. Tp yg saya ketahui di masjidil haram itu putih hitam. Benderanya nabi kebanyakan hitam.
Islam masuk ke Indonesia itu sudah lama, tapi yang sulit diislamkan memang Jawa. kalau Sulawesi sudah lama, di Kalimantan juga sudah lama. Yang sulit itu di Jawa. Islam agak baik harus mengerahkan Walisongo yang sakti-sakti, baru bisa berdiri negara Demak. Asalnya kerajaannya bukan Demak tapi Giri, namun baru empat puluh hari lalu diserahkan kepada Raden Fatah di kerajaaan Demak. Akan tetapi anak turun Raden Fatah dicabik-cabik oleh Syi’ah, Siti Jenar, atau Kebatinan. Akhirnya berdiri kerajaan Pajang. Pajang masih agak seperti Raden Fatah mangkel lalu akhirnya jadi kerajaan Mataram. Mataram masih bagus ada Sultan Agung, tapi anak cucunya diobrak-abrik agar senang anti-ulama dan anti-kiai. Amangkurat II menyembelih ulama sebanyak dua puluh lima ribu orang di alun-alun Solo.
Disini sudah ada sejarahnya bahwa Sayyid Sulaiman dipanggil oleh Raja Solo entah siapa untuk diangkat menjadi qadli kemudian sampai di Mojoagung dipundhut Allah Ta’ala. Dia sudah berkata, “Kalau diangkat qadli bakal jadi baik ya sampai Solo, kalau jadi buruk maka belum sampai Solo sudah mati.” Akhirnya nadzar Sayyid Sulaiman itu terjadi sehingga pondok pesantren menjadi besar.

Keikutsertaan Santri dalam Tathbiq Syari’ah

Kita tetap tidak boleh putus asa akan adanya Tathbiq al-Syari’ah, tapi dalam penerapan Syari’ah ini semoga kiai lan sampeyan-sampeyan santri bisa ikut, syukur bisa memimpin. Allahumma Amin. Jangan sampai penerapan Syari’ah ini dikuasai oleh radikalis, Wahabi, dan modern. Tapi kita juga jangan anti modern. Artinya jangan anti orang akademis. Mereka juga memiliki Ghirah Islamiyah besar. kalau kampus-kampus sekarang tidak ada orang-orang yang memiliki Ghirah Islamiyah, maka kita sudah habis. Untungnya dari sisa-sisa keturunan entah dari Sunan Cirebon (Gunung Jati) ada yang jadi kiai, ada juga yang jadi akademis. Mungkin Ustadz Mansur itu termasuk mereka, WaLlahu A’lam. Ini artinya kita masih menemukan sambungan-sambungan dengan ulama-ulama kita. Mereka menghargai kita dengan mengatakan kiai itu pejuang Indonesia Raya yang paling ikhlas. Dan AlhamduliLlah, sebagian dari kalangan priyayi dan akademis menurut sejarah tersebut. AlhamduliLlah.
Demikian yang dapat saya sampaikan, semoga ada manfaatnya. Semoga cita-ita dari ahbabuna shalihun pendidikan pesantren salaf tetap berjaya dan tetap dicintai walaupun tidak bisa penuh, dan cita-cita Tujuh Kalimat yang dihapus oleh Pak Karno dan Hatta tetap berjalan walaupun keadannya seperti ini. InnaLlah ‘ala kulli syaiin Qadir. Kala kita mau disembelih, kitalah yag akan menyembelih.”

“Urusan Politik Ikutlah Masyumi, Urusan Agama Ikutlah NU!”

Setelah pemaparan beliau selesai diatas, kemudian beliau menambahi, “KH Hasyim Asy’ari dalam catatan sebagian santri, yang saya tahu dari Kiai Thahir Kajen, dicatat bahwa urusan partai (politik) ikutlah Masyumi, dan urusan keagamaan, bahtsul masail, dan hukum-hukum ikutlah NU. Ini dicatat oleh Kiai Thahir almarhum. Dulu begitu, tapi lama-lama Masyumi dipecah-belah kemudian sampai sekarang kaum Muslimin dipecah-belah, yang terjadi sekarang adalah munculnya liberal-liberal itu.”
Selanjutnya, ketika ditanya oleh moderator tentang partai mana yang paling ideal untuk dipilih, maka Abah Najih menjawab, “Saya sukar menjawabnya, karena nanti kalau saya menjawab A nanti saya dianggap Muhammadiyah, radikal, atau apa, kalau saya membela yang santri juga banyak liberal padahal dari awal saya sudah anti-liberal. Ya, cari-cari sendiri, lah. Pikir-pikir sendiri, dan rahasiakan ini. Strateginya harus matang. Yang penting tadi saya setuju tatal itu kita harus bersama, harus berkelompok.
Kita ada panglima atau tidak, yang penting kita punya Ghirah Islamiyah bagaimana kita eksis. Sekarang Islam pengen dihilangkan sama sekali khususnya santri. Asalnya orang Islam itu 98 % makanya dulu hampir menang di majelis Konstituante, terus menjadi 90% lalu sekarang jadi 80%. Ini rekayasa mereka supaya kita melempem dan patah semangat. Sekarang saya bangkitkan, jangan putus asa tapi tidak usah aneh-aneh. Yang penting tadi nyoblosnya yang pro-Islam. Kita susah tidak punya panglima, tapi kita seperti harus ikhlas. Justru dengan ikhlas InsyaAllah kita menang.”

Hinaan kepada Habaib: Ekspresi Sakit Hati Kaum Liberal

Setelah itu, menganggapi ucapan moderator bahwa Ghirah Islamiyah umat Islam Indonesia sekarang sangat lemah sekali sampai ada hinaan kepada habaib dituduh kluyar-kluyur oleh tokoh liberal, Abah Najih menanggapi, “Saya setuju sekali analisa ini. Tadi habaib dikatakan kluyar-kluyur dan guru Ibtidaiyah, itu sebenarnya merupakan ekspresi sakit hati mereka karena mereka ingin Ghirah Islamiyah ini habis sama sekali.
Yang bilang habaib dari Yaman kluyar-kluyur dan dianggap guru Ibtida’ itu mungkin dia pikir keanehan itu agar nilai rapornya bagus di mata zionis-salibis. Biar bisa jadi wakil presidennya Jokowi atau apa gitu. Dan, mulai presiden sekarang mungkin akan dimunculkan lagi orang yang kelihatannya beda, mungkin dulu panglima TNI. Sebenarnya itu sama dengan dia tapi kelihatannya saja beda, sama-sama dekat dengan Naga Sembilan.” Sontak tepuk tangan gemuruh dari para audien bergema di seluruh ruangan.
Acara daurah kebangsaan ini kemudian ditutup dengan pembacaan doa oleh Abah Najih dilanjutkan dengan pemberian cinderahati dari panitia kepada beliau.(*)

Kajian Ilmiah, Karya Syaikh Najih Versi Indonesia

MAKALAH KH. MUHAMMAD NAJIH MAIMOEN DI SIDOGIRI DENGAN TEMA: REVITALISASI GHIRAH ISLAMIYAH-WATHANIYAH

MENELADANI SEJARAH ISLAM DALAM RANGKA MENGUATKAN
GHIRAH ISLAMIYAH-WATHANIYAH

Disampaikan oleh: KH. MUHAMMAD NAJIH MAIMOEN

Pada acara Daurah Kebangsaan “Revitalisasi Ghirah Islamiyah-Wathaniyah” di Aula Sekretariat PP. Sidogiri, Memeriahkan Ultah PP. Sidogiri yang ke-281 dan Ikhtibar Madrasah Miftahul Ulum ke 82 Tahun

بسم الله الرحمن الرحيم
الحمد لله الذي بنعمته تتم الصالحات، وبطاعته تطيب الحياة، وبالإيمان به وتقواه تنال الخيرات وتستنزل البركات وتدفع المكاره والسيئات، وأشهد أن لا إله إلا الله وحده لا شريك له، كل الخلائق غدا بين يديه موقوفون محاسبون، وبأعمالهم مجزيون، وأشهد أن محمدا عبده ورسوله النبي الكريم ذو الخلق العظيم، صلى الله عليه وسلم وعلى آله وأصحابه، أما بعد:

Muqaddimah

Dalam kehidupan di dunia, seorang Muslim dituntut untuk mengamalkan dan mempertahankan ajaran agama dengan segenap kemampuannya. Ini adalah konsekuensi logis dari pengucapan dua syahadat yang dilakukannya, karena Islam tidak hanya sekedar pengakuan tentang ketauhidan Allah Ta’ala dan kebenaran Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallama, namun juga implementasi dari apa yang dibawa oleh Allah dan Rasul-Nya. Selain itu, seorang Muslim sejati juga harus memiliki ghirah Islamiyah yang tinggi, yakni rasa kecemburuan dan pembelaan terhadap agamanya.

Dalam konteks keindonesiaan, menggelorakan dan menguatkan ghirah Islamiyah di kalangan umat Islam semakin terasa urgensinya, apalagi di tengah berbagai macam usaha perusakan ajaran Islam dan semangat umat Islam mengamalkan ajaran agamanya. Dalam mengekspresikan ghirah Islamiyah ini harus sesuai dengan aturan Syari’ah Islam dan menjaga semangat kebersamaan dan cinta kepada tanah air dan bangsanya yang disebut ghirah wathaniyah. Namun dalam pelaksanaannya, ghirah Islamiyah harus dinomorsatukan dan ghirah wathaniyah harus selalu didasarkan pada ghirah Islamiyah.

Bukti nyata ghirah Islamiyah dalam konteks kebangsaan ini telah menjadikan bangsa Indonesia tidak mudah ditumpas oleh penjajah selama 3,5 abad hingga akhirnya mampu merebut kemerdekaan dan kedaulatan negaranya. Hal ini karena bangsa Indonesia merasa memiliki hubungan persaudaraan sesama umat Islam serta memiliki kesamaan tanah air yaitu tanah air Nusantara, sehingga mereka berusaha mati-matian untuk mempertahankan agama dan bangsanya dari pemurtadan dan imperialisme Belanda dan bangsa penjajah Eropa yang lain. Semangat semacam inilah yang harus selalu dipupuk dan ditanamkan dalam sanubari umat Islam di Indonesia.

Memahami Ghirah Islamiyah

Muslim yang memiliki ghirah Islamiyah yang tinggi akan merasa sakit hati dan marah ketika ajaran Islam dilecehkan, ketika Al-Quran dan Sunnah dihina, dan ketika para ulama shalihin tidak lagi didengar suaranya, sekaligus juga memiliki semangat yang tinggi ketika ada ajakan untuk mengamalkan ajaran agama secara kaffah. Ghirah Islamiyah adalah barometer keimanan dan wujud cinta seorang Muslim kepada Islam. Allah Ta’ala berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ [آل عمران : 102]

“Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah sebenar-benar takwa kepada-Nya; dan janganlah sekali-kali kamu mati melainkan dalam keadaan beragama Islam.” (QS. Ali Imran: 102)

Rasulullah ShallaLlahu ‘alaihi wa Sallama bersabda:

إِنَّ اللَّهَ يَغَارُ وَالْمُؤْمِنُ يَغَارُ وَغَيْرَةُ اللَّهِ أَنْ يَأْتِىَ الْمُؤْمِنُ مَا حَرَّمَ عَلَيْهِ . أخرجه الترمذي.

“Sesungguhnya Allah itu cemburu, dan mukmin juga cemburu. Cemburunya Allah ketika seorang Mukmin mendatangi apa yang telah Dia haramkan baginya.” (HR. Tirmidzi)

مَنْ رَأَى مِنْكُمْ مُنْكَرًا فَلْيُغَيِّرْهُ بِيَدِهِ فَإِنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَبِلِسَانِهِ فَإِنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَبِقَلْبِهِ وَذَلِكَ أَضْعَفُ الإِيمَانِ. أخرجه مسلم

“Barangsiapa dari kalian melihat kemunkaran maka rubahlah dengan tangannya. Jika tidak mampu maka dengan lisannya. Jika masih tidak mampu maka dengan hatinya, dan itu adalah selemah-lemahnya iman.” (HR. Muslim)

Allah menggambarkan dalam Al-Qur’an bagaimana Rasulullah dan para Shahabat beliau menjadi perwujudan nyata bagaimana ghirah Islamiyah dilaksanakan. Allah Ta’ala berfirman:

مُحَمَّدٌ رَسُولُ اللَّهِ وَالَّذِينَ مَعَهُ أَشِدَّاءُ عَلَى الْكُفَّارِ رُحَمَاءُ بَيْنَهُمْ تَرَاهُمْ رُكَّعًا سُجَّدًا يَبْتَغُونَ فَضْلًا مِنَ اللَّهِ وَرِضْوَانًا سِيمَاهُمْ فِي وُجُوهِهِمْ مِنْ أَثَرِ السُّجُودِ ذَلِكَ مَثَلُهُمْ فِي التَّوْرَاةِ وَمَثَلُهُمْ فِي الْإِنْجِيلِ كَزَرْعٍ أَخْرَجَ شَطْأَهُ فَآزَرَهُ فَاسْتَغْلَظَ فَاسْتَوَى عَلَى سُوقِهِ يُعْجِبُ الزُّرَّاعَ لِيَغِيظَ بِهِمُ الْكُفَّارَ وَعَدَ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ مِنْهُمْ مَغْفِرَةً وَأَجْرًا عَظِيمًا [الفتح : 29]

“Muhammad itu adalah utusan Allah dan orang-orang yang bersama dengan dia adalah keras terhadap orang-orang kafir, tetapi berkasih sayang sesama mereka. kamu lihat mereka ruku’ dan sujud mencari karunia Allah dan keridhaan-Nya, tanda-tanda mereka tampak pada muka mereka dari bekas sujud. Demikianlah sifat-sifat mereka dalam Taurat dan sifat-sifat mereka dalam Injil, yaitu seperti tanaman yang mengeluarkan tunasnya Maka tunas itu menjadikan tanaman itu kuat lalu menjadi besarlah dia dan tegak lurus di atas pokoknya; tanaman itu menyenangkan hati penanam-penanamnya, karena Allah hendak menjengkelkan hati orang-orang kafir (dengan kekuatan orang-orang mukmin). Allah menjanjikan kepada orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal yang saleh di antara mereka ampunan dan pahala yang besar.” (QS. Al-Fath: 29)

Rasulullah sangat sabar dan tabah ketika orang-orang kafir mencela pribadinya dan melakukan berbagai perbuatan keji kepadanya, akan tetapi tidak ada satupun orang yang mampu menahan amarah beliau ketika agama Islam dilecehkan. Sayyidah Aisyah memaparkan:

مَا خُيِّرَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بَيْنَ أَمْرَيْنِ إِلَّا اخْتَارَ أَيْسَرَهُمَا مَا لَمْ يَأْثَمْ فَإِذَا كَانَ الْإِثْمُ كَانَ أَبْعَدَهُمَا مِنْهُ وَاللَّهِ مَا انْتَقَمَ لِنَفْسِهِ فِي شَيْءٍ يُؤْتَى إِلَيْهِ قَطُّ حَتَّى تُنْتَهَكَ حُرُمَاتُ اللَّهِ فَيَنْتَقِمُ لِلَّهِ. أخرجه البخاري

“Rasul memilih perkara yg ringan jika ada dua pilihan selama tidak mengandung dosa. Jika mengandung dosa, Rasul akan menjauhinya. Demi Allah, beliau tidak pernah marah karena urusan pribadi, tapi jika ajaran Allah dilanggar maka beliau menjadi marah karena Allah (lillah).” (QS. Al-Bukhari)

Hadits diatas juga menunjukkan kekeliruan anggapan kaum liberal bahwa Rasulullah tidak marah dan bersikap toleran jika agama dihina. Ucapan seperti “Tuhan tidak perlu dibela”, “Yang dihina Tuhan kok kamu yang marah?”, dan sebagainya menurut kami merupakan salah satu cara menggerus ghirah Islamiyah dari umat Islam sehingga umat Islam menjadi lemah dan tidak peka hati dan fikirannya melihat pemurtadan, pelecehan Al-Quran, liberalisme, pluralisme, dan LGBT diasongkan begitu massif di tengah-tengah mereka. Tidak lagi menangis ketika melihat sumber daya alam negara dikeruk oleh pihak asing dan direndahkannya kaum pribumi dalam kegiatan ekonomi, sosial, budaya, dan politik. Na’udzubiLlahi min dzalika.

Kondisi seperti ini telah ditangisi oleh pendiri NU Hadlratus Syaikh KH. Hasyim Asy’ari. Beliau menyebutkan:
“Setiap hari mata kita menyaksikan berbaurnya lelaki dan perempuan (termasuk di sekolah-sekolah Islam) dengan pembauran yang menggelisahkan, dan telinga kita mendengarkan fenomena pergaulan bebas antara lelaki dan perempuan “apakah ini halal”, lantas didiamkannya, “ataukah ini haram” yang menyebabkan kemurkaan Allah dan kehinaan di dunia. Selain itu masih ada yang lebih celaka dan lebih pahit dari pada yang tersebut di atas, yaitu tersebarnya ajaran-ajaran kufur dan pemikiran sesat di kalangan anak-anak muda muslim baik di desa maupun di kota.”
“Termasuk dari kerusakan zaman adalah bahwa ada sekelompok orang yang mengaku berasal dari komunitas muslim, bahkan mengaku sebagai pembesar-pembesar Islam, namun mereka tidak mau menundukkan kepala terhadap perintah-perintah Allah, mereka tidak mau menjauhi larangan-larangan-Nya (artinya mereka meninggalkan Syari’at Islam), bahkan dahi-dahi mereka tidak pernah menempel di masjid. Dari sinilah adanya indikasi bahwa jika keagamaan di Negara kita menjadi sangat lemah bahkan hampir mati. (Muktamar NU 24 Mei 1948)” (1)

Syarat Praktek Pengamalan Ghirah Islamiyah

Sebagai seorang Muslim, ghirah atau kecintaan kepada Islam harus ditampakkan melalui pengamalan zahir dengan memperhatikan beberapa hal berikut:

1. Harus dilaksanakan dengan niat ikhlas untuk menolong agama Allah,bukan hanya untuk memenuhi hasrat amarah, nafsu, apalagi kepentingan harta dan jabatan.

2. Menyadari betul bahwa ini adalah cobaan dari Allah Ta’ala untuk mengukur seberapa kuat iman kita kepada-Nya dan Rasul-Nya.

3. Mengetahui dan menggunakan strategi dan metode yang tepat untuk menghadapi berbagai serangan yang terjadi.

4. Melakukan aksi sesuai kadar kemampuannya, tidak bertindak berlebihan sehingga malah menimbulkan masalah baru di tengah masyarakat.

5. Mempertimbangan maslahat dan mafsadah yang akan timbul.

6. Mengetahui peran dan tugasnya sesuai posisi dan kemampuan masing-masing.

7. Dilakukan dengan tenang, tidak bertindak anarkis, dan tetap memperhatikan kondisi masyarakat

8. Dilakukan dengan sabar, telaten, dan tidak mudah menyerah. (2)

Ghirah Wathaniyah berdasarkan Ghirah Islamiyah

Konsep ghirah Islamiyah dalam Islam terbatas dalam lingkup satu agama dan atas dasar prinsip agama bukan didasarkan pada kepentingan golongan, kelompok dll, serta tetap menjaga hak-hak persaudaraan.
Adapun konsep ghirah Basyariyah dan Wathaniyah, maka keduanya juga harus tetap mengacu pada Syari’at Islam. Keduanya bisa diterapkan sepanjang tidak bertentangan dengan ketentuan-ketentuan Syari’ah dan tidak memposisikannya di atas hukum-hukum Syari’ah.

Islam dengan ajarannya yang samahah (mudah) dan hakimah (berhikmah) tidak melarang seorang Muslim untuk berbuat untuk negaranya, saling mengasihi kepada sesama bangsanya, serta mengerahkan seluruh jiwa dan raganya untuk kepentingan bangsanya, karena hal ini merupakan bagian dari ukhuwah Islamiyah nan agung yang menyatukan umat Islam di seluruh dunia tanpa memandang ras, suku, dan bangsanya.

Adapun Hadits hubbul wathan minal iman sebenarnya adalah palsu. Akan tetapi ulama pakar hadits al-Sakhawi berkata bahwa meski hadits ini lafazhnya palsu namun maknanya sahih, dengan catatan wathonnya wathon islami. (3)

Ghirah Islamiyah Rasulullah ShallaLlahu ‘alaihi wa Sallama

Dalam kajian sejarah Islam, Rasulullah ShallaLlahu ‘alaihi wa Sallama pada awalnya sudah memiliki pengaruh dan kedudukan yang penting di dalam masyarakat Quraisy kala itu. Beliau dijuluki sebagai al-Amin dan diberi kewenangan sebagai mediator dan negosiator pada saat tokoh-tokoh pembesar Quraisy saling berebut memindahkan Hajar Aswad.
Akan tetapi, setelah menerima tugas dakwah Islam oleh Allah Ta’ala, Rasulullah secara tegas mendakwah ajaran Islam meskipun apa yang beliau sampaikan tersebut banyak ditolak oleh bangsanya yaitu bangsa Quraisy, bahkan oleh keluarganya sendiri. Rasa nasionalisme Rasulullah terhadap bangsa Quraisy ditinggalkan demi menegakkan Tauhid.

Rasulullah ShallaLlahu ‘alaihi wa Sallama banyak mengkritik bangsa Arab Jahiliyah karena sikap fanatisme buta terhadap warisan kepercayaan dan budaya nenek moyang mereka sehingga mereka menjadi buta dan tuli akan kebenaran. Hal ini seperti difirmakan Allah Ta’ala:

وَإِذَا قِلَ لَهُمُ اتَّبِعُوا مَا أَنْزَلَ اللَّهُ قَالُوا بَلْ نَتَّبِعُ مَا أَلْفَيْنَا عَلَيْهِ آبَاءَنَا أَوَلَوْ كَانَ آبَاؤُهُمْ لَا يَعْقِلُونَ شَيْئًا وَلَا يَهْتَدُونَ (170) وَمَثَلُ الَّذِينَ كَفَرُوا كَمَثَلِ الَّذِي يَنْعِقُ بِمَا لَا يَسْمَعُ إِلَّا دُعَاءً وَنِدَاءً صُمٌّ بُكْمٌ عُمْيٌ فَهُمْ لَا يَعْقِلُونَ (171) [البقرة : 170 ، 171]

“Dan apabila dikatakan kepada mereka: “Ikutilah apa yang telah diturunkan Allah,” mereka menjawab: “(Tidak), tetapi kami hanya mengikuti apa yang telah kami dapati dari (perbuatan) nenek moyang kami”. “(Apakah mereka akan mengikuti juga), walaupun nenek moyang mereka itu tidak mengetahui suatu apapun, dan tidak mendapat petunjuk?”. (170) Dan perumpamaan (orang-orang yang menyeru) orang-orang kafir adalah seperti penggembala yang memanggil binatang yang tidak mendengar selain panggilan dan seruan saja. mereka tuli, bisu dan buta. Maka (oleh sebab itu) mereka tidak mengerti. (171)” (QS. Al-Baqarah: 170-171)

Rasulullah ShallaLlahu ‘alaihi wa Sallama telah menghimbau umat Islam untuk mendahulukan semangat keislaman di atas semangat kesukuan dan kebangsaan. Dalam hadits disebutkan:

عَنْ أَبِى مُوسَى قَالَ جَاءَ رَجُلٌ إِلَى النَّبِىِّ – صلى الله عليه وسلم – فَقَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ ، مَا الْقِتَالُ فِى سَبِيلِ اللَّهِ فَإِنَّ أَحَدَنَا يُقَاتِلُ غَضَبًا ، وَيُقَاتِلُ حَمِيَّةً . فَرَفَعَ إِلَيْهِ رَأْسَهُ – قَالَ وَمَا رَفَعَ إِلَيْهِ رَأْسَهُ إِلاَّ أَنَّهُ كَانَ قَائِمًا – فَقَالَ مَنْ قَاتَلَ لِتَكُونَ كَلِمَةُ اللَّهِ هِىَ الْعُلْيَا فَهُوَ فِى سَبِيلِ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ . أخرجه البخاري

Dari Abu Musa, ia berkata: Seorang lelaki mendatangi Rasulullah ShallaLlahu ‘alaihi wa Sallama lalu bertanya, “Wahai Rasulullah, apakah yang dinamakan berperang di jalan Allah? Seorang dari kami ada yang berperang karena marah, dan ada yang berperang karena kehormatan bangsa.” Lalu Rasulullah menghadapkan kepala beliau kepadanya – dan beliau tidak mengangkat kepalanya kecuali karena lelaki tersebut berdiri – seraya menjawab, “Barangsiapa berperang untuk meninggikan KalimatuLlah, maka ia berperang di jalan Allah Azza wa Jalla.” (HR. Bukhari)

Contoh selanjutnya adalah perjanjian antara Rasulullah ShallaLlahu ‘alaihi wa Sallama bersama kaum Muhajirin dengan kaum Anshar dan komunitas non-Muslim di Madinah yang biasa disebut Madinah Charter atau Piagam Madinah. Menurut Zainal Abidin Ahmad dalam bukunya Piagam Nabi Muhammad S.A.W.: Konstitusi Negara Tertulis Pertama di Dunia (Jakarta: Bulan Bintang, 1973) Piagam Madinah disebut sebagai konstitusi negara tertulis pertama di dunia, mendahului Magna Charta Inggris selama enam abad; dan mendahului Konstitusi Amerika Serikat dan Perancis selama 12 abad. Beberapa kalangan mengatakan bahwa Piagam Madinah adalah bukti penerimaan Rasulullah terhadap toleransi dan kebhinnekaan berbasis pluralisme. Ini jelas keliru, karena dalam Piagam Madinah tidak ada pengakuan terhadap kebenaran ajaran agama lain. Dalam Piagam Madinah Rasulullah menyatukan kaum Muslimin Muhajirin dan Anshar sebagai satu umat yang saling melindungi, saling menjaga dari sikap zalim, serta siap berjihad dan setia kepada Rasulullah. Dalam Piagam Madinah Rasulullah bersepakat dengan komunitas Yahudi untuk saling menjaga dari bertindak zalim dan serangan dari luar terhadap Negara Madinah, melakukan transaksi tanpa riba dengan kaum Muslimin, serta melaksanakan ajaran agamanya menurut kepercayaan masing-masing(4). Disini Rasulullah ShallaLlahu ‘alaihi wa Sallama menghargai pluralitas masyarakat di Madinah, namun tidak membenarkan ajaran agama selain Islam seperti kata kaum pluralis.

Akan tetapi, ketika Yahudi Bani Qainuqa melanggar Piagam Madinah tersebut dengan melakukan pelecehan seksual terhadap seorang Muslimah yang melewati mereka, maka Rasulullah ShallaLlahu ‘alaihi wa Sallama memperingatkan mereka untuk tidak mengulanginya lagi. Namun Yahudi Bani Qainuqa tidak menggubris dan malah menantang Rasulullah, sehingga akhirnya mereka dikepung lalu diusir dari Madinah.(5)

Keputusan Rasulullah ini bukan tanpa alasan. Menurut Syaikh Ramdlan al-Buthi, Yahudi Bani Qainuqa memang sudah lama menyimpan dendam kesumat dengan Rasulullah apalagi setelah kemenangan umat Islam saat perang Badr. Mereka bahkan sudah berencana untuk melakukan kudeta dan penyerangan terhadap umat Islam. Ketika kaum Muslimin pulang dari perang Badr, Malik bin Shaif berkata kepada Bani Qainuqa, “Apakah kalian takut menghadapi sekelompok klan Quraisy yang tidak tahu cara berperang? Tidak. Apabila kita tidak menyembunyikan rencana kita untuk menyatukan kalian, kalian tidak akan punya kekuatan untuk berperang.”(6)

Setelah itu, Yahudi Bani Nadhir ikut-ikutan melanggar dan membatalkan isi Piagam Madinah yang sudah diputuskan bersama. Mereka dipersilahkan Rasulullah ShallaLlahu ‘alaihi wa Sallama untuk keluar dari Madinah, namun Abdullah bin Ubay lagi-lagi menghasut mereka untuk menyerang Rasulullah dan merebut daerah mereka. Akhirnya mereka dikepung oleh Rasulullah hingga akhirnya mereka menyerah.
Fakta historis Sirah Nabawiyah ini membuktikan bahwa rasa nasionalisme, kebangsaan, dan ukhuwah wathaniyah harus sesuai dan tunduk kepada Syari’ah Islam, dan umat Islam harus tegas kepada oknum-oknum yang melecehkan serta merusak ajaran dan umat Islam.

Ghirah Islamiyah dalam Sejarah para Khalifah

Pada masa Khulafa Rasyidun, ghirah Islamiyah yang tinggi dan membara terlihat dari ketegasan Khalifah Abu Bakr al-Shiddiq untuk memerangi kaum yang murtad karena hasutan nabi-nabi palsu dan kaum yang tidak mau membayar zakat (arab pedusunan), disaat banyak shahabat yang mengajukan usulan untuk menyadarkan mereka dengan jalur negosiasi dan persuasif. Bahkan shahabat Umar yang dikenal sangat keras pun berkata demikian. Namun khalifah Abu Bakr tetap pada ijtihadnya dan malah mengkritik keras Shahabat Umar karena sarannya tersebut. Akhirnya khalifah Abu Bakr menang dan para pembangkang tersebut bertaubat.(7)

Khalifah Umar juga tegas dalam melaksanakan hukum Islam tanpa memandang jabatan dan hubungannya. Khalifah Umar menghukum had terhadap Qudamah bin Mazh’un meski merupakan adik iparnya sekaligus gubernur daerah karena minum khamr(8). Beliau tidak segan-segan menghukum kerabatnya sendiri karena telah melanggar hukum Islam. Ini sesuai dengan ajaran Rasulullah ShallaLlahu ‘alaihi wa Sallama untuk menerapkan hukum Islam tanpa pandang status sosialnya. Beliau bersabda:

إِنَّمَا هَلَكَ الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ أَنَّهُمْ كَانُوا إِذَا سَرَقَ فِيهِمُ الشَّرِيفُ تَرَكُوهُ وَإِذَا سَرَقَ فِيهِمُ الضَّعِيفُ أَقَامُوا عَلَيْهِ الْحَدَّ وَايْمُ اللَّهِ لَوْ أَنَّ فَاطِمَةَ بِنْتَ مُحَمَّدٍ سَرَقَتْ لَقَطَعْتُ يَدَهَا. أخرجه أبو داود

“Orang-orang sebelum kalian hancur gara-gara ketika yang mencuri adalah orang terpandang maka dibiarkan dan jika yang mencuri adalah orang lemah maka ditegakkan sanksi padnaya. Demi Allah, andai Fathimah binti Muhammad mencuri niscaya aku potong tangannya.” (HR. Abu Dawud)

Jejak Pesantren dalam Menegakkan Islam dan Kemerdekaan Indonesia

Dalam konteks keindonesiaan, sejarah membuktikan bahwa pesantren dari zaman dahulu merupakan lembaga pendidikan Islam yang tidak hanya mengajarkan ilmu-ilmu Islam, namun juga menanamkan ghirah Islamiyyah, semangat jihad, dan perjuangan disertai keikhlasan hati dan pengorbanan. Pesantren dalam rekaman sejarah Indonesia telah berhasil menjadi benteng pertahanan bagi masyarakat Indonesia. Tidak sedikit kita temukan para pejuang mulai zaman kolonialisme hingga era kemerdakaan berasal dari kaum santri dan kyai yang gigih menyuarakan jihad secara fisik ataupun intelektual untuk menghalau dan melepaskan diri dari imperialism kaum kafir.

Pada zaman kolonialisme Belanda sejarah mengenal sosok para santri berjuang di medan perang seperti Sultan Agung, Imam Bonjol, dan Pangeran Diponegoro. Sultan Agung dari Kesultanan Mataram bersama Dipati Ukur melancarkan serangan terhadap VOC Belanda tahun 1628-1629 M hingga banyak serdadu Belanda ditawan di Yogyakarta. Imam Bonjol bersama para lama menggelorakan perang Paderi tahun 1821-1837 mennghadapi kaum Adat yang bekerjasama dengan Belanda. Pangeran Diponegoro yang pada masa mudanya hidup di lingkungan pesantren Tegalrejo dan serius dalam belajar ilmu agama berjuang bersama para ulama dan santri melancarkan peperangan hingga hampir membangkrutkan negeri Belanda dan menelan korban dari pihak Belanda hingga 700 jiwa dan biaya perang 20 juta Golden.

Pada era kemerdekaan kita mengenal sosok para ulama pejuang kemerdekaan nasional seperti KH. Hasyim Asy’ari dan KH. Wahab Hasbullah. KH. Hasyim Asy’ari melakukan resolusi jihad bersama kaum santri di Indonesia untuk memperjuangkan kemerdekaan. KH. Wahab Hasbullah dan Mas Mansoer mendirikan Nahdlatul Wathan (embrio Nahdlatul Ulama) yang berjuang mengembangkan pendidikan dan kesadaran politik nasional terhadap kalangan Ahlussunnah wal Jama’ah. Di era ini juga ada organisasi Jam’iyatul khairat, yang didirikan oleh para habaib dan ulama, atas dakwah merekalah semangat juang rakyat menggelora untuk memerdekakan bangsa ini. Sangat tidak beradab jika oknum elite PBNU menghujat dakwah para habaib dari Timur Tengah khususnya Yaman, dan menuduh dakwahnya hanya untuk “kluyar-kluyur” di negeri orang. Apa elite PBNU ini tidak pernah mendengar pidato Soekarno di Semarang Tahun 1948 M. yang isinya “Kita juga harus harus berterima kasih kepada warga keturunan Cina. Kita juga harus berterima kasih kepada warga keturunan India. Tetapi kita jangan berterima kasih kepada warga keturunan Arab, karena …Karena … mereka … sudah menjadi bagian dari keluarga besar bangsa kita sejak ratusan tahun yang lalu….” Maka itu Bung Karno sendiri yang mengusulkan dan membuat PP No.10 yang disetujui MPR bahwa warga keturunan Arab diberi status Kewarganegaan ‘Stelsel pasif’ yang sama dengan warga Pribumi yaitu otomatis dianggap dan dicatat sebagai WNI.

Organisasi Nahdatul Ulama lahir dari gabungan tiga organisasi besar di kala itu, yakni Nahdotuttujjar yang diketuai oleh KH. Hasyim Asy’ari, Nahdatul Wathan oleh KH. Wahhab Hasbullah dan Jam’iyyatunnasihin oleh KH. Asnawi Kudus. Sedangkan pemberian nama Nahdatul Ulama diberikan oleh seorang ulama keturunan Makkah teman KH. Wahhab Hasbullah. Bahkan berdirinya Nahdatul Wathan dilatar belakangi oleh perasaan malu KH. Wahhab Hasbullah terhadap kaum nasionalis yang telah dulu memperjuangkan kemerdekaan, beliau merasa mentalnya terbebani bila kaum santri ketinggalan jauh dalam upaya memperjuangkan kemerdekaan Indonesia, apalagi ditambah sebagian besar orang-orang Islam jaduk (sakti mandraguna) memihak penjajah.

Keberadaan orang-orang jaduk di era penjajahan, meski tidak semuanya akan tetapi kebanyakan dari mereka dimanfaatkan oleh kolonial Belanda, guna melemahkan perjuangan rakyat yang ingin memberontak kekuasaan penjajah, para pendekar pengkhianat bangsa ini dengan sadis membantai saudara setanah air, kelaliman Raja Amangkurat I yang bekerjasama dengan VOC adalah contoh kongkretnya, ribuan kiai dan santri dibantai pada masanya, sehingga ia dijuluki Raja Tiran dari Jawa. Begitulah cara-cara licik penjajah, memanfaatkan peran kejawen dan orang jaduk untuk membackup segala daya upaya pemberontakan rakyat. China-Komunitas juga demikian, dibesar-besarakan dan diunggulkan di atas pribumi, untuk memperkuat hegemoni penjajah. Dalam bidang pendidikan, penjajah sengaja menggalakkan pelajaran-pelajaran umum di sekolah-sekolah mereka, yang sangat membahayakan akidah umat Islam semisal Ilhadiyah yang menafikan Allah SWT sebagai pencipta langit bumi. Kaum santri tempo dulu dilarang membaca tafsir Thantawi, karena tafsir ini menerangkan tata cara merakit bom. Sedangkan para pegawai di masa pemerintahan penjajah, yang mayoritas dijabat oleh kaum priyai, kiga dicekoki ajaran-ajaran Kristen, tapi untungnya dalam telinga mereka masih terngiang lantunan-lantunan kalam ilahi yang diajarkan oleh kiai yang ikhlas di masa kecilnya, oleh karena itu, pengajaran al-Quran harus meneladani metode kiai-kiai kuno, jangan seperti sebagian pendidikan Al-Quran zaman sekarang, yang didominasi guru-guru perempuan dan terlalu banyak iuran. Menurut cerita KH. Maimoen Zubair, ada dua istilah bagi kiai zaman kuno, ada kiai mataram (ketika mengajar perempuan tidak pakai satir) ada kiai pajang (pakai satir ketika mengajar perempuan), akan tetapi lebih banyak kiai mataramnya, Wallahu alam.

Menjaga Indonesia bukan menjadi goyah (tujuan), akan tetapi sebuah wasilah (sarana) untuk memperjuangkan masjid, madrasah diniyah, hukum-hukum Islam dan pendidikan Islam, agar tidak terjadi kevakuman seperti pada zaman penjajahan Jepang. Begitulah manhaj perjuangan para sesepuh ulama tempo dulu yang kami pahami. Tidak seperti yang digaungkan oleh kaum liberalis yang menyatakan semua perjuangan ulama itu berdasarkan jiwa nasionalisme tinggi. Dan perlu kami terangkan bahwa syubbanul yaum rijalul gad itu bukan hadits, akan tetapi maqolah syaikh Musthofa Al-Ghalayini dalam kitab Idzotunnasyiin dan juga hubbul wathan minal iman itu hadits palsu, akan tetapi mungkin maknanya benar jika negara yang dimaksud dalam maqolah tersebut adalah negara Islam atau minimal islami.

Sikap istiqamah dan ikhlas para ulama pesantren dalam mengajarkan ilmu-ilmu Islam juga sebagai implementasi jihad intelektual. Pengajaran terhadap kitab-kitab ulama yang luhur seperti Fath al-Qarib, Fath al-Mu’in, Aqidah al-‘Awam, Ta’lim al-Muta’allim, Bulugh al-Maram, Alfiyyah li Ibni Malik, dan lainnya dilakukan secara intens, disiplin, dan konsisten. Mereka juga mengarang kitab dalam berbagai fan ilmu untuk mengembangkan keilmuan Islam dan meluruskan berbagai kesesatan dari pihak kafir atau muslim sendiri. Jihad intelektual dan amar ma’ruf nahi munkar inilah yang membuat eksistensi pesantren tetap tegap dan megah melewati dinamika sejarah dan tidak bergeming oleh rekayasa kaum penjajah.

Implementasi Ghirah Islamiyah-Wathaniyah Masa Kini

Umat Islam Indonesia memang belum memiliki pemerintahan Islam, namun bukan berarti kita berpangku tangan ketika nilai-nilai Islam dinistakan. Justru dalam kondisi seperti ini ghiroh Islamiyah harus dipupuk dan ditampakkan di khalayak umum, asalkan tidak bertindak anarkis dan inkonstitusional, sebagai bukti besarnya harapan kita akan terwujudnya pemerintahan Islam. Jangan seperti partai-partai Islam akhir-akhir ini yang justru melawan ghiroh Islamiyah dengan dukungannya terhadap kepemimpinan non muslim. Prinsip ini didasari oleh sabda Nabi Muhammad SAW.
من مات وليس في عنقه بيعة مات ميتة جاهلية. أخرجه البيهقي في السنن الكبرى

“Rasulullah SAW bersabda: siapapun yang mati, sedang dalam lehernya tidak diketemukan ikatan baiat (terhadap pemerintahan Islam), sungguh ia mati sebagaimana model kematian jahiliyyah” (HR. Al-Baihaqi, As-Sunan al-Kubra)

Kita jangan buta mata, acuh tak acuh ketika Islam dilecehkan, sebagaimana sikap Wahhabi dan NU yang mengaku moderat. Umat Islam jangan rela agamanya dikebiri di negeri sendiri. Meskipun itu sebuah kenyataan pahit, namun hal ini harus kita lawan dan hilangkan dengan penuh kesabaran, harapan, rasa optimisme yang tinggi serta tidak putus asa sehingga menimbulkan depresi. Semua ini dapat tercapai asal umat Islam tetap istiqomah membaca Al-Qur’an, berdo’a, membaca hizib-hizib seperti hizib bukhari, hizib nashor, mengaji kitab-kitab di pesantren, ngopeni masjid dan madrasah diniyah, tidak terlalu sibuk dan terforsir dengan materi duniawi. Insyaallah harapan nenek moyang kita yang mencita-citakan izzul islam wal muslimin di bumi pertiwi dapat segera terwujud, Innallaha ‘ala kulli syai’in qodir.

Akhir-akhir ini banyak para tokoh Islam menyuarakan “NKRI-Pancasilaharga mati” di tengah-tengah umat Islam, padahal semestinya kita harus mengingatkan kepada umat tentang penghianatan-penghianatan musuh Islam di Majelis Konstituante, penghapusan tujuh kata dalam Piagam Jakarta, penolakan Soekarno terhadap syarat Islam bagi pemimpin Indonesia, bahkan di era reformasi, lewat Amandemen, Amien Rais dkk telah menghapus UUD 45 pasal 6 ayat (1) perihal presiden harus orang Indonesia Asli.

Di samping itu, sangat disayangkan, ada dan bahkan banyak dari mereka justru mencibir takbir. Padahal sejarah mencatat bahwa Indonesia jaya berkat pekikan takbir Bung Tomo dan kawan-kawannya. Begitu juga munculnya resolusi jihad Mbah Hasyim Asy’ari atas dasar membela azan, sholat, dan hukum-hukum Islam yang lain. Namun oleh gerombolan liberal justru dibelokkan atas dasar jiwa nasionalisme. Ini jelas sebuah pemutar balikan fakta.
Gerakan-gerakan seperti ini tidak hanya dilakukan oleh para liberalis. Upaya pengkerdilan terhadap Islam juga datang dari para misionaris. Islam di Indonesia yang tempo dulu mencapai 98% kemudian terkikis menjadi 80% gara-gara kristenisasi, bahkan mungkin bisa kurang dari itu(9). Hal ini karena upaya mereka yang memperbanyak gereja, simbol-simbol kristen di daerah minoritas Islam dan juga menghitung penganut kepercayaan animisme yang tersebar luas di Papua, Sampit, Simalungun dan lain sebagainya.

Kesemua ini masuk dalam ranah al-gozwul fikri Proyek-proyek zionisme melalui beberapa fase:
Ta’lih ‘uqul (menuhankan akal)
Tahrirul ‘uqul (membebaskan akal)
Tahrirunnisa’ (membebaskan wanita)
Muhawalatuttahrif (upaya pendistorsian)
Muhawalatuttasykik (menebar keragu-raguan)
Wad’ul qowanin al-basyariyah (menetapkan undang-undang kemanusiaan)
Muhawalatuttaghrib (westernisasi)
Muhawalatuttakhdits (modernisasi)
Muhawalatuttafriq bainal muslimin (upaya pemecah belahan umat Islam) termasuk takfir ala Wahhabi.

Sejarah mencatat bahwa sekte syiah selalu menjadi biang keladi kericuhan dan pemberontakan terhadap pemerintahan Islam. Penghianatan Syiah pertama dilakukan oleh Abdullah bin Saba’, Alib bin Yaqtin pada masa Harun Al-Rasyid, Dinasti Fatimiyah di Mesir, Menteri Syiah An-Nashir Lidinillah, Muhammad Al-Qami dan Nasiruddin At-Thusi pada masa pmerintahan Al-Mu’tasim Billah, Dinasti Shofawi di Persia, pengkhianatan Khomeini, Organisasi amal yang melahirkan Hizbullah, pengkhianatan Syiah di Bahrain, Yaman, Saudi Arabia, Pakistan dll.

Contoh pengamalan ghiroh wathaniyah yang selaras dengan ghiroh islamiyah di masa kini adalah mewaspadai segala macam bentuk penjajahan asing dan aseng, mulai dari bidang agama, ekonomi, sosial, budaya, dan politik. Kasus-kasus seperti penistaan agama yang marak terjadi akhir-akhir ini, semisal Nabi dikatakan peramal masa depan, puisi yang mengatakan bahwa kidung ibu pertiwi lebih indah dari suara azan dan sari konde yang lebih anggun dari cadar, kitab suci dianggap fiksi, Al-Qur’an bukan kitab suci, Nabi Muhammad bukan pula manusia suci, ujaran-ujaran negatif terhadap Haba’ib Timur Tengah yang berdakwah di Indonesia, imigrasi besar-besaran pekerja asing dari china, mudahnya pemerintah mengimpor barang-barang komoditi tanpa memikirkan petani, secara diam-diam menaikkan harga BBM dukungan penuh pemerintah dalam proyek reklamasi, maraknya barongsai yang diundang dimana-mana, tekanan terhadap partai-partai Islam untuk mendukung segala kebijakan pemerintah yang bertentangan dengan aspirasi umat Islam, harus menjadi obyek ghiroh wathaniyah-islamiyah sebagai bentuk upaya menciptakan bangsa dan negara yang makmur.

Ikhtitam

Kecintaan terhadap bangsa dan negara Indonesia memang diperlukan sebagai wujud cinta kepada tanah kelahiran kita. Akan tetapi, kecintaan kita kepada bangsa dan negara tidak semestinya ditempatkan diatas kecintaan kita kepada Allah dan Rasul-Nya. Bahkan ghirah dan ukhuwah wathaniyah akan menjadi semakin kuat dan bermakna bila didasarkan kepada ghirah dan ukhuwah Islamiyah.

Semoga Allah Ta’ala selalu memberi kita hidayah dan taufiq untuk selalu mencintai dan ikhlas berbuat untuk agama-Nya, serta memberi barakah kepada Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) yang berdiri berkat jasa dan jihad para ulama dan santri bersama pemerintahan Islam dan rakyat Indonesia sehingga selalu dijaga keislamannya untuk kita dan anak cucu kita nanti. Amin Ya Rabbal ‘Alamin.

وصلى الله على سيدنا محمد وعلى آله وصحبه وسلم

Sarang, 14 Sya’ban 1439 H.
30 April 2018 M.

KH. Muhammad Najih Maimoen

** Catatan Kaki;

1. Syaikh Muhammad Najih, Ahlussunnah wal Jama’ah: Akidah, Syari’ah, Amaliyah, Sarang: Maktabah Al-Anwar 1, hlm. 56.

2. Hujjatul Islam Abu Hamid Muhammad bin Muhammad Al-Ghazali. Ihya Ulummiddin. Beirut: Dar al-Kutb al-Ilmiyyah, Juz 2 hlm. 279.

3. Abu Abdullah Muhammad bin Darwish, Asna al-Mathalib fi Ahadits Mukhtalif al-Maratib, Beirut: Dar al-Kutb al-Ilmiyyah, hlm. 181.

4. Syaikh Ramdlan al-Buthi, Fiqh al-Sirah, Beirut: Dar al-Fikr, hlm. 223-224.

5. Fiqh al-Sirah, hlm. 248.

6. Fiqh al-Sirah, Beirut: Dar al-Fikr, hlm. 252.

7. Jalaluddin al-Suyuthi, Tarikh al-Khulafa, Mesir: Mathba’ah al-Sa’adah, hlm. 67.

8. Abu Bakr Ibn al-Arabi, al-‘Awashim min al-Qawashim, Beirut: Dar al-Jil, hlm. 105.

9. Disarikan dari ceramah KH. Sadid Jauhari, di Madrasah Ghazaliyah Syafiiyyah, Sarang Rembang 26 April 2018

Karya Syaikh Najih Versi Indonesia

Nilai-nilai ASWAJA Dalam Kehidupan pluralitas-kebangsaan

بِسْمِ الله الرحمنِ الرحيمِ
الحمْدُ لله ربِّ العَالَمِيْن أَشْهَدُ أنْ لَا إله إلَّا الله وَحْدَه لَا شَرِيْكَ لَه وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدا عَبْدُه وَرَسُوْلُه صَلَّى الله عَلَيهِ وَعَلَى آلهِ الطَّاهِرِيْن وأَصْحابِهِ المُكْرَمِيْن الْمَهْدِيِّيْن، أمَّا بَعْدُ:

Muqaddimah
Islam sebagai agama yang berasal dari Allah Taala bersifat komprehensif dan relevan di berbagai dimensi ruang dan zaman. Terbukti bahwa ajaran Islam yang berkembang di daerah manapun selalu menjadikan masyarakatnya memiliki pribadi dan peradaban yang baik. Hal ini karena sifat ajaran Islam yang tidak ekstrim dalam menyikapi segala sesuatu, sehingga manusia merasa terayomi dan terlindungi dengan hukum Islam tanpa mencerabut prinsip dan asas Islam itu sendiri. Sifat ini merupakan ciri khas Islam ala Ahlussunnah wal Jamaah dibandingkan dengan berbagai firqah Islam dan agama lainnya.
Indonesia merupakan negara yang memiliki pluralitas dan kemajemukan masyarakat yang tinggi. Dalam kondisi demikian, Islam ala Ahlussunnah wal Jamaah telah terbukti mampu berkembang begitu pesat di seluruh penjuru negeri hingga menjadikan mayoritas masyarakatnya memeluk agama Islam. Selain itu, ajaran Aswaja yang diajarkan oleh ulama dan kyai telah mendarah daging di masyarakat sehingga sikap sopan santun, ramah, dan tawadlu menjadi ciri khas bangsa Indonesia di mata dunia, sekaligus memiliki sikap militan dan teguh dengan agamanya, sehingga selama tiga setengah abad hingga sekarang bangsa Indonesia tidak mudah dimurtadkan oleh penjajahan yang datang silih berganti.

Sekilas Tentang Ahlussunnah wal Jamaah
Islam merupakan agama Allah SWT yang diturunkan untuk seluruh manusia. Di dalamnya terdapat pedoman dan aturan demi meraih kebahagiaan dan keselamatan di dunia dan akhirat. Ada tiga hal yang menjadi sendi utama dalam agama Islam itu, yaitu Iman, Islam dan Ihsan.
Dari sisi keilmuan, semula ketiganya merupakan satu kesatuan yang tidak terbagi-bagi. Namun selanjutnya para ulama mengadakan pemisahan, sehingga menjadi bagian ilmu tersendiri. Bagian-bagian tersebut mereka elaborasi sehingga menjadi bagian ilmu yang berbeda. Perhatian terhadap Iman memunculkan ilmu tauhid atau ilmu kalam. Perhatian khusus pada aspek Islam menghadirkan ilmu fiqh atau ilmu hukum Islam. Sedangkan penelitian terhadap dimensi Ihsan melahirkan ilmu tashawwuf atau ilmu akhlak. Ketiga aspek inilah yang menjadi inti daripada ajaran Ahlussunnah wal Jamaah.
Secara etimologis, Ahlussunnah Wal-Jamaah adalah istilah yang tersusun dari tiga kata:
Pertama, kata Ahl, berarti keluarga, pengikut atau golongan.
Kedua, kata al-sunnah, yang memiliki dua arti kemungkinan;
Segala sesuatu yang telah diajarkan oleh Kanjeng Nabi Muhammad SAW, baik melalui perbuatan, ucapan dan pengakuan Kanjeng Nabi Muhammad SAW dan,
Al-thariqah (jalan dan jejak), maksudnya Ahlussunnah wal Jama’ah itu mengikuti jalan dan jejak para sahabat Kanjeng Nabi Muhammad SAW dan tabi’in dalam memahami teks-teks keagamaan dan mengamalkan ajaran agama.
Ketiga, kata al-Jamaah, yang secara kebahasaan dapat diartikan dengan sejumlah besar orang-orang yang menjalin dan menjaga kebersamaan dalam mencapai suatu tujuan yang sama, sebagai kebalikan dari al-firqah (orang-orang yang memisahkan diri dari golongannya). Dalam beberapa hadits shahih, Kanjeng Nabi Muhammad SAW menyebut kelompok yang selamat dengan nama al-jama’ah.
Kata al-Jamaah menjadi identitas bagi Ahlussunnah wal Jamaah sebagai golongan yang selalu memelihara sikap kebersamaan (Persatuan dalam satu negara atau komunitas Islam Sunni, sejak Awal hingga sekarang, Sunni selalu menjadi aliran mayoritas, maka tidak berlebihan jika dikatakan mempertahankan Sunni berarti mempertahankan Islam. Oleh karena itu, jangan ada usaha-usaha mempertahankan apalagi memperjuangkan sekte-sekte minoritas seperti sekte Syi’ah, Mu’tazilah, Wahhabi dst… karena disamping paham-pahamnya yang sesat juga hanya akan menambah perpecahan dan memperkeruh keadaan).

Akidah Asyariyah adalah Ahlussunnah wal Jamaah
Di antara kriteria dan ciri khas Ahlussunnah wal Jamaah ialah ulama-ulama mereka selalu tampil sebagai penyebar ilmu agama dan rujukan kaum muslimin dalam setiap generasi. Pertanyaannya sekarang, di antara sekian aliran yang ada, golongan manakah yang para ulamanya berperan sebagai penyebar ilmu agama dan penjaga kemurnian ajarannya? Jawaban terhadap pertanyaan tersebut adalah mayoritas ulama yang mengikuti madzhab al-Asyari dan al-Maturidi, seperti Imam al-Asyari, Abu Ishaq al-Isfirayini, al-Baqillani dan lain-lain. Hal ini seperti ditegaskan oleh hadlrotussyaikh KH. Hasyim Asyari berikut ini;
قَالَ الشِّهَابُ الخَفَاجِي رَحِمَهُ الله فِي نَسِيْمِ الرِّيَاض: الفِرْقَة النَّاجِيَة هُمْ أَهْلُ السُّنَّة وَالجَمَاعَةِ وَفِي حَاشِيَةِ الشَّنْوَانِي عَلَى مُخْتَصَر ابْنِ أَبِيْ جَمْرَة: هُمْ أَبُو الحَسَن الأَشْعَرِي وَجَمَاعَتُهُ أَهْلُ السُّنَّةِ وَأَئِمَّة العُلَمَاءِ لِأَنَّ الله تَعَالَى جَعَلَهُمْ حُجَّةً عَلَى خَلْقِهِ وَ إِلَيْهِم يَفْزَعُ العَامَّة فِي دِيْنِهِمْ وَهُمْ المَعْنِيُّوْنَ بِقَوْلِهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وًَسَلَّم: «إِنَّ اللهَ لَا يَجْمَعُ أُمَّتِي عَلَى ضَلَالَةٍ».
Mayoritas umat Islam di seluruh dunia, mengikuti madzhab Imam al-Asyari dan al-Maturidi, karena para ulama yang menyebarkan Islam juga bermadzhab Imam al-Asyari dan al-Maturidi. Imam Ibnu Asyakir RHA berkata:
وَأَكْثَرُ العُلَمَاءِ فِي جَمِيْعِ الأَقْطَارِ عَلَيْهِ أَيْ عَلَى مَذْهَبِ الأَشْعَرِي وَأَئِمَّةُ الأَمْصَارِ فِي سَائِرِ الأَعْصَارِ يَدْعُوْنَ إِلَيْهِ وَمُنْتَحِلُوْهُ هُمُ الَّذِيْنَ عَلَيْهِمْ مَدَارُ الأَحْكَامِ وَإِلَيْهِمْ يُرْجَعُ فِي مَعْرِفَةِ الحَلَالِ وَاْلحَرَامِ وَهُمْ الَّذِيْنَ يُفْتُوْنَ النَّاسَ فِي صِعَابِ المَسَائِلِ وَيَعْتَمِدُ عَلَيْهِمْ الخَلْقُ فِي إِيْضَاحِ المُشْكِلَاتِ وَالنَّوَازِلِ وَهَلْ مِنَ الفُقَهَاءِ مِنَ الحَنَفِيَّةِ وَاْلمَالِكِيَّةِ وَالشَّافِعِيَّةِ إِلَّا مُوَافِقٌ لَهُ أَوْ مُنْتَسِبٌ إِلَيْهِ أَوْ رَاضٍ بِحَمِيْدٍ فِي دِيْنِ اللهِ.

Tataran Praktis Prinsip Ahlussunnah
Aqidah
Dalam hal aqidah, Ahlussunnah wal Jamaah mempertimbangkan dan menetapkan beberapa hal di bawah ini.
Keseimbangan dalam telaah dan penggunaan dalil akal (tajsim dan tasybih) dan dalil syara (mutsbit maa tanzih) agar tidak mengalahkan salah satunya.
Memurnikan aqidah dengan cara membersihkan dan meluruskannya dari pengaruh aqidah yang sesat, baik dari dalam maupun dari luar Islam.
Menjaga keseimbangan berfikir supaya tidak mudah menilai salah, menjatuhkan vonis syirik, bidah pada orang lain yang seaqidah, apalagi mengkafirkannya.
Syariah
Dalam hal syariah, Ahlussunnah wal Jamaah mempertimbangkan dan menetapkan beberapa hal di bawah ini.
Berpegang pada al-Quran dan al-Hadits dengan cara-cara yang benar menurut ahlinya, yakni ulama salaf yang dapat dipertanggungjawabkan kebenarannya.
Akal dapat digunakan ketika terjadi masalah dan tidak ditemukan dalil nash (al-Quran dan Hadits) yang jelas dan mengikat.
Menerima setiap perbedaan pendapat para imam sunni mujtahidin dalam menilai suatu masalah, ketika dalil nash masih mungkin ditafsirkan yang lain.
Selalu mempertimbangkan aspek kemaslahatan dalam mengamalkan syariat di tengah-tengah lapisan masyarakat yang plural.
Tashawwuf
Dalam hal tashawwuf, Ahlussunnah selalu berpegang teguh dan berhati-hati dalam beberapa hal penting, yaitu:
Mendorong dan mengajarkan faham Ahlussunnah dalam bidang tashawwuf dengan menggunakan cara-cara ma’rifat Allah SWT, dzikir, riyadloh dan mujahadah yang tidak bertentangan dengan syariat Islam.
Tidak merasa diri lebih baik dan lebih sempurna dibanding orang lain.
Bersikap sopan santun, rendah diri dan menjaga hati dengan kekhusyuan dan keikhlasan dengan siapapun dan dimanapun berada.
Selalu berusaha mewujudkan rasa aman, tentram pada diri sendiri khususnya dan lapisan masyarakat pada umumnya.
Tidak terlalu berlebihan dalam menilai sesuatu, tenang, dan bijak dalam mengambil sikap serta mempertimbangkan kemaslahatan.
Bergaul antar Kelompok
Dalam pergaulan, Ahlussunnah menilai adanya hal-hal yang terpenting, antara lain:
Bersikap santun dengan keluarga, tetangga dan orang lain demi untuk tujuan dakwah.
Bersikap tegas, bijak dan mengambil posisi yang tepat terhadap pihak-pihak yang ingin merusak Islam.
Kehidupan Bernegara
Dalam kehidupan bernegara, Ahlussunnah menentukan beberapa hal berikut:
Mempertahankan nilai-nilai agama Islam Ahlussunnah wal Jamaah dan UUD 45 dalam bingkai NKRI (Negara Kesatuan Republik Indonesia) sebagai negara yang sah menurut hukum Internasional, atau sah menurut agama Islam dalam setiap undang-undang yang tidak bertentangan dengan syari’atnya.
Mentaati dan mematuhi pemerintah atas semua peraturan dan kebijakan yang berlaku selama tidak bertentangan dengan ajaran Islam.
Tidak melakukan bentuk perbuatan apapun yang berakibat pada jatuhnya kewibawaan, memicu pemberontakan dan penggulingan terhadap pemerintah yang sah.
Jika pemerintah melakukan penyimpangan dari aturan agama Islam, membuat rakyat sengsara, maka harus mengingatkannya dengan cara yang baik.
Mengawal dan mengkritisi kebijakan-kebijakan pemerintah yang melanggar syariat dan UUD 45, demi tercapainya sebuah pemerintah yang adil bersih dan berwibawa.
Tradisi
Dalam masalah tradisi umat Islam, Ahlussunnah memberikan batasan-batasan sebagai berikut:
Meletakkan tradisi umat Islam pada posisi yang tepat serta menilai dan mengukur dengan nilai-nilai ajaran Islam.
Menerima tradisi yang baik dan tidak bertentangan dengan agama Islam siapa-pun yang membawa dan dari manapun datangnya.
Melestarikan tradisi umat Islam lama yang lebih baik dan mengambil tradisi baru yang sesuai dengan syara.
Sebab Rasulullah SAW bersabda:

أَبْغَض النَّاسِ إلَى الله ثَلاَثَةٌ : مُلْحِدٌ فِي الحَرَمِ ، وَمُبْتَغٍ فِي الإسْلاَمِ سُنَّةَ الجَاهِلَيَّة ، وَمُطَّلِبُ دَمِ امْرِئٍ بِغَيْرِ حَق ، لِيُهْرِيقَ دَمَهُ.
أخرجه البخاري في صحيحه
ستة لعنتهم، لعنهم الله وكل نبي مجاب : الزائد في كتاب الله، والمكذب بقدر الله تعالى، والمتسلط بالجبروت فيعز بذلك من أذل الله ويذل من أعز الله، والمستحل لحرم الله، والمستحل من عترتي ما حرم الله، والتارك لسنتي- ( ت ك ) عن عائشة ( ك ) عن ابن عمر (الجامع الصغير من حديث البشير النذير) – (1 / 465)
Dakwah
Dalam hal dakwah, Ahlussunnah menganjurkan berdakwah yang ditujukan kepada seluruh lapisan
masyarakat dengan memperhatikan beberapa ketentuan sebagai berikut:
Dakwah dilakukan dengan nilai yang ikhlas, tulus memberikan bimbingan, pencerahan dan pengarahan demi tercapainya tujuan utama, yaitu mendapatkan kebahagiaan di dunia dan kemuliaan di akhirat.
Materi dakwah disesuaikan dengan kondisi dan kemampuan berfikir masyarakatnya.
Berdakwah bukan bertujuan untuk menyalahkan, menghukumi ataupun mengkafirkan orang lain, akan tetapi untuk memupuk rasa persaudaraan dan mengajak masyarakat menuju jalan yang diridlai Allah SWT.

Realitas ke-Indonesiaan
Dalam konteks berbangsa dan bernegara (sosial kemasyarakatan) Ahlussunnah wal Jamaah mengakui realitas kemajemukan atau pluralistik. Terbukti tatkala tercetus Piagam Madinah, Kanjeng Nabi Muhammad SAW menjumpai adanya pemeluk Yahudi, Nasrani, beliau tetap menegaskan, bahwa Islam adalah satu-satunya agama yang benar. Bahkan beliau mengirim surat ke beberapa Raja Eropa, seperti Heraklius, Muqauqis berupa ajakan untuk memeluk agama Islam.
قَالَ أَبُو سُفْيَانَ: كَتَبَ النَّبِيُّ صَلَّى الله عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِلَى هِرَقْلَ: «تَعَالَوْا إِلَى كَلِمَةٍ سَوَاءٍ بَيْنَنَا وَبَيْنَكُمْ» [آل عمران: 64[[رواه البخاري]
Abu Sufyan RA berkata: Kanjeng Nabi Muhammad SAW mengirimkan surat kepada Raja Hiraklius yang artinya: “Hai ahli Kitab, Marilah (berpegang) kepada suatu kalimat (ketetapan) yang tidak ada perselisihan antara Kami dan kamu” (HR. Bukhori).
Perlu dicatat, agama-agama selain Islam yang para pemeluknya diberi hak hidup oleh Rasulullah SAW hanya agama Yahudi dan Nashrani (Ahli Kitab), Majusi juga seperti Ahli Kitab, karena Rasulullah SAW bersabda: سنوا بهم سنة أهل الكتاب (HR. Imam Malik fil Muwathta’, wa imam Abdurrozaq fil Mushonnaf). Islam mengakui keberadaan kedua agama tersebut bukan berarti membenarkannya, akan tetapi Islam masih menghormati sisa-sisa kebenaran dari ajarannya. Penyembah Berhala tidak ditolerir oleh Rasulullah SAW, terbukti beliau mengusir mereka dari tanah haram dan seluruh jazirah arab, sampai membuat ultimatum pasca penaklukan Makkah, barangsiapa yang tidak keluar dari tanah haram setelah 4 bulan, pasti akan kami perangi. Jadi sekali lagi kami tegaskan bahwa negara Madinah yang dibangun oleh Baginda Rasul SAW tidak menampung para penyembah berhala, apalagi melindunginya. Oleh karenanya sangat tidak masuk akal, jika para liberalis menggunakan “Piagam Madinah” sebagai dalil pembenaran perlindungan negara Indonesia terhadap kafir non ahli kitab (Hindu, Budha, Konghucu dll…).
Meski demikian, bukan berarti kita umat Islam Indonesia kemudian berlaku intoleran atau bertindak diskriminasi kepada mereka, karena pada dasarnya, ada kode etik khusus ketika berinteraksi sosial dengan non muslim dalam konteks ke-Indonesiaa. “Rukun tapi Suloyo, Suloyo tapi Rukun” atau “Sebongso tapi Suloyo, Suloyo tapi Sebongso”, atau yang lebih tepatnya “Sak negoro tapi Suloyo, Suloyo tapi sak negoro”, begitulah kode etiknya, sebab rukun dengan non muslim Indonesia itu sifatnya hanya dharurat, agar supaya umat Islam tidak dituduh Radikal, Ekstrim, Intoleran dan cap-cap buruk lainnya, sedangkan rukun sesama muslim hukumnya wajib, apapun sekte dan alirannya, semisal Santri-non Santri, NU-Muhammadiyah, Wahhabi, HTI, JTA dst… kami mengistilahkan interaksi sosial antar sesama umat Islam di Indonesia dengan jargon “Podo Tapi Bedo, Bedo Tapi Podo”, atau “Seagomo tapi Bedo, Bedo tapi Seagomo”.
Fenomena mengerikan semisal umat Islam ikut natalan, Banser Jaga Gereja, memilih pemimpin non muslim, do’a bersama, FKUB dan lain sebagainya adalah imbas pemahaman keliru terhadap tata cara interaksi antar muslim-non muslim.
Kami tambahkan lagi, bahwa maqolah ulama (Seperti KH. Zubair Dahlan dan KH. Maimoen Zubair) عليكم بالدثار والشعار, hakikat pemahaman Ditsar dan Syi’ar itu sama, yakni kembali pada taqwallah, jika syi’ar adalah urusan membersihkan hati dari sombong, iri, dengki, ujub dan segala penyakit hati (domain thoriqoh), maka ditsar adalah urusuan dhohir, seperti sholat, zakat, puasa, haji dll. Pokoknya syi’ar itu “noto ati” sedangkan ditsar “noto awak”. Tidak seperti orang-orang yang menafsiri syi’ar dengan menetapkan pendidikan salaf, sedangkan ditsar dengan menerima pendidikan umum.
Adapun maqolah: حق عل العاقل أن يعرف زمانه ويحفظ لسانه ويقبل على شأنه (termasuk salah satu hikmah ‘Ali Dawud, dalam kitab al-Bidayah wa an-Nihayah Juz 1. Hal: 102, dan termasuk isi suhuf Ibrahim, dalam kitab Syarah Arba’in Nawawiyah hal: 40) maksudnya arif bizamanih adalah: Seseorang ketika berdakwah harus menggunakan bahasa kaumnya yang kekinian (terupdate), berlandaskan hukum dan tidak menimbulkan fitnah dan kegaduhan, agar mudah dipaham, hal ini senada dengan firman Allah SWT: وَمَا أَرْسَلْنَا مِنْ رَسُولٍ إِلَّا بِلِسَانِ قَوْمِهِ لِيُبَيِّنَ لَهُمْ فَيُضِلُّ اللَّهُ مَنْ يَشَاءُ وَيَهْدِي مَنْ يَشَاءُ وَهُوَ الْعَزِيزُ الْحَكِيم. خذ ما Jadi tidak boleh mengikuti arus zaman dengan dalih maqolah tersebut, karena ada maqolah ulama yang berbunyi: خذ ما صفا ودع ما كدر (setiap perkara menguntungkan akhirat harus diambil, dan yang merugikannya harus ditinggal). Begitu juga tidak boleh berdalil dengan maqolah ulama moderen yang masih diragukan kevalidannya, تتغير الأحكام بتغير الأحوال والأزمان. Kalau zaman rusak, masak kita ikutan rusak?, seperti sekarang lagi marak Pluralisme, Liberalisme, Miras, LGBT, kepemimpinan non muslim, bermesraan dengan kuffar, natalan, perzinaan dan seterusnya… apa dengan dalil tersebut, umat Islam diperbolehkan ikut-ikutan zaman? Naudzubillah min dzalik.
Kanjeng Nabi Muhammad SAW juga melakukan pergaulan sosial secara baik dengan komunitas orang kafir (ahli kitab), seperti Kristen Najron, Yahudi Madinah sebelum mereka mengkhianati Perjanjian Madinah atau yang dikenal dengan Piagam Madinah. Namun, setelah mereka mengkhianati perjanjian tersebut, Kanjeng Nabi SAW menerapkan kebijakan yang berbeda-beda. Terhadap Bani Qoinuqo dan Bani Nadlir, Kanjeng Nabi Muhammad SAW memerangi dan mengusir mereka dari Madinah, terhadap Bani Quroidloh, beliau memerangi dan menumpas mereka. Begitu juga orang tuanya istri Kanjeng Nabi SAW yang bernama Huyay bin al-Akhthob yang merupakan tokoh Yahudi Bani Quroidhoh terbunuh dalam perang khandaq, kemudian putrinya, Shofiyyah yang suaminya Kinanah bin Rabi’ bin Abil Huqaiq terbunuh di perang Khaibar diperistri kanjeng Nabi Muhammad SAW.
Aswaja juga menerima konsep kebangsaan, kebhinekaan dalam konteks berbangsa dan bernegara, sosial kemasyarakatan sebagai bentuk loyalitas tanggungjawab aswaja terhadap stabilitas dan keutuhan NKRI serta demi mewujudkan dan menjaga persatuan dan kesatuan antar komponen bangsa Indonesia, asalkan untuk kemaslahatan umat Islam, dan semua itu tidak bertentangan dengan syari’at Islam itu sendiri (الإسلام يعلو ولا يعلى عليه).
Namun ketika nilai-nilai kebangsaan dan ke-bhinekaan tersebut dikhianati oleh orang-orang liberal dengan dibuat kedok untuk memasarkan ide-ide pluralisme agama, maka Aswaja mempunyai kewajiban untuk membendungnya serta membentengi umat agar tidak ikut-kutan terjebak hanyut ke dalam propaganda untuk meninggalkan dan membuang Islam dengan slogan “pluralisme agama”.
Dampak Pluralisme adalah pendangkalan aqidah. Di negeri ini, kegiatan yang mengandung benih-benih dan aroma pluralisme agama sudah menjadi tren. Kegiatan do’a bersama lintas agama yang melibatkan tokoh-tokoh NU bukan pemandangan asing lagi. Acara yang diberi tema “Forum Silaturahmi Nasional Lintas Agama” di GOR Sidoarjo pada hari Jumat, 22 Januari 2010. Begitu juga sungguh sangat memiriskan umat Islam yang setiap tahun disuguhi berita ”pelamaran” pihak NU (puluhan ribu GP Ansor-Banser) “melamar” kepada orang Kristen dan Katolik untuk menjadi penjaga gereja di upacara natalan. Padahal bukan keadaan darurat, sedangkan polisi pun sudah dikerahkan hingga 93.000 polisi untuk pengamanan. Di zaman Gus Dur, pembangunan gereja besar-besaran marak direalisasikan pada daerah komunitas Muslim. (Sumber: m.tribbunnews.com)
Tindakan salah tokoh NU dan pengasuh pondok pesantren Saka Tunggal di Jl. Sendang Guwo 40-42 Semarang yang dikenal sebagai dedengkot PBM (Pasukan Berani Mati), ceramah di sebuah gereja Bethany Tayu, Pati, Jawa Tengah, Rabo 25 Desember 2013 (Sumber: m.kaskus.co.id) sebagai tindak lanjut dari isu NKRI harga mati, keBhinekaan, dan toleransi kebangsaan yang merupakan kedok untuk menyebarkan paham pluralisme agama.
Entah mengapa orang-orang tersebut begitu getol dan giat melakukan kegiatan-kegiatan pluralisme diatas, padahal tidak ada kondisi darurat sedikitpun yang sah menjadi pendorong umat Islam harus berperilaku seperti, bahkan yang terjadi hal ini lebih terlihat dipaksakan. Buktinya setiap acara tersebut selalu di-blow up besar-besaran di media massa dan bagi Muslim yang mengingkarinya otomatis mendapat cap intoleran, radikalis, anti-kemajemukan, dan cap-cap teror lainnya. Padahal umat Islam sudah dilarang dan diwanti-wanti oleh Allah agar jangan akrab (muwalah) dengan orang kafir.

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَتَّخِذُوا بِطَانَةً مِنْ دُونِكُمْ لَا يَأْلُونَكُمْ خَبَالًا وَدُّوا مَا عَنِتُّمْ قَدْ بَدَتِ الْبَغْضَاءُ مِنْ أَفْوَاهِهِمْ وَمَا تُخْفِي صُدُورُهُمْ أَكْبَرُ قَدْ بَيَّنَّا لَكُمُ الْآيَاتِ إِنْ كُنْتُمْ تَعْقِلُونَ [آل عمران : 118]
“Wahai orang-orang yang beriman, janganlah kamu menjadikan teman orang-orang yang diluar kalanganmu (seagama) sebagai teman kepercayaanmu, (karena) mereka tidak henti-hentinya menyusahkanmu. Mereka mengharapkan kehancuranmu. Sungguh telah nyata kebencian dari mulut mereka, dan apa yang tersembunyi di hati mereka lebih jahat. Sungguh telah kami terangkan kepadamu ayat-ayat (kami), jika kamu mengerti” (QS. Ali Imran: 118)

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَتَّخِذُوا الْيَهُودَ وَالنَّصَارَى أَوْلِيَاءَ بَعْضُهُمْ أَوْلِيَاءُ بَعْضٍ وَمَنْ يَتَوَلَّهُمْ مِنْكُمْ فَإِنَّهُ مِنْهُمْ إِنَّ اللَّهَ لَا يَهْدِي الْقَوْمَ الظَّالِمِينَ [المائدة : 51]
“Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah kamu menjadikan orang Yahudi dan Nashrani sebagai teman setia(mu) mereka satu sama lain saling melindungi. Barangsiapa diantara kamu menjadikan mereka teman setia, maka sesungguhnya dia termasuk golongan mereka, sungguh Allah tidak memberi petunjuk kepada orang yang zhalim.” (QS. Al-Maaidah: 51)

وَدُّوا لَوْ تَكْفُرُونَ كَمَا كَفَرُوا فَتَكُونُونَ سَوَاءً فَلَا تَتَّخِذُوا مِنْهُمْ أَوْلِيَاءَ حَتَّى يُهَاجِرُوا فِي سَبِيلِ اللَّهِ
“Mereka ingin supaya kamu menjadi kafir sebagaimana mereka telah menjadi kafir, lalu kamu menjadi sama (dengan mereka). Maka janganlah kamu jadikan diantara mereka penolong-penolong(mu), hingga mereka berhijrah pada jalan Allah.” (QS. Al-Nisa: 89)
Keputusan Bahtsul Masail PBNU tanggal 21 Januari 2014 tentang wajibnya kondom dan perlunya lokalisasi prostitusi dalam rangka mencegah penyebaran HIV dan AIDS. Menurut siaran pers Komisi Penanggulangan AIDS Nasional (KPAN), PBNU termasuk dari empat penerima dana utama The Global Fund untuk penanggulangan HIV/AIDS. Dari USD. 111,09 juta yang dihibahkan ke Indonesia, PBNU menerima dana sebesar USD. 13,391,651. (161 Milyar) (Sumber: PEPFAR-US President’s Emergency Plan for AIDS Relief), Salah satu bentuk realisasi bantuan dana tersebut adalah diterbitkannya dua buku berjudul “Panduan Penanggulangan AIDS, Perspektif Nahdlatul Ulama” dan Khutbah Jumat “Jihad Melawan HIV & AIDS”. Sudah menjadi rahasia umum jika KB adalah salah satu program Kristenisasi, karena sasaran program ini adalah umat Islam, sedangkan China-Kristen tidak perlu KB, yang lebih mengerikan lagi, umat Islam saat ini diajari LGBT dan dicekoki Miras, naudzubillah min dzalik.
Ini semua adalah bentuk dari propaganda pluralisme agama dan program kristenisasi yang terorganisir. Karena pemakaian kondom bisa menekan kehamilan dan memutuskan keturunan. Allah Taala berfirman:
وَإِذَا تَوَلَّى سَعَى فِي الْأَرْضِ لِيُفْسِدَ فِيهَا وَيُهْلِكَ الْحَرْثَ وَالنَّسْلَ وَالله لَا يُحِبُّ الْفَسَادَ. [البقرة: 205]
Dan apabila ia berpaling (dari kamu), ia berjalan di bumi untuk mengadakan kerusakan padanya, dan merusak tanam-tanaman dan binatang ternak, dan Allah SWT tidak menyukai kebinasaan. (QS. Al-Baqoroh: 205)
Keputusan PBNU ikut melegalkan lokalisasi juga bertentangan dengan keputusan Bahtsul Masail pada Muktamar Nahdlatul Ulama ke- XXXI di Boyolali Solo Jawa Tengah 29 November-01 Desember 2004 yang memutuskan bahwa melegalkan lokalisasi prostitusi bukan taghyir munkarat, tapi justru membenarkan, menolong, dan melestarikan kemaksiatan tersebut dan hukumnya adalah haram. Upaya taghyir munkarat harus dilakukan dengan cara penutupan tempat-tempat maksiat dan memberikan hukuman kepada para pelakunya. Allah SWT berfirman:
وَلَا تَقْرَبُوا الزِّنَا إِنَّهُ كَانَ فَاحِشَةً وَسَآءَ سَبِيلًا. [الإسراء: 32[
Dan janganlah kamu mendekati zina; Sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji dan suatu jalan yang buruk. (QS. Al-Isro: 32)
وَتَعَاوَنُوا عَلَى الْبِرِّ وَالتَّقْوَى وَلَا تَعَاوَنُوا عَلَى الْإِثْمِ وَالْعُدْوَانِ وَاتَّقُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ شَدِيدُ الْعِقَابِ. [المائدة: 2[
Dan tolong-menolonglah kamu dalam (menger-jakan) kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran. (QS: al-Maidah: 2)
Inilah deretan dari berbagai konspirasi dan propaganda Kristen-Liberal lewat tokoh-tokoh Islam dalam memporak-porandakan keutuhan dan kekuatan umat Islam. Mereka kelompok minoritas, namun mereka telah lancang dan terang-terangan menyulut api permusuhan antar umat Islam. Oleh karena itu, jika dikembangkan, apalagi di negara yang mayoritas muslim, seperti Indonesia maka akan melahirkan permasalahan teologis, sosio-politik, dan bahkan HAM yang sangat di luar biasakan.

Ikhtitam
Berbagai bencana telah melanda negara ini, marilah bermuhasabah diri, dengan kembali ke fitrah, memposisikan diri dan berkiprah sesuai dengan karakter dan keahliannya masing-masing, seorang tokoh yang mempunyai kapasitas keilmuan hendaknya mengamalkan ilmunya sesuai syariat Islam dengan mengatakan bahwa benar adalah sebuah kebenaran dan bathil adalah sebuah kebathilan, hendaknya yang kaya mendermakan sebagian hartanya di jalan Allah SWT dan yang miskin hendaknya memperbanyak istighfar.
Pesantren mempunyai tugas melahirkan generasi paripurna untuk menjawab berbagai persoalan umat, menjadi garda depan dalam menolak dan membendung pengaruh pemikiran-pemikiran sesat Liberalisme, Pluralisme, Sekulerisme, Syiah, Wahhabi, MTA dan aliran-aliran sesat lainnya yang semakin tumbuh berkembang di Indonesia, demi menjaga kemurnian aqidah dan umat Islam dari kekufuran.
Semoga Allah SWT memberi rahmat, taufiq dan hidayah-Nya kepada kita semua. Amiin…