Seminar Kebangsaan di PP. Sidogiri, Syaikhina KH. M. Najih Maimoen: Ketika Kiai dan Santri Ikhlas Berkiprah Pasti Ada Barokahnya

Pada hari Kamis kemarin tepatnya tanggal 16 Sya’ban 1439 H/2 Mei 2018 H, Syaikhina Muhammad Najih untuk kesekian kalinya diundang oleh Pondok Pesantren Sidogiri untuk menjadi narasumber dalam acara seminar yang diselenggarakan oleh panitia. Kali ini beliau diundang dalam acara Daurah Kebangsaan bertajuk “Revitalisasi Ghirah Islamiyah-Wathoniyah” yang bertempat di aula sekretariat PP Sidogiri. Acara ini merupakan salah satu rangkaian acara dalam rangka Hari Ulang Tahun PP Sidogiri ke-281 dan Ikhtibar Madrasah Miftahul Ulum ke-82. Selain Abah Najih, tokoh lainnya yang diundang sebagai narasumber adalah Prof. Ahmad Mansur Suryanegara rektor Universitas Padjajaran sekaligus penulis buku sejarah monumental “Api Sejarah” yang ramai menjadi bahan perbincangan baru karena memuat banyak fakta dan penafsiran sejarah tentang perjuangan ulama dan santri dalam mengembangkan Islam di Nusantara mulai zaman kerajaan Islam hingga masa kemerdekaan dan modern di Indonesia.

Dalam daurah kebangsaan tersebut, Syaikhina Najih banyak menambahi dan melanjutkan perbincangan tentang sejarah ulama dan santri yang berkiprah dalam sejarah mencapai dan mempertahankan kemerdekaan Indonesia yang telah disampaikan terlebih dahulu oleh Profesor Mansur. Berikut kutipan kuliah beliau berdurasi kurang lebih satu setengah jam tersebut:

Ulama yang Memperjuangkan Indonesia sudah Puncak

“Walhasil, dari tulisan yang saya konsepkan itu, bahwa kami atau saya Muhammad Najih punya asumsi atau pemikiran bahwa para ulama yang mempertahankan Indonesia dan kemerdekaan Indonesia ini adalah ulama-ulama yang menurut saya sudah puncak baik keilmuannya, kearifannya, kewirainya, dst. Disana ada Hadlratus Syaikh Hasyim Asy’ari. Ini merupakan ulama besar dan mutakharrij (alumni) pondok-pondok atau kiai-kiai besar, wa bil khusus KH Kholil Bangkalan. Ketika di Makkah Mukarramah beliau juga mengaji pada masyayikh besar. Sebelum KH Hasyim Asy’ari ada Kiai Nawawi Banten yang juga murid KH Kholil Bangkalan. Ini semuanya memperjuangkan untuk kemerdekaan, artinya mengusir Belanda dengan cara masing-masing. Kalau Kiai Nawawi dengan kitabnya yang penuh dengan Ghirah Islamiyah Imaniyah, yakni bughdl (benci) kepada kufur. Sedangkan Kiai Kholil dengan mengajar dan mengisi pondok pesantren dengan ngajar atau ngaji yang salaf dan jauh dari ilmu umum dan sekolah, dst. Namun juga ada yang masuk ke pemerintahan, ada yang sekolah umum seperti Muhammad Hatta. Muhammad Hatta itu putranya seorang alim, lalu belajar di sekolah Belanda. Mr. Muhammad Roem juga santri tapi belajar atau sekolah di Belanda, dan menurut saya orang yang berjasa adalah Mr. Roem itu.
Saya pernah membaca sejarah, entah di buku Api Sejarah ini ada atau tidak, bahwa Pancasila adalah buatan orang macam-macam, tapi yang pokok yang saya tahu itu dari Soekarno. Dia menggali dari seorang pengarang dari zaman Majapahit. Pancasila sudah ada zaman Majapahit. Jadi konsepnya Pak Karno itu bukan “Ketuhahan yang Maha Esa” tapi “Peri Ketuhanan”, “Peri Kemanusiaan”, “Peri Keadilan”, dst. Hanya “Pri Ketuhanan”, yakni maksudnya bangsa Indonesia itu punya tuhan, tapi yang dari Hindu Budha ketuhanan aslinya yang punya tuhan, entah itu Allah Ta’ala atau yang lainnya. Yang penting ada tuhannya. Dan memang tuhan terbesar itu Allah. Sang Hyang Widhi dalam bahasa mereka. Jadi asalnya hanya “Pri Ketuhanan”, lalu oleh Mr. Muhammad Roem ditambah “Yang Maha Esa” yang bermakna tauhid. Andaikan tidak ada Mr. Roem maka mungkin hanya “Pri Ketuhanan” atau “Ketuhanan”, belum sampai tauhid. Dia asalnya dari Pekalongan, dan Pekalongan itu terkenal kota santri.

Pancasila Tidak Mungkin Komunis

Saya baca juga di facebook entah tulisannya siapa, dia merangkum pidatonya Gus Dur mulai akhir 80-an atau awal 90-an ketika awal dia jadi ketua PBNU. Disitu ada pernyataan, saya perhatikan, bahwa Pancasila adalah kompromi dari beberapa ideologi. Ada Islam, kapitalis, sosialis, dan komunis. Jadi keadilan sosial itu adalah ideologi komunis, sosialis, atau sak bangsane itu.
Akan tetapi walau begitu, kita harus bersyukur bahwa yang ikut menunggu panitia kemerdekaan yang membahas asas-asas negara seperti yang disebut Pak Mansur tadi adalah seperti Wahid Hasyim, Ki Bagus Hadikusumo dari Muhammadiyah, dst. Artinya dari kiai. Perwakilan Kristen hanya ada satu. Sesuatu yang melibatkan ulama atau kiai menurut persepsi kita kaum santri atau bahasa sekarang kaum nahdliyyin itu pasti ada baiknya, tidak mungkin sesat. La tajtami’u ummati ‘ala dlalalah (umatku tidak akan sepakat dalam kesesatan). Walaupun disitu campur ideologi, namun ulama kita mesti mentakwil atau punya takwilan ke Islam. Artinya tidak mungkin memaknai “Keadilan Sosial bagi Seluruh Rakyat Indonesia” dengan sistem komunis. Manusia tidak punya hak milik, semua milik negara atau pemerintah. Kekayaan miliki pemerintah. Ini gak mungkin, kan? Mereka adalah orang yang baca kitab Fathul Qarib, Fathul Mu’in, dan Fathul Wahhab. Masa’ menafikan milkiyyatul afrad (kepemilikan pribadi)? Ini hal yang mustahil. Konsep komunis dan sosialis itu gak mungkin, itu permainan dari yang punya konsep. Kepemilikan mau dihilangkan itu gimana? Tapi memang Islam tidak senang dengan monopoli, ketidakpedulian dengan rakyat, dan tidak mau membayar zakat. Jadi keadilan sosial itu ya zakat bagi yang Muslim. Yang kaya memberi zakat kepada fakir miskin yang Muslimin. Kita husnnuzzhan begitu, kan? Masa’ kiai nasionalismenya mengalahkan keagamaaanya? Ini kan tidak mungkin. Mereka seperti difirmankan Allah Ta’ala:
فِطْرَتَ اللَّهِ الَّتِي فَطَرَ النَّاسَ عَلَيْهَا [الروم : 30]
“Fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu.” (QS. Al-Rum: 30)
Mereka dididik di pesantren yang bermadzhab Syafi’i, dan berakidah tauhid. Laa ilaha illaLlah, kita harus menyembah Allah. Muhammad RasuluLlah, kita harus mematuhi perintah rasul dan mengikuti jejaknya.
Adapun KH Wahid Hasyim dan sebagainya sudah memperjuangkan agar syarat presiden harus Islam yang ditolak oleh kaum nasionalis. Itu ngalahnya beliau, bukan ikhtiar. Kan sudah memperjuangkan. Banyak musyawarah yang condong dilobi oleh kaum nasionalis sehingga bisa kalah. Bisa juga pakai uang dari Jepang atau Belanda, dst.
Kemudian ulama kita tadi disampaikan oleh Profesor Mansur memperjuangkan NKRI. Konferensi Meja Bundar itu saya kira pimpinannya mungkin Pak Natsir, tapi di belakangnya atau yang mensupport agar Indonesia diakui dan memiliki kekuasaan itu ada tokoh lagi. Saya lupa siapa namanya, namun Pak Natsir tidak sendirian.

Surabaya, Peristiwa 10 November, dan Hari Santri

Jadi perjuangan kita ini sudah sangat luar biasa. Kemudian KH Hasyim Asy’ari berfatwa wajib jihad, ini karena beliau tahu bahwa Sekutu baik Inggris, Jerman, Itali, dan seterusnya itu ingin menguasai kembali Surabaya. Sedangkan Surabaya adalah simbol Aswaja sekaligus ibukota Walisongo dan komunitas pengikutnya. Ada Sunan Ampel, walaupun bukan yang pertama dari Walisongo tapi dia adalah penunggul. Dia yang benar-benar menguak dakwah kemana-mana serta mendirikan pesantren Ampel Denta yang sekarang masih eksis, artinya syi’arnya masih bisa kita rasakan sampai sekarang. Ini kalau jatuh di tangan Sekutu maka pasti daerah lain akan gampang dikuasai.
Jadi orang Belanda dan Kristen sudah mempelajari mana satu daerah yang sangat strategis dimana kalau dikalahkan pasti yang lain akan ikut. Ini sudah tau sekali. Kekuatan di Jawa ini adalah Surabaya.
Saya sudah pernah diwawancarai oleh majalah Ijtihad Sidogiri, bahwa Hari Santri itu bahkan Hari Ulama Kiai itu tanggal 10 November (Hari Pahlawan), tapi di sejarah disebut “Arek-arek Surabaya”. Itu sebenarnya santri yang berani dan jadug (sakti). Yang saya ketahui, yang merobek bendera Belanda itu adalah mertuanya KH Hamid Baidhawi Lasem dari Bojonegoro. Dulu beliau pernah belajar di Pondok Pesantren Termas. Kamarnya itu angker sekali sampai sekarang. Beliau ahli wiridan dan jadug, jarang orang berani masuk kamar itu sampai sekarang. Dialah yang berani merobek, padahal di belakangnya ada tentara Belanda dan Sekutu yang canggih.

Bahaya Laten Komunis dan Cina

Dan perlu saya informasikan disini, pada catatan sejarah yang berbeda, saya diberitahu oleh orang Arab tapi bukan habib. Ada tamu dari Malang, waktu itu datang pada saya masih agak muda. Dia bercerita, “Ati-ati, Gus. Ada istilah bahaya laten. Ada dua, ada komunis, ada Cina. Jangan hanya PKI saja, Cina juga bahaya laten.” Dia cerita bahwa ketika Sekutu datang ke Surabaya, sebelum mereka datang itu orang-orang Cina memecah batu-batu menjadi kerikil lalu ditaburkan di depan rumah umat Islam khususnya bapak-bapak haji karena Surabaya itu tempatnya orang-orang kaya dulu. Zaman Belanda orang Islam banyak yang makmur. Makanya NU berdiri dan kiai berani mendirikan NU karena di belakang kiai banyak pak kaji-pak kaji. Mereka kaya. Bukan pak kaji sekarang yang mengantri sampai 25 tahun. Dulu mereka kaya-kaya.
Saya punya mbah, Kiai Baidhawi sebelum menikah dengan mbah saya dari Blora itu nikah dengan anak kiai yang alim, sakti, dan kaya dari Rembang. Dia berhaji dengan nyarter (menyewa kendaraan. Dia tidak mau ke Semarang, apalagi ke Jakarta. Dia menyewa kapal, kapalnya disuruh ke Rembang. Luar biasa, kayak-kayak membeli kapal. Orang zaman dulu kalau kadung kaya maka kaya sekali karena Belanda dari sisi ekonomi tidak memeras kepada pribumi secara lahiriah. Akan tetapi dia mengambil sumber daya alam tentunya seperti yang disampaikan pak Mansur yaitu dengan membangun rel-rel kereta api. Tujuannya adalah memudahkan pemantauan kiai-kiai yang ingin berjuang khususnya di kota-kota. Makanya kiai itu kebanyakan di desa, karena kalau di kota diawasi oleh Belanda. Kiai Kholil Rembang Kasingan gurunya Kiai Mahrus Lirboyo tidak boleh mengajar Tafsir Jalalain, hanya Alfiyyah saja. Karena kalau baca Tafsir Jalalain khawatir membangkitkan semangat melawan Belanda.

Belanda yang Membesarkan Komunis

Saya setuju itu. Dan menurut saya, saya tambahi, bahwa Belanda-lah yang membesarkan komunis. Jadi komunis sebenarnya kan mazhab baru, dulu-dulu tidak ada. Paham komunis dari Karl Marx. Itu buatan Yahudi. Nah, dia membesarkan komunis di Solo tepatnya. Bahkan tadi Syarikat Islam ada dua. Ada yang kanan, ada yang kiri. Syarikat Islam H. Samanhudi itu kanan, kalau yang kiri itu julukannya ASU. Artinya jadi komunis, di Solo.
Jadi komunis itu dibesarkan. Ada istilah Islam Abangan, ada istilah Islam Santri, ada istilah Priyayi. Ini semua dibesar-besarkan Belanda untuk menghancurkan santri. Snouck Hugronje ingin menghilangkan kesantrian, kemudian menguasai masalah haji dst untuk mengawasi gerakan karena takut Indonesia atau umat Islam belajar di Makkah dan menggerakkan ruh jihad melawan Belanda. Makanya tadi Kiai Nawawi tidak membuat gerakan politik. Kiai Kholil Bangkalan juga tidak. Hanya gerakan mengaji, tapi isinya adalah kita disuruh jauh dari Belanda. Kemudian bangkitlah Pergerakan Nasional.
Di sejarah-sejarah dan saya sudah pernah baca buku Api Sejarah itu sedikit, disitu diterangkan bahwa kebangkitan nasional dimulai oleh Budi Utomo. Yang bikin Ki Hajar Dewantara. Itu sebetulmnya salah sekali, karena Ki Hajar Dewantara itu bukan nasionalis. Dia itu Jawanis, fanatik Jawa. Walaumpun melawan Belanda tapi masih budaya Jawa. Namanya saja Budi Utomo, itu kan sudah kelihatan kejawaaannya. Mungkin itu gerakan nasionalis ala priyayi Jawa. Kemudian yang Islam itu SI (Syarikat Islam) yang kemudian terpecah jadi dua. Tentu yang memecah adalah Belanda, itu maklum. Liciknya Belanda untuk mengikis kesantrian. Jadi Belanda mengkader orang-orang nasionalis bahkan anak-anak kiai seperti Muhammad Hatta supaya menghilangkan jasa-jasa ulama atau santri.
Tadi saya diberitahu protokol untuk membahas setelah kemerdekaan saja. Langsung saja bahwa Kiai Kholil dan Kiai Nawawi berjuang sebagai agamis nasioanalis, artinya memperjuangkan hilangnya atau terusirnya Belanda dari Indonesia, tapi Belanda bisa terusir oleh Jepang. Dia pintar dengan membuat batalion-batalion dikuasai kiai, karena Jepang tahu dia ingin beda dengan Belanda. Tahu kalau Belanda sangat benci kiai dan santri. Santri dilatih menjadi tentara. Tapi AlhamduliLlah, justru latihan itu berdampak baik yaitu para kiai mengusir Sekutu tadi.

Kiai-Santri ketika Berkiprah Pasti Ada Barakahnya

Jadi SubhanaLlah, kiai dan santri yang liLlahi Ta’ala, tadi disebutkan tidak niat jadi PNS, itu kalau berkiprah pasti ada barakahnya. Dulu ada istilah khittah, itu kan banyak kiai masuk Golkar. Pasalnya Golkar itu tempat strategis Kristen untuk berkiprah disana, selain ada sisa-sisa PKI disitu. Jadi kelihatannya mengusir PKI tapi pimpinannya diamankan, dibawa ke Swiss. Dibawa Barat. Yang dibunuh oleh NU-Ansor-Banser itu PKI kroco-kroco, yang kelas kakap diamankan.
Walhasil, saya sampaikan kenapa PKI yang anti kiai, agama, dan pesantren kok bisa besar karena didikan dari Belanda. Kaderasisasi dari Belanda. Sekarang kita AlhamduliLlah sudah besar. sekarng ada Hari Santri. Saya takutnya Hari Santri sama dengan tadi, Jepang beda dengan Belanda. Kalau era sebelumnya, SBY dan Soeharto, tidak begitu senang santri tapi senang Islam. Tadi dikatakan Soeharto membangun seribu masjid, bahkan di Bosnia. Dia senang Islam itu tidak berarti senang kaum santri atau NU, karena dia dulu-dulunya kebanyakan berguru dari Muhammadiyah. Tapi kecilnya Soeharto itu didikan santri. Saya tahu ini karena keturunan dari kiai yang mengajarinya dari kecil itu ada sebagian yang di Sarang. Mbahnya Shalahuddin dekat jembatan Sarang itu.
Jadi kiai itu ketika bertemu Soeharto ketika pertama jadi presiden pesannya, “Hei, Harto! Niruo Sultan Agung Raja Mataram.” Makanya dia lalu membuat masjid-masjid Pancasila, walaupun bukan uangnya Pak Harto sendiri tapi hasil menyunat gaji-gaji pegawai saat itu.
Dulu kalau ada Kiai dari Golkar itu diambilkan dari dana haji yang sekarang jadi dana abadi umat, yang kepengen ditampung oleh era Jokowi untuk infrastruktur bukan untuk pendidikan. Pak Harto untuk Islam, tapi ini pengen untuk infrastuktur, untuk pembuatan jalan. Bisa-bisa nanti menyembelih kiai kalau cinanya sudah ratusan, ribuan, bahkan jutaan. Lama-lama pekerja seksual yang datang dan dijual murah. Itu merusak dan berbahaya sekali.
Jadi yang mendidik memang Belanda dengan liciknya, artinya Jepang merekrut atau menghormati kiai dengan tujuan untuk melawan Belanda kalau mereka datang. AlhamduliLlah, dengan izin Allah Hiroshima dibom dan akhirnya Jepang mundur begitu saja dengan teratur artinya pelan, namun ya masih saja. Jepang kayaknya baik dengan kaum santri, tapi tetap mereka adalah musuh. Buktinya ada Tujuh Kalimat yang disepakati oleh panitia kemerdekaan yaitu “Ketuhanan dengan kewajiban mengamalkan Syariat Islam bagi pemeluknya” ini disuruh dicoret oleh jenderal Jepang. Kelihatannya baik dengan kiai, tapi hatinya tetap busuk kepada kiai dan ulama serta Islam secara umum. Ini mungkin ditekan juga oleh Amerika, karena Amerika sudah menang terhadap Jepang. Maka tadi bahasanya pak Mansur, Soekarno ketakutan. Itu menunjukkan dia juga nggak senang kiai. Dia tidak tahu bahwa Indonesia ini terjaga karena barakahnya kiai. Mereka tidak tahu, seolah-olah yang bikin Indonesia merdeka adalah nasionalis. Padahal dia ketakutan dan ragu-ragu sekali.

Hubungan Ulama dengan Peristiwa Proklamasi

Di catatan sejarah yang memaksa Soekarno proklamasi adalah mahasiswa. Ini bohong. Yang memberitahu saya adalah tetangganya Pak Mansur ini. Dia ketemu dengan Pak Mansur, lalu dia bilang bahwa yang memaksa Soekarno proklamasi adalah ulama-ulama dan kiai-kiai ajengan Sunda di Rangkasbitung. Itu tetangganya. Saya pernah kesana karena suaminya yang dari keluarga situ ada keponakan saya, lalu saya mampir.
Jadi asalnya Soekarno itu ragu. Soekarno itu pernah memang jadi menantunya HOS Cokroaminoto, tapi juga pernah jadi menantunya Belanda. Jangan dipungkiri sejarah. Akhirnya punya istri dari Jepang itu. Yang membuat Soekarno agak baik dan kenal agama adalah ibunya, karena istrinya Rahmawati aslinya dari Riau atau Jambi. Katanya masih ada trah kerajaan entah Melayu atau mana. Jadi ini yang menjadikannya masih punya kebaikan-kebaikan. Anak Soekarno Ada yang pro Hindu Budha atau PKI seperti Sukmawati, Megawati juga. Meragukan Hari Kiamat. Pesantren kita ini dianggap peramal-peramal saja, tidak tahu fakta. Lho, ente yang tidak tahu fakta bahwa Indonesia ini berdiri lewat darah para santri dan ulama. Bapak kamu ragu tentang proklamasi asalnya, yang menyuruh itu adalah dari ajengan kiai-kiai Sunda. Bahkan tetangganya pak Mansur tadi cerita, waktu malam 17 ada istighatsah supaya cepat merdeka. Pak Karno datang membawa anak perempuan. Anaknya menangis, akhirnya diberi susu oleh sebagian kiai. Susu kaleng atau apa.
Jadi kiai-kiai sangat berjasa sekali, tapi karena penulis-penulis sejarah adalah bukan kaum pesantren melainkan nasionalis bahkan ada yang PKI, akhirnya sejarah dihilangkan. Untungnya Soekarno masih hormat dengan Hasyim Asy’ari. Beliau adalah orang yang berwibawa sekali. Ketika Pak Karno jadi presiden, dia cepat-cepat ke Kiai Hasyim Asy’ari. Hubungan Pak Karno dengan Wahid Hasyim ini saingan istilahnya, jegal-jegalan. Pak Karno sering menjegal Wahid Hasyim supaya tidak jadi presiden. Tapi hubungan Soekarno dengan Hasyim Asy’ari baik sekali. Dia pernah ke Jombang. Ini yang cerita saya adalah Kiai Hamid Baidhawi, khali (paman saya) dari ibu. Ceritanya dia sowan kepada Hasyim Asy’ari, lalu Soekarno diberi kesempatan untuk sambutan atau pidato. Saking gemetarnya karena ta’zhim maka tidak berani tampil, malah berkata, “Njenengan mawon.” Akhirnya Hasyim Asy’ari memberi sambutan. Pertama kali yg dikatakan, “Wahai Soekarno! Kenimatan terbesar yang diberikan kepadamu sekarang adalah jadi presiden RI. Syukurilah.”
Untungnya disitu, akhirnya Soekarno dipesan agar alumni pesantren bisa jadi naib dan KUA di seluruh Indonesia. Akhirnya AlhamduliLlah banyak naib-baib waktu itu dari kiai karena itu instruksi dari presiden saking ta’zhimnya. Tapi kemudian ketika dilanjutkan oleh Kiai Wahid Hasyim, mungkin dia ditekan juga karena banyak KUA dari kiai maka sekarang yang jadi KUA harus dari lulusan sekolah. Akhirnya Kiai Wahid Hasyim memasarkan atau mengajak pesantren untuk ada sekolah umumnya. AlhamduliLlah waktu itu banyak yang menentang, namun di era-era setelahnya sudah tidak ada yang menentang lagi.

Sejarah Kiai-Santri Banyak Dihapuskan dalam Sejarah
Jadi saya ulangi lagi, inilah hasil perjuangan kiai dihapuskan dari sejarah. Ini adalah rekayasa dari Belanda yang licik itu. Walaupun Belanda memanjakan urusan ekonomi kepada umat Islam, tapi umat Islam tetap dibuat kalah oleh Cina. Yang diistimewakan tetap Cina. Tapi walaupun begitu yang kaya tadi masih bisa kaya. Luar biasa. Kalau muktamar NU zaman Belanda, Kiai Hasyim Asy’ari dan ketua PBNU dulu (Hasan Basri Gipo) kalau tidak salah dari Sulawesi, dia mukim di Surabaya lalu dijadikan ketua PBNU. Jadi dulu ketua PBNU itu dari orang biasa, bukan orang alim, doktor, atau profesor. Orang biasa namun kaya. Mbah Hasyim tinggal mengetuk rumah-rumah aghniya’, daerah Babat dulu andalannya. “Ji. Ape enek muktamar, Ji. Bantu piro?”
Jadi di belakang NU ada aghniya’, tapi zaman Jepang jadi berat. Tirakat. Tadi diceritakan banyak batalion dipimpin kiai, tapi beras rakyat diambil oleh jepang untuk makan tentaranya. Kita tidak makan apa-apa, tapi kok kuat keluar keramatnya kiai-kiai itu. Tadi keterangan pak Mansur, hanya punya sarung thok, tidak punya senjata maksudnya, tapi kalau sudah kepepet senjatanya keluar.
Jadi ini kalau kita sibuk dengan ilmu agama, murni liLlahi Ta’ala bukan karena PNS, kalau tidak bisa begitu maka paling tidak senang dan mengakui bahwa sistem salaf ini afdhal daripada sistem khalaf/kurikulum, InsyaAllah ada jiwa kesantrian. Kalau kita dianiaya PKI mau bangkit menyembelih kita, InsyaAllah mereka disembelih dulu sebelum mereka menyembelih. Allahumma Amin. Allahu Akbar. Ini Allahu Akbar-nya Bung Tomo. Allahu Akbar adalah kekuatan yang luar biasa. Kalau kita niat ikhlas li i’lai KalimatiLlah, ini akan mengeluarkan karamah-karamah Ilahiyah. Allahu Akbar ini bukan untuk mencari dunia, tapi mencari akhirat. Dan sebetulnya secara strategi politik, kalau kiai-kiai tadi masuk ke Jakarta jadi pemimpin, kata abah saya nukil dari abahnya yakni Kiai Zubair, tentu TNI dikuasai santri. Tapi banyak juga kiai-kiai batalion yang tidak dimasukkan ke TNI. Mbah saya memimpin batalion seratus prajurit, semuanya dimasukkan ke TNI tp beliau tidak masuk. Alasannya mungkin karena ada kesibukan pesantren karena mbah saya alim.

Mbah Zubair sebagai Pimpinan Militer

Mbah saya pernah dicurigai ikut DI/TII karena dalam sejarahnya mbah saya pernah memimpin batalion. Oleh pemerintahan Soekarno dicurigai, lalu RPKAD disuruh ke Sarang. Waktu itu Sarang belum besar. RPKAD bersembunyi di balik rumput. Akhirnya waktu subuh ketika Mbah Ahmad ngimami, dia masuk ke rumah Mbah Mad dan Mbah Zubair untuk menyelidiki apakah ada senjata atau mungkin data bahwa beliau masuk DI/TII. Tapi AlhamduliLlah tidak ada, tidak ditemukan. Waktu itu Mbah Zubair sedang muktamar di Surabaya. Yang bercerita ini adalah guru saya namanya Haris Thahar, diceritai sama warganya. Ada santri yang hasud dengan Mbah Zubair lalu melaporkan bahwa Mbah Zubair memiliki senjata. Mereka tidak berani ketika Mbah Zubair di rumah, entah karena apa. Beraninya ketika Mbah Zubair ke Surabaya ikut muktamar. Tapi AlhamduliLlah tidak ditemukan.
Jadi karena beliau memimpin batalion dianggap bahaya oleh zaman Soekarno. Jadi mereka tidak mau dan takut dengan hukum Islam. “Ketuhanan Yang Maha Esa” itu yang penting punya tuhan, tidak ada agama apalagi tauhid La Ilaha IllaLlah. Tadi dibela bahwa itu Pancasila sama dengan Al-Quran, surah al-Baqarah dan Ali Imran. Kata orang sekarang Al-Quran banyak matsal-nya atau yang radikal bilang banyak fiksinya. Na’udzubiLlah min dzalika. Yang jelas mereka tidak berani dengan hukum Islam, takut nanti kalau Islam berjalan yang menguasai santri. Padahal yang santri senang sarungan liLlahi Ta’ala. Dulu dasi saja diharamkan.
Ketika ada majelis Konstituante, perjuangan ulama dan mujahid kita untuk penegakan Syari’ah Islam sudah sangat-sangat maksimal. Sampai Soekarno dituntut terus soal Tujuh Kalimat yang dihapus, lalu akhirnya dia bikin majelis Konstituante. Pada perdebatan ini yang pro-Islam akan menang atau sudah menang dengan argumen-argumen bukan dengan golok atau senjata karena kita mayoritas Islam, jika ingin kuat negaranya harus berdasar Islam dan kita umat Islam memang diwajibkan berdasar Islam. Sudah hampir menang atau malah sudah menang, majelis Konstutiante dibubarkan oleh Soekarno dengan berdalih Sila Pertama menjiwai seluruh sila-sila yang lain. Kalau yang tidak paham politik ya enak aja. “Wah, bagus ini.” Tapi tujuannya adalah untuk menghalang-halangi Syari’ah Islam. Terus akhirnya ada Pemilu tapi ditunda-tunda, itu sebenarnya untuk membesarkan partai PNI dan PKI serta memecah-belah Masyumi. Setelah dipecah belah akhirnya NU keluar dari Masyumi.

Isyarah Tatal Masjid Demak: Umat Islam Harus Bersatu!

Tadi sudah disinggung bahwa menurut isyarat tatal di Masjid Demak kita harus bersama-sama umat Islam dan kelompok-kelompok Islam jika ingin berjaya. Seperti itu isyarahnya. Tadi hal ini dibilang -WaLlahu A’lam- klenik sama pak protokol atau mitos. Memang begitu, Indonesia ini memang penuh dengan mitos, entah benar atau tidak WaLlahu A’lam bi al-shawab. Negeri kita dulu dijuluki negeri dongeng, negeri khayalan, dst. Orang Arab ketika melanggar aturan negaranya ditakut-takuti, “Kamu kalau melanggar negara kami akan saya buang ke Wakwak.” Sekarang jadi pulau Fakfak di Papua. Sudah terkenal negeri ini. Makanya ada yang bilang masuknya Islam di Indonesia pada zaman Khalifah Muawiyah, ada yang bilang Khalifah Utsman, ada yang bilang zaman Rasulullah. Ini masuknya Islam lho, artinya masuknya orang Islam, entah sudah mengislamkan atau belum.

Merah Putih dan Istana Hambra

Saya dapat ilmu waktu acara DEMU di MGS, saya bilang bahwa masjid Nabawi itu asalnya tidak ada kayu-kayunya yang besar dan tidak beratap, kemudian zaman Utsman diperbesar dan diberi atap-atap dari kayu. Kok sampai sekarang masih bagus, berarti itu ikayu jati. Kayu jati kebanyakan dari Jawa. Mungkin di Pasai atau Sumatra sudah banyak orang Islam, mereka mengimpor kayu jati dibawa ke Madinah dan jadilah masjid Nabawi yang gagah itu. Kayu jati harus diplitur, dan plitur yang baik berwarna merah. Tadi dibilang ada merah putih katanya. Kalau saya tidak begitu suka merah, mungkin masalahnya karena untuk mlitur agar awet harus warna merah. WaLlahu A’lam.
Saya pernah ke Spanyol bersama Mbah Moen, ada namanya Qashr al-Hamra’. Istana Hambra kalau bahasa sekarang, orang Barat dan Indonesia bacanya Hambra. Di bangunan itu memang banyak warna merah. Dan, seperti di Syiria warna tiang-tiang masjid berwarna hitam putih. Di Masjidil Haram dan Masjid Nabawi motif itu masih ada. Ini sisa-sisa Daulah Umawiyah. Tapi di Qasr al-Hamra’ motifnya memang merah dan putih. Saya tidak tahu rahasianya apa, WaLlahu A’lam. Walaupun saya tidak begitu suka warna merah, tapi merah ada di Daulah Andalusia. Tp yg saya ketahui di masjidil haram itu putih hitam. Benderanya nabi kebanyakan hitam.
Islam masuk ke Indonesia itu sudah lama, tapi yang sulit diislamkan memang Jawa. kalau Sulawesi sudah lama, di Kalimantan juga sudah lama. Yang sulit itu di Jawa. Islam agak baik harus mengerahkan Walisongo yang sakti-sakti, baru bisa berdiri negara Demak. Asalnya kerajaannya bukan Demak tapi Giri, namun baru empat puluh hari lalu diserahkan kepada Raden Fatah di kerajaaan Demak. Akan tetapi anak turun Raden Fatah dicabik-cabik oleh Syi’ah, Siti Jenar, atau Kebatinan. Akhirnya berdiri kerajaan Pajang. Pajang masih agak seperti Raden Fatah mangkel lalu akhirnya jadi kerajaan Mataram. Mataram masih bagus ada Sultan Agung, tapi anak cucunya diobrak-abrik agar senang anti-ulama dan anti-kiai. Amangkurat II menyembelih ulama sebanyak dua puluh lima ribu orang di alun-alun Solo.
Disini sudah ada sejarahnya bahwa Sayyid Sulaiman dipanggil oleh Raja Solo entah siapa untuk diangkat menjadi qadli kemudian sampai di Mojoagung dipundhut Allah Ta’ala. Dia sudah berkata, “Kalau diangkat qadli bakal jadi baik ya sampai Solo, kalau jadi buruk maka belum sampai Solo sudah mati.” Akhirnya nadzar Sayyid Sulaiman itu terjadi sehingga pondok pesantren menjadi besar.

Keikutsertaan Santri dalam Tathbiq Syari’ah

Kita tetap tidak boleh putus asa akan adanya Tathbiq al-Syari’ah, tapi dalam penerapan Syari’ah ini semoga kiai lan sampeyan-sampeyan santri bisa ikut, syukur bisa memimpin. Allahumma Amin. Jangan sampai penerapan Syari’ah ini dikuasai oleh radikalis, Wahabi, dan modern. Tapi kita juga jangan anti modern. Artinya jangan anti orang akademis. Mereka juga memiliki Ghirah Islamiyah besar. kalau kampus-kampus sekarang tidak ada orang-orang yang memiliki Ghirah Islamiyah, maka kita sudah habis. Untungnya dari sisa-sisa keturunan entah dari Sunan Cirebon (Gunung Jati) ada yang jadi kiai, ada juga yang jadi akademis. Mungkin Ustadz Mansur itu termasuk mereka, WaLlahu A’lam. Ini artinya kita masih menemukan sambungan-sambungan dengan ulama-ulama kita. Mereka menghargai kita dengan mengatakan kiai itu pejuang Indonesia Raya yang paling ikhlas. Dan AlhamduliLlah, sebagian dari kalangan priyayi dan akademis menurut sejarah tersebut. AlhamduliLlah.
Demikian yang dapat saya sampaikan, semoga ada manfaatnya. Semoga cita-ita dari ahbabuna shalihun pendidikan pesantren salaf tetap berjaya dan tetap dicintai walaupun tidak bisa penuh, dan cita-cita Tujuh Kalimat yang dihapus oleh Pak Karno dan Hatta tetap berjalan walaupun keadannya seperti ini. InnaLlah ‘ala kulli syaiin Qadir. Kala kita mau disembelih, kitalah yag akan menyembelih.”

“Urusan Politik Ikutlah Masyumi, Urusan Agama Ikutlah NU!”

Setelah pemaparan beliau selesai diatas, kemudian beliau menambahi, “KH Hasyim Asy’ari dalam catatan sebagian santri, yang saya tahu dari Kiai Thahir Kajen, dicatat bahwa urusan partai (politik) ikutlah Masyumi, dan urusan keagamaan, bahtsul masail, dan hukum-hukum ikutlah NU. Ini dicatat oleh Kiai Thahir almarhum. Dulu begitu, tapi lama-lama Masyumi dipecah-belah kemudian sampai sekarang kaum Muslimin dipecah-belah, yang terjadi sekarang adalah munculnya liberal-liberal itu.”
Selanjutnya, ketika ditanya oleh moderator tentang partai mana yang paling ideal untuk dipilih, maka Abah Najih menjawab, “Saya sukar menjawabnya, karena nanti kalau saya menjawab A nanti saya dianggap Muhammadiyah, radikal, atau apa, kalau saya membela yang santri juga banyak liberal padahal dari awal saya sudah anti-liberal. Ya, cari-cari sendiri, lah. Pikir-pikir sendiri, dan rahasiakan ini. Strateginya harus matang. Yang penting tadi saya setuju tatal itu kita harus bersama, harus berkelompok.
Kita ada panglima atau tidak, yang penting kita punya Ghirah Islamiyah bagaimana kita eksis. Sekarang Islam pengen dihilangkan sama sekali khususnya santri. Asalnya orang Islam itu 98 % makanya dulu hampir menang di majelis Konstituante, terus menjadi 90% lalu sekarang jadi 80%. Ini rekayasa mereka supaya kita melempem dan patah semangat. Sekarang saya bangkitkan, jangan putus asa tapi tidak usah aneh-aneh. Yang penting tadi nyoblosnya yang pro-Islam. Kita susah tidak punya panglima, tapi kita seperti harus ikhlas. Justru dengan ikhlas InsyaAllah kita menang.”

Hinaan kepada Habaib: Ekspresi Sakit Hati Kaum Liberal

Setelah itu, menganggapi ucapan moderator bahwa Ghirah Islamiyah umat Islam Indonesia sekarang sangat lemah sekali sampai ada hinaan kepada habaib dituduh kluyar-kluyur oleh tokoh liberal, Abah Najih menanggapi, “Saya setuju sekali analisa ini. Tadi habaib dikatakan kluyar-kluyur dan guru Ibtidaiyah, itu sebenarnya merupakan ekspresi sakit hati mereka karena mereka ingin Ghirah Islamiyah ini habis sama sekali.
Yang bilang habaib dari Yaman kluyar-kluyur dan dianggap guru Ibtida’ itu mungkin dia pikir keanehan itu agar nilai rapornya bagus di mata zionis-salibis. Biar bisa jadi wakil presidennya Jokowi atau apa gitu. Dan, mulai presiden sekarang mungkin akan dimunculkan lagi orang yang kelihatannya beda, mungkin dulu panglima TNI. Sebenarnya itu sama dengan dia tapi kelihatannya saja beda, sama-sama dekat dengan Naga Sembilan.” Sontak tepuk tangan gemuruh dari para audien bergema di seluruh ruangan.
Acara daurah kebangsaan ini kemudian ditutup dengan pembacaan doa oleh Abah Najih dilanjutkan dengan pemberian cinderahati dari panitia kepada beliau.(*)

Iklan

MAKALAH KH. MUHAMMAD NAJIH MAIMOEN DI SIDOGIRI DENGAN TEMA: REVITALISASI GHIRAH ISLAMIYAH-WATHANIYAH

MENELADANI SEJARAH ISLAM DALAM RANGKA MENGUATKAN
GHIRAH ISLAMIYAH-WATHANIYAH

Disampaikan oleh: KH. MUHAMMAD NAJIH MAIMOEN

Pada acara Daurah Kebangsaan “Revitalisasi Ghirah Islamiyah-Wathaniyah” di Aula Sekretariat PP. Sidogiri, Memeriahkan Ultah PP. Sidogiri yang ke-281 dan Ikhtibar Madrasah Miftahul Ulum ke 82 Tahun

بسم الله الرحمن الرحيم
الحمد لله الذي بنعمته تتم الصالحات، وبطاعته تطيب الحياة، وبالإيمان به وتقواه تنال الخيرات وتستنزل البركات وتدفع المكاره والسيئات، وأشهد أن لا إله إلا الله وحده لا شريك له، كل الخلائق غدا بين يديه موقوفون محاسبون، وبأعمالهم مجزيون، وأشهد أن محمدا عبده ورسوله النبي الكريم ذو الخلق العظيم، صلى الله عليه وسلم وعلى آله وأصحابه، أما بعد:

Muqaddimah

Dalam kehidupan di dunia, seorang Muslim dituntut untuk mengamalkan dan mempertahankan ajaran agama dengan segenap kemampuannya. Ini adalah konsekuensi logis dari pengucapan dua syahadat yang dilakukannya, karena Islam tidak hanya sekedar pengakuan tentang ketauhidan Allah Ta’ala dan kebenaran Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallama, namun juga implementasi dari apa yang dibawa oleh Allah dan Rasul-Nya. Selain itu, seorang Muslim sejati juga harus memiliki ghirah Islamiyah yang tinggi, yakni rasa kecemburuan dan pembelaan terhadap agamanya.

Dalam konteks keindonesiaan, menggelorakan dan menguatkan ghirah Islamiyah di kalangan umat Islam semakin terasa urgensinya, apalagi di tengah berbagai macam usaha perusakan ajaran Islam dan semangat umat Islam mengamalkan ajaran agamanya. Dalam mengekspresikan ghirah Islamiyah ini harus sesuai dengan aturan Syari’ah Islam dan menjaga semangat kebersamaan dan cinta kepada tanah air dan bangsanya yang disebut ghirah wathaniyah. Namun dalam pelaksanaannya, ghirah Islamiyah harus dinomorsatukan dan ghirah wathaniyah harus selalu didasarkan pada ghirah Islamiyah.

Bukti nyata ghirah Islamiyah dalam konteks kebangsaan ini telah menjadikan bangsa Indonesia tidak mudah ditumpas oleh penjajah selama 3,5 abad hingga akhirnya mampu merebut kemerdekaan dan kedaulatan negaranya. Hal ini karena bangsa Indonesia merasa memiliki hubungan persaudaraan sesama umat Islam serta memiliki kesamaan tanah air yaitu tanah air Nusantara, sehingga mereka berusaha mati-matian untuk mempertahankan agama dan bangsanya dari pemurtadan dan imperialisme Belanda dan bangsa penjajah Eropa yang lain. Semangat semacam inilah yang harus selalu dipupuk dan ditanamkan dalam sanubari umat Islam di Indonesia.

Memahami Ghirah Islamiyah

Muslim yang memiliki ghirah Islamiyah yang tinggi akan merasa sakit hati dan marah ketika ajaran Islam dilecehkan, ketika Al-Quran dan Sunnah dihina, dan ketika para ulama shalihin tidak lagi didengar suaranya, sekaligus juga memiliki semangat yang tinggi ketika ada ajakan untuk mengamalkan ajaran agama secara kaffah. Ghirah Islamiyah adalah barometer keimanan dan wujud cinta seorang Muslim kepada Islam. Allah Ta’ala berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ [آل عمران : 102]

“Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah sebenar-benar takwa kepada-Nya; dan janganlah sekali-kali kamu mati melainkan dalam keadaan beragama Islam.” (QS. Ali Imran: 102)

Rasulullah ShallaLlahu ‘alaihi wa Sallama bersabda:

إِنَّ اللَّهَ يَغَارُ وَالْمُؤْمِنُ يَغَارُ وَغَيْرَةُ اللَّهِ أَنْ يَأْتِىَ الْمُؤْمِنُ مَا حَرَّمَ عَلَيْهِ . أخرجه الترمذي.

“Sesungguhnya Allah itu cemburu, dan mukmin juga cemburu. Cemburunya Allah ketika seorang Mukmin mendatangi apa yang telah Dia haramkan baginya.” (HR. Tirmidzi)

مَنْ رَأَى مِنْكُمْ مُنْكَرًا فَلْيُغَيِّرْهُ بِيَدِهِ فَإِنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَبِلِسَانِهِ فَإِنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَبِقَلْبِهِ وَذَلِكَ أَضْعَفُ الإِيمَانِ. أخرجه مسلم

“Barangsiapa dari kalian melihat kemunkaran maka rubahlah dengan tangannya. Jika tidak mampu maka dengan lisannya. Jika masih tidak mampu maka dengan hatinya, dan itu adalah selemah-lemahnya iman.” (HR. Muslim)

Allah menggambarkan dalam Al-Qur’an bagaimana Rasulullah dan para Shahabat beliau menjadi perwujudan nyata bagaimana ghirah Islamiyah dilaksanakan. Allah Ta’ala berfirman:

مُحَمَّدٌ رَسُولُ اللَّهِ وَالَّذِينَ مَعَهُ أَشِدَّاءُ عَلَى الْكُفَّارِ رُحَمَاءُ بَيْنَهُمْ تَرَاهُمْ رُكَّعًا سُجَّدًا يَبْتَغُونَ فَضْلًا مِنَ اللَّهِ وَرِضْوَانًا سِيمَاهُمْ فِي وُجُوهِهِمْ مِنْ أَثَرِ السُّجُودِ ذَلِكَ مَثَلُهُمْ فِي التَّوْرَاةِ وَمَثَلُهُمْ فِي الْإِنْجِيلِ كَزَرْعٍ أَخْرَجَ شَطْأَهُ فَآزَرَهُ فَاسْتَغْلَظَ فَاسْتَوَى عَلَى سُوقِهِ يُعْجِبُ الزُّرَّاعَ لِيَغِيظَ بِهِمُ الْكُفَّارَ وَعَدَ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ مِنْهُمْ مَغْفِرَةً وَأَجْرًا عَظِيمًا [الفتح : 29]

“Muhammad itu adalah utusan Allah dan orang-orang yang bersama dengan dia adalah keras terhadap orang-orang kafir, tetapi berkasih sayang sesama mereka. kamu lihat mereka ruku’ dan sujud mencari karunia Allah dan keridhaan-Nya, tanda-tanda mereka tampak pada muka mereka dari bekas sujud. Demikianlah sifat-sifat mereka dalam Taurat dan sifat-sifat mereka dalam Injil, yaitu seperti tanaman yang mengeluarkan tunasnya Maka tunas itu menjadikan tanaman itu kuat lalu menjadi besarlah dia dan tegak lurus di atas pokoknya; tanaman itu menyenangkan hati penanam-penanamnya, karena Allah hendak menjengkelkan hati orang-orang kafir (dengan kekuatan orang-orang mukmin). Allah menjanjikan kepada orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal yang saleh di antara mereka ampunan dan pahala yang besar.” (QS. Al-Fath: 29)

Rasulullah sangat sabar dan tabah ketika orang-orang kafir mencela pribadinya dan melakukan berbagai perbuatan keji kepadanya, akan tetapi tidak ada satupun orang yang mampu menahan amarah beliau ketika agama Islam dilecehkan. Sayyidah Aisyah memaparkan:

مَا خُيِّرَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بَيْنَ أَمْرَيْنِ إِلَّا اخْتَارَ أَيْسَرَهُمَا مَا لَمْ يَأْثَمْ فَإِذَا كَانَ الْإِثْمُ كَانَ أَبْعَدَهُمَا مِنْهُ وَاللَّهِ مَا انْتَقَمَ لِنَفْسِهِ فِي شَيْءٍ يُؤْتَى إِلَيْهِ قَطُّ حَتَّى تُنْتَهَكَ حُرُمَاتُ اللَّهِ فَيَنْتَقِمُ لِلَّهِ. أخرجه البخاري

“Rasul memilih perkara yg ringan jika ada dua pilihan selama tidak mengandung dosa. Jika mengandung dosa, Rasul akan menjauhinya. Demi Allah, beliau tidak pernah marah karena urusan pribadi, tapi jika ajaran Allah dilanggar maka beliau menjadi marah karena Allah (lillah).” (QS. Al-Bukhari)

Hadits diatas juga menunjukkan kekeliruan anggapan kaum liberal bahwa Rasulullah tidak marah dan bersikap toleran jika agama dihina. Ucapan seperti “Tuhan tidak perlu dibela”, “Yang dihina Tuhan kok kamu yang marah?”, dan sebagainya menurut kami merupakan salah satu cara menggerus ghirah Islamiyah dari umat Islam sehingga umat Islam menjadi lemah dan tidak peka hati dan fikirannya melihat pemurtadan, pelecehan Al-Quran, liberalisme, pluralisme, dan LGBT diasongkan begitu massif di tengah-tengah mereka. Tidak lagi menangis ketika melihat sumber daya alam negara dikeruk oleh pihak asing dan direndahkannya kaum pribumi dalam kegiatan ekonomi, sosial, budaya, dan politik. Na’udzubiLlahi min dzalika.

Kondisi seperti ini telah ditangisi oleh pendiri NU Hadlratus Syaikh KH. Hasyim Asy’ari. Beliau menyebutkan:
“Setiap hari mata kita menyaksikan berbaurnya lelaki dan perempuan (termasuk di sekolah-sekolah Islam) dengan pembauran yang menggelisahkan, dan telinga kita mendengarkan fenomena pergaulan bebas antara lelaki dan perempuan “apakah ini halal”, lantas didiamkannya, “ataukah ini haram” yang menyebabkan kemurkaan Allah dan kehinaan di dunia. Selain itu masih ada yang lebih celaka dan lebih pahit dari pada yang tersebut di atas, yaitu tersebarnya ajaran-ajaran kufur dan pemikiran sesat di kalangan anak-anak muda muslim baik di desa maupun di kota.”
“Termasuk dari kerusakan zaman adalah bahwa ada sekelompok orang yang mengaku berasal dari komunitas muslim, bahkan mengaku sebagai pembesar-pembesar Islam, namun mereka tidak mau menundukkan kepala terhadap perintah-perintah Allah, mereka tidak mau menjauhi larangan-larangan-Nya (artinya mereka meninggalkan Syari’at Islam), bahkan dahi-dahi mereka tidak pernah menempel di masjid. Dari sinilah adanya indikasi bahwa jika keagamaan di Negara kita menjadi sangat lemah bahkan hampir mati. (Muktamar NU 24 Mei 1948)” (1)

Syarat Praktek Pengamalan Ghirah Islamiyah

Sebagai seorang Muslim, ghirah atau kecintaan kepada Islam harus ditampakkan melalui pengamalan zahir dengan memperhatikan beberapa hal berikut:

1. Harus dilaksanakan dengan niat ikhlas untuk menolong agama Allah,bukan hanya untuk memenuhi hasrat amarah, nafsu, apalagi kepentingan harta dan jabatan.

2. Menyadari betul bahwa ini adalah cobaan dari Allah Ta’ala untuk mengukur seberapa kuat iman kita kepada-Nya dan Rasul-Nya.

3. Mengetahui dan menggunakan strategi dan metode yang tepat untuk menghadapi berbagai serangan yang terjadi.

4. Melakukan aksi sesuai kadar kemampuannya, tidak bertindak berlebihan sehingga malah menimbulkan masalah baru di tengah masyarakat.

5. Mempertimbangan maslahat dan mafsadah yang akan timbul.

6. Mengetahui peran dan tugasnya sesuai posisi dan kemampuan masing-masing.

7. Dilakukan dengan tenang, tidak bertindak anarkis, dan tetap memperhatikan kondisi masyarakat

8. Dilakukan dengan sabar, telaten, dan tidak mudah menyerah. (2)

Ghirah Wathaniyah berdasarkan Ghirah Islamiyah

Konsep ghirah Islamiyah dalam Islam terbatas dalam lingkup satu agama dan atas dasar prinsip agama bukan didasarkan pada kepentingan golongan, kelompok dll, serta tetap menjaga hak-hak persaudaraan.
Adapun konsep ghirah Basyariyah dan Wathaniyah, maka keduanya juga harus tetap mengacu pada Syari’at Islam. Keduanya bisa diterapkan sepanjang tidak bertentangan dengan ketentuan-ketentuan Syari’ah dan tidak memposisikannya di atas hukum-hukum Syari’ah.

Islam dengan ajarannya yang samahah (mudah) dan hakimah (berhikmah) tidak melarang seorang Muslim untuk berbuat untuk negaranya, saling mengasihi kepada sesama bangsanya, serta mengerahkan seluruh jiwa dan raganya untuk kepentingan bangsanya, karena hal ini merupakan bagian dari ukhuwah Islamiyah nan agung yang menyatukan umat Islam di seluruh dunia tanpa memandang ras, suku, dan bangsanya.

Adapun Hadits hubbul wathan minal iman sebenarnya adalah palsu. Akan tetapi ulama pakar hadits al-Sakhawi berkata bahwa meski hadits ini lafazhnya palsu namun maknanya sahih, dengan catatan wathonnya wathon islami. (3)

Ghirah Islamiyah Rasulullah ShallaLlahu ‘alaihi wa Sallama

Dalam kajian sejarah Islam, Rasulullah ShallaLlahu ‘alaihi wa Sallama pada awalnya sudah memiliki pengaruh dan kedudukan yang penting di dalam masyarakat Quraisy kala itu. Beliau dijuluki sebagai al-Amin dan diberi kewenangan sebagai mediator dan negosiator pada saat tokoh-tokoh pembesar Quraisy saling berebut memindahkan Hajar Aswad.
Akan tetapi, setelah menerima tugas dakwah Islam oleh Allah Ta’ala, Rasulullah secara tegas mendakwah ajaran Islam meskipun apa yang beliau sampaikan tersebut banyak ditolak oleh bangsanya yaitu bangsa Quraisy, bahkan oleh keluarganya sendiri. Rasa nasionalisme Rasulullah terhadap bangsa Quraisy ditinggalkan demi menegakkan Tauhid.

Rasulullah ShallaLlahu ‘alaihi wa Sallama banyak mengkritik bangsa Arab Jahiliyah karena sikap fanatisme buta terhadap warisan kepercayaan dan budaya nenek moyang mereka sehingga mereka menjadi buta dan tuli akan kebenaran. Hal ini seperti difirmakan Allah Ta’ala:

وَإِذَا قِلَ لَهُمُ اتَّبِعُوا مَا أَنْزَلَ اللَّهُ قَالُوا بَلْ نَتَّبِعُ مَا أَلْفَيْنَا عَلَيْهِ آبَاءَنَا أَوَلَوْ كَانَ آبَاؤُهُمْ لَا يَعْقِلُونَ شَيْئًا وَلَا يَهْتَدُونَ (170) وَمَثَلُ الَّذِينَ كَفَرُوا كَمَثَلِ الَّذِي يَنْعِقُ بِمَا لَا يَسْمَعُ إِلَّا دُعَاءً وَنِدَاءً صُمٌّ بُكْمٌ عُمْيٌ فَهُمْ لَا يَعْقِلُونَ (171) [البقرة : 170 ، 171]

“Dan apabila dikatakan kepada mereka: “Ikutilah apa yang telah diturunkan Allah,” mereka menjawab: “(Tidak), tetapi kami hanya mengikuti apa yang telah kami dapati dari (perbuatan) nenek moyang kami”. “(Apakah mereka akan mengikuti juga), walaupun nenek moyang mereka itu tidak mengetahui suatu apapun, dan tidak mendapat petunjuk?”. (170) Dan perumpamaan (orang-orang yang menyeru) orang-orang kafir adalah seperti penggembala yang memanggil binatang yang tidak mendengar selain panggilan dan seruan saja. mereka tuli, bisu dan buta. Maka (oleh sebab itu) mereka tidak mengerti. (171)” (QS. Al-Baqarah: 170-171)

Rasulullah ShallaLlahu ‘alaihi wa Sallama telah menghimbau umat Islam untuk mendahulukan semangat keislaman di atas semangat kesukuan dan kebangsaan. Dalam hadits disebutkan:

عَنْ أَبِى مُوسَى قَالَ جَاءَ رَجُلٌ إِلَى النَّبِىِّ – صلى الله عليه وسلم – فَقَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ ، مَا الْقِتَالُ فِى سَبِيلِ اللَّهِ فَإِنَّ أَحَدَنَا يُقَاتِلُ غَضَبًا ، وَيُقَاتِلُ حَمِيَّةً . فَرَفَعَ إِلَيْهِ رَأْسَهُ – قَالَ وَمَا رَفَعَ إِلَيْهِ رَأْسَهُ إِلاَّ أَنَّهُ كَانَ قَائِمًا – فَقَالَ مَنْ قَاتَلَ لِتَكُونَ كَلِمَةُ اللَّهِ هِىَ الْعُلْيَا فَهُوَ فِى سَبِيلِ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ . أخرجه البخاري

Dari Abu Musa, ia berkata: Seorang lelaki mendatangi Rasulullah ShallaLlahu ‘alaihi wa Sallama lalu bertanya, “Wahai Rasulullah, apakah yang dinamakan berperang di jalan Allah? Seorang dari kami ada yang berperang karena marah, dan ada yang berperang karena kehormatan bangsa.” Lalu Rasulullah menghadapkan kepala beliau kepadanya – dan beliau tidak mengangkat kepalanya kecuali karena lelaki tersebut berdiri – seraya menjawab, “Barangsiapa berperang untuk meninggikan KalimatuLlah, maka ia berperang di jalan Allah Azza wa Jalla.” (HR. Bukhari)

Contoh selanjutnya adalah perjanjian antara Rasulullah ShallaLlahu ‘alaihi wa Sallama bersama kaum Muhajirin dengan kaum Anshar dan komunitas non-Muslim di Madinah yang biasa disebut Madinah Charter atau Piagam Madinah. Menurut Zainal Abidin Ahmad dalam bukunya Piagam Nabi Muhammad S.A.W.: Konstitusi Negara Tertulis Pertama di Dunia (Jakarta: Bulan Bintang, 1973) Piagam Madinah disebut sebagai konstitusi negara tertulis pertama di dunia, mendahului Magna Charta Inggris selama enam abad; dan mendahului Konstitusi Amerika Serikat dan Perancis selama 12 abad. Beberapa kalangan mengatakan bahwa Piagam Madinah adalah bukti penerimaan Rasulullah terhadap toleransi dan kebhinnekaan berbasis pluralisme. Ini jelas keliru, karena dalam Piagam Madinah tidak ada pengakuan terhadap kebenaran ajaran agama lain. Dalam Piagam Madinah Rasulullah menyatukan kaum Muslimin Muhajirin dan Anshar sebagai satu umat yang saling melindungi, saling menjaga dari sikap zalim, serta siap berjihad dan setia kepada Rasulullah. Dalam Piagam Madinah Rasulullah bersepakat dengan komunitas Yahudi untuk saling menjaga dari bertindak zalim dan serangan dari luar terhadap Negara Madinah, melakukan transaksi tanpa riba dengan kaum Muslimin, serta melaksanakan ajaran agamanya menurut kepercayaan masing-masing(4). Disini Rasulullah ShallaLlahu ‘alaihi wa Sallama menghargai pluralitas masyarakat di Madinah, namun tidak membenarkan ajaran agama selain Islam seperti kata kaum pluralis.

Akan tetapi, ketika Yahudi Bani Qainuqa melanggar Piagam Madinah tersebut dengan melakukan pelecehan seksual terhadap seorang Muslimah yang melewati mereka, maka Rasulullah ShallaLlahu ‘alaihi wa Sallama memperingatkan mereka untuk tidak mengulanginya lagi. Namun Yahudi Bani Qainuqa tidak menggubris dan malah menantang Rasulullah, sehingga akhirnya mereka dikepung lalu diusir dari Madinah.(5)

Keputusan Rasulullah ini bukan tanpa alasan. Menurut Syaikh Ramdlan al-Buthi, Yahudi Bani Qainuqa memang sudah lama menyimpan dendam kesumat dengan Rasulullah apalagi setelah kemenangan umat Islam saat perang Badr. Mereka bahkan sudah berencana untuk melakukan kudeta dan penyerangan terhadap umat Islam. Ketika kaum Muslimin pulang dari perang Badr, Malik bin Shaif berkata kepada Bani Qainuqa, “Apakah kalian takut menghadapi sekelompok klan Quraisy yang tidak tahu cara berperang? Tidak. Apabila kita tidak menyembunyikan rencana kita untuk menyatukan kalian, kalian tidak akan punya kekuatan untuk berperang.”(6)

Setelah itu, Yahudi Bani Nadhir ikut-ikutan melanggar dan membatalkan isi Piagam Madinah yang sudah diputuskan bersama. Mereka dipersilahkan Rasulullah ShallaLlahu ‘alaihi wa Sallama untuk keluar dari Madinah, namun Abdullah bin Ubay lagi-lagi menghasut mereka untuk menyerang Rasulullah dan merebut daerah mereka. Akhirnya mereka dikepung oleh Rasulullah hingga akhirnya mereka menyerah.
Fakta historis Sirah Nabawiyah ini membuktikan bahwa rasa nasionalisme, kebangsaan, dan ukhuwah wathaniyah harus sesuai dan tunduk kepada Syari’ah Islam, dan umat Islam harus tegas kepada oknum-oknum yang melecehkan serta merusak ajaran dan umat Islam.

Ghirah Islamiyah dalam Sejarah para Khalifah

Pada masa Khulafa Rasyidun, ghirah Islamiyah yang tinggi dan membara terlihat dari ketegasan Khalifah Abu Bakr al-Shiddiq untuk memerangi kaum yang murtad karena hasutan nabi-nabi palsu dan kaum yang tidak mau membayar zakat (arab pedusunan), disaat banyak shahabat yang mengajukan usulan untuk menyadarkan mereka dengan jalur negosiasi dan persuasif. Bahkan shahabat Umar yang dikenal sangat keras pun berkata demikian. Namun khalifah Abu Bakr tetap pada ijtihadnya dan malah mengkritik keras Shahabat Umar karena sarannya tersebut. Akhirnya khalifah Abu Bakr menang dan para pembangkang tersebut bertaubat.(7)

Khalifah Umar juga tegas dalam melaksanakan hukum Islam tanpa memandang jabatan dan hubungannya. Khalifah Umar menghukum had terhadap Qudamah bin Mazh’un meski merupakan adik iparnya sekaligus gubernur daerah karena minum khamr(8). Beliau tidak segan-segan menghukum kerabatnya sendiri karena telah melanggar hukum Islam. Ini sesuai dengan ajaran Rasulullah ShallaLlahu ‘alaihi wa Sallama untuk menerapkan hukum Islam tanpa pandang status sosialnya. Beliau bersabda:

إِنَّمَا هَلَكَ الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ أَنَّهُمْ كَانُوا إِذَا سَرَقَ فِيهِمُ الشَّرِيفُ تَرَكُوهُ وَإِذَا سَرَقَ فِيهِمُ الضَّعِيفُ أَقَامُوا عَلَيْهِ الْحَدَّ وَايْمُ اللَّهِ لَوْ أَنَّ فَاطِمَةَ بِنْتَ مُحَمَّدٍ سَرَقَتْ لَقَطَعْتُ يَدَهَا. أخرجه أبو داود

“Orang-orang sebelum kalian hancur gara-gara ketika yang mencuri adalah orang terpandang maka dibiarkan dan jika yang mencuri adalah orang lemah maka ditegakkan sanksi padnaya. Demi Allah, andai Fathimah binti Muhammad mencuri niscaya aku potong tangannya.” (HR. Abu Dawud)

Jejak Pesantren dalam Menegakkan Islam dan Kemerdekaan Indonesia

Dalam konteks keindonesiaan, sejarah membuktikan bahwa pesantren dari zaman dahulu merupakan lembaga pendidikan Islam yang tidak hanya mengajarkan ilmu-ilmu Islam, namun juga menanamkan ghirah Islamiyyah, semangat jihad, dan perjuangan disertai keikhlasan hati dan pengorbanan. Pesantren dalam rekaman sejarah Indonesia telah berhasil menjadi benteng pertahanan bagi masyarakat Indonesia. Tidak sedikit kita temukan para pejuang mulai zaman kolonialisme hingga era kemerdakaan berasal dari kaum santri dan kyai yang gigih menyuarakan jihad secara fisik ataupun intelektual untuk menghalau dan melepaskan diri dari imperialism kaum kafir.

Pada zaman kolonialisme Belanda sejarah mengenal sosok para santri berjuang di medan perang seperti Sultan Agung, Imam Bonjol, dan Pangeran Diponegoro. Sultan Agung dari Kesultanan Mataram bersama Dipati Ukur melancarkan serangan terhadap VOC Belanda tahun 1628-1629 M hingga banyak serdadu Belanda ditawan di Yogyakarta. Imam Bonjol bersama para lama menggelorakan perang Paderi tahun 1821-1837 mennghadapi kaum Adat yang bekerjasama dengan Belanda. Pangeran Diponegoro yang pada masa mudanya hidup di lingkungan pesantren Tegalrejo dan serius dalam belajar ilmu agama berjuang bersama para ulama dan santri melancarkan peperangan hingga hampir membangkrutkan negeri Belanda dan menelan korban dari pihak Belanda hingga 700 jiwa dan biaya perang 20 juta Golden.

Pada era kemerdekaan kita mengenal sosok para ulama pejuang kemerdekaan nasional seperti KH. Hasyim Asy’ari dan KH. Wahab Hasbullah. KH. Hasyim Asy’ari melakukan resolusi jihad bersama kaum santri di Indonesia untuk memperjuangkan kemerdekaan. KH. Wahab Hasbullah dan Mas Mansoer mendirikan Nahdlatul Wathan (embrio Nahdlatul Ulama) yang berjuang mengembangkan pendidikan dan kesadaran politik nasional terhadap kalangan Ahlussunnah wal Jama’ah. Di era ini juga ada organisasi Jam’iyatul khairat, yang didirikan oleh para habaib dan ulama, atas dakwah merekalah semangat juang rakyat menggelora untuk memerdekakan bangsa ini. Sangat tidak beradab jika oknum elite PBNU menghujat dakwah para habaib dari Timur Tengah khususnya Yaman, dan menuduh dakwahnya hanya untuk “kluyar-kluyur” di negeri orang. Apa elite PBNU ini tidak pernah mendengar pidato Soekarno di Semarang Tahun 1948 M. yang isinya “Kita juga harus harus berterima kasih kepada warga keturunan Cina. Kita juga harus berterima kasih kepada warga keturunan India. Tetapi kita jangan berterima kasih kepada warga keturunan Arab, karena …Karena … mereka … sudah menjadi bagian dari keluarga besar bangsa kita sejak ratusan tahun yang lalu….” Maka itu Bung Karno sendiri yang mengusulkan dan membuat PP No.10 yang disetujui MPR bahwa warga keturunan Arab diberi status Kewarganegaan ‘Stelsel pasif’ yang sama dengan warga Pribumi yaitu otomatis dianggap dan dicatat sebagai WNI.

Organisasi Nahdatul Ulama lahir dari gabungan tiga organisasi besar di kala itu, yakni Nahdotuttujjar yang diketuai oleh KH. Hasyim Asy’ari, Nahdatul Wathan oleh KH. Wahhab Hasbullah dan Jam’iyyatunnasihin oleh KH. Asnawi Kudus. Sedangkan pemberian nama Nahdatul Ulama diberikan oleh seorang ulama keturunan Makkah teman KH. Wahhab Hasbullah. Bahkan berdirinya Nahdatul Wathan dilatar belakangi oleh perasaan malu KH. Wahhab Hasbullah terhadap kaum nasionalis yang telah dulu memperjuangkan kemerdekaan, beliau merasa mentalnya terbebani bila kaum santri ketinggalan jauh dalam upaya memperjuangkan kemerdekaan Indonesia, apalagi ditambah sebagian besar orang-orang Islam jaduk (sakti mandraguna) memihak penjajah.

Keberadaan orang-orang jaduk di era penjajahan, meski tidak semuanya akan tetapi kebanyakan dari mereka dimanfaatkan oleh kolonial Belanda, guna melemahkan perjuangan rakyat yang ingin memberontak kekuasaan penjajah, para pendekar pengkhianat bangsa ini dengan sadis membantai saudara setanah air, kelaliman Raja Amangkurat I yang bekerjasama dengan VOC adalah contoh kongkretnya, ribuan kiai dan santri dibantai pada masanya, sehingga ia dijuluki Raja Tiran dari Jawa. Begitulah cara-cara licik penjajah, memanfaatkan peran kejawen dan orang jaduk untuk membackup segala daya upaya pemberontakan rakyat. China-Komunitas juga demikian, dibesar-besarakan dan diunggulkan di atas pribumi, untuk memperkuat hegemoni penjajah. Dalam bidang pendidikan, penjajah sengaja menggalakkan pelajaran-pelajaran umum di sekolah-sekolah mereka, yang sangat membahayakan akidah umat Islam semisal Ilhadiyah yang menafikan Allah SWT sebagai pencipta langit bumi. Kaum santri tempo dulu dilarang membaca tafsir Thantawi, karena tafsir ini menerangkan tata cara merakit bom. Sedangkan para pegawai di masa pemerintahan penjajah, yang mayoritas dijabat oleh kaum priyai, kiga dicekoki ajaran-ajaran Kristen, tapi untungnya dalam telinga mereka masih terngiang lantunan-lantunan kalam ilahi yang diajarkan oleh kiai yang ikhlas di masa kecilnya, oleh karena itu, pengajaran al-Quran harus meneladani metode kiai-kiai kuno, jangan seperti sebagian pendidikan Al-Quran zaman sekarang, yang didominasi guru-guru perempuan dan terlalu banyak iuran. Menurut cerita KH. Maimoen Zubair, ada dua istilah bagi kiai zaman kuno, ada kiai mataram (ketika mengajar perempuan tidak pakai satir) ada kiai pajang (pakai satir ketika mengajar perempuan), akan tetapi lebih banyak kiai mataramnya, Wallahu alam.

Menjaga Indonesia bukan menjadi goyah (tujuan), akan tetapi sebuah wasilah (sarana) untuk memperjuangkan masjid, madrasah diniyah, hukum-hukum Islam dan pendidikan Islam, agar tidak terjadi kevakuman seperti pada zaman penjajahan Jepang. Begitulah manhaj perjuangan para sesepuh ulama tempo dulu yang kami pahami. Tidak seperti yang digaungkan oleh kaum liberalis yang menyatakan semua perjuangan ulama itu berdasarkan jiwa nasionalisme tinggi. Dan perlu kami terangkan bahwa syubbanul yaum rijalul gad itu bukan hadits, akan tetapi maqolah syaikh Musthofa Al-Ghalayini dalam kitab Idzotunnasyiin dan juga hubbul wathan minal iman itu hadits palsu, akan tetapi mungkin maknanya benar jika negara yang dimaksud dalam maqolah tersebut adalah negara Islam atau minimal islami.

Sikap istiqamah dan ikhlas para ulama pesantren dalam mengajarkan ilmu-ilmu Islam juga sebagai implementasi jihad intelektual. Pengajaran terhadap kitab-kitab ulama yang luhur seperti Fath al-Qarib, Fath al-Mu’in, Aqidah al-‘Awam, Ta’lim al-Muta’allim, Bulugh al-Maram, Alfiyyah li Ibni Malik, dan lainnya dilakukan secara intens, disiplin, dan konsisten. Mereka juga mengarang kitab dalam berbagai fan ilmu untuk mengembangkan keilmuan Islam dan meluruskan berbagai kesesatan dari pihak kafir atau muslim sendiri. Jihad intelektual dan amar ma’ruf nahi munkar inilah yang membuat eksistensi pesantren tetap tegap dan megah melewati dinamika sejarah dan tidak bergeming oleh rekayasa kaum penjajah.

Implementasi Ghirah Islamiyah-Wathaniyah Masa Kini

Umat Islam Indonesia memang belum memiliki pemerintahan Islam, namun bukan berarti kita berpangku tangan ketika nilai-nilai Islam dinistakan. Justru dalam kondisi seperti ini ghiroh Islamiyah harus dipupuk dan ditampakkan di khalayak umum, asalkan tidak bertindak anarkis dan inkonstitusional, sebagai bukti besarnya harapan kita akan terwujudnya pemerintahan Islam. Jangan seperti partai-partai Islam akhir-akhir ini yang justru melawan ghiroh Islamiyah dengan dukungannya terhadap kepemimpinan non muslim. Prinsip ini didasari oleh sabda Nabi Muhammad SAW.
من مات وليس في عنقه بيعة مات ميتة جاهلية. أخرجه البيهقي في السنن الكبرى

“Rasulullah SAW bersabda: siapapun yang mati, sedang dalam lehernya tidak diketemukan ikatan baiat (terhadap pemerintahan Islam), sungguh ia mati sebagaimana model kematian jahiliyyah” (HR. Al-Baihaqi, As-Sunan al-Kubra)

Kita jangan buta mata, acuh tak acuh ketika Islam dilecehkan, sebagaimana sikap Wahhabi dan NU yang mengaku moderat. Umat Islam jangan rela agamanya dikebiri di negeri sendiri. Meskipun itu sebuah kenyataan pahit, namun hal ini harus kita lawan dan hilangkan dengan penuh kesabaran, harapan, rasa optimisme yang tinggi serta tidak putus asa sehingga menimbulkan depresi. Semua ini dapat tercapai asal umat Islam tetap istiqomah membaca Al-Qur’an, berdo’a, membaca hizib-hizib seperti hizib bukhari, hizib nashor, mengaji kitab-kitab di pesantren, ngopeni masjid dan madrasah diniyah, tidak terlalu sibuk dan terforsir dengan materi duniawi. Insyaallah harapan nenek moyang kita yang mencita-citakan izzul islam wal muslimin di bumi pertiwi dapat segera terwujud, Innallaha ‘ala kulli syai’in qodir.

Akhir-akhir ini banyak para tokoh Islam menyuarakan “NKRI-Pancasilaharga mati” di tengah-tengah umat Islam, padahal semestinya kita harus mengingatkan kepada umat tentang penghianatan-penghianatan musuh Islam di Majelis Konstituante, penghapusan tujuh kata dalam Piagam Jakarta, penolakan Soekarno terhadap syarat Islam bagi pemimpin Indonesia, bahkan di era reformasi, lewat Amandemen, Amien Rais dkk telah menghapus UUD 45 pasal 6 ayat (1) perihal presiden harus orang Indonesia Asli.

Di samping itu, sangat disayangkan, ada dan bahkan banyak dari mereka justru mencibir takbir. Padahal sejarah mencatat bahwa Indonesia jaya berkat pekikan takbir Bung Tomo dan kawan-kawannya. Begitu juga munculnya resolusi jihad Mbah Hasyim Asy’ari atas dasar membela azan, sholat, dan hukum-hukum Islam yang lain. Namun oleh gerombolan liberal justru dibelokkan atas dasar jiwa nasionalisme. Ini jelas sebuah pemutar balikan fakta.
Gerakan-gerakan seperti ini tidak hanya dilakukan oleh para liberalis. Upaya pengkerdilan terhadap Islam juga datang dari para misionaris. Islam di Indonesia yang tempo dulu mencapai 98% kemudian terkikis menjadi 80% gara-gara kristenisasi, bahkan mungkin bisa kurang dari itu(9). Hal ini karena upaya mereka yang memperbanyak gereja, simbol-simbol kristen di daerah minoritas Islam dan juga menghitung penganut kepercayaan animisme yang tersebar luas di Papua, Sampit, Simalungun dan lain sebagainya.

Kesemua ini masuk dalam ranah al-gozwul fikri Proyek-proyek zionisme melalui beberapa fase:
Ta’lih ‘uqul (menuhankan akal)
Tahrirul ‘uqul (membebaskan akal)
Tahrirunnisa’ (membebaskan wanita)
Muhawalatuttahrif (upaya pendistorsian)
Muhawalatuttasykik (menebar keragu-raguan)
Wad’ul qowanin al-basyariyah (menetapkan undang-undang kemanusiaan)
Muhawalatuttaghrib (westernisasi)
Muhawalatuttakhdits (modernisasi)
Muhawalatuttafriq bainal muslimin (upaya pemecah belahan umat Islam) termasuk takfir ala Wahhabi.

Sejarah mencatat bahwa sekte syiah selalu menjadi biang keladi kericuhan dan pemberontakan terhadap pemerintahan Islam. Penghianatan Syiah pertama dilakukan oleh Abdullah bin Saba’, Alib bin Yaqtin pada masa Harun Al-Rasyid, Dinasti Fatimiyah di Mesir, Menteri Syiah An-Nashir Lidinillah, Muhammad Al-Qami dan Nasiruddin At-Thusi pada masa pmerintahan Al-Mu’tasim Billah, Dinasti Shofawi di Persia, pengkhianatan Khomeini, Organisasi amal yang melahirkan Hizbullah, pengkhianatan Syiah di Bahrain, Yaman, Saudi Arabia, Pakistan dll.

Contoh pengamalan ghiroh wathaniyah yang selaras dengan ghiroh islamiyah di masa kini adalah mewaspadai segala macam bentuk penjajahan asing dan aseng, mulai dari bidang agama, ekonomi, sosial, budaya, dan politik. Kasus-kasus seperti penistaan agama yang marak terjadi akhir-akhir ini, semisal Nabi dikatakan peramal masa depan, puisi yang mengatakan bahwa kidung ibu pertiwi lebih indah dari suara azan dan sari konde yang lebih anggun dari cadar, kitab suci dianggap fiksi, Al-Qur’an bukan kitab suci, Nabi Muhammad bukan pula manusia suci, ujaran-ujaran negatif terhadap Haba’ib Timur Tengah yang berdakwah di Indonesia, imigrasi besar-besaran pekerja asing dari china, mudahnya pemerintah mengimpor barang-barang komoditi tanpa memikirkan petani, secara diam-diam menaikkan harga BBM dukungan penuh pemerintah dalam proyek reklamasi, maraknya barongsai yang diundang dimana-mana, tekanan terhadap partai-partai Islam untuk mendukung segala kebijakan pemerintah yang bertentangan dengan aspirasi umat Islam, harus menjadi obyek ghiroh wathaniyah-islamiyah sebagai bentuk upaya menciptakan bangsa dan negara yang makmur.

Ikhtitam

Kecintaan terhadap bangsa dan negara Indonesia memang diperlukan sebagai wujud cinta kepada tanah kelahiran kita. Akan tetapi, kecintaan kita kepada bangsa dan negara tidak semestinya ditempatkan diatas kecintaan kita kepada Allah dan Rasul-Nya. Bahkan ghirah dan ukhuwah wathaniyah akan menjadi semakin kuat dan bermakna bila didasarkan kepada ghirah dan ukhuwah Islamiyah.

Semoga Allah Ta’ala selalu memberi kita hidayah dan taufiq untuk selalu mencintai dan ikhlas berbuat untuk agama-Nya, serta memberi barakah kepada Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) yang berdiri berkat jasa dan jihad para ulama dan santri bersama pemerintahan Islam dan rakyat Indonesia sehingga selalu dijaga keislamannya untuk kita dan anak cucu kita nanti. Amin Ya Rabbal ‘Alamin.

وصلى الله على سيدنا محمد وعلى آله وصحبه وسلم

Sarang, 14 Sya’ban 1439 H.
30 April 2018 M.

KH. Muhammad Najih Maimoen

** Catatan Kaki;

1. Syaikh Muhammad Najih, Ahlussunnah wal Jama’ah: Akidah, Syari’ah, Amaliyah, Sarang: Maktabah Al-Anwar 1, hlm. 56.

2. Hujjatul Islam Abu Hamid Muhammad bin Muhammad Al-Ghazali. Ihya Ulummiddin. Beirut: Dar al-Kutb al-Ilmiyyah, Juz 2 hlm. 279.

3. Abu Abdullah Muhammad bin Darwish, Asna al-Mathalib fi Ahadits Mukhtalif al-Maratib, Beirut: Dar al-Kutb al-Ilmiyyah, hlm. 181.

4. Syaikh Ramdlan al-Buthi, Fiqh al-Sirah, Beirut: Dar al-Fikr, hlm. 223-224.

5. Fiqh al-Sirah, hlm. 248.

6. Fiqh al-Sirah, Beirut: Dar al-Fikr, hlm. 252.

7. Jalaluddin al-Suyuthi, Tarikh al-Khulafa, Mesir: Mathba’ah al-Sa’adah, hlm. 67.

8. Abu Bakr Ibn al-Arabi, al-‘Awashim min al-Qawashim, Beirut: Dar al-Jil, hlm. 105.

9. Disarikan dari ceramah KH. Sadid Jauhari, di Madrasah Ghazaliyah Syafiiyyah, Sarang Rembang 26 April 2018

Nilai-nilai ASWAJA Dalam Kehidupan pluralitas-kebangsaan

بِسْمِ الله الرحمنِ الرحيمِ
الحمْدُ لله ربِّ العَالَمِيْن أَشْهَدُ أنْ لَا إله إلَّا الله وَحْدَه لَا شَرِيْكَ لَه وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدا عَبْدُه وَرَسُوْلُه صَلَّى الله عَلَيهِ وَعَلَى آلهِ الطَّاهِرِيْن وأَصْحابِهِ المُكْرَمِيْن الْمَهْدِيِّيْن، أمَّا بَعْدُ:

Muqaddimah
Islam sebagai agama yang berasal dari Allah Taala bersifat komprehensif dan relevan di berbagai dimensi ruang dan zaman. Terbukti bahwa ajaran Islam yang berkembang di daerah manapun selalu menjadikan masyarakatnya memiliki pribadi dan peradaban yang baik. Hal ini karena sifat ajaran Islam yang tidak ekstrim dalam menyikapi segala sesuatu, sehingga manusia merasa terayomi dan terlindungi dengan hukum Islam tanpa mencerabut prinsip dan asas Islam itu sendiri. Sifat ini merupakan ciri khas Islam ala Ahlussunnah wal Jamaah dibandingkan dengan berbagai firqah Islam dan agama lainnya.
Indonesia merupakan negara yang memiliki pluralitas dan kemajemukan masyarakat yang tinggi. Dalam kondisi demikian, Islam ala Ahlussunnah wal Jamaah telah terbukti mampu berkembang begitu pesat di seluruh penjuru negeri hingga menjadikan mayoritas masyarakatnya memeluk agama Islam. Selain itu, ajaran Aswaja yang diajarkan oleh ulama dan kyai telah mendarah daging di masyarakat sehingga sikap sopan santun, ramah, dan tawadlu menjadi ciri khas bangsa Indonesia di mata dunia, sekaligus memiliki sikap militan dan teguh dengan agamanya, sehingga selama tiga setengah abad hingga sekarang bangsa Indonesia tidak mudah dimurtadkan oleh penjajahan yang datang silih berganti.

Sekilas Tentang Ahlussunnah wal Jamaah
Islam merupakan agama Allah SWT yang diturunkan untuk seluruh manusia. Di dalamnya terdapat pedoman dan aturan demi meraih kebahagiaan dan keselamatan di dunia dan akhirat. Ada tiga hal yang menjadi sendi utama dalam agama Islam itu, yaitu Iman, Islam dan Ihsan.
Dari sisi keilmuan, semula ketiganya merupakan satu kesatuan yang tidak terbagi-bagi. Namun selanjutnya para ulama mengadakan pemisahan, sehingga menjadi bagian ilmu tersendiri. Bagian-bagian tersebut mereka elaborasi sehingga menjadi bagian ilmu yang berbeda. Perhatian terhadap Iman memunculkan ilmu tauhid atau ilmu kalam. Perhatian khusus pada aspek Islam menghadirkan ilmu fiqh atau ilmu hukum Islam. Sedangkan penelitian terhadap dimensi Ihsan melahirkan ilmu tashawwuf atau ilmu akhlak. Ketiga aspek inilah yang menjadi inti daripada ajaran Ahlussunnah wal Jamaah.
Secara etimologis, Ahlussunnah Wal-Jamaah adalah istilah yang tersusun dari tiga kata:
Pertama, kata Ahl, berarti keluarga, pengikut atau golongan.
Kedua, kata al-sunnah, yang memiliki dua arti kemungkinan;
Segala sesuatu yang telah diajarkan oleh Kanjeng Nabi Muhammad SAW, baik melalui perbuatan, ucapan dan pengakuan Kanjeng Nabi Muhammad SAW dan,
Al-thariqah (jalan dan jejak), maksudnya Ahlussunnah wal Jama’ah itu mengikuti jalan dan jejak para sahabat Kanjeng Nabi Muhammad SAW dan tabi’in dalam memahami teks-teks keagamaan dan mengamalkan ajaran agama.
Ketiga, kata al-Jamaah, yang secara kebahasaan dapat diartikan dengan sejumlah besar orang-orang yang menjalin dan menjaga kebersamaan dalam mencapai suatu tujuan yang sama, sebagai kebalikan dari al-firqah (orang-orang yang memisahkan diri dari golongannya). Dalam beberapa hadits shahih, Kanjeng Nabi Muhammad SAW menyebut kelompok yang selamat dengan nama al-jama’ah.
Kata al-Jamaah menjadi identitas bagi Ahlussunnah wal Jamaah sebagai golongan yang selalu memelihara sikap kebersamaan (Persatuan dalam satu negara atau komunitas Islam Sunni, sejak Awal hingga sekarang, Sunni selalu menjadi aliran mayoritas, maka tidak berlebihan jika dikatakan mempertahankan Sunni berarti mempertahankan Islam. Oleh karena itu, jangan ada usaha-usaha mempertahankan apalagi memperjuangkan sekte-sekte minoritas seperti sekte Syi’ah, Mu’tazilah, Wahhabi dst… karena disamping paham-pahamnya yang sesat juga hanya akan menambah perpecahan dan memperkeruh keadaan).

Akidah Asyariyah adalah Ahlussunnah wal Jamaah
Di antara kriteria dan ciri khas Ahlussunnah wal Jamaah ialah ulama-ulama mereka selalu tampil sebagai penyebar ilmu agama dan rujukan kaum muslimin dalam setiap generasi. Pertanyaannya sekarang, di antara sekian aliran yang ada, golongan manakah yang para ulamanya berperan sebagai penyebar ilmu agama dan penjaga kemurnian ajarannya? Jawaban terhadap pertanyaan tersebut adalah mayoritas ulama yang mengikuti madzhab al-Asyari dan al-Maturidi, seperti Imam al-Asyari, Abu Ishaq al-Isfirayini, al-Baqillani dan lain-lain. Hal ini seperti ditegaskan oleh hadlrotussyaikh KH. Hasyim Asyari berikut ini;
قَالَ الشِّهَابُ الخَفَاجِي رَحِمَهُ الله فِي نَسِيْمِ الرِّيَاض: الفِرْقَة النَّاجِيَة هُمْ أَهْلُ السُّنَّة وَالجَمَاعَةِ وَفِي حَاشِيَةِ الشَّنْوَانِي عَلَى مُخْتَصَر ابْنِ أَبِيْ جَمْرَة: هُمْ أَبُو الحَسَن الأَشْعَرِي وَجَمَاعَتُهُ أَهْلُ السُّنَّةِ وَأَئِمَّة العُلَمَاءِ لِأَنَّ الله تَعَالَى جَعَلَهُمْ حُجَّةً عَلَى خَلْقِهِ وَ إِلَيْهِم يَفْزَعُ العَامَّة فِي دِيْنِهِمْ وَهُمْ المَعْنِيُّوْنَ بِقَوْلِهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وًَسَلَّم: «إِنَّ اللهَ لَا يَجْمَعُ أُمَّتِي عَلَى ضَلَالَةٍ».
Mayoritas umat Islam di seluruh dunia, mengikuti madzhab Imam al-Asyari dan al-Maturidi, karena para ulama yang menyebarkan Islam juga bermadzhab Imam al-Asyari dan al-Maturidi. Imam Ibnu Asyakir RHA berkata:
وَأَكْثَرُ العُلَمَاءِ فِي جَمِيْعِ الأَقْطَارِ عَلَيْهِ أَيْ عَلَى مَذْهَبِ الأَشْعَرِي وَأَئِمَّةُ الأَمْصَارِ فِي سَائِرِ الأَعْصَارِ يَدْعُوْنَ إِلَيْهِ وَمُنْتَحِلُوْهُ هُمُ الَّذِيْنَ عَلَيْهِمْ مَدَارُ الأَحْكَامِ وَإِلَيْهِمْ يُرْجَعُ فِي مَعْرِفَةِ الحَلَالِ وَاْلحَرَامِ وَهُمْ الَّذِيْنَ يُفْتُوْنَ النَّاسَ فِي صِعَابِ المَسَائِلِ وَيَعْتَمِدُ عَلَيْهِمْ الخَلْقُ فِي إِيْضَاحِ المُشْكِلَاتِ وَالنَّوَازِلِ وَهَلْ مِنَ الفُقَهَاءِ مِنَ الحَنَفِيَّةِ وَاْلمَالِكِيَّةِ وَالشَّافِعِيَّةِ إِلَّا مُوَافِقٌ لَهُ أَوْ مُنْتَسِبٌ إِلَيْهِ أَوْ رَاضٍ بِحَمِيْدٍ فِي دِيْنِ اللهِ.

Tataran Praktis Prinsip Ahlussunnah
Aqidah
Dalam hal aqidah, Ahlussunnah wal Jamaah mempertimbangkan dan menetapkan beberapa hal di bawah ini.
Keseimbangan dalam telaah dan penggunaan dalil akal (tajsim dan tasybih) dan dalil syara (mutsbit maa tanzih) agar tidak mengalahkan salah satunya.
Memurnikan aqidah dengan cara membersihkan dan meluruskannya dari pengaruh aqidah yang sesat, baik dari dalam maupun dari luar Islam.
Menjaga keseimbangan berfikir supaya tidak mudah menilai salah, menjatuhkan vonis syirik, bidah pada orang lain yang seaqidah, apalagi mengkafirkannya.
Syariah
Dalam hal syariah, Ahlussunnah wal Jamaah mempertimbangkan dan menetapkan beberapa hal di bawah ini.
Berpegang pada al-Quran dan al-Hadits dengan cara-cara yang benar menurut ahlinya, yakni ulama salaf yang dapat dipertanggungjawabkan kebenarannya.
Akal dapat digunakan ketika terjadi masalah dan tidak ditemukan dalil nash (al-Quran dan Hadits) yang jelas dan mengikat.
Menerima setiap perbedaan pendapat para imam sunni mujtahidin dalam menilai suatu masalah, ketika dalil nash masih mungkin ditafsirkan yang lain.
Selalu mempertimbangkan aspek kemaslahatan dalam mengamalkan syariat di tengah-tengah lapisan masyarakat yang plural.
Tashawwuf
Dalam hal tashawwuf, Ahlussunnah selalu berpegang teguh dan berhati-hati dalam beberapa hal penting, yaitu:
Mendorong dan mengajarkan faham Ahlussunnah dalam bidang tashawwuf dengan menggunakan cara-cara ma’rifat Allah SWT, dzikir, riyadloh dan mujahadah yang tidak bertentangan dengan syariat Islam.
Tidak merasa diri lebih baik dan lebih sempurna dibanding orang lain.
Bersikap sopan santun, rendah diri dan menjaga hati dengan kekhusyuan dan keikhlasan dengan siapapun dan dimanapun berada.
Selalu berusaha mewujudkan rasa aman, tentram pada diri sendiri khususnya dan lapisan masyarakat pada umumnya.
Tidak terlalu berlebihan dalam menilai sesuatu, tenang, dan bijak dalam mengambil sikap serta mempertimbangkan kemaslahatan.
Bergaul antar Kelompok
Dalam pergaulan, Ahlussunnah menilai adanya hal-hal yang terpenting, antara lain:
Bersikap santun dengan keluarga, tetangga dan orang lain demi untuk tujuan dakwah.
Bersikap tegas, bijak dan mengambil posisi yang tepat terhadap pihak-pihak yang ingin merusak Islam.
Kehidupan Bernegara
Dalam kehidupan bernegara, Ahlussunnah menentukan beberapa hal berikut:
Mempertahankan nilai-nilai agama Islam Ahlussunnah wal Jamaah dan UUD 45 dalam bingkai NKRI (Negara Kesatuan Republik Indonesia) sebagai negara yang sah menurut hukum Internasional, atau sah menurut agama Islam dalam setiap undang-undang yang tidak bertentangan dengan syari’atnya.
Mentaati dan mematuhi pemerintah atas semua peraturan dan kebijakan yang berlaku selama tidak bertentangan dengan ajaran Islam.
Tidak melakukan bentuk perbuatan apapun yang berakibat pada jatuhnya kewibawaan, memicu pemberontakan dan penggulingan terhadap pemerintah yang sah.
Jika pemerintah melakukan penyimpangan dari aturan agama Islam, membuat rakyat sengsara, maka harus mengingatkannya dengan cara yang baik.
Mengawal dan mengkritisi kebijakan-kebijakan pemerintah yang melanggar syariat dan UUD 45, demi tercapainya sebuah pemerintah yang adil bersih dan berwibawa.
Tradisi
Dalam masalah tradisi umat Islam, Ahlussunnah memberikan batasan-batasan sebagai berikut:
Meletakkan tradisi umat Islam pada posisi yang tepat serta menilai dan mengukur dengan nilai-nilai ajaran Islam.
Menerima tradisi yang baik dan tidak bertentangan dengan agama Islam siapa-pun yang membawa dan dari manapun datangnya.
Melestarikan tradisi umat Islam lama yang lebih baik dan mengambil tradisi baru yang sesuai dengan syara.
Sebab Rasulullah SAW bersabda:

أَبْغَض النَّاسِ إلَى الله ثَلاَثَةٌ : مُلْحِدٌ فِي الحَرَمِ ، وَمُبْتَغٍ فِي الإسْلاَمِ سُنَّةَ الجَاهِلَيَّة ، وَمُطَّلِبُ دَمِ امْرِئٍ بِغَيْرِ حَق ، لِيُهْرِيقَ دَمَهُ.
أخرجه البخاري في صحيحه
ستة لعنتهم، لعنهم الله وكل نبي مجاب : الزائد في كتاب الله، والمكذب بقدر الله تعالى، والمتسلط بالجبروت فيعز بذلك من أذل الله ويذل من أعز الله، والمستحل لحرم الله، والمستحل من عترتي ما حرم الله، والتارك لسنتي- ( ت ك ) عن عائشة ( ك ) عن ابن عمر (الجامع الصغير من حديث البشير النذير) – (1 / 465)
Dakwah
Dalam hal dakwah, Ahlussunnah menganjurkan berdakwah yang ditujukan kepada seluruh lapisan
masyarakat dengan memperhatikan beberapa ketentuan sebagai berikut:
Dakwah dilakukan dengan nilai yang ikhlas, tulus memberikan bimbingan, pencerahan dan pengarahan demi tercapainya tujuan utama, yaitu mendapatkan kebahagiaan di dunia dan kemuliaan di akhirat.
Materi dakwah disesuaikan dengan kondisi dan kemampuan berfikir masyarakatnya.
Berdakwah bukan bertujuan untuk menyalahkan, menghukumi ataupun mengkafirkan orang lain, akan tetapi untuk memupuk rasa persaudaraan dan mengajak masyarakat menuju jalan yang diridlai Allah SWT.

Realitas ke-Indonesiaan
Dalam konteks berbangsa dan bernegara (sosial kemasyarakatan) Ahlussunnah wal Jamaah mengakui realitas kemajemukan atau pluralistik. Terbukti tatkala tercetus Piagam Madinah, Kanjeng Nabi Muhammad SAW menjumpai adanya pemeluk Yahudi, Nasrani, beliau tetap menegaskan, bahwa Islam adalah satu-satunya agama yang benar. Bahkan beliau mengirim surat ke beberapa Raja Eropa, seperti Heraklius, Muqauqis berupa ajakan untuk memeluk agama Islam.
قَالَ أَبُو سُفْيَانَ: كَتَبَ النَّبِيُّ صَلَّى الله عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِلَى هِرَقْلَ: «تَعَالَوْا إِلَى كَلِمَةٍ سَوَاءٍ بَيْنَنَا وَبَيْنَكُمْ» [آل عمران: 64[[رواه البخاري]
Abu Sufyan RA berkata: Kanjeng Nabi Muhammad SAW mengirimkan surat kepada Raja Hiraklius yang artinya: “Hai ahli Kitab, Marilah (berpegang) kepada suatu kalimat (ketetapan) yang tidak ada perselisihan antara Kami dan kamu” (HR. Bukhori).
Perlu dicatat, agama-agama selain Islam yang para pemeluknya diberi hak hidup oleh Rasulullah SAW hanya agama Yahudi dan Nashrani (Ahli Kitab), Majusi juga seperti Ahli Kitab, karena Rasulullah SAW bersabda: سنوا بهم سنة أهل الكتاب (HR. Imam Malik fil Muwathta’, wa imam Abdurrozaq fil Mushonnaf). Islam mengakui keberadaan kedua agama tersebut bukan berarti membenarkannya, akan tetapi Islam masih menghormati sisa-sisa kebenaran dari ajarannya. Penyembah Berhala tidak ditolerir oleh Rasulullah SAW, terbukti beliau mengusir mereka dari tanah haram dan seluruh jazirah arab, sampai membuat ultimatum pasca penaklukan Makkah, barangsiapa yang tidak keluar dari tanah haram setelah 4 bulan, pasti akan kami perangi. Jadi sekali lagi kami tegaskan bahwa negara Madinah yang dibangun oleh Baginda Rasul SAW tidak menampung para penyembah berhala, apalagi melindunginya. Oleh karenanya sangat tidak masuk akal, jika para liberalis menggunakan “Piagam Madinah” sebagai dalil pembenaran perlindungan negara Indonesia terhadap kafir non ahli kitab (Hindu, Budha, Konghucu dll…).
Meski demikian, bukan berarti kita umat Islam Indonesia kemudian berlaku intoleran atau bertindak diskriminasi kepada mereka, karena pada dasarnya, ada kode etik khusus ketika berinteraksi sosial dengan non muslim dalam konteks ke-Indonesiaa. “Rukun tapi Suloyo, Suloyo tapi Rukun” atau “Sebongso tapi Suloyo, Suloyo tapi Sebongso”, atau yang lebih tepatnya “Sak negoro tapi Suloyo, Suloyo tapi sak negoro”, begitulah kode etiknya, sebab rukun dengan non muslim Indonesia itu sifatnya hanya dharurat, agar supaya umat Islam tidak dituduh Radikal, Ekstrim, Intoleran dan cap-cap buruk lainnya, sedangkan rukun sesama muslim hukumnya wajib, apapun sekte dan alirannya, semisal Santri-non Santri, NU-Muhammadiyah, Wahhabi, HTI, JTA dst… kami mengistilahkan interaksi sosial antar sesama umat Islam di Indonesia dengan jargon “Podo Tapi Bedo, Bedo Tapi Podo”, atau “Seagomo tapi Bedo, Bedo tapi Seagomo”.
Fenomena mengerikan semisal umat Islam ikut natalan, Banser Jaga Gereja, memilih pemimpin non muslim, do’a bersama, FKUB dan lain sebagainya adalah imbas pemahaman keliru terhadap tata cara interaksi antar muslim-non muslim.
Kami tambahkan lagi, bahwa maqolah ulama (Seperti KH. Zubair Dahlan dan KH. Maimoen Zubair) عليكم بالدثار والشعار, hakikat pemahaman Ditsar dan Syi’ar itu sama, yakni kembali pada taqwallah, jika syi’ar adalah urusan membersihkan hati dari sombong, iri, dengki, ujub dan segala penyakit hati (domain thoriqoh), maka ditsar adalah urusuan dhohir, seperti sholat, zakat, puasa, haji dll. Pokoknya syi’ar itu “noto ati” sedangkan ditsar “noto awak”. Tidak seperti orang-orang yang menafsiri syi’ar dengan menetapkan pendidikan salaf, sedangkan ditsar dengan menerima pendidikan umum.
Adapun maqolah: حق عل العاقل أن يعرف زمانه ويحفظ لسانه ويقبل على شأنه (termasuk salah satu hikmah ‘Ali Dawud, dalam kitab al-Bidayah wa an-Nihayah Juz 1. Hal: 102, dan termasuk isi suhuf Ibrahim, dalam kitab Syarah Arba’in Nawawiyah hal: 40) maksudnya arif bizamanih adalah: Seseorang ketika berdakwah harus menggunakan bahasa kaumnya yang kekinian (terupdate), berlandaskan hukum dan tidak menimbulkan fitnah dan kegaduhan, agar mudah dipaham, hal ini senada dengan firman Allah SWT: وَمَا أَرْسَلْنَا مِنْ رَسُولٍ إِلَّا بِلِسَانِ قَوْمِهِ لِيُبَيِّنَ لَهُمْ فَيُضِلُّ اللَّهُ مَنْ يَشَاءُ وَيَهْدِي مَنْ يَشَاءُ وَهُوَ الْعَزِيزُ الْحَكِيم. خذ ما Jadi tidak boleh mengikuti arus zaman dengan dalih maqolah tersebut, karena ada maqolah ulama yang berbunyi: خذ ما صفا ودع ما كدر (setiap perkara menguntungkan akhirat harus diambil, dan yang merugikannya harus ditinggal). Begitu juga tidak boleh berdalil dengan maqolah ulama moderen yang masih diragukan kevalidannya, تتغير الأحكام بتغير الأحوال والأزمان. Kalau zaman rusak, masak kita ikutan rusak?, seperti sekarang lagi marak Pluralisme, Liberalisme, Miras, LGBT, kepemimpinan non muslim, bermesraan dengan kuffar, natalan, perzinaan dan seterusnya… apa dengan dalil tersebut, umat Islam diperbolehkan ikut-ikutan zaman? Naudzubillah min dzalik.
Kanjeng Nabi Muhammad SAW juga melakukan pergaulan sosial secara baik dengan komunitas orang kafir (ahli kitab), seperti Kristen Najron, Yahudi Madinah sebelum mereka mengkhianati Perjanjian Madinah atau yang dikenal dengan Piagam Madinah. Namun, setelah mereka mengkhianati perjanjian tersebut, Kanjeng Nabi SAW menerapkan kebijakan yang berbeda-beda. Terhadap Bani Qoinuqo dan Bani Nadlir, Kanjeng Nabi Muhammad SAW memerangi dan mengusir mereka dari Madinah, terhadap Bani Quroidloh, beliau memerangi dan menumpas mereka. Begitu juga orang tuanya istri Kanjeng Nabi SAW yang bernama Huyay bin al-Akhthob yang merupakan tokoh Yahudi Bani Quroidhoh terbunuh dalam perang khandaq, kemudian putrinya, Shofiyyah yang suaminya Kinanah bin Rabi’ bin Abil Huqaiq terbunuh di perang Khaibar diperistri kanjeng Nabi Muhammad SAW.
Aswaja juga menerima konsep kebangsaan, kebhinekaan dalam konteks berbangsa dan bernegara, sosial kemasyarakatan sebagai bentuk loyalitas tanggungjawab aswaja terhadap stabilitas dan keutuhan NKRI serta demi mewujudkan dan menjaga persatuan dan kesatuan antar komponen bangsa Indonesia, asalkan untuk kemaslahatan umat Islam, dan semua itu tidak bertentangan dengan syari’at Islam itu sendiri (الإسلام يعلو ولا يعلى عليه).
Namun ketika nilai-nilai kebangsaan dan ke-bhinekaan tersebut dikhianati oleh orang-orang liberal dengan dibuat kedok untuk memasarkan ide-ide pluralisme agama, maka Aswaja mempunyai kewajiban untuk membendungnya serta membentengi umat agar tidak ikut-kutan terjebak hanyut ke dalam propaganda untuk meninggalkan dan membuang Islam dengan slogan “pluralisme agama”.
Dampak Pluralisme adalah pendangkalan aqidah. Di negeri ini, kegiatan yang mengandung benih-benih dan aroma pluralisme agama sudah menjadi tren. Kegiatan do’a bersama lintas agama yang melibatkan tokoh-tokoh NU bukan pemandangan asing lagi. Acara yang diberi tema “Forum Silaturahmi Nasional Lintas Agama” di GOR Sidoarjo pada hari Jumat, 22 Januari 2010. Begitu juga sungguh sangat memiriskan umat Islam yang setiap tahun disuguhi berita ”pelamaran” pihak NU (puluhan ribu GP Ansor-Banser) “melamar” kepada orang Kristen dan Katolik untuk menjadi penjaga gereja di upacara natalan. Padahal bukan keadaan darurat, sedangkan polisi pun sudah dikerahkan hingga 93.000 polisi untuk pengamanan. Di zaman Gus Dur, pembangunan gereja besar-besaran marak direalisasikan pada daerah komunitas Muslim. (Sumber: m.tribbunnews.com)
Tindakan salah tokoh NU dan pengasuh pondok pesantren Saka Tunggal di Jl. Sendang Guwo 40-42 Semarang yang dikenal sebagai dedengkot PBM (Pasukan Berani Mati), ceramah di sebuah gereja Bethany Tayu, Pati, Jawa Tengah, Rabo 25 Desember 2013 (Sumber: m.kaskus.co.id) sebagai tindak lanjut dari isu NKRI harga mati, keBhinekaan, dan toleransi kebangsaan yang merupakan kedok untuk menyebarkan paham pluralisme agama.
Entah mengapa orang-orang tersebut begitu getol dan giat melakukan kegiatan-kegiatan pluralisme diatas, padahal tidak ada kondisi darurat sedikitpun yang sah menjadi pendorong umat Islam harus berperilaku seperti, bahkan yang terjadi hal ini lebih terlihat dipaksakan. Buktinya setiap acara tersebut selalu di-blow up besar-besaran di media massa dan bagi Muslim yang mengingkarinya otomatis mendapat cap intoleran, radikalis, anti-kemajemukan, dan cap-cap teror lainnya. Padahal umat Islam sudah dilarang dan diwanti-wanti oleh Allah agar jangan akrab (muwalah) dengan orang kafir.

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَتَّخِذُوا بِطَانَةً مِنْ دُونِكُمْ لَا يَأْلُونَكُمْ خَبَالًا وَدُّوا مَا عَنِتُّمْ قَدْ بَدَتِ الْبَغْضَاءُ مِنْ أَفْوَاهِهِمْ وَمَا تُخْفِي صُدُورُهُمْ أَكْبَرُ قَدْ بَيَّنَّا لَكُمُ الْآيَاتِ إِنْ كُنْتُمْ تَعْقِلُونَ [آل عمران : 118]
“Wahai orang-orang yang beriman, janganlah kamu menjadikan teman orang-orang yang diluar kalanganmu (seagama) sebagai teman kepercayaanmu, (karena) mereka tidak henti-hentinya menyusahkanmu. Mereka mengharapkan kehancuranmu. Sungguh telah nyata kebencian dari mulut mereka, dan apa yang tersembunyi di hati mereka lebih jahat. Sungguh telah kami terangkan kepadamu ayat-ayat (kami), jika kamu mengerti” (QS. Ali Imran: 118)

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَتَّخِذُوا الْيَهُودَ وَالنَّصَارَى أَوْلِيَاءَ بَعْضُهُمْ أَوْلِيَاءُ بَعْضٍ وَمَنْ يَتَوَلَّهُمْ مِنْكُمْ فَإِنَّهُ مِنْهُمْ إِنَّ اللَّهَ لَا يَهْدِي الْقَوْمَ الظَّالِمِينَ [المائدة : 51]
“Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah kamu menjadikan orang Yahudi dan Nashrani sebagai teman setia(mu) mereka satu sama lain saling melindungi. Barangsiapa diantara kamu menjadikan mereka teman setia, maka sesungguhnya dia termasuk golongan mereka, sungguh Allah tidak memberi petunjuk kepada orang yang zhalim.” (QS. Al-Maaidah: 51)

وَدُّوا لَوْ تَكْفُرُونَ كَمَا كَفَرُوا فَتَكُونُونَ سَوَاءً فَلَا تَتَّخِذُوا مِنْهُمْ أَوْلِيَاءَ حَتَّى يُهَاجِرُوا فِي سَبِيلِ اللَّهِ
“Mereka ingin supaya kamu menjadi kafir sebagaimana mereka telah menjadi kafir, lalu kamu menjadi sama (dengan mereka). Maka janganlah kamu jadikan diantara mereka penolong-penolong(mu), hingga mereka berhijrah pada jalan Allah.” (QS. Al-Nisa: 89)
Keputusan Bahtsul Masail PBNU tanggal 21 Januari 2014 tentang wajibnya kondom dan perlunya lokalisasi prostitusi dalam rangka mencegah penyebaran HIV dan AIDS. Menurut siaran pers Komisi Penanggulangan AIDS Nasional (KPAN), PBNU termasuk dari empat penerima dana utama The Global Fund untuk penanggulangan HIV/AIDS. Dari USD. 111,09 juta yang dihibahkan ke Indonesia, PBNU menerima dana sebesar USD. 13,391,651. (161 Milyar) (Sumber: PEPFAR-US President’s Emergency Plan for AIDS Relief), Salah satu bentuk realisasi bantuan dana tersebut adalah diterbitkannya dua buku berjudul “Panduan Penanggulangan AIDS, Perspektif Nahdlatul Ulama” dan Khutbah Jumat “Jihad Melawan HIV & AIDS”. Sudah menjadi rahasia umum jika KB adalah salah satu program Kristenisasi, karena sasaran program ini adalah umat Islam, sedangkan China-Kristen tidak perlu KB, yang lebih mengerikan lagi, umat Islam saat ini diajari LGBT dan dicekoki Miras, naudzubillah min dzalik.
Ini semua adalah bentuk dari propaganda pluralisme agama dan program kristenisasi yang terorganisir. Karena pemakaian kondom bisa menekan kehamilan dan memutuskan keturunan. Allah Taala berfirman:
وَإِذَا تَوَلَّى سَعَى فِي الْأَرْضِ لِيُفْسِدَ فِيهَا وَيُهْلِكَ الْحَرْثَ وَالنَّسْلَ وَالله لَا يُحِبُّ الْفَسَادَ. [البقرة: 205]
Dan apabila ia berpaling (dari kamu), ia berjalan di bumi untuk mengadakan kerusakan padanya, dan merusak tanam-tanaman dan binatang ternak, dan Allah SWT tidak menyukai kebinasaan. (QS. Al-Baqoroh: 205)
Keputusan PBNU ikut melegalkan lokalisasi juga bertentangan dengan keputusan Bahtsul Masail pada Muktamar Nahdlatul Ulama ke- XXXI di Boyolali Solo Jawa Tengah 29 November-01 Desember 2004 yang memutuskan bahwa melegalkan lokalisasi prostitusi bukan taghyir munkarat, tapi justru membenarkan, menolong, dan melestarikan kemaksiatan tersebut dan hukumnya adalah haram. Upaya taghyir munkarat harus dilakukan dengan cara penutupan tempat-tempat maksiat dan memberikan hukuman kepada para pelakunya. Allah SWT berfirman:
وَلَا تَقْرَبُوا الزِّنَا إِنَّهُ كَانَ فَاحِشَةً وَسَآءَ سَبِيلًا. [الإسراء: 32[
Dan janganlah kamu mendekati zina; Sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji dan suatu jalan yang buruk. (QS. Al-Isro: 32)
وَتَعَاوَنُوا عَلَى الْبِرِّ وَالتَّقْوَى وَلَا تَعَاوَنُوا عَلَى الْإِثْمِ وَالْعُدْوَانِ وَاتَّقُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ شَدِيدُ الْعِقَابِ. [المائدة: 2[
Dan tolong-menolonglah kamu dalam (menger-jakan) kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran. (QS: al-Maidah: 2)
Inilah deretan dari berbagai konspirasi dan propaganda Kristen-Liberal lewat tokoh-tokoh Islam dalam memporak-porandakan keutuhan dan kekuatan umat Islam. Mereka kelompok minoritas, namun mereka telah lancang dan terang-terangan menyulut api permusuhan antar umat Islam. Oleh karena itu, jika dikembangkan, apalagi di negara yang mayoritas muslim, seperti Indonesia maka akan melahirkan permasalahan teologis, sosio-politik, dan bahkan HAM yang sangat di luar biasakan.

Ikhtitam
Berbagai bencana telah melanda negara ini, marilah bermuhasabah diri, dengan kembali ke fitrah, memposisikan diri dan berkiprah sesuai dengan karakter dan keahliannya masing-masing, seorang tokoh yang mempunyai kapasitas keilmuan hendaknya mengamalkan ilmunya sesuai syariat Islam dengan mengatakan bahwa benar adalah sebuah kebenaran dan bathil adalah sebuah kebathilan, hendaknya yang kaya mendermakan sebagian hartanya di jalan Allah SWT dan yang miskin hendaknya memperbanyak istighfar.
Pesantren mempunyai tugas melahirkan generasi paripurna untuk menjawab berbagai persoalan umat, menjadi garda depan dalam menolak dan membendung pengaruh pemikiran-pemikiran sesat Liberalisme, Pluralisme, Sekulerisme, Syiah, Wahhabi, MTA dan aliran-aliran sesat lainnya yang semakin tumbuh berkembang di Indonesia, demi menjaga kemurnian aqidah dan umat Islam dari kekufuran.
Semoga Allah SWT memberi rahmat, taufiq dan hidayah-Nya kepada kita semua. Amiin…

PERNYATAAN SYAIKH MUHAMMAD NAJIH TENTANG DONALD TRUMP, LGBT, DAN NATALAN BAGI MUSLIM

Pada hari Kamis tanggal 2 Rabi’ul Akhir 1439 H/21 Desember 2017 kemarin, Syaikh Muhammad Najih memberikan pernyataan tentang beberapa masalah yang ramai diperbicangkan oleh umat Islam menjelang penutupan tahun 2017 ini. Melalui video yang diupload di akun Facebook dan Youtube “Ribath Darusshohihain”, ada tiga isu pokok yang disinggung oleh Abah Najih yaitu keputusan kontroversial presiden Amerika Donald Trump yang ingin menjadikan kota Yerusalem di Palestina sebagai ibukota Israel, LGBT yang semakin dimuluskan ruang geraknya di Indonesia, dan pernyataan para pendukung perayaan natal bagi Muslim. Demikian kutipan pernyataan beliau di dalam video tersebut:
“Rencana Amerika menjadikan Yerusalem sebagai ibukota Israel dengan menempatkan kedutaannya di Yerusalem sudah ditolak oleh umat Islam bahkan sebagian orang Kristen seperti Perancis. “Ini adalah suatu kemenangan secara moral bagi umat Islam. Menjelang natal kita bisa unjuk rasa menolak putusan sepihak yang melanggar keputusan PBB disamping melanggar agama kita, yaitu bahwa Baitul Maqdis adalah tanah suci dan masjid ketiga yang harus kita muliakan setelah Masjidil Haram dan Masjid Nabawi.

Sekarang memang Yerusalem dijajah oleh Israel, namun Israel ibukotanya di Tel Aviv. Artinya tidak terlalu mengganggu kenyamanan orang Islam untuk shalat, berjamaah, berdzikir, dan menjalankan ritual agamanya di Yerusalem. Tapi dengan adanya rencana Donald trump na’udzu biLlah min dzalik, ini sangat meresahkan, tidak menyenangkan, dan ini menyulut peperangan dan permusuhan yang tidak ada habis-habisnya. Tentu yang kita khawatirkan adalah korban banyak dari umat Islam. Kita ini sudah teraniaya, masuk Masjidil Aqsha harus dapat izin dari polisi dan tentara Israel. Kadang kalau masih muda malah digebuki. Saya pernah kesana, jadi begitulah keadaannya. Kita sudah teraniaya dan Palestina sudah terjajah. Kalau Yerusalem jadi ibukota Israel akan tambah teraniaya lagi, khususnya anak-anak muda banyak yang akan dibunuh nanti, dianggap sebagai teroris, dan seterusnya.

Padahal orang Palestina tidak semuanya teroris. Mereka hanya menggunakan hak-hak mereka dan rumah ayah dan kakek mereka. Bahkan para pengungsi Palestina menurut keputusan PBB mestinya dikembalikan lagi, namun ternyata tidak dikembalikan lagi ke tempat aslinya. AlhamduliLlah negara kita dari dulu mendukung perjuangan Palestina, dan sekarang pun InsyaAllah masih begitu.

Sayangnya, sekarang ini kita sendiri terjajah oleh kekufuran-kekufuran atau ateis-ateis dan hukum-hukum yang bertentangan dengan agama samawi yang benar yaitu islam, serta ajaran Yahudi Kristen dimana Taurat dan Injil adalah kitab samawi meski sudah ada penyelewengan, akan tetapi mansubun ila sama’ (dinisbatkan kepada langit). Baik lesbian ataupun sodomi adalah  kabair (dosa besar). LGBT itu semuanya adalah dosa besar, dan kalau diresmikan atau disahkan itu menjadi kufur karena menghalalkan perkara yang diharamkan oleh Allah. LGBT adalah sesuatu yang menjijikkan. Kalau sampai dilegalkan akan menjadi momok besar dan sebab turun laknat Allah kepada negara kita ini. Na’udzu biLlah.

Zaman era SBY dulu MK mengatakan anak zina nasabnya sampai ke bapak biologis. Itu saja sudah dikatakan bencana besar atau bahkan terbesar. Lha sekarang mau ditambahi lagi oleh orang ‘Ateis-Komunis-Abangis’. Kejahatan-kejahatan seksual ingin dilegalkan, tidak ada hukuman ataupun ancaman, dan tidak ada pidana.

Jadi saya mohon kita harus ikut mengurusi Palestina. Artinya kita menolak dengan demo, diplomasi bagi yang ahli diplomasi, memboikot produk-produk Zionis-Amerika-Yahudi, mengirim bantuan kepada Palestina, dan seterusnya. Semua yang kita bisa kita lakukan. Tapi juga jangan lupa di negeri kita dimana di buku mata pelajaran IPS untuk sekolah sudah tercantum Yerusalem sebagai ibukota Israel. Itu siapa yang menulis? Kenapa tidak ditangkap? Kenapa tidak dibredel dan dicabut dari peredaran? Itu berarti negara kita ini memperjuangkan Palestina hanya nostalgia zaman Soekarno saja, zaman negara-negara Non-Blok.

Memang Palestina atau Yerusalem ada Kristen, tapi kan dulu negara Islam. Setelah tumbangnya khilafah mestinya tetap miliknya umat Islam. Meskipun ada Kristen namun mayoritas masyarakatnya umat Islam. Ada pula Masjidil Aqsha yang merupakan milik umat Islam. Walanpun umat Islam sekarang dijajah, dikeruk, dan digerogoti terus oleh Yahudi, namun AlhamduliLlah tidak hancur. Ini menurut saya mukjizat dari Allah Ta’ala.

Meski begitu, marilah negeri kita ini dijaga jangan sampai kecolongan ateis disebarluaskan disini. Menghalalkan LGBT jangan sampai menjadi undang-undang. Kalau bisa keputusan hukum dahulu bahwa ada anak zina sambung nasabnya kepada bapak biologisnya juga harus ditolak, walaupun itu produknya Mahfudh MD yang katanya orang NU. Ini bukan masalah fanatik NU, fanatik organisasi, atau fanatik negara. Ini sudah bukan masanya lagi. Sekarang ini ideologi kufur sudah dipaksakan menguasai Pancasila, bahkan ideologi komunis pun sudah menguasai Pancasila.

Ideologi kita adalah Islam. Adapun Pancasila adalah ideologi negara yang kita terima karena kemaslahatan politik belaka. Tapi ketika maslahat agama dihancurkan dan dirusak maka kita harus membela biar anak cucu kita tidak kehilangan arah, pendirian, dan akidah. Walaupun kita harus mati dalam membela agama, yang penting anak cucu kita tetep iman dan Islam. Kita adalah negara yang mayoritas umat Islam, luar biasa, dan paling besar. Jangan sampai hanya besar bilangannya tapi imannya kropos, kalah dengan duit dan teror-teror Cina.

Sekarang ratusan orang Cina masuk tiap malam tanpa pengawasan. Menurut saya mereka ingin menjajah Indonesia dengan seks, senjata, keburukan, dan makanan. Kita harus waspada. Produksi Indofood mungkin minyaknya dicampuri babi, Mui harus waspada. Jangan dihalalkan hanya ketika diperlihatkan saja, tapi juga harus dirazia dadakan. Produk-produk dari Amerika apalagi Cina harus diwaspadai. Makanlah makanan lokal dari umat Islam. Walaupun tidak keren, ini lebih selamat, lebih higienis, dan lebih aman dari bahaya-bahaya dari mereka.

Mereka benar-benar ingin merusak negeri kita, menjajah negeri kita dg macem-macem. Dengan politik dan pendidikan seperti Yerusalem dikatakan ibukota Israel dalam buku pelajaran sekolah. Ini kecurangan luar biasa dari pemerintah sekarang. Pemerintahan dulu saja bisa begitu, terlebih lagi pemerintahan sekarang. Sekarang sudah nyata orang Cina dimana-mana. Sekarang kadang-kadang jasa travel bisa langsung dari sini sampai Singapura, ini juga agar gampang bagi orang Cina untuk masuk Indonesia.

Saya bukan anti kebangsaan ataupun anti bangsa. Namun ini adalah anti kekufuran, pemurtadan, ateis, dan komunis.

Saya mendapat kiriman tulisan orang liberal yang bikin tasykik (peraguan) kepada orang awam dan ulama. Dia bertanya mana dalilnya keharaman mengucapkan selamat natal. Lalu dia mengatakan bahwa hal itu boleh-boleh saja karena hanya sebatas berbagi kebahagiaan. Dalilnya yang lain, yang melakukan itu adalah ulama seperti Din Syamsuddin, Said Aqil, dan Syafi’i Maarif. Adapun Muhammadiyah melarangnya menurutnya itu lucu.

Menurut saya ini bukan masalah Muhammadiyah dan Nahdlatul Ulama, namun ini masalah ulama. Din Syamsudin menurut saya bukan ulama, melainkan hanya tokoh Muhammadiyah. Syafi’i Maarif adalah tokoh liberal. Said Aqil mungkin juga ulama tapi tokoh liberal juga, bahkan penasihat pemuda Kristen seluruh Indonesia. Jadi wajar kalau mereka terbiasa mengucapkan selamat natal kepada ‘bos-bos’ mereka. Akan tetapi masalahnya ini adalah soal agama. Orang-orang yang mengatakan haram dengan ikut Muhammadiyah termasuk mengikuti jejak perjuangan Buya Hamka. Ia adalah ulama besar. Di akhir hayatnya dia melakukan qunut subuh dan kembali kepada madzhab Syafi’i, karena ayah beliau Kyai Abdul Karim Amrullah bermadzhab Syafi’i bahkan punya Thariqah Naqsyabandi.

Kemarin ada cerita Kyai Wachid Hasyim saat penjajahan Belanda atau Jepang menyarankan kepada pemerintah penjajah agar para tahanan diberi bimbingan dari ulama, termasuk dari Kyai Abdul Karim untuk memberi wejangan kepada penghuni penjara. Beliau menyampaikan dalil Firman Allah Ta’ala:

فَلَا يَغْرُرْكَ تَقَلُّبُهُمْ فِي الْبِلَادِ [غافر : 4]

“Janganlah pulang balik mereka dengan bebas dari suatu kota ke kota yang lain memperdayakan kamu.” (QS. Ghafir: 4)

Penjajah itu hanya sebentar, bisa diusir.

Yahudi dan Nasrani aslinya adalah agama Nabi Musa dan Nabi Isa ‘alaihi al-Salam. Apa agamanya? Yaitu Islam, karena Nabi Ibrahim zaman dulu mewasiatkan kepada anak-anaknya:

وَوَصَّى بِهَا إِبْرَاهِيمُ بَنِيهِ وَيَعْقُوبُ يَا بَنِيَّ إِنَّ اللَّهَ اصْطَفَى لَكُمُ الدِّينَ فَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ [البقرة : 132]

“Dan Ibrahim telah mewasiatkan ucapan itu kepada anak-anaknya, demikian pula Ya’qub. (Ibrahim berkata): “Hai anak-anakku! Sesungguhnya Allah telah memilih agama Ini bagimu, maka janganlah kamu mati kecuali dalam memeluk agama Islam.” (QS. Al-Baqarah: 132)

Semua nabi agamanya Islam. Hanya saja kata “Islam” dicuatkan secara lantang pada zaman Nabi Muhammad ShallaLlahu ‘alaihi wa Sallama. Tentunya Islam ya Tauhid itu. Namun akhirnya Yahudi-Nasrani menyimpang dengan condong kepada agama Majusi dan senang menggunakan jimat. Akhirnya ada istilah Shabi’in, senang dengan tawassul kepada planet, bintang, dan zodiak. Kristen asalnya berajaran Tauhid. Ashabul Kahfi masih mengikuti ajaran Tauhid. Kemudian mereka disebari trinitas oleh Shaul yang mengaku masuk Kristen dan berganti nama menjadi Paulus lalu menjadi mahaguru mereka.

Yahudi Kristen adalah kafir. Banyak ayat Al-Quran menjelaskan tentang kafirnya orang yang tidak bertauhid. Kalau di era Makkah Rasulullah ShallaLlahu ‘alaihi wa Sallama mengajarkan kekufuran penyembah berhala, lalu ketika berpindah ke Madinah mengajarkan kekufuran Yahudi dan Nasrani. Dengan ini kita umat Islam dijaga dengan Tauhid, dilarang toleran atau pro kepada kufur atau syirik.

Ulama bilang bahwa ridha dengan kekafiran maka kafir. Kalau kita mengucapkan selamat natal, ini dapat menumbuhkan simpati dan cinta perlahan-lahan kepada mereka. mungkin sebagian mengingkari bahwa yang diucapkan sekedar di lisan saja. Namun perlu diketahui bahwa umat Islam wajib menghindar dari hal-hal yang bisa menyebabkan kecenderungan dan rasa simpatik kepada orang kafir.

Ini jelas sekali menurut saya, maaf kalo saya lancang, salib itu kan kalau ahli dukun kelihatan ada bentuk dukunnya seperti agama Cina dan kuil-kuil. Kesannya ada banyak mahabbah disitu, makanya kita harus waspada. AlhamduliLlah Rasulullah ShallaLlahu ‘alaihi wa Sallama mengambil istri Khadijah yang faham sekali dengan kitab-kitab Injil dan Taurat karena punya paman bernama Waraqah bin Naufal. Itu adalah anugerah kepada Rasul dengan dijauhkan dari syirik sebelum menjadi nabi dan akhirnya tambah diketahui kenabiannya lewat Waraqah, karena dia bisa menulis Injil dan Taurat yang asli dengan bahasa Ibrani dan menerjemahkannya kedalam bahasa Arab secara lengkap tanpa ada perubahan. Ini adalah suatu keunikan dan taufiq dari Allah Ta’ala.

Saya tidak mengatakan Kristen semuanya dukun. Memang ada yang ahli kitab beneran. Bahkan Paus Paulus ke-16 mengatakan bahwa Yesus Kristus bukan lahir di tanggal 25 Desember, tapi pada bulan Oktober atau November. Saya dapat referensi bahwa yang bikin natal adalah raja Konstantine agar bisa ramai berbarengan dengan acara tradisi negara Romawi.

Saudara-saudara sekalian, marilah kita jaga dan jangan tertipu dengan omelan-omelan liberal yang sekarang lagi bingung, susah, dan sedih karena umat Islam semuanya bergerak melawan Amerika dan Donald Trump. Kalau dulu Yerusalem dikuasai Israel secara pemerintahan atau senjata, dan sekarang Amerika ingin membuat kedutaan di Yerusalem berarti Amerika juga mau menjajah. Penjajahnya bertambah banyak. Bukan hanya oleh Yahudi, tapi juga oleh Kristen. Amerika itu tidak tunduk pada Vatikan karena Kristen Ortodok dan masih banyak sumber-sumber asli yang tidak berubah. Amerika itu Kristen Protestan, sama dengan liberal seenaknya sendiri. 

Tadi saya meminta kepada anak-anak saya untuk melihat ibarat kitab, AlhamduliLlah di dalam kitab Mawahib al-Jalil (Madzhab Maliki) ada keterangan dinukil dari al-Bulqini yang bermadzhab Syafi’i bahwa mengucapkan “’Idun Mubarak” (selamat hari raya) kepada kafir dzimmi seperti halnya mengucapkan selamat nata, jika niatnya mengagungkan agamanya maka kafir secara pasti, jika sengaja menghormati agamanya yang kufur meskipun agama tersebut mengaku termasuk agama langit maka juga kafir. Al-Quran sudah menjelaskan bahwa agama Kristen mengatakan Isa adalah anak tuhan atau salah satu bagian dari trinitas (tiga tuhan).

Jadi waspadalah. Kalau kita mengatakan natal kepada Kristen maka artinya kita sudah kepelet akhirya simpatik dan seolah-olah menginginkan balasan dari mereka. Itulah setan, menjerumuskan manusia dengan cara seperti itu. Ketika kita menghadapi orang kafir seakan-akan kita lemas seolah butuh uang mereka, padahal mereka terkenal pelit, benci sama kita, dan tidak memberi kita kecuali sudah dihipnotis agar kita menjadi murtad dan seterusnya. Na’udzu biLlah.

Mari kita qanaah dengan diri sendiri dan rizki yang diberikan oleh Allah Ta’ala kepada kita. Kita tidak usah bergantung kepada kufur, jam’iyyah, LSM, dan non-Muslim. Mari kita bangga dengan pemberian Allah dan hujan yang diberikan Allah. Mari kita selamatkan diri kita dengan membaca Al-Quran, Shahih Bukhari, Mukhtashar Ibn Abu Jamrah, Mukhtashar al-Zabidi, al-Tajrid al-Sharih, dan kitab-kitab lainnya agar terjaga dari kufur, liberal, dan LGBT. Rencana-rencana mereka untuk melegalkan hal-hal kufur dan amoral semoga digagalkan oleh Allah Ta’ala. Mari kita banyak-banyak tadarru’ dan menghormati Isa sebagai Nabi. Menurut saya dan umat Islam pasti menerima omongan saya ini, Nabi Isa sekarang sedang digodok oleh Allah Ta’ala. Bahasa jawanya digodok di Kawah Condrodimuko, tapi bukan di neraka melainkan di langit kedua agar menjadi ‘setengah malaikat’. Tujuannya untuk membunuh Dajjal. Nabi Isa akan turun ke bumi menjadi umat Muhammad walaupun tetap tidak hilang kenabiannya untuk Bani Israil. Dia akan datang menjadi teman, saudara, guru, qadli, bahkan jimat kita untuk membunuh Dajjal, serta menemani dan membimbing Imam Mahdi.

Nabi Isa bisa kita jadikan tawasul dan bisa kita kirim Surah al-Fatihah sekarang. Kita juga bertawasul kepada nabi Khidlir, nabi Ilyas, dan para terlebih kepada Rasulullah ShallaLlahu ‘alaihi wa Sallama. Kalau kita meminta bimbingan dan penjagaan kepada mereka, meminta kepada Allah lewat mereka, meminta mereka berdoa untuk kita, pasti Allah akan membimbing kita. Tidak ada jalan lain selain tadlarru’ ilaLlah dan tawasul dengan para nabi. Kita menghormati nabi Isa yang telah dilecehkan karena dijadikan anak tuhan atau bahkan tuhan. Ini adalah pelecehan yang sangat luar biasa dan dikutuk oleh nabi Isa sndiri dalam surat QS. al-Maidah: 116-117:

وَإِذْ قَالَ اللَّهُ يَا عِيسَى ابْنَ مَرْيَمَ أَأَنْتَ قُلْتَ لِلنَّاسِ اتَّخِذُونِي وَأُمِّيَ إِلَهَيْنِ مِنْ دُونِ اللَّهِ قَالَ سُبْحَانَكَ مَا يَكُونُ لِي أَنْ أَقُولَ مَا لَيْسَ لِي بِحَقٍّ إِنْ كُنْتُ قُلْتُهُ فَقَدْ عَلِمْتَهُ تَعْلَمُ مَا فِي نَفْسِي وَلَا أَعْلَمُ مَا فِي نَفْسِكَ إِنَّكَ أَنْتَ عَلَّامُ الْغُيُوبِ (116) مَا قُلْتُ لَهُمْ إِلَّا مَا أَمَرْتَنِي بِهِ أَنِ اعْبُدُوا اللَّهَ رَبِّي وَرَبَّكُمْ وَكُنْتُ عَلَيْهِمْ شَهِيدًا مَا دُمْتُ فِيهِمْ فَلَمَّا تَوَفَّيْتَنِي كُنْتَ أَنْتَ الرَّقِيبَ عَلَيْهِمْ وَأَنْتَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ شَهِيدٌ (117) [المائدة : 116 ، 117]

“Dan (Ingatlah) ketika Allah berfirman: “Hai Isa putera Maryam, Adakah kamu mengatakan kepada manusia: “Jadikanlah Aku dan ibuku dua orang Tuhan selain Allah?” Isa menjawab: “Maha Suci Engkau, tidaklah patut bagiku mengatakan apa yang bukan hakku (mengatakannya). Jika Aku pernah mengatakan Maka tentulah Engkau mengetahui apa yang ada pada diriku dan Aku tidak mengetahui apa yang ada pada diri Engkau. Sesungguhnya Engkau Maha mengetahui perkara yang ghaib-ghaib.” (116) Aku tidak pernah mengatakan kepada mereka kecuali apa yang Engkau perintahkan kepadaku (mengatakan)nya yaitu: “Sembahlah Allah, Tuhanku dan Tuhanmu”, dan adalah Aku menjadi saksi terhadap mereka, selama Aku berada di antara mereka. Maka setelah Engkau wafatkan aku, Engkau-lah yang Mengawasi mereka. dan Engkau adalah Maha menyaksikan atas segala sesuatu. (117)” (QS. Al-Maidah: 116-117)

Cukup sekian dari saya, semoga bermanfaat. Mari kita takut kepada Allah Ta’ala, kita takut kepada kemurkaan Allah dengan adanya LGBT dan pemasaran umat Islam untuk natalan. Kalau umat Islam natalan ramai-ramai dengan kafir, akhirnya seolah kita jadi abdi mereka. Padahal mereka sudah sangat untung ketika Idul Fitri dengan harga barang melonjak. Mereka sudah untung dengan ini. Sedangkan kalau kita natalan maka kita rugi akhirat, rugi agama, bahkan duniawi saja kita tidak bisa menikmati. Tapi kalau pada Idul Fitri harga barang melonjak maka yang untung materi banyak adalah non-Muslim. Inilah kerugian dan kesalahan kita.

Marilah kita prihatin, semoga apa yg diberikan Allah apalagi ilmu semoga diberkahi tanpa harus rame-ramenan dan ngetren-ngetrenan dengan orang kafir. Dalam hadits disebutkan:

سَتَتَّبِعُونَ سَنَنَ مَنْ قَبْلَكُمْ بَاعًا بِبَاعٍ ، وَذِرَاعًا بِذِرَاعٍ ، وَشِبْرًا بِشِبْرٍ حَتَّى لَوْ دَخَلُوا جُحْرَ ضَبٍّ لَدَخَلْتُمْ مَعَهُمْ قُلْنَا : يَا رَسُولَ اللهِ ، الْيَهُودَ ، وَالنَّصَارَى ؟ قَالَ : فَمَنْ.

Dalam riwayat lain disebutkan:

كَالْفَارِسِ وَالرُّوْمِ.

Kamu akan mengikuti orang-orang yang beragama Yahudi dan Nasrani dalam masalah agama, serta akan mengikuti gaya-gaya kepemimpinan Persia dan Romawi, artinya Barat dan Timur. Kita umat Islam harus mandiri dan harus ikut kepemimpinan Rasulullah ShallaLlahu ‘alaihi wa Sallama dan Khulafaur Rasyidin. Walau sekarang kita belum punya pemimpin seperti itu, kita mengharapkan dan berdoa kepada Allah. Masalah agama kita tetap punya agama yang lebih agung yang dibawa oleh Nabi Muhammad ini. Semua nabi akan berada di bawah bendera nabi Muhammad. 

Nabi Muhammad ShallaLlahu ‘alaihi wa Sallama mempunyai syafaat di Hari Kiamat, dan semua nabi akan ikut nabi kita. Tidak akan masuk surga kecuali setelah Nabi Muhammad masuk surga. Inilah hubungan erat antara Rasululah dan Nabi Isa, sangat erat sekali. Hati Nabi Isa sangat kumanthil dengan kabar Injil akan seorang mubasyir yang bernama Ahmad. Di injil yang asli di Vatikan berita ini masih ada, kalau Injil yang di gereja-gereja tidak ada. 

Cukup sekian. Semoga kita jauh dari syirik, bid’ah, provokasi, dan jauh dari antek Zionis dan Salibis.” (*)

“Pengantar Menelaah kitab Mafahim” Karya Syaikhina M. Najih Maimoen Versi Arab-Indo 

Islam merupakan agama yang senantiasa mampu mengarahkan perkembangan zaman serta mampu menjawab berbagai macam problematikanya, dari waktu ke waktu akan selalu lahir ulama yang saling berkesinambungan dari berbagai penjuru sehingga setiap kali muncul pihak-pihak yang mengupayakan penyesatan terhadap pemahaman agama yang hanif ini (baik pihak tersebut dari internal Islam yang sudah mengalami brainwash ataupun dari musuh islam) Allah SWT akan mendatangkan golongan orang-orang yang siap berjuang di jalan Allah SWT tanpa peduli banyaknya kecaman atau cercaaan, mereka mengemban tugas mulia untuk melindungi dan mengembalikan pemahaman sebagai mana mestinya. Guru kami Sayyid Muhammad Alawi Al-Maliki merupakan salah satu dari golongan yang membentengi alur pemikiran islam melalui karangan-karangannya, salah satunya ialah kitab ”Mafahim Yajibu Antushohah.” Kitab ini merupakan karya besar beliau yang  dinilai sangat fenomenal karena mengkaji permasalahan-permasalahan substansial yang seringkali tidak diketahui oleh umat islam sehingga menjadi celah bagi musuh islam untuk melakukan penyesatan. Dalam kitab ini beliau menyanggah pihak-pihak yang berseberangan dengan beliau  melalui argumen yang ilmiyah, tegas serta sistematis.

Dan Alhamdulillah, atas anugerah Allah beberapa waktu lalu kami telah menyelesaikan karya kami yang kami beri nama:

“جل المواقف وكلمات الإمام السيد محمد علوي المالكي المسطورة في غير كتابه المفاهيم حول القضايا المهمة معرفتها”

Kitab ini sengaja kami dedikasikan untuk guru tercinta kami Sayyid Muhammad Alawi Al-Maliki rahimahullahu ta’ala. Sebenarnya kami tidak berani lancang untuk membedah keterangan-keterangan serta pandangan-pandangan beliau yang tertuang pada kitab Mafahim yang sudah sangat terkenal dan tersohor. Namun karena banyaknya permintaan dari para santri Madrasah Mafahim serta adanya mandat dari kantor Hai’ah Assofwah Al-Malikiyah kami sedikit menulis seputar isi dari kitab Mafahim yang luar biasa ini. Isi dari kitab Mafahim merupakan intisari dari pemikiran guru kami Sayyid Muhammad Alawi Al-Maliki yakni konklusi dari hasil diskusi beliau dengan para ulama besar Arab Saudi tepatnya di kota Thaif pada akhir dekade 70 sampai awal dekade 80 M. Namun Alasan inilah yang memotivasi kami untuk kemudian menulis risalah ini dan kami menamainya dengan nama:

“المدخل الى دراسة مفاهيم يجب أن تصحح”

sebagai jawaban atas permintaan dari Forum Alumnus Abuya Sayyid Alawi Al-Maliki. Hal ini kami angggap sebagai perintah langsung dari beliau. Semoga Allah SWT menjadikan risalah ini sebagai risalah yang bermanfaat dan bisa menjadi rujukan generasi Ahlussunah Wal Jamaah pada khususnya, serta bermanfaat bagi ummat islam secara menyeluruh dengan barokah kedudukan Rasulullah Alaihi Shalatu Wassalam yang agung dan keluarga beserta shahabat-shahabatnya di sisi Allah SWT, Alhamdulillahirobbil Alamin.
** KH. M. Najih Maimoen.

Cara Nabi Muhammad SAW Mengajar dan Berdakwah

Dalam mengajar dan berdakwah, Nabi Muhammad SAW selalu mengikuti cara yang telah digariskan Allah SWT dalam al-Qur’an: 

ادْعُ إِلَى سَبِيلِ رَبِّكَ بِالْحِكْمَةِ وَالْمَوْعِظَةِ الْحَسَنَةِ وَجَادِلْهُمْ بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ إِنَّ رَبَّكَ هُوَ أَعْلَمُ بِمَنْ ضَلَّ عَنْ سَبِيلِهِ وَهُوَ أَعْلَمُ بِالْمُهْتَدِينَ 

Artinya: ”Ajaklah manusia ke jalan Allah dengan hikmah dan penerangan yang baik. Dan bantahlah mereka dengan cara yang baik pula. Sesungguhnya tuhanmu, Dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya. Dan Dialah yang lebih mengetahui orang yang mendapat petunjuk.”(QS. An-Nahl:125)

Ayat diatas merupakan gambaran lengkap tentang cara menyampaikan ajaran Allah SWT kepada manusia yang berbeda-beda sifat, tabiat dan pembawaannya. Ada manusia yang gandrung mencari kebenaran, ada juga golongan awam, dan adapula yang apriori dan menolak. Maka, untuk menghadapi kelompok-kelompok yang beraneka ragam itu perlu diterapkan cara yang sesuai dan tepat. Karena itu, Rasulullah SAW dalam menyampaikan sesuatu selalu menilai lebih dahulu tingkat kecerdasan dan daya tangkap masing-masing orang. Sebelum berbicara, beliau selalu melihat apa dan siapa yang dihadapi. Kepada setiap kelompok atau golongan, beliau menggunakan tutur kata yang dapat dimengerti dan dipahami dengan sebaik-baiknya, apalagi didukung  kepribadian beliau yang sangat berwibawa. Sehingga, segala ucapannya selalu berkenan dihati dan didengarkan dengan penuh minat.

Al-Qadli ‘Iyadl berkata: “Allah SWT telah menyelubungi segala yang diucapkan Nabi Muhammad SAW dengan rasa cinta dan mudah diterima, indah dan sedap didengar telinga. Oleh karena itu kata-kata beliau tidak selalu diulang-ulang hingga  berkali-kali. Sebab tidak ada sepatah kata pun yang tergelincir dan tidak pernah kekurangan argumentasi yang diperlukan.”

Bila kita melihat kenyataan itu, maka ayat tersebut diatas menjadi pegangan Nabi Muhammad SAW di dalam menyampaikan ajarannya. Dan pada hakikatnya telah ditentukan garis dan tata cara menghadapi tiga golongan yang ada dalam masyarakat disetiap waktu dan tempat.

Golongan pertama: ialah kelompok khusus. Dalam menyampaikan dakwah kepada mereka, perlu dilakukan dengan cara hikmah dan rasional. Yakni setiap keterangan hendaknya disertai dengan dalil dan argumentasi yang meyakinkan. Karena golongan ini tidak akan puas  dan mudah menerima, kecuali disertai dengan keterangan yang berdasarkan alasan kuat dan mantap, yang akhirnya membuat mereka bisa menerima dan mengikuti jalan yang haq dan benar.

Golongan kedua; ialah masyarakat awam atau rakyat biasa. Mereka cukup diberi keterangan dan tuntunan dengan uraian dan keterangan yang baik dan mengesankan. Dan untuk meyakinkan bahwa apa yang disampaikan dan diberikan kepada mereka itu semata-mata untuk kebaikan dan keuntungan mereka. Kalimat yang terlalu tinggi dan argumentasi yang mendetail tidak diperlukan lagi bagi kelompok ini. Karena biasanya mereka tidak banyak cingcong dan tidak ada hal-hal sulit yang dipersoalkan.

Golongan ketiga: ialah golongan yang menentang dan ngotot dalam menerima kebenaran, betapa pun jelas dan gamblangnya. Golongan yang satu ini harus dihadapi dengan sikap yang lunak, lemah lembut, dan bijaksana guna menenangkan gejolak hati yang dirangsang emosi, kalau-kalau mereka insyaf dan kembali ke jalan Allah SWT.

#KH. M. NAJIH MAIMOEN

PENJELASAN SYAIKH MUHAMMAD NAJIH TERHADAP NAZHAM JAUHARAH AL-TAUHID KARYA SYAIKH IBRAHIM AL-LAQQANI

 Syaikhina KH. M. Najih Maimoen Dawuh;
على نبي جاء بالتوحيد # وقد عرى الدين عن التوحيد
Sebelum Rasulullah ShallaLlahu ‘alaihi wa Sallama datang membawa tauhid, dunia atau agama-agama di dunia ini sepi dari tauhid. Artinya sudah cacat tauhidnya apalagi Musyrik, Yahudi, dan Nasrani. Saya sering sampaikan bahwa cacatnya teologi Nasrani adalah karena mereka punya itikad trinitas. Sedangkan kecacatan teologi Yahudi adalah karena tidak beriman kepada nabi-nabi selain nabi Musa. Keimanan mereka kepada nabi Daud pun hanya setengah-setengah saja karena beliau memiliki pangkat sebagai raja. Nabi Sulaiman dipercayai orang Yahudi tapi bukan karena perannya sebagai nabi, tapi lebih karena kerajaaannya. Bahkan Yahudi mengatakan nabi Sulaiman bisa menjadi raja lewat sihir seperti dalam Firman Allah Ta’ala:

وَاتَّبَعُوا مَا تَتْلُو الشَّيَاطِينُ عَلَى مُلْكِ سُلَيْمَانَ وَمَا كَفَرَ سُلَيْمَانُ وَلَكِنَّ الشَّيَاطِينَ كَفَرُوا يُعَلِّمُونَ النَّاسَ السِّحْرَ  [البقرة : 102]

“Dan mereka mengikuti apa yang dibaca oleh syaitan-syaitan pada masa kerajaan Sulaiman (dan mereka mengatakan bahwa Sulaiman itu mengerjakan sihir), padahal Sulaiman tidak kafir (tidak mengerjakan sihir). Hanya syaitan-syaitan lah yang kafir (mengerjakan sihir).” (QS. Al-Baqarah: 102)

Dalam berbagai literatur Asy’ariyah, Yahudi dikategorikan sebagai mujassimah yang mengatakan Allah itu jisim. Sedangkan menurut Nasrani Allah merupakan sebuah jauhar, yang implikasinya apabila jauhar maka berarti butuh hayyiz (tempat). Jisim itu selain butuh hayyiz juga butuh ajza’, dan hal ini menurut konsekuensi akidah Asya’irah adalah kufur.

فأرشد الخلق بدين الحق # بسيفه وهديه للحق

Bait ini sudah mencakup akidah bahwa Rasulullah ShallaLlahu ‘alaihi wa Sallama datang menyebarkan agama ini menggunakan dua cara yaitu metode dakwah atau ta’lim (hadyihi li al-Haqq), seperti keterangan Firman Allah Ta’ala:

كَمَا أَرْسَلْنَا فِيكُمْ رَسُولًا مِنْكُمْ يَتْلُو عَلَيْكُمْ آيَاتِنَا وَيُزَكِّيكُمْ وَيُعَلِّمُكُمُ الْكِتَابَ وَالْحِكْمَةَ وَيُعَلِّمُكُمْ مَا لَمْ تَكُونُوا تَعْلَمُونَ [البقرة : 151]

“Sebagaimana (Kami telah menyempurnakan nikmat kami kepadamu), kami telah mengutus kepadamu rasul diantara kamu yang membacakan ayat-ayat Kami kepadamu, mensucikanmu, dan mengajarkan kepadamu Al-Kitab dan Al-Hikmah, serta mengajarkan kepada kamu apa yang belum kamu ketahui.” (QS. Al-Baqarah: 150)

Serta dengan metode saif atau jihad fi sabiliLlah. Namu Rasulullah melakukan jihad setelah memiliki negara di Madinah dan tidak melakukannya ketika masih di Makkah. Karena itu, kelompok-kelompok radikal telah bertindak ngawur dengan mengadakan jihad namun belum punya kekuasaan, padahal mereka hanya seperti kelompok preman atau ishabah (kelompok-kelompok kecil) saja.

محمد العاقب لرسل ربه # وآله وصحبه وحزبه

Bait ini mencakup akidah bahwa Muhammad adalah nabi akhir zaman. Yang mengingkari hal ini jelas kufur, seperti orang-orang Ahmadiyah pengikut Mirza Ghulam Ahmad.

وكل من كلف شرعا وجبا # عليه أن يعرف ما قد وجبا

لله والجائز والممتنعا # ومثل ذا لرسله فاستمعا

Semua kitab-kitab tauhid Asya’irah dimulai dengan pernyataan ini, bahwa seorang Muslim harus tahu tentang al-ahkam al-‘aqliyah (hukum-hukum akal). Pakar-pakar tauhid membuat istilah ini untuk mengamankan akidah umat Islam dari tasybih (penyerupaan Allah dengan makhluk) dan tajsim (pemahaman Allah adalah jisim). Orang yang memiliki dua persepsi tersebut tidak tahu mana yang wajib, mustahil, atau jaiz  secara akal bagi Allah Ta’ala sampai berani tasybih maupun tajsim.

Secara pribadi mengamankan akidah seperti ini wajib, tapi jangan sampai kita gampang mengkafirkan orang. Kalau Yahudi Nasrani kita kafirkan maklum karena mereka tidak masuk Islam. Akan tetapi musyabbihah-mujassimah dari umat Muhammad ShallaLlahu ‘alaihi wa Sallama menurut kami tidak segampang itu dikafirkan.

Seingat saya di kita al-Raudhah karangan Imam al-Nawawi ada khilaf antar ulama Syafi’iyah apakah musyabbihah itu kafir atau tidak. Sebagian ulama berpendapat musyabbihah adalah kafir secara mutlak. Sebagian ulama lain berpendapat musyabbihah yang meyakini Allah adalah jism la ka al-ajsam (jisim yang tidak seperti jisim-jisim makhluk) maka tidak kafir, tapi yang meyakini jisim Allah seperti jisim manusia maka divonis kafir.

Namun bagaimanapun, tasybih adalah kesesatan yang harus diwaspadai. Adapun masalah kekufuran orangnya belum bisa kita tetapkan secara langsung karena harus melihat situasi dan kondisi di sekitar orang itu. WaLlahu A’lam.

Sama halnya dengan Syi’ah. Syi’ah itu sesat, tapi apakah mereka kafir? Hal ini masih belum jelas, apalagi Syi’ah Zaidiyah. Adapun Syi’ah Houtsi sekarang kok bisa sekeras itu mungkin karena disuplai oleh Iran. Syi’ah Itsna Asyariah yang benar-benar berakidah  bada’ dan meyakini Sayyidah Aisyah selingkuh, mari kita katakan kufur. Kalau hanya ikut-ikutan atau cari uang saja maka cukup kita katakan fasik, kecuali kalau orang tersebut getol mendakwahkan ajarannya dan semangat serta fanatik kepada akidah-akidah kufurnya. Akidah Syiah Iran itu banyak kufurnya, akan tetapi para pengikutnya kami keberatan dikatakan kafir kecuali apabila sudah tahu kesalahan ajarannya namun masih fanatik dengannya.

إذ كل من قلد في التوحيد # إيمانه لم يخل من ترديد

Seorang mukallaf wajib mengetahi mana hal yang wajib, jaiz, dan mustahil secara hukum akal. Hal ini karena orang yang imannya hanya taklid atau ikut-ikutan imannya mudah digoyah. Contohnya, kalau orang tidak tahu Allah itu bukan jisim, maka dia bisa mengikuti makna zahir beberapa ayat Al-Quran-Hadits yang terlihat menunjukkan tajsim lalu menetapkan tasybih dan tajsim kepada Allah. Akhirnya dia menjadi sesat atau mengikuti cara pandang Yahudi dan Nasrani.

ففيه بعض القوم يحكي الخلفا # وبعضهم حقق فيه الكشفا

Orang yang berislam secara taklid atau ikut-ikutan hukumnya khilaf. Orang yang beriman namun bukan lewat mengaji dalil-dalil keimanan itu ulama kita khilaf dalam menghukuminya.

وقال إن يجزم بقول الغير # كفى وإلا لم يزل في الضير

Ada sebagian ulama mengatakan bahwa apabila orang yang taklid tersebut yakin akan keimanannya maka sah imannya. Keterangan ini merupakan pendapat para ahli tahqiq (muhaqqiqun) dari kalangan Ahlussunnah yang diambil dari pendapat Tajuddin al-Subki. Ini adalah pendapat yang rajih (unggul). Alasan kaum Ahlussunnah menerima ini adalah Firman Allah Ta’ala:

وَلَا تَقُولُوا لِمَنْ أَلْقَى إِلَيْكُمُ السَّلَامَ لَسْتَ مُؤْمِنًا تَبْتَغُونَ عَرَضَ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا فَعِنْدَ اللَّهِ مَغَانِمُ كَثِيرَةٌ كَذَلِكَ كُنْتُمْ مِنْ قَبْلُ فَمَنَّ اللَّهُ عَلَيْكُمْ فَتَبَيَّنُوا إِنَّ اللَّهَ كَانَ بِمَا تَعْمَلُونَ خَبِيرًا [النساء : 94]

“Janganlah kamu mengatakan kepada orang yang mengucapkan “salam” kepadamu: “Kamu bukan seorang mukmin” (lalu kamu membunuhnya), dengan maksud mencari harta benda kehidupan di dunia, karena di sisi Allah ada harta yang banyak. Begitu jugalah keadaan kamu dahulu, lalu Allah menganugerahkan nikmat-Nya atas kamu. Maka telitilah. Sesungguhnya Allah Maha mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (QS. Al-Nisa’: 94)

Dan sabda Rasulullah ShallaLlahu ‘alaihi wa Sallama:

من صلى صلاتنا واستقبل قبلتنا وأكل ذبيحتنا فذلك المسلم الذي له ذمة الله وذمة رسوله (رواه البخاري)

“Barangsiapa shalat seperti shalat kita, menghadap kiblat kita, dan memakan hewan sembelihan kita, maka dia adalah Muslim yang berada dalam tanggungan Allah dan rasul-Nya.” (HR. Bukhari)

Dalil ini ditolak oleh Muktazilah dengan mengatakan bahwa hadits diatas hanya untuk urusan hukum-hukum duniawi saja. Lalu ulama Ahlussunnah menjawab bahwa tidak ada pilah-pilah dalil dalam hal ini sehingga pengkhususan Muktazilah diatas menjadi keliru.

Pada awalnya ulama Ahlussunnah mengatakan bahwa keimanan muqallid adalah sah secara mutlak. Ini menurut Ahlussunnah kurun awal (mutaqaddimin). Namun dalam perjalanan pendapat ini lalu dikritik oleh Muktazilah dengan mengatakan tidak sah secara mutlak. Akhirnya ulama Ahlussunnah kurun akhir (mutaakhirin) melakukan tafsil seperti keterangan diatas.

واجزم بأن أولا ممن يجب # معرفة …

Menurut ahli Kalam Ahlussunnah kewajiban pertama kali seorang manusia adalah mengetahui wujudnya Allah. Jadi, dalam masalah hukum jelas yang wajib pertama kali adalah membaca syahadain. Tapi apakah membaca syahadain segampang itu tanpa didasari dengan pembuktian (istidlal) dan perenungan (nazhar) terlebih dahulu? Maka ulama ahli kalam mengatakan manusia wajib nazhar. Orang Arab kuno zaman dulu masih banyak sisa-sisa agama Ibrahim, artinya seumpama mereka tidak nazhar tetap masih mungkin mendengar sisa-sisa ajaran tauhid Nabi Ibrahim ‘alaihi al-salam. Mereka bisa tahu bahwa nabi Ibrahim tidak menyembah berhala. Semua ini bisa dilacak dari sisa-sisa peninggalan tersebut. Tapi kita sebagai orang non-Arab (‘Ajam) jauh sekali dari tauhid Islam, sehingga cocok kebijakan ulama ahli kalam bahwa manusia wajib mengetahui Allah Ta’ala melalui nazhar.

… وفيه خلق منتصب

Ihwal kewajiban nazhar ini para ulama khilaf. Abu Ishaq al-Isfirayini mengatakan yang wajib adalah nazhar secara mutlak. Abu Bakr al-Baqillani mengatakan yang wajib adalah awal nazhar. Imam Haramain mengatakan yang wajib adalah niat untuk nazhar. Sebagian ulama lain mengatakan yang wajib adalah taklid, sebagian lain mengatakan yang wajib adalah membaca syahadatain.

Yang aneh, tokoh Muktazilah Abu Hasyim al-Jubai mengatakan bahwa yang pertama kali wajib adalah ragu (syakk). Ini yang terjadi di UIN-UIN di Indonesia. Para akademisinya disuruh untuk ragu terlebih dahulu. Ini yang repot. Belum bisa berislam secara kaffah tapi malah kafir terus-menerus. Akan tetapi, kalau kita mau ber-husnuzzhan mungkin maksud pernyataan syakk dari al-Jubai tadi adalah nazhar.

فانظر إلى نفسك ثم انتقل # للعالم العلوي ثم السفلي

Cara seseorang melakukan nazhar adalah merenungkan bagaimana dirinya sendiri diciptakan. Allah Ta’ala berfirman:

وَفِي الْأَرْضِ آيَاتٌ لِلْمُوقِنِينَ (20) وَفِي أَنْفُسِكُمْ أَفَلَا تُبْصِرُونَ [الذاريات : 20 ، 21]

“Dan di bumi itu terdapat tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi orang-orang yang yakin. (20) Dan (juga) pada dirimu sendiri. Maka apakah kamu tidak memperhatikan? (21)” (QS. Al-Dzariyat: 20-21)

Di bumi ada begitu banyak tumbuhan ijo royo-royo yang dapat dipanen untuk kebutuhan manusia, lalu pada musim kemarau tumbuhan-tumbuhan tersebut pun mulai mengering. Namun pada musim hujan akhirnya bisa tumbuh lagi. Berarti ada yang Dzat yang memberi dan mengekang hujan, dan tidak ada satupun yang mampu kecuali Allah.

Diri kita juga begitu. Asalnya tidak ada menjadi ada, kecil menjadi besar, lalu menjadi tua seperti kembali menjadi anak kecil lagi. Berarti ada Dzat yang menciptakan semua itu. Manusia tercipta dari jisim, ruh, dan a’rad (sifat). Siapa yg bisa menyusun itu? Berarti ada pencipta. Tidak mungkin orang tua kita membuat kita sendiri.

Lalu ada langit yang memiliki bintang-bintang dan tidak bertabrakan satu sama lain. Alam semesta ini semuanya berbicara bahwa Allah adalah Sang Pencipta. Lalu kita melihat bumi. Ada udara, mendung, bumi, air, laut, tambang, hewan, tumbuhan, ada yang murakkab dan ada yang tidak. Ini semua mesti Allah yang mengatur.

Kita harus menjauh dari ocehan filosof yang merupakan dasar dari ilmu umum bahwa langit dan bumi itu qadim (tidak ada permulaan). Falasifah itu ada dua, yaitu filosof Yunani (hukama) yang mengatakan alam itu qadim fi al-dzat, dan filosof Muslimin (Ibn Sina, al-Farabi, Ibn Hayyan) yang mengatakan alam itu qadim fi al-zaman. Kepercayaan filosof dari kalangan Muslimin ini juga berbahaya karena mendekati filosof Yunani. Bahkan kepercayaannya itu sudah dikafirkan oleh Imam al-Ghazali. Mengatakan alam qadim fi al-zaman itu sudah kafir, bahwa langit tidak ada yang mendahului. Ajaran filosof Muslimin ini malah akhirnya didukung oleh Ibn Taimiyyah ketika membahas pernyataan:

كان الله ولم يكن شيء غيره، وكان الله ولم يكن معه شيء غيره.

Ibn Taimiyyah dalam hal ini mentarjih pendapat yang kedua. Berarti menurut beliau alam bisa qadim fi al-zaman.

تجد به صنعا بديع الحكم # لكن به قام دليل العدم

Langit bumi seisinya meskipun begitu indah, namun di dalamnya terdapat dalil ketiadaan. Karena alam semesta ini berasal dari ketiadaaan dan bisa kembali kepada ketiadaan, maka dengan begitu alam ini hadits (baru), dan setiap hal yang baru pasti ada yang menciptakannya. Sedangkan Allah Ta’ala berbeda dengan ciptaan-Nya, tidak ada permulaan dan tidak ada akhir bagi-Nya.

وكل ما جاز عليه العدم # عليه قطعا يستحيل القدم

Segala hal yang bisa tiada mustahil qadim. Karena itu apabila ahli filsafat dari kaum Muslimin mengatakan alam ini qadim fi al-zaman, maka ini bahaya sekali. Imam al-Ghazali pun mengkafirkan konsep tersebut, alhamduliLlah. Ngono ae masih dibela oleh Ibn Taimiyyah karena iri dengan pamor Imam al-Ghazali, naudzu biLlahi min dzalik. Al-Ghazali anti filsafat malah disalahkan oleh beliau. Katanya Ibn Taimiyyah anti bid’ah, namun ternyata malah membela bid’ah yang divonis al-Ghazali kufur saking bencinya dengan al-Ghazali.

وفسر الإيمان بالتصديق # …

Iman menurut ahli kalam dimulai dari Abu Hanifah adalah:

تصديق جازم بما جاء به رسول الله ﷺ

“Membenarkan secara tegas ajaran yang dibawa Rasulullah ShallaLlahu ‘alaihi wa Sallama.”

Ini adalah pendapat mayoritas ulama Asya’irah dan Maturidiyah. Sedangkan menurut Muktazilah dan Khawarij, yang dimaksud iman adalah:

تصديق ونطق وسائر الطاعات والأعمال الصالحات وترك المعاصي

“Membenarkan, mengucapkan syahadatain, melakukan ketaatan-ketaatan yang lain dan amal-amal shalih, dan meninggalkan maksiat.”

Menurut kita kaum Ahlussunnah, konsep Muktazilah dan Khawarij diatas adalah konsep iman yang sempurna, bukan hakikat iman itu sendiri. Dalil kita adalah sabda Rasulullah ShallaLlahu ‘alaihi wa Sallama ketika ditanya oleh malaikat Jibril ‘alaihi al-salam:

فقال: ما الإيمان ؟ قال: ( أن تؤمن بالله وملائكته وبلقائه ورسله وتؤمن بالعبث )

“Jibril bertanya: “Apa itu iman?” Rasulullah ShallaLlahu ‘alaihi wa Sallama menjawab, “Iman adalah percaya adanya Allah, percaya adanya malaikat, percaya akan bertemu Allah, percaya dengan utusan Allah, dan percaya dengan kebangkitan manusia di Hari Kiamat.” (HR. Bukhari)

Redaksi yang dipakai dalam hadits diatas bermakna tashdiq (membenarkan).

Yang jadi masalah adalah menurut ulama salaf iman adalah i’tiqad bi al-qalb wa nuthq bi al-lisan wa ‘amal bi al-arkan (membenarkan dengan hati, mengucapkan dengan lisan, dan mengamalkan dengan badan). Sedangkan Murji’ah mengatakan iman adalah i’tiqad dan nuthq saja. Karramiyah mengatakan iman adalah nuthq saja.

Hanya saja, perbedaan Muktazilah dan ulama salaf dalam konsep iman adalah bahwa menurut salaf amal merupakan syarat sempurnanya iman. Iman itu menurut salaf: kumpulan tiga perkara: membenarkan, mengucapkan syahadat, dan mengamalkan ajaran Islam seperti shalat, puasa, dan zakat. Akan tetapi pengamalan ini merupakan syarat kesempurnaan iman. Berbeda dengan Muktazilah mengatakan orang Islam yang tidak mau shalat, zakat, dan puasa dihukumi kafir dan keluar dari keimanan. Orang yang mau shalat namun berzina menurut Muktazilah berada di manzilah baina manzilatain (tidak beriman, juga tidak kafir). Inilah perbedaan paling mendasar antara akidah Ahlussunnah dan Muktazilah dalam hal ini.

… والنطق فيه الخلف بالتحقيق

فقيل شرط كالعمل وقيل بل # شطر …

Tentang nuthq (mengucapkan dua syahadat) sebagian ulama mengatakan termasuk syarat iman, yakni syarat untuk memberlakukan hukum Islam kepadanya seperti halnya amal kecuali ditemukan tanda-tanda orang tersebut melakukan amal-amal kufur seperti sujud kepada berhala. Sebagian ulama lain mengatakan membaca syahadat adalah syathr (bagian) dari keimanan atau dengan kata lain syarat sahnya iman.

Sekarang bagaimana menghukumi perkataan kufur? Apakah orang yang mengucapkannya bisa langsung divonis kafir? Kalau yang saya tahu, kita tidak boleh gegabah memvonis kufur seseorang. Statementnya kita kufurkan, namun status orangnya kita tangguhkan. Kalau ada hakim Islam laporkan saja orang seperti itu biar dia yang menghukumi.

… والإسلام اشرحن بالعمل

مثال هذه الحج والصلاة # كذا الصيام فادر والزكاة

Islam itu harus diaktualisasikan dengan amal. Adapun seperti membaca syahadain menurut saya juga bagian dari Islam tapi menjadi syarat sahnya keimanan atau berlakunya hukum Islam.

ورجحت زيادة الإيمان # بما تزيد طاعة الإنسان

ونقصه بنقصها وقيل لا # وقيل لا خلف كما قد نقلا

Sekarang meskipun iman ditafsiri ulama salaf sebagai tashdiq (pembenaran), namun ulama ahli kalam mengunggulkan pendapat bahwa iman bisa bertambah dan berkurang. Hanya perbedaan definisi saja yang terjadi, namun ulama sepakat iman bisa bertambah dan berkurang. Bertambah dengan menjalankan ketaatan dan berkurang karena melakukan maksiat. Disini maka ketemu antara ulama salaf dan ulama khalaf (ahli kalam).

Sebagian ulama lain mengatakan iman tidak bisa bertambah atau berkurang, namun pendapat ini cenderung terlalu fanatik dengan kata-kata tashdiq. Seingat saya Abu Hanifah yang berpendapat demikian. Ada yang menganggap beliau Ahlussunnah dan ada yang menganggap beliau tidak Ahlussunnah gara-gara statement beliau ini.

Sebagian ulama mencari jalan tengah bahwa sebenarnya tidak ada khilaf antara dua pandangan diatas, ini menurut al-Razi dan Imam Haramain. Perbedaan yang ada hanya secara lafzhiy. Menurut pendapat ketiga ini, iman tidak bisa bertambah atau berkurang jika dipandang dari kesempurnaan iman yang dapat tercapai dengan amal. Yang bertambah atau berkurang adalah amalnya. Sedangkan yang tidak dapat bertambah ataupun berkurang adalah hakikat iman itu sendiri. Pembenaran dari hati tidak bertambah maupun berkurang. Ini pendapat yang moderat atau tengah-tengah.

Kalau kami sendiri terus terang lebih cocok mengikuti ulama salaf tapi bukan berarti ikut kaum salafi. Artinya kami berpandangan bahwa iman adalah membenarkan dengan hati, mengucapkan dengan lisan, dan mengamalkan dengan badan. Akan tetapi, pengamalan Islam dengan badan adalah syarat kesempurnaan iman, bukan syarat sahnya iman. WaLlahu A’lam. Kalau kita bilang tidak shalat berarti tidak punya iman, wah repot nanti bisa jadi Khawarij. Kita tetap salaf namun diberi penafsiran yang tidak radikal biar tidak menjadi Khawarij dan Wahabi.

وواجب له الوجود والقدم # كذا بقاء لا يشاب بالعدم

Allah wajib wujud secara akal (al-wujud al-wajib), yakni tidak mungkin ketiadaannya. Wujud Allah dengan wujud kita berbeda. Wujud kita dapat menerima ketiadaan dan wujud kita muncul setelah ketiadaan. Sedangkan wujud Allah tidak berasal dari ketiadaan dan tidak kembali kepada ketiadaan. 

Sifat qidam (tidak bermula) menurut saya adalah tafsir dari wujud itu sendiri. Mestinya yang lebih tepat diringkas dalam sifat wujud saja. Wujud Allah juga bersifat baqa’ (tidak berakhir).

وأنه لما ينال العدم # مخالف برهان هذا القدم

Sifat Allah ketiga adalah Allah berbeda dengan segala hal yang bisa menerima ketiadaan yaitu hawadits (makhluk). Bukti sifat ini adalah sifat qidam.

Sekarang apa dalil Allah bersifat qidam? Dalam Syarh Hidayah al-Murid karangan Mbah Abul Fadhol Senori diterangkan bahwa qidam ada dua yaitu qidam dzatiy dan qidam zamaniy. Qidam dzatiy adalah wujud Allah, sehingga qidam dzatiy menjadi sifat nafsiyah. Konsekuensi wujud Allah wajib adalah mesti qadim dan baqi.

Jika demikian, lalu mengapa sifat qidam dan baqa’ disebut lagi oleh ulama ahli kalam, padahal kata-kata wujud sudah mencakup keduanya? Dijawab bahwa ulama tauhid tidak mencukupkan dengan dalalah iltizam (makna kelaziman). Pada dasarnya mengakui qidam dan baqa’ adalah tafsiran dari wujud, namun kemudian ahli kalam berkata bahwa kedua sifat ini adalah sifat salbiyah sedangkan wujud adalah sifat nafsiyah, yaitu sifat yang menunjukkan hakikat (esensi) dari dzat.

Allah itu wujud, tidak ada tambahan jisim atau bukan jisim. Adapun ahli kalam berbicara Allah mustahil berupa jisim karena adanya konsep mukhalafah li al-hawadits bagi Allah. Wujud adalah hakikat kewujudan itu sendiri, sedangkan qidam dan baqa’ adalah tafsir dari wujud tadi. 

Adapun sifat salbiyah adalah setiap sifat yang menunjukkan tidak adanya perkara yang tidak patut bagi Allah. Sifat salbiyah sebenarnya banyak sekali, namun mengapa ahli kalam hanya menyebutkan lima saja? Sebenarnya konsep ini mengikuti sebagian ulama, barangkali dari Imam al-Sanusi. Pembatasan hanya ada lima ini tidak ada dalilnya, namun hanya karena termasuk sifat-sifat salbiyah yang dianggap penting.

Allah adalah Dzat yang berbeda dengan makhluk-Nya, tidak berupa jisim, jauhar, ataupun aradh. Alasannya karena Allah Dzat yang qadim. Sedangkan anggapan orang-orang Wahabi bahwa Allah duduk diatas ‘Arsy memuat banyak kesesatan. Istawa itu kan maknanya banyak, bisa naik, sama, matang, puncak, sempurna, dan bertempat. Lha kok Wahabi bisa memaknai duduk itu bagaimana? Kalau Allah duduk berarti memiliki bokong, kaki, dan seterusnya.

Kalau sekedar Allah berada di atas ‘Arsy apabila sampai menganggap tajsim (Allah butuh tempat) berarti kufur, kecuali apabila bilang Allah adalah jisim yang tidak seperti jisim makhluk, maka tidak bisa dikafirkan. Begitupun ada yang bilang kafir juga.

Wahabi berkata Allah duduk diatas ‘Arsy ini sangat berbahaya, terjerumus dalam tajsim. Kalau dalil mereka adalah istawa ‘ala al-‘Arsy, padahal istawa maknanya banyak. Ada yang bilang maknanya luhur (‘ala wa irtafa’a), adan yang bilang maknanya tetap (istaqarra). Istaqarra belum mesti bermakna duduk, kan? Mungkin mereka memakai Atsar-atsar atau tafsiran dari sebagian mujassimah, padahal sanadnya banyak yang terputus.

قيامه بالنفس …

Termasuk sifat salbiyah yaitu qiyamuhu bi nafsihi. Sifat mukhalafah li al-hawadits merupakan sanggahan untuk Wahabi. Namun sekarang Wahabi kafir atau tidak? Kalau mereka bilang Allah jisim seperti jisim makhluk ya kafir, tapi kalau tidak maka kita tidak berani mengkafirkan namun tetap merupakan pemikiran berbahaya karena serupa dengan doktrin Yahudi.

Sifat qiyamuhu bi nafsihi juga menolak Wahabi yang berkata bahwa Allah butuh tangan, kaki, dan wajah. Kita Ahlussunnah tidak menolak wajah dan tangan yang disebutkan dalam Al-Quran-Hadits, namun pemahaman wajah dan tangan tidak kita pahami sebagai anggota badan. Sedangkan Wahabi mengatakan keduanya adalah anggota badan.

Sekarang terkadang mereka nutupi cacat teologi mereka dengan suka membicarakan sifat. Padahal, seringkali kita dengar dahulu Wahabi condong meyakini adanya anggota badan di Dzat Allah karena bilang yadani haqiqatan (kedua tangan sebenarnya). Ucapan ini berarti menjurus kepada anggota badan.

… وحدانية # منزها أوصافه سنية

عن ضد أو شبه شريك مطلقا # ووالد كذا الولد والأصدقا

Menurut ahli kalam wahdaniyah termasuk sifat salbiyah. Namun bagi saya pribadi lebih cocok termasuk sifat ma’ani karena Allah Ta’ala berfirman:

قُلْ هُوَ اللَّهُ أَحَدٌ [الإخلاص : 1]

“Katakanlah (Muhammad), Allah Maha Satu.” (QS. Al-Ikhlash: 1)

Allah itu Maha Tunggal, itulah yang membedakan Allah dengan yang lain. Wahdaniyah (satu) menafikan kamm (berbilang).

Semua sifat Allah itu luhur dan bersih dari kamm. Saya setuju dengan ini karena bahasa dalam Al-Quran:

وَإِلَهُكُمْ إِلَهٌ وَاحِدٌ [البقرة : 163]

“Dan Tuhanmu adalah Tuhan yang Maha Esa.” (QS. Al-Baqarah: 163)

Allah itu sifatnya adalah “Tuhan Yang Satu”, berarti Wahid disini menjadi sifat. Saya condong sifat Allah adalah al-uluhiyyah al-wahidah. Allah adalah Tuhan yang satu, menjadi sifat ma’ani. Hal ini juga menafikan uluhiyah selain Allah.

Selanjutnya, wajib diyakini bahwa Allah memiliki sifat-sifat salbiyah dalam keadaan bersih dari saingan baik terhadap Dzat atau Sifat-sifat-Nya serta bersih dari yang menyerupai-Nya. Allah juga suci dari yang melahirkan, anak, maupun teman.

وعلمه ولا يقال مكتسب # فاتبع سبيل الحق واطرح الريب

حياته كذا الكلام السمع # ثم البصر به أتانا السمع

Ilmu Allah tidak muktasab (diusahakan). Allah di zaman azal sudah tahu segala perkara yang akan terjadi, bahkan yang tidak terjadi dan yang bisa terjadi. Allah tahu semuanya. Setelah itu Allah memiliki sifat qudrah dan iradah kepada yang Dia ketahui akan ada. Kemudian Allah menjalankan Kalam dengan mengatakan “kun” (adalah!). Menurut ahli kalam, Kalam Allah tidak terdiri dari hufur dan suara.

فهل له إدراك أو لا خلف # وعند قوم صح فيه الوقف

Selanjutnya, apakah Allah memiliki sifat idrak? Yang dimaksud idrak adalah sifat tambahan dari sama’ dan bashar yang berhubungan dengan hal-hal yang diraba, dicium, dan dirasa seperti mengetahui sesuatu ini enak, wangi, halus, dan sebagainya. Ini namanya idrak.

Tentang keberadaannya ulama khilaf, sebagian condong kepada tawaqquf (tidak meneruskan pembahasan). Qadli Abu Bakr al-Baqilani dan Imam Haramain setuju bahwa Allah memiliki idrak, karena menurut mereka jika Allah tidak memilikinya maka berarti Allah kurang (naqsh). Sebagian ulama lain mengatakan Allah tidak memiliki idrak karena Allah tidak berinteraksi dengan hal-hal yang berhubungan (muta’allaqat) dengan idrak. Allah tidak jisim dan tidak mencium bau jisim sehingga tidak usah ada idrak. Akan tetapi yang mengatakan Allah memiliki idrak tetap berpandangan bahwa Allah tidak jisim.

حي عليم قادر مريد # سميع بصير ما يشا يريد

متْكلم ثم صفات الذات # ليست بغير أو بعين الذات

Sifat-sifat diatas menurut ahli kalam dinamakan sifat maknawiyyah. Menurut Syaikh Abul Fadhol Senori penulis nazham diatas (Syaikh Ibrahil al-Laqqani) tidak mengatakan kaunuhu dan hanya mengatakan hayyun qadirun adalah sifat Allah karena beliau memang tidak yakin bahwa ini adalah sifat, namun menurut ulama adalah ahwal/hal yaitu sifat yang tidak wujud namun juga tidak tiada (la maujud wa la ma’dum).

Lalu alasan sebagian ulama menambahkan sifat maknawiyyah untuk menolak sebagian sekte sesat bahwa kalam tidak qaim bi dzatillah. Menurut mereka Allah adalah Mutakallimun dalam dzat-Nya dan bukan sifat-Nya. Yang jelas keberadaan Allah Hayyun Sami’un Bashirun merupakan mufakat umat Islam. Sama’ (pendengaran) dan Bashar (penglihatan) Allah bersifat qadim, akan tetapi hal-hal yang didengar dan dilihat bersifat hadits. Begitu pula qudrah dan iradah Allah ta’alluq kepada hal-hal yang hadits. 

Ada ulama mengatakan bahwa istilah kaunuhu menerangkan bahwa sifat-sifat yang dipasangkan kepadanya wajib ada di Dzat Allah, bukannya Dzat Allah adalah sama’ dan bashar itu sendiri. Jadi lafazh kaunuhu menunjukkan kewajiban wujudnya sifat ma’ani di Dzat Allah, bukan sifat tersendiri dari dzat.

Kemudian sifat-sifat yang berada di dalam Dzat Allah tidak boleh dikatakan selain dari dzat atau merupakan dzat itu sendiri. Berbeda dengan Muktazilah yang menafikan sifat-sifat tersebut. Argumen mereka karena sifat-sifat wajib ada kalanya hadits dan ada kalanya qadim. Jika sifat-sifat tersebut dianggap hadits berarti ada sifat-sifat hadits di dalam Dzat Allah Ta’ala, dan jika dianggap qadim berarti ada hal-hal qadim yang banyak. Untuk menjawab pemikiran Muktazilah ini, maka Ahlussunnah mengatakan Allah adalah Mutakallimun (Dzat Maha Berbicara) namun Mutakallimun bukan selain Dzat Allah maupun hakikat Dzat Allah itu sendiri.

وقدرة بممكن تعلقت # بلا تناهي ما به تعلقت

Qudrah merupakan sifat ma’ani. Allah menciptakan alam ini dengan iradah dan qudrah-Nya, yakni dengan qadla’ dan qadr. Sifat iradah Allah adalah azali, qudrahnya juga azali. Namun qudrah berbeda dengan amr (perintah), ilmu, dan ridha. Allah menghendaki ada yang baik dan ada yang buruk, akan tetapi Allah tidak ridha dengan yang buruk dan ridha dengan yang baik. Muktazilah mencampur adukkan antara ridha dan iradah. Makanya mereka mengatakan keburukan bukan kehendak Allah, karena jika demikian berarti Allah tidak menjalankan al-shalah (kebaikan) dan al-ashlah (yang lebih baik), dan ini wajib menurut mereka.

Pemikiran seperti inilah yang berbahaya dan diikuti oleh orang-orang modern sekarang ini seperti Yusuf Qardhawi, Ikhwanul Muslimin, dan HTI. Sesuatu yang baik ditakdirkan oleh Allah, sedangkan sesuatu yang buruk tidak ditakdirkan-Nya. Ini namanya pemikiran Majusi dan Qadariyah yang mengingkari takdir buruknya Allah. Lalu siapa yang menentukan keburukan? Kata mereka adalah manusia sendiri. Jika demikian, berarti manusia menciptakan pekerjaaannya sendiri, dengan kata lain ada pencipta selain  Allah. Ini akidah syirik.

Akan tetapi, jika begitu apakah bisa langsung kita kafirkan mereka? Ini yang susah, karena mereka punya syubhat (semu alasan). Selain itu mereka punya jabatan, sehingga mereka malu jika harus mengikuti Ahlussunnah. Mereka telah terperangkap dalam hawa nafsu. Karena itu kita cukup katakan mereka sesat namun bisa menggiring kepada kekufuran yaitu mengingkari takdir Allah tentang keburukan. Pemikiran seperti ini sama halnya mengakui ada dua tuhan seperti agama Majusi. Ada tuhan kegelapan, ada tuhan cahaya.

ووحدة أوجب لها ومثل ذي # إرادة والعلم لكت عم ذي

وعم أيضا واجبا والممتنع # ومثل ذا كلامه فلنتبع

Sifat qudrah menurut ulama berhubungan dengan hal-hal yang mungkin (al-mumkinat) yang tidak terhingga, begitu halnya dengan iradah. Sedangkan ilmu Allah berhubungan dengan segala hal yang wajib, mustahil, dan mungkin seperti halnya Kalam Allah. Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.

وكل موجود أنط للسمع به # كذا البصر إدراكه  إن قيل به

Sifat sama’ bagi Allah berhubungan dengan segala yang wujud, begitu halnya dengan sifat bashar.

وعندنا أسماؤه عظيمة # كذا الصفات ذاته قديمة

Menurut kita kaum Ahlussunnah semua Asma Allah Ta’ala bersifat qadim. Bait diatas  menunjukkan bahwa Asy’ariah menetapkan Asma-asma Allah. Adapun sifat-sifat yang dibahas sebelumnya adalah sifat yang ditemukan menggunakan akal dan dikaji oleh ulama ahli kalam. Bukan berarti sifat Allah hanya itu saja. Ini poin penting kita mengaji ilmu tauhid.

Maka bohong jika Wahabi mengatakan kita tidak menetapkan Asma Allah yang jumlahnya 99. Kita juga menetapkan “wajh” (wajah) dan “yad” (tangan) bagi Allah seperti nash Al-Quran, akan tetapi bukan seperti pemahaman mereka. Kita golongan Ahlussunnah melakukan tafwidl yakni menyerahkan hakikat maknanya kepada Allah Ta’ala. Walaupun kita tahu makna secara literal yad artinya tangan dam wajh artinya wajah, namun bagi Allah kita serahkan hakikat makna kedua lafazh tersebut kepada-Nya.

واختير أن اسماه توقيفية # كذا الصفات فاحفظ السمعية

Pendapat yang dipilih mayoritas ulama bahwa Asma Allah harus ditetapkan sesuai ajaran Rasulullah ShallaLlahu ‘alaihi wa Sallama, begitu pula sifat-sifat Allah. Sekarang yang dipermasalahkan Wahabi adalah sifat wujud dan qidam. Maka menurut Syaikh Abul Fadhol Senori bahwa sifat Allah seperti al-Shani’, al-Maujud, al-Wajid, dan al-Qadim ditetapkan melalui ijma’ ulama, dam ijma’ disamakan kedudukannya dengan nash. Bahkan ada ulama yang mengatakan sebagian sifat yang dianggap Wahabi bid’ah ternyata ada dalilnya dari nash. Sifat al-Hannan dan al-Mannan itu warid (datang) dari keterangan Rasulullah.

وكل نص أوهم التشبيها # أوله أو فوض ورم تنزيها

Allah Ta’ala memiliki sifat mukhalafah li al-hawadits, sehingga ketika di dalam Al-Quran dan Hadits ada lafazh-lafazh yang makna zahirnya tidak sesuai dengan Dzat Allah maka Allah wajib diyakini bersih dari makna zahir lafazh tersebut. Ini persamaan antara Ahlussunnah dan Muktazilah, yang berbeda hanya Mujassimah-Musyabbihah. Makanya Wahabi tidak menggunakan dalil akal karena akan menyerang madzhab mereka sendiri. Tasybih dan tajsim tidak sesuai akal, maka menurut Wahabi akal tidak diterima. Seperti itu mereka saking terlalu fanatik. 

Kemudian ada khilaf, apakah zhahir lafazh tersebut harus ditakwil? Sebagian ulama melakukan takwil secara tafshil (detail), sebagian yang lain hanya mentakwil secara ijmal (global) yaitu bukan tasybih tadi. Sebagai contoh Firman Allah Ta’ala:

الرَّحْمَنُ عَلَى الْعَرْشِ اسْتَوَى [طه : 5]

“Tuhan yang Maha Pemurah. yang Istawa di atas ‘Arsy.” (QS. Thaha: 5)

Istawa dimaknai sebagai istiwa’ bi la kaif (bersemayam tanpa diketahui caranya), ini yang dinamakan takwil ijmal atau biasa disebut tafwidl. Tafwidl termasuk takwil tapi secara ijmal. Ibn Taimiyyah benci dengan takwil dan tafwidl sehingga melakukan tajsim,  akan tetapi dia tidak mau mengakui. Lebih suka berkata haqiqatan.

Contoh pemaknaan Ahlussunnah terhadap nash-nash seperti diatas diantaranya:

الرَّحْمَنُ عَلَى الْعَرْشِ اسْتَوَى [طه : 5]

“Tuhan yang Maha Pemurah. yang Istawa di atas ‘Arsy.” (QS. Thaha: 5)

Istiwa dimaknai sebagai istila’, bermaharaja di atas ‘Arsy.

تَعْرُجُ الْمَلَائِكَةُ وَالرُّوحُ إِلَيْهِ فِي يَوْمٍ كَانَ مِقْدَارُهُ خَمْسِينَ أَلْفَ سَنَةٍ [المعارج : 4]

“Malaikat-malaikat dan Jibril naik (menghadap) kepada Tuhan dalam sehari yang kadarnya limapuluh ribu tahun.” (QS. Al-Ma’arij: 4)

Takwil ayat ini adalah malaikat naik ke tempat mereka menyembah Allah, bukan Allah berada disana. Secara zahir ayat ini menunjukkn Allah Ta’ala berada diatas. Jika Allah memiliki arah maka berarti Allah terbatas sehingga seperti jisim. Ini saja sudah dikatakan mustahil oleh ahli kalam, apalagi itikad Allah duduk-duduk di atas ‘Arsy seperti kaum Wahabi tadi.

هَلْ يَنْظُرُونَ إِلَّا أَنْ يَأْتِيَهُمُ اللَّهُ فِي ظُلَلٍ مِنَ الْغَمَامِ وَالْمَلَائِكَةُ وَقُضِيَ الْأَمْرُ وَإِلَى اللَّهِ تُرْجَعُ الْأُمُورُ [البقرة : 210]

“Tiada yang mereka nanti-nantikan melainkan datangnya Allah dan malaikat (pada Hari Kiamat) dalam naungan awan, dan diputuskanlah perkaranya. Hanya kepada Allah dikembalikan segala urusan.” (QS. Al-Baqarah: 210)

Datangnya Allah dalam ayat diatas ditakwil sebagai datangnya utusan atau siksa-Nya.

إن الله خلق آدم على صورته (الحديث) 

Terkait makna Hadits ini, dalam Shahih Muslim ada keterangan bahwa ketika seseorang berkelahi dengan temannya lalu menunjuk untuk memukul wajahnya, maka Allah menciptakan Nabi Adam seperti bentuk rupa temannya tadi. Atau maksud dari lafazh  shurah (bentuk) adalah shifah (sifat). Sifat bisa sama namun substansinya berbeda.

وَيَبْقَى وَجْهُ رَبِّكَ ذُو الْجَلَالِ وَالْإِكْرَامِ [الرحمن : 27]

“Dan tetap kekal Dzat Tuhanmu yang mempunyai kebesaran dan kemuliaan.” (QS. Al-Rahman: 27)

Wajah dalam ayat diatas dimaknai sebagai Dzat atau Wujud Allah.

وَاصْبِرْ لِحُكْمِ رَبِّكَ فَإِنَّكَ بِأَعْيُنِنَا [الطور : 48]

“Dan bersabarlah dalam menunggu ketetapan Tuhanmu. Sesungguhnya engkau (Muhammad) berada dalam penglihatan Kami.” (QS. Al-Thur: 48)

Maksud ayat ini adalah engkau (Muhammad) berada dalam penjagaan Kami (Allah).

يَدُ اللَّهِ فَوْقَ أَيْدِيهِمْ [الفتح : 10]

“Tangan Allah di atas tangan mereka.” (QS. Al-Fath: 10)

Tangan dalam ayat ini dimaknai sebagai kekuatan.

Penulis nazham mendahulukan takwil daripada tafwidl mengikuti pendapat yang lebih unggul dari Izzuddin ibn Abdissalam. Imam haramain dalam al-Irsyad juga berkata seperti itu, namun di dalam al-Risalah al-Nizhamiyyah beliau memilih takwil ijmali atau tafwidl. Menurut Ibn Daqiq al-‘Id apabila takwil tafsili lebih dekat dengan  tuntunan akidah maka lebih baik, dan apabila jauh maka lebih baik tafwidl. Kamal bin Humam berpendapat apabila ada kebutuhan untuk takwil tafsili dan jika tidak demikian akan membuat geger orang awam maka lebih baik mentakwil. Pendapat ini didukung oleh Sayyid Ahmad Zarruq dari Abu Hamid al-Ghazali. Ibn Abdissalam berkata bahwa orang yang berkeyakinan Allah memiliki arah tidak kafir seperti halnya orang-orang awam ketika mereka sulit menafikan arah. Ibn Abi Jamrah juga berpendapat seperti itu. Akan tetapi Wahabi tidak bisa memahami sesuatu yang wujud kecuali memiliki arah.

Menurut Ahlussunnah Al-Quran adalah Kalam Allah namun Kalam Nafsi bagi Allah tidak hadits dan tidak terdiri dari huruf, kalimat, dan susunan. Maka nash-nash yang menunjukkan bahwa Al-Quran itu hadits dimaknai sebagai lafazh yang menunjukkan Kalam Nafsi Allah Ta’ala. Al-Quran yang berupa lafazh ini memiliki kekhususan kepada Allah, meski ahli kalam menganggapnya hadits/makhluk. Kekhususan tersebut yaitu lafazh-lafazh Al-Quran diwujudkan di Lauh Mahfuzh:

بَلْ هُوَ قُرْآنٌ مَجِيدٌ (21) فِي لَوْحٍ مَحْفُوظٍ (22) [البروج : 21 ، 22]

“Bahkan yang didustakan mereka itu ialah Al Quran yang mulia, (21) yang (tersimpan) dalam Lauh Mahfuzh. (22)” (QS. Al-Buruj: 21-22)

Atau Allah Ta’ala mewujudkan suara-suara dari lisan kita pada lisan malaikat Jibril’alaihi al-salam:

إِنَّهُ لَقَوْلُ رَسُولٍ كَرِيمٍ (19) ذِي قُوَّةٍ عِنْدَ ذِي الْعَرْشِ مَكِينٍ (20) مُطَاعٍ ثَمَّ أَمِينٍ (21) [التكوير : 19 – 21]

“Sesungguhnya Al-Quran benar-benar firman (Allah yang dibawa oleh) utusan yang mulia (Jibril), (19) yang mempunyai kekuatan, yang mempunyai kedudukan tinggi di sisi Allah yang mempunyai ‘Arsy, (20) yang ditaati di sana (di alam malaikat) lagi dipercaya. (21)” (QS. Al-Takwir: 19-21)

Atau suara tersebut diwujudkan Allah di lisan Kanjeng Nabi Muhammad ShallaLlahu ‘alaihi wa Sallama:

نَزَلَ بِهِ الرُّوحُ الْأَمِينُ (193) عَلَى قَلْبِكَ لِتَكُونَ مِنَ الْمُنْذِرِينَ (194) [الشعراء : 193 ، 194]

“Dia dibawa turun oleh Ar-Ruh Al-Amin (Jibril), (193) ke dalam hatimu (Muhammad) agar kamu menjadi salah seorang di antara orang-orang yang memberi peringatan, (194)” (QS. Al-Syu’ara: 193-194)

Yang turun kepada hati Rasulullah adalah makna, bukan lafazh Al-Quran. Namun lafazh Al-Quran dikhususkan Allah melalui lisan beliau.

ونزه القرآن أى كلامه # عن الحدوث واحذر انتقامه

وكل نص للحدوث دلا # احمل على اللفظ الذي قد دلا

Nazham ini menjelaskan akidah Asy’ariyyah dan Maturidiyyah bahwa Kalamullah adalah sifat yang ada pada Allah Ta’ala tanpa huruf dan suara. Apabila di dalam Al-Quran ada ayat seperti:

تَبَارَكَ الَّذِي نَزَّلَ الْفُرْقَانَ عَلَى عَبْدِهِ [الفرقان : 1]

“Maha Suci Allah yang telah menurunkan Al-Furqaan (Al-Quran) kepada hamba-Nya.” (QS. Al-Furqan: 1)

إِنَّا أَنْزَلْنَاهُ فِي لَيْلَةِ الْقَدْرِ [القدر : 1]

“Sesungguhnya kami telah menurunkannya (Al Quran) pada malam kemuliaan.” (QS. Al-Qadr: 1)

Maka nash-nash yang menunjukkan bahwa Al-Quran itu baru seperti ayat diatas, maka harus diarahkan kepada Al-Quran yang berupa lafazh (Al-Quran al-Lafzhi). Meski Al-Quran al-Lafzhi baru atau kasarnya adalah makhluk, namun menunjukkan pada makna yang dituju Kalam Nafsi. Penjelasan ini kita sampaikan khusus pada kajian ilmiah. Kalau di forum selain itu maka kita harus mengatakan Al-Quran meskipun berupa Al-Quran al-Lafzhi tidak boleh kita katakan baru untuk menjaga keagungan Kalamullah. Ini yang diperjuangkan mati-matian oleh Imam Ahmad bin Hanbal bahwa Kalamullah bukan makhluk, karena khawatir bila ditafsil seperti ini di selain majelis pembelajaran nanti dipahami bahwa Al-Quran bisa dihina, bisa dikatakan bukan dari Allah, karangan Muhammad, atau bahkan karangan Jibril.

Walhasil, apa yang disampaikan syaikh diatas khusus untuk kalangan terpelajar, tidak untuk dimanfaatkan oleh kalangan liberal dan musuh Islam, namun hanya pemikiran belaka. Kita harus satu kata bahwa Al-Quran adalah Kalamullah dan bukan makhluk. Ini yang lebih tepat sebagai sikap ta’zhim kepada Al-Quran, dan itu kami kira disepakati. Adapun bahwa Al-Quran al-Lafzhi dikatakan baru itu hanya membahas suaranya para pembacanya dan huruf yang ada dalam Al-Quran dimana zahirnya menurut akal adalah tersusun, ada awalan dan akhiran,  dan seterunya sehingga memiliki batas dan berarti baru. Itu hanya retorika ilmu kalam atau logika akal belaka yang membahas tentang bacaan-bacaan makhluk. Kita sendiri tidak pernah mendengar langsung dari Jibril, apalagi seperti Jibril mendengar langsung dari Allah. Hal-hal ini menurut kami tidak patut dibesar-besarkan. Cukuplah kebesaran Ahmad bin Hanbal diakui oleh Imam Syafi’i, itu bukti salaf telah ijma’ tentang kebenaran Al-Quran sebagai Kalamullah dan bukan makhluk. WaLlahu A’lam.

فيستحيل ضد ذي الصفات # في حقه كالكون في الجهات

Kebalikan dari sifat-sifat wajib bagi Allah adalah mustahil seperti halnya Allah memiliki arah. Diantaranya lagi adalah mumatsalah li al-hawadits, mempunyai perimbangan. Allah berada di timur atau barat, ini mustahil. Sekarang Allah di ‘Arsy atau di atas, ini berarti Allah memiliki bandingan berupa alam. Maka dari itu arti Allah di atas ‘Arsy adalah Allah bersifat luhur dan berkuasa. Sifat-sifat-Nya luhur. Ini untuk menyangkal Mujassimah Musyabbihah. Arah itu bisa berupa tempat dan dimensi, dan ini namanya seperti pandangan falasifah. Termasuk pula argumen untuk menyanggap Wahabi adalah arah atas belum mesti timur. Contoh ilustrasinya adalah penjaga seorang raja terkadang bertempat di atasnya, namun tetap saja raja pangkatnya lebih luhur. Tanda tangan itu tempat di bawah, namun paling penting dalam sebuah surat.

Setiap makhluk pasti ada bandingannya. Laki-laki dan perempuan, barat dan timur, selatan dan utara, atas dan bawah. Tapi karena Allah Ta’ala berbeda dengan makhluk-Nya dan tidak sebanding dengan makhluk, maka mustahil Allah berada di arah persis seperti arah makhluk.

وجائز في حقة ما أمكنا # إيجادا إعداما كرزقه الغنى

Nazham ini membahas tentang hal yang jaiz (boleh) bagi Allah Ta’ala seperti menjadikan seseorang kaya atau miskin. Sifat jaiz Allah adalah mewujudkan atau meniadakan sesuatu yang mungkin. Orang mukmin bisa miskin di dunia, tapi tidak di akhirat. Orang mukmin juga bisa kaya di dunia dengan catatan dari pekerjaan halal, kecuali taqdir Allah mengatakan rizkinya haram maka harus segera ditaubati. Orang kafir bisa miskin di dunia dan itu pantas baginya, apalagi di akhirat maka dia maha miskin. Kalo di dunia mereka kaya itu boleh-boleh saja, tapi kebanyakan kekayaan mereka berasal dari barang haram.

وخالق لعبده وما عمل # موافق لما أراد أن يصل

Allah menciptakan hamba-Nya seperti yang dilakukannya. Pekerjaan manusia menurut Ahlussunnah tercipta atas qudrah Allah saja, menurut Muktazilah atas kemampuan manusia saja, dan menurut ulama lain dengan kumpulan dua qudrah tersebut. Sedangkan menurut filosof karena qudrah yang diciptakan Allah di dalam diri manusia, lalu apa bedanya dengan Muktazilah? 

Kita Ahlussunnah berselisih dengan Muktazilah dalam hal pekerjaan manusia. menurut Muktazilah, pekerjaan manusia diciptakan oleh manusia sendiri. Akan tetapi kita dan Muktazilah sepakat bahwa pekerjaan manusia adalah pekerjaan mereka sendiri, bukan pekerjaan Allah. Yang makan, minum, dan berdiri adalah manusia, bukan Allah. Allah adalah penciptanya.

وخاذل لمن أراد بعده # ومنجز لمن أراد وعده

Allah Ta’ala memberi taufiq kepada orang yang dikehendaki dekat dengan-Nya dengan iman dan menghinakan orang yang dikehendaki kekufurannya. Pekerjaan manusia adalah ciptaan Allah, bahagia dan celakanya manusia itu kehendak Allah. Kalau tidak demikian, berarti Allah hanya pencipta manusia yang tidak tahu apa-apa tentang pekerjaan dan nasibnya. Itu melecehkan Allah, dan itulah bahaya modern. Muktazilah itu termasuk modern.

Orang bisa ngomong yang tidak karuan, yang menurut kami ucapan mereka kufur. Akan tetapi karena mereka punya alasan kalau Allah menghendaki kejelekan lalu mengapa Allah menyiksa kejelekan itu? Hal inilah yang jadi unek-unek mereka. Kita jawab bahwa menghendaki tidak identik dengan ridha. Muktazilah tertipu bahwa menghendaki mesti meridhai, padahal tidak. Seperti dunia sekarang ada gubernur di Jakarta yang beragama Kristen dan dari keturunan Cina, dibantu oleh kaum komunis atau dia malah komunis sendiri. Kalau kita mengatakan hal ini tidak dikehendaki Allah, maka Allah berarti hanya penonton seperti kita yang tidak punya kekuatan apa-apa. Maksud dikehendaki disini adalah eksistensinya, bukannya berarti diberi izin atau direstui. Itu ujian agar kita melawan zalim dan kufur. 

Orang yang dijanjikan beruntung pasti orangnya baik, minimal ketika akan mati dia membaca syahadat.

فوز السعيد عنده في الأزل # كذا الشقي ثم لم يعتدل

Keberuntungan dan celaka seseorang sudah ditulis di dalam zaman Azal, ditulis di Lauh Mahfuzh, dan ditulis juga di rahim ibunya. Beruntung dan celaka itu tidak berubah-ubah. Lha sekarang kita alhamduliLlah diciptakan senang berdoa semoga mendapat hidayah dan jadi orang yang beruntung, ini tanda-tanda kita diciptakan beruntung. Umpama kita diciptakan celaka tentu kita tidak diberi taufiq kepada doa-doa seperti itu.

Sebaliknya walaupun ada orang terlihat bagus, pencitraan bagus, sekarang dipuja-puja, jauh dari korupsi, padahal juga korupsi di Sumber Waras. Ini semua adalah rekayasa, apalagi sekarang dengan kecanggihan alat-alat publikasi. Mari kita berdoa semoga hal-hal yang zalim dihancurkan oleh Allah Ta’ala.

Awas jangan terkecoh dengan Perindo! Nanti dia akan bekerjasama dengan orang-orang seperti Ahok, komunis, dan mungkin saja jadi partai komunis. Dulu kita membantai komunis kelas teri, mungkin sewaktu-waktu kita akan dibantai komunis kelas kakapnya. Ini sudah pernah direkayasa pada waktu peristiwa ninja dulu.

وعندنا للعبد كسب كلفا # به ولكن لم يؤثر فاعرفا

وليس مجبورا ولا اختيارا # وليس كل يفعل اختيارا

Menurut Asy’ariyyah manusia memiliki kasb (usaha) yakni keinginan kuat yang mendorong seseorang melakukan kebaikan atau keburukan. Namun kasb ini tidak mempengaruhi takdir Allah. Seseorang terkadang ingin shalat tapi karena dia suka makan haram akhirnya tidak jadi shalat. Terkadang orang tidak ingin khusyuk tapi karena memiliki guru akhirnya bisa jadi khusyuk. Manusia tidak dipaksa, tapi tiap kehendaknya belum mesti tercapai. Tidak semua yang dilakukan manusia berasal dari kehendak hatinya, terkadang dia terpaksa juga. Madzhab kita tidak serba Jabariyah, juga tidak seperti Qadariyah. 

Muktazilah berdalil dengan Firman Allah Ta’ala:

مَا اسْتَطَعْتُمْ [الأنفال : 60]

Menurut Muktazilah, ayat ini menunjukkan bahwa istitha’ah (kemampuan) ada sebelum fi’il (pelaksanaan). Alasan mereka karena sebelum mengerjakan dia sudah mukallaf. Maka Ahlussunnah menjawab dengan Firman Allah Ta’ala yang lain:

وَلِلَّهِ عَلَى النَّاسِ حِجُّ الْبَيْتِ مَنِ اسْتَطَاعَ إِلَيْهِ سَبِيلًا [آل عمران : 97]

Ayat ini artinya adalah orang wajib berhaji ketika tidak ada halangan, yakni memiliki bekal dan kendaraan. Adapun kekuatan atau istitha’ah yang maknanya aradl muqarin li al-fi’l al-ikhtiyariy (kemampuan yang bersamaan dengan pelaksanaan perbuatan yang dipilih), maka kekuatan manusia untuk berhaji bersamaan dengan pekerjaan. Kalau  mempersiapkan haji itu sebelum melaksanakan haji, tapi kekuatan berhaji berbarengan dengan pelaksanaannya dan bukan sebelumnya. Yang ada sebelumnya adalah kondisi yang aman dan fasilitas yang memadai. Kita punya kesiapan shalat, sehat, dan seterusnya.

Menurut Asya’irah, manusia memiliki kasb yaitu pengarahan kemampuan yang baru (qudrah haditsah) dan kehendak yang baru (iradah haditsah) kepada melakukan kebaikan atau keburukan. Jika arahnya baik maka mendapat pahala, dan jika buruk maka mendapat siksa. Akan tetapi kasb oleh imam-imam ulama kita tidak berpengaruh dalam menciptakan wujud, yang mewujudkan adalah Kemampuan Tanpa Awal (Qudrah Qadimah) milik Allah. Namun karena manusia ingin sesuatu yang buruk maka qudrahnya juga mengarah kepadanya. Allah Ta’ala berfirman:

وَمَا ظَلَمَهُمُ اللَّهُ وَلَكِنْ أَنْفُسَهُمْ يَظْلِمُونَ [آل عمران : 117]

“Allah tidak menganiaya mereka, akan tetapi merekalah yang menganiaya diri mereka sendiri.” (QS. Ali Imran: 117)

Ini merupakan sifat adil Allah Ta’ala.

فإن يثبنا فبمحض الفضل # وإن يعذب فبمحض العدل

Ketika Allah Ta’ala memberi pahala maka hal itu merupakan kemurahan dari-Nya, dan ketika Allah memberi siksa maka hal itu adalah sifat adil-Nya. Karena kita menjadi penampakan dari keburukan, maka kita patut mendapat siksaan. Karena kita memiliki kasb/ikhtiar (usaha), maka kita pantas mendapatkan pahala atau siksa. Apabila kita menjadi baik, meskipun keinginan baik belum tentu mendapat pahala, maka hal ini adalah kemurahan dari Allah.

وقولهم إن الصلاح واجب # عليه زور ما عليه واجب

Muktazilah mengatakan Allah wajib melakukan hal baik. Ini adalah kebohongan, bahasa yang manis untuk menipu kita agar kita menganggap Allah tidak menakdirkan keburukan. Hakikat ucapan mereka adalah penghinaan, tidak ada yang wajib bagi Allah.

ألم يروا إيلامه الأطفالا # وشبهها فحاذر المحالا

فجائز عليه خلق الشر # والخير كالإسلام وجهل الكفر

Apakah Muktazilah tidak tahu bahwa Allah membuat sakit anak-anak kecil? Ini kan kelihatannya tidak ada kemaslahatan. Namun saya tahu bahwa itu ada maslahatnya, yakni agar orang tuanya memberi kasih sayang kepada anaknya dan ketika sudah besar agar dia bisa bersyukur kepada orang tuanya. Namun secara hakikatnya memberi rasa sakit itu tidak ada maslahatnya.

وواجب إيماننا بالقدر # وبالقضا كما أتى في الخبر

ومنه أن ينظر بالأبصار # لكن بلا كيف ولا انحصار

Termasuk hal yang jaiz secara akal adalah Allah dilihat dengan mata kepala kita. Namun kita sekarang tidak boleh menetapkan bagaimana penglihatan kita kepada Allah, apakah berhadapan atau bagaimana, ini tidak boleh. Membayangkan Allah mempunyai ruangan khusus juga tidak boleh.

Keterangan di dalam hadits-hadits bahwa kelak di Hari Kiamat secara umum Allah dapat dilihat kecuali oleh orang-orang kafir. Sedangkan ketika di surga orang melihat Allah di gundukan pasir yang wangi sekali, ada lapangan yang luas dimana nantinya manusia melihat Allah dari arah atas. Secara fikiran rasional ahli kalam ini mustahil karena Allah tidak jisim, tidak bertempat, dan seterusnya.

Mengapa manusia bisa melihat Allah? Karena melihat Allah termasuk perkara jaiz. Bahkan di dunia hal ini telah terjadi.

قَالَ رَبِّ أَرِنِي أَنْظُرْ إِلَيْكَ قَالَ لَنْ تَرَانِي وَلَكِنِ انْظُرْ إِلَى الْجَبَلِ فَإِنِ اسْتَقَرَّ مَكَانَهُ فَسَوْفَ تَرَانِي [الأعراف : 143]

“Dan tatkala Musa datang untuk (munajat dengan Kami) pada waktu yang telah Kami tentukan dan Tuhan telah berfirman (langsung) kepadanya. Berkatalah Musa: “Ya Tuhanku, nampakkanlah (diri Engkau) kepadaku agar aku dapat melihat kepada Engkau”. Tuhan berfirman: “Kamu sekali-kali tidak sanggup melihat-Ku, tapi lihatlah ke bukit itu. Maka jika ia tetap di tempatnya (sebagai sediakala) niscaya kamu dapat melihat-Ku”. Tatkala Tuhannya menampakkan diri kepada gunung itu, dijadikannya gunung itu hancur luluh dan Musa pun jatuh pingsan. Maka setelah Musa sadar kembali, dia berkata: “Maha Suci Engkau, aku bertaubat kepada Engkau dan aku orang yang pertama-tama beriman”. (QS. Al-A’raf: 143)

​PENJELASAN WAWANCARA DI SIDOGIRI

Sekitar dua tahun lalu kami diwawancarai tim media Sidogiri terkait pandangan sikap terhadap Pancasila, slogan NKRI Harga Mati, dan penetapan Hari Santri.

Kami tegaskan kembali, bahwa kaum pesantren tidak anti Pancasila juga tidak anti NKRI, jadi siapapun yang menuduhnya demikian itu adalah fitnah dan sengaja mengadu domba masyarakat pesantren dengan pemerintah.

Kami justru bersyukur kepada Allah SWT atas berdirinya NKRI di bumi pertiwi ini dan Pancasila sebagai dasar negaranya. Namun yang perlu digaris bawahi adalah kaum santri tidak mengenal selain sistem Islam dalam hidup bernegara, seperti yang termaktub dalam kitab minhajut Thalibin. Oleh sebab itu, karena Pancasila sudah terlanjur menjadi dasar Negara dan UUD 45 tidak melarang Pancasila ditafsirkan sesuai ajaran Islam, maka mengislamikan Pancasila bagi kaum santri adalah sebuah keniscayaan. Contoh mudahnya adalah kaum pesantren tetap berkeyakinan pengikut agama lain berada pada jalur yang salah, namun tidak kemudian diperbolehkan berbuat anarkis kepada mereka, karena secara kemanusiaan, mereka masih termasuk bagian daripada penduduk Indonesia. Tidak seperti ajaran Pluraslisme yang membenarkan semua agama dan sama-sama menuju ke Surga.  

Kemudian masalah NKRI, kami sangat tidak setuju ada embel-embel “Harga Mati”. Sebab istilah tambahan tersebut berkonotasi sangat negatif, bahkan bisa saja menodai ruh NKRI itu sendiri. Salah satu contoh kongkritnya, “Tidak mengapa kekayaan alam Indonesia dikeruk oleh penjajah, asalkan NKRI tetap  utuh! Tidak merugi tambang emas papua, migas blok cepu, pulau sipadan dan ligitan, Indosat dan aset-aset negeri ini dikuasai bangsa asing, yang penting NKRI aman! Tidak masalah berjuta-juta tanah bumi pertiwi dikuasai oleh segelintir pendatang dan uang Negara digarong oleh sekelompok begundal aseng, pokoknya NKRI langgeng! Dan tidak bahaya generasi penerus bangsa ini pikirannya diracuni narkoba yang diselundupkan oleh asing, yang penting NKRI jaya!” China-Komunis luar dan dalam negeri telah bersatu merusak moral bangsa, terbukti 1 ton sabu-sabu diselundupkan dari China, bahkan Limbah impor yang ditemukan di Surabaya berasal dari korea. Inilah sebenarnya virus ganas yang selama ini menggerogoti kekebalan tubuh Negara Kesatuan Republik Indonesia.

NKRI yang kami banggakan adalah bangsa yang berdikari dan selalu menghormati hak konstitusional penduduk mayoritas tanpa mengabaikan hak minoritas. Oleh karena itu, jangan ada teror dan segala bentuk intimidasi  terhadap umat Islam yang memperjuangkan agamanya dengan dalih “NKRI Harga Mati”, hormati hak mereka selaku umat mayoritas. Jangan dikebiri spirit dakwah umat Islam dalam amar ma’ruf nahi munkar dengan jargon menjaga NKRI, apalagi dengan cara menerbitkan Perppu Ormas yang jelas-jelas memberangus gerakan-gerakan Islam yang bervisi-misi amar ma’ruf nahi munkar.

Sekali lagi kami tidak mempermasalahkan NKRI. Akan tetapi istilah “Harga Mati” itu yang membuat Islam diamputasi. Islam dipojokkan tidak apa-apa, non muslim atau Syi’ah menjadi pemimpin umat Islam tidak masalah, minoritas menuntut hak setara dikabulkan saja, yang penting NKRI Harga Mati! Ini pembodohan dan pengelabuhan belaka yang sengaja disebarkan oleh musuh-musuh Islam Zionis, Salibis, Komunis dan Liberalis.

Kami merindukan konsep ber-NKRI yang sudah diteladankan oleh para ulama pejuang Islam di awal kemerdekaan bangsa ini, gerakan NU tempo dulu, Masyumi dan seterusnya. Mereka semua bersungguh-sungguh memperjuangkan hak-hak konstitusional umat Islam selaku mayoritas, mengusulkan perda-perda Islami,  melaksanakan amar ma’ruf-nahi munkar sekalipun itu kepada pemimpin (tapi tidak dengan berbuat “anarkis”), dan yang perlu diingat mereka sama sekali tidak menindas atau bahkan menteror minoritas, kecuali ketika dari pihak minoritas mencari masalah atau bahkan sampai menodai tuhan, kitab suci, dan agama mayoritas, maka sudah tentu mayoritas akan bereaksi sebagai bentuk pengamalan izzul islam wal muslimin.

Konsep Revolusi Syi’ah sangat kami tentang untuk dipraktekkan di Negara ini, oleh karena itu waspadailah Syi’ah. Begitu pula konsep Khilafah HTI, kami tidak menyetujuinya, karena teknis penerapan syari’ah dan kiprah mereka dalam memperjuangkan khilafah dalam sebuah negara  tidak sesuai dengan apa yang diajarkan oleh para ulama dalam kutub-kutub mu’tabarahnya, seperti gegampang proses pemakzulan dan mereka juga mengadopsi konsep Muktazilah yang menurut ulama kita termasuk ahli bid’ah, dan mungkin saja dibalik ide khilafahnya, HTI main mata dengan Syi’ah dan revolusioner lainnya. Kami juga telah menulis buku mengcounter sepak terjang HTI. Hanya hukum-hukum Islamnya yang kami cocoki bukan methode penerapannya, ini yang perlu diperhatikan, agar tidak salah paham!

Kami juga anti Wahhabi, karena kelompok ini hobinya mengkafir-kafirkan orang yang bertawassul dengan Anbiya’, Auliya’, dan sholikhin. Hakikat tawassul itu meminta do’a kepada orang yang ditawassuli. Tawassul itu hukumnya boleh asalkan tidak dengan arwah-arwah jahat, jin, syetan, danyang dan sejenisnya. Banyak sekali buku kami kami yang membahas tentang penyimpangan Wahhabi, jadi salah alamat jika ada yang menganggap kami condong ke Wahhabi. Cuma terkadang kami mendukung amar ma’ruf-nahi munkar mereka dalam hal-hal yang tidak bertentangan dengan ajaran Ahlussunnah wal Jama’ah.  

Kami mengajak semua komponen umat Islam, untuk kembali ke masa lalu, di mana ruh jihad dalam beramar ma’ruf nahi munkar bergelora di mana-mana, lewat organisasi NU, Muhammadiyah atau lewat partai politik,  partai-partai Islam seperti PPP. Mereka gigih melakukan amar ma’ruf nahi munkar kepada siapa saja yang berbuat zhalim dan munkar. Nasib NU dan Muhammadiyah sekarang hanya dijadikan pendulang suara pada saat Pilpres, Pilgub dan Pilkada saja.

Pelaku kemunkaran ini bisa siapa saja, baik individu, kelompok, atau penguasa. Dalam konteks kekinian, tentunya tempat kemunkaran itu semakin luas dan banyak, seperti kemunkaran di tempat rekreasi, tempat hiburan, hotel, penginapan, salon, kafe, bioskop, kampus, buka warung dengan dengan tanpa sungkan pada bulan Ramadhan dan sebagainya. Kemunkaran yang dilakukan kelompok, misalkan kemungkaran segerombolan perampok, partai politik nasionalis (sekuler) yang tidak berasaskan Islam, sebagian partai politik Islam yang mempunyai ide, program, atau langkah yang menyalahi Islam, serta kelompok yang mengadopsi ide liberal yang kafir dan menafsirkan Islam agar tunduk pada kaidah-kaidah ideologi kapitalisme yang sekuler. Kemunkaran penguasa, misalnya menjadikan sekularisme sebagai dasar kehidupan bernegara, menjalankan sistem demokrasi liberal dalam bidang politik dan sistem kapitalisme dalam bidang ekonomi.

Semua itu termasuk kemunkaran dan kezhaliman yang kita diwajibkan untuk menghilangkannya sesuai kesanggupan yang kita miliki. Jika umat diam saja serta rela terhadap semua itu, serta tidak melakukan amar ma’ruf nahi munkar, maka berhati-hatilah dan waspadalah, karena berbagai cobaan, bencana, dan kerusakan akan bisa menimpa kita semua secara merata. Hancurnya kewibawaan umat, amburadulnya kondisi politik, serta porak porandanya kondisi ekonomi, merupakan sekelumit akibat buruk yang kita alami secara bersama-sama akibat kelalaian kita beramar ma’ruf nahi munkar.

Islam mengajarkan adanya kepedulian dan tanggung jawab terhadap kepentingan dan kebaikan masyarakat, bukan ideologi individualis yang hanya mementingkan diri sendiri dan mengabaikan kepentingan bersama. 

Sekali lagi, kami tidak setuju “NKRI Harga Mati” dijadikan jargon andalan yang pada realitas praksisnya justru banyak elit negeri ini yang melacurkan NKRI dan Pancasila untuk memenuhi nafsu serakahnya.
Sarang, 25 Syawwal 1438 H

KH. Muh. Najih Maimoen

Bahaya Wacana “Full Day Scholl” ala Mendikbud

PERNYATAAN SIKAP

Terkait Wacana

“Full Day School ala Mendikbud”

Assalamu’alaikum War. Wab.

Kami ingin menyampaikan kegelisahan dari para orang tua yang berlatar belakang religius, para ulama, elemen pendidikan ajaran Islam, khususnya dari Lembaga Madrasah Diniyah (Madin) dan TPQ, baik perkotaan maupun pedesaan. Kebijakan memaksakan perubahan jam belajar siswa sekolah akan memicu banyak sekali kegaduhan. Sebenarnya apa yang kurang dari lembaga pesantren dan madrasah-Madrasah Diniyah?.

Madin dan Pesantren misalnya, terbukti selama ini menjadi pusat pembentukan karakter anak. Tidak hanya pengajaran nilai-nilai agama semata, tetapi juga pengamalannya, disamping dengan tingkat pembiayaan yang sangat ringan. Menurut kami program Full Day School pasti menggerus pola pendidikan diniyah, dan mutlak akan menutup pintu masuk pengenalan ajaran pondok pesantren. Dan seandainya tidak ditentang, maka FDS akan melunturkan kesadaran hidup beragama, mencerabut khazanah kaum muslimin yang sekian lama mengisi tatanan sosial masyarakat Indonesia.

Mendikbud seharusnya memperhatikan dampak sosial yang akan timbul dari penerapan kebijakan tersebut. Pendidikan agama sudah berakar di tengah masyarakat sejak lama, keberadaannya justru sebelum NKRI ada. Full Day School mau menghapus pendidikan madrasah dari NKRI, apakah para pelakunya tidak malu dengan para pahlawan muslim yang merebut kemerdekaan Indonesia dari tangan penjajah? Silahkan adakan sensus makam pahlawan, pasti menemukan hampir semuanya adalah kaum santri, minimal lulusan madrasah diniyyah.

Terkait wacana penerapan kebijakan sekolah hanya Senin hingga Jumat dan Full Day Scool di tahun ajaran baru 2017-2018 nanti, maka kami menolak keras kebijakan tersebut. Ada beberapa point yang menjadi landasan penolakan kami;

  1. Kebijakan menerapkan Full Day School pasti akan memunahkan ratusan ribu -sekali lagi- ratusan ribu lembaga Pendidikan TPQ/TPA dan Madin (Madrasah Diniyah) di seluruh Indonesia. Padahal mayoritas masyarakat muslim Indonesia adalah kaum nadhiyyin yang semuanya butuh pemahaman dan pengamalan agama. Dan pasti akan membawa imbas mengacaukan tatanan Pondok Pesantren, terutama yang berbasis salaf.
  2. Memaksakan FDS akan menyulut api permusuhan, atau paling tidak akan memantik kecurigaan antar ormas umat Islam. Ini bahaya, karena mengancam keutuhan hidup bernegara.
  3. Penetapan FDS membawa misi pendangkalan akidah, amaliah generasi-generasi Ahlussunnah wal Jamaah. Masyarakat santri sudah sekian lama terdzolimi oleh kebijakan warisan belanda, senasib kaum santri zaman dulu yang selalu ditindas para penjajah.
  4. Coba direnungkan, dari sisi maslahat kebijakan, dimanakah letak kesalahan lembaga TPQ dan Madin? atau dimanakah letak cacat tatanan di Pesantren? Ayo silahkan diadakan survey?! Dari Jutaan Narapidana, baik kasus Korupsi, kriminal maupun pelanggaran-pelanggaran lain, hanya berapa persen yang tamatan Ponpes dan Madin?? kami yakin seyakin-yakinnya 99%, bahkan lebih adalah jebolan pendidikan umum murni. Bukan lulusan dari Madin/Pesantren.
  5. Kalau sisi keberhasilan mencetak para pelaksana roda ekonomi, ayo disurvei !! kami jamin jebolan Madin dan Ponpes hampir mustahil adatan jadi pengangguran apalagi GePeng (Gelandang dan Pengemis). Karena pada dasarnya Pendidikan Madin dan PonPes selalu menanamkan kemandirian dan tanggung jawab hidup. Prinsipnya adalah “Wajib cari rizki untuk menafkahi keluarga asal yang halal”. Tidak pilah pilih pekerjaan. Sebaliknya, silahkan tanya kepada para GePeng itu jebolan pendidikan apa?. Pasti akan dijawab, tentu tamatan pendidikan umum. Bahkan, coba dihitung berapa juta Sarjana di Indonesia yang masih menganggur…??
  6. Siapakah sebenarnya yang diajak rembukan dan olah fikir sehingga muncul gagasan FDS yang menteror Madin dan Pesantren…?? Apakah para cukong? Menurut kami, program FDS adalah kongkalikong antara Kapitalis-Komunis untuk menghancurkan Islam Tradisionalis, NU. Jangan dikira musuh-musuh Islam tidak bersatu memberangus kaum muslim Ahlussunnah Wal Jamaah. Timur tengah buktinya, perang antara Israel dengan Hizbullah (Syiah) yang menjadi korban justeru penduduk sipil Aswaja. Jadi menurut kami FDS menjadi bukti kebenaran al Qur’an;

وَلَن تَرْضَىٰ عَنكَ الْيَهُودُ وَلَا النَّصَارَىٰ حَتَّىٰ تَتَّبِعَ مِلَّتَهُمْ

Hari libur sabtu ahad itu ittibaul Yahud wan Nashara, sementara hari jumat adalah hari raya umat Islam malah dikebiri. Tidak diliburkan, sehingga orang mukmin tidak bisa bersiap-siap tabakkur untuk melaksanakan ibadah shalat jumat. Mengabaikan hari jumat, dan memanfaatkan hari-hari libur untuk pergaulan bebas (kumpul kebo) adalah bagian dari misi Zionis, Komunis yang berlindung dibawah nasionalis.

Adanya gagasan FDS juga bukti kebenaran hadits

يوشك الأمم أن تداعى عليكم، كما تداعى الأكلة إلى قصعتها. فقال قائل: ومِن قلَّةٍ نحن يومئذ؟ قال: بل أنتم يومئذٍ كثير، ولكنكم غثاء كغثاء السَّيل، ولينزعنَّ الله مِن صدور عدوِّكم المهابة منكم، وليقذفنَّ الله في قلوبكم الوَهَن. فقال قائل: يا رسول الله، وما الوَهَنُ؟ قال: حبُّ الدُّنيا، وكراهية الموت

Timur tengah sudah dihancurkan lewat perang, maka jangan sampai kaum muslim Indonesia yang mayoritas ini (terutama kaum santri) dijajah sistem pendidikan sekuler yang semakin lama tambah merajalela.

  1. Kami dengan sistem pendidikan pemerintah yang sekarang saja sudah memangkas Madin untuk tingkat kelas 5 dan 6, itu gara-gara lembaga formal yang menerapkan program ekstrakulikuler. Kalau ditambah lagi dengan FDS, maka tamat sudah masa depan kaum muslim. Sudah terdzalimi, masih ditambah lagi dengan yang lebih parah. Pemberangusan yang melebihi penjajahan belanda, yang notabene masih menghargai pendidikan local waktu itu. Semoga penggagas ide ini dilaknat oleh Allah SWT.
  2. Kemungkinan besar program FDS ini justeru malah mencetak para koruptor negara. Anda bayangkan, pendidikan sehari penuh tanpa pengajaran agama. Setidaknya para siswa akan terlibat pergaulan bebas, pacaran kelewat batas yang bisa jadi melakukan perzinahan (Naudzu billah min dzalik), atau minimal yang anak laki-laki sulit berkonsentrasi belajar karena setiap hari harus bergumul dengan siswi-siswi bukan mahram. Inilah rencana keji Zionis dan antek-anteknya, oknum Cina dan si Naga Sembilan. Mereka berkomplot menjajah ekonomi, politik, budaya, pendidikan dan agama. Dan perlu diingat, PT.Freeport memperpanjang kontrak dengan pemerintah Indonesia sampai tahun 2031. Kemungkinan besar kafir Amerika ikut menjadi biang komplotan segitiga, Salibis-Komunis-Etnis Cina.
  3. Kita kaum nahdliyyin dengan jumlah kaum muslim terbanyak. Jadi jangan sampai hak-hak mayoritas dikebiri.
  4. Kalangan awam nahdhiyyin selalu tertindas, yang untung hanya kalangan elit saja. Mari kita angkat harkat martabat warga nadhiyyin. Kenapa Bapak Menteri Agama diam saja, apa yang anda takuti? apakah Ormas Muhammadiyyah..? Dan seharusnya MD tidak perlu dilibatkan dalam Sidang Istbat penentuan Ramadlan atau tanggal 1 Syawal. Bukankah jauh-jauh hari mereka sudah menetapkan tanggal istimewa tersebut dengan almanak. MD, yang usianya lebih tua dari ormas NU harus bersikap lebih dewasa, jangan kekanak-kanakan, maunya menang sendiri menguasai pendidikan agama. Dan jangan merasa paling benar memaknai hadits “صُومُوا لِرُؤْيَتِهِ وَأَفْطِرُوا لِرُؤْيَتِهِ،” dengan takwil metode hisab demi modernitas. Dan perlu diperhatikan, apakah Ormas Muhammadiyah tidak merasa rugi dengan hilangnya TPA. Padahal jargon yang digemborkan” kembali ke al Qur’an dan al-Hadits”.
  5. Cukup Banser saja yang menjadi abdi PKI karena ulah para okmumnya, golongan lain jangan sampai ikut-ikutan. Walau kami berharap dan sangat bersyukur bilamana Banom NU tersebut mau sadar kemudian bertaubat.

Omongan Sekjen Kemdikbud Didik Suhardi,Phd “Madin bisa setelah Ashar sampai bakda Magrib”. Kalau ini dipraktekkan, jelas ada pemangkasan waktu belajar dan akan memvorsir tenaga, baik bagi para pendidik maupun anak didik karena tidak ada waktu istirahat dan pastinya menyingkat ibadah shalat ashar & maghrib. Full Day School tidak ber-Peri Ketuhanan Yang Maha Esa, tidak ber-Peri Kemanusiaan, dan tidak patuh pada UUD 45.

  1. Gagasan Boarding School yang ideal untuk bangsa kita adalah yang ditulis Ki Hajar Dewantoro dengan slogannya “Ing Ngarso Sung Tulodho, Ing Madyo Mangun Karso, Tut Wuri Handayani”, karena gagasan ini diilhami dari pendidikan pesantren, pendidikan akhlak dan moral, karakteristik ikhlas, disertai ajaran-ajaran ibadah sekaligus wiridan, serta cara-cara untuk menghormati yang tua, menyayangi yang muda serta menjalin shilaturrahim dengan para kerabat, bersosial dengan para tetangga dan bergotong royong dengan sesama umat islam. Dan konon Negara Finlandia yang terkenal sistem pendidikannya itupun nyontek dari sebagian ajaran Ki Hajar Dewantoro. Wallahu a’lam.
  2. Jangan terlena dengan perayaan hari santri, karena jiwa-jiwa kesantrian akan mulai terkikis dari sini. Dan istilah Full Day School pasti akan menghilangkan keharuman nama besar Pondok Pesantren.
  3. Andaikan KH. Ahmad Dahlan masih hidup, pasti tidak akan merestui sistem pendidikan seperti ini, karena beliau adalah lulusan pesantren. Apalagi kalau masih ada Buya Hamka, tokoh Muhammadiyyah yang alim, putra kyai alim yang berjuluk tuan guru bermadzhab Syafii dan ahli thariqah. Beliau yang diakhir hayatnya melakukan doa qunut dan wafat husnul khatimah, bahkan insyaallh mati syahid, karena menfatwakan keharaman mengucapkan selamat Natal dan merayakannya. FDS pasti ditolak mentah-mentah oleh kedua ulama panutan Muhammadiyyah ini.
  4. Warga Indonesia kini sedang ditipu, karena Full Day School bukan solusi. FDS tidak bisa mendidik akhlak, dan malah menjajah para orang tua. Anak-anak akan jauh dari pantauan, sementara biaya sekolah meningkat yang mencekik orang tua.
  5. Muhammadiyah bisa saja ditunggangi modernis perusak agama, ajaran Kristen bahkan paham komunis yang dendam kesumat dengan kaum nahdliyyin.
  6. Kita semua tahu bagaimana kondisi TPQ, Madin dan Pondok Pesantren salaf didaerah-daerah. Kebanyakan tidak punya gedung sendiri. Masih numpang di serambi Masjid, Mushola dan emperan rumah warga. Biaya operasional, beli papan tulis, bangku dan kapur masih urunan para wali santri. Belum lagi ustadz dan ustadzahnya yang ikhlas dan telaten mengajar tanpa gaji. Mereka korbankan waktu kerja demi anak didik. Apa bukan kedzaliman namanya?!, sudah kecil dianggap kecil masih pula mau ditiadakan.
  7. Alokasi pendidikan 20% dari APBN itu tidak sedikit. Sekalipun TPQ, Madin dan Ponpes tidak masuk dalam daftar alokasi itu, mereka tidak akan menuntut. Jadi sangat ironis bila pendidikan berbasis akhlak dan ukhrowi (yang notabene lebih penting dari pendidikan umum) anak-anak didiknya hendak diungsikan untuk menjadi penganut hedonis barat. Kasihan nasib mereka tidak pernah diperhatikan para pejabat legislative dan eksekutif.
  8. Pendidikan Pesantren paling tua, jauh sebelum Indonesia ada, apalagi Ormas Muhammadiyyah. Madin yang juga sudah berdiri sebelum negara ini merdeka adalah lahan dakwah para alumni pesantren dalam nashrul ilmi. Para pengajar bebas menentukan mata pelajaran menurut hasil ngaji selama di pesantren. Tapi kenapa pemerintah malah menganaktirikan, dan malah mendahulukan kepentingan MD. Inilah nasib pesantren yang selalu teraniaya. Pendidikan Madrasah tidak pernah diakui pemerintah, kecuali yang ikut program kurikulum. Sungguh ini pembodohan. Kurikulum MTS ma’arif NU apakah sudah maksimal dan relevan?, Lihat saja prosentase 20% Agama, 70% lainnya Sekuler. Innalillah wainnalillahi rajiun.
  9. Kini Alhamdulillah banyak tokoh-tokoh Negeri ini yang menolak rencana pemberlakuan FDS. Bahkan PBNU dan MUI sudah resmi mengeluarkan penolakannya. Dan pasti akan ada usaha-usaha lain yang lebih massif lagi. Perlawanan terhadap FDS adalah harga mati. Jangan ada tipu-tipu lagi, kami tidak ingin mendengar ada bahasa, “Kebijakan ini masih uji coba atau Kebijakan ini tidak mengikat. Boleh dilasanakan oleh sekolah-sekolah umum juga boleh tidak”. Hanya satu yang kami minta dipenuhi, rencana itu harus dibatalkan!
  10. Di saat sebagian Pemerintah Daerah, Gubernur, Bupati membuat perda tentang kewajiban bagi setiap siswa sekolah umum untuk bersekolah Madrasah diniyah, mengapa Bapak Menteri tidak mendukungnya, tapi justru malah membuat wacana konyol. Proses belajar sore hari itu bagi anak-anak muslim yang bersekolah umum akan mendapatkan bimbingan akidah, etika dan moral yang matang, lewat panduan kitab fasholatan, Adab lil Banin, Aqidatul Awam, Aqoid Khamsin dan lain sebagainya, bukan di sekolah dan lembaga yang targetnya hanya tingginya nilai dan kelulusan.
  11. Mana pernyataan anda sekalian wahai umat Islam tentang Full Day School, harusnya mari bersama-sama menolak program yang membikin kegaduhan, mengganggu stabilitas negara yang mengadu domba antara Umat Islam NU, Muhammadiyyah dan ormas-ormas yang lain.
  12. Terakhir, apakah para elemen pemerintah sudah lupa atau pura-pura lupa (takut tidak dapat bagian dari UNICEF) dengan UUD 1945 Pasal 31 tentang Pendidikan dan Kebudayaan Pasal 31 ayat 3:

(3) Pemerintah mengusahakan dan menyelenggarakan satu sistem pendidikan nasional, yang meningkatkan keimanan dan ketakwaan serta akhlak mulia dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, yang diatur dengan undang-undang.

Dengan UUD ini harusnya seluruh lembaga pendidikan di Indonesia memberikan porsi lebih pada pembelajaran agama kira-kira 80 %, sedangkan 20%nya untuk  ilmu umum. Namun kenyataan di sekolah formal malah terbalik. Itu berarti lembaga-lembaga formal telah tidak konsekwen dan menciderai UUD pasal 31 ini. Jadi bukan sekolahan umum, harusnya Madin dan Pesantren yang diakui pemerintah. Karena lembaga ini selalu meningkatkan keimanan dan memantau perkembangan ilmu, akhlak dan nilai-nilai ibadah, yang pastinya akan lebih mencerdaskan anak bangsa. Seperti; pengajaran sholat berjamaah. Tapi kenapa justeru lembaga lain yang berani melawan undang-undang malah yang diakui pemerintah. Sungguh ini penindasan yang luar biasa. Kalau memang tidak mau mengalah, ya berbagi 50%-50%.

Walhasil, Full Day School adalah program Zionis Yahudi dan Komunis yang berlindung dibawah Kristen, dan Kristen menyusup kedalam Nasionalis. Penolakan kami ini harga mati, sampai Bapak Prof, Muhajir Effendi membatalkan kebijakan tersebut. Kami akan terus menyuarakannya dengan mengajak semua elemen masyarakat, tokoh, para kiai, para asatidz untuk bersatu bersama-sama menolak kebijakan bapak yang kurang mashlahah dan tidak sesuai dengan kultur budaya muslim di Indonesia. Dengan wacana penghapusan pelajaran agama, sebagai salah satu paket FDS , maka ini semakin menunjukkan bahwa Mendikbud adalah agen liberal cekek, anak buah Syafi’i Ma’arif, dan sama sekali tidak meneladani pendiri Muhammadiyah,  KH. Ahmad Dahlan. Kalau di zaman SBY saja undang-undang usulan Partai Islam Sisdiknas dimandulkan, apalagi pada pemerintahan sekarang, undang-undang yang melindungi pendidikan agama pastilah akan dihapus. Dan tidak menutup kemungkinan Full Day School adalah sebuah paketan dibawah perintah para bos pengusung Liberalisme, Sekulerisme dan Komunisme. Mensetujui penghilangan agama dari ranah pendidikan akan menjadi bukti bahwa pemerintahan sekarang adalah penganut Pan-Kiri.

Wassalamu’alaikum War. Wab.

Sarang, 13 Juni 2017 H.

KH. Muhammad Najih Maimoen

Atas ↑

%d blogger menyukai ini: