HASIL BAHTSUL MASA’IL GP. ANSOR, INI TANGGAPAN KH. M. NAJIH MAIMOEN

HASIL BAHTSUL MASAIL GP. ANSOR

TANGGAPAN-TANGGAPAN KH. M. NAJIH MAIMOEN

Terhadap

Keputusan Bahtsul Masa’il GP. Ansor

Di Jakarta Pada Tanggal 11-12 Maret 2017

Tentang “Kepemimpinan Non Muslim di Indonesia”

بسم الله الرحمن الرحيم 

Pandangan Umum

– Secara umum, dalam menilai kajian BM GP. Ansor, kami sejalan dengan komentar KH. Zuhrul Anam Hisyam, beliau mengutip satu Qo’idah dari kitab Qowa’idus Syaikh Zarruq yang berbunyi:

“المتكلم في فن من فنون العلم إن لم يلحق فرعه بأصله ويحقق أصله من فرعه ويصل معقوله بمنقوله وينسب منقوله لمعادنه ويعرض ما فهم منه على ما علم من استنباط أهله، فسكوته عنه أولى من كلامه فيه، إذ خطأه أقرب من إصابته، وضلاله أسرع من هدايته، إلا أن يقتصر على مجرد النقل المحرر من الإيهام والإبهام، فرب حامل فقه غير فقيه، فيسلم له نقله لا قوله، وبالله التوفيق”  

Penampilan aneka macam ibarat dan argumentasi dalam rumusan BM GP. Ansor sarat dengan iham-ibham, bahkan mengutip penalarn Syaikh Ali Jum’ah dan Syaikh Abdul Hamid al-Athrasy di bagian akhir rumusan termasuk upaya penyesatan terhadap umat Islam. 

– Menyikapi keputusan BM GP. Ansor, kami sepakat dengan pernyataan Wakil Ro’is Aam PBNU, KH. M. Miftahul Akhyar, “Perkara sah itu belum tentu halal”. Bahkan lebih tepatnya, ketika Non Muslim dipaksakan terpilih menjadi pemimpin, maka berarti statusnya bukan sah akan tetapi disahkan karena dharurat. Kecuali jika yang jadi adalah si penista agama, maka jelas tidak sah, karena melanggar undang-undang.  
Fatwa ulama Mesir tidak Sah dibuat Pijakan Dalil

– Syaikh Ali Jum’ah berfatwa “kebolehan kepemimpinan non muslim, fatwa ini dilatarbelakangi status beliau yang menjabat sebagai Mufti negara, Mesir, sehingga beliau tidak punya ruang gerak untuk berseberangan dengan hegemoni pemerintah. Dengan kondisi seperti ini, fatwa beliau ini tidak bisa menjadi pijakan umat Islam Indonesia. Perlu kami ingatkan bahwa Syaikh Ali Jum’ah pernah berfatwa kebolehan menitipkan uang di Bank, meski beliau tetap mengharamkan hutang pada pihak Bank.   

– Salah satu ulama yang dibuat pijakan fatwanya oleh BM GP. Ansor adalah Syaikh Abdul Hamid al-Athrasy, beliau berpendapat “Kelayakan seorang calon pemimpin diukur dari kemampuannya menunaikan tugasnya dalam melayani masyarakat”. Jelas sekali Syaikh Azhari mengesampingkan peran agama dalam kepemimpinan, ini sangat berbahaya, apalagi dalam draft fatwanya tidak disertakan dalil-dalil syar’i, hanya menggunakan teori-teori logika (ciri khas pemikiran Liberal). Masihkan GP. Ansor menjadikannya imam panutan?    

– Terobosan-terobosan Syaikh Ali Jum’ah dan Syaikh Abdul Hamid al-Athrasy  tidak cocok untuk umat Islam Indonesia, terlebih kaum NU yang asas bermadzhabnya adalah Madzhab Empat, karena terobosan tersebut tidak bersumber dari kutubussalaf minal madzahibil arba’ah.  

– Prediksi Imam Ramli rahimahullah kurang tepat, karena dalam fatwanya beliau menyatakan keadaan umat Islam di negeri Andalus bisa terus kondusif, bahkan non muslimnya diharapkan dapat masuk Islam. Akan tetapi realitanya negeri Andalus justru dikuasai oleh orang-orang Kristen, bahkan umat Islam dibantai sampai diusir dari negeri sendiri. Jika NU Liberal-GP. Ansor memaksakan diri beristidlal kepemimpinan non-muslim dengan konteks negeri Andalus, apakah mereka menginginkan Indonesia menjadi Spanyol atau Tibet kedua?     

Maslahah Mursalah apalagi Demokrasi Moderen atau yang lain Tidak Termasuk Alasan Mu’tabar Syar’an

– Pernyataan al-Marhum KH. M. A. Sahal Mahfudz yang beralasan “gagasan Demokrasi moderen”, kami kurang menyetujuinya. Zaman Moderen memang tidak bisa dihindari, tapi kita umat Islam tetap harus memiliki corak Islami (Shibghatallahi), terlebih kaum santri. Menurut kami, pernyataan beliau tersebut adalah pendapat pribadi yang tidak dilandasi ta’bir-ta’bir kutubussalaf, sehingga tidak sah dibuat pijakan dalil. Bahkan beliau juga mengutip pendapat  Ibn Taimiyah, ulama kontroversial yang menjadi sateru kiai-kiai Nahdlatul Ulama, terlebih sang pendiri NU, Hadrotus Syaikh KH. Hasyim Asy’ari.      

– Pilpres, Pilgub dan Pilkada diselenggarakan secara bebas, transparan dan tanpa paksaan (sesuai jargon mereka), dan kenyataannya setiap warga negara memang bebas memilih,  tidak ada pemaksaan yang sampai mengancam nyawa. Jadi tidak ada jalan lagi bagi warga muslim Jakarta kecuali memilih Paslon yang keduanya muslim. 

– Keadaan darurat itu ketika ada teror semisal ada todongan atau ancaman nyata yang membahayakan nyawa, bukan teror media seperti sekarang. Mari kita biasakan membaca Ratib Haddad dan Shalawat kepada Rasulullah SAW agar diselamatkan dari segala macam fitnah.  

NU Harus Bersih dari Pemikiran Menyimpang

– NU Kepemimpinan Sa’id Aqil Siradj dan GP. Ansor dalam masalah kepemimpinan Non Muslim mengutip pendapatnya Ibn Taimiyah. Ini jelas berani melawan Ro’isul Akbar Hadrotus Syaikh KH. Hasyim Asy’ari, karena beliau dalam kitab Risalah Ahlussunnah wal Jama’ah menandaskan:

ومنهم (أي الأحزاب المتنوعة، والآراء المتدافعة، والأقوال المتضاربة، والرجال المتجاذبة) فرقة يتبعون رأي محمد عبده ورشيد رضا، ويأخذون من بدعة محمد بن عبد الوهاب النجدي، وأحمد بن تيمية وتلميذيه ابن القيم وابن عبد الهادي، فحرموا ما أجمع المسلمون على ندبه، وهو السفر لزيارة قبر رسول الله صلى الله عليه وسلم، وخالفوهم فيما ذكر وغيره. (رسالة أهل السنة والجماعة، ص: 9)

Ucapan Ibn Taimiyah yang dikutip oleh GP. Ansor adalah termasuk dari Syawadzi Ibn Taimiyah (pendapat-pendapat Syadz Ibn Taimiyah), termasuknya lagi adalah pendapatnya yang menyatakan “jatuh talak satu” bagi istri yang ditalak suaminya tiga kali dalam satu majlis, kemudian ia juga membolehkan pajak (lihat al-Fatawa al-kubro), dan ia mengkafirkan orang yang melakukan tawassul secara umum, namun dipraktekkan Wahhabi dengan membunuh perorangan. Masih banyak kesesatan-kesesatan Ibn Taimiyah lainnya, seperti yang diterangkan dalam kitab Sharihul Bayan, karya Syaikh Abdullah al-Harari. Sangat tidak beradab oknum-oknum NU mengutip pendapat Ibn Taimiyah ini.    

Indonesia dan Darul Islam

– Islam adalah wahyu dari tuhan, sedangkan Pancasila dan UUD 45 adalah falsafah-falsafah buatan manusia. Islam pasti benar karena turun dari dzat yang Maha Benar, aqwalul ulama juga sangat potensi benar, karena merekalah yang ahli dalam menukil dan memahami kebenaran Islam. Adapun falsafah-falsafah seperti Pancasila dan UUD 45 itu hanya sebuah alat. Jika digunakan untuk membantu Syari’at Islam, maka ia menjadi sebaik-baik alat. Sebaliknya, kalau digunakan untuk melawannya, maka sungguh itu seburu-buruk alat yang bisa menjerumuskan ke neraka.

– Darul Islam itu artinya wajib mengamalkan hukum-hukum Islam semampunya. Adapun kalau tidak sepenuhnya, maka sebagian yang dimampuinya. Dan jika tidak bisa kedua-duanya, maka harus menghidupkan dan menggiatkan pendidikan Islam dan syi’ar-syiar agama.

– Meski negara Indonesia ini untuk umum, baik muslim atau non muslim, namun sebagai pribadi muslim, kami tetap berkeinginan “kepemimpinan” dipegang oleh umat Islam dan mengamalkan hukum-hukum Islam semampunya (karena hal ini adalah ajaran agama kami), dan keinginan seperti ini adalah hak konstitusional warga Indonesia yang telah dijamin undang-undang. Yang penting kami tidak memaksakan kehendak seperti kata mereka!  

– Bukannya simbol-simbol agama yang kami cari, akan tetapi substansinya yang kami inginkan, kalau hukum Islam tidak berjalan, ya minimal pemimpinnya harus muslim, Allahu Akbar.

– Memang  di Indonesia ada hukum Islam, tapi itu sangat minim. Beberapa bukti bahwa Islam telah didiskreditkan diantaranya: banyak perda-perda Syari’at yang ditolak atau dipending, pendidikan nasional agama dimandulkan, Islam sebagai mayoritas tapi kepentingannya diminoritaskan dengan bukti ketika yang melakukan kriminal orang-orang pribumi apalagi beragama Islam langsung dipenjarakan, akan tetapi jika oknumnya etnis China-Kristen malah dianak emaskan.   

– Sistem Demokrasi -yang menurut kami termasuk amrun dhoruri (suatu hal yang dipaksakan)- itu jangan sampai menghalalkan perkara haram. Meski ada pihak yang melakukannya, hati kita tetap harus meyakini keharaman perkara tersebut.    

– Muktamar NU di Banjarmasin itu terselenggara ketika Indonesia masih dijajah Belanda. Dan pada saat itu, umat Islam masih bisa menjalankan ibadah shalat, zakat, puasa ramadhan, haji, bahkan memiliki seorang qadli sebagai hakim pemutus. Justru di zaman kemerdekaan, Qadli ditiadakan, yang ada hanya Kepala Pengadilan Agama. Namun keadaan seperti ini lebih baik, karena Menteri Agama di awal kemerdekaan era Orde Lama dijabat oleh ulama yang alim dan dikelilingi para kiai Ahli Falak yang berhati-hati dalam menetapkan derajat tinggi hilal (imkanurru’yah), sehingga penetapan hilal Ramadhan sangat dipercaya. Berbeda dengan sekarang, dimana tokoh-tokohnya kurang alim, dan untungnya mereka masih agak menghormati ulama, wallahu a’lam bish-showab.  

– Peristiwa tahkim yang dibuat dalil GP. Ansor menerima kepemimpinan non muslim kurang tepat, karena tahkim itu perjanjian antar muslim (Sayyidina Ali RA dan Sayyidina Mu’awiyah), sehingga harus dipenuhi tidak boleh dikhianati, Rasulullah SAW bersabda: 

المسلمون على شروطهم      

Dengan menampilkan peristiwa tahkim, GP. Ansor berusaha menggiring umat Islam Indonesia ke pemahaman keliru, yaitu pemahaman pejuang Islam tempo dulu menerima keputusan “tidak disyaratkan kepala negara harus beragama Islam” dan seakan-akan membiarkan penghapusan tujuh kalimat dalam piagam Jakarta. GP. Ansor melandasi pemahaman ini dengan hujjah “al-wafa’ bil’ahdi”, yang memberi kesimpulan bahwa pejuang Islam telah melakukan inkonsistensi perjuangan atau mudahanah.

Padahal jika kita membaca sejarah kemerdekaan Indonesia, KH. A. Wahid Hasyim yang mewakili pan Islam, tidak pernah menyatakan demikian. Adapun beliau tidak menetang penghapusan tujuh kalimat tersebut karena alasan darurat (negara yang baru terbentuk dengan Presiden Sukarno dan Wapres M. Hatta), dan merasa ditelikung oleh kelompok pan Nasional dengan cara tidak diberi hak berpendapat apalagi berdialog. Bahkan pan Islam pada waktu itu diteror oleh Muhammad Hatta, pasalnya ia menerima informasi (yang katanya penting?) dari Perwira Angkatan Laut Jepang (tanpa nama!), bahwa pencantuman kata-kata “dengan kewajiban menjalankan syari’at Islam bagi pemeluk-pemeluknya” menyebabkan orang-orang Kristen di Indonesia Timur merasa didiskriminasi, menurut perwira itu kalangan Kristen lebih suka berdiri di luar Republik Indonesia kalau tujuh kata itu dipertahankan. Maka kemudian terjadilah penghapusan sepihak tujuh kalimat tersebut lima belas menit pasca Proklamasi. Innalillahi wa inna ilaihi roji’un, Maha Benar Allah dalam firman-Nya;

وتجعلون رزقكم أنكم تكذبون (الواقعة: 82) 

Diberi nikmat kemerdekaan Allah SWT, malah berani menghapus syi’ar-syi’ar agama-Nya! 

– Setelah penghapusan tujuh kalimat secara sepihak, umat Islam sebetulnya masih memperjuangkan syari’at Islam lewat Majlis konstituante yang kemudian dibubarkan oleh Presiden Sukarno, karena ia takut kemenangan diraih pan Islam, sebab argumen-argumen kaum muslimin tidak terbantahkan. 

Kredibilitas Keilmuan Perumus BM GP. Ansor patut dipertanyakan    

Muwalah yang diterangkan dalam tafsir Ibn Katsir itu artinya mua’asharoh bil jamil min haitsu dohir seperti dalam tafsir murah labid. Kesalahan terbesar GP. Ansor adalah memaknai muwalah dengan arti “pemimpin”. Tafsir semacam ini adalah contoh pengambilan tafsir ala liberal, karena yang dibahas oleh Imam Ibn Katsir dalam ayat tersebut adalah aspek hubungan sosial, bukan tentang kepemimpinan!   

– Dari ta’bir-ta’bir banyak yang mereka tampilkan, menurut kami yang paling cocok (benar) adalah kalamnya Syaikh al-Buthi dalam kitabnya, Fiqhus Sirah: 

رابعا: ولاية غير المسلمين، وإذا تأملنا في النتيجة التشريعية لهذه الحادثة وهي الآيات القرآنية التي نزلت تعليقا عليها علمنا أنه لا يجوز لأي مسلم أن يتخذ من غير المسلم وليا له أي صاحبا تشيع بينهما مسؤولية الولاية والتعاون. وهذا من الأحكام الإسلامية التي لم يقع الخلاف فيها بين المسملين، إذ الآيات القرآنية الصريحة في هذا متكررة وكثيرة والأحاديث النبوية في تأكيد ذلك تبلغ مبلغ التواتر المعنوي، ولا مجال هنا لسرد هذه الأدلة فهي معروفة غير خفية على الباحث. 

ولا يستثنى من هذا الحكم إلا حالة واحدة هي أن يلجأ المسلمون إلى هذه الموالاة بسبب شدة الضعف التي قد تحملهم كرها على ذلك، فقد رخص الله في ذلك إذ قال “لا يتخذ المؤمنون الكافرين أولياء من دون المؤمنين، ومن يفعل ذلك فليس من الله في شيء إلا أن تتقوا منهم تقاة” (آل عمران: 28)

“yang ke empat: Kepemimpinan non muslim, ketika kita mengkaji poin tasyri’iyyah ini, yakni beberapa ayat al-qur’an yang diturunkan sebagai catatan kepemimpinan non muslim, pasti kita yaqin bahwa tidak diperkenankan bagi siapapun orang muslim mengangkat non muslim menjadi wali (pemimpin) yang dipasrahi tanggung jawab kepemimpinan dan tolong menolong. Inilah salah satu hukum-hukum Islam yang tidak terjadi perkhilafan diantara umat Islam, karena ayat-ayat al-Qur’an berulang kali mencetuskan hukum tersebut dan juga dikuatkan oleh hadits-hadits nabawiyyah yang mencapai bilangan mutawattir ma’nawi. Namun di sini bukan tempatnya membeberkan dalil-dalil tersebut, karena sudah ma’lum bagi para pengkaji ilmu agama.Tidak ada pengecualian dari hukum ini kecuali satu kasus, yaitu ketika umat Islam terpaksa/ dharurat menyerahkan kepemimpinan kepada non muslim karena sebab lemah sekali. Ketika kondisinya demikian Allah SWT berfirman: “janganlah orang-orang mukmin mengambil orang-orang kafir menjadi wali dengan meninggalkan orang mukmin. Barang siapa berbuat demikian,niscaya lepaslah dia dari pertolongan Allah kecuali karena (siasat)memelihara diri dari sesuatu yang ditakuti mereka. Dan Allah memperingatkan diri (siksa)-Nya.Dan hnya kepada Allah kembali-Mu.

Dan dawuh Syaikh Ali Ash-Shabuni dalam kitabnya tafsir ayatil ahkam: 

(لا يتخذ المؤمنون الكافرين أولياء من دون المؤمنين، ومن يفعل ذلك فليس من الله في شيء إلا أن تتقوا منهم تقاة، ويحذركم الله نفسه وإلى الله المصير)

الحكم الثالث هل يجوز تولية الكافر واستعماله في شؤون المسلمين؟ استدل بعض العلماء بهذه الآية الكريمة على أنه لا يجوز تولية الكافر شيئا من أمور المسلمين ولا جعلهم عمالا ولا خدما كما لايجوز تعظيمهم وتوقيرهم في المجلس والقيام عند قدومهم، فإن دلالته على التعظيم واضحة. 

“Janganlah orang-orang mukmin mengambil orang-orang kafir menjadi wali dengan meninggalkan orang mukmin. Barang siapa berbuat demikian,niscaya lepaslah dia dari pertolongan Allah kecuali karena (siasat)memelihara diri dari sesuatu yang ditakuti mereka. Dan Allah memperingatkan diri (siksa)-Nya.Dan hnya kepada Allah kembali-Mu.”

“Hukum yang ketiga: apakah boleh menjadikan seorang non muslim wali dan pekerja dalam urusan orang-orang muslim? Sebagian ulama menjadikan ayat ini sebagai dalil atas tidak diperbolehkannya menjadikan seorang non muslim sebagai wali atas satu urusan pun diantara urusan-urusan orang-orang muslim serta tidak boleh menjadikan mereka pejabat dan pembantu dekat orang muslim, sebagaimana tidak boleh mengagungkan dan menghormati mereka dalam suatu majelis dan berdiri ketika mereka datang, karena berdiri itu jelas-jelas sebuah tindakan yang mengagungan mereka”

– Sebenarnya perumus BM GP. Ansor sangat paham sekali dengan literatur kitab turrots, dimana diantara Syuruthul Imamah adalah muslim. Lalu kenapa mereka berani berbuat lancang, dawuh-dawuh ulama salaf atau ulama kontemporer yang konsisten dengan kesalafan (Syaikh Buthi dan Syaikh Ali Ash-Shabuni) dimentahkan dan dikaburkan, bahkan menandinginya dengan “ta’bir-ta’bir semu”demi kepentingan duniawi uang dan jabatan!     

“Jika non muslim pada akhirnya terpilih, maka dihukumi sah secara agama dan konstitusi, yang berarti tidak dibenarkan menjatuhkannya tanpa alasan-alasan konstitusional”. Pernyataan demikian ini memicu keresahan umat Islam terlebih kepada warga muslim Jakarta yang sedang berjuang mati-matian melawan kepemimpinan non muslim si penista agama. Mereka sama saja menteror dan menohok kaum muslimin dan menjebaknya ke dalam pemahaman “BOLEH MEMILIH NON MUSLIM”. Inilah tujuan GP. Ansor-Liberal, mereka siap menvorsir pikiran untuk mencari pembenaran “Legalitas Kepemimpinan Non Muslim” demi iming-iming sesaat, uang (Dana Islam Nusantara?). Waspadalah!    

– Apakah hasil-hasil keputusan Bahtsul Masa’il ala anshor ini “batu loncatan” untuk merumuskan Fiqh Islam Nusantara? yang sebelumnya telah kami dengar ide-idenya sudah digagas di pertemuan Rembang. Fiqh Islam Nusantara adalah sebuah kajian anak-anak muda NU yang tidak didasarkan pada nash-nash ulama Ahlussunnah dalam kutubihim al-mu’tabarah, akan tetapi berdasarkan masholih mursalah  atau hanya berlandasan undang-undang negara, atau undang-undang PBB urusan HAM (seperti yang dipraktekkan Syaikh Abdul Hamid al-Athrasy dalam majlis fatwa al-Azhar). Bagai pinang dibelah dua, karena persis dengan gagasan Islam Nusantara dan ide-ide Islam Liberal. Inilah tiga serangkai mereka, yang ujung-ujungnya menjadikan Pluralisme -ala Bapak Pluralisme- sebagai agama. naudzubillah min dzalik!

– Yang menandatangani Bahtsul Masa’il GP. Ansor mayoritas wetonan  pesantren, mereka dulunya menimba ilmu di pesantren yang mengajarkan taqlid kepada ulama madzahibul arba’ah dan hormat kepada sesepuh dan masyayikh. Kemudian mereka beralih ke pendidikan akademik di luar negeri. Lalu kenapa keputusan Bahtsul Masa’ilnya berseberangan dengan kitab-kitab pesantren. Apa pesantren kini sudah tidak berghirah, atau memang mereka terpengaruh dunia akademik, atau mereka sudah dalam cengkeraman tangan-tangan Zionis, Salibis, Komunis? Naudzubillah min Dzalik.

– Sebenarnya kami sudah mengingatkan yang bertanda tangan di BM GP. Ansor ketika mereka mengeluarkan Prees Release dan hasil rumusan sementara yang diklaim “bocor ke publik”. Bukannya mencabut fatwa Tapi malah merilis hasil rumusan terakhir yang mana subtansinya tidak berbeda dengan yang pertama, bahkan ditambah-tambahi ibarat dan nalar berpikir yang tidak dikenal di dunia pesantren. Hal ini semakin menunjukkan bahwa mereka tetap berkeras hati aba wastakbara dan tidak mau dinasehati, dan justru mereka malah menularkan virus-virus Liberal, waspadalah,… wahai kaum santri!

-Semestinya pembahasan BM GP. Ansor tidak tematik, karena biasanya di LBM NU yang dibahtsu adalah Masa’il Waqi’iyyah bukan masalah pengandai-andaian, dan waktu penyelenggarannya juga tidak tepat, karena berdekatan dengan Pilgub Jakarta. Ini jelas modus dan memang sengaja untuk menjebak umat Islam. Kemudian tanggal perilisan keputusan Bahtsul Masa’il dan tanggal perumusan ibaratnya tidak sama, berarti rentan terjadi manipulasi, ini semakin menunjukkan bahwa manajemen organisasi GP. Ansor kocar-kacir dan amburadul.

– PBNU seharusnya menjatuhkan sanksi organisasi kepada GP. Anshor, yang terang-terangan melawan hasil Muktamar dan telah berbuat lancang terhadap LBM NU secara AD-ART. Penentangan kok Cuma dari Rois Syuri’ah dan Wakilnya. Dimanakah Tanfidziyah, kenapa tidak bertindak?. Ada apa dengan Sa’id Aqil Siradj dan Musthofa Bishri, apa keduanya terlibat kongkalikong?!       

– Pada poin G, mereka menyatakan “Terlepas dari perbedaan pendapat tentang diperbolehkannya memilih non muslim”. Ini yang dimaksud khilaf antar siapa, khilafnya Syaikh Abdul Hamid al-Athrasy, Quraisy Syihab….? sungguh khilaf yang ghoiru mu’tabar!    

– Bagaimana bisa seorang doktor yang namanya mirip tokoh-tokoh Syi’ah –Dr. Ali Haidar- dijadikan landasan pendapat oleh GP. Ansor?, apalagi giringan rumusannya dipoles dengan masalah “Tahkim”, ini jelas menyisakan tanda tanya!

– Beranikah mereka berfatwa membolehkan memilih Si Ahok, penista agama yang telah berkali-kali menistakan al-Qur’an, sholat, ulama-ulama Islam dan umatnya. Kalau berani,  berarti NU Liberal dan GP. Ansor-nya tidak takut menjadi munafiq yang ancamannya firman Allah SWT:  

إِنَّ الْمُنَافِقِيْنَ فِي الدَّرْكِ الْأَسْفَلِ مِنَ النَّارِ وَلَنْ تَجِدَ لَهُمْ نَصِيْرًا


Himbauan Untuk Umat Islam

– Umat Islam perlu mewaspadai Partai-partai yang menjalin kontrak politik dengan Calon-calon Pilgub, seperti Ridlwan Kamil, dengan meminta calon yang didukung untuk mengusung penguasa sekarang pada Pilpres 2019 mendatang. Kerja sama ini sudah tersusun rapi, dan terencana secara matang sekali. Kita sangat khawatir jika pada Pilpres 2019 calon Wapresnya lagi-lagi si Super Penista Agama, sebagaimana yang dulu terjadi pada Pilgub Jakarta. 

– Wahai umat Islam Jakarta, mari kita berjihad bersama melawan kepemimpinan non muslim penista agama dengan segala daya dan kekuatan yang kita miliki. Jika ditengah perjuangan ada diantara kita yang wafat karena diteror, maka insya’allah ia telah mati syahid. Terakhir, apapun usaha kita yang penting sudah melaksanakan kewajiban perjuangan untuk ahlussunnah wal jamaah dan demi kelestarian Islam era selanjutnya. Dengan berkah jihad ini, insya’allah anak cucu kita selamat dari pemurtadan atau peng-komunis-an! Amiin…

Wallahu A’lam bis-Showab

Sarang, 23 Maret 2017

(Pengasuh Ribath Darusshohihain PP. Al-Anwar)

Iklan

​POLITIK BERKEADILAN BAGIAN DARI FIQH ISLAM

Dalam karyanya berjudul Bada’I al Fawa’id (3:153) Ibnu al Qoyyim yang mengutip Ibnu ‘Aqil yang mengatakan bahwa politik (al siyasah) adalah suatu langkah dan tindakan yang diambil untuk mengantarkan umat manusia menuju kemaslahatan dan menghindari kerusakan dan bahaya, meskipun Nabi Saw tidak pernah menetapkan hal ini dan tidak ada wahyu yang pernah berkenaan dengannya. Dalam hal ini, yang penting adalah bahwa tindakan yang diambil tidak boleh bertentangan dengan berbagai ketentuan Syari’at Islam. Di kalangan al Khulafa’ al Rasyidin Juga terjadi semacam pembunuhan dan penyiksaan.orang yang mengetahui Sunnah Nabi tidak mengingkari hal ini, sekiranya tidak ada cara lain untuk mencapai kemaslahatan kecuali dengan membakar mushaf, maka mereka akan mengikuti pendapat seperti dan melakukaannya. Diriwayatkan bahwa khalifah Umar bin Khatthab Ra. pernah membuang dan mengasingkan Nashr bin Hajjaj ke luar kota Madinah.
Menurut hemat saya, hal seperti inilah yang menggelincirkan banyak orang. Inilah juga tempat dan medan sempit yang menyedihkan dan pertempuran sengit yang menyebabkan tidak sedikit orang mengbaikan nilai-nilai dan norma-norma. akibatnya, mereka berani melanggar batas-batas hukum (al Hudud), menyia-nyiakan hak dan kewajiban, dan memberi dorongan kepada orang-orang jahat untuk melakukan kerusakan. Mereka juga berani menjadikan syariat sebagai tata aturan yang sangat terbatas dan tidak cukup andal untuk memenuhi kemaslahatan manusia. Bahkan, mereka pun tidak segansegan menutup diri dari jalan-jalan kebenaran dengan mengikuti kebatilan. Lebih jauh lagi, mereka berani mengingkari jalan-jalan kebenaran, padahal mereka mengetahuinya secara pasti dan malahan mengajarkannya kepada orang lain sebagai rambu-rambu yang akan mengantar mereka menuju kebenaran. Mereka menduga bahwa jalan-jalan kebenaran itu bertentangan dengan kaidah-kaidah fiqh islam. tentu saja, yang membuat mereka bersikap picik adalah ketidakmampu-an dan kelemahan mereka dalam mengenali dan mengetahui fiqh islam (baca: syariat islam) yang sesungguhnya.

Ketika para pemimpin mengetahui situasi demikian dan bahwa urusan manusia akan bisa dibereskan dengan aturan tambahan berdasarkan apa yang mereka pahami dari syariat islam, mereka lalu membuat undang-undang politis-strategis untuk mengatur berbagai urusan duniawi. Karena pengetahuan mereka tentang syariat masih sedikit, bahkan jauh dari memadai ditambah peraturan-peraturan baru yang bersifat politis-strategis yang mereka buat sendiri, maka munculah bencana yang berkelanjutan, bahaya yang meluas, dan kekacauan dahsyat yang sulit diperbaiki. sementara itu, ada pula kelompok lain yang melekukan tindakan berlebihan. Mereka ini berani membuat kebijakan-kebijakan dan mengambil tindakan-tindakan yang sebenar-nya bertentangan dengan hukum-hukum Allah Swt dan Rasul-Nya. Kedua kelompok itu sama-sama bertolak dengan bekal ilmu dan pengetahuan yang minim  dan jauh dari memadai. Mereka bahkan tidak memehami tujuan utama diutusnya rasul. Allah Swt mengutus para rasul-Nya yang di bekali dengan kitab-kitabnya untuk mengajak manusia  berlaku dan bertindak adil serta hidup dalam keseimbangan.

Dengan keadilan atau keseimbangan langit dan bumi  bisa tegak berdiri dan aman. Jika simbol-simbol dan tanda-tanda keadilan tampak dan wajahnya demikian terang dengan cara dan teknis apapun, maka disitulah syariat allah ditegakkan, dan disanalah agama Allah Swt di hidupkan. Sebab, Allah Swt tidak membatasi jalan-jalan menuju keadilan. Berbagai dalil, bukti  dan tanda-tandanya tidak terbatas pada sesuatu dan meniadakan jalan-jalan lain yamg sebenarnya masih serupa atau bahkan lebih kuat darinya. Allah bahkan menegaskan bahwa tujuan utama dari jalan-jalan  (Ath- thuruq) allah adalah menegakkan keadilan dan agar manusia hidup dalam keadilan dan keseimbangan. Dengan demikian, jalan apapun yang ditempuh dan melahirkan keadian dan keseimbangan, maka hal itu merupakan wujud konkret dari pengamalan agama. Yang demikian itu tidak bertentangan dengan agama. Oleh karena itu, kita tidak dapat mengatakan bahwa politik berkeadilan bertentatangan dengan apa yang ditetapkan syariat allah. Justru, yang benar adalah politik sejalan dan cocok dengan syariat islam. Bahkan, politik berkeadilan adalah bagian dari fiqh islam (baca: syariat islam) itu sendiri. Kita menyebutnya sebagai “politik” (as-siyasah) mengikuti terminologi yang berkembang sekarang.

Politik berkeadilan adalah bagian dari fiqh islam yang benar. Bukankah Nabi Saw pernah menawan orang-orang yang melakukan adu-domba? Beliau juga pernah menghukum karena suatu tuduhan ketika tanda-tanda keraguan tampak dalam tuduhan itu. Oleh karena itu, jika ada yang melepaskan semua tertuduh dan membiarkan pergi, padahal ia mengetahui tertuduh sebagai pelaku kerusakan di muka bumi dengan merusak rumah-rumah dan banyak mencuri, dan yang melepaskan itu berkata, “Aku tidak akan menghukumnya kecuali bila ada dua orang saksi yang adil dan menyaksikan kejahatannya” maka kenyataanya ini bertentangan dengan politik yang ditetapkan oleh fiqh islam. Demikian pula, Nabi Saw pernah tidak memberikan bagian rampasan perang (al-ghanimah) kepada orang yang berkhianat dalam urusan ini, sementara Al-khulafa’ Al-rasyidin membakar semua barang milik orang itu. Nabi Saw pernah mengambil setengah harta orang yang tidak membayar zakat. Begitu pula beliau pernah melipatgandakan denda atas pencuri yang tidak dipotong tangannya dan menghukumnya dengan didera. Beliau juga pernah melipatgandakan denda atas orang yang menyebunyikan barang yang hilang. Begitu juga, Umar bin al-Khothob pernah membakar warung khamr dan tempat air yang berisi khamr.  Bahkan,  ia  pernah  membakar  gedung  milik  Sa’ad  bin  Abi 

Waqqash karena menutup diri dari rakyat di dalam gedung itu. Ia pernah menggunduli kepala Nasr bin Hajjaj dan bahkan mengusirnya. Umar juga pernah menyita harta pegawainya. Ia pernah menghimbau secara keras sejumlah shahabat untuk tidak banyak meriwayatkan hadis dari Nabi Saw agar mereka lebih mengfokuskan perhatiannya kepada Al-qur’an dan tidak menyia-nyiakannya.  

Masih banyak lagi contoh langkah-langkah politik yang ditempuh para sahabat dalam memimpin dan mengatur urusan kaum muslim. Politik tetap menjadi sunnah yang baik sampai hari kiamat, meskipun mungkin masih banyak oang yang mengingkari dan tidak mengakuinya. Misalnya saja, Abu Bakar ash-Shiddiq R.a. pernah membakar orang yang melakukan sodomi atau homoseksual. ‘Usman bin Affan juga pernah membakar seluruh mushaf Alqur’an yang bertentangan lisan Quraisy. ‘Umar bin al- Khaththab Ra. pun memerintahkan kaum muslim melakukan haji ifrad agar mereka melakukan umrah di bulan-bulan lain dan bukan di bulan-bulan haji. Akibatnya, Baitullah al-Haram senantiasa penuh diziarahi oleh jutaan kaum muslim berkat politik para sahabat dalam mengatur umat lewat penta’wilan atas Alqur’an dan sunnah Nabi Saw.

Ada sebagian orang yang mengklasifikasikan hukum menjadi syariat dan politik, sebagaimana orang mengklasifikasikan syari’at, dan tharekat, dan hakekat. Klasifikasi demikian adalah batil dan tidak benar. Sebab, yang disebut hakekat ada dua macam. Ada hakikat yang benar dan shahih. Inilah inti atau subtansi syari’at, tetapi bukan bagian kecil dari syariat. Ada juga hakikat batil yang bertentangan dengan syariat islam. Begitu juga politik. Ada dua macam politik, pertama: politik berkeadilan yang merupakan bagian dari syariat; kedua: politik yang batil dan bertentangan dengan syariat islam, seperti halnya pertentangan kedholiman dengan keadilan. Demikian pula halnya klasifikasi sebagian orang tentang bahasa agama dalam dua bagian, yakni syariat dan akal. Ini pun klasifikasi batil. Yang rasional justru ada dua: yang pertama: bagian agama yang sesuai dengan apa yang dibawa Nabi Saw; bagian ini tertentunya rasional, baik bahasan maupun teksnya, bukan bagian dari apa yang beliau bawa, sementara yang kedua: adalah bagian yang bertentangan dengan apa yang dibawa Nabi Saw. Bagian ini tentu saja tidak rasional, malah hanya berupa lamunan dan kayalan belaka, dan sekaligus ajaran yang batil. Namun. Menurut anggapan pencetusnya, bagian itu rasional, padahal sesungguhnya hanyalah kayalan semata dan ajaran batil yang mencampurkan kebenaran dengan kebatilan. 

Demikian pula halnya masalah qiyas atau analogi (al-qiyas) dan syariat (asy-syar’). Qiyas yang shahih adalah teks-teks rasional, sementara qiyas yang batil bertentangan dengan syariat. Ini adalah masalah perbedaan antara ahli waris para nabi dengan mereka yang bukan. Akar perbedaannya hanyalah satu, yakni keumuman risalah islam dengan sunnah Nabi Saw. Untuk menjelaskan segala sesuatu yang dibutuhkan oleh seluruh hamba Allah Swt dalam hal ilmu pengetahuan, tradisi, dan amal yang memberikan kemaslahatan kepada mereka dalam kehidupan di dunia ini dan di akhirat nanti. Kita membutuhkan hanya Nabi Saw. 

Selain itu,kita juga memerlukan orang yang akan menyampaikan kita kapada Beliau untuk mangenali lebih jauh apa yang Beliau bawa. Barang siapa belum memiliki pikiran yang meresap dalam hati seperti pikiran dan keyakinan ini, maka ini berarti bahwa belum benar-benar mantab keimanannya kepada diri Nabi Saw. Padahal, wajib hukumnya bagi setiap mukallaf mengimani keumuman risalah Nabi Saw dalam hal-hal seperti ini. Sebagaimana tidak ada seorang pun bisa menghindar dari keimanan dari risalah Nabi Saw, demikian pula tidak ada sedikit pun peluang bagi siapa pun untuk  tidak mengakui sunnah Nabi Saw dan tidak mengamalkan apa yang beliau bawa. Apa yang beliau bawa sudah cukup dan kaum muslim memerlukan hanya sunnah Nabi Saw. Sesungguhnya, orang masih memerlukan selain sunnah Nabi Saw hanyalah orang yang nasibnya tidak mujur, tidak memahami, dan tidak mengenal Beliau karena kurangnya perhatian dan kepedulian, kebutuhan akan sunah Nabi Saw pun hanya sedikit sekali. Padahal sesudah Nabi Saw wafat, bahkan burung-burung yang beterbangan di angkasa pun menyebut ilmu Beliau dan mengenal Beliau sangat baik. Beliau telah mengajarkan kepada kaum muslim segala sesuatu, termasuk adab-adab di kamar kecil, saat menggauli istri, tidur dan bangun dari tidur. Nabi Saw juga mengajari mereka cara duduk, makan, minum, naik dan turun dari kendaraan. Beliau juga menjelaskan ihwal ‘arasy, kursi, malaikat, jin, surga dan neraka. Tidak lupa Beliau juga menerangkan kepada umatnya ihwal hari kiamat dan hal-hal lain yang berhubungan dengannya. Beliau menjelaskan semuanya itu seakan-akan melihat dengan mata sendiri. Beliau mengajari umatnya dan mengenalkan mereka pada Tuhan mereka dengan pengenalan dan penjelasan demikian sempurna sampai-sampai seolah-olah mereka bisa melihat Allah dengan segala sifat kesempurnaan dan keagungan-Nya. Beliau juga mengenalkan kepada umatnya masing-masing dan apa yang terjadi pada mereka bersama kaumnya. Uraian dan penjelasan Nabi Saw .demikian gamblang sampai-sampai umat-umat nabi terdahulu seakan hadir di hadapan mereka. Beliau mengenalkan kapada umatnya jalan-jalan kebaikan dan kejahatan, keselamatan dan kecelakaan mulai dari urusan yang paling kecil sampai urusan yang paling besar.

Seluruh penjelasan Nabi Saw kepada kaum muslim tidaklah seperti penjelasan yang pernah diberikan oleh seorang nabi pun kepada umat mereka sebelumnya. Beliau juga tidak lupa mengenalkan umatnya tentang kematian dan apa yang akan terjadi sesudah kematian di alam Barzakh, berikut apa yang akan dialami dan didapatkan oleh mereka yang mati, baik berupa kenikmatan abadi maupun kesengsaraan yang tiada henti. 

Semua kenikmatan atau kesengsaraan itu akan dirasakan oleh ruh dan badan manusia sekaligus. Seluruh penjelasan dari Nabi Saw kepada umatnya ini dirasa demikian jelas dan bahkan mereka seakan-akan menyaksikannya dengan mata kepala sendiri. Beliau menjelaskan kepada umatnya dalil-dalil tauhid, kenabian, dan kehidupan di dalam akhirat. Dijelaskan ihwal jawaban atas berbagai kelompok yang tetap dalam kekufuran dan kesesatan dengan penjelasan sangat gamblang, sehingga mereka yang mengetahui penjelasan itu akan merasa puas. Bahkan, mereka sama sekali tidak memerlukan penjelasan lagi dari siapa pun. 

Kemudian, Nabi Muhammad Saw juga memperkenalkan umatnya taktik dan strategi perangan, berbagai cara menghadapi musuh, dan metode-metode perangan yang akan membuahkan kemenangan. Jika apa yang beliau jelaskan difahami betul dan dipraktekkan dengan benar, maka tidak akan ada seorang musuh pun yang berani menghadapi kaum muslim untuk selama-lamanya. Beliau menunjukkan kepada umatnya berbagai tipu daya iblis dan jalan-jalan yang biasa dilaluinya untuk menjerumuskan kaum muslim. Tidak lupa beliau juga memperkenalkan cara-cara untuk menyelamatkan diri dari berbagai tipu muslihat iblis berikut metode-metode yang tepat untuk menolak bujuk rayunya dengan cara yang sederhana, mudah difahami, dan tidak sulit diamalkan. Dengan cara seperti itu, Nabi Saw jelas telah memberikan arahan dan petunjuk kepada umatnya. Seandainya saja mereka memahami dan mengikuti petunjuk beliau dengan benar, pastilah mereka akan mampu menghadapi berbagai problem kehidupan di dunia ini secara konsisten yakni tetap tegak dalam kebenaran, tidak akan celaka, dan rugi untuk selama-lamanya. 

Ringkasnya, Nabi Saw telah datang kepada umat manusia dengan membawa apa yang akan membuat hidup mereka bahagia di dunia dan di akhirat dengan segala sisinya. Setelah itu, Allah Swt tidak perlu mengutus lagi seorang rasul dan nabi sesudah beliau. Oleh karena itu, umat manusia tidak lagi membutuhkan siapa pun selain Nabi Saw yang agung. Allah Swt pun menutup pintu kenabian dan tidak lagi mengutus seorang nabi atau rosul sesudah Beliau. Sebab, umat manusia sudah merasa cukup dengan kehadiran beliau, Nabi Muhammad Saw. Lantas, bagaimana mungkin ada anggapan bahwa syariat Nabi Saw yang demikian lengkap masih memerlukan politik yang bersumber darinya? Atau, ada pandangan bahwa fiqh islam (baca: syariat islam) masih membutuhkan sebuah hakikat selain dirinya, qiyas selain dalam syariat islam; atau masih memerlukan ajaran-ajaran rasional di luar dirinya? Barangsiapa mempunyai anggapan seperti itu, maka ia sama saja dengan orang yang masih membutuhkan seorang rosul lain sesudah Nabi Saw. Tentu saja, penyebab utamanya adalah bahwa ia belum begitu mengenal dan memahami apa yang dibawa oleh Nabi Saw. Dan Allah pun berfirman: 

لَمْ يَكْفِهِمْ أَنَّا أَنْزَلْنَا عَلَيْكَ الْكِتَابَ يُتْلَى عَلَيْهِمْ إِنَّ فِيْ ذَلِكَ لَرَحْمَةً وَذِكْرَىْ لِقَوْمٍ يُؤْمِنُوْنَ. [سورة العنكبوت: 51] 

“Dan apakah tidak cukup bagi mereka bahwasanya kami Telah menurunkan kepadamu Al Kitab (Al-Qur’an) sedang dia dibacakan kepada mereka? Sesungguhnya dalam (Al-Qur’an) itu terdapat rahmat yang besar dan pelajaran bagi orang-orang yang beriman”(QS. Al Ankabut: 51)

وَيَوْمَ نَبْعَثُ فِيْ كُلِّ أُمَّةٍ شَهِيْدًا عَلَيْهِمْ مِنْ أَنْفُسِهِمْ وَجِئْنَا بِكَ شَهِيْدًا عَلَى هَؤُلاَءِ وَنَزَّلْنَا عَلَيْكَ اْلكِتَابَ تِبْيَانًا لِكُلِّ شِيْءٍ وَهُدًى وَرَحْمَةً وَبُشْرَى لِلْمُسْلِمِيْنَ. [النحل: 89]

“(dan ingatlah) akan hari (ketika) kami bangkitkan pada tiap-tiap umat seorang saksi atas mereka dari mereka sendiri dan kami datangkan kamu (Muhammad) menjadi saksi atas seluruh umat manusia. dan kami turunkan kepadamu Al Kitab (Al-Quran) untuk menjelaskan segala sesuatu dan petunjuk serta rahmat dan kabassr gembira bagi orang-orang yang berserah diri” (QS. Al Nah: 89)

إِنَّ هَذَا الْقُرْآنَ يَهْدِيْ لِلَّتِيْ هِيَ أَقْوَمُ وَيُبَشِّرُ الْمُؤْمِنِيْنَ الذِيْنَ يَعْمَلُوْنَ الصَّالِحَاتِ أَنَّ لَهُمْ 

أَجْرًا كَبِيْرًا [سورة الإسراء: 9].

“Sesungguhnya Al-Qur’an Ini memberikan petunjuk kepada (jalan) yang lebih lurus dan memberi khabar gembira kepada orang-orang Mu’min yang mengerjakan amal saleh bahwa bagi mereka ada pahala yang besar”(QS. Al Isra’: 9)

يَاأَيُّهَا النَّاسُ قَدْ جَاءَتْكُمْ مَوْعِظَةٌ مِنْ رَبِّكُمْ وَشِفَاءٌ لِمَا فِي الصُّدُوْرِ وَهُدًى وَرَحْمَةٌ لِلْمُؤْمِنِيْنَ

“Hai manusia, Sesungguhnya Telah datang kepadamu pelajaran dari Tuhanmu dan penyembuh bagi penyakit-penyakit (yang berada) dalam dada dan petunjuk serta rahmat bagi orang-orang yang beriman”(QS. Yunus: 57)

Bagaimana mungkin sebuah “kitab” bisa menyembuhkan apa yang ada dalam dada manusia, padahal ia bahkan tidak bisa memenuhi sepersepuluh kebutuhan manusia? Demikian kira-kira menurut pandangan mereka yang batil. Sungguh, ini sangat aneh. Sebelum diciptakan undang-undang (positif) ini dan dikeluarkannya berbagai pendapat ini, berikut berbagai analogi rasional, dan pandangan kaum intelektual andal ini, apakah para sahabat Nabi Saw dan generasi sesudah mereka mengikuti petunjuk-petunjuk tekstual Al-Quran dan sunnah Nabi, ataukah mereka mengikuti berbagai peraturan dan undang-undang selain itu sampai kemudian datang kelompok intelektual mutakhir yang lebih cerdas ketimbang mereka dan lebih benar? Tentu saja, pikiran seperti ini tidak pernah diduga oleh seorang dengan kecerdasan sederhana sekalipun dan masih memiliki rasa malu. Kita berlindung kepada Allah Swt  dari kehinaan seperti itu. Akan tetapi, jika ada orang yang dianugerahi pemahaman yang baik untuk mengambil ilmu dari Alquran dan sunnah Nabi, pastilah ia tidak akan memerlukan lagi kitab undang-undang selain keduanya. Inilah karunia Allah Swt yang dianugerahkan kepada siapa saja yang dikehendaki-Nya. Dan Allah Swt mempunyai anugerah yang besar.  
**Kajian Islam KH. M. Najih Maimoen

FIQH ISLAM: ​Komprehensif dan Memenuhi Tuntutan Hidup Manusia

Fiqh Islam berbeda jauh dari hukum-hukum dan undang-undang buatan manusia, karena meliputi tiga dimensi hubungan dalam hidup manusia: 
– Hubungan manusia dengan Tuhannya 

– Hubungan manusia dengan dirinya sendiri 

– Hubungan manusia dengan masyarakat. 

Lebih jauh lagi, fiqh Islam diperuntukkan bagi kemaslahatan hidup di dunia dan di akhirat. Dan cakupan fiqh Islam meliputi wilayah agama dan negara. Fiqh Islam berlaku umum untuk seluruh umat manusia dan bersifat abadi sampai hari kiamat. Hukum-hukumnya saling menguatkan dan mengukuhkan satu sama lain, baik dalam bidang akidah, ibadah, etika maupun muamalah, demi mewujudkan puncak keridlaan dari Allah Swt, ketenangan hidup, keimanan, kebahagian, kenyamanan dan keteraturan hidup bahkan memberikan kebahagian kepada dunia secara keseluruhan. Semua itu dilakukan melalui kesadaran hati nurani, rasa tanggung jawab atas kewajiban, perasan selalu dipantau oleh Allah dalam seluruh sisi kehidupan, baik ketika sendirian maupun di hadapan orang lain, serta dengan memuliakan hak-hak orang lain.

Untuk mewujudkan cita-cita luhur dan tujuan mulia seperti itu, diciptakanlah hukum-hukum yang bersifat praktis, yakni dalam wilayah fiqh. Hukum-hukum fiqh ini berhubungan dengan semua hal yang keluar dari seorang mukallaf, baik berupa ucapan, perbuatan dan transaksi maupun pengelolaan barang. Semuanya itu meliputi dua jenis hukum berikut ini:

Hukum-Hukum Ibadah : 

Hukum-hukum ini meliputi hukum-hukum bersuci, shalat, puasa, haji, zakat, nadzar, sumpah dan berbagai ibadah lainnya yang bertujuan mengatur hubungan manusia dengan Tuhannya. Dalam Al-Quran sendiri terdapat 140 ayat yang menerangkan masalah ibadah.

Hukum-Hukum Muamalah

Hukum-hukum muamalah meliputi berbagai macam transaksi, pengelolaan barang dagangan, hukuman, perdata dan pidana, jaminan dan sebagainya yang bertujuan mengatur hubungan sesama manusia, baik secara individual atau kolektif. Hukum-hukum muamalah meliputi cabang-cabang berikut ini:

– Hukum-hukum perdata (Ahkam al-Ahwal al- Syakhshiyyah). Hukum ini mencakup hukum-hukum dalam keluarga sejak awal hingga akhir, seperti: pernikahan, perceraian, garis keturunan, nafkah dan warisan, dan sebagainya bertujuan mengatur hubungan suami istri dan kerabat masing-masing.

– Hukum-hukum sipil (al-Ahkam al-Madaniyyah). Hukum ini berkaitan dengan muamalah individu satu sama yang lain, kerja sama saling menguntungkan, seperti jual beli, sewa menyewa, pegadaian, ansuransi, koperasi, utang piutang, memenuhi komitmen dan sebagainya yang bertujuan mengatur hubungan beberapa individu dalam bidang materi dan memelihara hak. Berkenaan dengan hukum-hukum sipil ini, secara keseluruhan di temukan ada sekitar 70 Ayat dalam Al-Quran.

– Hukum-hukum pidana (al-Ahkam al-Jina’iyyah). Hukum ini berkaitan dengan apa yang dilakukan oleh seseorang berupa tindakan kriminal berikut hukumnya. Hukum-hukum ini bertujuan memelihara kehidupan manusia dan hartanya, harga-diri atau kehormatannya, dan juga hak-haknya. Demikian pula, hukum-hukum ini juga mengatur hubungan antara pihak yang dirugikan dengan pelaku kejahatan, hubungannya dengan umat, dan juga memelihara ketertiban dan keamanan. Ditemukan sekitar 30 ayat tentang hukum-hukum pidana dalam Al-Quran.

– Hukum-hukum acara pidana (Ahkam al-Murafa’at au al-Ijza’at al-Madaniyyah au al-Jina’iyyah). Hukum ini berkenaan dengan peradilan, dan cara-cara penetapan salah-benar melalui kesaksian, dakwaan, sumpah, keterkaitan hubungan, dan sebagainya. Hukum-hukum ini dimaksudkan untuk prosedur hukum-hukum acara pidana demi menegakkan keadilan manusia. Ditemukan sekitar 20 ayat tentang hukum-hukum ini dalam Al-Quran.

– Hukum-hukum konsitusi (al-Ahkam al-Dusturiyyah). Hukum ini berkaitan dengan sistem hukum dan prinsip-prinsipnya. Hukum-hukum ini bertujuan menentukan hubungan antara pihak yang mengadili (al-hakim) dengan pihak yang diadili (al-mahkum). Demikian pula, berbagai aturan dalam hukum-hukum ini bertujuan menentukan segenap hak dan kewajiban individu dan kelompok.

– Hukum-hukum internasional (al-Ahkam ad-Duwaliyyah ). Hukum ini berkaitan dengan pengaturan hubungan negara Islam dengan negara-negara lain di dunia dalam keadaan perang maupun damai. Hukum-hukum ini juga mengatur hubungan kaum non-muslim dengan pemerintah islam serta meliputi masalah jihad dan berbagai perjanjian yang bertujuan membatasi macam dan bentuk hubungan dan kerjasama serta sikap saling menghargai di antara berbagai negara di dunia.

– Hukum-hukum ekonomi dan keuangan (al-Ahkam al- Iqtishadiyyah wa al- Maliyyah). Hukum-hukum ekonomi ini berhubungan dengan hak-hak individu dalam urusan materi dan komitmen mereka dalam sistem moneter. Hukum-hukum ini mengatur hak-hak negara dan berbagai kewajiban moneternya. Di atur juga tentang sumber-sumber pemasukan kas negara dan penggunaannya. Hukum-hukum ini juga mengatur berbagai transaksi keuangan antara orang-orang kaya dan orang-orang miskin dan juga hubungan antara negara dan setiap individu rakyatnya. Dalam hukum-hukum ini, diatur juga ihwal serta kekayaan negara secara umum maupun khusus seperti masalah hasil perang (ghanimah) dan sebagainya, barang tambang, baik yang belum diolah maupun sudah di olah, dan sumber-sumber penghasilan alam yang di usahakan, dan sebagainya. Hukum-hukum ini juga berlaku pada harta masyarakat seperti zakat, sedekah, nadzar, harta pinjaman dan harta keluarga semisal nafkah, warisan, wasiat. Diatur pula ihwal harta milik individu semisal keuntungan dari hasil perdagangan, sewa menyewa, koperasi, keuntungan dari jasa yang di benarkan oleh syari’at, hasil produksi, dan juga sanksi materi seperti kafarat, fidyah dan denda.

– Akhlak (al-Akhlaq) atau etika (al-Adab). Berupa perilaku terpuji dan perilaku tercela. Wilayah etika inilah yang membatasi kebinalan dan kebuasan manusia serta mengantarkannya menuju suasana dan nuansa yang penuh keutamaan di antara manusia, saling menolong, dan saling menyayangi sesama mereka. Dan yang menyebabkan cakupan wilayah fiqh meluas adalah hadits-hadits yang mengupas berbagai permasalahan ini.
**Kutipan dari buku KH. M. Najih Maimoen, Fiqh Islam: Antara Fakta dan Sejarah

TERKAIT KEPUTUSAN BAHTSUL MASA’IL GP. ANSOR, INI TANGGAPAN KIAI NAJIH

PERNYATAAN SIKAP
Tentang
Hasil Halaqoh Bahtsul Masa’il Kiai Muda 

Pimpinan Pusat GP. Ansor “Kepemimpinan Non Muslim di Indonesia” 
بسم الله الرحمن الرحيم
الحمد لله رب العالمين، أشهد أن لا إله إلا الله وأشهد أن محمدا عبده ورسوله، اللهم صل وسلم على سيدنا محمد وعلى آله وأصحابه أجمعين، أما بعد:

  

Kami salah satu alumnus Abuya Almaliki dengan ini menyatakan bahwa keputusan Halaqoh Bahtsul Masa’il GP. Ansor tentang “Kepemimpinan non-Muslim” sangat menyakiti hati kami. Karena keputusan tersebut memakai dawuhnya Abuya al-Maliki dari kitab Beliau yang berjudul Muhammad al-Insan al-Kamil. Seolah-olah memberi kesan bahwa guru kami Abuya al-Maliki Rahimahullah selaras dengan keputusan GP. Ansor yang sesat-menyesatkan dalam agama, karena: 
1. Kami bersaksi bahwa Beliau tidak pernah membolehkan kepemimpinan non-Muslim atas umat Islam. Jadi, pemuda-pemuda GP. Ansor telah lancang dan khianat mencatut ibarat dari kitab Beliau, Muhammad al-Insan al-Kamil. Semoga mereka dibalas setimpal oleh Allah SWT atas kelancangan dan افتراء tersebut (mendapat kualat besar), Amin.   
2. Mereka mengatakan ada khilaf dalam memilih pemimpin non-Muslim. Sebenarnya yang dikatakan khilaf oleh mereka itu bukan “khilaf ulama” yang ditutur dalam kutub mu’tabarah, akan tetapi khilaf antara organisator-organisator dalam Jamiyyah NU dan Muhammadiyah yang tidak berlandaskan kutub mutabarah, padahal dasar NU adalah Madzahibul Arba’ah. Para organisator sekarang rentan dilemahkan imannya dengan uang. Walaupun Said Aqil membawa Harry Tanoe ke pondok-pondok, ini jelas sesat menyesatkan, dan tidak bisa dianggap khilafiyah mu’tabarah.
3. Para ulama ahli tafsir yang berbeda pendapat mengenai makna Auliya itu hanya dalam koridor “PEMAKNAAN” lafadz Auliya’ saja, tidak ada dari mereka yang sampai melegitimasi kepemimpinan non-Muslim. Karena memang mengamalkan kaidah ilmu tafsir Al-Ibroh bi Umumil lafdzi la bikhususi as-Sabab, jadi praktis tidak ada kontradiksi antara pendapat mereka. 
Adapun ibarat kutub mu’tabarah yang dibuat landasan keputusan Muktamar NU di Lirboyo itu bahasanya memakai kata TAULIYATUL KAFIR (Menguasakan urusan kenegaraan kepada non-Muslim Ahl Dzimmah dengan mekanisme kontrol efektif, ketika dari pihak muslim tidak ada yang kompeten, dan ini menjadi hak prerogatif Imam Azhom) dan “ISTI’ANAH BIL KAFIR ALAL MUSLIM” (meminta pertolongan kafir untuk menguasai muslim, hal ini diperbolehkan ketika dharurat). 
Jadi sekali lagi kami tegaskan dalam ibarat-ibarat tersebut tidak ada yang memberi pemahaman legalnya seorang muslim MEMILIH PEMIMPIN NON-MUSLIM. Jika pemuda-pemuda  GP. Ansor tetap saja beristidlal dengan perkhilafan ulama ahli tafsir -padahal hanya bohong belaka- atau bahkan mengikuti pendapatnya Quraisy Syihab, maka semakin memperjelas keberadaan mereka semua (GP. Ansor, Quraisy Syihab dan para pengikutnya) yang tidak tahu menahu fakta adanya Al-Ghazwu as-Siyasi wa ats-Tsaqofi wa al-Iqtishodi bada Ghazwil Fikri, dan tidak paham Mafhum Aula-Qiyas Aulawi. 
4. Pada halaman 2, mereka mengatakan: 
“GP Ansor melalui kiai-kiai muda bermaksud merumuskan istinbath hukum Islam yang dapat menjadi referensi bagi masyarakat muslim untuk menunaikan hak politiknya dalam memilih pemimpin”. 
Bahasa seperti ini bukan bahasa kiai-kiai NU kuno, justru ini bahasanya orang-orang moderen yang berlagak mujtahid. Sebab kiai-kiai kuno dahulu menjawab permasalahan keagamaan dengan ibarat-ibarat kutub mutabarah, semisal ketika membahas kepemimpinan, para kiai kuno tersebut menyebutkan ibarat ulil amri, syuruthul imam, khilafah dst. Bukan malah pakai tabir urusan Mu’asyarah Jamilah ma’al Kuffar atau Shulh Hudaibiyah yang keduanya jelas tidak nyambung dengan permasalahan yang dibahas.
Perlu kami terangkan Mu’asyarah Jamilah ma’al Kuffar itu hanya sebatas interaksi sosial seperti bertetangga, tidak sampai MEMBERI DUKUNGAN kepada non-Muslim dalam pencalonan, buktinya dalam terusan ibaratnya menggunakan kalimat Bihasabi azh-Zhahir”, yang kemungkinan redaksi benarnya “Min Haitsu azh-zhahir”.     
5. Kalau mereka memakai ta’bir jawaban dari sejarah Rasulullah SAW dan analisa-analisanya, kenapa GP. Ansor sampai mengulang tabir guru kami sebanyak dua kali?, Apa mereka bermaksud memberi kesan bahwa murid Abuya tidak sejalan dengan Maha Guru Mereka?! Padahal kitab-kitab sirah selain Muhammad al-Insan al-Kamil juga banyak, dan lagi yang disampaikan oleh Abuya dalam kitabnya itu hanya menerangkan hikmah-hikmah dan faidah-faidah perjanjian Sulh Hudaibiyah, beliau sama sekali tidak membahas hukum kepemimpinan non-Muslim. Dalam kitab Beliau yang lain yang berjudul Tarikhul Ahwal wal Hawadits, juga dijelaskan Diantara hikmah Shulh Hudaibiyah, Nabi Muhammad SAW mendapat kesempatan berdakwah ke selain Quraisy Makkah, bahkan mengirim surat-surat kepada para penguasa dunia”.
6. Entah disengaja atau tidak, dalam rumusan Bahtsul Masa’ilnya, pemuda-pemuda GP. Ansor ketika mengutip ibarat guru kami menulis lafadz “مواقته” dan “لاخطلاتهم” padahal teks aslinya “مواقفه” dan “لاختلاطهم”, yang membahayakan mereka menulis “فأذن الله المشركين” padahal teks sebenarnya “فأذلّ الله المشركين”, dan yang paling fatal mereka membuang istisyhad Abuya al-Maliki dengan firman Allah SWT: 

ولله العزة ولرسوله وللمؤمنين

Padahal ayat ini sangat shorih menjelaskan umat Islam tidak boleh dipimpin non-Muslim, apalagi memilihnya, ولكن المنافقين لا يعلمون. 
7. Jika ada oknum dari GP. Ansor yang mengatakan hasil kajian Bahtsul Masa’il tersebut belum final, bahkan mengaku ada pelintiran dari wartawan, ini jelas tidak sesuai dengan fakta. Karena kami menerima selebarannya dari satu peserta Bahtsul Masail GP. Ansor. Mereka bahkan tidak mengakui substansi fatwa membolehkan memilih calon pemimpin non-Muslim, dan menyatakan bahwa kebolehan memilih non-Muslim sebagai pemimpin itu tidak bertentangan dengan Islam Ahlussunnah wal Jamaah, ini jelas kebohongan di atas kebohongan. 
Demikian pernyataan sikap ini dibuat sebagai wujud kepedulian kami terhadap kemurnian aqidah dan nash-nash Al-Quran, al-Hadits, dan Aqwalul Ulama min Ahlissunnah wal Jamaah, khususnya guru kami Abuya  As-Sayyid Muhammad Alawi al-Maliki, demi keselamatan umat Islam dan bangsa Indonesia. 
                          Sarang, 14 J. Akhir 1438 H. 

                                          13   Maret  2017 M.
(KH. M. Najih Maimoen)

Pengasuh Ribath Darusshohihain

​ABAH NAJIH: “KALAU MASIH MENGAKUI SALAF, INSYALLAH SELAMAT”

Demikian yang disampaikan oleh KH. Muhammad Najih Maimoen ketika menjadi narasumber pertama dalam acara Halaqah Pengasuh Pondok Pesantren bertajuk “Pondok Pesantren sebagai Pilar Tafaqquh Fiddin dengan Mengkaji Kitab Kuning” yang diselenggarakan di Hotel Muria pada hari Kamis-Jumat tanggal 25-26 Jumadal Ula 1438 H/22-23 Februari 2017 M. Acara tersebut adalah hasil kerjasama MUI Provinsi Jawa Tengah dan Universitas Sultan Agung (UNISSULA) dan dihadiri oleh ratusan kyai dari berbagai pondok pesantren di Jawa Tengah. Selain Abah Najih, ada tiga narasumber lain yang dihadirkan yaitu KH. Taufiqurrahman Hakim dari Pondok Pesantren Amstilati Jepara, KH. Mukhlas, dan KH. Harits Shadaqah.
Kampus Islam Zaman Dahulu Bisa Baca Kitab

Syaikhina Muhammad Najih mengawali dengan membahas kondisi kampus Islam zaman dulu yang sebelumnya sempat disinggung oleh moderator. Beliau menuturkan bahwa zaman dulu kampus Islam begitu semangat berbahasa Arab dan dosen-dosennya biasa belajar dan membaca kitab. “Para dosen bisa membaca dan paham kitab salaf meskipun tanpa I’rab namun tidak maksimal, sama halnya seperti orang Arab. Hal ini karena dzauq (daya rasa) mereka yang terbiasa berbahasa Arab,” kata beliau.

Beliau bercerita bahwa Kyai Suyuthi, adik dari Mbah Baidhawi Lasem dulu ketika membaca kitab juga tidak memakai Nahwu, tapi memahami isinya. “Kalau mbah dari Ibu saya, Mbah Baidhawi, kalau dia ahli Nahwu. Beliau sebelum ke Makkah belajar di Sarang, dan Sarang dari dulu adalah gudangnya Nahwu, kemudian mondok di pesantren di Jamsaren. Disana beliau sudah mengajar kitab Mughni al-Labib. Tapi kalau Kyai Suyuthi itu fiqihnya yang kuat dan pintar bahtsul masail. Mbah Baidhawi kalau bahtsul masail di NU, yang menjadi lisannya adalah Kyai Suyuthi. Memang ada orang bisa bahasa Arab tapi dengan dzauq dan malakah saking biasanya membaca dan mendengar bahasa Arab atau kitab-kitab,” tutur beliau.

Abah Najih dapat cerita lagi dari Pak Fajar seorang dokter di Sarang, bahwa dulu tahun 80-an kampus-kampus di Semarang masih banyak yang bisa baca kitab. Banyak alumni pesantren yang jadi mahasiswa. “Jadi kampus kayak pesantren, mahasiswa kayak santri. Belum begitu banyak orangnya, saling mengenal.”

Gaya hidup seperti inilah yang menurut Abah Najih menjadi nikmat dan indahnya pesantren. “Bisa belajar dan mengaji, banyak kenalan, mukhalathah dan mu’asyarah dengan baik, dan merasa ada pembimbing. Inilah indahnya pesantren zaman dulu. Karena itu, mari pesantren ini kita hidupkan, agar keistimewaan dan kebaikan yang ada di kita ini tidak hilang. Hasilnya di pesantren sangat dirasakan mungkin sangat dibutuhkan.”

Syaikhina Muhammad Najih mengajak kepada hadirin untuk sama-sama menghidupkan kembali pesantren salaf atau pesantren yang ngaji dan tidak cukup hanya bisa bahasa Arab. “Maaf, mana pesantren bahasa Arab yang bisa baca kitab, apalagi yang ngalim. Ini bukan menyindir, tapi kenyataan yang ada yang saya tahu.”

Yahudi Nasrani Hanya Memetik-metik Ayat Kitab Mereka

Setelah muqaddimah diatas, Syaikhina Muhammad Najih lalu membacakan makalah yang beliau susun bersama dengan para santri Ribath Darusshohihain yang topiknya adalah pentingnya sistem sanad sebagai mata rantai penghubung ajaran Ahlussunnah wal Jamaah. Pada waktu pembacaan makalah tersebut ada beberapa topik lain yang beliau singgung, diantaranya adalah tentang perilaku Yahudi Nasrani.

Abah Najih menjelaskan bahwa Yahudi Nasrani tidak melestarikan kitab suci yang diturunkan kepada mereka dan hanya memetik ayat-ayat yang sesuai dengan kepentingan mereka. “Kita sekarang juga begitu. Mengajar Al-Quran tidak semuanya. Ngaji Al-Quran mestinya harus sepenuhnya. AlhamduliLlah, di Jawa masih ada Tahfizhul Quran, ini lumayan. Kebanyakan sekarang yang ngajar Al-Quran perempuan-perempuan yang sering haid. Yang dulu kyai-kyai desa yang mengajar Al-Quran sudah hilang. Tahfizh Al-Quran kebanyakan perempuan, akhirnya kadang-kadang dibuat bisnis saja sama suaminya,” ujar beliau diiringi suara tawa dari para hadirin.

Ngaji Sanad agar Hadits Tidak Disusupi Ahli Bid’ah

Selanjutnya, Syaikh Muhammad Najih menyinggung soal pentingnya mengaji sanad atau jalur keilmuan dari kitab-kitab yang dipelajari baik kitab Hadits atau yang lain.

“Orang dahulu mengkaji sanad supaya jangan sampai Hadits disusupi ahli bid’ah dari membuat hadits-hadits palsu. Sekarang bukan zamannya riwayat hadits secara komplik, maka mari mencari Hadits Shahih menurut ulama kita yang agak longgar seperti al-Zarkasyi, al-Iraqi, Ibn Hajar al-Asqalani, Ibn Jama’ah, dan al-Suyuthi. Bukan dari ulama yang tasyaddud (terlalu ketat) seperti al-Dzahabi, Ibn Taimiyah, dan Ibn Katsir. Namun menurut sebagian ulama, al-Suyuthi itu Mutasahil (terlalu longgar) dalam menshahihkan hadits.”

“Sekarang bukan masa riwayat, namun masanya ngaji. Namun harus tetap menjaga sanad semampunya. Kalau tidak punya ya minta ijazah kepada yang punya sanad agar kita masih punya tradisi atau syi’ar ilmu salaf masih ada, walaupun kita hakikatnya sudah tidak seperti dulu. Dulu orang bisa punya sanad itu benar-benar ngaji. Kalau kita sekarang ngaji lebih banyak tabarrukan, apalagi yang hanya biasa Ramadhanan yang biasa sambil ngantuk itu. Namun dengan adanya sanad, InsyaAllah ada barakahnya dari menyebut nama-nama ulama salaf,” jelas beliau.

Mukhtashar Ibn Abi Jamrah Sangat Barakah

Berikutnya, beliau sempat menyinggung tentang Mukhtashar Ibn Abi Jamrah yaitu salah satu kitab ringkasan dari Shahih Bukhari yang pernah disyarahi oleh Syaikh Muhammad bin Ali al-Syanwani. Abah Najih menyebutkan bahwa Mukhtashar Ibn Abi Jamrah adalah kitab yang sangat barakah dan wajib dibaca.

“Di madrasah kami di Sarang, ayah saya pendiri madrasah mewanti-wanti agar Mukhtashar Ibn Abi Jamrah ini dibaca karena ini sangat penting. Ada keterangan bahwa membaca Shahih Bukhari bisa untuk tolak bala’. Kalau terlalu besar maka cukup baca Mukhtashar ibn Abi Jamrah. Membacanya tidak harus dengan makna utawi iki iku, cukup seperti sema’an.”

Sanad Keilmuwan Pondok Sarang Sampai ke Hadlratus Syaikh Hasyim Asy’ari

Termasuk kitab yang disebutkan penting oleh Abah Najih pada waktu itu adalah Kifayah al-Mustafid, kitab sanad yang ditulis oleh Syaikh Mahfuzh al-Turmusi.

“Kitab ini sangat penting, karena ini adalah andalannya Syaikh Hasyim Asy’ari. Setiap Ramadlan, Syaikh Hasyim Asyari membaca Shahih Bukhari dan Shahih Muslim bergantian, dimana sanadnya dari Syaikh Mahfuzh al-Turmusi dari kitab Kifayah al-Mustafid itu. Anehnya, Syaikh Hasyim Asy’ari ketika akan wafat memberikan kitab sanad dari Syaikh Mahfuzh Termas itu kepada seorang santri Sarang asal Sedan yang lalu menjadi ahli falak yaitu Kyai Ghazali, lalu dari beliau diberikan kepada DEMU,” demikian cerita beliau.

Dari sini, dapat dipahami bahwa sanad keilmuan di pondok pesantren Sarang sampai kepada Hadlratus Syaikh Hasyim Asy’ari lalu melewati Syaikh Mahfuzh al-Turmusi.

Silsilah Keilmuan Abu Hasan al-Asy’ari bukan dari Mu’tazilah

Dalam makalah yang dibaca oleh Syaikhina Muhammad Najih, disebutkan pula tentang silsilah keilmuan Ahlussunnah wal Jama’ah hingga sampai kepada Rasulullah ShallaLlahu ‘alaihi wa Sallama hingga Allah Ta’ala.

Beliau menyebutkan bahwa sanad keilmuan Abu Hasan al-Asy’ari sebagai tokoh manifes Aswaja adalah sebagai berikut: Abu Hasan al-Asy’ari, dari Zakaria Ahmad bin Yahya al-Saji, dari Sufyan, dari al-Zuhri, dan Mahmud bin Rabi’, dari Ubadah bin Shamit, dari Rasulullah ShallaLlahu ‘alaihi wa Sallama, dari Jibril ‘alaihi al-Salam, dari Allah Ta’ala. Sanad ini disarikan dari kitab Syaikh Mahfuzh Termas Kifayah al-Mustafid.

Abah Najih menyatakan bahwa penyebutan sanad keilmuan Abu Hasan al-Asy’ari ini penting, untuk menanggapi pernyataan Ketua Umum PBNU Said Aqil Siradj yang menyebutkan sanad keilmuan Abu Hasan al-Asy’ari melewati jalur tokoh-tokoh Mu’tazilah seperti yang banyak beredar di Youtube.

“Sanad Abu Hasan al-Asy’ari, menurut Kyai Said Aqil Siradj, adalah berikut: Abu Hasan al-Asy’ari, dari Abu Ali al-Jubai’, dari ABu Hasyim al-Jubai’I, dari Abu Hudzail al-‘Allaf, dari al-Nazzham, dari ‘Amr bin Ubaid, dari Muhammad bin Ali bin Thalib, dari Rasulullah ShallaLlahu ‘alaihi wa Sallama, dari Jibril ‘alaihi al-Salam, dari Allah Ta’ala. Ada berbagai kejanggalan dalam sanad ini,” tutur beliau.

Hidupkan Kembali Ngaji Sulam-Safinah

Di akhir presentasi beliau, Syaikhina Muhammad Najih berpesan agar pondok pesantren menghidupkan kembali mengaji empat kitab, yaitu Aqidah al-‘Awam, Sullam al-Taufiq, Safinah al-Naja, dan Bidayah al-Hidayah.

“Ada seorang kyai bercerita kepada saya, bahwa Mbah Baidhawi Lasem pernah dhawuhan: “Termasuk tanda akhir zaman adalah orang sudah sulit mengaji Sullam-Safinah (Sullam al-Taufiq dan Safinah al-Najah, red).” Jadi saya hidupkan kembali, terutama di pondok-pondok pesantren baru yang ada kurikulumnya. Di masyarakat juga bisanya mengajar kitab-kitab itu, arep mengajar kitab-kitab besar tidak bisa.”

Beliau juga berpesan agar pondok pesantren tidak dipersulit dengan administrasi yang rumit-rumit. Ini menanggapi fenomena pendataan pesantren dan majelis ta’lim yang terjadi di Jawa Timur. “Masa’ pesantren dan pengajian harus tidak ada izin dari Menkopolhukam? Pesantren salaf sebelum kemerdekaan saja sudah berjuang, kok masih dicurigai. Kalau pesantren-pesantren tua tidak perlu dicurigai, namun kalau pesantren-pesantren baru mungkin saja begitu. Kecuali pesantren baru yang jadi cabang pesantren salaf atau kyainya alumni pesantren salaf. Yang penting ada kyainya dan diutamakan jebolan salaf, serta harus ada pelajaran salaf,” tutur beliau.

Menyikapi Pondok Pesantren yang Ada Kurikulum

Dalam sesi tanya jawab, Syaikh Muhammad Najih ditanya tanggapannya tentang pondok pesantren yang menerapkan kurikulum pemerintah. Beliau menjawab bahwa pesantren memang ada dua kelompok dalam masalah ini, ada yang tetap murni salaf dan ada yang terbuka dengan kurikulum.

“Namun yang saya tahu, tafaqquh fiddin tidak bisa kecuali dengan pendidikan salaf murni. Namun, bagi pesantren atau madrasah yang menerapkan kurikulum pemerintah, pelajaran-pelajaran yang tidak pokok untuk ikhtibar (ujian) bisa diganti dengan mengaji, baik Nahwu, Sharaf, dan lebih baik lagi Fiqih. Ini ada percontohannya. Di Pasuruan ada keputusan daerah semua pendidikan harus ada pelajaran agamanya atau minimal banyak pelajaran agamanya. Memang disana banyak kyainya, banyak yang bisa baca kitab,” kata beliau.

Abah Najih menegaskan, bahwa beliau sama sekali tidak ada niat untuk memusuhi pondok pesantren yang ada kurikulumnya. “Bukannya kami musuhan dengan orang yang punya kurikulum. Pelajaran umum juga diperlukan. Siapa nanti yang jadi dokter dan pegawai? Kalau tidak ada dari mereka yang alumni pesantren kan repot juga. Hanya saja, apakah MUI dan Unissula butuh tidak dengan tafaqquh fiddin? Padahal NU yang mestinya potensial tafaqquh fiddin, tapi malah mengabaikan. Ini kan aneh.”

Beliau menegaskan juga, bahwa pembimbing itu dimana-mana sangat dibutuhkan, baik di pesantren apalagi di masyarakat. “Di Banyumas banyak yang kecolongan MTA, mungkin karena pembimbingnya kurang di kampung-kampung atau terlalu rebutan politik. Kalau sudah terbiasa tahlil, pelaksanaannya ikhlas, kyainya juga ikhlas dan tidak hanya mementingkan yang kaya, insyaAllah masyarakat nyaman. Kalau tidak begitu ya masyarakat gentayangan ke MTA,” tegas Abah Najih.

Risalah Pekalongan

Selanjutnya, beliau menanggapi pertanyaan tentang kutipan beliau terhadap hukum membaca kitab Daqaiq al-Akhbar, Durrah al-Nashihin, dan al-Mawaizh al-‘Ushfuriyyah. Beliau menjawab bahwa beliau hanya mengutip pernyataan ahli Hadits Universitas al-Azhar bahwa kitab-kitab itu banyak hadits-hadits Maudlu’.

“Saya bukan berarti ikut mengharamkan, namun hendaknya waspada. Kenapa tidak mengaji kitab-kitab ringkas yang memuat hadits-hadits Shahih saja seperti Mukhtashar Ibn Abi Jamrah, Riyadh al-Shalihin, atau Mukhtar al-Ahadits? Adapun kalau Ihya’ Ulum al-Din yang dituduh begitu jelas kami tidak setuju,” tandas beliau.

“Adapun hukum Hadits, saya sudah menyinggung pakai dari Muhaddits yang longgar, bukan dari Wahabi apalagi dari Nashiruddin al-Albani. Dia pernah membela Yahudi-Israel. Dia hanya mempelajari sanad, tapi membantai ulama madzhab. Bahkan yang saya pahami, kitab kuning yang bisa jadi sarana tafaqquh fiddin adalah kutub al-madzahib al-arba’ah atau kitab yang berasal dari Ahlussunnah wal Jama’ah, bukan yang dari ahli-ahli bid’ah apalagi kafir. Tapi kita kadang-kadang butuh seperti halnya Maktabah Syamilah, tapi harus waspada jika ada yang dikurang-kurangi khususnya masalah tawasul, tahlil, dan sebagainya.”

Jihad atas Nama Agama dan Pemerintahan

Setelah menjawab berbagai pertanyaan diatas, Syaikh Muhammad Najih menyinggung penjelasan tentang jihad dari narasumber lain yang dimintakan pendapat kepada beliau. Beliau menegaskan bahwa jihad atau perang atas nama agama itu ada. “Ini juga merupakan keistimewaan Nabi Muhammad ShallaLlahu ‘alaihi wa Sallama yang dijuluki Nabiyyul Jihad (Nabi Jihad), sekaligus pula Nabiyyur Rahmah (Nabi Rahmat). Tidak ada pertentangan antara jihad dan rahmat, yakni tidak serta merta semuanya dibunuh. Kalau sudah kalah ya selesai. Wa qatilu al-musyrikin bukan uqtulu al-musyrikin.”

Beliau mengutip keterangan dalam Fathul Wahhab bahwa perang asalnya diharamkan, lalu menjadi mubah untuk memerangi orang yang memulai kezaliman, kemudian menjadi fardlu kifayah zaman Rasulullah ShallaLlahu ‘alaihi wa Sallama. Kemudian hukumnya fardlu kifayah bagi negara Islam berperang setiap tahun sekali.

Lanjut beliau, “Hanya saja, kalau kita alim maka kita tahu bahwa perang itu harus punya negara. Kita kan tidak punya pemimpin yang melindungi perang. Hukum Islam saja seperti jinayah sudah tidak bisa karena tidak pemerintahan yang melindunginya. Kalau kita mau memberontak atau membuat Negara Islam itu sukar sekali, karena kita tidak punya cantolan. Khilafah Utsmaniyah sudah dihabisi.”

“Jadi sekali lagi, bukannya jihad atas nama agama tidak ada, namun karena keterbatasan kita. Dalam hadits disebutkan bahwa tali-tali Islam akan semakin pudar, yang pertama adalah pemerintahan Islam, yang terakhir adalah shalat.”

“Hukum Islam sudah lama tidak berjalan, hatta di zaman Abbasiyah. Di Mesir saja, kata DR. Ali Jumah (Mufti Mesir, red), sudah seribu tahun lebih tidak berjalan hukum qishash, padahal ada Negara Islam. Hukum Islam tidak bisa diterapkan secara kaffah, bukan berarti kita menerima semua kita anggap konsensus kita (Pancasila, red) sebagai kalimatun sawa’. Kalimatun sawa’ dalam Al-Quran itu bermakna Tauhid.”

Abah Najih menyinggung pula tentang makna laa ikraha fiddin dalam Al-Quran. Menurut beliau, la ikraha fiddin itu arahannya kepada Ahli Kitab. “Jadi di Madinah itu Aus dan Khazraj sudah sering dengar dari ajaran Taurat bahwa nanti akan akhir zaman. Jadi mereka dikhithabi la ikraha fiddin karena mereka sudah mendengar dari kitab. Adapun kalau orang-orang kafir musyrikin itu tetap diperangi ketika Rasulullah ShallaLlahu ‘alaihi wa Sallama punya negara di Madinah. Ketika di Makkah memang tidak punya negara. Begitu juga, lakum dinukum wa liya diin itu artinya adalah baraah min al-syirk (terbebas dari syirik). Maka dari itu, pluralisme itu gak bisa. Apalagi masjid kemarin rencananya mau dijadikan tempat acara Cap Go Meh, itu memalukan. alhamduliLlah acara tersebut batal,” tutur beliau.

Beliau menegaskan bahwa jangan sampai umat Islam terjebak meniru Kristen yang sudah meragukan kitab suci mereka. “Mari kita jangan mau dijebak meniru orang Kristen. Protestan itu melawan gereja. Kita harus meyakini Al-Quran, kitab kuning kita yakini, walaupun kita belum bisa mengamalkan. Cocok dengan kaidah  al-maisur ya yasquthu bi al-ma’sur (yang mudah tidak bisa gugur dengan yang sulit).”

Beliau lalu menambahi catatan tentang penggunaan dalil ini. “Namun dalil memakai kaidah Fiqh itu juga agak gimana. Menurut kyai kuno, pernah ada bahtsul masail yang dihadiri Kyai Masduki dan Mbah Baidhawi. Kyai Masduki berdalil hanya memakai kaidah. Lalu Mbah Baidhawi mengkritik, “Ora iso nganggo kaidah, kudu ta’bir disik. Iku dhak bagiane mujtahid.”

Bahtsul Masail Fiqh Sekarang Lebih Penting dari Bahtsul Ijtihad/Manhaj

Terakhir, Abah Najih menganggapi tentang adanya usulan untuk penggalakan kajian manhaj atau ijtihad bagi kader-kader muda Islam. “Menurut saya, bahtsul masail yang pesantren dan NU itu sudah semi ijtihad. Jadi nggak perlu, yang paling penting adalah pengkaderan ulama dan mutakharrijin pesantren. Kita ini sudah krisis kepercayaan kepada ulama, karena ulama sekarang hanya title-titel saja.”

Acara yang berakhir pada Jumat siang tersebut kemudian ditutup oleh rektor Universitas Islam Sultan Agung, Anis Malik Thaha dan ketua MUI Jawa Tengah, Ahmad Daroji. Dalam sambutan penutup tersebut, Anis Malik Thaha mengucapkan terima kasih sedalam-dalamnya kepada para narasumber dan kyai-kyai tamu undangan yang sangat bersemangat, dengan bukti kursi undangan semuanya penuh mulai awal hingga akhir acara. Beliau juga sangat membuka diri untuk bekerjasama menyelenggarakan halaqah-halaqah keilmuan seperti ini di waktu yang akan datang. []

BENARKAH HAK-HAK WANITA DIKEBIRI DALAM URUSAN SYAHADAH DAN DIYAT?, BEGINI PENJELASAN ABAH NAJIH 

Dalam permasalahan syâhadah (kesaksian) jika dua orang wanita dianggap sama nilanya dengan seorang pria, maka hal itu bukan identik dengan rendahnya derajat wanita, lebih dari itu Islam sebenarnya bertindak lebih proporsional dan hati-hati dalam menjaga obyektifitas syahadah. Perlu diketahui bahwa kemantapan dalam memberikan kesaksian mutlak diperlukan, sedangkan menurut disiplin ilmu psikologi seorang wanita sering kali lupa, bingung atau ragu dalam memastikan sesuatu. Apalagi pada masa menstruasi, ia sering mengalami gejala-gejala tegang dan gelisah (tension), lemah dan kehilangan daya (energy loss), kurang bersemangat dan lesu (depresi), serta rasa nyeri diperut. Perubahan-perubahan psikologis dan biologis yang kerap melanda wanita ini mengakibatkannya mudah diserang kebingungan dan keragu-raguan, maka tepatlah kiranya jika Alqurân menetapkan dua saksi wanita sebagai pengganti dari seorang saksi laki-laki dengan tujuan agar bila salah seorang wanita itu lupa yang lain bisa mengingatkannya. 

Begitu juga dalam permasalahan diyât, ditetapkannya diyât seorang perempuan yang terbunuh sebanyak separo dari diyât seorang laki-laki, sekali lagi tidak dimaksudkan untuk merendahkan perempuan, baik secara moral maupun material. Karena dalam hal ini yang menjadi pertimbangan para ulama adalah nilai pengganti yang diperlukan keluarga. Kerugian ekonomi keluarga korban atas terbunuhnya laki-laki yang nota bene sebagai tulang pungung ekonomi jelas lebih besar dibanding jika yang menjadi korban pembunuhan adalah wanita yang secara ekonomi justru ditanggung oleh laki-laki. 

Dengan prinsip keadilan ini, Islam tetap konsis dengan konsep bahwa wanita dan pria atas dasar kenyataan yang satu adalah wanita dan yang lainnya adalah pria tidaklah identik dalam banyak hal. Dunia mereka tidak persis sama, watak dan pembawaan mereka tidak dimaksudkan supaya sama. Oleh sebab itu, maka dalam banyak hak, kewajiban dan hukum keduanya tidak harus menempati kedudukan yang sama. Namun apakah jumlah total dari semua hak yang telah ditentukan untuk wanita kurang nilainya dibanding dengan yang dianugerahkan kepada pria ? pastilah tidak.

Di dunia Barat sekarang sedang diusahakan untuk menciptakan keseragaman dan kesamaan hak, tugas, dan kewajiban antara wanita dan pria, dengan mengabaikan perbedaan-perbedaan yang kodrati dan alami. Menurut hemat kami, hal ini merupakan kejahatan hak asasi terbesar sepanjang sejarah manusia. Dengan label palsu persamaan hak, mereka berpura-pura memperjuang-kan hak asasi kaum hawa, namun pada dasarnya mereka adalah penjahat nomor wahid yang berusaha menghancur-kan pagar ayu hak asasi kaum hawa yang alami dan kodrati. Betapa tidak ?

Wanita dan pria itu ibarat dua bintang yang beredar pada orbit yang berbeda. Tidaklah patut bagi matahari untuk mendahului bulan dan malampun tidak patut mendahului siang, masing-masing beredar pada orbitnya (QS:16; 40). Kondisi dasar bagi kebahagian pria maupun wanita sebenarnya terletak ketika masing-masing selalu bergerak pada orbitnya sendiri-sendiri. Kebebasan dan persamaan akan bermanfaat selama mereka berdua tidak meninggalkan orbit dan arahnya yang alami. Hanya itu.
#KH. MUHAMMAD NAJIH MAIMOEN

ASAS ETIKA; LOGIKA MIRING KAUM SEKULER

​Sekuler membuang jauh-jauh agama sebagai asas etika. Menurut mereka, falsafah atau tindakan positif yang sesuai dengan model kekinian itulah yang patut menjadi asas etika, padahal etika dari sisi tolak ukur, tanggung jawab, tujuan dan motivasi bila tidak dijiwai agama, maka etika tinggal slogan saja, seperti kata politisi Inggris dalam menghadapi masalah kebejatan moral dan kehancuran ekonomi dia berkata; tanpa undang-undang tidak akan ada suatu bangsa, tanpa etika tidak akan berwibawa, suatu undang-undang tanpa iman tidak akan wujud suatu etika.

Sebagian etika yang diajarkan Islam yang selalu dimusuhi kaum sekuler dimana saja dan kapan saja adalah masalah hijab, karena dituduh kurang gaul, sok suci dan cenderung menutup diri. Padahal ini salah satu ekspresi dari kebebasan individual dan menjalankan perintah agama bagi seorang muslimah.

Kalangan sekuler berbaris serempak menghalangi siapa saja yang menginginkan syariat Islam menjadi hukum positif negara. Menurut mereka, cukuplah agama berdomisili dalam hati atau di masjid, mereka beranggapan komunitas masyarakat punya pranata-pranata yang lebih mantap dan lebih dinamis dibanding produk-produk hukum lain. Jadi Islam tidak berhak mengatur dan menghukumi halal haram pada mereka. Inilah sabotase terang-terangan terhadap Allah Tuhan semesta alam. 

Dari tinjauan ini, berarti kelompok sekuler telah menjadikan manusia sekutu Allah yang telah menciptakan manusia itu sendiri. Memang mereka mengakui kalau alam semesta ini Allah yang menciptakan, tapi hak manajemen tidak milik Allah. Padahal Islam berasaskan;

“Ingatlah menciptakan dan memerintah hanyalah hak Allah, Maha Suci Allah Tuhan semesta alam”. (QS. Al A’raaf : 54)

Kalau ada kaum sekuler yang sedikit toleran, mengakui Allah punya hak untuk mengatur dalam prakteknya mereka akan meralat hukum-hukum Allah dengan argumen-argumen ngawur yang tidak bisa dipertanggung jawab-kan di hadapan Allah dan akhirnya terjadilah menghalalkan apa yang diharamkan Allah atau sebaliknya.

Realitanya, konsep sekulerisme tak mampu menyaingi produk langit yang mengetahui secara total apa yang akan terjadi pada manusia, walaupun zaman berubah, ruang berbeda, peradaban manusia dinamis, Islam tetap eksis menjadikan menu-menu hukum yang sesuai dengan kemaslahatan manusia mengantarkannya menuju peradaban yang lebih dinamis walau sudah termakan usia 14 abad. 

Islam berasaskan ideologi yang sangat kokoh bahwa Allah Maha Agung, tidak ada yang mampu bersembunyi dari ilmu Allah, zaman lampau, sekarang, akan datang sama saja menurut Allah Ta’ala.

 “Kamu tidak berada dalam suatu keadaan dan tidak membaca suatu ayat dari al-Quran dan kamu tidak mengerjakan suatu pekerjaan malainkan kami menjadi saksi atasmu diwaktu melakukan tidak luput dari pengetahuan Tuhanmu biarpun sebesar atom di bumi ataupun di langit tidak ada yang lebih kecil dan tidak pula yang lebih besar dari itu malainka semua tercatat dalam kitab yang nyata (Lauhul Mahfudz)”. (QS. Yunus : 61)

Hukum syariat adalah monster dan drakula paling menakutkan bagi sekuler di negeri Islam, karena Daulah Islamiyah yang mampu mengangkat Islam dari alam teori, wacana dan ilusi menuju Islam yang subyektif dan merambah dunia yang realistis. Seperangkat pranata hukum telah tertata rapi menunggu uluran tangan siapa saja yang mau meletakkannya sebagai hukum positif negara, juga akan menjaga umat dari serangan musuh seperti kata Khalifah Utsman bin Affan ra.:

إِنَّ اللهَ لَيَزَعُ بالسُُّلْطانِ ما لا يَزَعُ باِِلقُرْآنِ 

“Sesungguhnya Allah akan melindungi dengan suatu pemerintahan apa yang tidak mampu dilindungi oleh al-Quran.
#KH. M. NAJIH MAIMOEN

ABAH NAJIH; PERANG BELUM TENTU JIHAD

​Salah satu bagian dari jihad adalah perang. Namun Islam tidak membenarkan semua bentuk peperangan, kecuali jihad fii sabilillah (di jalan Allah). Dalam Islam, perang bukan sekedar untuk mencapai kemenangan atau merampas harta musuh. Perang lebih bertujuan untuk menjalankan kewajiban jihad di jalan Allah demi tegaknya kalimat Allah serta untuk  membangun masyarakat islam dan mendirikan Negara Islam di muka bumi ini.

Secara umum jihad bilqital (perang) hukumnya fardlu kifayah (kolektif), namun bisa saja jihad tersebut menjadi fardlu ain karena beberapa sebab, yang diantaranya:

1. Ketika dua pasukan sudah saling berhadapan, maka haram bagi orang yang menyaksikan untuk berpaling dari medan perang. firman Allah:

يا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا إِذَا لَقِيتُمُ الَّذِينَ كَفَرُوا زَحْفًا فَلاَ تُوَلُّوهُمُ الأَدْبَارَ  [الأنفال/15]

‘Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu bertemu dengan orang-orang yang kafir yang sedang menyerangmu, maka janganlah kamu membelakangi mereka (mundur).” (QS. Al Anfal:15)

Dan Nabi Saw bersabda:

أَيُّهَا النَّاسُ لاَ تَتَمَنَّوْا لِقَاءَ الْعَدُوِّ وَسَلُوْا اللهَ الْعَافِيَةَ فَإِذَا لَقَيْتُمُوْهُمْ فَاصْبِرُوْا وَاعْلَمُوْا أَنَّ الْجَنَّةَ تَحْتَ ظِلاَلِ السُّيُوْفِ. (رواه البخاري).

2. ketika orang kafir telah menyerang pada satu Negara, maka wajib bagi penduduknya untuk berperang melawannya.

3. Ketika seorang imam telah menunjuk suatu golongan untuk berangkat perang, Allah berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا مَا لَكُمْ إِذَا قِيلَ لَكُمُ انْفِرُوا فِي سَبِيلِ اللَّهِ اثَّاقَلْتُمْ إِلَى الأَرْضِ أَرَضِيتُمْ بِالْحَيَاةِ الدُّنْيَا مِنَ الأَخِرَةِ فَمَا مَتَاعُ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا فِي الأَخِرَةِ إِلاَ قَلِيلٌ  [التوبة/38]

“Hai orang-orang yang beriman, apakah sebabnya apabila dikatakan kepada kamu: “Berangkatlah (untuk berperang) pada jalan Allah ” kamu merasa berat dan ingin tinggal di tempatmu? Apakah kamu puas dengan kehidupan di dunia sebagai ganti kehidupan di akhirat? padahal kenikmatan hidup di dunia ini (dibandingkan dengan kehidupan) di akhirat hanyalah sedikit. (QS. At Taubah:38)

Untuk merealisasikan hukum jihad ada beberapa syarat-syarat yang harus dipenuhi baik yang berhubungan dengan Mujahidin atau orang kafir yang akan diperangi. Mengenai syarat-syarat yang berhubungan dengan mujahidin diantaranya adalah:

1. Orang muslim:  orang kafir tidak diperintahkan untuk berjhad.

2. Mukallaf (berakal, dan sudah baligh): anak kecil dan orang gila tidak berkewajiban untuk berjihad.

3. Mampu secara fisik dan materi: orang yang lagi sakit tidak berkewajiban untuk berjihad begitu juga orang yang tidak mempunyai harta untuk bekal jihad.

4. Orang laki-laki: bagi perempuan tidak wajib jihad.

5. Mendapat izin dari orang tuanya. Hal ini di karenakan dalam peperangan terdapat bahaya yang sangat besar bahkan sampai bisa merenggut nyawa, sehingga ketika tidak mendapat izin dari orang tuanya seorang tidak boleh ikut bepales

Syarat-syarat ini adalah apabila orang-orang kafir belum memasuki ke daerah  masyarakat Islam dan apabila mereka telah memasuki daerah tersebut maka wajib fardlu ain  umat Islam serempsk menghalau tentara kufur tanpa syarat-syarat tersebut, apabila mereka lemah menghadapi musuh maka negara tetangga wajib membantunya  seperti yang terjadi di Palestina.

Sedang syarat-syarat yang berhubungan dengan orang kafir adalah:

1. Tidak berstatus Mustamin (diberi suaka), Muahid (mengadakan perjanjian damai), atau Dzimmi (dilidungi penguasa dengan membayar jizyah untuk bertempat di Negara Islam). Karena darah mereka dijaga dalam Islam dan diakui keberadaannya.

2. Meraka sudah menerima ajakan dan pengertian tentang Islam dan mengerti akan sebab-sebab diperanginya musuh islam.

Dan ada lagi sebuah syarat sebagaimana yang disebutkan Dr. Said Romdhon al-Bouthi bahwa jihad harus mendapat komando resmi dari imam a’dzom (baca: bukan sekedar komandan atau pimpinan organisasi ), Nabi Saw bersabda:

« إنما الإمام جنة يقاتل من ورائه ويتقى به فإن أمر بتقوى الله عز وجل وعدل كان له بذلك أجر وإن يأمر بغيره كان عليه منه ».

الجهاد واجب عليكم مع كل أمير برا كان أو فاجرا
#KH. M. NAJIH MAIMOEN

Atas ↑

%d blogger menyukai ini: