Seminar Kebangsaan di PP. Sidogiri, Syaikhina KH. M. Najih Maimoen: Ketika Kiai dan Santri Ikhlas Berkiprah Pasti Ada Barokahnya

Pada hari Kamis kemarin tepatnya tanggal 16 Sya’ban 1439 H/2 Mei 2018 H, Syaikhina Muhammad Najih untuk kesekian kalinya diundang oleh Pondok Pesantren Sidogiri untuk menjadi narasumber dalam acara seminar yang diselenggarakan oleh panitia. Kali ini beliau diundang dalam acara Daurah Kebangsaan bertajuk “Revitalisasi Ghirah Islamiyah-Wathoniyah” yang bertempat di aula sekretariat PP Sidogiri. Acara ini merupakan salah satu rangkaian acara dalam rangka Hari Ulang Tahun PP Sidogiri ke-281 dan Ikhtibar Madrasah Miftahul Ulum ke-82. Selain Abah Najih, tokoh lainnya yang diundang sebagai narasumber adalah Prof. Ahmad Mansur Suryanegara rektor Universitas Padjajaran sekaligus penulis buku sejarah monumental “Api Sejarah” yang ramai menjadi bahan perbincangan baru karena memuat banyak fakta dan penafsiran sejarah tentang perjuangan ulama dan santri dalam mengembangkan Islam di Nusantara mulai zaman kerajaan Islam hingga masa kemerdekaan dan modern di Indonesia.

Dalam daurah kebangsaan tersebut, Syaikhina Najih banyak menambahi dan melanjutkan perbincangan tentang sejarah ulama dan santri yang berkiprah dalam sejarah mencapai dan mempertahankan kemerdekaan Indonesia yang telah disampaikan terlebih dahulu oleh Profesor Mansur. Berikut kutipan kuliah beliau berdurasi kurang lebih satu setengah jam tersebut:

Ulama yang Memperjuangkan Indonesia sudah Puncak

“Walhasil, dari tulisan yang saya konsepkan itu, bahwa kami atau saya Muhammad Najih punya asumsi atau pemikiran bahwa para ulama yang mempertahankan Indonesia dan kemerdekaan Indonesia ini adalah ulama-ulama yang menurut saya sudah puncak baik keilmuannya, kearifannya, kewirainya, dst. Disana ada Hadlratus Syaikh Hasyim Asy’ari. Ini merupakan ulama besar dan mutakharrij (alumni) pondok-pondok atau kiai-kiai besar, wa bil khusus KH Kholil Bangkalan. Ketika di Makkah Mukarramah beliau juga mengaji pada masyayikh besar. Sebelum KH Hasyim Asy’ari ada Kiai Nawawi Banten yang juga murid KH Kholil Bangkalan. Ini semuanya memperjuangkan untuk kemerdekaan, artinya mengusir Belanda dengan cara masing-masing. Kalau Kiai Nawawi dengan kitabnya yang penuh dengan Ghirah Islamiyah Imaniyah, yakni bughdl (benci) kepada kufur. Sedangkan Kiai Kholil dengan mengajar dan mengisi pondok pesantren dengan ngajar atau ngaji yang salaf dan jauh dari ilmu umum dan sekolah, dst. Namun juga ada yang masuk ke pemerintahan, ada yang sekolah umum seperti Muhammad Hatta. Muhammad Hatta itu putranya seorang alim, lalu belajar di sekolah Belanda. Mr. Muhammad Roem juga santri tapi belajar atau sekolah di Belanda, dan menurut saya orang yang berjasa adalah Mr. Roem itu.
Saya pernah membaca sejarah, entah di buku Api Sejarah ini ada atau tidak, bahwa Pancasila adalah buatan orang macam-macam, tapi yang pokok yang saya tahu itu dari Soekarno. Dia menggali dari seorang pengarang dari zaman Majapahit. Pancasila sudah ada zaman Majapahit. Jadi konsepnya Pak Karno itu bukan “Ketuhahan yang Maha Esa” tapi “Peri Ketuhanan”, “Peri Kemanusiaan”, “Peri Keadilan”, dst. Hanya “Pri Ketuhanan”, yakni maksudnya bangsa Indonesia itu punya tuhan, tapi yang dari Hindu Budha ketuhanan aslinya yang punya tuhan, entah itu Allah Ta’ala atau yang lainnya. Yang penting ada tuhannya. Dan memang tuhan terbesar itu Allah. Sang Hyang Widhi dalam bahasa mereka. Jadi asalnya hanya “Pri Ketuhanan”, lalu oleh Mr. Muhammad Roem ditambah “Yang Maha Esa” yang bermakna tauhid. Andaikan tidak ada Mr. Roem maka mungkin hanya “Pri Ketuhanan” atau “Ketuhanan”, belum sampai tauhid. Dia asalnya dari Pekalongan, dan Pekalongan itu terkenal kota santri.

Pancasila Tidak Mungkin Komunis

Saya baca juga di facebook entah tulisannya siapa, dia merangkum pidatonya Gus Dur mulai akhir 80-an atau awal 90-an ketika awal dia jadi ketua PBNU. Disitu ada pernyataan, saya perhatikan, bahwa Pancasila adalah kompromi dari beberapa ideologi. Ada Islam, kapitalis, sosialis, dan komunis. Jadi keadilan sosial itu adalah ideologi komunis, sosialis, atau sak bangsane itu.
Akan tetapi walau begitu, kita harus bersyukur bahwa yang ikut menunggu panitia kemerdekaan yang membahas asas-asas negara seperti yang disebut Pak Mansur tadi adalah seperti Wahid Hasyim, Ki Bagus Hadikusumo dari Muhammadiyah, dst. Artinya dari kiai. Perwakilan Kristen hanya ada satu. Sesuatu yang melibatkan ulama atau kiai menurut persepsi kita kaum santri atau bahasa sekarang kaum nahdliyyin itu pasti ada baiknya, tidak mungkin sesat. La tajtami’u ummati ‘ala dlalalah (umatku tidak akan sepakat dalam kesesatan). Walaupun disitu campur ideologi, namun ulama kita mesti mentakwil atau punya takwilan ke Islam. Artinya tidak mungkin memaknai “Keadilan Sosial bagi Seluruh Rakyat Indonesia” dengan sistem komunis. Manusia tidak punya hak milik, semua milik negara atau pemerintah. Kekayaan miliki pemerintah. Ini gak mungkin, kan? Mereka adalah orang yang baca kitab Fathul Qarib, Fathul Mu’in, dan Fathul Wahhab. Masa’ menafikan milkiyyatul afrad (kepemilikan pribadi)? Ini hal yang mustahil. Konsep komunis dan sosialis itu gak mungkin, itu permainan dari yang punya konsep. Kepemilikan mau dihilangkan itu gimana? Tapi memang Islam tidak senang dengan monopoli, ketidakpedulian dengan rakyat, dan tidak mau membayar zakat. Jadi keadilan sosial itu ya zakat bagi yang Muslim. Yang kaya memberi zakat kepada fakir miskin yang Muslimin. Kita husnnuzzhan begitu, kan? Masa’ kiai nasionalismenya mengalahkan keagamaaanya? Ini kan tidak mungkin. Mereka seperti difirmankan Allah Ta’ala:
فِطْرَتَ اللَّهِ الَّتِي فَطَرَ النَّاسَ عَلَيْهَا [الروم : 30]
“Fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu.” (QS. Al-Rum: 30)
Mereka dididik di pesantren yang bermadzhab Syafi’i, dan berakidah tauhid. Laa ilaha illaLlah, kita harus menyembah Allah. Muhammad RasuluLlah, kita harus mematuhi perintah rasul dan mengikuti jejaknya.
Adapun KH Wahid Hasyim dan sebagainya sudah memperjuangkan agar syarat presiden harus Islam yang ditolak oleh kaum nasionalis. Itu ngalahnya beliau, bukan ikhtiar. Kan sudah memperjuangkan. Banyak musyawarah yang condong dilobi oleh kaum nasionalis sehingga bisa kalah. Bisa juga pakai uang dari Jepang atau Belanda, dst.
Kemudian ulama kita tadi disampaikan oleh Profesor Mansur memperjuangkan NKRI. Konferensi Meja Bundar itu saya kira pimpinannya mungkin Pak Natsir, tapi di belakangnya atau yang mensupport agar Indonesia diakui dan memiliki kekuasaan itu ada tokoh lagi. Saya lupa siapa namanya, namun Pak Natsir tidak sendirian.

Surabaya, Peristiwa 10 November, dan Hari Santri

Jadi perjuangan kita ini sudah sangat luar biasa. Kemudian KH Hasyim Asy’ari berfatwa wajib jihad, ini karena beliau tahu bahwa Sekutu baik Inggris, Jerman, Itali, dan seterusnya itu ingin menguasai kembali Surabaya. Sedangkan Surabaya adalah simbol Aswaja sekaligus ibukota Walisongo dan komunitas pengikutnya. Ada Sunan Ampel, walaupun bukan yang pertama dari Walisongo tapi dia adalah penunggul. Dia yang benar-benar menguak dakwah kemana-mana serta mendirikan pesantren Ampel Denta yang sekarang masih eksis, artinya syi’arnya masih bisa kita rasakan sampai sekarang. Ini kalau jatuh di tangan Sekutu maka pasti daerah lain akan gampang dikuasai.
Jadi orang Belanda dan Kristen sudah mempelajari mana satu daerah yang sangat strategis dimana kalau dikalahkan pasti yang lain akan ikut. Ini sudah tau sekali. Kekuatan di Jawa ini adalah Surabaya.
Saya sudah pernah diwawancarai oleh majalah Ijtihad Sidogiri, bahwa Hari Santri itu bahkan Hari Ulama Kiai itu tanggal 10 November (Hari Pahlawan), tapi di sejarah disebut “Arek-arek Surabaya”. Itu sebenarnya santri yang berani dan jadug (sakti). Yang saya ketahui, yang merobek bendera Belanda itu adalah mertuanya KH Hamid Baidhawi Lasem dari Bojonegoro. Dulu beliau pernah belajar di Pondok Pesantren Termas. Kamarnya itu angker sekali sampai sekarang. Beliau ahli wiridan dan jadug, jarang orang berani masuk kamar itu sampai sekarang. Dialah yang berani merobek, padahal di belakangnya ada tentara Belanda dan Sekutu yang canggih.

Bahaya Laten Komunis dan Cina

Dan perlu saya informasikan disini, pada catatan sejarah yang berbeda, saya diberitahu oleh orang Arab tapi bukan habib. Ada tamu dari Malang, waktu itu datang pada saya masih agak muda. Dia bercerita, “Ati-ati, Gus. Ada istilah bahaya laten. Ada dua, ada komunis, ada Cina. Jangan hanya PKI saja, Cina juga bahaya laten.” Dia cerita bahwa ketika Sekutu datang ke Surabaya, sebelum mereka datang itu orang-orang Cina memecah batu-batu menjadi kerikil lalu ditaburkan di depan rumah umat Islam khususnya bapak-bapak haji karena Surabaya itu tempatnya orang-orang kaya dulu. Zaman Belanda orang Islam banyak yang makmur. Makanya NU berdiri dan kiai berani mendirikan NU karena di belakang kiai banyak pak kaji-pak kaji. Mereka kaya. Bukan pak kaji sekarang yang mengantri sampai 25 tahun. Dulu mereka kaya-kaya.
Saya punya mbah, Kiai Baidhawi sebelum menikah dengan mbah saya dari Blora itu nikah dengan anak kiai yang alim, sakti, dan kaya dari Rembang. Dia berhaji dengan nyarter (menyewa kendaraan. Dia tidak mau ke Semarang, apalagi ke Jakarta. Dia menyewa kapal, kapalnya disuruh ke Rembang. Luar biasa, kayak-kayak membeli kapal. Orang zaman dulu kalau kadung kaya maka kaya sekali karena Belanda dari sisi ekonomi tidak memeras kepada pribumi secara lahiriah. Akan tetapi dia mengambil sumber daya alam tentunya seperti yang disampaikan pak Mansur yaitu dengan membangun rel-rel kereta api. Tujuannya adalah memudahkan pemantauan kiai-kiai yang ingin berjuang khususnya di kota-kota. Makanya kiai itu kebanyakan di desa, karena kalau di kota diawasi oleh Belanda. Kiai Kholil Rembang Kasingan gurunya Kiai Mahrus Lirboyo tidak boleh mengajar Tafsir Jalalain, hanya Alfiyyah saja. Karena kalau baca Tafsir Jalalain khawatir membangkitkan semangat melawan Belanda.

Belanda yang Membesarkan Komunis

Saya setuju itu. Dan menurut saya, saya tambahi, bahwa Belanda-lah yang membesarkan komunis. Jadi komunis sebenarnya kan mazhab baru, dulu-dulu tidak ada. Paham komunis dari Karl Marx. Itu buatan Yahudi. Nah, dia membesarkan komunis di Solo tepatnya. Bahkan tadi Syarikat Islam ada dua. Ada yang kanan, ada yang kiri. Syarikat Islam H. Samanhudi itu kanan, kalau yang kiri itu julukannya ASU. Artinya jadi komunis, di Solo.
Jadi komunis itu dibesarkan. Ada istilah Islam Abangan, ada istilah Islam Santri, ada istilah Priyayi. Ini semua dibesar-besarkan Belanda untuk menghancurkan santri. Snouck Hugronje ingin menghilangkan kesantrian, kemudian menguasai masalah haji dst untuk mengawasi gerakan karena takut Indonesia atau umat Islam belajar di Makkah dan menggerakkan ruh jihad melawan Belanda. Makanya tadi Kiai Nawawi tidak membuat gerakan politik. Kiai Kholil Bangkalan juga tidak. Hanya gerakan mengaji, tapi isinya adalah kita disuruh jauh dari Belanda. Kemudian bangkitlah Pergerakan Nasional.
Di sejarah-sejarah dan saya sudah pernah baca buku Api Sejarah itu sedikit, disitu diterangkan bahwa kebangkitan nasional dimulai oleh Budi Utomo. Yang bikin Ki Hajar Dewantara. Itu sebetulmnya salah sekali, karena Ki Hajar Dewantara itu bukan nasionalis. Dia itu Jawanis, fanatik Jawa. Walaumpun melawan Belanda tapi masih budaya Jawa. Namanya saja Budi Utomo, itu kan sudah kelihatan kejawaaannya. Mungkin itu gerakan nasionalis ala priyayi Jawa. Kemudian yang Islam itu SI (Syarikat Islam) yang kemudian terpecah jadi dua. Tentu yang memecah adalah Belanda, itu maklum. Liciknya Belanda untuk mengikis kesantrian. Jadi Belanda mengkader orang-orang nasionalis bahkan anak-anak kiai seperti Muhammad Hatta supaya menghilangkan jasa-jasa ulama atau santri.
Tadi saya diberitahu protokol untuk membahas setelah kemerdekaan saja. Langsung saja bahwa Kiai Kholil dan Kiai Nawawi berjuang sebagai agamis nasioanalis, artinya memperjuangkan hilangnya atau terusirnya Belanda dari Indonesia, tapi Belanda bisa terusir oleh Jepang. Dia pintar dengan membuat batalion-batalion dikuasai kiai, karena Jepang tahu dia ingin beda dengan Belanda. Tahu kalau Belanda sangat benci kiai dan santri. Santri dilatih menjadi tentara. Tapi AlhamduliLlah, justru latihan itu berdampak baik yaitu para kiai mengusir Sekutu tadi.

Kiai-Santri ketika Berkiprah Pasti Ada Barakahnya

Jadi SubhanaLlah, kiai dan santri yang liLlahi Ta’ala, tadi disebutkan tidak niat jadi PNS, itu kalau berkiprah pasti ada barakahnya. Dulu ada istilah khittah, itu kan banyak kiai masuk Golkar. Pasalnya Golkar itu tempat strategis Kristen untuk berkiprah disana, selain ada sisa-sisa PKI disitu. Jadi kelihatannya mengusir PKI tapi pimpinannya diamankan, dibawa ke Swiss. Dibawa Barat. Yang dibunuh oleh NU-Ansor-Banser itu PKI kroco-kroco, yang kelas kakap diamankan.
Walhasil, saya sampaikan kenapa PKI yang anti kiai, agama, dan pesantren kok bisa besar karena didikan dari Belanda. Kaderasisasi dari Belanda. Sekarang kita AlhamduliLlah sudah besar. sekarng ada Hari Santri. Saya takutnya Hari Santri sama dengan tadi, Jepang beda dengan Belanda. Kalau era sebelumnya, SBY dan Soeharto, tidak begitu senang santri tapi senang Islam. Tadi dikatakan Soeharto membangun seribu masjid, bahkan di Bosnia. Dia senang Islam itu tidak berarti senang kaum santri atau NU, karena dia dulu-dulunya kebanyakan berguru dari Muhammadiyah. Tapi kecilnya Soeharto itu didikan santri. Saya tahu ini karena keturunan dari kiai yang mengajarinya dari kecil itu ada sebagian yang di Sarang. Mbahnya Shalahuddin dekat jembatan Sarang itu.
Jadi kiai itu ketika bertemu Soeharto ketika pertama jadi presiden pesannya, “Hei, Harto! Niruo Sultan Agung Raja Mataram.” Makanya dia lalu membuat masjid-masjid Pancasila, walaupun bukan uangnya Pak Harto sendiri tapi hasil menyunat gaji-gaji pegawai saat itu.
Dulu kalau ada Kiai dari Golkar itu diambilkan dari dana haji yang sekarang jadi dana abadi umat, yang kepengen ditampung oleh era Jokowi untuk infrastruktur bukan untuk pendidikan. Pak Harto untuk Islam, tapi ini pengen untuk infrastuktur, untuk pembuatan jalan. Bisa-bisa nanti menyembelih kiai kalau cinanya sudah ratusan, ribuan, bahkan jutaan. Lama-lama pekerja seksual yang datang dan dijual murah. Itu merusak dan berbahaya sekali.
Jadi yang mendidik memang Belanda dengan liciknya, artinya Jepang merekrut atau menghormati kiai dengan tujuan untuk melawan Belanda kalau mereka datang. AlhamduliLlah, dengan izin Allah Hiroshima dibom dan akhirnya Jepang mundur begitu saja dengan teratur artinya pelan, namun ya masih saja. Jepang kayaknya baik dengan kaum santri, tapi tetap mereka adalah musuh. Buktinya ada Tujuh Kalimat yang disepakati oleh panitia kemerdekaan yaitu “Ketuhanan dengan kewajiban mengamalkan Syariat Islam bagi pemeluknya” ini disuruh dicoret oleh jenderal Jepang. Kelihatannya baik dengan kiai, tapi hatinya tetap busuk kepada kiai dan ulama serta Islam secara umum. Ini mungkin ditekan juga oleh Amerika, karena Amerika sudah menang terhadap Jepang. Maka tadi bahasanya pak Mansur, Soekarno ketakutan. Itu menunjukkan dia juga nggak senang kiai. Dia tidak tahu bahwa Indonesia ini terjaga karena barakahnya kiai. Mereka tidak tahu, seolah-olah yang bikin Indonesia merdeka adalah nasionalis. Padahal dia ketakutan dan ragu-ragu sekali.

Hubungan Ulama dengan Peristiwa Proklamasi

Di catatan sejarah yang memaksa Soekarno proklamasi adalah mahasiswa. Ini bohong. Yang memberitahu saya adalah tetangganya Pak Mansur ini. Dia ketemu dengan Pak Mansur, lalu dia bilang bahwa yang memaksa Soekarno proklamasi adalah ulama-ulama dan kiai-kiai ajengan Sunda di Rangkasbitung. Itu tetangganya. Saya pernah kesana karena suaminya yang dari keluarga situ ada keponakan saya, lalu saya mampir.
Jadi asalnya Soekarno itu ragu. Soekarno itu pernah memang jadi menantunya HOS Cokroaminoto, tapi juga pernah jadi menantunya Belanda. Jangan dipungkiri sejarah. Akhirnya punya istri dari Jepang itu. Yang membuat Soekarno agak baik dan kenal agama adalah ibunya, karena istrinya Rahmawati aslinya dari Riau atau Jambi. Katanya masih ada trah kerajaan entah Melayu atau mana. Jadi ini yang menjadikannya masih punya kebaikan-kebaikan. Anak Soekarno Ada yang pro Hindu Budha atau PKI seperti Sukmawati, Megawati juga. Meragukan Hari Kiamat. Pesantren kita ini dianggap peramal-peramal saja, tidak tahu fakta. Lho, ente yang tidak tahu fakta bahwa Indonesia ini berdiri lewat darah para santri dan ulama. Bapak kamu ragu tentang proklamasi asalnya, yang menyuruh itu adalah dari ajengan kiai-kiai Sunda. Bahkan tetangganya pak Mansur tadi cerita, waktu malam 17 ada istighatsah supaya cepat merdeka. Pak Karno datang membawa anak perempuan. Anaknya menangis, akhirnya diberi susu oleh sebagian kiai. Susu kaleng atau apa.
Jadi kiai-kiai sangat berjasa sekali, tapi karena penulis-penulis sejarah adalah bukan kaum pesantren melainkan nasionalis bahkan ada yang PKI, akhirnya sejarah dihilangkan. Untungnya Soekarno masih hormat dengan Hasyim Asy’ari. Beliau adalah orang yang berwibawa sekali. Ketika Pak Karno jadi presiden, dia cepat-cepat ke Kiai Hasyim Asy’ari. Hubungan Pak Karno dengan Wahid Hasyim ini saingan istilahnya, jegal-jegalan. Pak Karno sering menjegal Wahid Hasyim supaya tidak jadi presiden. Tapi hubungan Soekarno dengan Hasyim Asy’ari baik sekali. Dia pernah ke Jombang. Ini yang cerita saya adalah Kiai Hamid Baidhawi, khali (paman saya) dari ibu. Ceritanya dia sowan kepada Hasyim Asy’ari, lalu Soekarno diberi kesempatan untuk sambutan atau pidato. Saking gemetarnya karena ta’zhim maka tidak berani tampil, malah berkata, “Njenengan mawon.” Akhirnya Hasyim Asy’ari memberi sambutan. Pertama kali yg dikatakan, “Wahai Soekarno! Kenimatan terbesar yang diberikan kepadamu sekarang adalah jadi presiden RI. Syukurilah.”
Untungnya disitu, akhirnya Soekarno dipesan agar alumni pesantren bisa jadi naib dan KUA di seluruh Indonesia. Akhirnya AlhamduliLlah banyak naib-baib waktu itu dari kiai karena itu instruksi dari presiden saking ta’zhimnya. Tapi kemudian ketika dilanjutkan oleh Kiai Wahid Hasyim, mungkin dia ditekan juga karena banyak KUA dari kiai maka sekarang yang jadi KUA harus dari lulusan sekolah. Akhirnya Kiai Wahid Hasyim memasarkan atau mengajak pesantren untuk ada sekolah umumnya. AlhamduliLlah waktu itu banyak yang menentang, namun di era-era setelahnya sudah tidak ada yang menentang lagi.

Sejarah Kiai-Santri Banyak Dihapuskan dalam Sejarah
Jadi saya ulangi lagi, inilah hasil perjuangan kiai dihapuskan dari sejarah. Ini adalah rekayasa dari Belanda yang licik itu. Walaupun Belanda memanjakan urusan ekonomi kepada umat Islam, tapi umat Islam tetap dibuat kalah oleh Cina. Yang diistimewakan tetap Cina. Tapi walaupun begitu yang kaya tadi masih bisa kaya. Luar biasa. Kalau muktamar NU zaman Belanda, Kiai Hasyim Asy’ari dan ketua PBNU dulu (Hasan Basri Gipo) kalau tidak salah dari Sulawesi, dia mukim di Surabaya lalu dijadikan ketua PBNU. Jadi dulu ketua PBNU itu dari orang biasa, bukan orang alim, doktor, atau profesor. Orang biasa namun kaya. Mbah Hasyim tinggal mengetuk rumah-rumah aghniya’, daerah Babat dulu andalannya. “Ji. Ape enek muktamar, Ji. Bantu piro?”
Jadi di belakang NU ada aghniya’, tapi zaman Jepang jadi berat. Tirakat. Tadi diceritakan banyak batalion dipimpin kiai, tapi beras rakyat diambil oleh jepang untuk makan tentaranya. Kita tidak makan apa-apa, tapi kok kuat keluar keramatnya kiai-kiai itu. Tadi keterangan pak Mansur, hanya punya sarung thok, tidak punya senjata maksudnya, tapi kalau sudah kepepet senjatanya keluar.
Jadi ini kalau kita sibuk dengan ilmu agama, murni liLlahi Ta’ala bukan karena PNS, kalau tidak bisa begitu maka paling tidak senang dan mengakui bahwa sistem salaf ini afdhal daripada sistem khalaf/kurikulum, InsyaAllah ada jiwa kesantrian. Kalau kita dianiaya PKI mau bangkit menyembelih kita, InsyaAllah mereka disembelih dulu sebelum mereka menyembelih. Allahumma Amin. Allahu Akbar. Ini Allahu Akbar-nya Bung Tomo. Allahu Akbar adalah kekuatan yang luar biasa. Kalau kita niat ikhlas li i’lai KalimatiLlah, ini akan mengeluarkan karamah-karamah Ilahiyah. Allahu Akbar ini bukan untuk mencari dunia, tapi mencari akhirat. Dan sebetulnya secara strategi politik, kalau kiai-kiai tadi masuk ke Jakarta jadi pemimpin, kata abah saya nukil dari abahnya yakni Kiai Zubair, tentu TNI dikuasai santri. Tapi banyak juga kiai-kiai batalion yang tidak dimasukkan ke TNI. Mbah saya memimpin batalion seratus prajurit, semuanya dimasukkan ke TNI tp beliau tidak masuk. Alasannya mungkin karena ada kesibukan pesantren karena mbah saya alim.

Mbah Zubair sebagai Pimpinan Militer

Mbah saya pernah dicurigai ikut DI/TII karena dalam sejarahnya mbah saya pernah memimpin batalion. Oleh pemerintahan Soekarno dicurigai, lalu RPKAD disuruh ke Sarang. Waktu itu Sarang belum besar. RPKAD bersembunyi di balik rumput. Akhirnya waktu subuh ketika Mbah Ahmad ngimami, dia masuk ke rumah Mbah Mad dan Mbah Zubair untuk menyelidiki apakah ada senjata atau mungkin data bahwa beliau masuk DI/TII. Tapi AlhamduliLlah tidak ada, tidak ditemukan. Waktu itu Mbah Zubair sedang muktamar di Surabaya. Yang bercerita ini adalah guru saya namanya Haris Thahar, diceritai sama warganya. Ada santri yang hasud dengan Mbah Zubair lalu melaporkan bahwa Mbah Zubair memiliki senjata. Mereka tidak berani ketika Mbah Zubair di rumah, entah karena apa. Beraninya ketika Mbah Zubair ke Surabaya ikut muktamar. Tapi AlhamduliLlah tidak ditemukan.
Jadi karena beliau memimpin batalion dianggap bahaya oleh zaman Soekarno. Jadi mereka tidak mau dan takut dengan hukum Islam. “Ketuhanan Yang Maha Esa” itu yang penting punya tuhan, tidak ada agama apalagi tauhid La Ilaha IllaLlah. Tadi dibela bahwa itu Pancasila sama dengan Al-Quran, surah al-Baqarah dan Ali Imran. Kata orang sekarang Al-Quran banyak matsal-nya atau yang radikal bilang banyak fiksinya. Na’udzubiLlah min dzalika. Yang jelas mereka tidak berani dengan hukum Islam, takut nanti kalau Islam berjalan yang menguasai santri. Padahal yang santri senang sarungan liLlahi Ta’ala. Dulu dasi saja diharamkan.
Ketika ada majelis Konstituante, perjuangan ulama dan mujahid kita untuk penegakan Syari’ah Islam sudah sangat-sangat maksimal. Sampai Soekarno dituntut terus soal Tujuh Kalimat yang dihapus, lalu akhirnya dia bikin majelis Konstituante. Pada perdebatan ini yang pro-Islam akan menang atau sudah menang dengan argumen-argumen bukan dengan golok atau senjata karena kita mayoritas Islam, jika ingin kuat negaranya harus berdasar Islam dan kita umat Islam memang diwajibkan berdasar Islam. Sudah hampir menang atau malah sudah menang, majelis Konstutiante dibubarkan oleh Soekarno dengan berdalih Sila Pertama menjiwai seluruh sila-sila yang lain. Kalau yang tidak paham politik ya enak aja. “Wah, bagus ini.” Tapi tujuannya adalah untuk menghalang-halangi Syari’ah Islam. Terus akhirnya ada Pemilu tapi ditunda-tunda, itu sebenarnya untuk membesarkan partai PNI dan PKI serta memecah-belah Masyumi. Setelah dipecah belah akhirnya NU keluar dari Masyumi.

Isyarah Tatal Masjid Demak: Umat Islam Harus Bersatu!

Tadi sudah disinggung bahwa menurut isyarat tatal di Masjid Demak kita harus bersama-sama umat Islam dan kelompok-kelompok Islam jika ingin berjaya. Seperti itu isyarahnya. Tadi hal ini dibilang -WaLlahu A’lam- klenik sama pak protokol atau mitos. Memang begitu, Indonesia ini memang penuh dengan mitos, entah benar atau tidak WaLlahu A’lam bi al-shawab. Negeri kita dulu dijuluki negeri dongeng, negeri khayalan, dst. Orang Arab ketika melanggar aturan negaranya ditakut-takuti, “Kamu kalau melanggar negara kami akan saya buang ke Wakwak.” Sekarang jadi pulau Fakfak di Papua. Sudah terkenal negeri ini. Makanya ada yang bilang masuknya Islam di Indonesia pada zaman Khalifah Muawiyah, ada yang bilang Khalifah Utsman, ada yang bilang zaman Rasulullah. Ini masuknya Islam lho, artinya masuknya orang Islam, entah sudah mengislamkan atau belum.

Merah Putih dan Istana Hambra

Saya dapat ilmu waktu acara DEMU di MGS, saya bilang bahwa masjid Nabawi itu asalnya tidak ada kayu-kayunya yang besar dan tidak beratap, kemudian zaman Utsman diperbesar dan diberi atap-atap dari kayu. Kok sampai sekarang masih bagus, berarti itu ikayu jati. Kayu jati kebanyakan dari Jawa. Mungkin di Pasai atau Sumatra sudah banyak orang Islam, mereka mengimpor kayu jati dibawa ke Madinah dan jadilah masjid Nabawi yang gagah itu. Kayu jati harus diplitur, dan plitur yang baik berwarna merah. Tadi dibilang ada merah putih katanya. Kalau saya tidak begitu suka merah, mungkin masalahnya karena untuk mlitur agar awet harus warna merah. WaLlahu A’lam.
Saya pernah ke Spanyol bersama Mbah Moen, ada namanya Qashr al-Hamra’. Istana Hambra kalau bahasa sekarang, orang Barat dan Indonesia bacanya Hambra. Di bangunan itu memang banyak warna merah. Dan, seperti di Syiria warna tiang-tiang masjid berwarna hitam putih. Di Masjidil Haram dan Masjid Nabawi motif itu masih ada. Ini sisa-sisa Daulah Umawiyah. Tapi di Qasr al-Hamra’ motifnya memang merah dan putih. Saya tidak tahu rahasianya apa, WaLlahu A’lam. Walaupun saya tidak begitu suka warna merah, tapi merah ada di Daulah Andalusia. Tp yg saya ketahui di masjidil haram itu putih hitam. Benderanya nabi kebanyakan hitam.
Islam masuk ke Indonesia itu sudah lama, tapi yang sulit diislamkan memang Jawa. kalau Sulawesi sudah lama, di Kalimantan juga sudah lama. Yang sulit itu di Jawa. Islam agak baik harus mengerahkan Walisongo yang sakti-sakti, baru bisa berdiri negara Demak. Asalnya kerajaannya bukan Demak tapi Giri, namun baru empat puluh hari lalu diserahkan kepada Raden Fatah di kerajaaan Demak. Akan tetapi anak turun Raden Fatah dicabik-cabik oleh Syi’ah, Siti Jenar, atau Kebatinan. Akhirnya berdiri kerajaan Pajang. Pajang masih agak seperti Raden Fatah mangkel lalu akhirnya jadi kerajaan Mataram. Mataram masih bagus ada Sultan Agung, tapi anak cucunya diobrak-abrik agar senang anti-ulama dan anti-kiai. Amangkurat II menyembelih ulama sebanyak dua puluh lima ribu orang di alun-alun Solo.
Disini sudah ada sejarahnya bahwa Sayyid Sulaiman dipanggil oleh Raja Solo entah siapa untuk diangkat menjadi qadli kemudian sampai di Mojoagung dipundhut Allah Ta’ala. Dia sudah berkata, “Kalau diangkat qadli bakal jadi baik ya sampai Solo, kalau jadi buruk maka belum sampai Solo sudah mati.” Akhirnya nadzar Sayyid Sulaiman itu terjadi sehingga pondok pesantren menjadi besar.

Keikutsertaan Santri dalam Tathbiq Syari’ah

Kita tetap tidak boleh putus asa akan adanya Tathbiq al-Syari’ah, tapi dalam penerapan Syari’ah ini semoga kiai lan sampeyan-sampeyan santri bisa ikut, syukur bisa memimpin. Allahumma Amin. Jangan sampai penerapan Syari’ah ini dikuasai oleh radikalis, Wahabi, dan modern. Tapi kita juga jangan anti modern. Artinya jangan anti orang akademis. Mereka juga memiliki Ghirah Islamiyah besar. kalau kampus-kampus sekarang tidak ada orang-orang yang memiliki Ghirah Islamiyah, maka kita sudah habis. Untungnya dari sisa-sisa keturunan entah dari Sunan Cirebon (Gunung Jati) ada yang jadi kiai, ada juga yang jadi akademis. Mungkin Ustadz Mansur itu termasuk mereka, WaLlahu A’lam. Ini artinya kita masih menemukan sambungan-sambungan dengan ulama-ulama kita. Mereka menghargai kita dengan mengatakan kiai itu pejuang Indonesia Raya yang paling ikhlas. Dan AlhamduliLlah, sebagian dari kalangan priyayi dan akademis menurut sejarah tersebut. AlhamduliLlah.
Demikian yang dapat saya sampaikan, semoga ada manfaatnya. Semoga cita-ita dari ahbabuna shalihun pendidikan pesantren salaf tetap berjaya dan tetap dicintai walaupun tidak bisa penuh, dan cita-cita Tujuh Kalimat yang dihapus oleh Pak Karno dan Hatta tetap berjalan walaupun keadannya seperti ini. InnaLlah ‘ala kulli syaiin Qadir. Kala kita mau disembelih, kitalah yag akan menyembelih.”

“Urusan Politik Ikutlah Masyumi, Urusan Agama Ikutlah NU!”

Setelah pemaparan beliau selesai diatas, kemudian beliau menambahi, “KH Hasyim Asy’ari dalam catatan sebagian santri, yang saya tahu dari Kiai Thahir Kajen, dicatat bahwa urusan partai (politik) ikutlah Masyumi, dan urusan keagamaan, bahtsul masail, dan hukum-hukum ikutlah NU. Ini dicatat oleh Kiai Thahir almarhum. Dulu begitu, tapi lama-lama Masyumi dipecah-belah kemudian sampai sekarang kaum Muslimin dipecah-belah, yang terjadi sekarang adalah munculnya liberal-liberal itu.”
Selanjutnya, ketika ditanya oleh moderator tentang partai mana yang paling ideal untuk dipilih, maka Abah Najih menjawab, “Saya sukar menjawabnya, karena nanti kalau saya menjawab A nanti saya dianggap Muhammadiyah, radikal, atau apa, kalau saya membela yang santri juga banyak liberal padahal dari awal saya sudah anti-liberal. Ya, cari-cari sendiri, lah. Pikir-pikir sendiri, dan rahasiakan ini. Strateginya harus matang. Yang penting tadi saya setuju tatal itu kita harus bersama, harus berkelompok.
Kita ada panglima atau tidak, yang penting kita punya Ghirah Islamiyah bagaimana kita eksis. Sekarang Islam pengen dihilangkan sama sekali khususnya santri. Asalnya orang Islam itu 98 % makanya dulu hampir menang di majelis Konstituante, terus menjadi 90% lalu sekarang jadi 80%. Ini rekayasa mereka supaya kita melempem dan patah semangat. Sekarang saya bangkitkan, jangan putus asa tapi tidak usah aneh-aneh. Yang penting tadi nyoblosnya yang pro-Islam. Kita susah tidak punya panglima, tapi kita seperti harus ikhlas. Justru dengan ikhlas InsyaAllah kita menang.”

Hinaan kepada Habaib: Ekspresi Sakit Hati Kaum Liberal

Setelah itu, menganggapi ucapan moderator bahwa Ghirah Islamiyah umat Islam Indonesia sekarang sangat lemah sekali sampai ada hinaan kepada habaib dituduh kluyar-kluyur oleh tokoh liberal, Abah Najih menanggapi, “Saya setuju sekali analisa ini. Tadi habaib dikatakan kluyar-kluyur dan guru Ibtidaiyah, itu sebenarnya merupakan ekspresi sakit hati mereka karena mereka ingin Ghirah Islamiyah ini habis sama sekali.
Yang bilang habaib dari Yaman kluyar-kluyur dan dianggap guru Ibtida’ itu mungkin dia pikir keanehan itu agar nilai rapornya bagus di mata zionis-salibis. Biar bisa jadi wakil presidennya Jokowi atau apa gitu. Dan, mulai presiden sekarang mungkin akan dimunculkan lagi orang yang kelihatannya beda, mungkin dulu panglima TNI. Sebenarnya itu sama dengan dia tapi kelihatannya saja beda, sama-sama dekat dengan Naga Sembilan.” Sontak tepuk tangan gemuruh dari para audien bergema di seluruh ruangan.
Acara daurah kebangsaan ini kemudian ditutup dengan pembacaan doa oleh Abah Najih dilanjutkan dengan pemberian cinderahati dari panitia kepada beliau.(*)

MAKALAH KH. MUHAMMAD NAJIH MAIMOEN DI SIDOGIRI DENGAN TEMA: REVITALISASI GHIRAH ISLAMIYAH-WATHANIYAH

MENELADANI SEJARAH ISLAM DALAM RANGKA MENGUATKAN
GHIRAH ISLAMIYAH-WATHANIYAH

Disampaikan oleh: KH. MUHAMMAD NAJIH MAIMOEN

Pada acara Daurah Kebangsaan “Revitalisasi Ghirah Islamiyah-Wathaniyah” di Aula Sekretariat PP. Sidogiri, Memeriahkan Ultah PP. Sidogiri yang ke-281 dan Ikhtibar Madrasah Miftahul Ulum ke 82 Tahun

بسم الله الرحمن الرحيم
الحمد لله الذي بنعمته تتم الصالحات، وبطاعته تطيب الحياة، وبالإيمان به وتقواه تنال الخيرات وتستنزل البركات وتدفع المكاره والسيئات، وأشهد أن لا إله إلا الله وحده لا شريك له، كل الخلائق غدا بين يديه موقوفون محاسبون، وبأعمالهم مجزيون، وأشهد أن محمدا عبده ورسوله النبي الكريم ذو الخلق العظيم، صلى الله عليه وسلم وعلى آله وأصحابه، أما بعد:

Muqaddimah

Dalam kehidupan di dunia, seorang Muslim dituntut untuk mengamalkan dan mempertahankan ajaran agama dengan segenap kemampuannya. Ini adalah konsekuensi logis dari pengucapan dua syahadat yang dilakukannya, karena Islam tidak hanya sekedar pengakuan tentang ketauhidan Allah Ta’ala dan kebenaran Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallama, namun juga implementasi dari apa yang dibawa oleh Allah dan Rasul-Nya. Selain itu, seorang Muslim sejati juga harus memiliki ghirah Islamiyah yang tinggi, yakni rasa kecemburuan dan pembelaan terhadap agamanya.

Dalam konteks keindonesiaan, menggelorakan dan menguatkan ghirah Islamiyah di kalangan umat Islam semakin terasa urgensinya, apalagi di tengah berbagai macam usaha perusakan ajaran Islam dan semangat umat Islam mengamalkan ajaran agamanya. Dalam mengekspresikan ghirah Islamiyah ini harus sesuai dengan aturan Syari’ah Islam dan menjaga semangat kebersamaan dan cinta kepada tanah air dan bangsanya yang disebut ghirah wathaniyah. Namun dalam pelaksanaannya, ghirah Islamiyah harus dinomorsatukan dan ghirah wathaniyah harus selalu didasarkan pada ghirah Islamiyah.

Bukti nyata ghirah Islamiyah dalam konteks kebangsaan ini telah menjadikan bangsa Indonesia tidak mudah ditumpas oleh penjajah selama 3,5 abad hingga akhirnya mampu merebut kemerdekaan dan kedaulatan negaranya. Hal ini karena bangsa Indonesia merasa memiliki hubungan persaudaraan sesama umat Islam serta memiliki kesamaan tanah air yaitu tanah air Nusantara, sehingga mereka berusaha mati-matian untuk mempertahankan agama dan bangsanya dari pemurtadan dan imperialisme Belanda dan bangsa penjajah Eropa yang lain. Semangat semacam inilah yang harus selalu dipupuk dan ditanamkan dalam sanubari umat Islam di Indonesia.

Memahami Ghirah Islamiyah

Muslim yang memiliki ghirah Islamiyah yang tinggi akan merasa sakit hati dan marah ketika ajaran Islam dilecehkan, ketika Al-Quran dan Sunnah dihina, dan ketika para ulama shalihin tidak lagi didengar suaranya, sekaligus juga memiliki semangat yang tinggi ketika ada ajakan untuk mengamalkan ajaran agama secara kaffah. Ghirah Islamiyah adalah barometer keimanan dan wujud cinta seorang Muslim kepada Islam. Allah Ta’ala berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ [آل عمران : 102]

“Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah sebenar-benar takwa kepada-Nya; dan janganlah sekali-kali kamu mati melainkan dalam keadaan beragama Islam.” (QS. Ali Imran: 102)

Rasulullah ShallaLlahu ‘alaihi wa Sallama bersabda:

إِنَّ اللَّهَ يَغَارُ وَالْمُؤْمِنُ يَغَارُ وَغَيْرَةُ اللَّهِ أَنْ يَأْتِىَ الْمُؤْمِنُ مَا حَرَّمَ عَلَيْهِ . أخرجه الترمذي.

“Sesungguhnya Allah itu cemburu, dan mukmin juga cemburu. Cemburunya Allah ketika seorang Mukmin mendatangi apa yang telah Dia haramkan baginya.” (HR. Tirmidzi)

مَنْ رَأَى مِنْكُمْ مُنْكَرًا فَلْيُغَيِّرْهُ بِيَدِهِ فَإِنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَبِلِسَانِهِ فَإِنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَبِقَلْبِهِ وَذَلِكَ أَضْعَفُ الإِيمَانِ. أخرجه مسلم

“Barangsiapa dari kalian melihat kemunkaran maka rubahlah dengan tangannya. Jika tidak mampu maka dengan lisannya. Jika masih tidak mampu maka dengan hatinya, dan itu adalah selemah-lemahnya iman.” (HR. Muslim)

Allah menggambarkan dalam Al-Qur’an bagaimana Rasulullah dan para Shahabat beliau menjadi perwujudan nyata bagaimana ghirah Islamiyah dilaksanakan. Allah Ta’ala berfirman:

مُحَمَّدٌ رَسُولُ اللَّهِ وَالَّذِينَ مَعَهُ أَشِدَّاءُ عَلَى الْكُفَّارِ رُحَمَاءُ بَيْنَهُمْ تَرَاهُمْ رُكَّعًا سُجَّدًا يَبْتَغُونَ فَضْلًا مِنَ اللَّهِ وَرِضْوَانًا سِيمَاهُمْ فِي وُجُوهِهِمْ مِنْ أَثَرِ السُّجُودِ ذَلِكَ مَثَلُهُمْ فِي التَّوْرَاةِ وَمَثَلُهُمْ فِي الْإِنْجِيلِ كَزَرْعٍ أَخْرَجَ شَطْأَهُ فَآزَرَهُ فَاسْتَغْلَظَ فَاسْتَوَى عَلَى سُوقِهِ يُعْجِبُ الزُّرَّاعَ لِيَغِيظَ بِهِمُ الْكُفَّارَ وَعَدَ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ مِنْهُمْ مَغْفِرَةً وَأَجْرًا عَظِيمًا [الفتح : 29]

“Muhammad itu adalah utusan Allah dan orang-orang yang bersama dengan dia adalah keras terhadap orang-orang kafir, tetapi berkasih sayang sesama mereka. kamu lihat mereka ruku’ dan sujud mencari karunia Allah dan keridhaan-Nya, tanda-tanda mereka tampak pada muka mereka dari bekas sujud. Demikianlah sifat-sifat mereka dalam Taurat dan sifat-sifat mereka dalam Injil, yaitu seperti tanaman yang mengeluarkan tunasnya Maka tunas itu menjadikan tanaman itu kuat lalu menjadi besarlah dia dan tegak lurus di atas pokoknya; tanaman itu menyenangkan hati penanam-penanamnya, karena Allah hendak menjengkelkan hati orang-orang kafir (dengan kekuatan orang-orang mukmin). Allah menjanjikan kepada orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal yang saleh di antara mereka ampunan dan pahala yang besar.” (QS. Al-Fath: 29)

Rasulullah sangat sabar dan tabah ketika orang-orang kafir mencela pribadinya dan melakukan berbagai perbuatan keji kepadanya, akan tetapi tidak ada satupun orang yang mampu menahan amarah beliau ketika agama Islam dilecehkan. Sayyidah Aisyah memaparkan:

مَا خُيِّرَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بَيْنَ أَمْرَيْنِ إِلَّا اخْتَارَ أَيْسَرَهُمَا مَا لَمْ يَأْثَمْ فَإِذَا كَانَ الْإِثْمُ كَانَ أَبْعَدَهُمَا مِنْهُ وَاللَّهِ مَا انْتَقَمَ لِنَفْسِهِ فِي شَيْءٍ يُؤْتَى إِلَيْهِ قَطُّ حَتَّى تُنْتَهَكَ حُرُمَاتُ اللَّهِ فَيَنْتَقِمُ لِلَّهِ. أخرجه البخاري

“Rasul memilih perkara yg ringan jika ada dua pilihan selama tidak mengandung dosa. Jika mengandung dosa, Rasul akan menjauhinya. Demi Allah, beliau tidak pernah marah karena urusan pribadi, tapi jika ajaran Allah dilanggar maka beliau menjadi marah karena Allah (lillah).” (QS. Al-Bukhari)

Hadits diatas juga menunjukkan kekeliruan anggapan kaum liberal bahwa Rasulullah tidak marah dan bersikap toleran jika agama dihina. Ucapan seperti “Tuhan tidak perlu dibela”, “Yang dihina Tuhan kok kamu yang marah?”, dan sebagainya menurut kami merupakan salah satu cara menggerus ghirah Islamiyah dari umat Islam sehingga umat Islam menjadi lemah dan tidak peka hati dan fikirannya melihat pemurtadan, pelecehan Al-Quran, liberalisme, pluralisme, dan LGBT diasongkan begitu massif di tengah-tengah mereka. Tidak lagi menangis ketika melihat sumber daya alam negara dikeruk oleh pihak asing dan direndahkannya kaum pribumi dalam kegiatan ekonomi, sosial, budaya, dan politik. Na’udzubiLlahi min dzalika.

Kondisi seperti ini telah ditangisi oleh pendiri NU Hadlratus Syaikh KH. Hasyim Asy’ari. Beliau menyebutkan:
“Setiap hari mata kita menyaksikan berbaurnya lelaki dan perempuan (termasuk di sekolah-sekolah Islam) dengan pembauran yang menggelisahkan, dan telinga kita mendengarkan fenomena pergaulan bebas antara lelaki dan perempuan “apakah ini halal”, lantas didiamkannya, “ataukah ini haram” yang menyebabkan kemurkaan Allah dan kehinaan di dunia. Selain itu masih ada yang lebih celaka dan lebih pahit dari pada yang tersebut di atas, yaitu tersebarnya ajaran-ajaran kufur dan pemikiran sesat di kalangan anak-anak muda muslim baik di desa maupun di kota.”
“Termasuk dari kerusakan zaman adalah bahwa ada sekelompok orang yang mengaku berasal dari komunitas muslim, bahkan mengaku sebagai pembesar-pembesar Islam, namun mereka tidak mau menundukkan kepala terhadap perintah-perintah Allah, mereka tidak mau menjauhi larangan-larangan-Nya (artinya mereka meninggalkan Syari’at Islam), bahkan dahi-dahi mereka tidak pernah menempel di masjid. Dari sinilah adanya indikasi bahwa jika keagamaan di Negara kita menjadi sangat lemah bahkan hampir mati. (Muktamar NU 24 Mei 1948)” (1)

Syarat Praktek Pengamalan Ghirah Islamiyah

Sebagai seorang Muslim, ghirah atau kecintaan kepada Islam harus ditampakkan melalui pengamalan zahir dengan memperhatikan beberapa hal berikut:

1. Harus dilaksanakan dengan niat ikhlas untuk menolong agama Allah,bukan hanya untuk memenuhi hasrat amarah, nafsu, apalagi kepentingan harta dan jabatan.

2. Menyadari betul bahwa ini adalah cobaan dari Allah Ta’ala untuk mengukur seberapa kuat iman kita kepada-Nya dan Rasul-Nya.

3. Mengetahui dan menggunakan strategi dan metode yang tepat untuk menghadapi berbagai serangan yang terjadi.

4. Melakukan aksi sesuai kadar kemampuannya, tidak bertindak berlebihan sehingga malah menimbulkan masalah baru di tengah masyarakat.

5. Mempertimbangan maslahat dan mafsadah yang akan timbul.

6. Mengetahui peran dan tugasnya sesuai posisi dan kemampuan masing-masing.

7. Dilakukan dengan tenang, tidak bertindak anarkis, dan tetap memperhatikan kondisi masyarakat

8. Dilakukan dengan sabar, telaten, dan tidak mudah menyerah. (2)

Ghirah Wathaniyah berdasarkan Ghirah Islamiyah

Konsep ghirah Islamiyah dalam Islam terbatas dalam lingkup satu agama dan atas dasar prinsip agama bukan didasarkan pada kepentingan golongan, kelompok dll, serta tetap menjaga hak-hak persaudaraan.
Adapun konsep ghirah Basyariyah dan Wathaniyah, maka keduanya juga harus tetap mengacu pada Syari’at Islam. Keduanya bisa diterapkan sepanjang tidak bertentangan dengan ketentuan-ketentuan Syari’ah dan tidak memposisikannya di atas hukum-hukum Syari’ah.

Islam dengan ajarannya yang samahah (mudah) dan hakimah (berhikmah) tidak melarang seorang Muslim untuk berbuat untuk negaranya, saling mengasihi kepada sesama bangsanya, serta mengerahkan seluruh jiwa dan raganya untuk kepentingan bangsanya, karena hal ini merupakan bagian dari ukhuwah Islamiyah nan agung yang menyatukan umat Islam di seluruh dunia tanpa memandang ras, suku, dan bangsanya.

Adapun Hadits hubbul wathan minal iman sebenarnya adalah palsu. Akan tetapi ulama pakar hadits al-Sakhawi berkata bahwa meski hadits ini lafazhnya palsu namun maknanya sahih, dengan catatan wathonnya wathon islami. (3)

Ghirah Islamiyah Rasulullah ShallaLlahu ‘alaihi wa Sallama

Dalam kajian sejarah Islam, Rasulullah ShallaLlahu ‘alaihi wa Sallama pada awalnya sudah memiliki pengaruh dan kedudukan yang penting di dalam masyarakat Quraisy kala itu. Beliau dijuluki sebagai al-Amin dan diberi kewenangan sebagai mediator dan negosiator pada saat tokoh-tokoh pembesar Quraisy saling berebut memindahkan Hajar Aswad.
Akan tetapi, setelah menerima tugas dakwah Islam oleh Allah Ta’ala, Rasulullah secara tegas mendakwah ajaran Islam meskipun apa yang beliau sampaikan tersebut banyak ditolak oleh bangsanya yaitu bangsa Quraisy, bahkan oleh keluarganya sendiri. Rasa nasionalisme Rasulullah terhadap bangsa Quraisy ditinggalkan demi menegakkan Tauhid.

Rasulullah ShallaLlahu ‘alaihi wa Sallama banyak mengkritik bangsa Arab Jahiliyah karena sikap fanatisme buta terhadap warisan kepercayaan dan budaya nenek moyang mereka sehingga mereka menjadi buta dan tuli akan kebenaran. Hal ini seperti difirmakan Allah Ta’ala:

وَإِذَا قِلَ لَهُمُ اتَّبِعُوا مَا أَنْزَلَ اللَّهُ قَالُوا بَلْ نَتَّبِعُ مَا أَلْفَيْنَا عَلَيْهِ آبَاءَنَا أَوَلَوْ كَانَ آبَاؤُهُمْ لَا يَعْقِلُونَ شَيْئًا وَلَا يَهْتَدُونَ (170) وَمَثَلُ الَّذِينَ كَفَرُوا كَمَثَلِ الَّذِي يَنْعِقُ بِمَا لَا يَسْمَعُ إِلَّا دُعَاءً وَنِدَاءً صُمٌّ بُكْمٌ عُمْيٌ فَهُمْ لَا يَعْقِلُونَ (171) [البقرة : 170 ، 171]

“Dan apabila dikatakan kepada mereka: “Ikutilah apa yang telah diturunkan Allah,” mereka menjawab: “(Tidak), tetapi kami hanya mengikuti apa yang telah kami dapati dari (perbuatan) nenek moyang kami”. “(Apakah mereka akan mengikuti juga), walaupun nenek moyang mereka itu tidak mengetahui suatu apapun, dan tidak mendapat petunjuk?”. (170) Dan perumpamaan (orang-orang yang menyeru) orang-orang kafir adalah seperti penggembala yang memanggil binatang yang tidak mendengar selain panggilan dan seruan saja. mereka tuli, bisu dan buta. Maka (oleh sebab itu) mereka tidak mengerti. (171)” (QS. Al-Baqarah: 170-171)

Rasulullah ShallaLlahu ‘alaihi wa Sallama telah menghimbau umat Islam untuk mendahulukan semangat keislaman di atas semangat kesukuan dan kebangsaan. Dalam hadits disebutkan:

عَنْ أَبِى مُوسَى قَالَ جَاءَ رَجُلٌ إِلَى النَّبِىِّ – صلى الله عليه وسلم – فَقَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ ، مَا الْقِتَالُ فِى سَبِيلِ اللَّهِ فَإِنَّ أَحَدَنَا يُقَاتِلُ غَضَبًا ، وَيُقَاتِلُ حَمِيَّةً . فَرَفَعَ إِلَيْهِ رَأْسَهُ – قَالَ وَمَا رَفَعَ إِلَيْهِ رَأْسَهُ إِلاَّ أَنَّهُ كَانَ قَائِمًا – فَقَالَ مَنْ قَاتَلَ لِتَكُونَ كَلِمَةُ اللَّهِ هِىَ الْعُلْيَا فَهُوَ فِى سَبِيلِ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ . أخرجه البخاري

Dari Abu Musa, ia berkata: Seorang lelaki mendatangi Rasulullah ShallaLlahu ‘alaihi wa Sallama lalu bertanya, “Wahai Rasulullah, apakah yang dinamakan berperang di jalan Allah? Seorang dari kami ada yang berperang karena marah, dan ada yang berperang karena kehormatan bangsa.” Lalu Rasulullah menghadapkan kepala beliau kepadanya – dan beliau tidak mengangkat kepalanya kecuali karena lelaki tersebut berdiri – seraya menjawab, “Barangsiapa berperang untuk meninggikan KalimatuLlah, maka ia berperang di jalan Allah Azza wa Jalla.” (HR. Bukhari)

Contoh selanjutnya adalah perjanjian antara Rasulullah ShallaLlahu ‘alaihi wa Sallama bersama kaum Muhajirin dengan kaum Anshar dan komunitas non-Muslim di Madinah yang biasa disebut Madinah Charter atau Piagam Madinah. Menurut Zainal Abidin Ahmad dalam bukunya Piagam Nabi Muhammad S.A.W.: Konstitusi Negara Tertulis Pertama di Dunia (Jakarta: Bulan Bintang, 1973) Piagam Madinah disebut sebagai konstitusi negara tertulis pertama di dunia, mendahului Magna Charta Inggris selama enam abad; dan mendahului Konstitusi Amerika Serikat dan Perancis selama 12 abad. Beberapa kalangan mengatakan bahwa Piagam Madinah adalah bukti penerimaan Rasulullah terhadap toleransi dan kebhinnekaan berbasis pluralisme. Ini jelas keliru, karena dalam Piagam Madinah tidak ada pengakuan terhadap kebenaran ajaran agama lain. Dalam Piagam Madinah Rasulullah menyatukan kaum Muslimin Muhajirin dan Anshar sebagai satu umat yang saling melindungi, saling menjaga dari sikap zalim, serta siap berjihad dan setia kepada Rasulullah. Dalam Piagam Madinah Rasulullah bersepakat dengan komunitas Yahudi untuk saling menjaga dari bertindak zalim dan serangan dari luar terhadap Negara Madinah, melakukan transaksi tanpa riba dengan kaum Muslimin, serta melaksanakan ajaran agamanya menurut kepercayaan masing-masing(4). Disini Rasulullah ShallaLlahu ‘alaihi wa Sallama menghargai pluralitas masyarakat di Madinah, namun tidak membenarkan ajaran agama selain Islam seperti kata kaum pluralis.

Akan tetapi, ketika Yahudi Bani Qainuqa melanggar Piagam Madinah tersebut dengan melakukan pelecehan seksual terhadap seorang Muslimah yang melewati mereka, maka Rasulullah ShallaLlahu ‘alaihi wa Sallama memperingatkan mereka untuk tidak mengulanginya lagi. Namun Yahudi Bani Qainuqa tidak menggubris dan malah menantang Rasulullah, sehingga akhirnya mereka dikepung lalu diusir dari Madinah.(5)

Keputusan Rasulullah ini bukan tanpa alasan. Menurut Syaikh Ramdlan al-Buthi, Yahudi Bani Qainuqa memang sudah lama menyimpan dendam kesumat dengan Rasulullah apalagi setelah kemenangan umat Islam saat perang Badr. Mereka bahkan sudah berencana untuk melakukan kudeta dan penyerangan terhadap umat Islam. Ketika kaum Muslimin pulang dari perang Badr, Malik bin Shaif berkata kepada Bani Qainuqa, “Apakah kalian takut menghadapi sekelompok klan Quraisy yang tidak tahu cara berperang? Tidak. Apabila kita tidak menyembunyikan rencana kita untuk menyatukan kalian, kalian tidak akan punya kekuatan untuk berperang.”(6)

Setelah itu, Yahudi Bani Nadhir ikut-ikutan melanggar dan membatalkan isi Piagam Madinah yang sudah diputuskan bersama. Mereka dipersilahkan Rasulullah ShallaLlahu ‘alaihi wa Sallama untuk keluar dari Madinah, namun Abdullah bin Ubay lagi-lagi menghasut mereka untuk menyerang Rasulullah dan merebut daerah mereka. Akhirnya mereka dikepung oleh Rasulullah hingga akhirnya mereka menyerah.
Fakta historis Sirah Nabawiyah ini membuktikan bahwa rasa nasionalisme, kebangsaan, dan ukhuwah wathaniyah harus sesuai dan tunduk kepada Syari’ah Islam, dan umat Islam harus tegas kepada oknum-oknum yang melecehkan serta merusak ajaran dan umat Islam.

Ghirah Islamiyah dalam Sejarah para Khalifah

Pada masa Khulafa Rasyidun, ghirah Islamiyah yang tinggi dan membara terlihat dari ketegasan Khalifah Abu Bakr al-Shiddiq untuk memerangi kaum yang murtad karena hasutan nabi-nabi palsu dan kaum yang tidak mau membayar zakat (arab pedusunan), disaat banyak shahabat yang mengajukan usulan untuk menyadarkan mereka dengan jalur negosiasi dan persuasif. Bahkan shahabat Umar yang dikenal sangat keras pun berkata demikian. Namun khalifah Abu Bakr tetap pada ijtihadnya dan malah mengkritik keras Shahabat Umar karena sarannya tersebut. Akhirnya khalifah Abu Bakr menang dan para pembangkang tersebut bertaubat.(7)

Khalifah Umar juga tegas dalam melaksanakan hukum Islam tanpa memandang jabatan dan hubungannya. Khalifah Umar menghukum had terhadap Qudamah bin Mazh’un meski merupakan adik iparnya sekaligus gubernur daerah karena minum khamr(8). Beliau tidak segan-segan menghukum kerabatnya sendiri karena telah melanggar hukum Islam. Ini sesuai dengan ajaran Rasulullah ShallaLlahu ‘alaihi wa Sallama untuk menerapkan hukum Islam tanpa pandang status sosialnya. Beliau bersabda:

إِنَّمَا هَلَكَ الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ أَنَّهُمْ كَانُوا إِذَا سَرَقَ فِيهِمُ الشَّرِيفُ تَرَكُوهُ وَإِذَا سَرَقَ فِيهِمُ الضَّعِيفُ أَقَامُوا عَلَيْهِ الْحَدَّ وَايْمُ اللَّهِ لَوْ أَنَّ فَاطِمَةَ بِنْتَ مُحَمَّدٍ سَرَقَتْ لَقَطَعْتُ يَدَهَا. أخرجه أبو داود

“Orang-orang sebelum kalian hancur gara-gara ketika yang mencuri adalah orang terpandang maka dibiarkan dan jika yang mencuri adalah orang lemah maka ditegakkan sanksi padnaya. Demi Allah, andai Fathimah binti Muhammad mencuri niscaya aku potong tangannya.” (HR. Abu Dawud)

Jejak Pesantren dalam Menegakkan Islam dan Kemerdekaan Indonesia

Dalam konteks keindonesiaan, sejarah membuktikan bahwa pesantren dari zaman dahulu merupakan lembaga pendidikan Islam yang tidak hanya mengajarkan ilmu-ilmu Islam, namun juga menanamkan ghirah Islamiyyah, semangat jihad, dan perjuangan disertai keikhlasan hati dan pengorbanan. Pesantren dalam rekaman sejarah Indonesia telah berhasil menjadi benteng pertahanan bagi masyarakat Indonesia. Tidak sedikit kita temukan para pejuang mulai zaman kolonialisme hingga era kemerdakaan berasal dari kaum santri dan kyai yang gigih menyuarakan jihad secara fisik ataupun intelektual untuk menghalau dan melepaskan diri dari imperialism kaum kafir.

Pada zaman kolonialisme Belanda sejarah mengenal sosok para santri berjuang di medan perang seperti Sultan Agung, Imam Bonjol, dan Pangeran Diponegoro. Sultan Agung dari Kesultanan Mataram bersama Dipati Ukur melancarkan serangan terhadap VOC Belanda tahun 1628-1629 M hingga banyak serdadu Belanda ditawan di Yogyakarta. Imam Bonjol bersama para lama menggelorakan perang Paderi tahun 1821-1837 mennghadapi kaum Adat yang bekerjasama dengan Belanda. Pangeran Diponegoro yang pada masa mudanya hidup di lingkungan pesantren Tegalrejo dan serius dalam belajar ilmu agama berjuang bersama para ulama dan santri melancarkan peperangan hingga hampir membangkrutkan negeri Belanda dan menelan korban dari pihak Belanda hingga 700 jiwa dan biaya perang 20 juta Golden.

Pada era kemerdekaan kita mengenal sosok para ulama pejuang kemerdekaan nasional seperti KH. Hasyim Asy’ari dan KH. Wahab Hasbullah. KH. Hasyim Asy’ari melakukan resolusi jihad bersama kaum santri di Indonesia untuk memperjuangkan kemerdekaan. KH. Wahab Hasbullah dan Mas Mansoer mendirikan Nahdlatul Wathan (embrio Nahdlatul Ulama) yang berjuang mengembangkan pendidikan dan kesadaran politik nasional terhadap kalangan Ahlussunnah wal Jama’ah. Di era ini juga ada organisasi Jam’iyatul khairat, yang didirikan oleh para habaib dan ulama, atas dakwah merekalah semangat juang rakyat menggelora untuk memerdekakan bangsa ini. Sangat tidak beradab jika oknum elite PBNU menghujat dakwah para habaib dari Timur Tengah khususnya Yaman, dan menuduh dakwahnya hanya untuk “kluyar-kluyur” di negeri orang. Apa elite PBNU ini tidak pernah mendengar pidato Soekarno di Semarang Tahun 1948 M. yang isinya “Kita juga harus harus berterima kasih kepada warga keturunan Cina. Kita juga harus berterima kasih kepada warga keturunan India. Tetapi kita jangan berterima kasih kepada warga keturunan Arab, karena …Karena … mereka … sudah menjadi bagian dari keluarga besar bangsa kita sejak ratusan tahun yang lalu….” Maka itu Bung Karno sendiri yang mengusulkan dan membuat PP No.10 yang disetujui MPR bahwa warga keturunan Arab diberi status Kewarganegaan ‘Stelsel pasif’ yang sama dengan warga Pribumi yaitu otomatis dianggap dan dicatat sebagai WNI.

Organisasi Nahdatul Ulama lahir dari gabungan tiga organisasi besar di kala itu, yakni Nahdotuttujjar yang diketuai oleh KH. Hasyim Asy’ari, Nahdatul Wathan oleh KH. Wahhab Hasbullah dan Jam’iyyatunnasihin oleh KH. Asnawi Kudus. Sedangkan pemberian nama Nahdatul Ulama diberikan oleh seorang ulama keturunan Makkah teman KH. Wahhab Hasbullah. Bahkan berdirinya Nahdatul Wathan dilatar belakangi oleh perasaan malu KH. Wahhab Hasbullah terhadap kaum nasionalis yang telah dulu memperjuangkan kemerdekaan, beliau merasa mentalnya terbebani bila kaum santri ketinggalan jauh dalam upaya memperjuangkan kemerdekaan Indonesia, apalagi ditambah sebagian besar orang-orang Islam jaduk (sakti mandraguna) memihak penjajah.

Keberadaan orang-orang jaduk di era penjajahan, meski tidak semuanya akan tetapi kebanyakan dari mereka dimanfaatkan oleh kolonial Belanda, guna melemahkan perjuangan rakyat yang ingin memberontak kekuasaan penjajah, para pendekar pengkhianat bangsa ini dengan sadis membantai saudara setanah air, kelaliman Raja Amangkurat I yang bekerjasama dengan VOC adalah contoh kongkretnya, ribuan kiai dan santri dibantai pada masanya, sehingga ia dijuluki Raja Tiran dari Jawa. Begitulah cara-cara licik penjajah, memanfaatkan peran kejawen dan orang jaduk untuk membackup segala daya upaya pemberontakan rakyat. China-Komunitas juga demikian, dibesar-besarakan dan diunggulkan di atas pribumi, untuk memperkuat hegemoni penjajah. Dalam bidang pendidikan, penjajah sengaja menggalakkan pelajaran-pelajaran umum di sekolah-sekolah mereka, yang sangat membahayakan akidah umat Islam semisal Ilhadiyah yang menafikan Allah SWT sebagai pencipta langit bumi. Kaum santri tempo dulu dilarang membaca tafsir Thantawi, karena tafsir ini menerangkan tata cara merakit bom. Sedangkan para pegawai di masa pemerintahan penjajah, yang mayoritas dijabat oleh kaum priyai, kiga dicekoki ajaran-ajaran Kristen, tapi untungnya dalam telinga mereka masih terngiang lantunan-lantunan kalam ilahi yang diajarkan oleh kiai yang ikhlas di masa kecilnya, oleh karena itu, pengajaran al-Quran harus meneladani metode kiai-kiai kuno, jangan seperti sebagian pendidikan Al-Quran zaman sekarang, yang didominasi guru-guru perempuan dan terlalu banyak iuran. Menurut cerita KH. Maimoen Zubair, ada dua istilah bagi kiai zaman kuno, ada kiai mataram (ketika mengajar perempuan tidak pakai satir) ada kiai pajang (pakai satir ketika mengajar perempuan), akan tetapi lebih banyak kiai mataramnya, Wallahu alam.

Menjaga Indonesia bukan menjadi goyah (tujuan), akan tetapi sebuah wasilah (sarana) untuk memperjuangkan masjid, madrasah diniyah, hukum-hukum Islam dan pendidikan Islam, agar tidak terjadi kevakuman seperti pada zaman penjajahan Jepang. Begitulah manhaj perjuangan para sesepuh ulama tempo dulu yang kami pahami. Tidak seperti yang digaungkan oleh kaum liberalis yang menyatakan semua perjuangan ulama itu berdasarkan jiwa nasionalisme tinggi. Dan perlu kami terangkan bahwa syubbanul yaum rijalul gad itu bukan hadits, akan tetapi maqolah syaikh Musthofa Al-Ghalayini dalam kitab Idzotunnasyiin dan juga hubbul wathan minal iman itu hadits palsu, akan tetapi mungkin maknanya benar jika negara yang dimaksud dalam maqolah tersebut adalah negara Islam atau minimal islami.

Sikap istiqamah dan ikhlas para ulama pesantren dalam mengajarkan ilmu-ilmu Islam juga sebagai implementasi jihad intelektual. Pengajaran terhadap kitab-kitab ulama yang luhur seperti Fath al-Qarib, Fath al-Mu’in, Aqidah al-‘Awam, Ta’lim al-Muta’allim, Bulugh al-Maram, Alfiyyah li Ibni Malik, dan lainnya dilakukan secara intens, disiplin, dan konsisten. Mereka juga mengarang kitab dalam berbagai fan ilmu untuk mengembangkan keilmuan Islam dan meluruskan berbagai kesesatan dari pihak kafir atau muslim sendiri. Jihad intelektual dan amar ma’ruf nahi munkar inilah yang membuat eksistensi pesantren tetap tegap dan megah melewati dinamika sejarah dan tidak bergeming oleh rekayasa kaum penjajah.

Implementasi Ghirah Islamiyah-Wathaniyah Masa Kini

Umat Islam Indonesia memang belum memiliki pemerintahan Islam, namun bukan berarti kita berpangku tangan ketika nilai-nilai Islam dinistakan. Justru dalam kondisi seperti ini ghiroh Islamiyah harus dipupuk dan ditampakkan di khalayak umum, asalkan tidak bertindak anarkis dan inkonstitusional, sebagai bukti besarnya harapan kita akan terwujudnya pemerintahan Islam. Jangan seperti partai-partai Islam akhir-akhir ini yang justru melawan ghiroh Islamiyah dengan dukungannya terhadap kepemimpinan non muslim. Prinsip ini didasari oleh sabda Nabi Muhammad SAW.
من مات وليس في عنقه بيعة مات ميتة جاهلية. أخرجه البيهقي في السنن الكبرى

“Rasulullah SAW bersabda: siapapun yang mati, sedang dalam lehernya tidak diketemukan ikatan baiat (terhadap pemerintahan Islam), sungguh ia mati sebagaimana model kematian jahiliyyah” (HR. Al-Baihaqi, As-Sunan al-Kubra)

Kita jangan buta mata, acuh tak acuh ketika Islam dilecehkan, sebagaimana sikap Wahhabi dan NU yang mengaku moderat. Umat Islam jangan rela agamanya dikebiri di negeri sendiri. Meskipun itu sebuah kenyataan pahit, namun hal ini harus kita lawan dan hilangkan dengan penuh kesabaran, harapan, rasa optimisme yang tinggi serta tidak putus asa sehingga menimbulkan depresi. Semua ini dapat tercapai asal umat Islam tetap istiqomah membaca Al-Qur’an, berdo’a, membaca hizib-hizib seperti hizib bukhari, hizib nashor, mengaji kitab-kitab di pesantren, ngopeni masjid dan madrasah diniyah, tidak terlalu sibuk dan terforsir dengan materi duniawi. Insyaallah harapan nenek moyang kita yang mencita-citakan izzul islam wal muslimin di bumi pertiwi dapat segera terwujud, Innallaha ‘ala kulli syai’in qodir.

Akhir-akhir ini banyak para tokoh Islam menyuarakan “NKRI-Pancasilaharga mati” di tengah-tengah umat Islam, padahal semestinya kita harus mengingatkan kepada umat tentang penghianatan-penghianatan musuh Islam di Majelis Konstituante, penghapusan tujuh kata dalam Piagam Jakarta, penolakan Soekarno terhadap syarat Islam bagi pemimpin Indonesia, bahkan di era reformasi, lewat Amandemen, Amien Rais dkk telah menghapus UUD 45 pasal 6 ayat (1) perihal presiden harus orang Indonesia Asli.

Di samping itu, sangat disayangkan, ada dan bahkan banyak dari mereka justru mencibir takbir. Padahal sejarah mencatat bahwa Indonesia jaya berkat pekikan takbir Bung Tomo dan kawan-kawannya. Begitu juga munculnya resolusi jihad Mbah Hasyim Asy’ari atas dasar membela azan, sholat, dan hukum-hukum Islam yang lain. Namun oleh gerombolan liberal justru dibelokkan atas dasar jiwa nasionalisme. Ini jelas sebuah pemutar balikan fakta.
Gerakan-gerakan seperti ini tidak hanya dilakukan oleh para liberalis. Upaya pengkerdilan terhadap Islam juga datang dari para misionaris. Islam di Indonesia yang tempo dulu mencapai 98% kemudian terkikis menjadi 80% gara-gara kristenisasi, bahkan mungkin bisa kurang dari itu(9). Hal ini karena upaya mereka yang memperbanyak gereja, simbol-simbol kristen di daerah minoritas Islam dan juga menghitung penganut kepercayaan animisme yang tersebar luas di Papua, Sampit, Simalungun dan lain sebagainya.

Kesemua ini masuk dalam ranah al-gozwul fikri Proyek-proyek zionisme melalui beberapa fase:
Ta’lih ‘uqul (menuhankan akal)
Tahrirul ‘uqul (membebaskan akal)
Tahrirunnisa’ (membebaskan wanita)
Muhawalatuttahrif (upaya pendistorsian)
Muhawalatuttasykik (menebar keragu-raguan)
Wad’ul qowanin al-basyariyah (menetapkan undang-undang kemanusiaan)
Muhawalatuttaghrib (westernisasi)
Muhawalatuttakhdits (modernisasi)
Muhawalatuttafriq bainal muslimin (upaya pemecah belahan umat Islam) termasuk takfir ala Wahhabi.

Sejarah mencatat bahwa sekte syiah selalu menjadi biang keladi kericuhan dan pemberontakan terhadap pemerintahan Islam. Penghianatan Syiah pertama dilakukan oleh Abdullah bin Saba’, Alib bin Yaqtin pada masa Harun Al-Rasyid, Dinasti Fatimiyah di Mesir, Menteri Syiah An-Nashir Lidinillah, Muhammad Al-Qami dan Nasiruddin At-Thusi pada masa pmerintahan Al-Mu’tasim Billah, Dinasti Shofawi di Persia, pengkhianatan Khomeini, Organisasi amal yang melahirkan Hizbullah, pengkhianatan Syiah di Bahrain, Yaman, Saudi Arabia, Pakistan dll.

Contoh pengamalan ghiroh wathaniyah yang selaras dengan ghiroh islamiyah di masa kini adalah mewaspadai segala macam bentuk penjajahan asing dan aseng, mulai dari bidang agama, ekonomi, sosial, budaya, dan politik. Kasus-kasus seperti penistaan agama yang marak terjadi akhir-akhir ini, semisal Nabi dikatakan peramal masa depan, puisi yang mengatakan bahwa kidung ibu pertiwi lebih indah dari suara azan dan sari konde yang lebih anggun dari cadar, kitab suci dianggap fiksi, Al-Qur’an bukan kitab suci, Nabi Muhammad bukan pula manusia suci, ujaran-ujaran negatif terhadap Haba’ib Timur Tengah yang berdakwah di Indonesia, imigrasi besar-besaran pekerja asing dari china, mudahnya pemerintah mengimpor barang-barang komoditi tanpa memikirkan petani, secara diam-diam menaikkan harga BBM dukungan penuh pemerintah dalam proyek reklamasi, maraknya barongsai yang diundang dimana-mana, tekanan terhadap partai-partai Islam untuk mendukung segala kebijakan pemerintah yang bertentangan dengan aspirasi umat Islam, harus menjadi obyek ghiroh wathaniyah-islamiyah sebagai bentuk upaya menciptakan bangsa dan negara yang makmur.

Ikhtitam

Kecintaan terhadap bangsa dan negara Indonesia memang diperlukan sebagai wujud cinta kepada tanah kelahiran kita. Akan tetapi, kecintaan kita kepada bangsa dan negara tidak semestinya ditempatkan diatas kecintaan kita kepada Allah dan Rasul-Nya. Bahkan ghirah dan ukhuwah wathaniyah akan menjadi semakin kuat dan bermakna bila didasarkan kepada ghirah dan ukhuwah Islamiyah.

Semoga Allah Ta’ala selalu memberi kita hidayah dan taufiq untuk selalu mencintai dan ikhlas berbuat untuk agama-Nya, serta memberi barakah kepada Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) yang berdiri berkat jasa dan jihad para ulama dan santri bersama pemerintahan Islam dan rakyat Indonesia sehingga selalu dijaga keislamannya untuk kita dan anak cucu kita nanti. Amin Ya Rabbal ‘Alamin.

وصلى الله على سيدنا محمد وعلى آله وصحبه وسلم

Sarang, 14 Sya’ban 1439 H.
30 April 2018 M.

KH. Muhammad Najih Maimoen

** Catatan Kaki;

1. Syaikh Muhammad Najih, Ahlussunnah wal Jama’ah: Akidah, Syari’ah, Amaliyah, Sarang: Maktabah Al-Anwar 1, hlm. 56.

2. Hujjatul Islam Abu Hamid Muhammad bin Muhammad Al-Ghazali. Ihya Ulummiddin. Beirut: Dar al-Kutb al-Ilmiyyah, Juz 2 hlm. 279.

3. Abu Abdullah Muhammad bin Darwish, Asna al-Mathalib fi Ahadits Mukhtalif al-Maratib, Beirut: Dar al-Kutb al-Ilmiyyah, hlm. 181.

4. Syaikh Ramdlan al-Buthi, Fiqh al-Sirah, Beirut: Dar al-Fikr, hlm. 223-224.

5. Fiqh al-Sirah, hlm. 248.

6. Fiqh al-Sirah, Beirut: Dar al-Fikr, hlm. 252.

7. Jalaluddin al-Suyuthi, Tarikh al-Khulafa, Mesir: Mathba’ah al-Sa’adah, hlm. 67.

8. Abu Bakr Ibn al-Arabi, al-‘Awashim min al-Qawashim, Beirut: Dar al-Jil, hlm. 105.

9. Disarikan dari ceramah KH. Sadid Jauhari, di Madrasah Ghazaliyah Syafiiyyah, Sarang Rembang 26 April 2018

NARASUMBER DI ACARA KULIAH JUMAT DEMU, SYAIKH MUHAMMAD NAJIH: PALING PENTING MENJAGA IKHLAS DAN SOPAN SANTUN KEPADA ALLAH

Pada hari Jumat kemarin tepatnya tanggal 9 Jumadal Ula 1439 H atau 26 Januari 2018 M, Dewan Murid (DEMU) Madrasah Ghazaliyyah Syafi’iyyah menggelar Kuliah Jum’ah (Kuljum) kedua untuk periode khidmah 2017-2018 dengan mengangkat tema “Nilai-nilai Aswaja dalam Kehidupan Pluralitas Kebangsaan”. Dalam acara ini, Syaikh Muhammad Najih untuk kedua kalinya dimohon oleh DEMU untuk menjadi narasumber sekaligus pemakalah. Beliau memberi penjelasan secara tuntas tentang tulisan yang beliau buat sebagai panduan untuk pemaparan yang beliau sampaikan. Berikut kutipan muqaddimah beliau pada acara tersebut:
“Sebetulnya makalah ini sudah menjadi buku. Dulu saya mewakili Ustadz Ihya Ulumuddin sebagai perwakilan alumni Sayyid Muhammad Alawi al-Maliki untuk ceramah di pondok pesantren Situbondo. Disana saya menghadapi para mahasiswa dan orang-orang yang fanatik dengan Pancasila. Disini kita orang-orang santri yang belajarnya murni ilmu agama, Fathul Qarib, Fathul Mu’in, Hasyiyah al-Mahalli. Itu saja tidak khatam, bisanya khatam karena dipaksakan.
Jadi diantara pelajaran di MGS dan pondok Sarang bahwa keadaan di luar atau negara kita banyak yang berbeda. Terus jadi satu pertanyaan, kalau tidak sama atau berbeda kenapa pelajaran di pesantren Sarang tidak disesuaikan dengan apa yang ada di negeri kita? Disini saya jawab sebetulnya hukum Islam atau Fiqh diamalkan secara kaffah pada zaman keemasan Islam yakni zaman Rasulullah ShallaLlahu ‘alaihi wa Sallama, Shahabat, Tabi’in, dan mungkin Tabi’it Tabi’in. Banyak hal-hal baru yang tidak ada dalam kitab atau Fiqh, atau dalam Al-Quran Hadits. Disitulah kita membutuhkan fatwa, jawaban, dan solusi.
Jadi masalah perbedaan antara ilmu dan amaliah itu sudah lama. Kalau ilmu milik ulama, apalagi ilmu dari Al-Quran Hadits pasti benar. Ilmu dari para ulama Ushuluddin banyak benarnya. Tapi sekarang keadaan di masyarakat, tinggal kita punya pemerintahan yang melindungi ilmu agama atau tidak. Kalau kita punya negara, daulah yang melindungi bahkan mengusung dan membela nilai-nilai atau hukum-hukum Islam, InsyaAllah dan pasti umat ini tertata.
Tapi kita ada problem lagi. Negara Islam aslinya kan khilafah atau kerajaan tapi yang besar sekali. Taruh contohnya Bani Umayyah yang berpusat di Damaskus menguasai mulai dari Maroko sampai mungkin ke Cina dan Indonesia tepatnya di daerah Aceh.
Kemarin kita membaca karangan guru saya Sayyid Muhammad Alawi yaitu al-Dzakhair al-Muhammadiyah, diterangkan bahwa kondisi Masjid Nabawi tidak dirubah oleh khalifah Abu Bakar, kemudian oleh khalifah Umar diperluas dengan memasukkan rumah Sayyidina Abbas ke dalam masjid namun bahan temboknya tetap. Mungkin dikasih lepohan (baca: kulitan) dengan thin (plester). Asalnya hanya batu-batuan dan batu bata tanpa ada plesternya. Lalu di zaman khalifah Utsman bahaan temboknya diambil dari bebatuan Damaskus yang kokoh itu dan masjid yang asalnya beratap papah kurma lalu diganti dengan kayu jati.
Mari kita fikir, negeri mana ada banyak kayu jatinya? Indonesia, walaupun Islam belum sampai ke Jawa. Paling ke Malaysia, Langkat, Malaka, Johor, lalu Sumatra, Aceh, Medan, bahkan mungkin Padang. Tapi kan jati kebanyakan dari Jawa. Orang Arab mengimpor dari Sumatra, dan orang Sumatra mengimpor dari Jawa. Berarti orang Islam masuk ke Indonesia pada zaman Sayyidina Utsman. Belum lagi zaman Abbasiyah yang kekuasaannya melebar kemana-mana. Mungkin kerajaan Aceh sudah ada pada zaman Abbasiyah, atau bahkan Umayyah.
Sekarang negara dengan pemerintahan sah dan daerah yang luas sekali, mesti ada yang tidak terjamah dan tertangani. Kekuasaan Islam ini tidak dimiliki oleh raja-raja manapun sebelum Islam. Pernah Dzulqarnain menaklukkan negeri-negeri tapi bukan berarti menguasai. Kerajaan membayar upeti kepadanya saja, tapi bukan berarti pemerintahan Dzulqarnain berjalan disana. Penaklukannya sampai ke Papua bahkan Maroko. Di Timur Tengah sampai ke tempat munculnya Ya’juj Ma’juj.
Tadi si Qari’ membaca surah al-Kahfi menggunakan qiraah imam-imam Masjidil Haram, MasyaAllah. Sayang lagunya ikut Abdurrahman sudais, padahal dia imam yang tidak begitu disenangi guru saya. Masak tidak tahu ceritanya? Guru saya pada tanggal 15 Ramadhan tahun sekian berkata tidak senang dengan Abdurrahman Sudais, padahal dia yang menjadi imam shalat Tarawih. Ketika jenazah Abuya dibawa ke Masjidil Haram, para santri takut kalau imamnya adalah Abdurrahman Sudais karena suaranya enak namun kejam dengan maulid. Dia paling anti maulidan. Dia senang merendahkan pelaku muludan, dianggap hanya cari makanan saja. Tapi itu kan oknum atau orangnya, sedangkan maulidan kan baik. Nanti ketika ada muludan bilang saja agar makan jangan banyak-banyak, kalau kenyang selesai makannya, dan nanti ada yang diambil untuk fakir miskin. Kalau begini kan bisa. Sama dengan kita yang ngajinya Fath al-Qarib, Fath al-Mu’in, ‘Uqud al-Juman, al-Jauhar al-Maknun, tapi wataknya klomprat-klomprot, malasan, dan seterusnya, apalagi mbangkong. Itu kan oknum. Ngajinya itu bagus, hanya saja mentalnya yang harus dibina.
Saudara-saudara, adik-adik, dan anak-anakku yang saya hormati dan sayangi. Saya ulangi lagi bahwa hukum-hukum Islam adalah hablun bainana wa bainaLlah. Allah Ta’ala berfirman:
فَقَدِ اسْتَمْسَكَ بِالْعُرْوَةِ الْوُثْقَى [البقرة : 256]
“Maka sesungguhnya ia telah berpegang kepada ikatan yang amat kuat.” (QS. Al-Baqarah: 256)
Sebetulnya yang perlu diutamakan adalah akidah. Sebelum mengaji Fiqh mestinya akidah dulu yang kuat agar tidak mudah takut. Kalau sudah begini dhawuhe Allah, dhawuhe Rasul, maka harus diamalkan dan dibela walaupun ada yang menteror, mengancam, membunuh, dan seterusnya. Setelah kita tidak takut kepada makhluk baru diberi ilmu-ilmu Fiqh. Ilmu shalat, zakat, bersuci, cara muamalah yang halal, syarat-syaratnya, dan seterusnya.
Saudara-saudara. Sebetulnya makalah ini sudah pernah saya sampaikan dan sudah menjadi buku kecil, diistilahkan buku “Merah-Putih” karena sampulnya merah-putih. Poinnya adalah masalah Pancasila karena istilah “asas tunggal Pancasila” yang katanya diproklamasikan oleh NU di Situbondo. Saya hanya mengatakan, bahwa intinya kami menerima Pancasila asalkan tidak bertentangan dengan Syari’ah dengan sepenuh hati. Kalau bertentangan dengan Syari’ah aslinya kami tidak menerima, tapi bagaimana itu sudah menjadi kesepakatan negara ya diterima tapi tidak dari hati. Zhahiran la bathinan. Di makalah ini sebagian saya petik dari buku itu dengan beberapa tambahan.”

Penjelasan tentang Isi Makalah
Setelah memberi prolog diatas, Syaikhina Muhammad Najih lalu membaca makalah yang telah beliau buat. Berikut kami sebutkan beberapa kutipan teks dalam makalah tersebut beserta penjelasan Abah Najih tentangnya.
Pendidikan Ulama dan Kyai adalah Pendidikan Pesantren
[Indonesia merupakan negara yang memiliki pluralitas dan kemajemukan masyarakat yang tinggi. Dalam kondisi demikian, Islam ala Ahlussunnah wal Jamaah telah terbukti mampu berkembang begitu pesat di seluruh penjuru negeri hingga menjadikan mayoritas masyarakatnya memeluk agama Islam. Selain itu, ajaran Aswaja yang diajarkan oleh ulama dan kyai telah mendarah daging di masyarakat sehingga sikap sopan santun, ramah, dan tawadlu menjadi ciri khas bangsa Indonesia di mata dunia, sekaligus memiliki sikap militan dan teguh dengan agamanya, sehingga selama tiga setengah abad hingga sekarang bangsa Indonesia tidak mudah dimurtadkan oleh penjajahan yang datang silih berganti.]
Penjelasan Syaikh Muhammad Najih: “Muqaddimah ini yang perlu dicatat adalah kata-kata “yang dididik oleh ulama dan kyai. Mana ini? Ya pesantren. Bahkan menurut saya adalah pesantren salaf atau minimal setengah salaf. Kalau pelajaran umum semua kan bukan ajaran kyai. Penulis materi pelajaran di MTs dan MA adalah orang-orang Muhammadiyah, apalagi di SMP yang tidak ada kutubussalaf. Materi ajaran Islam kebanyakan buatan muhammadiyah. Makanya ada kasus di SD atau MI membaca al-Fatihah saja tidak memakai Basmalah. Ini karena pengaruh Muhammadiyah, bahkan sebagian Wahabi.
Jadi maksud saya, dari kata-kata ini yang benar-benar mendapat pelajaran dari ulama dan kyai adalah pesantren salaf. Kalau tidak pesantren atau hanya namanya saja yang pesantren berarti bukan ajaran kyai, hanya mungkin punya budaya santri seperti tahlilan, qunut, dsb. Kalau tahlilan dan qunut kan urusan masyarakat, namun karena tidak ada pembelajaran kitab seperti Aqidah al-‘Awam dan Kharidah al-Bahiyyah, maka akidahnya sesuai yang diajarkan di sekolah-sekolah itu. Tidak ada Khaliq. Di sekolah-sekolah umum kan tidak disebutkan bahwa pencipta langit bumi adalah Allah. Ada? Gak ada. Berarti akhirnya liberal, kosong dari agama, ateis, komunis, dan sebagainya. Maka waspadalah. Kalau masih ada ajaran pencipta langit bumi adalah Allah InsyaAllah selamat jika diingatkan terus. Walaupun ada tahlilan dan dzibaan tapi hal itu urusan bermasyarakat, belum menjadi akidah. WaLlahu A’lam.”
Rahmatan lil ‘Alamin adalah Umat Islam
[Islam merupakan agama Allah SWT yang diturunkan untuk seluruh manusia. Di dalamnya terdapat pedoman dan aturan demi meraih kebahagiaan dan keselamatan di dunia dan akhirat. Ada tiga hal yang menjadi sendi utama dalam agama Islam itu, yaitu Iman, Islam dan Ihsan.]
Penjelasan Syaikh Muhammad Najih: “Kata-kata “yang diturunkan untuk seluruh umat manusia” adalah maksud dari Firman Allah Ta’ala:
وَمَا أَرْسَلْنَاكَ إِلَّا رَحْمَةً لِلْعَالَمِينَ [الأنبياء : 107]
“Dan tiadalah Kami mengutus kamu melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam.” (QS. Al-Anbiya: 107)
Tapi yang menerima ajaran Islam siapa? Umat islam. Berarti merekalah yang mendapatkan rahmat Allah di dunia dan di akhirat. Orang kafir tidak mendapat rahmat Allah di akhirat. Di dunia mungkin mereka mendapatkan rahmat dan jelas mendapat rizki. Setelah Rasulullah ShallaLlahu ‘alaihi wa Sallama tidak ada siksaan besar-besaran yang menimpa seluruh manusia.”
Ahlussunnah Awalnya adalah Ahli Hadits
[Kedua, kata al-sunnah, yang memiliki dua arti kemungkinan; Segala sesuatu yang telah diajarkan oleh Kanjeng Nabi Muhammad SAW, baik melalui perbuatan, ucapan dan pengakuan Kanjeng Nabi Muhammad SAW; Al-thariqah (jalan dan jejak), maksudnya Ahlussunnah wal Jama’ah itu mengikuti jalan dan jejak para sahabat Kanjeng Nabi Muhammad SAW dan tabi’in dalam memahami teks-teks keagamaan dan mengamalkan ajaran agama.]
Penjelasan Syaikh Muhammad Najih: “Yang dimaksud pengakuan disini adalah Kanjeng Nabi diam. Taqrir itu maksudnya bukan pengakuan, tapi diam yakni ada shahabat mengerjakan atau mengucapkan sesuatu lalu Kanjeng Nabi diam. Kalau mengakui kan seperti berkata, “Ini benar.” Ini namanya Sunnah Qauliyah dan bukan ini maksud dari Sunnah Taqririyah. Saya suruh anak-anak untuk menukil keterangan tapi dia kurang paham. Yang dimaksud taqrir adalah sikap diamnya Rasulullah ShallaLlahu ‘alaihi wa Sallama terhadap apa yang diucapkan atau dilakukan oleh shahabatnya.
Jadi sunnah itu ada kalanya hadits dan ada kalanya makna hadits. Maka sebenarnya yang pas menjadi Ahlussunnah adalah ahli hadits, namun orang Islam begitu banyak. Masa’ ahli hadits semua? Kan tidak. Selain itu ilmu sudah berkembang banyak. Masa’ yang Ahlussunnah hanya yang ahli hadits saja?
Artinya makna Ahlussunnah rodok nglokor sithik (sedikit membelok). Asalnya Ahlussunnah adalah ahlu hadits, tapi kemudian mereka disusupi orang-orang ekstrim, para musyabbihah dan mujassimah. Kaum-kaum ortodoks itu. Padahal umat Islam wawasannya luas dan sudah belajar Manthiq, Balaghah, dan Majaz, masa’ semua teks dipaksakan harus Haqiqat, tidak boleh menakwil, apalagi disuruh tasybih-tajsim? Tidak mungkin. Makanya Ahlussunnah maknanya adalah Ahlu Thariqah yang dipahami secara luas mulai thariqah Rasulullah ShallaLlahu ‘alaihi wa Sallama dan shahabat, serta umat Islam secara umum dalam bernegara, bermasyarakat, dan beragama.”
Al-Jama’ah artinya Menjaga Mayoritas
[Kata al-Jamaah menjadi identitas bagi Ahlussunnah wal Jamaah sebagai golongan yang selalu memelihara sikap kebersamaan (Persatuan dalam satu negara atau komunitas Islam Sunni, sejak Awal hingga sekarang, Sunni selalu menjadi aliran mayoritas, maka tidak berlebihan jika dikatakan mempertahankan Sunni berarti mempertahankan Islam. Oleh karena itu, jangan ada usaha-usaha mempertahankan apalagi memperjuangkan sekte-sekte minoritas seperti sekte Syi’ah, Mu’tazilah, Wahhabi dst… karena disamping paham-pahamnya yang sesat juga hanya akan menambah perpecahan dan memperkeruh keadaan).]
Penjelasan Syaikh Muhammad Najih: “Al-jama’ah adalah kebalikan dari al-furqah atau al-firaq, kelompok-kelompok. Al-jamaah artinya adalah kita menjaga mayoritas. Sering di era modern liberal sekarang ini kita sebagai mayoritas, status quo, atau mainstream sekarang digugat. “Mainstream sekarang digugat,” kata liberal sekarang begitu. Kalau kita tidak. Rasulullah ShallaLlahu ‘alaihi wa Sallama:
يد الله على الجماعة من شذ شذ فى النار (رواه والنسائي والحاكم)
“Tangan Allah di atas Jama’ah. Barangsiapa mengucilkan diri maka dia mengucil di neraka.” (HR. Hakim dan Nasai)
إن الله لا يجمع أمتي على ضلالة (رواه الشيخان)
“Sungguh Allah tidak mengumpulkan umatku pada kesesatan.” (HR. Bukhari-Muslim)
Kalau sudah mayoritas maka tidak akan tersesat. Yang tersesat adalah yang aneh-aneh itu.
Mayoritas umat Islam sekarang terpisah. Sekarang yang masih mayoritas inilah yang kita cari, yang tersisa dari zaman Shahabat dan Tabi’in sebelum terjadi perpecahan dalam agama dalam akidah. Asalnya umat Islam terpecah dalam urusan politik dan kekuasaan, kemudian merambat menjadi perpecahan urusan agama.
Kesimpulannya, Ahlussunnah wal Jamaah itu dalam urusan Fiqh ikut Madzahib Arba’ah, dalam urusan akidah ikut Asy’ari dan Maturidi. Dalam kitab al-Madkhal saya tambahkan al-Atsariyyah, orang-orang yang mengikuti atsar-atsar dan makna zahir nash-nash tanpa tasybih dan tajsim. Memang ada ulama yang menambahi begitu itu tapi sedikit, dan kebanyakan langsung menyebutkan Asy’ariah dan Maturidiah. Hal ini karena dalam Asy’ariah sendiri yang saya tahu sudah ada dhawuh:
وكل نصّ أوهم التشبيها # أوّلْه أو فوّضْ ورُمْ تنزيها
Setiap nash yang mencurigakan adanya tasybih # takwillah atau tafwidh dan tetapkan pensucian kepada Allah
Takwil adalah madzhab khalaf, bahkan kalau kita telurusi kitab al-Salafiyah Marhalah Zamaniyyah Mubarakah karangan Syaikh Ramdlan al-Buthi kita temukan bahwa Imam Ibn Abbas sering menakwil juga. Hal ini karena bahasa Arab itu luas, ada namanya haqiqat dan majaz. Sedangkan tafwidl adalah madzhab salaf. keduanya sudah dirangkum dalam madzhab Asy’ari. Tafwidl artinya diam seperti taqrir tadi, tidak pro sana dan tidak pro sini. Akan tetapi tetap tanzih, harus meyakini bersihnya Allah dari hal-hal yang kurang.”
Menjaga Keseimbangan Nash dan Akal
[Dalam hal aqidah, Ahlussunnah wal Jamaah mempertimbangkan dan menetapkan beberapa hal di bawah ini. Keseimbangan dalam telaah dan penggunaan dalil akal (tajsim dan tasybih) dan dalil syara (mutsbit maa tanzih) agar tidak mengalahkan salah satunya.]
Penjelasan Syaikh Muhammad Najih: “Keseimbangan disini artinya tidak tasybih dan tidak tajsim, istbat ma’a tanzih agar satu tidak mengalahkan satunya lagi. Jadi dalil akal bahwa Allah Ta’ala bersih dari tasybih dan tajsim, Allah tidak mungkin musyabahah. Allah mukhalafah lil hawadits. Sedangkan dalil Syara’ bahwa:
الرَّحْمَنُ عَلَى الْعَرْشِ اسْتَوَى [طه : 5]
“Allah Sang Maha Memberi Rahmat Istawa di atas ‘Arsy.” (QS. Thaha: 5)
Kita padukan dan mensinergikan dalil Syara’ dan akal agar tidak ada yang dikalahkan.”
Berpegang Al-Quran Hadits dengan Cara yang Benar
[Berpegang pada al-Quran dan al-Hadits dengan cara-cara yang benar menurut ahlinya, yakni ulama salaf yang dapat dipertanggungjawabkan kebenarannya.]
Penjelasan Syaikh Muhammad Najih: “Pernyataan ini bahasa Syaikh al-Buthi adalah sesuai dengan sanad-sanad yang shahih dan keilmuan sanad dalam urusan jarh wa ta’dil, dan tidak menggunakan Qiraah Syadzdzah dalam urusan Al-Quran, dan pemahamannya menggunakan ilmu Ushul Fiqh. Akal bisa digunakan jika tidak ada dalil nash seperti Istihsan dan Mashlahah Mursalah bagi selain Syafi’iyah. Kalau dalam Syafi’iyah biasanya menggunakan Qiyas (analogi).”
Maslahah Syar’iyyah Mu’tabarah
[Selalu mempertimbangkan aspek kemaslahatan dalam mengamalkan syariat di tengah-tengah lapisan masyarakat yang plural.]
Penjelasan Syaikh Muhammad Najih: “Maslahah adalah Maslahat Syar’iyah Mu’tabarah, tidak bertentangan dengan Al-Quran Hadits. Sesuatu yang tidak bertentangan kita yakini sebagai maslahah. Sampeyan makan halal itu maslahah meski hanya tempe sama tewel. Makan enak tapi ada campuran enzim babi itu tidak maslahat tapi madharat. Kita begitu. Kita meyakini bahwa apa yang dilarang Allah Ta’ala membawa madharat, apa yang diperintah Allah membawa maslahat fiddin wa dunya.”
Tasawuf tidak Mengharamkan Daging
[Mendorong dan mengajarkan faham Ahlussunnah dalam bidang tashawwuf dengan menggunakan cara-cara ma’rifat Allah SWT, dzikir, riyadloh dan mujahadah yang tidak bertentangan dengan syariat Islam.]
Penjelasan Syaikh Muhammad Najih: Tasawuf tidak mengharamkan daging. Orang tasawuf ada yang mengharamkan daging. Yang penting jangan banyak apalagi kalau kita tidak punya uang. Nanti kalau daging terus ntar nyolong. Kalau ada tahlilan makannya daging alhamduliLlah, atau pas diajak temannya yang kaya, “Ayo nyate.” AlhamduliLlah bejo. Tapi jangan mengharap, “Kapan rono meneh?” Wah, repot iki. Suwe-suwe jaluk pitukon.”
Menjaga Ikhlas dan Sopan Santun kepada Allah
[Bersikap sopan santun, rendah diri dan menjaga hati dengan kekhusyuan dan keikhlasan dengan siapapun dan dimanapun berada.]
Penjelasan Syaikh Muhammad Najih: “Paling penting menjaga ikhlas dan sopan santun kepada Allah. Kita menjaga sopan santun kepada orang Islam karena Allah menyuruh itu, karena mereka punya keistimewaan di sisi Allah yaitu Islam. Orang Islam saya hormati. Ini namanya tawadlu’. Rasulullah ShallaLlahu ‘alaihi wa Sallama bersabda:
من تواضع لله رفع (رواه البيهقي)
“Barangsiapa merendah hati kepada Allah maka akan ditinggikan derajatnya.” (HR. Baihaqi)
Tapi kalau orang sombong tidak mau Syari’ah Islam, benci kepada Syari’ah Islam, pengen miras dilegalkan, pengikut Ahok-Nusron Wahid, LGBT disayangi, dirangkul-rangkul, dikecup-kecup. Na’udzubiLlah.”
Undang-undang yang Cocok Syari’ah Sahkan Saja
[Tidak terlalu berlebihan dalam menilai sesuatu, tenang, dan bijak dalam mengambil sikap serta mempertimbangkan kemaslahatan.]
Penjelasan Syaikh Muhammad Najih: “Kita melaksanakan nahi munkar dengan cara halus. Yang dimaksud kemaslahatan disini adalah sesuai kemaslahatan syar’iyah ini, bukan kemaslahatan wathaniyah basyariyah yang bertentangan dengan Syari’ah Islam. Hukum Islam dikorbankan, apalgi akidah Islam dikorbankan, dilecehkan, dan diacak-acak.
Masalahnya, karena kebanyakan penghuni negara ini umat Islam. Kalau ada undang-undang yaag cocok dengan Syari’ah Islam maka sahkan saja. Kalau tidak cocok ya mestinya tidak sah, tapi itulah realita. Kita terima dengan terpaksa, bukan dari hati. Tetap kita harus inkar.”
Soekarno, Mbah Baidhawi, dan Waliyul Amri al-Dlaruri bi Syaukah
[Mentaati dan mematuhi pemerintah atas semua peraturan dan kebijakan yang berlaku selama tidak bertentangan dengan ajaran Islam.]
Penjelasan Syaikh Muhammad Najih: “Mentaati dan mematuhi pemerintah ketika pemerintahnya beragama Islam. Kalau penguasanya tidak Muslim atau fasiq sebelum diangkat itu tidak sah. Umpama disahkan maka sifatnya darurat, sudah maklum. Bukan ikhtiyaran min qulubina. Sah menurut dunia adalah sesuai hukum internasional. Kalau menurut Islam sah itu yang penguasanya Muslim dan tidak fasiq sebelum diangkat menjadi penguasa. Kalau itu tidak terjadi maka kesahannya bersifat darurat, bukan dari agama kita.
Makanya dulu NU pernah membahas Kartosuwiryo yang mau mendirikan Negara Islam. DI/TII ngelek-ngelek kyai NU, “Ngajine Fathul Wahab Fathul Muin bolone abangan (Soekarno).” Lalu kyai-kyai berkumpul di Denanyar di rumah KH. Bisyri Syansuri untuk ikut geger, deadlock, bahasa santrinya mauqufah. Pemerintahan Soekarno sah atau tidak sah. Lalu saya diceritai kyai Hamid Baidhawi, beliau diceritai kiyai dari Langitan sebagai saksi kejadian, bahwa mbah saya kyai Baidhawi diluar sedang duduk-duduk di teras sembari mengelus-elus tongkatnya ditanya tentang hal tersebut. “Poro kiyai sami leren, pengen njenengan rawuh mutusi. (Para kyai sudah berhenti, ingin Anda yang memutuskan.)” Maka Mbah Baidhawi menjawab, “Nek aku Soekarno disahno ae tapi darurat. Nek coro kitabe Waliyul Amri Al-Dharuri Bi Syaukah. Wes kadung dekne menang. (Menurutku Soekarno disahkan saja tapi darurat. Kalo menurut kitab Waliyul Amri Al-Dharuri Bi Syaukah. Dia sudah terlanjur menang.)”
Sebetulnya yang pantas jadi presiden itu Soedirman yang berjasa dalam perang gerilya. Kalau Soekarno kan hanya tanda tangan aja dan berkata, “Itu bisa diamankan.” Ketika tumbang PKI yang pantas jadi presiden adalah Jenderal AH. Nasution. Tapi oleh CIA yang dipilih Soeharto karena abangan dan istrinya Katolik, sedangkan Nasution akidah Islamnya kuat.
Begitu itulah nasib Indonesia, sial terus. Apalagi sekarang abangan campur ireng. Gayanya kalau ketemu kyai sarungan, di depan kyai manthuk-manthuk. Opo maneh gus-guse.
Indonesia ini kalau baik-baikan terus dan tidak ada kerasnya seperti saya itu tidak paham. Jangan selalu bilang, “Bapak presiden sangat baik.” Memuji-muji. Sekarang hutang sudah 4000 triliun, baik jarene. Harus dikritik sedikit-sedikit menurut saya. Kalau menurut orang lain saya ini tidak baik, tapi dia memang cari pangkat. Kalau saya tidak cari pangkat.”
Menerima Tradisi yang Sesuai Syari’ah
[Menerima tradisi yang baik dan tidak bertentangan dengan agama Islam siapa-pun yang membawa dan dari manapun datangnya.]
Penjelasan Syaikh Muhammad Najih: “Mungkin ini seperti Rasulullah ShallaLlahu ‘alaihi wa Sallama ketika ingin menyurati raja-raja, beliau diberitahu para shahabat bahwa mereka tidak menerima surat kecuali ada stempelnya. Akhirnya Rasulullah ShallaLlahu ‘alaihi wa Sallama meniru stempel.
Ada yang bilang shalat Jum’at dua rakaat itu idenya As’ad bin Zurarah, kepada Anshar. Zaman nabi di mekkah tidak ada shalat Jum’at, tapi As’ad punya ijtihad setiap agama samawi punya waktu khusus untuk ibadah, mengaji, dan ceramah. Kalau Kristen pada hari Sabtu-Minggu. Minggu itu sebenarnya tidak baik, maknanya tiga atau apa. Ahad itu satu. Allah menciptakan langit bumi mulai hari Ahad. Dulu kalender umat Islam semuanya Ahad, entah kenapa tahun 60an diganti Minggu. Di hari Ahad orang Kristen di gereja, mendengarkan ceramah, dan ada shalatnya juga tapi tidak tahu shalatnya apa itu. Nyanyi-nyanyi thok iku, laki-laki perempuan campur, nostalgia karo tuwek-tuwek.”
al-Muhafazhah ‘ala al-Qadim al-Shahih wa al-Akhdz bi al-Jadid al-Shalih
[Melestarikan tradisi umat Islam lama yang lebih baik dan mengambil tradisi baru yang sesuai dengan syara.]
Penjelasan Syaikh Muhammad Najih: “Ini kalo dalam bahasa NU al-Muhafazhah ‘ala al-Qadim al-Shalih wa al-Akhdz bi al-Jadid al-Ashlah. Tapi ini salah menurut saya bahasanya. Wong jadid kok ashlah? Berarti dia lebih bangga dengan yang jadid. Yang qadim hanya shalih saja. Al-qadim al-ashlah seperti bait Alfiyyah Ibn Malik:
وقد تزاد كان في حشو كما # كان أصح علم من تقدما
Dan lafazh “Kaana” dijadikan Zaidah dalam sisipan seperti # “Sungguh shahihnya ilmu orang terdahulu
Atau begini, al-Muhafazhah ‘ala al-Qadim al-Shahih wa al-Akhdz bi al-Jadid al-Shalih. Zaman shahabat itu bagus. Shahih itu lebih hebat daripada Shalih. Shalih itu tidak bertentangan dengan Syara’.
Brokohan yang sekarang dinamai sedekah laut sedekah bumi, itu mengkaburkan. Dulu namanya brokohan atau ruwatan. Kecil saya tidak ada namanya sedekah laut atau sedekah bumi. Dulu acaranya nanggap wayang di tempat-tempat angker. Itu namanya brokohan. Sekarang dinamai sedekah laut dan sedekah bumi biar kelihatan islami, sampai-sampai santri pengen jadi panitianya karena ada uang banyak disitu, mengucur dari masyarakat dan dari atasan. Apalagi jika pemerintahannya abangan.
Makna Hadits Rasulullah ShallaLlahu ‘alaihi wa Sallama
[Rasulullah SAW bersabda:
أَبْغَض النَّاسِ إلَى الله ثَلاَثَةٌ : مُلْحِدٌ فِي الحَرَمِ ، وَمُبْتَغٍ فِي الإسْلاَمِ سُنَّةَ الجَاهِلَيَّة ، وَمُطَّلِبُ دَمِ امْرِئٍ بِغَيْرِ حَق ، لِيُهْرِيقَ دَمَهُ. (أخرجه البخاري في صحيحه)
“Orang yang paling dimurkai Allah ada tiga: orang yang melecehkan Tanah Haram, orang yang menyusupkan budaya Jahiliyah dalam Islam, dan orang yang menuntut darah seseorang tanpa alasan benar untuk mengalirkan darahnya.” (HR. Bukhari)
ستة لعنتهم، لعنهم الله وكل نبي مجاب : الزائد في كتاب الله، والمكذب بقدر الله تعالى، والمتسلط بالجبروت فيعز بذلك من أذل الله ويذل من أعز الله، والمستحل لحرم الله، والمستحل من عترتي ما حرم الله، والتارك لسنتي- ( ت ك ) عن عائشة ( ك ) عن ابن عمر (الجامع الصغير من حديث البشير النذير) – (1 / 465)
“Enam orang yang aku laknat, Allah laknat, dan setiap nabi yang diijabah doanya juga melaknat: orang yang menambahi Kitab Allah, orang yang mendustakan takdir Allah, Orang yang berkuasa dengan tangan besi hingga memuliakan orang yang dihinakan Allah dan menghina orang yang dimuliakan Allah, orang yang melecehkan Tanah Haram Allah, orang yang menghalalkan dari keluargaku apa yang diharamkan Allah, dan orang yang meninggalkan sunnahku.” (HR. Suyuthi)]
Penjelasan Syaikh Muhammad Najih:
الزائد في كتاب الله
“Orang yang menambahi Kitab Allah.”
Ini sama dengan orang Syi’ah mengatakan Al-Quran ini kurang. Mereka menambahi ayat-ayat tentang khilafahnya Ali.
والمكذب بقدر الله تعالى
“Orang yang mendustakan takdir Allah.”
Sekolahan umum ini juga sama mendustakan takdir Allah. Ada fenomena begini karena lempeng bumi bergesekan, tsunami karena ada ini-ini, tidak disebutkan dari takdir allah. Sampeyan dulu begini ya? Maka sekarang taubatlah, di MGS masuk Islam baru. Di tivi-tivi biasanya ada tulisan,”Waspadalah agar bisa terhindar dari bencana.” Padahal Haditsnya:
لا ينفع الحذر من القدر
“Waspada tidak menyelamatkan dari takdir.” (HR. Hakim)
Hadits ini, bagian dari agama. Di Fathul Qarib dan Fathul Muin tidak ada ini. Waspada tidak bisa menyelamatkan dari takdir buruk. Kalau sudah ditakdirkan buruk ya terjadi, walaupun orang berkata “hadzar hadzar hadzar.”
والمتسلط بالجبروت فيعز بذلك من أذل الله ويذل من أعز الله
“Orang yang berkuasa dengan tangan besi hingga memuliakan orang yang dihinakan Allah dan menghina orang yang dimuliakan Allah.”
Orang-orang kafir dijadikan gubernur, dijadikan wakil presiden. Nanti presidennya dibunuh bisa jadi presiden. Orang mukmin dihinakan, santri tidak diberi sertifikasi. Wetonan MGS tidak bisa jadi apa-apa. Tidak bisa jadi moden.
والمستحل لحرم الله
“Orang yang melecehkan Tanah Haram Allah.”
Orang yang di Tanah Haram tidak dihormati dan rumahnya diusir. Sekarang ini terjadi.
والمستحل من عترتي ما حرم الله
“Orang yang menghalalkan dari keluargaku apa yang diharamkan Allah.”
Yakni membunuh, mensabotase, atau menyakiti Ahlul Bait. Membunuh Sayyidina Husain. Siapa yang membuat Sayyidina Husain terbunuh? Syi’ah, karena Syi’ah mengajak Sayyidina Husain untuk memberontak, disamping dalam Bani Umayyah juga ada oknum-oknum yang menghendaki terbunuhnya Sayyidina Husain.
Ngajilah yang Tenang, Tidak Banyak Guyon
[Dalam hal dakwah, Ahlussunnah menganjurkan berdakwah yang ditujukan kepada seluruh lapisan masyarakat dengan memperhatikan beberapa ketentuan sebagai berikut:
a. Dakwah dilakukan dengan nilai yang ikhlas, tulus memberikan bimbingan, pencerahan dan pengarahan demi tercapainya tujuan utama, yaitu mendapatkan kebahagiaan di dunia dan kemuliaan di akhirat.
b. Materi dakwah disesuaikan dengan kondisi dan kemampuan berfikir masyarakatnya.
c. Berdakwah bukan bertujuan untuk menyalahkan, menghukumi ataupun mengkafirkan orang lain, akan tetapi untuk memupuk rasa persaudaraan dan mengajak masyarakat menuju jalan yang diridlai Allah SWT.]
Penjelasan Syaikh Muhammad Najih: “Ini kurang. Juga harus tidak banyak guyonannya. Apalagi yg porno-porno, yang meniru kata-kata, “Kama qala Rhoma Irama.” Terlalu banyak guyon akhirnya tidak ada nilai dakwahnya, tapi hiburan. Katanya orang Indonesia, orang jawa khususnya kalau tidak ada guyonannya bikin ngantuk. Lha ini menunjukkan bangsa kita tidak biasa ngaji. Di MGS saja kalau gurunya guyon lalu tertawa, “Wahahahaha.” Tidak biasa ngaji, ngaji baru semangat kalau ada guyonannya. Ini kelemahan kita, harus dibiasakan mengaji dengan tenang. Rasulullah ShallaLlahu ‘alaihi wa Sallama bersabda:
تعلموا العلم وتعلموا للعلم السكينة والوقار
“Pelajarilah ilmu dan pelajarilah ilmu dengan tenang dan santun.” (HR. Thabarani)
Tenang dan santun, bukan guyon-guyon saja.”

Sesi Tanya Jawab
Setelah dijelaskan secara tuntas tentang materi makalah yang dibacakan oleh Abah Najih, selanjutnya moderator membuka kesempatan para santri untuk bertanya seputar makalah yang ditulis oleh Syaikhina Muhammad Najih. Dalam sesi tanya jawab ini terdapat tiga pertanyaan yang telah masuk. Pertama, pada saat Rasulullah memimpin di Madinah apakah mengatasnamakannya sebagai Negara Islam atau negara yang lain, memandang pada saat itu bukan orang Islam saja yang menetap di Madinah.
Kedua, bagaimana memaknai hadits:
يد الله على الجماعة من شذ شذ فى النار (رواه والنسائي والحاكم)
“Tangan Allah di atas Jama’ah. Barangsiapa mengucilkan diri maka dia mengucil di neraka.” (HR. Hakim dan Nasai)
Jika dibandingkan dengan sabda Rasulullah ShallaLlahu ‘alaihi wa Sallama:
إن الدين بدأ غريبا وسيرجع غريبا فطوبى للغرباء (رواه الترمذي والطبراني)
“Agama Islam mulai dari keasingan dan akan kembali pada keasingan. Maka beruntunglah bagi orang-orang asing.” (HR. al-Tirmidzi, al-Thabarani)
Ketiga, peran akal di dalam tauhid tentang metode kelaziman yang dipakai ahli kalam, nanti kita memposisikan akal kita gimana? Padahal dalam satu tempat metode kelaziman dipakai, namun dalam sifat mukhalafah lil hawadits tidak dipakai.
Keempat, cerita seorang santri bahwa dia punya beberapa teman yang aktif di beberapa lembaga, salah satunya PUM (Paguyuban Umat Beragama). Akidahnya banyak sekali, sering dialog antar agama, dan ketika bulan Ramadhan kemarin mengadakan buka bersama di gereja bersama orang Kristen. Ketika saya menyinggung pluralisme agama mereka mengelak, mereka berkata tindakannya atas nama toleransi dan guna untuk menciptakan kerukunan. Sebenarnya makna pluralisme agama hanya terbatas pada itikad atau tindakan zahir juga.
Madinah Darul Iman, Otomatis Darul Islam
Untuk menjawab pertanyaan pertama tentang status Madinah sebagai negara, Syaikh Muhammad Najih menjawab sebagai berikut.
“Maafnya, Anda membaca isi makalah yang belum saya baca. Rasulullah ShallaLlahu ‘alaihi wa Sallama ketika di Madinah hanya ada orang Yahudi dan penyembah berhala yang sangat sedikit jumlahnya dan bahkan mungkin akhirnya tidak ada. Hal ini karena sabda beliau:
فتحت المدائن بالسيف وفتحت المدينة بالقرآن (رواه أبو يعلى)
“Kota-kota ditaklukkan oleh pedang, namun Madinah ditaklukkan oleh Al-Quran.” (HR. Abu Ya’la)
Kita Madinah masuk islamnya dengan kesadaran, dengan Al-Quran. Orang-orang dibacakan Al-Quran langsung merasa senang dan langsung menghafalkannya. Hal ini karena dulu orang Madinah kadangkala mendengar orang Yahudi membaca kitab Taurat, dimana disitu disebutkan bahwa Nabi Muhammad ShallaLlahu ‘alaihi wa Sallama adalah nabi akhir zaman. Ketika klan Aus dan Khazraj berperang, yang satu dibela oleh Bani Quraizhah dan satunya oleh Bani Nadhir, disitu mereka berdoa agar segera ada nabi akhir zaman.
Jadi di Madinah hanya ada orang Islam dan Yahudi. Kalau tidak percaya silahkan baca kitab Fiqh al-Sirah karya Syaikh Ramdhan al-Buthi. Disana pernah ada Piagam Madinah, namun tidak ada kristennya maksud saya. Penyembah berhala pun hampir punah dan tidak disebut dalam Piagam Madinah. Mungkin sudah tidak ada, semua masuk Islam.
Memang di zaman nabi belum ada istilah Darul Islam, tapi kan sudah dijuluki lebih hebat lagi yaitu Darul Iman. Al-Quran menyebutnya:
وَالَّذِينَ تَبَوَّءُوا الدَّارَ وَالْإِيمَانَ [الحشر : 9]
“Orang-orang yang telah menempati kota Madinah dan menempati iman.” (QS. Al-Hasyr: 9)
Iman dengan Islam itu lebih khusus iman. Islam itu yang penting shalat, zakat, dsb, sedangkan iman itu senang ngaji, dan kalau senang ngaji mestinya senang shalat. Kalau kita ini senang ngaji tapi suka mbangkong. Ini sama dengan LGBT, orang aneh-aneh itu. Mestinya iman diatas Islam. Kamu sudah senang ngaji kok tidak shalat. Gelem shalat tapi mbangkongan senenge qadha’. Kalau satu kali atau dua kali itu maklum. Tapi kalo langganan ini gimana? Berarti kamu shalatnya bareng sama Darmo Gandhul. Untungnya kamu shalat arahnya ke Ka’bah, sedangkan Darmo Gandhul ke matahari.
Memang dulu tidak ada darul islam. Ini pertanyaan seperti orang liberal saja. Sama dengan omongan mereka tentang ayat:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَتَّخِذُوا الْيَهُودَ وَالنَّصَارَى أَوْلِيَاءَ [المائدة : 51]
“Hai orang-orang beriman, jangan kalian jadikan Yahudi Nasrani sebagai pemimpin.” (QS. Al-Maidah: 51)
Kaum liberal berkata “Auliya” itu bukan penguasa tapi teman baik, teman akrab, teman setia. Lho, memang aslinya begitu, akan tetapi dijadikan teman baik saja gak boleh apalagi dijadikan gubernur. Yo jelas tambah gak oleh, nho. Masa’ tidak paham Ushul Fiqh?
Madinah itu darul Iman, maka otomatis darul Islam. Anda baca pasal terakhir, kalau ada perselisihan diantara ahli Madinah maka kembalinya kepada Rasulullah ShallaLlahu ‘alaihi wa Sallama. Rasulullah itu pemimpin negara. Madinah tetap bernama Madinah, lalu dinamai Allah sebagai darul Iman, berarti otomatis darul Islam.”
Membela Asy’ari-Maturidi karena Mayoritas
Selanjutnya, menanggapi pertanyaan kedua tentang pemaknaan dua hadits yang kelihatannya kontradiktif, Syaikh Muhammad Najih menjawab:
“Yang kami maksud al-Jama’ah adalah zaman Shahabat dan Tabi’in, karena zaman awal ini hebat. Ini yang menjadi tolok ukur kita. Makanya kita membela Asy’ari-Maturidi karena dia mayoritas, dan ketika mayoritas berarti dekat dengan salafushalih. Mereka mewakili dan melanjutkan thariqah salafushalih.
Jika sekarang zaman sudah rusak, maka kita fa thuba lil ghuraba (beruntung menjadi orang asing) sebagai kaum santri. Tapi orang awam pun ketika ditanya, “Apa agamamu?” maka jawabannya mesti, “Islam.” Jika ditanya, “Aliran apa?” maka jawabannya pasti, “Aliranku ikut pak yai.” Maksudnya pak kyai kampung, atau kalau organisasi ya Mbah Hasyim Asyari dan Mbah Wahab Hasbullah, AlhamduliLlah. Mereka masih kyai.”
Kita Beriman karena Barakah Orang Terdahulu
Menjawab pertanyaan ketiga, Abah Najih menjelaskan:
“Kami menyebutkan dalil akal, maksud kami menghormati ulama-ulama kita. Sebetulnya pribadi saya isykal juga. Alasan mereka kita bisa mengenal allah dengan akal, ini kata ulama kalam yang menjadi ulama pesantren. Andaikan kita tidak memahami bahwa syariah berkata, “Berimanlah kepada Allah,” tentu kita tidak bisa menerima dalil itu kecuali sudah cocok dengan akal. Saya sendiri sebetulnya kurang gimana. Kita beriman ini kan berkah dari orang terdahulu sampai shahabat. Shahabat ini mendapat hidayah dari Allah, bukan sekedar akal. Kalau ulama kalam mungkin beriman karena akalnya. Kalau kita beriman dari orang tua kita hingga shahabat, shahabat beriman dari hidayah.
هُدًى لِلْمُتَّقِينَ [البقرة : 2]
“Hidayah bagi orang-orang bertakwa.” (QS. Al-Baqarah: 2)
Orang Arab itu ummiy, tidak ahli sekolah, namun justru mereka gampang menerima iman dan Islam. AlhamduliLlah. Kalau bangsa-bangsa lain sudah sekolah, bahkan di Yunani sudah ada ilmu akademik. Sedangkan di arab masyarakatnya buta huruf, namun justru mereka yang mudah mendapat hidayah.
Adapun kita menjaga ilmu-ilmu pesantren yang masih menetapkan ilmu kalam menjadi pelajaran ilmu tauhid hanya sebagai sikap mura’ah atau mujamalah (melestarikan) saja. Sebetulnya hati saya musykil, kenapa akal bersanding dengan Syara’. Kita menerima Syari’ah ini belum tentu dari akal. Bahkan bangsa Indonesia ini masuk Islamnya banyak yang karena senang menjadi sehat. Kalau berobat ke dokter kan mahal, tapi kalau berobat ke Walisongo kan gratis. Tidak usah membayar, yang penting mau masuk Islam. Sampeyan ke MGS mungkin juga begitu, kan? Di sini agak murah dibanding yang lain yang mahal-mahal, apalagi SMK malah tambah mahal lagi.
Saya AlhamduliLlah Masih Anti Liberalisme dan Pluralisme
Pertanyaan keempat tentang pluralisme di jawab singkat oleh Abah Najih:
“Saya tidak membahas pluralisme, tapi pluralitas. Kita punya kemajemukan, kita sudah lama begitu. Kadang-kadang kita terpengaruh dengan seperti brokohan, tapi ini sebetulnya tidak boleh. Tapi karena sudah terjadi maka diarahkan saja kepada tawasul ke para wali, ke Manaqib Syaikh Abdul Qadir al-Jilani saja matsalan. Arahkan ke hal yang Islami. Tawasul kepada Sayyid Ahmad Rifai, Sayyid Ahmad Badawi, atau Syaikh Ibrahim al-Dusuqi. Itu kalau di Timur Tengah. Kalau disini kepada Walisongo atau yang lain.
Jadi pluralitas yang kita bahas, bukan pluralisme. Kalau pluralisme AlhamduliLlah masih tetap dan semoga sampai akhir hayat tulisan-tulisan saya anti liberal dan pluralisme. Apakah pluralitas ada terus menjadi hujjah kebenaran? Kan tidak. Setan itu ada, masa’ setan awet sampe sekarang berarti hebat. Itu musuh Allah, harus kita musuhi.

Mauizhah Hasanah, Abah Najih: “Bangga Menjadi Ghuraba’ (Orang Asing)”
Setelah sesi tanya jawab selesai, acara dilanjutkan dengan mauizhah hasanah dari Abah Najih. Beliau lalu menyambung pembahasan sebelumnya tentang surah Al-Kahfi yang dibaca Qari’ sebelumnya.
“Di surah al-Kahfi diterangkan bahwa Ashhabul Kahfi itu:
إِنَّهُمْ فِتْيَةٌ آمَنُوا بِرَبِّهِمْ وَزِدْنَاهُمْ هُدًى [الكهف : 13]
“Sungguh mereka adalah para pemuda yang beriman kepada Tuhan mereka dan Kami tambahkan hidayah kepada mereka.” (QS. Al-Kahfi: 13)
Walhasil, mereka masih bertauhid. Agama mereka Kristen namun masih tauhid. Belum ada istilah trinitas atau tuhan tiga. Rajanya bernama Dakyanus dan kotanya bernama Afsus. Kalau tidak salah di Turki. Bahasa arabnya Tharsus. Dakyanus adalah penyembah berhala, ya pluralisme itu. Berhala kan bermacam-macam. Jadi sekarang mau dibangkitkan lagi. Liberalisasi dan pluralisasi berarti ingin kembali ke zaman kerajaan sebelum Islam. Mau menyembah saya seperti Fir’aun silahkan, mau menyembah air seperti orang Mesir karena hidupnya dari sungai Nil silahkan, mau menyembah api seperti orang Iran dan Persia silahkan, mau menyembah matahari seperti orang Jepang dan juga Iran silahkan, mau menyembah berhala silahkan, berhala kucing atau berhala singa silahkan, mau tauhid juga silahkan tapi jangan mengganggu yang lain. Disini sekarang kita dijebak disitu. Kita tidak boleh lantang atau keras dengan ketauhidan. Ini adalah pluralisme.
Ashabul Kahfi bertauhid, padahal negerinya pluralisme. Mereka berani berkata “Tuhan kami adalah Allah, bukan yang lain.” Orang-orang menunduk di hadapan raja, namun mereka tidak mau. Pemerintah yang asli di dunia juga begitu itu, namun bukan asli dari zaman Nabi Adam ‘alaihi al-salam. Kalau Nabi Adam bertauhid sudah maklum, akan tetapi kalau pemerintahan yang besar-besar rata-rata ikut pluralisme, liberalisme, dan kebebasan beragama.
Sekarang banyak orang berkata di Madinah ada Kristen, ada penyembah berhala, dan ada Hindu Budha. Itu bohong. Yang ada di Madinah adalah Islam dan Yahudi. Disini saya terangkan bahwa Islam menghormati atau iqrar. Iqrar itu artinya bukan bukan membenarkan, tapi memberi ruang hidup dan izin untuk hidup bersama umat Islam kepada Yahudi karena di dalam Yahudi, Nasrani, da Majusi ada ajaran-ajaran tauhid walaupun ditutup-tutupi oleh mereka.
Kuffar itu berasal dari kata kafara, kafara itu artinya satara. Jadi orang-orang kafir dulu menutup-nutupi tuhan yang semestinya seolah-olah berhala yang memberi hidup, memberi makan, bahkan mungkin memberi lahirnya dia. Padahal berhala lebih baru daripada yang menyembahnya. Kalau kita tidak. Pencipta adalah Allah yang wajib disembah. Adapun tawasul dengan shalihin itu boleh asal tidak menyembah dan ada batasannya. Tidak sampai rukuk, sujud, dst.
Saya diingatkan oleh penanya, fa thuba lil ghuraba’. Saya ikut terenyuh, bahwa kita memang harus merasa thuba li ghuraba’. Repotnya santri sekarang kalau ghuraba’ dimaknai asing, dan asing artinya tertindas. Apakah kita tertindas? Kan tidak. Kalaupun ada karena dia cari simpati aja, dan itu saja yang dicari adalah yang liberal. Dari kita kan jarang yang jadi menteri. Kalau sudah atau pengen jadi menteri biasanya disuruh untuk liberal. Asalnya tidak liberal, terus disuruh untuk liberal. Biasa ke gereja tadi.
Buka bersama di gereja, ya Allah… penghinaan bukan main itu kepada Islam. Seolah umat Islam tidak bisa makan, yang bisa memberi makan gereja. Na’udzubiLlah. Kita kan bisa makan walaupun tewel atau singkong. Kalau kamu makan bistik tapi penuh dengan babi, campuran kimia dan zat yang punya efek samping untuk kesehatan.
Marilah dalam kesempatan ini, saya ingatkan agar Anda semua syukur menjadi santri. Tidak punya pangkat besar tidak masalah, yang penting tidak ikut berdosa. Kita tetap berdoa agar negara ini dipegang orang Islam. Itu nasionalisme kita. Nasionalisme kita adalah mendoakan Islam tetap ada di Indonesia, tetap berjaya, dan tetap mayoritas walaupun sekarang menteri-menteri banyak yang kafir dan Kristen. Memang presidennya “H”-nya saja bukan “Haji” itu, “Hendrik” mbuh opo iko. Dia dibaptis di Surabaya pada tahun 90-an.
Saya ulangi lagi, kita berbangga menjadi fa thuba lil ghuraba’. Rasulullah ShallaLlahu ‘alaihi wa Sallama bersabda:
إن الدين بدأ غريبا ويرجع غريبا فطوبى للغرباء الذين يصلحون ما أفسد الناس بعدي من سنتي (رواه الطبراني)
“Sesungguhnya agama bermula dari keasingan dan kembali pada keasingan. Maka beruntunglah bagi orang-orang asing yang memperbaiki ajaranku yang dirusak oleh orang setelahku.” (HR. al-Thabarani)
Yakni menghidupkan ajaranku. Boleh takwil asal sebatas penalaran belaka, jangan jadi akidah. Akidah kita adalah Allah itu Ada, Maha Suci, dan kesuciannya tidak bisa divonis oleh akal kita. Tapi kita punya ulama dan masyayikh yang menghormati ulama kalam, maka kita hormati tapi sebatas darurat dan sebatas menghormati saja, bukan menjadi akidah. Penyamaan antara dalil akli dan naqli bukan jadi akidah, tapi hanya jadi bahasa santun. Kita akidahnya ma ana ‘alaihi wa ashhabi.
Tapi kita hati-hati, kita mengaku ahli hadits atau salaf itu jangan sampai kita tasybih-tajsim. Jangan sampai mengkafirkan Asyairah-Maturidiyah yang menjadi mayoritas. Itu adalah hikmah Allah Ta’ala, Allah yang tahu apa hikmahnya seperti itu. Agar kita tawadlu’, mengambil ilmu kepada orang-orang alim, dan mengambil berkah dari mereka, walaupun mereka ya begitu itu, fanatik terhadap ilmu kalamnya. Tapi kita maklumi karena mereka belajarnya seperti itu. Kita jangan sampai takabur kepada mereka. Inilah mungkin hikmah Allah Ta’ala atas kebesaran Asyairah Maturidiyah. Apalagi sekarang Salafi atau Atsari direkrut dan diadopsi oleh Wahabi yang punya ambisi kekuasaan, ingin mengkafirkan, ingin mereka yang berkuasa sekaligus menghilangkan hubungan umat Islam dengan Rasulullah ShallaLlahu ‘alaihi wa Sallama. Hubungan kita dengan shahabat sudah terputus. Hubungan kita terhadap kebesaran Quraisy saja sudah terputus. Di Makkah sudah tidak ada namanya Darun Nadwah, padahal itu adalah:
لِإِيلَافِ قُرَيْشٍ (1) إِيلَافِهِمْ رِحْلَةَ الشِّتَاءِ وَالصَّيْفِ (2) [قريش : 1 ، 2]
“Karena kebiasaan orang-orang Quraisy, (1) (yaitu) kebiasaan mereka bepergian pada musim dingin dan musim panas. (2)” (QS. Quraisy: 1-2)
Darun Nadwah adalah simbol keluhuran Quraisy. Ini saja dihilangkan, apalagi Darul Arqam tempat Rasululah ShallaLlahu ‘alaihi wa Sallama mengajar pertama di Makkah. Tempat lahirnya Rasulullah saja dihilangkan. Sampai ada orang Wahabi bernama Ibn Jasir berkata bahwa Nabi Muhammad lahir di Usfan. Edan.
Gitulah mereka berwatak Yahudi. Ingin menghilangkan kebesaran Madzahib Arba’ah dan Asyairah-Maturidiyah. Dan, tasybih-tajsim memang alirannya Yahudi. Mari kita waspada, mari mengikuti Atsar tapi jangan tasybih-tajsim. Maksimal kita tafwidh tanpa menetapkan kaifiyah-kaifiyah Allah Ta’ala, dan kita tetap menghormati ulama kita Asyairah-Maturidiyah. Kita tetap hafalkan al-Kharidah al-Bahiyyah karena barakah dan karangan ulama yang menjadi wali. Tidak tau mengapa Allah Ta’ala menjadikan wali-wali kebanyakan dari Asya’irah, kenapa Wahabi tidak ada yang keramat. Kenapa Atsariyyin tidak ada yang keramat. Kalau pengarang al-Kharidah al-Bahiyyah, Syaikh al-Dirdiri, itu wali besar. Ibrahil al-Laqqani (penulis Nazhm Jauharah al-Tauhid) itu sufi besar, apalagi al-Sanusi pengarang Umm al-Barahin. Luar biasa karamah, kewalian, dam ikhlasnya.
Semoga dengan kita tawadlu’ kepada Asyairah-Maturidiyah dan ahli kalam, kita menjadi auliya Allah atau pecinta Auliya Allah, akan tetapi akidah kita adalah akidah lugunya para Shahabat. Hanya saja ada diantara mereka pintar berbahasa dan mengerti majaz. Diantara mereka ada yang sering menakwil bukan karena akidah tapi hanya sekedar ilmu bahasa. WaLlahu A’lam.
Maafnya kalau saya ada salah. Semoga kita dimaafkan oleh Allah. Semoga kita diberkahi lewat barakahnya auliya-auliya yang kebanyakan madzhab Asyairah dan madzhab Syafi’i. Semoga kita mendapat barakahnya lewat madrasah ini dan lewat masyayikh dan muassisnya. Lahum al-Fatihah…”
Acara Kuljum kemudian ditutup oleh doa dari Syaikhina Muhammad Najih dan diamini oleh seluruh santri MGS yang hadir pada acara tersebut.[*]
نفعنا الله بعلومه وأعماله وزهده وورعه، ورزقه وزوجته الصحة والعافية والاستقامة على الطريقة السلفية، وحرسهما الله وطلابهما وأعلا درجاتهم في الجنة. آمين يا رب العالمين…

CAHAYA CINTA ROSULULLOH

Malam sayyidul ayyam
malam penuh bertabur bintang
sholawat salam kucurahkan padamu ya Rosulallah
Alunan syahdu qosidah rindu kami dendangkan

Syaikh Uumar Ad-Dhoba’i As-suury Tsummal Makky
Dengan Suara merdunya
Menggetarkan kalbu insan yang mendengarkannya

Tak lupa Syaikh Nasir Mansur menyuarakan,
Bait-bait rindu mahabbah
Meneteskan air mata cahaya cinta Rosulallah
Bersama Syaikhuna Maimoen Zubair maha guru kami
Para asatidz dan para santri

Cahaya cinta perlahan mengilaukan
Dimata Syaikhuna Maimoen Zubair
Deraian air mata membasahi pipi beliau

Indah dan tenang
Seperti pergi berperang bersama nabi ke badar
Bertabuh genderang perang

Mauidhotul hasanah Syaikhuna Muhammad Najih
Membakar api semangat tuk mencintaimu ya Rosulallah

Rindu kami tak terbendungkan
Ketika sholawat salam tercurahkan padamu
Dengan diiringi tabuhan genderang hadroh

Tubuh bergetar bergoyang dengan lembutnya seperti terhipnotis
Tak terasa air mata ini mengalir,, ya Rosulallah

Kun mai’ ya Rasulallah
Kun mai’ ya Habiballah
Kun mai’ ya Syafi’una

Bahagia hati ini, cahaya cinta kami ya Rosulallah
Rindu Kami tak bertepi ya Rasulullah
Tangisan cinta kami di taman surga bersamamu ya Rosulallah

Galeri

Anasyid wal madaih bersama syeikh umar adl-dlobba’

Acara bersolawat yang diselenggarakan tanggal 05 januari 2018 kemarin bersama syaikh Umar Ad-Doba’ telah memberikan suasana yang meriah, lantunan madaihnya seolah menggetarkan bumi sarang, seakan-akan senandung solawat itu mengundang Nabi Muhammad SAW untuk menyaksikan acara yang semoga diberkahi itu. Syaikh Umar Ad-Doba’ adalah munsyid abuya sayyid Muhammad yang sekarang telah bermukim di mekkah al-mukarromah, sebenarnya belau adalah orang syiria yang mengabdikan dirinya untuk berkhidmah kepada putra sayyid Muhammad yaitu sayyid Ahmad. Karena itu beliau sekarang memilih untuk bermukim di mekkah untuk menelusuri jejak hikmah gurunya dengan menjadi munsyid.
Diacara solawatan tersebut Syaikh Umar ditemani para masyaikh sarang yang juga termasuk khoriji abuya Sayyid Muhammad diantaranya Syaikhuna Muhammad Najih, Syaikhuna Abd.Rouf, Syakhuna Idror dan juga Ags.Roqib. Hadir juga Syaikh Nashir Mansur dari jakarta sebagai pendamping syaikh Umar, suara merdunya syaikh Nasir menambah antusias para hadirin untuk lebih menghayati makna solawat, kemeriahan acara semakin bertambah ketika guru besar kita syaikhuna Maimoen Zubair hadir untuk menikmati keberkahan acara tersebut.
Senandung sholwat memang mempunyai makna yang tinggi, sepatah kata اللهم صل على محمد saja Allah membalasnya dengan 10 kebaikan kepada yang mengucapkannya karena ini sesuai dengan hadist Rasulullah SAW: مَنْ صَلَّى عَلَيَّ مَرَّةً وَاحِدَةً كَتَبَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ لَهُ بِهَا عَشْرَ حَسَنَاتٍ terseling Mauidzotul Hasanah syaikhuna Muhammad Najih yang isinya kurang lebih beliau berharap dengan adanya acara bersolawat ini semoga dapat mengikis kemaksiatan-kemaksiatan yang terjadi di indonesia terutama di sarang.
Dipenghujung acara diberkahi dengan doa syaikhuna Maimoen Zubair sebagai tanda penutup acara, senandung sholawat bersama syaikh Umar Ad-Doba’ ini akan menjadi sejarah yang indah untuk dikenang para santri begitu juga para masyayikh sarang.