Kajian Ilmiah, Karya Syaikh Najih Versi Indonesia

MARI PERJUANGKAN KEADILAN !!!

Penyelenggaraan Pemilu 2019 kali ini sungguh jauh dari cita-cita yang rakyat Indonesia harapkan. Kejujuran dan keadilan yang didambakan setiap insan acapkali dianak tirikan. Pagelaran lima tahunan sekali untuk mencari sosok pemimpin negeri ternyata tidak sepenuhnya dapat menjalankan kode etik yang telah ditetapkan, bahkan tak jarang melanggar aturan main yang dibakukan.

Terhitung mulai dari DPT yang bermasalah, surat suara sudah tercoblos salah satu Paslon, data C 1 dicuri, dibuang dan diselewengkan, amburadulnya peng-inputan Situng KPU, 700-an lebih Petugas Pemilu berguguran dan ribuan sakit (semoga Allah SWT menerima amal dan mengampuni dosa mereka -muslim-) namun sampai detik ini Rezim tidak melakukan investigasi dan autopsi, dan yang paling mengejutkan adalah ingkar janji KPU yang sebelumnya berjanji akan mengumumkan Hasil Rekapitulasi Nasional pada 22 Mei mendatang, tiba-tiba pada dini hari malam ini, 21 Mei mereka mengumumkan hasil Rekapitulasi, dan masih banyak lagi keganjilan dan kejanggalan dalam Pemilu Serentak tahun ini.

Wajar saja, jika rakyat terketuk hatinya berbondong-bondong bergerak menuju Jakarta untuk melawan kecurangan dan menuntut kejujuran dan keadilan. Mereka sudah bosan bahkan muak dengan segala macam janji-janji palsu rezim ini, apalagi ketimpangan hukum yang sering dipraktekkan secara terang-terangan oleh pihak berkuasa. Rakyat sudah capek mengarungi hidup yang semakin hari semakin susah. Alih-alih berikhtiar ingin mendapatkan pemimpin yang lebih baik di tahun 2019 ini, ternyata kezaliman demi kezaliman justru semakin ditancapkan oleh Tirani terhadap siapapun yang melawannya.

Wahai Rakyat Indonesia, terkhusus umat Islam, ingatlah kalian semua, bahwa junjungan kita Nabi Muhammad SAW adalah sosok pemimpin yang anti ingkar janji dan anti kecurangan, beliau tidak akan mentolerir sikap non fair, apapun itu dalihnya, peristiwa sulh hudaibiyah adalah contoh kongkritnya, dimana kaum musyrikin telah berulang kali melanggar aturan-aturan yang sudah disepakati bersama. Sebagai respon atas pelanggaran janji tersebut, Rasulullah SAW melakukan penaklukan kota Makkah.

Takutlah kalian semua menjadi umat yang tidak diakui oleh Nabi Muhammad SAW, hanya karena membenarkan kebohongan dan mendukung kezaliman Penguasa, Rasulullah SAW bersabda;

سَيَكُونُ عَلَيْكُمْ أَئِمَّةٌ يَمْلِكُوْنَ رِقَابَكُمْ وَيُحَدِّثُوْنَكُمْ فَيَكْذِبُونَ، وَيَعْمَلُوْنَ فَيُسِيؤُونَ، لا يَرْضَوْنَ مِنْكُمْ حَتَّى تُحَسِّنُوا قَبِيْحَهُمْ وَتُصَدِّقُوْا كَذِبَهُمْ، اعْطُوْهُمُ الحَقَّ مَا رَضُوا بِه

“Kalian akan dipimpin oleh para pemimpin yang mengancam kehidupan kalian. Mereka berbicara (berjanji) kepada kalian, kemudian mereka mengingkari (janjinya). Mereka melakukan pekerjaan, lalu pekerjaan mereka itu sangat buruk. Mereka tidak senang dengan kalian hingga kalian menilai baik (memuji) keburukan mereka, dan kalian membenarkan kebohongan mereka, serta kalian memberi pada mereka hak yang mereka senangi.” (HR. Thabrani)

«اسْمَعُوا، هَلْ سَمِعْتُمْ أَنَّهُ سَيَكُونُ بَعْدِي أُمَرَاءُ؟ فَمَنْ دَخَلَ عَلَيْهِمْ فَصَدَّقَهُمْ بِكَذِبِهِمْ وَأَعَانَهُمْ عَلَى ظُلْمِهِمْ فَلَيْسَ مِنِّي وَلَسْتُ مِنْهُ وَلَيْسَ بِوَارِدٍ عَلَيَّ الحَوْضَ،َ» رواه الترمذي والنسائي والحاكم

“Dengarkanlah, apakah kalian telah mendengar bahwa sepeninggalku akan ada para pemimpin?
Siapa yang masuk kepada mereka, -lalu membenarkan kedustaan mereka dan menyokong kezaliman mereka, maka dia bukan golonganku, aku juga bukan golongannya- Dia juga tak akan menemuiku di telaga.” (HR Tirmidzi, Nasai dan Al Hakim).

Perhatikan ayat-ayat suci Al-Qur’an di bawah ini;

أَلَمْ تَرَ إِلَى الَّذِينَ تَوَلَّوْا قَوْمًا غَضِبَ اللَّهُ عَلَيْهِمْ مَا هُمْ مِنْكُمْ وَلَا مِنْهُمْ وَيَحْلِفُونَ عَلَى الْكَذِبِ وَهُمْ يَعْلَمُونَ

“Tidakkah kamu perhatikan orang-orang yang menjadikan suatu kaum yang dimurkai Allah sebagai teman? Orang-orang itu bukan dari golongan kamu dan bukan (pula) dari golongan mereka. Dan mereka bersumpah untuk menguatkan kebohongan, sedang mereka mengetahui.” (Surah Al-Mujadilah,58:14)

أَعَدَّ اللَّهُ لَهُمْ عَذَابًا شَدِيدًا ۖ إِنَّهُمْ سَاءَ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ

“Allah telah menyediakan bagi mereka azab yang sangat keras, sesungguhnya amat buruklah apa yang telah mereka kerjakan.” (Surah Al-Mujadilah,58:15)

اتَّخَذُوا أَيْمَانَهُمْ جُنَّةً فَصَدُّوا عَنْ سَبِيلِ اللَّهِ فَلَهُمْ عَذَابٌ مُهِينٌ

“Mereka menjadikan sumpah-sumpah mereka sebagai perisai, lalu mereka halangi (manusia) dari jalan Allah; karena itu mereka mendapat azab yang menghinakan.” (Surah Al-Mujadilah,58:16)

Sudah hampir 5 tahun, rakyat Indonesia merasakan telah dipimpin oleh penguasa yang sering obral janji minim realisasi, carut marut keadilan hukum seakan dibuat fantasi, keterpurukan ekonomi dengan menumpuknya hutang justru dibanggakan dengan dalih pembangunan negeri, padahal sumber dananya dengan cara ngemplang dana rakyat BPJS-Haji, bahkan demi ambisi kekuasaan, mereka dengan seenaknya memakai fasilitas negara untuk kembali mengobral seribu janji baru kepada rakyat, padahal janji-janji terdahulu belum terpenuhi.

Oleh karena itu, perlu dipahami bahwa langkah-langkah saudara kita di berbagai kota di Indonesia terlebih di Jakarta pada 17 Ramadhan esok, sama sekali tidak bermaksud menggulingkan Pemerintahan yang sah, (meski hakikatnya Prabowo lah yang menang di pemilu 2014, namun beliau tidak memprotes keras kecurangan Jokowi, demi stabilitas negara, akan tetapi di pemilu 2019 ini, beliau akan menuntut keadilan sepenuhnya, karena rezim ini tidak mau taubat atas kesalahan-kesalahan di masa lampau, bahkan terkesan tidak jengah berbuat kecurangan lagi). Aksi-aksi mereka justru bertujuan memperbaiki sistem pemerintahan negeri ini serta mengikis watak-watak komunis dari elit-elit politik yang sedang berkuasa.

Semoga dengan berkah bulan Ramadhan, perjuangan mereka diijabahi Allah SWT, bagi mereka yang berangkat dari jarak masafatul qoshri jika kelelahan tidak kuat puasa, diperbolehkan tidak berpuasa dengan niat akan mengqodloinya, sebagaimana peristiwa Fathu Makkah dan Perang Badar juga terjadi di bulan Ramadhan. Kita sudah seharusnya mengapresiasi dan mensupportnya sekuat tenaga dengan niat ikhlas memperjuangkan nilai-nilai keadilan dan kejujuran serta melawan segala bentuk kebohongan dan kecurangan, sebagai bentuk implementasi nash-nash al-Qur’an, al-Hadits dan Undang-undang 45, dengan harapan Indonesia menjadi bangsa yang bermartabat, adil, makmur, sejahtera, dan diberkahi Allah SWT, Baldatun Thoyyibatun wa Rabbun Ghofur, Amin.

Sarang, 17 Ramadhan 1440

H. Muhammad Najih MZ

Kajian Ilmiah, Karya Syaikh Najih Versi Indonesia

HADIR DI FORUM SILATURRAHIM K2 ASWAJA KABUPATEN REMBANG, SYAIKHINA NAJIH: KITA BERNIAT MENOLONG ORANG YANG DIZHALIMI SERTA MENOLONG HABAIB DAN ULAMA

Demikian sepetik pandangan yang Syaikh Muhammad Najih sampaikan di acara Silaturrahim K2 ASWAJA (Komunitas Kyai Ahlussunnah wal Jama’ah) Kabupaten Rembang yang dilaksanakan Senin kemarin (4 Sya’ban 1440 H/8 April 2019 M) di Pamotan, Rembang. Acara ini dihadiri oleh para habaib, kyai pesantren, dan masyarakat khususnya di Kabupaten Rembang. Dalam acara tersebut Abah Najih diberi kesempatan untuk memberikan mauizhah hasanah serta pandangan beliau untuk Islam dan Indonesia kedepan khususnya dalam hal pilpres yang tinggal beberapa hari lagi. Berikut kutipan dhawuh Abah Najih pada acara tersebut:

“AlhamduliLlah wa al-syukru liLlah, kita bersama-sma berkumpul mandegani K2 ASWAJA yang diawali saudara saya Kiai Akhfasy Hamid Baidlawi.

Bapak-bapak dan saudara-saudara sekalian, ini merupakan ujian bagi bangsa kita yang kedua kali. Dahulu kita dijajah oleh Belanda dan Jepang, dan AlhamduliLlah dengan izin Allah dengan Amerika mengebom Jepang (Hiroshima) kita diberi kemenangan atau kemerdekaan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala. Ini barakah dari Allah. Memang pengeboman itu kejam dan biadab, tapi Allah bisa membuat sesuatu yang kejam itu menjadi nikmat bagi bangsa yang lain khususnya kepada umat Islam yang InsyaAllah dipelopolori oleh bangsa Indonesia. Kemerdekaan negeri-negeri yang dijajah dimulai dari kemerdekaan Indonesia, dan kemerdekaan Indonesia itu aneh dan ajaibnya terjadi pada bulan Ramadlan tanggal 17 Agustus atau 9 Ramadhan. Menurut ayah saya yang ahli hitungan ini hampir sama dengan peristiwa Nuzul al-Quran tanggal 17 Ramadhan atau 9 Agustus. AlhamduliLlah.

Kemerdekaan Indonesia dan Habib Kwitang

Jadi itu adalah anugerah, dan proklamasinya di rumahnya orang Arab, bukan seperti di buku-buku SD bahwa proklamasi di Jalan Pegangsaan. Mosok proklamasi di jalan? Proklamasi itu di rumahnya Faradj Martak, mbahnya Yusuf Martak yang sekarang menjadi ketua GNPF-MUI. Negara pertama yang mengakui kemerdekaan Indonesia itu negara Mesir. Dan, yang paling senang dan bertanya-tanya adalah Habib Ali bin Abdurrahman al-Habsyi Kwitang. Kebetulan kersane allah, ketika pak Harto mau menumpas PKI atau menumbangkan rezim Orde Lama juga sowan ke Habib Ali bin Abdurrahman Kwitang untuk meminta restu. Beliau wali besar. Maulidnya terkenal sedunia. Habaib dari Hadramaut datang kesana untuk ngalap berkah.

Saya pernah membaca tulisan-tulisannya Gus Dur di rumahnya seseorang di Magelang di bukunya berjudul Tuhan Tidak Perlu Dibela, termasuk disitu ada pernyataan kenapa ada maulid besar-besaran di Kwitang. Itu dianggap pemborosan. Na’udzubiLlah min dzalik. Maulid Habib Habsyi itu bikin jengkel orang Belanda dan orang-orang kafir. Katanya pemborosan. Itu barakah luar biasa karena yang membikin maulid adalah Habib Ali. Terkenal sekali karamahnya. Soekarno akan memerdekakan Indonesia juga menginap berhari-hari untuk meminta pangestu kepada Habib Ali bin Abdurrahman al-Habsyi. Suharto ingin menumpas PKI juga sowan ke Habib Ali bin Abdurrahman al-Habsyi untuk meminta pangestu. Luar biasa. Jadi hubungan Indonesia dengan habaib dan hubungan masyayikh dengan Arab itu erat sekali. Jangan sampai dihilangkan. Hubungan dengan santri apalagi. Maklum.

Soekarno, Ulama, dan 17 Agustus

Saya diberi cerita orang bahwa di dalam sejarah Indonesia di sekolah-sekolah bahwa Soekarno sebelum 17 Agustus dipaksa oleh mahasiswa untuk proklamasi. Ini sebetulnya mungkin ada benarnya, tapi mungkin banyak salahnya. Yang memaksa Soekarno proklamasi adalah para Kiai Ajengan Sunda. Malam Jumat mereka istighatsah dan meminta Pak Karno untuk proklamasi dan menjadikan negara ini Negara Islam. Pak Karno bilang iya. Ceritanya begitu. Tapi waktu 18 Agustus ada laporan dari Manado atau Ambon bahwa umat Kristen disana mau mendirikan negara sendiri atau terpisah dari Indonesia apabila Tujuh Kalimat dalam sila Pancasila yang pertama tidak dihapus. Akhirnya pun dihapus. Yang menghapus ini siapa? Ya memang panitia, tapi bisa-bisa karena ditekan dan mereka terkecoh karena keadaannya sudah merdeka. Dianggap kemerdekaan itu diatas segalanya. Tentunya kemerdekaan ini hanya wasilah, perantara, dan jembatan, kalau untuk kita ya untuk Syariat Islam. Kalau kita orang santri mestinya begitu. Artinya pengen baldatun thayibatun wa rabbun ghafur, bukan sekedar merdeka dan diakui saja. Walaupun kemerdekaan Indonesia itu memang luar biasa. Apa luar biasanya? Karena luasnya negeri Indonesia. Luas sekali. Tidak ada di dunia yang punya tiga waktu: jam barat, timur, dan tengah. Makanya katanya Mbah Moen, sekali-kali pergilah ke Papua seperti habaib yang suka kemana-mana itu. Keluarganya dimana-mana. Silaturrahim, agar tahu kebesaran Indonesia.

Mungkin tadi sudah diterangkan. Tiap tahun katanya Prabowo ada 1000 triliun yang bocor. Pengakuan KPK malah 2000 triliun. Itu bukan lima tahun, setiap tahun. Sampeyan hitung aja. Pastinya itu karena APBN tidak tepat, salah sasaran, sasarannya ke sakunya sendiri-sendiri.

Kemarin saya diceritani anak buahnya Gus Qayyum bahwa Kiai Qayyum baru saja ke papua. Beliau dapat cerita bahwa gaji makan pekerja Freeport adalah lima ratus ribu tiap hari. Ini karena Amerika. Amerika kan kaya. Itu gaji untuk makan saja, belum gaji bulanan. Lalu katanya lima ratus ribu itu dicengklong sama Surya Paloh. Jadi yang diberikan pada pekerjanya hanya seratus ribu makan tiap hari. Yang empat ratus ribu kemana? Ke Surya Paloh. Surya Paloh kemana? Mungkin untuk kampanye atau partainya. Ngeri. Belum gajinya mungkin tiap bulan itu sepuluh juta. Disamakan dengan orang Barat di Amerika.

Banyak sekali kasus seperti itu. Pak Prabowo punya buku namanya Paradoks Indonesia, termasuk isinya yaitu mengalirnya uang Indonesia ke luar negeri. Ada yang orangnya ikut ke luar negeri seperti Liem Swi Liong, dll. Ada yang masih disini tapi di luar negeri semua uangnya. Dia menikmati jalan dan pajaknya mesti ngemplang. InsyaAllah hal-hal itu akan dibenahi oleh Pak Prabowo. Pak Prabowo sudah ditanya oleh Kiai Hasib, apakah bapak kalau memimpin negara ini akan jadi khilafah? Beliau menjawab tidak. Tidak mungkin. Kemarin juga telah diceritakan berulang-ulang di Gelora Bung Karno bahwa itu tidak mungkin. Bahkan ada yang daftar dari orang Kristen yang terkenal membela kemanusiaan, namanya Natalius Pigai.

Giatkan Doa dan Wiridan Menjelang Pemilu

Saudara-saudara sekalian. Sekarang ini kita mengingat seperti 17 Agustus, seperti kemerdekaan. Semangat rakyat luar biasa. Hanya saja dihalang-halangi oleh Projo. Projo ini model-modelnya ada yang bilang seperti PKI, malah ada yang bilang keturunan seperti yang kemarin menyerang FPI di Jogja. Ada yang bilang seperti Belanda. Kemarin katanya kepala-kepala desa dan camat dikumpulkan di Rembang. Katanya diteror, “Pye iki Jawa Tengah khususnya Rembang banner-banner Projo kok sedikit? Gak bergerak kamu?” Ganjar iku pinter menggertak. Dulu pernah menggertak soal timbangan. Gertak tok, wong dia sudah tersangkut kasus korupsi.

Saudara sekalian. Yang paling ngeri adalah Jawa Tengah. Tapi katanya Jawa Timur juga ngeri. Sama, sebab gubernurnya lewat PDI. Susah ini. Sekarang waktunya istighatsah. Nanti malam istighatsah yang sungguh-sungguh, la haula wa la quwwata illa biLlahi. Kalau sudah begini ini kita pakai kekuatan doa. Rakyat jelas ingin perubahan, ingin perbaikan, ingin 02. Tapi dari pemerintahan benar-benar menekan. Tekanan tersebut dengan ancaman dan uang. Sudah terlihat di WA dan Youtube soal bagi-bagi duit. Polisi disuruh bagi-bagi uang di dengan Jokowi, di depan KPU. Itu sudah pelanggaran. KPU mestinya mempermasalahkan. Kok seperti ini pripun? Gunakan kekuatan alam tara, tarmihim tujuh kali. Nanti dikirim ke WA doa dari Sayyid Muhamad Alawi al-Maliki. Saat Sayyid Muhammad masih sugeng, Wahabi tidak bisa apa-apa. Bareng Sayyid Muhammad Alawi wafat, Masjidil Haram dirubah, hotel dibuat tinggi-tinggi, ada menara jam yang besarnya seperti menara jam London. Ka’bahnya kecil. Menghina Ka’bah ini. Inna liLlahi wa inna ilaihi waji’un. Hal-hal ini terjadi setelah Sayyid Muhammad wafat. Waktu belum wafat mereka tidak berani mincing-mancing karena aji-ajinya adalah alam tara.

Hadirin yang saya muliakan. Walhasil, ada yang usul begitu. Iki untuk kiai-kiai dan santri-santri. Kalau orang yang tidak begitu banyak wiridan baca saja:

اللهم صل على سيدنا محمد، وأشغل الظالمين بالظالمين، وأخرجنا من بينهم سالمين، وعلى آله وصحبه أجمعين

Sekarang ditiru di Jawa Timur, tapi yang membaca Marzuki Mustamar. Kiai-kiai yang tidak masuk struktur NU sudah ada yang melawan, tapi yang pondok-pondok besar dikuasai Projo. Fitnah. Tapi oleh orang Jawa Timur sudah dikenali, yang dipilih PBNU mesti kalah. Yang dipilih PWNU, bahkan yang dipilih kiai-kiai besar Jawa Timur kok kalah. Gus Ahdal ini mertuanya orang Jawa Timur. Kalau saya hanya dengar-dengar saja. Kemarin dukung Gus Ipul, ternyata keok. Kurang opo gus e? Kalah sama Khofifah gitu saja. Ada yang bilang Namrud-namruz bakal dihancurkan oleh semut-semut. Namrud kan ceritanya dibunuh oleh nyamuk. Karena nyamuk saja sudah mati, masih mending nyamuk.

17 April 2019 = 17 Agustus 1945

Hadirin yang saya muliakan. Saya ulangi lagi, sekarang ini kembali ke zaman 17 Agustus. 17 April ini merupakan kemerdekaan kita dari penjajahan Cina. Saestu kita ini sudah dijajah Cina. Ada video pernyataan Kwik Kian Gie atau Rizal Ramli bahwa di tahun berapa itu Indonesia pernah dilewati pesawat luar ngeri. Lalu yang dari Indonesia memberitahu, “Anda telah melewati teritorial kami.” Terus dijawabi, “Mau apa kau?” Akhirnya tidak berani, hanya memberitahu saja. Ini sudah lama, artinya kita ini tidak punya kedaulatan saking lemahnya. Uangnya masuk rekening-rekening luar negeri, untuk rekening diri sendiri. Bukan untuk mensejahterakan tentara, polisi, dan guru. Maka Pak Prabowo berkomitmen ingin mensejahterakan ABRI dengan senjata yang sudah mutakhir dan hebat.

Indonesia iki apa keistimewaannya? Ini sudah diingat-ingat oleh Barat, yaitu waktu 10 November. Kurang opo kuatnya Barat? Ada Inggris, Belanda, Amerika, Perancis, Portugis, dan Jerman. Tapi kok bisa kalah dengan santri? Bukan TNI atau ABRI sebenarnya. Mereka orang Barat sudah tahu kalau di samping TNI itu ada santri dan kiai yang ahli hikmah.

Hadirin yang saya muliakan. Jadi mereka sudah tahu. Makanya mereka benci sekarang kalau ada lafazh Allahu Akbar. Ini karena trauma orang Barat gara-gara Bung Tomo memekikkan Allahu Akbar. Bisa membikin dada orang Barat sesak sampai sekarang. Yang aneh ada orang NU kok ikut-ikut benci? Ini aneh. NU londo pancen, ora NU kiai.

NU Sekarang Dikuasai Liberal dan Komunis

Hadirin yang saya muliakan. Sekarang ini fitnah besar. Kita tidak benci NU Hasyim Asy’ari, bukan benci NU kiai. Tapi sekarang NU dikuasai liberal dan komunis. Guntur Ramli itu mungkin keturunan PKI, namanya saja Guntur. Medeni iku. Effendi Khoiri ada yang cerita juga keturunan PKI. WaLlahu A’lam. Hatta yang dekat dengan kiai. PBNU saja sekarang sudah begitu. Kecampuran PKI dan macam-macam. Ini fitnah yang besar. Ada yang menakut-nakuti kalau Pak Ma’ruf Amin dan Jokowi kalah serta Prabowo menang nanti tahlilan dan dzibaan hilang, pesantren hanya fosil. Itu omongannya. Aku Najih ya khawatir, tapi janji Sandiaga Uno dengan Gus Akhfasy di ndalem-nya lalu di Pekalongan, tetap melestarikan Ahlussunnah wal Jama’ah. Lalu seingat saya ketika kampanye Pak Prabowo mengatakan “kalau saya kalah akan hilang tahlil” adalah fitnah yang kejam. Ini perlu disebarluaskan. Dibilang fitnah, berarti akan melestarikan, kan?

Jadi saya ulangi lagi. Memang di belakangnya Pak Prabowo banyak non-NU. Tapi dengan kepemimpinan Pak Prabowo yang orangnya tidak ingkar janji kita harapkan akidah ahlussunnah wal jamaah tidak akan tergeser. Prabowo itu istilahnya adalah orang yang plural, bukan pluralisme. Kalau pluralisme kan menyamakan semua agama. InsyaAllah kami husnuzzhan beliau tidak pluralisme, hanya plural atau menghargai perbedaan. Sudah dimana-mana beliau berbicara seperti itu, bahkan mengayomi seluruh agama. Bahkan Habib Rizieq di pidatonya harus mengayomi seluruh agama. Agama saja diayomi, apalagi sekedar tahlilan dan dzibaan yang berbau tradisi saja. Malah mbahnya dilestarikan karena tradisi dan kesenangan masyarakat. Masyarakat senang tahlilan sebab barakah karena rumahnya digunakan untuk kiai dan santri membaca Al-Quran dan dzikir, AlhamduliLlah. Jadinya tenang, setan yang asalnya mau masuk tidak jadi masuk. Enak, kan? Sudah begitu makanannya bisa diniati shadaqah. Yang mendapat shadaqah juga enak. Sama enaknya. Begitu kok mau dihilangkan? Jelas didemo dan dilengserkan lagi.

Tentang Tahlilan

Saudara-saudara sekalian. Tapi kalau saya niatnya qiraah alal amwat (membaca untuk orang mati), itu adalah ibadah yang shahih dan diamalkan oleh salafushalih. Yang datang niatnya menyenangkan dan membantu sesama Muslim. Apalagi tetangga, niatnya husnul jiwar. Niatnya bertetangga yang Islami, AlhamduliLlah. Jika seumpama tahlilan dihalang-halangi, maka shalawat sendiri-sendiri di rumah kan bisa. Takutnya sampai begitu gara-gara snack. Tahlilan sendiri-sendiri dirumahnya bisa. Tidak perlu mengundang du ratus orang. Mengajak saudara lima orang saja sudah bisa. Ini seumpama, InsyaAllah tidak. Ini karena Prabowo orang yang pluralis, menghargai perbedaan, semuanya diayomi. Lha sampeyan suka tahlilan dan mengundang orang, tapi dirinya sendiri tidak pernah tahlil. Thariqat itu membaca tahlil tapi tidak ada snack-nya. Mencari pahala dari Allah. Membaca shalawat seratus kali, tahlil seratus kali, istighfar seratus kali, esok dan sore. Kan enak. Ada yang tahlil 165 kali setelah shalat. Mbah Baidlawi begitu. Mengamalkan yang seperti ini saja enak. Ada tahlilan AlhamduliLlah, tidak ada yang mengundang untuk tahlil maka tahlilan sendiri-sendiri. Diniati untuk arwah kaum Muslimin kan sudah mendapat ganjaran banyak sekali. Tidak ada syubhat mencari dunia. Ini saya cuma menenangkan lho, bukan menakut-nakuti.

Islam di Cina

Para hadiri yang saya hormati. Mengapa di Cina masih ada orang Islamnya padahal komunis dan jahatnya seperti itu? Berapa puluh juta Muslim Cina dibunuh dan masjid dihancurkan? Sekarang yang dihina itu penduduk Uyghur, Tiongkok. Itu mungkin karena masalah politik. Cina sekarang sudah agak baik, bukan seperti dulu. Tapi yang bahaya itu komunis Cina itu tetap berbahaya. Jokowi itu sebelum jadi presiden adalah kader PDI yang sudah sering ditugasi Megawati untuk berkunjung ke partai komunis Cina. Tetap berbahaya. Sangat berbahaya.

Para hadirin yang saya hormati. Di Cina masih ada orang Islam padahal komunis, masalahnya di Cina itu orang-orangnya tidak meninggalkan mengajar Al-Quran. Al-Quran itu penting. Sekarang yang mengajar Al-Quran kebanyakan perempuan. Itu tidak mantep. Yang mengajar Al-Quran di PAUD atau TPQ itu mestinya laki-laki. Sekarang laki-lakinya kerja gara-gara dimarahi istrinya, “Mengajar saja dapat apa, pak?”

Tapi orang Islam di Cina banyak yang tidak shalat. Kalau di tempat kerja dilarang shalat. TKW dan TKI kita yang di Beijing atau Hongkong tidak shalat. Shalatnya pas makan, bahkan kadang shalatnya di WC. Menggelar alas lalu shalat cepet-cepetan. Jadi dilarang shalat disana. Lha ini kalau Jokowi jadi, PSI besar, PDI banyak kader PKI-nya, ada yang bilang 110, itu gimana jadinya? Nanti diatur cara komunis kita tidak boleh shalat waktu bekerja. Na’udzubiLlah min dzalika.

Silahkan meniru kebijakan walikota Probolinggo seorang habib agar di pabrik-pabrik atau kantor-kantor ada mushalla dan disiapkan tempat wudlu dan toilet untuk shalat bersama. Itu perlu digerakkan dan ditular-tularkan. Harus digunakan untuk menyindir pak Hafid, “Anda santri kok tidak bisa begini?” Tentunya jangan shalat saja, tempat-tempat karaoke juga ditutup. Tempat maksiat.

إِنَّ الصَّلَاةَ تَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ [العنكبوت : 45]

Kalau shalat tidak dilarang tapi maksiat digiatkan, itu sama dengan menyampur surga dan neraka. “Nasdem” menurut orang Sarang, “panas adem”. Nasdem itu anak buah James Riyadi. Makanya punya MetroTV. Yang menjadikan Prabowo kalah tahun 2014 ya Metro itu. Perhitungan quick count.

Para hadiri yang saya hormati. Prabowo dulu sudah menang, satu persen entah berapa. Sebnarnya sudah menang. Tapi Pak Prabowo tidak melawan. Makanya sekarang dikawal oleh Habib Rizieq, akhirnya agak tegas. Entah kenapa, tapi ya tidak sampai perang. Umpama perang ya di Jakarta, tidak sampai ke Pamotan. Supaya sungguh-sungguh gitu, tidak mengalah terus. Ada yang bilang Prabowo terlalu baik setelah diberhentikan dulu.

Para hadiri yang saya hormati. Itu hanya fitnah. Kalau Jokowi bilang “saya empat setengah tahun difitnah diam sekarang saya melawan”, itu ditertawakan oleh Jakarta. Pak Prabowo 20 tahun difitnah. Oleh Wiranto dan Luhut. Sekarang perlawanannya lewat konstitusi, lewat pemilu. AlhamduliLlah. Monggo kita yang sadar. Kita diberi satriyo piningit. Satriya piningit itu disembunyikan oleh Allah. Makanya dicopot dari TNI. Itu yang namanya piningit. Mau menikmati jadi menantu Pak Harto, malah disuruh ke NTT. Tapi dikhianati oleh Habibie, dilepaskan. Itu tekanan Barat.

Niat Dukung Prabowo-Sandi dalam Pemilu

Para hadiri yang saya hormati. Maka kita ini niatnya adalah nashril mazhlum. Menolong orang yang dianiaya. Oleh siapa? LB Moerdani, Wiranto, dst. Bengis-bengis itu. Ya PKI, ya komunis, campur-campur. kita niatnya nashril mazhlum dan juga nashril habaib wal ulama (menolong habaib dan ulama) yang ahli amar ma’ruf nahi munkar. Menolong Habib Muhammad Rizieq ketua FPI yang dianiaya. Kiai Hasyim Muzadi pernah berkata, FPI itu persis Banser zaman 65. Kamu ingin mengerti Banser kuno, ya FPI itu. Jadi kita ini NU Kiai Hasyim Asy’ari dan Kiai Wahab Hasbullah yang menentang PKI. Yang memulai melakukan penangkapan itu PKI, bukan kita yang melanggar hak asasi manusia. Situ yang mulai duluan. Sana yang ingin membunuh. Sudah disiapkan lubang-lubang di depan rumah, alasannya akan ada musuh dari Malaysia. Malaysia ngapain ke Jawa? Lucu. Membuat hoax kok keterlaluan anehnya. Begitu saja ditiru sampai sekarang oleh anak turunnya. Na’udzubiLlah min dzalika.

Saya ulangi lagi, kita niati nashril mazhlum, nashril habaib, dan nashr ahli amar ma’ruf nahi munkar. Masalah pesantren asal ikhlas dan istiqamah, mesti dijaga oleh Allah Ta’ala. Tidak usah ragu. Sekuat-kuatnya penguasa tidak bisa menghilangkan pesantren. Allahuma amin. Ini sejarah dari dulu, semoga ila akhir al-zaman. Kecuali kalau pesantrennya sudah jadi liberal ya mugo-mugo ndang kukut pisan. Pesanren kok senang mendukung Ahok? Kiai kok mendukung Kristen, dukung Panjaitan? Iku yo opo? Kemarin viral katanya ada yang sudah diamplopi, tapi ya jangan direndahkan status kiainya. Mungkin itu karena dipaksa atau ditekan. Entah hatinya mendukung entah tidak. Mungkin lahirnya seperti mendukung, tapi batinnya tidak InsyaAllah, seperti bapak kulo Mbah Maimuen.”

Acara kemudian dilanjutkan dengan tanya jawab dan diakhiri dengan doa oleh Syaikh Muhammad Najih. (*)

Kajian Ilmiah

MENEPIS TUDUHAN ANTI TAHLIL DAN MAULID

بسم الله الرحمن الرحيم
الحمد لله رب العالمين، والصلاة والسلام على أشرف المرسلين سيدنا محمد، وعلى آله وصحبه اجمعين، أما بعد؛

Banyak dari kubu pendukung Paslon No 01 menyatakan “Di belakang Paslon No 02, ada kelompok dan ormas Islam yang anti maulidan, qunutan dan tahlilan,…..”

Perlu kalian catat baik-baik! Bahwa kelompok yang kalian tuduh anti tahlil, maulid, dan qunut, mereka tetaplah saudara seiman. Kenapa permasalahan khilafiyah seperti ini dijadikan sebab perpecahan umat?! Padahal NU sejak kepemimpinan KH. Hasyim Muzadi seringkali bergandengan dengan Muhammadiyah dan ormas-ormas lainnya.

Jangan kalian menutup mata, bahwa di belakang Paslon No 01 justru banyak kelompok pendukung LGBT, Syi’ah, Kristen-Radikal, Ahmadiyah, bahkan ada anak keturunan PKI yang dendam kesumat dengan umat Islam dan terus-menerus mengusung ideologi Komunisme, serta ada banyak kelompok liberal, plural, sekuler yang menista ajaran dan menodai agama Islam.

Kenapa dengan pihak yang menyerang Islam kalian malah merasa nyaman? Apakah muslim yang tidak qunut itu lebih berbahaya daripada antek-antek zionis, komunis-cina yang berada di belakang Paslon No 01? Sekali lagi coba nalar dengan akal sehat! Apakah muslim yang tidak qunut, maulidan, tahlilan, itu lebih berbahaya daripada kelompok LGBT, Ahmadiyah, atau bahkan daripada kelompok Syi’ah yang mencaci-maki para shahabat nabi, yang mereka semua berada dikubu Paslon No 01?

Kalian katakan :”Jika Prabowo menang, berarti nanti tidak ada tahlil!!”. Ini jelas dusta. Karena kalau Prabowo menang, insyaallah segenap kaum muslimin Aswaja beserta para kyai dan habaib akan menggelar istighatsahan dan maulidan dimana-mana.

Fakta mencengangkan justru berada di pihak Paslon No 01, dimana banyak sekali kaum Syi’ah Rafidlah yang mencaci-maki para shahabat Nabi, mencaci-maki para habaib dan ulama. Jangankan orang sekarang, para shahabat Nabi seperti Sayyidina Abu Bakr Shiddiq RA, sayyidina Umar bin Khatthab RA, sayyidina Utsman bin Affan RA, bahkan istri nabi tercinta Sayyidah Aisyah RA mereka hina. Kok malah kalian nyaman bergabung dengan orang-orang yang melecehkan para sahabat dan isteri Rasullullah SAW!

Dan di kubu Paslon No 01 juga ada oknum-oknum yang ingin menjual aset Negara kepada Asing dan Aseng, mereka memarginalkan pribumi, juga ada oknum yang berusaha keras membatalkan perda-perda Syari’ah. Kalian begitu nyamannya di samping mereka, sementara kalian menganggap musuh terhadap saudara-saudara
muslim yang tidak qunut, maulidan, tahlilan.

Apakah kalian tuli saat Aksi 212 tahun 2016, suara maulid terdengar dari Monas. Di tengah tujuh setengah juta orang yang datang dari berbagai kelompok,ormas dan golongan. Apa kalian sengaja menutup telinga saat Reuni 212?! dari awal sampai akhir, dari lima belas juta lebih terdengar suara maulidan, shalawatan, istighatsahan, lagi-lagi dari berbagai kelompok.

Apakah kalian pikir kelompok kalian saja yang Ahlussunnah wal Jama’ah? Apakah kalian pikir kalian saja yang suka tahlilan, istightsahan, dan maulidan? Apakah kalian pikir kalian saja yang Islam? Inna liLlahi wa inna ilaihi raji’un.

Fitnah kalian tidak benar dan tuduhan kalian keji. Tidak pantas bagi kaum nahdliyyin apalagi dari kalangan pesantren dan ormas Islam besar menyebar hoax, menyebar fitnah, mengadu domba umat, dan mengkotak-kotakkan umat muslim.
Saat ini (melawan musuh-musuh Islam) bukan waktunya kita meributkan masalah khilafiyyah.

Dan Kalau ada yang tidak rela bendera NU dikibarkan Cawapres Sandiaga Shalahuddin Uno dalam beberapa waktu lalu, maka kami lebih tidak rela lagi NU, jam’iyyah yang didirikan ulama-ulama Mukhlisin dijadikan mesin politik oleh Paslon No 01!

Jadi bagi para oknum, sebenarnya bukan karena bendera NU berkibar pada acara kampanye Sandiaga Shalahuddin Uno yang mereka permasalahkan. Tetapi lebih karena mereka takut kalau kaum nahdliyyin yang sudah didoktrin harus milih Jokowi, ternyata tetap saja nanti memilih Prabowo. Sebab, secara khittah memang tidak ada kewajiban bagi Nahdhiyyin untuk memilih Paslon No 01. Justru yang sering didengar dari wejangan para kyai (termasuk KH. Ma’ruf Amin lewat fatwa MUI) adalah ajaran untuk tidak berbohong, tidak memfitnah dan tidak mengadu domba, dan tentunya juga tidak memilih orang yang bersifat demikian.

Oleh karena itu, mari kita dukung pasangan H. Prabowo Subianto dan H. Sandiaga Shalahuddin Uno, sesuai fatwa Habib Ali Abdurrahman Assegaf Jakarta dan KH. Suyuthi Toha Banyuwangi, dan tulisan kami yang berjudul “Waspada dan Berhati-hati Dalam Memilih Pemimpin di Indonesia (Pilpres)” yang di dalamnya menerangkan 22 alasan untuk tidak memilih Jokowi”, dengan cara berkampanye yang baik, jujur, beradab, dan menjunjung tinggi nilai-nilai Islam Ahlussunah wal jamaah, sehingga kita dianugerahi oleh Allah SWT seorang pemimpin yang bisa membawa Indonesia menjadi baldatun Thoyyibatun wa rabbun Ghofur, amin.

Sarang, 03 Sya’ban 1440/ 9 April 2019

KH. Muhammad Najih MZ

Kajian Ilmiah, Karya Syaikh Najih Versi Indonesia

RENUNGAN HATI H. MUHAMMAD NAJIH MAIMOEN SELAMA DUA PEKAN

  1. Kami berideologi Islam ‘ala ma kana alaihi Rasulullah SAW.
  2. Kami beraliran Ahlusunah Wal Jama’ah.
  3. Kami berafiliasi madzahibul arba’ah, terkhusus madzhab Syafi’i.
  4. Kami warga negara Indonesia, sebuah negara yang dilandaskan oleh para founding fathernya dengan Pancasila, Undang-undang 1945 beserta muqoddimahnya yang mulia nan agung.
  5. Landasan agama Islam adalah al-Qur’an, al-Hadits, Ijma’ dan Qiyas. Inilah prinsip kebenaran mutlak, sebuah keyakinan yang menyelamatkan pemeluknya dari kesesatan di dunia maupun siksaan abadi Neraka di Akhirat.
  6. Pancasila dan UUD 45 sebagai landasan sistem negara adalah hasil kompromi bersama diantara pelopor bangsa, sebagai upaya mengkompromikan perbedaan pendapat dan mencegah terjadinya chaos (pertikaian anak bangsa yang bermacam-macam ras, suku, etnis dan agamanya). Dan sekali-kali, hal itu tidak bisa menjadi jaminan kebenaran-keselamatan di dunia apalagi di akhirat. Sebab, sudah barang tentu ada sebagian anak bangsa yang berusaha merongrong Pancasila untuk memecah belah bangsa. Fenomena minoritas menuntut hak-hak agamanya disejajarkan dengan hak agama mayoritas, kelompok kecil ingin menguasai posisi-posisi strategis negara, sudah cukup menjadi peringatan dan kewaspadaan serius.
  7. Dengan berlandaskan pada 7 butir kalimat sila pertama dalam Pancasila atau yang lebih dikenal dengan Piagam Jakarta, sebenarnya tidak ada pertentangan antara Islam dan Pancasila, yang beda hanya dari sisi interpretasinya. Kami lebih condong tafsiran Pancasila versi delapan pendiri bangsa, yakni sila pertama dimaknai tauhid/Islam. Dengan demikian, agama-agama selain Islam dihukumi batil/sesat, meskipun keberadaannya dilindungi UUD 45. Menurut pribadi kami, perlindungan kepada selain Ahlul Kitab seperti ini kurang tepat secara syariat Islam, tapi bagaimana lagi, begitulah upaya kompromi dan perdamaian para pendiri negara ini. Namun, karena ada teror dari kelompok Radikalis-Salibis dan penghianatan proklamasi terbesar pada waktu itu, akhirnya 7 butir kalimat dalam piagam Jakarta dihapus.
  8. Kami menganggap Politik Islamis adalah inti kebenaran. Dalam konteks keindonesiaan, eksistensinya selalu bersinergi dengan politik nasionalis, dan karena umat Islam menjadi penduduk mayoritas negara Indonesia, sudah tentu memperkuat Islam dan memperjuangkan kepentingan-kepentingannya sama halnya memperkuat negara. Jika politik nasionalis tidak menghargai, tunduk atau bahkan menolak syari’at Islam, maka hal itu justru akan menjadi malapetaka dunia-akhirat bagi pelaku dan lingkungan sekitarnya.
  9. Sistem sosialisme, kapitalisme, apalagi komunisme tidak akan bisa menciptakan keadilan dan kemakmuran di negeri ini. Sebab keadilan dan kemakmuran hakiki hanya bisa diraih bila tidak bermaksiat kepada Allah SWT, Tuhan alam semesta.
  10. Imperialisme-Komunisme lebih-lebih China ingin balas dendam kepada umat Islam, dengan cara membebekkan ulama-santri NU, dan mempersekusi serta mengkriminalisasi ulama dan dai non NU. Tentu saja kejahatan ini dibantu oleh salibis yang memiliki pengaruh di negara ini.
  11. Komunis-Salibis ingin bangsa ini miskin dan terus menerus miskin dengan cara membebankan hutang banyak, agar tujuan mereka, proyek Kristenisasi dan komunisasi berjalan mulus, cepat tanpa hambatan.
  12. Sistem sosialisme tidak bisa menjadi alternatif dari keburukan sistem kapitalisme dan komunisme. Hanya sistem Islam yang bisa menyelamatkan Indonesia dari bahaya kapitalisme dan komunisme.
  13. Beberapa kebijakan Islami yang harus diupayakan adalah semisal diharamkannya riba, diwajibkannya zakat bagi yang sudah berkewajiban mengeluarkannya (mencapai nominal nishob), diterapkannya pajak bagi non-Muslim dan diterapkannya iuran bersama (sumbangan wajib) bagi non-Muslim dan Muslim (yang tidak berkewajiban zakat) untuk kemaslahatan sosial, seperti pembangunan jalan dan pabrik negara, men ta’zir bil mal sebesar-besarnya bagi para koruptor, pengemplang pajak, dengan mengganti rugi dan mengembalikan uang negara yang di korupsi dan di emplangnya. serta diadili, dihakimi dan ditindak tegas disamping dipenjara, menghidupkan undang-undang dan perda-perda syari’at Islam seperti; melarang LGBT, perzinaan, narkoba, minuman keras, perjudian, dan menindak keras terhadap para pelaku apalagi cukong-cukong/bandar-bandarnya.
  14. Khilafah secara Nasional atau Internasional belum mungkin diterapkan akibat tercabik-cabiknya umat Islam, andaikan diterapkan, maka tempatnya harus di jantung Islam, Timur tengah.
  15. Isu yang dihembuskan Hendropriyono tentang Pancasila Vs Khilafah terkait pemilu tahun ini, hanyalah provokasi belaka dan pembohongan publik semata. Namun paham Neo Mu’tazilah tetap berbahaya, seperti paham menafikan qodlo’ dan qodar dalam af’alul insan, menafikan barokahnya do’a bersama dan berkahnya dzikir furodan wa jama’atan, apalagi paham Neo-Khawarij yang mengkafirkan tawassul bil auliya wa as-sholihin dan mengharamkan syaddurrahli/ perjalanan untuk ziarah kuburil anbiya, auliya wa as-shalihin.
  16. Melalui bulan Rojab yang mulia dan Isra’ Mi’raj Rasulullah SAW, kami menghimbau kepada seluruh masyarakat muslim Indonesia, agar berpegang teguh kepada syari’at Islam, lebih-lebih ngopeni sholat jamaah lima waktu di masjid-masjid, menuaikan zakat bagi yang berkewajiban, dan melaksanakan puasa Ramadhan, untuk mensyi’arkan serta menyemarakkan ajaran-ajaran Islam ke seluruh pelosok negeri. Bapak Prabowo sudah berjanji akan meliburkan bulan Ramadhan. Untuk itu, mari kita gunakan kesempatan emas itu untuk memperbanyak ibadah, membaca al-Qur’an, dan mengaji hadits. Dengan liburan Ramadhan ini, insyaallah akan subur lagi program pesantren kilat seperti dulu zaman Bapak Soeharto.
  17. Kami memilih Prabowo-Sandi bukan atas dasar kepribadian mereka berdua yang bisa kurang bisa lebih. Alasan mendasar dukungan kami kepada Paslon No. 02 tak lain karena mengikuti ulama dan habaib, dan mengikuti keinginan rakyat (untuk perubahan presiden) yang selama ini telah sangat dizhalimi oleh Rezim, hanya diiming-imingi janji-janji palsu tanpa realisasi, bahkan hak-haknya dikebiri, dianaktirikan, dan sering melakukan pembohongan publik tanpa disertai data yang valid, banyaknya impor pangan di musim panen raya tanpa pertimbangan yang mendasar dan rakyat menderita akibat harga panen menjadi anjlok. Semuanya itu, karena rezim sekarang lebih berpihak kepada China dan kroni-kroninya. Semoga di tahun 2019 ini, kursi kepresidenan diduduki oleh sosok pemimpin pro rakyat, pro Islam damai yang penuh dengan nuansa tauhid, dzikir, tahlil dan sholawat, inilah potret Islam Ahlussunah Wal Jama’ah.

Sarang, 26 Rojab 1440 H./01 April 2019 M.

H. Muhammad Najih Maimoen

NB: Sebarluaskan ke kaum santri.

Kajian Ilmiah, Karya Syaikh Najih Versi Indonesia

POTRET PEMIMPIN IDEAL BAGI BANGSA INDONESIA

بسم الله الرحمن الرحيم

الحمد لله، و أشهد أن لا إله إلا الله وأشهد أن محمدا عبده ورسوله، صلى الله عليه وعلى آله وصحبه وسلم، أما بعد:

قال الله تعالى في كتابه الكريم: يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لا تَتَّخِذُوا الَّذِينَ اتَّخَذُوا دِينَكُمْ هُزُوًا وَلَعِبًا (المائدة : 57)

“Wahai orang orang yang beriman, janganlah kamu mengambil jadi teman akrabmu (apalagi pemimpinmu), orang-orang yang membuat agamamu jadi ejekan dan permainan.” (QS. Al-Maidah: 57)

عن أبي ذر رضي الله عنه قال، قلت يا رسول الله أَلَا تَسْتعملنِي، قال فضرب بيده على منكبي ثم قال، يا أبا ذر إنك ضعيف وإنها أمانة وإنها يوم القيامة خزي وندامة، إلا من أخذها بحقها وأدَّى الذي عليه فيها (رواه مسلم)

“Dari shahabat Abu Dzar RA beliau berkata, wahai Rasulullah SAW, apakah Engkau tidak ingin memilihku menjadi pejabat, Rasulullah SAW menjawab; Wahai Abu Dzar, kamu itu orang yang lemah, sedangkan jabatan adalah tanggung jawab, dan kelak di hari kiamat dapat menyebabkan kehinaan dan penyesalan, kecuali bagi orang yang mengambilnya dengan menunaikan hak-haknya dengan baik.” (HR Muslim)

عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عنهُ، عَنِ النَّبِىِّ صلى الله عليه وسلم قَالَ: آيَةُ الْمُنَافِقِ ثَلاَثٌ: إِذَا حَدَّثَ كَذَبَ، وَإِذَا وَعَدَ أَخْلَفَ، وَإِذَا اؤْتُمِنَ خَانَ (رواه البخاري)

“Dari Abu Hurairah RA, Nabi SAW bersabda, Tanda-tanda orang munafik ada tiga: jika berbicara dia berdusta, jika berjanji dia mengingkari, dan jika diberi amanah )jabatan) dia berkhianat.” (HR. Al-Bukhari)

عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عنهُ قال: قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: ثلاَثَةٌ لاَ يُكَلِّمُهُمُ اللَّهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَلاَ يُزَكِّيهِمْ وَلاَ يَنْظُرُ إِلَيْهِمْ وَلَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ: شَيْخٌ زَانٍ وَمَلِكٌ كَذَّابٌ وَعَائِلٌ مُسْتَكْبِرٌ (رواه مسلم)

“Dari Abu Hurairah RA, Nabi SAW bersabda: Tiga orang yang Allah SWT enggan berbicara dengan mereka pada hari kiamat kelak. (Dia) tidak sudi memandang muka mereka, (Dia) tidak akan membersihkan mereka daripada dosa (dan noda). Dan bagi mereka disiapkan siksa yang sangat pedih. (Mereka ialah): Orang tua yang berzina, Penguasa yang suka berdusta dan fakir miskin yang takabur.” (HR. Muslim)

Memilih pemimpin yang sholih dan adil merupakan kewajiban umat sebagai wujud ibadah kepada Allah SWT dalam arti yang seluas luasnya. Umat Islam harus memilih pemimpin negara yang nyata-nyata berkomitmen untuk menjaga kewibawaan dan kemurnian agama, serta berhidmah untuk memperjuangkan kepentingan dan aspirasi umat Islam. Umat Islam tidak boleh memilih pemimpin yang berkarakter mudah dipengaruhi oleh lingkungannya, yang cenderung memusuhi, mengabaikan aspirasi serta memojokkan umat dalam memperjuangkan nilai-nilai moral dan ajaran Islam dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.

Bangsa Indonesia memohon kepada Allah SWT agar dianugerahi seorang pemimpin yang amanah dan tanggung jawab, Pemimpin yang mensejahterakan rakyat Indonesia terlebih kepada penduduk mayoritas, yakni umat Islam, dengan tidak memusuhi syari’at agama mereka apalagi mengkriminalisasi ulamanya. Pemimpin yang spirit kepemimpinannya memprioritaskan kesejateraan ekonomi rakyat, memberantas narkoba, minuman keras, judi, PSK, korupsi dan berbagai bentuk kemaksiatan, lebih-lebih dosa besar (kabairudzzunub).

Masyarakat Indonesia mengidamkan sosok pemimpin yang peduli dan peka terhadap ketinggian moral dan mental bangsanya. Oleh karena itu, ia harus menata aturan-aturan di semua lini lembaga pendidikan, seperti membuat skala prioritas bimbingan akhlak, memisah tempat pengajaran siswa dan siswi, sebagai langkah dini penanganan maraknya pacaran dan prostitusi di usia dini, sehingga lahirnya anak jadah dan praktek prostitusi dapat diminimalisir. Terpenting lagi ia harus bisa menghentikan produksi kondom, alat seksual yang merupakan jebakan musuh-musuh Islam untuk memasarkan perzinaan.

Jika ingin berkah gemah lipah loh jinawi, Pemimpin negeri ini hendaknya menggalakkan beberapa kebijakan islami, seperti mewajibkan shalat Jum’at di masjid-masjid kampung (bukan di instansi pemerintahan, perusahaan atau mall-mall), puasa Ramadlan, dan menarik zakat 2,5% dari setiap individu yang berpenghasilan kadar satu nishab (kira-kira 40 juta ke-atas pertahun), dan pengelolaannya diserahkan kepada Badan Amil Zakat yang amanah dan kompeten, kemudian penyalurannya juga harus sesuai dengan ketetapan syari’at Islam, al-ashnaf ats-tsamaniyah (bukan untuk infrastruktur apalagi dihutang negara).

Pemimpin tertinggi negara Indonesia harus mensupport serta mendukung sepenuhnya kebijakan-kebijakan islami bawahannya, seperti menutup tempat-tempat maksiat (penutupan hotel Alexis), penghentian reklamasi, lokalisasi, LGBT, Bar, perusahaan Miras, sebagaimana yang telah dilakukan Gubernur DKI saat ini, Anies Baswedan. Semoga beliau diberi kekuatan oleh Allah SWT untuk melawan musuh-musuh Islam yang ada di DPRD Jakarta (PDI, Nasdem dan partai pendukung lainnya).

Seorang pemimpin harus memperhatikan dan ngopeni aspek-aspek hubungan vertikal rakyatknya, seperti menerapkan peraturan wajib sholat dhuhur-ashar berjamaah bagi PNS, buruh-buruh di kantor dan perusahaan, serta menyediakan fasilitas Ibadah di setiap instansi kenegaraan. Syukur-syukur menyiapkan pembimbing agama yang mentraining tata cara beribadah dan memberikan ceramah keagamaan di waktu senggang.

Di bawah kepemimpinan Jokowi-Jusuf Kalla, umat Islam Indonesia seringkali dirugikan, berikut ini data dan fakta kebijakan rezim sekarang yang sangat menyengsarakan penduduk mayoritas Indonesia;
1. Membebaskan baju dan lambang PKI, dengan alasan itu trennya anak muda. Sementara lambang tauhid dan tagar 2019 ganti presiden mereka razia dan larang. Bahkan Mendagri, Tjahjo Kumolo mengapresiasi maraknya paham Komunisme, Leninisme, Marxisme dan mengecualikan ketiga paham ini dari paham dan gerakan radikal, yang disahkan undang-undang pelarangannya.
2. Dana haji umat Islam dipakai untuk pembangunan infastruktur yang manfaatnya kembali kepada konglomerat aseng-asing. Sementara pemerintah sangat menyengsarakan rakyat kecil yang mayoritas muslim.
3. Penista agama yang pro pemerintah sangat sulit diproses secara hukum. Dakwah yang mengajak pada hukum–hukum Syari’at seringkali dipersekusi. Adanya aturan pengeras suara di masjid dan aturan tentang materi khutbah di masjid. Dan maraknya kasus persekusi terhadap ulama dan warga masyarakat yang tidak pro penjajahan asing-aseng.
4. Membentuk penyelewengan akidah, berupa doktrin Islam Nusantara yang kental dengan aroma liberalisme, padahal fatwa MUI pada tahun 2005 menyatakan keharaman paham Liberalisme tersebut.
5. Usaha mengesahkan LGBT dari rezim Jokowi dan partai partai pengusungnya lebih-lebih PSI, PDIP dan NASDEM. Serta maraknya penodaan agama Islam, baik dilakukan oleh pejabat pemerintah maupun partai, khususnya dari kader PDI, NASDEM dan PSI, bahkan oleh orang awam.
6. Dalam Apel Kebangsaan di Semarang kemarin, Kristen malah memakai baju kebesarannya, sedangkan Islam hanya memakai kaos, fenomena ini semakin membuktikan pemerintahan sekarang lebih menghormati Kristen dari pada Islam (Pengaruh kuat LBP menjadi bukti kuatnya). Kemudian juga pada saat acara, bendera merah putih diikatkan di kepala, tapi setelah selesai acara banyak bendera berserakan tak terurusi, hakikatnya rezim ini merendahkan merah putih.
7. Sosok penggerak roda pemerintahan sekarang, yakni Megawati Soekarno Putri selaku Ketum PDIP, tidak percaya akan Hari Kiamat, bahkan menjuluki kelompok yang mempercayainya (termasuk umat Islam) sebagai kaum pengkhayal masa depan, Naudzubillah min Dzalika!

Dan masih banyak lagi kesemrawutan agama dan kebohongan demi kebohongan yang dilakukan oleh rezim ini, alhamdulillah hal ini sudah menjadi rahasia umum, dan masyarakat sudah banyak yang mengetahuinya, semoga mereka sadar dan tidak akan memilih kembali pemimpin yang hanya obral-obral janji tanpa realisasi!

Berdasarkan beberapa pertimbangan di atas, dan sebagai implementasi Qo’idah Fiqhiyyah, Dar’ul Mafasid Muqoddamun ala Jalbil Masholih (mencegah mafsadah harus didahulukan dari pada menarik kemaslahatan), kami menyerukan agar tidak memilih kembali Jokowi pada pilpres 17 April 2019. Karena melihat calon hanya ada dua, maka kami juga menyerukan untuk memilih pasangan Prabowo-Sandi yang berjiwa nasionalis, yang sejak dulu sering didzolimi dan dikhianati oleh musuh-musuhnya bahkan temannya sendiri. Bapak Prabowo terbukti berjiwa patriot yang dapat dikendalikan para ulama dan habaib, dan didukung partai-partai Islam.

Pendamping Bapak Prabowo, yakni Bapak Sandiaga Sholahuddin Uno, adalah sosok pemimpin agamis yang punya komitmen kuat untuk mensyiarkan ibadah (sholat Fardhu, sunnah, zakat, puasa fardlu, sunnah dll) dan melestarikan amaliah-amaliah Ahlussunnah wal Jama’ah. Pasangan Prabowo-Sandi insyaallah bukan pemimpin otoriter apalagi radikal. Di bawah kepemimpinannya, amaliah-amaliah umat Islam Indonesia akan terus terjaga dan senantiasa terlestarikan, semisal Maulidan, Tahlilan, istighosahan, Yasinan, Ziarah Auliya dst…

Kami salut dengan cara berfikir Bapak Prabowo, terlebih soal mengatasi masalah ekonomi. Selain dari pada itu, beliau itu berjiwa nasionalis, patriot, negarawan, ini yang perlu kita tiru dari Bapak Prabowo. Adapun masalah keagamaan, yang terpenting kita konsis, istiqomah dalam melakukan ibadah, puasa dan membayar zakat. Karena kami yakin, selama syariat Islam diamalkan, pasti bangsa ini akan mendapatkan barokah, yakni keamanan, kemakmuran dan kesejahteraan. Allah SWT sudah menegaskan dalam beberapa firman-Nya:

وَلَوْ أَنَّ أَهْلَ الْقُرَىٰ آمَنُوا وَاتَّقَوْا لَفَتَحْنَا عَلَيْهِمْ بَرَكَاتٍ مِنَ السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ وَلَٰكِنْ كَذَّبُوا فَأَخَذْنَاهُمْ بِمَا كَانُوا يَكْسِبُونَ

“Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya” (QS. Al-A’raf: 96)

وَلَوْ أَنَّ أَهْلَ الْكِتَابِ آمَنُوا وَاتَّقَوْا لَكَفَّرْنَا عَنْهُمْ سَيِّئَاتِهِمْ وَلأدْخَلْنَاهُمْ جَنَّاتِ النَّعِيمِ (٦٥) وَلَوْ أَنَّهُمْ أَقَامُوا التَّوْرَاةَ وَالإنْجِيلَ وَمَا أُنْزِلَ إِلَيْهِمْ مِنْ رَبِّهِمْ لأكَلُوا مِنْ فَوْقِهِمْ وَمِنْ تَحْتِ أَرْجُلِهِمْ مِنْهُمْ أُمَّةٌ مُقْتَصِدَةٌ وَكَثِيرٌ مِنْهُمْ سَاءَ مَا يَعْمَلُونَ (٦٦)

“Sekiranya Ahli Kitab itu beriman dan bertakwa, niscaya Kami hapus kesalahan-kesalahan mereka dan mereka tentu Kami masukkan ke dalam surga-surga yang penuh kenikmatan. Dan sekiranya mereka sungguh-sungguh menegakkan (hukum) Taurat, Injil dan (Al Quran) yang diturunkan kepada mereka dari Tuhannya[2], niscaya mereka akan mendapat makanan dari atas dan dari bawah kaki mereka. Di antara mereka ada sekelompok yang jujur dan taat. Dan banyak di antara mereka sangat buruk apa yang mereka kerjakan.” (QS. Al-Maidah Ayat 65-66)

وَمَنْ يَتَّقِ اللَّهَ يَجْعَلْ لَهُ مَخْرَجًا ﴿٢﴾وَيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُ

“Barangsiapa bertaqwa kepada Allah, niscaya Dia akan mengadakan jalan keluar baginya dan memberinya rizki dari arah yang tidak disangka-sangka” [QS. At-Thalaq: 2-3)

Kandungan-kandungan ayat-ayat akan terwujud dalam suatu negara yang kepemimpinannya dipegang oleh seorang muslim yang patuh kepada al-Qur’an, Hadits dan fatwa-fatwa ulama, wallahu a’lam!

Dalam sebuah hadits yang shahih, Rasulullah shalallahualaihi wasallam mengingatkan kita:

قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلّىَ اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ المَرْءُ عَلَى دِيْنِ خَلِيْلِهِ فَلْيَنْظُرْ اَحَدُكُمْ مَنْ يُخَالِلُ. رواه أحمد وأبو داود والترمذي.

“Seseorang tergantung agama temannya, maka hendaknya kalian memerhatikan siapakah temannya.” (HR. Ahmad, Abu Dawud dan Tirmidzi)

Prabowo-Sandi mungkin jauh dari kata ideal dari standar syariat. Namun setidaknya kita bisa melihat bahwa orang-orang di sekeliling mereka adalah orang baik. Di sana ada Habib Salim Asseggaf (ketua Majelis Syura PKS), Dr. Hidayat Nur Wahid, HRS, Ustadz Zaitun Rasmin, UBN, UAS, Ustadz Adi Hidayat, Aa Gym, Babe Haikal dan banyak asatidz lainnya.

Bayangkan wajah-wajah yang berada di sekitar Jokowi-Ma’ruf kelak jika mereka menang. Ada Ahok si penista Islam, Ribka si anak PKI, dan ada gerombolan PSI yang terang-terangan menolak syariat. Ade Armando, Abu Janda dan Denni akan tertawa terbahak-bahak. Ada Jalaludin Rahmat dan gembong Syi’ah lainnya yang akan berkonspirasi atas ahlussunnah. Dan banyak lagi wajah-wajah penuh dengan misi dan visi yang akan membawa mudharat untuk Islam. Ada pepatah mengatakan;

“Orang yang cerdas bukanlah orang yang tahu mana yang baik dari yang buruk. Akan tetapi, orang yang cerdas adalah orang yang tahu mana yang terbaik dari dua kebaikan dan mana yang lebih buruk dari dua keburukan.”

Kenapa kami tidak mengarahkan untuk memilih KH. Ma’ruf Amin? Sebab posisi beliau hanyalah sebagai Cawapres. Wapres tidak punya wewenang membuat kebijakan, dan hanya dompleng kepada Capres Jokowi, yang selama 4 tahun terakhir ini, telah terbukti kebohongan-kebohongannya. Padahal MUI dulu, saat dipimpin KH. Ma’ruf Amin sudah memfatwakan “Haram memilih Pemimpin yang suka bohong”.

Kami juga menyerukan untuk tidak golput karena sama halnya membantu membesarkan komunis-China, asing-aseng, maraknya kristenisaasi, LGBT, Syiah, Liberal yang ada di kubu Jokowi. Kami menghimbau sebelum masuk kamar pencoblosan untuk memeriksa kertas suara, takutnya ada gambar yang ganda (dengan sengaja) atau suara yang rusak karena sudah tercoblos. Setelah dilihat aman baca bismillah dan do’a untuk kemenangan PAS sekaligus kemenangan Islam wal Muslimin.

Mariah kita bersama-sama menjadi laskar TPS yang siap mengawal suara dari Desa sampai ke Kecamatan sekaligus menjadi saksi perhitungan di Kecamatan, lalu mengawal kotak suara dari Kecamatan sampai Kabupaten dan sekaligus menjadi saksi perhitungan suara di Kabupaten, lalu mengawal kotak suara dari Kabupaten ke Propinsi sekaligus menjadi saksi perhitungan suara di Propinsi, lalu mengawal kotak suara dari propinsi ke KPU pusat melalui rekap maupun pengawasan kotak suara/rekap penghitungannya karena ada potensi kecurangan dengan penggantian kartu suara yang sudah tercoblos paslon satu, jangan sepenuhnya dipercayakan kepada Polisi maupun Panwascam karena lebih berpihak pada petahana.

Semoga pemilihan umum tahun ini dapat terlaksana dengan jujur dan adil untuk Indonesia yang berwibawa, bermartabat, adil, makmur, sejahtera dan berkah. Amin.

على الله توكلنا، ربنا لا تجعلنا فتنة للقوم الظالمين، ونجنا برحمتك من القوم الكافرين، وصلى الله على سيدنا محمد وعلى آله وصحبه وسلم، والحمد لله رب العالمين.

Sarang, 11 Rajab 1440 H./18 Maret 2019 M.

KH. Muhammad Najih Maimoen

Kajian Ilmiah, Karya Syaikh Najih Versi Indonesia

POTRET DAN POTENSI INDONESIA; Menuju Bangsa Berwibawa, Bermartabat, Adil, Makmur, Sejahtera dan Berkah

بسم الله الرحمن الرحيم

الحمد لله رب العالمين، والصلاة والسلام على سيد الأنبياء والمرسلين، وعلى آله وصحبه أجمعين. أما بعد:

Indonesia memiliki kekayaan sumber daya alam dan sumber daya manusia yang sangat besar. Namun jika dulu kekayaan Indonesia hanya dinikmati oleh penjajah, sekarang kekayaan Indonesia hanya dinikmati oleh segelintir orang saja. Kita juga selamanya terancam hanya jadi negara berpenghasilan menengah, karena strategi ekonomi kita saat ini gagal mengatasi perangkap pendapatan menengah.

Kenyataaan ini harus diketahui oleh seluruh warga negara Indonesia. Pada tahun 2016, hampir setengah kekayaan dikuasai oleh 1% populasi terkaya. Bagaimana ada Rp.11.000 Triliun, milik orang dan perusahaan Indonesia, jumlah yang lima kali lebih banyak dari anggaran negara, parkir di luar negeri. Kenapa 40% dari angkatan kerja hanya lulusan SD dan satu dari tiga anak Indonesia mengalami gagal tumbuh. Juga mengapa ekonomi kita harus segera tumbuh dua kali lebih cepat, atau double digit (di atas 10%) selama 12 tahun berturut-turut, untuk mengejar kemajuan bangsa lain.

Untuk itu, mari kita bersama-sama turut berperan menjawab tantangan sejarah, menjadikan Indonesia bangsa yang kuat, terhormat, adil dan makmur. Bangsa kelas atas yang disegani, bukan bangsa menengah apalagi kelas bawah yang seringkali dianggap remeh. Warga negara Indonesia harus sadar bahwa jika dikelola dengan tepat, kita punya modal sumberdaya alam dan sumber daya manusia yang cukup untuk bangsa yang kuat dan terhormat. Bangsa yang rakyatnya hidup makmur, adil dan sejahtera.

Negara akan Maju jika bisa menyelesaikan tantangan besar

Angka pendapatan domestik bruto (PDB) perkapita kita saat ini 1/3 dari Malaysia, 1/15 dari Singapura. Saat ini orang Malaysia rata-rata tiga kali lebih sejahtera dari orang Indonesia dan orang Singapura lima belas kali lebih sejahtera dari kita. Kita harus mengejar kemajuan Malaysia dan kesejahteraan Singapura. Hanya dengan tumbuh 10% setiap tahun selama beberapa tahun, negara kita bisa lepas landas menuju tujuan kita bernegara, Indonesia yang rakyatnya adil makmur dan sejahtera.

Untuk mencapai pertumbuhan dan kesejahteraan yang kita harapkan, pemerintah tidak boleh ragu-ragu untuk turun tangan dan membantu pertumbuhan ekonomi. Negara harus hadir sebagai pelopor ekonomi, pemerintah yang membuka jalan, pemerintah yang berpihak dan pemerintah yang memberdayakan. Hanya dengan demikian, kita bisa mencapai ekonomi di atas 10% secara berkelanjutan. Dengan demikian, kita bisa wujudkan negara yang dicita-citakan oleh para pendiri bangsa kita.

Founding fathers kita membayangkan dan memiliki mimpi, Indonesia yang merdeka adalah Indonesia yang rakyatnya sejahtera. Yang rakyatnya, dari manapun ia berasal, warna apapun kulitnya, agama apa pun yang ia anut, suku mana pun asalnya, dan kondisi bagaimanapun yang ia harus menerima secara fisik, tidak hidup tertinggal, tidak hidup terlantar, dan punya kesempatan untuk hidup dengan layak.

Namun, agar negara kita bisa menjadi pelopor ekonomi, agar ekonomi tumbuh double digit, demi mewujudkan cita-cita bung Karno dan bung Hatta, kita harus menyelesaikan terlebih dahulu dua masalah besar;

Pertama, kita harus hentikan aliran kekayaan negara kita yang ke luar negeri karena kebijakan ekonomi yang tidak tepat. Jika kita terus biarkan, maka negara kita tidak akan pernah punya modal untuk jadi pelopor ekonomi.

Kedua, kita harus pastikan demokrasi kita tidak lagi dikuasai oleh pemodal besar. Jika tidak, tidak mungkin kita memiliki lapis kepemimpinan yang dapat berdiri tegak dan mengambil keputusan-keputusan politik yang tepat.
Untuk menghadapi keduanya, kita tidak boleh minder. Kita harus berani, harus percaya diri, harus memiliki mental tidak mudah menyerah. Sebagai contoh, bagaimana Malaysia punya mobil nasional, sedangkan kita kok tidak punya? Malaysia negara dengan penduduk 25 juta orang, sedangkan Indonesia 250 juta orang. Mereka berani bikin mobil Nasional, kok kita tidak? Mungkin kitak dididik untuk takut. Kita dididik untuk tidak berani. Ketika ada orang yang berani, elite kita malah mempertanyakan, yakin benar mampu atau tidak?

Kita harus mampu! Sejarah telah mengingatkan kita, bahwa dulu kita mampu mengusir penjajah. Rakyat Surabaya dengan senjata seadanya mampu mengusir Inggris. Problem negeri ini harus segera kita atasi dengan menyelesaikan dua tantangan besar.

Tantangan besar pertama; Korupsi dan Kekayaaan Indonesia Mengalir ke Luar

Penyakit terparah dari tubuh ekonomi Indonesia saat ini adalah mengalir ke luarnya kekayaan nasional dari wilayah Indonesia. Uang bagi suatu negara, kekayaan bagi suatu bangsa, adalah sama dengan darah. Saat ini tubuh bangsa Indonesia berdarah, dan ternyata berdarahnya sudah puluhan tahun. Jika kita hitung sejak zaman penjajahan, maka sudah ratusan tahun.

Saat ini bangsa Indonesia sedang kerja rodi, kita sedang kerja bakti untuk orang lain. Kita sedang bekerja keras di Indonesia untuk memperkaya bangsa lain. Kita seperti indekost di rumah sendiri. Ironisnya, banyak dari kita tidak menyadari hal ini. bagi sedikit yang mengetahui, mereka diam atau menyerah pada kenyataan. Sebagian lagi justru menjadi penyalur kekayaan kita mengalir ke luar.

Ada beberapa indikator ekonomi yang dapat kita jadikan acuan untuk melihat bagaimana kekayaan Indonesia mengalir ke luar negeri. Yang pertama, adalah neraca perdagangan negara kita, terutama kepemilikan dari perusahaan-perusahaan yang melakukan ekspor. Yang kedua, adalah data simpanan di bank-bank luar negeri yang merupakan milik pengusaha dan perusahaan Indonesia, serta perusahaan asing yang mengambil untung di Indonesia.

Pada agustus 2016, menteri keuangan mengatakan bahwa ada Rp. 11.400 triliun uang milik pengusaha dan perusahaan Indonesia yang parkir di luar negeri. Jumlah yang 5x lebih besar dari APBN kita saat ini, dan kurang lebih sama dengan pendapatan domestic bruto (PDB) kita.

Selain adanya ekspor yang tidak dilaporkan oleh pengusaha kita, sebagian besar keuntungan ekspor Indonesia masuk ke perusahaan-perusahaan asing. Ini terjadi karena sebagian besar dari nilai ekspor kita dikuasai oleh perusahaan–perusahaan asing. Sekarang 94% transportasi barang untuk ekspor dan impor dikuasai oleh armada asing.
Perusahaan-perusahaan ini menjual hasil alam Indonesia. Mereka menggunakan jalan, pelabuhan, dan keringat orang Indonesia. Tetapi ketika mereka mendapatkan untung, mereka tidak menyimpan keuntungan mereka di Indonesia. Selain ini, ada juga pengusaha-pengusaha Indonesia yang melakukan usaha ekspor, dan melakukan usaha di Indonesia, yang setelah untung, malah memindahkan sebagaian keuntungan mereka ke luar negeri.

Ini masalah besar untuk bangsa kita. Jika uang ini tidak tinggal di Indonesia, maka tidak dapat digunakan untuk membangun Indonesia. Bank-bank tidak punya cukup uang untuk memberikan kredit yang bisa membangkitkan ekonomi kita.

Belum lagi skandal BLBI yang merugikan negara sampai dengan 4,58 trilliun. Penguasaan tanah HGU yang mencapai jutaan hektar yang dikuasai oleh beberapa pejabat dan elit politik Seperti tanah HGU yang dikuasai oleh Surya Paloh, Oesman Sapta Odang, Luhut Binsar Pandjaitan, Hary Tanoesoedibjo, Eric Thohir, Garibaldi Thohir, Saktu Wahyu Trenggono, Saleh Husin dan lain-lain.

Banyak Uang Kita Ada di Bank-Bank Asing
Indikator lain yang menunjukkan mengalirnya kekayaan kita ke luar negeri adalah jumlah simpanan di bank-bank luar ngeri yang milik orang Indonesia. Jumlahnya dalam persentase memang relatif sedikit, hanya sekian persen dari uang yang dikelola oleh perusahaan-perusahaan asing yang beroperasi di Indonesia. Namun jumlahnya dalam angka riil cukup besar, dan data ini telah kita ketahui karena telah diungkap oleh Pemerintah.

Menurut Pemerintah, pada akhir 2016 ada Rp. 11.000 triliun kekayaan orang Indonesaia yang disimpan di bank-bank di luar negeri. Mengingat APBN atau anggaran belanja negera kita saat ini hanya Rp. 2.000 triliun, jumlah ini lebih dari 5 kali APBN kita.

Padahal, jumlah yang lebih dari 5 kali lipat anggaran negara kita ada di luar negeri ini, jika ada di dalam negeri, maka bisa disalurkan oleh bank-bank Indonesia untuk membiayai usaha-usaha Indonesia. Bisa disalurkan untuk membangun infrastruktur, dan menjadikan BUMN-BUMN Indonesia perusahaan-perusahaan kelas dunia.
Indikator lain yang cukup miris, adalah besarnya aset bank-bank di luar negeri tetangga, sebagai contoh di Singapura, dibandingkan dengan bank-bank terbesar Indonesia. Jumlah penduduk Singapura 50 kali lebih sedikit dari kita. Besar ekonomi Singapura yang hanya 300 miliar dollar juga 3 kali lebih kecil dari ekonomi kita. Namun bank terbesar mereka bisa 5 kali lebih besar dari bank terbesar di Indonesia, Bank Mandiri. Selain itu, jumlah aset di tiga bank terbesar Singapura hampir 6 kali lebih besar dari apa yang dikuasai oleh tiga bank terbesar Indonesia. Apakah hal semacam ini logis?

Negara dengan jumlah penduduk hanya 5 juta orang, jumlah simpanan di bank-banknya 6 kali lebih besar dari jumlah simpanan di bank-bank kita, negara dengan penduduk sebanyak 250 juta orang. Jumlah penduduk terbesar keempat di dunia. Secara matematika, hal ini sebenarnya tidak mungkin. Kita patut bertanya, siapakah pemilik uang yang tersimpan di bank-bank Singapura itu? Dari mana asalnya uang simpanan itu? Indikator ini, ditambah indikator neraca ekspor-impor kita dan cadangan devisa kita, mengindikasikan bahwa kekayaan kita tidak tinggal di Republik Indonesia. Artinya, kita sekarang hanya menjadi pesuruh bangsa lain. Kita hanya menjadi bangsa kacung.

Ini kita belum bicara mengenai uang yang dikuasai oleh perusahaan asing, warga negara asing, dari hasil berusaha di Indonesia yang disimpan di luar negeri. Dari produk-produk asing, yang kita impor dan yang setiap hari dibeli dan digunakan oleh ratusan juta rakyat Indonesia.

Menjadi bangsa kacung bukan cita-cita kita. Bukan juga cita-cita pendiri-pendiri bangsa kita. Untuk apa kita punya negara, kalau kita hanya jadi bangsa kacung orang lain? Hanya untuk memperkaya bangsa lain.?

Ketidakadilan Ekonomi Sudah Terlalu Parah

Jika populasi Indonesia ada 250 juta jiwa, artinya hampir 50% kekayaan Indonesia dimiliki oleh 2,5 juta orang saja. Sisanya dibagi antara 247,5 juta jiwa. Bahkan, baru-baru ini ada yang menghitung, harta kekayaan dari empat orang terkaya di Indonesia ternyata lebih besar dari harta 100 juta orang termiskin di Indonesia.

Untuk kepemilikan tanah lebih menghawatirkan lagi. Kepemilikan tanah kita di tahun 2014 sudah mencapai 0,73. Artinya, 1% populasi terkaya di Indonesia, 2,5 juta orang, memiliki 73% tanah Indonesia. Angka sekarang pasti lebih tinggi.

Data tahun 2015 dari BPS (Badan Pusat Statistik), ada 37 juta orang Indonesia yang berprofesi sebagai petani. Namun lebih dari 75%, lebih dari 28 juta petani tidak punya lahan sendiri. Yang memiliki lahan sendiri hanya 9 juta petani. Itupun luasnya sungguh tidak seberapa.

Tantangan besar kedua; Demokrasi Indonesia dikuasai Pemodal Besar

Sekarang Indonesia berada dalam keadaaan yang sangat rawan. Terlalu banyak pemimpin kita yang bisa disogok, bisa dibeli. Akhirnya mereka tidak menjaga kepentingan rakyat, tidak mengamankan kepentingan rakyat, tetapi malah menjual negara kepada pemodal besar-bahkan kadang kepada bangsa lain.

Mereka, para pemodal besar, dari bangsa kita sendiri dan bangsa asing, tidak suka pada keinginan mereka-mereka yang hendak mengamankan dan menyelamatkan kekayaan negara. Mereka suka Indonesia yang lemah. Mereka suka Indonesia dipimpin oleh pemimpin yang lemah.

Mereka juga ingin suatu pemerintahan boneka. Mereka ingin mengendalikan bangsa ini. Mereka ingin Indonesia dipimpin oleh pemerintah, pemimpin-pemimpin dan pejabat-pejabat yang korup.

Begitupun di tengah-tengah masyarakat kita yang kian rusak moral dan mentalnya, di setiap tingkatan kepemimpinan dalam unsur masyarakat sudah sarat dengan sogok menyogok. Orang yang punya banyak uang atau dimodali banyak yang bisa membeli suara, loyalitas, bahkan ketaatan.

Setelah 70 tahun lebih kita bernegara, setelah pendahulu-pendahulu kita dengan gagah berani menolak dijajah kembali oleh kekuatan asing, sekarang bangsa Indonesia tetap dalam ancaman akan dijajah kembali. Tetapi, penjajahan yang mereka lakukan saat ini lebih lihai, lebih bagus, lebih halus, lebih licik. Mereka tidak kirim tentara, mereka cukup menyogok pemimpin-pemimpin kita.

Dengan uang, bangsa kita hendak dijajah kembali. Baik itu dengan membeli pemimpin kita, hakim-hakim, politisi-politisi, anggota-anggota DPR, ketua-ketua partai kita banyak yang lemah serta bisa dibeli. Hampir semua lembaga dirusak dengan uang bahkan pemimpin-pemimpin agama kita juga.

Demokrasi kita dalam bahaya

Ada dua alasan yang mendasarinya, pertama, karena banyak pemimpin kita yang bisa dibeli. Kedua, karena banyak kelompok oligarki yang punya uang dan mampu membeli para pemimpin kita. Yang lebih berbahaya lagi adalah manipulasi proses kotak suara. Ini yang bisa, dan sedang, dan pernah diselewengkan.

Sekarang yang banyak terjadi juga yaitu manipulasi dan rekayasa. Hasil dari banyak polling, banyak survei yang mempengaruhi pandangan masyarakat bisa dibeli. Di negara maju pun, survei bisa jadi alat penguasa. Maka adalah tugas kita bersama untuk menyadarkan masyarakat agar jangan mudah percaya survei. Selain itu, media juga kerap kali dijadikan senjata. Banyaknya masyarakat kita berharap kepada media untuk mendapatkan pecerahan, mendapatkan pengetahuan soal demokrasi kita. Sayangnya, masih banyak kita jumpai media-media itu tidak netral.

Salah satu bentuk wujud demokrasi kita adalah adanya kotak suara dalam pemilihan. Dan mereka yang dapat memberikan suara ke kotak suara adalah warga negara Indonesia yang sudah memiliki KTP. Setiap warga negara Indonesia memiliki satu suara di setiap pemilihan. Namun di banyak pemilu, banyak ditemukan daftar pemilih tidak jelas seperti adanya nama-nama yang sampai 30 disebut di TPS yang berbeda-beda.

Maka dari itu, kita harus serius dalam menyikapi politik kita saat ini. Karena selain untuk mencegah adanya kecurangan-kecurangan dalam pemilihan, upaya ini juga dimaksudkan agar masyarakat terutama umat Islam dapat menentukan pilihannya dengan tepat.

Dalam sebuah tulisan yang berjudul Fiqh Politik Islam, Fauzi Natsir, putra dari bapak M. Natsir, mengajak agar umat Islam bisa menimbang madharat dan maslahat syar’i dari pertarungan politik Indonesia hari ini. Karena Hakikatnya Pemilu tahun ini adalah, Indonesia vs Cina, Islam vs Syiah, Tauhid vs Komunisme, berikut analisanya:
Koalisi Jokowi-Ma’ruf didukung oleh gerombolan Syi’ah, Ahmadiyah, JIL, aktivis LGBT, keturunan PKI dan gerombolan aktivis medsos nyeleneh seperti Abu Janda, Denny Siregar, dll. Bahkan Ahok si penista agama juga telah resmi bergabung ke PDIP dan mendukung pemenangan Jokowi-Ma’ruf.

Hanya ada dua kubu yang bertarung, maka yang menang bersama seluruh gerombolan pengusungnya akan menjadi penguasa negeri ini. Jika anda merasa negeri dan umat ini akan baik-baik saja siapapun penguasa mereka kelak, sesungguhnya anda sedang mengigau dan membodohi diri sendiri.
Dalam sebuah hadits yang shahih, Rasulullah shalallahualaihi wasallam mengingatkan kita:

قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلّىَ اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ المَرْءُ عَلَى دِيْنِ خَلِيْلِهِ فَلْيَنْظُرْ اَحَدُكُمْ مَنْ يُخَالِلُ. رواه أحمد وأبو داود والترمذي.

“Seseorang tergantung agama temannya, maka hendaknya kalian memerhatikan siapakah temannya.” (HR. Ahmad, Abu Dawud dan Tirmidzi)

Prabowo-Sandi mungkin jauh dari kata ideal dari standar syariat. Namun setidaknya kita bisa melihat bahwa orang-orang di sekeliling mereka adalah orang baik. Di sana ada Habib Salim Asseggaf (ketua Majelis Syura PKS), Dr. Hidayat Nur Wahid, HRS, Ustadz Zaitun Rasmin, UBN, UAS, Ustadz Adi Hidayat, Aa Gym, Babe Haikal dan banyak asatidz lainnya.

Bayangkan wajah-wajah yang berada di sekitar Jokowi-Ma’ruf kelak jika mereka menang. Ada Ahok si penista Islam, Ribka si anak PKI, dan ada gerombolan PSI yang terang-terangan menolak syariat. Ade Armando, Abu Janda dan Denni akan tertawa terbahak-bahak. Ada Jalaludin Rahmat dan gembong Syi’ah lainnya yang akan berkonspirasi atas ahlussunnah. Dan banyak lagi wajah-wajah penuh dengan misi dan visi yang akan membawa mudharat untuk Islam.

“Orang yang cerdas bukanlah orang yang tahu mana yang baik dari yang buruk. Akan tetapi, orang yang cerdas adalah orang yang tahu mana yang terbaik dari dua kebaikan dan mana yang lebih buruk dari dua keburukan.”

Apa yang harus kita lakukan?

Pertama, kita harus menyelamatkan kekayaan negara. Kita harus hentikan mengalirnya kekayaan negara ke luar negeri supaya kita punya uang untuk membangun pabrik-pabrik dan mendorong produksi nasional. Kalau kita terus biarkan kekayaan kita mengalir ke luar, suatu saat kita akan kehilangan sumber daya untuk memperbaiki semuanya.

Kedua, produksi dan produktivitas bangsa. Indonesia pernah mempunyai pabrik pesawat terbang, namun sekarang sudah tidak tampak. Ini perlu dibangun kembali. Begitu juga produksi transportasi lainnya, sepeda motor, mobil, kereta api pabrik kapal-kapal buatan Indonesia perlu diperkuat lagi. Dengan demikian, anak-anak Indonesia akan punya pekerjaan yang baik, yang layak dan terhormat. Kalau produksi kita kuat, tentu tidak akan banyak impor dan akan menghasilkan sesuatu yang bernilai ekonomis, terutama pangan, pakaian, kebutuhan-kebutuhan pokok, energi yang dibutuhkan orang, maka mata uang kita dengan sendirinya akan menguat, karena orang akan mencari dan membeli rupiah.

Hal-hal lainnya yang bisa kita lakukan adalah menjadikan BUMN unjung tombak ekonomi, mengolah kekayaan alam di dalam negeri, menjadikan koperasi sebagai alat pemerataan & motor swasembada dan mengembalikan konstitusi negara ke naskah UUD 1945 asli.

Percayalah kebenaran yang berdasarkan iman dan taqwa akan menang, kebenaran tidak bisa dikalahkan. Yang penting, kita harus berani, kita harus tegar, kita harus mau berkorban. Dan yang jelas, ada dua pilihan. Berdiri menghormat sebagai bangsa ksatria, atau tunduk selamanya sebagai bangsa kacung, bangsa budak, bangsa yang lemah, bangsa yang bisa dibeli, bangsa yang bisa disogok. Pilihannya ada di hati kita masing-masing. (Selengkapnya baca buku Paradoks Indonesia karya H. Prabowo Subianto)

Kami kagum dengan pemikiran Bapak Prabowo, apalagi soal mengatasi masalah ekonomi dan lain sebagainya. Selain dari pada itu, beliau berjiwa nasionalis, patriot, negarawan, ini yang perlu kita tiru dari Bapak Prabowo. Adapun masalah keagamaan, yang terpenting kita konsis, istiqomah dalam melakukan ibadah, puasa dan membayar zakat. Karena kami yakin, selama syariat Islam diamalkan, pasti bangsa ini akan mendapatkan barokah, yakni keamanan, kemakmuran dan kesejahteraan. Allah SWT sudah menegaskan dalam beberapa firman-Nya:

وَلَوْ أَنَّ أَهْلَ الْقُرَىٰ آمَنُوا وَاتَّقَوْا لَفَتَحْنَا عَلَيْهِمْ بَرَكَاتٍ مِنَ السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ وَلَٰكِنْ كَذَّبُوا فَأَخَذْنَاهُمْ بِمَا كَانُوا يَكْسِبُونَ

“Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya” (QS. Al-A’raf: 96)

وَلَوْ أَنَّ أَهْلَ الْكِتَابِ آمَنُوا وَاتَّقَوْا لَكَفَّرْنَا عَنْهُمْ سَيِّئَاتِهِمْ وَلأدْخَلْنَاهُمْ جَنَّاتِ النَّعِيمِ (٦٥) وَلَوْ أَنَّهُمْ أَقَامُوا التَّوْرَاةَ وَالإنْجِيلَ وَمَا أُنْزِلَ إِلَيْهِمْ مِنْ رَبِّهِمْ لأكَلُوا مِنْ فَوْقِهِمْ وَمِنْ تَحْتِ أَرْجُلِهِمْ مِنْهُمْ أُمَّةٌ مُقْتَصِدَةٌ وَكَثِيرٌ مِنْهُمْ سَاءَ مَا يَعْمَلُونَ (٦٦)

“Sekiranya Ahli Kitab itu beriman dan bertakwa, niscaya Kami hapus kesalahan-kesalahan mereka dan mereka tentu Kami masukkan ke dalam surga-surga yang penuh kenikmatan. Dan sekiranya mereka sungguh-sungguh menegakkan (hukum) Taurat, Injil dan (Al Quran) yang diturunkan kepada mereka dari Tuhannya[2], niscaya mereka akan mendapat makanan dari atas dan dari bawah kaki mereka. Di antara mereka ada sekelompok yang jujur dan taat. Dan banyak di antara mereka sangat buruk apa yang mereka kerjakan.” (QS. Al-Maidah Ayat 65-66)

وَمَنْ يَتَّقِ اللَّهَ يَجْعَلْ لَهُ مَخْرَجًا ﴿٢﴾وَيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُ

“Barangsiapa bertaqwa kepada Allah, niscaya Dia akan mengadakan jalan keluar baginya dan memberinya rizki dari arah yang tidak disangka-sangka” [QS. At-Thalaq: 2-3)

Isi kandung ayat-ayat diatas insyaallah akan terwujud jika ada sebuah negara yang kepemimpinannya dipegang oleh seorang muslim yang patuh kepada al-Qur’an, Hadits dan fatwa-fatwa ulama, wallahu a’lam!

Impor Pekerja Cina, Komunisme, dan Ancaman Kerapuhan Sosial

Seiring dengan jumlah pengangguran di Indonesia terus meningkat, sedikitnya tercatat 7 juta anak-anak bangsa menganggur. Ironisnya, di tengah kondisi sosial ekonomi yang suram, pemerintah membuka lebar pintu kedatangan warga Cina. Apa pun dalihnya, hal itu telah berhasil menimbulkan keresahan sosial di masyarakat.

Meski ditutup berbagai isu pengalihan, masyarakat tetap menyoroti maraknya pendatang Cina ke Indonesia. Di media sosial ramai istilah: Swasembada Cina. Rasialis? Itu hanyalah standar ganda, sekaligus propaganda memuluskan impor buruh dan imigran gelap asal Cina.

Mengapa rezim sangat dekat dengan Cina sampai mendatangkan warga Cina? Mengapa pula bermesraan dengan Partai Komunis Cina? Munculnya fenomena jutaan buruh China di bumi pertiwi ini, apakah untuk mencoblos salah satu Paslon agar sah pencoblosannya dan diakui sebagai etnis Indonesia baru (komunis gaya baru)? Atau adakah hubungannya dengan caleg-caleg kafir China yang sudah sekian persen menduduki parlemen Indonesia? Atau terkaitkah dengan munculnya status Aliran Kepercayaan dalam e-KTP? Kok bisa-bisanya banyak WNA terdaftar dalam DPT? Ada apa ini? Ini jelas ada campur tangan rezim yang disinyalir ingin menghidupkan Nasakom jilid baru!

Publik tidak lupa penangkapan imigran Cina yang mengebor tanah di area Bandara Halim. Juga maraknya temuan imigran gelap Cina tanpa identitas resmi, tanpa bisa berbahasa Indonesia dan Inggris.

Masyarakat protes keras: ketika ekonomi terpuruk, rakyat tetap dicekik. Ketika PHK massal terjadi di mana-mana, pemerintah malah mempermudah impor tenaga kerja Cina. Saat rakyat dipaksa membayar pajak, pemerintah membuat UU untuk mengampuni pengemplang pajak kelas kakap.

Ketika rakyat Indonesia berkeyakinan terhadap agama, pengerdilan dan penghinaan agama makin terasa. Ketika rakyat punya trauma besar terhadap komunis, pemerintah justru akrab dengan Cina dan partai komunis. Bahkan baru kali ini begitu mudahnya melihat orang menggunakan kaus palu arit di depan umum. Mengapa?

Kebohongan demi kebohongan dilakukan secara berulang-ulang mulai dari data kebakaran, impor jagung, produksi sawit, kebohongan ganti rugi tol, daftar pemilih tetap (DPT) yang dilakukan dengan ragam cara agar kebohongan itu tertanam dalam benak masyarakat sehingga seolah-olah itu benar. Tujuannya jelas untuk meraih kemenangan dengan cara yang tidak fair.

Belum lagi sikap rezim saat ini yang seringkali tebang pilih dalam hukum. Ketidakadilan yang dipertontonkan sudah begitu banyak. Kesengajaan dari rezim untuk tidak mengungkap kasus Novel Baswedan adalah salah satu contoh buruknya keadilan saat ini.

Dalam sebuah wawancara dengan Tempo pada Juni 2017, Novel menyebut banyak orang terlibat dalam penyerangan itu. Keterlibatan itu tak lepas dari perintah jenderal polisi untuk mengaburkan fakta dan bukti peristiwa penyiraman dengan air keras pada 11 April lalu.

Jenderal aktif itu diduga memerintahkan tim penyidik menghapus sidik jari pelaku yang tertinggal di cangkir wadah air keras saat olah tempat kejadian perkara. Jenderal ini juga diduga terlibat dalam sejumlah rencana penyerangan terhadap Novel dan penyidik KPK lain. (tempo, 2 Agustus 2017)

Saat dalam keadaan terpojok, rezim selalu berusaha mengelak dan mencari-cari pembenaran dengan berkelit dan mentakwil-takwil sebagaimana elit-elit NU sekarang yaitu tidak mau mengakui kesalahannya. Pemerintah saat ini yang seringkali salah dalam masalah data dan carut-marutnya penerapan kebijakan. Krisis amanah ilmiah dan moralitas memalukan seperti ini sudah seringkali terulang-ulang sebagaimana dalam tubuh NU. Contoh kongkritnya yaitu ketika NU memutuskan keputusan-keputusan kontroversial seperti melegalkan kepemimpinan non muslim dan penghapusan istilah kafir. Ajaib sekali, karakter keduanya hampir sama persis. Maka tidak heran jika ada yang mengatakan NU kini telah disetir oleh rezim dengan mengucurkan dana besar lewat program Islam Nusantara. Sungguh naas sekali nasibmu kini, wahai NU, tergadaikan!

Ikhtitam

Mari kita berdoa agar supaya negara Indonesia dianugerahi oleh Allah SWT seorang pemimpin yang amanah dan tanggung jawab, Pemimpin yang mensejahterakan rakyat Indonesia terlebih kepada penduduk mayoritas, yakni umat Islam, dengan tidak memusuhi syari’at agama mereka apalagi mengkriminalisasi ulamanya. Pemimpin yang spirit kepemimpinannya memprioritaskan kesejateraan ekonomi rakyat, memberantas narkoba, minuman keras, judi, PSK, korupsi dan berbagai bentuk kemaksiatan, lebih-lebih dosa besar (kabairudzzunub).

Masyarakat Indonesia mengidamkan sosok pemimpin yang peduli dan peka terhadap ketinggian moral dan mental bangsanya. Oleh karena itu, ia harus menata aturan-aturan di semua lini lembaga pendidikan, seperti membuat skala prioritas bimbingan akhlak, memisah tempat pengajaran siswa dan siswi, sebagai langkah dini penanganan maraknya pacaran dan prostitusi di usia dini, sehingga lahirnya anak jadah dan praktek prostitusi dapat diminimalisir. Terpenting lagi ia harus bisa menghentikan produksi kondom, alat seksual yang merupakan jebakan musuh-musuh Islam untuk memasarkan perzinaan.

Jika ingin berkah gemah lipah loh jinawi, Pemimpin negeri ini hendaknya menggalakkan beberapa kebijakan islami, seperti mewajibkan shalat Jum’at di masjid-masjid kampung (bukan di instansi pemerintahan, perusahaan atau mall-mall), puasa Ramadlan, dan menarik zakat 2,5% dari setiap individu yang berpenghasilan kadar satu nishab (kira-kira 40 juta ke-atas pertahun), dan pengelolaannya diserahkan kepada Badan Amil Zakat yang amanah dan kompeten, kemudian penyalurannya juga harus sesuai dengan ketetapan syari’at Islam, al-ashnaf ats-tsamaniyah (bukan untuk infrastruktur apalagi dihutang negara).

Pemimpin tertinggi negara Indonesia harus mensupport serta mendukung sepenuhnya kebijakan-kebijakan islami bawahannya, seperti menutup tempat-tempat maksiat (penutupan hotel Alexis), penghentian reklamasi, lokalisasi, LGBT, Bar, perusahaan Miras, sebagaimana yang telah dilakukan Gubernur DKI saat ini, Anies Baswedan. Semoga beliau diberi kekuatan oleh Allah SWT untuk melawan musuh-musuh Islam yang ada di DPRD Jakarta (PDI, Nasdem dan partai pendukung lainnya). Semoga Bapak Prabowo Sandi bisa meniru langkah Gubernur pilihannya
Pemimpin harus memperhatikan dan ngopeni aspek-aspek hubungan vertikal rakyatknya, seperti menerapkan peraturan wajib sholat dhuhur-ashar berjamaah bagi PNS, buruh-buruh di kantor dan perusahaan, serta menyediakan fasilitas Ibadah di setiap instansi kenegaraan. Syukur-syukur menyiapkan pembimbing agama yang mentraining tata cara beribadah dan memberikan ceramah keagamaan di waktu senggang.

Mari kita bersama-sama menjadi laskar TPS yang siap mengawal suara dari Desa sampai ke Kecamatan sekaligus menjadi saksi perhitungan di Kecamatan, lalu mengawal kotak suara dari Kecamatan sampai Kabupaten dan sekaligus menjadi saksi perhitungan suara di Kabupaten, lalu mengawal kotak suara dari Kabupaten ke Propinsi sekaligus menjadi saksi perhitungan suara di Propinsi, lalu mengawal kotak suara dari propinsi ke KPU pusat melalui rekap maupun pengawasan kotak suara/rekap penghitungannya karena ada potensi kecurangan dengan penggantian kartu suara yang sudah tercoblos paslon satu, jangan sepenuhnya dipercayakan kepada Polisi maupun Panwascam karena lebih berpihak pada petahana.

Dengan ini, insyaallah akan tercipta pemilihan umum yang jujur dan adil untuk Indonesia yang berwibawa, bermartabat, adil, makmur, sejahtera dan berkah. Amin.

على الله توكلنا، ربنا لا تجعلنا فتنة للقوم الظالمين، ونجنا برحمتك من القوم الكافرين، وصلى الله على سيدنا محمد وعلى آله وصحبه وسلم، والحمد لله رب العالمين.

Sarang, 9 Rajab 1440 H./16 Maret 2019 M.
KH. Muhammad Najih Maimoen

Kajian Ilmiah, Karya Syaikh Najih Versi Indonesia

MEMPERMASALAHKAN PENYEBUTAN KAFIR BAGI NON-MUSLIM: APA SIH PERLUNYA?

بسم الله الرحمن الرحيم

الحمد لله رب العالمين، والصلاة والسلام على سيدنا محمد سيد المرسلين، وعلى آله وصحبه أجمعين، أما بعد؛

Muqaddimah

Sebetulnya topik ini beberapa waktu terakhir sudah mulai agak surut, terlebih setelah kontestasi pemilu di Jakarta tahun 2017 kemarin. Setelah pasangan Ahok-Djarot kalah telak melawan pasangan Anies-Sandi, topik non-Muslim dan kafir ini cepat tenggelam ke dasar lautan meski ada sedikit orang yang masih suka mengobok-oboknya lewat berbagai cuitan dan postingan di medsos serta situs media. Namun menjelang pilpres 2019 ini, topik ini mencuat kembali di tengah-tengah publik, menggegerkan panggung kehidupan beragama, berbangsa, dan bernegara, serta makin memanaskan suhu politik dan sosial keagamaan.

Baru saja Kamis kemarin (28 Februari 2019) beberapa kalangan dari NU menyelenggaran bahtsul masail yang hasilnya ingin mengangkat kembali wacana usang yang terkubur 2017 lalu, mempermasalahkan penyebutan kafir bagi non-Muslim. Para peserta yang hadir menyepakati tidak ingin menggunakan kata kafir kepada non-Muslim, akan tetapi menggunakan istilah muwathinun, yaitu warga negara. Menurutnya, hal demikian menunjukkan kesetaraan status Muslim dan non-Muslim di dalam sebuah negara.

Yang menggelitik, mengapa kasus ini dan kasus bahsul masail serupa tentang kepemimpinan non-Muslim tahun 2017 silam selalu dimunculkan menjelang pemilu? Adakah tujuan politik di belakangnya? Apakah dibenarkan memperjuangkan politik lewat degradasi hukum-hukum agama seperti ini? Mengapa NU membiarkan gembong-gembong Liberal semacam Masdar Farid Mas’udi, Said Aqil Siradj, dan Abdul Moqsith Ghozali menjadi perumus dan mushohhih BM, bahkan menjadi Jubir hasil BM di berbagai media massa? Lalu yang paling mengherankan, kenapa parpol yang pertama kali mengapresiasi hasil Munas tersebut justru Partai PDIP, yang terang-terangan melawan perda-perda syar’i? Ada apa ini? Tentu ada udang di balik batu!

Permasalahan istilah kafir ini sepuluh atau belasan tahun yang lalu tidak ada yang mempermasalahkan, baru pada masa-masa ini menjadi sorotan seakan akan kepentingan mendesak untuk menghapus atau menyingkirkan istilah ‘kafir’ dari terminologi Islam. Padahal kita umat Islam tidak pernah mempertanyakan sebutan non-Muslim kepada kita dengan istilah “domba tersesat”, “Maitrah”, “Abrahmacariyavasa”, dsb. Lagi-lagi Islam yang menjadi obyek ‘otak-atik-gathuk’ kalangan modern, saking begitu takutnya dengan kekuatan akidah dan Syari’ah Islam.

Tulisan ini ingin mencoba menganalisa berbagai argumentasi yang diberikan oleh para pendukung anti ‘label kafir’ tersebut dari perspektif Islam sebagai objek yang terkena imbasnya.

Dalil dari Madzhab Hanafi

Argumentasi yang baru-baru ini berseliweran untuk mendukung wacana menyisihkan istilah kafir bagi non-Muslim di Indonesia diatas adalah ibarat dari kitab Fiqh Hanafi berjudul al-Bahr al-Raiq karya Ibn Nujaim al-Mishri (w. 970 H). Barangkali salah satu keterangan yang dimaksud adalah ibarat berikut:

وَالتَّقْيِيدُ بِالْمُسْلِمِ فِي قَوْلِهِ أَوْ مُسْلِمًا فِي مَسَائِلِ الشَّتْمِ اتِّفَاقًا إذْ لَوْ شَتَمَ ذِمِّيًّا ، فَإِنَّهُ يُعَزَّرُ ؛ لِأَنَّهُ ارْتَكَبَ مَعْصِيَةً كَذَا فِي فَتْحِ الْقَدِيرِ وَفِي الْقُنْيَةِ مِنْ بَابِ الِاسْتِحْلَالِ وَرَدِّ الْمَظَالِمِ لَوْ قَالَ لِيَهُودِيٍّ أَوْ مَجُوسِيٍّ يَا كَافِرُ يَأْثَمُ إنْ شَقَّ عَلَيْهِ. (البحر الرائق – (13 / 179)

“Pembatasan dengan kata “Muslim” pada ucapannya “atau Muslim” dalam permasalahan mencaci telah disepakati, karena mencaci seorang kafir dzimmi saja bisa dihukum takzir karena melaksanakan maksiat. Demikian keterangan dalam Fath al-Qadir. Adapun dalam al-Qunyah dari bab Meminta Halal dan Mengembalikan Hal-hal yang Diambil secara Zhalim disebutkan: “Jika seseorang berkata kepada Yahudi atau Majusi, “Hai kafir!” maka dia berdosa jika hal tersebut menyakitinya.” (Ibn Nujaim, al-Bahr al-Raiq, shamela isdhar 3.15, juz 13 hlm. 179)

Dalam beberapa kitab Hanafi lain juga ditulis keterangan yang sama. (Lihat: Syaikhi Zadah, Majma’ al-Anhar, shamela ishdar 3.15, juz 4 hlm. 214; Muhammad Faramuz, Durar al-Hukkam fi Syarh Ghurar al-Ahkam, shamela ishdar 3.15, juz 5 hlm. 357)

Tapi yang perlu digarisbawahi disini, konteks kasus dalam ibarat diatas adalah dalam hal mencaci-maki kepada non-Muslim dengan memanggilnya “Hai kafir!”, “Hai kafir! Masih kafir aja kamu?”, “Hai kafir! Masuk neraka saja kau!”, dan sebagainya. Kita semua tidak boleh memanggil mereka dengan cara seperti itu. Kalau hal ini maka semua madzhab pun setuju dengannya.

Pakar Fiqh Syafi’i, Imam Muhyiddin al-Nawawi dalam al-Majmu’ mengatakan, “Ditakzir orang yang berkata kepada kafir dzimmi “Hai orang sesat!”, atau melaknatnya tanpa sebab.” (Muhyiddin al-Nawawi, al-Majmu’ Syarh al-Muhadzdzab, shamela ishdar 3.15, juz 20 hlm. 125)

Pakar Fiqh Maliki, Muhammad al-Dusuqi juga berpendapat sama. Kata beliau, “Diberi didikan (ditakzir) orang yang mengatakan seperti “Hai peminum miras!”, “Hai kafir!”, atau “Hai Yahudi!”. (Muhammad al-Dusuqi, Hasyiyah ‘ala al-Syarh al-Kabir, shamela ishdar 3.15, juz 18 hlm. 426)

Dalam beberapa keterangan kitab Fiqh Hanbali juga sama, diantaranya keterangan Alauddin al-Mirdawi dalam al-Inshaf, “Ditakzir orang yang berkata “Hai kafir!”, “Hai penjahat!”, Hai keledai!”, “Hai kambing!”, …” (Alauddin al-Mirdawi, al-Inshaf, shamela ishdar 3.15, juz 10 hlm. 165. Lihat pula: Ibn Qudamah, al-Syarh al-Kabir, shamela ishdar 3.15, juz 10 hlm. 221-222; Syarafuddin al-Hajawi, al-Iqna’, shamela ishdar 3.15, juz 4 hlm. 264)

Masalahnya, ibarat yang tercantum dalam kitab al-Qunyah itu titik tekannya pada kasus panggilan, sedangkan umat Islam Indonesia sudah sangat tinggi unggah-ungguhnya terhadap sesama penduduk negeri ini, mereka tidak pernah memanggil tetangga, teman, bahkan saudara yang beda agama dengan panggilan, wahai kafir, mereka pasti memanggil namanya atau panggilan akrabnya! Jadi, ibarat di atas sangat tidak tepat diterapkan bagi umat Islam Indonesia.

Kenapa Bahtsul Masail NU tidak seperti NU tempo dulu, berhujjah dengan kitab-kitab syafi’iyyah seperti minhaj, Bujairimi, Iqna’, Tuhfah, dll. Kenapa sekarang lebih condong terhadap qoul-qoul dhoif, pendapat-pendapatnya Ibn Taimiyah, bahkan karangan orang-orang mu’tazilah seperti kitab al-Qunyah di atas. Apa NU kini sudah lupa dengan dawuh-dawuh Hadratus Syaikh KH. Hasyim Asy’ari tentang aliran-aliran menyimpang semacam Mu’tazilah, pemikiran Ibn Taimiyah dan sejenisnya? Lantas apa keputusan BM Munas NU banjar menaskh hasil BM NU tempo dulu yang berpegangan pada fatwa Syaikh Ismail Zein? Kenapa pengurus PCNU, PWNU, BANOM NU, atau pihak-pihak yang terkait dengan BM Munas NU Banjar kok malah sibuk membuat klarifikasi macem-macem? Kenapa mereka tidak protes terhadap para petinggi PBNU yang telah memelintir hasil BM Munas di Media massa bahkan mendangkalkan aqidah nahdliyyin?

Sebagian pihak ada yang menjelaskan, bahwa kekafiran Non Muslim sudah menjadi aqidah nahdliyyin sejak dulu, tidak perlu diragukan lagi, karena keyakinan itu pasti melekat dalam hati mereka. Lagi pula yang dibahas dalam BM itu dalam sudut pandang kenegaraan bukan keagamaan, dan sebagai bentuk implementasi kesantunan interaksi sosial. Menanggapi penjelasan diatas, perlu kami tegaskan kembali, jika suatu aqidah tidak boleh ditampakkan dalam ruang publik, lama kelamaan aqidah tersebut akan hilang dengan sendirinya, bahkan anak cucu kita dikemudian hari tidak akan mengenal istilah kafir, bahkan bisa saja alergi mendengarnya, ini imbas dari doktrin diatas! Dan lagi, penjelasan diatas sangat kental aroma Liberalismenya, sebab dalam penjelasan tersebut ada semacam klasifikasi dan pilah-pilih ajaran Islam sesuai hawa nafsu (padahal agama ini sudah mengatur lengkap dalam fiqh Islamnya), misalnya yang cocok dengan spirit kebangsaan harus ditampakkan ke publik, sedangkan yang bertolak belakang harus disimpan sebagai konsumsi pribadi. Cara berfikir seperti ini tak ubahnya seperti ide usangnya dedengkot Liberal Indonesia, Nur Kholis Madjid, Islam Inklusif-Islam Eklusif !

Yang lebih memgerikan lagi, ternyata wacana penyingkiran kata kafir ini bukan dikhususkan terhadap kasus panggilan atau caci-maki, namun penyebutan istilah kafir ini harus diterapkan di semua tempat dan kesempatan. Hakikatnya mereka ingin menghapus kata kafir dari kosakata Islam baik dalam bidang keilmuan, dakwah, dan lain-lain. Nanti orang yang menerangkan atau mengatakan kafir akan dianggap radikal, intoleran, merasa paling benar sendiri, dsb. Ini kalau sampai mewabah ke masyarakat akan sangat berbahaya karena akan menggiring umat Islam untuk membuang istilah kafir bagi non-Muslim, akhirnya menganggap antara Islam dan bukan Islam itu sama saja. Wacana penghapusan kata kafir ini hakikatnya adalah program pluralisme gaya baru!

Lihatlah pernyataan salah satu aktivis liberal Husein Muhammad dalam artikel di Islami.co pada 1 Maret 2019 berikut sehari setelah bahtsul masail NU di Banjar diatas:

“Dalam acara bedah buku “Menemani Minoritas”, karya Dr. A. Najib Burhani, yang lalu saya mengatakan: “Kita perlu merekonstruksi atas sejumlah terminologi keagamaan. Salah satunya adalah kata “Kafir’. Kata ini sangat krusial dalam isu-isu keagamaan dan relasi antar warga negara. Ia mengandung makna peyoratif dan diskriminatif. Dalam konteks relasi sosial ia harus dikembalikan pada makna genuinnya. Yakni orang yang mengingkari atau menolak kebenaran, kebaikan dan keadilan. Jadi ia bukan lagi bermakna suatu identitas komunitas suatu agama selain komunitas agamanya dirinya. Mengenai keyakinan biarlah menjadi urusan dan pilihan individu. Keputusan benar atau tidak diserahkan kepada Tuhan.”

Dari sini sudah kelihatan sekali mau kemana arah penghapusan kata kafir sedikit demi sedikit ini, yakni agenda pluralisme terselubung. Sangat ironis sekali banyak kalangan yang terperdaya akhirnya membebek dengan apa yang mereka lakukan ini. Kalau dahulu liberal hanya bergerilya lewat tulisan, seminar, dan workshop yang sifatnya non-organisatoris dan personal, sekarang virus liberalisme sudah berani muncul di organisasi Aswaja bahkan kalangan pesantren. Na’udzubiLlahi min dzalika.

Menghapus kata kafir sendiri hakikatnya merupakan penentangan terhadap Al-Quran, karena Al-Quran telah mengingkari orang yang menyamakan Islam dengan agama-agama lainnya. Allah Ta’ala berfirman:

قُلْ هَلْ يَسْتَوِي الْأَعْمَى وَالْبَصِيرُ أَفَلَا تَتَفَكَّرُونَ [الأنعام : 50]

“Katakanlah: Apakah sama antara orang buta dan orang yang melihat? Apakah kalian tidak berfikir?” (QS. Al-An’am: 50)

Yang dimaksud orang buta disini adalah orang kafir, sedangkan orang yang melihat adalah orang mukmin. (Lihat: al-Qurthubi, al-Jami’ li Alfazh al-Quran, shamela ishdar 3.15, juz 6 hlm. 393; Ibn al-Jauzi, Zad al-Masir, shamela ishdar 3.15, juz 2 hlm. 339)

Mengapa istilah kafir harus dihapuskan lagi di depan orang Islam sendiri meski untuk keperluan dakwah dan pendidikan? Apakah tidak aneh sekali menerjemah kata kafir sebagai muwathinun (warga negara) dan menghapus makna aslinya? Mengapa membela kepentingan orang-orang diluar Islam sampai begitu, tapi dengan saudaranya Muslim malah menakut-nakuti dengan jargon-jargon radikal, intoleran, kolot, kaku, dsb? Dimana letak ghirah Islamiyah mereka?

Status Non-Muslim di Indonesia

Di tempat lain, sebagian kalangan memberikan argumentasi dengan ayat-ayat Al-Quran. Akan tetapi, pemahaman ayat tersebut tidak dijelaskan secara adil dan ditafsirkan sesuai kehendak mereka sendiri. Contohnya dari mereka menggunakan firman Allah Ta’ala:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا يَسْخَرْ قَوْمٌ مِنْ قَوْمٍ عَسَى أَنْ يَكُونُوا خَيْرًا مِنْهُمْ وَلَا نِسَاءٌ مِنْ نِسَاءٍ عَسَى أَنْ يَكُنَّ خَيْرًا مِنْهُنَّ (الحجرات: 11)

“Wahai orang-orang beriman! Janganlah suatu kaum mengolok-olok kaum yang lain (karena) boleh jadi mereka (yang diolok-olok) lebih baik dari mereka (yang mengolok-olok) dan jangan pula perempuan-perempuan (mengolok-olok) perempuan lain (karena) boleh jadi perempuan (yang diperolok-olok) lebih baik dari perempuan (yang mengolok-olok).” (QS. Al-Hujurat: 11) (islami.co)

Padahal ayat ini turun untuk melarang Muslim mencaci Muslim lainnya, bukan untuk non-Muslim. (Lihat: Muhyiddin al-Thabari, Jami’ al-Bayan fi Ta’wil al-Quran, shamela ishdar 3.15, juz 22 hlm. 297-298)

Sebagian lain dari mereka berdalil menggunakan Firman Allah Ta’ala:

لَا يَنْهَاكُمُ اللَّهُ عَنِ الَّذِينَ لَمْ يُقَاتِلُوكُمْ فِي الدِّينِ وَلَمْ يُخْرِجُوكُمْ مِنْ دِيَارِكُمْ أَنْ تَبَرُّوهُمْ وَتُقْسِطُوا إِلَيْهِمْ إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْمُقْسِطِينَ [الممتحنة : 8]

“Allah tidak melarang kalian dari orang-orang yang tidak memerangi kalian sebab agama dan tidak mengusir dari rumah-rumah kalian untuk berbaik dan bersikap adil kepada mereka. Sesungguhnya Allah senang dengan orang-orang yang adil.” (al-Mumtahanah: 8)

Ayat ini memang memerintahkan bagi umat Islam untuk bersikap baik dan adil terhadap orang-orang kafir yang tidak memusuhi dan menyatakan perang terhadap umat Islam. Akan tetapi jika diteliti lebih lanjut, para mufassir mengatakan paling tidak tiga pandangan tentang ayat ini. Pertama, ayat ini ditujukan kepada seluruh orang kafir namun akhirnya dinaskh (revisi) dengan Ayat Perang:

فَاقْتُلُوا الْمُشْرِكِينَ حَيْثُ وَجَدْتُمُوهُمْ [التوبة : 5]

“Maka perangilah orang-orang musyrik dimanapun kalian temukan.” (QS. Al-Taubah: 5)

Kedua, alasan atau ‘illat hukum dari ayat ini adalah janji perdamaian. Maka ketika janji perdamaian tersebut hilang dengan adanya penaklukkan kota Makkah (Fath Makkah), maka alasan hukum tersebut hilang dan umat Islam wajib memerangi orang kafir. Ketiga, ayat ini khusus ditujukan kepada orang-orang kafir yang melakukan janji perdamaian dan setia kepada Rasulullah ShallaLlahu ‘alaihi wa Sallama seperti Bani Khuza’ah dan sebagainya. (Lihat: al-Qurthubi, al-Jami’ li Ahkam al-Quran, shamela ishdar 3.15, juz 18 hlm. 53; Ibn al-Jauzi, Zad al-Masir, shamela ishdar 3.15, juz 6 hlm. 18)

Melihat keterangan diatas, maka ayat ini tidak bisa diterapkan dalam kondisi seperti Indonesia. Pasalnya, non-Muslim di Indonesia tidak pernah melakukan jalur perdamaian dengan pemerintahan Muslim. Bahkan dari catatan sejarah justru non-Muslim Indonesia seringkali menjegal hak-hak umat Islam dalam menjalankan Syari’ah Islam seperti penghapusan tujuh kata dalam Piagam Madinah, penolakan pasal UUD 1945 tentang kepala negara harus seorang Muslim yang kemudian diganti kepala negara harus warga negara Indonesia, dan masih banyak lagi penjegalan undang-undang yang ingin melegalisasikan Syari’ah Islam secara konstitusional, padahal itu hak mayoritas umat Islam di Indonesia.
Karena itu, kami tetap berpegang kepada fatwa ahli Fiqh Syafi’I kontemporer yakni Syaikh Ismail Zain bin Smith yang berpendapat bahwa status non-Muslim di negara-negara Muslim seperti Indonesia ini adalah kafir harbiy.

Adapun kita umat Islam tidak memeranginya sekarang karena belum adanya pemerintahan dan negara Islam yang kuat dan disegani apalagi jika memeranginya sekarang akan semakin memperburuk citra Islam di mata dunia, sehingga untuk sekarang kita bersikap baik kepada mereka karena kondisi darurat dengan menggunakan kaidah dar’ al-mafasid muqaddamun min jalb al-mashalih (menolak bahaya didahulukan dari mengambil keuntungan). (Syaikh Ismail Zain bin Smith, al-Fatawa, hlm. 199)
Meski begitu umat Islam harus selalu optimis bahwa nantinya pemerintahan dan negara Islam yang betul-betul menjunjung tinggi Syari’ah dan melaksanakannya dengan baik akan muncul di kemudian hari. Amin.

Dalil Pluralisme: Islam bukan Agama yang Paling Benar

Salah satu hal yang menguatkan bahwa penyingkiran istilah kafir dari non-Muslim adalah proyek pluralisme model baru adalah banyak kalangan yang mengangkat kembali isu bahwa Islam bukan satu-satunya agama yang paling benar. Argumentasi kaum pluralis ini diulang-ulang lagi oleh para pengasongnya untuk mendukung ‘fatwa pesanan’ yang dibuat sebelumnya tersebut.
Pada 02 Maret 2019 M Kholid Syeirazi di nu-online menulis:

“Orang Islam, meski mayoritas dari segi jumlah, tidak lantas kebal hukum atau ingin menjadi pemain utama. Umat Islam wajib mematuhi hukum yang berlaku sejauh tidak melanggar syariat. Tidak ada mukmin dan kafir di ranah publik NKRI. Yang ada adalah warga negara Indonesia, yang berbhinneka tunggal ika…. Non-Muslim Indonesia tidak layak dihukumi sebagai kâfir dzimmy, kâfir mu’âhad, kâfir musta’min apalagi kâfir harby yang harus dimusuhi. Nahnu al-Muwâthinūn: kita semua adalah warga negara yang berkedudukan sederajat. Tidak ada persekusi dan prosekusi kecuali kepada para pelanggar hukum, apa pun suku dan agamanya.”
Di lain sisi, penulis dan media online yang sama pada 18 Juli 2017 silam juga mengatakan:

“Saya bukan pengikut Zakir Naik yang menyatakan siapa saja yang di luar Islam akan celaka dan tempatnya kekal di neraka. Dalam logika Naik, orang sebaik Bunda Theresa, karena beragama Kristen, sama-sama penghuni neraka seperti Hitler atau Fir’aun. Jika tanpa kualifikasi, logika ini bertentangan dengan muatan QS. al-Baqarah/2: 62, QS. al-Mâidah/5: 62, QS. al-Hajj/22: 17, QS. al-Baqarah/2: 111, dan QS. Ali Imran/3: 199. Lebih adil untuk dikatakan bahwa siapa saja yang percaya Tuhan akan dihisab sesuai dengan amal dan perbuatannya. Setiap bulir kebaikan tidak akan sia-sia di sisi Tuhan, apa pun agamanya. Dan hanya Tuhan yang berwenang menghukum atau mengampuni hambanya yang bersalah.Wallahu a’lam.

Inilah sebenarnya tujuan utama dari penghapusan kata kafir dari non-Muslim, yakni agar umat Islam semakin termakan virus pluralisme agama dan ragu tentang kebenaran ajaran agamanya sendiri. Apakah mereka tidak malu mengatasnamakan NU saat berkata seperti itu? Apakah masih kurang jelas Firman Allah Ta’ala dalam Al-Quran:

وَمَنْ يَبْتَغِ غَيْرَ الْإِسْلَامِ دِينًا فَلَنْ يُقْبَلَ مِنْهُ وَهُوَ فِي الْآخِرَةِ مِنَ الْخَاسِرِينَ [آل عمران : 85]

“Barangsiapa mencari agama selain agama Islam, maka sekali-kali tidaklah akan diterima (agama itu) daripadanya, dan dia di akhirat termasuk orang-orang yang rugi.” (QS. Ali Imran: 85)

Kami bukannya anti-Pancasila, UUD 1945, ataupun NKRI. Jangan tanyakan lagi soal nasionalisme, karena Indonesia adalah Darul Islam (Negara Islam) yang kami junjung tinggi dan kami pertahankan agar selalu berada di dalam naungan Syari’ah dan kemaslahatan umat Islam. Justru kami mempertanyakan nasionalisme para pengasong pluralisme yang hakikatnya adalah proyek pesanan asing (Barat), perusak akidah, dan sekarang menjadi pemecah-belah kehidupan sosial bangsa. Anda menuhankan pluralisme, namun di satu sisi Anda mempersekusi sesama Muslim yang membela akidah para ulama salaf ‘ala Ahlussunnah wal Jama’ah dengan sebutan radikal, teroris, intoleran, tidak mau berpikir, dan sebagainya.

Satu lagi, penggantian istilah kafir dengan muwathinun (warga negara) bukan hal baru tapi hanya mengekor kepada wacana yang digulirkan penulis Mesir bernama Fahmi Huwaidi yang mengarang buku berjudul Muwathinun Laa Dzimmiyyun (Kairo: Dar al-Syuruq, 1999). Istilah muwathinun sebagai ganti kafir dzimmi ini adalah sebagai jawaban dari pernyataan Orientalis bernama D.B. McDonald (w. 1943) yang mengeluhkan mengapa kafir dzimmi tidak dianggap sebagai warga negara. (hlm. 117) Di dalam buku ini akhirnya dia menolak istilah kafir dzimmiy, harbiy, mu’ahid, dan musta’min dan mengatakan bahwa pembahasan Madzahibul Arba’ah tentang hal tersebut sudah tidak relevan dengan zaman sekarang. Dia juga menolak istilah Darul Islam dan mengatakannya hanya ada di kitab-kitab sejarah (hlm. 106), mengajak untuk tidak lagi menggunakan keterangan al-Mawardi dalam al-Ahkam al-Sulthaniyyah karena tidak relevan lagi dengan zaman sekarang karena pemerintahan sekarang adalah “pemerintahan dunia” bukan “pemerintahan agama” (hlm. 168), dan memperbolehkan memilih pejabat dalam pemerintahan Islam dari non-Muslim (hlm. 168-173) Bagaimana pendapat seperti ini bisa Anda menangkan dari pendapat ulama-ulama salaf berabad-abad silam, dan lebih memilih untuk menyenangkan hati kaum orientalis Barat?

Tidak Ada Istilah Kafir dalam Negara (?)

Menguatkan lagi keputusan bahtsul masail NU di Banjar diatas, Said Aqil Siradj dalam pidato penutupan Munas NU tersebut berkata, “Dalam sistem kewarganegaraan, pada suatu negara bangsa, dalam bahasa Arabnya, muwathanah. Tidak dikenal istilah kafir… setelah Nabi Muhammad hijrah ke kota Madinah, tidak ada istilah kafir untuk warga negara Madinah yang non-Muslim. Ada tiga suku non-Muslim: suku Bani Qainuqa’, Bani Quraizhah, Bani Nadhir disebut non-Muslim, tidak disebut Kafir.”

Lagi-lagi Said Aqil melakukan pembohongan publik. Dalam kitab-kitab Sirah Nabawiyah sudah jelas tertulis bahwa di Piagam Madinah kata kafir tetap disebutkan. Lihat redaksi Piagam Madinah berikut:

وَلَا يَقْتُلُ مُؤْمِنٌ مُؤْمِنًا فِي كَافِرٍ وَلَا يَنْصُرُ كَافِرًا عَلَى مُؤْمِنٍ

“Seorang mukmin tidak boleh membunuh orang beriman lainnya lantaran membunuh orang kafir. Tidak boleh pula orang beriman membantu orang kafir untuk (membunuh) orang beriman.” (Lihat: Ibn Hisyam, al-Sirah al-Nabawiyyah, shamela ishdar 3.15, juz 1 hlm. 502; al-Raudl al-Unuf, shamela ishdar 3.15, juz 2 hlm. 345; Ibn Katsir, al-Sirah al-Nabawiyyah, shamela ishdar 3.15, juz 2 hlm. 321)

Justru yang harus dipertanyakan, darimana Said Aqil mendapatkan kata non-Muslim dari Piagam Madinah? Apa referensinya?

Selain itu, di dalam Al-Qur’an sudah tertulis jelas bahwa kata “kafir” itu mencakup Bani Qainuqa’, Bani Quraizhah, dan Bani Nadhir. Allah Ta’ala berfirman:

{ لَا يَتَّخِذِ الْمُؤْمِنُونَ الْكَافِرِينَ أَوْلِيَاءَ مِنْ دُونِ الْمُؤْمِنِينَ} [آل عمران: 28]

“Janganlah orang-orang beriman menjadikan orang kafir sebagai teman akrab (apalagi pemimpin), melainkan orang-orang beriman.” (QS. Ali Imran: 28)

Al-Thabari mengatakan bahwa ayat ini turun tentang kaum Yahudi yang hidup di lingkungan kota Madinah sebagai bentuk penghinaan kepada mereka karena selalu membangkang dan mendustakan Rasulullah ShallaLlahu ‘alaihi wa Sallama. (al-Thabari, Jami’ al-Bayan fi Ta’wil al-Quran, shamela ishdar 3.15, juz 1 hlm. 251)

Dan masih banyak lagi ayat-ayat yang menjelaskan tentang penyebutan kafir ketika Nabi Muhammad di Madinah. Lebih benar mana antara omongan seorang SAS jika dibandingkan dengan ayat-ayat Al-Qur’an, hadits dan tafsir ulama salafusshalih?

Ikhtitam

Kami sebagai warga NU sebetulnya sangat miris dan prihatin melihat perkembangan paham liberalisme dan pluralisme sudah begitu jauh menjalar hingga ke jantung pertahanan NU yakni pesantren. Tokoh-tokoh yang menolak dua paham yang telah dihukumi sesat oleh MUI tahun 2005 silam ini ternyata jauh dibawah jumlah tokoh yang menerimanya dengan sukacita. Yang menjadi masalah baru lagi bahwa paham liberalisme dan pluralisme ini telah dan akan dikembangbiakkan secara massif dengan bantuan kekuasaan politik, seperti sukacita dan pujian para simpatisan PDI-P terhadap draft keputusan bahtsul masail PBNU di Banjar diatas.

Oleh karena itu, kita sebagai umat Islam tidak boleh tinggal diam. Ini menjadi PR berat bagi umat Islam terutama para ulama, kiai, tokoh, dan intelektual Islam supaya makin mempertebal pertahanan akidah dan Syari’ah Islam dari paham-paham yang merusak tersebut. Menulis berbagai bantahan dan argumentasi yang melawan paham liberalisme dan pluralisme ini merupakan salah satu bentuk jihad kita kepada agama sebagai wujud amar ma’ruf nahi munkar dan menolong saudara-saudara kita sesama Muslim yang tersesat supaya kembali ke jalan yang benar sesuai ajaran Islam. WaLlahu A’lam bi al-Shawab.

Sarang, 8 Rajab 1440 H./ 16 Maret 2019

KH. Muhammad Najih Maimoen