Kajian Ilmiah, Karya Syaikh Najih Versi Indonesia

MENJADI NARASUMBER HALAQOH ILMIAH DALAM RANGKA HARLAH KE-52 PP. AL-ANWAR, ABAH NAJIH: KITA SEMUA SEMESTINYA RINDU DENGAN SALAF

Demikian kutipan dhawuh Syaikh Muhammad Najih pada acara Halaqoh Ilmiah bertajuk “Mengupas Pendidikan Keagamaan di Zaman Sekarang untuk Pesantren dan Masyarakat”. Acara yang dilaksanakan hari Rabu 6 Rabi’ul Awwal 1440 H/14 November 2018 M kemarin menghadirkan dua narasumber, yaitu KH. Muhammad Najih dan Ags. Baha’uddin Nur Salim.

Acara ini merupakan rangkaian terakhir dari perayaan Maulid Nabi Muhammad ShallaLlahu ‘alaihi wa Sallama sekaligus Harlah Pondok Pesantren Al-Anwar ke-52. Dalam halaqoh ilmiyah tersebut Abah Najih banyak mengupas tentang tantangan eksistensi pesantren salaf dan motivasi serta dorongan bagi para alumni PP. Al-Anwar dan hadirin yang datang agar selalu rindu dan kumanthil (bergantung) hatinya dengan pendidikan dan pesantren salaf. Berikut kutipan dhawuh Syaikh Muhammad Najih di acara tersebut:

“Bahkan saya ngaji Tafsir Baidlawi juz awal dan sebagian juz tsani saya fotokopi dari naskahnya Gus Qayyum sasahannya Mbah Mahfuzh Termas. Luar biasa. Mbah Mahfuzh ini seolah-lah a’lam-nya ahli Jawa. Paling alim. Dan beliau memiliki saudara yaitu Mbah Dimyati. Mbah Mahfuzh di Makkah mengarang, sedangkan Mbah Dimyati yang mengasuh pondok dan mengajar dan kitabnya sudah disediakan oleh Mbah Mahfuzh. Adalagi Mbah Abdul Razaq dan Mbah Abdul Hannan yang fokus di thariqah, punya murid atau teman kiai yaitu Kiai Ahmad Dahlan atau yang asal namanya adalah Darwisy.

Jadi Mbah Mahfuzh bin Mbah Abdullah bin Abdul Manan. Mbah Abdul Manan ngaji kepada Murtadha Zabidi pengarang Syarh Ihya’. Kiai Abdul Manan atau kiai-kiai kidulan biasanya lebih kuat sifat ‘kiai’-nya. Makanya bisa mengarang banyak. Kalau kiai pesisir biasanya kurang sifat kiainya, makanya kurang nulis-nulis. Mungkin Pak Baha’ juga tidak ada kiainya. Tentang Mbah Abdullah ini saya menyampaikan dhawuhe Mbah Moen dahulu.”

Selanjutnya, Syaikh Muhammad Najih membacakan makalah yang sudah beliau tulis dan bagikan untuk para hadirin. Berikut beberapa kutipan makalah tersebut sekaligus penjelasan Abah Najih tentangnya.

Kajian Kitab Kontemporer

Kutipan makalah: Kemudian agar santri mengenal perkembangan Global-Kekinian, maka pesantren telah menampilkan kajian-kajian kitab kontemporer karya ulama-ulama ahlussunnah madzahib arba’ah seperti kitab al-Fiqhu al-Manhaji karya Dr. Mushthofa al-Khin, Mushthofa al-Bugho, Ali al-Syarbaji, as-Salafiah Marhalatun Zamaniyatun Mubarokatun la Madzhabun Islamiyun, Fiqhussiroh, Kubrol Yaqiniyat, Dlowabitul Mashlahah karya Sa’id Romadlon al-Boethi, Rowa’iul Bayan Tafsir Ayatil Ahkam Minal Qur’an karya Syaikh Muhammad Ali al-Shobuni, al-Fiqh al-Islami karya Wahbah Zuhaili, Mafahim Yajibu an Tushohhah, Manhajussalaf fi fahmi an-nushush Baina al-Nadhoriyah wa al-Tathbiq, Muhammad al-Insan al-Kamil, Syaroful Ummah al-Muhammadiyyah, Syari’atullah al-Kholidah, dll. karya Abuya as-Sayyid Muhammad al-Maliki.

Penjelasan Abah Najih: “Jadi maksud saya ini contoh-contoh kitab yang dikarang oleh mutaakhirin (ulama generasi akhir) tapi InsyaAllah masih Thariqah Madzahibul Arba’ah Ahlusssunnah Wal Jamaah.”

Sebagian Ilmu Umum sudah Diajarkan di Pesantren

Kutipan makalah: Sebenarnya sebagian ilmu umum sudah diajarkan di pesantren, seperti ilmu Falak, ilmu Balaghoh, ilmu Nahwu, ilmu Shorof, ilmu Hisab (ilmu yang perannya vital dalam ilmu Faro’id) yang kesemuanya itu dijadikan sebagai alat untuk memahami al-Qur’an, al-Hadits dan kitab-kitab salaf. Begitu juga dalam al-Qur’an, Hadits dan kitab-kitab salaf sudah ada sebagian dari pembahasan-pembahasan ilmu umum, sains, teknologi dan ekonomi, seperti dalam ayat:

وَأَنْزَلْنَا الْحَدِيدَ فِيهِ بَأْسٌ شَدِيدٌ وَمَنَافِعُ لِلنَّاسِ وَلِيَعْلَمَ اللهُ مَنْ يَنْصُرُهُ وَرُسُلَهُ بِالْغَيْبِ ۚ إِنَّ اللهَ قَوِيٌّ عَزِيزٌ (الحديد: 25)

Penjelasan Abah Najih: “Ayat ini maksudnya adalah ilmu persenjataan zaman sekarang, itu semua dari hadid (besi). Tapi kemudian tambah modern hadid dikalahkan dengan air. Air masih kalah dengan shadaqah, uang.”

Modern itu Hakikatnya Teroris

Kutipan makalah: Termasuk dampak negatif dari kurikulum pemerintah terhadap budaya pesantren adalah semakin memudarnya keikhlasan bertholabul ilmi dan khidmah kepada ahlul ilmi, terkikisnya sikap tawadlu’, andap ashor, nurut kepada kyai, sopan santun, berubah menjadi sikap mudah mengkritisi, mengkritik kebijakan dan dawuhnya kyai dan asatidz, mereka menganggap kyai hanya sebatas pemilik pondok atau yayasan, ikhtilath antara lelaki dan perempuan, budaya camping, pramuka, pacaran dan lain sebagainya. Sehingga tanpa disadari, kalau pesantren menerima kurikulum tersebut maka mereka telah terjebak dalam budaya rancangan Yahudi dan Salibis. Perlu diketahui, bahwa hampir keseluruhan ilmu umum itu sekuler (terpisah dari akidah tauhid) karena tidak pernah menyebut Allah sebagai al-Kholiq/Sang Pencipta (persis paham Dahriyyah). Diantaranya mengatakan bahwa langit tidak ada yang ada hanyalah atmosfer saja, kiamat hanyalah proses alam, planet bumi dan planet-planet lainnya sudah ada sejak berjuta-juta ribu tahun alias alam ini dzatnya qodim seperti paham falasifah yang kufur, baik teori evolusi atau revolusi. Begitu juga teori Darwin yang kufur itu, yaitu pendapat yang mengatakan bahwa adanya kekuatan berdiri sendiri di alam ini dan mengatakan kehidupan tidaklah diciptakan tetapi muncul karena kebetulan, manusia berasal dari kera dan masih banyak lagi.

Menyikapi ilmu-ilmu umum diatas, kita harus selalu mengingat dan memegangi dua bait karya Syaikh Ahmad ad-dardir dalam Manzhumah al-Kharidatul Bahiyyah:

وَمَنْ يَقُلْ بِالطبْعِ أَوْ بِالعلَّة ** فَذَاك كفرٌ عِندَ أهلِ الْمِلَّة
وَمَنْ يَقُلْ بِالْقُوَّةِ الْمُوْدَعَةِ ** فَذَاكَ بِدْعِيٌّ فَلَا تَلْتَفِتِ

Menurut kami, Thabi’at, Illat dan Quwwah Dzatiyah itu satu paket, artinya jika seseorang menyakini kejadian di alam raya ini murni karena ketiga faktor tersebut (tanpa ada campur tangan izin Allah SWT), maka hukumnya kafir, namun jika ada campur tangan izin Allah SWT, atau meyakini Quwwah Muda’ah, maka hukumnya sebagai pelaku bid’ah. Kenapa ilmu seperti itu kita bela-bela melebihi ilmu agama padahal ilmu agama adalah penyelamat iman dan Islam (jalan kebahagiaan dunia akhirat), dan ilmu di atas adalah penyebar kekufuran (jalan kehancuran dunia akhirat). Pesantren yang sudah mapan dengan sistem salafnya, biarlah tetap eksis dan wajib kita jaga dan dukung keberadaannya.

Penjelasan Abah Najih: “Kalau quwwah mudda’ah itu kekuatan yang diberi oleh Allah. Tidak kufur orang yang mengatakan bahwa benda ini punya kekuatan dari Allah. Tapi kalau tanpa menyebut Allah, mengatakan itu dari kekuatan alam, tidak ingat bahwa kekuatan itu dari Allah, maka kufur. Na’udzubiLlah min dzalik.

Walhasil, sebagian besar tulisan ini sudah saya tulis waktu acara 100 Tahun Kiai Wachid Hasyim di Universitas Muhammadiyah. Saya diundang waktu itu. Tentu panitianya kecewa. Pengennya saya membolehkan ilmu umum. Saya tampilkan disitu bhwa Kiai Hasyim Asyari itu disamping akidahnya kuat dan pejuang aswaja, tapi juga pembela pendidikan agama. Namun anak-anaknya kemudian merubah, sampai Mbah Khairiyah mengeluh sekali agar disini jangan begitu. Tapi mereka InsyaAllah tidak mangkel karena saya mengkaji sejarah, kan? Bukan dari nafsu. Apa yang saya sampaikan apa adanya.

Saya tidak ingin mengkafirkan orang, jangan salah faham. Pemikiran bi thab’i, bi al-‘illah, atau bi al-quwwa al-dzatiyah ini menurut ulama-ulama kita adalah kufur. Omongan seperti itu kufur. Orangnya ya jangan dianggap kufur apabila orang Islam. Mungkin dia sedang lupa, ingin dapat ijazah. Kalau ngomong liLlahi Ta’ala semua nanti nilainya jelek. Mungkin, husnuzzhan saja.

Jadi orang modern itu saya ulang-ulang itu teroris sebetulnya. Kamu tidak punya ijazah kamu tidak bisa makan. Banyak begitu. Tidak bisa begini tidak bisa mengajar. Ada alumni Sarang bisa mengajar, akan tetapi untuk menghargai yang sudah berpendidikan S2 akhirnya mengajak guru lain untuk kejar paket. Ada yang begitu, tapi tidak disyaratkan. “Gak duwe S, gak iso mlebu kuwe.” Undang-undangnya saja tidak ada.

Dan kita kan mengajar agama. Makanya undang-undang pesantren harus segera digolkan dengan niat bela agama, kita mendoakan. Urusan agama kita mestinya harus mengajar di sekolah-sekolah umum, tapi katanya kalau tidak punya title sarjana tidak boleh. Sebetulnya undang-undangnya tidak ada tapi dibuat-buat sendiri supaya modern menang. Memaksakan kehendak lewat jurkam-jurkam pemaksa-pemaksa itu. Katanya demokrasi, tapi praktiknya memaksa. Na’udzubiLlah. Itu bohong. Jadi demokrasi itu hakikatnya teroris juga bohong. Kita bukan berarti anti modern, tapi gimana lagi sudah darurat. Lingkungannya begitu. Kita ditekan seperti itu, padahal undang-undangnya tidak ada, AlhamduliLlah. Mereka saja yang buat-buat, bohong, hoax.

Memang karena benci. Padahal katanya ormas modern tidak senang pesantren dan tidak senang kiai, kok akhirnya ya pakai kiai juga yang sudah lemes. Biarkan saja, biar jadi pengurus sana. Santri kadang kalau pintar ya diincar begitu-begitu itu. Makanya saya bilang hati-hati. Apalagi NU, ya sudah maklum cah. Ikut partai dan digaet liberal itu sudah maklum.”

Pendidikan Umum Harus Mengadopsi Kitab Salaf

Kutipan makalah: Adapun pesantren yang sudah kadung ada umumnya atau pesantren-pesantren modern, universitas-universitas, itu sifatnya dharurat untuk nasyrul ilmi (sebab zaman sekarang memaksa punya ijazah), dan harus diupayakan untuk mengadopsi kitab-kitab salaf, syukur kalau bisa porsi kesalafan itu diperbanyak sehingga berimbang bahkan kalau perlu melebihi ilmu umumnya. Dan lagi, anak didiknya harus diajari niat belajar yang benar, jika yang dipelajari ilmu agama, maka harus ikhlas lillahi ta’ala, namun jika yang dipelajari ilmu umum seperti IPA, IPS, Matematika dan sejenisnya, maka boleh diniati duniawi (ijazah), akan tetapi lebih baik diniati isti’anah ala i’anatil muslimin fi syu’unihim.

Penjelasan Abah Najih: “Maksudnya agar dirinya mudah untuk mengajar. Kalau kebetulan jadi PNS umpama, nanti bisa bantu-bantu orang Islam. Apalagi jadi bupati, bisa bantu. Tapi dia sendiri hutangnya banyak, belum bisa bayar untuk nyalon dulu.”

Mengajar LiLlahi Ta’ala

Kutipan makalah: Para guru dan pendidik juga harus demikian, mereka mengajar ilmu agama di sekolahan umum harus lillahi ta’ala murni karena ridlo Allah SWT.

Penjelasan Abah Najih: “Kalau bisa jangan di sekolah umum unggulan. Yang agak ndeso saja. masuk sekolah unggulan akhirnya uangnya banyak, tapi cepat mati. Santri kok punya sekolah unggul atau jadi guru di sekolah unggul, cepat mati. Saya sudah pengalaman, muridku ada yang seperti itu. Sayangnya dulu saya ditanya oleh dia, “Di daerah saya guru-guru pesantren ditawari masuk di SMP, sedangkan saya ditawari di SMP Unggulan,” lalu saya jawab, “Ya sudah, monggo.” Setelah saya beri izin, baru setahun malah sudah mati. Yang agak ndeso, yang murah-murah saja. LiLlahi Ta’ala. Mau mengajarkan agama kok. Gaji kecil ya ridha. Katanya bisa mengajar itu sudah kemenangan di zaman akhir.”

Kisah Guru MGS Dibai’at Mbah Khim

Kutipan makalah: Tidak usah memedulikan besar kecilnya gaji, bahkan berkomitmen terus mengajar mesti tidak digaji.

Penjelasan Abah Najih: “Pernyataan ini zaman sekarang sudah sulit. Dulu saya menulis ini karena ingat ada santri MGS yang berhasil menjadi guru bercerita, “Dulu saya ketika menjadi guru dibai’at oleh Mbah Khim (sebutan akrab Mbah Abdurrahim). Meskipun tidak digaji saya tetap mengajar.” Begitu kuno sikapnya. Saiki di MGS banyak yang cari dunia. Bahkan fenomena anak-anak sekarang, barangkali anak-anak sampeyan, pondok MUS atau apa, itu ada yang tidak datang kecuali menjelang ikhtibar. Menurut peraturannya tidak bisa naik itu. Sudah diingatkan kemarin. Ini bagaimana? Berarti malamnya dia muthala’ah hape sampai siangnya tidak bisa melek. Itu MGS, belum Muhadloroh, tambah banyak. Repot zaman akhir ini.”

Pengkaderan Benci Umat Islam

Kutipan makalah: Hendaknya gaji yang bersumber dari iuran siswa ditasharrufkan untuk menafkahi keluarga, dan gaji yang bersumber dari Pemerintah, hendaknya digunakan untuk bayar listrik, PDAM, Pajak, BBM, Pulsa, dan kebutuhan-kebutuhan non konsumtif. Mungkin beginilah penjelasan dari maqolah yang sering didawuhkan oleh KH. Maimoen Zubair, “Awakmu sekolah opo wae, sing penting ojo ninggalno ngaji” seraya mengutip:

حَقٌّ على العاقلِ أَنْ يكونَ عارفا بِزَمَانِهِ، حَافِظا للسانهِ، مُقْبِلًا علَى شأنهِ

Dalam konteks sekarang, Aarifan bizamanihi beliau artikan memakai system sekolahan, sedangkan muqbilan ala sya’nihi diartikan melestarikan ilmu-ilmu agama dengan huruf arab pegon di sela-sela sekolah atau di luarnya (di dalam pesantren selain jam sekolah).

Penjelasan Abah Najih: “Hafizhan li lisanika, artinya disuruh diam. Alaikum bis sukut, wa mulazamatil buyut, waqtina’an bil qut ila an tamut (Hendaknya kalian diam, sering-sering dirumah, dan cari pangan hingga mati). Jangan jadi juru kampanye berarti.”

Di akhir pembacaan makalah, Syaikh Muhammad Najih menambahi, “AlhamduliLlah, makalah ini meski tidak terlalu banyak tapi InsyaAllah bermanfaat bagi Anda sekalian. Yang penting saya memohon agar hatinya selalu rindu dengan mengaji dengan niat ingin selamat. Selamatkanlah kami dan keluarga kami dari fitnah-fitnah Syi’ah, Wahabi, dan Liberal.

Kemarin saya ditelfon oleh Gus Qayyum. Beliau berkata dia dilapori oleh pengurus PBNU bahwa di Ansor-Banser sudah ada pengkaderan untuk membenci umat Islam garis keras, mereka dianggap murtad, dan seterusnya. Saya AlhamduliLlah tidak ikut garis keras, Mbah Moen juga. Ada juga pengkaderan merumuskan tuhan. Akhirnya tuhan itu tidak ada, ateisme. Sudah banyak susupan-susupan PKI. Mari kita waspada dan kita doakan semoga pesantren ini dilestarikan oleh Allah Ta’ala, konsisten ila yaumiddin. Kita mendapatkan barakahnya. Kita jadi tengah-tengah. Tidak radikal, tapi juga tidak liberal. Allahumma amin. Tidak Syi’ah juga tidak Wahabi. Semoga yang saya sampaikan ada manfaatnya. Mohon maaf kalau kebanyakan atau kurang. Ini keterpaksaan, ini darurat untuk pemantapan belaka. WaLlahu A’lam bi shawab.

Mengajar di Pesantren itu Ta’lim, Mengajar di Sekolah Umum itu Dakwah

Selanjutnya, dibuka sesi tanya jawab. Pada sesi ini ada beberapa pertanyaan yang telah dirangkum. Pertama, bagaimana santri hasil produk pesantren menyesuaikan diri untuk berdakwah dengan masyarakat di era sekarang. Kedua, apa maksud dari arifan bi zamanihi. Ketiga, apakah ada nash atau dalil tentang doa dan bagaimana maksud dari:

وأهلك الكفرة والمشركين

Menjawab ketiga pertanyaan diatas, Syaikh Muhammad Najih menjelaskan sebagai berikut:
“Menurut saya, berdakwah ada dua. Yang pokok di pesantren adalah ta’allum dan ta’lim. Itu tujuan utama. Tujuan sambilan kalau ada kesempatan itu dakwah. Kalau kita pikirannya dakwah terus sementara ilmu kita nihil itu repot. Kalau Pak Mansur tadi dakwah karena berkahnya nggeledek (menarik gerobak). Lha sampeyan yang tidak pernah ro’an (kerja bakti) itu dapat barakah apa? Jadi memang dapat barakah, akhirnya bisa membangun pondok dan seterusnya.

Jadi yang kita tuju dari ta’alum di pondok Sarang ini, maaf saya tidak membahas yang lain, adalah ta’allum tsummal amal tsummal ta’lim (belajar kemudian mengamalkan kemudia mengajarkan). Yang jelas karena Allah Ta’ala. Karena kalau kita diberi kesempetan dakwah maka berdakwah. Nah itu tadi, termasuk kesempatan kita mengajar di sekolah-sekolah umum itu termasuk dakwah. Kalau kita mengajar di pesantren salaf yang hanya ngaji-ngaji saja dan senang ngaji, itu namanya ta’lim. Enak. Yang dakwah itu yang berat. Kadang-kadang campur laki-laki dan perempuan, kadang perempuannya pakai gincu, ustadznya mana tahan. Beratnya jadi dakwah itu. Lebih aman ta’allum dan ta’lim. Tapi bukan saya melarang, jangan salaf paham. Saya bukan mengharamkan dakwah. Dakwah itu penting, tapi ya begitu. Ada setengah-setengah haramnya. Saya dulu juga sering pidato. Sudah capek, kadang-kadang hadirinnya ada perempuan cantik. Sekarang saya tidak laku, AlhamduliLlah. Sudah tua.
Saudara-saudara sekalian. Jadi ta’lim itu penting. Di Jakarta ada majelis ta’lim, itu klo orangnya memang ahli shalat, ahli zakat, ahli ngaji, ya benar majelis ta’lim itu. Tapi kalau orangnya macam-macam, tidak pernah berkerudung kecuali ketika majelis ta’lim, itu hakikatnya majelis dakwah.

Santri Salaf Mestinya Rindu Ngaji

Tadi pertanyaannya kita belum punya kendaraan. Maksudnya belum punya ijazah. Memang tadi saya tidak mewajibkan harus salaf semuanya, yang kita bahas ini lingkungan salaf harus kita pertahankan. Kalau ada yang tidak salaf ya itu lahan dakwah dan berjuang. Adapun kita sendiri kalau bisa tetap seperti ini, dan AlhamduliLlah misalnya kalau ditanya ada ijazah atau apa, hatta di salaf kita sudah ada. Tadi disebutkan ada Ma’had Aly, idenya dari Kiai As’ad.

Sudahlah, di Lirboyo saya kira sudah ada. Bahkan sebelum ada Ma’had Aly, di lirboyo paginya sekolah Hidayatul Mubtadiin siangnya anak bisa sekolah umum. Disana banyak sekolah, atau kejar paket. Masalah itu masalah kecil saya kira. Kok dibingungkan? Anda santri Sarang mestinya Anda rindu dengan ngaji. Karena di Sarang ini merosot juga ngaji salaf. Dulu Mbah Moen mengajar Fath al-Wahab, Syarh al-Mahalli, Jam’ al-Jawami’, dsb. Saya dulu juga pernah begitu. Sekarang karena faktor kesehatan, saya sudah tidak ngaji kitab sebesar dulu kecuali saat santrinya masih sedikit. Sekarang santri tambah banyak, imut-imut dan kecil-kecil juga.

Kok kayak takut, maafnya. Mungkin karena sampeyan ketularan orang-orang sana saya maklumi, tapi mestinya beristighfar dan bertaubat. Anda rindu mestinya dengan salaf, masalah ijazah Anda punya sekolah bisa dapat ijazah bahkan tanpa ikhtibar pun diluluskan. Uangnya dikorupsi dst. Kok seperti masalah besar? kan tidak. Semua sudah tersedia. Sekarang saya sudah sampaikan, hatinya saja yang masih bergantung dengan salaf. niyyatul mu’min khairun min amalihi (niat seorang mu’min lebih baik daripada perbuatannya). Hatinya yang penting. Dhawuhe Mbah Moen, zaman ini sekolah apa saja yang penting ngaji. Hatinya senang ngaji.

Arifan Bi Zamanihi: Kalau Cocok Syari’ah Lakukan, Kalau Tidak Tinggalkan

Tentang ‘arifan bi zamanihi, tadi sudah saya terangkan dan saya nukil dari Mbah Moen. WaLlahu A’lam bi shawab. Kalau saya pribadi, kalau halal dan cocok dengan Syari’ah dilakukan, kalau tidak cocok mestinya ditinggalkan. Tapi sekarang cocok Syari’ah persis itu susah. Memang sudah zaman akhir mau diapakan lagi, yang penting tidak banyak-banyak.

Selanjutnya, Muqbilan ini artinya hatinya mantap dengan ilmu agama dann inilah yang menjadi penyelamat kita. Mengapa Banser dan Ansor begitu jahat dengan kalimat tauhid karena orang-orang itu tidak mondok. Pokoknya penting NU begitu saja. Bahkan KTP-nya saja yang NU, padahal PKI. Kita AlhamduliLlah anak keturunan orang ngaji dan sampeyan juga pernah ngaji, mari pertahankan. Muqbilan ‘an sya’nihi. Seumpama punya sekolah umum maka masukkan salaf sedikit-sedikit dan selingi dengan pitutur. Salaf yang menjadi kendaraan agar selamat dunia akhirat. Bukan kendaraan cari uang.

Maksud Doa “Wa Ahlik al-Kafarah wa al-Musyrikin”

Tentang doa khutbah pada kitab Tuhfah al-Saniyah itu kan dibuat pada zaman penjajahan, maka harus dimaklumi. Umat Islam banyak dijajah, doanya biar penjajah segera hengkang. Sekarang ini sudah tidak menjajah, tapi kristenisasi banyak. Komunis banyak, liberal juga banyak. Ahlikil kafarata artinya semoga pemikiran-pemikiran sesat atau kufur itu gagal, Allahumma Amin. Tidak bisa memurtadkan orang Islam, orang Indonesia. Seperti kemarin ada proposal ke bupati Rembang agar Lasem jadi kota toleran, kemudian AlhamduliLlah saya menggagalkan. Sudah kelewatan itu. Allahumma ahlikil kafarata wal musyrikin wal mubtadiah itu artinya mereka yang menyebarkan paham-paham sesat digagalkan oleh Allah Ta’ala. Kita umat kecil, umat akar rumput ini tetap. Meskipun yang diatas sudah tersungkur, wes podo teler, kita tetap ngaji, shalat jama’ah, dizbaan, tahlilan, ratib haddad, dst. AlhamduliLlah.

Masalah Papua, saya juga mengeluh soal itu. Santri Jawa kalau disuruh mengajar diluar Jawa susak sekali. Saya dipesen sama habib Palembang untuk mencari guru, tapi sampai sekarang tidak ada yang mau. Saya mengeluh, kok sampai setakut itu? Apa perlu diberi hizib? Pak Mansur banyak hizibnya. Tapi kok harus pakai hizib terus? Kanjeng Nabi tidak seperti itu, para shahabat juga tidak punya kejadugan. Kesakitan ya sudah, tapi jangan dianggap setiap terkena sakit terus mati. Disantet dikit, akhirnya lemes kayak mati. Kita diberi kekuatan oleh Allah. Orang pakai santet dibalas nyantet. Kita harus sabar dan tegar. Wa tawashau bil haqqi wa tawashau bis shabr. AlhamduliLlah. Sekarang apa-apa mahal, tapi umat Islam dan sampeyan masih banyak. Ini kekuatan dari Allah. Kalau memakai perhitungan sampeyan iki mestinya sudah lemes nglemprak leh.” Acara ini lalu ditutup dengan doa dari Syaikh Muhammad Najih Maimoen.

حرس الله الشيخ محمد نجيح من البلايا وفتن أعدائهم، وأطال بقاءه، ورزقه الصحة والعافية والاستقامة مع الخير والبركة، ومتعنا بعلومه وزهده وورعه في الدين والدنيا والآخرة. آمين يا رب العالمين …

Kajian Ilmiah, Karya Syaikh Najih Versi Indonesia

MENGUPAS PENDIDIKAN KEAGAMAAN DI ZAMAN SEKARANG UNTUK PESANTREN DAN MASYARAKAT

بِسْمِ اللهِ الرَّحمنِ الرَّحِيْمِ

الحمْدُ لله ربِّ العَالَمِيْن والصَّلاةُ والسَّلامُ على رَسُولِه الكَرِيم ونَبِيّهِ مُحَمَّد اْلأَمِيْن وعلى آلِهِ الطَّاهِرِيْن وأَصْحابِهِ الْمَهْدِيِّيْن ، أما بعد.

Pendidikan pesantren selalu menjadi kajian menarik, bukan hanya karena memiliki kekhasan tersendiri dibandingkan dengan pendidikan lainnya, namun juga karena kaya akan konsep-konsep yang selalu relevan dibandingkan dengan pendidikan umum. Keberadaannya sebagai lembaga pendidikan Islam di tanah air mempunyai andil yang sangat besar dalam pembentukan karakter bangsa Indonesia. Dalam kehidupan bangsa Indonesia, pesantren memiliki potensi keberagaman dalam berbagai hal, baik kultur maupun sosial, yang dapat menyatu dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Pesantren juga merupakan sebuah lembaga pendidikan yang tidak hanya mendidik pada pencerahan akal (kecerdasan emosional) saja, akan tetapi juga mendidik terhadap pencerahan jiwa (kecerdasan spritual) dan pembentukan akhlak karimah (kecerdasan sosial). Pesantren tradisional (salaf) merupakan salah satu lembaga pendidikan Islam yang sangat diperhitungkan dalam mempersiapkan ulama masa depan, sekaligus sebagai garda terdepan dalam memfilter dampak negatif kehidupan modern.

Ada sebuah cerita menarik, pada suatu hari, Nyai Khoiriyah putri Hadrotussyaikh mbah Hasyim Asy’ari istri KH. A. Muhaimin bin KH. Abd. Latif Lasem, silaturrahmi ke Hadrotussyaikh KH. Maimoen Zubair. Beliau dawuhan dan berpesan kepada mbah yai Maimoen, mewanti-wanti supaya pondok pesantren Sarang jangan di rubah-rubah, biarlah tetap salaf, karena kalau pondok pesantren sudah berubah kurikulumnya, maka akan sulit untuk kembali ke salaf, seperti pondok Jombang. Begitulah kira-kira dawuhnya Nyai Khoiriyyah kepada Mbah Yai Maimoen. Al-Hamdulilah, di Sarang pendidikan formalnya tidak dicampur dengan yang salaf.

Perlu diketahui, bahwa sejak dulu keberadaan pesantren salaf mampu mencetak ulama-ulama handal, seperti Syaikh Nawawi Banten pengarang Kitab Tafsir Munir dan Nihayatuzzain, Syaikh Mahfudz Termas, pengarang kitab Manhaj Dzawi Annadhor dan Mauhibatu dzi al Fadli, Syaikh Hasyim Asy’ari pengarang kitab Risalah Ahlussunnah wal-Jama’ah, Irsyadul Mu’minin, An-Nurul Mubin, Audlohul Bayan, dll. Syaikh Ihsan Jampes dengan karyanya Siroj at-Thalibin syarh Minhajul Abidin, karya Imam Ghozali, ad Durru al Farid syarh manzhumah jauharuttauhid, al Kawakib al Lama’ah wa syarhuha, karya Syaikh Abu Fadlol Senori Tuban yang keberadaannya diakui dunia internasional.

Kemudian agar santri mengenal perkembangan Global-Kekinian, maka pesantren telah menampilkan kajian-kajian kitab kontemporer karya ulama-ulama ahlussunnah madzahib arba’ah seperti kitab al-Fiqhu al-Manhaji karya Dr. Mushthofa al-Khin, Mushthofa al-Bugho, Ali al-Syarbaji, as-Salafiah Marhalatun Zamaniyatun Mubarokatun la Madzhabun Islamiyun, Fiqhussiroh, Kubrol Yaqiniyat, Dlowabitul Mashlahah karya Sa’id Romadlon al-Boethi, Rowa’iul Bayan Tafsir Ayatil Ahkam Minal Qur’an karya Syaikh Muhammad Ali al-Shobuni, al-Fiqh al-Islami karya Wahbah Zuhaili, Mafahim Yajibu an Tushohhah, Manhajussalaf fi fahmi an-nushush Baina al-Nadhoriyah wa al-Tathbiq, Muhammad al-Insan al-Kamil, Syaroful Ummah al-Muhammadiyyah, Syari’atullah al-Kholidah, dll. karya Abuya as-Sayyid Muhammad al-Maliki.

Sebenarnya sebagian ilmu umum sudah diajarkan di pesantren, seperti ilmu Falak, ilmu Balaghoh, ilmu Nahwu, ilmu Shorof, ilmu Hisab (ilmu yang perannya vital dalam ilmu Faro’id) yang kesemuanya itu dijadikan sebagai alat untuk memahami al-Qur’an, al-Hadits dan kitab-kitab salaf. Begitu juga dalam al-Qur’an, Hadits dan kitab-kitab salaf sudah ada sebagian dari pembahasan-pembahasan ilmu umum, sains, teknologi dan ekonomi, seperti dalam ayat:

وَأَنْزَلْنَا الْحَدِيدَ فِيهِ بَأْسٌ شَدِيدٌ وَمَنَافِعُ لِلنَّاسِ وَلِيَعْلَمَ اللهُ مَنْ يَنْصُرُهُ وَرُسُلَهُ بِالْغَيْبِ ۚ إِنَّ اللهَ قَوِيٌّ عَزِيزٌ [الحديد: 25]

Dari dalil di atas, para ulama menyatakan bahwa mempelajari ilmu-ilmu ataupun pekerjaan-pekerjaan yang bermanfaat dan tidak menimbulkan madlorot termasuk fardlu kifayah. Artinya kalau sudah ada yang mempelajarinya, maka sudah mencukupi, bukan serta-merta harus berbondong-bondong semua umat Islam digiring untuk menjalankannya apalagi mewajibkannya kepada setiap individu umat Islam yang terkesan hal itu termasuk fardlu ‘ain, juga tidak harus terkekang oleh sebuah konsep atau sistem tertentu apalagi sistem sekolah dengan kurikulum ala filsafat Barat-Amerika yang sesat dan menyesatkan, dan dalam mempelajarinya pun harus berniat untuk menunaikan fardlu kifayah sehingga mendapatkan pahala dari Allah SWT.

Termasuk dampak negatif dari kurikulum pemerintah terhadap budaya pesantren adalah semakin memudarnya keikhlasan bertholabul ilmi dan khidmah kepada ahlul ilmi, terkikisnya sikap tawadlu’, andap ashor, nurut kepada kyai, sopan santun, berubah menjadi sikap mudah mengkritisi, mengkritik kebijakan dan dawuhnya kyai dan asatidz, mereka menganggap kyai hanya sebatas pemilik pondok atau yayasan, ikhtilath antara lelaki dan perempuan, budaya camping, pramuka, pacaran dan lain sebagainya. Sehingga tanpa disadari, kalau pesantren menerima kurikulum tersebut maka mereka telah terjebak dalam budaya rancangan Yahudi dan Salibis. Perlu diketahui, bahwa hampir keseluruhan ilmu umum itu sekuler (terpisah dari akidah tauhid) karena tidak pernah menyebut Allah sebagai al-Kholiq/Sang Pencipta (persis paham Dahriyyah). Diantaranya mengatakan bahwa langit tidak ada yang ada hanyalah atmosfer saja, kiamat hanyalah proses alam, planet bumi dan planet-planet lainnya sudah ada sejak berjuta-juta ribu tahun alias alam ini dzatnya qodim seperti paham falasifah yang kufur, baik teori evolusi atau revolusi. Begitu juga teori Darwin yang kufur itu, yaitu pendapat yang mengatakan bahwa adanya kekuatan berdiri sendiri di alam ini dan mengatakan kehidupan tidaklah diciptakan tetapi muncul karena kebetulan, manusia berasal dari kera dan masih banyak lagi.

Menyikapi ilmu-ilmu umum diatas, kita harus selalu mengingat dan memegangi dua bait karya Syaikh Ahmad ad-dardir dalam Manzhumah al-Kharidatul Bahiyyah:

وَمَنْ يَقُلْ بِالطبْعِ أَوْ بِالعلَّة ** فَذَاك كفرٌ عِندَ أهلِ الْمِلَّة

وَمَنْ يَقُلْ بِالْقُوَّةِ الْمُوْدَعَةِ ** فَذَاكَ بِدْعِيٌّ فَلَا تَلْتَفِتِ

Menurut kami, Thabi’at, Illat dan Quwwah Dzatiyah itu satu paket, artinya jika seseorang menyakini kejadian di alam raya ini murni karena ketiga faktor tersebut (tanpa ada campur tangan izin Allah SWT), maka hukumnya kafir, namun jika ada campur tangan izin Allah SWT, atau meyakini Quwwah Muda’ah, maka hukumnya sebagai pelaku bid’ah. Kenapa ilmu seperti itu kita bela-bela melebihi ilmu agama padahal ilmu agama adalah penyelamat iman dan Islam (jalan kebahagiaan dunia akhirat), dan ilmu di atas adalah penyebar kekufuran (jalan kehancuran dunia akhirat). Pesantren yang sudah mapan dengan sistem salafnya, biarlah tetap eksis dan wajib kita jaga dan dukung keberadaannya.

Adapun pesantren yang sudah kadung ada umumnya atau pesantren-pesantren modern, universitas-universitas, itu sifatnya dharurat untuk nasyrul ilmi (sebab zaman sekarang memaksa punya ijazah), dan harus diupayakan untuk mengadopsi kitab-kitab salaf, syukur kalau bisa porsi kesalafan itu diperbanyak sehingga berimbang bahkan kalau perlu melebihi ilmu umumnya. Dan lagi, anak didiknya harus diajari niat belajar yang benar, jika yang dipelajari ilmu agama, maka harus ikhlas lillahi ta’ala, namun jika yang dipelajari ilmu umum seperti IPA, IPS, Matematika dan sejenisnya, maka boleh diniati duniawi (ijazah), akan tetapi lebih baik diniati isti’anah ala i’anatil muslimin fi syu’unihim. Para guru dan pendidik juga harus demikian, mereka mengajar ilmu agama di sekolahan umum harus lillahi ta’ala murni karena ridlo Allah SWT, tidak usah memedulikan besar kecilnya gaji, bahkan berkomitmen terus mengajar mesti tidak digaji. Hendaknya gaji yang bersumber dari iuran siswa ditasharrufkan untuk menafkahi keluarga, dan gaji yang bersumber dari Pemerintah, hendaknya digunakan untuk bayar listrik, PDAM, Pajak, BBM, Pulsa, dan kebutuhan-kebutuhan non konsumtif. Mungkin beginilah penjelasan dari maqolah yang sering didawuhkan oleh KH. Maimoen Zubair, “Awakmu sekolah opo wae, sing penting ojo ninggalno ngaji” seraya mengutip:

حَقٌّ على العاقلِ أَنْ يكونَ عارفا بِزَمَانِهِ، حَافِظا للسانهِ، مُقْبِلًا علَى شأنهِ

Dalam konteks sekarang, Aarifan bizamanihi beliau artikan memakai system sekolahan, sedangkan muqbilan ala sya’nihi diartikan melestarikan ilmu-ilmu agama dengan huruf arab pegon di sela-sela sekolah atau di luarnya (di dalam pesantren selain jam sekolah).

Keunikan pesantren salaf yang tidak dimiliki oleh lembaga selain pesantren adalah adanya barokah, selama para santri mampu untuk berkhidmah kepada para masyayikh dan pondok dengan ikhlas dan didukung oleh kealiman dan kewira’ian para pengasuhnya, pesantren salaf akan selalu bisa beradaptasi dengan zaman, ikut andil dalam mengusir penjajah dan mewujudkan kemerdekaan Negara Republik Indonesia, dikarenakan para pengasuh dan pengelolanya masih berpegang pada nilai-nilai dan tradisi-tradisi kesalafan. Kesalafan ini harus terus dipertahankan dan dikembangkan untuk membendung segala bentuk penjajahan masa kini, baik penjajahan aqidah seperti paham Liberalisme, Sekulerisme, Pluralisme, Komunisme, Ahmadiyah, Syi’ah, NII, dan lainnya, penjajahan ekonomi seperti Neo-Liberalisme atau pro asing-aseng, dan dekadensi moral seperti narkoba, minuman keras, sabu-sabu, ekstasi, pelacuran, kebebasan bergaul, seks bebas, pacaran, semakin maraknya warung remang-remang, warung kopi plus-plus, diskotik dan lain-lainnya yang keberadaannya seakan-akan dilegalkan oleh pemerintah. Sebaliknya kalau pesantren sudah berubah menjadi modern, maka keteguhan Akidah Ahlussunnah wal Jama’ah dan barokah tersebut akan pudar dengan sendirinya, yang tinggal hanyalah ketenaran dunia, pesantren hanya sebagai wadah untuk mencari fasilitas dan materi. Masuk pesantren tidak lagi bertujuan untuk mencari keselamatan dunia akhirat, selamat dari pemikiran dan alirat sesat, tapi bertujuan untuk mendapatkan gelar dan ijazah.

Kerusakan yang ditimbulkan oleh kurikulum umum melalui sistem sekolahannya, juga telah disinyalir oleh Sayyid Ahmad bin Muhammad ash-Shiddiq al-Ghumari dalam sebuah kitabnya Muthobaqotul Ikhtiro’at al-Ashriyah. Beliau menyitir hadits yang berbunyi:

عَنْ عَبْدِ الرَّحْمَنِ الأَنْصَارِي قَالَ: قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: مِنِ اقْتِرَابِ السَّاعَةِ كَثْرَةُ القُرَّاءِ وَقِلَّةُ الفُقَهَاءِ وَكَثْرَةُ الأُمَرَاءِ وَقِلَّةُ الأُمَنَاءِ. [أخرجه الطبراني]

Mengenahi hadits di atas, Sayyid al-Ghumari mengatakan bahwa penyebab fitnah tersebut ialah menjamurnya sekolah-sekolah umum dengan sistem produk penjajah Barat yang malahirkan alumni-alumni yang mahir dalam urusan keduniaan saja tanpa dibarengi pengetahuan tentang ilmu akhirat, lihai dalam urusan duniawi tapi bodoh akan agama mereka, sehingga dunia ini dipenuhi orang-orang yang ahli pidato saja, sedangkan ulama’nya semakin berkurang.

Hendaknya para penyelenggara pendidikan keagaamaan mengupayakan biaya murah, agar tidak memberatkan beban umat sebab, karena biaya murah merupakan ciri khas kesalafan, Rasulullah SAW bersabda;

الرَّاحمونَ يرحمهمُ الرحمنُ، ارحموا من في الأرض يرحمُكمْ مَنْ في السماءِ (أخرجه أبو داود والترمذي)

Selain dari pada itu, pesantren harus mempertahankan pendidikan ala Aswaja-nya, guna membendung penjajahan pendidikan yang massif dilancarkan oleh kaum Salafi-Wahhabi, PKS, dan HTI. Juga jangan terjerumus dalam ide Islam Nusantara, karena sejatinya ide tersebut belum jelas konsepnya, kurikulum dan silabus pendidikan Islam Nusantara saja masih simpang siur. Sudah berkali-kali kami membahas tema Islam Nusantara. Intinya kami berkesimpulan, jika yang dimaksud Islam Nusantara adalah Islam ala amalan-amalan Aswaja, maka itu dapat diterima. Namun jika sebaliknya, sebagaimana yang sudah masyhur digembar-gemborkan oleh para pengusungnya, maka jelas harus ditolak, karena sudah keluar dari jalur nafas pendidikan pesantren.

Kami ingat waktu kecil sebelum mondok ke Makkah, yaitu mauidloh Kyai Ali Ma’shum Lasem pada acara Haul mbah Ma’shum Lasem. Beliau mengulangi perkataan seorang peniliti barat; “Kenapa Islam di Indonesia masih kuat?” Peneliti tersebut mengatakan; ada dua faktor yang menyebabkannya. Pertama masih konsisnya pengajian umum, tahlilan, muludan, al barjanzi, dibaiyyah dan lain sebagainya, karena dengan moment acara tersebut bisa menjadi ajang silaturrahmi antara kyai dan ummat. Dan ini bisa menimbulkan kekuatan yang luar biasa, ummat merasa terayomi, dibimbing langsung walaupun kyai tersebut sekedar hadir, tidak sampai bermauidloh juga tidak berdoa. Yang kedua, masih konsisnya pengajian turutan (al Qur’an). Orang-orang yang dulu berkerja dan menjadi pegawai di pemerintah kolonial Belanda, walaupun mereka diintimidasi, diajak kufur, diajak kristen, disuruh murtad, mereka keberatan, karena keimanan mereka tumbuh kembali saat terngiang-ngiang suara kyai yang mengajar turutan atau al-Qur’an. Menurut kami, dua faktor tersebut disebabkan berkahnya pendidikan pesantren salaf waktu dulu yang istiqamah dengan pengajian kitab-kitab salafnya, yang sepi dari tujuan materi, tidak memprioritaskan ujian akan tetapi fokus pengajaran harian, dan selalu konsis mengajarkan bacaan al-Qur’an, dzikir, shalat berjamaah serta budaya ro’an (kerja bakti), khidmah kepada masyayikh dan pondok. Tentunya, hal-hal tersebut akan lebih mewujudkan kekuatan luar biasa, menumbuhkan kekuatan iman, mencapai hidayah Allah SWT.

Keberadaan madrasah-madrasah diniyyah kelas lima dan enam pun dihabisi dan digilas oleh kegiatan-kegiatan ekstra kurikuler sekolah-sekolah pagi (SD dan SMP) sehingga banyak anak didik madrasah yang keluar dan tidak bisa melanjutkan pendidikannya di madrasah diniyyah, ditambah lagi tekanan program Full Day Scholl akhir-akhir ini, yang telah dipraktekkan oleh sebagian sekolahan-sekolahan di berbagai tempat. Semoga hal ini menjadi pertimbangan Menteri Pendidikan atau instansi-instansi yang terkait untuk memberi instruksi agar anak didik madrasah diniyyah tetap melanjutkan pendidikannya tanpa dibebani atau diganggu oleh pelajaran dan kegiatan ekstra tersebut. Pesantren yang sudah salaf biarlah tetap salaf dan wajib kita dukung, seperti pondok kita ini Al-Anwar I dan MGS, karena Syaikhina Maimoen Zubair dalam banyak kesempatan (llqo’ul mawa’idz acara Harlah, Akhirussanah, Maulidiyah) mewanti-mewanti agar tidak merubah kesalafan di Al-Anwar I dan MGS. Kalau pesantren salaf dipaksa untuk mengikuti kurikulum moderen, maka hilanglah pesantren yang selama ini menjadi benteng aqidah, syari’at, akhlaq Ahlussunnah wal Jama’ah.

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيْم. وَالْعَصْرِ، إِنَّ الإِنْسَانَ لَفِي خُسْرٍ، إِلاَّ الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ [العصر: 1-3]

Sarang, 6 Rabi’ul Awwal 1440 H

14 November 2018 M

KH. MUHAMMAD NAJIH MAIMOEN

Kajian Ilmiah

ADIL MENYIKAPI BENDERA BERTULISKAN KALIMAT TAUHID

Syaikhina KH. Muhammad Najih Maimoen memaparkan kajian ilmiahnya seputar Bendera Bertuliskan Kalimat Tauhid, Beliau Dawuhan:

Bendera besar Rasulullah SAW itu berwarna Hitam, bendera yang agak kecil warnanya putih, Sedangkan bendera – bendera kabilah pendukung Rasulullah ada yang berwarna merah, kuning dst.

Dalam kutubul hadits, khususnya kutubussittah tidak kami ketemukan riwayat hadits yang menyatakan bendera Rasulullah SAW bertuliskan kalimat tauhid. Hanya dalam kitab Mu’jam Ausath karya Imam Ath-Thabarani yang menuturkan bendera bertuliskan tauhid, Imam al-Haitsami menyadur hadits ini dalam kitabnya majma’ zawaid, berikut teksnya:
٩٦٣٩ – وعن ابن عباس قال: «كانت راية رسول الله – صلى الله عليه وسلم – سوداءولواؤه أبيض، مكتوب عليه: لا إله إلا الله محمد رسول الله».
قلت: رواه الترمذي وابن ماجه خلا الكتابة عليه.
رواه الطبراني في الأوسط، وفيه حيان وتقدم الكلام عليه، تراه قبل،.(وفيه حيان بن عبيد الله قال الذهبي: بيض له ابن أبي حاتم فهو مجهول)، وبقية رجال أبي يعلى ثقات. وبقية رجاله رجال الصحيح.
(Majma’ Zawaid, Juz 5, Hal, 321)

Hadits tersebut diriwayatkan oleh perawi bernama Hayyan bin Ubaidillah bin Hayyan, yang kunyahnya Abu Zuhair, Imam Ibn ‘Adiy menilainya sebagai perawi dlo’if dan mencantumkannya dalam kitab al-dlu’afa, serta kebanyakan hadits-hadits yang diriwayatkannya berupa hadits afrod (tidak ada yang mendukung), Imam al-Baihaqi mengkategorikannya dalam jajaran perawi-perawi mutakallam fih, bahkan Ibn Hazm menegaskannya tergolong perawi majhul. Mungkin hanya Imam Ibn Hibban yang mengkategorikan Hayyan dalam perawi Tsiqoh, namun kita kan sudah maklum, bahwa Imam Ibn Hibban tergolong ulama hadits yang mutasahil (gampangan menilai baik).

Andaikan di zaman Rasulullah SAW bendera bertuliskan kalimat tauhid benar-benar ada sebagaimana keterangan hadits diatas, mungkin bentuk lafadznya kecil tidak besar seperti tulisan-tulisan sekarang, karena zaman dulu tidak ada cat, sablon, jahit tulis dll. Dan lagi, memahami teks hadits
مكتوب عليه لا اله الا الله
Berarti tulisannya bukan di dalam lembaran benderanya (teksnya bukan مكتوب فيه), melainkan di atas bendera (di pucuk kayu yang ada benang untuk mengikat) pengaruh faidah isti’la’ huruf jer ala , berarti juga kecil, karena untuk jimat, Wallahu A’lam.

Jadi kesimpulannya, hadits yang meriwayatkan bendera Rasulullah SAW bertuliskan tauhid itu statusnya dlo’if. Lalu, apa kemudian boleh membakarnya? Jelas tetap tidak boleh membakar lafadz jalalah tanpa alasan syar’i sebagaimana yang sudah ditentukan dalam fiqh Islam, siapapun yang membakarnya tanpa landasan syar’i harus dikecam dan dikutuk, seperti tindakan Oknum Banser tempo hari.

Dalam kasus Pembakaran bendera bertuliskan tauhid oleh oknum Banser, menurut pengamatan kami, tidak terdapat satupun alasan syar’i yang melatarbelakanginya, semisal lafadz tauhidnya sudah usang, rusak, takut dihinakan dll. Jika Alasannya hanya menolak HTI, mbok ya jangan nemen-nemen ngopeni HTI, karena organisasi itu sudah dilarang Negara, jadi kenapa harus berpayah-payah ngurusi, sudah ada aparat, TNI dan lain sebagainya, apa Ndak cukup?! Kenapa justru menabrak syariat melawan HTI? apa argumentasi ilmiah membakar bendera tauhid? Untuk meredam fitnah HTI merongrong NKRI, dar’ul mafasid? nyatanya pembakaran justru menciptakan fitnah lebih besar, yakni kegaduhan masyarakat yang luar biasa! Kenapa Banser tidak lebih mementingkan memerangi SEPILIS dan LGBT, yang sampai sekarang virus ini menggerogoti petinggi-petinggi NU, bahkan belum dilarang oleh Negara! Padahal membahayakan keimanan Nahdliyyin,… Kalau Banser memang benar-benar peduli, mestinya lebih memprioritaskan nasib Iman Nahdliyyin daripada negaranya! Buat apa eksistensi negara, jika penduduknya cacat iman! Ingat, Agama di atas segalanya!

Mestinya para pembesar NU meminta maaf secara tulus atas insiden yang dilakukan bawahannya. Bukannya malah melakukan siaran pers yang membela Banomnya dengan mencari-cari dalil pembenaran tindakan “pembakaran”, bahkan ketum PBNU malah membahas khusus hukum kemakruhan hukum menulis kalimat tauhid pada tempat-tempat yang pontensi ihanah. Penulisan dan Pembakaran dua hal yang berbeda, dalam kasus oknum Banser ini yang paling substansial terletak dalam ihraqnya! Yang paling mencengangkan, Ketum Ansor tidak meminta maaf atas pembakaran kalimat tauhid, akan tetapi atas kegaduhan masyarakat belaka!.

Kami khawatir, insiden pembakaran ini menjadi pelopor kejelekan, sebagaimana Rasulullah Sabdakan;
من سن في الإسلام سنة سيئة كان عليه وزرها ووزر من عمل بها من بعده لا ينقص ذلك من أوزارهم شيئا رواه مسلم

Lama kelamaan nanti serampangan membakar asma’ muaddzomah, kalimat tauhid bahkan foto-foto ulama, hanya karena sentimen dengan organisasi tertentu, ini berbahaya sekali.

Dalam tradisi kaum nadliyyin, penulisan kalimat tauhid pada tempat-tempat tertentu itu sebagai jimat, apalagi kebiasaan mereka yang sering tahlilan, dzikiran dst….wajar saja jika ada yang bertanya, Banser itu bagian dari Nahdliyyin yang biasa tahlilan lan nganggo jimat, kok malah membakar kalimat tauhid? Katanya jimat andalannya jimat kalimahsodo!.

Alhamdulillah kami sudah lama menolak HTI dengan menulis buku tentang penyimpangan HTI. Kami berharap kepada masyarakat Islam Indonesia untuk lebih mengedepankan langkah persuasif dan cerdas bersikap dalam menghadapi segala ancaman sekte yang mengancam eksistensi Ahlussunah wal jamaah semacam HTI tanpa harus menabrak batas-batas syar’i!

Wallahu a’lam bisshowab.
Sarang, 29 Oktober 2018

Kajian Ilmiah, Karya Syaikh Najih Versi Indonesia

TRANSKIPSI PEMAPARAN MAKALAH ” PROBLEMATIKA ISLAM NUSANTARA” OLEH KH. M. NAJIH MAIMOEN

Pada hari Senin tepatnya tanggal 20 Muharram 1440 H/1 Oktober 2018 M Syaikhina Muhammad Najih Maimoen diundang oleh Aliansi Ulama Ahlussunnah Waljama’ah Tapal Kuda (AUTADA) untuk menjadi narasumber dalam seminar bertajuk “Problematika Islam Nusantara” yang diselenggarakan di Pondok Pesantren Nurul Qodim Paiton Probolinggo Jawa Timur. Selain Abah Najih, diundang pula narasumber lain yaitu Habib Taufiq Assegaf dari Pasuruan. Dalam pemaparan beliau seperti ditayangkan melalui live streaming di fanpage Ribath Darusshohihain, Syaikhina Najih membahas kembali secara detail tentang Islam Nusantara dimana beliau sudah seringkali menjelaskan pada seminar-seminar sebelumnya dalam topik yang sama. Isu Islam Nusantara ini kembali diperbincangkan setelah beberapa lama collapse kemudian muncul lagi ke permukaan menjelang pilpres 2019 mendatang. Berikut kutipan muqaddimah beliau dalam video berdurasi sekitar satu setengah jam tersebut:
“Mereka (kaum mujassimah) menyusupkan tasybih-tajsim di dalam madzhab Ahmad bin Hanbal dalam urusan akidah. AlhamduliLlah hal ini diketahui oleh Ibnu al-Jauziy dan ulama-ulama yang punya akidah yang kuat sekali. Dikokohkan lagi oleh pengarang kitab Kifayah al-Akhyar (Taqiyuddin al-Hishni).
Bapak-bapak dan saudara-saudara sekalian. Organisasi sifatnya bercampur-baur. Ada ilmuannya, ada ulamanya, non-ulamanya juga banyak. Apabila konangan yang liberal-liberal itu adalah anugerah dari Allah, karena organisasi biasanya untuk mencari atau mempengaruhi orang mereka memakai iming-iming pangkat, uang, dan seterusnya. Disini tadi oleh Kiai Fauzi diterangkan untungnya mereka yang berbicara liberal, ngawur, dan keterlaluan seperti mengatakan ada “Islam abal-abal”, “Islam Timur Tengah, dan seterusnya cepat diketahui. Jadi mereka terlihat liberalnya, juga terlihat ngebetnya. Bahasa jawanya kebelet, bahasa maduranya keburu. Mereka kepengen uang dari Amerika atau dari Cina segera cair. Dulu di jaringan Islam liberal Ulil Abshor yang ditampilkan walaupun pemikiran-pemikirannya sudah ada sebelumnya. Saya tidak enak menyebutnya. Ulil Abshar lalu ditampilkan. AlhamduliLlah saya Najih Maimoen ikut melawan, akhirnya tidak laku. Akhirnya ia dimarahi sama Amerika, pulang dengan tangan hampa. Akhirnya dia pindah ke Partai Demokrat dan mencalonkan diri jadi DPR, AlhamduliLlah tidak jadi. Sekarang dia blangkonan jadi Islam Nusantara.
Jadi inilah bangsa kita. Dari dulu ya begini. Ada sebagian orang tidak bertanggung jawab dari bangsa kita. Istilahnya “londo pesek” (Belanda pesek). Mereka cari uang, ngemis-ngemis atau cari sisa-sisa uang dari Belanda. Jadi jagoan, jadi orang sakti, dan seterusnya. Orang nasionalis atau yang benar-benar memperjuangkan negara, rakyat, atau bahkan Islam itu berdikari atau bertawakkal kepada Allah sebesar-besarnya.
Pada zaman penjajahan Belanda dahulu belum ada PBB. Sekarang ini di era modern PBB menjadi rebutan antara kekuatan Amerika, Rusia, dan Cina. Sekarang mereka rebutan di Pulau Malaka. Rezim sekarang diming-imingi dapat segini dari Cina, dapat segini dari Amerika, dan seterusnya. Bahkan saya dengar Indonesia mau dibagi enam. Na’udzubiLlah.
Saudara-saudara. Walhasil, ini semua dari Allah Ta’ala. Sama dengan dulu waktu tahun 1965 atau 1964 PKI mau menghabisi ulama, kiai, atau agamis Islam di Indonesia, lalu tulisan tentang perintah melakukan hal itu tersebut jatuh di jalan. Akhirnya ditemukan oleh seseorang lalu disebarluaskan bahwa detik-detik ini akan terjadi pembantaian kepada ulama. Jadi sebelum hari eksekusinya sudah konangan terlebih dahulu. Padahal seperti kita tahu organisasi komunis itu sedemikian canggihnya, aparaturnya, sistematisnya, dan lain sebagainya. Jadi peristiwa itu adalah anugerah Allah.
Kemarin ketika saya ikut Ijtima’ Ulama 2 di Jakarta, Pak Prabowo bilang, “Untungnya Ahok itu omongannya kasar-kasar.” Saya sendiri agak mangkel, kasar kok untungnya? Maksudnya ya ini, kalau tidak segera keluar keburukannya malah tidak segera terlihat. Bangsa kita ini terlalu polos atau lugu. Terlalu banyak husnuzzhan. Kalau tidak kelihatan langsung buruknya sekalian mereka tidak paham-paham. Tapi yang repot itu yang membangkitkan kita untuk melawan Ahok malah sekarang minta maaf sama Ahokers. Kita kecewa. Bukan karena keulamaannya, kita menghormati ulamanya. Akan tetapi karena pribadinya, kok gampange digoyang begitu saja. Kita tidak boleh ngrasani ulama, pribadi atau mentalnya saja yang kita bahas. WaLlahu A’lam bi al-shawab.”
Setelah memberikan muqaddimah, Abah Najih lalu membacakan dan menjelaskan makalah tentang Islam Nusantara yang telah beliau tulis dan dibagikan kepada peserta seminar. Dalam pembacaan makalah tersebut beliau memberikan penjelasan seperlunya. Berikut adalah keterangan tambahan beliau di beberapa paragraf dalam makalah.

Islam Nusantara dan Kasus Adu Jotos pada Muktamar Jombang
Penggalan makalah: Kenyataannya dalam Muktamar Jombang terjadi kisruh, bahkan sampai adu jotos yang tidak pernah terjadi pada muktamar-muktamar sebelumnya. Bagaimana konsep ini yang katanya memberikan kedamaian untuk peradaban Indonesia dan dunia, sementara di dalam tubuh NU saja sudah menimbulkan kisruh antar warga NU sendiri?!
Tanggapan Syaikhina Muhammad Najih: Itu menunjukkan bahwa IsNus itu wajahnya mengedepankan toleran, namun di dalamnya dia mau menjotos atau menghabisi visi kita, menghabisi akidah kita. Na’udzubiLlah. Muktamar jombang yang akhirnya mengukuhkan Said Aqil itu memakai preman-preman bayaran secara jelas sekali. Itulah permainan-permainan gaya modern khususnya dari komunis. Katanya kemanusiaan tapi nyatanya menghabisi umat Islam secara fisik dan akidah.

Islam Nusantara Adalah Mengislamkan Nusantara
Penggalan makalah: Islam Nusantara sebenarnya gambaran Islam yang tidak perlu dipermasalahkan. Islam tahlilan, yasinan, ziarah kubur, tawassul, muludan dan lain sebagainya, inilah Islam Nusantara, sebuah tatanan yang sudah baku dan mengakar di tengah-tengah umat. Sebuah syari’at dan ajaran Islam yang dibawa para Walisongo untuk meng-Islamkan Nusantara.
Tanggapan Syaikhina Muhammad Najih: Ini maksudnya adalah Islam Nusantara yang tidak liberal. Islam Nusantara buatan kiai-kiai dahulu artinya adalah Islam yang ada di Nusantara. Islam Nusantara itu aslinya adalah mengislamkan Nusantara, artinya tradisi-tradisi Hindu-Budha dijadikan Islami. Tidak menyembah berhala, tidak menyembah danyang-danyang, dan sebagainya.

Al-Quran Langgam Jawa dan Tasyabbuh bi Ahl al-Fisq
Penggalan makalah: Maka keliru jika Quraisy Shihab mengatakan ulama tidak memberikan kaidah baku dalam membaca Al-Quran. Tidak hanya sekedar indah dan benar tajwidnya, namun juga harus mengikuti adab memuliakan Al-Quran.
Tanggapan Syaikhina Muhammad Najih: Jadi lagu-lagu saja atau orkes itu dilarang karena menyerupai ahlul fisq (orang fasiq), apalagi ini membaca Al-Quran yang sakral. Tidak boleh kita membaca Al-Quran di tengah-tengah peminum khamr dan alat malahi (musik). Malah saya punya kiai orang Jenu alumni Makkah lama, kalau ada resepsi pernikahan malah tidak boleh membaca Al-Quran. Alasannya karena resepsi adalah acara senang-senang dan mengobrol. Kadang-kadang membahas pengantinnya. Ketika nantinya ada yang baca Al-Quran, akhirnya Al-Quran dibaca di tengah orang-orang yang ghibah dan bersuka ria.
Saya bukan berfatwa seperti itu. Itu contoh cara menghormati Al-Quran. Maksudnya jangan membaca Al-Quran di tengah orang-orang yang nakal.

Pengaruh Budaya dalam Islam
Penggalan makalah: Selanjutnya, di situs news.merahputih.com pada Rabu 8 Juli 2015 menurunkan berita berjudul Quraish Shihab Setuju Islam Nusantara. Dalam artikel tersebut Quraish Shihab mengatakan bahwa Islam Nusantara bukanlah agama yang baru. “Ini pemahaman ajaran agama yang dipengaruhi budaya.”
Tanggapan Syaikhina Muhammad Najih: Kata Quraisy Shihab Islam Nusantara bukan agama baru, namun pemahaman baru yang dipengaruhi budaya. Jadi bukan agama, ya bid’ah namanya.
Penggalan makalah: Dia mengatakan, al-Qur’an harus dipahami sesuai dengan konteks budaya dan ilmu pengetahuan yang berkembang. Dia mencontohkan, kaum perempuan, baik dari Muhammadiyah maupun Nahdlatul Ulama, pada zaman dahulu tidak memakai jilbab karena menganggap kebaya adalah pakaian terhormat. “Kemudian, bisa jadi di negeri-negeri yang airnya kurang ulama-ulamanya membolehkan bertayammum saja,” sambung mantan Menteri Agama ini.
Tanggapan Syaikhina Muhammad Najih: Jadi menurut Quraisy Shihab budaya berpengaruh dalam hukum. Padahal Islam itu universal. Memang sebagian Syari’ah Islam dari budaya Arab, tapi bukan semuanya dari budaya Arab. Budaya Arab tersebut adalah sisa dari agama Nabi Ibrahim. Tapi kalau budaya Arab seperti buka-bukaan atau membuka aurat ketika thawaf jelas dihilangkan oleh Islam. Kalau budaya ikram al-dliyafah (memuliakan tamu), syaja’ah (keberanian), dan hilm (kedermawanan) itu ditetapkan oleh Al-Quran. Bahkan sumpah rojopati (qasamah) adalah budaya dari Sayyid Abdul Muthalib ketika mengundi anaknya saat akan disembelih kemudian dilakukan undian sampai limapuluh kali kocokan, dan akhirnya yang menang adalah unta. Diyat seratus unta juga dari Sayyid Abdul Muthalib ketika mau membunuh anaknya karena nadzar, lalu orang-orang Quraisy berkata, “Jangan begitu. Nanti setiap ada orang bernadzar untuk menyembelih anaknya akhirnya disembelih beneran. Marilah melakukan sumpah terlebih dahulu. Marilah kita ke dukun-dukun, apakah bisa diganti tebusan unta atau apa.” Akhirnya nadzar tersebut ditebus dengan seratus unta.

Islam Nusantara dan Jilbab
Penggalan makalah: Dari keterangan diatas, terlihat sekali bahwa Quraish Shihab berupaya menginjeksikan pendapatnya tentang jilbab adalah budaya bukan kewajiban agama dalam menerangkan tentang Islam Nusantara. Dia mengatakan bahwa jilbab termasuk pemahaman ajaran agama yang dipengaruhi budaya, yang berarti penggunaan jilbab dipengaruhi oleh tradisi masyarakat yang dapat selalu berubah hukumnya.
Tanggapan Syaikhina Muhammad Najih: Tadi dikatakan bahwa perempuan NU dan Muhammadiyah zaman dulu kelihatan auratnya karena dianggap kebaya itu sudah cukup dan terhormat. Sebetulnya itu kan perilaku orang-orang dulu. Perilaku itu bukan menjadi hujjah. Yang menjadi hujjah adalah dalil-dalil. Adapun ulama-ulama dahulu begitu mungkin belum banyak produk-produk gamis dan jilbab. Memang untuk berdakwah kepada masyarakat umum kalau terlalu ketat mereka pada lari, atau nanti dianggap orang Arab dan kurang supel kepada orang Jawa. namun hal itu tidak bisa menjadi hujjah. AlhamduliLlah sekarang sudah ada produk-produk jilbab, masa’ tidak kita pakai?

Penertiban Adzan di Masjid dan Mushalla
Penggalan makalah: 4. Lembeknya perhatian atau reaksi terhadap wacana akan diundang-undangkannya penertiban adzan ditiap masjid dan mushala.
Tanggapan Syaikhina Muhammad Najih: Ini dari Menag begitu. NU tidak keras melawannya. Kita dengan rezim ini ingin dijadikan seperti di Singapura. Tidak boleh adzan yang keras. Sekarang sudah terjadi, bukan hanya mungkin. Banyak terjadi masjid-masjid digusur, alasannya pelebaran jalan tol. Kecuali kalau masjid bagus atau masjid kuno, maka tidak digusur dan digunakan untuk wisata. Orang-orang Belanda masuk kesitu.
Kemarin saya melihat orang Belanda masuk ke masjid Istiqlal dengan membuka aurat. Kalau dulu ketika saya di masjid Sultan Singapura memang ada orang Barat masuk tapi dengan diberi penutup aurat. Kalau di masjid Istiqlal tidak ada. Dan sekarang Istiqlal sudah memasukkan penceramah-penceraman Syia’h karena kepala imam besarnya yaitu Nazaruddin Umar adalah orang liberal. Dia dijadikan imam masjid besar Istiqlal. Ngeri sekali. Kampanye vaksin di baliho-baliho itu kan dari Nazaruddin Umar bekerjasama dengan Polri.

KH. Ma’ruf Amin dan Pilpres
Penggalan makalah: 6. Dulu KH. Ma’ruf Amin berfatwa untuk tidak memilih pemimpin yang suka ingkar janji. Tapi sekarang setelah “dijongkrokno” (dijerumuskan) oleh Muhaimin Iskandar, Said Aqil, Romahurmuzi dan kawan-kawannya, beliau berubah haluan bahkan membuntuti Jokowi sebagai calon wakil presiden. Padahal dibalik itu, yang paling banyak dapat keuntungan kontrak politik dengan cukong dan bos-bosnya adalah para penjerumus beliau itu. Dan sangat disesalkan ketika Rais Am ikut meramaikan panggung politik Indonesia. Padahal ormas NU mengaku sudah lepas dari politik praktis, maka seharusnya tokoh besar organisasi yang bergerak dalam bidang keagamaan ini tidak ikut pencalonan dalam Pilpres 2019. Parahnya lagi beliau adalah Mufti tertinggi (ketua MUI Pusat) di negeri ini, tidak mau melepaskan jabatan MUI-nya tetap ikut nyalon sebagai Wapres. Justru ini menunjukkan besarnya ambisi kekuasaan, sehingga menjadikan fatwa-fatwanya terasa basi karena ditekan atau dikendalikan penguasa dan akhirnya dianggap angin lalu belaka.
Tanggapan Syaikhina Muhammad Najih: Jadi kami sangat menyayangkan bukan karena keulamaannya, tapi karena pribadinya kok gampang sekali terkena arus. Makanya kita harus waspada jangan terlalu gampang dekat-dekat dengan umara biar kita tidak mudah dibelokkan sana-sini, bahkan didiskon jadi buntut, dan sebagainya.
Setelah pembacaan dan penjelasan makalah selesai, lalu dibukalah sesi tanya jawab dari peserta seminar tentang topik yang diperbincangkan. Cukup banyak pertanyaan yang disampaikan oleh para hadirin melalui tulisan yang diberikan kepada panitia, dan Syaikhina Najih menanggapi serta menjawab seluruh pertanyaan tersebut. Demikian pertanyaan yang masuk sekaligus jawaban dari Abah Najih.

Tentang Hadits Khairul Umara dan Syarrul Ulama
Pertanyaan: Apa ini hadits atau sabda ulama:
خير الأمراء الذين يزورون العلماء وشر العلماء الذي يزورون الأمراء
Jawaban Syaikhina Muhammad Najih: Yang saya ingat ini memang hadits Rasulullah ShallaLlahu ‘alaihi wa Sallama, hanya saja sanadnya bagaimana begitu. Selain itu, terkadang ulama membuat kalimat yang menyimpulkan hadits-hadits yang banyak. Jadi seumpama ini bukan hadits maka ini adalah kesimpulan ulama dari beberapa hadits. Banyak sekali hadits yang mendukung makna hadits ini. Jadi tidak usah diperdebatkan. Yang jelas hadits ini dari Kanjeng Nabi langsung secara lafazhnya atau mungkin hanya secara maknanya.
Makna hadits ini bahwa sebaik-baiknya umara adalah yang sowan kepada ulama. Kalau Habib Taufiq mengatakan bahwa sowannya untuk minta nasehat, bukan minta dukungan. Kemarin Pak Prabowo di ndalem Mbah Maimoen bilang, “Saya tidak cari dukungan. Saya diterima menjadi tamunya beliau sudah terhormat sekali. Saya hanya minta doa.” WaLlahu A’lam.
Sebaliknya, sejelek-jeleknya ulama adalah yang ziarah ke umara, artinya ziarah minta proposal. Kalau ziarah untuk menasihati ya boleh-boleh saja, tapi ini sangat berat. Nanti niatnya menasehati malah dicekoki akhirnya melempem dan hanya untuk publikasi, “Saya yang menasehati umara.” Padahal sudah kongkalikong.

Ulama Pecah Karena Pilpres?
Pertanyaan: Ada Ittifaq Ulama, ada Ijtima’ Ulama, ada Majelis Ulama. Apakah ulama sudah pecah karena pilpres? Apakah ulama harus ikut politik atau sebagai panutan umat?
Jawaban Syaikhina Muhammad Najih: Ini pertanyaan gimana ya? Terserah yang menafsiri masing-masing. Apakah pecah ya memang pecah. Tapi kalau ulama yang konsisten saya kira tidak pecah. Saya akan membantu yang lebih ringan madlaratnya. Rezim sekarang membantu Cina besar-besaran, membantu infrastruktur besar-besaran, menggusur banyak masjid. Nanti menyembelih Islam dengan gampangnya. Klo dulu PKI kesulitan menyembelih ulama karena belum baik jalannya, sekarang tinggal maju saja.
Infrastruktur itu hutangnya banyak dengan Cina. Uganda sudah menggadaikan negaranya kepada Cina. Jadi Cina besar-besaran mencaplok Asia-Afrika. Kalau dulu dikatakan Indonesia mau dijadikan “Tibet kedua”. Bukan hanya itu saja. Negaranya sudah akan digadaikan menjadi tempat Cina. Lha Cina sekarang ingin menggantikan etnis Sunda. Makanya infrastuktur dibangun besar-besaran agar ada kereta super cepat antara Jakarta dan Bandung untuk hal itu.
Jadi kita bukan fanatik Prabowo mesti orang shalih, bukan. WaLlahu A’lam kita tidak tahu. Tapi kalau habib ini mestinya kalau ikut Habib Rizieq mestinya ittiba’ pada Habib Rizieq saja.

Duduk Bersama Tokoh Islam Nusantara (?)
Pertanyaan: Kalo memag isnus visi-misinya tdak sesuai dg ajaran islam, knapa tdak diajak duduk bersma oleh pra tikoh2 itu? Krn msyarakat bwah buta masalah tema tersebut. Bagi masyrakat bawah yg penting islam berjalan di masyarakat. Klo yg disampaikan ke masyarakat msalah pro-kontra antar ulama maka masyarakat kmbali bingung.
Jawaban Syaikhina Muhammad Najih: Saudara-saudara. Kalau kita musyawarah siap-siap saja, tapi masalahnya ketika publikasi atau yang men-shooting kadang-kadang kalau mereka sudah kalah nanti dipublikasikan kita yang kalah. Ini sering terjadi. Seperti dulu Said Aqil dihakimi di rumahnya Kiai Ali tapi seolah-olah Said Aqil yang menang. Bolak-balik selalu begitu. Said Aqil banyak memakai diplomasi. “Saya bukan Syi’ah”. Padahal sudah jelas-jelas banyak bukti video bahwa dia orang Syi’ah. Saya sendiri sudah lama sekali melawan Said Aqil.
Jadi masalahnya ada pada publikasi, yang meliput dan sebagainya. Kita kalah sekali di media. Kalau masyarakat yang datang sendiri AlhamduliLlah. Seperti kita dulu di universitas di Malang bersama Kiai Akhyar, kita diajak agar menerima Islam Nusantara. Dia berdalih sekarang ini Indonesia mau dijadikan rebutan oleh radikalis, artinya Wahabi. Saat itu saya memberi pernyataan diplomasi, kalau Islam Nusantara dipegang selain liberal maka saya menerima. Maksudnya kalau dipegang sama orang liberal saya tidak menerima. Tapi di sebuah situs dikatakan saya sudah menerima.
Jadi masalahnya kalau bermusyawarah liLlahi Ta’ala oke.
أَنْ تَقُومُوا لِلَّهِ مَثْنَى وَفُرَادَى ثُمَّ تَتَفَكَّرُوا [سبأ : 46]
Di Al-Quran dikatakan, “Ayo dzikir satu atau berdua.” Musyawarah yang niatnya liLlahi Ta’ala oke. Tapi kalau musyawarah karena ada kepentingan maka justru kita di dalam mungkin menang tapi diluar kita dikalahkan. Permainan-permainan itu kita harus tahu sampai sekarang.

Sumbar dan Riau Menolak Islam Nusantara
Pertanyaan: Ranting NU Alas Tengah: Kalau Sumbar dan Riau menolak Islam Nusantara, mengapa Jawa tidak ikut? Paling tidak kita harus berdoa agar tokoh NU yang keluar dari sikap pendiri NU dikenakan adzab oleh Allah Ta’ala, karena dia kurang ajar. NU sudah dijual. GP Ansor sekarang sering membela yang diluar Sunni. Bagaimana pertimbangan kita?
Jawaban Syaikhina Muhammad Najih: Ini pendapatnya benar, akan tetapi masalahnya Anda kan Ranting NU. Kalau Anda terlalu keras anda dicopot. Kalau siap dicopot AlhamduliLlah lakukan saja. Tapi repotnya tadi, postingannya seolah-olah kita pemberontak, radikal, ditunggangi HTI, dst. Itu masalahnya. Repotnya itu di publikasi. Kita sekarang ini sudah niat membahas problematika Islam Nusantara berarti kita menolak, kan? Sudah sepakat sekarang ini kita menolak, AlhamduliLlah. Argumen-argumennya sudah terlalu banyak. Cuma kubu sana saja yang:
صُمٌّ بُكْمٌ عُمْيٌ فَهُمْ لَا يَعْقِلُونَ [البقرة : 171]
Silahkan Ranting NU berdoa begitu, yang penting harus waspada. Saya tadi sudah bilang mereka itu pake preman, pake teroris. Jadi teroris itu bukan hanya radikal atau ISIS saja. Teroris itu ya komunis. Teroris pertama itu Yahudi.
وَيَقْتُلُونَ الْأَنْبِيَاءَ بِغَيْرِ حَقٍّ [آل عمران : 112]
Mereka yang sukanya membunuh para nabi. Teroris itu semua bikinan Yahudi.
Menanggapi Habib Abdurrahman Ba’ali bahwa kita harus wafa’ bil ‘ahdi (menepati janji), harus istiqamah (konsisten), harus ta’awun (bekerjasama), dsb. Wafa bil ‘ahdi itu kita menerima Pancasila yang sebelum reformasi, karena di reformasi Pancasila direvisi. Ini yang berbahaya. Di Undang-undang Dasar 1945 syarat presiden harus warga indonesia asli. Ini dicoret, berubah syaratnya harus punya KTP Indonesia. Inna liLlahi wa inna ilaihi raji’un. Ini semua bukan hanya ulah Amien Rais saja. Semua waktu itu yang ada di DPR-MPR terlibat dosanya. Marilah kita taubat, marilah kita kembalikan Pancasila kepada aslinya. Kita pakai warga Indonesia asli itu kemenangan kita. Jangan sampai orang Cina. Tapi kalau direvisi maka orang Cina seperti Ahok bisa jadi presiden. Na’udzu biLlah min dzalik.
Banyak revisi dan perubahan itu, banyak sekali. Masalah ekonomi dan seterusnya. Orang Cina seenaknya punya kekuatan, punya ekonomi besar-besaran. Orang Cina bisa punya tanah seluas-luasnya. Orang bukan Indonesia bisa menguasai sepertiga Indonesia. Na’udzu biLlah. Ini sudah terjadi.

Pemanfaatan Bunga Bank
Pertanyaan: Rizki kita dari bunga bank jika digunakan untuk membeli bensin dan sebagainya, bukankah itu sama saja dengan memanfaatkannya? Apakah hal tersebut tidak termasuk menggunakan rizki yang syubhat?
Jawaban Syaikhina Muhammad Najih: Hal tersebut memang memanfaatkan, akan tetapi selama kita tidak punya simpanan banyak di bank atau tidak banyak-banyak. Tadi sudah saya katakan banyak boleh asal darurat. Jadi kalau Anda sebagai pedagang harus punya rekening, jika hanya untuk sekedar transfer jelas boleh. Kalau Anda menyimpang banyak-banyak disitu maka itulah yang membantu riba. Tapi kalau sekedar jual beli, maka semua uang dari bank. Ini semua kondisi darurat, maka tidak masalah. Yang penting tidak menyimpan banyak-banyak di bank. Kalau simpanan sedikit saja untuk kepentingan darurat rekening maka boleh, karena simpanan rekening seperti itu kan tidak jalan. WaLlahu A’lam. Saya tidak tahu. Kalau menyimpan sedikit saja karena darurat dan sesuai kadar daruratnya semoga dimaafkan selama ada shadaqahnya.
Jadi maksudnya hukum asli bunga bank tetap haram, akan tetapi kita sering kedatangan dan diberi uang oleh seseorang. Maka jelas dia punya rekening. Ini maklum. Itu merupakan hal yang darurat atau gimana, hal yang tidak bisa dihindari.

Pemaknaan Islam Nusantara
Pertanyaan: Pemahaman Islam Nusantara yang benar itu bagaimana? Karena ada ikhtilaf antara para tokoh ulama. Disamping itu konon ada hadits bahwa ulama yang dekat penguasa adalah pencuri, di satu sisi tanpa ulama penguasa menjadi diktator. Bagaimana solusinya?
Jawaban Syaikhina Muhammad Najih: Islam Nusantara yang benar dan tidak kita permasalahkan adalah Islam Nusantara yang artinya Islam yang alus dan tidak radikal. Itu benar. Dalam arti orang Jawa ini punya tradisi yang terkadang syirik, pemborosan, keplekan (judi), minum khamr, sinden-sinden, joget-jogetan, dan seterusnya. Lha dalam Islam Nusantara ini tradisi ada syiriknya dibuang lalu diganti tahlilan, dzibaan, marhabanan, dan seterusnya. Itulah Islam yang InsyaAllah benar. Artinya Islam yang dibawa oleh ulama Nusantara, oleh para Walisongo. Ini kita terima.
Tapi kalo Islam Nusantara diartikan kebebasan, semua agama dibenarkan, tradisi-tradisi yang baru seperti menjaga gereja, dan bid’ah yang dubuat oleh tokoh-tokoh IsNus maka kita tolak. Apalagi mengatakan semua yang baik dengan kita dianggap saudara. Yang baik dengan kita boleh dipilih walaupun non-Muslim. Itu yang kita tolak. Islam Nusantara yang benar tadi sudah ditunggangi oleh liberal, itu masalahnya. Bukan masalah pro dan kontra. Jadi memang kita menolak, bukan sekedar kontra.
Ulama dekat penguasa adalah pencuri, benar menurut hadits. Tapi di satu sisi tanpa ulama penguasa menjadi diktator. Bagaimana solusinya? Semestinya kita tidak harus menjadi mitra penguasa yang diktator itu. Justru kalau kita menjadi mitranya maka kita akan menjadi masukan dalam kediktatoran, menjadi kedok dan alat saja kita ini. Menurut saya diktator itu harus kita lawan dengan menjauhi mereka, jangan memilih mereka. Kalau mereka menggunakan ulama ini hanyalah tipu muslihat belaka. Dan mereka mencalonkan dan menggiring bapak Ma’ruf Amin kan sudah mepet sekali, tidak dari pertama. Megawati pernah bilang PDI-P tidak butuh suara umat Islam. Tapi dengan cara-cara begitu itu akhirnya umat Islam sebagian besar NU mungkin, semoga tidak dan hanya elitnya saja, merasa harus membela jokowi karena ada Kiai Ma’ruf. Tapi itu kan kepepet. Mendadak sekali. Itu jelas-jelas permainan. Kita harus waspada.
Kenapa bapak Ma’ruf Amin bisa begitu? Karena sebelumnya Kiai Ma’ruf sudah diberi mandat untuk masuknya bank-bank rakyat di pesantren. Tidak dengar itu? Di Sarang tidak ada. Di Jombang, bahkan di Jawa Barat sudah banyak. Ada bank-bank kemasyarakatan dikelola oleh pesantren, itu dikelola oleh ma’ruf amin. Makanya waspada dengan jaringan bank-bank itu. Jangan kita yang mengurus, kita saat darurat dan seperlunya saja. Tidak usah punya bank. Kalau punya bank nanti kita yang menjadi korbannya diktator, komunis, dan seterusnya.

Banser Menjaga Gereja
Pertanyaan: Banser menjaga gereja ada yang membolehkan dengan alasan menjaga keamanan dan toleransi. Ada yang mengharamkan karena beda agama, lakun dinukum waliya din. Tindakan yang benar bagaimana?
Jawaban Syaikhina Muhammad Najih: Tidakan yang benar adalah kita mengharapkan aslinya mungkin mereka punya alasan menjaga negara, UUD 45, dan seterusnya. Akan tetapi mereka (aparat keamanan negara) saja sudah cukup. Kenapa kita ikut menjaga? Dan kenapa Polri juga tidak adil? Kenapa gereja yang dijaga, tapi masjid kok tidak dijaga? Seolah mereka punya opini, bahkan bukan seolah-olah lagi, bahwa radikal itu hanya di Islam saja. Teroris hanya di Islam saja. Lho, PKI apa bukan teroris? Apakah komunis bukan radikal? Ini semua sudah terkena virus komunis, liberalis, dan seterusnya.

Islam Nusantara Menggerus Ghirah Islamiyah
Pertanyaan: Bukankah dalam makalah ini disebutkan bahwa beberapa hal yang tidak sepihak dengan kita itu dikarenakan beberapa orang lberal yang menumpang di Islam Nusantara. Lalu mengapa Islam Nusantara yang disalahkan?
Selanjutnya, di awal makalah disebutkan bahwa Islam Nusantara sama dengan Walisongo. Bukankah cukup dengan menyingkirkan mereka yang kontroversial sama seperti masuknya liberal ke beberapa mazhab fiqih?
Jawaban Syaikhina Muhammad Najih: Saya jawab satu-satu. Ya maafnya, tadi sudah saya bilang berulang-ulang Islam Nusantara itu terkadang maknanya benar, yaitu menghidupkan tawassul, dzibaan, thariqah, ngaji kitab, dsb. Sudah maklum. Di negara-negara lain sekarang yang sudah jarang itu ngaji kitab, apalagi dzibaan dan seterusnya. Hal ini bagus dan itu yang dibawa oleh Walisongo. Tapi masalahnya Islam Nusantara yang sekarang ini proyek dari Said Aqil dkk yang disetujui oleh Jokowi, “Islam kita ini toleran dan ramah tamah”, biar kita menghadapi komunis dan Cina tidak garang seperti dulu. Tidak punya ghirah Islamiyah.
Dulu zaman 60-an apalagi zaman 50-an atau zaman Belanda bangsa kita walaupun orang yang tidak shalat saja kalau tahu Islam dicaci-maki langsung marah dan berani membunuh yang mencaci-maki Islam itu. Dulu kan begitu. Sekarang dihilangkan ghirah Islamiyahnya. Sudah terdengar kemana-mana bahwa ciri khas Islam Nusantara adalah mauludan dan dibaan yang kelihatannya ramah, tapi kalau Islam dicaci-maki lalu marah. Kemarahan ini yang mau dihilangkan.
Jadi Islam Nusantara asalnya bisa dikatakan baik, tapi setelah ditunggangi liberal ini maksudnya agar kita tidak punya marah. Tidak punya ghirah Islamiyah sama sekali. Semuanya dianggap baik. Bahkan kita bisa dzibaan di gereja. Orang gereja nanti bisa nyanyi-nyanyi di masjid. Na’udzu biLlah min dzalik.
Seperti itulah. Ketika komunis akan datang kita katakan sebagai saudara, padahal dia membunuh teman. Bukan membunuh saja, bahkan masjid-masjid dihilangkan. Sejarah ini akan dihilangkan di dalam ‘izzul Islam wal Muslimin di Indonesia. Kita tidak punya negara Islam. Zaman dulu kita punya kerajaan Islam tapi ya mlempem dan seterusnya. Kita ini dididik ulama dulu untuk benci kepada penjajah, keecuali yang memang dimasukkan ke penjajah. Ada kiai yang dimasukkan ke kota untuk menjadi naib, tapi itu politik saja biar tahu rahasia-rahasia Belanda. Dulu canggih malah. Sekarang ini amburadul, ini adalah yang membahayakan.
Makanya kita tolak Islam Nusantara dengan artii bid’ah yang baru-baru ini. Bukan yang shalat, tahlilan, dan dzibaan itu.
Tentang menyingkirkan liberal dari tubuh NU, yang kontroversial ini sudah menguasai NU. Inilah yang jadi masalah. Kita tidak bisa apa-apa. Makanya sebagian ingin buat NU tandingan, saya bilang jangan, tidak ada gunanya. Disana dananya lebih kuat, kita tidak bisa apa-apa. Disana itu tidak pernah cari uang dari rakyat, tapi selalu punya uang. Kalau kita ini kan masih cari infaq seperti AUTADA ini. Kalau sana tidak, ada yang membiayai. Kita dalam publikasi akan selalu kalah. Sudahlah, kita apa adanya. Inilah NU yang substansi, yang sana NU yang cari uang. Begitu saja.
كمبتغي جاه ومالا من نهض
Kalau kita:
كمبتغي صفاء وحسن خاتمة، إن شاء الله
Kita cari kebenaran, cari kemurnian, dan cari akidah yang benar agar anak cucu kita terselamatkan. Allahumma amin.

Bahtsul Masail PBNU Jateng tentang Islam Nusantara
Pertanyaan: Bagaimana tanggapan kiai terkait hasil keputusan bahtsul masail PBNU Jawa Tengah terkait Islam Nusantara?
Jawaban Syaikhina Muhammad Najih: Saya bukan anggota NU, jadi saya tidak tahu keputusannya. Tapi paling-paling ya menerima dan mendukung karena ada proyek dan ada dananya. Cari ibarat (dalil) yang membenarkan. Dan itu, Ya Allah, paling-paling dalilnya adalah:
وَمَا أَرْسَلْنَاكَ إِلَّا رَحْمَةً لِلْعَالَمِينَ [الأنبياء : 107]
“Dan tiadalah kami mengutus kamu, melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam.” (QS. Al-Anbiya: 107)
Padahal itu artinya apa? Ayat sebelumnya berbunyi:
وَلَقَدْ كَتَبْنَا فِي الزَّبُورِ مِنْ بَعْدِ الذِّكْرِ أَنَّ الْأَرْضَ يَرِثُهَا عِبَادِيَ الصَّالِحُونَ [الأنبياء : 105]
“Dan sungguh telah Kami tulis didalam Zabur sesudah (Kami tulis dalam) Lauh Mahfuzh, bahwasanya bumi ini dipusakai hamba-hambaKu yang saleh.” (QS. Al-Anbiya: 105)
Jadi orang yang shalih adalah yang menguasai bumi ini. Menurut hadits-hadits adalah zaman Imam Mahdi. Jadi orang shalih dijamin Allah masih ada dan nanti sewaktu-waktu akan berkuasa di bumi. Sebelum Imam Mahdi tentunya ada, namun entah dimana. Kalau di hadits-hadits ada di Khurasan dan seterusnya. Tidak ada haditsnya di Indonesia akan ada Negara Islam, itu tidak ada. Tapi kita tidak boleh putus asa. Kita walaupun bukan Negara Islam, bukan semuanya hamba-hamba yang shalih, semoga kita berada seperti halnya harapan ulama-ulama dulu bahwa kita orang-orang shalih akan menguasai bumi Indonesia lalu menghantarkan Imam Mahdi. Allahumma amin. Itu adalah harapan kita. Semoga dikabulkan oleh Allah.

Mahar dengan Melantunkan Ayat Al-Quran
Pertanyaan: Bagaimana ketika wanita meminta mahar kepada calon suaminya dengan lantunan ayat Al-Quran?
Jawaban Syaikhina Muhammad Najih: Mahar tersebut ada di hadits:
أنكحتك مع ما معك من القرآن
“Aku nikahkan dirimu dengan mahar hafalanmu dari Al-Quran.” (HR. Abu Ya’la, juz 13 hlm. 435)
Misalnya dulu ada perempuan ingin menghibahkan dirinya kepada Rasulullah ShallaLlahu ‘alaihi wa Sallama. Rasulullah melihat dari atas, tengah, dan bawah tidak ada yang bikin hasrat Kanjeng Nabi. Akhirnya ada shahabat yang melarat berkata, “Kalo Anda tidak mau menikahinya, nikahkan dengan saya saja dengan izin Anda, Ya Rasulullah.” Rasulullah bertanya, “Apa yang kamu punya?” Dia menjawab, “Satu sarung saja.” Sarungnya besar tapi satu, tidak ada tambahannya. Maka Rasulullah bersabda, “Iltamis walau khataman min hadidin (nikahilah meski dengan mahar sebuah cincin besi)”. Akhirnya dicari dari keluarganya tidak ada. Dia lalu berkata, “Ma indi illa izari (saya tidak punya apa-apa kecuali sarung saya ini).” Rasulullah bersabda, “Wah, kalau dibagi dua gimana jadinya? Kelihatan nanti auratnya.”
Akhirnya Kanjeng Nabi bertanya, “Apa yang kamu hafal dari Al-Quran?” Dia menjawab, “Al-Baqarah, Ali Imran, dan Al-Nisa.” Akhirnya Rasulullah menikahkannya.
أنكحتك مع ما معك من القرآن
“Aku nikahkan dirimu dengan mahar hafalanmu dari Al-Quran.” (HR. Abu Ya’la, juz 13 hlm. 435)
Mahar berupa Al-Quran ini artinya Al-Quran diajarkan hingga hafal, dibacakan sedikit-sedikit biar hafal. Kalau dibaca saja apalagi dengan lagu, itu bukan termasuk mahar. Masa’ ada orang menikah maharnya membaca dengan lantunan Al-Quran? Kan tidak ada. Yang dimaksud adalah disuruh menghafalkan. Hafalan lelaki diajarkan kepada istrinya.
Selanjutnya Al-Quran tidak boleh dibaca ketika bersenang-senang, maksud guru saya tadi ketika sibuk makan dan minum. Resepsi kan makan minum, itu maksudnya. Tapi kalau sekedar membaca di kamar dan punya wudlu, waktu akan kumpul dengan istrinya, saya kita tidak apa-apa. Asal tidak pas kumpul saja.

Menghindari Vaksin
Pertanyaan: Dalam bahayanya Islam Nusatara masalah vaksin itu sudah mendunia bahkan di desa-desa. Seakan diwajibkan oleh pemerintah setempat. Lalu bagaimana cara menghindari dan memberantas tradisi demikian sebagai generasi NU?
Jawaban Syaikhina Muhammad Najih: Tadi dalam Mabadi’ Khairu Ummah disebutkan istilah ta’awun. Saya sangat berterima kasih, ini pencerahan. Mungkin bisa dimusyawarahkan nanti oleh pengurus AUTADA. Bahwa vaksin sudah mendunia tadi artinya sudah nasional dan memasyarakat di Indonesia. Di Eropa dan Amerika tidak ada vaksin itu.
Jadi cara menghindarinya adalah Anda tegas kalau diminta, katakan bahwa ini adalah tanggung jawab saya. Masalah kesehatan itu tidak ada paksaan. Saya menjadi orang tua bertanggung jawab sepenuhnya. Saya menolak untuk vaksin. InsyaAllah dicarikan madu atau apalah yang membuat anak sehat. Air susu ibu (ASI) itu yang paling sehat untuk membuat anak sehat. Kita sering melupakan air susu ibu. Ibunya saja yang diberi makanan yang sehat-sehat biar air susunya sehat dan bisa menyehatkan anaknya. Saya kira vaksin itu tidak baik.

Menanggulangi Islam Nusantara
Pertanyaan: Bagaimana cara kami menyebarkan kepada saudara-saudara NU agar tidak terjerumus dalam bahaya Islam Nusantara sebagai bukti ta’awun kita dalam Mabadi’ Ahlissunnah (sifat-sifat pokok Ahlussunnah)?
Jawaban Syaikhina Muhammad Najih: Suruh baca buku ini, dan seterusnya. Suruh waspada bahwa organisasi melindungi hal yang disusupkan kepadanya itu biasa. Zaman Ali dan Muawiyah saja dulu ada susupan. Ada pemberontak kepada Utsman. Itu biasa. Marilah kita waspada. Marilah kita pondokkan saja anak-anak kita, InsyaAllah pondok yang kiainya paham tentang susupan-susupan itu. Baik dengan luar tapi tidak terlalu baik. Jangan terlalu percaya dengan luar. Marilah kita percaya dengan apa yang kita miliki. Pesantren, aset-aset pesantren, dan akhlak karimah. Bagaimana kita menjaga anak-anak kita agar ta’allum li ajliLlah (belajar untuk Allah), bukan karena pangkat, bukan karena menjadi pengurus, apalagi kemudian dibawa ke partai, dan seterusnya.

Ikhtitam
Setelah sesi tanya jawab selesai, Syaikhina Muhammad Najih memberi tambahan terakhir sebagai penutup pemaparan beliau. Berikut cuplikannya:
“Saya malu sebetulnya kesini. Tadi saya disindir gimana tanggapan Anda dengan keputusan PBNU Jateng tentang Islam Nusantara. Saya bilang paling-paling membenarkan atau cari pembenaran. Saya itu malu sebagai orang Jawa Tengah karena orang Jateng itu pedenya besar. Dari dulu PKI ini memberontak di Madiun, tapi yang besar itu di Jateng. Di Blora. Purwodadi, dan seterusnya. Kadang kita terkecoh. Muhammadiyah itu munculnya dari Jogja, tapi besarnya di Solo. Muncul itu belum tentu yang paling besar. Munculnya PKI di Madiun, tapi besarnya di Jawa Tengah. Jadi saya ngrasani NU mlempem, apalagi NU Jawa Tengah. Saya merasa begitu. Tadi dibilang Nuril Arifin tetangga saya. Memang dia di Semarang. Tapi dulu dia ketuanya pasukan berani mati, maksudnya semua orang sudah tahu bahwa komandonya dari Jawa Timur. Tapi walhasil begitulah, kami malu orang Jateng belum bisa membuat seperti AUTADA ini. Kami hanya bisa bil lisan. Jadi kalau ditanya bagaimana caranya menyebarluaskan, ini sudah ada AUTADA. Tinggal tanya sama AUTADA agar disebarkan dai-dai agar waspada umat ini dari bahaya komunis, kristenisasi, dan abangan.
PDI ini sudah bekerjasama dengan partai komunis Cina. Ini mengerikan sekali kalau kita tahu. Reklamasi ini tdak hanya di Jakarta, tapi dimana-mana. Mereka ini ingin Indonesia dijadikan Singapura. Yang adzan tidak boleh keras, dan seterusnya. Saya pernah di Singapura melihat kuburan orang Islam dijadikan taman kota. Tanyakan orang Madura yang banyak di Singapura. Itu bisa ditanyakan. Ini mengerikan sekali.
Jadi saya salut sekali dengan himbauan terakhir agar waspada dengan rezim sekarang ini. Walaupun kita tidak tahu kalau diganti apakah bisa merubah, tapi InsyaAllah karena ada Habib Rizieq dan habaib lain dari orang-orang Islam kita harus husnuzzhan. Kita ini susahnya yang Ahlussunnah dan ikut Walisongo diliberalkan, yang anti tahlilan yang mengikuti paslon kedua. Susah. Kalau dari kita tidak ada yang di paslon kedua, apa jadinya negara ini? Andaikan paslon nomor dua ini menang. Kita harus pakai politik, disana dan disini. Seperti zaman dulu, ada yang melawan Belanda, ada juga yang gaya pro Belanda. Kalau gaya pro saja silahkan, tapi hatinya sama kita.

Kajian Ilmiah

MAKALAH “PROBLEMATIKA ISLAM NUSANTARA”

PROBLEMATIKA ISLAM NUSANTARA;
Gerbong Baru Liberalisasi-Pluralisasi

بسم الله الرحمن الرحيم
الحَمْدُ اللهِ رَبِّ الْعَالَمِينَْ وَالْعَاقِبَةُ لِلْمُتَّقِيْنَ ، وَلَا عُدْوَانَ إِلَّا عَلَى الظَّالِمِيْنَ ، وَالصَّلَاةُ وَالسَّلاَمُ عَلَى مَنْ لَا نَبِيَّ بَعْدَهُ، سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَمَنِ اتَّبَعَهُ .أّمَّا بَعْدَ.

Istilah Islam Nusantara beberapa waktu belakangan ini menjadi salah satu trending topic yang banyak dibicarakan oleh masyarakat. Setelah beberapa lama tidak lagi terlihat gaungnya di publik, istilah Islam Nusantara ini mencuat kembali setelah akhir-akhir ini ramai dikampanyekan lagi secara gencar oleh para pengusungnya.
Seperti dilansir http://www.bbc.com, dalam pembukaan acara Istighatsah menyambut Ramadhan dan pembukaan Munas Alim Ulama NU, Minggu 14 Juni 2015 silam, Ketua Umum PBNU Said Aqil Siradj mengatakan bahwa NU akan terus memperjuangkan dan mengawal model Islam Nusantara. “Yang paling berkewajiban mengawal Islam Nusantara adalah NU,” kata Said Aqil. Pada acara tersebut, Presiden Joko Widodo juga menyatakan dukungannya secara terbuka atas model Islam Nusantara. “Islam kita adalah Islam Nusantara. Islam yang penuh sopan santun, Islam yang penuh tata krama. Itulah Islam Nusantara, Islam yang penuh toleransi,” kata Jokowi.

Tak lama kemudian, istilah Islam Indonesia pun diangkat menjadi tema utama dalam Muktamar NU ke-33 di Jombang Jawa Timur pada tahun 2015 dengan tajuk “Meneguhkan Islam Nusantara untuk Peradaban Indonesia dan Dunia.” Namun di lain pihak, Islam Nusantara juga mengundang banyak sekali kritik dari berbagai kalangan. Banyak sekali kiai dan intelektual Islam yang menyatakan bahwa Islam Nusantara merupakan salah satu senjata baru kaum Liberal untuk memasarkan ide-ide liberalisme dan pluralisme di tengah-tengah masyarakat menggunakan istilah-istilah yang terlihat “toleran” dan “damai”.

Kenyataannya, dalam Muktamar Jombang terjadi kisruh, bahkan sampai adu jotos yang tidak pernah terjadi pada muktamar-muktamar sebelumnya. Bagaimana konsep ini yang katanya memberikan kedamaian untuk peradaban Indonesia dan Dunia, sementara di dalam tubuh NU saja sudah menimbulkan kisruh antar warga NU sendiri?!

Aroma Liberalisme-Pluralisme Islam Nusantara

Islam Nusantara sebenarnya gambaran Islam yang tidak perlu dipermasalahkan. Islam tahlilan, yasinan, ziarah kubur, tawassul, muludan dan lain sebagainya, inilah Islam Nusantara, sebuah tatanan yang sudah baku dan mengakar di tengah-tengah umat. Sebuah syari’at dan ajaran Islam yang dibawa para Walisongo untuk meng-Islamkan Nusantara.

Namun realita dan fakta di lapangan membuktikan sebaliknya, Islam Nusantara dibajak oleh kelompok Liberal untuk mengkampanyekan kebencian kepada arab. Di samping itu Islam Nusantara dijadikan kendaraan untuk melegitimasi ajaran-ajaran yang menyimpang, seperti Liberalisme, Pluralisme, Sekulerisme bahkan Komunisme.

Banyak tokoh IsNus menganggap ajaran Islam seperti cadar, jenggot hanya sebagai budaya arab, bahkan mereka menebar kebencian kepada para habaib. Ini bisa dibuktikan melalui video-video pernyataan nyeleneh para pengusung ide IsNus, seperti; Kyai Said Aqil Sirajd, Quraisy Shihab, Yahya Cholil Tsaquf, Ulil Abshar dan lain sebagainya. Islam Nusantara sebenarnya “wajah baru” dari proyek Liberalisasi Islam di Indonesia.
Melalui Islam Nusantara mereka mempromosikan Islam yang berkarakter Wasathiyyah atau moderasi Islam, Islam ramah dan toleran. Ada indikasi kuat bahwa itu hanya jargon belaka, karena yang dimaksud tawassuth atau moderasi Islam itu tidak ekstrem dan tidak liberal. Namun realitanya berbeda.

Dalam sebuah diskusi di Grup WA para pendukung IsNus mengatakan bahwa orang muslim menjaga Gereja saat Natalan itu boleh karena merupakan implementasi dari moderasi Islam. (Bukankah menjaga gereja itu sudah menjadi tugas aparat polisi atau TNI dalam hukum negara?! Lalu apa status Banser dalam negara ini?!). Masih menurut mereka, maraknya dangdutan dan orkesan merupakan hal yang biasa, bahkan sampai ada yang mengusulkan istilah “Dangdut Syar’i”. Padahal yang terjadi dalam pertunjukan dangdutan dan orkesan di sana ada penggunaan alatul malahi, ihthilat bainarrijal wannisa’, biduanita yang mengumbar aurat, pesta miras, narkoba dan sering terjadi tawuran, lebih-lebih ketika diadakan pada acara sedekah laut, sedekah bumi yang sebenarnya adalah proses ruwatan desa (tradisi lokal nusantara yang munkar karena identik dengan budaya syirik atau membuat sesajen). Pernyataan pendukung IsNus tersebut merupakan pendangkalan akidah, apalagi ini dilakukan oleh seorang tokoh, mestinya akan menjadi representasi dari Islam Nusantara yang dia promosikan.
Konsep Islam Wasathiyyah bisa menggelinding liar dan menimbulkan kerancuan pemahaman kalau dipisahkan dari keistimewaan-keistimewaan (Mumayyizat) Islam lainnya, seperti; Rabbaniyyah Ilahiyyah, Syumuliyyah, dan lainnya.

Saat ini beredar sebuah video pendek yang didalamnya mencatut nama Guru kami, As-Sayyid Muhammad Alawy al Maliky Rahimahullah terkait permasalahan Bank. Kami menyayangkan isi pernyataan dalam video tersebut, karena bisa memberi persepsi di masyarakat bahwa Guru kami menghalalkan Bank. Padahal sebaliknya, beliau dari masa mudanya mengharamkan Bank (bunga-bunganya). Lambat laun Guru kami seringkali mendapat kiriman dari ba’dlul aghniya’ berupa titipan harta zakat, sedekah untuk fuqara’ masakin atau berupa hadiah untuk pribadi beliau yang ditransfer lewat Bank. Karena kesibukan beliau, harta-harta tersebut kadang tidak langsung diambil sehingga ada bunga atas nama si pengirim atau dari awal memang sudah ada bunganya. Semua harta titipan ditasharrufkan sebagaimana mestinya. Selain hadiah khusus, harta diberikan kepada yang berhak setelah bunga dipisahkan lebih dahulu. Kemudian bunga Bank ditasharrufkan untuk selain urusan konsumsi, misalnya; ongkos pembayaran sedot Septy Tank, membeli bensin kendaraan, juga didonasikan untuk kepentingan-kepentingan umum, seperti; memasang batako jalan, membuat kamar mandi, WC, atau membayar pajak, melunasi hutang setelah si pemberi hutang rela dibayar dengan bunga Bank dan lain sebagainya. Karena Abuya Rahimahullah adalah sosok ulama ahli wira’i dan tawakkal, maka dari itu beliau tidak pernah punya rekening apalagi sampai menyimpan uang di Bank. Disamping itu beliau adalah sosok yang tangannya penuh barokah dan sangat dermawan, senang membagi-bagikan harta pribadinya dan ada sebagian yang beliau titipkan kepada aghniya’ (muslim Sunni Non-Wahabi) untuk dikelola kemudian hasilnya dibagikan kepada orang-orang yang membutuhkan.

Setelah munculnya konsep Islam Nusantara pasca Muktamar NU ke-33 di Jombang tersebut, entah mengapa muncul pula berbagai pernyataan dan kegiatan nyeleneh yang kesemuanya dinisbatkan kepada konsep Islam Nusantara. Diantaranya yang paling terkenal adalah pembacaan Al-Quran dengan langgam Jawa yang booming di tengah-tengah masyarakat hingga pernah dipraktikkan di istana kepresidenan pada 15 Mei 2015 silam, kurang lebih dua bulan sebelum Muktamar Jombang. Menanggapi hal ini, Quraisy Shihab sebagai salah satu pengusung Islam Nusantara berkomentar, “Nah, bagaimana dengan langgam atau nadanya? Hemat penulis, tidak ada ketentuan yang baku. Karena itu, misalnya, kita biasa mendengar qari dari Mesir membaca dengan cara yang berbeda dengan nada dan langgam qari’ dari Saudi atau Sudan. Atas dasar itu, apalah salahnya jika qari dari Indonesia membacanya dengan langgam yang berbeda selama ketentuan tajwidnya telah terpenuhi?”
Lanjutnya, “Memang ada riwayat yang dinisbahkan kepada Nabi SAW. yang menganjurkan agar al-Quran dibaca dengan langgam Arab. Konon beliau bersabda: Bacalah al-Quran dengan langgam Arab dan suara (cara pengucapan) mereka; jangan sekali-kali membacanya dengan langgam orang-orang fasiq dan dukun-dukun… Hadits tersebut kalaupun dinilai Shahih, maka itu bukan berarti bahwa langgam selain langgam Arab beliau larang.” (m.merdeka.com)

Tanggapan: Pernyataan Quraisy Shihab diatas perlu dianalisa dengan teliti.

Pertama, mengatakan bahwa tidak ada ketentuan baku dalam membaca Al-Quran adalah keliru. Rasulullah SAW melarang membaca Al-Qur’an dengan irama yang bisa mengubah panjang pendek huruf Al-Qur’an. Mengenai pembacaan Al-Qur’an dengan lagu yang tidak dikenal, irama atau cengkoknya yang melewati batas kebolehan, al Imam al Suyuthi dalam al Hawi Lil Fatawi Hal 241, Juz 1 beliau menghukumi haram kelas berat, seperti halnya pendapat Imam Nawawi dalam Kitab al Raudloh, Hal 227 Juz 11 dan Kitab al Tibyan, Hal 111 yang menyatakan hukum fasik bagi si pembaca.

Kedua, menggunakan langgam Jawa dalam Al-Quran merupakan Tasyabbuh dengan Ahlul Ahwa’ wal Fussaq. Jika al-Qur’an dibaca dengan langgam Jawa, tentu bacaan tersebut menyerupai ucapan dalang, sinden dan dukun kebatinan Jawa (kejawen) yang biasa menggunakan langgam jawa dalam tayub, sinden, pewayangan, dan paguyuban Jawa. Padahal Rasulullah SAW bersabda: “Barangsiapa yang menyerupai suatu kaum, maka dia termasuk golongan kaum tersebut”. (HR. Abu Dawud, Al-Baihaqi, Ahmad,dan Ibnu Hibban). Para ulama telah membahas tidak diperbolehkan menyerupai hal-hal yang sudah menjadi Syi’ar ahlul ahwa’ wal Fussaq. Lihat kitab Ihya’ Ulumuddin (juz 2 hlm. 305), Ithaf al-Saadah al-Muttaqin (Juz 7 hlm. 591-592) Fiqh al-Islam (Juz 5 hlm. 468) Is’ad al-Rafiq (Juz 2 hlm. 67). Maka keliru jika Quraisy Shihab mengatakan ulama tidak memberikan kaidah baku dalam membaca Al-Quran. Tidak hanya sekedar indah dan benar tajwidnya, namun juga harus mengikuti adab memuliakan Al-Quran.

Ketiga, langgam Jawa dalam membaca Al-Quran adalah tindakan tidak menghormati Al-Qur’an, karena diantara tata cara mengagungkannya adalah tidak membaca al-Qur’an dengan lagu-lagu orang fasiq. (lihat: Imam Al-Hakim At-Tirmidzi, Nawadir al-Ushul, juz 3 hlm. 255)

Keempat, mungkin sebagian orang akan mengatakan bahwa ada khilaf mengenai hukum langgam Jawa ini. Maka kami katakan bahwa tidak ada khilaf bagi kewajiban umat Islam untuk menghormati dan memuliakan Al-Quran, dan tidak ada khilaf pula keharaman melecehkan Al-Quran dengan berbagai cara. Selain itu, langgam Jawa ini adalah salah satu proyek liberalisasi Islam yang diusung oleh kaum liberal melalui jalur budaya untuk mengesankan bahwa Al-Quran saja bisa berakulturasi dengan budaya Jawa. Nanti ada pembacaan Al-Quran dengan langgam dangdut, pop, dan musik-musik lain seperti yang sedang mewabah pada pembacaan qasidah dan shalawatan akhir-akhir ini. Bahkan beberapa tahun terakhir ini sudah bertebaran peristiwa pembacaan Al-Quran dengan lagu gereja yang jelas-jelas melecehkan Islam. Na’udzubiLlahi min dzalika.(lihat:http://m.youtube.com/watch?CXetk4t_Ts0;http://m.youtube.com/watch?v=9XFHzbeLyjU; http://www.kabarmakkah.com/2015/01/video-nyata-satu-isi-gereja-baca-quran.html). Tentu sekarang Kaidah Dar’ul Mafasid Muqaddamun min Jalbil Mashalih sangat relevan diterapkan untuk menjaga akidah dan syari’at umat Islam agar tidak diobok-obok oleh musuh Islam.

Selanjutnya, di situs news.merahputih.com pada Rabu 8 Juli 2015 menurunkan berita berjudul Quraish Shihab Setuju Islam Nusantara. Dalam artikel tersebut Quraish Shihab mengatakan bahwa Islam Nusantara bukanlah agama yang baru. “Ini pemahaman ajaran agama yang dipengaruhi budaya.” Dia mengatakan, al-Qur’an harus dipahami sesuai dengan konteks budaya dan ilmu pengetahuan yang berkembang. Dia mencontohkan, kaum perempuan, baik dari Muhammadiyah maupun Nahdlatul Ulama, pada zaman dahulu tidak memakai jilbab karena menganggap kebaya adalah pakaian terhormat. “Kemudian, bisa jadi di negeri-negeri yang airnya kurang ulama-ulamanya membolehkan bertayammum saja,” sambung mantan Menteri Agama ini.

Tanggapan: Dari keterangan diatas, terlihat sekali bahwa Quraish Shihab berupaya menginjeksikan pendapatnya tentang jilbab adalah budaya bukan kewajiban agama dalam menerangkan tentang Islam Nusantara. Dia mengatakan bahwa jilbab termasuk pemahaman ajaran agama yang dipengaruhi budaya, yang berarti penggunaan jilbab dipengaruhi oleh tradisi masyarakat yang dapat selalu berubah hukumnya.
Padahal, ayat al-Qur’an sendiri sudah secara tegas (Nash Sharih) menyebutkan batas aurat wanita, yaitu seluruh tubuh, kecuali yang biasa tampak, yakni muka dan telapak tangan. Para ulama tidak berbeda pendapat tentang masalah ini. Yang berbeda adalah pada masalah: apakah wajah dan telapak tangan wajib ditutup? Sebagian mengatakan wajib menutup wajah, dan sebagian lain menyatakan, wajah boleh dibuka (lihat keterangan-keterangan ulama seperti Ibn Jauzy dalam al-Tashil li ‘Ulum al-Tanzil, Jalaluddin al-Suyuthi dalam al-Durr al-Mantsur, Ibn Katsir dalam Tafsir al-Quran al-‘Azhim, dan lain-lainnya). Tentu akan menjadi aneh jika Allah SWT membatasi aurat wanita kecuali muka dan telapak tangan, akan tetapi membolehkan kepala dan lekuk dadanya terbuka.

Kaum muslimin tentu masih belum lupa dengan pernyataan nyeleneh Ketua Umum PBNU Said Aqil Siradj yang tak lain adalah penggagas ide Islam Nusantara, dalam cuplikan videonya yang beredar di Youtube, dia menyatakan, “Orang berjenggot itu mengurangi kecerdasan. Semakin panjang, semakin goblok!”

Tanggapan: Ketika Said Aqil dituntut ramai-ramai untuk mempertanggungjawabkan ucapannya, Said Aqil berdalil bahwa Said Aqil Siradj malah membela mati-matian pendapatnya tersebut dengan mengklaim bahwa pernyataannya didukung oleh kitab-kitab ulama salaf. Salah satu yang sering dia jadikan senjata andalan adalah keterangan Ibn al-Jauzi dalam Akhbar al-Hamqa wa al-Mughaffalin yang menyatakan bahwa termasuk ‘alamat al-humqi (tanda-tanda orang bodoh) adalah thul al-lihyah (berjenggot panjang). (Juz 1 hlm. 29)

Padahal jika kita koreksi dengan teliti, kitab Akhbar al-Hamqa wa al-Mughaffalin tidak sah dijadikan refrensi hukum dalam permasalahan memanjangkan jenggot, karena kitab tersebut bukan kitab fiqih, kitab tafsir atau kitab hadits. Tapi hanya kitab yang menerangkan dongeng-dongeng, cerita-cerita lucu dan anekdot. sebagai contoh saja coba lihat ibarat ini ;
قَالَ الإِمَامُ ابْنُ الجَوْزِي سَمِعَ بَعْضُ المُغَفَّلِيْنَ أَنَّ صَوْمَ يَوْمِ عَاشُورَاء يَعْدِلُ صَوْمَ سَنَةٍ فَصَامَ اِلَى الظُّهْرِ وَأَكَلَ وَقَالَ يَكْفِيْنِي سِتَّةُ أَشْهُرٍ (أخبار الحمقى والمغفلين – (1 / 169)
Imam Ibnul Jauzi :”Ada orang bodoh mendengar bahwa puasa pada hari Asyura pahalanya menyamai puasa satu tahun penuh. Kemudian di hari Asyura dia berpuasa sampai waktu dhuhur saja seraya berdalih: “Pahala 6 bulan sudah cukup bagiku”.

Apakah layak ibarat kayak begini dijadikan tendensi?! Mungkin bisa saja dibenarkan isi-isi ceritanya, namun dari sudut pandang agama hal itu tidak boleh dibuat dalil hukum. Dan lagi, salah satu pijakan kitab tersebut dalam menghujat panjangnya jenggot adalah Kitab Taurat, padahal sudah maklum keberadaan Taurat sudah muharraf (terdistorsi) sehingga tidak mu’tabar.
Andaikan yang dicela Ibnu al-Jauzi dalam kitab tersebut adalah jenggot yang terlalu panjang (melebihi satu qabdlah) mungkin dapat dibenarkan menurut tinjauan fiqh, karena memang dalam permasalahan ini ada perkhilafan ulama. Sebab ada sebagian dari mereka yang berpendapat salah satu bentuk jenggot yang makruh adalah melebihi kadar satu qabdlah (panjang dan lebar satu genggaman). (Lihat: Al-Mulla Ali al-Qari, Mirqah al-Mafatih Syarh Misykah al-Mashabih, juz 13 hlm. 162; Alauddin al-Muttaqi al-Hindi, Kanz al-Ummal fi Sunan al-Aqwal wa al-Afal, juz 6 hlm. 652; al-Mubarakfuri, Tuhfah al-Ahwadzi, juz 8 hlm. 38). Akan tetapi dalam perspektif Aqidah Islamiyah, melecehkan jenggot panjang secara mutlak itu tidak benarkan, baik kadar panjangnya kurang dari satu qabdlah atau bahkan melebihi. Karena kitab-kitab Hadits dan Syamail menjelaskan bahwa Rasulullah SAW dan para shahabatnya berjenggot panjang atau Thawilul Lihyah (Qadli Iyadl, al-Syifa, Juz 1 hlm. 60; al-Tirmidzi, al-Syamail, Juz 1 hlm. 352; al-Thabarani, al-Mu’jam al-Kabir; Syu’ab al-Iman). Tapi tentunya tidak berlebihan seperti jenggot orang Salafi-Wahabi yang terlalu besar dan panjang.
Pernyataan Said Aqil Siradj sama sekali tidak bisa dibenarkan, karena ia secara tegas merendahkan jenggot panjang dan menyamaratakan semua bentuk jenggot adalah simbol kedunguan. Ini jelas pelecehan dan penghinaan terhadap pribadi Rasulullah SAW dan para shahabatnya serta perintah beliau kepada umatnya untuk memanjangkan jenggot. Seperti halnya pelecehan terhadap cadar yang ramai dilontarkan sebagian orang karena dianggap pakaian penjajah Arab dan teroris. Padahal menggunakan cadar ini adalah perintah nabi kepada istri-istrinya yang merupakan panutan umat Islam, malah dianggap pakaian teroris.

Ditengah acara Haul-Haflah Akhirussanah, Madrasah Hidayatul Mubtadiin di Lirboyo Kediri, Said Agil mengeluarkan pernyataan yang tidak pantas, menghina ulama dan habaib. Dalam pidatonya dia mengatakan, kalau ada ulama dari arab sering ke Indonesia (disebut dengan bahasa kluyar kluyur) berarti itu cuma guru ibtidaiyyah (dengan nada menghina). Begitu pula saat ada kunjungan ke kantor PBNU, Said Agil berbicara dengan bahasa Arab berusaha menjelaskan kepada Syekh Ahmad Thayyib tentang apa itu Islam Nusantara. Dia bilang bahwa Islam Nusantara adalah Islam orang nusantara Indonesia, Malaysia, Brunei yang penuh toleransi anti ektrimisme dan radikal, tidak sama dengan Islam Arab. Naudzubillah min dzalik.

Tanggapan; Memang rata-rata orang melayu berkepribadian kalem dan mudah toleran, sedangkan sebagian orang arab katanya berwatak keras. Menurut kami ini hanyalah rekayasa publik saja. Karena sebagian orang melayu itu juga berjiwa tegas, patriot, pemberani dan dalam ajaran Islam dan akhlak orang arab ternyata ada sifat-sifat murah hati seperti; Hilm, Badzl, Juud, Shabr banyak dimiliki oleh orang-orang arab, apalagi daerah Yaman yang terkenal dengan pribadi-pribadi para Saadah, Asyraf yang santun. Dengan ini maka tidak dibenarkan menganggap bahwa ajaran Nabi Muhammad SAW itu khusus untuk orang arab, sementara orang nusantara punya islamnya sendiri. Anggapan seperti ini jelas sesat menyesatkan, karena syariat Baginda Nabi SAW berlaku untuk semua bangsa dan sepanjang zaman.

Jadi orang Nusantara baik dari Indonesia, Malaysia, Brunei dan negara-negara serumpun melayu Islamnya tetap sama dengan Islam orang arab bahkan dengan islam bangsa manapun. Bagi mereka tidak ada perbedaan dalam praktek ibadah, seperti; Shalat menghadap Qiblat, puasa, zakat, haji ke Mekkah dan lain sebagainya. Andaikan berbeda paling dalam permasalahan yang bukan prinsipil (furu’iyyah), seperti; membaca Do’a Qunut Shalat Shubuh, membaca Ushalli, Qira’ah Alal Mauta Washshadaqah Anhum, Tawassul Bishshalihin, membaca Qishsah Maulidil Rasul SAW dan lain-lain yang bukan termasuk perkara wajib (Walaupun tidak wajib, namun sangat berguna sebagai ajang memberi banyak nasihat kepada umat Islam dan terjalin kerukunan dan keguyuban, serta untuk menumbuhkan rasa mahabbah kepada baginda Nabi Muhammad SAW). Boleh berbeda, asalkan jangan sampai mengkafirkan para pelaku amal-amal tersebut, karena itu sangat berbahaya sekali. Adapun perbedaan yang wajar dan diterima itu mengenai watak(tabiat), adat-adat lokal, dialek, bahasa, makanan khas, serta cara berpakaian (orang awam biasa berpakaian menurut apa yang mereka senangi, sementara kalangan santri lebih senang dengan penampilan putih polos, bersarung, lalu berpeci hitam bagi yang belum haji dan kopyah putih bagi yang sudah haji, sehingga lebih dekat dengan Sunnah Rasul).
Selain itu, Said Aqil dalam bukunya berjudul Tasawwuf sebagai Kritik Sosial, Mengedepankan Islam sebagai Inspirasi bukan Aspirasi (hal: 84) menulis, ”Syiah, Mutazilah, Asyariyah dan al-Maturidiyah adalah Ahlussunnah wal jamaah.” Masih dalam bukunya tersebut, Said Aqil menafikan Ukhuwah Islamiyah, dan mengatakan yang penting Ukhuwah Imaniyah, seperti Umat Islam, Konghucu dan Budha, dia menambahkan bahwa al-Quran tidak menekankan Ukhuwah Islamiyah. Ini kalau bukan liberalisme dan pluralisme apalagi namanya?

Menariknya, dalam pembukaan Muktamar Jam’iyyah Ahlit Thariqah An-Nahdhiyah di Ponpes al-Munawariyah Malang (Rabu, 10 Januari 2012) Said Aqil pernah mengatakan Islam Nusantara berakar dari ajaran “tauhid” Hindu-Budha. Menurutnya, dahulu orang Jawa sudah mengenal tauhid, hanya saja belum bernama Islam. Ajaran tauhid mereka saat itu bernama Kapitayan. Tuhan mereka yang satu ini dibantu oleh Sembilan penjaga penjuru, mirip dengan sembilan bintang yang ada di logo NU. Karena kemiripan inilah maka Mbah Hasyim Asy’ari menggunakan sembilan bintang dalam logo Nahdlatul Ulama. Ahlussunnah wa Jama’ah didefinisikan Said Aqil saat itu dengan “Pengikut Sunnah Nabi dan peduli Jama’ah (masyarakat seluruhnya). (www.nugarislurus.com).
Ingin tahu lebih lengkap tentang pemikiran-pemikiran Said Aqil Siraj, silahkan baca buku “Membuka Kedok Tokoh-Tokoh Liberal Dalam Tubuh NU”, buku kami yang kira-kira dua bulan terakhir ini dicekal di Lirboyo.

Termasuk pengusung utama ide Islam Nusantara adalah dedengkot Jaringan Islam Liberal (JIL) Ulil Abshar Abdalla. Saat menjadi narasumber pada Studium General Stain Kudus (1 September 2015), ia mengatakan bahwa ciri Islam Nusantara yang disebutkan Ulil adalah tidak menganggap perempuan sebagai makhluk domestik (rumahan). Jadi kewajiban perempuan harus selalu berada di rumah adalah karena faktor budaya Arab yang menganggap wanita sebagai makhluk domestik. Menurutnya, ada ciri khas Islam Nusantara yang menarik dan berbeda dengan Islam di kawasan Arab, yakni perempuan di Indonesia memiliki peran di ruang publik dan tidak dianggap sebagai makhluk rumahan.

Tanggapan: Pernyataan Ulil yang bernada merendahkan terhadap posisi wanita mengurusi tugas-tugas domestik ini sangat jelas pengaruh feminisnya dan bertentangan dengan perintah Allah dan Rasulullah SAW. Firman Allah Ta’ala:

وَقَرْنَ فِي بُيُوتِكُنَّ وَلَا تَبَرَّجْنَ تَبَرُّجَ الْجَاهِلِيَّةِ الْأُولَى [الأحزاب : 33]

Dan menetaplah di rumah kalian, dan jangan mencari perhatian ketika berjalan diantara laki-laki seperti yang dilakukan oleh orang-orang Jahiliyyah terdahulu. (QS Al-Ahzab:33)

Batasan-batasan Islam yang diterapkan terhadap perempuan tentunya bukan bertujuan untuk mengekang kebebasan perempuan, melainkan untuk menjaga kehormatan dan kesucian perempuan itu sendiri. Inilah yang membuat Islam berbeda dengan budaya Barat yang menganggap perempuan sebagai materi yang bisa dieksploitasi dan dijadikan alat pemuas hawa nafsu laki-laki. Dan sekali lagi, bahwa larangan keluar bagi wanita itu bukan karena “Budaya Arab” seperti yang dituduhkan Ulil! Karena telah banyak hadits yang menjelaskan hal tersebut.
عَنْ عَبْدِ اللهِ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى الله عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ قَالَ : إِنَّ المَرْأَةَ عَوْرَةٌ فَإِذَا خَرَجَتْ اسْتَشْرَفَهَا الشَّيْطَانُ وَ أَقْرَبُ مَا تَكُوْنُ مِنْ وَجْهِ رَبِّهَا وَ هِيَ فِي قَعْرِ بَيْتِهَا.
Dari Abdullah, dari Nabi SAW bersabda; “Sesungguhnya wanita itu adalah aurat. Jika ia keluar rumah, maka setan akan menyambutnya. Dan tempat paling dekat bagi wanita dari wajah Tuhannya adalah ketika ia di dalam rumahnya”.
عَنْ عَبْدِ اللهِ بِنْ سُوَيْد الأَنْصَارِي عَنْ عَمَّتِهِ أُمِّ حُمَيْدٍ امْرَأَةِ أَبِي حُمَيْدٍ السَّاعِدِيِّ أَنَّهَا جَاءَتْ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ فَقَالَتْ : يَا رَسُوْلَ اللهِ إِنِّي أُحِبُّ الصَّلَاةَ مَعَكَ قَالَ رَسُولَ الله : قَدْ عَلِمْتُ أَنَّكِ تُحِبِّينَ الصَّلاَةَ مَعِيَ ، فَصَلاَتُكِ فِي بَيْتِكِ خَيْرٌ مِنْ صَلاَتِكِ فِي حُجْرَتِكِ ، وَصَلاَتُكِ فِي حُجْرَتِكِ خَيْرٌ مِنْ صَلاَتِكِ فِي دَارِكِ ، وَصَلاَتُكِ فِي دَارِكِ خَيْرٌ مِنْ صَلاَتِكِ فِي مَسْجِدِ قَوْمِكِ ، وَصَلاَتُكِ فِي مَسْجِدِ قَوْمِكِ خَيْرٌ مِنْ صَلاَتِكِ فِي مَسْجِدِي
Dari abdullah bin Suwaid al Anshari dari bibinya Ummi Humaid, istri Abu Humaid Assa’idi, bahwa beliau datang kepada Nabi SAW lalu berkata; “Wahai Rasulullah aku senang shalat berjamaah denganmu”. Rasulullah bersabda; “Aku sudah tahu kalau kau senang shalat bersamaku, akan tetapi shalat di kamarmu itu lebih baik daripada diluar kamar, dan diluar kamar itu lebih baik daripada diluar rumah, dan diluar rumah itu lebih baik daripada di masjid kaummu, dan dimasjid kaummu itu lebih baik daripada di masjidku”.

Salah satu pengusung IsNus (Islam Nusantara) lain, yaitu Katib ‘Am PBNU Yahya Cholil Tsaquf juga banyak mengeluarkan statemen buruk dan berbau rasis (anti etnis arab), bahkan menolak syariat dengan mengatasnamakan IsNus. Dia pernah mengatakan, “Islam Nusantara adalah Islam yang sejati, bukan Islam abal-abal model Timur Tengah.” Dia juga yang menggegerkan umat Islam Indonesia karena mendatangi undangan ke Israel pada 10 Juni 2018 kemarin dan berpidato di depan PM Israel Benjamin Netanyahu, “Kita berdiri bersama Israel, dan berdiri membela kebenaran.” Dia juga menyarankan dalam pidatonya tersebut bahwa Al-Quran adalah dokumen sejarah yang harus ditafsir ulang terutama tentang Yahudi. Dia juga pernah menghina al Habib Umar bin Hafidz dan para habaib Hadlramaut lain yang gemar rihlah ke Indonesia. Tulisnya dalam akun facebook; “mbah ndoro, panjenengan meniko saenipun mboten asring-asring tindak ngriki……………kejawi menawi panjenengan ngersaaken ngaos, monggo kulo aturi mapan dateng langgar. Kulo tak toto-toto rumiyen, mangke kulo wucal sak cekapipun”. Na’udzu billahi min dzalik.

Padahal tujuan mereka datang itu berdakwah dan nasyrulilmi, serta menggalang persatuan agar umat Islam Indonesia tidak terkena konflik seperti di Timur Tengah. Bahkan harusnya kita berterima kasih atas pembelajaran Islam dan budi pekerti oleh kakek buyut mereka di masa silam. Menurut tokoh Sejarawan, pendalaman ilmu kanuragan atau kejadugan menjadi bukti bahwa orang jawa punya watak “emoh ngalah”, bahkan istilah “ngalah” atau orang mau mengalah saja dulunya tidak pernah ada. Lalu kemudian Walisongo datang berdakwah menyampaikan ajaran Islam dengan cara-cara halus dan lembut. Sehingga bisa dipastikan para walisongo keturunan Yaman inilah yang mentulari sifat-sifat aris, welas, santun dan ramah kepada masyarakat jawa.

Gus Nuril, dedengkot pegiat Islam Nusantara yang dikenal sebagai tokoh lintas agama ini sering mengisi acara atau kegiatan rohani di Gereja, Klenteng Cina, Vihara atau tempat ibadah non-muslim lainnya. Banyak video yang beredar mengenai kontroversi dirinya, diantaranya dia menyatakan bahwa Nabi Adam AS dilahirkan di pulau jawa karena menurut keyakinannya Jawa adalah pusat peradaban masa lampau dan surganya dunia. Dia adalah gembong Liberalis, Pluralis, Sekuleris yang mengikuti jejak pendahulunya, Gus Dur. Makanya dia membela mati-matian Ahmadiyah, mengangkat si penista agama (Ahok) sebagai santri kehormatan, memberikan ceramah Natal sambil membaca shalawat kepada Nabi Muhammad SAW di Gereja Bethany Tayu, Pati, menghina habaib dan ulama dan lain sebagainya. Lihat! https://www.youtube.com/watch?v=7VOTpOD5BQg&app=desktop). https://www.youtube.com/watch?v=4J5irUZYVE&app=dekstop.

Gus Muwafiq, mantan asisten pribadi Gus Dur saat masih menjabat sebagai presiden. Dia mengatakan bahwa Islam yang ada di Indonesia jelas berbeda dengan Islam yang ada di negara lain. Menurutnya, Islam Indonesia sudah merupakan akulturasi ajaran substansial Islam dengan budaya kejayaan Nusantara.https;//duta.co
Juga beredar video tentang cara shalat para penganut Islam Nusantara. Rekaman yang berisi praktek shalat jamaah berbahasa indonesia yang disaksikan oleh anak-anak kecil, kemudian ada juga sekelompok anak kecil sedang shalat dengan imamnya membaca bahasa indonesia. Lihat! https://www.youtube/PwWHkQwoLz0. Astagfirullah.
Dan masih banyak lagi keanehan-keanehan dan kejahatan-kejahatan terhadap agama yang disusun kaum Liberal begitu rapi dan dilontarkan kesana-kemari dengan mengatasnamakan Islam Nusantara. Maka tidak mengherankan jika MUI Sum-Bar mengeluarkan fatwa yang menolak istilah Islam Nusantara yang dinilai sarat kepentingan perusakan ajaran Islam, dimana MUI Pusat saat ini masih membiarkan istilah ini berkeliaran kemana-mana.

Penutup

Persoalannya bukan terletak pada Islam Nusantara sebagai sebuah “nama” dan “definisi”. Sebab jika yang kita perdebatkan hari ini hanya sekadar soal nama, maka betapa bodohnya kita, meributkan apa yang telah ada dan dipakai sejak puluhan tahun yang silam. Jadi bagaimanapun, di sini mesti ditegaskan bahwa kontroversi Islam Nusantara yang terjadi hari ini terletak pada muatan atau isi yang diboncengkan oleh kalangan tertentu kepada nama “Islam Nusantara” itu sendiri. Karena itu, mau berganti nama berapa kali pun, jika isinya tetap sama, ia tetap akan kontroversial juga.

Isi dan muatan yang dimaksudkan itu tak lain adalah nilai-nilai di luar Ahlusunah wal-Jamaah, dalam hal ini adalah paham liberalisme, yang berusaha disusupkan ke dalam umat Islam di Indonesia melalui Islam Nusantara sebagai topengnya. Makanya, sejak zaman dahulu nama Islam Nusantara, atau Islam di Nusantara, atau Ulama Nusantara itu memang sudah ada tapi tidak menimbulkan reaksi dan kontroversi, karena memang tak digunakan untuk memasarkan paham-paham liberal.

Namun sejak muncul sejumlah tokoh yang merendahkan Arab dan segenap budayanya, menghina para habaib dari Arab yang rajin berdakwah di Indonesia, begitu mudah mempermainkan ajaran-ajaran syariat Islam, mengatakan cadar bukan ajaran Ahlusunah wal-Jamaah, menuduh Islam Arab sebagai Islam abal-abal, yang semua itu dengan mengatasnamakan Islam Nusantara, reaksi dan penolakan pun tak terelakkan. Sekali lagi, bukan menolak Islam Nusantara sebatas sebagai nama atau definisi, namun dikarenakan muatan-muatannya (yaitu ridlo kepada kufur, bid’ah dan kebusukan hati kepada baginda Nabi Muhammad SAW, ahlul bait dan para sahabat yang notabene berbangsa arab).

Sebagai tambahan untuk bahayanya Islam Nusantara. Setelah KH.Ma’ruf Amin menerima IsNus beberapa dampak negatif terjadi, diantaranya;
1. Syariat Islam yang dicaci, dihina dan direndahkan oleh musuh-musuhnya tidak lagi dibela.
2. Banyak kasus penodaan agama tapi tidak ada reaksi tegas dari MUI Pusat, seperti; Megawati yang dalam pidato acara Hut PDIP ke-44 menganggap hari kiamat sebatas ramalan belaka serta Sukmawati yang melecehkan ajaran Islam dalam bait-bait puisinya; “Kidung ibu Indonesia sangatlah elok, lebih merdu dari alunan adzanmu”. Tidak ketinggalan puisi karya seorang “Gus” yang berbunyi; “Kau bilang Tuhan sangat dekat namun kau sendiri memanggilnya dengan pengeras suara setiap saat”. Dan bukannya menindak, beliau Ketua MUI malah mengatakan; “Puisi itu sejatinya hanya fikiran seorang seniman atau budayawan yang bebas mengekspresikan pikiran tanpa memikirkan akibatnya ketika didengarkan pihak lain”. Makanya tidak heran begitu mudahnya beliau menerima maaf bahkan mengajak umat Islam untuk memaafkan Sukmawati. Dan anehnya lagi, bunyi bait puisi “Aku Harus Bagaimana”. Bukankah panggilan adzan diperuntukkan bagi kaum muslim agar segera datang shalat berjamaah, bukannya untuk Tuhan. Darimanakah dia mendapat pemahaman nyeleneh ini? Mendewakan imajinasi, melupakan hukum syar’i.
3. Fatwa MUI melemah. Tidak ada reaksi keras terhadap program pemerintah tentang Vaksin MR yang mengandung Khinzir. Malahan ada fatwa membolehkan Vaksin Enzim Babi ini dikonsumsi dengan alasan dlarurat. Padahal tidak ada dlarurat, buktinya saja di negara Amerika atau Barat dan negara-negara kafir lain tidak ada vaksin ini. Bahkan dalam Vaksin MR terdapat double madlarrat kelas berat, yaitu; berbahaya segi agama dan segi kesehatan.
4. Lembeknya perhatian atau reaksi terhadap wacana akan diundang-undangkannya penertiban adzan ditiap masjid dan mushala.
5. NU kelihatan “melempem”. Padahal semangat Fastabiqul Khairat dan gambar bintang sembilan yang menjadi simbol gerakan dakwah walisongo yang semuanya bermadzhab Sunny Syafi’i, semestinya organisasi ini tidak boleh kalah dari Muhammadiyyah, serta harus punya Ghirah Islamiyyah dan jiwa beramar ma’ruf nahi munkar yang kuat, bukan malah mengikuti ajaran Wahdatul Adyan atau Wahdatul Wujudnya Siti Jenar (yang Syi’i Batiniy), seperti yang dilakukan Gus Dur dan para penerusnya.
6. Dulu KH. Ma’ruf Amin berfatwa untuk tidak memilih pemimpin yang suka ingkar janji. Tapi sekarang setelah “dijongkrokno” (dijerumuskan) oleh Muhaimin Iskandar, Said Aqil, Romahurmuzi dan kawan-kawannya, beliau berubah haluan bahkan membuntuti Jokowi sebagai calon wakil presiden. Padahal dibalik itu, yang paling banyak dapat keuntungan kontrak politik dengan cukong dan bos-bosnya adalah para penjerumus beliau itu. Dan sangat disesalkan ketika Rais Am ikut meramaikan panggung politik Indonesia. Padahal ormas NU mengaku sudah lepas dari politik praktis, maka seharusnya tokoh besar organisasi yang bergerak dalam bidang keagamaan ini tidak ikut pencalonan dalam Pilpres 2019. Parahnya lagi beliau adalah Mufti tertinggi (ketua MUI Pusat) di negeri ini, tidak mau melepaskan jabatan MUI-nya tetap ikut nyalon sebagai Wapres. Justru ini menunjukkan besarnya ambisi kekuasaan, sehingga menjadikan fatwa-fatwanya terasa basi karena ditekan atau dikendalikan penguasa dan akhirnya dianggap angin lalu belaka.
7. Dalam pidato KH. Ma’ruf Amin pada acara orientasi caleg Partai Nasdem di hotel Mercure, Ancol Jakarta, beliau menyuarakan untuk bersama-sama memantapkan Islam Nusantara. Menurut kami, jelas ini membuktikan bahwa IsNus juga menjadi bagian dari proyek Jokowi, oleh karena itu pada Pilpres mendatang muslim Aswaja harus super waspada.
8. Masih dalam pidato beliau; “Pancasila adalah hasil kesepakatan…., begitu juga Islam di Nusantara adalah Islam beserta kesepakatan”. Sebenarnya itu hasil kesepakatan antara siapa dengan siapa? Kalau itu Pancasila yang berpijak pada Ideology Pluralisme agama, maka umat Islam tidak boleh diam saja. Kemudian kesepakatan seperti apakah ini? Karena Islam bukanlah agama hasil kesepakatan. Innaddina ‘Indallah hanyalah agama yang dibawa Rasulullah SAW, sementara di Indonesia yang terjadi hanya kesepakatan oknum umatnya. Namun dalam realitanya, banyak umat Islam pasrah saat agama mereka dilecehkan, martabat mereka diinjak-injak dan berdamai dengan non-muslim karena merasa tidak berdaya. Jadi apakah yang dimaksud kesepakatan itu berarti ketertindasan atau keterpaksaan?! persis dengan kata NKRI yang oleh sebagian orang diplesetkan; Negara Komunis/Kristen/Konghucu Republik Indonesia. Jika memang begitu adanya, maka IsNus mutlak harus ditolak karena tidak sesuai dengan Izzul Islam Wal Muslimin. Dan hasil kesepakatan ketika dinodai orang-orang kafir atau munafik bukankah seharusnya dibatalkan, sebagaimana pembatalan Suluh Hudaibiyyah karena diciderai kafir Quraisy yang kemudian membawa Rasulullah SAW meraih Fathu Makkah.

Statemen-statemen kami ini bukan berarti mengajak adu perang fisik atau sedang berkampanye politik untuk pasangan PAS. Akan tetapi semata hanya kampanye perang ideologi atau dakwah pada Ghirah Islamiyyah dan semangat Amar Ma’ruf Nahi Munkar. Adapun pilihan politik kami jatuh pada pasangan PAS dengan pertimbangan rasa agak nyaman dalam ideologi memperjuangkan dan melestarikan Akidah Ahlussunnah wal Jamaah bersama tokoh-tokoh Aswaja garis lurus, seperti; al Habib Dr. Ahmad bin Abdullah al Kaff beserta dua saudaranya; al Habib Hamid al Kaff dan al Habib Zainal Abidin al Kaff, KH. Abdul Rasyid Syafii, KH. Idrus Ramli, KH. Lutfi Bashori, KH. Ali Karrar, KH. Abdusshomad (Surabaya), KH. Syukron Ma’mun, Kyai Arifin Ilham, Tengku Dzul Qurnain, Ustad Abdusshomad (Riau), para habaib dan ulama-ulama yang lain. Sangat patut disayangkan (menurut kita santri Aswaja), dalam kubu ini terdapat beberapa aktifis Salafi-Wahabi dan Muhammadiyah, tapi ini lebih mending daripada mendukung pasangan lain yang tampak penuh kepentingan asing, aseng cina, Komunis, Salibis, pendukung LGBT, Feminisme, Ahoker, Syiah Rafidhah, Liberalis, Pluralis, Sekuleris.

Walhasil, Konsep Islam Nusantara memaksa untuk mengakui Pancasila dan Budaya Nusantara sebagai sumber hukum selain al Qur’an dan al Hadits. Islam Nusantara sangat menyesatkan karena ingin menjauhkan kaum muslimin dari sumbernya langsung; al Qur’an, al Hadits dan pemahaman-pemahaman agama dalam Kitab Turats yang Mu’tabarah. Rasulullah SAW adalah orang arab, para shahabat, tabi’in dan tabi’it tabi’in dominan orang arab. Ketika propaganda untuk membenci arab disebarluaskan, maka hakikatnya adalah memutus jalur sanad sehingga ilmu akan hilang. Sebagaimana orang-orang Syiah yang hanya berdalil dengan yang sampai kepada imam mereka. Urusan khilafiyah dengan Salafi-Wahabi dalam kelompok PAS memang tidak bisa dihentikan, apalagi dimatikan, seperti halnya arah pergerakan IsNus. Namun insyallah dengan berkah walisongo, pesantren dan para habaib tradisi Ahlussunnah kita akan tetap berjalan dan tidak bisa dipengaruhi oleh mereka. Kewajiban kita adalah melestarikan ngaji-ngaji kitab salaf di pesantren, madrasah diniyah, majelis taklim di masjid-mushalla, serta menjaga amaliah & tradisi Ahlussunnah Wal Jamaah di masyarakat kita masing-masing. Tidak kalah penting dalam lingkup keluarga, kita harus mengamalkan “Quu anfusakum wa ahlikum naara”; menjaga, mentarbiyah anak-anak secara Islami serta menghindarkan seluruh anggota keluarga dari perkara maksiyat, pergaulan bebas, Pornografi, Pornoaksi, Virus LGBT, Anak Punk, pengamen jalanan, Grub Band, Fanatisme superter bola, tindakan brutal remaja, Gangster dan lain-lain, lebih-lebih mengkonsumsi makanan haram.

Pesantren yang merupakan lembaga pendidikan tertua di Indonesia bahkan Nusantara, menjadi benteng terkuat saat menghadapi penjajah mulai dari bangsa Portugis, Belanda, Jepang, Sekutu sampai Komunis Atheis, sudah saatnya berbenah diri dengan kembali keajaran para pendahulu Salafunashshalih; menata hati dan niat, mengobarkan semangat amar Ma’ruf Nahi Munkar dan Ghirah Islamiyyah agar terhindar dari Radikalisme dan Terorisme, tidak terseret dalam Westernisasi seperti; pergaulan bebas, pacaran, sex bebas, miras, narkoba, LGBT, Pornoaksi, Pornografi, Feminisme, mendewakan HAM, serta tidak terjebak dalam Liberalisme, Pluralisme, Sekulerisme (dalam gerbong NU) yang hakikatnya mengajak pada ajaran Komunisme.

Jadi, pengembangan dan pengelolaan pesantren tidak boleh tercurahkan dalam urusan bangunan fisik saja, sehingga menggalang dana dimana-mana atau hanya memperbanyak jumlah santri dengan berbagai macam promosinya. Dan pihak pemerintah, seharusnya bersyukur dengan keberadaan pesantren, selalu mendukung segala kiprah perjuangannya dan memasukkan lembaga pesantren, Madrasah Diniyah ke dalam Undang-Undang. Begitu juga elemen masyarakat, rasa syukur harus diwujudkan dengan menitipkan anak-anak mereka dibenteng paling kokoh dalam mempertahanankan Akidah Ahlussunnah Wal Jamaah ini.
Semoga Allah menjauhkan kaum muslimin dari faham-faham sesat, serta menetapkan mereka dalam agama Islam yang sunni (kaffah) yang dibawa oleh orang-orang arab; dari Rasulullah SAW, para sahabat, tabiin kemudian sampai kepada kita lewat walisongo, para habaib dan masyayikh berketurunan arab. Amin.

Sarang, 1 Oktober 2018

KH. MUHAMMAD NAJIH MAIMOEN

Kajian Ilmiah, Karya Syaikh Najih Versi Indonesia

Seminar Kebangsaan di PP. Sidogiri, Syaikhina KH. M. Najih Maimoen: Ketika Kiai dan Santri Ikhlas Berkiprah Pasti Ada Barokahnya

Pada hari Kamis kemarin tepatnya tanggal 16 Sya’ban 1439 H/2 Mei 2018 H, Syaikhina Muhammad Najih untuk kesekian kalinya diundang oleh Pondok Pesantren Sidogiri untuk menjadi narasumber dalam acara seminar yang diselenggarakan oleh panitia. Kali ini beliau diundang dalam acara Daurah Kebangsaan bertajuk “Revitalisasi Ghirah Islamiyah-Wathoniyah” yang bertempat di aula sekretariat PP Sidogiri. Acara ini merupakan salah satu rangkaian acara dalam rangka Hari Ulang Tahun PP Sidogiri ke-281 dan Ikhtibar Madrasah Miftahul Ulum ke-82. Selain Abah Najih, tokoh lainnya yang diundang sebagai narasumber adalah Prof. Ahmad Mansur Suryanegara rektor Universitas Padjajaran sekaligus penulis buku sejarah monumental “Api Sejarah” yang ramai menjadi bahan perbincangan baru karena memuat banyak fakta dan penafsiran sejarah tentang perjuangan ulama dan santri dalam mengembangkan Islam di Nusantara mulai zaman kerajaan Islam hingga masa kemerdekaan dan modern di Indonesia.

Dalam daurah kebangsaan tersebut, Syaikhina Najih banyak menambahi dan melanjutkan perbincangan tentang sejarah ulama dan santri yang berkiprah dalam sejarah mencapai dan mempertahankan kemerdekaan Indonesia yang telah disampaikan terlebih dahulu oleh Profesor Mansur. Berikut kutipan kuliah beliau berdurasi kurang lebih satu setengah jam tersebut:

Ulama yang Memperjuangkan Indonesia sudah Puncak

“Walhasil, dari tulisan yang saya konsepkan itu, bahwa kami atau saya Muhammad Najih punya asumsi atau pemikiran bahwa para ulama yang mempertahankan Indonesia dan kemerdekaan Indonesia ini adalah ulama-ulama yang menurut saya sudah puncak baik keilmuannya, kearifannya, kewirainya, dst. Disana ada Hadlratus Syaikh Hasyim Asy’ari. Ini merupakan ulama besar dan mutakharrij (alumni) pondok-pondok atau kiai-kiai besar, wa bil khusus KH Kholil Bangkalan. Ketika di Makkah Mukarramah beliau juga mengaji pada masyayikh besar. Sebelum KH Hasyim Asy’ari ada Kiai Nawawi Banten yang juga murid KH Kholil Bangkalan. Ini semuanya memperjuangkan untuk kemerdekaan, artinya mengusir Belanda dengan cara masing-masing. Kalau Kiai Nawawi dengan kitabnya yang penuh dengan Ghirah Islamiyah Imaniyah, yakni bughdl (benci) kepada kufur. Sedangkan Kiai Kholil dengan mengajar dan mengisi pondok pesantren dengan ngajar atau ngaji yang salaf dan jauh dari ilmu umum dan sekolah, dst. Namun juga ada yang masuk ke pemerintahan, ada yang sekolah umum seperti Muhammad Hatta. Muhammad Hatta itu putranya seorang alim, lalu belajar di sekolah Belanda. Mr. Muhammad Roem juga santri tapi belajar atau sekolah di Belanda, dan menurut saya orang yang berjasa adalah Mr. Roem itu.
Saya pernah membaca sejarah, entah di buku Api Sejarah ini ada atau tidak, bahwa Pancasila adalah buatan orang macam-macam, tapi yang pokok yang saya tahu itu dari Soekarno. Dia menggali dari seorang pengarang dari zaman Majapahit. Pancasila sudah ada zaman Majapahit. Jadi konsepnya Pak Karno itu bukan “Ketuhahan yang Maha Esa” tapi “Peri Ketuhanan”, “Peri Kemanusiaan”, “Peri Keadilan”, dst. Hanya “Pri Ketuhanan”, yakni maksudnya bangsa Indonesia itu punya tuhan, tapi yang dari Hindu Budha ketuhanan aslinya yang punya tuhan, entah itu Allah Ta’ala atau yang lainnya. Yang penting ada tuhannya. Dan memang tuhan terbesar itu Allah. Sang Hyang Widhi dalam bahasa mereka. Jadi asalnya hanya “Pri Ketuhanan”, lalu oleh Mr. Muhammad Roem ditambah “Yang Maha Esa” yang bermakna tauhid. Andaikan tidak ada Mr. Roem maka mungkin hanya “Pri Ketuhanan” atau “Ketuhanan”, belum sampai tauhid. Dia asalnya dari Pekalongan, dan Pekalongan itu terkenal kota santri.

Pancasila Tidak Mungkin Komunis

Saya baca juga di facebook entah tulisannya siapa, dia merangkum pidatonya Gus Dur mulai akhir 80-an atau awal 90-an ketika awal dia jadi ketua PBNU. Disitu ada pernyataan, saya perhatikan, bahwa Pancasila adalah kompromi dari beberapa ideologi. Ada Islam, kapitalis, sosialis, dan komunis. Jadi keadilan sosial itu adalah ideologi komunis, sosialis, atau sak bangsane itu.
Akan tetapi walau begitu, kita harus bersyukur bahwa yang ikut menunggu panitia kemerdekaan yang membahas asas-asas negara seperti yang disebut Pak Mansur tadi adalah seperti Wahid Hasyim, Ki Bagus Hadikusumo dari Muhammadiyah, dst. Artinya dari kiai. Perwakilan Kristen hanya ada satu. Sesuatu yang melibatkan ulama atau kiai menurut persepsi kita kaum santri atau bahasa sekarang kaum nahdliyyin itu pasti ada baiknya, tidak mungkin sesat. La tajtami’u ummati ‘ala dlalalah (umatku tidak akan sepakat dalam kesesatan). Walaupun disitu campur ideologi, namun ulama kita mesti mentakwil atau punya takwilan ke Islam. Artinya tidak mungkin memaknai “Keadilan Sosial bagi Seluruh Rakyat Indonesia” dengan sistem komunis. Manusia tidak punya hak milik, semua milik negara atau pemerintah. Kekayaan miliki pemerintah. Ini gak mungkin, kan? Mereka adalah orang yang baca kitab Fathul Qarib, Fathul Mu’in, dan Fathul Wahhab. Masa’ menafikan milkiyyatul afrad (kepemilikan pribadi)? Ini hal yang mustahil. Konsep komunis dan sosialis itu gak mungkin, itu permainan dari yang punya konsep. Kepemilikan mau dihilangkan itu gimana? Tapi memang Islam tidak senang dengan monopoli, ketidakpedulian dengan rakyat, dan tidak mau membayar zakat. Jadi keadilan sosial itu ya zakat bagi yang Muslim. Yang kaya memberi zakat kepada fakir miskin yang Muslimin. Kita husnnuzzhan begitu, kan? Masa’ kiai nasionalismenya mengalahkan keagamaaanya? Ini kan tidak mungkin. Mereka seperti difirmankan Allah Ta’ala:
فِطْرَتَ اللَّهِ الَّتِي فَطَرَ النَّاسَ عَلَيْهَا [الروم : 30]
“Fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu.” (QS. Al-Rum: 30)
Mereka dididik di pesantren yang bermadzhab Syafi’i, dan berakidah tauhid. Laa ilaha illaLlah, kita harus menyembah Allah. Muhammad RasuluLlah, kita harus mematuhi perintah rasul dan mengikuti jejaknya.
Adapun KH Wahid Hasyim dan sebagainya sudah memperjuangkan agar syarat presiden harus Islam yang ditolak oleh kaum nasionalis. Itu ngalahnya beliau, bukan ikhtiar. Kan sudah memperjuangkan. Banyak musyawarah yang condong dilobi oleh kaum nasionalis sehingga bisa kalah. Bisa juga pakai uang dari Jepang atau Belanda, dst.
Kemudian ulama kita tadi disampaikan oleh Profesor Mansur memperjuangkan NKRI. Konferensi Meja Bundar itu saya kira pimpinannya mungkin Pak Natsir, tapi di belakangnya atau yang mensupport agar Indonesia diakui dan memiliki kekuasaan itu ada tokoh lagi. Saya lupa siapa namanya, namun Pak Natsir tidak sendirian.

Surabaya, Peristiwa 10 November, dan Hari Santri

Jadi perjuangan kita ini sudah sangat luar biasa. Kemudian KH Hasyim Asy’ari berfatwa wajib jihad, ini karena beliau tahu bahwa Sekutu baik Inggris, Jerman, Itali, dan seterusnya itu ingin menguasai kembali Surabaya. Sedangkan Surabaya adalah simbol Aswaja sekaligus ibukota Walisongo dan komunitas pengikutnya. Ada Sunan Ampel, walaupun bukan yang pertama dari Walisongo tapi dia adalah penunggul. Dia yang benar-benar menguak dakwah kemana-mana serta mendirikan pesantren Ampel Denta yang sekarang masih eksis, artinya syi’arnya masih bisa kita rasakan sampai sekarang. Ini kalau jatuh di tangan Sekutu maka pasti daerah lain akan gampang dikuasai.
Jadi orang Belanda dan Kristen sudah mempelajari mana satu daerah yang sangat strategis dimana kalau dikalahkan pasti yang lain akan ikut. Ini sudah tau sekali. Kekuatan di Jawa ini adalah Surabaya.
Saya sudah pernah diwawancarai oleh majalah Ijtihad Sidogiri, bahwa Hari Santri itu bahkan Hari Ulama Kiai itu tanggal 10 November (Hari Pahlawan), tapi di sejarah disebut “Arek-arek Surabaya”. Itu sebenarnya santri yang berani dan jadug (sakti). Yang saya ketahui, yang merobek bendera Belanda itu adalah mertuanya KH Hamid Baidhawi Lasem dari Bojonegoro. Dulu beliau pernah belajar di Pondok Pesantren Termas. Kamarnya itu angker sekali sampai sekarang. Beliau ahli wiridan dan jadug, jarang orang berani masuk kamar itu sampai sekarang. Dialah yang berani merobek, padahal di belakangnya ada tentara Belanda dan Sekutu yang canggih.

Bahaya Laten Komunis dan Cina

Dan perlu saya informasikan disini, pada catatan sejarah yang berbeda, saya diberitahu oleh orang Arab tapi bukan habib. Ada tamu dari Malang, waktu itu datang pada saya masih agak muda. Dia bercerita, “Ati-ati, Gus. Ada istilah bahaya laten. Ada dua, ada komunis, ada Cina. Jangan hanya PKI saja, Cina juga bahaya laten.” Dia cerita bahwa ketika Sekutu datang ke Surabaya, sebelum mereka datang itu orang-orang Cina memecah batu-batu menjadi kerikil lalu ditaburkan di depan rumah umat Islam khususnya bapak-bapak haji karena Surabaya itu tempatnya orang-orang kaya dulu. Zaman Belanda orang Islam banyak yang makmur. Makanya NU berdiri dan kiai berani mendirikan NU karena di belakang kiai banyak pak kaji-pak kaji. Mereka kaya. Bukan pak kaji sekarang yang mengantri sampai 25 tahun. Dulu mereka kaya-kaya.
Saya punya mbah, Kiai Baidhawi sebelum menikah dengan mbah saya dari Blora itu nikah dengan anak kiai yang alim, sakti, dan kaya dari Rembang. Dia berhaji dengan nyarter (menyewa kendaraan. Dia tidak mau ke Semarang, apalagi ke Jakarta. Dia menyewa kapal, kapalnya disuruh ke Rembang. Luar biasa, kayak-kayak membeli kapal. Orang zaman dulu kalau kadung kaya maka kaya sekali karena Belanda dari sisi ekonomi tidak memeras kepada pribumi secara lahiriah. Akan tetapi dia mengambil sumber daya alam tentunya seperti yang disampaikan pak Mansur yaitu dengan membangun rel-rel kereta api. Tujuannya adalah memudahkan pemantauan kiai-kiai yang ingin berjuang khususnya di kota-kota. Makanya kiai itu kebanyakan di desa, karena kalau di kota diawasi oleh Belanda. Kiai Kholil Rembang Kasingan gurunya Kiai Mahrus Lirboyo tidak boleh mengajar Tafsir Jalalain, hanya Alfiyyah saja. Karena kalau baca Tafsir Jalalain khawatir membangkitkan semangat melawan Belanda.

Belanda yang Membesarkan Komunis

Saya setuju itu. Dan menurut saya, saya tambahi, bahwa Belanda-lah yang membesarkan komunis. Jadi komunis sebenarnya kan mazhab baru, dulu-dulu tidak ada. Paham komunis dari Karl Marx. Itu buatan Yahudi. Nah, dia membesarkan komunis di Solo tepatnya. Bahkan tadi Syarikat Islam ada dua. Ada yang kanan, ada yang kiri. Syarikat Islam H. Samanhudi itu kanan, kalau yang kiri itu julukannya ASU. Artinya jadi komunis, di Solo.
Jadi komunis itu dibesarkan. Ada istilah Islam Abangan, ada istilah Islam Santri, ada istilah Priyayi. Ini semua dibesar-besarkan Belanda untuk menghancurkan santri. Snouck Hugronje ingin menghilangkan kesantrian, kemudian menguasai masalah haji dst untuk mengawasi gerakan karena takut Indonesia atau umat Islam belajar di Makkah dan menggerakkan ruh jihad melawan Belanda. Makanya tadi Kiai Nawawi tidak membuat gerakan politik. Kiai Kholil Bangkalan juga tidak. Hanya gerakan mengaji, tapi isinya adalah kita disuruh jauh dari Belanda. Kemudian bangkitlah Pergerakan Nasional.
Di sejarah-sejarah dan saya sudah pernah baca buku Api Sejarah itu sedikit, disitu diterangkan bahwa kebangkitan nasional dimulai oleh Budi Utomo. Yang bikin Ki Hajar Dewantara. Itu sebetulmnya salah sekali, karena Ki Hajar Dewantara itu bukan nasionalis. Dia itu Jawanis, fanatik Jawa. Walaumpun melawan Belanda tapi masih budaya Jawa. Namanya saja Budi Utomo, itu kan sudah kelihatan kejawaaannya. Mungkin itu gerakan nasionalis ala priyayi Jawa. Kemudian yang Islam itu SI (Syarikat Islam) yang kemudian terpecah jadi dua. Tentu yang memecah adalah Belanda, itu maklum. Liciknya Belanda untuk mengikis kesantrian. Jadi Belanda mengkader orang-orang nasionalis bahkan anak-anak kiai seperti Muhammad Hatta supaya menghilangkan jasa-jasa ulama atau santri.
Tadi saya diberitahu protokol untuk membahas setelah kemerdekaan saja. Langsung saja bahwa Kiai Kholil dan Kiai Nawawi berjuang sebagai agamis nasioanalis, artinya memperjuangkan hilangnya atau terusirnya Belanda dari Indonesia, tapi Belanda bisa terusir oleh Jepang. Dia pintar dengan membuat batalion-batalion dikuasai kiai, karena Jepang tahu dia ingin beda dengan Belanda. Tahu kalau Belanda sangat benci kiai dan santri. Santri dilatih menjadi tentara. Tapi AlhamduliLlah, justru latihan itu berdampak baik yaitu para kiai mengusir Sekutu tadi.

Kiai-Santri ketika Berkiprah Pasti Ada Barakahnya

Jadi SubhanaLlah, kiai dan santri yang liLlahi Ta’ala, tadi disebutkan tidak niat jadi PNS, itu kalau berkiprah pasti ada barakahnya. Dulu ada istilah khittah, itu kan banyak kiai masuk Golkar. Pasalnya Golkar itu tempat strategis Kristen untuk berkiprah disana, selain ada sisa-sisa PKI disitu. Jadi kelihatannya mengusir PKI tapi pimpinannya diamankan, dibawa ke Swiss. Dibawa Barat. Yang dibunuh oleh NU-Ansor-Banser itu PKI kroco-kroco, yang kelas kakap diamankan.
Walhasil, saya sampaikan kenapa PKI yang anti kiai, agama, dan pesantren kok bisa besar karena didikan dari Belanda. Kaderasisasi dari Belanda. Sekarang kita AlhamduliLlah sudah besar. sekarng ada Hari Santri. Saya takutnya Hari Santri sama dengan tadi, Jepang beda dengan Belanda. Kalau era sebelumnya, SBY dan Soeharto, tidak begitu senang santri tapi senang Islam. Tadi dikatakan Soeharto membangun seribu masjid, bahkan di Bosnia. Dia senang Islam itu tidak berarti senang kaum santri atau NU, karena dia dulu-dulunya kebanyakan berguru dari Muhammadiyah. Tapi kecilnya Soeharto itu didikan santri. Saya tahu ini karena keturunan dari kiai yang mengajarinya dari kecil itu ada sebagian yang di Sarang. Mbahnya Shalahuddin dekat jembatan Sarang itu.
Jadi kiai itu ketika bertemu Soeharto ketika pertama jadi presiden pesannya, “Hei, Harto! Niruo Sultan Agung Raja Mataram.” Makanya dia lalu membuat masjid-masjid Pancasila, walaupun bukan uangnya Pak Harto sendiri tapi hasil menyunat gaji-gaji pegawai saat itu.
Dulu kalau ada Kiai dari Golkar itu diambilkan dari dana haji yang sekarang jadi dana abadi umat, yang kepengen ditampung oleh era Jokowi untuk infrastruktur bukan untuk pendidikan. Pak Harto untuk Islam, tapi ini pengen untuk infrastuktur, untuk pembuatan jalan. Bisa-bisa nanti menyembelih kiai kalau cinanya sudah ratusan, ribuan, bahkan jutaan. Lama-lama pekerja seksual yang datang dan dijual murah. Itu merusak dan berbahaya sekali.
Jadi yang mendidik memang Belanda dengan liciknya, artinya Jepang merekrut atau menghormati kiai dengan tujuan untuk melawan Belanda kalau mereka datang. AlhamduliLlah, dengan izin Allah Hiroshima dibom dan akhirnya Jepang mundur begitu saja dengan teratur artinya pelan, namun ya masih saja. Jepang kayaknya baik dengan kaum santri, tapi tetap mereka adalah musuh. Buktinya ada Tujuh Kalimat yang disepakati oleh panitia kemerdekaan yaitu “Ketuhanan dengan kewajiban mengamalkan Syariat Islam bagi pemeluknya” ini disuruh dicoret oleh jenderal Jepang. Kelihatannya baik dengan kiai, tapi hatinya tetap busuk kepada kiai dan ulama serta Islam secara umum. Ini mungkin ditekan juga oleh Amerika, karena Amerika sudah menang terhadap Jepang. Maka tadi bahasanya pak Mansur, Soekarno ketakutan. Itu menunjukkan dia juga nggak senang kiai. Dia tidak tahu bahwa Indonesia ini terjaga karena barakahnya kiai. Mereka tidak tahu, seolah-olah yang bikin Indonesia merdeka adalah nasionalis. Padahal dia ketakutan dan ragu-ragu sekali.

Hubungan Ulama dengan Peristiwa Proklamasi

Di catatan sejarah yang memaksa Soekarno proklamasi adalah mahasiswa. Ini bohong. Yang memberitahu saya adalah tetangganya Pak Mansur ini. Dia ketemu dengan Pak Mansur, lalu dia bilang bahwa yang memaksa Soekarno proklamasi adalah ulama-ulama dan kiai-kiai ajengan Sunda di Rangkasbitung. Itu tetangganya. Saya pernah kesana karena suaminya yang dari keluarga situ ada keponakan saya, lalu saya mampir.
Jadi asalnya Soekarno itu ragu. Soekarno itu pernah memang jadi menantunya HOS Cokroaminoto, tapi juga pernah jadi menantunya Belanda. Jangan dipungkiri sejarah. Akhirnya punya istri dari Jepang itu. Yang membuat Soekarno agak baik dan kenal agama adalah ibunya, karena istrinya Rahmawati aslinya dari Riau atau Jambi. Katanya masih ada trah kerajaan entah Melayu atau mana. Jadi ini yang menjadikannya masih punya kebaikan-kebaikan. Anak Soekarno Ada yang pro Hindu Budha atau PKI seperti Sukmawati, Megawati juga. Meragukan Hari Kiamat. Pesantren kita ini dianggap peramal-peramal saja, tidak tahu fakta. Lho, ente yang tidak tahu fakta bahwa Indonesia ini berdiri lewat darah para santri dan ulama. Bapak kamu ragu tentang proklamasi asalnya, yang menyuruh itu adalah dari ajengan kiai-kiai Sunda. Bahkan tetangganya pak Mansur tadi cerita, waktu malam 17 ada istighatsah supaya cepat merdeka. Pak Karno datang membawa anak perempuan. Anaknya menangis, akhirnya diberi susu oleh sebagian kiai. Susu kaleng atau apa.
Jadi kiai-kiai sangat berjasa sekali, tapi karena penulis-penulis sejarah adalah bukan kaum pesantren melainkan nasionalis bahkan ada yang PKI, akhirnya sejarah dihilangkan. Untungnya Soekarno masih hormat dengan Hasyim Asy’ari. Beliau adalah orang yang berwibawa sekali. Ketika Pak Karno jadi presiden, dia cepat-cepat ke Kiai Hasyim Asy’ari. Hubungan Pak Karno dengan Wahid Hasyim ini saingan istilahnya, jegal-jegalan. Pak Karno sering menjegal Wahid Hasyim supaya tidak jadi presiden. Tapi hubungan Soekarno dengan Hasyim Asy’ari baik sekali. Dia pernah ke Jombang. Ini yang cerita saya adalah Kiai Hamid Baidhawi, khali (paman saya) dari ibu. Ceritanya dia sowan kepada Hasyim Asy’ari, lalu Soekarno diberi kesempatan untuk sambutan atau pidato. Saking gemetarnya karena ta’zhim maka tidak berani tampil, malah berkata, “Njenengan mawon.” Akhirnya Hasyim Asy’ari memberi sambutan. Pertama kali yg dikatakan, “Wahai Soekarno! Kenimatan terbesar yang diberikan kepadamu sekarang adalah jadi presiden RI. Syukurilah.”
Untungnya disitu, akhirnya Soekarno dipesan agar alumni pesantren bisa jadi naib dan KUA di seluruh Indonesia. Akhirnya AlhamduliLlah banyak naib-baib waktu itu dari kiai karena itu instruksi dari presiden saking ta’zhimnya. Tapi kemudian ketika dilanjutkan oleh Kiai Wahid Hasyim, mungkin dia ditekan juga karena banyak KUA dari kiai maka sekarang yang jadi KUA harus dari lulusan sekolah. Akhirnya Kiai Wahid Hasyim memasarkan atau mengajak pesantren untuk ada sekolah umumnya. AlhamduliLlah waktu itu banyak yang menentang, namun di era-era setelahnya sudah tidak ada yang menentang lagi.

Sejarah Kiai-Santri Banyak Dihapuskan dalam Sejarah
Jadi saya ulangi lagi, inilah hasil perjuangan kiai dihapuskan dari sejarah. Ini adalah rekayasa dari Belanda yang licik itu. Walaupun Belanda memanjakan urusan ekonomi kepada umat Islam, tapi umat Islam tetap dibuat kalah oleh Cina. Yang diistimewakan tetap Cina. Tapi walaupun begitu yang kaya tadi masih bisa kaya. Luar biasa. Kalau muktamar NU zaman Belanda, Kiai Hasyim Asy’ari dan ketua PBNU dulu (Hasan Basri Gipo) kalau tidak salah dari Sulawesi, dia mukim di Surabaya lalu dijadikan ketua PBNU. Jadi dulu ketua PBNU itu dari orang biasa, bukan orang alim, doktor, atau profesor. Orang biasa namun kaya. Mbah Hasyim tinggal mengetuk rumah-rumah aghniya’, daerah Babat dulu andalannya. “Ji. Ape enek muktamar, Ji. Bantu piro?”
Jadi di belakang NU ada aghniya’, tapi zaman Jepang jadi berat. Tirakat. Tadi diceritakan banyak batalion dipimpin kiai, tapi beras rakyat diambil oleh jepang untuk makan tentaranya. Kita tidak makan apa-apa, tapi kok kuat keluar keramatnya kiai-kiai itu. Tadi keterangan pak Mansur, hanya punya sarung thok, tidak punya senjata maksudnya, tapi kalau sudah kepepet senjatanya keluar.
Jadi ini kalau kita sibuk dengan ilmu agama, murni liLlahi Ta’ala bukan karena PNS, kalau tidak bisa begitu maka paling tidak senang dan mengakui bahwa sistem salaf ini afdhal daripada sistem khalaf/kurikulum, InsyaAllah ada jiwa kesantrian. Kalau kita dianiaya PKI mau bangkit menyembelih kita, InsyaAllah mereka disembelih dulu sebelum mereka menyembelih. Allahumma Amin. Allahu Akbar. Ini Allahu Akbar-nya Bung Tomo. Allahu Akbar adalah kekuatan yang luar biasa. Kalau kita niat ikhlas li i’lai KalimatiLlah, ini akan mengeluarkan karamah-karamah Ilahiyah. Allahu Akbar ini bukan untuk mencari dunia, tapi mencari akhirat. Dan sebetulnya secara strategi politik, kalau kiai-kiai tadi masuk ke Jakarta jadi pemimpin, kata abah saya nukil dari abahnya yakni Kiai Zubair, tentu TNI dikuasai santri. Tapi banyak juga kiai-kiai batalion yang tidak dimasukkan ke TNI. Mbah saya memimpin batalion seratus prajurit, semuanya dimasukkan ke TNI tp beliau tidak masuk. Alasannya mungkin karena ada kesibukan pesantren karena mbah saya alim.

Mbah Zubair sebagai Pimpinan Militer

Mbah saya pernah dicurigai ikut DI/TII karena dalam sejarahnya mbah saya pernah memimpin batalion. Oleh pemerintahan Soekarno dicurigai, lalu RPKAD disuruh ke Sarang. Waktu itu Sarang belum besar. RPKAD bersembunyi di balik rumput. Akhirnya waktu subuh ketika Mbah Ahmad ngimami, dia masuk ke rumah Mbah Mad dan Mbah Zubair untuk menyelidiki apakah ada senjata atau mungkin data bahwa beliau masuk DI/TII. Tapi AlhamduliLlah tidak ada, tidak ditemukan. Waktu itu Mbah Zubair sedang muktamar di Surabaya. Yang bercerita ini adalah guru saya namanya Haris Thahar, diceritai sama warganya. Ada santri yang hasud dengan Mbah Zubair lalu melaporkan bahwa Mbah Zubair memiliki senjata. Mereka tidak berani ketika Mbah Zubair di rumah, entah karena apa. Beraninya ketika Mbah Zubair ke Surabaya ikut muktamar. Tapi AlhamduliLlah tidak ditemukan.
Jadi karena beliau memimpin batalion dianggap bahaya oleh zaman Soekarno. Jadi mereka tidak mau dan takut dengan hukum Islam. “Ketuhanan Yang Maha Esa” itu yang penting punya tuhan, tidak ada agama apalagi tauhid La Ilaha IllaLlah. Tadi dibela bahwa itu Pancasila sama dengan Al-Quran, surah al-Baqarah dan Ali Imran. Kata orang sekarang Al-Quran banyak matsal-nya atau yang radikal bilang banyak fiksinya. Na’udzubiLlah min dzalika. Yang jelas mereka tidak berani dengan hukum Islam, takut nanti kalau Islam berjalan yang menguasai santri. Padahal yang santri senang sarungan liLlahi Ta’ala. Dulu dasi saja diharamkan.
Ketika ada majelis Konstituante, perjuangan ulama dan mujahid kita untuk penegakan Syari’ah Islam sudah sangat-sangat maksimal. Sampai Soekarno dituntut terus soal Tujuh Kalimat yang dihapus, lalu akhirnya dia bikin majelis Konstituante. Pada perdebatan ini yang pro-Islam akan menang atau sudah menang dengan argumen-argumen bukan dengan golok atau senjata karena kita mayoritas Islam, jika ingin kuat negaranya harus berdasar Islam dan kita umat Islam memang diwajibkan berdasar Islam. Sudah hampir menang atau malah sudah menang, majelis Konstutiante dibubarkan oleh Soekarno dengan berdalih Sila Pertama menjiwai seluruh sila-sila yang lain. Kalau yang tidak paham politik ya enak aja. “Wah, bagus ini.” Tapi tujuannya adalah untuk menghalang-halangi Syari’ah Islam. Terus akhirnya ada Pemilu tapi ditunda-tunda, itu sebenarnya untuk membesarkan partai PNI dan PKI serta memecah-belah Masyumi. Setelah dipecah belah akhirnya NU keluar dari Masyumi.

Isyarah Tatal Masjid Demak: Umat Islam Harus Bersatu!

Tadi sudah disinggung bahwa menurut isyarat tatal di Masjid Demak kita harus bersama-sama umat Islam dan kelompok-kelompok Islam jika ingin berjaya. Seperti itu isyarahnya. Tadi hal ini dibilang -WaLlahu A’lam- klenik sama pak protokol atau mitos. Memang begitu, Indonesia ini memang penuh dengan mitos, entah benar atau tidak WaLlahu A’lam bi al-shawab. Negeri kita dulu dijuluki negeri dongeng, negeri khayalan, dst. Orang Arab ketika melanggar aturan negaranya ditakut-takuti, “Kamu kalau melanggar negara kami akan saya buang ke Wakwak.” Sekarang jadi pulau Fakfak di Papua. Sudah terkenal negeri ini. Makanya ada yang bilang masuknya Islam di Indonesia pada zaman Khalifah Muawiyah, ada yang bilang Khalifah Utsman, ada yang bilang zaman Rasulullah. Ini masuknya Islam lho, artinya masuknya orang Islam, entah sudah mengislamkan atau belum.

Merah Putih dan Istana Hambra

Saya dapat ilmu waktu acara DEMU di MGS, saya bilang bahwa masjid Nabawi itu asalnya tidak ada kayu-kayunya yang besar dan tidak beratap, kemudian zaman Utsman diperbesar dan diberi atap-atap dari kayu. Kok sampai sekarang masih bagus, berarti itu ikayu jati. Kayu jati kebanyakan dari Jawa. Mungkin di Pasai atau Sumatra sudah banyak orang Islam, mereka mengimpor kayu jati dibawa ke Madinah dan jadilah masjid Nabawi yang gagah itu. Kayu jati harus diplitur, dan plitur yang baik berwarna merah. Tadi dibilang ada merah putih katanya. Kalau saya tidak begitu suka merah, mungkin masalahnya karena untuk mlitur agar awet harus warna merah. WaLlahu A’lam.
Saya pernah ke Spanyol bersama Mbah Moen, ada namanya Qashr al-Hamra’. Istana Hambra kalau bahasa sekarang, orang Barat dan Indonesia bacanya Hambra. Di bangunan itu memang banyak warna merah. Dan, seperti di Syiria warna tiang-tiang masjid berwarna hitam putih. Di Masjidil Haram dan Masjid Nabawi motif itu masih ada. Ini sisa-sisa Daulah Umawiyah. Tapi di Qasr al-Hamra’ motifnya memang merah dan putih. Saya tidak tahu rahasianya apa, WaLlahu A’lam. Walaupun saya tidak begitu suka warna merah, tapi merah ada di Daulah Andalusia. Tp yg saya ketahui di masjidil haram itu putih hitam. Benderanya nabi kebanyakan hitam.
Islam masuk ke Indonesia itu sudah lama, tapi yang sulit diislamkan memang Jawa. kalau Sulawesi sudah lama, di Kalimantan juga sudah lama. Yang sulit itu di Jawa. Islam agak baik harus mengerahkan Walisongo yang sakti-sakti, baru bisa berdiri negara Demak. Asalnya kerajaannya bukan Demak tapi Giri, namun baru empat puluh hari lalu diserahkan kepada Raden Fatah di kerajaaan Demak. Akan tetapi anak turun Raden Fatah dicabik-cabik oleh Syi’ah, Siti Jenar, atau Kebatinan. Akhirnya berdiri kerajaan Pajang. Pajang masih agak seperti Raden Fatah mangkel lalu akhirnya jadi kerajaan Mataram. Mataram masih bagus ada Sultan Agung, tapi anak cucunya diobrak-abrik agar senang anti-ulama dan anti-kiai. Amangkurat II menyembelih ulama sebanyak dua puluh lima ribu orang di alun-alun Solo.
Disini sudah ada sejarahnya bahwa Sayyid Sulaiman dipanggil oleh Raja Solo entah siapa untuk diangkat menjadi qadli kemudian sampai di Mojoagung dipundhut Allah Ta’ala. Dia sudah berkata, “Kalau diangkat qadli bakal jadi baik ya sampai Solo, kalau jadi buruk maka belum sampai Solo sudah mati.” Akhirnya nadzar Sayyid Sulaiman itu terjadi sehingga pondok pesantren menjadi besar.

Keikutsertaan Santri dalam Tathbiq Syari’ah

Kita tetap tidak boleh putus asa akan adanya Tathbiq al-Syari’ah, tapi dalam penerapan Syari’ah ini semoga kiai lan sampeyan-sampeyan santri bisa ikut, syukur bisa memimpin. Allahumma Amin. Jangan sampai penerapan Syari’ah ini dikuasai oleh radikalis, Wahabi, dan modern. Tapi kita juga jangan anti modern. Artinya jangan anti orang akademis. Mereka juga memiliki Ghirah Islamiyah besar. kalau kampus-kampus sekarang tidak ada orang-orang yang memiliki Ghirah Islamiyah, maka kita sudah habis. Untungnya dari sisa-sisa keturunan entah dari Sunan Cirebon (Gunung Jati) ada yang jadi kiai, ada juga yang jadi akademis. Mungkin Ustadz Mansur itu termasuk mereka, WaLlahu A’lam. Ini artinya kita masih menemukan sambungan-sambungan dengan ulama-ulama kita. Mereka menghargai kita dengan mengatakan kiai itu pejuang Indonesia Raya yang paling ikhlas. Dan AlhamduliLlah, sebagian dari kalangan priyayi dan akademis menurut sejarah tersebut. AlhamduliLlah.
Demikian yang dapat saya sampaikan, semoga ada manfaatnya. Semoga cita-ita dari ahbabuna shalihun pendidikan pesantren salaf tetap berjaya dan tetap dicintai walaupun tidak bisa penuh, dan cita-cita Tujuh Kalimat yang dihapus oleh Pak Karno dan Hatta tetap berjalan walaupun keadannya seperti ini. InnaLlah ‘ala kulli syaiin Qadir. Kala kita mau disembelih, kitalah yag akan menyembelih.”

“Urusan Politik Ikutlah Masyumi, Urusan Agama Ikutlah NU!”

Setelah pemaparan beliau selesai diatas, kemudian beliau menambahi, “KH Hasyim Asy’ari dalam catatan sebagian santri, yang saya tahu dari Kiai Thahir Kajen, dicatat bahwa urusan partai (politik) ikutlah Masyumi, dan urusan keagamaan, bahtsul masail, dan hukum-hukum ikutlah NU. Ini dicatat oleh Kiai Thahir almarhum. Dulu begitu, tapi lama-lama Masyumi dipecah-belah kemudian sampai sekarang kaum Muslimin dipecah-belah, yang terjadi sekarang adalah munculnya liberal-liberal itu.”
Selanjutnya, ketika ditanya oleh moderator tentang partai mana yang paling ideal untuk dipilih, maka Abah Najih menjawab, “Saya sukar menjawabnya, karena nanti kalau saya menjawab A nanti saya dianggap Muhammadiyah, radikal, atau apa, kalau saya membela yang santri juga banyak liberal padahal dari awal saya sudah anti-liberal. Ya, cari-cari sendiri, lah. Pikir-pikir sendiri, dan rahasiakan ini. Strateginya harus matang. Yang penting tadi saya setuju tatal itu kita harus bersama, harus berkelompok.
Kita ada panglima atau tidak, yang penting kita punya Ghirah Islamiyah bagaimana kita eksis. Sekarang Islam pengen dihilangkan sama sekali khususnya santri. Asalnya orang Islam itu 98 % makanya dulu hampir menang di majelis Konstituante, terus menjadi 90% lalu sekarang jadi 80%. Ini rekayasa mereka supaya kita melempem dan patah semangat. Sekarang saya bangkitkan, jangan putus asa tapi tidak usah aneh-aneh. Yang penting tadi nyoblosnya yang pro-Islam. Kita susah tidak punya panglima, tapi kita seperti harus ikhlas. Justru dengan ikhlas InsyaAllah kita menang.”

Hinaan kepada Habaib: Ekspresi Sakit Hati Kaum Liberal

Setelah itu, menganggapi ucapan moderator bahwa Ghirah Islamiyah umat Islam Indonesia sekarang sangat lemah sekali sampai ada hinaan kepada habaib dituduh kluyar-kluyur oleh tokoh liberal, Abah Najih menanggapi, “Saya setuju sekali analisa ini. Tadi habaib dikatakan kluyar-kluyur dan guru Ibtidaiyah, itu sebenarnya merupakan ekspresi sakit hati mereka karena mereka ingin Ghirah Islamiyah ini habis sama sekali.
Yang bilang habaib dari Yaman kluyar-kluyur dan dianggap guru Ibtida’ itu mungkin dia pikir keanehan itu agar nilai rapornya bagus di mata zionis-salibis. Biar bisa jadi wakil presidennya Jokowi atau apa gitu. Dan, mulai presiden sekarang mungkin akan dimunculkan lagi orang yang kelihatannya beda, mungkin dulu panglima TNI. Sebenarnya itu sama dengan dia tapi kelihatannya saja beda, sama-sama dekat dengan Naga Sembilan.” Sontak tepuk tangan gemuruh dari para audien bergema di seluruh ruangan.
Acara daurah kebangsaan ini kemudian ditutup dengan pembacaan doa oleh Abah Najih dilanjutkan dengan pemberian cinderahati dari panitia kepada beliau.(*)

Kajian Ilmiah, Karya Syaikh Najih Versi Indonesia

MAKALAH KH. MUHAMMAD NAJIH MAIMOEN DI SIDOGIRI DENGAN TEMA: REVITALISASI GHIRAH ISLAMIYAH-WATHANIYAH

MENELADANI SEJARAH ISLAM DALAM RANGKA MENGUATKAN
GHIRAH ISLAMIYAH-WATHANIYAH

Disampaikan oleh: KH. MUHAMMAD NAJIH MAIMOEN

Pada acara Daurah Kebangsaan “Revitalisasi Ghirah Islamiyah-Wathaniyah” di Aula Sekretariat PP. Sidogiri, Memeriahkan Ultah PP. Sidogiri yang ke-281 dan Ikhtibar Madrasah Miftahul Ulum ke 82 Tahun

بسم الله الرحمن الرحيم
الحمد لله الذي بنعمته تتم الصالحات، وبطاعته تطيب الحياة، وبالإيمان به وتقواه تنال الخيرات وتستنزل البركات وتدفع المكاره والسيئات، وأشهد أن لا إله إلا الله وحده لا شريك له، كل الخلائق غدا بين يديه موقوفون محاسبون، وبأعمالهم مجزيون، وأشهد أن محمدا عبده ورسوله النبي الكريم ذو الخلق العظيم، صلى الله عليه وسلم وعلى آله وأصحابه، أما بعد:

Muqaddimah

Dalam kehidupan di dunia, seorang Muslim dituntut untuk mengamalkan dan mempertahankan ajaran agama dengan segenap kemampuannya. Ini adalah konsekuensi logis dari pengucapan dua syahadat yang dilakukannya, karena Islam tidak hanya sekedar pengakuan tentang ketauhidan Allah Ta’ala dan kebenaran Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallama, namun juga implementasi dari apa yang dibawa oleh Allah dan Rasul-Nya. Selain itu, seorang Muslim sejati juga harus memiliki ghirah Islamiyah yang tinggi, yakni rasa kecemburuan dan pembelaan terhadap agamanya.

Dalam konteks keindonesiaan, menggelorakan dan menguatkan ghirah Islamiyah di kalangan umat Islam semakin terasa urgensinya, apalagi di tengah berbagai macam usaha perusakan ajaran Islam dan semangat umat Islam mengamalkan ajaran agamanya. Dalam mengekspresikan ghirah Islamiyah ini harus sesuai dengan aturan Syari’ah Islam dan menjaga semangat kebersamaan dan cinta kepada tanah air dan bangsanya yang disebut ghirah wathaniyah. Namun dalam pelaksanaannya, ghirah Islamiyah harus dinomorsatukan dan ghirah wathaniyah harus selalu didasarkan pada ghirah Islamiyah.

Bukti nyata ghirah Islamiyah dalam konteks kebangsaan ini telah menjadikan bangsa Indonesia tidak mudah ditumpas oleh penjajah selama 3,5 abad hingga akhirnya mampu merebut kemerdekaan dan kedaulatan negaranya. Hal ini karena bangsa Indonesia merasa memiliki hubungan persaudaraan sesama umat Islam serta memiliki kesamaan tanah air yaitu tanah air Nusantara, sehingga mereka berusaha mati-matian untuk mempertahankan agama dan bangsanya dari pemurtadan dan imperialisme Belanda dan bangsa penjajah Eropa yang lain. Semangat semacam inilah yang harus selalu dipupuk dan ditanamkan dalam sanubari umat Islam di Indonesia.

Memahami Ghirah Islamiyah

Muslim yang memiliki ghirah Islamiyah yang tinggi akan merasa sakit hati dan marah ketika ajaran Islam dilecehkan, ketika Al-Quran dan Sunnah dihina, dan ketika para ulama shalihin tidak lagi didengar suaranya, sekaligus juga memiliki semangat yang tinggi ketika ada ajakan untuk mengamalkan ajaran agama secara kaffah. Ghirah Islamiyah adalah barometer keimanan dan wujud cinta seorang Muslim kepada Islam. Allah Ta’ala berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ [آل عمران : 102]

“Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah sebenar-benar takwa kepada-Nya; dan janganlah sekali-kali kamu mati melainkan dalam keadaan beragama Islam.” (QS. Ali Imran: 102)

Rasulullah ShallaLlahu ‘alaihi wa Sallama bersabda:

إِنَّ اللَّهَ يَغَارُ وَالْمُؤْمِنُ يَغَارُ وَغَيْرَةُ اللَّهِ أَنْ يَأْتِىَ الْمُؤْمِنُ مَا حَرَّمَ عَلَيْهِ . أخرجه الترمذي.

“Sesungguhnya Allah itu cemburu, dan mukmin juga cemburu. Cemburunya Allah ketika seorang Mukmin mendatangi apa yang telah Dia haramkan baginya.” (HR. Tirmidzi)

مَنْ رَأَى مِنْكُمْ مُنْكَرًا فَلْيُغَيِّرْهُ بِيَدِهِ فَإِنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَبِلِسَانِهِ فَإِنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَبِقَلْبِهِ وَذَلِكَ أَضْعَفُ الإِيمَانِ. أخرجه مسلم

“Barangsiapa dari kalian melihat kemunkaran maka rubahlah dengan tangannya. Jika tidak mampu maka dengan lisannya. Jika masih tidak mampu maka dengan hatinya, dan itu adalah selemah-lemahnya iman.” (HR. Muslim)

Allah menggambarkan dalam Al-Qur’an bagaimana Rasulullah dan para Shahabat beliau menjadi perwujudan nyata bagaimana ghirah Islamiyah dilaksanakan. Allah Ta’ala berfirman:

مُحَمَّدٌ رَسُولُ اللَّهِ وَالَّذِينَ مَعَهُ أَشِدَّاءُ عَلَى الْكُفَّارِ رُحَمَاءُ بَيْنَهُمْ تَرَاهُمْ رُكَّعًا سُجَّدًا يَبْتَغُونَ فَضْلًا مِنَ اللَّهِ وَرِضْوَانًا سِيمَاهُمْ فِي وُجُوهِهِمْ مِنْ أَثَرِ السُّجُودِ ذَلِكَ مَثَلُهُمْ فِي التَّوْرَاةِ وَمَثَلُهُمْ فِي الْإِنْجِيلِ كَزَرْعٍ أَخْرَجَ شَطْأَهُ فَآزَرَهُ فَاسْتَغْلَظَ فَاسْتَوَى عَلَى سُوقِهِ يُعْجِبُ الزُّرَّاعَ لِيَغِيظَ بِهِمُ الْكُفَّارَ وَعَدَ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ مِنْهُمْ مَغْفِرَةً وَأَجْرًا عَظِيمًا [الفتح : 29]

“Muhammad itu adalah utusan Allah dan orang-orang yang bersama dengan dia adalah keras terhadap orang-orang kafir, tetapi berkasih sayang sesama mereka. kamu lihat mereka ruku’ dan sujud mencari karunia Allah dan keridhaan-Nya, tanda-tanda mereka tampak pada muka mereka dari bekas sujud. Demikianlah sifat-sifat mereka dalam Taurat dan sifat-sifat mereka dalam Injil, yaitu seperti tanaman yang mengeluarkan tunasnya Maka tunas itu menjadikan tanaman itu kuat lalu menjadi besarlah dia dan tegak lurus di atas pokoknya; tanaman itu menyenangkan hati penanam-penanamnya, karena Allah hendak menjengkelkan hati orang-orang kafir (dengan kekuatan orang-orang mukmin). Allah menjanjikan kepada orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal yang saleh di antara mereka ampunan dan pahala yang besar.” (QS. Al-Fath: 29)

Rasulullah sangat sabar dan tabah ketika orang-orang kafir mencela pribadinya dan melakukan berbagai perbuatan keji kepadanya, akan tetapi tidak ada satupun orang yang mampu menahan amarah beliau ketika agama Islam dilecehkan. Sayyidah Aisyah memaparkan:

مَا خُيِّرَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بَيْنَ أَمْرَيْنِ إِلَّا اخْتَارَ أَيْسَرَهُمَا مَا لَمْ يَأْثَمْ فَإِذَا كَانَ الْإِثْمُ كَانَ أَبْعَدَهُمَا مِنْهُ وَاللَّهِ مَا انْتَقَمَ لِنَفْسِهِ فِي شَيْءٍ يُؤْتَى إِلَيْهِ قَطُّ حَتَّى تُنْتَهَكَ حُرُمَاتُ اللَّهِ فَيَنْتَقِمُ لِلَّهِ. أخرجه البخاري

“Rasul memilih perkara yg ringan jika ada dua pilihan selama tidak mengandung dosa. Jika mengandung dosa, Rasul akan menjauhinya. Demi Allah, beliau tidak pernah marah karena urusan pribadi, tapi jika ajaran Allah dilanggar maka beliau menjadi marah karena Allah (lillah).” (QS. Al-Bukhari)

Hadits diatas juga menunjukkan kekeliruan anggapan kaum liberal bahwa Rasulullah tidak marah dan bersikap toleran jika agama dihina. Ucapan seperti “Tuhan tidak perlu dibela”, “Yang dihina Tuhan kok kamu yang marah?”, dan sebagainya menurut kami merupakan salah satu cara menggerus ghirah Islamiyah dari umat Islam sehingga umat Islam menjadi lemah dan tidak peka hati dan fikirannya melihat pemurtadan, pelecehan Al-Quran, liberalisme, pluralisme, dan LGBT diasongkan begitu massif di tengah-tengah mereka. Tidak lagi menangis ketika melihat sumber daya alam negara dikeruk oleh pihak asing dan direndahkannya kaum pribumi dalam kegiatan ekonomi, sosial, budaya, dan politik. Na’udzubiLlahi min dzalika.

Kondisi seperti ini telah ditangisi oleh pendiri NU Hadlratus Syaikh KH. Hasyim Asy’ari. Beliau menyebutkan:
“Setiap hari mata kita menyaksikan berbaurnya lelaki dan perempuan (termasuk di sekolah-sekolah Islam) dengan pembauran yang menggelisahkan, dan telinga kita mendengarkan fenomena pergaulan bebas antara lelaki dan perempuan “apakah ini halal”, lantas didiamkannya, “ataukah ini haram” yang menyebabkan kemurkaan Allah dan kehinaan di dunia. Selain itu masih ada yang lebih celaka dan lebih pahit dari pada yang tersebut di atas, yaitu tersebarnya ajaran-ajaran kufur dan pemikiran sesat di kalangan anak-anak muda muslim baik di desa maupun di kota.”
“Termasuk dari kerusakan zaman adalah bahwa ada sekelompok orang yang mengaku berasal dari komunitas muslim, bahkan mengaku sebagai pembesar-pembesar Islam, namun mereka tidak mau menundukkan kepala terhadap perintah-perintah Allah, mereka tidak mau menjauhi larangan-larangan-Nya (artinya mereka meninggalkan Syari’at Islam), bahkan dahi-dahi mereka tidak pernah menempel di masjid. Dari sinilah adanya indikasi bahwa jika keagamaan di Negara kita menjadi sangat lemah bahkan hampir mati. (Muktamar NU 24 Mei 1948)” (1)

Syarat Praktek Pengamalan Ghirah Islamiyah

Sebagai seorang Muslim, ghirah atau kecintaan kepada Islam harus ditampakkan melalui pengamalan zahir dengan memperhatikan beberapa hal berikut:

1. Harus dilaksanakan dengan niat ikhlas untuk menolong agama Allah,bukan hanya untuk memenuhi hasrat amarah, nafsu, apalagi kepentingan harta dan jabatan.

2. Menyadari betul bahwa ini adalah cobaan dari Allah Ta’ala untuk mengukur seberapa kuat iman kita kepada-Nya dan Rasul-Nya.

3. Mengetahui dan menggunakan strategi dan metode yang tepat untuk menghadapi berbagai serangan yang terjadi.

4. Melakukan aksi sesuai kadar kemampuannya, tidak bertindak berlebihan sehingga malah menimbulkan masalah baru di tengah masyarakat.

5. Mempertimbangan maslahat dan mafsadah yang akan timbul.

6. Mengetahui peran dan tugasnya sesuai posisi dan kemampuan masing-masing.

7. Dilakukan dengan tenang, tidak bertindak anarkis, dan tetap memperhatikan kondisi masyarakat

8. Dilakukan dengan sabar, telaten, dan tidak mudah menyerah. (2)

Ghirah Wathaniyah berdasarkan Ghirah Islamiyah

Konsep ghirah Islamiyah dalam Islam terbatas dalam lingkup satu agama dan atas dasar prinsip agama bukan didasarkan pada kepentingan golongan, kelompok dll, serta tetap menjaga hak-hak persaudaraan.
Adapun konsep ghirah Basyariyah dan Wathaniyah, maka keduanya juga harus tetap mengacu pada Syari’at Islam. Keduanya bisa diterapkan sepanjang tidak bertentangan dengan ketentuan-ketentuan Syari’ah dan tidak memposisikannya di atas hukum-hukum Syari’ah.

Islam dengan ajarannya yang samahah (mudah) dan hakimah (berhikmah) tidak melarang seorang Muslim untuk berbuat untuk negaranya, saling mengasihi kepada sesama bangsanya, serta mengerahkan seluruh jiwa dan raganya untuk kepentingan bangsanya, karena hal ini merupakan bagian dari ukhuwah Islamiyah nan agung yang menyatukan umat Islam di seluruh dunia tanpa memandang ras, suku, dan bangsanya.

Adapun Hadits hubbul wathan minal iman sebenarnya adalah palsu. Akan tetapi ulama pakar hadits al-Sakhawi berkata bahwa meski hadits ini lafazhnya palsu namun maknanya sahih, dengan catatan wathonnya wathon islami. (3)

Ghirah Islamiyah Rasulullah ShallaLlahu ‘alaihi wa Sallama

Dalam kajian sejarah Islam, Rasulullah ShallaLlahu ‘alaihi wa Sallama pada awalnya sudah memiliki pengaruh dan kedudukan yang penting di dalam masyarakat Quraisy kala itu. Beliau dijuluki sebagai al-Amin dan diberi kewenangan sebagai mediator dan negosiator pada saat tokoh-tokoh pembesar Quraisy saling berebut memindahkan Hajar Aswad.
Akan tetapi, setelah menerima tugas dakwah Islam oleh Allah Ta’ala, Rasulullah secara tegas mendakwah ajaran Islam meskipun apa yang beliau sampaikan tersebut banyak ditolak oleh bangsanya yaitu bangsa Quraisy, bahkan oleh keluarganya sendiri. Rasa nasionalisme Rasulullah terhadap bangsa Quraisy ditinggalkan demi menegakkan Tauhid.

Rasulullah ShallaLlahu ‘alaihi wa Sallama banyak mengkritik bangsa Arab Jahiliyah karena sikap fanatisme buta terhadap warisan kepercayaan dan budaya nenek moyang mereka sehingga mereka menjadi buta dan tuli akan kebenaran. Hal ini seperti difirmakan Allah Ta’ala:

وَإِذَا قِلَ لَهُمُ اتَّبِعُوا مَا أَنْزَلَ اللَّهُ قَالُوا بَلْ نَتَّبِعُ مَا أَلْفَيْنَا عَلَيْهِ آبَاءَنَا أَوَلَوْ كَانَ آبَاؤُهُمْ لَا يَعْقِلُونَ شَيْئًا وَلَا يَهْتَدُونَ (170) وَمَثَلُ الَّذِينَ كَفَرُوا كَمَثَلِ الَّذِي يَنْعِقُ بِمَا لَا يَسْمَعُ إِلَّا دُعَاءً وَنِدَاءً صُمٌّ بُكْمٌ عُمْيٌ فَهُمْ لَا يَعْقِلُونَ (171) [البقرة : 170 ، 171]

“Dan apabila dikatakan kepada mereka: “Ikutilah apa yang telah diturunkan Allah,” mereka menjawab: “(Tidak), tetapi kami hanya mengikuti apa yang telah kami dapati dari (perbuatan) nenek moyang kami”. “(Apakah mereka akan mengikuti juga), walaupun nenek moyang mereka itu tidak mengetahui suatu apapun, dan tidak mendapat petunjuk?”. (170) Dan perumpamaan (orang-orang yang menyeru) orang-orang kafir adalah seperti penggembala yang memanggil binatang yang tidak mendengar selain panggilan dan seruan saja. mereka tuli, bisu dan buta. Maka (oleh sebab itu) mereka tidak mengerti. (171)” (QS. Al-Baqarah: 170-171)

Rasulullah ShallaLlahu ‘alaihi wa Sallama telah menghimbau umat Islam untuk mendahulukan semangat keislaman di atas semangat kesukuan dan kebangsaan. Dalam hadits disebutkan:

عَنْ أَبِى مُوسَى قَالَ جَاءَ رَجُلٌ إِلَى النَّبِىِّ – صلى الله عليه وسلم – فَقَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ ، مَا الْقِتَالُ فِى سَبِيلِ اللَّهِ فَإِنَّ أَحَدَنَا يُقَاتِلُ غَضَبًا ، وَيُقَاتِلُ حَمِيَّةً . فَرَفَعَ إِلَيْهِ رَأْسَهُ – قَالَ وَمَا رَفَعَ إِلَيْهِ رَأْسَهُ إِلاَّ أَنَّهُ كَانَ قَائِمًا – فَقَالَ مَنْ قَاتَلَ لِتَكُونَ كَلِمَةُ اللَّهِ هِىَ الْعُلْيَا فَهُوَ فِى سَبِيلِ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ . أخرجه البخاري

Dari Abu Musa, ia berkata: Seorang lelaki mendatangi Rasulullah ShallaLlahu ‘alaihi wa Sallama lalu bertanya, “Wahai Rasulullah, apakah yang dinamakan berperang di jalan Allah? Seorang dari kami ada yang berperang karena marah, dan ada yang berperang karena kehormatan bangsa.” Lalu Rasulullah menghadapkan kepala beliau kepadanya – dan beliau tidak mengangkat kepalanya kecuali karena lelaki tersebut berdiri – seraya menjawab, “Barangsiapa berperang untuk meninggikan KalimatuLlah, maka ia berperang di jalan Allah Azza wa Jalla.” (HR. Bukhari)

Contoh selanjutnya adalah perjanjian antara Rasulullah ShallaLlahu ‘alaihi wa Sallama bersama kaum Muhajirin dengan kaum Anshar dan komunitas non-Muslim di Madinah yang biasa disebut Madinah Charter atau Piagam Madinah. Menurut Zainal Abidin Ahmad dalam bukunya Piagam Nabi Muhammad S.A.W.: Konstitusi Negara Tertulis Pertama di Dunia (Jakarta: Bulan Bintang, 1973) Piagam Madinah disebut sebagai konstitusi negara tertulis pertama di dunia, mendahului Magna Charta Inggris selama enam abad; dan mendahului Konstitusi Amerika Serikat dan Perancis selama 12 abad. Beberapa kalangan mengatakan bahwa Piagam Madinah adalah bukti penerimaan Rasulullah terhadap toleransi dan kebhinnekaan berbasis pluralisme. Ini jelas keliru, karena dalam Piagam Madinah tidak ada pengakuan terhadap kebenaran ajaran agama lain. Dalam Piagam Madinah Rasulullah menyatukan kaum Muslimin Muhajirin dan Anshar sebagai satu umat yang saling melindungi, saling menjaga dari sikap zalim, serta siap berjihad dan setia kepada Rasulullah. Dalam Piagam Madinah Rasulullah bersepakat dengan komunitas Yahudi untuk saling menjaga dari bertindak zalim dan serangan dari luar terhadap Negara Madinah, melakukan transaksi tanpa riba dengan kaum Muslimin, serta melaksanakan ajaran agamanya menurut kepercayaan masing-masing(4). Disini Rasulullah ShallaLlahu ‘alaihi wa Sallama menghargai pluralitas masyarakat di Madinah, namun tidak membenarkan ajaran agama selain Islam seperti kata kaum pluralis.

Akan tetapi, ketika Yahudi Bani Qainuqa melanggar Piagam Madinah tersebut dengan melakukan pelecehan seksual terhadap seorang Muslimah yang melewati mereka, maka Rasulullah ShallaLlahu ‘alaihi wa Sallama memperingatkan mereka untuk tidak mengulanginya lagi. Namun Yahudi Bani Qainuqa tidak menggubris dan malah menantang Rasulullah, sehingga akhirnya mereka dikepung lalu diusir dari Madinah.(5)

Keputusan Rasulullah ini bukan tanpa alasan. Menurut Syaikh Ramdlan al-Buthi, Yahudi Bani Qainuqa memang sudah lama menyimpan dendam kesumat dengan Rasulullah apalagi setelah kemenangan umat Islam saat perang Badr. Mereka bahkan sudah berencana untuk melakukan kudeta dan penyerangan terhadap umat Islam. Ketika kaum Muslimin pulang dari perang Badr, Malik bin Shaif berkata kepada Bani Qainuqa, “Apakah kalian takut menghadapi sekelompok klan Quraisy yang tidak tahu cara berperang? Tidak. Apabila kita tidak menyembunyikan rencana kita untuk menyatukan kalian, kalian tidak akan punya kekuatan untuk berperang.”(6)

Setelah itu, Yahudi Bani Nadhir ikut-ikutan melanggar dan membatalkan isi Piagam Madinah yang sudah diputuskan bersama. Mereka dipersilahkan Rasulullah ShallaLlahu ‘alaihi wa Sallama untuk keluar dari Madinah, namun Abdullah bin Ubay lagi-lagi menghasut mereka untuk menyerang Rasulullah dan merebut daerah mereka. Akhirnya mereka dikepung oleh Rasulullah hingga akhirnya mereka menyerah.
Fakta historis Sirah Nabawiyah ini membuktikan bahwa rasa nasionalisme, kebangsaan, dan ukhuwah wathaniyah harus sesuai dan tunduk kepada Syari’ah Islam, dan umat Islam harus tegas kepada oknum-oknum yang melecehkan serta merusak ajaran dan umat Islam.

Ghirah Islamiyah dalam Sejarah para Khalifah

Pada masa Khulafa Rasyidun, ghirah Islamiyah yang tinggi dan membara terlihat dari ketegasan Khalifah Abu Bakr al-Shiddiq untuk memerangi kaum yang murtad karena hasutan nabi-nabi palsu dan kaum yang tidak mau membayar zakat (arab pedusunan), disaat banyak shahabat yang mengajukan usulan untuk menyadarkan mereka dengan jalur negosiasi dan persuasif. Bahkan shahabat Umar yang dikenal sangat keras pun berkata demikian. Namun khalifah Abu Bakr tetap pada ijtihadnya dan malah mengkritik keras Shahabat Umar karena sarannya tersebut. Akhirnya khalifah Abu Bakr menang dan para pembangkang tersebut bertaubat.(7)

Khalifah Umar juga tegas dalam melaksanakan hukum Islam tanpa memandang jabatan dan hubungannya. Khalifah Umar menghukum had terhadap Qudamah bin Mazh’un meski merupakan adik iparnya sekaligus gubernur daerah karena minum khamr(8). Beliau tidak segan-segan menghukum kerabatnya sendiri karena telah melanggar hukum Islam. Ini sesuai dengan ajaran Rasulullah ShallaLlahu ‘alaihi wa Sallama untuk menerapkan hukum Islam tanpa pandang status sosialnya. Beliau bersabda:

إِنَّمَا هَلَكَ الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ أَنَّهُمْ كَانُوا إِذَا سَرَقَ فِيهِمُ الشَّرِيفُ تَرَكُوهُ وَإِذَا سَرَقَ فِيهِمُ الضَّعِيفُ أَقَامُوا عَلَيْهِ الْحَدَّ وَايْمُ اللَّهِ لَوْ أَنَّ فَاطِمَةَ بِنْتَ مُحَمَّدٍ سَرَقَتْ لَقَطَعْتُ يَدَهَا. أخرجه أبو داود

“Orang-orang sebelum kalian hancur gara-gara ketika yang mencuri adalah orang terpandang maka dibiarkan dan jika yang mencuri adalah orang lemah maka ditegakkan sanksi padnaya. Demi Allah, andai Fathimah binti Muhammad mencuri niscaya aku potong tangannya.” (HR. Abu Dawud)

Jejak Pesantren dalam Menegakkan Islam dan Kemerdekaan Indonesia

Dalam konteks keindonesiaan, sejarah membuktikan bahwa pesantren dari zaman dahulu merupakan lembaga pendidikan Islam yang tidak hanya mengajarkan ilmu-ilmu Islam, namun juga menanamkan ghirah Islamiyyah, semangat jihad, dan perjuangan disertai keikhlasan hati dan pengorbanan. Pesantren dalam rekaman sejarah Indonesia telah berhasil menjadi benteng pertahanan bagi masyarakat Indonesia. Tidak sedikit kita temukan para pejuang mulai zaman kolonialisme hingga era kemerdakaan berasal dari kaum santri dan kyai yang gigih menyuarakan jihad secara fisik ataupun intelektual untuk menghalau dan melepaskan diri dari imperialism kaum kafir.

Pada zaman kolonialisme Belanda sejarah mengenal sosok para santri berjuang di medan perang seperti Sultan Agung, Imam Bonjol, dan Pangeran Diponegoro. Sultan Agung dari Kesultanan Mataram bersama Dipati Ukur melancarkan serangan terhadap VOC Belanda tahun 1628-1629 M hingga banyak serdadu Belanda ditawan di Yogyakarta. Imam Bonjol bersama para lama menggelorakan perang Paderi tahun 1821-1837 mennghadapi kaum Adat yang bekerjasama dengan Belanda. Pangeran Diponegoro yang pada masa mudanya hidup di lingkungan pesantren Tegalrejo dan serius dalam belajar ilmu agama berjuang bersama para ulama dan santri melancarkan peperangan hingga hampir membangkrutkan negeri Belanda dan menelan korban dari pihak Belanda hingga 700 jiwa dan biaya perang 20 juta Golden.

Pada era kemerdekaan kita mengenal sosok para ulama pejuang kemerdekaan nasional seperti KH. Hasyim Asy’ari dan KH. Wahab Hasbullah. KH. Hasyim Asy’ari melakukan resolusi jihad bersama kaum santri di Indonesia untuk memperjuangkan kemerdekaan. KH. Wahab Hasbullah dan Mas Mansoer mendirikan Nahdlatul Wathan (embrio Nahdlatul Ulama) yang berjuang mengembangkan pendidikan dan kesadaran politik nasional terhadap kalangan Ahlussunnah wal Jama’ah. Di era ini juga ada organisasi Jam’iyatul khairat, yang didirikan oleh para habaib dan ulama, atas dakwah merekalah semangat juang rakyat menggelora untuk memerdekakan bangsa ini. Sangat tidak beradab jika oknum elite PBNU menghujat dakwah para habaib dari Timur Tengah khususnya Yaman, dan menuduh dakwahnya hanya untuk “kluyar-kluyur” di negeri orang. Apa elite PBNU ini tidak pernah mendengar pidato Soekarno di Semarang Tahun 1948 M. yang isinya “Kita juga harus harus berterima kasih kepada warga keturunan Cina. Kita juga harus berterima kasih kepada warga keturunan India. Tetapi kita jangan berterima kasih kepada warga keturunan Arab, karena …Karena … mereka … sudah menjadi bagian dari keluarga besar bangsa kita sejak ratusan tahun yang lalu….” Maka itu Bung Karno sendiri yang mengusulkan dan membuat PP No.10 yang disetujui MPR bahwa warga keturunan Arab diberi status Kewarganegaan ‘Stelsel pasif’ yang sama dengan warga Pribumi yaitu otomatis dianggap dan dicatat sebagai WNI.

Organisasi Nahdatul Ulama lahir dari gabungan tiga organisasi besar di kala itu, yakni Nahdotuttujjar yang diketuai oleh KH. Hasyim Asy’ari, Nahdatul Wathan oleh KH. Wahhab Hasbullah dan Jam’iyyatunnasihin oleh KH. Asnawi Kudus. Sedangkan pemberian nama Nahdatul Ulama diberikan oleh seorang ulama keturunan Makkah teman KH. Wahhab Hasbullah. Bahkan berdirinya Nahdatul Wathan dilatar belakangi oleh perasaan malu KH. Wahhab Hasbullah terhadap kaum nasionalis yang telah dulu memperjuangkan kemerdekaan, beliau merasa mentalnya terbebani bila kaum santri ketinggalan jauh dalam upaya memperjuangkan kemerdekaan Indonesia, apalagi ditambah sebagian besar orang-orang Islam jaduk (sakti mandraguna) memihak penjajah.

Keberadaan orang-orang jaduk di era penjajahan, meski tidak semuanya akan tetapi kebanyakan dari mereka dimanfaatkan oleh kolonial Belanda, guna melemahkan perjuangan rakyat yang ingin memberontak kekuasaan penjajah, para pendekar pengkhianat bangsa ini dengan sadis membantai saudara setanah air, kelaliman Raja Amangkurat I yang bekerjasama dengan VOC adalah contoh kongkretnya, ribuan kiai dan santri dibantai pada masanya, sehingga ia dijuluki Raja Tiran dari Jawa. Begitulah cara-cara licik penjajah, memanfaatkan peran kejawen dan orang jaduk untuk membackup segala daya upaya pemberontakan rakyat. China-Komunitas juga demikian, dibesar-besarakan dan diunggulkan di atas pribumi, untuk memperkuat hegemoni penjajah. Dalam bidang pendidikan, penjajah sengaja menggalakkan pelajaran-pelajaran umum di sekolah-sekolah mereka, yang sangat membahayakan akidah umat Islam semisal Ilhadiyah yang menafikan Allah SWT sebagai pencipta langit bumi. Kaum santri tempo dulu dilarang membaca tafsir Thantawi, karena tafsir ini menerangkan tata cara merakit bom. Sedangkan para pegawai di masa pemerintahan penjajah, yang mayoritas dijabat oleh kaum priyai, kiga dicekoki ajaran-ajaran Kristen, tapi untungnya dalam telinga mereka masih terngiang lantunan-lantunan kalam ilahi yang diajarkan oleh kiai yang ikhlas di masa kecilnya, oleh karena itu, pengajaran al-Quran harus meneladani metode kiai-kiai kuno, jangan seperti sebagian pendidikan Al-Quran zaman sekarang, yang didominasi guru-guru perempuan dan terlalu banyak iuran. Menurut cerita KH. Maimoen Zubair, ada dua istilah bagi kiai zaman kuno, ada kiai mataram (ketika mengajar perempuan tidak pakai satir) ada kiai pajang (pakai satir ketika mengajar perempuan), akan tetapi lebih banyak kiai mataramnya, Wallahu alam.

Menjaga Indonesia bukan menjadi goyah (tujuan), akan tetapi sebuah wasilah (sarana) untuk memperjuangkan masjid, madrasah diniyah, hukum-hukum Islam dan pendidikan Islam, agar tidak terjadi kevakuman seperti pada zaman penjajahan Jepang. Begitulah manhaj perjuangan para sesepuh ulama tempo dulu yang kami pahami. Tidak seperti yang digaungkan oleh kaum liberalis yang menyatakan semua perjuangan ulama itu berdasarkan jiwa nasionalisme tinggi. Dan perlu kami terangkan bahwa syubbanul yaum rijalul gad itu bukan hadits, akan tetapi maqolah syaikh Musthofa Al-Ghalayini dalam kitab Idzotunnasyiin dan juga hubbul wathan minal iman itu hadits palsu, akan tetapi mungkin maknanya benar jika negara yang dimaksud dalam maqolah tersebut adalah negara Islam atau minimal islami.

Sikap istiqamah dan ikhlas para ulama pesantren dalam mengajarkan ilmu-ilmu Islam juga sebagai implementasi jihad intelektual. Pengajaran terhadap kitab-kitab ulama yang luhur seperti Fath al-Qarib, Fath al-Mu’in, Aqidah al-‘Awam, Ta’lim al-Muta’allim, Bulugh al-Maram, Alfiyyah li Ibni Malik, dan lainnya dilakukan secara intens, disiplin, dan konsisten. Mereka juga mengarang kitab dalam berbagai fan ilmu untuk mengembangkan keilmuan Islam dan meluruskan berbagai kesesatan dari pihak kafir atau muslim sendiri. Jihad intelektual dan amar ma’ruf nahi munkar inilah yang membuat eksistensi pesantren tetap tegap dan megah melewati dinamika sejarah dan tidak bergeming oleh rekayasa kaum penjajah.

Implementasi Ghirah Islamiyah-Wathaniyah Masa Kini

Umat Islam Indonesia memang belum memiliki pemerintahan Islam, namun bukan berarti kita berpangku tangan ketika nilai-nilai Islam dinistakan. Justru dalam kondisi seperti ini ghiroh Islamiyah harus dipupuk dan ditampakkan di khalayak umum, asalkan tidak bertindak anarkis dan inkonstitusional, sebagai bukti besarnya harapan kita akan terwujudnya pemerintahan Islam. Jangan seperti partai-partai Islam akhir-akhir ini yang justru melawan ghiroh Islamiyah dengan dukungannya terhadap kepemimpinan non muslim. Prinsip ini didasari oleh sabda Nabi Muhammad SAW.
من مات وليس في عنقه بيعة مات ميتة جاهلية. أخرجه البيهقي في السنن الكبرى

“Rasulullah SAW bersabda: siapapun yang mati, sedang dalam lehernya tidak diketemukan ikatan baiat (terhadap pemerintahan Islam), sungguh ia mati sebagaimana model kematian jahiliyyah” (HR. Al-Baihaqi, As-Sunan al-Kubra)

Kita jangan buta mata, acuh tak acuh ketika Islam dilecehkan, sebagaimana sikap Wahhabi dan NU yang mengaku moderat. Umat Islam jangan rela agamanya dikebiri di negeri sendiri. Meskipun itu sebuah kenyataan pahit, namun hal ini harus kita lawan dan hilangkan dengan penuh kesabaran, harapan, rasa optimisme yang tinggi serta tidak putus asa sehingga menimbulkan depresi. Semua ini dapat tercapai asal umat Islam tetap istiqomah membaca Al-Qur’an, berdo’a, membaca hizib-hizib seperti hizib bukhari, hizib nashor, mengaji kitab-kitab di pesantren, ngopeni masjid dan madrasah diniyah, tidak terlalu sibuk dan terforsir dengan materi duniawi. Insyaallah harapan nenek moyang kita yang mencita-citakan izzul islam wal muslimin di bumi pertiwi dapat segera terwujud, Innallaha ‘ala kulli syai’in qodir.

Akhir-akhir ini banyak para tokoh Islam menyuarakan “NKRI-Pancasilaharga mati” di tengah-tengah umat Islam, padahal semestinya kita harus mengingatkan kepada umat tentang penghianatan-penghianatan musuh Islam di Majelis Konstituante, penghapusan tujuh kata dalam Piagam Jakarta, penolakan Soekarno terhadap syarat Islam bagi pemimpin Indonesia, bahkan di era reformasi, lewat Amandemen, Amien Rais dkk telah menghapus UUD 45 pasal 6 ayat (1) perihal presiden harus orang Indonesia Asli.

Di samping itu, sangat disayangkan, ada dan bahkan banyak dari mereka justru mencibir takbir. Padahal sejarah mencatat bahwa Indonesia jaya berkat pekikan takbir Bung Tomo dan kawan-kawannya. Begitu juga munculnya resolusi jihad Mbah Hasyim Asy’ari atas dasar membela azan, sholat, dan hukum-hukum Islam yang lain. Namun oleh gerombolan liberal justru dibelokkan atas dasar jiwa nasionalisme. Ini jelas sebuah pemutar balikan fakta.
Gerakan-gerakan seperti ini tidak hanya dilakukan oleh para liberalis. Upaya pengkerdilan terhadap Islam juga datang dari para misionaris. Islam di Indonesia yang tempo dulu mencapai 98% kemudian terkikis menjadi 80% gara-gara kristenisasi, bahkan mungkin bisa kurang dari itu(9). Hal ini karena upaya mereka yang memperbanyak gereja, simbol-simbol kristen di daerah minoritas Islam dan juga menghitung penganut kepercayaan animisme yang tersebar luas di Papua, Sampit, Simalungun dan lain sebagainya.

Kesemua ini masuk dalam ranah al-gozwul fikri Proyek-proyek zionisme melalui beberapa fase:
Ta’lih ‘uqul (menuhankan akal)
Tahrirul ‘uqul (membebaskan akal)
Tahrirunnisa’ (membebaskan wanita)
Muhawalatuttahrif (upaya pendistorsian)
Muhawalatuttasykik (menebar keragu-raguan)
Wad’ul qowanin al-basyariyah (menetapkan undang-undang kemanusiaan)
Muhawalatuttaghrib (westernisasi)
Muhawalatuttakhdits (modernisasi)
Muhawalatuttafriq bainal muslimin (upaya pemecah belahan umat Islam) termasuk takfir ala Wahhabi.

Sejarah mencatat bahwa sekte syiah selalu menjadi biang keladi kericuhan dan pemberontakan terhadap pemerintahan Islam. Penghianatan Syiah pertama dilakukan oleh Abdullah bin Saba’, Alib bin Yaqtin pada masa Harun Al-Rasyid, Dinasti Fatimiyah di Mesir, Menteri Syiah An-Nashir Lidinillah, Muhammad Al-Qami dan Nasiruddin At-Thusi pada masa pmerintahan Al-Mu’tasim Billah, Dinasti Shofawi di Persia, pengkhianatan Khomeini, Organisasi amal yang melahirkan Hizbullah, pengkhianatan Syiah di Bahrain, Yaman, Saudi Arabia, Pakistan dll.

Contoh pengamalan ghiroh wathaniyah yang selaras dengan ghiroh islamiyah di masa kini adalah mewaspadai segala macam bentuk penjajahan asing dan aseng, mulai dari bidang agama, ekonomi, sosial, budaya, dan politik. Kasus-kasus seperti penistaan agama yang marak terjadi akhir-akhir ini, semisal Nabi dikatakan peramal masa depan, puisi yang mengatakan bahwa kidung ibu pertiwi lebih indah dari suara azan dan sari konde yang lebih anggun dari cadar, kitab suci dianggap fiksi, Al-Qur’an bukan kitab suci, Nabi Muhammad bukan pula manusia suci, ujaran-ujaran negatif terhadap Haba’ib Timur Tengah yang berdakwah di Indonesia, imigrasi besar-besaran pekerja asing dari china, mudahnya pemerintah mengimpor barang-barang komoditi tanpa memikirkan petani, secara diam-diam menaikkan harga BBM dukungan penuh pemerintah dalam proyek reklamasi, maraknya barongsai yang diundang dimana-mana, tekanan terhadap partai-partai Islam untuk mendukung segala kebijakan pemerintah yang bertentangan dengan aspirasi umat Islam, harus menjadi obyek ghiroh wathaniyah-islamiyah sebagai bentuk upaya menciptakan bangsa dan negara yang makmur.

Ikhtitam

Kecintaan terhadap bangsa dan negara Indonesia memang diperlukan sebagai wujud cinta kepada tanah kelahiran kita. Akan tetapi, kecintaan kita kepada bangsa dan negara tidak semestinya ditempatkan diatas kecintaan kita kepada Allah dan Rasul-Nya. Bahkan ghirah dan ukhuwah wathaniyah akan menjadi semakin kuat dan bermakna bila didasarkan kepada ghirah dan ukhuwah Islamiyah.

Semoga Allah Ta’ala selalu memberi kita hidayah dan taufiq untuk selalu mencintai dan ikhlas berbuat untuk agama-Nya, serta memberi barakah kepada Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) yang berdiri berkat jasa dan jihad para ulama dan santri bersama pemerintahan Islam dan rakyat Indonesia sehingga selalu dijaga keislamannya untuk kita dan anak cucu kita nanti. Amin Ya Rabbal ‘Alamin.

وصلى الله على سيدنا محمد وعلى آله وصحبه وسلم

Sarang, 14 Sya’ban 1439 H.
30 April 2018 M.

KH. Muhammad Najih Maimoen

** Catatan Kaki;

1. Syaikh Muhammad Najih, Ahlussunnah wal Jama’ah: Akidah, Syari’ah, Amaliyah, Sarang: Maktabah Al-Anwar 1, hlm. 56.

2. Hujjatul Islam Abu Hamid Muhammad bin Muhammad Al-Ghazali. Ihya Ulummiddin. Beirut: Dar al-Kutb al-Ilmiyyah, Juz 2 hlm. 279.

3. Abu Abdullah Muhammad bin Darwish, Asna al-Mathalib fi Ahadits Mukhtalif al-Maratib, Beirut: Dar al-Kutb al-Ilmiyyah, hlm. 181.

4. Syaikh Ramdlan al-Buthi, Fiqh al-Sirah, Beirut: Dar al-Fikr, hlm. 223-224.

5. Fiqh al-Sirah, hlm. 248.

6. Fiqh al-Sirah, Beirut: Dar al-Fikr, hlm. 252.

7. Jalaluddin al-Suyuthi, Tarikh al-Khulafa, Mesir: Mathba’ah al-Sa’adah, hlm. 67.

8. Abu Bakr Ibn al-Arabi, al-‘Awashim min al-Qawashim, Beirut: Dar al-Jil, hlm. 105.

9. Disarikan dari ceramah KH. Sadid Jauhari, di Madrasah Ghazaliyah Syafiiyyah, Sarang Rembang 26 April 2018