“HITAM PUTIH TOLERANSI” Oleh KH. M. Najih Maimoen

​SEMINAR TOLERANSI DI PESANTREN SIDOGIRI, ABAH NAJIH: “KITA SUDAH TOLERANSI. KITA SUDAH BANYAK MENGALAHNYA DI NEGERI INI.”

Demikian penggalan kalimat yang diucapkan oleh Syaikh Muhammad Najih Maimoen ketika diundang sebagai keynote speaker dalam Kuliah Umum bertajuk “Hitam Putih Toleransi” di Pondok Pesantren Sidogiri Pasuruan Jawa Timur, Senin siang (11 Sya’ban 1438 H/8 Mei 2017 M). Ini merupakan salah satu rangkaian acara untuk menyemarakkan Milad Pondok Pesantren Sidogiri ke-280 dimana puncak acaranya berlangsung pada hari Kamis 14 Sya’ban 1438 H atau 11 Mei 2017 M. Acara ini diselenggarakan oleh Organisasi Murid Intra Madrasah (OMIM) melalui Unit Kegiatan Pengembangan Intelektual (UKPI) di aula kantor Laz-Sidogiri, dengan dihadiri oleh seluruh murid MMU Aliyah.

Lakum Dinukum Wa Liya Din: Larangan Berbarengan dalam Beribadah

Dalam acara tersebut, Syaikh Muhammad Najih memaparkan beberapa ayat yang sering digunakan sebagai dalil toleransi kaum liberal. Pertama yang beliau bahas adalah QS. Al-Kafirun: 6:

لَكُمْ دِينُكُمْ وَلِيَ دِينِ [الكافرون : 6]

“Untukmu agamamu dan untukkulah agamaku.” (QS. Al-Kafirun: 6)

Tentang ayat tersebut, Abah Najih menjelaskan bahwa sabab nuzulnya adalah ketika kafir Quraisy mengajak Rasulullah untuk saling bergantian dalam menyembah agama. Lalu turunlah Surah Al-Kafirun sebagai larangan untuk melakukan hal tersebut. Menurut beliau, ayat lakum dinukum wa liya din juga melarang untuk berbarengan dalam beribadah (seperti halnya doa lintas agama, red.)

“Sekarang lagi ngetren ayat lakum dinukum wa liya din. Tapi dari kalangan liberal memaknai ayat ini dalil kebebasan beragama dan kebenaran agama-agama selain Islam. Padahal ayat sebelumnya qul ya ayyuhal kafirun. Kalau kita kaitkan dengan ayat sebelumnya sangat zhahir menyebutkan perbedaan Islam dan agama lainnya. Sama halnya mereka berdalil fawailul lil mushallin (QS. Al-Ma’un: 4), tapi tidak diteruskan. Ini bahaya sekali,” tegas Abah Najih.

Lanjut beliau, “Lakum artinya hanyalah bagimu agamamu, waliya din artinya hanyalah bagiku agamaku. Bukan kok membolehkan, tapi tidak mau agama dicampur-campur, tidak mau diliberalkan, tidak mau dipluralkan. Maknanya sharih sekali. Sama dengan ayat waddu lau tudhinu fayudhinun (QS. Al-Qalam: 9).”

Setelah itu beliau menjelaskan bahwa kaum liberal menyebarkan ajaran seperti itu supaya umat Islam lemah. “Liberal itu  kepengen kamu lemah, dikasih toleran ini kan, dan akhirnya mereka juga bersikap lemah. Artinya umat Islam tidak protes agamanya dikurang-kurangi, non-Muslim masuk ke masjid, orang Islam masuk ke gereja. Ini agama campursari, agama blonthang-blontheng.” tandas beliau.

Maksudnya Yahudi dan Nasrani yang Masuk Islam

Selanjutnya, beliau mengupas tentang dalil toleransi lain versi kaum liberal yaitu QS. Al-Baqarah: 62.

إِنَّ الَّذِينَ آمَنُوا وَالَّذِينَ هَادُوا وَالنَّصَارَى وَالصَّابِئِينَ مَنْ آمَنَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ وَعَمِلَ صَالِحًا فَلَهُمْ أَجْرُهُمْ عِنْدَ رَبِّهِمْ وَلَا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلَا هُمْ يَحْزَنُونَ [البقرة : 62]

“Sesungguhnya orang-orang mukmin, orang-orang Yahudi, orang-orang Nasrani dan orang-orang Shabiin, siapa saja diantara mereka yang benar-benar beriman kepada Allah, Hari Kemudian dan beramal saleh, mereka akan menerima pahala dari Tuhan mereka, tidak ada kekhawatiran kepada mereka, dan tidak (pula) mereka bersedih hati.” (QS. Al-Baqarah: 62)

Syaikh Muhammad Najih menjelaskan bahwa makna ayat innalladzina amanu walladzina hadu wa al-nashara diatas adalah orang Islam yang sebelumnya memeluk agama Yahudi dan Nasrani, atau orang Yahudi dan Nasrani yang meninggal sebelum datangnya Islam namun yakin bahkan akan ada nabi akhir zaman. Mereka yang sepert ini akan masuk surga asal mau beriman kepada Allah dan beramal shalih.

Beliau juga mengutip keterangan Dr. Wahbah al-Zuhaili dalam kitab tafsirnya bahwa yang orang-orang yang dimaksud dalam ayat diatas adalah para pemuka agamanya (syuyukh) Salman al-Farisi di daerah asalnya, kekuasaan Persia. Beliau menceritakan bahwa Salman Al-Farisi adalah putra saudagar kaya atau menteri kerajaan Persia yang beragama Majusi. Waktu masih kecil, ayahnya ingin beliau jadi tokoh Majusi di masyarakatnya. “Tapi waktu itu di Persia sudah ada Kristen. Kristen sudah menyebar banyak. Di Arab, di Ethiopia, di Somalia, di Mesir, bahkan Syria menjadi pusatnya. Di Irak dan Iran juga ada Kristen,” kata Abah Najih.

“Bahkan Tahun Gajah adalah penyerangan kaum Kristen kepada Ka’bah. Aslinya tentara gajah dan pemimpinnya Abrahah berasal dari Habasyah. Kemudian jadi raja di Yaman, lalu membangun Ka’bah tandingan di Yaman supaya orang Arab mau kesana. Sama halnya masjid yang baru dibangun di Jakarta Barat kemarin. Masjid kok ada salibnya. Semoga saja arahnya tidak kesitu, Amin. Tujuan kaum liberal adalah agar banyak kader-kader Kristen dan kader-kader penghormat Kristen,” lanjut beliau.

Beliau melanjutkan bahwa QS. Al-Baqarah: 62 ini seringkali digunakan sebagai dalil kaum liberal bahwa Yahudi dan Kristen masuk surga. “Ayat ini turun, tentang orang Arab, orang ajam (non-Arab), atau orang yang asalnya penyembah berhala lalu masuk Islam. Lalu orang Yahudi dan Nasrani yang tidak hidup sekurun dengan Kanjeng Nabi tapi beriman kepada Allah, beramal shalih, dan mengakui adanya nabi akhir zaman, serta niat jika nabi tersebut sudah diutus maka akan mereka ikuti, atau mereka hidup sekurun dengan Kanjeng Nabi dan masuk Islam. Ini kata Tafsir Jalalain. Tapi ayat ini sekarang dibuat dalil bahwa Yahudi Nasrani sama-sama masuk surga, dalilnya orang liberal.”

Abah Najih kemudian menyinggung sekilas tentang QS. Al-Baqarah: 120:

وَلَنْ تَرْضَى عَنْكَ الْيَهُودُ وَلَا النَّصَارَى حَتَّى تَتَّبِعَ مِلَّتَهُمْ [البقرة : 120]

“Orang-orang Yahudi dan Nasrani tidak akan senang kepada kamu hingga kamu mengikuti agama mereka.” (QS. Al-Baqarah: 120)

“Ayat ini menjelaskan aslinya mereka (Kristen) ingin mengkristenkan umat Islam. Tapi kemudian setelah pengalaman Perang Salib dan penjajahan, mereka sekarang alih strategi. Kalau dahulu ingin mengkristenkan, tapi kalau sekarang ingin umat Islam menghormati Kristen. Menghormati Nabi Isa di atas Nabi Muhammad ShallaLlahu ‘alaihi wa Sallama. Bagaimana supaya umat Islam ketika perayaan natal ikut natalan, kayak-kayak mengemis rotinya Kristen,” papar beliau.

Umat Islam Sudah Toleransi, Sudah Banyak Mengalahnya

Selanjutnya, Syaikh Muhammad Najih menyayangkan sikap kaum liberal dan orang-orang yang terpengaruh oleh mereka yang suka menuduh umat Islam yang menegaskan ajaran agamanya ini sebagai kaum yang tidak toleran dan penebar kebencian. Padahal, kata beliau, umat Islam di Indonesia ini sudah begitu toleran dengan non-Muslim dalam banyak hal.

“Kita itu sudah toleransi, artinya kita sudah tidak perang di negara ini. Banyak gereja di tengah-tengah umat Islam, itu sudah melanggar undang-undang sebenarnya. Kalau kita berontak itu mestinya harus dimaklumi. Kita sudah banyak mengalahnya. Yang penting kita doakan kalo perlu dibacakan wirid, supaya gereja-gereja itu tidak payu (oleh umat Islam, red.). Allahumma Amin,” doa beliau dengan diamini oleh seluruh peserta kuliah umum tersebut.

Lanjut beliau, “Mereka biasa bilang di acara-acara televisi, bahwa kita yang teguh dengan akidah kita ini menebar kebencian. Kita seperti ini dianggap menebar kebencian. Kita ini bukan menebar kebencian, kita mengamalkan tauhid, mengamalkan Islam, cemburu kepada tauhid jika dinodai oleh orang-orang liberal itu, oleh Ansor-Ansor itu. Dulu mereka Ansorul Ulama (Pembela Ulama), sekarang jadi Ansorul Qissisin (Pembela Pastor), Ansorul Kanais (Pembela Gereja), Ansoru Ahok (Pembela Ahok)!” Sontak peserta tertawa riuh sejenak.

“Kita bukan menebar kebencian. Kita takut kalau kita ikut mereka, kita menjadi sesat menyesatkan. Kita takut umat Islam ketarik kesana. Kita itu benci bukan artinya benci marah, tapi kita diajarkan untuk benci kufur. Maksud saya, kita tidak benci secara umum atau yang melanggar Pancasila atau UUD 45. Bahkan kita sudah banyak mengalahnya. Ya itu tadi gereja-gereja di tengah-tengah umat Islam. Iki kon diidek-dek maneh, ini kita mau diinjak-injak lagi.”

Abah Najih mewanti-wanti para peserta yang hadir dalam forum tersebut khususnya dan seluruh umat Islam seluruhnya agar selalu sabar dan meminta perlindungan kepada Allah agar terhindar dari fitnah besar liberalisme ini. “Kita sudah tidak bisa jihad, sudah tidak bisa apa-apa. Kita mau menyampaikan akidah kita tidak boleh, dianggap menebar kebencian. Kita di zaman akhir ini harus sabar dan kuat. Sabar itu artinya kuat. Mereka bilang kita menebar kebencian biar kita lemah. Kita bukan benci yang melanggar aturan, tapi benci dalam hati. Wong benci temannya setan kok gak boleh? Anak buah setan, kita harus benci. Kita isti’adzah biar tidak seperti mereka,” pesan beliau.

“Yang susah ini teman-teman kita, anak-anak kita, keponakan-keponakan kita, yang sekolah umum, tidak ada pendidikan tauhid, tidak ada pendidikan innaddina indaLlahil Islam (sesungguhnya agama yang diterima Allah hanya Islam), tidak pernah mendengar ayat itu, atau bahkan mungkin ayat itu dilarang. Kasihan mereka. Beruntung kita berada di pondok, AlhamduliLlah. Yang susah itu adalah yang tidak di pondok, atau di pondok tapi Pondok Lintas Agama di Semarang punya Nuril Arifin. Bahkan ada yang namanya Pondok Gus Dur atau apa itu. Itu membahayakan sekali. Mari dicabut anak-anak kita atau saudara-saudara kita yang ada disitu.”

Beliau lalu mengupas lebih dalam masalah toleransi umat Indonesia yang sebenarnya sudah sangat toleran sebelum kata toleransi ini digembor-gemborkan oleh kalangan liberal. “Kata mereka, demi HAM, demi toleransi, demi humanisme, kita harus baik-baikan dengan orang kafir. Kita sudah baik-baikan kan? Kita tidak melawan, tidak menyerang, bahkan kita tidak boikot produk-produk mereka. Seperti Alfamart dan Indomaret, itu kan milik Kristen. Ada dana dari mereka untuk kristenisasi. Kadang-kadang mereka merekrut orang Islam jadi pelayan mereka. Bahkan kadang-kadang tiap bulan ada ustadz untuk mencerahami mereka. Tapi tujuannya hanya bisnis. Kan pelayan mereka Muslim, kalau dinasihati pendeta non-Muslim tidak akan mau hadir, tapi kalau yang menasihati ustadz dan kiyai mereka mau hadir agar mereka tidak mencuri dan tidak korupsi. Tujuannya hanya bisnis saja, bukan liLlahi Ta’ala. Disitu ada dana pasti, sama dengan Djarum dsb, untuk kristenisasi. NaudzubiLlah min dzalik.”

“Sama dengan travel Armina yang sekarang dipromosikan di Jawa Pos dan TV9, itu milik Kristen. Orang Islam yang menggunakan jasanya diberi fasilitas yang enak. Dibuatkan testimoni ada orang yang asalnya tukang laundri ikut usaha bisnis travel Armina ini kemudian menjadi kaya dan tiap tahun bisa haji, tiap bulan bisa umrah. Memang umat Islam di situ dimanjakan, tapi pasti ada dana untuk kristenisasi,” lanjut beliau.

Uang dari Kegiatan Liberal: Uang Apa Itu?

Selanjutnya, Syaikh Muhammad Najih menyinggung tentang uang yang didapat dari memasarkan ideologi dan kegiatan liberal. Beliau menegaskan bahwa kaum liberal melakukan berbagai kegiatan dan menyebarkan pahamnya itu niatnya untuk mencari uang saja, meskipun mereka selalu menggembor-gemborkan tujuan kemanusiaan dan semacamnya. “Apakah cari uang lewat itu mesti halal? Wong bantu Kristen, bantu Yahudi Nasrani, bantu Hindu Budha kok cari uang. Apakah uang yang kamu ambil itu halal? Itu transaksi apa itu? Anda menjadi jurkam-jurkam mereka, jadi karyawan-karyawan mereka untuk meliberalkan umat islam. Uang apa itu?,” kritik beliau terhadap kegiatan para aktivis liberal.

“Sama dengan fenomena anak dan teman kita kerja di luar negeri menjadi TKI atau TKW. Apa ada jaminan disana anda bisa shalat dengan tenang? Emang dapat uang, tapi apakah mesti halal? Terus, uang anda bisa saja dibuat royokan agen-agen itu. Kan enak cari uang di daerah sendiri, liLlahi Ta’ala dan seadanya. Tidak usah keluar negeri demi dapat uang banyak. Itu uang ‘panas’. Di negara luar seperti Hongkong belum mesti bisa shalat.”

“Kalau perempuan dikirim ke Saudi, itu bisa dibuat main-mainan saja sama majikannya. Dinikmati orang sana. Kalau dia sudah punya suami akhirnya cerai dengan suaminya. Kenapa anda tidak kerja disini saja bisa tenang, qanaah, dan seterusnya?”

Abah Najih ingin menunjukkan bahwa budaya pesantren yang sudah mendarah daging di masyarakat terutama daerah pedesaan itu bisa memberi ketenangan dengan memberi pengajaran masyarakat untuk hidup sederhana dan seadanya. “Pesantren ini bikin tenang masyarakat, tidak membuat orang bekerja terlalu keras, ambisius, dan mengejar dunia yang keterlaluan. Sayang pesantren seperti ini tidak diakui oleh pemerintah sebagai Pendidikan Nasional. Hanya sebagian kecil saja pesantren yang diberi pengakuan-pengakuan ijasah itu. Padahal pesantren inilah yang berjasa besar di negara ini. Tidak suka memberontak, tidak suka ke luar negeri, juga siap kerja di negara sendiri. Kenapa tidak ada penghargaan dari pemerintah?,” ujar beliau.

Bertetangga Boleh, Berteman Akrab Tidak Boleh

Abah Najih melanjutkan ke permasalahan bagaimana batasan Muslim menjalin komunikasi dan hubungan sosial dengan non-Muslim.

Beliau berkata, “Jadi masalahnya, bukan kita menebar kebencian. Tapi di nash-nash Al-Quran kita tidak boleh mudahanah (bersikap lemah) dengan non-Muslim, tidak boleh terlalu baik dengan mereka, mencari ketenangan hidup lewat mereka, menganggap mereka teman akrab, apalagi dijadikan pemimpin. Teman akrab saja tidak boleh. Mengobrol lama-lama aslinya juga tidak boleh. Seperti di film-film di televisi yang ada pluralismenya itu gak boleh, apalagi dijadikan pemimpin. Apalagi kita ikut menyembah-nyembah di tempat ibadah mereka.”

“Kalau sekedar bertetangga boleh, yakni karena menjadi tetangga atau teman di kantor bolehlah kadang-kadang menyapa. Itu boleh-boleh saja, itu kebiasaan orang Jawa. yang penting jangan sampai ada rasa simpati kepada agama mereka. Kalau sampai akrab, apalagi sampai membocorkan rahasia umat Islam, maka bahaya sekali. Kalau kita toleran sebatas bertetangga atau sebagai teman sepekerjaan itu boleh-boleh saja karena kita menjadi masyarakat juga ingin hidup rukun, tenang, dan dapat bekerja dengan tenang. Namun tidak boleh akrab seperti dengan umat Islam,” lanjut beliau.

Setelah itu Abah Najih menyinggung pula tentang kebiasaan yang sering berlaku di masyarakat Jawa. beliau mengkritik kebiasaan sebagian orang Jawa yang lebih memilih mendatangkan kyai atau ustadz dari luar daerah, namun tidak memberi kesempatan kepada ustadz atau kyai di daerahnya sendiri untuk menasihati masyarakatnya, padahal dia mumpuni atau bahkan lebih alim dari orang yang didatangkan itu.

“Budaya kita ini kadang-kadang, maaf, perlu dibenahi. Orang Jawa ini yang saya tahu, biasanya kalau sama teman sendiri berani nakal, tapi kalau sama orang lain tidak berani. Kita kadang suka menghormati yang jauh. Pengajian umum mesti mengundang penceramah yang jauh-jauh, tidak pernah yang dari daerahnya sendiri diberi kesempatan memberi pitutur. Mestinya mereka berhak menasihati kaumnya sendiri. Tapi budaya kita senang mendatangkan yang jauh-jauh. Yang dekat daerahnya sendiri paling-paling hanya diundang tahlilan saja. Tidak pernah diberi waktu mituturi. Kalau ada yang diberi waktu paling hanya memberi sambutan. Ini mendingan,” kata beliau.

“Adat kita itu kalau ada yang pakaiannya meniru habaib-habaib mancanegara itu lebih dihormati, tapi yang pakaiannya biasa-biasa tidak. Bagaimana ini? Kadang-kadang kita juga menghormati orang lain dengan menganggukkan kepala. Itu adat. Tapi kepada orang kafir apa boleh? Kemarin saya sudah ceritakan kisah Barsesha itu, kan? Akhirnya dia sujud kepada iblis dalam keadaan disalib. Dia ingin melakukan perintah Iblis untuk bersujud kepadanya supaya selamat, tapi dia bingung karena dalam keadaan disalib. Lalu dia bertanya, “Aku seperti ini, bagaimana aku bersujud kepadamu?” Iblis menjawab, “Kamu menganggukkan kepalamu saja sudah aku anggap sujud.” Lha, ini gimana? Ahok saja menganggukkan kepala sama hakim jaksa di persidangan. Ini jadi masalah yang musykil (sulit),” lanjut beliau.

Rahmatan lil ‘Alamin Itu untuk Umat Islam

Dalam pungkasan kuliah beliau, Syaikh Muhammad Najih menjelaskan tentang makna Rahmatan lil ‘Alamin dalam QS. Al-Anbiya’: 107:

وَمَا أَرْسَلْنَاكَ إِلَّا رَحْمَةً لِلْعَالَمِينَ [الأنبياء : 107]

“Dan tiadalah kami mengutus kamu, melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam.” (QS. Al-Anbiya’: 107)

Beliau menjelaskan, “Saya lebih memilih lil ‘alamin maknanya adalah umat Islam. Jadi Kanjeng Nabi Muhammad ShallaLlahu ‘alaihi wa Sallama adalah rahmat dan berkah bukan hanya untuk Ahlul Bayt saja, atau bagi shahabat saja. Bagi siapapun yang mengikuti Kanjeng Nabi akan mendapat rahmat dan mesti masuk surga. Bukan Arab saja, hatta non-Arab asal ikut Kanjeng Nabi, senang ngaji, mau mengamalkan Islam, cinta Islam, mesti masuk surga. Kenapa saya condong pendapat ini? Karena ayat sebelumnya:

وَلَقَدْ كَتَبْنَا فِي الزَّبُورِ مِنْ بَعْدِ الذِّكْرِ أَنَّ الْأَرْضَ يَرِثُهَا عِبَادِيَ الصَّالِحُونَ (105) إِنَّ فِي هَذَا لَبَلَاغًا لِقَوْمٍ عَابِدِينَ [الأنبياء : 105 ، 106]

“(105) Dan sungguh telah Kami tulis dalam Zabur sesudah (Kami tulis dalam) Lauh Mahfuzh, bahwa bumi Ini dipusakai hamba-hambaKu yang saleh. (106) Sesungguhnya (apa yang disebutkan) dalam (Surat) ini, benar-benar menjadi peringatan bagi kaum yang menyembah (Allah).” (QS. Al-Anbiya’: 105-106)

Ayat ini kan ditujukan untuk Muslim yaitu lafazh shalihun. Masa’ ini membahas orang kafir? Kan tidak pantas. Kalau dipaksakan ya pas-pas saja, tapi thariqah saya ketika memahami ayat itu disesuaikan dengan ayat sebelum dan setelahnya,” ujar Abah Najih.

Lanjut beliau, “Saya tidak menolak, Rasulullah diutus juga sebagai rahmat untuk orang kafir. Akan tetapi bentuk rahmatnya adalah raf’ul adzab al-musta’shil (diangkatnya siksa yang membinasakan seluruhnya) seperti yang terjadi pada Kaum ‘Ad dan Tsamud. Hatta di zaman Nabi Ibrahim dan Nabi Musa pun sudah tidak ada siksa yang menyeluruh seperti ini, apalagi di zaman Nabi Isa dan Nabi Muhammad ShallaLlahu ‘alaihi wa Sallama. Kalau sekedar itu, sudah terjadi jauh sebelum zaman Rasulullah. WaLlahu A’lam.”

Acara kuliah umum tersebut ditutup dengan doa yang dibaca oleh Syaikh Muhammad Najih dan diamini oleh ratusan santri Pondok Pesantren Sidogiri yang hadir di acara tersebut.[]

Iklan

*MUSYAWAROH KUBRO KE 51 PP. MUS KARANGMANGU SARANG REMBANG*

*Memilih Pemimpin Non-Muslim*
*MUSYAWAROH KUBRO KE 51 PP. MUS KARANGMANGU SARANG REMBANG*

*Dewan Mushohhih:*
1. KH. M. Sa’id Abdurrochim(PP. MUS, Karangmangu, Sarang, Rembang)

2. KH. M. Najih Maimoen(Ribath Darusshohihain PP. AL ANWAR, Karangmangu, Sarang, Rembang)

3. KH. Aniq Muhammadun(PP. MAMBAUL ULUM, Pakis, Tayu, Pati)
*Dewan Muharrir:*
1. KH. M. Ahdal Abdurrochim(PP. MUS, Karangmangu, Sarang, Rembang)

2. KH. Abdurrohim(Kragan, Rembang)

3. KH. Abdullah Hasyim(PP. DARUT TAUHID AL HASANI, Senori, Tuban)

4. KH. Muaddib Fauzi (Lasem, Rembang)
*Deskripsi masalah*
Persoalan  kepemimpinan adalah persoalan yang sangat penting dan serius serta bukan persoalan kecil yang bisa dipermainkan, sehingga seseorang tidak boleh sembarangan dalam menentukan pilihannya.
Baru-baru ini muncul hasil keputusan Bahsul Masa’il Kiai Muda GP Anshor yang membahas “kepemimpinan Non-muslim di Indonesia” di kantor PP GP Anshor, Jakarta, minggu (12/3). Bahsul Masa’il yang diikuti sekitar 100 Kiai Muda dari berbagai pondok pesantren di Indonesia itu menghasilkan keputusan, bahwa dalam pilkada, setiap warga negara bebas menentukan pemimpin tanpa melihat latar belakang agama. Dalam konteks ini, seorang muslim diperbolehkan memilih pemimpin noN-muslim. 

(Dilansir dari koran Suara Merdeka 13/3)
_*Pertanyaan:*_
A. Bagaimana hukum seorang muslim memilih pemimpin non-muslim yang dianggap lebih adil (amanah) dari pada pemimpin muslim yang tidak adil?
_*Jawaban:*_
*Tidak diperbolehkan, sebab sudah menjadi kesepakatan Ulama bahwa persyaratan pemimpin harus Islam.*

*Dengan pertimbangan sebagai berikut:*
Untuk mengimplementasikan kemaslahatan Islam dan muslimin (ini hanya bisa dilakukan oleh orang yang beragama Islam, sebab sesuai nash Alquran orang kafir senantiasa bekonspirasi dan berserikat untuk menjatuhkan Islam).
Tidak diperbolehkan tanpa ada pengecualian “kondisi darurat” (sebagaimana dalam Syarwani vol: 9 hal: 73-74 diterangkan bahwa jika tidak ada paslon muslim yang layak atau ada namun khiyanat diperbolehkan melantik non muslim).
Sebab faktanya di Negara Indonesia banyak kandidat dari muslim yang adil mempunyai kapabilitas (kemampuan) dan kredibilitas (kejujuran).
Pilihan Umat Islam kepada kandidat muslim selaras dengan konstitusi (sebagaimana UUD 1945 pasal 29 ayat 2 menjelaskan, bahwa Negara menjamin kemerdekaan tiap-tiap penduduk untuk memeluk agamanya masing-masing dan untuk beribadah menurut agamanya dan kepercayaannya) dan tidak menodai toleransi antar umat beragama atau konstitusional. Artinya mereka berhak mencalonkan diri di setiap momentum Pilkada dan kita juga punya hak untuk tidak memilih mereka.
_*Maroji’:*_
1. Al-Fiqh Ala Madzahib Al-Arba’ah, vol: 5 hal: 197

2. Tuhfah Al-Muhtaj, vol: 9 hal: 75

3. Tafsir an Nawawi, vol:1 hal:120

4. Ruh Al-Ma’ani, vol:3 hal:120

5. Tafsir Ayat Al-Ahkam, vol:1 hal: 181

6. Hasyiyah Asy-Syarwani, vol:9  hal: 73-74

7. Adab Ad-Dunya Wa-Ad-din, vol: 1 hal: 171

8. Tafsir Al-Khozin, vol: 2 hal: 296

9. Al-Mausu’ah Al-Fiqhiyyah Al-Kuwaitiyyah, vol: 4 hal: 18
*الفقه على المذاهب الأربعة (ج : 5 صـ : 197)*
مبحث شروط الإمامة  — اتفق الأئمة رحمهم الله تعالى على : أن الإمامة فرض وأنه لا بد للمسليمن من إمام يقيم شعائر الدين وينصف المظلومين من الظالمين وعلى أنه لا يجوز أن يكون على المسلمين في وقت واحد في جميع الدنيا إمامان لا متفقان ولا مفترقان وعلى أن الأئمة من قريش وأنه يجوز للإمام أن يستخلف  *واتفقوا : على أن الإمام يشترط فيه : أولا أن يكون مسلما ليراعي مصلحة الإسلام والمسلمين فلا تصح تولية كافر على المسلمين*
*تحفة المحتاج في شرح المنهاج (ج : 9 صـ : 75)*
*(شرط الإمام كونه مسلما) ليراعي مصلحة الإسلام والمسلمين (مكلفا)، لأن غيره في ولاية غيره وحجره فكيف يلي أمر الأمة. (كونه مسلما) فلا تصح تولية كافر ولو على كفار ثانيهما كونه مكلفا فلا تصح إمامة صبي ومجنون بالإجماع ا هـ مغني عبارة المصنف في شرح مسلم قال القاضي عياض أجمع العلماء على أن الإمامة لا تنعقد لكافر* وعلى أنه لو طرأ عليه الكفر انعزل وكذا لو ترك إقامة الصلوات والدعاء إليها قال وكذلك عند جمهورهم البدعة قال وقال بعض البصريين تنعقد له وتستدام له؛ لأنه متأول قال القاضي فلو طرأ عليه كفر وتغيير للشرع أو بدعة خرج عن حكم الولاية وسقطت طاعته ووجب على المسلمين القيام عليه وخلعه ونصب إمام عادل إن أمكنهم ذلك فإن لم يقع ذلك إلا لطائفة وجب عليهم القيام بخلع الكافر ولا يجب في المبتدع إلا إذا ظنوا القدرة عليه فإن تحققوا العجز لم يجب القيام ويهاجر المسلم عن أرضه إلى غيرها ويفر بدينه ا هـ
*تفسير النووي  (ج : 1 صـ : 120)*
لا يَتَّخِذِ الْمُؤْمِنُونَ الْكافِرِينَ أَوْلِياءَ مِنْ دُونِ الْمُؤْمِنِينَ أي لا يوال المؤمنون الكافرين لا استقلالا ولا اشتراكا مع المؤمنين وإنما الجائز لهم قصر الموالاة والمحبة على المؤمنين بأن يوالي بعضهم بعضا فقط. *واعلم أن كون المؤمن مواليا للكافر يحتمل ثلاثة أوجه : أحدهما : أن يكون راضيا بكفره ويتولاه لأجله. وهذا ممنوع لأن الرضا بالكفر كفر. وثانيها : المعاشرة الجميلة في الدنيا بحسب الظاهر. وذلك غير ممنوع. وثالثها : الركون إلى الكفار والمعونة والنصرة إما بسبب القرابة أو بسبب المحبة مع اعتقاد أن دينه باطل فهذا لا يوجب الكفر إلا أنه منهي عنه ، لأن الموالاة بهذا المعنى قد تجره إلى استحسان طريقته والرضا بدينه وذلك يخرجه عن الإسلام* فهذا هو الذي هدد اللّه فيه بقوله : وَمَنْ يَفْعَلْ ذلِكَ أي الموالاة مع الكافرين بالاستقلال أو بالاشتراك مع المؤمنين فَلَيْسَ أي الموالي مِنَ اللَّهِ فِي شَيْءٍ أي ليس من ولاية اللّه في شيء يطلق عليه اسم الولاية إِلَّا أَنْ تَتَّقُوا مِنْهُمْ تُقاةً أي لا تتخذوا الكافرين أولياء ظاهرا ، أو باطنا في حال من الأحوال إلا حال اتقائكم   أي من جهتهم اتقاء. والمعنى أن اللّه نهى المؤمنين عن مداهنة الكفار إلا أن يكون الكفار غالبين ، أو يكون المؤمن في قوم كفار فيداهنهم بلسانه مطمئنا قلبه بالإيمان دفعا عن نفسه من غير أن يستحل دما حراما أو مالا حراما ، أو غير ذلك من المحرمات ومن غير أن يظهر الكفار على عورة المسلمين. والتقية لا تكون إلا مع خوف القتل مع صحة النية.
*روح المعاني (ج : 3 صـ :120)*
قال الله تعالى: لا يتخذ المؤمنون الكافرين أولياء من دون المؤمنين ومن يفعل ذلك فليس من الله من شيء إلا أن تتقوا منهم تقاة ويحذركم الله نفسه وإلى الله المصير. (آل عمران الآية: 28) وذكر بعضهم جواز الاستعانة بشرط الحاجة والوثوق، أما بدونهما فلا تجوز، وعلى ذلك يحمل خبر عائشة. وكذا ما رواه الضحاك عن ابن عباس فى سبب النزول، وبه يحصل الجمع بين أدلة المنع وأدلة الجواز على أن بعض المحققين ذكر أن الاستعانة المنهي عنها إنما هى استعانة الذليل بالعزيز. وأما استعانة العزيز بالذليل فقد أذن لنا بها، ومن ذلك اتخاذ الكفار عبيدا وخدما ونكاح الكتابيات منهم وهو كلام حسن، كما لايخفى. *ومن الناس من استدل بالآية على أنه لايجوز جعلهم عمالا ولا استخدامهم فى أمور الديوان وغيره. وكذا أدخلوا فى الموالاة المنهي عنها السلام والتعظيم والدعاء بالكنية والتوقير بالمجالس*. وفى فتاوى العلامة ابن حجر جواز القيام فى المجلس لأهل الذمة وعد ذلك من باب البر والإحسان المأذون به في قوله تعالى: لاينهاكم الله عن الذين لم يقاتلوكم في الدين ولم يخرجكم من دياركم أن تبروهم وتقسطوا إليهم إن الله يحب المقسطين. *ولعل الصحيح أن كل ماعده العرف تعظيما وحسبه المسلمون موالاة فهو منهي عنها ولو مع أهل الذمة لا سيما إذا أوقع شيئا فى قلوب ضعفاء المؤمنين ولا أرى القيام لأهل الذمة فى المجلس إلا فى الأمور المحظورة لأن دلالته على التعظيم قوية وجعله من الإحسان لا أراه من الإحسان كما لايخفى*.
*تفسير آيات الأحكام (ج : 1 صـ : 181)*
لَا يَتَّخِذِ الْمُؤْمِنُونَ الْكَافِرِينَ أَوْلِيَاءَ مِنْ دُونِ الْمُؤْمِنِينَ وَمَنْ يَفْعَلْ ذَلِكَ فَلَيْسَ مِنَ اللَّهِ فِي شَيْءٍ إِلَّا أَنْ تَتَّقُوا مِنْهُمْ تُقَاةً وَيُحَذِّرُكُمُ اللَّهُ نَفْسَهُ وَإِلَى اللَّهِ الْمَصِيرُ (28) قُلْ إِنْ تُخْفُوا مَا فِي صُدُورِكُمْ أَوْ تُبْدُوهُ يَعْلَمْهُ اللَّهُ وَيَعْلَمُ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَمَا فِي الْأَرْضِ وَاللَّهُ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ (29)

الحكم الثالث : *هل تجوز تولية الكافر واستعماله في شؤون المسلمين؟ استدل بعض العلماء بهذه الآية الكريمة على أنه لا يجوز تولية الكافر شيئاً من أمور المسلمين ولا جعلهم عمالاً ولا خدماً ، كما لا يجوز تعظيمهم وتوقيرهم في المجلس والقيام عند قدومهم فإن دلالته على التعظيم واضحة ، وقد أُمِرْنا باحتقارهم { إِنَّمَا المشركون نَجَسٌ }* [ التوبة : 28 [قال ( ابن العربي ) : وقد نهى عمر بن الخطاب أبا موسى الأشعري بذمي كان استكتبه باليمن وأمره بعزله . قال ( الجصاص ) : ( وفي هذه الآية ونظائرها دلالة على أن لا ولاية للكافر على المسلم في شيء ، وأنه إذا كان الكافر ابن صغير مسلم بإسلام أمه ، فلا ولاية له عليه في تصرف ولا تزويج ولا غيره ، ويدل على أنّ الذمي لا يعقل جناية المسلم ، وكذلك المسلم لا يعقل جنايته ، لأن ذلك من الولاية والنصرة والمعونة ) .ومما يؤيد هذا الرأي ويرجحه قوله تعالى : { وَلَن يَجْعَلَ الله لِلْكَافِرِينَ عَلَى المؤمنين سَبِيلاً } [ النساء : 141 [ 
 *الشرواني للشيخ عبد الحميد الشرواني (ج : 9 صـ : 73 – 74)*
*(قول المتن: ولا يستعان الخ) أي يحرم ذلك اهـ سم، عبارة المغني والنهاية: (تنبيه) ظاهر كلامهم أن ذلك لا يجوز ولو دعت الضرورة إليه، لكنه في التتمة صرح بجواز الاستعانة به أي الكافر عند الضرورة، وقال الأذرعي وغيره: أنه المتجه اهـ (قول المتن: بكافر) أي لأنه يحرم تسليطه على المسلم، نهاية ومنهج زاد المغني،* ولذا لا يجوز لمستحق القصاص من مسلم أن يوكل كافرا في استيفائه ولا للإمام أن يتخذ جلادا كافرا لإقامة الحدود على المسلمين اهـ، وقال ع ش بعد نقل ما ذكر عن الزيادي: *قول: وكذا يحرم نصبه في شيئ من أمور المسلمين نعم إن اقتضت المصلحة توليته في شيء لا يقوم به غيره من المسلمين أو ظهر فيمن يقوم به من المسلمين خيانة وأمنت في ذمي ولو لخوفه من الحاكم مثلا فلا يبعد جواز توليته فيه لضرورة القيام بمصلحة ما ولي فيه، ومع ذلك يجب على من ينصبه مراقبته ومنعه من التعرض لأحد من المسلمين بما فيه استعلاء على المسلمين* اهـ
*الدنيا والدين – (ج 1 / ص 171)*
*وأما عدله في غيره فقد ينقسم حال الإنسان مع غيره على ثلاثة أقسام: فالقسم الأول: عدل الإنسان فيمن دونه كالسلطان في رعيته، والرئيس مع صحابته، فعدله فيهم يكون بأربعة أشياء: باتباع الميسور، وحذف المعسور، وترك التسلط بالقوة، وابتغاء الحق في الميسور. فإن اتباع الميسور أدوم، وحذف المعسور أسلم، وترك التسلط أعطف على المحبة، وابتغاء الحق أبعث على النصرة*. وهذه أمور إن لم تسلم للزعيم المدبر كان الفساد بنظره أكثر، والاختلاف بتدبيره أظهر. روي عن النبي – صلى الله عليه وسلم – أنه قال: «أشد الناس عذابا يوم القيامة من أشركه الله في سلطانه فجار في حكمه» . وقال بعض الحكماء الملك يبقى على الكفر ولا يبقى على الظلم. وقال بعض الأدباء: ليس للجائر جار، ولا تعمر له دار. وقال بعض البلغاء: أقرب الأشياء صرعة الظلوم، وأنفذ السهام دعوة المظلوم. وقال بعض حكماء الملوك: العجب من ملك استفسد رعيته وهو يعلم أن عزه بطاعتهم. وقال أزدشير بن بابك: إذا رغب الملك عن العدل رغبت الرعية عن طاعته. وعوتب أنوشروان على ترك عقاب المذنبين فقال: هم المرضى ونحن الأطباء فإذا لم نداوهم بالعفو فمن لهم.
*تفسير الخازن (ج : 2 صـ : 296)*
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا لَا تَتَّخِذُوا الْيَهُودَ وَالنَّصَارَى بَعْضُهُمْ أَوْلِيَاءُ بَعْضٍ وَمَنْ يَتَوَلَّهُمْ مِنْكُمْ فَإِنَّهُ مِنْهُمْ إِنَّ اللَّهَ لَا يَهْدِي الْقَوْمَ الظَّالِمِينَ (51) فَتَرَى الَّذِينَ فِي قُلُوبِهِمْ مَرَضٌ يُسَارِعُونَ فِيهِمْ يَقُولُونَ نَخْشَى أَنْ تُصِيبَنَا دَائِرَةٌ فَعَسَى اللَّهُ أَنْ يَأْتِيَ بِالْفَتْحِ أَوْ أَمْرٍ مِنْ عِنْدِهِ فَيُصْبِحُوا عَلَى مَا أَسَرُّوا فِي أَنْفُسِهِمْ نَادِمِينَ (52) قوله عز وجل : { يا أيها الذين آمنوا لا تتخذوا اليهود والنصارى أولياء } اختلف المفسرون في سبب نزول هذه الآية وإن كان حكمها عاماً لجميع المؤمنين ، لأن خصوص السبب لا يمنع من عموم الحكم ، فقال قوم : نزلت هذه الآية فى عبادة بن الصامت رضي الله عنه وعبد الله بن أبي سلول رأس المنافقين وذلك أنهما اختصما فقال عبادة إن لي أولياء من اليهود كثير عددهم شديدة شوكتهم وإني أبرأ إلى الله وإلى رسوله من ولايتهم ولا مولى لي إلا الله ورسوله فقال عبد الله بن أبيّ : لكني لا أبرأ من ولاية اليهود فإن أخاف الدوائر ولا بد لي منهم . فقال النبي صلى الله عليه وسلم : يا أبا الحباب ما نفست به من ولاية اليهود على عبادة بن الصامت فهو لك دونه فقال : إذن أقبل فأنزل الله هذه الآية . وقال السدي : لما كانت وقعة أحد اشتد الأمر على طائفة من الناس وتخوفوا أن يدال عليهم الكفار فقال رجل من المسلمين : أنا ألحق بفلان اليهودي وآخذ منه أماناً إني أخاف أن يدال علينا اليهود . وقال رجل آخر : أنا ألحق بفلان النصراني من أهل الشام وآخذ منه أماناً . فأنزل الله هذ الآية ينهاهم عن موالاة اليهود والنصارى .
وقال عكرمة : نزل فى أبي لبابة بن عبد المنذر لما بعثه النبي صلى الله عليه وسلم إلى بني قريظة حين حاصرهم فاستشاروه في النزول وقالوا : ماذا يصنع بنا إذا نزلنا؟ فجعل اصبعه فى حلقه أشار إلى أنه الذبح وأنه يقتلكم فأنزل الله { يا أيها الذين آمنوا لا تتخذوا اليهود والنصارى أولياء } *فنهى الله المؤمنين جميعاً أن يتخذوا اليهود والنصارى أنصاراً وأعواناً على أهل الإيمان بالله ورسوله وأخبر أنه من اتخذهم أنصاراً وأعواناً وخلفاء من دون الله ورسوله والمؤمنين فإنه منهم وإن الله ورسوله والمؤمنين منه براء* { بعضهم أولياء بعض } يعني أن بعض اليهود أنصار لبعض على المؤمنين وأن النصارى كذلك يد واحدة على من خالفهم فى دينهم وملتهم { ومن يتولهم منكم فإنه منهم } يعني ومن يتولَّ اليهود والنصارى دون المؤمنين فينصرهم على المؤمنين فهو من أهل دينهم وملتهم لأنه لا يتولى مولى إلا وهو راض به وبدينه وإذا رضيه ورضى دينه صار منهم وهذا تعليم من الله تعالى وتشديد عظيم في مجانبة اليهود والنصارى وكل من خالف دين الإسلام *{ إن الله لا يهدي القوم الظالمين } يعني أن الله لا يوفق من وضع الولاية في غير موضعها فتول اليهود والنصارى مع علمه بعداوتهم لله ولرسوله وللمؤمنين* ، روي أن أبا موسى الأشعري قال : قلت لعمر بن الخطاب : إن لي كاتباً نصرانياً فقال : مالك وله قاتلك الله ألا اتخذت حنيفاً؟ يعني مسلماً أما سمعت قول الله عز وجل : { يا أيها الذين آمنوا لا تتخذوا اليهود والنصارى أولياء بعضهم أولياء بعض } قلت : له دينه ولي كتابته : فقال : لا أكرّمهم إذا أهانهم الله ولا أعزهم إذا أذلهم الله ولا أدنيهم إذا أبعدهم الله
*الموسوعة الفقهية الكويتية (ج : 4 صـ : 18)*
الاستعانة بغير المسلمين في غير القتال: – تجوز الاستعانة في الجملة بغير المسلم، سواء أكان من أهل الكتاب أم من غيرهم في غير القربات، كتعليم الخط والحساب والشعر المباح، وبناء القناطر والمساكن والمساجد وغيرها فيما لا يمنع من مزاولته شرعا. ولا تجوز الاستعانة به في القربات كالأذان والحج وتعليم القرآن، وفي الأمور التي يمنع من مزاولتها شرعا، كاتخاذه في ولاية على المسلمين، أو على أولادهم
B. Bolehkah mengikuti keputusan Bahtsul Masa’il yang menghasilkan keputusan seperti di atas, dan apa alasannya?
_*Jawaban:*_
*Tidak diperbolehkan dengan argumentasi sebagai berikut:*

Keputusan GP ANSOR bertentangan dengan Nash-nash Syar’i, yaitu seorang muslim harus memilih pemimpin muslim.

Bertentangan dengan hasil muktamar NU yang mempunyai kedudukan lebih tinggi, sehingga secara organisasi keputusan GP ANSHOR tidak mempunyai kekuatan hukum.
*Catatan:*
Fatwa-fatwa kontemporer yang membolehkan Non Muslim menjabat jabatan khusus (kepemimpinan yang  levelnya di bawah kepala Negara) selagi berkompeten tidak bisa dibenarkan dan diikuti karena bertentangan dengan Al-Quran dan Ijma’.
Seluruh umat Islam wajib menggunakan haknya untuk memilih kandidat muslim meskipun Indonesia bukan Negara konsep fikih, tetapi menggunakan hak pilih sesuai keyakinan agama adalah konstitusional.
_*Maroji’:*_
1. Ghoyah Al-Wushul, hal: 105

2. Syarh An-Nawawi ala Al-Muslim, vol: 12 hal: 229

3. Majmu’ah Sab’ah Kutub Mufidah, hal: 104-10
*غاية الوصول في شرح لب الأصول (صـ : 105)*
*(وخرقه) أي إجماع القطعي وكذا الظني عند من اعتبره بالمخالفة (حرام) للتوعد عليه بالتوعد على اتباع غير سبيل المؤمنين في الآية السابقة*.
*شرح النووي على مسلم (ج 12/ص 229)*
قال القاضي عياض أجمع العلماء على أن الإمامة لا تنعقد لكافر وعلى أنه لو طرأ عليه الكفر انعزل قال وكذا لو ترك إقامة الصلوات والدعاء إليها قال وكذلك عند جمهورهم البدعة قال وقال بعض البصريين تنعقد له وتستدام له لأنه متأول قال القاضي فلو طرأ عليه كفر وتغيير للشرع أو بدعة خرج عن حكم الولاية وسقطت طاعته ووجب على المسلمين القيام عليه وخلعه ونصب أمام عادل أن أمكنهم ذلك فإن لم يقع ذلك الا لطائفة وجب عليهم القيام بخلع الكافر.
*مجموعة سبعة كتب مفيدة (صـ : 104 – 105 )*
وشروط التقليد ستة:

الأول – أن يكون مذهب المقلَّد مدوناً لتتمكن فيه عواقب الأنظار ويتحصل له العلم اليقيني بكون المسألة المقلد بها من هذه المذاهب.

الثاني – حفظ المقلِّد شروط إمام المذهب في تلك المسألة.

الثالث – *أن لايكون التقليد فيما ينقض فيه قضاء القاضي، بأن لايكون خلاف نص الكتاب أو السنة أو الإجماع أو القياس الجلي*.
*Daftar Delegasi Musyawaroh Kubro ke 51 PP. MUS:*
1. PP. Al-Falah

Ploso Mojo Kediri
2. PP. Lirboyo

Kodya Kediri
3. LPI. Al-Khozini

Buduran Sidoarjo
4. PP. Langitan

Widang Tuban
5. PP. Sidogiri

Kraton Pasuruan
6. PP. Manba’ul Ulum

Pakis Pati
7. PP. Manba’ul Ulum

Bata-bata Pamekasan Madura
8. PP. Zainul Islah

Kanigaran Probolinggo
9. PP. Assunniyyah

Kencong Jember
10. PP. Roudlotut Thalibin

Tanggir Singgahan Tuban
11. PP. Al-Hidayat

Guntur Demak
12. LP. Al-Hamidy

Banyuanyar Pamekasan
13. PP. Besuk

Kejayan Pasuruan
14. PP. Ash-Shiddiq

Narukan Kragan Rembang
15. PP. Darut Tauhid Al-Hasani

Senori Tuban
16. PP. At-Tauhidiyyah

Giren Talang Tegal
17. PP. At-Taroqqi

Sedan Rembang
18. PP. Sirojul Mukhlasin

Payaman Magelang
19. PP. Darussalam

Blokagung Banyuwangi
20. LPI Maktuba Al-Majidiyyah Pegantenan Pamekasan
21. LPI Maktab Nubdzatul Anwar Pegantenan Pamekasan
22. PP. Al-Anwar

Karangmangu Sarang Rembang
23. PP. MIS

Karangmangu Sarang Rembang
24. PP. Mansya’ul Huda

Karangmangu Sarang Rembang
25. Perguruan MGS

Karangmangu Sarang Rembang
26. Perguruan MPG

Bajing Jowo Sarang Rembang
27. Dewan Murid MGS

Karangmangu Sarang Rembang
28. Alumni PP. MUS

Karangmangu Sarang Rembang
29. Fathul Qorib PP. MUS

Karangmangu Sarang Rembang
30. Fathul Mu’in PP. MUS

Karangmangu Sarang Rembang
31. Minhajut Thalibin PP. MUS Karangmangu Sarang Rembang
32. M3S PP. MUS Karangmangu Sarang Rembang

INI BUKTI KEKRITISAN KIAI NAJIH KETIKA AJARAN ISLAM DISELEWENGKAN

Sebelum Jamaah Sholat Maghrib, Syaikhina KH. M. Najih Maimoen melihat gambar diatas, dan seketika itu beliau dawuh: 
* Abu Thalib tidak memimpin Rasulullah SAW, beliau hanya menampakkan rasa kasih sayang kepada keponakannya dengan selalu membela dakwah-dakwahnya. Terbukti Ketika Abu Thalib berusaha mendikte dakwah beliau atas permintaan Kafir Quraisy, Rasulullah dengan tegas menyatakan:
 يا عم ، والله لو وضعوا الشمس في يميني ، والقمر في يساري على أن أترك هذا الأمر حتى يظهره الله ، أو أهلك فيه ، ما تركته

“Wahai pamanku, demi Allah SWT, andaikan kuffar Quraisy meletakkan matahari di tangan kananku, dan Rembulan di tangan kiriku, agar aku meninggalkan dakwah Islam ini, -hingga Allah menampakkannya atau aku mati memperjuangkanya-, TENTU TIDAK AKAN PERNAH AKU TINGGALKAN DAKWAH TERSEBUT” 

* Andai saja para shahabat Nabi SAW berada di bawah pimpinan Abu Thalib, tentu saja kafir Quraisy tidak akan berani menganggu mereka. 
Terlihat sekali ini analisis sejarah  profesor gadungan! 

* Abu Thalib diklaim non muslim kami kurang setuju, karena kita tidak tahu apa yang didalam hati beliau, bahkan kekufuran yang ditampakkan beliau itu bertujuan KEAMANAN RASULULLAH terjaga, Wallahu a’lam.
* Rasulullah SAW memerintahkan para shahatnya hijrah ke habasyah dilatarbelakangi umat Islam belum mempunyai kepemimpinan pada waktu itu. 
* Kajian legalitas kepemimpinan non muslim sebab kata Auliya’ berbentuk plural/ jamak adalah LAMUNAN BELAKA si Profesor. Bagaima bisa seorang profesor tidak paham ilmu balaghah?! Pemilihan bentuk jamak itu tak lain karena untuk menyesuaikan maf’ul awal la tattahidzu yang berbentuk jamak, dan hal ini sangat mafhum sekali dalam disiplin ilmu balaghah.  
Ya tidak mungkin lah, di Indonesia seluruh gubernurnya non muslim, uang darimana?!

Andaisaja kajian Profesor gadungan itu diterima, tentuk tidak tepat untuk konteks Ahok, karena yang dipimpin Ahok itu Ibu kota, dan kita sudah tahu ibu kota bimanzilati kota banyak!


Illat
keharaman kepemimpinan non muslim itu kufur bukan masalah jamak-mufrad, Profesor ini mungkin tidak paham nahwu sharaf. Kaum Yahudi Nasrani saja tidak boleh memimpin muslimin apalagi kaum pagan?!

* Sebaiknya kajian profesor ini diabaikan saja!

* Profesor ini hampir mirip dengan Prof. Nazaruddin, dia hanya ahli dalam bidang tasawwuf, kesesatan berfikir dan keliberalannya sudah kami sebutkan dalam buku-buku kami. Yang mencengangkan akhir-akhir ini dari Nazaruddin adalah memperbolehkan acara muslimat NU di Masjid, padahal banyak dari muslimat NU yang sedang haidl, masak pantas mereka berdiam lama-lama di Masjid, meski dengan alasan sudah ada softek, padahal mereka jelas-jelas hamlunnajasah alkhorijah minal bathin.! 

 نعوذ بالله ثم نعوذ بالله من ذلك

Wallahu A’lam bisshawab.

​Tuduhan Terhadap Syaikhina KH. Maimoen Zubair Restui Romy ataupun Djan Farid Mendukung Ahok

Belakangan ini elit PPP, baik kubu Djan Farid ataupun Romy mulai merapatkan dukungan kepada Ahok (semoga Allah menggagalkan rencana mereka), dan kedua tokoh ini mencatut nama syaikhina KH. Maimoen Zubair dalam kampanye mendukung si penista agama. Sikap ini jelas-jelas bertentangan dan melenceng jauh dari manhaj syaikhina KH. Maimoen Zubair.

“PPP merupakan peninggalan Kiyai-kiyai terdahulu jadi harus dipertahankan sebisa mungkin. Itu manhaj Syaikhina KH. Maimoen Zubair. Tapi bila Elitnya tidak sesuai syariat ya jangan di ikuti”. Itulah dawuh dan didikan Guru kami di PP. Al-Anwar Sarang.
Sikap gigih Syaikhina KH. Maimoen Zubair juga pernah diungkapkan beliau saat ada salah satu tamu yang bertanya kepada beliau tentang pilihan antara pemimpin muslim yang tidak adil dengan pemimpin non muslim yang adil.
Beliau menjawab, “Nek aku yo pilih Pemimpin Muslim, wong urip nek ndunyo mung sedelok “.
Jawaban logis dari pertanyaan ngawur yang memang tidak sesuai dengan realita di Indonesia.
Syaikhina KH. Maimoen Zubair dalam taushiyahnya pada acara Silaturahim Nasional ulama Nusantara, yang dilaksanakan pada hari kamis 16 Maret 2017 M. di PP. Al-Anwar Sarang juga memberikan klarifikasi atas isu dan fitnah yang menerpa beliau. Yai Maimoen mengaku bahwa dirinya sering dianggap sebagai pendukung Ahok. Dawuh beliau ini sontak membuat para hadirin tertawa. Yai Maimoen mengatakan islam di Sarang penyebarannya bukanlah dari wali songo, akan tetapi dari para pendakwah islam berkebangsaan Cina dari wilayah Bangka Belitung. Dawuh beliau ini disaksikan oleh rartusan Ulama’ Nusantara yang hadir pada acara tersebut.
Pernyataan inilah salah satu alasan mengapa Syaikhina Maimoen sering dianggap sebagai pendukung/pro ahok. Beliau tidak pernah mendukung Ahok sama sekali. Dalam majlis-majlis pengajian, beliau sering mengungkapkan bahwasannya orang kafir seandainya sangat hebat pun tetap tidak akan masuk surga.
Dan Beliau memperingatkan bahwasanya suku Cina penduduk Bangka Blitung itu asalnya menganut agama Islam akan tetapi banyak yang murtad dan ini merupakan keteledoran umat Islam karena kurangnya dakwah Islam.
Hati-hati terhadap situs situs web yang menyebar berita hoax atas isu dan fitnah dengan mencatut nama beliau untuk kepentingan pribadi ataupun golongan. Jangan sampai anda sekalian termasuk golongan kelompok orang-orang yang didawuhkan Allah SWT. dalam firman-Nya:
وَمَنْ أَظْلَمُ مِمَّنِ افْتَرَى عَلَى اللَّهِ الْكَذِبَ وَهُوَ يُدْعَى إِلَى الْإِسْلَامِ وَاللَّهُ لَا يَهْدِي الْقَوْمَ الظَّالِمِينَ
“Dan siapakah yang lebih dholim daripada orang yang mengada-adakan dusta terhadap Allah sedang dia diajak kepada islam? dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang dholim”. [QS. As- Shoff: 7]
Wallahu a’lam.

HASIL BAHTSUL MASA’IL GP. ANSOR, INI TANGGAPAN KH. M. NAJIH MAIMOEN

HASIL BAHTSUL MASAIL GP. ANSOR

TANGGAPAN-TANGGAPAN KH. M. NAJIH MAIMOEN

Terhadap

Keputusan Bahtsul Masa’il GP. Ansor

Di Jakarta Pada Tanggal 11-12 Maret 2017

Tentang “Kepemimpinan Non Muslim di Indonesia”

بسم الله الرحمن الرحيم 

Pandangan Umum

– Secara umum, dalam menilai kajian BM GP. Ansor, kami sejalan dengan komentar KH. Zuhrul Anam Hisyam, beliau mengutip satu Qo’idah dari kitab Qowa’idus Syaikh Zarruq yang berbunyi:

“المتكلم في فن من فنون العلم إن لم يلحق فرعه بأصله ويحقق أصله من فرعه ويصل معقوله بمنقوله وينسب منقوله لمعادنه ويعرض ما فهم منه على ما علم من استنباط أهله، فسكوته عنه أولى من كلامه فيه، إذ خطأه أقرب من إصابته، وضلاله أسرع من هدايته، إلا أن يقتصر على مجرد النقل المحرر من الإيهام والإبهام، فرب حامل فقه غير فقيه، فيسلم له نقله لا قوله، وبالله التوفيق”  

Penampilan aneka macam ibarat dan argumentasi dalam rumusan BM GP. Ansor sarat dengan iham-ibham, bahkan mengutip penalarn Syaikh Ali Jum’ah dan Syaikh Abdul Hamid al-Athrasy di bagian akhir rumusan termasuk upaya penyesatan terhadap umat Islam. 

– Menyikapi keputusan BM GP. Ansor, kami sepakat dengan pernyataan Wakil Ro’is Aam PBNU, KH. M. Miftahul Akhyar, “Perkara sah itu belum tentu halal”. Bahkan lebih tepatnya, ketika Non Muslim dipaksakan terpilih menjadi pemimpin, maka berarti statusnya bukan sah akan tetapi disahkan karena dharurat. Kecuali jika yang jadi adalah si penista agama, maka jelas tidak sah, karena melanggar undang-undang.  
Fatwa ulama Mesir tidak Sah dibuat Pijakan Dalil

– Syaikh Ali Jum’ah berfatwa “kebolehan kepemimpinan non muslim, fatwa ini dilatarbelakangi status beliau yang menjabat sebagai Mufti negara, Mesir, sehingga beliau tidak punya ruang gerak untuk berseberangan dengan hegemoni pemerintah. Dengan kondisi seperti ini, fatwa beliau ini tidak bisa menjadi pijakan umat Islam Indonesia. Perlu kami ingatkan bahwa Syaikh Ali Jum’ah pernah berfatwa kebolehan menitipkan uang di Bank, meski beliau tetap mengharamkan hutang pada pihak Bank.   

– Salah satu ulama yang dibuat pijakan fatwanya oleh BM GP. Ansor adalah Syaikh Abdul Hamid al-Athrasy, beliau berpendapat “Kelayakan seorang calon pemimpin diukur dari kemampuannya menunaikan tugasnya dalam melayani masyarakat”. Jelas sekali Syaikh Azhari mengesampingkan peran agama dalam kepemimpinan, ini sangat berbahaya, apalagi dalam draft fatwanya tidak disertakan dalil-dalil syar’i, hanya menggunakan teori-teori logika (ciri khas pemikiran Liberal). Masihkan GP. Ansor menjadikannya imam panutan?    

– Terobosan-terobosan Syaikh Ali Jum’ah dan Syaikh Abdul Hamid al-Athrasy  tidak cocok untuk umat Islam Indonesia, terlebih kaum NU yang asas bermadzhabnya adalah Madzhab Empat, karena terobosan tersebut tidak bersumber dari kutubussalaf minal madzahibil arba’ah.  

– Prediksi Imam Ramli rahimahullah kurang tepat, karena dalam fatwanya beliau menyatakan keadaan umat Islam di negeri Andalus bisa terus kondusif, bahkan non muslimnya diharapkan dapat masuk Islam. Akan tetapi realitanya negeri Andalus justru dikuasai oleh orang-orang Kristen, bahkan umat Islam dibantai sampai diusir dari negeri sendiri. Jika NU Liberal-GP. Ansor memaksakan diri beristidlal kepemimpinan non-muslim dengan konteks negeri Andalus, apakah mereka menginginkan Indonesia menjadi Spanyol atau Tibet kedua?     

Maslahah Mursalah apalagi Demokrasi Moderen atau yang lain Tidak Termasuk Alasan Mu’tabar Syar’an

– Pernyataan al-Marhum KH. M. A. Sahal Mahfudz yang beralasan “gagasan Demokrasi moderen”, kami kurang menyetujuinya. Zaman Moderen memang tidak bisa dihindari, tapi kita umat Islam tetap harus memiliki corak Islami (Shibghatallahi), terlebih kaum santri. Menurut kami, pernyataan beliau tersebut adalah pendapat pribadi yang tidak dilandasi ta’bir-ta’bir kutubussalaf, sehingga tidak sah dibuat pijakan dalil. Bahkan beliau juga mengutip pendapat  Ibn Taimiyah, ulama kontroversial yang menjadi sateru kiai-kiai Nahdlatul Ulama, terlebih sang pendiri NU, Hadrotus Syaikh KH. Hasyim Asy’ari.      

– Pilpres, Pilgub dan Pilkada diselenggarakan secara bebas, transparan dan tanpa paksaan (sesuai jargon mereka), dan kenyataannya setiap warga negara memang bebas memilih,  tidak ada pemaksaan yang sampai mengancam nyawa. Jadi tidak ada jalan lagi bagi warga muslim Jakarta kecuali memilih Paslon yang keduanya muslim. 

– Keadaan darurat itu ketika ada teror semisal ada todongan atau ancaman nyata yang membahayakan nyawa, bukan teror media seperti sekarang. Mari kita biasakan membaca Ratib Haddad dan Shalawat kepada Rasulullah SAW agar diselamatkan dari segala macam fitnah.  

NU Harus Bersih dari Pemikiran Menyimpang

– NU Kepemimpinan Sa’id Aqil Siradj dan GP. Ansor dalam masalah kepemimpinan Non Muslim mengutip pendapatnya Ibn Taimiyah. Ini jelas berani melawan Ro’isul Akbar Hadrotus Syaikh KH. Hasyim Asy’ari, karena beliau dalam kitab Risalah Ahlussunnah wal Jama’ah menandaskan:

ومنهم (أي الأحزاب المتنوعة، والآراء المتدافعة، والأقوال المتضاربة، والرجال المتجاذبة) فرقة يتبعون رأي محمد عبده ورشيد رضا، ويأخذون من بدعة محمد بن عبد الوهاب النجدي، وأحمد بن تيمية وتلميذيه ابن القيم وابن عبد الهادي، فحرموا ما أجمع المسلمون على ندبه، وهو السفر لزيارة قبر رسول الله صلى الله عليه وسلم، وخالفوهم فيما ذكر وغيره. (رسالة أهل السنة والجماعة، ص: 9)

Ucapan Ibn Taimiyah yang dikutip oleh GP. Ansor adalah termasuk dari Syawadzi Ibn Taimiyah (pendapat-pendapat Syadz Ibn Taimiyah), termasuknya lagi adalah pendapatnya yang menyatakan “jatuh talak satu” bagi istri yang ditalak suaminya tiga kali dalam satu majlis, kemudian ia juga membolehkan pajak (lihat al-Fatawa al-kubro), dan ia mengkafirkan orang yang melakukan tawassul secara umum, namun dipraktekkan Wahhabi dengan membunuh perorangan. Masih banyak kesesatan-kesesatan Ibn Taimiyah lainnya, seperti yang diterangkan dalam kitab Sharihul Bayan, karya Syaikh Abdullah al-Harari. Sangat tidak beradab oknum-oknum NU mengutip pendapat Ibn Taimiyah ini.    

Indonesia dan Darul Islam

– Islam adalah wahyu dari tuhan, sedangkan Pancasila dan UUD 45 adalah falsafah-falsafah buatan manusia. Islam pasti benar karena turun dari dzat yang Maha Benar, aqwalul ulama juga sangat potensi benar, karena merekalah yang ahli dalam menukil dan memahami kebenaran Islam. Adapun falsafah-falsafah seperti Pancasila dan UUD 45 itu hanya sebuah alat. Jika digunakan untuk membantu Syari’at Islam, maka ia menjadi sebaik-baik alat. Sebaliknya, kalau digunakan untuk melawannya, maka sungguh itu seburu-buruk alat yang bisa menjerumuskan ke neraka.

– Darul Islam itu artinya wajib mengamalkan hukum-hukum Islam semampunya. Adapun kalau tidak sepenuhnya, maka sebagian yang dimampuinya. Dan jika tidak bisa kedua-duanya, maka harus menghidupkan dan menggiatkan pendidikan Islam dan syi’ar-syiar agama.

– Meski negara Indonesia ini untuk umum, baik muslim atau non muslim, namun sebagai pribadi muslim, kami tetap berkeinginan “kepemimpinan” dipegang oleh umat Islam dan mengamalkan hukum-hukum Islam semampunya (karena hal ini adalah ajaran agama kami), dan keinginan seperti ini adalah hak konstitusional warga Indonesia yang telah dijamin undang-undang. Yang penting kami tidak memaksakan kehendak seperti kata mereka!  

– Bukannya simbol-simbol agama yang kami cari, akan tetapi substansinya yang kami inginkan, kalau hukum Islam tidak berjalan, ya minimal pemimpinnya harus muslim, Allahu Akbar.

– Memang  di Indonesia ada hukum Islam, tapi itu sangat minim. Beberapa bukti bahwa Islam telah didiskreditkan diantaranya: banyak perda-perda Syari’at yang ditolak atau dipending, pendidikan nasional agama dimandulkan, Islam sebagai mayoritas tapi kepentingannya diminoritaskan dengan bukti ketika yang melakukan kriminal orang-orang pribumi apalagi beragama Islam langsung dipenjarakan, akan tetapi jika oknumnya etnis China-Kristen malah dianak emaskan.   

– Sistem Demokrasi -yang menurut kami termasuk amrun dhoruri (suatu hal yang dipaksakan)- itu jangan sampai menghalalkan perkara haram. Meski ada pihak yang melakukannya, hati kita tetap harus meyakini keharaman perkara tersebut.    

– Muktamar NU di Banjarmasin itu terselenggara ketika Indonesia masih dijajah Belanda. Dan pada saat itu, umat Islam masih bisa menjalankan ibadah shalat, zakat, puasa ramadhan, haji, bahkan memiliki seorang qadli sebagai hakim pemutus. Justru di zaman kemerdekaan, Qadli ditiadakan, yang ada hanya Kepala Pengadilan Agama. Namun keadaan seperti ini lebih baik, karena Menteri Agama di awal kemerdekaan era Orde Lama dijabat oleh ulama yang alim dan dikelilingi para kiai Ahli Falak yang berhati-hati dalam menetapkan derajat tinggi hilal (imkanurru’yah), sehingga penetapan hilal Ramadhan sangat dipercaya. Berbeda dengan sekarang, dimana tokoh-tokohnya kurang alim, dan untungnya mereka masih agak menghormati ulama, wallahu a’lam bish-showab.  

– Peristiwa tahkim yang dibuat dalil GP. Ansor menerima kepemimpinan non muslim kurang tepat, karena tahkim itu perjanjian antar muslim (Sayyidina Ali RA dan Sayyidina Mu’awiyah), sehingga harus dipenuhi tidak boleh dikhianati, Rasulullah SAW bersabda: 

المسلمون على شروطهم      

Dengan menampilkan peristiwa tahkim, GP. Ansor berusaha menggiring umat Islam Indonesia ke pemahaman keliru, yaitu pemahaman pejuang Islam tempo dulu menerima keputusan “tidak disyaratkan kepala negara harus beragama Islam” dan seakan-akan membiarkan penghapusan tujuh kalimat dalam piagam Jakarta. GP. Ansor melandasi pemahaman ini dengan hujjah “al-wafa’ bil’ahdi”, yang memberi kesimpulan bahwa pejuang Islam telah melakukan inkonsistensi perjuangan atau mudahanah.

Padahal jika kita membaca sejarah kemerdekaan Indonesia, KH. A. Wahid Hasyim yang mewakili pan Islam, tidak pernah menyatakan demikian. Adapun beliau tidak menetang penghapusan tujuh kalimat tersebut karena alasan darurat (negara yang baru terbentuk dengan Presiden Sukarno dan Wapres M. Hatta), dan merasa ditelikung oleh kelompok pan Nasional dengan cara tidak diberi hak berpendapat apalagi berdialog. Bahkan pan Islam pada waktu itu diteror oleh Muhammad Hatta, pasalnya ia menerima informasi (yang katanya penting?) dari Perwira Angkatan Laut Jepang (tanpa nama!), bahwa pencantuman kata-kata “dengan kewajiban menjalankan syari’at Islam bagi pemeluk-pemeluknya” menyebabkan orang-orang Kristen di Indonesia Timur merasa didiskriminasi, menurut perwira itu kalangan Kristen lebih suka berdiri di luar Republik Indonesia kalau tujuh kata itu dipertahankan. Maka kemudian terjadilah penghapusan sepihak tujuh kalimat tersebut lima belas menit pasca Proklamasi. Innalillahi wa inna ilaihi roji’un, Maha Benar Allah dalam firman-Nya;

وتجعلون رزقكم أنكم تكذبون (الواقعة: 82) 

Diberi nikmat kemerdekaan Allah SWT, malah berani menghapus syi’ar-syi’ar agama-Nya! 

– Setelah penghapusan tujuh kalimat secara sepihak, umat Islam sebetulnya masih memperjuangkan syari’at Islam lewat Majlis konstituante yang kemudian dibubarkan oleh Presiden Sukarno, karena ia takut kemenangan diraih pan Islam, sebab argumen-argumen kaum muslimin tidak terbantahkan. 

Kredibilitas Keilmuan Perumus BM GP. Ansor patut dipertanyakan    

Muwalah yang diterangkan dalam tafsir Ibn Katsir itu artinya mua’asharoh bil jamil min haitsu dohir seperti dalam tafsir murah labid. Kesalahan terbesar GP. Ansor adalah memaknai muwalah dengan arti “pemimpin”. Tafsir semacam ini adalah contoh pengambilan tafsir ala liberal, karena yang dibahas oleh Imam Ibn Katsir dalam ayat tersebut adalah aspek hubungan sosial, bukan tentang kepemimpinan!   

– Dari ta’bir-ta’bir banyak yang mereka tampilkan, menurut kami yang paling cocok (benar) adalah kalamnya Syaikh al-Buthi dalam kitabnya, Fiqhus Sirah: 

رابعا: ولاية غير المسلمين، وإذا تأملنا في النتيجة التشريعية لهذه الحادثة وهي الآيات القرآنية التي نزلت تعليقا عليها علمنا أنه لا يجوز لأي مسلم أن يتخذ من غير المسلم وليا له أي صاحبا تشيع بينهما مسؤولية الولاية والتعاون. وهذا من الأحكام الإسلامية التي لم يقع الخلاف فيها بين المسملين، إذ الآيات القرآنية الصريحة في هذا متكررة وكثيرة والأحاديث النبوية في تأكيد ذلك تبلغ مبلغ التواتر المعنوي، ولا مجال هنا لسرد هذه الأدلة فهي معروفة غير خفية على الباحث. 

ولا يستثنى من هذا الحكم إلا حالة واحدة هي أن يلجأ المسلمون إلى هذه الموالاة بسبب شدة الضعف التي قد تحملهم كرها على ذلك، فقد رخص الله في ذلك إذ قال “لا يتخذ المؤمنون الكافرين أولياء من دون المؤمنين، ومن يفعل ذلك فليس من الله في شيء إلا أن تتقوا منهم تقاة” (آل عمران: 28)

“yang ke empat: Kepemimpinan non muslim, ketika kita mengkaji poin tasyri’iyyah ini, yakni beberapa ayat al-qur’an yang diturunkan sebagai catatan kepemimpinan non muslim, pasti kita yaqin bahwa tidak diperkenankan bagi siapapun orang muslim mengangkat non muslim menjadi wali (pemimpin) yang dipasrahi tanggung jawab kepemimpinan dan tolong menolong. Inilah salah satu hukum-hukum Islam yang tidak terjadi perkhilafan diantara umat Islam, karena ayat-ayat al-Qur’an berulang kali mencetuskan hukum tersebut dan juga dikuatkan oleh hadits-hadits nabawiyyah yang mencapai bilangan mutawattir ma’nawi. Namun di sini bukan tempatnya membeberkan dalil-dalil tersebut, karena sudah ma’lum bagi para pengkaji ilmu agama.Tidak ada pengecualian dari hukum ini kecuali satu kasus, yaitu ketika umat Islam terpaksa/ dharurat menyerahkan kepemimpinan kepada non muslim karena sebab lemah sekali. Ketika kondisinya demikian Allah SWT berfirman: “janganlah orang-orang mukmin mengambil orang-orang kafir menjadi wali dengan meninggalkan orang mukmin. Barang siapa berbuat demikian,niscaya lepaslah dia dari pertolongan Allah kecuali karena (siasat)memelihara diri dari sesuatu yang ditakuti mereka. Dan Allah memperingatkan diri (siksa)-Nya.Dan hnya kepada Allah kembali-Mu.

Dan dawuh Syaikh Ali Ash-Shabuni dalam kitabnya tafsir ayatil ahkam: 

(لا يتخذ المؤمنون الكافرين أولياء من دون المؤمنين، ومن يفعل ذلك فليس من الله في شيء إلا أن تتقوا منهم تقاة، ويحذركم الله نفسه وإلى الله المصير)

الحكم الثالث هل يجوز تولية الكافر واستعماله في شؤون المسلمين؟ استدل بعض العلماء بهذه الآية الكريمة على أنه لا يجوز تولية الكافر شيئا من أمور المسلمين ولا جعلهم عمالا ولا خدما كما لايجوز تعظيمهم وتوقيرهم في المجلس والقيام عند قدومهم، فإن دلالته على التعظيم واضحة. 

“Janganlah orang-orang mukmin mengambil orang-orang kafir menjadi wali dengan meninggalkan orang mukmin. Barang siapa berbuat demikian,niscaya lepaslah dia dari pertolongan Allah kecuali karena (siasat)memelihara diri dari sesuatu yang ditakuti mereka. Dan Allah memperingatkan diri (siksa)-Nya.Dan hnya kepada Allah kembali-Mu.”

“Hukum yang ketiga: apakah boleh menjadikan seorang non muslim wali dan pekerja dalam urusan orang-orang muslim? Sebagian ulama menjadikan ayat ini sebagai dalil atas tidak diperbolehkannya menjadikan seorang non muslim sebagai wali atas satu urusan pun diantara urusan-urusan orang-orang muslim serta tidak boleh menjadikan mereka pejabat dan pembantu dekat orang muslim, sebagaimana tidak boleh mengagungkan dan menghormati mereka dalam suatu majelis dan berdiri ketika mereka datang, karena berdiri itu jelas-jelas sebuah tindakan yang mengagungan mereka”

– Sebenarnya perumus BM GP. Ansor sangat paham sekali dengan literatur kitab turrots, dimana diantara Syuruthul Imamah adalah muslim. Lalu kenapa mereka berani berbuat lancang, dawuh-dawuh ulama salaf atau ulama kontemporer yang konsisten dengan kesalafan (Syaikh Buthi dan Syaikh Ali Ash-Shabuni) dimentahkan dan dikaburkan, bahkan menandinginya dengan “ta’bir-ta’bir semu”demi kepentingan duniawi uang dan jabatan!     

“Jika non muslim pada akhirnya terpilih, maka dihukumi sah secara agama dan konstitusi, yang berarti tidak dibenarkan menjatuhkannya tanpa alasan-alasan konstitusional”. Pernyataan demikian ini memicu keresahan umat Islam terlebih kepada warga muslim Jakarta yang sedang berjuang mati-matian melawan kepemimpinan non muslim si penista agama. Mereka sama saja menteror dan menohok kaum muslimin dan menjebaknya ke dalam pemahaman “BOLEH MEMILIH NON MUSLIM”. Inilah tujuan GP. Ansor-Liberal, mereka siap menvorsir pikiran untuk mencari pembenaran “Legalitas Kepemimpinan Non Muslim” demi iming-iming sesaat, uang (Dana Islam Nusantara?). Waspadalah!    

– Apakah hasil-hasil keputusan Bahtsul Masa’il ala anshor ini “batu loncatan” untuk merumuskan Fiqh Islam Nusantara? yang sebelumnya telah kami dengar ide-idenya sudah digagas di pertemuan Rembang. Fiqh Islam Nusantara adalah sebuah kajian anak-anak muda NU yang tidak didasarkan pada nash-nash ulama Ahlussunnah dalam kutubihim al-mu’tabarah, akan tetapi berdasarkan masholih mursalah  atau hanya berlandasan undang-undang negara, atau undang-undang PBB urusan HAM (seperti yang dipraktekkan Syaikh Abdul Hamid al-Athrasy dalam majlis fatwa al-Azhar). Bagai pinang dibelah dua, karena persis dengan gagasan Islam Nusantara dan ide-ide Islam Liberal. Inilah tiga serangkai mereka, yang ujung-ujungnya menjadikan Pluralisme -ala Bapak Pluralisme- sebagai agama. naudzubillah min dzalik!

– Yang menandatangani Bahtsul Masa’il GP. Ansor mayoritas wetonan  pesantren, mereka dulunya menimba ilmu di pesantren yang mengajarkan taqlid kepada ulama madzahibul arba’ah dan hormat kepada sesepuh dan masyayikh. Kemudian mereka beralih ke pendidikan akademik di luar negeri. Lalu kenapa keputusan Bahtsul Masa’ilnya berseberangan dengan kitab-kitab pesantren. Apa pesantren kini sudah tidak berghirah, atau memang mereka terpengaruh dunia akademik, atau mereka sudah dalam cengkeraman tangan-tangan Zionis, Salibis, Komunis? Naudzubillah min Dzalik.

– Sebenarnya kami sudah mengingatkan yang bertanda tangan di BM GP. Ansor ketika mereka mengeluarkan Prees Release dan hasil rumusan sementara yang diklaim “bocor ke publik”. Bukannya mencabut fatwa Tapi malah merilis hasil rumusan terakhir yang mana subtansinya tidak berbeda dengan yang pertama, bahkan ditambah-tambahi ibarat dan nalar berpikir yang tidak dikenal di dunia pesantren. Hal ini semakin menunjukkan bahwa mereka tetap berkeras hati aba wastakbara dan tidak mau dinasehati, dan justru mereka malah menularkan virus-virus Liberal, waspadalah,… wahai kaum santri!

-Semestinya pembahasan BM GP. Ansor tidak tematik, karena biasanya di LBM NU yang dibahtsu adalah Masa’il Waqi’iyyah bukan masalah pengandai-andaian, dan waktu penyelenggarannya juga tidak tepat, karena berdekatan dengan Pilgub Jakarta. Ini jelas modus dan memang sengaja untuk menjebak umat Islam. Kemudian tanggal perilisan keputusan Bahtsul Masa’il dan tanggal perumusan ibaratnya tidak sama, berarti rentan terjadi manipulasi, ini semakin menunjukkan bahwa manajemen organisasi GP. Ansor kocar-kacir dan amburadul.

– PBNU seharusnya menjatuhkan sanksi organisasi kepada GP. Anshor, yang terang-terangan melawan hasil Muktamar dan telah berbuat lancang terhadap LBM NU secara AD-ART. Penentangan kok Cuma dari Rois Syuri’ah dan Wakilnya. Dimanakah Tanfidziyah, kenapa tidak bertindak?. Ada apa dengan Sa’id Aqil Siradj dan Musthofa Bishri, apa keduanya terlibat kongkalikong?!       

– Pada poin G, mereka menyatakan “Terlepas dari perbedaan pendapat tentang diperbolehkannya memilih non muslim”. Ini yang dimaksud khilaf antar siapa, khilafnya Syaikh Abdul Hamid al-Athrasy, Quraisy Syihab….? sungguh khilaf yang ghoiru mu’tabar!    

– Bagaimana bisa seorang doktor yang namanya mirip tokoh-tokoh Syi’ah –Dr. Ali Haidar- dijadikan landasan pendapat oleh GP. Ansor?, apalagi giringan rumusannya dipoles dengan masalah “Tahkim”, ini jelas menyisakan tanda tanya!

– Beranikah mereka berfatwa membolehkan memilih Si Ahok, penista agama yang telah berkali-kali menistakan al-Qur’an, sholat, ulama-ulama Islam dan umatnya. Kalau berani,  berarti NU Liberal dan GP. Ansor-nya tidak takut menjadi munafiq yang ancamannya firman Allah SWT:  

إِنَّ الْمُنَافِقِيْنَ فِي الدَّرْكِ الْأَسْفَلِ مِنَ النَّارِ وَلَنْ تَجِدَ لَهُمْ نَصِيْرًا


Himbauan Untuk Umat Islam

– Umat Islam perlu mewaspadai Partai-partai yang menjalin kontrak politik dengan Calon-calon Pilgub, seperti Ridlwan Kamil, dengan meminta calon yang didukung untuk mengusung penguasa sekarang pada Pilpres 2019 mendatang. Kerja sama ini sudah tersusun rapi, dan terencana secara matang sekali. Kita sangat khawatir jika pada Pilpres 2019 calon Wapresnya lagi-lagi si Super Penista Agama, sebagaimana yang dulu terjadi pada Pilgub Jakarta. 

– Wahai umat Islam Jakarta, mari kita berjihad bersama melawan kepemimpinan non muslim penista agama dengan segala daya dan kekuatan yang kita miliki. Jika ditengah perjuangan ada diantara kita yang wafat karena diteror, maka insya’allah ia telah mati syahid. Terakhir, apapun usaha kita yang penting sudah melaksanakan kewajiban perjuangan untuk ahlussunnah wal jamaah dan demi kelestarian Islam era selanjutnya. Dengan berkah jihad ini, insya’allah anak cucu kita selamat dari pemurtadan atau peng-komunis-an! Amiin…

Wallahu A’lam bis-Showab

Sarang, 23 Maret 2017

(Pengasuh Ribath Darusshohihain PP. Al-Anwar)

Komentar KH. Zuhrul Anam Hisyam Terhadap “PEMBELAAN BERLEBIHAN” Para Pemuja A. Ishomuddin Cs

معيار مشبوه في تقييم الرجال ..فان كانت الجرأة و والتصرف حسب ما توحي النفس وحب الظهور  ومخالفة الرأي السائد  والانفلات عن قيود الشريعة و التخلص عن مظلها فان كانت هذه الامور نتخذها مقياسا للرجال فلا مكان اذن لمثل علماءنا الكبار الغيورين الجامعين بين الايمان والاتقان ووالدراية والصلابة 

Itulah (tulisan pemuja A. Ishomuddin CS) “Standaritas Ganjil” untuk menilai kapasitas ulama. 

Andaikan tindakan nekat yang hanya berdasarkan hawa nafsu,  mendambakan kepopuleran, menyalahi pendapat shohih, berlepas diri dari tali-tali syari’at Islam bahkan keluar dari naungannya, dapat menjadi tolak ukur dalam menilai kualitas dan kapasitas seorang ulama’, sudah tentu tidak akan ada “TEMPAT” bagi ulama-ulama (salaf terdahulu) yang begitu tinggi ghirah Islamiyahnya, yang mampu menjami’kan iman dan itqan, ilmu pengetahuan (Islam) dan kekokohan (iman).

انا عرفت عصام  وعايشته من بداية تعليمه حتى اخر ما يصله هو من مرحلة قال عنها فاقدو الوعي الحقيقي انها مرحلة نبوغه بل قد يصفونها بعبقريته التي يتعسر على كثير من اخوانه الوصول اليها 

Saya kenal dengan saudara A. Ishomuddin, dan saya paham betul dia, mulai awal belajarnya sampai sekarang, dimana ia sekarang dinilai oleh sekelompok orang yang kurang wawasan ilmiahnya sebagai ahli agama Islam yang sedang mencapai puncak keilmiahan dan kejeniusan, yang tidak mungkin dicapai oleh rekan rekannya.

هذا كلام فارغ  مزحرف بزحاريف المدح المزيوف المغرض الذي يرمى من خلاله الى ما لا تخفى على من يعالج امور الحياة ويعايش دنيا الحركة الفكرية.

Sungguh, ini OMONG KOSONG yang dipoles dengan PUJIAN BERLEBIHAN dan sangat subyektif (bahkan terkesan fanatik), yang justru akan menjerumuskannya ke mafsadah, yang sudah maklum bagi orang-orang yang terbiasa menggeluti dunia intelektual. 

ارجو ان اكون غير معاد للحقيقة وان لا اكون مبالغا مجاوزا للحدود…

Semoga saja, Saya (dengan pendapat) ini tidak diarahkan ke hakikat, dan tidak melewati batas.

فقط.نصيحة للاخوان وغيرة على هذاالدين

Ini semua sebuah nasihat bagi Ikhwan muslimin, dan sebagai wujud ghiroh Islamiyah.

عصام له علم ولكن ليس كل شيئ وهو اخي في النسب..معاذ الله من عصبية تسد باب الانصاف.

A. Ishomuddin memang memiliki ilmu, namun tidak menguasai seluruhnya, dia masih ada hubungan famili dengan saya.

Semoga Allah SWT menjauhkan diri ini dari KEFANATIKAN yang dapat menutupi kejujuran.

** Kami atas nama admin, mohon maaf jika ada kesalahan dalam penerjemahan. 
##Dawuh KH. Zuhrul Anam Hisyam ketika mengomentari pembelaan pendukung A. Ishomuddin yang terlalu berlebihan.

_____________________________

Berikut ini PEMBELAAN PARA PEMUJA A. ISHOMUDDIN CC
Kyai Ishomuddin dan Kyai-kyai Muda NU yang Mencerahkan Pasca Gus Dur
Pasca meninggalnya Gus Dur, ada banyak kekhawatiran terhadap perkembangan Nahdlatul Ulama. Gus Dur adalah tokoh moderat yang dicintai berbagai kalangan. Seorang pelindung yang rela dijadikan tameng hinaan demi menyelamatkan orang lain. Mereka yang datang meminta suaka kepadanya.
Gus Dur tidak membeda-bedakan agama, pilihan politik, kelompok. Siapa yang minta perlindungan akan dirangkul dan diayomi. Di pundak Gus Dur inilah NU semakin banyak mengalami himpitan dan ancaman.
Gus Dur menjadi simbol pluralisme, ikon perlawanan terhadap ajaran kekerasan atas nama agama. Ia melawan arus, menunggang gelombang, menghadapi arah angin. Banyak orang membencinya karena tak memahami jalan pikirannya. Kemudian ketika mereka paham, baru menyesalinya. Namun pelindung besar dengan segala kontroversinya itu telah pergi.
Sementara di belakangnya, peperangan melawan radikalisme terus terjadi.
Kekhawatiran itu mungkin berlebihan, mengingat NU tumbuh dari tradisi. Jamiyah itu lahir untuk mempertahankan, bukan menciptakan kebaruan. Tradisi yang dipertahankan itu termasuk soal kaderisasi. Mungkin tak sebesar Gus Dur, namun selalu muncul generasi yang mewakili perjuangannya untuk berani melawan arus.
Perbedaan pendapat adalah sesuatu yang niscaya. Sejak pertama kali berdirinya NU juga sudah ada. Soal kentongan misalnya, Kyai Hasyim Tebuireng (Rais Am Nu pertama) melarangnya, namun karena ada pandangan berbeda dari Kyai Faqih Maskumambang (Wakil Rais Aam NU), akhirnya dibolehkan di luar Tebuireng. Semua itu dilakukan demi menghargai perbedaan pendapat tadi. Bukan untuk mencari siapa paling benar.
Ahmad Ishomuddin adalah salah satu sosok yang, barangkali bisa mewakili gambaran itu. Meski tak seliberal Ulil atau Mun’im Sirry, tapi keberanian untuk berbeda muncul juga dari dirinya. Kyai Ishom memahami risiko, mengetahui batas tawadhu, tetapi kebenaran memang mesti disuarakan.
Dan untuk hal satu ini, wajar saja untuk berbeda pendapat.
Ini bukan soal tendensi politik, apalagi tuduhan hina yang dilontarkan para pembully kepadanya. Ahok sama sekali tidak penting, tapi substansi persoalan inilah yang paling utama. Kasus Ahok jelas politis karena MUI melewati proses tabayun (klarifikasi). Bagaimana mungkin memperoleh kebenaran jika melompati proses ini? Kebenaran seperti apa yang hendak dihasilkan jika menghilangkan asas praduga tak bersalah?
Atau jangan-jangan MUI telah mengambil-alih wewenang Tuhan? Yang bahkan ketika hendak menurunkan azab sekalipun masih memberikan kesempatan untuk memperbaiki diri bagi umat lebih dulu. MUI bisa menyimpulkan persoalan tanpa perlu tabayun? Luar biasa!

Bahkan Kyai Ishom sendiri menyatakan tidak dilibatkan dalam persoalan itu. Padahal ia ada di komisi fatwa, komisi yang tepat untuk menjembatani kasus penistaan agama tersebut.Namun MUI tak butuh fatwa, mereka membuat produk baru, yaitu sikap keagamaan. Yang katanya konon lebih tinggi dari fatwa. Apakah ini masuk akal?

Kasus penistaan agama itu jelas sengaja diplot demikian. Ahok harus dimasukkan bui tanpa proses tabayun. Dengan mengabaikan haknya untuk memberikan keterangan. MUI dan pemandu soraknya sengaja melewati tahapan fatwa yang di dalamnya ada orang yang berbeda pandangan seperti Kyai Ishomuddin. Agar jalan mereka mulus.
Untuk menghindari friksi, Kyai muda itu memberikan kesaksian secara personal. Sebagai seorang yang memahami agama dari tradisi pesantren. Bukan sebagai dosen UIN Raden Inten Lampung, Rais Syuriah PBNU, atau komisi fatwa MUI. Dan ini tetap dipersoalkan. Haknya sebagai warga negara untuk memberikan kesaksian dipermasalahkan.
Orang-orang telah mabuk kebenaran versi mereka sehingga kehilangan kewarasan. Selain menggunakan tameng agama, tak mau menyolatkan mayat, mereka juga melarang hak asasi warga negara yang dilindungi hukum. Pemaksaan kehendak itu ditunggangi kepentingan politik. Ingin hidup sendiri di Negara ini?
Dan cara berpikir paling nista itu adalah mempertanyakan kedalaman ilmu agama Kyai Ishomuddin karena belum berhaji. Mereka mungkin menganggap haji adalah simbol pencapaian ilmu. Haji itu ritual keagamaan. Syaratnya mampu. Haji berulang kali yang berpotensi riya justru dilarang. Ad hominem semacam itu hanya cara untuk merendahkan kyai muda itu. Dengan cara berpikir konyol.

Mereka tidak melihat kehidupan sederhananya. Sebagai seorang Rais Syuriah ormas keagamaan terbesar PBNU, Wakil Komisi Fatwa MUI, dan dosen UIN, ia dikabarkan masih ngontrak rumah. Bandingkan dengan ustadz kagetan di televisi itu. Kehidupan mereka begitu glamour, serba lebih, bahkan ada yang punya istri simpanan.
Ada banyak kyai muda dengan keteladanan Gus Dur, selain Ishomuddin, ada Gus Yahya Staquf, Gus Ghafur Maimoen, Gus Yaqut, Gus Syafiq Hasyim, Gus Akhmad Sahal, Gus Nadirsyah Hosen, Gus Nusron Wahid, Gus Sumanto Al-Qurthuby, Gus Sa’dullah, dan banyak lagi. Mereka tumbuh dalam dialektika pemikiran NU, tradisi NU, humor NU.
Mereka orang-orang yang siap berbeda pendapat dengan tetap menjunjung hormat. Di pundak kyai-kyai muda yang menyenangkan itulah kelak NU diletakkan.
Orang-orang ini jelas akan dihambat dan difitnah oleh para pendengki. Bagi yang mencintai NKRI, keragaman, keadilan, sudah semestinya mendukung dan menguatkan mereka. Jangan biarkan mereka berjuang sendiri.
Jika senior mereka, seperti Kyai Said saja dimaki syiah, sesat, liberal, apalagi mereka ini yang memang terbuka pada dialektika ilmu pengetahuan dan memang besar di luaran. Akan ada banyak tantangan, jalan ke depan semakin terjal dan rawan gesekan.
Namun setidaknya mereka membuktikan, pengganti Gus Dur terus bermunculan di tubuh NU. Kyai-kyai muda NU yang menyenangkan dan mencerahkan.

KEJANGGALAN TAFSIR “RAHMATAN LIL ALAMIN” AHMAD ISHOMUDDIN

TEBARKAN RASA KASIH SAYANG
Oleh: Ahmad Ishomuddin

Islam adalah agama yang membawa misi kasih sayang (rahmat). Allah berfirman dalam Qs. al-Anbiya’ ayat 107:

وما أرسلناك إلا رحمة للعالمين

“Kami tidak mengutusmu kecuali sebagai rahmat bagi alam semesta”

Secara tegas ayat di atas menunjukkan bahwa rahmat (kasih sayang) itu tidak terbatas bagi orang-orang yang beriman saja, melainkan juga mencakup seluruh makhluk-Nya, baik yang beriman maupun tidak.

Rahmat (kasih sayang) dalam perspektif ajaran Islam adalah kebebasan dan kelapangan untuk menentukan pilihan. Manusia bebas memeluk dan mengamalkan agamanya masing-masing. Sedangkan umat Islam tidak dibenarkan berucap atau berbuat untuk mengganggu, menyakiti, merusak, atau menghalangi non muslim untuk melaksanakan ibadah, karena semua itu berlawanan dengan rasa kasih sayang. Apalagi memaksa mereka untuk memeluk Islam. Tidak ada paksaan dalam agama.
____________________________

TANGGAPAN ILMIAH SANTRI-SANTRI RIBATH DARUSSHOHIHAIN

​قال الإمام القرطبي في تفسيره [الجامع لأحكام القرآن؛ ج11/ص350]: قوله سبحانه وتعالى: (وما أرسلناك إلا رحمة للعالمين(، قال سعيد بن جبير عن ابن عباس قال: كان محمدا صلى الله عليه وسلم رحمة لجميع الناس، فمن آمن به وصدّق به سعد, ومن لم يؤمن به سلم مما لحق الأمم من الخسف والغرق. وقال ابن زيد: أراد بالعالمين المؤمنين خاصة.
______TAFSIR IMAM QURTHUBI_______

وأخرج ابن جرير وابن أبي حاتم والطبراني وابن مردويه والبيهقي في الدلائل عن ابن عباس في قوله: (وما أرسلناك إلا رحمة للعالمين( قال: من آمن تمت له الرحمة في الدنيا والآخرة. ومن لم يؤمن عوفي مما كان يصيب الأمم في عاجل الدنيا من العذاب من الخسف والمسخ والقذف.

قوله عزّ وجل: (وما أرسلناك إلا رحمة للعالمين( قيل: كان الناس أهل كفر وجاهلية وضلال وأهل الكتابيين كانوا في حيرة من أمر دينهم لطول مدتهم وانقطاع تواترهم ووقوع الاختلاف في كتبهم فبعث الله محمدا صلى الله عليه وسلم حين لم يكن لطالب الحق سبيل إلى الفوز والثواب فدعاهم إلى الحق وبين لهم سبيل الصواب وشرع لهم الأحكام وبين الحلال من الحرام. قال الله تعالى: (وما أرسلناك إلا رحمة للعالمين( قيل: يعني المؤمنين خاصة فهو رحمة لهم. وقال ابن عباس: هو عام في حق من آمن ومن لم يؤمن. فمن آمن فهو رحمة له في الدنيا والآخرة، ومن لم يؤمن فهو رحمة له في الدنيا بتأخير العذاب عنه ورفع المسخ والخسف الاستئصال، قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: «إنما أنا رحمة مهداة». اهـ [تفسير الخازن؛ ج3/ص278-279].
___________TAFSIR KHOZIN__________

قال الإمام ابن كثير: وقوله: (وما أرسلناك إلا رحمة للعالمين( يخبر الله تعالى أن الله جعل محمدا صلى الله عليه وسلم رحمة للعالمين أي أرسله رحمة لهم كلهم، فمن قبل هذه الرحمة وشكر هذه النعمة سعد في الدنيا والآخرة، ومن ردّها وجحدها خسر الدنيا والآخرة كما قال تعالى: (قل هو للذين آمنوا هدًى وشفاء والذين لا يؤمنون في آذانهم وقرٌ وهو عليهم عمًى أولئك ينادون من مكان بعيد)

وقال مسلم في صحيحه: حدثنا ابن أبي عمر حدثنا مروان الفزاري عن زيد بن كيسان عن ابن أبي حازم عن أبي هريرة قال: قيل: يا رسول الله ادع على المشركين، قال: «إنّي لم أبعث لعانا وإنما بعثت رحمة». انفرد بإخراجه مسلم. وفي الحديث الآخر: «إنما أنا رحمة مهداة» رواه عبد الله بن أبي عوانة وغيره عن وكيع عن الأعمش عن أبي صالح عن أبي هريرة مرفوعا، وأورده ابن عساكر من طريق الصلت عن ابن عمر قال: قال صلى الله عليه وسلم: «إن الله بعثني رحمة مهداة بعثت برفع قوم وخفض آخرين».

وروى الإمام أحمد قال صلى الله عليه وسلم: «والذي نفسي بيده لأقتلنهم ولأصلبنهم ولأهدينهم وهم كارهون إني رحمة بعثني الله ولا يتوفاني حتى يظهر الله دينه، لي خمسة أسماء، أنا محمد، وأحمد، وأنا الماحي الذي يمحو الله بي الكفر، وأنا الحاشر الذي يحشر الناس على قدمي، وأنا العاقب».

وروى الإمام أحمد أيضا عن سلمان الفارسي أنه قال لحذيفة: يا حذيفة إن رسول الله صلى الله عليه وسلم خطب فقال: «أيما رجل سببته في غضبي أو لعنته لعنة فإنما أنا رجل من ولد آدم أغضب كما تغضبون، وإنما بعثني الله رحمة للعالمين فاجعلها صلاة عليه يوم القيامة» ورواه أبو داود. اهـ [تفسير ابن كثير؛ ج3/ص201-201] باختصار وحذف للأسانيد.
________TAFSIR IBNU KATSIR________

وقال الإمام فخر الدين الرازي: أما قوله تعالى: (وما أرسلناك إلا رحمة للعالمين( ففيه مسائل:

المسألة الأولى: أنه عليه السلام كان رحمة في الدين والدنيا؛ أما في الدين فلأنه صلى الله عليه وسلم بعث والناس في جاهلية وضلالة، وأهل الكتابيين كانوا في حيرة من أمر دينهم لطول مكثهم وانقطاع تواترهم ووقوع الاختلاف في كتبهم، فبعث الله تعالى محمدًا صلى الله عليه وسلم حين لم يكن لطالب الحق سبيل إلى الفوز والثواب، فدعاهم إلى الحق وبيّن لهم سبيل الثواب، وشرع لهم الأحكام وميز الحلال من الحرام. ثم إنما ينتفع بهذه الرحمة من كانت همته طلب الحق فلا يركن إلى التقليد ولا إلى العناد والاستكبار، وكان التوفيق قرينا له قال الله تعالى: (قل هو للذين آمنوا هدًى وشفاء( إلى قوله (وهو عليهم عمًى( [فصلت: 44].
________TAFSIR IMAM AR-RAZI_______

وقال الأستاذ الدكتور وهبة الزحيلي في [التفسير المنير: ج17/ص146]: في اختتام سورة الأنبياء دلالات ظاهرة وحجّة بينة على الحق الأبلج، وهي:

1). أن رسول الله صلى الله عليه وسلم خاتم النبيين الذي توّج الله برسالته رسالات الأنبياء المتقدمين رحمة لجميع الناس، فمن آمن به وصدّق بدعوته سعد، ومن لم يؤمن سلم في الدنيا مما لحق الأمم من الخسف والمسخ والغرق وعذاب الآخرة وخسر الآخرة خسرانا مبينا … إلى أن قال …. يقوم شرع الله ودينه على عقيدة التوحيد الخالص من شوائب الشرك وعلى العدل، فالله تعالى يقضي بالحق وينصر أهل الحق والإيمان بالله ويخذل الظلمة والكفار ويدحر الظلم وأهله … إلى أن قال … ويدعو إلى الرحمة والإحسان وينهى عن الفحشاء والمنكر والبغي. وهذه أصول الحضارة الصحيحة ونواة الديموقراطية السديدة. اهـ.

وقال في ص143 في بيان مناسبة الآية لما قبلها: بعد بيان قصص الأنبياء المتقدمين وبعد الإعلام بأن القرآن بلاغ ومنفعة وكفاية للعابدين أخبر الله تعالى عن سبب بعثة النبي صلى الله عليه وسلم وهو أنه رحمة للعالمين في الدين والدنيا؛ أما في الدين فبتخليصهم من الجاهلية والضلالة، وأما في الدنيا فبالتخليص من كثير من الذل والقتال والحرب والنصر والعلو ببركة دينه، وأما مجيئه صلى الله عليه وسلم بالسيف أيضا فهو لتأديب من استكبر وعاند ولم يتفكر ولم يتدبر كما أن الله رحمن رحيم وهو أيضا منتقم من العصاة. اهـ.
_TAFSIR SYAIKH WAHBAH AZZUHAILI___

فكلام الشيخ الدكتور وهبة الزحيلي هو التفسير الظاهر للآية الكريمة ونعما فسر به الآية فإنه جامع بين القولين فيها، فالرحمة العامة العاجلة حاصلة للمسلمين والكافرين والرحمة الخالصة حاصلة للمسلمين في دار الآخرة ببركة رسالته صلى الله عليه وسلم. وهذا التفسير أيضا موافق لما في التفسير الكبير للفخر الرازي السابق أو منقول منه فليست الآية ناسخة لفريضة الجهاد في سبيل الله وفريضة عدم اتخاذ الكافرين أولياء وأصحابا في القوة السياسية والاقتصادية والثقافية عالمية أو محلية.
_____DAWUH KIAI NAJIH MAIMOEN_____

SUMBER KEKUFURAN BERASAL DARI ARAH TIMUR (NAJD)

Termasuk hal yang menunjukkan kesalahan pendapat kalian adalah Hadits Bukhari Muslim dari Abu Hurairah RadliyaLlahu ‘anhu dari Rasulullah SAW, “Sumber kekufuran berasal dari timur Madinah.” (HR. Bukhari, Ahmad, al-Baghawi) Dalam riwayat lain, “Keimanan berasal dari Yaman, sedangkan fitnah berasal dari sini (Najd) dimana akan muncul tanduk setan…” (HR. Bukhari, Muslim, Ahmad, al-Tirmidzi, al-Baghawi) Begitu pula Hadits Bukhari Muslim dari Ibn Umar, Rasulullah SAW bersabda, “Fitnah berasal dari sini (Najd).” (HR. Ibn Hibban, Bukhari, Muslim)
Bukhari meriwayatkan Hadits Marfu’, “Ya Allah, berikanlah barakah kepada kami di negara Syam dan Yaman kami. Ya Allah, berikanlah barakah kepada kami di negara Syam dan Yaman kami.” Orang-orang berkata, “Dan juga Najd kami.” Rasulullah pun menyahut, “Ya Allah, berikanlah barakah kepada kami di negara Syam dan Yaman kami.” Orang-orang berkata lagi, “Dan juga Najd kami.” Rasulullah pun mengucapkan sama untuk ketiga kalian, lalu bersabda, “Di sana banyak gempa penyimpangan agama dan fitnah. Dari sana jugalah akan muncul tanduk setan…” (HR. Bukhari, al-Tirmidzi, al-Baghawi, Ibn Hibban)

Ahmad meriwayatkan dari Ibn Umar secara Marfu’, “Ya Allah, berikanlah barakah kepada kami di kota Madinah kami, takaran Sha’ kami, di takaran Mud kami, dan di negara Yaman dan Syam kami.” Lalu beliau menghadap ke timur dan bersabda, “Disanalah muncul tanduk setan…” Rasulullah SAW juga berkata, “Di sana banyak gempa penyimpangan agama dan fitnah. Dari sana jugalah akan muncul tanduk setan…” (HR. Ahmad, Ibn Khuzaimah, Muslim, Malik, al-Baghawi)

Saya berkata: Aku bersaksi bahwa Rasulullah SAW adalah Nabi yang benar. Semoga shalawat, salam, dan barakah Allah kepada beliau, keluarga, dan shahabat semua. Beliau telah menyampaikan amanat dan risalah.

Syaikh Taqiyuddin Ibn Taimiyyah berkata,”Daerah timur kota Madinah bernama Syaraf. Dari sana muncul Musailimah al-Kadzdzab yang mengaku-ngaku menjadi nabi. Dialah pelopor pertama kali hal tersebut, lalu diikuti oleh beberapa tokoh lainnya. Musailimah dan pengikutnya lalu ditumpas oleh khalifah Abu Bakr al-Shiddiq.”

Terdapat beberapa dalil dari Hadits ini. Diantaranya:

Rasulullah SAW bersabda bahwa keimanan akan muncul dari Yaman, sedangkan fitnah akan muncul dari arah timur. Beliau mengucapkannya berulang kali.

Rasulullah SAW mendoakan Hijaz dan penduduknya berkali-kali, namun tidak mendoakan penduduk daerah timur karena banyak muncul dari sana, khususnya Najd.

Awal fitnah yang muncul setelah Rasulullah SAW berasal dari tanah kita ini (Najd).

Kami katakan bahwa tradisi-tradisi yang kalian gunakan untuk memvonis Muslim menjadi kafir, bahkan kalian gunakan untuk mengkafir-kafirkan orang yang tidak mengkafirkannya, telah beredar luas di Makkah, Madinah, dan Yaman selama beratus-ratus tahun. Bahkan, terdapat informasi bahwa tidak ada tempat di dunia yang lebih banyak berlaku tradisi ini seperti di ketiga daerah diatas.

Sedangkan tanah kita ini (Najd) adalah daerah pertama munculnya berbagai fitnah. Kami tidak pernah menemukan fitnah yang lebih di daerah-daerah Muslim lainnya, baik zaman dulu maupun sekarang.

Sekarang, kalian mewajib-wajibkan orang untuk mengikuti madzhab kalian. Orang yang mengikuti kalian namun tidak dapat menampakkan di daerahnya serta tidak mampu mengkafir-kafirkan penduduknya harus berhijrah ke daerah kalian. Kalian juga menyangka sebagai kelompok yang ditolong Allah SWT. Padahal, semua sangkaan kalian ini bertentangan dengan Hadits.

Rasulullah SAW telah diberitahu oleh Allah tentang kondisi yang terjadi kepada umatnya hingga Hari Kiamat. Rasulullah SAW juga memberitahukan fenomena yang terjadi kepada mereka. Andaikan beliau tahu bahwa Najd sebagai tempat munculnya Musailimah akan menjadi daerah iman, golongan yang menang akan muncul dari sana, serta akan menampakkan keimanan, lalu tidak samar bahwa daerah selain Najd seperti Makkah, Madinah, dan Yaman akan menjadi daerah kafir sentral penyembahan berhala dan wajib hijrah dari sana, tentu Rasulullah akan menceritakan hal tersebut dan mendoakan buruk kepada Haramain dan Yaman serta mendoakan baik penduduk daerah timur khususnya Najd. Beliau juga akan menberitakan bahwa tiga kawasan tersebut adalah kawasan penyembahan berhala.

Namun, Rasulullah SAW lepas tangan dari asumsi semacam ini karena realita yang terjadi berbanding terbalik darinya. Rasulullah SAW mengglobalkan kata daerah timur, namun mengkhususkan menyebut kata Najd sebagai tempat muncul tanduk setan dan sentral fitnah-fitnah, serta tidak mau berdoa untuknya. Ini jelas bertentangan dengan tuduhan kalian.

Sekarang kalian mengatakan bahwa daerah yang didoakan Rasulullah SAW adalah kafir, sedangkan daerah yang beliau tidak mau mendoakannya dan mengatakan akan muncul tanduk setan serta fitnah dari sana adalah daerah iman yang wajib hijrah kesana. Pemaparan dari Hadits diatas kiranya cukup jelas, InsyaAllah.

“Aku tidak Khawatir Umatku akan Kembali Musyrik setelah Aku Wafat”

Termasuk hal yang menunjukkan kesalahan pendapat kalian adalah Hadits riwayat Bukhari Muslim dari Uqbah bin Amir, bahwa Rasulullah SAW bersabda, “Sesungguhnya aku tidak khawatir kalian bertindak syirik setelahku. Tetapi kami khawatir kalian akan saling berebut dunia, lalu saling membunuh hingga binasa seperti hal itu terjadi pada umat sebelum kalian.” Uqbah berkata, “Hadits ini terjadi waktu terakhir aku melihat Rasulullah SAW berdiri di atas mimbar.” (HR. Bukhari, al-Thabarani)

Arah dalil Hadits ini bahwa Rasulullah SAW memberitahukan segala hal yang terjadi pada dan dari umatnya hingga Hari Kiamat seperti dalam Hadits-hadits lain yang tidak dapat disebutkan di sini. Termasuk hal yang dikisahkan dalam Hadits Shahih diatas bahwa Rasulullah SAW merasa aman dan tidak khawatir penyembahan berhala dari umatnya. Namun beliau juga memperingatkan umatnya, dan peringatan itupun terjadi.

Ini jelas bertentangan dengan pendapat kalian. Menurut kalian, semua umat Rasulullah SAW telah menyembah berhala yang memenuhi negara-negara Islam, kecuali jika salah satu penjuru dunia tidak menemui Hadits tersebut. Jika tidak demikian, maka seluruh penjuru dunia mulai ufuk timur hingga ufuk barat, dari Roma hingga Yaman, semuanya penuh dengan tradisi yang kalian kafir-kafirkan itu. Kalian menuduh orang yang tidak mengkafirkan orang yang melakukannya adalah kafir. Padahal, telah maklum bahwa kaum Muslimin telah melaksanakan Islam dengan semestinya dan tidak mengkafir-kafirkan mereka. Karena ucapan kalian ini maka semua negeri Islam telah kafir kecuali negeri kalian. Anehnya, hilangnya tradisi semacam itu tidak terjadi di daerah kalian kecuali sejak sepuluh tahun yang lalu.

Dengan ini maka terlihat jelas kesalahan pendapat kalian, AlhamduliLlahi Rabb al-‘alamin.

Jika kalian berkata, Rasulullah SAW bersabda, “Hal yang paling aku khawatirkan dari kalian adalah syirik.” (HR. Ahmad, al-Haitsami, al-Thabarani, Ibn Hibban, al-Bazzar, Ahmad) Maka saya jawab, Hadits ini benar dan Hadits-hadits Rasulullah SAW tidak akan saling bertentangan. Akan tetapi, setiap Hadits dari Rasulullah yang menerangkan tentang kekhawatiran beliau terhadap syirik maka yang dimaksud adalah syirik kecil, seperti Hadits Syaddad bin Aus, Abu Hurairah, dan Mahmud bin Lubaid. Semuanya menjelaskan terbatas pada kekhawatiran Rasulullah SAW terhadap syirik kecil yang menimpa umatnya. Realitas pun berkata demikian, syirik kecil menjamur di seluruh penjuru dunia. Begitu pula Rasulullah SAW begitu khawatir umatnya tertimpa fitnah dan saling berperang di dunia, lalu kekhawatiran itupun telah terjadi.

Hal yang dianggap syirik kecil tersebut kalian katakan sekarang sebagai syirik besar. Kalian mengkafirkan kaum Muslimin dengannya, bahkan orang yang tidak mengkafirkan mereka juga. Benarlah apa yang dikatakan Hadits-hadits dan kebenaran pun terungkap, AlhamduliLlah.
** Karya Ilmiah Para Santri Ribath Darusshohihain

​POLITIK BERKEADILAN BAGIAN DARI FIQH ISLAM

Dalam karyanya berjudul Bada’I al Fawa’id (3:153) Ibnu al Qoyyim yang mengutip Ibnu ‘Aqil yang mengatakan bahwa politik (al siyasah) adalah suatu langkah dan tindakan yang diambil untuk mengantarkan umat manusia menuju kemaslahatan dan menghindari kerusakan dan bahaya, meskipun Nabi Saw tidak pernah menetapkan hal ini dan tidak ada wahyu yang pernah berkenaan dengannya. Dalam hal ini, yang penting adalah bahwa tindakan yang diambil tidak boleh bertentangan dengan berbagai ketentuan Syari’at Islam. Di kalangan al Khulafa’ al Rasyidin Juga terjadi semacam pembunuhan dan penyiksaan.orang yang mengetahui Sunnah Nabi tidak mengingkari hal ini, sekiranya tidak ada cara lain untuk mencapai kemaslahatan kecuali dengan membakar mushaf, maka mereka akan mengikuti pendapat seperti dan melakukaannya. Diriwayatkan bahwa khalifah Umar bin Khatthab Ra. pernah membuang dan mengasingkan Nashr bin Hajjaj ke luar kota Madinah.
Menurut hemat saya, hal seperti inilah yang menggelincirkan banyak orang. Inilah juga tempat dan medan sempit yang menyedihkan dan pertempuran sengit yang menyebabkan tidak sedikit orang mengbaikan nilai-nilai dan norma-norma. akibatnya, mereka berani melanggar batas-batas hukum (al Hudud), menyia-nyiakan hak dan kewajiban, dan memberi dorongan kepada orang-orang jahat untuk melakukan kerusakan. Mereka juga berani menjadikan syariat sebagai tata aturan yang sangat terbatas dan tidak cukup andal untuk memenuhi kemaslahatan manusia. Bahkan, mereka pun tidak segansegan menutup diri dari jalan-jalan kebenaran dengan mengikuti kebatilan. Lebih jauh lagi, mereka berani mengingkari jalan-jalan kebenaran, padahal mereka mengetahuinya secara pasti dan malahan mengajarkannya kepada orang lain sebagai rambu-rambu yang akan mengantar mereka menuju kebenaran. Mereka menduga bahwa jalan-jalan kebenaran itu bertentangan dengan kaidah-kaidah fiqh islam. tentu saja, yang membuat mereka bersikap picik adalah ketidakmampu-an dan kelemahan mereka dalam mengenali dan mengetahui fiqh islam (baca: syariat islam) yang sesungguhnya.

Ketika para pemimpin mengetahui situasi demikian dan bahwa urusan manusia akan bisa dibereskan dengan aturan tambahan berdasarkan apa yang mereka pahami dari syariat islam, mereka lalu membuat undang-undang politis-strategis untuk mengatur berbagai urusan duniawi. Karena pengetahuan mereka tentang syariat masih sedikit, bahkan jauh dari memadai ditambah peraturan-peraturan baru yang bersifat politis-strategis yang mereka buat sendiri, maka munculah bencana yang berkelanjutan, bahaya yang meluas, dan kekacauan dahsyat yang sulit diperbaiki. sementara itu, ada pula kelompok lain yang melekukan tindakan berlebihan. Mereka ini berani membuat kebijakan-kebijakan dan mengambil tindakan-tindakan yang sebenar-nya bertentangan dengan hukum-hukum Allah Swt dan Rasul-Nya. Kedua kelompok itu sama-sama bertolak dengan bekal ilmu dan pengetahuan yang minim  dan jauh dari memadai. Mereka bahkan tidak memehami tujuan utama diutusnya rasul. Allah Swt mengutus para rasul-Nya yang di bekali dengan kitab-kitabnya untuk mengajak manusia  berlaku dan bertindak adil serta hidup dalam keseimbangan.

Dengan keadilan atau keseimbangan langit dan bumi  bisa tegak berdiri dan aman. Jika simbol-simbol dan tanda-tanda keadilan tampak dan wajahnya demikian terang dengan cara dan teknis apapun, maka disitulah syariat allah ditegakkan, dan disanalah agama Allah Swt di hidupkan. Sebab, Allah Swt tidak membatasi jalan-jalan menuju keadilan. Berbagai dalil, bukti  dan tanda-tandanya tidak terbatas pada sesuatu dan meniadakan jalan-jalan lain yamg sebenarnya masih serupa atau bahkan lebih kuat darinya. Allah bahkan menegaskan bahwa tujuan utama dari jalan-jalan  (Ath- thuruq) allah adalah menegakkan keadilan dan agar manusia hidup dalam keadilan dan keseimbangan. Dengan demikian, jalan apapun yang ditempuh dan melahirkan keadian dan keseimbangan, maka hal itu merupakan wujud konkret dari pengamalan agama. Yang demikian itu tidak bertentangan dengan agama. Oleh karena itu, kita tidak dapat mengatakan bahwa politik berkeadilan bertentatangan dengan apa yang ditetapkan syariat allah. Justru, yang benar adalah politik sejalan dan cocok dengan syariat islam. Bahkan, politik berkeadilan adalah bagian dari fiqh islam (baca: syariat islam) itu sendiri. Kita menyebutnya sebagai “politik” (as-siyasah) mengikuti terminologi yang berkembang sekarang.

Politik berkeadilan adalah bagian dari fiqh islam yang benar. Bukankah Nabi Saw pernah menawan orang-orang yang melakukan adu-domba? Beliau juga pernah menghukum karena suatu tuduhan ketika tanda-tanda keraguan tampak dalam tuduhan itu. Oleh karena itu, jika ada yang melepaskan semua tertuduh dan membiarkan pergi, padahal ia mengetahui tertuduh sebagai pelaku kerusakan di muka bumi dengan merusak rumah-rumah dan banyak mencuri, dan yang melepaskan itu berkata, “Aku tidak akan menghukumnya kecuali bila ada dua orang saksi yang adil dan menyaksikan kejahatannya” maka kenyataanya ini bertentangan dengan politik yang ditetapkan oleh fiqh islam. Demikian pula, Nabi Saw pernah tidak memberikan bagian rampasan perang (al-ghanimah) kepada orang yang berkhianat dalam urusan ini, sementara Al-khulafa’ Al-rasyidin membakar semua barang milik orang itu. Nabi Saw pernah mengambil setengah harta orang yang tidak membayar zakat. Begitu pula beliau pernah melipatgandakan denda atas pencuri yang tidak dipotong tangannya dan menghukumnya dengan didera. Beliau juga pernah melipatgandakan denda atas orang yang menyebunyikan barang yang hilang. Begitu juga, Umar bin al-Khothob pernah membakar warung khamr dan tempat air yang berisi khamr.  Bahkan,  ia  pernah  membakar  gedung  milik  Sa’ad  bin  Abi 

Waqqash karena menutup diri dari rakyat di dalam gedung itu. Ia pernah menggunduli kepala Nasr bin Hajjaj dan bahkan mengusirnya. Umar juga pernah menyita harta pegawainya. Ia pernah menghimbau secara keras sejumlah shahabat untuk tidak banyak meriwayatkan hadis dari Nabi Saw agar mereka lebih mengfokuskan perhatiannya kepada Al-qur’an dan tidak menyia-nyiakannya.  

Masih banyak lagi contoh langkah-langkah politik yang ditempuh para sahabat dalam memimpin dan mengatur urusan kaum muslim. Politik tetap menjadi sunnah yang baik sampai hari kiamat, meskipun mungkin masih banyak oang yang mengingkari dan tidak mengakuinya. Misalnya saja, Abu Bakar ash-Shiddiq R.a. pernah membakar orang yang melakukan sodomi atau homoseksual. ‘Usman bin Affan juga pernah membakar seluruh mushaf Alqur’an yang bertentangan lisan Quraisy. ‘Umar bin al- Khaththab Ra. pun memerintahkan kaum muslim melakukan haji ifrad agar mereka melakukan umrah di bulan-bulan lain dan bukan di bulan-bulan haji. Akibatnya, Baitullah al-Haram senantiasa penuh diziarahi oleh jutaan kaum muslim berkat politik para sahabat dalam mengatur umat lewat penta’wilan atas Alqur’an dan sunnah Nabi Saw.

Ada sebagian orang yang mengklasifikasikan hukum menjadi syariat dan politik, sebagaimana orang mengklasifikasikan syari’at, dan tharekat, dan hakekat. Klasifikasi demikian adalah batil dan tidak benar. Sebab, yang disebut hakekat ada dua macam. Ada hakikat yang benar dan shahih. Inilah inti atau subtansi syari’at, tetapi bukan bagian kecil dari syariat. Ada juga hakikat batil yang bertentangan dengan syariat islam. Begitu juga politik. Ada dua macam politik, pertama: politik berkeadilan yang merupakan bagian dari syariat; kedua: politik yang batil dan bertentangan dengan syariat islam, seperti halnya pertentangan kedholiman dengan keadilan. Demikian pula halnya klasifikasi sebagian orang tentang bahasa agama dalam dua bagian, yakni syariat dan akal. Ini pun klasifikasi batil. Yang rasional justru ada dua: yang pertama: bagian agama yang sesuai dengan apa yang dibawa Nabi Saw; bagian ini tertentunya rasional, baik bahasan maupun teksnya, bukan bagian dari apa yang beliau bawa, sementara yang kedua: adalah bagian yang bertentangan dengan apa yang dibawa Nabi Saw. Bagian ini tentu saja tidak rasional, malah hanya berupa lamunan dan kayalan belaka, dan sekaligus ajaran yang batil. Namun. Menurut anggapan pencetusnya, bagian itu rasional, padahal sesungguhnya hanyalah kayalan semata dan ajaran batil yang mencampurkan kebenaran dengan kebatilan. 

Demikian pula halnya masalah qiyas atau analogi (al-qiyas) dan syariat (asy-syar’). Qiyas yang shahih adalah teks-teks rasional, sementara qiyas yang batil bertentangan dengan syariat. Ini adalah masalah perbedaan antara ahli waris para nabi dengan mereka yang bukan. Akar perbedaannya hanyalah satu, yakni keumuman risalah islam dengan sunnah Nabi Saw. Untuk menjelaskan segala sesuatu yang dibutuhkan oleh seluruh hamba Allah Swt dalam hal ilmu pengetahuan, tradisi, dan amal yang memberikan kemaslahatan kepada mereka dalam kehidupan di dunia ini dan di akhirat nanti. Kita membutuhkan hanya Nabi Saw. 

Selain itu,kita juga memerlukan orang yang akan menyampaikan kita kapada Beliau untuk mangenali lebih jauh apa yang Beliau bawa. Barang siapa belum memiliki pikiran yang meresap dalam hati seperti pikiran dan keyakinan ini, maka ini berarti bahwa belum benar-benar mantab keimanannya kepada diri Nabi Saw. Padahal, wajib hukumnya bagi setiap mukallaf mengimani keumuman risalah Nabi Saw dalam hal-hal seperti ini. Sebagaimana tidak ada seorang pun bisa menghindar dari keimanan dari risalah Nabi Saw, demikian pula tidak ada sedikit pun peluang bagi siapa pun untuk  tidak mengakui sunnah Nabi Saw dan tidak mengamalkan apa yang beliau bawa. Apa yang beliau bawa sudah cukup dan kaum muslim memerlukan hanya sunnah Nabi Saw. Sesungguhnya, orang masih memerlukan selain sunnah Nabi Saw hanyalah orang yang nasibnya tidak mujur, tidak memahami, dan tidak mengenal Beliau karena kurangnya perhatian dan kepedulian, kebutuhan akan sunah Nabi Saw pun hanya sedikit sekali. Padahal sesudah Nabi Saw wafat, bahkan burung-burung yang beterbangan di angkasa pun menyebut ilmu Beliau dan mengenal Beliau sangat baik. Beliau telah mengajarkan kepada kaum muslim segala sesuatu, termasuk adab-adab di kamar kecil, saat menggauli istri, tidur dan bangun dari tidur. Nabi Saw juga mengajari mereka cara duduk, makan, minum, naik dan turun dari kendaraan. Beliau juga menjelaskan ihwal ‘arasy, kursi, malaikat, jin, surga dan neraka. Tidak lupa Beliau juga menerangkan kepada umatnya ihwal hari kiamat dan hal-hal lain yang berhubungan dengannya. Beliau menjelaskan semuanya itu seakan-akan melihat dengan mata sendiri. Beliau mengajari umatnya dan mengenalkan mereka pada Tuhan mereka dengan pengenalan dan penjelasan demikian sempurna sampai-sampai seolah-olah mereka bisa melihat Allah dengan segala sifat kesempurnaan dan keagungan-Nya. Beliau juga mengenalkan kepada umatnya masing-masing dan apa yang terjadi pada mereka bersama kaumnya. Uraian dan penjelasan Nabi Saw .demikian gamblang sampai-sampai umat-umat nabi terdahulu seakan hadir di hadapan mereka. Beliau mengenalkan kapada umatnya jalan-jalan kebaikan dan kejahatan, keselamatan dan kecelakaan mulai dari urusan yang paling kecil sampai urusan yang paling besar.

Seluruh penjelasan Nabi Saw kepada kaum muslim tidaklah seperti penjelasan yang pernah diberikan oleh seorang nabi pun kepada umat mereka sebelumnya. Beliau juga tidak lupa mengenalkan umatnya tentang kematian dan apa yang akan terjadi sesudah kematian di alam Barzakh, berikut apa yang akan dialami dan didapatkan oleh mereka yang mati, baik berupa kenikmatan abadi maupun kesengsaraan yang tiada henti. 

Semua kenikmatan atau kesengsaraan itu akan dirasakan oleh ruh dan badan manusia sekaligus. Seluruh penjelasan dari Nabi Saw kepada umatnya ini dirasa demikian jelas dan bahkan mereka seakan-akan menyaksikannya dengan mata kepala sendiri. Beliau menjelaskan kepada umatnya dalil-dalil tauhid, kenabian, dan kehidupan di dalam akhirat. Dijelaskan ihwal jawaban atas berbagai kelompok yang tetap dalam kekufuran dan kesesatan dengan penjelasan sangat gamblang, sehingga mereka yang mengetahui penjelasan itu akan merasa puas. Bahkan, mereka sama sekali tidak memerlukan penjelasan lagi dari siapa pun. 

Kemudian, Nabi Muhammad Saw juga memperkenalkan umatnya taktik dan strategi perangan, berbagai cara menghadapi musuh, dan metode-metode perangan yang akan membuahkan kemenangan. Jika apa yang beliau jelaskan difahami betul dan dipraktekkan dengan benar, maka tidak akan ada seorang musuh pun yang berani menghadapi kaum muslim untuk selama-lamanya. Beliau menunjukkan kepada umatnya berbagai tipu daya iblis dan jalan-jalan yang biasa dilaluinya untuk menjerumuskan kaum muslim. Tidak lupa beliau juga memperkenalkan cara-cara untuk menyelamatkan diri dari berbagai tipu muslihat iblis berikut metode-metode yang tepat untuk menolak bujuk rayunya dengan cara yang sederhana, mudah difahami, dan tidak sulit diamalkan. Dengan cara seperti itu, Nabi Saw jelas telah memberikan arahan dan petunjuk kepada umatnya. Seandainya saja mereka memahami dan mengikuti petunjuk beliau dengan benar, pastilah mereka akan mampu menghadapi berbagai problem kehidupan di dunia ini secara konsisten yakni tetap tegak dalam kebenaran, tidak akan celaka, dan rugi untuk selama-lamanya. 

Ringkasnya, Nabi Saw telah datang kepada umat manusia dengan membawa apa yang akan membuat hidup mereka bahagia di dunia dan di akhirat dengan segala sisinya. Setelah itu, Allah Swt tidak perlu mengutus lagi seorang rasul dan nabi sesudah beliau. Oleh karena itu, umat manusia tidak lagi membutuhkan siapa pun selain Nabi Saw yang agung. Allah Swt pun menutup pintu kenabian dan tidak lagi mengutus seorang nabi atau rosul sesudah Beliau. Sebab, umat manusia sudah merasa cukup dengan kehadiran beliau, Nabi Muhammad Saw. Lantas, bagaimana mungkin ada anggapan bahwa syariat Nabi Saw yang demikian lengkap masih memerlukan politik yang bersumber darinya? Atau, ada pandangan bahwa fiqh islam (baca: syariat islam) masih membutuhkan sebuah hakikat selain dirinya, qiyas selain dalam syariat islam; atau masih memerlukan ajaran-ajaran rasional di luar dirinya? Barangsiapa mempunyai anggapan seperti itu, maka ia sama saja dengan orang yang masih membutuhkan seorang rosul lain sesudah Nabi Saw. Tentu saja, penyebab utamanya adalah bahwa ia belum begitu mengenal dan memahami apa yang dibawa oleh Nabi Saw. Dan Allah pun berfirman: 

لَمْ يَكْفِهِمْ أَنَّا أَنْزَلْنَا عَلَيْكَ الْكِتَابَ يُتْلَى عَلَيْهِمْ إِنَّ فِيْ ذَلِكَ لَرَحْمَةً وَذِكْرَىْ لِقَوْمٍ يُؤْمِنُوْنَ. [سورة العنكبوت: 51] 

“Dan apakah tidak cukup bagi mereka bahwasanya kami Telah menurunkan kepadamu Al Kitab (Al-Qur’an) sedang dia dibacakan kepada mereka? Sesungguhnya dalam (Al-Qur’an) itu terdapat rahmat yang besar dan pelajaran bagi orang-orang yang beriman”(QS. Al Ankabut: 51)

وَيَوْمَ نَبْعَثُ فِيْ كُلِّ أُمَّةٍ شَهِيْدًا عَلَيْهِمْ مِنْ أَنْفُسِهِمْ وَجِئْنَا بِكَ شَهِيْدًا عَلَى هَؤُلاَءِ وَنَزَّلْنَا عَلَيْكَ اْلكِتَابَ تِبْيَانًا لِكُلِّ شِيْءٍ وَهُدًى وَرَحْمَةً وَبُشْرَى لِلْمُسْلِمِيْنَ. [النحل: 89]

“(dan ingatlah) akan hari (ketika) kami bangkitkan pada tiap-tiap umat seorang saksi atas mereka dari mereka sendiri dan kami datangkan kamu (Muhammad) menjadi saksi atas seluruh umat manusia. dan kami turunkan kepadamu Al Kitab (Al-Quran) untuk menjelaskan segala sesuatu dan petunjuk serta rahmat dan kabassr gembira bagi orang-orang yang berserah diri” (QS. Al Nah: 89)

إِنَّ هَذَا الْقُرْآنَ يَهْدِيْ لِلَّتِيْ هِيَ أَقْوَمُ وَيُبَشِّرُ الْمُؤْمِنِيْنَ الذِيْنَ يَعْمَلُوْنَ الصَّالِحَاتِ أَنَّ لَهُمْ 

أَجْرًا كَبِيْرًا [سورة الإسراء: 9].

“Sesungguhnya Al-Qur’an Ini memberikan petunjuk kepada (jalan) yang lebih lurus dan memberi khabar gembira kepada orang-orang Mu’min yang mengerjakan amal saleh bahwa bagi mereka ada pahala yang besar”(QS. Al Isra’: 9)

يَاأَيُّهَا النَّاسُ قَدْ جَاءَتْكُمْ مَوْعِظَةٌ مِنْ رَبِّكُمْ وَشِفَاءٌ لِمَا فِي الصُّدُوْرِ وَهُدًى وَرَحْمَةٌ لِلْمُؤْمِنِيْنَ

“Hai manusia, Sesungguhnya Telah datang kepadamu pelajaran dari Tuhanmu dan penyembuh bagi penyakit-penyakit (yang berada) dalam dada dan petunjuk serta rahmat bagi orang-orang yang beriman”(QS. Yunus: 57)

Bagaimana mungkin sebuah “kitab” bisa menyembuhkan apa yang ada dalam dada manusia, padahal ia bahkan tidak bisa memenuhi sepersepuluh kebutuhan manusia? Demikian kira-kira menurut pandangan mereka yang batil. Sungguh, ini sangat aneh. Sebelum diciptakan undang-undang (positif) ini dan dikeluarkannya berbagai pendapat ini, berikut berbagai analogi rasional, dan pandangan kaum intelektual andal ini, apakah para sahabat Nabi Saw dan generasi sesudah mereka mengikuti petunjuk-petunjuk tekstual Al-Quran dan sunnah Nabi, ataukah mereka mengikuti berbagai peraturan dan undang-undang selain itu sampai kemudian datang kelompok intelektual mutakhir yang lebih cerdas ketimbang mereka dan lebih benar? Tentu saja, pikiran seperti ini tidak pernah diduga oleh seorang dengan kecerdasan sederhana sekalipun dan masih memiliki rasa malu. Kita berlindung kepada Allah Swt  dari kehinaan seperti itu. Akan tetapi, jika ada orang yang dianugerahi pemahaman yang baik untuk mengambil ilmu dari Alquran dan sunnah Nabi, pastilah ia tidak akan memerlukan lagi kitab undang-undang selain keduanya. Inilah karunia Allah Swt yang dianugerahkan kepada siapa saja yang dikehendaki-Nya. Dan Allah Swt mempunyai anugerah yang besar.  
**Kajian Islam KH. M. Najih Maimoen

Atas ↑

%d blogger menyukai ini: