NARASUMBER DI ACARA KULIAH JUMAT DEMU, SYAIKH MUHAMMAD NAJIH: PALING PENTING MENJAGA IKHLAS DAN SOPAN SANTUN KEPADA ALLAH

Pada hari Jumat kemarin tepatnya tanggal 9 Jumadal Ula 1439 H atau 26 Januari 2018 M, Dewan Murid (DEMU) Madrasah Ghazaliyyah Syafi’iyyah menggelar Kuliah Jum’ah (Kuljum) kedua untuk periode khidmah 2017-2018 dengan mengangkat tema “Nilai-nilai Aswaja dalam Kehidupan Pluralitas Kebangsaan”. Dalam acara ini, Syaikh Muhammad Najih untuk kedua kalinya dimohon oleh DEMU untuk menjadi narasumber sekaligus pemakalah. Beliau memberi penjelasan secara tuntas tentang tulisan yang beliau buat sebagai panduan untuk pemaparan yang beliau sampaikan. Berikut kutipan muqaddimah beliau pada acara tersebut:
“Sebetulnya makalah ini sudah menjadi buku. Dulu saya mewakili Ustadz Ihya Ulumuddin sebagai perwakilan alumni Sayyid Muhammad Alawi al-Maliki untuk ceramah di pondok pesantren Situbondo. Disana saya menghadapi para mahasiswa dan orang-orang yang fanatik dengan Pancasila. Disini kita orang-orang santri yang belajarnya murni ilmu agama, Fathul Qarib, Fathul Mu’in, Hasyiyah al-Mahalli. Itu saja tidak khatam, bisanya khatam karena dipaksakan.
Jadi diantara pelajaran di MGS dan pondok Sarang bahwa keadaan di luar atau negara kita banyak yang berbeda. Terus jadi satu pertanyaan, kalau tidak sama atau berbeda kenapa pelajaran di pesantren Sarang tidak disesuaikan dengan apa yang ada di negeri kita? Disini saya jawab sebetulnya hukum Islam atau Fiqh diamalkan secara kaffah pada zaman keemasan Islam yakni zaman Rasulullah ShallaLlahu ‘alaihi wa Sallama, Shahabat, Tabi’in, dan mungkin Tabi’it Tabi’in. Banyak hal-hal baru yang tidak ada dalam kitab atau Fiqh, atau dalam Al-Quran Hadits. Disitulah kita membutuhkan fatwa, jawaban, dan solusi.
Jadi masalah perbedaan antara ilmu dan amaliah itu sudah lama. Kalau ilmu milik ulama, apalagi ilmu dari Al-Quran Hadits pasti benar. Ilmu dari para ulama Ushuluddin banyak benarnya. Tapi sekarang keadaan di masyarakat, tinggal kita punya pemerintahan yang melindungi ilmu agama atau tidak. Kalau kita punya negara, daulah yang melindungi bahkan mengusung dan membela nilai-nilai atau hukum-hukum Islam, InsyaAllah dan pasti umat ini tertata.
Tapi kita ada problem lagi. Negara Islam aslinya kan khilafah atau kerajaan tapi yang besar sekali. Taruh contohnya Bani Umayyah yang berpusat di Damaskus menguasai mulai dari Maroko sampai mungkin ke Cina dan Indonesia tepatnya di daerah Aceh.
Kemarin kita membaca karangan guru saya Sayyid Muhammad Alawi yaitu al-Dzakhair al-Muhammadiyah, diterangkan bahwa kondisi Masjid Nabawi tidak dirubah oleh khalifah Abu Bakar, kemudian oleh khalifah Umar diperluas dengan memasukkan rumah Sayyidina Abbas ke dalam masjid namun bahan temboknya tetap. Mungkin dikasih lepohan (baca: kulitan) dengan thin (plester). Asalnya hanya batu-batuan dan batu bata tanpa ada plesternya. Lalu di zaman khalifah Utsman bahaan temboknya diambil dari bebatuan Damaskus yang kokoh itu dan masjid yang asalnya beratap papah kurma lalu diganti dengan kayu jati.
Mari kita fikir, negeri mana ada banyak kayu jatinya? Indonesia, walaupun Islam belum sampai ke Jawa. Paling ke Malaysia, Langkat, Malaka, Johor, lalu Sumatra, Aceh, Medan, bahkan mungkin Padang. Tapi kan jati kebanyakan dari Jawa. Orang Arab mengimpor dari Sumatra, dan orang Sumatra mengimpor dari Jawa. Berarti orang Islam masuk ke Indonesia pada zaman Sayyidina Utsman. Belum lagi zaman Abbasiyah yang kekuasaannya melebar kemana-mana. Mungkin kerajaan Aceh sudah ada pada zaman Abbasiyah, atau bahkan Umayyah.
Sekarang negara dengan pemerintahan sah dan daerah yang luas sekali, mesti ada yang tidak terjamah dan tertangani. Kekuasaan Islam ini tidak dimiliki oleh raja-raja manapun sebelum Islam. Pernah Dzulqarnain menaklukkan negeri-negeri tapi bukan berarti menguasai. Kerajaan membayar upeti kepadanya saja, tapi bukan berarti pemerintahan Dzulqarnain berjalan disana. Penaklukannya sampai ke Papua bahkan Maroko. Di Timur Tengah sampai ke tempat munculnya Ya’juj Ma’juj.
Tadi si Qari’ membaca surah al-Kahfi menggunakan qiraah imam-imam Masjidil Haram, MasyaAllah. Sayang lagunya ikut Abdurrahman sudais, padahal dia imam yang tidak begitu disenangi guru saya. Masak tidak tahu ceritanya? Guru saya pada tanggal 15 Ramadhan tahun sekian berkata tidak senang dengan Abdurrahman Sudais, padahal dia yang menjadi imam shalat Tarawih. Ketika jenazah Abuya dibawa ke Masjidil Haram, para santri takut kalau imamnya adalah Abdurrahman Sudais karena suaranya enak namun kejam dengan maulid. Dia paling anti maulidan. Dia senang merendahkan pelaku muludan, dianggap hanya cari makanan saja. Tapi itu kan oknum atau orangnya, sedangkan maulidan kan baik. Nanti ketika ada muludan bilang saja agar makan jangan banyak-banyak, kalau kenyang selesai makannya, dan nanti ada yang diambil untuk fakir miskin. Kalau begini kan bisa. Sama dengan kita yang ngajinya Fath al-Qarib, Fath al-Mu’in, ‘Uqud al-Juman, al-Jauhar al-Maknun, tapi wataknya klomprat-klomprot, malasan, dan seterusnya, apalagi mbangkong. Itu kan oknum. Ngajinya itu bagus, hanya saja mentalnya yang harus dibina.
Saudara-saudara, adik-adik, dan anak-anakku yang saya hormati dan sayangi. Saya ulangi lagi bahwa hukum-hukum Islam adalah hablun bainana wa bainaLlah. Allah Ta’ala berfirman:
فَقَدِ اسْتَمْسَكَ بِالْعُرْوَةِ الْوُثْقَى [البقرة : 256]
“Maka sesungguhnya ia telah berpegang kepada ikatan yang amat kuat.” (QS. Al-Baqarah: 256)
Sebetulnya yang perlu diutamakan adalah akidah. Sebelum mengaji Fiqh mestinya akidah dulu yang kuat agar tidak mudah takut. Kalau sudah begini dhawuhe Allah, dhawuhe Rasul, maka harus diamalkan dan dibela walaupun ada yang menteror, mengancam, membunuh, dan seterusnya. Setelah kita tidak takut kepada makhluk baru diberi ilmu-ilmu Fiqh. Ilmu shalat, zakat, bersuci, cara muamalah yang halal, syarat-syaratnya, dan seterusnya.
Saudara-saudara. Sebetulnya makalah ini sudah pernah saya sampaikan dan sudah menjadi buku kecil, diistilahkan buku “Merah-Putih” karena sampulnya merah-putih. Poinnya adalah masalah Pancasila karena istilah “asas tunggal Pancasila” yang katanya diproklamasikan oleh NU di Situbondo. Saya hanya mengatakan, bahwa intinya kami menerima Pancasila asalkan tidak bertentangan dengan Syari’ah dengan sepenuh hati. Kalau bertentangan dengan Syari’ah aslinya kami tidak menerima, tapi bagaimana itu sudah menjadi kesepakatan negara ya diterima tapi tidak dari hati. Zhahiran la bathinan. Di makalah ini sebagian saya petik dari buku itu dengan beberapa tambahan.”

Penjelasan tentang Isi Makalah
Setelah memberi prolog diatas, Syaikhina Muhammad Najih lalu membaca makalah yang telah beliau buat. Berikut kami sebutkan beberapa kutipan teks dalam makalah tersebut beserta penjelasan Abah Najih tentangnya.
Pendidikan Ulama dan Kyai adalah Pendidikan Pesantren
[Indonesia merupakan negara yang memiliki pluralitas dan kemajemukan masyarakat yang tinggi. Dalam kondisi demikian, Islam ala Ahlussunnah wal Jamaah telah terbukti mampu berkembang begitu pesat di seluruh penjuru negeri hingga menjadikan mayoritas masyarakatnya memeluk agama Islam. Selain itu, ajaran Aswaja yang diajarkan oleh ulama dan kyai telah mendarah daging di masyarakat sehingga sikap sopan santun, ramah, dan tawadlu menjadi ciri khas bangsa Indonesia di mata dunia, sekaligus memiliki sikap militan dan teguh dengan agamanya, sehingga selama tiga setengah abad hingga sekarang bangsa Indonesia tidak mudah dimurtadkan oleh penjajahan yang datang silih berganti.]
Penjelasan Syaikh Muhammad Najih: “Muqaddimah ini yang perlu dicatat adalah kata-kata “yang dididik oleh ulama dan kyai. Mana ini? Ya pesantren. Bahkan menurut saya adalah pesantren salaf atau minimal setengah salaf. Kalau pelajaran umum semua kan bukan ajaran kyai. Penulis materi pelajaran di MTs dan MA adalah orang-orang Muhammadiyah, apalagi di SMP yang tidak ada kutubussalaf. Materi ajaran Islam kebanyakan buatan muhammadiyah. Makanya ada kasus di SD atau MI membaca al-Fatihah saja tidak memakai Basmalah. Ini karena pengaruh Muhammadiyah, bahkan sebagian Wahabi.
Jadi maksud saya, dari kata-kata ini yang benar-benar mendapat pelajaran dari ulama dan kyai adalah pesantren salaf. Kalau tidak pesantren atau hanya namanya saja yang pesantren berarti bukan ajaran kyai, hanya mungkin punya budaya santri seperti tahlilan, qunut, dsb. Kalau tahlilan dan qunut kan urusan masyarakat, namun karena tidak ada pembelajaran kitab seperti Aqidah al-‘Awam dan Kharidah al-Bahiyyah, maka akidahnya sesuai yang diajarkan di sekolah-sekolah itu. Tidak ada Khaliq. Di sekolah-sekolah umum kan tidak disebutkan bahwa pencipta langit bumi adalah Allah. Ada? Gak ada. Berarti akhirnya liberal, kosong dari agama, ateis, komunis, dan sebagainya. Maka waspadalah. Kalau masih ada ajaran pencipta langit bumi adalah Allah InsyaAllah selamat jika diingatkan terus. Walaupun ada tahlilan dan dzibaan tapi hal itu urusan bermasyarakat, belum menjadi akidah. WaLlahu A’lam.”
Rahmatan lil ‘Alamin adalah Umat Islam
[Islam merupakan agama Allah SWT yang diturunkan untuk seluruh manusia. Di dalamnya terdapat pedoman dan aturan demi meraih kebahagiaan dan keselamatan di dunia dan akhirat. Ada tiga hal yang menjadi sendi utama dalam agama Islam itu, yaitu Iman, Islam dan Ihsan.]
Penjelasan Syaikh Muhammad Najih: “Kata-kata “yang diturunkan untuk seluruh umat manusia” adalah maksud dari Firman Allah Ta’ala:
وَمَا أَرْسَلْنَاكَ إِلَّا رَحْمَةً لِلْعَالَمِينَ [الأنبياء : 107]
“Dan tiadalah Kami mengutus kamu melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam.” (QS. Al-Anbiya: 107)
Tapi yang menerima ajaran Islam siapa? Umat islam. Berarti merekalah yang mendapatkan rahmat Allah di dunia dan di akhirat. Orang kafir tidak mendapat rahmat Allah di akhirat. Di dunia mungkin mereka mendapatkan rahmat dan jelas mendapat rizki. Setelah Rasulullah ShallaLlahu ‘alaihi wa Sallama tidak ada siksaan besar-besaran yang menimpa seluruh manusia.”
Ahlussunnah Awalnya adalah Ahli Hadits
[Kedua, kata al-sunnah, yang memiliki dua arti kemungkinan; Segala sesuatu yang telah diajarkan oleh Kanjeng Nabi Muhammad SAW, baik melalui perbuatan, ucapan dan pengakuan Kanjeng Nabi Muhammad SAW; Al-thariqah (jalan dan jejak), maksudnya Ahlussunnah wal Jama’ah itu mengikuti jalan dan jejak para sahabat Kanjeng Nabi Muhammad SAW dan tabi’in dalam memahami teks-teks keagamaan dan mengamalkan ajaran agama.]
Penjelasan Syaikh Muhammad Najih: “Yang dimaksud pengakuan disini adalah Kanjeng Nabi diam. Taqrir itu maksudnya bukan pengakuan, tapi diam yakni ada shahabat mengerjakan atau mengucapkan sesuatu lalu Kanjeng Nabi diam. Kalau mengakui kan seperti berkata, “Ini benar.” Ini namanya Sunnah Qauliyah dan bukan ini maksud dari Sunnah Taqririyah. Saya suruh anak-anak untuk menukil keterangan tapi dia kurang paham. Yang dimaksud taqrir adalah sikap diamnya Rasulullah ShallaLlahu ‘alaihi wa Sallama terhadap apa yang diucapkan atau dilakukan oleh shahabatnya.
Jadi sunnah itu ada kalanya hadits dan ada kalanya makna hadits. Maka sebenarnya yang pas menjadi Ahlussunnah adalah ahli hadits, namun orang Islam begitu banyak. Masa’ ahli hadits semua? Kan tidak. Selain itu ilmu sudah berkembang banyak. Masa’ yang Ahlussunnah hanya yang ahli hadits saja?
Artinya makna Ahlussunnah rodok nglokor sithik (sedikit membelok). Asalnya Ahlussunnah adalah ahlu hadits, tapi kemudian mereka disusupi orang-orang ekstrim, para musyabbihah dan mujassimah. Kaum-kaum ortodoks itu. Padahal umat Islam wawasannya luas dan sudah belajar Manthiq, Balaghah, dan Majaz, masa’ semua teks dipaksakan harus Haqiqat, tidak boleh menakwil, apalagi disuruh tasybih-tajsim? Tidak mungkin. Makanya Ahlussunnah maknanya adalah Ahlu Thariqah yang dipahami secara luas mulai thariqah Rasulullah ShallaLlahu ‘alaihi wa Sallama dan shahabat, serta umat Islam secara umum dalam bernegara, bermasyarakat, dan beragama.”
Al-Jama’ah artinya Menjaga Mayoritas
[Kata al-Jamaah menjadi identitas bagi Ahlussunnah wal Jamaah sebagai golongan yang selalu memelihara sikap kebersamaan (Persatuan dalam satu negara atau komunitas Islam Sunni, sejak Awal hingga sekarang, Sunni selalu menjadi aliran mayoritas, maka tidak berlebihan jika dikatakan mempertahankan Sunni berarti mempertahankan Islam. Oleh karena itu, jangan ada usaha-usaha mempertahankan apalagi memperjuangkan sekte-sekte minoritas seperti sekte Syi’ah, Mu’tazilah, Wahhabi dst… karena disamping paham-pahamnya yang sesat juga hanya akan menambah perpecahan dan memperkeruh keadaan).]
Penjelasan Syaikh Muhammad Najih: “Al-jama’ah adalah kebalikan dari al-furqah atau al-firaq, kelompok-kelompok. Al-jamaah artinya adalah kita menjaga mayoritas. Sering di era modern liberal sekarang ini kita sebagai mayoritas, status quo, atau mainstream sekarang digugat. “Mainstream sekarang digugat,” kata liberal sekarang begitu. Kalau kita tidak. Rasulullah ShallaLlahu ‘alaihi wa Sallama:
يد الله على الجماعة من شذ شذ فى النار (رواه والنسائي والحاكم)
“Tangan Allah di atas Jama’ah. Barangsiapa mengucilkan diri maka dia mengucil di neraka.” (HR. Hakim dan Nasai)
إن الله لا يجمع أمتي على ضلالة (رواه الشيخان)
“Sungguh Allah tidak mengumpulkan umatku pada kesesatan.” (HR. Bukhari-Muslim)
Kalau sudah mayoritas maka tidak akan tersesat. Yang tersesat adalah yang aneh-aneh itu.
Mayoritas umat Islam sekarang terpisah. Sekarang yang masih mayoritas inilah yang kita cari, yang tersisa dari zaman Shahabat dan Tabi’in sebelum terjadi perpecahan dalam agama dalam akidah. Asalnya umat Islam terpecah dalam urusan politik dan kekuasaan, kemudian merambat menjadi perpecahan urusan agama.
Kesimpulannya, Ahlussunnah wal Jamaah itu dalam urusan Fiqh ikut Madzahib Arba’ah, dalam urusan akidah ikut Asy’ari dan Maturidi. Dalam kitab al-Madkhal saya tambahkan al-Atsariyyah, orang-orang yang mengikuti atsar-atsar dan makna zahir nash-nash tanpa tasybih dan tajsim. Memang ada ulama yang menambahi begitu itu tapi sedikit, dan kebanyakan langsung menyebutkan Asy’ariah dan Maturidiah. Hal ini karena dalam Asy’ariah sendiri yang saya tahu sudah ada dhawuh:
وكل نصّ أوهم التشبيها # أوّلْه أو فوّضْ ورُمْ تنزيها
Setiap nash yang mencurigakan adanya tasybih # takwillah atau tafwidh dan tetapkan pensucian kepada Allah
Takwil adalah madzhab khalaf, bahkan kalau kita telurusi kitab al-Salafiyah Marhalah Zamaniyyah Mubarakah karangan Syaikh Ramdlan al-Buthi kita temukan bahwa Imam Ibn Abbas sering menakwil juga. Hal ini karena bahasa Arab itu luas, ada namanya haqiqat dan majaz. Sedangkan tafwidl adalah madzhab salaf. keduanya sudah dirangkum dalam madzhab Asy’ari. Tafwidl artinya diam seperti taqrir tadi, tidak pro sana dan tidak pro sini. Akan tetapi tetap tanzih, harus meyakini bersihnya Allah dari hal-hal yang kurang.”
Menjaga Keseimbangan Nash dan Akal
[Dalam hal aqidah, Ahlussunnah wal Jamaah mempertimbangkan dan menetapkan beberapa hal di bawah ini. Keseimbangan dalam telaah dan penggunaan dalil akal (tajsim dan tasybih) dan dalil syara (mutsbit maa tanzih) agar tidak mengalahkan salah satunya.]
Penjelasan Syaikh Muhammad Najih: “Keseimbangan disini artinya tidak tasybih dan tidak tajsim, istbat ma’a tanzih agar satu tidak mengalahkan satunya lagi. Jadi dalil akal bahwa Allah Ta’ala bersih dari tasybih dan tajsim, Allah tidak mungkin musyabahah. Allah mukhalafah lil hawadits. Sedangkan dalil Syara’ bahwa:
الرَّحْمَنُ عَلَى الْعَرْشِ اسْتَوَى [طه : 5]
“Allah Sang Maha Memberi Rahmat Istawa di atas ‘Arsy.” (QS. Thaha: 5)
Kita padukan dan mensinergikan dalil Syara’ dan akal agar tidak ada yang dikalahkan.”
Berpegang Al-Quran Hadits dengan Cara yang Benar
[Berpegang pada al-Quran dan al-Hadits dengan cara-cara yang benar menurut ahlinya, yakni ulama salaf yang dapat dipertanggungjawabkan kebenarannya.]
Penjelasan Syaikh Muhammad Najih: “Pernyataan ini bahasa Syaikh al-Buthi adalah sesuai dengan sanad-sanad yang shahih dan keilmuan sanad dalam urusan jarh wa ta’dil, dan tidak menggunakan Qiraah Syadzdzah dalam urusan Al-Quran, dan pemahamannya menggunakan ilmu Ushul Fiqh. Akal bisa digunakan jika tidak ada dalil nash seperti Istihsan dan Mashlahah Mursalah bagi selain Syafi’iyah. Kalau dalam Syafi’iyah biasanya menggunakan Qiyas (analogi).”
Maslahah Syar’iyyah Mu’tabarah
[Selalu mempertimbangkan aspek kemaslahatan dalam mengamalkan syariat di tengah-tengah lapisan masyarakat yang plural.]
Penjelasan Syaikh Muhammad Najih: “Maslahah adalah Maslahat Syar’iyah Mu’tabarah, tidak bertentangan dengan Al-Quran Hadits. Sesuatu yang tidak bertentangan kita yakini sebagai maslahah. Sampeyan makan halal itu maslahah meski hanya tempe sama tewel. Makan enak tapi ada campuran enzim babi itu tidak maslahat tapi madharat. Kita begitu. Kita meyakini bahwa apa yang dilarang Allah Ta’ala membawa madharat, apa yang diperintah Allah membawa maslahat fiddin wa dunya.”
Tasawuf tidak Mengharamkan Daging
[Mendorong dan mengajarkan faham Ahlussunnah dalam bidang tashawwuf dengan menggunakan cara-cara ma’rifat Allah SWT, dzikir, riyadloh dan mujahadah yang tidak bertentangan dengan syariat Islam.]
Penjelasan Syaikh Muhammad Najih: Tasawuf tidak mengharamkan daging. Orang tasawuf ada yang mengharamkan daging. Yang penting jangan banyak apalagi kalau kita tidak punya uang. Nanti kalau daging terus ntar nyolong. Kalau ada tahlilan makannya daging alhamduliLlah, atau pas diajak temannya yang kaya, “Ayo nyate.” AlhamduliLlah bejo. Tapi jangan mengharap, “Kapan rono meneh?” Wah, repot iki. Suwe-suwe jaluk pitukon.”
Menjaga Ikhlas dan Sopan Santun kepada Allah
[Bersikap sopan santun, rendah diri dan menjaga hati dengan kekhusyuan dan keikhlasan dengan siapapun dan dimanapun berada.]
Penjelasan Syaikh Muhammad Najih: “Paling penting menjaga ikhlas dan sopan santun kepada Allah. Kita menjaga sopan santun kepada orang Islam karena Allah menyuruh itu, karena mereka punya keistimewaan di sisi Allah yaitu Islam. Orang Islam saya hormati. Ini namanya tawadlu’. Rasulullah ShallaLlahu ‘alaihi wa Sallama bersabda:
من تواضع لله رفع (رواه البيهقي)
“Barangsiapa merendah hati kepada Allah maka akan ditinggikan derajatnya.” (HR. Baihaqi)
Tapi kalau orang sombong tidak mau Syari’ah Islam, benci kepada Syari’ah Islam, pengen miras dilegalkan, pengikut Ahok-Nusron Wahid, LGBT disayangi, dirangkul-rangkul, dikecup-kecup. Na’udzubiLlah.”
Undang-undang yang Cocok Syari’ah Sahkan Saja
[Tidak terlalu berlebihan dalam menilai sesuatu, tenang, dan bijak dalam mengambil sikap serta mempertimbangkan kemaslahatan.]
Penjelasan Syaikh Muhammad Najih: “Kita melaksanakan nahi munkar dengan cara halus. Yang dimaksud kemaslahatan disini adalah sesuai kemaslahatan syar’iyah ini, bukan kemaslahatan wathaniyah basyariyah yang bertentangan dengan Syari’ah Islam. Hukum Islam dikorbankan, apalgi akidah Islam dikorbankan, dilecehkan, dan diacak-acak.
Masalahnya, karena kebanyakan penghuni negara ini umat Islam. Kalau ada undang-undang yaag cocok dengan Syari’ah Islam maka sahkan saja. Kalau tidak cocok ya mestinya tidak sah, tapi itulah realita. Kita terima dengan terpaksa, bukan dari hati. Tetap kita harus inkar.”
Soekarno, Mbah Baidhawi, dan Waliyul Amri al-Dlaruri bi Syaukah
[Mentaati dan mematuhi pemerintah atas semua peraturan dan kebijakan yang berlaku selama tidak bertentangan dengan ajaran Islam.]
Penjelasan Syaikh Muhammad Najih: “Mentaati dan mematuhi pemerintah ketika pemerintahnya beragama Islam. Kalau penguasanya tidak Muslim atau fasiq sebelum diangkat itu tidak sah. Umpama disahkan maka sifatnya darurat, sudah maklum. Bukan ikhtiyaran min qulubina. Sah menurut dunia adalah sesuai hukum internasional. Kalau menurut Islam sah itu yang penguasanya Muslim dan tidak fasiq sebelum diangkat menjadi penguasa. Kalau itu tidak terjadi maka kesahannya bersifat darurat, bukan dari agama kita.
Makanya dulu NU pernah membahas Kartosuwiryo yang mau mendirikan Negara Islam. DI/TII ngelek-ngelek kyai NU, “Ngajine Fathul Wahab Fathul Muin bolone abangan (Soekarno).” Lalu kyai-kyai berkumpul di Denanyar di rumah KH. Bisyri Syansuri untuk ikut geger, deadlock, bahasa santrinya mauqufah. Pemerintahan Soekarno sah atau tidak sah. Lalu saya diceritai kyai Hamid Baidhawi, beliau diceritai kiyai dari Langitan sebagai saksi kejadian, bahwa mbah saya kyai Baidhawi diluar sedang duduk-duduk di teras sembari mengelus-elus tongkatnya ditanya tentang hal tersebut. “Poro kiyai sami leren, pengen njenengan rawuh mutusi. (Para kyai sudah berhenti, ingin Anda yang memutuskan.)” Maka Mbah Baidhawi menjawab, “Nek aku Soekarno disahno ae tapi darurat. Nek coro kitabe Waliyul Amri Al-Dharuri Bi Syaukah. Wes kadung dekne menang. (Menurutku Soekarno disahkan saja tapi darurat. Kalo menurut kitab Waliyul Amri Al-Dharuri Bi Syaukah. Dia sudah terlanjur menang.)”
Sebetulnya yang pantas jadi presiden itu Soedirman yang berjasa dalam perang gerilya. Kalau Soekarno kan hanya tanda tangan aja dan berkata, “Itu bisa diamankan.” Ketika tumbang PKI yang pantas jadi presiden adalah Jenderal AH. Nasution. Tapi oleh CIA yang dipilih Soeharto karena abangan dan istrinya Katolik, sedangkan Nasution akidah Islamnya kuat.
Begitu itulah nasib Indonesia, sial terus. Apalagi sekarang abangan campur ireng. Gayanya kalau ketemu kyai sarungan, di depan kyai manthuk-manthuk. Opo maneh gus-guse.
Indonesia ini kalau baik-baikan terus dan tidak ada kerasnya seperti saya itu tidak paham. Jangan selalu bilang, “Bapak presiden sangat baik.” Memuji-muji. Sekarang hutang sudah 4000 triliun, baik jarene. Harus dikritik sedikit-sedikit menurut saya. Kalau menurut orang lain saya ini tidak baik, tapi dia memang cari pangkat. Kalau saya tidak cari pangkat.”
Menerima Tradisi yang Sesuai Syari’ah
[Menerima tradisi yang baik dan tidak bertentangan dengan agama Islam siapa-pun yang membawa dan dari manapun datangnya.]
Penjelasan Syaikh Muhammad Najih: “Mungkin ini seperti Rasulullah ShallaLlahu ‘alaihi wa Sallama ketika ingin menyurati raja-raja, beliau diberitahu para shahabat bahwa mereka tidak menerima surat kecuali ada stempelnya. Akhirnya Rasulullah ShallaLlahu ‘alaihi wa Sallama meniru stempel.
Ada yang bilang shalat Jum’at dua rakaat itu idenya As’ad bin Zurarah, kepada Anshar. Zaman nabi di mekkah tidak ada shalat Jum’at, tapi As’ad punya ijtihad setiap agama samawi punya waktu khusus untuk ibadah, mengaji, dan ceramah. Kalau Kristen pada hari Sabtu-Minggu. Minggu itu sebenarnya tidak baik, maknanya tiga atau apa. Ahad itu satu. Allah menciptakan langit bumi mulai hari Ahad. Dulu kalender umat Islam semuanya Ahad, entah kenapa tahun 60an diganti Minggu. Di hari Ahad orang Kristen di gereja, mendengarkan ceramah, dan ada shalatnya juga tapi tidak tahu shalatnya apa itu. Nyanyi-nyanyi thok iku, laki-laki perempuan campur, nostalgia karo tuwek-tuwek.”
al-Muhafazhah ‘ala al-Qadim al-Shahih wa al-Akhdz bi al-Jadid al-Shalih
[Melestarikan tradisi umat Islam lama yang lebih baik dan mengambil tradisi baru yang sesuai dengan syara.]
Penjelasan Syaikh Muhammad Najih: “Ini kalo dalam bahasa NU al-Muhafazhah ‘ala al-Qadim al-Shalih wa al-Akhdz bi al-Jadid al-Ashlah. Tapi ini salah menurut saya bahasanya. Wong jadid kok ashlah? Berarti dia lebih bangga dengan yang jadid. Yang qadim hanya shalih saja. Al-qadim al-ashlah seperti bait Alfiyyah Ibn Malik:
وقد تزاد كان في حشو كما # كان أصح علم من تقدما
Dan lafazh “Kaana” dijadikan Zaidah dalam sisipan seperti # “Sungguh shahihnya ilmu orang terdahulu
Atau begini, al-Muhafazhah ‘ala al-Qadim al-Shahih wa al-Akhdz bi al-Jadid al-Shalih. Zaman shahabat itu bagus. Shahih itu lebih hebat daripada Shalih. Shalih itu tidak bertentangan dengan Syara’.
Brokohan yang sekarang dinamai sedekah laut sedekah bumi, itu mengkaburkan. Dulu namanya brokohan atau ruwatan. Kecil saya tidak ada namanya sedekah laut atau sedekah bumi. Dulu acaranya nanggap wayang di tempat-tempat angker. Itu namanya brokohan. Sekarang dinamai sedekah laut dan sedekah bumi biar kelihatan islami, sampai-sampai santri pengen jadi panitianya karena ada uang banyak disitu, mengucur dari masyarakat dan dari atasan. Apalagi jika pemerintahannya abangan.
Makna Hadits Rasulullah ShallaLlahu ‘alaihi wa Sallama
[Rasulullah SAW bersabda:
أَبْغَض النَّاسِ إلَى الله ثَلاَثَةٌ : مُلْحِدٌ فِي الحَرَمِ ، وَمُبْتَغٍ فِي الإسْلاَمِ سُنَّةَ الجَاهِلَيَّة ، وَمُطَّلِبُ دَمِ امْرِئٍ بِغَيْرِ حَق ، لِيُهْرِيقَ دَمَهُ. (أخرجه البخاري في صحيحه)
“Orang yang paling dimurkai Allah ada tiga: orang yang melecehkan Tanah Haram, orang yang menyusupkan budaya Jahiliyah dalam Islam, dan orang yang menuntut darah seseorang tanpa alasan benar untuk mengalirkan darahnya.” (HR. Bukhari)
ستة لعنتهم، لعنهم الله وكل نبي مجاب : الزائد في كتاب الله، والمكذب بقدر الله تعالى، والمتسلط بالجبروت فيعز بذلك من أذل الله ويذل من أعز الله، والمستحل لحرم الله، والمستحل من عترتي ما حرم الله، والتارك لسنتي- ( ت ك ) عن عائشة ( ك ) عن ابن عمر (الجامع الصغير من حديث البشير النذير) – (1 / 465)
“Enam orang yang aku laknat, Allah laknat, dan setiap nabi yang diijabah doanya juga melaknat: orang yang menambahi Kitab Allah, orang yang mendustakan takdir Allah, Orang yang berkuasa dengan tangan besi hingga memuliakan orang yang dihinakan Allah dan menghina orang yang dimuliakan Allah, orang yang melecehkan Tanah Haram Allah, orang yang menghalalkan dari keluargaku apa yang diharamkan Allah, dan orang yang meninggalkan sunnahku.” (HR. Suyuthi)]
Penjelasan Syaikh Muhammad Najih:
الزائد في كتاب الله
“Orang yang menambahi Kitab Allah.”
Ini sama dengan orang Syi’ah mengatakan Al-Quran ini kurang. Mereka menambahi ayat-ayat tentang khilafahnya Ali.
والمكذب بقدر الله تعالى
“Orang yang mendustakan takdir Allah.”
Sekolahan umum ini juga sama mendustakan takdir Allah. Ada fenomena begini karena lempeng bumi bergesekan, tsunami karena ada ini-ini, tidak disebutkan dari takdir allah. Sampeyan dulu begini ya? Maka sekarang taubatlah, di MGS masuk Islam baru. Di tivi-tivi biasanya ada tulisan,”Waspadalah agar bisa terhindar dari bencana.” Padahal Haditsnya:
لا ينفع الحذر من القدر
“Waspada tidak menyelamatkan dari takdir.” (HR. Hakim)
Hadits ini, bagian dari agama. Di Fathul Qarib dan Fathul Muin tidak ada ini. Waspada tidak bisa menyelamatkan dari takdir buruk. Kalau sudah ditakdirkan buruk ya terjadi, walaupun orang berkata “hadzar hadzar hadzar.”
والمتسلط بالجبروت فيعز بذلك من أذل الله ويذل من أعز الله
“Orang yang berkuasa dengan tangan besi hingga memuliakan orang yang dihinakan Allah dan menghina orang yang dimuliakan Allah.”
Orang-orang kafir dijadikan gubernur, dijadikan wakil presiden. Nanti presidennya dibunuh bisa jadi presiden. Orang mukmin dihinakan, santri tidak diberi sertifikasi. Wetonan MGS tidak bisa jadi apa-apa. Tidak bisa jadi moden.
والمستحل لحرم الله
“Orang yang melecehkan Tanah Haram Allah.”
Orang yang di Tanah Haram tidak dihormati dan rumahnya diusir. Sekarang ini terjadi.
والمستحل من عترتي ما حرم الله
“Orang yang menghalalkan dari keluargaku apa yang diharamkan Allah.”
Yakni membunuh, mensabotase, atau menyakiti Ahlul Bait. Membunuh Sayyidina Husain. Siapa yang membuat Sayyidina Husain terbunuh? Syi’ah, karena Syi’ah mengajak Sayyidina Husain untuk memberontak, disamping dalam Bani Umayyah juga ada oknum-oknum yang menghendaki terbunuhnya Sayyidina Husain.
Ngajilah yang Tenang, Tidak Banyak Guyon
[Dalam hal dakwah, Ahlussunnah menganjurkan berdakwah yang ditujukan kepada seluruh lapisan masyarakat dengan memperhatikan beberapa ketentuan sebagai berikut:
a. Dakwah dilakukan dengan nilai yang ikhlas, tulus memberikan bimbingan, pencerahan dan pengarahan demi tercapainya tujuan utama, yaitu mendapatkan kebahagiaan di dunia dan kemuliaan di akhirat.
b. Materi dakwah disesuaikan dengan kondisi dan kemampuan berfikir masyarakatnya.
c. Berdakwah bukan bertujuan untuk menyalahkan, menghukumi ataupun mengkafirkan orang lain, akan tetapi untuk memupuk rasa persaudaraan dan mengajak masyarakat menuju jalan yang diridlai Allah SWT.]
Penjelasan Syaikh Muhammad Najih: “Ini kurang. Juga harus tidak banyak guyonannya. Apalagi yg porno-porno, yang meniru kata-kata, “Kama qala Rhoma Irama.” Terlalu banyak guyon akhirnya tidak ada nilai dakwahnya, tapi hiburan. Katanya orang Indonesia, orang jawa khususnya kalau tidak ada guyonannya bikin ngantuk. Lha ini menunjukkan bangsa kita tidak biasa ngaji. Di MGS saja kalau gurunya guyon lalu tertawa, “Wahahahaha.” Tidak biasa ngaji, ngaji baru semangat kalau ada guyonannya. Ini kelemahan kita, harus dibiasakan mengaji dengan tenang. Rasulullah ShallaLlahu ‘alaihi wa Sallama bersabda:
تعلموا العلم وتعلموا للعلم السكينة والوقار
“Pelajarilah ilmu dan pelajarilah ilmu dengan tenang dan santun.” (HR. Thabarani)
Tenang dan santun, bukan guyon-guyon saja.”

Sesi Tanya Jawab
Setelah dijelaskan secara tuntas tentang materi makalah yang dibacakan oleh Abah Najih, selanjutnya moderator membuka kesempatan para santri untuk bertanya seputar makalah yang ditulis oleh Syaikhina Muhammad Najih. Dalam sesi tanya jawab ini terdapat tiga pertanyaan yang telah masuk. Pertama, pada saat Rasulullah memimpin di Madinah apakah mengatasnamakannya sebagai Negara Islam atau negara yang lain, memandang pada saat itu bukan orang Islam saja yang menetap di Madinah.
Kedua, bagaimana memaknai hadits:
يد الله على الجماعة من شذ شذ فى النار (رواه والنسائي والحاكم)
“Tangan Allah di atas Jama’ah. Barangsiapa mengucilkan diri maka dia mengucil di neraka.” (HR. Hakim dan Nasai)
Jika dibandingkan dengan sabda Rasulullah ShallaLlahu ‘alaihi wa Sallama:
إن الدين بدأ غريبا وسيرجع غريبا فطوبى للغرباء (رواه الترمذي والطبراني)
“Agama Islam mulai dari keasingan dan akan kembali pada keasingan. Maka beruntunglah bagi orang-orang asing.” (HR. al-Tirmidzi, al-Thabarani)
Ketiga, peran akal di dalam tauhid tentang metode kelaziman yang dipakai ahli kalam, nanti kita memposisikan akal kita gimana? Padahal dalam satu tempat metode kelaziman dipakai, namun dalam sifat mukhalafah lil hawadits tidak dipakai.
Keempat, cerita seorang santri bahwa dia punya beberapa teman yang aktif di beberapa lembaga, salah satunya PUM (Paguyuban Umat Beragama). Akidahnya banyak sekali, sering dialog antar agama, dan ketika bulan Ramadhan kemarin mengadakan buka bersama di gereja bersama orang Kristen. Ketika saya menyinggung pluralisme agama mereka mengelak, mereka berkata tindakannya atas nama toleransi dan guna untuk menciptakan kerukunan. Sebenarnya makna pluralisme agama hanya terbatas pada itikad atau tindakan zahir juga.
Madinah Darul Iman, Otomatis Darul Islam
Untuk menjawab pertanyaan pertama tentang status Madinah sebagai negara, Syaikh Muhammad Najih menjawab sebagai berikut.
“Maafnya, Anda membaca isi makalah yang belum saya baca. Rasulullah ShallaLlahu ‘alaihi wa Sallama ketika di Madinah hanya ada orang Yahudi dan penyembah berhala yang sangat sedikit jumlahnya dan bahkan mungkin akhirnya tidak ada. Hal ini karena sabda beliau:
فتحت المدائن بالسيف وفتحت المدينة بالقرآن (رواه أبو يعلى)
“Kota-kota ditaklukkan oleh pedang, namun Madinah ditaklukkan oleh Al-Quran.” (HR. Abu Ya’la)
Kita Madinah masuk islamnya dengan kesadaran, dengan Al-Quran. Orang-orang dibacakan Al-Quran langsung merasa senang dan langsung menghafalkannya. Hal ini karena dulu orang Madinah kadangkala mendengar orang Yahudi membaca kitab Taurat, dimana disitu disebutkan bahwa Nabi Muhammad ShallaLlahu ‘alaihi wa Sallama adalah nabi akhir zaman. Ketika klan Aus dan Khazraj berperang, yang satu dibela oleh Bani Quraizhah dan satunya oleh Bani Nadhir, disitu mereka berdoa agar segera ada nabi akhir zaman.
Jadi di Madinah hanya ada orang Islam dan Yahudi. Kalau tidak percaya silahkan baca kitab Fiqh al-Sirah karya Syaikh Ramdhan al-Buthi. Disana pernah ada Piagam Madinah, namun tidak ada kristennya maksud saya. Penyembah berhala pun hampir punah dan tidak disebut dalam Piagam Madinah. Mungkin sudah tidak ada, semua masuk Islam.
Memang di zaman nabi belum ada istilah Darul Islam, tapi kan sudah dijuluki lebih hebat lagi yaitu Darul Iman. Al-Quran menyebutnya:
وَالَّذِينَ تَبَوَّءُوا الدَّارَ وَالْإِيمَانَ [الحشر : 9]
“Orang-orang yang telah menempati kota Madinah dan menempati iman.” (QS. Al-Hasyr: 9)
Iman dengan Islam itu lebih khusus iman. Islam itu yang penting shalat, zakat, dsb, sedangkan iman itu senang ngaji, dan kalau senang ngaji mestinya senang shalat. Kalau kita ini senang ngaji tapi suka mbangkong. Ini sama dengan LGBT, orang aneh-aneh itu. Mestinya iman diatas Islam. Kamu sudah senang ngaji kok tidak shalat. Gelem shalat tapi mbangkongan senenge qadha’. Kalau satu kali atau dua kali itu maklum. Tapi kalo langganan ini gimana? Berarti kamu shalatnya bareng sama Darmo Gandhul. Untungnya kamu shalat arahnya ke Ka’bah, sedangkan Darmo Gandhul ke matahari.
Memang dulu tidak ada darul islam. Ini pertanyaan seperti orang liberal saja. Sama dengan omongan mereka tentang ayat:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَتَّخِذُوا الْيَهُودَ وَالنَّصَارَى أَوْلِيَاءَ [المائدة : 51]
“Hai orang-orang beriman, jangan kalian jadikan Yahudi Nasrani sebagai pemimpin.” (QS. Al-Maidah: 51)
Kaum liberal berkata “Auliya” itu bukan penguasa tapi teman baik, teman akrab, teman setia. Lho, memang aslinya begitu, akan tetapi dijadikan teman baik saja gak boleh apalagi dijadikan gubernur. Yo jelas tambah gak oleh, nho. Masa’ tidak paham Ushul Fiqh?
Madinah itu darul Iman, maka otomatis darul Islam. Anda baca pasal terakhir, kalau ada perselisihan diantara ahli Madinah maka kembalinya kepada Rasulullah ShallaLlahu ‘alaihi wa Sallama. Rasulullah itu pemimpin negara. Madinah tetap bernama Madinah, lalu dinamai Allah sebagai darul Iman, berarti otomatis darul Islam.”
Membela Asy’ari-Maturidi karena Mayoritas
Selanjutnya, menanggapi pertanyaan kedua tentang pemaknaan dua hadits yang kelihatannya kontradiktif, Syaikh Muhammad Najih menjawab:
“Yang kami maksud al-Jama’ah adalah zaman Shahabat dan Tabi’in, karena zaman awal ini hebat. Ini yang menjadi tolok ukur kita. Makanya kita membela Asy’ari-Maturidi karena dia mayoritas, dan ketika mayoritas berarti dekat dengan salafushalih. Mereka mewakili dan melanjutkan thariqah salafushalih.
Jika sekarang zaman sudah rusak, maka kita fa thuba lil ghuraba (beruntung menjadi orang asing) sebagai kaum santri. Tapi orang awam pun ketika ditanya, “Apa agamamu?” maka jawabannya mesti, “Islam.” Jika ditanya, “Aliran apa?” maka jawabannya pasti, “Aliranku ikut pak yai.” Maksudnya pak kyai kampung, atau kalau organisasi ya Mbah Hasyim Asyari dan Mbah Wahab Hasbullah, AlhamduliLlah. Mereka masih kyai.”
Kita Beriman karena Barakah Orang Terdahulu
Menjawab pertanyaan ketiga, Abah Najih menjelaskan:
“Kami menyebutkan dalil akal, maksud kami menghormati ulama-ulama kita. Sebetulnya pribadi saya isykal juga. Alasan mereka kita bisa mengenal allah dengan akal, ini kata ulama kalam yang menjadi ulama pesantren. Andaikan kita tidak memahami bahwa syariah berkata, “Berimanlah kepada Allah,” tentu kita tidak bisa menerima dalil itu kecuali sudah cocok dengan akal. Saya sendiri sebetulnya kurang gimana. Kita beriman ini kan berkah dari orang terdahulu sampai shahabat. Shahabat ini mendapat hidayah dari Allah, bukan sekedar akal. Kalau ulama kalam mungkin beriman karena akalnya. Kalau kita beriman dari orang tua kita hingga shahabat, shahabat beriman dari hidayah.
هُدًى لِلْمُتَّقِينَ [البقرة : 2]
“Hidayah bagi orang-orang bertakwa.” (QS. Al-Baqarah: 2)
Orang Arab itu ummiy, tidak ahli sekolah, namun justru mereka gampang menerima iman dan Islam. AlhamduliLlah. Kalau bangsa-bangsa lain sudah sekolah, bahkan di Yunani sudah ada ilmu akademik. Sedangkan di arab masyarakatnya buta huruf, namun justru mereka yang mudah mendapat hidayah.
Adapun kita menjaga ilmu-ilmu pesantren yang masih menetapkan ilmu kalam menjadi pelajaran ilmu tauhid hanya sebagai sikap mura’ah atau mujamalah (melestarikan) saja. Sebetulnya hati saya musykil, kenapa akal bersanding dengan Syara’. Kita menerima Syari’ah ini belum tentu dari akal. Bahkan bangsa Indonesia ini masuk Islamnya banyak yang karena senang menjadi sehat. Kalau berobat ke dokter kan mahal, tapi kalau berobat ke Walisongo kan gratis. Tidak usah membayar, yang penting mau masuk Islam. Sampeyan ke MGS mungkin juga begitu, kan? Di sini agak murah dibanding yang lain yang mahal-mahal, apalagi SMK malah tambah mahal lagi.
Saya AlhamduliLlah Masih Anti Liberalisme dan Pluralisme
Pertanyaan keempat tentang pluralisme di jawab singkat oleh Abah Najih:
“Saya tidak membahas pluralisme, tapi pluralitas. Kita punya kemajemukan, kita sudah lama begitu. Kadang-kadang kita terpengaruh dengan seperti brokohan, tapi ini sebetulnya tidak boleh. Tapi karena sudah terjadi maka diarahkan saja kepada tawasul ke para wali, ke Manaqib Syaikh Abdul Qadir al-Jilani saja matsalan. Arahkan ke hal yang Islami. Tawasul kepada Sayyid Ahmad Rifai, Sayyid Ahmad Badawi, atau Syaikh Ibrahim al-Dusuqi. Itu kalau di Timur Tengah. Kalau disini kepada Walisongo atau yang lain.
Jadi pluralitas yang kita bahas, bukan pluralisme. Kalau pluralisme AlhamduliLlah masih tetap dan semoga sampai akhir hayat tulisan-tulisan saya anti liberal dan pluralisme. Apakah pluralitas ada terus menjadi hujjah kebenaran? Kan tidak. Setan itu ada, masa’ setan awet sampe sekarang berarti hebat. Itu musuh Allah, harus kita musuhi.

Mauizhah Hasanah, Abah Najih: “Bangga Menjadi Ghuraba’ (Orang Asing)”
Setelah sesi tanya jawab selesai, acara dilanjutkan dengan mauizhah hasanah dari Abah Najih. Beliau lalu menyambung pembahasan sebelumnya tentang surah Al-Kahfi yang dibaca Qari’ sebelumnya.
“Di surah al-Kahfi diterangkan bahwa Ashhabul Kahfi itu:
إِنَّهُمْ فِتْيَةٌ آمَنُوا بِرَبِّهِمْ وَزِدْنَاهُمْ هُدًى [الكهف : 13]
“Sungguh mereka adalah para pemuda yang beriman kepada Tuhan mereka dan Kami tambahkan hidayah kepada mereka.” (QS. Al-Kahfi: 13)
Walhasil, mereka masih bertauhid. Agama mereka Kristen namun masih tauhid. Belum ada istilah trinitas atau tuhan tiga. Rajanya bernama Dakyanus dan kotanya bernama Afsus. Kalau tidak salah di Turki. Bahasa arabnya Tharsus. Dakyanus adalah penyembah berhala, ya pluralisme itu. Berhala kan bermacam-macam. Jadi sekarang mau dibangkitkan lagi. Liberalisasi dan pluralisasi berarti ingin kembali ke zaman kerajaan sebelum Islam. Mau menyembah saya seperti Fir’aun silahkan, mau menyembah air seperti orang Mesir karena hidupnya dari sungai Nil silahkan, mau menyembah api seperti orang Iran dan Persia silahkan, mau menyembah matahari seperti orang Jepang dan juga Iran silahkan, mau menyembah berhala silahkan, berhala kucing atau berhala singa silahkan, mau tauhid juga silahkan tapi jangan mengganggu yang lain. Disini sekarang kita dijebak disitu. Kita tidak boleh lantang atau keras dengan ketauhidan. Ini adalah pluralisme.
Ashabul Kahfi bertauhid, padahal negerinya pluralisme. Mereka berani berkata “Tuhan kami adalah Allah, bukan yang lain.” Orang-orang menunduk di hadapan raja, namun mereka tidak mau. Pemerintah yang asli di dunia juga begitu itu, namun bukan asli dari zaman Nabi Adam ‘alaihi al-salam. Kalau Nabi Adam bertauhid sudah maklum, akan tetapi kalau pemerintahan yang besar-besar rata-rata ikut pluralisme, liberalisme, dan kebebasan beragama.
Sekarang banyak orang berkata di Madinah ada Kristen, ada penyembah berhala, dan ada Hindu Budha. Itu bohong. Yang ada di Madinah adalah Islam dan Yahudi. Disini saya terangkan bahwa Islam menghormati atau iqrar. Iqrar itu artinya bukan bukan membenarkan, tapi memberi ruang hidup dan izin untuk hidup bersama umat Islam kepada Yahudi karena di dalam Yahudi, Nasrani, da Majusi ada ajaran-ajaran tauhid walaupun ditutup-tutupi oleh mereka.
Kuffar itu berasal dari kata kafara, kafara itu artinya satara. Jadi orang-orang kafir dulu menutup-nutupi tuhan yang semestinya seolah-olah berhala yang memberi hidup, memberi makan, bahkan mungkin memberi lahirnya dia. Padahal berhala lebih baru daripada yang menyembahnya. Kalau kita tidak. Pencipta adalah Allah yang wajib disembah. Adapun tawasul dengan shalihin itu boleh asal tidak menyembah dan ada batasannya. Tidak sampai rukuk, sujud, dst.
Saya diingatkan oleh penanya, fa thuba lil ghuraba’. Saya ikut terenyuh, bahwa kita memang harus merasa thuba li ghuraba’. Repotnya santri sekarang kalau ghuraba’ dimaknai asing, dan asing artinya tertindas. Apakah kita tertindas? Kan tidak. Kalaupun ada karena dia cari simpati aja, dan itu saja yang dicari adalah yang liberal. Dari kita kan jarang yang jadi menteri. Kalau sudah atau pengen jadi menteri biasanya disuruh untuk liberal. Asalnya tidak liberal, terus disuruh untuk liberal. Biasa ke gereja tadi.
Buka bersama di gereja, ya Allah… penghinaan bukan main itu kepada Islam. Seolah umat Islam tidak bisa makan, yang bisa memberi makan gereja. Na’udzubiLlah. Kita kan bisa makan walaupun tewel atau singkong. Kalau kamu makan bistik tapi penuh dengan babi, campuran kimia dan zat yang punya efek samping untuk kesehatan.
Marilah dalam kesempatan ini, saya ingatkan agar Anda semua syukur menjadi santri. Tidak punya pangkat besar tidak masalah, yang penting tidak ikut berdosa. Kita tetap berdoa agar negara ini dipegang orang Islam. Itu nasionalisme kita. Nasionalisme kita adalah mendoakan Islam tetap ada di Indonesia, tetap berjaya, dan tetap mayoritas walaupun sekarang menteri-menteri banyak yang kafir dan Kristen. Memang presidennya “H”-nya saja bukan “Haji” itu, “Hendrik” mbuh opo iko. Dia dibaptis di Surabaya pada tahun 90-an.
Saya ulangi lagi, kita berbangga menjadi fa thuba lil ghuraba’. Rasulullah ShallaLlahu ‘alaihi wa Sallama bersabda:
إن الدين بدأ غريبا ويرجع غريبا فطوبى للغرباء الذين يصلحون ما أفسد الناس بعدي من سنتي (رواه الطبراني)
“Sesungguhnya agama bermula dari keasingan dan kembali pada keasingan. Maka beruntunglah bagi orang-orang asing yang memperbaiki ajaranku yang dirusak oleh orang setelahku.” (HR. al-Thabarani)
Yakni menghidupkan ajaranku. Boleh takwil asal sebatas penalaran belaka, jangan jadi akidah. Akidah kita adalah Allah itu Ada, Maha Suci, dan kesuciannya tidak bisa divonis oleh akal kita. Tapi kita punya ulama dan masyayikh yang menghormati ulama kalam, maka kita hormati tapi sebatas darurat dan sebatas menghormati saja, bukan menjadi akidah. Penyamaan antara dalil akli dan naqli bukan jadi akidah, tapi hanya jadi bahasa santun. Kita akidahnya ma ana ‘alaihi wa ashhabi.
Tapi kita hati-hati, kita mengaku ahli hadits atau salaf itu jangan sampai kita tasybih-tajsim. Jangan sampai mengkafirkan Asyairah-Maturidiyah yang menjadi mayoritas. Itu adalah hikmah Allah Ta’ala, Allah yang tahu apa hikmahnya seperti itu. Agar kita tawadlu’, mengambil ilmu kepada orang-orang alim, dan mengambil berkah dari mereka, walaupun mereka ya begitu itu, fanatik terhadap ilmu kalamnya. Tapi kita maklumi karena mereka belajarnya seperti itu. Kita jangan sampai takabur kepada mereka. Inilah mungkin hikmah Allah Ta’ala atas kebesaran Asyairah Maturidiyah. Apalagi sekarang Salafi atau Atsari direkrut dan diadopsi oleh Wahabi yang punya ambisi kekuasaan, ingin mengkafirkan, ingin mereka yang berkuasa sekaligus menghilangkan hubungan umat Islam dengan Rasulullah ShallaLlahu ‘alaihi wa Sallama. Hubungan kita dengan shahabat sudah terputus. Hubungan kita terhadap kebesaran Quraisy saja sudah terputus. Di Makkah sudah tidak ada namanya Darun Nadwah, padahal itu adalah:
لِإِيلَافِ قُرَيْشٍ (1) إِيلَافِهِمْ رِحْلَةَ الشِّتَاءِ وَالصَّيْفِ (2) [قريش : 1 ، 2]
“Karena kebiasaan orang-orang Quraisy, (1) (yaitu) kebiasaan mereka bepergian pada musim dingin dan musim panas. (2)” (QS. Quraisy: 1-2)
Darun Nadwah adalah simbol keluhuran Quraisy. Ini saja dihilangkan, apalagi Darul Arqam tempat Rasululah ShallaLlahu ‘alaihi wa Sallama mengajar pertama di Makkah. Tempat lahirnya Rasulullah saja dihilangkan. Sampai ada orang Wahabi bernama Ibn Jasir berkata bahwa Nabi Muhammad lahir di Usfan. Edan.
Gitulah mereka berwatak Yahudi. Ingin menghilangkan kebesaran Madzahib Arba’ah dan Asyairah-Maturidiyah. Dan, tasybih-tajsim memang alirannya Yahudi. Mari kita waspada, mari mengikuti Atsar tapi jangan tasybih-tajsim. Maksimal kita tafwidh tanpa menetapkan kaifiyah-kaifiyah Allah Ta’ala, dan kita tetap menghormati ulama kita Asyairah-Maturidiyah. Kita tetap hafalkan al-Kharidah al-Bahiyyah karena barakah dan karangan ulama yang menjadi wali. Tidak tau mengapa Allah Ta’ala menjadikan wali-wali kebanyakan dari Asya’irah, kenapa Wahabi tidak ada yang keramat. Kenapa Atsariyyin tidak ada yang keramat. Kalau pengarang al-Kharidah al-Bahiyyah, Syaikh al-Dirdiri, itu wali besar. Ibrahil al-Laqqani (penulis Nazhm Jauharah al-Tauhid) itu sufi besar, apalagi al-Sanusi pengarang Umm al-Barahin. Luar biasa karamah, kewalian, dam ikhlasnya.
Semoga dengan kita tawadlu’ kepada Asyairah-Maturidiyah dan ahli kalam, kita menjadi auliya Allah atau pecinta Auliya Allah, akan tetapi akidah kita adalah akidah lugunya para Shahabat. Hanya saja ada diantara mereka pintar berbahasa dan mengerti majaz. Diantara mereka ada yang sering menakwil bukan karena akidah tapi hanya sekedar ilmu bahasa. WaLlahu A’lam.
Maafnya kalau saya ada salah. Semoga kita dimaafkan oleh Allah. Semoga kita diberkahi lewat barakahnya auliya-auliya yang kebanyakan madzhab Asyairah dan madzhab Syafi’i. Semoga kita mendapat barakahnya lewat madrasah ini dan lewat masyayikh dan muassisnya. Lahum al-Fatihah…”
Acara Kuljum kemudian ditutup oleh doa dari Syaikhina Muhammad Najih dan diamini oleh seluruh santri MGS yang hadir pada acara tersebut.[*]
نفعنا الله بعلومه وأعماله وزهده وورعه، ورزقه وزوجته الصحة والعافية والاستقامة على الطريقة السلفية، وحرسهما الله وطلابهما وأعلا درجاتهم في الجنة. آمين يا رب العالمين…

Iklan

CAHAYA CINTA ROSULULLOH

Malam sayyidul ayyam
malam penuh bertabur bintang
sholawat salam kucurahkan padamu ya Rosulallah
Alunan syahdu qosidah rindu kami dendangkan

Syaikh Uumar Ad-Dhoba’i As-suury Tsummal Makky
Dengan Suara merdunya
Menggetarkan kalbu insan yang mendengarkannya

Tak lupa Syaikh Nasir Mansur menyuarakan,
Bait-bait rindu mahabbah
Meneteskan air mata cahaya cinta Rosulallah
Bersama Syaikhuna Maimoen Zubair maha guru kami
Para asatidz dan para santri

Cahaya cinta perlahan mengilaukan
Dimata Syaikhuna Maimoen Zubair
Deraian air mata membasahi pipi beliau

Indah dan tenang
Seperti pergi berperang bersama nabi ke badar
Bertabuh genderang perang

Mauidhotul hasanah Syaikhuna Muhammad Najih
Membakar api semangat tuk mencintaimu ya Rosulallah

Rindu kami tak terbendungkan
Ketika sholawat salam tercurahkan padamu
Dengan diiringi tabuhan genderang hadroh

Tubuh bergetar bergoyang dengan lembutnya seperti terhipnotis
Tak terasa air mata ini mengalir,, ya Rosulallah

Kun mai’ ya Rasulallah
Kun mai’ ya Habiballah
Kun mai’ ya Syafi’una

Bahagia hati ini, cahaya cinta kami ya Rosulallah
Rindu Kami tak bertepi ya Rasulullah
Tangisan cinta kami di taman surga bersamamu ya Rosulallah

Nilai-nilai ASWAJA Dalam Kehidupan pluralitas-kebangsaan

بِسْمِ الله الرحمنِ الرحيمِ
الحمْدُ لله ربِّ العَالَمِيْن أَشْهَدُ أنْ لَا إله إلَّا الله وَحْدَه لَا شَرِيْكَ لَه وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدا عَبْدُه وَرَسُوْلُه صَلَّى الله عَلَيهِ وَعَلَى آلهِ الطَّاهِرِيْن وأَصْحابِهِ المُكْرَمِيْن الْمَهْدِيِّيْن، أمَّا بَعْدُ:

Muqaddimah
Islam sebagai agama yang berasal dari Allah Taala bersifat komprehensif dan relevan di berbagai dimensi ruang dan zaman. Terbukti bahwa ajaran Islam yang berkembang di daerah manapun selalu menjadikan masyarakatnya memiliki pribadi dan peradaban yang baik. Hal ini karena sifat ajaran Islam yang tidak ekstrim dalam menyikapi segala sesuatu, sehingga manusia merasa terayomi dan terlindungi dengan hukum Islam tanpa mencerabut prinsip dan asas Islam itu sendiri. Sifat ini merupakan ciri khas Islam ala Ahlussunnah wal Jamaah dibandingkan dengan berbagai firqah Islam dan agama lainnya.
Indonesia merupakan negara yang memiliki pluralitas dan kemajemukan masyarakat yang tinggi. Dalam kondisi demikian, Islam ala Ahlussunnah wal Jamaah telah terbukti mampu berkembang begitu pesat di seluruh penjuru negeri hingga menjadikan mayoritas masyarakatnya memeluk agama Islam. Selain itu, ajaran Aswaja yang diajarkan oleh ulama dan kyai telah mendarah daging di masyarakat sehingga sikap sopan santun, ramah, dan tawadlu menjadi ciri khas bangsa Indonesia di mata dunia, sekaligus memiliki sikap militan dan teguh dengan agamanya, sehingga selama tiga setengah abad hingga sekarang bangsa Indonesia tidak mudah dimurtadkan oleh penjajahan yang datang silih berganti.

Sekilas Tentang Ahlussunnah wal Jamaah
Islam merupakan agama Allah SWT yang diturunkan untuk seluruh manusia. Di dalamnya terdapat pedoman dan aturan demi meraih kebahagiaan dan keselamatan di dunia dan akhirat. Ada tiga hal yang menjadi sendi utama dalam agama Islam itu, yaitu Iman, Islam dan Ihsan.
Dari sisi keilmuan, semula ketiganya merupakan satu kesatuan yang tidak terbagi-bagi. Namun selanjutnya para ulama mengadakan pemisahan, sehingga menjadi bagian ilmu tersendiri. Bagian-bagian tersebut mereka elaborasi sehingga menjadi bagian ilmu yang berbeda. Perhatian terhadap Iman memunculkan ilmu tauhid atau ilmu kalam. Perhatian khusus pada aspek Islam menghadirkan ilmu fiqh atau ilmu hukum Islam. Sedangkan penelitian terhadap dimensi Ihsan melahirkan ilmu tashawwuf atau ilmu akhlak. Ketiga aspek inilah yang menjadi inti daripada ajaran Ahlussunnah wal Jamaah.
Secara etimologis, Ahlussunnah Wal-Jamaah adalah istilah yang tersusun dari tiga kata:
Pertama, kata Ahl, berarti keluarga, pengikut atau golongan.
Kedua, kata al-sunnah, yang memiliki dua arti kemungkinan;
Segala sesuatu yang telah diajarkan oleh Kanjeng Nabi Muhammad SAW, baik melalui perbuatan, ucapan dan pengakuan Kanjeng Nabi Muhammad SAW dan,
Al-thariqah (jalan dan jejak), maksudnya Ahlussunnah wal Jama’ah itu mengikuti jalan dan jejak para sahabat Kanjeng Nabi Muhammad SAW dan tabi’in dalam memahami teks-teks keagamaan dan mengamalkan ajaran agama.
Ketiga, kata al-Jamaah, yang secara kebahasaan dapat diartikan dengan sejumlah besar orang-orang yang menjalin dan menjaga kebersamaan dalam mencapai suatu tujuan yang sama, sebagai kebalikan dari al-firqah (orang-orang yang memisahkan diri dari golongannya). Dalam beberapa hadits shahih, Kanjeng Nabi Muhammad SAW menyebut kelompok yang selamat dengan nama al-jama’ah.
Kata al-Jamaah menjadi identitas bagi Ahlussunnah wal Jamaah sebagai golongan yang selalu memelihara sikap kebersamaan (Persatuan dalam satu negara atau komunitas Islam Sunni, sejak Awal hingga sekarang, Sunni selalu menjadi aliran mayoritas, maka tidak berlebihan jika dikatakan mempertahankan Sunni berarti mempertahankan Islam. Oleh karena itu, jangan ada usaha-usaha mempertahankan apalagi memperjuangkan sekte-sekte minoritas seperti sekte Syi’ah, Mu’tazilah, Wahhabi dst… karena disamping paham-pahamnya yang sesat juga hanya akan menambah perpecahan dan memperkeruh keadaan).

Akidah Asyariyah adalah Ahlussunnah wal Jamaah
Di antara kriteria dan ciri khas Ahlussunnah wal Jamaah ialah ulama-ulama mereka selalu tampil sebagai penyebar ilmu agama dan rujukan kaum muslimin dalam setiap generasi. Pertanyaannya sekarang, di antara sekian aliran yang ada, golongan manakah yang para ulamanya berperan sebagai penyebar ilmu agama dan penjaga kemurnian ajarannya? Jawaban terhadap pertanyaan tersebut adalah mayoritas ulama yang mengikuti madzhab al-Asyari dan al-Maturidi, seperti Imam al-Asyari, Abu Ishaq al-Isfirayini, al-Baqillani dan lain-lain. Hal ini seperti ditegaskan oleh hadlrotussyaikh KH. Hasyim Asyari berikut ini;
قَالَ الشِّهَابُ الخَفَاجِي رَحِمَهُ الله فِي نَسِيْمِ الرِّيَاض: الفِرْقَة النَّاجِيَة هُمْ أَهْلُ السُّنَّة وَالجَمَاعَةِ وَفِي حَاشِيَةِ الشَّنْوَانِي عَلَى مُخْتَصَر ابْنِ أَبِيْ جَمْرَة: هُمْ أَبُو الحَسَن الأَشْعَرِي وَجَمَاعَتُهُ أَهْلُ السُّنَّةِ وَأَئِمَّة العُلَمَاءِ لِأَنَّ الله تَعَالَى جَعَلَهُمْ حُجَّةً عَلَى خَلْقِهِ وَ إِلَيْهِم يَفْزَعُ العَامَّة فِي دِيْنِهِمْ وَهُمْ المَعْنِيُّوْنَ بِقَوْلِهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وًَسَلَّم: «إِنَّ اللهَ لَا يَجْمَعُ أُمَّتِي عَلَى ضَلَالَةٍ».
Mayoritas umat Islam di seluruh dunia, mengikuti madzhab Imam al-Asyari dan al-Maturidi, karena para ulama yang menyebarkan Islam juga bermadzhab Imam al-Asyari dan al-Maturidi. Imam Ibnu Asyakir RHA berkata:
وَأَكْثَرُ العُلَمَاءِ فِي جَمِيْعِ الأَقْطَارِ عَلَيْهِ أَيْ عَلَى مَذْهَبِ الأَشْعَرِي وَأَئِمَّةُ الأَمْصَارِ فِي سَائِرِ الأَعْصَارِ يَدْعُوْنَ إِلَيْهِ وَمُنْتَحِلُوْهُ هُمُ الَّذِيْنَ عَلَيْهِمْ مَدَارُ الأَحْكَامِ وَإِلَيْهِمْ يُرْجَعُ فِي مَعْرِفَةِ الحَلَالِ وَاْلحَرَامِ وَهُمْ الَّذِيْنَ يُفْتُوْنَ النَّاسَ فِي صِعَابِ المَسَائِلِ وَيَعْتَمِدُ عَلَيْهِمْ الخَلْقُ فِي إِيْضَاحِ المُشْكِلَاتِ وَالنَّوَازِلِ وَهَلْ مِنَ الفُقَهَاءِ مِنَ الحَنَفِيَّةِ وَاْلمَالِكِيَّةِ وَالشَّافِعِيَّةِ إِلَّا مُوَافِقٌ لَهُ أَوْ مُنْتَسِبٌ إِلَيْهِ أَوْ رَاضٍ بِحَمِيْدٍ فِي دِيْنِ اللهِ.

Tataran Praktis Prinsip Ahlussunnah
Aqidah
Dalam hal aqidah, Ahlussunnah wal Jamaah mempertimbangkan dan menetapkan beberapa hal di bawah ini.
Keseimbangan dalam telaah dan penggunaan dalil akal (tajsim dan tasybih) dan dalil syara (mutsbit maa tanzih) agar tidak mengalahkan salah satunya.
Memurnikan aqidah dengan cara membersihkan dan meluruskannya dari pengaruh aqidah yang sesat, baik dari dalam maupun dari luar Islam.
Menjaga keseimbangan berfikir supaya tidak mudah menilai salah, menjatuhkan vonis syirik, bidah pada orang lain yang seaqidah, apalagi mengkafirkannya.
Syariah
Dalam hal syariah, Ahlussunnah wal Jamaah mempertimbangkan dan menetapkan beberapa hal di bawah ini.
Berpegang pada al-Quran dan al-Hadits dengan cara-cara yang benar menurut ahlinya, yakni ulama salaf yang dapat dipertanggungjawabkan kebenarannya.
Akal dapat digunakan ketika terjadi masalah dan tidak ditemukan dalil nash (al-Quran dan Hadits) yang jelas dan mengikat.
Menerima setiap perbedaan pendapat para imam sunni mujtahidin dalam menilai suatu masalah, ketika dalil nash masih mungkin ditafsirkan yang lain.
Selalu mempertimbangkan aspek kemaslahatan dalam mengamalkan syariat di tengah-tengah lapisan masyarakat yang plural.
Tashawwuf
Dalam hal tashawwuf, Ahlussunnah selalu berpegang teguh dan berhati-hati dalam beberapa hal penting, yaitu:
Mendorong dan mengajarkan faham Ahlussunnah dalam bidang tashawwuf dengan menggunakan cara-cara ma’rifat Allah SWT, dzikir, riyadloh dan mujahadah yang tidak bertentangan dengan syariat Islam.
Tidak merasa diri lebih baik dan lebih sempurna dibanding orang lain.
Bersikap sopan santun, rendah diri dan menjaga hati dengan kekhusyuan dan keikhlasan dengan siapapun dan dimanapun berada.
Selalu berusaha mewujudkan rasa aman, tentram pada diri sendiri khususnya dan lapisan masyarakat pada umumnya.
Tidak terlalu berlebihan dalam menilai sesuatu, tenang, dan bijak dalam mengambil sikap serta mempertimbangkan kemaslahatan.
Bergaul antar Kelompok
Dalam pergaulan, Ahlussunnah menilai adanya hal-hal yang terpenting, antara lain:
Bersikap santun dengan keluarga, tetangga dan orang lain demi untuk tujuan dakwah.
Bersikap tegas, bijak dan mengambil posisi yang tepat terhadap pihak-pihak yang ingin merusak Islam.
Kehidupan Bernegara
Dalam kehidupan bernegara, Ahlussunnah menentukan beberapa hal berikut:
Mempertahankan nilai-nilai agama Islam Ahlussunnah wal Jamaah dan UUD 45 dalam bingkai NKRI (Negara Kesatuan Republik Indonesia) sebagai negara yang sah menurut hukum Internasional, atau sah menurut agama Islam dalam setiap undang-undang yang tidak bertentangan dengan syari’atnya.
Mentaati dan mematuhi pemerintah atas semua peraturan dan kebijakan yang berlaku selama tidak bertentangan dengan ajaran Islam.
Tidak melakukan bentuk perbuatan apapun yang berakibat pada jatuhnya kewibawaan, memicu pemberontakan dan penggulingan terhadap pemerintah yang sah.
Jika pemerintah melakukan penyimpangan dari aturan agama Islam, membuat rakyat sengsara, maka harus mengingatkannya dengan cara yang baik.
Mengawal dan mengkritisi kebijakan-kebijakan pemerintah yang melanggar syariat dan UUD 45, demi tercapainya sebuah pemerintah yang adil bersih dan berwibawa.
Tradisi
Dalam masalah tradisi umat Islam, Ahlussunnah memberikan batasan-batasan sebagai berikut:
Meletakkan tradisi umat Islam pada posisi yang tepat serta menilai dan mengukur dengan nilai-nilai ajaran Islam.
Menerima tradisi yang baik dan tidak bertentangan dengan agama Islam siapa-pun yang membawa dan dari manapun datangnya.
Melestarikan tradisi umat Islam lama yang lebih baik dan mengambil tradisi baru yang sesuai dengan syara.
Sebab Rasulullah SAW bersabda:

أَبْغَض النَّاسِ إلَى الله ثَلاَثَةٌ : مُلْحِدٌ فِي الحَرَمِ ، وَمُبْتَغٍ فِي الإسْلاَمِ سُنَّةَ الجَاهِلَيَّة ، وَمُطَّلِبُ دَمِ امْرِئٍ بِغَيْرِ حَق ، لِيُهْرِيقَ دَمَهُ.
أخرجه البخاري في صحيحه
ستة لعنتهم، لعنهم الله وكل نبي مجاب : الزائد في كتاب الله، والمكذب بقدر الله تعالى، والمتسلط بالجبروت فيعز بذلك من أذل الله ويذل من أعز الله، والمستحل لحرم الله، والمستحل من عترتي ما حرم الله، والتارك لسنتي- ( ت ك ) عن عائشة ( ك ) عن ابن عمر (الجامع الصغير من حديث البشير النذير) – (1 / 465)
Dakwah
Dalam hal dakwah, Ahlussunnah menganjurkan berdakwah yang ditujukan kepada seluruh lapisan
masyarakat dengan memperhatikan beberapa ketentuan sebagai berikut:
Dakwah dilakukan dengan nilai yang ikhlas, tulus memberikan bimbingan, pencerahan dan pengarahan demi tercapainya tujuan utama, yaitu mendapatkan kebahagiaan di dunia dan kemuliaan di akhirat.
Materi dakwah disesuaikan dengan kondisi dan kemampuan berfikir masyarakatnya.
Berdakwah bukan bertujuan untuk menyalahkan, menghukumi ataupun mengkafirkan orang lain, akan tetapi untuk memupuk rasa persaudaraan dan mengajak masyarakat menuju jalan yang diridlai Allah SWT.

Realitas ke-Indonesiaan
Dalam konteks berbangsa dan bernegara (sosial kemasyarakatan) Ahlussunnah wal Jamaah mengakui realitas kemajemukan atau pluralistik. Terbukti tatkala tercetus Piagam Madinah, Kanjeng Nabi Muhammad SAW menjumpai adanya pemeluk Yahudi, Nasrani, beliau tetap menegaskan, bahwa Islam adalah satu-satunya agama yang benar. Bahkan beliau mengirim surat ke beberapa Raja Eropa, seperti Heraklius, Muqauqis berupa ajakan untuk memeluk agama Islam.
قَالَ أَبُو سُفْيَانَ: كَتَبَ النَّبِيُّ صَلَّى الله عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِلَى هِرَقْلَ: «تَعَالَوْا إِلَى كَلِمَةٍ سَوَاءٍ بَيْنَنَا وَبَيْنَكُمْ» [آل عمران: 64[[رواه البخاري]
Abu Sufyan RA berkata: Kanjeng Nabi Muhammad SAW mengirimkan surat kepada Raja Hiraklius yang artinya: “Hai ahli Kitab, Marilah (berpegang) kepada suatu kalimat (ketetapan) yang tidak ada perselisihan antara Kami dan kamu” (HR. Bukhori).
Perlu dicatat, agama-agama selain Islam yang para pemeluknya diberi hak hidup oleh Rasulullah SAW hanya agama Yahudi dan Nashrani (Ahli Kitab), Majusi juga seperti Ahli Kitab, karena Rasulullah SAW bersabda: سنوا بهم سنة أهل الكتاب (HR. Imam Malik fil Muwathta’, wa imam Abdurrozaq fil Mushonnaf). Islam mengakui keberadaan kedua agama tersebut bukan berarti membenarkannya, akan tetapi Islam masih menghormati sisa-sisa kebenaran dari ajarannya. Penyembah Berhala tidak ditolerir oleh Rasulullah SAW, terbukti beliau mengusir mereka dari tanah haram dan seluruh jazirah arab, sampai membuat ultimatum pasca penaklukan Makkah, barangsiapa yang tidak keluar dari tanah haram setelah 4 bulan, pasti akan kami perangi. Jadi sekali lagi kami tegaskan bahwa negara Madinah yang dibangun oleh Baginda Rasul SAW tidak menampung para penyembah berhala, apalagi melindunginya. Oleh karenanya sangat tidak masuk akal, jika para liberalis menggunakan “Piagam Madinah” sebagai dalil pembenaran perlindungan negara Indonesia terhadap kafir non ahli kitab (Hindu, Budha, Konghucu dll…).
Meski demikian, bukan berarti kita umat Islam Indonesia kemudian berlaku intoleran atau bertindak diskriminasi kepada mereka, karena pada dasarnya, ada kode etik khusus ketika berinteraksi sosial dengan non muslim dalam konteks ke-Indonesiaa. “Rukun tapi Suloyo, Suloyo tapi Rukun” atau “Sebongso tapi Suloyo, Suloyo tapi Sebongso”, atau yang lebih tepatnya “Sak negoro tapi Suloyo, Suloyo tapi sak negoro”, begitulah kode etiknya, sebab rukun dengan non muslim Indonesia itu sifatnya hanya dharurat, agar supaya umat Islam tidak dituduh Radikal, Ekstrim, Intoleran dan cap-cap buruk lainnya, sedangkan rukun sesama muslim hukumnya wajib, apapun sekte dan alirannya, semisal Santri-non Santri, NU-Muhammadiyah, Wahhabi, HTI, JTA dst… kami mengistilahkan interaksi sosial antar sesama umat Islam di Indonesia dengan jargon “Podo Tapi Bedo, Bedo Tapi Podo”, atau “Seagomo tapi Bedo, Bedo tapi Seagomo”.
Fenomena mengerikan semisal umat Islam ikut natalan, Banser Jaga Gereja, memilih pemimpin non muslim, do’a bersama, FKUB dan lain sebagainya adalah imbas pemahaman keliru terhadap tata cara interaksi antar muslim-non muslim.
Kami tambahkan lagi, bahwa maqolah ulama (Seperti KH. Zubair Dahlan dan KH. Maimoen Zubair) عليكم بالدثار والشعار, hakikat pemahaman Ditsar dan Syi’ar itu sama, yakni kembali pada taqwallah, jika syi’ar adalah urusan membersihkan hati dari sombong, iri, dengki, ujub dan segala penyakit hati (domain thoriqoh), maka ditsar adalah urusuan dhohir, seperti sholat, zakat, puasa, haji dll. Pokoknya syi’ar itu “noto ati” sedangkan ditsar “noto awak”. Tidak seperti orang-orang yang menafsiri syi’ar dengan menetapkan pendidikan salaf, sedangkan ditsar dengan menerima pendidikan umum.
Adapun maqolah: حق عل العاقل أن يعرف زمانه ويحفظ لسانه ويقبل على شأنه (termasuk salah satu hikmah ‘Ali Dawud, dalam kitab al-Bidayah wa an-Nihayah Juz 1. Hal: 102, dan termasuk isi suhuf Ibrahim, dalam kitab Syarah Arba’in Nawawiyah hal: 40) maksudnya arif bizamanih adalah: Seseorang ketika berdakwah harus menggunakan bahasa kaumnya yang kekinian (terupdate), berlandaskan hukum dan tidak menimbulkan fitnah dan kegaduhan, agar mudah dipaham, hal ini senada dengan firman Allah SWT: وَمَا أَرْسَلْنَا مِنْ رَسُولٍ إِلَّا بِلِسَانِ قَوْمِهِ لِيُبَيِّنَ لَهُمْ فَيُضِلُّ اللَّهُ مَنْ يَشَاءُ وَيَهْدِي مَنْ يَشَاءُ وَهُوَ الْعَزِيزُ الْحَكِيم. خذ ما Jadi tidak boleh mengikuti arus zaman dengan dalih maqolah tersebut, karena ada maqolah ulama yang berbunyi: خذ ما صفا ودع ما كدر (setiap perkara menguntungkan akhirat harus diambil, dan yang merugikannya harus ditinggal). Begitu juga tidak boleh berdalil dengan maqolah ulama moderen yang masih diragukan kevalidannya, تتغير الأحكام بتغير الأحوال والأزمان. Kalau zaman rusak, masak kita ikutan rusak?, seperti sekarang lagi marak Pluralisme, Liberalisme, Miras, LGBT, kepemimpinan non muslim, bermesraan dengan kuffar, natalan, perzinaan dan seterusnya… apa dengan dalil tersebut, umat Islam diperbolehkan ikut-ikutan zaman? Naudzubillah min dzalik.
Kanjeng Nabi Muhammad SAW juga melakukan pergaulan sosial secara baik dengan komunitas orang kafir (ahli kitab), seperti Kristen Najron, Yahudi Madinah sebelum mereka mengkhianati Perjanjian Madinah atau yang dikenal dengan Piagam Madinah. Namun, setelah mereka mengkhianati perjanjian tersebut, Kanjeng Nabi SAW menerapkan kebijakan yang berbeda-beda. Terhadap Bani Qoinuqo dan Bani Nadlir, Kanjeng Nabi Muhammad SAW memerangi dan mengusir mereka dari Madinah, terhadap Bani Quroidloh, beliau memerangi dan menumpas mereka. Begitu juga orang tuanya istri Kanjeng Nabi SAW yang bernama Huyay bin al-Akhthob yang merupakan tokoh Yahudi Bani Quroidhoh terbunuh dalam perang khandaq, kemudian putrinya, Shofiyyah yang suaminya Kinanah bin Rabi’ bin Abil Huqaiq terbunuh di perang Khaibar diperistri kanjeng Nabi Muhammad SAW.
Aswaja juga menerima konsep kebangsaan, kebhinekaan dalam konteks berbangsa dan bernegara, sosial kemasyarakatan sebagai bentuk loyalitas tanggungjawab aswaja terhadap stabilitas dan keutuhan NKRI serta demi mewujudkan dan menjaga persatuan dan kesatuan antar komponen bangsa Indonesia, asalkan untuk kemaslahatan umat Islam, dan semua itu tidak bertentangan dengan syari’at Islam itu sendiri (الإسلام يعلو ولا يعلى عليه).
Namun ketika nilai-nilai kebangsaan dan ke-bhinekaan tersebut dikhianati oleh orang-orang liberal dengan dibuat kedok untuk memasarkan ide-ide pluralisme agama, maka Aswaja mempunyai kewajiban untuk membendungnya serta membentengi umat agar tidak ikut-kutan terjebak hanyut ke dalam propaganda untuk meninggalkan dan membuang Islam dengan slogan “pluralisme agama”.
Dampak Pluralisme adalah pendangkalan aqidah. Di negeri ini, kegiatan yang mengandung benih-benih dan aroma pluralisme agama sudah menjadi tren. Kegiatan do’a bersama lintas agama yang melibatkan tokoh-tokoh NU bukan pemandangan asing lagi. Acara yang diberi tema “Forum Silaturahmi Nasional Lintas Agama” di GOR Sidoarjo pada hari Jumat, 22 Januari 2010. Begitu juga sungguh sangat memiriskan umat Islam yang setiap tahun disuguhi berita ”pelamaran” pihak NU (puluhan ribu GP Ansor-Banser) “melamar” kepada orang Kristen dan Katolik untuk menjadi penjaga gereja di upacara natalan. Padahal bukan keadaan darurat, sedangkan polisi pun sudah dikerahkan hingga 93.000 polisi untuk pengamanan. Di zaman Gus Dur, pembangunan gereja besar-besaran marak direalisasikan pada daerah komunitas Muslim. (Sumber: m.tribbunnews.com)
Tindakan salah tokoh NU dan pengasuh pondok pesantren Saka Tunggal di Jl. Sendang Guwo 40-42 Semarang yang dikenal sebagai dedengkot PBM (Pasukan Berani Mati), ceramah di sebuah gereja Bethany Tayu, Pati, Jawa Tengah, Rabo 25 Desember 2013 (Sumber: m.kaskus.co.id) sebagai tindak lanjut dari isu NKRI harga mati, keBhinekaan, dan toleransi kebangsaan yang merupakan kedok untuk menyebarkan paham pluralisme agama.
Entah mengapa orang-orang tersebut begitu getol dan giat melakukan kegiatan-kegiatan pluralisme diatas, padahal tidak ada kondisi darurat sedikitpun yang sah menjadi pendorong umat Islam harus berperilaku seperti, bahkan yang terjadi hal ini lebih terlihat dipaksakan. Buktinya setiap acara tersebut selalu di-blow up besar-besaran di media massa dan bagi Muslim yang mengingkarinya otomatis mendapat cap intoleran, radikalis, anti-kemajemukan, dan cap-cap teror lainnya. Padahal umat Islam sudah dilarang dan diwanti-wanti oleh Allah agar jangan akrab (muwalah) dengan orang kafir.

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَتَّخِذُوا بِطَانَةً مِنْ دُونِكُمْ لَا يَأْلُونَكُمْ خَبَالًا وَدُّوا مَا عَنِتُّمْ قَدْ بَدَتِ الْبَغْضَاءُ مِنْ أَفْوَاهِهِمْ وَمَا تُخْفِي صُدُورُهُمْ أَكْبَرُ قَدْ بَيَّنَّا لَكُمُ الْآيَاتِ إِنْ كُنْتُمْ تَعْقِلُونَ [آل عمران : 118]
“Wahai orang-orang yang beriman, janganlah kamu menjadikan teman orang-orang yang diluar kalanganmu (seagama) sebagai teman kepercayaanmu, (karena) mereka tidak henti-hentinya menyusahkanmu. Mereka mengharapkan kehancuranmu. Sungguh telah nyata kebencian dari mulut mereka, dan apa yang tersembunyi di hati mereka lebih jahat. Sungguh telah kami terangkan kepadamu ayat-ayat (kami), jika kamu mengerti” (QS. Ali Imran: 118)

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَتَّخِذُوا الْيَهُودَ وَالنَّصَارَى أَوْلِيَاءَ بَعْضُهُمْ أَوْلِيَاءُ بَعْضٍ وَمَنْ يَتَوَلَّهُمْ مِنْكُمْ فَإِنَّهُ مِنْهُمْ إِنَّ اللَّهَ لَا يَهْدِي الْقَوْمَ الظَّالِمِينَ [المائدة : 51]
“Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah kamu menjadikan orang Yahudi dan Nashrani sebagai teman setia(mu) mereka satu sama lain saling melindungi. Barangsiapa diantara kamu menjadikan mereka teman setia, maka sesungguhnya dia termasuk golongan mereka, sungguh Allah tidak memberi petunjuk kepada orang yang zhalim.” (QS. Al-Maaidah: 51)

وَدُّوا لَوْ تَكْفُرُونَ كَمَا كَفَرُوا فَتَكُونُونَ سَوَاءً فَلَا تَتَّخِذُوا مِنْهُمْ أَوْلِيَاءَ حَتَّى يُهَاجِرُوا فِي سَبِيلِ اللَّهِ
“Mereka ingin supaya kamu menjadi kafir sebagaimana mereka telah menjadi kafir, lalu kamu menjadi sama (dengan mereka). Maka janganlah kamu jadikan diantara mereka penolong-penolong(mu), hingga mereka berhijrah pada jalan Allah.” (QS. Al-Nisa: 89)
Keputusan Bahtsul Masail PBNU tanggal 21 Januari 2014 tentang wajibnya kondom dan perlunya lokalisasi prostitusi dalam rangka mencegah penyebaran HIV dan AIDS. Menurut siaran pers Komisi Penanggulangan AIDS Nasional (KPAN), PBNU termasuk dari empat penerima dana utama The Global Fund untuk penanggulangan HIV/AIDS. Dari USD. 111,09 juta yang dihibahkan ke Indonesia, PBNU menerima dana sebesar USD. 13,391,651. (161 Milyar) (Sumber: PEPFAR-US President’s Emergency Plan for AIDS Relief), Salah satu bentuk realisasi bantuan dana tersebut adalah diterbitkannya dua buku berjudul “Panduan Penanggulangan AIDS, Perspektif Nahdlatul Ulama” dan Khutbah Jumat “Jihad Melawan HIV & AIDS”. Sudah menjadi rahasia umum jika KB adalah salah satu program Kristenisasi, karena sasaran program ini adalah umat Islam, sedangkan China-Kristen tidak perlu KB, yang lebih mengerikan lagi, umat Islam saat ini diajari LGBT dan dicekoki Miras, naudzubillah min dzalik.
Ini semua adalah bentuk dari propaganda pluralisme agama dan program kristenisasi yang terorganisir. Karena pemakaian kondom bisa menekan kehamilan dan memutuskan keturunan. Allah Taala berfirman:
وَإِذَا تَوَلَّى سَعَى فِي الْأَرْضِ لِيُفْسِدَ فِيهَا وَيُهْلِكَ الْحَرْثَ وَالنَّسْلَ وَالله لَا يُحِبُّ الْفَسَادَ. [البقرة: 205]
Dan apabila ia berpaling (dari kamu), ia berjalan di bumi untuk mengadakan kerusakan padanya, dan merusak tanam-tanaman dan binatang ternak, dan Allah SWT tidak menyukai kebinasaan. (QS. Al-Baqoroh: 205)
Keputusan PBNU ikut melegalkan lokalisasi juga bertentangan dengan keputusan Bahtsul Masail pada Muktamar Nahdlatul Ulama ke- XXXI di Boyolali Solo Jawa Tengah 29 November-01 Desember 2004 yang memutuskan bahwa melegalkan lokalisasi prostitusi bukan taghyir munkarat, tapi justru membenarkan, menolong, dan melestarikan kemaksiatan tersebut dan hukumnya adalah haram. Upaya taghyir munkarat harus dilakukan dengan cara penutupan tempat-tempat maksiat dan memberikan hukuman kepada para pelakunya. Allah SWT berfirman:
وَلَا تَقْرَبُوا الزِّنَا إِنَّهُ كَانَ فَاحِشَةً وَسَآءَ سَبِيلًا. [الإسراء: 32[
Dan janganlah kamu mendekati zina; Sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji dan suatu jalan yang buruk. (QS. Al-Isro: 32)
وَتَعَاوَنُوا عَلَى الْبِرِّ وَالتَّقْوَى وَلَا تَعَاوَنُوا عَلَى الْإِثْمِ وَالْعُدْوَانِ وَاتَّقُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ شَدِيدُ الْعِقَابِ. [المائدة: 2[
Dan tolong-menolonglah kamu dalam (menger-jakan) kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran. (QS: al-Maidah: 2)
Inilah deretan dari berbagai konspirasi dan propaganda Kristen-Liberal lewat tokoh-tokoh Islam dalam memporak-porandakan keutuhan dan kekuatan umat Islam. Mereka kelompok minoritas, namun mereka telah lancang dan terang-terangan menyulut api permusuhan antar umat Islam. Oleh karena itu, jika dikembangkan, apalagi di negara yang mayoritas muslim, seperti Indonesia maka akan melahirkan permasalahan teologis, sosio-politik, dan bahkan HAM yang sangat di luar biasakan.

Ikhtitam
Berbagai bencana telah melanda negara ini, marilah bermuhasabah diri, dengan kembali ke fitrah, memposisikan diri dan berkiprah sesuai dengan karakter dan keahliannya masing-masing, seorang tokoh yang mempunyai kapasitas keilmuan hendaknya mengamalkan ilmunya sesuai syariat Islam dengan mengatakan bahwa benar adalah sebuah kebenaran dan bathil adalah sebuah kebathilan, hendaknya yang kaya mendermakan sebagian hartanya di jalan Allah SWT dan yang miskin hendaknya memperbanyak istighfar.
Pesantren mempunyai tugas melahirkan generasi paripurna untuk menjawab berbagai persoalan umat, menjadi garda depan dalam menolak dan membendung pengaruh pemikiran-pemikiran sesat Liberalisme, Pluralisme, Sekulerisme, Syiah, Wahhabi, MTA dan aliran-aliran sesat lainnya yang semakin tumbuh berkembang di Indonesia, demi menjaga kemurnian aqidah dan umat Islam dari kekufuran.
Semoga Allah SWT memberi rahmat, taufiq dan hidayah-Nya kepada kita semua. Amiin…

DIISUKAN HUKUM NATALAN BAGI MUSLIM ADA KHILAF, INI JAWABAN SYAIKH MUHAMMAD NAJIH MAIMOEN

Setelah beberapa hari sebelumnya Syaikh Muhammad Najih membahas secara detail tentang hukum natalan bagi umat Islam yang ramai dijadikan sebagai polemik dan wacana yang disuarakan secara lantang oleh kalangan pluralis-liberal, pada hari Rabu kemarin (8 Rabiul Akhir 1439 H/27 Desember 2017 H) Abah Najih kembali mengupas kembali permasalahan tersebut di akun Youtube Ribath Darusshohihain. Dalam video berdurasi sekitar 30 menit tersebut, Abah Najih membahas tentang isu bahwa permasalahan hukum merayakan natal bagi umat Islam terdapat khilaf antar ulama. Berikut kutipan dhawuh beliau dalam video tersebut:
“Hari-hari sekarang ini di medsos yang saya ketahui masih terjadi perdebatan ramai tentang natalan dan mengucapkan natalan atau selamat natal. Ini adalah fitnah besar kalau tidak segera diselesaikan, karena Rasulullah ShallaLlahu ‘alaihi wa Sallama berkata:

مَا ضَلَّ قَوْمٌ بَعْدَ هُدَى كَانُوْا عَلَيْهِ إِلَّا أُوْتُوْا الْجَدَلَ (رواه أحمد والترمذي وابن ماجه)

Sebuah kaum tidak akan sesat setelah mendapat hidayah kecuali mereka diberi perdebatan. Pinter-pinteran ngomong.

Sudah saya terangkan kemarin, sebenarnya ulama-ulama terdahulu tidak ada khilaf. Ulama terdahulu ini ulama salaf dan khalaf. Salaf itu zaman Shahabat, Tabi’in, dan Tabi’it Tabi’in sedangkan khalaf itu setelah mereka. keduanya tidak ada khilaf bahwa tahniah bi a’yadil kuffar wa lau min ahli dzimmah haram (memberi selamat di hari raya orang kafir walaupun kafir dzimmi hukumnya haram). Ini tidak ada khilaf. Sayyidina Umar pernah mengatakan:

اِجْتَنِبُوْهُمْ فِيْ أَعْيَادِهِمْ، أَوْ كَمَا قَالَ

Kamu jangan dekat-dekat mereka ketika mereka melakukan perayaan agama mereka.

Banyak sekali nukilan dari salaf tentang hal itu dan ditulis oleh sebagian ikhwan kita dari Ahlussunnah  dengan menukil dari ulama salaf, AlhamduliLlah. Ulama khalaf seperti Ibn Hajar, al-Ramli, dan seterusnya juga mengharamkan dan masih berdalil dengan Hadits Rasulullah ShallaLlahu ‘alaihi wa Sallama:

مَنْ تَشَبَّهَ بِقَوْمٍ فَهُوَ مِنْهُمْ (رواه أحمد وأبو داود)

“Barangsiapa menyerupai sebuah kaum maka dia termasuk bagian dari kaum tersebut.” (HR. Ahmad dan Abu Dawud)

Disebutkan bahwa:

مَنْ تَشَبَّهَ بِالْكُفَّارِ فِيْ أُمُوْرِ دِيْنِهِمْ فَقَدْ كَفَرَ

Dalil ini masih dipakai, minimal mendekati kekufuran. Hadits ini masih dibuat dalil, bukan seperti liberal sekarang yang mengatakan tasyabbuh bil kuffar belum tentu kufur. Bahkan mereka berkata orang Islam kalau bercadar itu meniru Yahudi, berhijab meniru Nashara, dan khitanan juga meniru Yahudi. Malam Selasa kemarin saya menyinggung seperti ini. Ini semua tidak meniru dan tidak tasyabbuh karena ada nashnya. Dalil khitanan adalah sabda Rasulullah ShallaLlahu ‘alaihi wa Sallama:

عَشْرَةٌ مِنَ السُّنَّةِ السِّوَاكُ وَقَصُّ الشَّارِبِ وَالْمَضْمَضَةُ وَاْلاِسْتِنْشَاقُ وَتَوْفِيْرُ اللِّحْيَةِ وَقَصُّ اْلأَظْفَارِ وَنَتْفُ اْلإِبْطِ وَالْخِتَانُ وَحَلْقُ الْعَانَةِ وَغَسْلُ الدُّبُرِ (رواه النسائي)

“Sepuluh hal yang termasuk sunnah: bersiwak, memotong kumis, berkumur, menyedot air lewat hidung, memanjangkan jenggot, memotong kuku, mencabut bulu ketiak, khitan, memotong bulu kemaluan, dan membersihkan saluran belakang.” (HR. al-Nasai)

Hijab juga ada dalilnya, yaitu Firman Allah Ta’ala:

فَاسْأَلُوهُنَّ مِنْ وَرَاءِ حِجَابٍ [الأحزاب : 53]

“Maka mintalah dari belakang tabir” (QS. Al-Ahzab: 53)

Termasuk dalil jilbab mungkin ayat ini. Adapun dalil cadaran adalah Firman Allah Ta’ala:

يُدْنِينَ عَلَيْهِنَّ مِنْ جَلَابِيبِهِنَّ [الأحزاب : 59]

“Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka.” (QS. Al-Ahzab: 59)

Mengulurkan jilbab disini hingga tidak terlihat wajah perempuan kecuali mata untuk melihat. Bagi wanita Mukmin yang takut direndahkan boleh memakai jilbab dan cadar, itu merupakan haknya. Yahudi bahkan sudah melakukannya terlebih dahulu, akan tetapi itu Yahudi kuno. Yahudi sekarang jelas auratnya terbuka dan campur karena nasabnya sudah tercampur tidak karuan. 

Jadi hal-hal ini bukan tasyabbuh karena sudah ada nashnya, akan tetapi tasyabbuh dengan ibadah-ibadah orang kafir inilah yang disebutkan oleh Hadits Rasulullah ShallaLlahu ‘alaihi wa Sallama:

مَنْ تَشَبَّهَ بِقَوْمٍ فَهُوَ مِنْهُمْ (رواه أحمد وأبو داود)

“Barangsiapa menyerupai sebuah kaum maka dia termasuk bagian dari kaum tersebut.” (HR. Ahmad dan Abu Dawud)

Tadi malam di dalam grup Bani Baidhawi ada pembicaraan tentang masalah natalan ini. Kemudian kak Habibullah dari Pasuruan, saya salut sekali, mengatakan bahwa kita tidak memerangi orang kafir dan merusak tempat ibadah mereka bukan berarti menghormati agama mereka.

Kemarin sudah saya nukil, bahwa al-Bulqini dinukil oleh ulama yang mensyarahi Mukhtashar Khalil dalam Mawahib al-Jalil li Syarh Mukhtashar al-Khalil, bahwa jika pemberi ucapan selamat kepada kafir berniat mengagungkan agama mereka maka pasti kafir. Kalau tidak berniat ta’zhim agama mereka maka tidak kufur tapi tetap dosa. Ini sudah tegas sekali dan tidak ada khilaf, dan kalau masalah haram maka pasti juga tentunya.

Adapun kata orang-orang bahwa Syaikh Ali Jum’ah, Habib Ali al-Jufri, Syaikh Yusuf al-Qardhawi, Wahbah al-Zuhaili dan ulama kontemporer membolehkan hal tersebut maka mereka mukhalif  kepada ijma’ dan kita menganggap mereka ma’dzur (ada udzurnya), karna mereka hidup di masyarakat dimana banyak orang Kristen Arab yang memang baik dengan Islam. Tapi Kristen di negara kita ini kan didikan Belanda, yang mengkristenkan mereka adalah Belanda. Kristen dari Barat maksud saya. Kristen Barat dengan Kristen Arab itu lain, walaupun sama-sama kufurnya. Kristen Arab ini memang seperti dalam Firman Allah Ta’ala:

إِنَّمَا يَنْهَاكُمُ اللَّهُ عَنِ الَّذِينَ قَاتَلُوكُمْ فِي الدِّينِ [الممتحنة : 9]

“Sesungguhnya Allah hanya melarang kamu menjadikan sebagai kawanmu orang-orang yang memerangimu karena agama.” (QS. Al-Mumtahanah: 9)

Mereka tidak senang memerangi orang sesama Arab. Di Arab khususnya di Mesir itu umat Kristen memang akrab karena satu darah dengan orang Islam di sana. Negara-negara disana kan pengen ada nasionalisme. Kalau kita Indonesia, yang mengkristenkan orang Kristen di kita adalah orang Barat, lain wataknya. Kalau Barat itu ingin orang Islam habis atau minimal rendah. Kaum elit di Indonesia pada zaman Belanda adalah orang Belanda, Cina, priyayi, matraman, baru orang biasa atau santri. Santri direndahkan kedudukannya. Memang begitu wataknya. Maafnya menurut sejarah hal ini saya ungkapkan. 

Masalah memberi selamat kepada hari raya Kristen sudah jelas haramnya. Hanya saja di kitab-kitab Hanafiyah mengatakan ada penafsilan tentang kufur dan tidak kufur. Walaupun begitu, dengan mengatakan tidak kufur atau hanya mengikuti adat dan bukan agama itu maksudnya adalah haram. Sudah maklum. Hal yang menimbulkan kekufuran ketika ada niat mengagungkan agama mereka dan ketika tidak diniati begitu maka tidak kufur itu maksudnya haram. Makanya ulama Hanafiyah mengatakan jika ingin memberi hadiah atau diberi hadiah, atau saling berkunjung kalau bisa jangan pada hari raya mereka agar tidak ada tasyabbuh. Sebelumnya atau setelahnya. Keterangan ini dinukil oleh Akhi Abdurrouf dari kitab-kitab Hanafiyah.

Saya setuju perkataan Kak Habibullah dari Pasuruan bahwa tidak menyerang dan tidak merobohkan bukan berarti menghormati agama mereka. Ini adalah sikap negara atau bahasa sekarang negarawan, sikap politik, dan sikap mengayomi ahli dzimmah. Dalam negara Islam ada kaum Muslimin dan ahli dzimmah. Karena mereka telah membayar jizyah, berjanji untuk tidak melawan dan memperlihatkan kekufuran, serta memperdengarkan kalimat-kalimat kufur kepada umat Islam, maka mereka dihargai dengan diberi kesempatan beribadah di tempat-tempat ibadah mereka. Ini bukan karena menghormati agama, dan ini adalah bahasa politik dan pluralisme mereka, bukan dari kita. Kalau niat mengagungkan maka jelas kafir. Ini saya ulang-ulangi lagi.

Ada sebuah risalah yang lengkap berjudul Hukm Tahniah al-Nashara bi al-A’yad al-Diniyah ditulis oleh DR. Abdul Nashir al-Malibari al-Syafi’i. Pertama dia mengatakan bahwa kita diperintahkan oleh Allah untuk bersikap baik kepada ahli dzimmah. Dalilnya adalah Firman Allah Ta’ala tadi:

إِنَّمَا يَنْهَاكُمُ اللَّهُ عَنِ الَّذِينَ قَاتَلُوكُمْ فِي الدِّينِ [الممتحنة : 9]

“Sesungguhnya Allah hanya melarang kamu menjadikan sebagai kawanmu orang-orang yang memerangimu karena agama.” (QS. Al-Mumtahanah: 9)

Kedua, sekarang perintah berbaikan ini bukan berarti menghukumi mereka punya iman seperti orang-orang pluralisme-Gusdurian itu, apalagi mengatakan mereka dapat surga. Yang mendapat surga adalah mereka yang tidak sezaman (baca: menangi) nabi Muhammad ShallaLlahu ‘alaihi wa Sallama. Firman Allah Ta’ala:

إِنَّ الَّذِينَ آمَنُوا وَالَّذِينَ هَادُوا وَالنَّصَارَى وَالصَّابِئِينَ مَنْ آمَنَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ وَعَمِلَ صَالِحًا فَلَهُمْ أَجْرُهُمْ عِنْدَ رَبِّهِمْ وَلَا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلَا هُمْ يَحْزَنُونَ [البقرة : 62]

“Sesungguhnya orang-orang mukmin, orang-orang Yahudi, orang-orang Nasrani dan orang-orang Shabiin, siapa saja diantara mereka yang benar-benar beriman kepada Allah, Hari Kemudian dan beramal saleh, mereka akan menerima pahala dari Tuhan mereka, tidak ada kekhawatiran kepada mereka, dan tidak (pula) mereka bersedih hati.” (QS. Al-Baqarah: 62)

Walhasil, mereka masuk surga ketika tidak sezaman dengan Nabi Muhammad ShallaLlahu ‘alaihi wa Sallama. Kalau sezaman dengan kanjeng nabi dan tidak mau Islam, maka mereka bukan ahli surga melainkan ahli neraka.

Jadi berbaikan dengan kafir bukan berarti mereka punya iman atau punya surga. Kita walaupun baik dengan mereka namun harus tetap beritikad mereka kufur dan berhak masuk neraka kalau tidak masuk Islam. Allah Ta’ala berfirman:

لَقَدْ كَفَرَ الَّذِينَ قَالُوا إِنَّ اللَّهَ ثَالِثُ ثَلَاثَةٍ [المائدة : 73]

“Sesungguhnya kafirlah orang-orang yang mengatakan, “Allah salah satu dari yang tiga.” (QS. Al-Maidah: 73)

لَقَدْ كَفَرَ الَّذِينَ قَالُوا إِنَّ اللَّهَ هُوَ الْمَسِيحُ ابْنُ مَرْيَمَ [المائدة : 17]

“Sesungguhnya kafirlah orang-orang yang berkata, “Allah itu ialah Al-Masih putera Maryam.” (QS. Al-Maidah: 17)

لَمْ يَكُنِ الَّذِينَ كَفَرُوا مِنْ أَهْلِ الْكِتَابِ وَالْمُشْرِكِينَ مُنْفَكِّينَ حَتَّى تَأْتِيَهُمُ الْبَيِّنَةُ [البينة : 1]

“Orang-orang kafir yakni Ahli Kitab dan orang-orang musyrik (mengatakan bahwa mereka) tidak akan meninggalkan (agamanya) sebelum datang kepada mereka bukti yang nyata,” (QS. Al-Bayyinah: 1)

إِنَّ الَّذِينَ كَفَرُوا مِنْ أَهْلِ الْكِتَابِ وَالْمُشْرِكِينَ فِي نَارِ جَهَنَّمَ خَالِدِينَ فِيهَا أُولَئِكَ هُمْ شَرُّ الْبَرِيَّةِ [البينة : 6]

“Sesungguhnya orang-orang yang kafir yakni Ahli Kitab dan orang-orang yang musyrik (akan masuk) ke neraka Jahannam; mereka kekal di dalamnya. Mereka itu adalah seburuk-buruk makhluk.” (QS. Al-Bayyinah: 6)

Dari ayat-ayat diatas Allah telah me-nash kekafirannya. Rasulullah ShallaLlahu ‘alaihi wa Sallama juga demikian. Disebutkan dalam Hadits:

والذي نَفْسي بيده لا يسمع بي أحدٌ من هذه الأُمّة يهوديٌّ أو نصرانيٌّ ثم يموت ولا يُؤمن بالذي أُرسلتُ به إلا كان من أصحاب النَّار (رواه أحمد)

“Demi Dzat dimana diriku dalam tangan-Nya, aku tidak mendengar satupun dari umat ini beragama Yahudi atau Kristen kemudian dia mati dalam keadaan tidak beriman terhadap apa yang aku diutus karenanya, kecuali dia menjadi penghuni neraka.” (HR. Ahmad)

Walhasil, kafir berada di neraka adalah ijma’ ulama. Tidak ada yang bilang mereka dapat surga atau surganya di belakang seperti omongan Said Aqil. Bukan ulama itu, penipu akidah.

Ketiga, kata pengarang kitab tadi (DR. Abdul Nashir) ulama semua sepakat memberi selamat kepada hari raya kafir hukumnya haram baik Hanafi, Maliki, Syafi’i, dan Hanabilah. Ibn al-Qayyim me-nash ijma’ ulama atas itu. Nash-nash mereka ambillah, Oleh orang-orang yang ‘stres’ dari ulama modern hal ini dianggap tasyaddud (terlalu keras), padahal untuk menjaga akidah umat Islam biar akidahnya ya’lu wa yu’la alaihi. Kita sudah dijajah ekonomi dan politik, maklum. Namun jangan sampai akidah kita juga dijajah.

Nash di madzhab Syafi’i adalah dari Khatib al-Syirbini:

ويعزر من وافق الكفار في أعيادهم ، ومن يمسك الحية ويدخل النار ، ومن قال لذمي يا حاج ، ومن هنأه بعيده ، (مغني المحتاج – 17 / 136)

Yakni termasuk orang yang dikenai ta’zir adalah orang yang muwafiq (mencocoki) dengan hari raya orang kafir dan orang yang memberi selamat kepada hari raya mereka. Ini sudah saya nukil waktu di Multaqa dulu di Pondok Pesantren Dalwa.

Ibn Hajar dalam al-Fatawa al-Kubra juga menjelaskan:

لما سئل عن تشبه بعض المسلمين عن الكفار بأعيادهم؟ قال: والحاصل إن قصد بذلك التشبه بهم في شعار الكفر كفر قطعا

Kalau dalam bahasa al-Bulqini disebut jazman, kalo disini qath’an. Sama saja. 

أو في شعار العيد مع قطع النظر عن الكفر لم يكفر ولكنه يأثم. وإن  لم يقصد التشبه أصلا ورأسا فلا شيء عليه (فتاوى ابن حجر – 4 / 239)

Tapi menurut saya gimana, wong waktu natalan ikut-ikutan natalan itu jelas tasyabbuh. Katanya Ibn Hajar ada yang tidak sengaja tasyabbuh, menurut saya musykil. Kalau tidak waktunya natalan itu agak pantas, tapi ini waktunya natalan kok kita mengucapkan selamat natal, itu berarti mengakui dan berbahagia dengan natalan mereka. Na’udzu biLlah. Kalau tasyabbuh benar kufur, namun kalau hanya sekedar ramai-ramai maka tidak kufur tapi haram. Hal ini maklum.

Lebih bagus lagi Ibn Hajar menukil dari al-Ramli: 

ثم رأيت بعض العلماء المتأخرين (يقصد الرملي الكبير) قال: ومن أقبح البدع موافقة المسلمين النصارى في أعيادهم بالتشبه بأكلهم والهديت لهم وقبول هديتهم فيه وأكثر الناس اعتناء بذلك المصريون

Ulama Syafi’i membuka kedok bahwa orang yang biasa toleransi pluralisme itu adalah orang Mesir. Pernah saya mengaji Selasanan seperti ini bahwa bangsa kita pun pluralisme sudah biasa. Tapi ini hukum, jadi harus dilantangkan. 

Jadi ada salaf, ada khalaf, ada juga khalf. Kalau khalaf masih ngikuti sala, kalo khalf itu seperti Firman Allah Ta’ala:

فَخَلَفَ مِنْ بَعْدِهِمْ خَلْفٌ أَضَاعُوا الصَّلَاةَ وَاتَّبَعُوا الشَّهَوَاتِ فَسَوْفَ يَلْقَوْنَ غَيًّا [مريم : 59]

“Maka datanglah sesudah mereka, khalf/pengganti (yang jelek) yang menyia-nyiakan shalat dan memperturutkan hawa nafsunya, maka mereka kelak akan menemui kesesatan.” (QS. Maryam: 59)

Yang bahaya ini yang khalf. Tidak mengurusi shalat, hanya senang ramai-ramai ceramah, rapat, organisasi, menunda bahkan meninggalkan shalat. Mereka mengikuti syahwat, yang penting dapat uang, yang penting dananya tidak diputus. Padahal orang Kristen memberi dana ya diambilkan dari umat Islam. Na’udzu biLlah. 

Mari kita waspada. Masalah ini tidak ada khilaf. Adapun ulama tadi seperti Habib Ali al-Jufri, Wahbah al-Zuhaili, kita husnuzzhan mereka tertekan dan takut karena mereka orang terpandang. Kalau saya ini kan bukan orang terpandang, tidak terkenal, tidak punya organisasi, AlhamduliLlah. Jadi bisa menyampaikan apa adanya.

Mereka mengatakan natalan karena menghormat Nabi Isa. Memang penghormatan kepadanya itu harus, akan tetapi tidak pada waktu natalan kan bisa. Kenapa harus waktu natalan? Kenapa harus disampaikan kepada Nashara yang mengatakan Isa anak tuhan? Tidak boleh. Kita hormati nabi isa.

Sudang saya terangkan kemarin, bahwa Nabi Isa sekarang digodok oleh Allah Ta’ala dan  dipersiapkan untuk menyelamatkan umat Islam. Dia nantinya termasuk umat Muhammad ShallaLlahu ‘alaihi wa Sallama, namun bukan berarti dia menanggalkan kenabiannya. Nabi Isa sekarang ini digodok dan dipersiapkan -bahasa jawanya Satrio Piningit- untuk menyelamatkan umat Islam dari kebiadaban Dajjal. Dialah al-Masih, barakah dari Allah. Kalau Dajjal kelihatannya memang barakah, tapi aslinya tipuan sihir.

AlhamduliLlah pernyataan saya ini banyak yang simpatik, tapi banyak juga yang tidak senang karena saya bukan orang organisasi, saya dianggap orang kampungan, dan seterusnya. Ini saya tidak ada masalah. AlhamduliLlah saya diberi selamat oleh Allah Ta’ala. Ini adalah barakah saya mengagungkan Nabi Isa tidak lewat natal namun lewat ucapan ‘alaihi al-Salam, cinta, ta’alluq, dan sebagainya. Apalagi kepada nabi Muhammad ShallaLlahu ‘alaihi wa Sallama. Dia adalah Makhdum, dikhidmahi oleh semua nabi, malaikat. Dia Sayyidul ambiya wal mursalin.

Cukup sekian, bila ada kurang atau apa yang tidak enak mohon maafnya. Semoga kita dikuatkan akidah kita. Kita bukan mau peperangan atau berontak, kita hanya sekedar menyampaikan ilmu apa adanya. AlhamduliLlah. Yang tidak punya jabatan, karisma, atau ketenaran inilah yang bisa menyampaikan seperti ini. AlhamduliLlah. Semoga diterima oleh seluruh umat Islam agar kita menyongsong Imam Mahdi dan Nabi Isa dengan sebenar-benarnya dan sebaik-baiknya, agar anak cucu kita tetap iman dan islam. Ya Dza al-Jalal wa al-Ikram, ahyina ‘ala al-Islam wa amitna ala al-Iman.” (*)

PERNYATAAN SYAIKH MUHAMMAD NAJIH TENTANG DONALD TRUMP, LGBT, DAN NATALAN BAGI MUSLIM

Pada hari Kamis tanggal 2 Rabi’ul Akhir 1439 H/21 Desember 2017 kemarin, Syaikh Muhammad Najih memberikan pernyataan tentang beberapa masalah yang ramai diperbicangkan oleh umat Islam menjelang penutupan tahun 2017 ini. Melalui video yang diupload di akun Facebook dan Youtube “Ribath Darusshohihain”, ada tiga isu pokok yang disinggung oleh Abah Najih yaitu keputusan kontroversial presiden Amerika Donald Trump yang ingin menjadikan kota Yerusalem di Palestina sebagai ibukota Israel, LGBT yang semakin dimuluskan ruang geraknya di Indonesia, dan pernyataan para pendukung perayaan natal bagi Muslim. Demikian kutipan pernyataan beliau di dalam video tersebut:
“Rencana Amerika menjadikan Yerusalem sebagai ibukota Israel dengan menempatkan kedutaannya di Yerusalem sudah ditolak oleh umat Islam bahkan sebagian orang Kristen seperti Perancis. “Ini adalah suatu kemenangan secara moral bagi umat Islam. Menjelang natal kita bisa unjuk rasa menolak putusan sepihak yang melanggar keputusan PBB disamping melanggar agama kita, yaitu bahwa Baitul Maqdis adalah tanah suci dan masjid ketiga yang harus kita muliakan setelah Masjidil Haram dan Masjid Nabawi.

Sekarang memang Yerusalem dijajah oleh Israel, namun Israel ibukotanya di Tel Aviv. Artinya tidak terlalu mengganggu kenyamanan orang Islam untuk shalat, berjamaah, berdzikir, dan menjalankan ritual agamanya di Yerusalem. Tapi dengan adanya rencana Donald trump na’udzu biLlah min dzalik, ini sangat meresahkan, tidak menyenangkan, dan ini menyulut peperangan dan permusuhan yang tidak ada habis-habisnya. Tentu yang kita khawatirkan adalah korban banyak dari umat Islam. Kita ini sudah teraniaya, masuk Masjidil Aqsha harus dapat izin dari polisi dan tentara Israel. Kadang kalau masih muda malah digebuki. Saya pernah kesana, jadi begitulah keadaannya. Kita sudah teraniaya dan Palestina sudah terjajah. Kalau Yerusalem jadi ibukota Israel akan tambah teraniaya lagi, khususnya anak-anak muda banyak yang akan dibunuh nanti, dianggap sebagai teroris, dan seterusnya.

Padahal orang Palestina tidak semuanya teroris. Mereka hanya menggunakan hak-hak mereka dan rumah ayah dan kakek mereka. Bahkan para pengungsi Palestina menurut keputusan PBB mestinya dikembalikan lagi, namun ternyata tidak dikembalikan lagi ke tempat aslinya. AlhamduliLlah negara kita dari dulu mendukung perjuangan Palestina, dan sekarang pun InsyaAllah masih begitu.

Sayangnya, sekarang ini kita sendiri terjajah oleh kekufuran-kekufuran atau ateis-ateis dan hukum-hukum yang bertentangan dengan agama samawi yang benar yaitu islam, serta ajaran Yahudi Kristen dimana Taurat dan Injil adalah kitab samawi meski sudah ada penyelewengan, akan tetapi mansubun ila sama’ (dinisbatkan kepada langit). Baik lesbian ataupun sodomi adalah  kabair (dosa besar). LGBT itu semuanya adalah dosa besar, dan kalau diresmikan atau disahkan itu menjadi kufur karena menghalalkan perkara yang diharamkan oleh Allah. LGBT adalah sesuatu yang menjijikkan. Kalau sampai dilegalkan akan menjadi momok besar dan sebab turun laknat Allah kepada negara kita ini. Na’udzu biLlah.

Zaman era SBY dulu MK mengatakan anak zina nasabnya sampai ke bapak biologis. Itu saja sudah dikatakan bencana besar atau bahkan terbesar. Lha sekarang mau ditambahi lagi oleh orang ‘Ateis-Komunis-Abangis’. Kejahatan-kejahatan seksual ingin dilegalkan, tidak ada hukuman ataupun ancaman, dan tidak ada pidana.

Jadi saya mohon kita harus ikut mengurusi Palestina. Artinya kita menolak dengan demo, diplomasi bagi yang ahli diplomasi, memboikot produk-produk Zionis-Amerika-Yahudi, mengirim bantuan kepada Palestina, dan seterusnya. Semua yang kita bisa kita lakukan. Tapi juga jangan lupa di negeri kita dimana di buku mata pelajaran IPS untuk sekolah sudah tercantum Yerusalem sebagai ibukota Israel. Itu siapa yang menulis? Kenapa tidak ditangkap? Kenapa tidak dibredel dan dicabut dari peredaran? Itu berarti negara kita ini memperjuangkan Palestina hanya nostalgia zaman Soekarno saja, zaman negara-negara Non-Blok.

Memang Palestina atau Yerusalem ada Kristen, tapi kan dulu negara Islam. Setelah tumbangnya khilafah mestinya tetap miliknya umat Islam. Meskipun ada Kristen namun mayoritas masyarakatnya umat Islam. Ada pula Masjidil Aqsha yang merupakan milik umat Islam. Walanpun umat Islam sekarang dijajah, dikeruk, dan digerogoti terus oleh Yahudi, namun AlhamduliLlah tidak hancur. Ini menurut saya mukjizat dari Allah Ta’ala.

Meski begitu, marilah negeri kita ini dijaga jangan sampai kecolongan ateis disebarluaskan disini. Menghalalkan LGBT jangan sampai menjadi undang-undang. Kalau bisa keputusan hukum dahulu bahwa ada anak zina sambung nasabnya kepada bapak biologisnya juga harus ditolak, walaupun itu produknya Mahfudh MD yang katanya orang NU. Ini bukan masalah fanatik NU, fanatik organisasi, atau fanatik negara. Ini sudah bukan masanya lagi. Sekarang ini ideologi kufur sudah dipaksakan menguasai Pancasila, bahkan ideologi komunis pun sudah menguasai Pancasila.

Ideologi kita adalah Islam. Adapun Pancasila adalah ideologi negara yang kita terima karena kemaslahatan politik belaka. Tapi ketika maslahat agama dihancurkan dan dirusak maka kita harus membela biar anak cucu kita tidak kehilangan arah, pendirian, dan akidah. Walaupun kita harus mati dalam membela agama, yang penting anak cucu kita tetep iman dan Islam. Kita adalah negara yang mayoritas umat Islam, luar biasa, dan paling besar. Jangan sampai hanya besar bilangannya tapi imannya kropos, kalah dengan duit dan teror-teror Cina.

Sekarang ratusan orang Cina masuk tiap malam tanpa pengawasan. Menurut saya mereka ingin menjajah Indonesia dengan seks, senjata, keburukan, dan makanan. Kita harus waspada. Produksi Indofood mungkin minyaknya dicampuri babi, Mui harus waspada. Jangan dihalalkan hanya ketika diperlihatkan saja, tapi juga harus dirazia dadakan. Produk-produk dari Amerika apalagi Cina harus diwaspadai. Makanlah makanan lokal dari umat Islam. Walaupun tidak keren, ini lebih selamat, lebih higienis, dan lebih aman dari bahaya-bahaya dari mereka.

Mereka benar-benar ingin merusak negeri kita, menjajah negeri kita dg macem-macem. Dengan politik dan pendidikan seperti Yerusalem dikatakan ibukota Israel dalam buku pelajaran sekolah. Ini kecurangan luar biasa dari pemerintah sekarang. Pemerintahan dulu saja bisa begitu, terlebih lagi pemerintahan sekarang. Sekarang sudah nyata orang Cina dimana-mana. Sekarang kadang-kadang jasa travel bisa langsung dari sini sampai Singapura, ini juga agar gampang bagi orang Cina untuk masuk Indonesia.

Saya bukan anti kebangsaan ataupun anti bangsa. Namun ini adalah anti kekufuran, pemurtadan, ateis, dan komunis.

Saya mendapat kiriman tulisan orang liberal yang bikin tasykik (peraguan) kepada orang awam dan ulama. Dia bertanya mana dalilnya keharaman mengucapkan selamat natal. Lalu dia mengatakan bahwa hal itu boleh-boleh saja karena hanya sebatas berbagi kebahagiaan. Dalilnya yang lain, yang melakukan itu adalah ulama seperti Din Syamsuddin, Said Aqil, dan Syafi’i Maarif. Adapun Muhammadiyah melarangnya menurutnya itu lucu.

Menurut saya ini bukan masalah Muhammadiyah dan Nahdlatul Ulama, namun ini masalah ulama. Din Syamsudin menurut saya bukan ulama, melainkan hanya tokoh Muhammadiyah. Syafi’i Maarif adalah tokoh liberal. Said Aqil mungkin juga ulama tapi tokoh liberal juga, bahkan penasihat pemuda Kristen seluruh Indonesia. Jadi wajar kalau mereka terbiasa mengucapkan selamat natal kepada ‘bos-bos’ mereka. Akan tetapi masalahnya ini adalah soal agama. Orang-orang yang mengatakan haram dengan ikut Muhammadiyah termasuk mengikuti jejak perjuangan Buya Hamka. Ia adalah ulama besar. Di akhir hayatnya dia melakukan qunut subuh dan kembali kepada madzhab Syafi’i, karena ayah beliau Kyai Abdul Karim Amrullah bermadzhab Syafi’i bahkan punya Thariqah Naqsyabandi.

Kemarin ada cerita Kyai Wachid Hasyim saat penjajahan Belanda atau Jepang menyarankan kepada pemerintah penjajah agar para tahanan diberi bimbingan dari ulama, termasuk dari Kyai Abdul Karim untuk memberi wejangan kepada penghuni penjara. Beliau menyampaikan dalil Firman Allah Ta’ala:

فَلَا يَغْرُرْكَ تَقَلُّبُهُمْ فِي الْبِلَادِ [غافر : 4]

“Janganlah pulang balik mereka dengan bebas dari suatu kota ke kota yang lain memperdayakan kamu.” (QS. Ghafir: 4)

Penjajah itu hanya sebentar, bisa diusir.

Yahudi dan Nasrani aslinya adalah agama Nabi Musa dan Nabi Isa ‘alaihi al-Salam. Apa agamanya? Yaitu Islam, karena Nabi Ibrahim zaman dulu mewasiatkan kepada anak-anaknya:

وَوَصَّى بِهَا إِبْرَاهِيمُ بَنِيهِ وَيَعْقُوبُ يَا بَنِيَّ إِنَّ اللَّهَ اصْطَفَى لَكُمُ الدِّينَ فَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ [البقرة : 132]

“Dan Ibrahim telah mewasiatkan ucapan itu kepada anak-anaknya, demikian pula Ya’qub. (Ibrahim berkata): “Hai anak-anakku! Sesungguhnya Allah telah memilih agama Ini bagimu, maka janganlah kamu mati kecuali dalam memeluk agama Islam.” (QS. Al-Baqarah: 132)

Semua nabi agamanya Islam. Hanya saja kata “Islam” dicuatkan secara lantang pada zaman Nabi Muhammad ShallaLlahu ‘alaihi wa Sallama. Tentunya Islam ya Tauhid itu. Namun akhirnya Yahudi-Nasrani menyimpang dengan condong kepada agama Majusi dan senang menggunakan jimat. Akhirnya ada istilah Shabi’in, senang dengan tawassul kepada planet, bintang, dan zodiak. Kristen asalnya berajaran Tauhid. Ashabul Kahfi masih mengikuti ajaran Tauhid. Kemudian mereka disebari trinitas oleh Shaul yang mengaku masuk Kristen dan berganti nama menjadi Paulus lalu menjadi mahaguru mereka.

Yahudi Kristen adalah kafir. Banyak ayat Al-Quran menjelaskan tentang kafirnya orang yang tidak bertauhid. Kalau di era Makkah Rasulullah ShallaLlahu ‘alaihi wa Sallama mengajarkan kekufuran penyembah berhala, lalu ketika berpindah ke Madinah mengajarkan kekufuran Yahudi dan Nasrani. Dengan ini kita umat Islam dijaga dengan Tauhid, dilarang toleran atau pro kepada kufur atau syirik.

Ulama bilang bahwa ridha dengan kekafiran maka kafir. Kalau kita mengucapkan selamat natal, ini dapat menumbuhkan simpati dan cinta perlahan-lahan kepada mereka. mungkin sebagian mengingkari bahwa yang diucapkan sekedar di lisan saja. Namun perlu diketahui bahwa umat Islam wajib menghindar dari hal-hal yang bisa menyebabkan kecenderungan dan rasa simpatik kepada orang kafir.

Ini jelas sekali menurut saya, maaf kalo saya lancang, salib itu kan kalau ahli dukun kelihatan ada bentuk dukunnya seperti agama Cina dan kuil-kuil. Kesannya ada banyak mahabbah disitu, makanya kita harus waspada. AlhamduliLlah Rasulullah ShallaLlahu ‘alaihi wa Sallama mengambil istri Khadijah yang faham sekali dengan kitab-kitab Injil dan Taurat karena punya paman bernama Waraqah bin Naufal. Itu adalah anugerah kepada Rasul dengan dijauhkan dari syirik sebelum menjadi nabi dan akhirnya tambah diketahui kenabiannya lewat Waraqah, karena dia bisa menulis Injil dan Taurat yang asli dengan bahasa Ibrani dan menerjemahkannya kedalam bahasa Arab secara lengkap tanpa ada perubahan. Ini adalah suatu keunikan dan taufiq dari Allah Ta’ala.

Saya tidak mengatakan Kristen semuanya dukun. Memang ada yang ahli kitab beneran. Bahkan Paus Paulus ke-16 mengatakan bahwa Yesus Kristus bukan lahir di tanggal 25 Desember, tapi pada bulan Oktober atau November. Saya dapat referensi bahwa yang bikin natal adalah raja Konstantine agar bisa ramai berbarengan dengan acara tradisi negara Romawi.

Saudara-saudara sekalian, marilah kita jaga dan jangan tertipu dengan omelan-omelan liberal yang sekarang lagi bingung, susah, dan sedih karena umat Islam semuanya bergerak melawan Amerika dan Donald Trump. Kalau dulu Yerusalem dikuasai Israel secara pemerintahan atau senjata, dan sekarang Amerika ingin membuat kedutaan di Yerusalem berarti Amerika juga mau menjajah. Penjajahnya bertambah banyak. Bukan hanya oleh Yahudi, tapi juga oleh Kristen. Amerika itu tidak tunduk pada Vatikan karena Kristen Ortodok dan masih banyak sumber-sumber asli yang tidak berubah. Amerika itu Kristen Protestan, sama dengan liberal seenaknya sendiri. 

Tadi saya meminta kepada anak-anak saya untuk melihat ibarat kitab, AlhamduliLlah di dalam kitab Mawahib al-Jalil (Madzhab Maliki) ada keterangan dinukil dari al-Bulqini yang bermadzhab Syafi’i bahwa mengucapkan “’Idun Mubarak” (selamat hari raya) kepada kafir dzimmi seperti halnya mengucapkan selamat nata, jika niatnya mengagungkan agamanya maka kafir secara pasti, jika sengaja menghormati agamanya yang kufur meskipun agama tersebut mengaku termasuk agama langit maka juga kafir. Al-Quran sudah menjelaskan bahwa agama Kristen mengatakan Isa adalah anak tuhan atau salah satu bagian dari trinitas (tiga tuhan).

Jadi waspadalah. Kalau kita mengatakan natal kepada Kristen maka artinya kita sudah kepelet akhirya simpatik dan seolah-olah menginginkan balasan dari mereka. Itulah setan, menjerumuskan manusia dengan cara seperti itu. Ketika kita menghadapi orang kafir seakan-akan kita lemas seolah butuh uang mereka, padahal mereka terkenal pelit, benci sama kita, dan tidak memberi kita kecuali sudah dihipnotis agar kita menjadi murtad dan seterusnya. Na’udzu biLlah.

Mari kita qanaah dengan diri sendiri dan rizki yang diberikan oleh Allah Ta’ala kepada kita. Kita tidak usah bergantung kepada kufur, jam’iyyah, LSM, dan non-Muslim. Mari kita bangga dengan pemberian Allah dan hujan yang diberikan Allah. Mari kita selamatkan diri kita dengan membaca Al-Quran, Shahih Bukhari, Mukhtashar Ibn Abu Jamrah, Mukhtashar al-Zabidi, al-Tajrid al-Sharih, dan kitab-kitab lainnya agar terjaga dari kufur, liberal, dan LGBT. Rencana-rencana mereka untuk melegalkan hal-hal kufur dan amoral semoga digagalkan oleh Allah Ta’ala. Mari kita banyak-banyak tadarru’ dan menghormati Isa sebagai Nabi. Menurut saya dan umat Islam pasti menerima omongan saya ini, Nabi Isa sekarang sedang digodok oleh Allah Ta’ala. Bahasa jawanya digodok di Kawah Condrodimuko, tapi bukan di neraka melainkan di langit kedua agar menjadi ‘setengah malaikat’. Tujuannya untuk membunuh Dajjal. Nabi Isa akan turun ke bumi menjadi umat Muhammad walaupun tetap tidak hilang kenabiannya untuk Bani Israil. Dia akan datang menjadi teman, saudara, guru, qadli, bahkan jimat kita untuk membunuh Dajjal, serta menemani dan membimbing Imam Mahdi.

Nabi Isa bisa kita jadikan tawasul dan bisa kita kirim Surah al-Fatihah sekarang. Kita juga bertawasul kepada nabi Khidlir, nabi Ilyas, dan para terlebih kepada Rasulullah ShallaLlahu ‘alaihi wa Sallama. Kalau kita meminta bimbingan dan penjagaan kepada mereka, meminta kepada Allah lewat mereka, meminta mereka berdoa untuk kita, pasti Allah akan membimbing kita. Tidak ada jalan lain selain tadlarru’ ilaLlah dan tawasul dengan para nabi. Kita menghormati nabi Isa yang telah dilecehkan karena dijadikan anak tuhan atau bahkan tuhan. Ini adalah pelecehan yang sangat luar biasa dan dikutuk oleh nabi Isa sndiri dalam surat QS. al-Maidah: 116-117:

وَإِذْ قَالَ اللَّهُ يَا عِيسَى ابْنَ مَرْيَمَ أَأَنْتَ قُلْتَ لِلنَّاسِ اتَّخِذُونِي وَأُمِّيَ إِلَهَيْنِ مِنْ دُونِ اللَّهِ قَالَ سُبْحَانَكَ مَا يَكُونُ لِي أَنْ أَقُولَ مَا لَيْسَ لِي بِحَقٍّ إِنْ كُنْتُ قُلْتُهُ فَقَدْ عَلِمْتَهُ تَعْلَمُ مَا فِي نَفْسِي وَلَا أَعْلَمُ مَا فِي نَفْسِكَ إِنَّكَ أَنْتَ عَلَّامُ الْغُيُوبِ (116) مَا قُلْتُ لَهُمْ إِلَّا مَا أَمَرْتَنِي بِهِ أَنِ اعْبُدُوا اللَّهَ رَبِّي وَرَبَّكُمْ وَكُنْتُ عَلَيْهِمْ شَهِيدًا مَا دُمْتُ فِيهِمْ فَلَمَّا تَوَفَّيْتَنِي كُنْتَ أَنْتَ الرَّقِيبَ عَلَيْهِمْ وَأَنْتَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ شَهِيدٌ (117) [المائدة : 116 ، 117]

“Dan (Ingatlah) ketika Allah berfirman: “Hai Isa putera Maryam, Adakah kamu mengatakan kepada manusia: “Jadikanlah Aku dan ibuku dua orang Tuhan selain Allah?” Isa menjawab: “Maha Suci Engkau, tidaklah patut bagiku mengatakan apa yang bukan hakku (mengatakannya). Jika Aku pernah mengatakan Maka tentulah Engkau mengetahui apa yang ada pada diriku dan Aku tidak mengetahui apa yang ada pada diri Engkau. Sesungguhnya Engkau Maha mengetahui perkara yang ghaib-ghaib.” (116) Aku tidak pernah mengatakan kepada mereka kecuali apa yang Engkau perintahkan kepadaku (mengatakan)nya yaitu: “Sembahlah Allah, Tuhanku dan Tuhanmu”, dan adalah Aku menjadi saksi terhadap mereka, selama Aku berada di antara mereka. Maka setelah Engkau wafatkan aku, Engkau-lah yang Mengawasi mereka. dan Engkau adalah Maha menyaksikan atas segala sesuatu. (117)” (QS. Al-Maidah: 116-117)

Cukup sekian dari saya, semoga bermanfaat. Mari kita takut kepada Allah Ta’ala, kita takut kepada kemurkaan Allah dengan adanya LGBT dan pemasaran umat Islam untuk natalan. Kalau umat Islam natalan ramai-ramai dengan kafir, akhirnya seolah kita jadi abdi mereka. Padahal mereka sudah sangat untung ketika Idul Fitri dengan harga barang melonjak. Mereka sudah untung dengan ini. Sedangkan kalau kita natalan maka kita rugi akhirat, rugi agama, bahkan duniawi saja kita tidak bisa menikmati. Tapi kalau pada Idul Fitri harga barang melonjak maka yang untung materi banyak adalah non-Muslim. Inilah kerugian dan kesalahan kita.

Marilah kita prihatin, semoga apa yg diberikan Allah apalagi ilmu semoga diberkahi tanpa harus rame-ramenan dan ngetren-ngetrenan dengan orang kafir. Dalam hadits disebutkan:

سَتَتَّبِعُونَ سَنَنَ مَنْ قَبْلَكُمْ بَاعًا بِبَاعٍ ، وَذِرَاعًا بِذِرَاعٍ ، وَشِبْرًا بِشِبْرٍ حَتَّى لَوْ دَخَلُوا جُحْرَ ضَبٍّ لَدَخَلْتُمْ مَعَهُمْ قُلْنَا : يَا رَسُولَ اللهِ ، الْيَهُودَ ، وَالنَّصَارَى ؟ قَالَ : فَمَنْ.

Dalam riwayat lain disebutkan:

كَالْفَارِسِ وَالرُّوْمِ.

Kamu akan mengikuti orang-orang yang beragama Yahudi dan Nasrani dalam masalah agama, serta akan mengikuti gaya-gaya kepemimpinan Persia dan Romawi, artinya Barat dan Timur. Kita umat Islam harus mandiri dan harus ikut kepemimpinan Rasulullah ShallaLlahu ‘alaihi wa Sallama dan Khulafaur Rasyidin. Walau sekarang kita belum punya pemimpin seperti itu, kita mengharapkan dan berdoa kepada Allah. Masalah agama kita tetap punya agama yang lebih agung yang dibawa oleh Nabi Muhammad ini. Semua nabi akan berada di bawah bendera nabi Muhammad. 

Nabi Muhammad ShallaLlahu ‘alaihi wa Sallama mempunyai syafaat di Hari Kiamat, dan semua nabi akan ikut nabi kita. Tidak akan masuk surga kecuali setelah Nabi Muhammad masuk surga. Inilah hubungan erat antara Rasululah dan Nabi Isa, sangat erat sekali. Hati Nabi Isa sangat kumanthil dengan kabar Injil akan seorang mubasyir yang bernama Ahmad. Di injil yang asli di Vatikan berita ini masih ada, kalau Injil yang di gereja-gereja tidak ada. 

Cukup sekian. Semoga kita jauh dari syirik, bid’ah, provokasi, dan jauh dari antek Zionis dan Salibis.” (*)

Imam Ahmad bin Hanbal Pelopor Gerakan Salafi (?)

Pada hari Sabtu 25 November 2017, penulis mengikuti sebuah diskusi Ilmu Kalam. Temanya adalah tentang gerakan Salafiyah atau yang dimaksud dengan Wahabi. Dalam makalah yang dipresentasikan dalam forum tersebut ada satu pernyataan yang menurut penulis sangat mencengangkan, yakni bahwa termasuk pelopor gerakan Salafiyah adalah Ahmad bin Hanbal disandingkan dengan Ibnu Taimiyyah dan Muhammad bin Abdul Wahab. Jadi selama ini Ahmad bin Hanbal yang diyakini oleh kalangan Ahlussunnah wal Jama’ah sebagai pejuang akidah Aswaja yang begitu terkenal dengan kegigihannya mempertahankan akidah “Al-Quran bukan makhluk” melawan represi pemerintahan khalifah al-Ma’mun, ternyata merupakan salah satu “pelopor” gerakan Salafi yang akhirnya menjadi Wahabi. Dalam makalah tersebut ditulis:
“Ketenarannya sebagai tokoh salafiyah terkait erat dengan masalah yang ia alami yaitu penyiksaan yang dilakukan oleh penguasa Al-Ma’mun. Di mana para penguasa ketika itu memaksa para ulama doktrin Muktazilah tentang kemakhlukan Al-Quran. Diantara butir pemikirannya yang secara umum jelas sebagai dasar dari pemikiran Salafiyah, bahwa ia lebih suka menggunakan pendekatan tekstual daripada pendekatan ta’wil. Sedangkan yang berkaitan dengan Al-Quran apakah makhluk atau tidak, jawabnya hanya bahwa Al-Quran tidak diciptakan. Bagaimana Al-Quran sesungguhnya ia tidak mau membahas lebih lanjut. Artinya, ia kembali menyerahkan kepada Allah SWT.”

Jika ditelusuri lebih lanjut, pandangan Ahmad bin Hanbal sebagai pelopor gerakan Salafiyah sudah didakwahkan sejak lama diantaranya oleh Harun Nasution yang terkenal sebagai tokoh “pro-Muktazilahnya” Indonesia. Menurut Harun Nasution, secara kronologis Salafiyah bermula dari Imam Ahmad bin Hanbal. Lalu ajarannya dikembangkan oleh Ibnu Taimiyyah, kemudian disuburkan oleh Muhammad bin Abdul Wahab, dan akhirnya berkembang di dunia Islam secara sporadis. (Zainuddin, 2008, Ilmu Tauhid Lengkap, Jakarta: Rineka Cipta, hlm. 43-44) Pandangan seperti ini akhirnya bertebaran di berbagai buku studi Ilmu Kalam yang beredar di dunia akademik.

Tulisan ini akan menganalisa pandangan ‘miring’ tentang Ahmad bin Hanbal tersebut. Hal ini untuk tujuan mendudukkan statemen tersebut apakah fakta atau fiktif belaka sehingga yang muncul adalah fitnah kepada salah satu imam agung Madzahibul Arba’ah tersebut.

Pertama: Jalinan Kuat Ahmad bin Hanbal dan Asya’irah

Dalam pernyataan diatas ditulis, “Ketenarannya sebagai tokoh salafiyah terkait erat dengan masalah yang ia alami yaitu penyiksaan yang dilakukan oleh penguasa Al-Ma’mun. Di mana para penguasa ketika itu memaksa para ulama doktrin Muktazilah tentang kemakhlukan Al-Quran.”

Pertanyaannya, benarkah hanya karena Ahmad bin Hanbal membela mati-matian ketidakmakhklukan Al-Quran lalu dengan mudahnya beliau dicap sebagai pelopor gerakan Salafiyah?

Sebelum itu, perlu dibedakan dulu antara salaf dan salafiyah. Syaikh Muhammad Najih menjelaskan bahwa Salaf merupakan nama golongan yang mengikuti manhaj (metodologi) para Shahabat Rasulullah dan Tabi’in, termasuk di dalamnya adalah Imam Madzhab Fiqh Empat: Abu Hanifah, Malik, Syafi’i, dan Ahmad bin Hanbal. (Syaikh Muhammad Najih, al-Imam Abu Hasan al-Asy’ari wa ‘Aqidah Ahl al-Sunnah wa al-Jama’ah, hlm. 10)

Sedangkan ciri-ciri dari Salaf atau salafusshalih ada empat yaitu disebut aliran al-Jama’ah atau mayoritas kaum Muslimin, mengikuti Ijma’ ulama, memelihara kebersamaan dan kolektifitas, dan diikuti oleh al-sawad al-a’zham atau mayoritas kaum Muslimin. (Syaikh Muhammad Najih, Ahlussunnah wal Jama’ah Akidah, Syari’ah, Amaliyah, Sarang: Toko Kitab Al-Anwar 1, hlm. 12-16)

Bandingkan ciri-ciri Salaf diatas dengan kelompok yang menamakan dirinya sebagai Salafiyah yang berkembang sekarang. Selain mereka mengeksklusifkan nama “salafi” untuk diri mereka sendiri, ajaran-ajaran kelompok Salafiyah juga banyak yang bertentangan dengan karakter-karakter Salaf diatas seperti membid’ahkan pelaku tawasul dan ziarah kubur yang jelas-jelas dilakukan oleh para Shahabat dan Tabi’in, mengkafirkan dan mensyirikkan mayoritas umat Islam, meyakini akidah tajsim-tasybih yang jelas ditolak oleh Ijma’ ulama, dan lain sebagainya.

Termasuk bukti bahwa Ahmad bin Hanbal akidahnya sama dengan Asy’ariyah keterangan Syaikh Muhammad Najih, bahwa Imam Abu Hasan al-Asy’ari menyempurnakan diri beliau kembali kepada manhaj salaf ketika belajar kepada para ulama-ulama pengikut Ahmad bin Hanbal, sehingga beliau kembali kepada ajaran para salafusshalih dari Shahabat Nabi dan Tabi’in. (al-Imam Abu Hasan al-Asy’ari wa ‘Aqidah Ahl al-Sunnah wa al-Jama’ah, hlm. 10) Pengikut Hanabilah di Baghdad setelah itu selama bertahun-tahun lamanya mengikuti akidah Asya’irah sebelum terjadi masa perpecahan di zaman Abu Nashr bin Qusyairi dan menteri Nizhamul Mulk. (al-Imam Abu Hasan al-Asy’ari wa ‘Aqidah Ahl al-Sunnah wa al-Jama’ah, hlm. 8)

Jika Imam al-Asy’ari bisa kembali kepada ajaran Ahlussunnah wal Jama’ah berkat ajaran pengikut Ahmad bin Hanbal, maka sangat aneh jika ajaran Ahmad bin Hanbal bertentangan dengan muridnya sendiri. Jika memang ada riwayat valid yang menunjukkan Ahmad bin Hanbal berubah dari keyakinannya yang awal, silahkan saja ditunjukkan!

Bahkan Imam Abu Hasan al-Asy’ari dalam al-Ibanah menyatakan dengan jelas:

“Perkataan dan keyakinan kami adalah berpegang teguh kepada Kitab Tuhan kami, Sunnah Nabi kami, dan riwayat dari Shahabat, Tabi’in, dan Imam-imam Hadits, serta ajaran yang diucapkan oleh Abu Abdullah Ahmad bin Muhammad bin Hanbal.” (al-Imam Abu Hasan al-Asy’ari wa ‘Aqidah Ahl al-Sunnah wa al-Jama’ah, hlm. 16)

Dengan demikian ajaran Ahmad bin Hanbal sesuai dengan ajaran Asy’ariyah. Lalu apalagi argumentasi orang-orang seperti Harun Nasution untuk menolak bukti-bukti ini dan menguatkan pendapat mereka bahwa Imam Ahmad adalah gembong kelompok Salafiyah?

Bahkan banyak bukti yang menjelaskan bahwa Imam Ahmad bin Hanbal banyak berbeda dengan kaum Salafiyah dalam berbagai pandangan mereka, diantara sebagai berikut:

Pertama, ketika kaum Salafiyah menjelek-jelekkan Ilmu Kalam yang ditekuni oleh Asya’irah-Maturidiyah dan mengharamkan pembelajarannya, seorang ulama Hanabilah Yusuf bin Abdul Hadi al-Maqdisi menyebutkan dalam Maqbul al-Manqul min ‘Ilmay al-Jadal wa al-Ushul bahwa mempelajari Ilmu Kalam menurut Imam Ahmad bin Hanbal adalah masyru’ (disyari’atkan) dengan beberapa bukti:

1. Imam Ahmad ditanya, “Apa pendapat Anda tentang lelaki yang sibuk puasa dan shalat namun diam tidak mau membantah omongan ahli bid’ah?” Seketika wajah beliau muram dan berkata, “Apabila dia shalat, puasa, dan mengucilkan diri dari orang lain bukankah hal itu untuk dirinya sendiri?” Penanya tadi menjawab, “Iya.” Imam Ahmad melanjutkan, “Jika dia membantah ahli bid’ah maka manfaatnya bagi dia juga bagi orang lain, maka perkataannya tadi lebih utama.”

2. Imam Ahmad sering membantah dan membungkam argumen kaum Muktazilah dan Jahmiyah, dan hal ini tidak akan muncul kecuali dari orang yang mampu memadukan naql dan ‘aql sekaligus.

3. Imam Ahmad punya satu kitab khusus untuk membantah kaum Zindiq dan Qadariyah tentang ayat-ayat Mutasyabihah dalam Al-Quran dan lainnya, dan sering berhujjah dengan nalar rasional seperti penuturan ulama kenamaan madzhab Hanbali Ibn Muflih dalam al-Adab al-Syar’iyyah. (Musthafa Hamdi dan Alyan Hanbali, al-Hanabilah wa al-Ikhtilaf ma’a al-Salafiyyah al-Mu’ashirah, hlm. 181-182)

Kedua, ketika kaum Salafiyah begitu mudah memberi cah kafir kepada mayoritas umat Islam baik disuarakan secara lantang maupun disembunyikan di dalam hati atau komunitas mereka sendiri, maka Imam Ahmad berkata, “Ketika orang sudah membaca Syahadain maka dia telah masuk Islam.” Ketika Imam Ahmad ditanya tentang seorang Kristen yang masuk Islam apakah wajib bagi dia bebas dari kekristenan dan meninggalkan ajarannya sama sekali baru bisa dianggap orang Islam, maka beliau menjawab, “Ucapkanlah Syahadatain maka dia telah masuk Islam.” (al-Hanabilah wa al-Ikhtilaf ma’a al-Salafiyyah al-Mu’ashirah, hlm. 187)

Dalam hal ini, Imam Ahmad terlihat sangat longgar dalam menyebut keislaman seseorang, sehingga orang Kristen yang belum bisa lepas dari sisa-sisa ajarannya saja ketika sudah membaca syahadat sudah dikatakan Islam. Berbeda sekali dengan kaum Salafiyah-Wahabi yang begitu ‘longgar’ dalam mengkafirkan orang Islam hanya dengan ajaran ‘pembaruannya’.

Bahkan Imam Ahmad malah berkata, “Sifat seorang mukmin adalah bersaksi tiada Tuhan selain Allah, Muhammad adalah utusan Allah, mengakui ajarang yang dibawa para nabi dan rasul, berpegang teguh dengan yang terlihat, tidak ada keraguan iman, tidak mengkafirkan orang yang bertauhid sebab dosa, mengembalikan hal-hal gaib kepada Allah dan menyerahkan kepadanya…” (al-Hanabilah wa al-Ikhtilaf ma’a al-Salafiyyah al-Mu’ashirah, hlm. 188) Ini menjadi tamparan keras Imam Ahmad bin Hanbal kepada kaum Salafiyah yang gemar mengkafirkan dan menisbatkan kelompok mereka kepada beliau.

Ketiga, ketika kaum Salafiyah menjelek-jelekkan tasawuf dan menganggapnya sebagai bid’ah dan biang keladi kemunduran umat, maka Ibn Muflih, al-Bahuti, dan al-Safarini meriwayatkan sebuah cerita bahwa Imam Ahmad pernah diajak bicara seseorang, “Kaum Sufi hanya duduk-duduk di masjid tanpa ilmu dengan modal tawakkal.” Maka Imam Ahmad menjawab, “Ilmu yang menemani duduk mereka.” Lalu beliau ditanya lagi, “Mereka tidak menginginkan dunia kecuali hanya sepotong roti dan selembar kain.” Imam Ahmad menjawab, “Saya tidak pernah melihat kaum yang lebih utama daripada mereka.” Beliau ditanya lagi, “Sebagian dari mereka tidak sadar diri dan bahkan ada yang mati.” Lalu Imam Ahmad menimpali dengan Firman Allah Ta’ala:

وَبَدَا لَهُمْ مِنَ اللَّهِ مَا لَمْ يَكُونُوا يَحْتَسِبُونَ [الزمر : 47]

“Jelaslah bagi mereka dari Allah yang belum pernah mereka perkirakan.” (QS. Al-Zumar: 47) (al-Hanabilah wa al-Ikhtilaf ma’a al-Salafiyyah al-Mu’ashirah, hlm. 678)

Karena itu, Imam Syafi’i berkomentar tentang Imam Ahmad, “Imam Ahmad adalah ahli delapan hal: imam Hadits, imam Fiqh, imam bahasa, imam Al-Quran, imam dalam fakir, imam dalam zuhud, imam dalam wira’i, dan imam dalam membela Sunnah.” Selain itu, dalam kitab-kitab Thabaqat al-Shufiyyah seperti Hilyah al-Auliya karya Abu Nuaim al-Ashfihani, al-Thabaqat al-Kubra karya al-Sya’rawi, dan Kasyf al-Mahjub karya al-Hujwiri, Imam Ahmad dicatat namanya sebagai pembesar dari kaum Sufi. Bahkan kitab-kitab tasawuf seperti al-Risalah karya al-Qusyairi, al-Futuhat al-Makkiyyah karya Abu Bakr Ibn Arabi, dan Ihya ‘Ulum al-Din karya al-Ghazali banyak sekali meriwayatkan sikap sufi Imam Ahmad bin Hanbal. (al-Hanabilah wa al-Ikhtilaf ma’a al-Salafiyyah al-Mu’ashirah, hlm. 677-679)

Dari penjelasan singkat, masihkah ada dari kita yang menisbatkan Imam Ahmad bukan sebagai Imam Ahlussunnah wal Jamaah dan tetap ngotot mengatakan beliau sebagai pelopor gerakan Salafiyah?

Kedua: Ketidakmakhlukan Al-Quran

Statemen tentang Ahmad bin Hanbal selanjutnya adalah, “Diantara butir pemikirannya yang secara umum jelas sebagai dasar dari pemikiran Salafiyah, bahwa ia lebih suka menggunakan pendekatan tekstual daripada pendekatan ta’wil. Sedangkan yang berkaitan dengan Al-Quran apakah makhluk atau tidak, jawabnya hanya bahwa Al-Quran tidak diciptakan. Bagaimana Al-Quran sesungguhnya ia tidak mau membahas lebih lanjut. Artinya, ia kembali menyerahkan kepada Allah SWT.”

Pertanyaannya, apakah pendapat Ahmad bin Hanbal tentang ketidakmakhlukan Al-Quran merupakan ajaran kelompok Salafiyah? Apakah pendapat beliau ini murni tanpa dalil-dalil rasional? Pernyataan diatas seakan ingin mengatakan bahwa Ahmad bin Hanbal tidak mau menggunakan akalnya untuk menyikapi makhluk tidaknya Al-Quran. Inna liLlahi wa inna ilaihi raji’un.

Untuk menguji seberapa rasional akidah ulama salaf tentang ketidakmakhlukan Al-Quran yang diikuti oleh Ahmad bin Hanbal, kita dapat membuktikannya dengan beberapa riwayat berikut yang disebutkan oleh Syaikh Muhammad Najih dalam al-Imam Abu Hasan al-Asy’ari wa ‘Aqidah Ahl al-Sunnah wa al-Jama’ah (hlm. 31-32):

Pertama, Ahmad bin Hanbal pernah ditanya tentang sekelompok orang yang berkata Al-Quran bukanlah makhluk dan juga bukan tidak makhluk, maka beliau menjawab, “Akidah yang saya yakini dan tidak ada keraguan di dalam adalah Al-Quran bukan makhluk.” Lalu beliau memberi argumentasi dengan Firman Allah Ta’ala:

الرَّحْمَنُ (1) عَلَّمَ الْقُرْآنَ (2) خَلَقَ الْإِنْسَانَ (3) [الرحمن : 1 – 3]

“(Tuhan) yang Maha pemurah, (1) Yang telah mengajarkan Al-Quran. (2) Dia menciptakan manusia. (3)” (QS. Al-Rahman: 1-3)

Di dalam ayat ini dibedakan antara manusia dan Al-Quran, hal ini menunjukkan bahwa Al-Quran bukanlah makhluk seperti manusia.

Melihat argumentasi diatas maka terlihat Ahmad bin Hanbal menggunakan logika untuk memahami dalil naqli diatas, tidak melulu berdalil ayat Al-Quran tanpa ada penjelasan logisnya.

Kedua, Ahmad bin Hanbal berkata, “Al-Quran merupakan bagian dari ilmu Allah. Apa kalian tidak memperhatikan Firman Allah Ta’ala:

عَلَّمَ الْقُرْآنَ [الرحمن : 2]

“Yang telah mengajarkan Al-Quran.” (QS. Al-Rahman: 2)

Lanjut Imam Ahmad menjelaskan tentang ketidakmakhlukan Al-Quran:

“Dan Al-Quran termasuk Ilmu Allah. Lalu apa yang akan mereka (Muktazilah) katakan? Bukannya mereka berkata bahwa Asma’ Allah bukan makhluk? Allah selalu bersifat Qadir (Maha Kuasa), ‘Alim (Maha Tahu), ‘Aziz (Maha Agung), Hakim (Maha Bijak), Sami’ (Maha Mendengar), dan Bashir (Maha Melihat). Kita tidak ragu bahwa Asma Allah bukan makhluk, kita tidak ragu bahwa Ilmu Allah bukan makhluk, sedangkan Al-Quran merupakan bagian dari Ilmu Allah dan di dalamnya terdapat Asma Allah, maka kita tidak ragu bahwa Al-Quran bukan makhluk. Al-Quran adalah Kalam Allah Ta’ala, dan Allah selalu bersifat Mutakallim (Maka Berbicara).”

Bagi orang yang sehat pikirannya dan bersih hatinya dari berbagai kepentingan, pernyataan Imam Ahmad diatas tentu dinilai sebagai argumentasi nalar rasional. Argumentasi ini mematahkan tuduhan Muktazilah dan Jahmiyah bahwa Al-Quran adalah makhluk.

Imam Ahmad meneruskan dengan memberi peringatan terhadap orang yang menyuarakan kemakhlukan Al-Quran:

“Jika mereka mengatakan bahwa Al-Quran adalah makhluk, berarti mereka juga beranggapan bahwa Asma Allah juga makhluk, ilmu Allah juga makhluk. Akan tetapi banyak orang yang menganggapnya remeh. Mereka mudah mengatakan Al-Quran makhluk dan menyangka bahwa hal itu tidak ada masalah, padahal di dalamnya ada muatan kufurnya.”

Dari keterangan diatas, masihkah orang yang menuduh Imam Ahmad bin Hanbal tidak rasional dalam mengatakan bahwa Al-Quran bukan makhluk dapat dipertanggungjawabkan pernyataannya?

Ikhtitam

Dengan penjelasan singkat diatas, jelas bahwa penisbatan Imam Ahmad bin Hanbal sebagai salah satu pelopor gerakan Salafiyah merupakan penyimpulan tergesa-gesa tanpa melihat lebih dalam keterangan-keterangan ulama. Hal ini begitu mudah terekspos terutama di dunia akademik perkuliahan karena jargon yang selalu dikoar-koarkan, “makanlah ilmu apapun sebanyak-banyaknya dan berwacanalah sebebas-bebasnya.”

Akhirnya, kami selalu memohon kepada Allah Ta’ala untuk selalu meneguhkan hati dan ta’alluq kami kepada ulama-ulama yang istiqamah dengan ajaran Ahlussunnah wal Jama’ah dan dihindarkan dari berbagai rekayasa yang menjauhkan kami darinya. Amin Ya Rabbal ‘Alamin. WaLlahu A’lam.
** Santri Ribathdeha

“Pengantar Menelaah kitab Mafahim” Karya Syaikhina M. Najih Maimoen Versi Arab-Indo 

Islam merupakan agama yang senantiasa mampu mengarahkan perkembangan zaman serta mampu menjawab berbagai macam problematikanya, dari waktu ke waktu akan selalu lahir ulama yang saling berkesinambungan dari berbagai penjuru sehingga setiap kali muncul pihak-pihak yang mengupayakan penyesatan terhadap pemahaman agama yang hanif ini (baik pihak tersebut dari internal Islam yang sudah mengalami brainwash ataupun dari musuh islam) Allah SWT akan mendatangkan golongan orang-orang yang siap berjuang di jalan Allah SWT tanpa peduli banyaknya kecaman atau cercaaan, mereka mengemban tugas mulia untuk melindungi dan mengembalikan pemahaman sebagai mana mestinya. Guru kami Sayyid Muhammad Alawi Al-Maliki merupakan salah satu dari golongan yang membentengi alur pemikiran islam melalui karangan-karangannya, salah satunya ialah kitab ”Mafahim Yajibu Antushohah.” Kitab ini merupakan karya besar beliau yang  dinilai sangat fenomenal karena mengkaji permasalahan-permasalahan substansial yang seringkali tidak diketahui oleh umat islam sehingga menjadi celah bagi musuh islam untuk melakukan penyesatan. Dalam kitab ini beliau menyanggah pihak-pihak yang berseberangan dengan beliau  melalui argumen yang ilmiyah, tegas serta sistematis.

Dan Alhamdulillah, atas anugerah Allah beberapa waktu lalu kami telah menyelesaikan karya kami yang kami beri nama:

“جل المواقف وكلمات الإمام السيد محمد علوي المالكي المسطورة في غير كتابه المفاهيم حول القضايا المهمة معرفتها”

Kitab ini sengaja kami dedikasikan untuk guru tercinta kami Sayyid Muhammad Alawi Al-Maliki rahimahullahu ta’ala. Sebenarnya kami tidak berani lancang untuk membedah keterangan-keterangan serta pandangan-pandangan beliau yang tertuang pada kitab Mafahim yang sudah sangat terkenal dan tersohor. Namun karena banyaknya permintaan dari para santri Madrasah Mafahim serta adanya mandat dari kantor Hai’ah Assofwah Al-Malikiyah kami sedikit menulis seputar isi dari kitab Mafahim yang luar biasa ini. Isi dari kitab Mafahim merupakan intisari dari pemikiran guru kami Sayyid Muhammad Alawi Al-Maliki yakni konklusi dari hasil diskusi beliau dengan para ulama besar Arab Saudi tepatnya di kota Thaif pada akhir dekade 70 sampai awal dekade 80 M. Namun Alasan inilah yang memotivasi kami untuk kemudian menulis risalah ini dan kami menamainya dengan nama:

“المدخل الى دراسة مفاهيم يجب أن تصحح”

sebagai jawaban atas permintaan dari Forum Alumnus Abuya Sayyid Alawi Al-Maliki. Hal ini kami angggap sebagai perintah langsung dari beliau. Semoga Allah SWT menjadikan risalah ini sebagai risalah yang bermanfaat dan bisa menjadi rujukan generasi Ahlussunah Wal Jamaah pada khususnya, serta bermanfaat bagi ummat islam secara menyeluruh dengan barokah kedudukan Rasulullah Alaihi Shalatu Wassalam yang agung dan keluarga beserta shahabat-shahabatnya di sisi Allah SWT, Alhamdulillahirobbil Alamin.
** KH. M. Najih Maimoen.

Cara Nabi Muhammad SAW Mengajar dan Berdakwah

Dalam mengajar dan berdakwah, Nabi Muhammad SAW selalu mengikuti cara yang telah digariskan Allah SWT dalam al-Qur’an: 

ادْعُ إِلَى سَبِيلِ رَبِّكَ بِالْحِكْمَةِ وَالْمَوْعِظَةِ الْحَسَنَةِ وَجَادِلْهُمْ بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ إِنَّ رَبَّكَ هُوَ أَعْلَمُ بِمَنْ ضَلَّ عَنْ سَبِيلِهِ وَهُوَ أَعْلَمُ بِالْمُهْتَدِينَ 

Artinya: ”Ajaklah manusia ke jalan Allah dengan hikmah dan penerangan yang baik. Dan bantahlah mereka dengan cara yang baik pula. Sesungguhnya tuhanmu, Dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya. Dan Dialah yang lebih mengetahui orang yang mendapat petunjuk.”(QS. An-Nahl:125)

Ayat diatas merupakan gambaran lengkap tentang cara menyampaikan ajaran Allah SWT kepada manusia yang berbeda-beda sifat, tabiat dan pembawaannya. Ada manusia yang gandrung mencari kebenaran, ada juga golongan awam, dan adapula yang apriori dan menolak. Maka, untuk menghadapi kelompok-kelompok yang beraneka ragam itu perlu diterapkan cara yang sesuai dan tepat. Karena itu, Rasulullah SAW dalam menyampaikan sesuatu selalu menilai lebih dahulu tingkat kecerdasan dan daya tangkap masing-masing orang. Sebelum berbicara, beliau selalu melihat apa dan siapa yang dihadapi. Kepada setiap kelompok atau golongan, beliau menggunakan tutur kata yang dapat dimengerti dan dipahami dengan sebaik-baiknya, apalagi didukung  kepribadian beliau yang sangat berwibawa. Sehingga, segala ucapannya selalu berkenan dihati dan didengarkan dengan penuh minat.

Al-Qadli ‘Iyadl berkata: “Allah SWT telah menyelubungi segala yang diucapkan Nabi Muhammad SAW dengan rasa cinta dan mudah diterima, indah dan sedap didengar telinga. Oleh karena itu kata-kata beliau tidak selalu diulang-ulang hingga  berkali-kali. Sebab tidak ada sepatah kata pun yang tergelincir dan tidak pernah kekurangan argumentasi yang diperlukan.”

Bila kita melihat kenyataan itu, maka ayat tersebut diatas menjadi pegangan Nabi Muhammad SAW di dalam menyampaikan ajarannya. Dan pada hakikatnya telah ditentukan garis dan tata cara menghadapi tiga golongan yang ada dalam masyarakat disetiap waktu dan tempat.

Golongan pertama: ialah kelompok khusus. Dalam menyampaikan dakwah kepada mereka, perlu dilakukan dengan cara hikmah dan rasional. Yakni setiap keterangan hendaknya disertai dengan dalil dan argumentasi yang meyakinkan. Karena golongan ini tidak akan puas  dan mudah menerima, kecuali disertai dengan keterangan yang berdasarkan alasan kuat dan mantap, yang akhirnya membuat mereka bisa menerima dan mengikuti jalan yang haq dan benar.

Golongan kedua; ialah masyarakat awam atau rakyat biasa. Mereka cukup diberi keterangan dan tuntunan dengan uraian dan keterangan yang baik dan mengesankan. Dan untuk meyakinkan bahwa apa yang disampaikan dan diberikan kepada mereka itu semata-mata untuk kebaikan dan keuntungan mereka. Kalimat yang terlalu tinggi dan argumentasi yang mendetail tidak diperlukan lagi bagi kelompok ini. Karena biasanya mereka tidak banyak cingcong dan tidak ada hal-hal sulit yang dipersoalkan.

Golongan ketiga: ialah golongan yang menentang dan ngotot dalam menerima kebenaran, betapa pun jelas dan gamblangnya. Golongan yang satu ini harus dihadapi dengan sikap yang lunak, lemah lembut, dan bijaksana guna menenangkan gejolak hati yang dirangsang emosi, kalau-kalau mereka insyaf dan kembali ke jalan Allah SWT.

#KH. M. NAJIH MAIMOEN

Atas ↑

%d blogger menyukai ini: