TANGGAPAN SYAIKH MUHAMMAD NAJIH TERHADAP PERNYATAAN-PERNYATAAN BUYA SYAKUR DI MEDIA SOSIAL

Pada tanggal 25 dan 27 Desember kemarin Syaikh Muhammad Najih memberi tanggapan terhadap beberapa pernyataan penceramah bernama Buya Syakur yang akhir-akhir ini cukup menjadi trending topic di masyarakat.

Buya Syakur dalam video-video ceramahnya banyak melontarkan pernyataan-pernyataan kontroversial mulai dari mengatakan umat Islam selama 1400 tahun telah salah menafsirkan ayat hukuman pencuri,

Tafsir didominasi kepentingan penguasa, kewujudan tuhan tidak bisa ditemu akal, dan sebagainya. Karena lagi-lagi menggelontorkan isu-isu yang berpotensi kuat memperkeruh kondisi umat Islam,

Maka Abah Najih angkat bicara untuk menanggapi pernyataan-pernyataan Buya Syakur tersebut. Berikut kutipan tanggapan Abah Najih yang disiarkan lewat akun Youtube dan Fanpage resmi Ribath Darusshohihain tersebut:

“Tadi pagi saya membuka WA. Saya dikirimi oleh teman saya Habib Miqdad Baharun.
Ada ceramah dari orang yang dijuluki Buya Syakur. Mungkin orang Cirebon atau Indramayu.
Dia pidato atau pengajian mengatakan umat Islam selama 1400 tahun tersesat atau melakukan salah tafsir terhadap ayat:

وَالسَّارِقُ وَالسَّارِقَةُ فَاقْطَعُوا أَيْدِيَهُمَا

Artinya: “Pencuri lelaki dan pencuri wanita maka potonglah tangan-tangan mereka.” (QS. Al-Maidah: 38)

Katanya umat Islam salah tafsir mulai dari Shahabat, Madzhahibul Arba’ah, Fuqaha, dst.
Na’udzubiLlah min dzalika. Sampai begitu bodohnya orang yang dinamakan Buya itu.
Dalam video itu dia kayaknya alumni dari Tunisia.

Negara Tunisia itu memang negara Arab, tapi hukumnya atau negaranya sekuler. Mungkin dia baca-baca buku orang sekuler dan anti Syari’ah sampai bilang 1400 tahun umat Islam salah. Dia bilang, menurut saya bukan saja menyalahkan shahabat,

Madzahibul Arba’ah, atau Fuqaha Mujtahidin yang semuanya ijma’ pencuri dipotong tangannya. Berarti dia barangkali tidak baca kitab Fiqih di pesantren, tidak baca Fathul Qarib dan Fathul Mu’in, atau sudah baca tapi dia mengingkari karena dia mungkin sudah kemasukan paham sekuler,

fashl al-din ‘an al-daulah (memisahkan agama dari negara), atau dia kemasukan madzhab Syi’ah. Syi’ah itu tidak peduli kalau dia mengkritik Shahabat, istri-istri Rasul, bahkan mengkritik Kanjeng Nabi.

Gus Dur Pemuji Khumaini

Pernah saya mendengar dari habib-habib Surabaya bahwa Gus Dur pada haul Sunan Ampel di awal-awal tahun 90-an, dia bilang bahwa tokoh perjuangan Islam yang hebat di abad ini hanya ada dua, yaitu Syaikh Abdul Qadir al-Jazairi dan Imam Khumaini.

Langsung saya waktu itu mengarang buku namanya Sabb al-Nabiy Yuqtalu bi Ijma’ al-‘Ulama fa Kaifa Nahtarimuhu.
Orang yang mencela Kanjeng Nabi harus dibunuh menurut Ijma’ ulama, bagaimana kita harus menghormatinya. Yang saya maksud disini adalah Khumaini,

karena Khumaini mencaci maki nabi Muhammad ShallaLlahu ‘alaihi wa Sallama dengan mengatakan di waktu khutbahnya bahwa Nabi Muhammad tidak berhasil menancapkan keadilan di permukaan bumi.

Yang berhasil adalah Imam Mahdi al-Muntazhar yang ditunggu-tunggu Syi’ah. Di bukunya berjudul al-Hukumat al-Islamiyyah halaman 12 dia bilang termasuk dasar-dasar madzhab kita (Syi’ah) bahwa imam-imam kita kedudukannya di atas kedudukan nabi bahkan malaikat. Berarti Imam Dua Belas lebih diunggulkan diatas Nabi Muhammad ShallaLlahu ‘alaihi wa Sallama bahkan nabi-nabi lain. Kita meyakini orang yang menghina nabi berhak dibunuh. Ini Ijma’ ulama. Ada hadits:

من سب الأنبياء قتل

Artinya: Siapa yang mencela para nabi maka berhak dibunuh. (Alauddin Hindi, Kanz al-‘Ummal fi Sunan al-Aqwal wa al-Af’al, juz 11 hlm. 531)

Kita tidak terima nabi dicaci-maki oleh Khumaini waktu itu. Mungkin dia tidak baca kitab pesantren atau baca tapi sudah kemasukan virus sekuler atau sekarang istilahnya Islam Nusantara yang tidak mau hukum agama sama sekali, atau barangkali virus Syi’ah.

Kalau dikatakan sesat 1400 tahun berarti mencakup Nabi Muhammab ShallaLlahu ‘alaihi wa Sallama.
Di dalam hadits-hadits Rasulullah ShallaLlahu ‘alaihi wa Sallama juga pernah memotong tangan pencuri.

Bacalah kitab-kitab Imam al-Tirmidzi, Imam Ahmad, Imam Abu Dawud, dst.

Buya Syakur, Abu Ala al-Ma’arri, dan Syair Zandaqah

Jadi, bagaimana bisa begini? Pernah kejadian dulu ada orang namanya Abu Ala al-Ma’arri yang memiliki dua bait bernama Zandaqah. Para ulama menamakannya Zandaqah. Bahasa sekarang namanya Islamophobia. Orang Islam tapi anti hukum Islam. Sekuler, Islamophobia, Zindiq, itu sama saja. Dia berkata:

يَدٌ بِخَمْسِ مِئِيْنَ عَسْجَدَ وَدِيَتْ # مَا بَالهُاَ قُطِعَتْ فِي رُبْعِ دِيْنَار

تَنَاقُضٌ مَا لَنَا إِلاَّ السُّكُوْتُ لَهُ # وَأَنْ نَعُوْذَ بِمَوْلاَناَ مِنَ النَار

Satu tangan seharga lima ratus emas dan diyat # Apa urusan tangan dipotong karena mencuri seperempat dinar

Ini konyol, tapi kita hanya bisa diam # dan meminta lindungan Tuhan dari api neraka

Dia mempertanyakan seperti pertanyaannya milenial-milenial seperti Muwafiq atau liberal lah. Dia bilang katanya memotong tangan itu diyatnya 500 dinar atau 50 unta.

Satu tangan diyatnya 50 unta. Kalau waktu itu 1 unta harganya 10 dinar berarti harganya 50 dinar. Diyat 2 tangan berarti 100 unta.

Kenapa semua itu dipotong tangan itu gara-gara mengambil ¼ dinar? Itu tahakkum atau akal-akalan saja.
Ini omongannya zindiq. Na’udzbiLlah min dzalika.

Ini di pertanyakan lagi oleh Buya Syakur.
Ucapannya itu memasukkan Nabi Muhammad ShallaLlahu ‘alaihi wa Sallama, Shahabat, semua imam dan fuqaha diejek dan dianggap salah semua. Zandaqah ini.
Tidak percaya pada ulama, shahabat, Rasulullah ShallaLlahu ‘alaihi wa Sallama,
dan hadits-hadits yang meriwayatkan potong tangan pencuri, mencaci-maki, mengejek, sombong, dst.

Gara-gara kemasukan paham sekuler, Islamophobia, Islam Nusantara, atau kemasukan Syi’ah. Yang membikin Islam Nusantara Said Aqil, kan? Dia juga Syi’ah.

Dulu saya pernah menolak omongan Said Aqil bahwa Nabi Muhammad ShallaLlahu ‘alaihi wa Sallama tidak berhasil mempersatukan Arab. Dulu awal-awal saya baru datang dari Makkah.

Penjelasan Ayat Potong Tangan Pencuri

Jadi ngeri sekali. Dia mempertanyakan ayat:

فَاقْطَعُوا أَيْدِيَهُمَا

Artinya: “Maka potonglah tangan-tangan mereka.” (QS. Al-Maidah: 38)

Kenapa disini memakai kata aidi (tangan-tangan),
mengapa tidak memakai yadain (dua tangan). Ini sudah dibahas tuntas oleh ulama kita.

Al-Sam’ani mengatakan kalau ada kata bermakna anggota manusia di-mudlaf-kan kepada dua orang,
maka kata itu dibentuk jamak (plural). Biasa orang Arab begitu. Jadi kata al-sariq itu bukan pencuri satu,
tapi jenis pencuri lelaki, dan sariqah itu pencuri perempuan. Ada lagi qira’ah dari Abdullah bin Mas’ud:

فَاقْطَعُوْا أَيْمَانَهُمَا

Artinya: “Maka potonglah tangan-tangan kanan mereka.” (QS. Al-Maidah: 38)

Qira’ah ini menolak keraguan dia tangan yang dipotong itu yang kanan apa kiri?
Kalau di hadits-hadits jelas yang pertama dipotong yang kanan.
Kalau dia berkata yang dicuri berapa tidak ditentukan di Al-Quran, lha itu ada haditsnya.

Makanya kita ini Ahlussunnah wal Jama’ah, bukan Ahlul Qur’an saja. Kalau Al-Quran saja bisa jadi Khawarij.
Khawarij itu ada yang kuno, ada yang baru. Khawarij baru ya liberal itu, begitu juga sekuler.

Jadi kalau Khawarij dulu saling mengkafirkan kelompok-kelompok yang tidak mau ikut dia,
maka Khawarij baru ini membodoh-bodohkan ulama, Shahabat, bahkan Nabi Muhammad ShallaLlahu ‘alaihi wa Sallama. Membodohkan Aisyah seperti kasus Muwafiq. Na’udzubiLlah min dzalika.
Membodohkan Aisyah berarti membodohkan Kanjeng Nabi.
Itu kayak main karambol. Kufurnya orang sekarang itu sepeti karambol.

Di dalam Shahih Bukhari-Muslim ada juga riwayat pencuri dipotong tangannya.

Kok dia mempermalasahkan qath’ itu belum tentu maknanya memutus. Memang ada qath’ yang tidak memutus seperti qath’u tariq (begal). Tapi dia menghalang-halangi (memutus) jalan akhirnya orang takut. Dia preman di jalan, akhirnya jalan sepi.

Dalam hadits-hadits juga diterangkan bahwa kata yad (tangan) itu dari pergelangan, bukan dari siku, lengan, apalagi Pundak. Jelas tidak.
Ini sudah maklum bagi kita Ahlussunnah wal Jama’ah.
Kita tidak tendensi hanya Al-Quran belaka. Tidak seperti Khawarij. Khawarij itu macam-macam,
ada yang kuno dan ada yang baru. Di dalam hadits diterangkan pula potong tangan itu syaratnya harus satu nishab, yaitu ¼ Dinar atau 3 Dirham.

Walhasil, kita harus percaya dengan Al-Quran yang mujmal (global) dan diperinci oleh Sunnah Rasul ShallaLlahu ‘alaihi wa Sallama. Bahkan ada riwayat dari al-Tirmidzi:

سنن الترمذى – مكنز – ) 6 /23)

أُتِىَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- بِسَارِقٍ فَقُطِعَتْ يَدُهُ ثُمَّ أَمَرَ بِهَا فَعُلِّقَتْ فِى عُنُقِهِ

Artinya: Didatangkan seorang pencuri kepada Rasulullah ShallaLlahu ‘alaihi wa Sallama,
dipotong tangannya lalu diperintahkan agar digantungkan tangan si pencuri di lehernya.
(al-Tirmidzi, al-Sunan, juz 6 hlm. 23)

Setelah dipotong tangan pencuri digantungkan pada lehernya supaya kapok.
Supaya orang melihat akhirnya tidak berani mencuri. Ini saking adilnya Syari’ah Islam. Ada hadits lagi:

مصنف ابن أبي شيبة – (9 / 510)

إِذَا سَرَقَ فَاقْطَعُوا يَدَهُ ، ثُمَّ إِنْ عَادَ فَاقْطَعُوا رِجْلَهُ ، وَلاَ تَقْطَعُوا يَدَهُ الأُخْرَى ،

Artinya: Jika seseorang mencuri maka potonglah tangannya, lalu jika ia melakukan lagi maka potonglah kakinya,
jangan potong tangannya yang lain.
(Ibn Abi Syaibah, al-Mushannaf, juz 9 hlm. 510)

Adalagi riwayat:

ثُمَّ سَرَقَ أَيْضًا الْخَامِسَة , فَقَالَ أَبُو بَكْر : كَانَ رَسُول اللَّه صَلَّى اللَّه عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَعْلَم بِهَذَا حِين قَالَ : اُقْتُلُوهُ

Artinya: Kemudian pencuri itu mencuri untuk kelima kalinya, maka Abu Bakr berkata: Rasulullah ShallaLlahu ‘alaihi wa Sallama diberitahu hal ini, lalu belua bersabda, “Kalian bunuhlah dia.” (al-Nasai, al-Sunan, juz 8 hlm. 90)

Cuma hadits ini tidak diambil para ulama. Katanya hukuman bunuh sudah di-naskh (revisi). Wallahu A’lam.

Natal 25 Desember = Penyembahan Dewa Matahari

Ini mengerikan sekali sekarang ini. Setelah kita ditinggal para ulama, habaib sepuh,
maka berkeliaran di kita video-video dan pengajian yang mencaci-maki Shahabat, Ahlul Bait, Salafusshalih, Imam-imam Madzhab, dan Mujtahidin.

Inna liLlahi wa inna ilaihi Raji’un. Sangat bahaya sekali. Dan karena saya tidak sengaja live hari ini tanggal 25 Desember,
maka saya menyelipkan bahaya-bahaya ikut natalan atau tahun baru.

Natal menurut Ustadz Bangun Samudra mantan pastur lulusan Vatikan, pada tanggal 25 Desember adalah Misteri Kaldian (Chaldean Mystery) dimana yang terjadi adalah kelahiran dewa Ba’al, dewa matahari yang dipuja kaum pagan Babilonia.
Misteri Kaldian adalah perkawinan antara raja Nimrod dan ratu Semiramis.

Kejadian ini diterangkan pada Taurat pasal 22.
Perayaan dewa matahari itu sudah lama dirayakan oleh kaum Romawi dengan simbol matahari plus gambar ibu dan anak sebagai simbol dewi Sameramis dan dewa Nimrod.
Agar kaum Kristen bisa masuk Romawi,

maka ibu dan anak itu diganti dengan gambar Maryam dan anaknya Isa.
Jadi ini hakikatnya memuja dewa matahari. Makanya di Amerika ada patung Liberty.
Natal 25 Desember ini membahayakan karena ada penyembahan mataharinya.
Makanya orang Kristen menghadap ke timur, sama dengan Darmo Gandhul.

Hampir semua orang Kristen percaya bahwa natal jatuh tanggal 25 desember.
Menurut sejarah Yesus yang dipercaya sebagai juru selamat lahir pada tanggal itu. Untuk memperingatinya,

selain beribadah orang Kristen merayakan dengan berkumpul bersama keluarga dan bercengkrama dengan sahabat.
Namun ternyata orang Kristen lainnya tidak meyakini bahwa natal jatuh pada 25 Desember.

Uskup Abraham beberapa waktu lalu mengungkap perbedaan ini bersumber dari kalender yang berbeda di kalangan lembaga gereja di seluruh dunia.

Oleh karena itu, orang-orang menggunakan penanda musim dingin untuk menandai kelahran tersebut.

Dulu gereja di seluruh dunia sepakat merayakan natal pada 24 Desember,
disepakati sebagai hari lahirnya Yesus oleh penganut Kristen dari belahan bumi barat.

Mereka menghitung berdasarkan kalender Gregorian. Sedangkan penganut gereja Ortodoks yang menggunakan kalender Julian pun sama jatuh pada 25 Desember.
Kalender Julian adalah penanda waktu yang digunakan oleh Julius Caesar pada 46 SM.

Namun seiring pergantian waktu, kalender Gregorian dan Julian tidak memiliki kesamaan waktu.
Pada tahun 16 Paus Gregorius XIII dari gereja Katolik Roma mempelajari astronomi dan menyadari bahwa kalender Julian memiliki waktu 11 menit lebih pendek dari tahun matahari yang sebenarnya.
Akhirnya Paus Gregorius menghitung ulang dan menemukan perbedaan tangal lahir Yesus.
Oleh karena itu, natal di kalender Julian terjadi 13 hari setelah 25 Desember yaitu 7 Januari.

Adapun bangsa Romawi ketika itu memeluk agama pagan dengan memuja dewa-dewi yang jumlahnya sangat banyak.
Mereka terkenal sangat mengumbar kesenangan ragawi.
Mereka mengatakan raga yang sempurna dan kecantikan lahirian sangat penting dan kenikmatan ragawi harus dikejar selama-lamanya.

Sebab itu lelaki Roma sangat gandrung dengan olahraga yang bisa membentuk kekuatan fisik, memperbesar otot,
dan merawat tubuhnya. Kebiasaan lelaki Romawi ini sekarang diwarisi oleh apa yang disebut pria metroseksual.

Sedangkan wanita sangat memelihara tubuh dari sisi sensualitasnya.
Mereka sangat bangga ketika dikejar-kejar oleh banyak pria.
Bahkan bukan rahasia lagi bahwa wanita Romawi saat itu berlomba-lomba untuk dijadikan piala bergilir para lelaki Roma. 14 Februari selalu ditunggu-tungguh oleh mereka untuk memuaskan hasrat rendahnya dengan menggelar pesta syahwat di seluruh kota.
Ini yang disebut banyak orang sebagai hari Valentine yang sesungguhnya berasal dari perayaan perzinaan.

Keyakinan pria pagan Roma itu berasal dari dua sumber yaitu tradisi Osirian Mesir Kuno dan ilmu-ilmu sihir Babilonia.
Keduanya bergabung dan sekarang dikenal dengan Kabbalah. Mereka memiliki hari-hari istimewa yang dirayakan tiap tahun, termasuk tanggal 25 Desember sebagai hari kelahiran anak dewa matahari atau Sol Invictus.

Sebagian orang menganggap istilah anak dewa matahari ini dinisbatkan kepada Namrudz (Nimrod) yaitu raja yang mengejar-ngejar Nabi Ibrahim ‘alaihi al-Salam. Kepercayaan mereka dewa matahari lahir pada hari minggu,
karena itu mereka menyebut hari minggu sebagai Sunday yakni Hari Matahari. Mereka juga beribadah di hari tersebut.
Semua ini diadopsi ke Kristen sampai sekarang.

Hari natal memiliki arti hari kelahiran.
Hanya Gereja Barat yang merayakan natal pada tanggal 25 Desember, sedangkan Gereja Timur tidak mengakui natal pada tanggal tersebut. Lucunya,
di tahun 1994 Paus Yohannes mengumumkan kepada umat Kristen jika Yesus tidak dilahirkan pada 25 Desember.

Tanggal itu dipilih karena merupakan perayaan di tengah musim dingin kaum pagan. Saat itu kaum Katolik gempar,
padahal banyak sejarawan mengatakan bahwa 25 Desember itu sebenarnya adalah perayaan kelahiran banyak dewa pagan seperti Osiris, Atis, Tamuz, Dionisius, dll. Na’udzubiLlah min dzalika.

Walhasil, tadi Buya Syakur cerita bahwa dia pernah ke Roma. Melihat tempat olahraga, tempat tanding Gladiator (Colosseum), dst.
Dia membanggakan dirinya yang bisa sampai ke Roma, padahal itulah sumber kesesatan agama Nasrani.

Puncaknya setelah diadopsi oleh Roma. Akhirnya ada natal 25 Desember itu yang sebetulnya tidak cocok seperti sudah saya terangkan kemarin. Ini bahayanya.

Gus Dur: Yesus adalah Juru Selamat (?)

Kemudian saya tadi pagi diberi kiriman oleh KH. Zuhrul Anam ipar saya, ada meme bahwa Gus Dur mengatakan merayakan natal ini sebetulnya bukan orang Kristiani saja,
hatta umat Islam dan seluruh dunia ini harus menghormati kelahiran Yesus Kristus karena Yesus sebagai juru selamat seluruh manusia.
Na’udzubiLlah min dzalika. Inilah ucapan Gus Dur, zahir akidahnya juga sama karena dia sudah sering dibaptis dimana-mana. Na’udzubiLlah min dzalika.

Ada yang tanya yaitu Kiai Faurak dari Sampang, apa ini benar kalam Gus Dur.
Disini saya sampaikan bahwa saya mendengar sendiri ketika ada maulid di Benda Bumiayu,
dia mengatakan umat Islam wajib tidak hanya Maulid Rasul saja tapi harus Maulid Yesus Kristus.

Saya dulu memahami Yesus Kristus itu al-Masih yang ada di Al-Quran,
tapi al-Masih itu hanya sekedar tangannya barakah. Tapi malah dari meme ini jadi juru selamat umat manusia. Berarti ia mengatakan Nabi Isa itu diatas Nabi Muhammad ShallaLlahu ‘alaihi wa Sallama,
padahal Nabi Isa ini yang nantinya ikut Syari’ah Nabi Muhammad. Dia yang membunuh al-Masih Dajjal.

Kalau dia membela Islam dan umat Muhammad memang iya, tapi kalau dia juru selamat dalam arti semua manusia bisa masuk surga,


INI GIMANA ?

Padahal Allah sudah menjanjikan surga dan mengancam neraka. Juru selamat artinya apakah semuanya masuk surga? Tidak bisa.

Nabi Muhammad ShallaLlahu ‘alaihi wa Sallama itu memberi syafa’at kepada umatnya saja untuk masuk surga.
Kalau syafa’at kepada yang lain itu untuk masalah hisabnya agar dipercepat,
syafa’at dari beratnya menunggu di Padang Mahsyar. Tapi kalau masuk surga harus punya Syahadatain dari hati, bukan dari lisan belaka.

Puncak hal ini nanti adalah tahun baru.
Jadi hakikatnya Kristen itu mereka disesatkan. Mereka punya paham Isa anak tuhan itu sudah sesat,
disesatkan lagi dengan tanggal 25 Desember yang sebetulnya adalah natalnya dewa-dewa yang disembah oleh Romawi.

Mereka dibohongi seolah-olah Romawi masuk Kristen untuk menghormati, padahal itu hari kelahiran dewa matyahari. Jadi ada pluralisme,
menggabungkan Kristen yang katanya anti berhala tapi malah menyembah berhala berupa manusia yang digabungkan dengan berhala-berhala Romawi yang hakikatnya adalah manusia,

yakni Raja Namruz yang kawin dengan ibunya. Na’udzubiLlah min dzalika. Nanti puncaknya tahun baru ini.
Ada terompet atribut Yahudi, sinterklas itu Nashara, kembang api itu Majusi. Na’udzubiLlah min dzalika.

Mari kita bersihkan diri sesuai agama yang suci. Penyembahan kita hanya kepada Allah Ta’ala.
Lainnya tidak punya sifat tuhan. Jangan sampai kita ikut pluralisme dan jangan memuji-muji orang yang punya paham pluralisme karena sanagat berbahaya.
pluralisme itu syirik yang pacaran, syirik yang selingkuh. Mengaku Kristen,

tapi menyembah api dan matahari. Kita yang Islam disuruh ikut-ikutan. Makanya disepikan saja tahun baru itu karena mengandung pluralisme. Semoga ada manfaat yang besar bagi anak cucu kita.

Mengenal Kewujudan Tuhan Itu Fitrah Manusia

Kemarin hari Kamis saya dikirimi video kajian Buya Syakur tentang hakikat tuhan yang menurut orang-orang liberal atau orang-orang milenial tidak bisa ditemu oleh akal atau logika. Bahkan dengan gaya jahat dan tidak punya adab ada istilah takut dengan rasional. Na’udzubiLlah min dzalika.

Saudara-saudara umat Islam yang saya muliakan, lebih-lebih kaum santri. Tuhan kita Tuhan alam semesta ini semenjak dulu sudah diketahui oleh manusia, dan manusia itu aslinya juga yakin Adam dicipta di surga Allah. Walaupun kita tidak meyakini Adam melihat Allah di surga, akan tetap dia sangat merasakan keberadaan Allah yang berfirman:

وَقُلْنَا يَا آدَمُ اسْكُنْ أَنْتَ وَزَوْجُكَ الْجَنَّةَ وَكُلَا مِنْهَا رَغَدًا حَيْثُ شِئْتُمَا وَلَا تَقْرَبَا هَذِهِ الشَّجَرَةَ فَتَكُونَا مِنَ الظَّالِمِينَ [البقرة : 35]

Artinya: “Dan Kami katakan: Wahai Adam. Menetaplah bersama istrimu di surga. Makanlah apapun yang kalian mau, tapi jangan dekat-dekat dengan pohon ini sehingga kalian berdua termasuk orang-orang zalim.” (QS. Al-Baqarah: 35)

وَعَلَّمَ آدَمَ الْأَسْمَاءَ كُلَّهَا ثُمَّ عَرَضَهُمْ عَلَى الْمَلَائِكَةِ فَقَالَ أَنْبِئُونِي بِأَسْمَاءِ هَؤُلَاءِ إِنْ كُنْتُمْ صَادِقِينَ [البقرة : 31]

Artinya: “Dan Allah mengajarkan seluruh nama-nama kepada Adam, kemudian Allah menyodorkan benda-benda tersebut kepada malaikat seraya berkata, “Beritahu aku tentang nama-nama benda ini jika kalian benar.” (QS. Al-Baqarah: 31)

Allah Ta’ala sendiri yang mengajari Adam semua bahasa ini. Makna bahasa secara global juga diajarkan kepada Adam.
Kemudian Allah memperlihatkan musammayat (benda-benda yang dinamai) itu kepada malaikat.
Allah bertanya, “Ini namanya apa?” Mereka tidak tahu karena tidak diberi tahu. Yang diberitahu adalah Adam.

Jadi manusia mengenal tuhan itu fitrah. Aslinya manusia tahu tuhan. Makanya anak kecil ketika lahir langsung menangis dan bersuara “oek oek”. Itu kan memanggil tuhan,
karena dia lahir belum kenal ibunya. Kemudian setelah kenal baru diajak bicara kemudian dia berkata “ummi ummi”.

Jadi kita mengatakan itu sudah fitrah. Bahkan ada kitab filsafat bernama Hayy bin Yaqzhan.
Dulu Abuya Sayyid Muhammad Alawi menceritakan bahwa di kitab itu ada orang hidup dari kecil di hutan belantara. Tepatnya di papua, di daerah Waqwaq (Fakfak).

Dia tidak kenal apa-apa. Setelah itu dia hidup bersama hewan. Mungkin film Tarzan mengambil dari situ.
Kemudian, meski dia hidup bersama hewan, dia bisa mengenal tuhan lewat hewan-hewan itu.
Dia lalu bertemu manusia, lalu tahu peradaban, tahu bahasa manusia, akhirnya bertambah kuat keyakinannya terhadap Tuhan Yang Maha Esa.

Jadi ilmu falsafah sendiri banyak yang mengakui tuhan, dan memang pokok dari fisafat itu adanya tuhan.
Jadi adanya tuhan itu suatu masalah yang selalu dicari-cari tapi sebenarnya sudah fitrah dari manusia.

Ketika kita diberitahu siapa pencipta langit bumi jagad raya, matahari,
kita diberitahu ada Tuhan Yang Maha Esa Tuhan semesta alam, maka akal kita langsung menerima.
Masa’ yang menciptakan langit bumi itu penduduk langit bumi sendiri? Tidak mungkin.
Itu sama sama jeruk makan jeruk. Sudah fitrah manusia.

Apa yang saya sampaikan ini wujudnya Allah itu tabiat manusia yang normal.
Jika tidak dihalang-halangi setan paham komunis, ateis, penyembahan berhala, dst, manusia akan gampang menerima ketuhanan Allah yang Maha Satu.

Maha Satu itu apa? Allah itu Satu, dia punya jenis yang Satu. Artinya beda dengan yang ada di makhluk-Nya. Apa itu makhluk materi maupun non-materi,
allah punya karakteristik tersendiri yang berbeda dengan jenis-jenis apa yang ada di makhluk. Itu artinya satu.
Makanya Allah berfirman:

لَمْ يَلِدْ وَلَمْ يُولَدْ (3) وَلَمْ يَكُنْ لَهُ كُفُوًا أَحَدٌ (4) [الإخلاص : 3 ، 4]

Allah tidak mungkin berputra, nanti kalau berputra maka Dia punya saingan. Punya penyama. Apalagi dilahirkan. Tambah ngeri lagi. Nanti Allah tidak Qadim (tidak berawal), bukan pencipta, tapi setengah dicipta. Tidak ada yang menyamai Allah dalam keSucian-Nya, keEsaan-Nya, dan keTunggalan-Nya. Allah itu Maha Tunggal. Gak ada yang menyamainya. Tapi Allah itu bisa dilihat walaupun tunggal. Ini masalah keyakinan atau gaib, kita tidak tahu bagaimana caranya.

Dalil Alam Cukup untuk Meyakini Adanya Tuhan

Jadi bodoh kalau dikatakan bahwa Allah tidak bisa ditemu akal.
Memang akal tidak bisa menentukan Allah itu gimana bentuknya, tapi akal tahu kewujudannya. Gampang sekali.
Anak kecil saja bisa tahu walaupun belum sempurna akalnya, tidak usah dalil-dalil Mantiq maksud saya. Tidak perlu:

العَالَم مُتَغَيِّر، وَكُلُّ مُتَغَيِّر حَادِث، فَالْعَالَم حَادِثٌ يَحْتَاجُ إِلَى مُحْدِث

Artinya: Alam itu berubah, setiap hal yang berubah itu baru, maka alam itu baru dan butuh dengan pencipta.

Tidak harus begitu, karena di ilmu Kalam perubahannya bil imkan (bersifat dimungkinkan).
Alam bisa wujud karena ada yang mewujudkan. Ada yang mengatakan alam itu berubah,
khususnya benda-benda atas. Planet-planet berjalan dan beredar di orbit-orbitnya. Kalau berubah berarti harus ada yang membuat dia berubah.
Sekarang bumi juga kan berjalan menurut falak kuno, hatta falak sekarang juga mengelilingi matahari.

Saudara-saudara sekalian. Jadi sangat bodoh orang mengatakan Allah tidak bisa dirasio.
Yang tidak bisa dirasio itu bentuknya. Adapun wujudnya sangat-sangat bisa dirasio.
Bahkan tanpa dalil Mantiq sudah bisa. Semisal, bentuk langit bumi itu sudah menunjukkan tanda-tanda butuh kepada Allah.
Apalagi pergantian siang malam. Siapa yang membuat itu? Jelas Allah, tidak usah bertele-tele.
Tidak usah dalil-dalil muqaddimah sughra (anteseden) dan muqaddimah kubra (konsekuen).

Saya bukan anti ilmu Kalam, akan tetapi menurut saya dalil-dalil Al-Quran itu sangat cocok dengan fitrah manusia.
Tidak harus intelektual, tidak harus profesor botak, dengan dalil alam pun akal sudah bisa menerima.

Bahkan banyak orang-orang yang mengaku cerdas seperti penceramah tadi malah bahasanya meragukan Al-Quran.
Dia mengatakan, “Yang memberitakan Al-Quran siapa katanya? Manusia.
Apakah manusia tentu benar? Belum tentu. Yang memberi sejarah siapa? Manusia, manusia belum tentu benar.”

Kalau sudah khabar Mutawatir, masa’ bisa diragukan? Khabar Mutawatir urusan dunia saja, lah.
Kita diberitahu misalnya ada kota Baghdad dan London.
Bukan urusan agama, urusan dunia saja khabar Mutawatir memberi ilmu.
Apalagi urusan agama dari orang agama seperti Shahabat, Tabi’in, dan ulama.

Sekarang khabar yang ada di Sunan Bukhari Muslim atau al-Kutub al-Shihhah yang masyhur-masyhur itu walaupun disana ada hadits dlaif,
tapi kalau urusan wahyu seperti hadits Permulaan Wahyu masa’ diragukan? Dikatakan ini ada sensor,
ini ada rekayasa. Itu hadits dari Aisyah, itu kata ulama Mursal al-Shahabi yang diterima,
karena Aisyah tidak menangi permulaan wahyu. Dia belum lahir. Berarti dia dari shahabat lain.
Barangkali dari Abu Bakar, Saudah, dll.

Itu namanya Mursal Shahabat, dan itu diterima. Shahabat ini tidak kita curigai khususnya masalah riwayat akhbar. Tidak boleh dicurigai.

Prinsip Ahlussunnah wal Jama’ah

Jadi Ahlussunnah wal Jama’ah itu prinsipnya ada tiga kata menurut Abuya Sayyid Muhammad.
Pertama, tanzihuLlah, mensucikan Allah dan hal-hal yang tidak patut baginya, entah itu kejisiman maupun tidak.
Atau sebaliknya, kalau tidak patut dengan Allah tidak boleh diucapkan. Kedua, ‘ishmah al-anbiya, kesucian nabi-nabi khususnya setelah menjadi rasul. Hati-hati,
kita jangan membahas para nabi bahkan malaikat. Malaikat itu tidak mungkin maksiat.

وَقَالُوا اتَّخَذَ الرَّحْمَنُ وَلَدًا سُبْحَانَهُ بَلْ عِبَادٌ مُكْرَمُونَ [الأنبياء : 26]

Sekarang kalau nabi-nabi tidak mungkin melakukan kitman atau menyembunyikan apa yang dia diperintahkan untuk tabligh. Tidak mungkin mereka dibiarkan salah berlarut-larut, atau sering lupa.
Andaikan nabi atau rasul pernah salah,
maka cepat diingatkan, cepat sadar, dan tidak mungkin dia sengaja bersalah atau melanggar perintah atau larangan Allah.
Kalau lupa mungkin, seperti adadi dalam Al-Quran:

وَلَقَدْ عَهِدْنَا إِلَى آدَمَ مِنْ قَبْلُ فَنَسِيَ وَلَمْ نَجِدْ لَهُ عَزْمًا [طه : 115]

Dia sudah dilarang makan syajarah, tapi karena cintanya kepada Siti Hawa sedangkan Hawa lagi nyidam, akhirnya Adam ikut mencicipi.
Barangkali kalau nanti salah Hawa tidak sendirian. Namanya pengantin baru makannya bareng.
Tapi ini ketika Adam belum menjadi nabi. Itu saja tidak sering, satu kali itu malah menyesal. Kemudian Adam bertawassul dengan Nabi Muhammad ShallaLlahu ‘alaihi wa Sallama.

Nabi Muhammad adalah Juru Selamat

Kemarin saya di Kendal, di dalam pengajian sebentar saya katakan juru selamat itu adalah nabi Muhammad ShallaLlahu ‘alaihi wa Sallama
karena Adam saat melakukan kesalahan diterima taubatnya karena tawassul dengan Nabi Muhammad ShallaLlahu ‘alaihi wa Sallama.

Maka Nabi Muhammad itu juru selamat. selesai dosa Adam dan diterima taubatnya gara-gara Nabi Muhammad ShallaLlahu ‘alaihi wa Sallama.
Jadi Nabi Muhammad ShallaLlahu ‘alaihi wa Sallama juru selamat, tidak ada yang lain.

Tidak ada yang melebihi Nabi Muhammad. Bahkan Nabi Isa ini yang katanya Gus Dur, GusDurian, atau Kristen sebagai juru selamat itu menurut kita bukan walaupun beliau nabi yang harus dihormati.
Dia sekarang di langit sana diberi energi sama Allah untuk menyenangkan umat Islam dengan membunuh Dajjal.
Yang bisa membunuh Dajjal hanya Isa al-Masih. Dia bukan juru selamat, hanya membunuh saja.
Menyenangkan umat Islam. Kalau umat kafir ya tetap kafir, masuk neraka selama-lamanya.

Jadi saya ulangi lagi. Bodoh kalau Allah dikatakan tidak bisa dilogika. Allah bisa dilogika wujudnya, tauhidnya,
adapun kaifiyah-nya mungkin ini yang tidak bisa dilogika. Wallahu A’lam, karena Allah Maha Agung. Ingin tahu Allah nanti tunggu tanggal mainnya di Hari Kiamat.

Allah itu Mutakabbir, bukan takut seperti penanya Buya Syakur yang liberal bahasanya. Takut sama rasio. Ini gimana sih Indramayu? Katanya tempat santri,
banyak mondok di Lirboyo dan Sarang. Kalau sekarang di Sarang jarang, banyak yang mondok di Lirboyo karena pesan sponsor.

Ke-Ummiy-an Rasulullah Ada dalam Al-Quran

Videonya Buya Syakur banyak sekali. Katanya Nabi Muhammad itu tidak buta huruf, alasannya buta huruf itu tercela atau aib. Bodoh. Saudara-saudara ikhwan wal akhwat khususnya santri-santri alumni dari Sarang. Saya punya kewajiban lebih khusus, walaupun punya kewajiban juga bagi seluruh umat Islam. Nabi dibuat oleh Allah tidak bisa menulis dan membaca ini sudah ada dalil Al-Quran-nya.

وَمَا كُنْتَ تَتْلُو مِنْ قَبْلِهِ مِنْ كِتَابٍ وَلَا تَخُطُّهُ بِيَمِينِكَ إِذًا لَارْتَابَ الْمُبْطِلُونَ [العنكبوت : 48]

Artinya: “Kau (Muhammad) tidak bisa membaca kitab sebelummu dan tidak bisa menulis dengan tangan kananmu. Jika kamu bisa, tentu orang-orang yang ingkar bisa ragu.” (QS. Al-Ankabut: 48)

Ya mungkin Buya Syakur ragu terus saja. Apa saja bisa diragukan. Tipe-tipe orang liberal ya begitu. Orang-orang Syi’ah dan Mu’tazilah.
Mu’tazilah itu liberal, kan? Dia menantang di video itu, apakah nabi Muhammad dikatakan ummiy itu supaya menghilangkan kecurigaan itu buatan. Di dalam Al-Quran sudah ada.

Adapun riwayat Jibril ketika menurunkan ayat Iqra’ membawa kain halus dari sutra dibaj. Dia (Buya Syakur) bilang itu kertas.
Walaupun ini hadits dlaif, kalau tidak bertentangan dengan akidah tidak apa-apa, kan? Masalah di langit, ada kertas di langit tapi fi ‘alamil qudrah.
Jadi kalau bumi ini termasuk ‘alam hikmah. Apa-apa harus ada yang membuat, harus ada produksinya.

Tapi kalau disana kan langsung jadi. Kertas-kertasnya bagus sekali tanpa ada percetakan. Andai Jibril membawa kaih hijau itu bisa-bisa saja tapi tidak lewat percetakan dulu.
Kun fayakun. Alam langit dan alam akhirat juga begitu. Di surga ada air, kain,
macam-macam makanan tidak perlu dimasak. Langsung jadi.

Wes, ini repot orang liberal. Saya tidak berniat debatan dengan dia, saya hanya memberitahu santri-santri yang ingin selamat dunia akhirat, yang tidak senang Gusdurian.
Kalau senang Gusdurian saya tidak bisa memberitahu. Tidak tahu bagaimana menghidayahi mereka.
Allah yang bisa, saya tidak bisa apa-apa sama yang fanatik-fanatik itu.

Saya hanya memberitahu santri-santri yang belum fanatik ke PBNU, Gus Dur, liberal, rasio, yang menentang tuhan,
berani dengan agama, menghakimi agama, mengatakan agama ingin menang sendiri. Na’udzubiLlah min dzalika. Bukan menang sendiri.
Agama kan dari Tuhan. Kalau ada dalil qath’i atau bahkan zhanni yang shahih itu harus diyakini benar,
bukan kok menang sendiri. Allah Maka Benar, Dzat-Nya Benar, Sifat-sifat-Nya Benar, Kalam-Nya Benar. Lafazh Kalam-Nya Benar, maknanya juga benar.

Bukannya ingin menang sendiri atau ingin benar sendiri. Memang Maha Benar Allah.
Sekarang Nabi Muhammad ShallaLlahu ‘alaihi wa Sallama dijadikan sebagai manusia yang serba benar.

وَمَا يَنْطِقُ عَنِ الْهَوَى (3) إِنْ هُوَ إِلَّا وَحْيٌ يُوحَى (4) [النجم : 3 ، 4]

Artinya: “Nabi Muhammad tidak berbicara dari hawa nafsu. (3) Pembicaraannya tidak lain adalah wahyu yang diwahyukan. (4)” (QS. Al-Najm: 3-4)

Shahabat ini yang setia kepada kebenaran orang yang dijadikan selalu benar.
Mereka orang-orang yang paling setia. Tidak mungkin mereka mengarang-ngarang.
Kalau di bawahnya ada kemungkinan.
Yang membikin hadits Maudlu’ bukan shahabat, akan tetapi dari ahli bid’ah sendiri. Dari Mu’tazilah, Syi’ah, atau yang fanatik kepada satu kelompok.

Walhasil, saya ulangi lagi bahwa Nabi Muhammad ShallaLlahu ‘alaihi wa Sallama ummi itu buatan Gusti Allah. Kersane Allah.
Adapun Jibril membawa kain halus yang isinya Al-Quran yang menurut saya pertama kali Iqra’ itu sendiri.

Ada yang bilang al-Fatihah. Tapi akhirnya Iqra’ jadi Kalam Ilahi yang disalurkan kepada Jibril seolah-olah belum Kalam Ilahi,
tapi kemudian Kalam yang diucapkan Jibril resmi menjadi Al-Quran bahkan jadi satu Surah.

Walhasil, mengapa membawa kain? Ini bukan keyakinan karena haditsnya tidak Mutawatir. Andaikan benar,
ya saking halusnya Allah dalam mengangkat Nabi Muhammad ShallaLlahu ‘alaihi wa Sallama menjadi nabi waktu itu. Artinya Kanjeng Nabi tidak terasa kalau Allah berfirman kepada dia. Kiranya dia didawuhi Jibril.
Lalu mengapa Allah bersikap halus, mengapa tidak dikasih tahu dulu? Ini saking bersihnya Kanjeng Nabi Muhammad ShallaLlahu ‘alaihi wa Sallama. Menghargai Allah.

Nabi tidak pernah punya angan-angan menjadi nabi. Tidak sepeti kita,
santri atau anak kiai mencari Laduniy sampai tirakat karena ingin menjadi ulama dan bisa baca kitab sendiri.
Nabi tidak ada perasaan begitu, bahkan tidak pernah bergaul dengan Ahli Kitab.

وَمَا كُنْتَ تَتْلُو مِنْ قَبْلِهِ مِنْ كِتَابٍ وَلَا تَخُطُّهُ بِيَمِينِكَ إِذًا لَارْتَابَ الْمُبْطِلُونَ [العنكبوت : 48]

Artinya: “Kau (Muhammad) tidak bisa membaca kitab sebelummu dan tidak bisa menulis dengan tangan kananmu. Jika kamu bisa, tentu orang-orang yang ingkar bisa ragu.” (QS. Al-Ankabut: 48)

Jadi Kanjeng Nabi dibuat begitu supaya halus, dan Jibril dibuat membawa kain kayak kitab dengan izin Allah tanpa harus menunggu ada percetakan atau apa.
Jelas liberal itu. Katanya harus antropologis, bahasanya liberal memang begitu. Saya sudah dengar.
Orang kalau dekat kutub utara puasa padahal siang bisa beberapa hari, bagaimana puasanya? Ya tidak harus tiga hari puasa, tapi ikut negara yang lebih dekat.
Yang normal-normal saja. tidak sampai melebihi 24 jam. Kalau melebihi 12 jam ada.

Walhasil, lakukan sesuai kemampuan. Bukan tidak wajib puasa.

Ayo Ngaji tapi Beradab

Saya ingat pesan Habib Taufiq, ayo kita ngaji dan cari ilmu tapi beradab. Jangan sedikit-sedikit debatan dan cari ‘illat.
Memakai al-hukm yaduru ma’a al-‘illah.
Sekarang zamannya toleransi, situ beri tahniah kita harus membalas natalan, apalagi ikut di gereja. Alumni Santri Sarang ada yang ke gereja. Na’udzubiLlah.

Ya mungkin ada udzurnya dia sebagai ketua FKUB. Tapi kan kalau bisa jangan pakai peci dan sarung, memalukan.
Kok akrab dengan orang-orang begitu, kufur, bahkan memberi dalil:

وَالسَّلَامُ عَلَيَّ يَوْمَ وُلِدْتُ وَيَوْمَ أَمُوتُ وَيَوْمَ أُبْعَثُ حَيًّا [مريم : 33]

Disini kan mengucapkan salam, bukan jadi hari raya. Masa’ ada hari raya memperingati hari kebangkitan? kan tidak ada. Kalau orang Kristen membuat hari raya kematian Isa itu mempermalukan mereka sendiri. Kematian kok diperingati ramai-ramai? Kalau kita akidahnya Nabi Isa belum mati.

Jadi saya ulangi lagi, Nabi Muhammad ShallaLlahu ‘alaihi wa Sallama itu ummi bikinan Allah dan mukjizat bagi Rasulullah ShallaLlahu ‘alaihi wa Sallama.
Sudah diserahkan saja sama Al-Quran, tidak boleh ragu sama sekali.
Hadits saja apalagi Hadits Permulaan Wahyu ini sangat penting. Kita camkan, kita yakini. Bukan kita taklid buta, tapi masalahnya ini dari Shahih Bukhari yang adalah kitab pilihan.

Bukan seperti di videonya Buya Syakur bahwa Bukhari haditsnya berapa ribu, meneliti 16 tahun, berarti setiap hadits begini begini. Bukan begitu.
Hadits Bukhari itu banyak yang matannya terulang-ulang, sanadnya banyak.
Bukannya tiap hadits itu berapa menit, berapa hari. Bukan begitu. Ada yang terulang-ulang, tinggal meneliti sanadnya saja.

Saudara-saudara sekalian. Cukup yang ummi, artinya memang itu sifat Nabi Muhammad ShallaLlahu ‘alaihi wa Sallama.
Ada yang saking senengnya kepada Kanjeng Nabi lalu mengatakan nabi bukan ummi. Sudah bisa baca. Awalnya tidak tapi sebelum wafat bisa.

Buktinya Kanjeng Nabi pernah menghapus dan mengganti tulisan, berarti Kanjeng Nabi bisa menulis.
Kanjeng Nabi aslinya tidak bisa menulis, tapi waktu itu diberi mukjizat bisa menulis.
Semua mukjizat. Kanjeng Nabi bisa nulis ya mukjizat karena aslinya tidak bisa menulis,
Kanjeng Nabi begini-begini juga mukjizat karena manusia yang paling utama.
Dia menanggapi Ahmad Muwafiq bahwa Kanjeng Nabi rembes dan sudah saya tolak bahwa tidak pernah Kanjeng Nabi rembes. Lahir langsung bersih.
Tiap hari bangun tidur langsung bersih, tertata, dan berminyak rambutnya.
Jangan dibilang waktu itu belum ada rumah sakit, toilet, masih kumuh, dan rumahnya saja berupa kemah.
Itu kan Arab Badui, tapi kalau Arab di Makkah bukan pakai kemah. Ada ahlal madar, ada ahlal wabar. Ahlal wabar itu orang Badui yang memakai kemah.
Sedangkan ahlal madar itu pakai tembok. Sudah ada tembok waktu itu.

Jadi sangat bodoh, terlalu bangga dengan modern, dan terlalu bangga dengan teknologi sekarang. Memang sekarang ini apa-apa serba cepat.

Justru cepat ini yang bikin cepat mati. Mie instan, apa-apa yang instan bikin cepat mati.
Kayak pemilihan umum hitungannya quick count, itu bikin korupsi. Bikin kebohongan yang sangat merugikan bangsa, negara, dan manusia.

Itu karena serba cepat. Mobil kamu terlalu cepat akan mudah tertabrak.
Masa’ kita bangga dengan yang serba cepat? Itu apa? Orang sekarang ke dokter langsung divonis agar bayar terus obatnya. Tidak ditelateni dulu. Itu zaman sekarang.

Ukhuwah Islamiyyah Harus Didahulukan

Ada yang tanya, sekarang ini ada istilah ukhuwah basyariyah, wathaniyyah, dan Islamiyyah.
Yang bertanya ini orang alim dan berpendidikan. Tujuannya supaya saya memberi pencerahan masyarakat awam dan anak-anak sekolah.

Untuk menjawab ini, sebetulnya sudah zahir bahwa ukhuwah imaniyyah atau Islamiyyah harus didahulukan. Bukan berarti kita mau perang dan kita senang musuhan dengan manusia atau sebangsa dan setanah air.

Masalahnya, persahabatan itu adalah jebakan atau jaringan setan. Misalnya satu kelas ada reuni berulang-ulang laki-laki dan perempuan, pacar, ketemu terus sampai tua.
Misal sebuah sekolah atau almamater mengadakan reuni dimana laki-laki dan perempuan campur.
Akhirnya pacar dengan pacar bertemu, padahal sudah punya anak. Akhirnya nostalgia lagi.

Ini jebakan setan. Baru urusan syahwat. Belum urusan pangkat, belum urusan ideologi seperti sekarang ini.
Di PBNU, orang-orang NU ikut merayakat natalan karena pertemanan.

Semboyan natal sekarang adalah persahabatan. Semua adalah sahabat. Ini jebakan.
Sekarang ada istilah “Maulid Nabi Isa” supaya umat Islam mau ke gereja, ikut misa natalan, dsb seperti yang terjadi kemarin itu.
Mereka bukan merayakan Maulid Isa sebagai nabi, tapi menuhankan. Meninju Firman Allah:

لَمْ يَلِدْ وَلَمْ يُولَدْ [الإخلاص : 3]

Artinya: “Allah tidak melahirkan juga tidak dilahirkan.” (QS. Al-Ikhlash: 3)

وَقَالُوا اتَّخَذَ اللَّهُ وَلَدًا سُبْحَانَهُ [البقرة : 116]

Artinya: “Mereka berkata Allah mengambil anak. Maha Suci Allah.” (al-Baqarah: 116)

Na’udzubiLlah min dzalika. Ini jebakan dengan istilah teman, saudara sebangsa, semanusia. Kita memang saudara. Semuanya dari Adam.
Di negara yang sama pula. Tapi kalau kita sampai dibawa ke gereja, sampai ikut acara di gereja, sampai mgehormati, itu kan sana yang menang.

Kita tidak pernah mengajak mereka. Fatal lagi kalau mereka masuk ke masjid, nanti menyumbang leang-leong, biola, dan konser.
Nanti memakai lagu rohani mereka di amsjid. Wah, rusak-rusakan. Ini masalahnya karena kita dijebak dengan kemanusiaaan plus uang.
Saya sudah lama tahu, hari-hari akhir Desember dan awal Januairi banyak orang-orang NU belanja di mall. Di Ada Pati, Bravo Tuban, dst.

Saya sering lihat mereka belanja besar-besaran, karena dapat uang.
Mereka mengharap uang. Said Aqil saja mengadu karena tidak dapat 1.7 T yang dijanjikan Sri Mulyani. Berarti ini fitnah besar.
Kita dijebak dengan istilah persaudaraan dan uang. Ini lebih bahaya lagi. Fitnatu ummati al maal, fitnah umatku adalah harta. Padahal harta yang tidak seberapa, dan itu jelas banyak haramnya.
Uang dari bunga. Dari Ford Foundation, Asia Foundation, Shimon Perez, dll.
Saya pernah dengan bahwa Paus Paulus digaji dari uang khamr.
Di Italia kan banyak miras. Apalagi kita. Mungkin malah pakai sihir.

Cukup sekian. Semoga ada manfaatnya, semoga ditetapkan allah sebagai santri-santri yang setia kepada ulama,
Nabi Muhammad ShallaLlahu ‘alaihi wa Sallama, Al-Quran,
apalagi kepada Allah. Yang selain santri bisa meniru santri dalam hal ini.
Perbanyak ngaji kitab-kitab yang banyak hadits Shahihnya, apalagi dari Al-Quran biar kita tambah imanya ,
tapi juga tidak melupakan kitab – kitab fiqih karya ulama,
karena sampe sekarang masih dibutuhkan untuk menjawab beberapa masalah yang belum terjawab

Team Penulis
Ribath Darushohihain

ANGKAT BICARA SOAL MUSLIM UIGUR DAN PENEGASAN ULANG PEMBELAAN TERHADAP KEMULIAAN BAGINDA RASUL SAW, BEGINI PENJELASAN ABAH NAJIH

Banyak sekali para penggemar Ahmad Muwafiq yang tetap bersikukuh bahwa apa yang dikatakan Muwafiq adalah pernyataan yang benar dan tendensius dengan menyertakan dalil yang sangat jauh sekali dari alur pembahasan dan tidak jujur dalam mengutip dalil. Dalil yang mereka jadikan tendensi hampir semua mengenai riwayat yang mengatakan bahwa nabi pernah menderita رمد (sakit mata) seperti yang terdapat pada kitab as-Siroh al-Halabiyah (Juz: 3, hal: 487) dan Subulul Huda Wa ar-Rasyad (juz:2, hal:134). Ibarot semacam ini kemudian diplintir demi melegitimasi ucapan Muwafiq yang menghina Rasulullah shallallahu alaihi wasallam dengan mengatakan bahwa masa kecil Rasulullah shallallahu alaihi wasallam “rembes” (dekil) dan tidak terurus karena diasuh oleh sang kakek semenjak usia enam tahun.
Perlu kami sampaikan bahwa banyak dari pemuja Muwafiq yang tidak jujur dalam mengutip dalil. Riwayat-riwayat yang tertera pada kitab-kitab di atas memang menerangkan bahwa nabi shallallahu alaihi wasallam pada saat dirawat oleh Abdul Mutthalib pernah terserang ) رمدsakit mata bukan rembes, karena kalau rembes itu bahasa arabnya رمص), sehingga kemudian sang kakek Abdul Mutthalib disarankan untuk pergi ke ‘ukadh menemui salah satu rahib yang terkenal mampu mengobati penyakit mata, namun oleh rahib malah disarankan untuk mengobatinya sendiri dengan ludah mulia Rasulullah shallallahu Alaihi wasallam. Ini bukan berarti nabi dalam keadaan rembes dan tak terurus tapi memang pada saat itu di makkah sedang mengalami cuaca yang panas. Hal ini dibuktikan dengan adanya orang-orang yang meminta berkah doa kepada Abdul Mutthalib agar segera diturunkan hujan.
في جهد وجدب وقد سقى الله الناس بعبدالمطلب فاقصدوه لعله يسأل الله تعالى فيكم فقدموا مكة ودخلوا على عبدالمطلب فحيوه بالسلام فقال لهم أفلحت الوجوه وقام خطيبهم فقال قد أصابتنا سنون مجدبات وقد بان لنا أثرك وصح عندنا خبرك فاشفع لنا عند من شفعك وأجرى الغمام لك فقال عبدالمطلب سمعا وطاعة موعدكم غدا عرفات ثم أصبح غاديا إليها وخرج معه الناس وولده ومعه رسول الله صلى الله عليه وسلم فنصب لعبدالمطلب كرسي فجلس عليه وأخذ رسول الله صلى الله عليه وسلم فوضعه في حجره ثم قام عبدالمطلب ورفع يديه ثم قال اللهم رب البرق الخاطف والرعد القاصف رب الأرباب وملين الصعاب هذه قيس ومضر من خير البشر قد شعثت رؤوسها وحدبت ظهورها تشكوا إليك شدة الهزال وذهاب النفوس والأموال اللهم فأتح لهم سحابا خوارة وسماء خرارة لتضحك أرضهم ويزول ضرهم فما استتم كلامه حتى نشأت سحابة دكناء لها دوى وقصدت نحو عبدالمطلب ثم قصدت نحو بلادهم فقال عبدالمطلب يا معشر قيس ومضر انصرفوا فقد سقيتم فرجعوا وقد سقوا. (السيرة الحلبية – 1 / 183)
Artinya: …. Pembicara mereka berdiri lalu berkata, “Kami mengalami paceklik selama bertahun-tahun. Kami tahu dengan jelas rekam jejak Anda dan kami paham betul kabar tentang Anda. Karena itu, doakanlah syafa’at kepada kami dari Tuhan yang memberi syafa’at kepada Anda dan menggerakkan mendung kepada Anda.” Lalu Abdul Mutthalib menjawab, “Baiklah, besok tempat perjanjian kita di Arafah.” Kemudian Abdul Mutthalib pagi-pagi sekali menuju Arafah bersama orang-orang, anaknya, dan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallama. diberikan kursi kepada Abdul Mutthalib, kemudian Abdul Muttalib duduk di atas kursi seraya mengangkat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallama untuk diletakkan dipangkuannya. lalu beliau berdoa, …. (Ali Burhanuddin Halabi, al-Sirah al-Halabiyyah, juz 1 hlm. 183)
Justru peristiwa ini menunjukkan Irhas serta tanda kenabian yang dimiliki oleh Rasulullah shallallahu alaihi wasallam sejak lahir.
Kata rembes dan tak terurus juga sangat tidak pantas bahkan keji sekali jika disematkan kepada Rasulullah shallallahu alaihi wasallam, karena arti dari rembes (bunyi huruf e pada kata ini sama bunyinya dengan huruf e ketika mengucapkan kata resiko) dalam bahasa jawa mempunyai arti keadaan anak kecil yang ingusan atau beringus (jorok). Orang jawa biasanya menyebut anak kecil yang beringus sehingga ingusnya berada di hidung dan mengotori sekitar hidung dengan kata rembes. Arti lain dari kata ini ialah keadaan orang yang belum mandi sehingga ada kotoran entah karena liur atau ada kotoran di mata dan penampilan yang semrawut. Semua makna ini jelas sekali bertentangan dengan penjelasan para ulama dalam menerangkan keadaan nabi semasa kecil. Nabi dilahirkan disertai dengan cahaya yang terang dan dalam keadaan bersih tanpa ada kotoran sedikitpun, berkhitan dan bercelak:
وولد صلى الله عليه وسلم معذورا مسرورا أي مختونا مقطوع السرة ووقع إلى الارض مقبوضة اصابع يده مشيرا بالسباحة كالمسبح بها. (عيون الاثر في فنون المغازي والشمائل والسير, 1 / 43)
Artinya: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallama dilahirkan dalam kondisi sudah dikhitan dan dipotong tali pusarnya. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallama terbaring di bumi dengan jari-jari tangan menggenggam dan jari telunjuknya mengarah seperti orang yang membaca tasbih (tasyahhud). (Ibn Sayyidinnas, ‘Uyun al-Atsar fi Funun al-Maghazi wa al-Syamail wa-Siyar, juz 1 hlm 43)
وكان النبي صلى الله عليه وسلم قد ولد مختونا مقطوع السرة وروى عن أمه آمنة أنها قالت ولدته نظيفا ما به قذر. ( الشفا بتعريف حقوق المصطفى :1\66)
Artinya: Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallama dilahirkan dalam kondisi sudah dikhitan dan dipotong tali pusarnya. Diriwayatkan dari ibunya yakni sayyidah Aminah bahwa ia berkata, “Aku telah melahirkannya dalam kondisi bersih dan tidak ada kotoran sama sekali. (Imam al-Qodhi ‘Iyadh, as-Shifaa, Juz 1 hlm 66).
وعن همام بن يحيى عن إسحاق بن عبد الله أن أم رسول الله صلى الله عليه وسلم قالت: لما ولدته خرج من فرجي نور أضاع له قصور الشام, فولدته نظيفا ما به قذر, رواه ابن سعد والى هذا أشار العباس بن عبد المطلب في شعره، حيث قال:
أنت لما ولدت أشرقت ال … أرض وضاءت بنورك الأفق
فنحن فى ذاك الضياء وفى النو … ر وسبل الرشاد نخترق
قال فى اللطائف: «وخروج هذا النور عند وضعه، وإشارة إلى ما يجىء به من النور الذى اهتدى به أهل الأرض، وزال به ظلمة الشرك. قال تعالى: قَدْ جاءَكُمْ مِنَ اللَّهِ نُورٌ وَكِتابٌ مُبِينٌ (١٥) يَهْدِي بِهِ اللَّهُ مَنِ اتَّبَعَ رِضْوانَهُ سُبُلَ السَّلامِ وَيُخْرِجُهُمْ مِنَ الظُّلُماتِ إِلَى النُّورِ بِإِذْنِهِ «٢» الآية، وأما إضاءة قصور بصرى بالنور الذى خرج معه فهو إشارة إلى ما خص الشام من نور نبوته، فإنها دار ملكه- كما ذكر كعب: أن فى الكتب السالفة: محمد رسول الله صلى الله عليه وسلم- مولده بمكة ومهاجره بيثرب وملكه بالشام- فمن مكة بدت نبوة نبينا عليه الصلاة والسلام-، وإلى الشام انتهى ملكه، (المواهب اللدنية, 1\128)
Artinya: dari Hammam bin Yahya, dari Ishaq bin Abdullah, bahwa ibu Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallama berkata, “Ketika saya melahirkan Nabi Muhammad keluar dari arah kemaluanku cahaya yang menyinari istana-istana Syam, lalu saya melahirkannya dalam keadaan bersih dan tidak ada kotoran sama sekali.” … Ibn Jauzi dalam Lathaif al-Ma’arif mengatakan, “Keluarnya cahaya ini ketika melahirkan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallama adalah isyarah terhadap cahaya yang memberi petunjuk kepada penduduk bumi dan menghilangkan kegelapan syirik.” … Adapun bersinarnya istana-istana Bushra dengan cahaya yang keluar bersama kelahiran Rasulullah adalah isyarah khusus kepada Syam dari cahaya kenabian beliau karena Syam akan menjadi daerah kekuasaannya. (Syihabuddin Qasthalani, al-Mawahib al-Laduniyyah, juz 1 hlm. 128)
أنّها قالت: ولدته نظيفا) أي نقيا (ما به قذر) بفتحتين أي وسخ ودرن كذا رواه ابن سعد في طبقاته وروي أنه ولدته أمه بغير دم ولا وجع. (شرح المواهب, 1\128)
Artinya: (sayyidah Aminah berkata: Saya melahirkannya dalam kondisi نَظِيْف) yakni نَقِيّ/bersih (dan tidak ada قَذَر) dengan dua fathah yakni kotoran dan debu seperti riwayat Ibn Sa’d dalam al-Thabaqat. Diriwayatkan juga bahwa Aminah melahirkan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallama tanpa ada darah maupun air ketuban. (Qadli Iyadl, Syarh al-Syifa, juz 1 hlm. 173)
Ketika dalam asuhan Abdul Mutthalib keadaan nabi pun sangat sehat dan kuat, kehadiran Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam pun sangat dimuliakan oleh sang kakek, bahkan Abdul Mutthalib sangat peduli, memberi perhatian lebih dan lebih mengutamakan nabi dari pada putranya sendiri:
قال في تاريخ الخميس: روى نافع بن جبير: أنه كان رسول الله صلى الله عليه وسلم مع أمه آمنة بعد رد حليمة إياه لها، فلما توفيت، ضمه وكفله جده عبد المطلب، ورق عليه رقة لم يرقها على ولده، وكان يقربه منه ويدخل عليه إذا خلا وإذا نام، وكان يجلس على فراشه، وكان أولاده لا يجلسون عليه.
Artinya: Husain Bakri dalam Tarikh al-Khamis berkata: Nafi’ bin Jubair meriwayatkan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersama sang ibu lagi yakni sayyidah Aminah setelah sayyidah Halimah memberikan kembali Rasulullah shallallahu alaihi wasallam kepadanya. Maka ketika sayyidah Aminah wafat, Rasulullah lalu diasuh oleh kakeknya Abdul Mutthalib. Beliau sangat sayang kepada Rasulullah shallallahu alaihi wasallam melebihi sayangnya kepada anak-anaknya. Abdul Mutthali: 97 ، 98]\nArtinya: “ Katakanlah, barang siapa yang menjadi musuh jibril, maka Jibril telah menurunkannya (al-Quran) ke dalam hatimu dengan seizin Allah: membenarkan kitab-kitab yang sebelumnya dan menjadi petunjuk serta berita gembira bagi orang-orang yang beriman. Barang siapa yang menadi musuh Allah, malaikat-malaikat-Nya, rasul-rasulnya, Jibril, dan Mikail, maka sesungguhnya Allah adalah musuh orang-orang kafir.” (QS. al-Baqarah: 97-98).\nحدثنا مكي بن إبراهيم قال حدثنا يزيد بن أبي عبيد عن سلمة قال: سمعت النبي صلى الله عليه و سلم يقول: من يقل عليَّ ما لم أقل فليتبوأ مقعده من النار . (صحيح البخاري – البغا: 1 / 52)\nArtinya: “ Barang siapa berkata tentangku yang tidak pernah aku katakan, maka hendaklah ia persiapkan tempat duduknya di neraka.” (HR. Bukhari: 109).\nPernyataan dari Muwafiq mengenai malaikat Jibril yang membuat kami sangat ingkar ialah saat ia menceritakan bahwa Rasulullah pada peristiwa itu sangat ketakutan sebab melihat wujud jin atau dedemit yang tinggi, besar, hitam. Tidak mungkin Rasulullah takut melihat jin, karena pada zaman dahulu orang arab tidak ada yang takut jin, bahkan orang arab selalu membawa pedang untuk menebas setiap ada yang mengusik mereka termasuk gangguan dari jin. Menurut kami Rasulullah shallallahu alaihi wasallam pada peristiwa itu mungkin memang merasa ketakutan, namun ketakutan beliau sama sekali tidak seperti apa yang digambarkan Muwafiq dalam ceramahnya. Rasulullah merasa takut jika yang mendatanginya adalah jin bukan malaikat Jibril dan yang disampaikan bukanlah wahyu dari Allah. Ulama berbeda pendapat dalam menafsiri ketakutan Rasulullah shallallahu alaihi wasallam pada peristiwa ini. Semua penafsiran tidak ada yang sama dengan perkataan Muwafiq. Semua penafsiran tersebut telah dijelaskan sebagaimana berikut:\nقوله لقد خشيت على نفسي دل هذا مع قوله يرجف فؤاده على انفعال حصل له من مجيء الملك ومن ثم قال زملوني والخشية المذكورة اختلف العلماء في المراد بها على اثني عشر قولا أولها الجنون وأن يكون ما رآه من جنس الكهانة جاء مصرحا به في عدة طرق وأبطله أبو بكر بن العربي وحق له أن يبطل لكن حمله الإسماعيلي على أن ذلك حصل له قبل حصول العلم الضرورى له أن الذي جاءه ملك وأنه من عند الله تعالى ثانيها الهاجس وهو باطل أيضا لأنه لا يستقر وهذا استقر وحصلت بينهما المراجعة ثالثها الموت من شدة الرعب رابعها المرض وقد جزم به بن أبي جمرة خامسها دوام المرض سادسها العجز عن حمل اعباء النبوة سابعها العجز عن النظر إلى الملك من الرعب ثامنها عدم الصبر على أذى قومه تاسعها أن يقتلوه عاشرها مفارقة الوطن حادى عشرها تكذيبهم إياه ثاني عشرها تعييرهم إياه وأولى هذه الأقوال بالصواب وأسلمها من الارتياب الثالث واللذان بعده وما عداها فهو معترض والله الموفق (فتح الباري – ابن حجر : 1\\24)\nArtinya: “Ulama berbeda pendapat dalam mengartikan kata al khasyyah. Pertama, gila (al junun), karena yang dilihat oleh Nabi adalah sesuatu yang aneh dan mengejutkan, sebagaimana dikatakan Isma’ili, bahwa hal ini terjadi sedang nabi belum mengetahui hakikat malaikat yang diutus oleh Allah untuk menyampaikan wahyu kepadanya, dan pendapat ini ditentang oleh Abu Bakar bin Arabi. Kedua, kecemasan, dan pendapat ini tidak benar. Ketiga. kematian karena nabi benar-benar ketakutan. Keempat, sakit sebagaimana dikatakan oleh Ibnu Abi Hamzah. Kelima, sakit terus menerus. Keenam, ketidakmampuan untuk memegang amanah kenabian. Ketujuh, ketidakmampuan melihat bentuk malaikat. Kedelapan, tidak memiliki kesabaran atas siksaan dari orangorang kafir Kesembilan, mereka akan membunuh Nabi. Kesepuluh, meninggalkan tanah airnya. Kesebelas, kedustaan mereka terhadap nabi. Keduabelas, cemoohan mereka kepada Nabi. Akan tetapi arti yang paling benar adalah arti yang ketiga (ketakutan), keempat (sakit) dan kelima (sakit terus menerus). (Ibnu Hajar, Fath al-Bari juz 1 hlm 24 ).\nMuwafiq telah bertindak ngawur karena menyamakan malaikat yang agung dengan makhluk yang rendah. Apakah Muwafiq yang mengaku biasa baca kitab kuning tidak tahu bahwa hukum merendahkan malaikat atau menjadikannya bahan tertawaan itu bisa menyebabkan kemurtadan?\n“من سبّ نبياً أو ملكاً أو عرّض به أو لعنه أو عابه أو قذفه أو استخف بحقه وما أشبه فإنه يقتل ولا يستتاب. ولا تقبل منه التوبة لو أعلنها ولو جاء تائباً قبل أن يطلع عليه، لان القتل في هذه الحالة حد خاص وإن كان يدخل تحت الردة”. “التشريع الجنائي” لعبد القادر عودة -2/724(\nArtinya: Barangsiapa menghina nabi atau malaikat, menyindir, melaknat, menghujat, meremehkan haknya, dan lain-lain, maka dia dibunuh dan tidak dimintai pertaubatan dulu karena tidak diterima taubatnya. (Abdul Qadir Audah, al-Tasyri’ al-Janai, juz 2 hlm. 724)\nقوله : ( أو كذب رسولا ) بخلاف من كذب عليه فلا يكون كفرا بل كبيرة فقط ا هـ ع ش .فرع : لو ادعى أن النبي يسلم عليه لم يكفر ؛ لأن غايته أنه يدعي أن النبي راض عليه وهذا لا يقتضي الكفر فإن كان صادقا فذاك ظاهر ، وإلا فهو مجرد كذب ولو ادعى أنه يوحى إليه وإن لم يدع النبوة أو ادعى أنه يدخل الجنة ويأكل من ثمارها وأنه يعانق الحور العين فهذا كفر بالإجماع كما في شرح الحصني .والأنبياء الذين يجب الإيمان بهم تفصيلا خمسة وعشرون نظمها بعضهم بقوله : حتم على كل ذي التكليف معرفة ؛ لأنبياء على التفضيل قد علموا في تلك حجتنا منهم ثمانية من بعد عشر ويبقى سبعة وهمو إدريس هود شعيب صالح وكذا ذو الكفل آدم بالمختار قد ختموا قوله : ( أو سبه ) أو قصد تحقيره ولو بتصغير اسمه أو سب الملائكة أو ضلل الأمة (حاشية البجيرمي على الخطيب – 12 / 407)\nArtinya: “(Termasuk murtad adalah menistakan Rasul) atau bermaksud merendahkan walaupun dengan mentashgir namanya, atau menista malaikat, atau menganggap umat sesat.” (Sulaiman al-Bujairimi, Hasyiyah ‘ala Mughni al-Muhtaj, juz 12 hlm. 307)\n( قَوْلُهُ أَوْ تَكْذِيبِهِ ) أَيْ ، وَلَوْ فِي غَيْرِ النُّبُوَّةِ ، وَمِثْلُ تَكْذِيبِهِ مَا لَوْ قَصَدَ تَحْقِيرَهُ ، وَلَوْ بِتَصْغِيرِ اسْمِهِ أَوْ سَبِّهِ أَوْ سَبِّ الْمَلَائِكَةِ أَوْ صَدَّقَ مُدَّعِي النُّبُوَّةِ أَوْ ضَلَّلَ الْأُمَّةَ أَوْ كَفَّرَ الصَّحَابَةَ أَوْ أَنْكَرَ غَيْرُ جَاهِلٍ مَعْذُورٍ الْبَعْثَ أَوْ مَكَّةَ أَوْ الْكَعْبَةَ أَوْ الْمَسْجِدَ الْحَرَامَ أَوْ الْجَنَّةَ أَوْ النَّارَ أَوْ الْحِسَابَ أَوْ الثَّوَابَ أَوْ الْعِقَابَ . (حاشية الجمل – 21 / 57)\nArtinya: Seperti halnya mendustakan nabi adalah berniat merendahkan nabi walaupun dengan mentashghir namanya, menistakan nabi atau malaikat. (Sulaiman Jamal, Hasyiyah ‘ala Manhaj al-Thullab, juz 21 hlm. 57)\nوَيَكْفُرُ بِقَوْلِهِ لِلْقَبِيحِ إنَّهُ حَسَنٌ وَبِقَوْلِهِ لِغَيْرِهِ رُؤْيَتِي إيَّاكَ كَرُؤْيَةِ مَلَكِ الْمَوْتِ عِنْدَ الْبَعْضِ خِلَافًا لِلْأَكْثَرِ وَقِيلَ بِهِ إنْ قَالَهُ لِعَدَاوَتِهِ لَا لِكَرَاهَةِ الْمَوْتِ وَبِقَوْلِهِ لَا أَسْمَعُ شَهَادَةَ فُلَانٍ وَإِنْ كان جِبْرِيلُ أو مِيكَائِيلَ عَلَيْهِمَا السَّلَامُ وَبِعَيْبِهِ مَلَكًا من الْمَلَائِكَةِ أو الِاسْتِخْفَافِ بِهِ لَا بِقَوْلِهِ أنا أَظُنُّ أَنَّ مَلَكَ الْمَوْتِ تُوُفِّيَ وَلَا يَقْبِضُ رُوحِي مَجَازًا عن طُولِ عُمْرِهِ إلَّا أَنْ يَعْنِيَ بِهِ الْعَجْزَ عن تَوَفِّيهِ (البحر الرائق – 5 / 131)\nArtinya: Dan kafir hukumnya orang yang mencela malaikat atau meremehkannya. (Ibn Nujaim, al-Bahr al-Raiq, juz 5 hlm. 131)\n( وَإِنْ سَبَّ نَبِيًّا أَوْ مَلَكًا أَوْ عَرَّضَ أَوْ لَعَنَهُ أَوْ عَابَهُ أَوْ قَذَفَهُ أَوْ اسْتَخَفَّ بِحَقِّهِ أَوْ غَيَّرَ صِفَتَهُ أَوْ أَلْحَقَ بِهِ نَقْصًا وَإِنْ فِي بَدَنِهِ أَوْ خَصْلَتِهِ أَوْ غَضَّ مِنْ رُتْبَتِهِ أَوْ وَفَوْرِ عِلْمِهِ أَوْ زُهْدِهِ أَوْ أَضَافَ إلَيْهِ مَا لَا يَجُوزُ عَلَيْهِ أَوْ نَسَبَ إلَيْهِ مَا لَا يَلِيقُ بِمَنْصِبِهِ عَلَى طَرِيقِ الذَّمِّ أَوْ قِيلَ لَهُ بِحَقِّ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَلَعَنَ وَقَالَ : أَرَدْت الْعَقْرَبَ قُتِلَ وَلَمْ يُسْتَتَبْ حَدًّا ) عِيَاضٌ . (التاج والإكليل – 12 / 70)\nArtinya: Barangsiapa menista nabi atau malaikat, menyindir, melaknat, mencela, menuduh, meremehkan haknya, merubah sifatnya, meletakkan kekurangan baik pada fisik maupun karakternya, mengingkari kedudukan, kelangsungan ilmu, maupun kezuhudannya, menyandarkan sesuatu yang tidak boleh kepadanya, menisbat suatu yang tidak sesuai dengan kedudukannya karena ingin mencela, atau diucapkan kepada nabi, “Demi hak Rasulullah ShallaLlahu ‘alaihi wa Sallama,” lalu ia melaknatnya lalu ia berkilah dengan mengatakan, “Yang saya maksud itu kalajengking,” maka orang tersebut dibunuh dan tidak disuruh bertaubat karena pidana had. (Muhammad bin Yusuf, al-Taj wa al-Iklil, juz 12 hlm. 70)\nفمتى ادعى النبوة او سب الله او رسوله او جحده او صفة من صفاته او كتابا او رسولا او ملكا او احدى العبادات الخمس او حكما ظاهرا مجمعا عليه كفر فيستتاب ثلاثة ايام فإن لم يتب قتل (أخصر المختصرات – 1 / 254)\nArtinya: Ketika seseorang mendakwa kenabian atau menista Allah, Rasul-Nya, mengingkarinya atau sebagian sifatnya, mencela kitab-Nya, utusan-Nya, malaikat, salah satu ibadah lima, atau hukum zahir yang disepakati, maka dia kafir lalu disuruh bertaubat selama tiga hari. Jika dia tidak bertaubat maka dibunuh. (Abdullah Ibn Jabrain, Akhshar al-Mukhtasharat, juz 1 hlm. 254)\nWaroqoh bin Naufal adalah seorang yang alim dan mampu menterjemahkan taurat dan injil ke dalam bahasa arab. Waroqoh bin Naufal juga paham akan datangnya nabi akhir zaman jadi tidak mungkin kaget apalagi sampai terjengkang (jawa; nggeblak) seperti tuduhan Muwafiq. Rasulullah shallallahu alaihi wasallam sendiri melarang mencela Waroqoh bin Naufal:\n( لا تسبوا ورقة بن نوفل فاني قد رايت له جنة أو جنتين ) قال العراقي شاهد لما قاله جمع انه اسلم عند ابتداء الوحي . )التيسير بشرح الجامع الصغير ـ للمناوى – (2 / 953)\nArtinya: “Janganlah mencela Waraqah bin Naufal karena saya melihat baginya satu surga atau dua surga.” al-Iraqi berkata, “Hadits ini menguatkan hadits lain yang disampaikan oleh beberapa ulam bahwa Waraqah masuk Islam pada permulaan turunnya wahyu.” (al-Munawi, al-Taisir bi Syarh al-Jami’ al-Shaghir, juz 2 hlm. 953)\nوأخبرنا أبو جعفر بن السمين بإسناده عن يونس بن بكير عن هشام بن عروة عن أبيه قال : ساب أخ لورقة رجلا فتناول الرجل ورقة فسبه فبلغ ذلك النبي صلى الله عليه و سلم فقال لأخيه : هل علمت أني رأيت لورقة جنة أو جنتين فنهى رسول الله صلى الله عليه و سلم عن سبه. )أسد الغابة ,1 / 1107)\nArtinya: “Janganlah mencela Waraqah bin Naufal karena saya melihat baginya satu surga atau dua surga.” al-Iraqi berkata, “Hadits ini menguatkan hadits lain yang disampaikan oleh beberapa ulama bahwa Waraqah masuk Islam pada permulaan turunnya wahyu.” (al-Munawi, al-Taisir bi Syarh al-Jami’ al-Shaghir, juz 2 hlm. 953)\nUcapan keji dari Muwafiq yang lain adalah mengatakan nabi Sulaiman alaihi assalam berbicara pada angin kentut yang kemudian membuat semua hadirin tertawa terbahak-bahak. Dalam ceramahnya yang lain Muwafiq menjelaskan bahwa dalam madzab Maliki kentut tidaklah membatalkan wudu. Ini semakin menunjukkan bahwa selain ia tak paham sejarah, ia juga tidak paham ilmu fiqih.\nالخارج المعتاد من السبيلين وهو البول والغائط ينقض الوضوء بالإجماع, وأما النادر كالدود من الدبر والريح من القبل والحصاة والإستحاضة والمذي ينقض أيضا إلا عند مالك. )رحمة الأمة في اختلاف الأئمة (ص: 12)\nArtinya: “perkara yang biasa keluar dari dua jalan (air kencing dan tahi) secara ijma’ membatalkan wudu”. (Muhammad bin Abdurahman, Rohmat al-Ummah hlm 12)\nالثاني البول الثالث الريح الخارج من الدبر خلافا ش في اعتباره الخارج من الذكر وفرج المرأة وإن كان نادرا.(الذخيرة للقرافي ,ج:1, ص:212)\nArtinya: kedua adalah kencing, ketiga adalah angin yang keluar dari dubur…..(al-Qarafi, al-Dakhiroh juz 1 hlm 212)\nوقد أجمعوا على أن الريح الخارجة من الدبر حدث يوجب الوضوء واجتمعوا على أن الجشاء ليس فيه وضوء بإجماع وقد أجمعوا على أن الريح الخارجة من الدبر حدث فدل ذلك على مراعاة المخرجين فقط. (الاستذكار, 1\\157)\nArtinya: “Dan semua ulama menyatakan ijma’ mengenai angin yang keluar dari dubur adalah hadas yang mewajibkan wudu…(ِAbu Yusuf al-Qurthubi, al-istidzkar juz 1 hlm 157)\nقال ابن المنذر أجمعوا أنه ينتقض بخروج الغائط من الدبر والبول من القبل والريح من الدبر. (المجموع شرح المهذب ج: 2, ص:6)\nArtinya: “Ibnu Mundzir berkata: ulama telah menyatakan ijma’nya mengenai wudlu yang batal disebabkan keluarnya tahi dari dubur, kencing dari qubul dan angin dari dubur.” (an-Nawawi, al-Majmu’ Syarh Muhadzab juz 2 hlm 6).\nSemua pemikiran dan pernyataan sesat Muwafiq CS merupakan benih-benih pemikiran wahhabi, mu’tazilah, syiah bahkan benih dari pemikiran kristen, komunis, dan atheis, juga salah satu proyek besar dari musuh-musuh islam untuk Indonesia. Bungkamnya ormas-ormas islam lebih-lebih pemerintah Indonesia atas genosida yang dilakukan oleh China terhadap etnis muslim Uyghur dengan alasan memerangi radikalisme dan ekstrimisme (sama seperti isu yang selalu digoreng di negeri ini) dan penolakan Presiden kepada delegasi Uyghur dengan alasan tidak ingin menyakiti hati Pemerintah China sebagaimana yang diungkapkan oleh Prof. Salim Said semakin menguatkan dugaan bahwa China komunis sudah mendikte dan menjajah negeri ini lewat para makelarnya seperti jaringan IsNus (islam Nusantara), Said Aqil, para pejabat dan para taipan. Tentunya dengan sokongan dana yang sangat besar, baik dengan dalih investasi, beasiswa, kerjasama atau yang masuk ke kantong pribadi. Mulai dari maraknya penistaan agama di negeri ini dan tidak adanya pernyataan atau tanggapan secara resmi baik dari ormas-ormas islam atau pemerintah terkait hal tersebut, lemahnya penanganan kasus penistaan agama islam, hingga bungkamnya mereka atas genosida etnis muslim Uyghur, bahkan sampai ada yang membela tindakan pemerintah China tersebut. apakah semua ini ada hubungannya?. Waallahu a’lam.\nDi China, kamp konsentrasi untuk muslim Uyghur disebut program deradikalisasi. Sebagai contoh, Warga Uyghur yang ketahuan berdoa atau mendownload Al-Qur’an digital ditangkap kemudian dicuci otaknya agar meninggalkan agamanya. Seharusnya pemerintah China menangkap dan memproses para aktifis radikalis saja, bukan menangkap dan mengadili muslim Uyghur secara umum (bukan berarti kami anti radikalis namun Radikal itu harus melihat kondisi, tempat dan waktu, jangan sampai berbuat Radikal terhadap kaum kuffar yang justru berakibat menyengsarakan atau bahkan melenyapkan umat Islam/ bangsanya sendiri). Memang ada proyek besar-besaran untuk pembunuhan masal terhadap umat islam di seluruh dunia, seperti kasus muslim Rohingya, menangkap dan mengadili umat islam dengan tuduhan radikal, seperti yang terjadi di negara-negara di Timur Tengah, meninggalnya hampir 700 petugas KPPS pada pilpres 2019. Maraknya makanan-makanan yang mengandung kimia, minyak babi, juga bagian dari misi tersebut. Teroris Radikalis sengaja dimunculkan untuk menuduh umat islam sebagaimana yang dialami oleh muslimin Kashmir Burma membantai muslim Myanmar dan Israel membantai muslimin Gaza setelah itu Islam di cap sebagai agama teroris. Di Indonesia, program deradikalisasi merupakan semacam proses penghapusan sejarah, khilafah dan jihad, pengawasan majlis ta’lim, khutbah jum’at dan para ulama, kiai, ustadz dan da’i muslim. Di negara yang mayoritas muslim seperti Indonesia, rezim akan bermain sangat hati-hati mulai dari penghapusan sejarah Islam, membiarkan penista agama, membatasi dan mengawasi kegiatan islami, menggulirkan isu-isu sensitif terkait keislaman seperti permasalahan azan, shalat jamaah di masjid, jum’atan dan pengajaran ilmu agama. Namun kalau umat Islam Indonesia diam dan tidak berani untuk melawan, maka deradikalisasi di Indonesia bisa sampai level ekstrim sebagaimana yang dialami umat Islam minoritas di beberapa negara seperti Myanmar, India, China, New Zealand, Amerika, Australia dll.\nBelakangan ini, Kementerian Agama Republik Indonesia menghapus pelajaran sejarah Islam yang di dalamnya ada khilafah, imamah dan jihad yang telah diajarkan sejak dahulu. Alasannya tak ada lain selain meminimalisir pemikiran dan tindakan radikal. Jelas alasan itu mengada-ada karena sejarah merupakan fakta, tergantung penafsiran orang yang menyampaikannya yang terindikasi teroris dan radikalis. Merekalah yang sebetulnya perlu ditindaklanjuti bukan pelajarannya yang dihapus. Indonesia merdeka melalui resolusi jihad. Dengan semangat fisabilillah dan pengabdian yang tinggi dari para ulama dan santri yang berjuang pada saat itu, untuk merebut kemerdekaan yang dinikmati sampai saat ini. Jadi indonesia ini tidak akan pernah ada kalau tidak ada seruan resolusi jihad yang dikenal dengan Hari Pahlawan 10 Nopember. Bagaimanapun, kebijakan yang tidak bijak itu hanya menunjukkan bahwa mereka gagal paham soal khilafah dan jihad, karena mengira tak ada bedanya antara khilafah yang dipelajari di madrasah-madrasah itu dengan pemahaman khilafah versi ISIS. Padahal, khilafah yang dipelajari di madrasah-madrasah atau di seluruh pesantren di Indonesia ini adalah Khulafaur Rasyidin dan pemerintahan Islam setelahnya. Itu pun telah dipelajari sejak dahulu, bahkan sebelum Indonesia ini berdiri. Dan buktinya selama itu aman-aman saja. Jika seandainya pemahaman khilafah dan jihad di sini sama dengan versi ISIS, tentu Indonesia tidak akan pernah damai, dan mungkin Indonesia itu sendiri tidak akan pernah ada.\nGerakan-gerakan di atas tidak lain datang dari para musuh Islam. Musuh-musuh ini sangat paham bahwa umat Islam tidak akan mungkin bisa dihancurkan dengan cara menyerang langsung Nabi shollalloohu \’alaihi wassalam. Karena bagi muslimin, apapun madzhab dan golongannya bahkan aliran sesat sekalipun, akan sangat marah dan siap bersimbah darah untuk membela Nabi tercinta.\nKarenanya yang mereka lakukan adalah melakukan tahapan-tahapan strategi yang sebenarnya usang tapi sangat mematikan. Sedikit demi sedikit menjauhkan umat ini dari kecintaan kepada Nabinya, tanpa sedikitpun mereka bisa menyadarinya.\nLangkah pertama adalah membuat suatu masyarakat antipati terhadap bangsa Rasulullah: Arab. Dibuat jargon menarik semisal Islam itu bukanlah Arab. Lalu perlahan menanamkan paham bahwa Islam kita lebih baik dari Islamnya orang Arab sebagaimana misi Islam Nusantara. Mereka akan terus mengkampanyekan Islam Nusantara sampai semua lapisan Nahdiyyin menerimanya. Said Aqil CS belum puas dengan tema Islam Nusantara pada Muktamar Jombang. Mereka menginginkan untuk mengokohkan Islam Nusantara menjadi tema di Muktamar Lampung pada bulan Oktober 2020 yang lebih dulu akan dirumuskan dan direkomendasikan lewat Munas dan Konbes NU yang rencananya akan diadakan di Sarang, Rembang pada bulan Maret 2020 nanti (semoga digagalkan Allah). Kalau ini terjadi, kami sebagai bagian dari masyayikh Sarang selamanya menolak IsNus, tidak ridlo dan tidak ikut bertanggung jawab dunia dan akhirat.\nJika rencana ini berjalan mulus, mereka akan menghembuskan kembali kebencian kepada para keturunan Rasulullah: Habaib. Dicap bahwa mereka itu hanya pendatang. Sebaik apapun, tetap bukan asli pribumi. Dikaburkanlah perjuangan dan jasa mereka untuk negeri ini, sambil sesekali diangkat data beberapa habib jika bermasalah dan dicari salahnya. Agar rasa cinta umat kepada dzurriyat Rasulullah kian memudar dan perlahan musnah. Kemudian menebarkan kebencian kepada para malaikat, anbiya’ dan para sahabat nabib berada di dekat Rasulullah dan menghampirinya ketika sendirian dan ketika tidur. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam duduk di permadani Abdul Mutthalib dimana anak-anaknya tidak ada yang berani duduk di sana.
قال ابن إسحاق: حدثني العباس بن عبد الله بن معبد، عن بعض أهله قال: كان يوضع لعبد المطلب فراش في ظل الكعبة، وكان لا يجلس عليه أحد من بنيه إجلالاً له، وكان رسول الله صلى الله عليه وسلم يأتي حتى يجلس عليه، فيذهب أعمامه ليؤخروه عنه؛ فيقول عبد المطلب: دعوا ابني، ويمسح على ظهره، ويقول: إن لابني هذا شأناً؛ كذا قاله ابن الأثير في أسد الغابة.
Artinya: Ibn Ishaq berkata: Menceritakan kepadaku Abbas bin Abdullah bin Ma’bad, dari sebagian keluarganya, ia berkata: Abdul Mutthalib diberi sebuah permadani di naungan Ka’bah dan tidak ada satupun anaknya yang berani mendudukinya sebagai penghormatan kepadanya. Suatu ketika Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallama datang lalu duduk disitu, lalu paman-pamannya pun menghampiri untuk meminta Rasulullah tidak mendudukinya. Abdul Mutthalib pun berkata, “Biarkan putraku,” sembari mengusap punggung Rasulullah. “Putraku ini punya sesuatu yang besar,” lanjutnya.
وقال قوم من بني مدلج – وهم مشهورون بالقيافة – : يا عبد المطلب، احتفظ به؛ فإنا لم نر قدماً أشبه بالقدم الذي في مقام إبراهيم منه، فقال عبد المطلب لأبي طالب: اسمع ما يقول هؤلاء في ابن أخيك، وقال عبد المطلب لأم أيمن وكانت تحضنه: لا تغفلي عن ابني؛ فإن أهل الكتاب يزعمون أنه نبي هذه الأمة، وكان عبد المطلب لا يأكل طعاماً إلا قال: علي بابني، فيؤتى به إليه، فلما حضرت عبد المطلب الوفاة، أوصى به أبا طالب. (سمط النجوم العوالي في أنباء الأوائل والتوالي- للعصامي -1 / 132)
Artinya: Abdul Mutthalib tidak makan kecuali berkata, “Datangkan putraku kesini,” hingga Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallama pun didatangkan kepadanya. Ketika Abdul Mutthalib akan wafat, beliau mewasiatkan hal tersebut kepada Abu Thalib. (Abdul Malik Ishami, Simth al-Nujum al-‘Awali fi Anba’ al-Awail wa al-Tawali, juz 1 hlm. 132)
Begitupun saat Rasulullah shallallahu alaihi wasallam dirawat oleh pamannya Abu Thalib, Nabi selalu dimuliakan, sangat diperhatikan dan selalu dalam kondisi yang bersih dan sehat:
وَذَكَرَ كَوْنَ النّبِيّ – صَلّى اللّهُ عَلَيْهِ وَسَلّمَ – فِي كَفَالَةِ عَمّهِ يَكْلَؤُهُ وَيَحْفَظُهُ . فَمِنْ حِفْظِ اللّه لَهُ فِي ذَلِكَ أَنّهُ كَانَ يَتِيمًا لَيْسَ لَهُ أَبٌ يَرْحَمُهُ وَلَا أُمّ تَرْأَمُهُ لِأَنّهَا مَاتَتْ وَهُوَ صَغِيرٌ وَكَانَ عِيَالُ أَبِي طَالِبٍ ضَفَفًا ، وَعَيْشُهُمْ شَظَفًا ، فَكَانَ يُوضَعُ الطّعَامُ لَهُ وَلِلصّبْيَةِ مِنْ أَوْلَادِ أَبِي طَالِبٍ فَيَتَطَاوَلُونَ إلَيْهِ وَيَتَقَاصَرُ هُوَ وَتَمْتَدّ أَيْدِيهِمْ وَتَنْقَبِضُ يَدُهُ تَكَرّمًا مِنْهُ وَاسْتِحْيَاءً وَنَزَاهَةَ نَفْسٍ وَقَنَاعَةَ قَلْبٍ فَيُصْبِحُونَ غُمْصًا رُمْصًا ، مُصْفَرّةً أَلْوَانُهُمْ وَيُصْبِحُ هُوَ – عَلَيْهِ السّلَامُ – صَقِيلًا دَهِينًا كَأَنّهُ فِي أَنْعَمِ عَيْشٍ وَأَعَزّ كِفَايَةٍ لُطْفًا مِنْ اللّهِ – عَزّ وَجَلّ – بِهِ. (الروض الأنف 1/ 311)
Artinya: Didatangkan makanan kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dan anak-anak Abu Thalib. Mereka pun saling berebut makanan, namun Rasulullah menahan diri dari itu. Mereka saling mengulurkan tangan, namun Rasulullah shallallahu alaihi wasallam menggenggam tangannya karena mempersilahkan, malu, perilaku yang bersih, dan hati yang terima apa adanya. Anak-anak Abu Thalib pun menjadi kotor dan belepotan warna kuning, sedangkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam keadaannya bersih dan wangi seperti dalam hidup yang paling nikmat dan paling kecukupan karena kasih sayang dari Allah ‘Azza wa Jalla. (Abdurrahman Suhaili, al-Raudl al-Anf, juz 1 hlm. 311)
Sekali lagi kami tegaskan, keadaan nabi semasa kecil selalu bersih dan terawat. Nabi pernah mengalami رمد (sakit mata) tapi tidak pernah mengalami رمص (belekan; matanya mengeluarkan kotoran; rembes).
( الرمد ) داء إِلْتِهَابِيّ يصيب العين ( وعلم الرمد ) علم طب العيون تسمية له بالمرض الغالب.( المعجم الوسيط: 1 / 372).
Artinya: ar-Romad: Penyakit Infeksi atau peradangan yang menyerang mata, ilmu ar-Romad: ilmu kesehatan mata…( al-Mu’jam al-Wasith, juz 1 hlm 372)
( الرمص ) وسخ أبيض جامد يجتمع في موق العين. (المعجم الوسيط 1 / 372).
Artinya: ar-Romash: kotoran berwarna putih padat yang menumpuk di sudut mata. (al-Mu’jam al-Wasith, juz 1hlm 372).
Pernyataan lain yang lebih keji dan ngawur dari Muwafiq akhzahullahu wa ahaanahu fii ad-daaroini adalah mengandaikan jika di arab pada masa kecil nabi terdapat buah jambu maka Rasulullah shallallahu alaihi wasallam juga akan mencuri jambu pada masa kecilnya dan menganggap Rasulullah tidak bisa baca tulis karena tidak mau sekolah dan sukanya bermain-main dengan kambing saja, bahkan lancang menyebut nabi Muhammad shallallahu alaihi wasallam sangat cerewet.
Kita harus mengimani bahwa sejak kecil Rasulullah shallallahu alaihi wasallam selalu dijaga oleh Allah subhanahu wata’ala dari segala bentuk perbuatan yang tidak terpuji. Kita lihat saja keterangan yang ada pada kitab ar-Raudh al-Unuf diatas, untuk mengambil makanan yang sudah dihidangkan saja Rasulullah shallallahu alaihi wasallam merasa segan dan malu untuk mengambilnya, apalagi terbesit untuk mencuri jambu yang jelas-jelas termasuk sebuah kemaksiatan. Ini mengingatkan kami pada wejangan guru kami Abuya Sayyid Muhammad bin Alawi al-Hasani al-Maliki untuk selalu benar-benar menjauhi dua hal yang sangat dibenci beliau yaitu mencuri dan berbohong.
وذكر ابن سبع في الخصائص أن حليمة قالت كنت أعطيه الثدي الأيمن فيشرب منه ثم احوله إلى الثدي الأيسر فيأبى أن يشرب منه قال بعضهم وذلك من عدله لأنه علم ان له شريكا في الرضاعة. (الخصائص الكبرى: 1 / 104)
Artinya: Ibnu Sab’in menuturkan dalam kitab al-Khashaish bahwa sayyidah Halimah berkata: aku menyusui Rasulullah shallallahu alaihi wasallam dengan ambing susu sebelah kanan, ia bersedia untuk meminumnya. Namun ketika aku ganti dengan ambing susu yang sebelah kiri, ia enggan untuk untuk meminumnya. Sebagian ulama mengatakan: Hal itu dikarenakan sifat adil yang dimiliki Rasulullah shallallahu alaihi wasallam, Rasulullah tahu bahwa ia punya saudara sepersusuan yang biasanya meminum susu dari ambing susu sebelah kiri milik sayyidah Halimah. (as-Suyuti, al-Khashaish al-Kubro, juz 1 hlm 104).
روى إسحاق بن راهويه، وأبو يعلى، والطبراني، والبيهقي، وأبو نعيم، عن حليمة، قالت: قدمتك مكة في نسوة من بني سعد بن بكر نلتمس الرضعاء في سنة شهباء، فقدمت على أتان لي ومعي صبي لنا وشارف والله ما تبض بقطرة وما ننام ليلنا ذلك أجمع، صبينا لا يجد في ثديي ما يغنيه ولا شارفنا ما يغذيه، فقدمنا مكة، فو الله ما علمت امرأة منا إلا أخذت رضيعاً غيري. فلما لم أجد غيره، قلت لزوجي: والله، إني لأكره من بين صواحبي ليس معي رضيع، لأنطلقن إلى ذلك اليتيم، فلآخذنه، فذهبت فإذا هو مدرج في ثوب صوف أبيض من اللبن، يفوح منه المسك وتحته حريرة خضراء راقد على قفاه يغط، فأشفقت أن أيقظه من نومه لحسنه وجماله، فدنوت منه رويداً، فوضعت يدي على صدره، فتبسم ضاحكاً، وفتح عينيه لينظر إلي، فخرج من عينيه نور وصل عنان السماء وأنا أنظر، فقبلته بين عينيه، وأعطيته ثديي الأيمن، فأقبل عليه ما شاء من لبن، فحولته إلى الأيسر فأبى، وكانت تلك حاله بعد. قال أهل العلم: أعلمه الله أن له شريكاً فألهمه العدل. (سمط النجوم العوالي في أنباء الأوائل والتوالي: 1 / 128)
Artinya: Ishaq bin Rahawaih, Abu Ali, at-Thabarani, al-Baihaqi dan Abu Nuaim meriwayatkan dari Halimah, Halimah berkata:……….maka kemudian aku menemuinya dan ia sudah dimasukkan ke dalam sebuah kain halus yang sangat putih bahkan lebih dari putihnya susu, terhembus darinya harum misik, di bawahnya beralaskan sutra hijau, ia tidur nyenyak dengan posisi telentang, aku khawatir akan membuatnya terbangun dari tidurnya karena melihat keindahan dan keelokannya. Kemudian aku mendekatinya pelan-pelan, kuletakkan tanganku di dadanya kemudian ia tersenyum manis seraya membuka kedua matanya. Dari kedua matanya terpancar cahaya terang yang sampai menyentuh langit, aku melihat peristiwa itu langsung. Kemudian aku mengecupnya diantara kedua matanya. Dan aku memberinya ambing susu sebelah kanan agar ia meminum susu darinya, ia pun meminumnya dengan lahap. Kemudian aku ganti dengan ambing susu sebelah kiri namun ia enggan untuk meminum susu darinya, dan begitulah seterusnya. Para ahli ilmu berkata: Allah subhanahu wata’ala sudah memberi tahu Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bahwa ia punya saudara sepersusuan yang biasanya minum dari payudara sebelah kiri, Allah menurunkan ilhamnya pada nabi agar berlaku adil. (al-Ishomi, Simtu an-Nujum, juz 1 hlm 128).
وَكَانَ رَسُولُ اللّهِ صَلّى اللّهُ عَلَيْهِ وَسَلّمَ – فِيمَا ذُكِرَ لِي – يُحَدّثُ عَمّا كَانَ اللّهُ يَحْفَظُهُ بِهِ فِي صِغَرِهِ وَأَمْرِ جَاهِلِيّتِهِ أَنّهُ قَالَ لَقَدْ رَأَيْتنِي فِي غِلْمَانِ قُرَيْشٍ نَنْقُلُ حِجَارَةً لِبَعْضِ مَا يَلْعَبُ بِهِ الْغِلْمَانُ كُلّنَا قَدْ تَعَرّى ، وَأَخَذَ إزَارَهُ فَجَعَلَهُ عَلَى رَقَبَتِهِ يَحْمِلُ عَلَيْهِ الْحِجَارَةَ فَإِنّي لَأُقْبِلُ مَعَهُمْ كَذَلِكَ وَأُدْبِرُ إذْ لَكَمَنِي لَاكِمٌ مَا أَرَاهُ لَكْمَةً وَجِيعَةً ثُمّ قَالَ شُدّ عَلَيْك إزَارَك ؛ قَالَ فَأَخَذْتُهُ وَشَدَدْتُهُ عَلَيّ ثُمّ جَعَلْت أَحْمِلُ الْحِجَارَةَ عَلَى رَقَبَتِي وَإِزَارِي عَلَيّ مِنْ بَيْنِ أَصْحَابِي. (سيرة ابن هشام: 1\183)
Artinya: “Ibnu Ishaq berkata bahwa seperti disampaikan kepadaku bahwa Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam pernah bercerita tentang perlindungan Allah kepadanya sejak masa kecilnya dari kejahiliyahan. Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda, Pada masa kecilku, aku bersama anak-anak kecil Quraisy mengangkat batu untuk satu permainan yang biasa dilakukan anak-anak. Semua dari kami telanjang dan meletakkan bajunya di pundaknya (sebagai ganjalan) untuk memikul batu. Aku maju dan mundur bersama mereka, namun tiba-tiba seseorang yang belum pernah aku lihat sebelumnya menamparku dengan tamparan yang amat menyakitkan. la berkata, ‘Kenakan pakaianmu.’ Kemudian aku mengambil pakaianku memakainya. Setelah itu, aku memikul batu di atas pundakku dengan tetap mengenakan pakaian dan tidak seperti teman-temanku. “(Ibnu Hisyam, Sirah ibn Hisyam, juz 1 hlm 183).
وحفظه الله من كل ما قد ينحرف إليه الشبان من مظاهر اللهو والعبث. قال عليه الصلاة والسلام فيما يرويه عن نفسه: ما هممت بشيء مما كانوا في الجاهلية يعملونه غير مرتين، كل ذلك يحول الله بيني وبينه، ثم ما هممت به حتى أكرمني الله بالرسالة. قلت ليلة للغلام الذي يرعى معي بأعلى مكة: لو أبصرت لي غنمي حتى أدخل مكة وأسمر بها كما يسمر الشباب، فقال :أفعل، فخرجت حتى إذا كنت عند أول دار بمكة سمعت عزفا فقلت: ما هذا؟ فقالوا: عرس، فجلست أسمع، فضرب الله على أذني، فنمت فما أيقظني إلا حر الشمس، فعدت إلى صاحبي، فسألني فأخبرته، ثم قلت له ليلة أخرى مثل ذلك ودخلت مكة فأصابني مثل أول ليلة، ثم ما هممت بعده بسوء . (فقه السيرة للبوطي ص64-65)
Artinya: “Selama masa mudanya, Allah telah memeliharanya dari penyimpangan yang biasanya dilakukan oleh para pemuda seusianya, seperti berhura-hura dan permainan nista lainnya. Bertutur Rasulullah shallallahu alaihi wasallam tentang dirinya :…..Aku tidak pernah menginginkan sesuatu yang biasa mereka lakukan di masa jahiliyah, kecuali dua kali. Itupun kemudian dicegah oleh Allah. Setelah itu aku tidak pernah menginginkannya sampai Allah memuliakan aku dengan risalah. Aku pernah berkata kepada seorang teman yang menggembala bersamaku di Mekkah,“Tolong awasi kambingku, karena aku akan masuk ke kota Mekkah untuk begadang sebagaimana para pemuda.“ Kawan tersebut berkata lakukanlah.“ Lalu aku keluar. Ketika aku sampai pada rumah pertama di Mekkah, aku mendengar nyanyian, lalu aku berkata ,“Apa ini ?“ Mereka berkata ,“Pesta“. Lalu aku duduk mendengarkannya. Tetapi kemudian Allah menutup telingaku, lalu aku tertidur dan tidak terbangun kecuali oleh panas matahari. Kemudian aku kembali kepada temanku, lalu ia bertanya padaku , dan aku pun mengabarkan. Kemudian pada malam yang lain aku katakan kepadanya sebagaimana malam pertama. Maka aku pun masuk ke Mekkah, lalu mengalami kejadian sebagaimana malam terdahulu. Setelah itu aku tidak pernah lagi menginginkan keburukan. (Said Ramadhan Albuthi, Fiqh as-Siroh, hlm 64-65).
Ibarot –ibarot diatas sangat jelas dalam menggambarkan betapa luhurnya akhlak Rasulullah shallallahu alaihi wasallam semasa kecil. Untuk meminum susu dari ambing susu sebelah kiri yang biasanya diminum oleh saudara sesusunya saja Rasulullah shallallahu alaihi wasallam enggan, apalagi untuk terbesit mencuri jambu seperti yang dikatakan Muwafiq. Dalam kitab Sirah Ibnu Hisyam dan Fiqh al-Sirah di atas juga diterangkan bahwa sejak kecil Rasulullah shallallahu alaihi wasallam sangat dijaga oleh Allah subhanahu wa ta’ala dari segala macam tindakan tercela yang biasa dilakukan oleh remaja sebayanya.
Semua pernyataan semacam ini tidak mungkin akan keluar dari mulut seorang muslim yang benar-benar berpaham ahlussunnah wal jamaah dan meyakini sifat ma’shum yang dimiliki setiap nabi. Dari sini kelihatan sekali bahwa Muwafiq tidak paham bagaimana pendiri NU KH. Hasyim Asyari mengajari kita cara mengisi maulid nabi dalam kitab at-Tanbihat al-Wajibatnya, bahkan ia telah menyimpang jauh dari Ajaran beliau:
يؤخذ من كلام العلماء الاتي ذكره أن المولد الذي يستحبه الأئمة هو اجتماع الناس وقراءة ما تيسر من القرآن ورواية الأخبار الواردة في مبدأ أمر النبي صلى الله عليه و سلم وما وقع في حمله ومولده من الارهاصات وما بعده من سيره المباركات. )التنبيهات الواجبات ص: 10(
Artinya: Diambil dari kalam ulama yang akan disebutkan nanti bahwa maulid yang disunnahkan oleh imam-imama adalah berkumpulnya manusia, membaca sebagian dari Al-Quran dan riwayat-riwayat tentang ihwal pertama Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallama, peristiwa yang terjadi saat mengandung dan melahirkannya dari berbagai irhas, dan sejarah hidup beliau yang diberkahi. (KH. Hasyim Asy’ari, al-Tanbihat al-Wajibat li Man Yatsna’ al-Maulid bi al-Munkarat, hlm. 10)
التنبيه الثامن: صرح القاضي عياض رحمه الله تعالى بقتل متنقصه ومؤذيه صلى الله عليه وسلم فانه قال في الشفا وبحسب ما يجب من الحقوق للنبي صلى الله عليه وسلم وما يتعين من بر وتوقير وتعظيم واكرام, حرّمه الله تعالى أذاه في كتابه واجتمعت الأمة على قتل متنقصه أي بنوع من تحقيره. )التنبيهات الواجبات ص: 33(
Artinya: Peringatan yang ke delapan: Imam Qadhi ‘Iyadh rahimahullahu ta’ala secara tegas mengatakan wajib membunuh setiap orang yang merendahkan dan menyakiti Rasulullah shallallahu alaihi wasallam. Sesungguhnya dalam kitabnya as-Shifaa ia berkata: dengan memandang semua hak yang wajib dilakukan kepada nabi shallallahu alaihi wasallam seperti berbuat baik, memuliakan, mengagungkan, dan menghormati nabi, dalam alquran Allah ta’ala telah mengharamkan semua hal yang dapat menyakiti nabi. Semua ulama sepakat untuk menghukum mati setiap orang yang merendahkan nabi dengan, apapun bentuk penghinaannya. (KH. Hasyim Asy’ari, al-Tanbihat al-Wajibat li Man Yatsna’ al-Maulid bi al-Munkarat, hlm 33)
Selain itu Muwafiq membuat kebohongan besar dengan menyebut Waroqoh bin Naufal (bukan Nufail seperti yang diucapkan Muwafiq) sebagai seorang dukun yang kaget begitu mengetahui nabi Muhammad adalah seorang rasul. Tuduhan semacam ini jelas akan memberi pemahaman pada masyarakat awam bahwa nabi Muhammad pernah mendatangi dukun dan bertanya pada dukun. Pada menit yang sama Muwafiq juga mengeluarkan perkataan keji kepada malaikat Jibril, ia membuat-buat cerita bahwa pada waktu itu Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bercerita pada Waroqoh tentang sosok yang tinggi, besar, hitam, entah dedemit atau jin yang telah mendatangi beliau sehingga beliau ketakutan. Padahal dalam hadis yang menceritakan permulaan wahyu tidak terdapat perkataan Rasulullah shallallahu alaihi wasallam yang demikian. Muwafiq telah membuat kebohongan tentang malaikat jibril pada peristiwa tersebut.
وَمَنْ أَظْلَمُ مِمَّنِ افْتَرَى عَلَى اللَّهِ كَذِبًا أَوْ كَذَّبَ بِآيَاتِهِ إِنَّهُ لَا يُفْلِحُ الظَّالِمُونَ [الأنعام : 21]
Artinya: “ Dan siapakah yang lebih aniaya daripada orang yang membuat-buat suatu kedustaan terhadap Allah, atau mendustakan ayat-ayat-Nya?Sesungguhnya orang-orang yang aniaya itu tidak mendapat keberuntungan.”(QS. al-An’am: 21)
قُلْ مَنْ كَانَ عَدُوًّا لِجِبْرِيلَ فَإِنَّهُ نَزَّلَهُ عَلَى قَلْبِكَ بِإِذْنِ اللَّهِ مُصَدِّقًا لِمَا بَيْنَ يَدَيْهِ وَهُدًى وَبُشْرى لِلْمُؤْمِنِينَ (97) مَنْ كَانَ عَدُوًّا لِلَّه وَمَلَائِكَتِهِ وَرُسُلِهِ وَجِبْرِيلَ وَمِيكَالَ فَإِنَّ اللَّهَ عَدُوٌّ لِلْكَافِرِينَ [البقرة : 97 ، 98]
Artinya: “ Katakanlah, barang siapa yang menjadi musuh jibril, maka Jibril telah menurunkannya (al-Quran) ke dalam hatimu dengan seizin Allah: membenarkan kitab-kitab yang sebelumnya dan menjadi petunjuk serta berita gembira bagi orang-orang yang beriman. Barang siapa yang menadi musuh Allah, malaikat-malaikat-Nya, rasul-rasulnya, Jibril, dan Mikail, maka sesungguhnya Allah adalah musuh orang-orang kafir.” (QS. al-Baqarah: 97-98).
حدثنا مكي بن إبراهيم قال حدثنا يزيد بن أبي عبيد عن سلمة قال: سمعت النبي صلى الله عليه و سلم يقول: من يقل عليَّ ما لم أقل فليتبوأ مقعده من النار . (صحيح البخاري – البغا: 1 / 52)
Artinya: “ Barang siapa berkata tentangku yang tidak pernah aku katakan, maka hendaklah ia persiapkan tempat duduknya di neraka.” (HR. Bukhari: 109).
Pernyataan dari Muwafiq mengenai malaikat Jibril yang membuat kami sangat ingkar ialah saat ia menceritakan bahwa Rasulullah pada peristiwa itu sangat ketakutan sebab melihat wujud jin atau dedemit yang tinggi, besar, hitam. Tidak mungkin Rasulullah takut melihat jin, karena pada zaman dahulu orang arab tidak ada yang takut jin, bahkan orang arab selalu membawa pedang untuk menebas setiap ada yang mengusik mereka termasuk gangguan dari jin. Menurut kami Rasulullah shallallahu alaihi wasallam pada peristiwa itu mungkin memang merasa ketakutan, namun ketakutan beliau sama sekali tidak seperti apa yang digambarkan Muwafiq dalam ceramahnya. Rasulullah merasa takut jika yang mendatanginya adalah jin bukan malaikat Jibril dan yang disampaikan bukanlah wahyu dari Allah. Ulama berbeda pendapat dalam menafsiri ketakutan Rasulullah shallallahu alaihi wasallam pada peristiwa ini. Semua penafsiran tidak ada yang sama dengan perkataan Muwafiq. Semua penafsiran tersebut telah dijelaskan sebagaimana berikut:
قوله لقد خشيت على نفسي دل هذا مع قوله يرجف فؤاده على انفعال حصل له من مجيء الملك ومن ثم قال زملوني والخشية المذكورة اختلف العلماء في المراد بها على اثني عشر قولا أولها الجنون وأن يكون ما رآه من جنس الكهانة جاء مصرحا به في عدة طرق وأبطله أبو بكر بن العربي وحق له أن يبطل لكن حمله الإسماعيلي على أن ذلك حصل له قبل حصول العلم الضرورى له أن الذي جاءه ملك وأنه من عند الله تعالى ثانيها الهاجس وهو باطل أيضا لأنه لا يستقر وهذا استقر وحصلت بينهما المراجعة ثالثها الموت من شدة الرعب رابعها المرض وقد جزم به بن أبي جمرة خامسها دوام المرض سادسها العجز عن حمل اعباء النبوة سابعها العجز عن النظر إلى الملك من الرعب ثامنها عدم الصبر على أذى قومه تاسعها أن يقتلوه عاشرها مفارقة الوطن حادى عشرها تكذيبهم إياه ثاني عشرها تعييرهم إياه وأولى هذه الأقوال بالصواب وأسلمها من الارتياب الثالث واللذان بعده وما عداها فهو معترض والله الموفق (فتح الباري – ابن حجر : 1\24)
Artinya: “Ulama berbeda pendapat dalam mengartikan kata al khasyyah. Pertama, gila (al junun), karena yang dilihat oleh Nabi adalah sesuatu yang aneh dan mengejutkan, sebagaimana dikatakan Isma’ili, bahwa hal ini terjadi sedang nabi belum mengetahui hakikat malaikat yang diutus oleh Allah untuk menyampaikan wahyu kepadanya, dan pendapat ini ditentang oleh Abu Bakar bin Arabi. Kedua, kecemasan, dan pendapat ini tidak benar. Ketiga. kematian karena nabi benar-benar ketakutan. Keempat, sakit sebagaimana dikatakan oleh Ibnu Abi Hamzah. Kelima, sakit terus menerus. Keenam, ketidakmampuan untuk memegang amanah kenabian. Ketujuh, ketidakmampuan melihat bentuk malaikat. Kedelapan, tidak memiliki kesabaran atas siksaan dari orangorang kafir Kesembilan, mereka akan membunuh Nabi. Kesepuluh, meninggalkan tanah airnya. Kesebelas, kedustaan mereka terhadap nabi. Keduabelas, cemoohan mereka kepada Nabi. Akan tetapi arti yang paling benar adalah arti yang ketiga (ketakutan), keempat (sakit) dan kelima (sakit terus menerus). (Ibnu Hajar, Fath al-Bari juz 1 hlm 24 ).
Muwafiq telah bertindak ngawur karena menyamakan malaikat yang agung dengan makhluk yang rendah. Apakah Muwafiq yang mengaku biasa baca kitab kuning tidak tahu bahwa hukum merendahkan malaikat atau menjadikannya bahan tertawaan itu bisa menyebabkan kemurtadan?
“من سبّ نبياً أو ملكاً أو عرّض به أو لعنه أو عابه أو قذفه أو استخف بحقه وما أشبه فإنه يقتل ولا يستتاب. ولا تقبل منه التوبة لو أعلنها ولو جاء تائباً قبل أن يطلع عليه، لان القتل في هذه الحالة حد خاص وإن كان يدخل تحت الردة”. “التشريع الجنائي” لعبد القادر عودة -2/724(
Artinya: Barangsiapa menghina nabi atau malaikat, menyindir, melaknat, menghujat, meremehkan haknya, dan lain-lain, maka dia dibunuh dan tidak dimintai pertaubatan dulu karena tidak diterima taubatnya. (Abdul Qadir Audah, al-Tasyri’ al-Janai, juz 2 hlm. 724)
قوله : ( أو كذب رسولا ) بخلاف من كذب عليه فلا يكون كفرا بل كبيرة فقط ا هـ ع ش .فرع : لو ادعى أن النبي يسلم عليه لم يكفر ؛ لأن غايته أنه يدعي أن النبي راض عليه وهذا لا يقتضي الكفر فإن كان صادقا فذاك ظاهر ، وإلا فهو مجرد كذب ولو ادعى أنه يوحى إليه وإن لم يدع النبوة أو ادعى أنه يدخل الجنة ويأكل من ثمارها وأنه يعانق الحور العين فهذا كفر بالإجماع كما في شرح الحصني .والأنبياء الذين يجب الإيمان بهم تفصيلا خمسة وعشرون نظمها بعضهم بقوله : حتم على كل ذي التكليف معرفة ؛ لأنبياء على التفضيل قد علموا في تلك حجتنا منهم ثمانية من بعد عشر ويبقى سبعة وهمو إدريس هود شعيب صالح وكذا ذو الكفل آدم بالمختار قد ختموا قوله : ( أو سبه ) أو قصد تحقيره ولو بتصغير اسمه أو سب الملائكة أو ضلل الأمة (حاشية البجيرمي على الخطيب – 12 / 407)
Artinya: “(Termasuk murtad adalah menistakan Rasul) atau bermaksud merendahkan walaupun dengan mentashgir namanya, atau menista malaikat, atau menganggap umat sesat.” (Sulaiman al-Bujairimi, Hasyiyah ‘ala Mughni al-Muhtaj, juz 12 hlm. 307)
( قَوْلُهُ أَوْ تَكْذِيبِهِ ) أَيْ ، وَلَوْ فِي غَيْرِ النُّبُوَّةِ ، وَمِثْلُ تَكْذِيبِهِ مَا لَوْ قَصَدَ تَحْقِيرَهُ ، وَلَوْ بِتَصْغِيرِ اسْمِهِ أَوْ سَبِّهِ أَوْ سَبِّ الْمَلَائِكَةِ أَوْ صَدَّقَ مُدَّعِي النُّبُوَّةِ أَوْ ضَلَّلَ الْأُمَّةَ أَوْ كَفَّرَ الصَّحَابَةَ أَوْ أَنْكَرَ غَيْرُ جَاهِلٍ مَعْذُورٍ الْبَعْثَ أَوْ مَكَّةَ أَوْ الْكَعْبَةَ أَوْ الْمَسْجِدَ الْحَرَامَ أَوْ الْجَنَّةَ أَوْ النَّارَ أَوْ الْحِسَابَ أَوْ الثَّوَابَ أَوْ الْعِقَابَ . (حاشية الجمل – 21 / 57)
Artinya: Seperti halnya mendustakan nabi adalah berniat merendahkan nabi walaupun dengan mentashghir namanya, menistakan nabi atau malaikat. (Sulaiman Jamal, Hasyiyah ‘ala Manhaj al-Thullab, juz 21 hlm. 57)
وَيَكْفُرُ بِقَوْلِهِ لِلْقَبِيحِ إنَّهُ حَسَنٌ وَبِقَوْلِهِ لِغَيْرِهِ رُؤْيَتِي إيَّاكَ كَرُؤْيَةِ مَلَكِ الْمَوْتِ عِنْدَ الْبَعْضِ خِلَافًا لِلْأَكْثَرِ وَقِيلَ بِهِ إنْ قَالَهُ لِعَدَاوَتِهِ لَا لِكَرَاهَةِ الْمَوْتِ وَبِقَوْلِهِ لَا أَسْمَعُ شَهَادَةَ فُلَانٍ وَإِنْ كان جِبْرِيلُ أو مِيكَائِيلَ عَلَيْهِمَا السَّلَامُ وَبِعَيْبِهِ مَلَكًا من الْمَلَائِكَةِ أو الِاسْتِخْفَافِ بِهِ لَا بِقَوْلِهِ أنا أَظُنُّ أَنَّ مَلَكَ الْمَوْتِ تُوُفِّيَ وَلَا يَقْبِضُ رُوحِي مَجَازًا عن طُولِ عُمْرِهِ إلَّا أَنْ يَعْنِيَ بِهِ الْعَجْزَ عن تَوَفِّيهِ (البحر الرائق – 5 / 131)
Artinya: Dan kafir hukumnya orang yang mencela malaikat atau meremehkannya. (Ibn Nujaim, al-Bahr al-Raiq, juz 5 hlm. 131)
( وَإِنْ سَبَّ نَبِيًّا أَوْ مَلَكًا أَوْ عَرَّضَ أَوْ لَعَنَهُ أَوْ عَابَهُ أَوْ قَذَفَهُ أَوْ اسْتَخَفَّ بِحَقِّهِ أَوْ غَيَّرَ صِفَتَهُ أَوْ أَلْحَقَ بِهِ نَقْصًا وَإِنْ فِي بَدَنِهِ أَوْ خَصْلَتِهِ أَوْ غَضَّ مِنْ رُتْبَتِهِ أَوْ وَفَوْرِ عِلْمِهِ أَوْ زُهْدِهِ أَوْ أَضَافَ إلَيْهِ مَا لَا يَجُوزُ عَلَيْهِ أَوْ نَسَبَ إلَيْهِ مَا لَا يَلِيقُ بِمَنْصِبِهِ عَلَى طَرِيقِ الذَّمِّ أَوْ قِيلَ لَهُ بِحَقِّ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَلَعَنَ وَقَالَ : أَرَدْت الْعَقْرَبَ قُتِلَ وَلَمْ يُسْتَتَبْ حَدًّا ) عِيَاضٌ . (التاج والإكليل – 12 / 70)
Artinya: Barangsiapa menista nabi atau malaikat, menyindir, melaknat, mencela, menuduh, meremehkan haknya, merubah sifatnya, meletakkan kekurangan baik pada fisik maupun karakternya, mengingkari kedudukan, kelangsungan ilmu, maupun kezuhudannya, menyandarkan sesuatu yang tidak boleh kepadanya, menisbat suatu yang tidak sesuai dengan kedudukannya karena ingin mencela, atau diucapkan kepada nabi, “Demi hak Rasulullah ShallaLlahu ‘alaihi wa Sallama,” lalu ia melaknatnya lalu ia berkilah dengan mengatakan, “Yang saya maksud itu kalajengking,” maka orang tersebut dibunuh dan tidak disuruh bertaubat karena pidana had. (Muhammad bin Yusuf, al-Taj wa al-Iklil, juz 12 hlm. 70)
فمتى ادعى النبوة او سب الله او رسوله او جحده او صفة من صفاته او كتابا او رسولا او ملكا او احدى العبادات الخمس او حكما ظاهرا مجمعا عليه كفر فيستتاب ثلاثة ايام فإن لم يتب قتل (أخصر المختصرات – 1 / 254)
Artinya: Ketika seseorang mendakwa kenabian atau menista Allah, Rasul-Nya, mengingkarinya atau sebagian sifatnya, mencela kitab-Nya, utusan-Nya, malaikat, salah satu ibadah lima, atau hukum zahir yang disepakati, maka dia kafir lalu disuruh bertaubat selama tiga hari. Jika dia tidak bertaubat maka dibunuh. (Abdullah Ibn Jabrain, Akhshar al-Mukhtasharat, juz 1 hlm. 254)
Waroqoh bin Naufal adalah seorang yang alim dan mampu menterjemahkan taurat dan injil ke dalam bahasa arab. Waroqoh bin Naufal juga paham akan datangnya nabi akhir zaman jadi tidak mungkin kaget apalagi sampai terjengkang (jawa; nggeblak) seperti tuduhan Muwafiq. Rasulullah shallallahu alaihi wasallam sendiri melarang mencela Waroqoh bin Naufal:
( لا تسبوا ورقة بن نوفل فاني قد رايت له جنة أو جنتين ) قال العراقي شاهد لما قاله جمع انه اسلم عند ابتداء الوحي . )التيسير بشرح الجامع الصغير ـ للمناوى – (2 / 953)
Artinya: “Janganlah mencela Waraqah bin Naufal karena saya melihat baginya satu surga atau dua surga.” al-Iraqi berkata, “Hadits ini menguatkan hadits lain yang disampaikan oleh beberapa ulam bahwa Waraqah masuk Islam pada permulaan turunnya wahyu.” (al-Munawi, al-Taisir bi Syarh al-Jami’ al-Shaghir, juz 2 hlm. 953)
وأخبرنا أبو جعفر بن السمين بإسناده عن يونس بن بكير عن هشام بن عروة عن أبيه قال : ساب أخ لورقة رجلا فتناول الرجل ورقة فسبه فبلغ ذلك النبي صلى الله عليه و سلم فقال لأخيه : هل علمت أني رأيت لورقة جنة أو جنتين فنهى رسول الله صلى الله عليه و سلم عن سبه. )أسد الغابة ,1 / 1107)
Artinya: “Janganlah mencela Waraqah bin Naufal karena saya melihat baginya satu surga atau dua surga.” al-Iraqi berkata, “Hadits ini menguatkan hadits lain yang disampaikan oleh beberapa ulama bahwa Waraqah masuk Islam pada permulaan turunnya wahyu.” (al-Munawi, al-Taisir bi Syarh al-Jami’ al-Shaghir, juz 2 hlm. 953)
Ucapan keji dari Muwafiq yang lain adalah mengatakan nabi Sulaiman alaihi assalam berbicara pada angin kentut yang kemudian membuat semua hadirin tertawa terbahak-bahak. Dalam ceramahnya yang lain Muwafiq menjelaskan bahwa dalam madzab Maliki kentut tidaklah membatalkan wudu. Ini semakin menunjukkan bahwa selain ia tak paham sejarah, ia juga tidak paham ilmu fiqih.

الخارج المعتاد من السبيلين وهو البول والغائط ينقض الوضوء بالإجماع, وأما النادر كالدود من الدبر والريح من القبل والحصاة والإستحاضة والمذي ينقض أيضا إلا عند مالك. )رحمة الأمة في اختلاف الأئمة (ص: 12)
Artinya: “perkara yang biasa keluar dari dua jalan (air kencing dan tahi) secara ijma’ membatalkan wudu”. (Muhammad bin Abdurahman, Rohmat al-Ummah hlm 12)
الثاني البول الثالث الريح الخارج من الدبر خلافا ش في اعتباره الخارج من الذكر وفرج المرأة وإن كان نادرا.(الذخيرة للقرافي ,ج:1, ص:212)
Artinya: kedua adalah kencing, ketiga adalah angin yang keluar dari dubur…..(al-Qarafi, al-Dakhiroh juz 1 hlm 212)
وقد أجمعوا على أن الريح الخارجة من الدبر حدث يوجب الوضوء واجتمعوا على أن الجشاء ليس فيه وضوء بإجماع وقد أجمعوا على أن الريح الخارجة من الدبر حدث فدل ذلك على مراعاة المخرجين فقط. (الاستذكار, 1\157)
Artinya: “Dan semua ulama menyatakan ijma’ mengenai angin yang keluar dari dubur adalah hadas yang mewajibkan wudu…(ِAbu Yusuf al-Qurthubi, al-istidzkar juz 1 hlm 157)
قال ابن المنذر أجمعوا أنه ينتقض بخروج الغائط من الدبر والبول من القبل والريح من الدبر. (المجموع شرح المهذب ج: 2, ص:6)
Artinya: “Ibnu Mundzir berkata: ulama telah menyatakan ijma’nya mengenai wudlu yang batal disebabkan keluarnya tahi dari dubur, kencing dari qubul dan angin dari dubur.” (an-Nawawi, al-Majmu’ Syarh Muhadzab juz 2 hlm 6).
Semua pemikiran dan pernyataan sesat Muwafiq CS merupakan benih-benih pemikiran wahhabi, mu’tazilah, syiah bahkan benih dari pemikiran kristen, komunis, dan atheis, juga salah satu proyek besar dari musuh-musuh islam untuk Indonesia. Bungkamnya ormas-ormas islam lebih-lebih pemerintah Indonesia atas genosida yang dilakukan oleh China terhadap etnis muslim Uyghur dengan alasan memerangi radikalisme dan ekstrimisme (sama seperti isu yang selalu digoreng di negeri ini) dan penolakan Presiden kepada delegasi Uyghur dengan alasan tidak ingin menyakiti hati Pemerintah China sebagaimana yang diungkapkan oleh Prof. Salim Said semakin menguatkan dugaan bahwa China komunis sudah mendikte dan menjajah negeri ini lewat para makelarnya seperti jaringan IsNus (islam Nusantara), Said Aqil, para pejabat dan para taipan. Tentunya dengan sokongan dana yang sangat besar, baik dengan dalih investasi, beasiswa, kerjasama atau yang masuk ke kantong pribadi. Mulai dari maraknya penistaan agama di negeri ini dan tidak adanya pernyataan atau tanggapan secara resmi baik dari ormas-ormas islam atau pemerintah terkait hal tersebut, lemahnya penanganan kasus penistaan agama islam, hingga bungkamnya mereka atas genosida etnis muslim Uyghur, bahkan sampai ada yang membela tindakan pemerintah China tersebut. apakah semua ini ada hubungannya?. Waallahu a’lam.

Di China, kamp konsentrasi untuk muslim Uyghur disebut program deradikalisasi. Sebagai contoh, Warga Uyghur yang ketahuan berdoa atau mendownload Al-Qur’an digital ditangkap kemudian dicuci otaknya agar meninggalkan agamanya. Seharusnya pemerintah China menangkap dan memproses para aktifis radikalis saja, bukan menangkap dan mengadili muslim Uyghur secara umum (bukan berarti kami anti radikalis namun Radikal itu harus melihat kondisi, tempat dan waktu, jangan sampai berbuat Radikal terhadap kaum kuffar yang justru berakibat menyengsarakan atau bahkan melenyapkan umat Islam/ bangsanya sendiri). Memang ada proyek besar-besaran untuk pembunuhan masal terhadap umat islam di seluruh dunia, seperti kasus muslim Rohingya, menangkap dan mengadili umat islam dengan tuduhan radikal, seperti yang terjadi di negara-negara di Timur Tengah, meninggalnya hampir 700 petugas KPPS pada pilpres 2019. Maraknya makanan-makanan yang mengandung kimia, minyak babi, juga bagian dari misi tersebut. Teroris Radikalis sengaja dimunculkan untuk menuduh umat islam sebagaimana yang dialami oleh muslimin Kashmir Burma membantai muslim Myanmar dan Israel membantai muslimin Gaza setelah itu Islam di cap sebagai agama teroris. Di Indonesia, program deradikalisasi merupakan semacam proses penghapusan sejarah, khilafah dan jihad, pengawasan majlis ta’lim, khutbah jum’at dan para ulama, kiai, ustadz dan da’i muslim. Di negara yang mayoritas muslim seperti Indonesia, rezim akan bermain sangat hati-hati mulai dari penghapusan sejarah Islam, membiarkan penista agama, membatasi dan mengawasi kegiatan islami, menggulirkan isu-isu sensitif terkait keislaman seperti permasalahan azan, shalat jamaah di masjid, jum’atan dan pengajaran ilmu agama. Namun kalau umat Islam Indonesia diam dan tidak berani untuk melawan, maka deradikalisasi di Indonesia bisa sampai level ekstrim sebagaimana yang dialami umat Islam minoritas di beberapa negara seperti Myanmar, India, China, New Zealand, Amerika, Australia dll.
Belakangan ini, Kementerian Agama Republik Indonesia menghapus pelajaran sejarah Islam yang di dalamnya ada khilafah, imamah dan jihad yang telah diajarkan sejak dahulu. Alasannya tak ada lain selain meminimalisir pemikiran dan tindakan radikal. Jelas alasan itu mengada-ada karena sejarah merupakan fakta, tergantung penafsiran orang yang menyampaikannya yang terindikasi teroris dan radikalis. Merekalah yang sebetulnya perlu ditindaklanjuti bukan pelajarannya yang dihapus. Indonesia merdeka melalui resolusi jihad. Dengan semangat fisabilillah dan pengabdian yang tinggi dari para ulama dan santri yang berjuang pada saat itu, untuk merebut kemerdekaan yang dinikmati sampai saat ini. Jadi indonesia ini tidak akan pernah ada kalau tidak ada seruan resolusi jihad yang dikenal dengan Hari Pahlawan 10 Nopember. Bagaimanapun, kebijakan yang tidak bijak itu hanya menunjukkan bahwa mereka gagal paham soal khilafah dan jihad, karena mengira tak ada bedanya antara khilafah yang dipelajari di madrasah-madrasah itu dengan pemahaman khilafah versi ISIS. Padahal, khilafah yang dipelajari di madrasah-madrasah atau di seluruh pesantren di Indonesia ini adalah Khulafaur Rasyidin dan pemerintahan Islam setelahnya. Itu pun telah dipelajari sejak dahulu, bahkan sebelum Indonesia ini berdiri. Dan buktinya selama itu aman-aman saja. Jika seandainya pemahaman khilafah dan jihad di sini sama dengan versi ISIS, tentu Indonesia tidak akan pernah damai, dan mungkin Indonesia itu sendiri tidak akan pernah ada.
Gerakan-gerakan di atas tidak lain datang dari para musuh Islam. Musuh-musuh ini sangat paham bahwa umat Islam tidak akan mungkin bisa dihancurkan dengan cara menyerang langsung Nabi shollalloohu ‘alaihi wassalam. Karena bagi muslimin, apapun madzhab dan golongannya bahkan aliran sesat sekalipun, akan sangat marah dan siap bersimbah darah untuk membela Nabi tercinta.
Karenanya yang mereka lakukan adalah melakukan tahapan-tahapan strategi yang sebenarnya usang tapi sangat mematikan. Sedikit demi sedikit menjauhkan umat ini dari kecintaan kepada Nabinya, tanpa sedikitpun mereka bisa menyadarinya.
Langkah pertama adalah membuat suatu masyarakat antipati terhadap bangsa Rasulullah: Arab. Dibuat jargon menarik semisal Islam itu bukanlah Arab. Lalu perlahan menanamkan paham bahwa Islam kita lebih baik dari Islamnya orang Arab sebagaimana misi Islam Nusantara. Mereka akan terus mengkampanyekan Islam Nusantara sampai semua lapisan Nahdiyyin menerimanya. Said Aqil CS belum puas dengan tema Islam Nusantara pada Muktamar Jombang. Mereka menginginkan untuk mengokohkan Islam Nusantara menjadi tema di Muktamar Lampung pada bulan Oktober 2020 yang lebih dulu akan dirumuskan dan direkomendasikan lewat Munas dan Konbes NU yang rencananya akan diadakan di Sarang, Rembang pada bulan Maret 2020 nanti (semoga digagalkan Allah). Kalau ini terjadi, kami sebagai bagian dari masyayikh Sarang selamanya menolak IsNus, tidak ridlo dan tidak ikut bertanggung jawab dunia dan akhirat.
Jika rencana ini berjalan mulus, mereka akan menghembuskan kembali kebencian kepada para keturunan Rasulullah: Habaib. Dicap bahwa mereka itu hanya pendatang. Sebaik apapun, tetap bukan asli pribumi. Dikaburkanlah perjuangan dan jasa mereka untuk negeri ini, sambil sesekali diangkat data beberapa habib jika bermasalah dan dicari salahnya. Agar rasa cinta umat kepada dzurriyat Rasulullah kian memudar dan perlahan musnah. Kemudian menebarkan kebencian kepada para malaikat, anbiya’ dan para sahabat nabi.
Jika ini berhasil, barulah mereka berani ke tahap selanjutnya. Menyerang secara halus pribadi Rasulullah. Seakan menyanjung, tapi sebenarnya menjatuhkan dan merendahkan beliau. Seperti menyama-nyamakan Rasulullah dengan orang hebat lainnya dalam sejarah. Nampaknya manis, tapi sebenarnya sangat berbisa. Karena targetnya adalah: Sehebat apapun Muhammad, dia juga seperti manusia pada umumnya.
Bila itu sukses, mulailah pribadi Rasulullah diserang terang-terangan. Kehidupannya dijadikan lelucon. Rumah tangga dan pernikahannya dipertanyakan. Sunnah-sunnah beliau yang suci dikritisi dan dinilai hanya sebagai kebiasaan manusia pada umumnya. Kitab Al-Qur’an dikatakan kitab paling porno sedunia.
Pisau beracun itu pelan tapi pasti akan terus munghujam semakin dalam. Meruntuhkan inti kekuatan agama ini. Jika umat sudah berhasil minimal dibuat sudah tidak bangga lagi dengan Nabinya, maka tidak ada lagi kebaikan sedikitpun yang tersisa untuk umat Muhammad SAW dan kitab sucinya (Al-Qur’an)
Maka jangan heran bila hari ini dan nanti penista agama dan peleceh kehormatan Rasulullah akan semakin berani dan akhirnya menjadikan Islam tinggal sebuah nama yang terselip diantara paham Atheis, Sekuler dan Liberal.
Dua video permintaan maaf dari Muwafiq yang sudah beredar tidaklah cukup, ia masih juga harus mengakui kesalahan besar yang telah diperbuat (dua video permohonan maaf yang sudah beredar di dalamnya terdapat pernyataan “jika saya salah” dan “jika dianggap keliru” yang tidak mencerminkan sepenuhnya mengakui kesalahan) serta wajib baginya untuk segera bertobat dengan mengucapkan dua kalimat syahadat, dan menyesali sekaligus menarik seluruh ucapan-ucapan yang merendahkan martabat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallama, nabi Sulaiman, malaikat, sayyidah Aisyah, sayyidina Umar, dan imam-imam mujtahid muassis NU yang telah dilecehkan dan dilanggar ajarannya. karena semua omongan keji tersebut merupakan dosa besar yang dilaknat oleh Allah sebagaimana firmannya:
إِنَّ الَّذِينَ يُؤْذُونَ اللَّهَ وَرَسُولَهُ لَعَنَهُمُ اللَّهُ فِي الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ وَأَعَدَّ لَهُمْ عَذَابًا مُهِينًا (الأحزاب : 57)
“Sesungguhnya orang-orang yang menghina Allah dan Rasul-Nya itu telah dilaknat Allah di dunia dan akhirat dan telah disiapkan baginya siksa yang menghinakan.” (QS. Al-Ahzab: 57)
وَلَئِنْ سَأَلْتَهُمْ لَيَقُولُنَّ إِنَّمَا كُنَّا نَخُوضُ وَنَلْعَبُ قُلْ أَبِاللَّهِ وَآيَاتِهِ وَرَسُولِهِ كُنْتُمْ تَسْتَهْزِئُونَ [التوبة : 65]
“Sesungguhnya orang-orang yang menghina Allah dan Rasul-Nya itu telah dilaknat Allah di dunia dan akhirat dan telah disiapkan baginya siksa yang menghinakan.” (QS. Al-Ahzab: 57)
Dan tindakan tersebut berkonsekuensi pada kekufuran dan kemurtadan, bahkan secara hukum syariat wajib diganjar hukuman mati meskipun mengaku tidak sengaja:
وما ذكره ظاهر لقصد النقص وهو كفر كما مر, ثم قال من تكلم غير قاصد للسب له ولامعتقد له في جهته صلى الله عليه وسلم بكلمة الكفر من لعنه أو سبه او تكذيب او إضافة ما لا يجوز عليه او نفي ما يجب له مما هو في حقه صلى الله عليه وسلم……………….فحكمه القتل إذ لا يعذر احد في الكفر بالجهالة ولا بدعوى زلل اللسان. (الاعلام بقواطع الاسلام 2\384)
Artinya: Maka hukuman bagi penista agama adalah dibunuh, karena seseorang tidak ditoleransi atas kekufuran karena ketidaktahuan maupun dalih terpelesetnya lisan. (Ibn Hajar al-Haitami, I’lam bi Qawathi’ al-Islam, juz 2 hlm. 384)
حدثنا عبيد الله بن محمد العمري القاضي بمدينة طبرية سنة سبع وسبعين ومائتين حدثنا إسماعيل بن أبي أويس حدثنا موسى بن جعفر بن محمد عن أبيه عن جده علي بن الحسين عن الحسين بن علي عن علي رضي الله عنهم قال قال رسول الله صلى الله عليه و سلم : من سب الأنبياء قتل ومن سب الأصحاب جلد . (المعجم الصغير – الطبراني 1 / 393)
Artinya: Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallama bersabda, “Barangsiapa menghina para nabi maka dia dibunuh, dan barangsiapa menghina para shahabat maka dia didera.” (Abu Qasim al-Thabarani, al-Mu’jam al-Shaghir, juz 1 hlm. 393)
من سب الأنبياء قتل ومن سب أصحابى جلد. أخرجه الطبرانى ، وابن عساكر عن علي( جمع الجوامع أو الجامع الكبير- للسيوطي 1 / 22996)
Artinya: “ “Barangsiapa menghina para nabi maka dia dibunuh, dan barangsiapa menghina para shahabat maka dia didera.” (al-Suyuthi, al-Jami’ al-Kabir, juz 1 hlm 22996)
(من سب الأنبياء قتل) لانتهاكه حرمة من أرسلهم واستخفافه بحقه وذلك كفر قال القيصري : إيذاء الأنبياء بسبب أو غيره كعيب شئ منهم كفر حتى من قال في النبي ثوبه وسخ يريد بذلك عيبه قتل كفرا لا حدا ولا تقبل توبته عند جمع من العلماء وقبلها الشافعية (ومن سب أصحابي جلد) تعزيرا ولا يقتل خلافا لبعض المالكية ولبعض منا في ساب الشيخين ولبعض فيهما والحسنين. (فيض القدير, 6/ 190)
Artinya: (Barangsiapa menghina para nabi maka dia dibunuh) karena merusak kehormatan Allah yang mengutus mereka dan meremehkan hak mereka, dan ini kufur. Al-Qaishari berkata, “Mencela para nabi baik dengan sebab atau tidak seperti halnya mencela satu hal kecil dari mereka adalah kufur. Bahkan jika orang berkata tentang nabi bahwa bajunya kotor dengan maksud mencela mereka, maka dibunuh karena kafir bukan karena hukum had. Ia tidak diterima taubatnya menurut sekelompok ulama, sedangkan menurut madzhab Syafi’i diterima taubatnya. (Abdurrauf Manawi, Faidl al-Qadir Syarh al-Jami’ al-Shaghir, juz 6 hlm. 190)
وقد نقل بن المنذر الاتفاق على أن من سب النبي صلى الله عليه و سلم صريحا وجب قتله ونقل أبو بكر أحد أئمة الشافعية في كتاب الإجماع أن من سب النبي صلى الله عليه وسلم مما هو قذف صريح كفر باتفاق العلماء ، فلو تاب لم يَسقط عنه القتل ؛ لأن حدَّ قذفه القتل ، وحد القذف لا يسقط بالتوبة … فقال الخطابي لا أعلم خلافا في وجوب قتله إذا كان مسلما. (فتح الباري, 12\281)

Ibn Mundzir mengutip kesepakatan bahwa penista Rasulullah Shallallahu ’alaihi wa Sallama secara terang-terangan wajib dibunuh. Abu Bakar seorang imam madzhab Syafi’i mengutip dalam Kitab al-Ijma’ bahwa orang yang menghina Rasulullah Shallallahu ’alaihi wa Sallama secara terang-terangan adalah kufur menurut konsensus ulama, dan jikapun dia bertaubat maka hukum dibunuh tidak bisa gugur.” (Ibn Hajar al-Asqalani, Fath al-Bari, juz 12 hlm. 281)
“من سبّ نبياً أو ملكاً أو عرّض به أو لعنه أو عابه أو قذفه أو استخف بحقه وما أشبه فإنه يقتل ولا يستتاب. ولا تقبل منه التوبة لو أعلنها ولو جاء تائباً قبل أن يطلع عليه، لان القتل في هذه الحالة حد خاص وإن كان يدخل تحت الردة”.(التشريع الجنائي” لعبد القادر عودة، ج2، ص724 )
Artinya: Barang siapa menghina seorang nabi atau malaikat atau menyindir, melaknat, mencaci, menuduh zina, meremehkan hak mereka atau bentuk pelecehan lainnya maka hukumannya adalah dibunuh….. (Abdul Qodir ‘Audah, Tasyri’ al-Jina’I, juz 2 hlm 724).
وقد أفتى أكثر فقهاء الحنفية بناء عليه بقتل من أكثر من سب النبي صلّى الله عليه وسلم من أهل الذمة، وإن أسلم بعد أخذه، وقالوا: يقتل سياسة. وأجمع العلماء كما قال القاضي عياض في الشفا على وجوب قتل المسلم إذا سب النبي صلّى الله عليه وسلم ، لقوله تعالى: {إن الذين يؤذون الله ورسوله لعنهم الله في الدنيا والآخرة وأعد لهم عذاباً مهيناً}(الأحزاب:57). (الفقه الإسلامي وأدلته: 7 / 517)
Artinya: Para ulama sepakat seperti keterangan Qadli Iyadl dalam al-Syifa atas kewajiban membunuh seorang Muslim ketika dia menghina Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallama. (Wahbah al-Zuhaili, al-Fiqh al-Islamiy, juz 7 hlm. 517)
أما سب النبي صلى الله عليه وسلم فالإجماع منعقد على أنه كفر والاستهزاء به كفر قال الله تعالى} قل أبالله وآياته ورسوله كنتم تستهزئون{ }لا تعتذروا قد كفرتم بعد إيمانكم{ بل لو لم تستهزئوا قال أبو عبيد القاسم بن سلام فيمن حفظ شطر بيت مما هجي به النبي صلى الله عليه وسلم فهو كفر وقد ذكر بعض من ألف في الإجماع إجماع المسلمين على تحريم ما هجي به النبي صلى الله عليه وسلم وكتابته وقراءته وتركه متى وجد دون محوه. (فتاوى السبكي :2/ 573)
Artinya: Adapun penista Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallama maka menurut konsensus ulama dia kafir, dan meremehkan Rasulullah juga kufur. (Taqiyuddin Subki, al-Fatawa, juz 2 hlm. 573)

وقال ابن المنذر – رحمه الله تعالى -: “أجمع عامة أهل العلم على أن من سب النبي صلى الله عليه وسلم عليه القتل، وممن قال ذلك: مالك والليث وأحمد وإسحاق، وهو مذهب الشافعي. (تفسير القرطبي: 4/ 432)
Artinya: Mayoritas ahli ilmu bersepakat bahwa orang yang menghina Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallama berhak untuk dibunuh. Termasuk yang mengatakan itu adalah Imam Malik, Laits, Ahmad, dan Ishaq, sedangkan itu adalah pendapat madzhab Syafi’i. (Abu Abdullah Qurthubi, al-Jami’ li Ahkam al-Quran (Tafsir al-Qurthubi), juz 4 hlm. 432)
Dalam video yang lain, Muwafiq akhzahullahu wa ahaanahu fii daroini juga telah lancang berani melecehkan sayyidah Aisyah dengan mengatakan pernikahan sayyidah Aisyah dengan Rasulullah tidak bisa dinalar dan tidak logis karena nabi yang sudah berusia 50 tahun menikahi gadis usia 9 tahun. Perkataan semacam ini akan menimbulkan kesimpulan bahwa Rasulullah shallallahu alaihi wasallam seolah-olah melakukan sihir (pelet) agar Sayyidah Aisyah bersedia dan senang dinikahi Rasulullah shallallahu alaihi wasallam. Konsekuensi dari ucapan Muwafiq tentang sayyidah Aisyah adalah sebagai berikut:
ومن سب عائشة رضي الله عنها قتل لأن الله تعالى يقول فيها يعظكم الله أن تعودوا لمثله أبدا إن كنتم مؤمنين فمن رماها فقد خالف القرآن ومن خالف القرآن قتل. (فتاوى السبكي :2/ 569)
Artinya: Orang yang menghina Aisyah Radliyallahu ‘anha berhak dibunuh. (Taqiyuddin Subki, al-Fatawa, juz 2 hlm. 569)
وقد روي عن مالك فيمن سب عائشة أنه يقتل مطلقا ويمكن حمله على السب بالقذف انتهى. وقال في الإكمال في حديث الإفك: وأما اليوم فمن قال ذلك في عائشة قتل لتكذيب القرآن وكفره بذلك وأما غيرها من أزواجه فالمشهور أنه يحد لما فيه من ذلك ويعاقب لغيره وحكى ابن شعبان قولا آخر أنه يقتل على كل حال وكأن هذا التفت إلى أذى النبي صلى الله عليه وسلم حيا وميتا انتهى. (مواهب الجليل لشرح مختصر الخليل :8/ 381)
Artinya: Diriwayatkan dari Imam Malik tentang orang yang menista Aisyah bahwa dia berhak dibunuh secara mutlak. (Syamsuddin Ru’aini, Mawahib al-Jalil li Syarh Mukhtashar al-Khalil, juz 8 hlm. 381).
Dalam video yang sama Muwafiq juga melecehkan sayyidina Umar dengan mengatakan sayyidina Umar berwajah sangat menyeramkan, menakutkan dan sadis, bahkan setan takut melihat sayyidina umar. padahal wajah sayyidina Umar sangatlah tampan, kulitnya putih dan sedap dipandang mata. Setan takut bukan karena melihat wajah sayyidina Umar namun karena takut akan ketegasan sayyidina Umar dalam menegakkan agama islam. Hukuman bagi orang yang melakukan penistaan semacam ini pun berat sekali:
و أخرج ابن عساكر عن أبي رجاء العطاردي قال : كان عمر رجلا طويلا جسيما أصلع شديد الصلع أبيض شديد الحمرة في عارضيه خفة سبلته كبيرة و في أطرافها صهبة. (تاريخ الخلفاء – (1 / 118(
ولد عمر رضي الله عنه بعد عام الفيل بثلاث عشرة سنة وأما صفته الخَلْقية، فكان رضي الله عنه، أبيض أمهق، تعلوه حمرة، حسن الخدين والأنف والعينين، غليظ القدمين والكفين، مجدول اللحم، وكان طويلاً جسيماً أصلع، قد فرع الناس، كأنه راكب على دابة، وكان قوياً شديداً، لا واهناً ولا ضعيفاً، وكان يخضب بالحناء، وكان طويل السَّبلة وكان إذا مشى أسرع وإذا تكلم أسمع، وإذا ضرب أوجع. ( أمير المؤمنين عمر بن الخطاب: 1 / 13(
. وقال في الإكمال أيضا: وسب أصحاب النبي صلى الله عليه وسلم وتنقصهم أو واحد منهم من الكبائر المحرمات. وقد لعن النبي صلى الله عليه وسلم فاعل ذلك وذكر أن من آذاه وآذى الله تعالى فإنه لا يقبل منه صرف ولا عدل واختلف العلماء فيما يجب عليه فعبد الملك ومشهور مذهبه إنما فيه الاجتهاد بقدر قوله والمقول فيه وليس له في الفيء حق وأما من قال فيهم: إنهم كانوا على ضلالة وكفر فيقتل. (مواهب الجليل لشرح مختصر الخليل: 8/ 381)
Artinya: Menista shahabat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallama dan merendahkan mereka atau salah satu dari mereka termasuk dosa besar yang diharamkan …. Adapun orang yang berkata tentang shahabat bahwa mereka sesat dan kafir maka dia dibunuh. (Syamsuddin Ru’aini, Mawahib al-Jalil li Syarh Mukhtashar al-Khalil, juz 8 hlm. 381)
(ومن سب أصحابي جلد) تعزيرا ولا يقتل خلافا لبعض المالكية ولبعض منا في ساب الشيخين ولبعض فيهما والحسنين.(فيض القدير : 6 / 190)
Artinya: “ (Barang siapa menghina para shahabatku, dia wajib didera) sebagai hukuman…( al-Munawi, Faidl al-Qadir, juz 6 hlm 190)
(لعن الله من سب أصحابي) لما لهم من نصرة الدين فسبهم من أكبر الكبائر وأفجر الفجور بل ذهب بعضهم إلى أن ساب الشيخين يقتل. (فيض القدير: 5 / 350)
Artinya: (Allah melaknat orang yang menghina Shahabatku) karena jasa mereka memperjuangkan agama, menghina mereka termasuk dosa dan kedurhakaan yang paling besar. Bahkan sebagian ulama berpendapat bahwa orang yang menghina Abu bakar dan Umar bin Khattab wajib dibunuh.” (al-Munawi, Faidl al-Qadir juz 5 hlm 530).
العز بن عبد السلام الشافعي بعدم التكفير، ولفظ القرطبي لم يختلف في كفر من قال: إنهم كانوا على ضلالةٍ؛ لأنه أنكر ما علم من الدين ضرورةً وكذب الله ورسوله فيما أخبر به، واختلف هل يستتاب وتقبل توبته كالمرتد أو لا يستتاب ولا تقبل توبته كالزنديق إن ظهر عليه وإن سبهم بغير ذلك، فإن سبهم بما يوجب الحد كالقذف حد للقذف ثم ينكل النكال الشديد، وإن سبهم بغير ذلك جلد الجلد الشديد. قال ابن حبيبٍ: ويخلد في السجن إلى أن يموت. (الفواكه الدواني, أحمد بن غنيم بن سالم النفراوي : 1 /322(
Artinya: “ jika ada yang menghina para shahabatdengan tuduhan selain zina maka didera dengan sangat berat…( Ahmad bin Ghonim, al-Fawakih al-dawaani juz 1 hlm 322 ).
Mengenai pesan Gus Mus yang mengatakan “Jangan mau dibodohi oleh Setan Kebencian. Tidak ada orang muslim, umat Nabi Muhammad SAW –apalagi yang sehari-hari melakukan dakwah menyampaikan sabda Nabinya– sengaja menghina Nabinya sendiri. Jaga akal sehat. Jangan tunduk pada Setan Kebencian dan Iblis Adu domba” justru malah sebenarnya yang dibodohi setan dan iblis adalah orang-orang yang diam dan tak merasa sakit hati saat nabi dan agamanya dinistakan, bahkan malah lebih memilih menomorsatukan dan membela seorang penceramah yang menghina nabi hanya karena dia dianggap kyai NU. Seorang dai yang benar-benar paham ilmu agama tidak akan mungkin keluar kata-kata kotor dari mulutnya apalagi sampai berani melecehkan nabi, malaikat, keluarga nabi dan shahabat nabi.
Kita bukan orang bodoh yang tidak tahu bahwa orang-orang yang menistakan agama wajib dihukum baik secara syariat maupun secara hukum negara sebagaimana yang termaktub dalam KUHP Pasal 156(a) melengkapi dekret Presiden Soekarno yang dijalankan oleh Presiden Soeharto, yaitu Dekret Presiden No. 1/PNPS/1965 tentang Pencegahan Penyalahgunaan dan/atau Penodaan Agama. Bahkan sejak zaman kolonial Belanda kasus penistaan agama sudah ada dan ditindak seperti kasus penistaan agama pada 9 dan 11 Januari 1918, Martodharsono redaktur Djawi Hiswara memuat tulisan karya Djojodikoro. Tulisan yang berjudul “Pertjakapan antara Marto dan Djojo” itu menyulut kemarahan HOS Tjokroaminoto karena memuat kalimat “Gusti Kandjeng Nabi Rasoel minoem A.V.H. Gin, minoem opium dan kadang soeka mengisep opium”. Selang sebulan kemudian, 24 Februari 1918, HOS Tjokroaminoto menggalang solidaritas umat muslim di Hindia Belanda untuk turun ke jalan. Pada hari itu di 42 tempat berbeda di Jawa dan sebagian Sumatera, sekitar 150 ribu orang melangsungkan demonstrasi menuntut pemerintah kolonial menghukum Martodharsono dan Djojodikoro.
Fenomena Maraknya tindakan penistaan agama akhir-akhir ini adalah dampak dari lemahnya penindakan kasus penistaan oleh aparat yang berwajib. Kita hitung saja orang seperti Sukmawati, Ade Armando, Denny Siregar, Permadi Arya (Abu Janda), Eko Khuntadi dan muwafiq yang sampai sekarang masih bebas berkeliaran meskipun sudah dilaporkan. Dan seperti yang pernah disampaikan oleh Gus Nur hampir bisa dipastikan setiap ada penistaan agama pasti pelakunya merupakan orang yang dekat dengan rezim dan selalu dilindungi rezim.
Perlu kami ingatkan kepada semua kaum muslimin untuk tidak membuat lelucon, guyonan, penggambaran ataupun logika yang dapat mengundang tawa terbahak-bahak saat menyampaikan pengajian ataupun mauidhoh hasanah yang membahas tentang Allah subhanahu wataala, Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam, malaikat dan ayat Alquran lebih-lebih saat peringatan maulid nabi. Termasuk yang kami ingatkan dalam hal ini ialah alumni pondok pesantren Al Anwar Sarang yang dikenal alim namun dalam setiap pengajiannya selalu memakai bahasa yang kurang santun dan kurang beradab sebagaimana saat menceritakan kisah para nabi dan membandingkan nabi ini tidak selevel dengan nabi ini, nabi Muhammad lupa jumlah rakaat shalat dengan dibarengi tertawa cekikikan mengundang tawa para hadirin dan menyebut malaikat Izrail kacau serta tidak pernah mengaji.
أتتخذنا هزوا بضم الزاء وقلب الهمزة واوا وقرئ بالهمزة مع الضم والسكون أي أتجعلنا مكان هزؤ أو أهل هزؤ أو مهزوء ا بنا أو الهزؤ نفسه استبعادا لما قاله واستخفافا به قال إستئناف كما سبق أعوذ بالله أن أكون من الجاهلين لأن الهزؤ في أثناء تبليغ امر الله سبحانه جهل وسفه. (تفسير أبي السعود : 1\110)
قوله : {فَأَبَوْا أَنْ يُضَيِّفُوهُمَا} فاستحق أهل القرية لذلك أن يذموا ، وينسبوا إلى اللؤم والبخل …….الى ان قال…..ويعفو الله عن الحريري حيث استخف في هذه الآية وتمجن ، وأتى بخطل من القول وزل ؛ فاستدل بها على الكدية والإلحاح فيها ، وأن ذلك ليس بمعيب على فاعله ، ولا منقصة عليه ؛ فقال : وإن رددت فما في الرد منقصة * عليك قد رد موسى قبل والخضر
قلت : وهذا لعب بالدين ، وانسلال عن احترام النبيين ، وهي شنشنة أدبية ، وهفوة سخافية ؛ ويرحم الله السلف الصالح ، فلقد بالغوا في وصية كل ذي عقل راجح ، فقالوا : مهما كنت لاعبا بشيء فإياك أن تلعب بدينك. (الجامع لأحكام القرآن: 11\25)
Hal ini sangat berbahaya karena bisa ditiru oleh masyarakat awam bahkan para penceramah lainnya. Mereka nantinya akan terbiasa mengomentari nabi bahkan tertawa cekikikan, dan akhirnya akan muncul lebih banyak lagi Muwafiq-Muwafiq lainnya. Gaya bahasa, cara penyampaian dan guyonan semacam itu tidak ada sanad ilmiahnya. Sanad dari Mbah Maimoen dan ulama salafunasholihin saja tidak ada apalagi sanad dari Rasulullah shallallahu alaihi wasallam.
Kami menulis tanggapan ini atas permintaan KH. Ustukhri Irsyad Pengasuh PP. Al Hidayah untuk menanggapi pembelaan KH. Hanief Muslih Pengasuh PP. Futuhiyyah Mranggen Demak terhadap Muwafiq.
Terakhir, Semoga Allah subhanahu wataala senantiasa menjaga akidah umat islam dari rongrongan pemikiran sesat musuh-musuh islam berkat kecintaan kita kepada Rasulullah shallallahu alaihi wasallam, keluarganya dan para shahabatnya. Amiin.

Sarang, 14 Rabiul Tsani 1441 H.

KH. Muhammad Najih MZ.

*MAULID DAN KEUTAMAAN RASULULLAH SAW YANG HARUS DIPERTAHANKAN* *TANGGAPAN LENGKAP KH. M. NAJIH MAIMOEN TERHADAP MUWAFIQ SUKMAWATI DLL*

بسم الله الرحمن الرحيم

الحمد لله الذي شرّفنا بظهور أشرف مولود، وأشهد أن لا إله إلا الله وحده لا شريك له الملك الحقّ المعبود، وأشهد أنّ سيدنا محمدا عبده ورسوله خير أهل الوجود, والصلاة والسلام عليه وعلى آله وصحبه أفاضل الناس من كل إنسان محمود. أما بعد

Kemarin kami sudah menulis tanggapan terhadap para pembela Muwafiq. Sekarang saya ingin menambahkan sedikit keterangan tentang keutamaan dan keistimewaan sifat-sifat yang dimiliki Rasulullah shallallahu alaihi wasallam. Perlu saya sampaikan bahwasanya negara yang di dalamnya terdapat paling banyak dan paling besar penyelengaraan peringatan maulidnya adalah negara kita. Hal ini kemudian sangat membuat gerah, marah dan geram umat beragama lain, apalagi komunis yang sekarang ingin menjajah indonesia lewat China. Tidak mustahil jika mereka akan menjajah ideologi islam dan selanjutnya mengganti ideologi islam dengan ideologi komunis. Naudzu billahi min dzalik.

Karena marah dan geram, mereka kemudian memanfaatkan momentum maulid (akhir November 2019) untuk memunculkan fatwa yang membolehkan mengucapkan selamat natal untuk mengurangi semangat umat islam indonesia dalam bermaulid dan mencintai Rasulullah shallallahu alaihi wasallam. Mereka juga memunculkan Sukmawati yang membandingkan Rasulullah shallallahu alaihi wasallam dengan Soekarno manusia biasa yang banyak salahnya. Sebelumnya Sukmawati juga sudah pernah nyinyir soal cadar dan adzan.

Belum sembuh luka umat islam yang tersakiti oleh mulut Sukmawati, Sekarang muncul lagi Ahmad Muwafiq yang lancang mengatakan bahwa Rasulullah shallallahu alaihi wasallam lahirnya biasa-biasa saja dan tak bercahaya. Sebelum kami menyanggah pernyataan tersebut, harus kami sampaikan juga akidah kita yakni Ahlussunnah wal Jamaah meyakini Rasulullah shallallahu alaihi wasallam adalah manusia tapi sama sekali tidak seperti manusia pada umumnya atau biasanya dibahasakan dengan ungkapan:

مُحَمَّدٌ بَشَرٌ وَ لَيْسَ كَالْبَشَرِ

بَلْ هُوَ يَاقُوْتَةٌ وَالنَّاسُ كَالْحَجَرِ

“ Muhammad shallallahu alaihi wasallam itu manusia tapi tidak seperti manusia biasa, beliau bagaikan yaqut (sejenis permata) sedangkan manusia bagaikan bebatuan”.

Rasulullah shallallahu alaihi wasallam tidak bisa dan tidak boleh disamakan dengan manusia biasa karena Allah subhanahu wata’ala menganugerahinya keistimewaan dan keutamaan yang tidak pernah dimiliki oleh manusia lain. Adapun mengenai firman Allah subhanahu wata’ala yang berbunyi:

قُلْ إِنَّمَا أَنَا بَشَرٌ مِثْلُكُمْ يُوحَى إِلَيَّ أَنَّمَا إِلَهُكُمْ إِلَهٌ وَاحِدٌ فَاسْتَقِيمُوا إِلَيْهِ وَاسْتَغْفِرُوهُ وَوَيْلٌ لِلْمُشْرِكِينَ [فصلت : 6]

“Katakanlah: bahwa aku hanyalah seorang manusia seperti kamu, diwahyukan kepadaku bahwasanya tuhan kamu adalah tuhan yang maha esa, maka tetaplah pada jalan yang lurus menuju kepada-Nya dan mohonlah ampun kepada-Nya. Dan kecelakaan besarlah bagi orang-orang yang menyekutukan-Nya”. (QS. al-Fussilat: 6)

Maka kami jelaskan bahwa ayat ini tidak menjelaskan sifat-sifat nabi yang sama seperti manusia biasa namun menerangkan bahwa Rasulullah shallallahu alaihi wasallam juga membutuhkan makan, minum dan akan merasakan kematian sebagaimana kehidupan manusia pada umumnya.

Mengenai kecerdasan Rasulullah shallallahu alaihi wasallam apakah sama dengan manusia pada umumnya? Kami katakan tidak. Tingkat kecerdasan tiap orang berbeda-beda, apalagi kecerdasan Rasulullah shallallahu alaihi wasallam yang merupakan anugerah langsung dari Allah subhanahu wata’ala sejak lahir. Mengangkat dan menengadahkan kepala ke langit kemudian mengubah sendiri posisi yang asalnya telentang menjadi posisi sujud adalah hal luar biasa yang dilakukan Rasulullah shallallahu alaihi wasallam seketika saat beliau dilahirkan (lihat: Subul al-Huda wa ar-Rasyad, juz 1 hlm 343). Ketika disusui oleh sayyidah Halimah, Rasulullah shallallahu alaihi wasallam hanya mau meminum susu dari ambing susu sebelah kanan saja, setiap dipersilahkan untuk meminum dari ambing susu sebelah kiri, Rasulullah shallallahu alaihi wasallam menolak dan tidak mau meminumnya. Ini menunjukkan bahwa Rasulullah shallallahu alaihi wasallam sejak lahir mempunyai sifat wira’i dan sifat adil yakni tidak mau mengambil haknya orang lain, karena saat itu ambing susu kiri sayyidah Halimah biasanya diminum oleh putrinya sendiri yang bernama Syaima’. (lihat: al-Khashais al-Kubro juz 1 hlm 104).

Rasulullah shallallahu alaihi wasallam selalu dijaga oleh Allah subhanahu wata’ala, jadi tidak bisa dan tidak mungkin melakukan pencurian. Untuk sekedar mendengarkan dan menikmati nyanyian atau musik dengan asik saja Rasulullah shallallahu alaihi wasallam tidak bisa melakukannya, apalagi mencuri sebagaimana yang akan saya tuliskan nanti.

Saya ulangi lagi, Rasulullah shallallahu alaihi wasallam itu memang manusia tapi tidak seperti manusia biasa. Bagaikan permata yaqut diantara bebatuan biasa. Batu memang banyak sekali tapi yang seperti permata yaqut jarang sekali dan harganya bisa sampai satu milyar.

Nabi shallallahu alaihi wasallam ketika lahir mengeluarkan cahaya, cahaya nabi terpancar bersamaan ketika keluar dari rahim ibunya yakni sayyidah Aminah. Sebelum nabi shallallahu alaihi wasallam lahir, sudah ada kejadian yang luar biasa yaitu Abrahah yang ingin menghancurkan kakbah namun digagalkan oleh Allah subhanahu wata’ala. Bala tentara Abrahah ditumpas serta dihancurkan oleh pasukan burung Ababil. Dan masih banyak lagi kejadian menakjubkan saat kelahiran nabi.

Muwafiq mengatakan “ kalau ketika nabi lahir keluar cahaya maka akan dibunuh oleh yahudi”, bukankah yahudi sudah sering ingin membunuh nabi tapi selalu digagalkan oleh Allah? Oleh Allah subhanahu wata’ala yahudi dibuat tidak bisa melihat cahaya nabi yang terpancar sampai ke wilayah Busyro. Para pendeta kristenlah yang bisa melihat cahaya tersebut, dan kemudian mereka merasa gentar serta berfirasat bahwa ini adalah tanda akan hilangnya kerajaan Romawi di negeri Syam. Muwafiq juga mengatakan “Kalo nabi bercahaya, nanti nabi akan dibunuh oleh abrahah”, ini omongan yang aneh, padahal Abrahah sudah tunggang langgang dan dihancurkan oleh Allah subhanahu wata’ala 40 hari atau 50 hari sebelum Rasulullah shallallahu alaihi wasallam dilahirkan. (lihat: sirah Ibnu Katsir juz 1 hlm 29 atau sirah Halabiyah juz 1 hlm 95-96)

Masa kecil Rasulullah shallallahu alaihi wasallam tidak bisa disamakan dengan manusia biasa. Rasulullah shallallahu alaihi wasallam ketika bangun tidur sudah terlihat paling rapi dan bersih diantara putra Abdul Mutthalib lainnya atau putra Abu Thalib yang masih kumus-kumus. Ketika tidur, keadaan Rasulullah shallallahu alaihi wasallam tidak seperti keadaan orang yang sedang tidur pada umumnya. Rasulullah tetap terlihat tampan, rapi, dan selalu bercahaya. Cahaya yang dipancarkan saat Rasulullah shallallahu alaihi wasallam tidur tidaklah seperti cahaya lampu-lampu sekarang melainkan cahaya tersebut membuat Rasulullah shallallahu alaihi wasallam seakan tidak sedang dalam keadaan tidur tetap tampan dan enak dipandang wajahnya, tetap rapi tidak jelek, tidak kusut dan berantakan seperti tidur manusia pada umumnya. (lihat: Muhammad al-Insan al-Kamil hlm 20)

Sayyidah Aisyah pernah kehilangan sebuah jarum saat nabi tidak berada di rumah, namun begitu nabi shallallahu alaihi wasallam masuk rumah jarum tersebut langsung kelihatan berkat kehadiran dan cahaya yang terpancar dari Rasulullah shallallahu alaihi wasallam. Walhasil Rasulullah shallallahu alaihi wasallam itu memancarkan cahaya namun pancaran sinarnya tidak menyala-nyala seperti lampu. Meskipun terkadang ketika gelap Rasulullah shallallahu alaihi wasallam juga mengeluarkan cahayanya untuk menerangi kegelapan sebagaimana keterangan dari sayyidah Aisyah di atas. ) lihat: Jami’ al-Ahadits juz 40 hlm 55)

Sangat mustahil Rasulullah shallallahu alaihi wasallam merasa ketakutan melihat wujud jin, demit atau bahkan setan. Tentunya Rasulullah shallallahu alaihi wasallam selalu isti’adah (meminta perlindungan Allah) agar setan menjauh darinya. Pernah ada setan yang ingin menganggu Rasulullah shallallahu alaihi wasallam pada waktu hendak Isra’, namun kemudian Rasulullah isti’adah hingga setan yang membawa api tersebut apinya padam dan setannya lari ketakutan. Walhasil Rasulullah shallallahu alaihi wasallam selalu jauh dari keburukan.

Pada peristiwa penurunan wahyu pertama kali Rasulullah shallallahu alaihi wasallam memang merasa ketakutan tapi bukan ketakutan karena melihat wujud demit atau jin, melainkan Rasulullah shallallahu alaihi wasallam takut dan khawatir kalau tidak sanggup menerima wahyu. ada juga yang menafsiri bahwa Rasulullah shallallahu alaihi wasallam takut kalau wafat atau takut kalau yang datang itu adalah jin beserta sihirnya yang mengaku sebagai malaikat. Perasaan takut seperti yang diomongkan Muwafiq sama sekali tidak sesuai dengan perasaan dan jiwa suci Rasulullah shallallahu alaihi wasallam. Wallahu a’lam bishowab.

Menurut kami justru reaksi Rasulullah shallallahu alaihi wasallam tersebut menunjukkan bahwa Rasulullah shallallahu alaihi wasallam aslinya tidak punya angan-angan untuk menjadi nabi dan Rasul karena saking lugunya Rasulullah shallallahu alaihi wasallam. Rasulullah shallallahu alaihi wasallam pun tidak pernah mempelajari kitab taurat dan injil, oleh Allah ditakdirkan demikian agar Rasulullah shallallahu alaihi wasallam tidak dicurigai oleh orang-orang bahwa nabi pernah membaca dan mempelajari kitab-kitab terdahulu. Andaikan Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bisa membaca pasti akan muncul dugaan bahwa Nabi Muhammad bukan nabi asli, dan yang disampaikan bukan wahyu dari Allah melainkan hanya kutipan, copy-paste atau salinan dari kitab –kitab terdahulu. Sebagaimana yang terjadi sekarang banyak orang yang memiliki dan membaca literasi ataupun manuskrip kemudian disalin dan dikutip 50 sampai 70 persen untuk disampaikan pada orang lain.

Rasulullah shallallahu alaihi wasallam memang tidak pernah belajar, namun hikmah dari semua itu adalah agar segala sesuatu yang disampaikan Rasulullah shallallahu alaihi wasallam pada umatnya benar-benar wahyu murni yang datangnya dari Allah, dan juga supaya orang-orang yang berakal dapat menerima apa yang disampaikan Rasulullah shallallahu alaihi wasallam memang benar-benar wahyu dari Allah yang diterima seorang nabi lewat malaikat jibril, bukan lewat lewat ahli kitab, jin, dedemit atau khodam, dan lain sebagainya.

Mengenai pernyataan Muwafiq andai nabi mencuri jambu, mungkin saja dia sedang menceritakan masa kecilnya sendiri yang gemar mencuri jambu, tidak sekolah, senang bermain-main dengan kambing saja kemudian dituduhkan kepada masa kecil Rasulullah shallallahu alaihi wasallam sebagai pembenaran. Nabi shallallahu alaihi wasallam tidak sekolah atau tidak belajar merupakan ilham dan taufiq dari Allah subhanahu wata’ala agar segala sesuatu yang disampaikan benar-benar cepat diyakini, dipahami dan cepat diterima oleh umat manusia bahwa nabi benar-benar mendapat wahyu dari Allah subhanahu wata’ala bukan rekayasa, produk pemikiran, angan-angan, ataupun cita-cita dari Rasulullah shallallahu alaihi wasallam. Apa yang didapat oleh Rasulullah shallallahu alaihi wasallam merupakan murni dari Allah subhanahu wata’ala. Nabi shallallahu alaihi wasallam adalah hadiah untuk umat manusia sebagaimana hadisnya:

عن أبي صالح عن أبي هريرة قال : قال رسول الله صلى الله عليه و سلم : يا أيها الناس إنما أنا رحمة مهداة. (المستدرك على الصحيحين للحاكم مع تعليقات الذهبي في التلخيص: 1 / 91)

“Diriwayatkan dari Abu shalih dari Abu Hurairah berkata: Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda: wahai umat manusia sesungguhnya aku adalah rahmat yang dihadiahkan (untuk seluruh alam)”. (al-Hakim, al- Mustadrak juz 1 hlm 91).

Alhamdulillah kita telah mendapatkan hadiah dari Allah berupa nabi Muhammad shallallahu alaihi wasallam. Bangsa Indonesia merupakan bangsa yang paling banyak peringatan maulidnya dan paling besar perayaan maulidnya. Alhamdulillah ini harus benar-benar kita syukuri. kita harus rapatkan barisan untuk menolak dan melawan semua propaganda mencampuradukkan agama seperti yang dilakukan oleh Nuril yang membersihkan kaki pendeta, jaga gereja, mengucapkan selamat natal dan lain sebagainya. Pencampuran agama pada dasarnya bukan lagi termasuk agama islam melainkan agama baru bernama agama Islam Nusantara. Dulunya agama islam Nusantara ini bernama Islam liberal, pluralisme atau sinkretisme. karena tidak laku di pasaran, kemudian berganti nama lagi menjadi Islam Multikultural. Islam Multikultural ini pun sama nasibnya dengan nama sebelumnya yaitu tidak laku di pasaran dan menuai banyak kecaman. Akhirnya untuk mengelabui umat islam mereka berganti nama kembali menjadi agama Islam Nusantara.

Kita kaum Ahlussunnah wal Jamaah sejak dulu sebelum terbentuknya NU atau ormas-ormas lain telah diajari oleh ulama kita untuk meyakini nabi shallallahu alaihi wasallam adalah Muhammadun Basyarun wa Laisa Kalbasyari bal huwa yaqutatun wa an-nasu ka al-hajari. Rasulullah shallallahu alaihi wasallam mempunyai sepuluh khasais (keistimewaan) sebagaimana kasidah dalam kitab Mafahim karangan guru kami abuya sayyid Muhammad bin Alawi al-Maliki:

لَمْ يَحْتَلِمْ قَطُّ وَ لَا لَهُ ظِــلَالْ

خُصَّ نَبِيُّنَا بِعَشْرَةِ خِصَالْ

كَذَلِكَ الذُّبَابُ عَنْــــهُ مُمْتَنِــعْ

وَ الْأَرْضُ مَا يَخْرُجُ مِنْهُ تَبْتَلِعْ

يَرَى مِنْ خَلْفِهِ كَمَا يَرَى أَمَامْ

تَنَامُ عَيْنَاهُ وَقَلْبُهْ لَا يَنَامْ

وُلِدَ مَخْتُوْناً وَهِيَ تَابِعَــــــــــةْ

لَمْ يَتَثَاءَبْ قَطُّ وَ هِيَ السَّابِعَةْ

تَأْتِيْ إِلَيْهِ سَرِيْعَةْ لَا تَـــهْرُبُ

تَعْرِفُهُ الدَّوَابُ حِيْنَ يَرْكـَــــبُ

صَلَّى عَلَيْهِ اللهُ صُبْحًا وَ مَسَا

يَعْلُوْ جُلُوْسُهُ جُلُوْسَ الْجُلَسَا

Nabi kita telah dikaruniai sepuluh keistimewaan
Beliau belum pernah sekalipun mimpi basah, tidak memiliki bayangan
Bumi menelan kotoran yang dikeluarkan beliau
Dan lalat tidak mampu hinggap pada tubuhnya
Mata beliau tertidur namun hatinya tetap terjaga
Mampu melihat dari belakang sebagaimana dari depan
Yang ketujuh beliau tidak pernah menguap
Selanjutnya beliau dilahirkan dalam keadaan sudah dikhitan
Binatang-binatang mengenal beliau saat beliau sedang menunggang
Binatang-binatang itu datang dengan segera tidak lari menjauh
Duduk beliau mengungguli duduknya orang lain yang duduk
Shalawat dan salam Allah untuknya setiap pagi dan sore

Shahabat Rasulullah yang bernama Hassan bin Tsabit memuji keindahan Rasulullah dengan syairnyasebagai berikut:
وَأَحْسَنَ مِنْكَ لَمْ تَلِدِ النِّسَاءُ

وأَجْمَلَ مِنْكَ لَمْ تَرَ قَطُّ عَينٌ

كَأَنَّكَ قَدْ خُلِقْتَ كَمَا تَشَاءُ

خُلِقْتَ مُبَرَّءاً مِنْ كُلِّ عَيْبٍ

Mataku sekalipun tidak pernah melihat seorang yang lebih indah darimu
Dan sosok tubuh yang lebih baik darimu tidak pernah dilahirkan oleh para wanita
Engkau (Yaa Rasulallah) diciptakan suci terhindar dari aib dan cela
Seolah–olah engkau dicipta sebagaimana cara yang engkau kehendaki

Ada juga syair yang biasanya dilantunkan oleh Mustafa Atif

قَمَرٌ قَمَرٌ قَمَرٌ سِيدنَا النَّبِي قَمَرٌ

وَجَمِيْل وَجَمِيْل وَجَمِيل سِيدنَا النَّبِي وَجَمِيْل

وَكَفُّ الْمـُـصْطَفَى كَالْوَرْدِ نَادِيْ

وَعِطْرُهَا يَبْقَى اِذَا مَسَّتْ أَيَادِي

وَعَمَّ نَوَالُهاَ كُلَّ الْعِبَادِ

حَبِيْبُ اللهِ هُوْ خَيْرَ الْبَرَيَا

(Engkau bagaikan) bulan, Penghulu kami, Nabi Muhammad (bagaikan) Bulan
Dan Indahnya penghulu kami Nabi (Muhammad), indahnya engkau
Dan telapak tangan Nabi Muhammad yang terpilih bagaikan bunga mawar yang segar
Dan keharumannya kekal apabila disentuh oleh tangan–tangan
Dan anugerah – anugerahnya rata memayungi semua hamba–hamba Allah
(dialah) Kekasih Allah, beliaulah sebaik–baik ciptaan Allah

وَلَا ظِلٌّ لَهُ بَلْ كَانَ نُوْرَا

تَنَالَ الشَّمْسُ مِنْهُ وَالبُدُوْرَا

وَلَمْ يَكُنِ الْهُدَى لَوْلَا ظُهُوْرَه

وَكُلُّ الْكَوْنِ أَنَارَ بِنُوْرِ طَهَ

Dan ia tidak punya bayang-bayang, karena dia adalah cahaya
Dari dialah pancaran sinar matahari dan rembulan berasal
Takkan pernah ada hidayah andai ia tak pernah dilahirkan
Semua alam semesta dapat bercahaya berkat cahaya Rasulullah

وَعَرَقُ الْمُصْطَفَى لِلطِّيْبِ طِيْبَا

وَطَيْبَةٌ شُرِّفَتْ بِالنُّوْرِ طِيْبَا

وَيُدْهِشُ عِنْدَ طَلْعَتِهِ الْحَبِيْبَا

وَإِنْ جُنَّ الْمُشَاهِدُ لَا مَلَامَه

Dan keringat rasul pilihan Allah adalah wewangian yang menambah keharuman wewangian lain
Dan Madinah dimuliakan (bertambah harum) berkat sang cahaya baginda Rasulullah
Para pencintanya menjadi terkesima ketika melihat wajahnya
Andai yang menyaksikan wajahnya dibuat tergila-gila takkan ada cemoohan baginya

وَعَيْنُ قَتَادَةَ خُذْهَا دَلِيْلَا

وَرِيْقُ الْمُصْطَفَى يَشْفِي الْعَلِيْلَا

وَصَارَ لِصُحْبِهِ شَهْدًا مُدَامَه

تَفَلْ فِي الْبِئْرِ أَضْحَتْ سَلْسَبِيْلَا

Dan ludah rasul pilihan Allah dapat menyembuhkan orang yang sakit
Mata Qotadah jadikanlah buktinya (sembuh berkat ludah mulia Rasulullah)
Sumur yang ia ludahi menjadi suber mata air yang melimpah
Dan air sumur tersebut menjadi madu yang nikmat

Mari kita perbanyak membaca kitab-kitab Sirah Nabawiyah (sejarah kenabian), kitab–kitab Syama’il (perangai-perangai nabi) dan kasidah- kasidah yang memuji keistimewaan nabi Muhammad shallallahu alaihi wasallam agar iman kita semakin kuat dan semakin yakin bahwa nabi Muhammad shallallahu alaihi wasallam adalah satu-satunya manusia yang sempurna di dunia secara mutlak yakni baik sebelum nabi Adam Alaihissalam diciptakan ataupun sesudah diciptakan, semasa hidup Rasulullah shallallahu alaihi wasallam ataupun sepeninggal Rasulullah shallallahu alaihi wasallam.

______________________________________________________________________________________

TANGGAPAN LENGKAP KH. M. NAJIH MAIMOEN TERHADAP MUWAFIQ, SUKMAWATI DLL

Banyak sekali para pemuji Ahmad Muwafiq yang tetap bersikukuh bahwa apa yang dikatakan Muwafiq adalah pernyataan yang benar dan tendensius dengan menyertakan dalil yang sangat jauh sekali dari alur pembahasan dan tidak jujur dalam mengutip dalil. Dalil yang mereka jadikan tendensi hampir semua mengenai riwayat yang mengatakan bahwa nabi pernah menderita رمد (sakit mata) seperti yang terdapat pada kitab as-Siroh al-Halabiyah (Juz: 3, hal: 487) dan Subulul Huda Wa ar-Rasyad (juz:2, hal:134). Ibarot semacam ini kemudian diplintir demi melegitimasi ucapan Muwafiq yang menghina Rasulullah shallallahu alaihi wasallam dengan mengatakan bahwa masa kecil Rasulullah shallallahu alaihi wasallam “rembes” (dekil) dan tidak terurus karena diasuh oleh sang kakek semenjak usia enam tahun.
Perlu kami sampaikan bahwa banyak dari pemuja Muwafiq yang tidak jujur dalam mengutip dalil. Riwayat-riwayat yang tertera pada kitab-kitab di atas memang menerangkan bahwa nabi shallallahu alaihi wasallam pada saat dirawat oleh Abdul Mutthalib pernah terserang ) رمدsakit mata bukan rembes, karena kalau rembes itu bahasa arabnya رمص), sehingga kemudian sang kakek Abdul Mutthalib disarankan untuk pergi ke ‘ukadh menemui salah satu rahib yang terkenal mampu mengobati penyakit mata, namun oleh rahib malah disarankan untuk mengobatinya sendiri dengan ludah mulia Rasulullah shallallahu Alaihi wasallam. Ini bukan berarti nabi dalam keadaan rembes dan tak terurus tapi memang pada saat itu di makkah sedang mengalami cuaca yang panas. Hal ini dibuktikan dengan adanya orang-orang yang meminta berkah doa kepada Abdul Mutthalib agar segera diturunkan hujan.
في جهد وجدب وقد سقى الله الناس بعبدالمطلب فاقصدوه لعله يسأل الله تعالى فيكم فقدموا مكة ودخلوا على عبدالمطلب فحيوه بالسلام فقال لهم أفلحت الوجوه وقام خطيبهم فقال قد أصابتنا سنون مجدبات وقد بان لنا أثرك وصح عندنا خبرك فاشفع لنا عند من شفعك وأجرى الغمام لك فقال عبدالمطلب سمعا وطاعة موعدكم غدا عرفات ثم أصبح غاديا إليها وخرج معه الناس وولده ومعه رسول الله صلى الله عليه وسلم فنصب لعبدالمطلب كرسي فجلس عليه وأخذ رسول الله صلى الله عليه وسلم فوضعه في حجره ثم قام عبدالمطلب ورفع يديه ثم قال اللهم رب البرق الخاطف والرعد القاصف رب الأرباب وملين الصعاب هذه قيس ومضر من خير البشر قد شعثت رؤوسها وحدبت ظهورها تشكوا إليك شدة الهزال وذهاب النفوس والأموال اللهم فأتح لهم سحابا خوارة وسماء خرارة لتضحك أرضهم ويزول ضرهم فما استتم كلامه حتى نشأت سحابة دكناء لها دوى وقصدت نحو عبدالمطلب ثم قصدت نحو بلادهم فقال عبدالمطلب يا معشر قيس ومضر انصرفوا فقد سقيتم فرجعوا وقد سقوا. (السيرة الحلبية – 1 / 183)
Artinya: …. Pembicara mereka berdiri lalu berkata, “Kami mengalami paceklik semalam bertahun-tahun. Kami tahu dengan jelas rekam jejak Anda dan kami paham betul kabar tentang Anda. Karena itu, doakanlah syafa’at kepada kami dari Tuhan yang memberi syafa’at kepada Anda dan menggerakkan mendung kepada Anda.” Lalu Abdul Mutthalib menjawab, “Baiklah, besok tempat perjanjian kita di Arafah.” Kemudian Abdul Mutthalib pagi-pagi sekali menuju Arafah bersama orang-orang, anaknya, dan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallama. diberikan kursi kepada Abdul Mutthalib, kemudian Abdul Muttalib duduk di atas kursi seraya mengangkat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallama untuk diletakkan dipangkuannya. lalu beliau berdoa, …. (Ali Burhanuddin Halabi, al-Sirah al-Halabiyyah, juz 1 hlm. 183)
Justru peristiwa ini menunjukkan Irhas serta tanda kenabian yang dimiliki oleh Rasulullah shallallahu alaihi wasallam sejak lahir.
Kata rembes dan tak terurus juga sangat tidak pantas bahkan keji sekali jika disematkan kepada Rasulullah shallallahu alaihi wasallam, karena arti dari rembes (bunyi huruf e pada kata ini sama bunyinya dengan huruf e ketika mengucapkan kata resiko) dalam bahasa jawa mempunyai arti keadaan anak kecil yang ingusan atau beringus (jorok). Orang jawa biasanya menyebut anak kecil yang beringus sehingga ingusnya berada di hidung dan mengotori sekitar hidung dengan kata rembes. Arti lain dari kata ini ialah keadaan orang yang belum mandi sehingga ada kotoran entah karena liur atau ada kotoran di mata dan penampilan yang semrawut. Semua makna ini jelas sekali bertentangan dengan penjelasan para ulama dalam menerangkan keadaan nabi semasa kecil. Nabi dilahirkan disertai dengan cahaya yang terang dan dalam keadaan bersih tanpa ada kotoran sedikitpun, berkhitan dan bercelak:
وولد صلى الله عليه وسلم معذورا مسرورا أي مختونا مقطوع السرة ووقع إلى الارض مقبوضة اصابع يده مشيرا بالسباحة كالمسبح بها. (عيون الاثر في فنون المغازي والشمائل والسير, 1 / 43)
Artinya: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallama dilahirkan dalam kondisi sudah dikhitan dan dipotong tali pusarnya. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallama terbaring di bumi dengan jari-jari tangan menggenggam dan jari telunjuknya mengarah seperti orang yang membaca tasbih (tasyahhud). (Ibn Sayyidinnas, ‘Uyun al-Atsar fi Funun al-Maghazi wa al-Syamail wa-Siyar, juz 1 hlm 43)
وكان النبي صلى الله عليه وسلم قد ولد مختونا مقطوع السرة وروى عن أمه آمنة أنها قالت ولدته نظيفا ما به قذر. ( الشفا بتعريف حقوق المصطفى :1\66)
Artinya: Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallama dilahirkan dalam kondisi sudah dikhitan dan dipotong tali pusarnya. Diriwayatkan dari ibunya yakni sayyidah Aminah bahwa ia berkata, “Aku telah melahirkannya dalam kondisi bersih dan tidak ada kotoran sama sekali. (Imam al-Qodhi ‘Iyadh, as-Shifaa, Juz 1 hlm 66).
وعن همام بن يحيى عن إسحاق بن عبد الله أن أم رسول الله صلى الله عليه وسلم قالت: لما ولدته خرج من فرجي نور أضاع له قصور الشام, فولدته نظيفا ما به قذر, رواه ابن سعد والى هذا أشار العباس بن عبد المطلب في شعره، حيث قال:
أنت لما ولدت أشرقت ال … أرض وضاءت بنورك الأفق
فنحن فى ذاك الضياء وفى النو … ر وسبل الرشاد نخترق
قال فى اللطائف: «وخروج هذا النور عند وضعه، وإشارة إلى ما يجىء به من النور الذى اهتدى به أهل الأرض، وزال به ظلمة الشرك. قال تعالى: قَدْ جاءَكُمْ مِنَ اللَّهِ نُورٌ وَكِتابٌ مُبِينٌ (١٥) يَهْدِي بِهِ اللَّهُ مَنِ اتَّبَعَ رِضْوانَهُ سُبُلَ السَّلامِ وَيُخْرِجُهُمْ مِنَ الظُّلُماتِ إِلَى النُّورِ بِإِذْنِهِ «٢» الآية، وأما إضاءة قصور بصرى بالنور الذى خرج معه فهو إشارة إلى ما خص الشام من نور نبوته، فإنها دار ملكه- كما ذكر كعب: أن فى الكتب السالفة: محمد رسول الله صلى الله عليه وسلم- مولده بمكة ومهاجره بيثرب وملكه بالشام- فمن مكة بدت نبوة نبينا عليه الصلاة والسلام-، وإلى الشام انتهى ملكه، (المواهب اللدنية, 1\128)
Artinya: dari Hammam bin Yahya, dari Ishaq bin Abdullah, bahwa ibu Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallama berkata, “Ketika saya melahirkan Nabi Muhammad keluar dari arah kemaluanku cahaya yang menyinari istana-istana Syam, lalu saya melahirkannya dalam keadaan bersih dan tidak ada kotoran sama sekali.” … Ibn Jauzi dalam Lathaif al-Ma’arif mengatakan, “Keluarnya cahaya ini ketika melahirkan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallama adalah isyarah terhadap cahaya yang memberi petunjuk kepada penduduk bumi dan menghilangkan kegelapan syirik.” … Adapun bersinarnya istana-istana Bushra dengan cahaya yang keluar bersama kelahiran Rasulullah adalah isyarah khusus kepada Syam dari cahaya kenabian beliau karena Syam akan menjadi daerah kekuasaannya. (Syihabuddin Qasthalani, al-Mawahib al-Laduniyyah, juz 1 hlm. 128)
أنّها قالت: ولدته نظيفا) أي نقيا (ما به قذر) بفتحتين أي وسخ ودرن كذا رواه ابن سعد في طبقاته وروي أنه ولدته أمه بغير دم ولا وجع. (شرح المواهب, 1\128)
Artinya: (sayyidah Aminah berkata: Saya melahirkannya dalam kondisi نَظِيْف) yakni نَقِيّ/bersih (dan tidak ada قَذَر) dengan dua fathah yakni kotoran dan debu seperti riwayat Ibn Sa’d dalam al-Thabaqat. Diriwayatkan juga bahwa Aminah melahirkan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallama tanpa ada darah maupun air ketuban. (Qadli Iyadl, Syarh al-Syifa, juz 1 hlm. 173)
Ketika dalam asuhan Abdul Mutthalib keadaan nabi pun sangat sehat dan kuat, kehadiran Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam pun sangat dimuliakan oleh sang kakek, bahkan Abdul Mutthalib sangat peduli, memberi perhatian lebih dan lebih mengutamakan nabi dari pada putranya sendiri:
قال في تاريخ الخميس: روى نافع بن جبير: أنه كان رسول الله صلى الله عليه وسلم مع أمه آمنة بعد رد حليمة إياه لها، فلما توفيت، ضمه وكفله جده عبد المطلب، ورق عليه رقة لم يرقها على ولده، وكان يقربه منه ويدخل عليه إذا خلا وإذا نام، وكان يجلس على فراشه، وكان أولاده لا يجلسون عليه.
Artinya: Husain Bakri dalam Tarikh al-Khamis berkata: Nafi’ bin Jubair meriwayatkan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersama sang ibu lagi yakni sayyidah Aminah setelah sayyidah Halimah memberikan kembali Rasulullah shallallahu alaihi wasallam kepadanya. Maka ketika sayyidah Aminah wafat, Rasulullah lalu diasuh oleh kakeknya Abdul Mutthalib. Beliau sangat sayang kepada Rasulullah shallallahu alaihi wasallam melebihi sayangnya kepada anak-anaknya. Abdul Mutthalib berada di dekat Rasulullah dan menghampirinya ketika sendirian dan ketika tidur. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam duduk di permadani Abdul Mutthalib dimana anak-anaknya tidak ada yang berani duduk di sana.
قال ابن إسحاق: حدثني العباس بن عبد الله بن معبد، عن بعض أهله قال: كان يوضع لعبد المطلب فراش في ظل الكعبة، وكان لا يجلس عليه أحد من بنيه إجلالاً له، وكان رسول الله صلى الله عليه وسلم يأتي حتى يجلس عليه، فيذهب أعمامه ليؤخروه عنه؛ فيقول عبد المطلب: دعوا ابني، ويمسح على ظهره، ويقول: إن لابني هذا شأناً؛ كذا قاله ابن الأثير في أسد الغابة.
Artinya: Ibn Ishaq berkata: Menceritakan kepadaku Abbas bin Abdullah bin Ma’bad, dari sebagian keluarganya, ia berkata: Abdul Mutthalib diberi sebuah permadani di naungan Ka’bah dan tidak ada satupun anaknya yang berani mendudukinya sebagai penghormatan kepadanya. Suatu ketika Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallama datang lalu duduk disitu, lalu paman-pamannya pun menghampiri untuk meminta Rasulullah tidak mendudukinya. Abdul Mutthalib pun berkata, “Biarkan putraku,” sembari mengusap punggung Rasulullah. “Putraku ini punya sesuatu yang besar,” lanjutnya.
وقال قوم من بني مدلج – وهم مشهورون بالقيافة – : يا عبد المطلب، احتفظ به؛ فإنا لم نر قدماً أشبه بالقدم الذي في مقام إبراهيم منه، فقال عبد المطلب لأبي طالب: اسمع ما يقول هؤلاء في ابن أخيك، وقال عبد المطلب لأم أيمن وكانت تحضنه: لا تغفلي عن ابني؛ فإن أهل الكتاب يزعمون أنه نبي هذه الأمة، وكان عبد المطلب لا يأكل طعاماً إلا قال: علي بابني، فيؤتى به إليه، فلما حضرت عبد المطلب الوفاة، أوصى به أبا طالب. (سمط النجوم العوالي في أنباء الأوائل والتوالي- للعصامي -1 / 132)
Artinya: Abdul Mutthalib tidak makan kecuali berkata, “Datangkan putraku kesini,” hingga Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallama pun didatangkan kepadanya. Ketika Abdul Mutthalib akan wafat, beliau mewasiatkan hal tersebut kepada Abu Thalib. (Abdul Malik Ishami, Simth al-Nujum al-‘Awali fi Anba’ al-Awail wa al-Tawali, juz 1 hlm. 132)
Begitupun saat Rasulullah shallallahu alaihi wasallam dirawat oleh pamannya Abu Thalib, Nabi selalu dimuliakan, sangat diperhatikan dan selalu dalam kondisi yang bersih dan sehat:
وَذَكَرَ كَوْنَ النّبِيّ – صَلّى اللّهُ عَلَيْهِ وَسَلّمَ – فِي كَفَالَةِ عَمّهِ يَكْلَؤُهُ وَيَحْفَظُهُ . فَمِنْ حِفْظِ اللّه لَهُ فِي ذَلِكَ أَنّهُ كَانَ يَتِيمًا لَيْسَ لَهُ أَبٌ يَرْحَمُهُ وَلَا أُمّ تَرْأَمُهُ لِأَنّهَا مَاتَتْ وَهُوَ صَغِيرٌ وَكَانَ عِيَالُ أَبِي طَالِبٍ ضَفَفًا ، وَعَيْشُهُمْ شَظَفًا ، فَكَانَ يُوضَعُ الطّعَامُ لَهُ وَلِلصّبْيَةِ مِنْ أَوْلَادِ أَبِي طَالِبٍ فَيَتَطَاوَلُونَ إلَيْهِ وَيَتَقَاصَرُ هُوَ وَتَمْتَدّ أَيْدِيهِمْ وَتَنْقَبِضُ يَدُهُ تَكَرّمًا مِنْهُ وَاسْتِحْيَاءً وَنَزَاهَةَ نَفْسٍ وَقَنَاعَةَ قَلْبٍ فَيُصْبِحُونَ غُمْصًا رُمْصًا ، مُصْفَرّةً أَلْوَانُهُمْ وَيُصْبِحُ هُوَ – عَلَيْهِ السّلَامُ – صَقِيلًا دَهِينًا كَأَنّهُ فِي أَنْعَمِ عَيْشٍ وَأَعَزّ كِفَايَةٍ لُطْفًا مِنْ اللّهِ – عَزّ وَجَلّ – بِهِ. (الروض الأنف 1/ 311)
Artinya: Didatangkan makanan kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dan anak-anak Abu Thalib. Mereka pun saling berebut makanan, namun Rasulullah menahan diri dari itu. Mereka saling mengulurkan tangan, namun Rasulullah shallallahu alaihi wasallam menggenggam tangannya karena mempersilahkan, malu, perilaku yang bersih, dan hati yang terima apa adanya. Anak-anak Abu Thalib pun menjadi kotor dan belepotan warna kuning, sedangkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam keadaannya bersih dan wangi seperti dalam hidup yang paling nikmat dan paling kecukupan karena kasih sayang dari Allah ‘Azza wa Jalla. (Abdurrahman Suhaili, al-Raudl al-Anf, juz 1 hlm. 311)
Sekali lagi kami tegaskan, keadaan nabi semasa kecil selalu bersih dan terawat. Nabi pernah mengalami رمد (sakit mata) tapi tidak pernah mengalami رمص (belekan; matanya mengeluarkan kotoran; rembes).
( الرمد ) داء إِلْتِهَابِيّ يصيب العين ( وعلم الرمد ) علم طب العيون تسمية له بالمرض الغالب.( المعجم الوسيط: 1 / 372).
Artinya: ar-Romad: Penyakit Infeksi atau peradangan yang menyerang mata, ilmu ar-Romad: ilmu kesehatan mata…( al-Mu’jam al-Wasith, juz 1 hlm 372)
( الرمص ) وسخ أبيض جامد يجتمع في موق العين. (المعجم الوسيط 1 / 372).
Artinya: ar-Romash: kotoran berwarna putih padat yang menumpuk di sudut mata. (al-Mu’jam al-Wasith, juz 1hlm 372).
Pernyataan lain yang lebih keji dan ngawur dari Muwafiq akhzahullahu wa ahaanahu fii ad-daaroini adalah mengandaikan jika di arab pada masa kecil nabi terdapat buah jambu maka Rasulullah shallallahu alaihi wasallam juga akan mencuri jambu pada masa kecilnya dan menganggap Rasulullah tidak bisa baca tulis karena tidak mau sekolah dan sukanya bermain-main dengan kambing saja, bahkan lancang menyebut nabi Muhammad shallallahu alaihi wasallam sangat cerewet.
Kita harus mengimani bahwa sejak kecil Rasulullah shallallahu alaihi wasallam selalu dijaga oleh Allah subhanahu wata’ala dari segala bentuk perbuatan yang tidak terpuji. Kita lihat saja keterangan yang ada pada kitab ar-Raudh al-Unuf diatas, untuk mengambil makanan yang sudah dihidangkan saja Rasulullah shallallahu alaihi wasallam merasa segan dan malu untuk mengambilnya, apalagi terbesit untuk mencuri jambu yang jelas-jelas termasuk sebuah kemaksiatan. Ini mengingatkan kami pada wejangan guru kami Abuya Sayyid Muhammad bin Alawi al-Hasani al-Maliki untuk selalu benar-benar menjauhi dua hal yang sangat dibenci beliau yaitu mencuri dan berbohong.
وذكر ابن سبع في الخصائص أن حليمة قالت كنت أعطيه الثدي الأيمن فيشرب منه ثم احوله إلى الثدي الأيسر فيأبى أن يشرب منه قال بعضهم وذلك من عدله لأنه علم ان له شريكا في الرضاعة. (الخصائص الكبرى: 1 / 104)
Artinya: Ibnu Sab’in menuturkan dalam kitab al-Khashaish bahwa sayyidah Halimah berkata: aku menyusui Rasulullah shallallahu alaihi wasallam dengan ambing susu sebelah kanan, ia bersedia untuk meminumnya. Namun ketika aku ganti dengan ambing susu yang sebelah kiri, ia enggan untuk untuk meminumnya. Sebagian ulama mengatakan: Hal itu dikarenakan sifat adil yang dimiliki Rasulullah shallallahu alaihi wasallam, Rasulullah tahu bahwa ia punya saudara sepersusuan yang biasanya meminum susu dari ambing susu sebelah kiri milik sayyidah Halimah. (as-Suyuti, al-Khashaish al-Kubro, juz 1 hlm 104).
روى إسحاق بن راهويه، وأبو يعلى، والطبراني، والبيهقي، وأبو نعيم، عن حليمة، قالت: قدمتك مكة في نسوة من بني سعد بن بكر نلتمس الرضعاء في سنة شهباء، فقدمت على أتان لي ومعي صبي لنا وشارف والله ما تبض بقطرة وما ننام ليلنا ذلك أجمع، صبينا لا يجد في ثديي ما يغنيه ولا شارفنا ما يغذيه، فقدمنا مكة، فو الله ما علمت امرأة منا إلا أخذت رضيعاً غيري. فلما لم أجد غيره، قلت لزوجي: والله، إني لأكره من بين صواحبي ليس معي رضيع، لأنطلقن إلى ذلك اليتيم، فلآخذنه، فذهبت فإذا هو مدرج في ثوب صوف أبيض من اللبن، يفوح منه المسك وتحته حريرة خضراء راقد على قفاه يغط، فأشفقت أن أيقظه من نومه لحسنه وجماله، فدنوت منه رويداً، فوضعت يدي على صدره، فتبسم ضاحكاً، وفتح عينيه لينظر إلي، فخرج من عينيه نور وصل عنان السماء وأنا أنظر، فقبلته بين عينيه، وأعطيته ثديي الأيمن، فأقبل عليه ما شاء من لبن، فحولته إلى الأيسر فأبى، وكانت تلك حاله بعد. قال أهل العلم: أعلمه الله أن له شريكاً فألهمه العدل. (سمط النجوم العوالي في أنباء الأوائل والتوالي: 1 / 128)
Artinya: Ishaq bin Rahawaih, Abu Ali, at-Thabarani, al-Baihaqi dan Abu Nuaim meriwayatkan dari Halimah, Halimah berkata:……….maka kemudian aku menemuinya dan ia sudah dimasukkan ke dalam sebuah kain halus yang sangat putih bahkan lebih dari putihnya susu, terhembus darinya harum misik, di bawahnya beralaskan sutra hijau, ia tidur nyenyak dengan posisi telentang, aku khawatir akan membuatnya terbangun dari tidurnya karena melihat keindahan dan keelokannya. Kemudian aku mendekatinya pelan-pelan, kuletakkan tanganku di dadanya kemudian ia tersenyum manis seraya membuka kedua matanya. Dari kedua matanya terpancar cahaya terang yang sampai menyentuh langit, aku melihat peristiwa itu langsung. Kemudian aku mengecupnya diantara kedua matanya. Dan aku memberinya ambing susu sebelah kanan agar ia meminum susu darinya, ia pun meminumnya dengan lahap. Kemudian aku ganti dengan ambing susu sebelah kiri namun ia enggan untuk meminum susu darinya, dan begitulah seterusnya. Para ahli ilmu berkata: Allah subhanahu wata’ala sudah memberi tahu Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bahwa ia punya saudara sepersusuan yang biasanya minum dari payudara sebelah kiri, Allah menurunkan ilhamnya pada nabi agar berlaku adil. (al-Ishomi, Simtu an-Nujum, juz 1 hlm 128).
وَكَانَ رَسُولُ اللّهِ صَلّى اللّهُ عَلَيْهِ وَسَلّمَ – فِيمَا ذُكِرَ لِي – يُحَدّثُ عَمّا كَانَ اللّهُ يَحْفَظُهُ بِهِ فِي صِغَرِهِ وَأَمْرِ جَاهِلِيّتِهِ أَنّهُ قَالَ لَقَدْ رَأَيْتنِي فِي غِلْمَانِ قُرَيْشٍ نَنْقُلُ حِجَارَةً لِبَعْضِ مَا يَلْعَبُ بِهِ الْغِلْمَانُ كُلّنَا قَدْ تَعَرّى ، وَأَخَذَ إزَارَهُ فَجَعَلَهُ عَلَى رَقَبَتِهِ يَحْمِلُ عَلَيْهِ الْحِجَارَةَ فَإِنّي لَأُقْبِلُ مَعَهُمْ كَذَلِكَ وَأُدْبِرُ إذْ لَكَمَنِي لَاكِمٌ مَا أَرَاهُ لَكْمَةً وَجِيعَةً ثُمّ قَالَ شُدّ عَلَيْك إزَارَك ؛ قَالَ فَأَخَذْتُهُ وَشَدَدْتُهُ عَلَيّ ثُمّ جَعَلْت أَحْمِلُ الْحِجَارَةَ عَلَى رَقَبَتِي وَإِزَارِي عَلَيّ مِنْ بَيْنِ أَصْحَابِي. (سيرة ابن هشام: 1\183)
Artinya: “Ibnu Ishaq berkata bahwa seperti disampaikan kepadaku bahwa Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam pernah bercerita tentang perlindungan Allah kepadanya sejak masa kecilnya dari kejahiliyahan. Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda, Pada masa kecilku, aku bersama anak-anak kecil Quraisy mengangkat batu untuk satu permainan yang biasa dilakukan anak-anak. Semua dari kami telanjang dan meletakkan bajunya di pundaknya (sebagai ganjalan) untuk memikul batu. Aku maju dan mundur bersama mereka, namun tiba-tiba seseorang yang belum pernah aku lihat sebelumnya menamparku dengan tamparan yang amat menyakitkan. la berkata, ‘Kenakan pakaianmu.’ Kemudian aku mengambil pakaianku memakainya. Setelah itu, aku memikul batu di atas pundakku dengan tetap mengenakan pakaian dan tidak seperti teman-temanku. “(Ibnu Hisyam, Sirah ibn Hisyam, juz 1 hlm 183).
وحفظه الله من كل ما قد ينحرف إليه الشبان من مظاهر اللهو والعبث. قال عليه الصلاة والسلام فيما يرويه عن نفسه: ما هممت بشيء مما كانوا في الجاهلية يعملونه غير مرتين، كل ذلك يحول الله بيني وبينه، ثم ما هممت به حتى أكرمني الله بالرسالة. قلت ليلة للغلام الذي يرعى معي بأعلى مكة: لو أبصرت لي غنمي حتى أدخل مكة وأسمر بها كما يسمر الشباب، فقال :أفعل، فخرجت حتى إذا كنت عند أول دار بمكة سمعت عزفا فقلت: ما هذا؟ فقالوا: عرس، فجلست أسمع، فضرب الله على أذني، فنمت فما أيقظني إلا حر الشمس، فعدت إلى صاحبي، فسألني فأخبرته، ثم قلت له ليلة أخرى مثل ذلك ودخلت مكة فأصابني مثل أول ليلة، ثم ما هممت بعده بسوء . (فقه السيرة للبوطي ص64-65)
Artinya: “Selama masa mudanya, Allah telah memeliharanya dari penyimpangan yang biasanya dilakukan oleh para pemuda seusianya, seperti berhura-hura dan permainan nista lainnya. Bertutur Rasulullah shallallahu alaihi wasallam tentang dirinya :…..Aku tidak pernah menginginkan sesuatu yang biasa mereka lakukan di masa jahiliyah, kecuali dua kali. Itupun kemudian dicegah oleh Allah. Setelah itu aku tidak pernah menginginkannya sampai Allah memuliakan aku dengan risalah. Aku pernah berkata kepada seorang teman yang menggembala bersamaku di Mekkah,“Tolong awasi kambingku, karena aku akan masuk ke kota Mekkah untuk begadang sebagaimana para pemuda.“ Kawan tersebut berkata lakukanlah.“ Lalu aku keluar. Ketika aku sampai pada rumah pertama di Mekkah, aku mendengar nyanyian, lalu aku berkata ,“Apa ini ?“ Mereka berkata ,“Pesta“. Lalu aku duduk mendengarkannya. Tetapi kemudian Allah menutup telingaku, lalu aku tertidur dan tidak terbangun kecuali oleh panas matahari. Kemudian aku kembali kepada temanku, lalu ia bertanya padaku , dan aku pun mengabarkan. Kemudian pada malam yang lain aku katakan kepadanya sebagaimana malam pertama. Maka aku pun masuk ke Mekkah, lalu mengalami kejadian sebagaimana malam terdahulu. Setelah itu aku tidak pernah lagi menginginkan keburukan. (Said Ramadhan Albuthi, Fiqh as-Siroh, hlm 64-65).
Ibarot –ibarot diatas sangat jelas dalam menggambarkan betapa luhurnya akhlak Rasulullah shallallahu alaihi wasallam semasa kecil. Untuk meminum susu dari ambing susu sebelah kiri yang biasanya diminum oleh saudara sesusunya saja Rasulullah shallallahu alaihi wasallam enggan, apalagi untuk terbesit mencuri jambu seperti yang dikatakan Muwafiq. Dalam kitab Sirah Ibnu Hisyam dan Fiqh al-Sirah di atas juga diterangkan bahwa sejak kecil Rasulullah shallallahu alaihi wasallam sangat dijaga oleh Allah subhanahu wa ta’ala dari segala macam tindakan tercela yang biasa dilakukan oleh remaja sebayanya.
Semua pernyataan semacam ini tidak mungkin akan keluar dari mulut seorang muslim yang benar-benar berpaham ahlussunnah wal jamaah dan meyakini sifat ma’shum yang dimiliki setiap nabi. Dari sini kelihatan sekali bahwa Muwafiq tidak paham bagaimana pendiri NU KH. Hasyim Asyari mengajari kita cara mengisi maulid nabi dalam kitab at-Tanbihat al-Wajibatnya, bahkan ia telah menyimpang jauh dari Ajaran beliau:
يؤخذ من كلام العلماء الاتي ذكره أن المولد الذي يستحبه الأئمة هو اجتماع الناس وقراءة ما تيسر من القرآن ورواية الأخبار الواردة في مبدأ أمر النبي صلى الله عليه و سلم وما وقع في حمله ومولده من الارهاصات وما بعده من سيره المباركات. )التنبيهات الواجبات ص: 10(
Artinya: Diambil dari kalam ulama yang akan disebutkan nanti bahwa maulid yang disunnahkan oleh imam-imama adalah berkumpulnya manusia, membaca sebagian dari Al-Quran dan riwayat-riwayat tentang ihwal pertama Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallama, peristiwa yang terjadi saat mengandung dan melahirkannya dari berbagai irhas, dan sejarah hidup beliau yang diberkahi. (KH. Hasyim Asy’ari, al-Tanbihat al-Wajibat li Man Yatsna’ al-Maulid bi al-Munkarat, hlm. 10)
التنبيه الثامن: صرح القاضي عياض رحمه الله تعالى بقتل متنقصه ومؤذيه صلى الله عليه وسلم فانه قال في الشفا وبحسب ما يجب من الحقوق للنبي صلى الله عليه وسلم وما يتعين من بر وتوقير وتعظيم واكرام, حرّمه الله تعالى أذاه في كتابه واجتمعت الأمة على قتل متنقصه أي بنوع من تحقيره. )التنبيهات الواجبات ص: 33(
Artinya: Peringatan yang ke delapan: Imam Qadhi ‘Iyadh rahimahullahu ta’ala secara tegas mengatakan wajib membunuh setiap orang yang merendahkan dan menyakiti Rasulullah shallallahu alaihi wasallam. Sesungguhnya dalam kitabnya as-Shifaa ia berkata: dengan memandang semua hak yang wajib dilakukan kepada nabi shallallahu alaihi wasallam seperti berbuat baik, memuliakan, mengagungkan, dan menghormati nabi, dalam alquran Allah ta’ala telah mengharamkan semua hal yang dapat menyakiti nabi. Semua ulama sepakat untuk menghukum mati setiap orang yang merendahkan nabi dengan, apapun bentuk penghinaannya. (KH. Hasyim Asy’ari, al-Tanbihat al-Wajibat li Man Yatsna’ al-Maulid bi al-Munkarat, hlm 33)
Selain itu Muwafiq membuat kebohongan besar dengan menyebut Waroqoh bin Naufal (bukan Nufail seperti yang diucapkan Muwafiq) sebagai seorang dukun yang kaget begitu mengetahui nabi Muhammad adalah seorang rasul. Tuduhan semacam ini jelas akan memberi pemahaman pada masyarakat awam bahwa nabi Muhammad pernah mendatangi dukun dan bertanya pada dukun. Pada menit yang sama Muwafiq juga mengeluarkan perkataan keji kepada malaikat Jibril, ia membuat-buat cerita bahwa pada waktu itu Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bercerita pada Waroqoh tentang sosok yang tinggi, besar, hitam, entah dedemit atau jin yang telah mendatangi beliau sehingga beliau ketakutan. Padahal dalam hadis yang menceritakan permulaan wahyu tidak terdapat perkataan Rasulullah shallallahu alaihi wasallam yang demikian. Muwafiq telah membuat kebohongan tentang malaikat jibril pada peristiwa tersebut.
وَمَنْ أَظْلَمُ مِمَّنِ افْتَرَى عَلَى اللَّهِ كَذِبًا أَوْ كَذَّبَ بِآيَاتِهِ إِنَّهُ لَا يُفْلِحُ الظَّالِمُونَ [الأنعام : 21]
Artinya: “ Dan siapakah yang lebih aniaya daripada orang yang membuat-buat suatu kedustaan terhadap Allah, atau mendustakan ayat-ayat-Nya?Sesungguhnya orang-orang yang aniaya itu tidak mendapat keberuntungan.”(QS. al-An’am: 21)
قُلْ مَنْ كَانَ عَدُوًّا لِجِبْرِيلَ فَإِنَّهُ نَزَّلَهُ عَلَى قَلْبِكَ بِإِذْنِ اللَّهِ مُصَدِّقًا لِمَا بَيْنَ يَدَيْهِ وَهُدًى وَبُشْرى لِلْمُؤْمِنِينَ (97) مَنْ كَانَ عَدُوًّا لِلَّه وَمَلَائِكَتِهِ وَرُسُلِهِ وَجِبْرِيلَ وَمِيكَالَ فَإِنَّ اللَّهَ عَدُوٌّ لِلْكَافِرِينَ [البقرة : 97 ، 98]
Artinya: “ Katakanlah, barang siapa yang menjadi musuh jibril, maka Jibril telah menurunkannya (al-Quran) ke dalam hatimu dengan seizin Allah: membenarkan kitab-kitab yang sebelumnya dan menjadi petunjuk serta berita gembira bagi orang-orang yang beriman. Barang siapa yang menadi musuh Allah, malaikat-malaikat-Nya, rasul-rasulnya, Jibril, dan Mikail, maka sesungguhnya Allah adalah musuh orang-orang kafir.” (QS. al-Baqarah: 97-98).
حدثنا مكي بن إبراهيم قال حدثنا يزيد بن أبي عبيد عن سلمة قال: سمعت النبي صلى الله عليه و سلم يقول: من يقل عليَّ ما لم أقل فليتبوأ مقعده من النار . (صحيح البخاري – البغا: 1 / 52)
Artinya: “ Barang siapa berkata tentangku yang tidak pernah aku katakan, maka hendaklah ia persiapkan tempat duduknya di neraka.” (HR. Bukhari: 109).
Pernyataan dari Muwafiq mengenai malaikat Jibril yang membuat kami sangat ingkar ialah saat ia menceritakan bahwa Rasulullah pada peristiwa itu sangat ketakutan sebab melihat wujud jin atau dedemit yang tinggi, besar, hitam. Tidak mungkin Rasulullah takut melihat jin, karena pada zaman dahulu orang arab tidak ada yang takut jin, bahkan orang arab selalu membawa pedang untuk menebas setiap ada yang mengusik mereka termasuk gangguan dari jin. Menurut kami Rasulullah shallallahu alaihi wasallam pada peristiwa itu mungkin memang merasa ketakutan, namun ketakutan beliau sama sekali tidak seperti apa yang digambarkan Muwafiq dalam ceramahnya. Rasulullah merasa takut jika yang mendatanginya adalah jin bukan malaikat Jibril dan yang disampaikan bukanlah wahyu dari Allah. Ulama berbeda pendapat dalam menafsiri ketakutan Rasulullah shallallahu alaihi wasallam pada peristiwa ini. Semua penafsiran tidak ada yang sama dengan perkataan Muwafiq. Semua penafsiran tersebut telah dijelaskan sebagaimana berikut:
قوله لقد خشيت على نفسي دل هذا مع قوله يرجف فؤاده على انفعال حصل له من مجيء الملك ومن ثم قال زملوني والخشية المذكورة اختلف العلماء في المراد بها على اثني عشر قولا أولها الجنون وأن يكون ما رآه من جنس الكهانة جاء مصرحا به في عدة طرق وأبطله أبو بكر بن العربي وحق له أن يبطل لكن حمله الإسماعيلي على أن ذلك حصل له قبل حصول العلم الضرورى له أن الذي جاءه ملك وأنه من عند الله تعالى ثانيها الهاجس وهو باطل أيضا لأنه لا يستقر وهذا استقر وحصلت بينهما المراجعة ثالثها الموت من شدة الرعب رابعها المرض وقد جزم به بن أبي جمرة خامسها دوام المرض سادسها العجز عن حمل اعباء النبوة سابعها العجز عن النظر إلى الملك من الرعب ثامنها عدم الصبر على أذى قومه تاسعها أن يقتلوه عاشرها مفارقة الوطن حادى عشرها تكذيبهم إياه ثاني عشرها تعييرهم إياه وأولى هذه الأقوال بالصواب وأسلمها من الارتياب الثالث واللذان بعده وما عداها فهو معترض والله الموفق (فتح الباري – ابن حجر : 1\24)
Artinya: “Ulama berbeda pendapat dalam mengartikan kata al khasyyah. Pertama, gila (al junun), karena yang dilihat oleh Nabi adalah sesuatu yang aneh dan mengejutkan, sebagaimana dikatakan Isma’ili, bahwa hal ini terjadi sedang nabi belum mengetahui hakikat malaikat yang diutus oleh Allah untuk menyampaikan wahyu kepadanya, dan pendapat ini ditentang oleh Abu Bakar bin Arabi. Kedua, kecemasan, dan pendapat ini tidak benar. Ketiga. kematian karena nabi benar-benar ketakutan. Keempat, sakit sebagaimana dikatakan oleh Ibnu Abi Hamzah. Kelima, sakit terus menerus. Keenam, ketidakmampuan untuk memegang amanah kenabian. Ketujuh, ketidakmampuan melihat bentuk malaikat. Kedelapan, tidak memiliki kesabaran atas siksaan dari orangorang kafir Kesembilan, mereka akan membunuh Nabi. Kesepuluh, meninggalkan tanah airnya. Kesebelas, kedustaan mereka terhadap nabi. Keduabelas, cemoohan mereka kepada Nabi. Akan tetapi arti yang paling benar adalah arti yang ketiga (ketakutan), keempat (sakit) dan kelima (sakit terus menerus). (Ibnu Hajar, Fath al-Bari juz 1 hlm 24 ).
Muwafiq telah bertindak ngawur karena menyamakan malaikat yang agung dengan makhluk yang rendah. Apakah Muwafiq yang mengaku biasa baca kitab kuning tidak tahu bahwa hukum merendahkan malaikat atau menjadikannya bahan tertawaan itu bisa menyebabkan kemurtadan?
“من سبّ نبياً أو ملكاً أو عرّض به أو لعنه أو عابه أو قذفه أو استخف بحقه وما أشبه فإنه يقتل ولا يستتاب. ولا تقبل منه التوبة لو أعلنها ولو جاء تائباً قبل أن يطلع عليه، لان القتل في هذه الحالة حد خاص وإن كان يدخل تحت الردة”. “التشريع الجنائي” لعبد القادر عودة -2/724(
Artinya: Barangsiapa menghina nabi atau malaikat, menyindir, melaknat, menghujat, meremehkan haknya, dan lain-lain, maka dia dibunuh dan tidak dimintai pertaubatan dulu karena tidak diterima taubatnya. (Abdul Qadir Audah, al-Tasyri’ al-Janai, juz 2 hlm. 724)
قوله : ( أو كذب رسولا ) بخلاف من كذب عليه فلا يكون كفرا بل كبيرة فقط ا هـ ع ش .فرع : لو ادعى أن النبي يسلم عليه لم يكفر ؛ لأن غايته أنه يدعي أن النبي راض عليه وهذا لا يقتضي الكفر فإن كان صادقا فذاك ظاهر ، وإلا فهو مجرد كذب ولو ادعى أنه يوحى إليه وإن لم يدع النبوة أو ادعى أنه يدخل الجنة ويأكل من ثمارها وأنه يعانق الحور العين فهذا كفر بالإجماع كما في شرح الحصني .والأنبياء الذين يجب الإيمان بهم تفصيلا خمسة وعشرون نظمها بعضهم بقوله : حتم على كل ذي التكليف معرفة ؛ لأنبياء على التفضيل قد علموا في تلك حجتنا منهم ثمانية من بعد عشر ويبقى سبعة وهمو إدريس هود شعيب صالح وكذا ذو الكفل آدم بالمختار قد ختموا قوله : ( أو سبه ) أو قصد تحقيره ولو بتصغير اسمه أو سب الملائكة أو ضلل الأمة (حاشية البجيرمي على الخطيب – 12 / 407)
Artinya: “(Termasuk murtad adalah menistakan Rasul) atau bermaksud merendahkan walaupun dengan mentashgir namanya, atau menista malaikat, atau menganggap umat sesat.” (Sulaiman al-Bujairimi, Hasyiyah ‘ala Mughni al-Muhtaj, juz 12 hlm. 307)
( قَوْلُهُ أَوْ تَكْذِيبِهِ ) أَيْ ، وَلَوْ فِي غَيْرِ النُّبُوَّةِ ، وَمِثْلُ تَكْذِيبِهِ مَا لَوْ قَصَدَ تَحْقِيرَهُ ، وَلَوْ بِتَصْغِيرِ اسْمِهِ أَوْ سَبِّهِ أَوْ سَبِّ الْمَلَائِكَةِ أَوْ صَدَّقَ مُدَّعِي النُّبُوَّةِ أَوْ ضَلَّلَ الْأُمَّةَ أَوْ كَفَّرَ الصَّحَابَةَ أَوْ أَنْكَرَ غَيْرُ جَاهِلٍ مَعْذُورٍ الْبَعْثَ أَوْ مَكَّةَ أَوْ الْكَعْبَةَ أَوْ الْمَسْجِدَ الْحَرَامَ أَوْ الْجَنَّةَ أَوْ النَّارَ أَوْ الْحِسَابَ أَوْ الثَّوَابَ أَوْ الْعِقَابَ . (حاشية الجمل – 21 / 57)
Artinya: Seperti halnya mendustakan nabi adalah berniat merendahkan nabi walaupun dengan mentashghir namanya, menistakan nabi atau malaikat. (Sulaiman Jamal, Hasyiyah ‘ala Manhaj al-Thullab, juz 21 hlm. 57)
وَيَكْفُرُ بِقَوْلِهِ لِلْقَبِيحِ إنَّهُ حَسَنٌ وَبِقَوْلِهِ لِغَيْرِهِ رُؤْيَتِي إيَّاكَ كَرُؤْيَةِ مَلَكِ الْمَوْتِ عِنْدَ الْبَعْضِ خِلَافًا لِلْأَكْثَرِ وَقِيلَ بِهِ إنْ قَالَهُ لِعَدَاوَتِهِ لَا لِكَرَاهَةِ الْمَوْتِ وَبِقَوْلِهِ لَا أَسْمَعُ شَهَادَةَ فُلَانٍ وَإِنْ كان جِبْرِيلُ أو مِيكَائِيلَ عَلَيْهِمَا السَّلَامُ وَبِعَيْبِهِ مَلَكًا من الْمَلَائِكَةِ أو الِاسْتِخْفَافِ بِهِ لَا بِقَوْلِهِ أنا أَظُنُّ أَنَّ مَلَكَ الْمَوْتِ تُوُفِّيَ وَلَا يَقْبِضُ رُوحِي مَجَازًا عن طُولِ عُمْرِهِ إلَّا أَنْ يَعْنِيَ بِهِ الْعَجْزَ عن تَوَفِّيهِ (البحر الرائق – 5 / 131)
Artinya: Dan kafir hukumnya orang yang mencela malaikat atau meremehkannya. (Ibn Nujaim, al-Bahr al-Raiq, juz 5 hlm. 131)
( وَإِنْ سَبَّ نَبِيًّا أَوْ مَلَكًا أَوْ عَرَّضَ أَوْ لَعَنَهُ أَوْ عَابَهُ أَوْ قَذَفَهُ أَوْ اسْتَخَفَّ بِحَقِّهِ أَوْ غَيَّرَ صِفَتَهُ أَوْ أَلْحَقَ بِهِ نَقْصًا وَإِنْ فِي بَدَنِهِ أَوْ خَصْلَتِهِ أَوْ غَضَّ مِنْ رُتْبَتِهِ أَوْ وَفَوْرِ عِلْمِهِ أَوْ زُهْدِهِ أَوْ أَضَافَ إلَيْهِ مَا لَا يَجُوزُ عَلَيْهِ أَوْ نَسَبَ إلَيْهِ مَا لَا يَلِيقُ بِمَنْصِبِهِ عَلَى طَرِيقِ الذَّمِّ أَوْ قِيلَ لَهُ بِحَقِّ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَلَعَنَ وَقَالَ : أَرَدْت الْعَقْرَبَ قُتِلَ وَلَمْ يُسْتَتَبْ حَدًّا ) عِيَاضٌ . (التاج والإكليل – 12 / 70)
Artinya: Barangsiapa menista nabi atau malaikat, menyindir, melaknat, mencela, menuduh, meremehkan haknya, merubah sifatnya, meletakkan kekurangan baik pada fisik maupun karakternya, mengingkari kedudukan, kelangsungan ilmu, maupun kezuhudannya, menyandarkan sesuatu yang tidak boleh kepadanya, menisbat suatu yang tidak sesuai dengan kedudukannya karena ingin mencela, atau diucapkan kepada nabi, “Demi hak Rasulullah ShallaLlahu ‘alaihi wa Sallama,” lalu ia melaknatnya lalu ia berkilah dengan mengatakan, “Yang saya maksud itu kalajengking,” maka orang tersebut dibunuh dan tidak disuruh bertaubat karena pidana had. (Muhammad bin Yusuf, al-Taj wa al-Iklil, juz 12 hlm. 70)
فمتى ادعى النبوة او سب الله او رسوله او جحده او صفة من صفاته او كتابا او رسولا او ملكا او احدى العبادات الخمس او حكما ظاهرا مجمعا عليه كفر فيستتاب ثلاثة ايام فإن لم يتب قتل (أخصر المختصرات – 1 / 254)
Artinya: Ketika seseorang mendakwa kenabian atau menista Allah, Rasul-Nya, mengingkarinya atau sebagian sifatnya, mencela kitab-Nya, utusan-Nya, malaikat, salah satu ibadah lima, atau hukum zahir yang disepakati, maka dia kafir lalu disuruh bertaubat selama tiga hari. Jika dia tidak bertaubat maka dibunuh. (Abdullah Ibn Jabrain, Akhshar al-Mukhtasharat, juz 1 hlm. 254)
Waroqoh bin Naufal adalah seorang yang alim dan mampu menterjemahkan taurat dan injil ke dalam bahasa arab. Waroqoh bin Naufal juga paham akan datangnya nabi akhir zaman jadi tidak mungkin kaget apalagi sampai terjengkang (jawa; nggeblak) seperti tuduhan Muwafiq. Rasulullah shallallahu alaihi wasallam sendiri melarang mencela Waroqoh bin Naufal:
( لا تسبوا ورقة بن نوفل فاني قد رايت له جنة أو جنتين ) قال العراقي شاهد لما قاله جمع انه اسلم عند ابتداء الوحي . )التيسير بشرح الجامع الصغير ـ للمناوى – (2 / 953)
Artinya: “Janganlah mencela Waraqah bin Naufal karena saya melihat baginya satu surga atau dua surga.” al-Iraqi berkata, “Hadits ini menguatkan hadits lain yang disampaikan oleh beberapa ulam bahwa Waraqah masuk Islam pada permulaan turunnya wahyu.” (al-Munawi, al-Taisir bi Syarh al-Jami’ al-Shaghir, juz 2 hlm. 953)
وأخبرنا أبو جعفر بن السمين بإسناده عن يونس بن بكير عن هشام بن عروة عن أبيه قال : ساب أخ لورقة رجلا فتناول الرجل ورقة فسبه فبلغ ذلك النبي صلى الله عليه و سلم فقال لأخيه : هل علمت أني رأيت لورقة جنة أو جنتين فنهى رسول الله صلى الله عليه و سلم عن سبه. )أسد الغابة ,1 / 1107)
Artinya: “Janganlah mencela Waraqah bin Naufal karena saya melihat baginya satu surga atau dua surga.” al-Iraqi berkata, “Hadits ini menguatkan hadits lain yang disampaikan oleh beberapa ulama bahwa Waraqah masuk Islam pada permulaan turunnya wahyu.” (al-Munawi, al-Taisir bi Syarh al-Jami’ al-Shaghir, juz 2 hlm. 953)
Ucapan keji dari Muwafiq yang lain adalah mengatakan nabi Sulaiman alaihi assalam berbicara pada angin kentut yang kemudian membuat semua hadirin tertawa terbahak-bahak. Dalam ceramahnya yang lain Muwafiq menjelaskan bahwa dalam madzab Maliki kentut tidaklah membatalkan wudu. Ini semakin menunjukkan bahwa selain ia tak paham sejarah, ia juga tidak paham ilmu fiqih.
الخارج المعتاد من السبيلين وهو البول والغائط ينقض الوضوء بالإجماع, وأما النادر كالدود من الدبر والريح من القبل والحصاة والإستحاضة والمذي ينقض أيضا إلا عند مالك. )رحمة الأمة في اختلاف الأئمة (ص: 12)
Artinya: “perkara yang biasa keluar dari dua jalan (air kencing dan tahi) secara ijma’ membatalkan wudu”. (Muhammad bin Abdurahman, Rohmat al-Ummah hlm 12)
الثاني البول الثالث الريح الخارج من الدبر خلافا ش في اعتباره الخارج من الذكر وفرج المرأة وإن كان نادرا. )الذخيرة للقرافي ,ج:1, ص:212)
Artinya: kedua adalah kencing, ketiga adalah angin yang keluar dari dubur…..(al-Qarafi, al-Dakhiroh juz 1 hlm 212)
وقد أجمعوا على أن الريح الخارجة من الدبر حدث يوجب الوضوء واجتمعوا على أن الجشاء ليس فيه وضوء بإجماع وقد أجمعوا على أن الريح الخارجة من الدبر حدث فدل ذلك على مراعاة المخرجين فقط. (الاستذكار, 1\157)
Artinya: “Dan semua ulama menyatakan ijma’ mengenai angin yang keluar dari dubur adalah hadas yang mewajibkan wudu…(ِAbu Yusuf al-Qurthubi, al-istidzkar juz 1 hlm 157)
قال ابن المنذر أجمعوا أنه ينتقض بخروج الغائط من الدبر والبول من القبل والريح من الدبر. (المجموع شرح المهذب ج: 2, ص:6)
Artinya: “Ibnu Mundzir berkata: ulama telah menyakan ijma’nya mengenai wudu yang batal disebabkan keluarnya tahi dari dubur, kencing dari qubul dan angin dari dubur.” (an-Nawawi, al-Majmu’ Syarh Muhadzab juz 2 hlm 6).
Semua pemikiran dan pernyataan sesat Muwafiq CS merupakan benih-benih pemikiran wahabi, mu’tazilah, syiah bahkan benih dari pemikiran kristen, komunis, dan atheis, juga salah satu proyek besar dari musuh-musuh islam untuk Indonesia. Bungkamnya ormas-ormas islam lebih-lebih pemerintah Indonesia atas genosida yang dilakukan oleh China terhadap etnis muslim Uyghur dengan alasan memerangi radikalisme dan ekstrimisme (sama seperti isu yang selalu digoreng di negeri ini) dan penolakan Presiden kepada delegasi Uyghur dengan alasan tidak ingin menyakiti hati Pemerintah China sebagaimana yang diungkapkan oleh Prof. Salim Said semakin menguatkan dugaan bahwa China komunis sudah mendikte dan menjajah negeri ini lewat para makelarnya seperti jaringan IsNus (islam Nusantara), Said Aqil, para pejabat dan para taipan. Tentunya dengan sokongan dana yang sangat besar, baik dengan dalih investasi, beasiswa, kerjasama atau yang masuk ke kantong pribadi. Mulai dari maraknya penistaan agama di negeri ini dan tidak adanya pernyataan atau tanggapan secara resmi baik dari ormas-ormas islam atau pemerintah terkait hal tersebut, lemahnya penanganan kasus penistaan agama islam, hingga bungkamnya mereka atas genosida etnis muslim Uyghur, bahkan sampai ada yang membela tindakan pemerintah China tersebut. apakah semua ini ada hubungannya?. Waallahu a’lam
Dua video permintaan maaf dari Muwafiq yang sudah beredar tidaklah cukup, ia masih juga harus mengakui kesalahan besar yang telah diperbuat (dua video permohonan maaf yang sudah beredar di dalamnya terdapat pernyataan “jika saya salah” dan “jika dianggap keliru” yang tidak mencerminkan sepenuhnya mengakui kesalahan) serta wajib baginya untuk segera bertobat dengan mengucapkan dua kalimat syahadat, dan menyesali sekaligus menarik seluruh ucapan-ucapan yang merendahkan martabat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallama, nabi Sulaiman, malaikat, sayyidah Aisyah, sayyidina Umar, dan imam-imam mujtahid muassis NU yang telah dilecehkan dan dilanggar ajarannya. karena semua omongan keji tersebut merupakan dosa besar yang dilaknat oleh Allah sebagaimana firmannya:
إِنَّ الَّذِينَ يُؤْذُونَ اللَّهَ وَرَسُولَهُ لَعَنَهُمُ اللَّهُ فِي الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ وَأَعَدَّ لَهُمْ عَذَابًا مُهِينًا (الأحزاب : 57)
“Sesungguhnya orang-orang yang menghina Allah dan Rasul-Nya itu telah dilaknat Allah di dunia dan akhirat dan telah disiapkan baginya siksa yang menghinakan.” (QS. Al-Ahzab: 57)
وَلَئِنْ سَأَلْتَهُمْ لَيَقُولُنَّ إِنَّمَا كُنَّا نَخُوضُ وَنَلْعَبُ قُلْ أَبِاللَّهِ وَآيَاتِهِ وَرَسُولِهِ كُنْتُمْ تَسْتَهْزِئُونَ [التوبة : 65]
“Sesungguhnya orang-orang yang menghina Allah dan Rasul-Nya itu telah dilaknat Allah di dunia dan akhirat dan telah disiapkan baginya siksa yang menghinakan.” (QS. Al-Ahzab: 57)
Dan tindakan tersebut berkonsekuensi pada kekufuran dan kemurtadan, bahkan secara hukum syariat wajib diganjar hukuman mati meskipun mengaku tidak sengaja:
وما ذكره ظاهر لقصد النقص وهو كفر كما مر, ثم قال من تكلم غير قاصد للسب له ولامعتقد له في جهته صلى الله عليه وسلم بكلمة الكفر من لعنه أو سبه او تكذيب او إضافة ما لا يجوز عليه او نفي ما يجب له مما هو في حقه صلى الله عليه وسلم……………….فحكمه القتل إذ لا يعذر احد في الكفر بالجهالة ولا بدعوى زلل اللسان. (الاعلام بقواطع الاسلام 2\384)
Artinya: Maka hukuman bagi penista agama adalah dibunuh, karena seseorang tidak ditoleransi atas kekufuran karena ketidaktahuan maupun dalih terpelesetnya lisan. (Ibn Hajar al-Haitami, I’lam bi Qawathi’ al-Islam, juz 2 hlm. 384)
حدثنا عبيد الله بن محمد العمري القاضي بمدينة طبرية سنة سبع وسبعين ومائتين حدثنا إسماعيل بن أبي أويس حدثنا موسى بن جعفر بن محمد عن أبيه عن جده علي بن الحسين عن الحسين بن علي عن علي رضي الله عنهم قال قال رسول الله صلى الله عليه و سلم : من سب الأنبياء قتل ومن سب الأصحاب جلد . (المعجم الصغير – الطبراني 1 / 393)
Artinya: Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallama bersabda, “Barangsiapa menghina para nabi maka dia dibunuh, dan barangsiapa menghina para shahabat maka dia didera.” (Abu Qasim al-Thabarani, al-Mu’jam al-Shaghir, juz 1 hlm. 393)
من سب الأنبياء قتل ومن سب أصحابى جلد. أخرجه الطبرانى ، وابن عساكر عن علي( جمع الجوامع أو الجامع الكبير- للسيوطي 1 / 22996)
Artinya: “ “Barangsiapa menghina para nabi maka dia dibunuh, dan barangsiapa menghina para shahabat maka dia didera.” (al-Suyuthi, al-Jami’ al-Kabir, juz 1 hlm 22996)
(من سب الأنبياء قتل) لانتهاكه حرمة من أرسلهم واستخفافه بحقه وذلك كفر قال القيصري : إيذاء الأنبياء بسبب أو غيره كعيب شئ منهم كفر حتى من قال في النبي ثوبه وسخ يريد بذلك عيبه قتل كفرا لا حدا ولا تقبل توبته عند جمع من العلماء وقبلها الشافعية (ومن سب أصحابي جلد) تعزيرا ولا يقتل خلافا لبعض المالكية ولبعض منا في ساب الشيخين ولبعض فيهما والحسنين. (فيض القدير, 6/ 190)
Artinya: (Barangsiapa menghina para nabi maka dia dibunuh) karena merusak kehormatan Allah yang mengutus mereka dan meremehkan hak mereka, dan ini kufur. Al-Qaishari berkata, “Mencela para nabi baik dengan sebab atau tidak seperti halnya mencela satu hal kecil dari mereka adalah kufur. Bahkan jika orang berkata tentang nabi bahwa bajunya kotor dengan maksud mencela mereka, maka dibunuh karena kafir bukan karena hukum had. Ia tidak diterima taubatnya menurut sekelompok ulama, sedangkan menurut madzhab Syafi’i diterima taubatnya. (Abdurrauf Manawi, Faidl al-Qadir Syarh al-Jami’ al-Shaghir, juz 6 hlm. 190)
وقد نقل بن المنذر الاتفاق على أن من سب النبي صلى الله عليه و سلم صريحا وجب قتله ونقل أبو بكر أحد أئمة الشافعية في كتاب الإجماع أن من سب النبي صلى الله عليه وسلم مما هو قذف صريح كفر باتفاق العلماء ، فلو تاب لم يَسقط عنه القتل ؛ لأن حدَّ قذفه القتل ، وحد القذف لا يسقط بالتوبة … فقال الخطابي لا أعلم خلافا في وجوب قتله إذا كان مسلما. (فتح الباري, 12\281)

Ibn Mundzir mengutip kesepakatan bahwa penista Rasulullah Shallallahu ’alaihi wa Sallama secara terang-terangan wajib dibunuh. Abu Bakar seorang imam madzhab Syafi’i mengutip dalam Kitab al-Ijma’ bahwa orang yang menghina Rasulullah Shallallahu ’alaihi wa Sallama secara terang-terangan adalah kufur menurut konsensus ulama, dan jikapun dia bertaubat maka hukum dibunuh tidak bisa gugur.” (Ibn Hajar al-Asqalani, Fath al-Bari, juz 12 hlm. 281)
“من سبّ نبياً أو ملكاً أو عرّض به أو لعنه أو عابه أو قذفه أو استخف بحقه وما أشبه فإنه يقتل ولا يستتاب. ولا تقبل منه التوبة لو أعلنها ولو جاء تائباً قبل أن يطلع عليه، لان القتل في هذه الحالة حد خاص وإن كان يدخل تحت الردة”.(التشريع الجنائي” لعبد القادر عودة، ج2، ص724 )
Artinya: Barang siapa menghina seorang nabi atau malaikat atau menyindir, melaknat, mencaci, menuduh zina, meremehkan hak mereka atau bentuk pelecehan lainnya maka hukumannya adalah dibunuh….. (Abdul Qodir ‘Audah, Tasyri’ al-Jina’I, juz 2 hlm 724).
وقد أفتى أكثر فقهاء الحنفية بناء عليه بقتل من أكثر من سب النبي صلّى الله عليه وسلم من أهل الذمة، وإن أسلم بعد أخذه، وقالوا: يقتل سياسة. وأجمع العلماء كما قال القاضي عياض في الشفا على وجوب قتل المسلم إذا سب النبي صلّى الله عليه وسلم ، لقوله تعالى: {إن الذين يؤذون الله ورسوله لعنهم الله في الدنيا والآخرة وأعد لهم عذاباً مهيناً}(الأحزاب:57). (الفقه الإسلامي وأدلته: 7 / 517)
Artinya: Para ulama sepakat seperti keterangan Qadli Iyadl dalam al-Syifa atas kewajiban membunuh seorang Muslim ketika dia menghina Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallama. (Wahbah al-Zuhaili, al-Fiqh al-Islamiy, juz 7 hlm. 517)
أما سب النبي صلى الله عليه وسلم فالإجماع منعقد على أنه كفر والاستهزاء به كفر قال الله تعالى} قل أبالله وآياته ورسوله كنتم تستهزئون{ }لا تعتذروا قد كفرتم بعد إيمانكم{ بل لو لم تستهزئوا قال أبو عبيد القاسم بن سلام فيمن حفظ شطر بيت مما هجي به النبي صلى الله عليه وسلم فهو كفر وقد ذكر بعض من ألف في الإجماع إجماع المسلمين على تحريم ما هجي به النبي صلى الله عليه وسلم وكتابته وقراءته وتركه متى وجد دون محوه. (فتاوى السبكي :2/ 573)
Artinya: Adapun penista Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallama maka menurut konsensus ulama dia kafir, dan meremehkan Rasulullah juga kufur. (Taqiyuddin Subki, al-Fatawa, juz 2 hlm. 573)

وقال ابن المنذر – رحمه الله تعالى -: “أجمع عامة أهل العلم على أن من سب النبي صلى الله عليه وسلم عليه القتل، وممن قال ذلك: مالك والليث وأحمد وإسحاق، وهو مذهب الشافعي. (تفسير القرطبي: 4/ 432)
Artinya: Mayoritas ahli ilmu bersepakat bahwa orang yang menghina Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallama berhak untuk dibunuh. Termasuk yang mengatakan itu adalah Imam Malik, Laits, Ahmad, dan Ishaq, sedangkan itu adalah pendapat madzhab Syafi’i. (Abu Abdullah Qurthubi, al-Jami’ li Ahkam al-Quran (Tafsir al-Qurthubi), juz 4 hlm. 432)
Dalam video yang lain, Muwafiq akhzahullahu wa ahaanahu fii daroini juga telah lancang berani melecehkan sayyidah Aisyah dengan mengatakan pernikahan sayyidah Aisyah dengan Rasulullah tidak bisa dinalar dan tidak logis karena nabi yang sudah berusia 50 tahun menikahi gadis usia 9 tahun. Perkataan semacam ini akan menimbulkan kesimpulan bahwa Rasulullah shallallahu alaihi wasallam seolah-olah melakukan sihir (pelet) agar Sayyidah Aisyah bersedia dan senang dinikahi Rasulullah shallallahu alaihi wasallam. Konsekuensi dari ucapan Muwafiq tentang sayyidah Aisyah adalah sebagai berikut:
ومن سب عائشة رضي الله عنها قتل لأن الله تعالى يقول فيها يعظكم الله أن تعودوا لمثله أبدا إن كنتم مؤمنين فمن رماها فقد خالف القرآن ومن خالف القرآن قتل. (فتاوى السبكي :2/ 569)
Artinya: Orang yang menghina Aisyah Radliyallahu ‘anha berhak dibunuh. (Taqiyuddin Subki, al-Fatawa, juz 2 hlm. 569)
وقد روي عن مالك فيمن سب عائشة أنه يقتل مطلقا ويمكن حمله على السب بالقذف انتهى. وقال في الإكمال في حديث الإفك: وأما اليوم فمن قال ذلك في عائشة قتل لتكذيب القرآن وكفره بذلك وأما غيرها من أزواجه فالمشهور أنه يحد لما فيه من ذلك ويعاقب لغيره وحكى ابن شعبان قولا آخر أنه يقتل على كل حال وكأن هذا التفت إلى أذى النبي صلى الله عليه وسلم حيا وميتا انتهى. (مواهب الجليل لشرح مختصر الخليل :8/ 381)
Artinya: Diriwayatkan dari Imam Malik tentang orang yang menista Aisyah bahwa dia berhak dibunuh secara mutlak. (Syamsuddin Ru’aini, Mawahib al-Jalil li Syarh Mukhtashar al-Khalil, juz 8 hlm. 381).
Dalam video yang sama Muwafiq juga melecehkan sayyidina Umar dengan mengatakan sayyidina Umar berwajah sangat menyeramkan, menakutkan dan sadis, bahkan setan takut melihat sayyidina umar. padahal wajah sayyidina Umar sangatlah tampan, kulitnya putih dan sedap dipandang mata. Setan takut bukan karena melihat wajah sayyidina Umar namun karena takut akan ketegasan sayyidina Umar dalam menegakkan agama islam. Hukuman bagi orang yang melakukan penistaan semacam ini pun berat sekali:
و أخرج ابن عساكر عن أبي رجاء العطاردي قال : كان عمر رجلا طويلا جسيما أصلع شديد الصلع أبيض شديد الحمرة في عارضيه خفة سبلته كبيرة و في أطرافها صهبة. (تاريخ الخلفاء – (1 / 118(
ولد عمر رضي الله عنه بعد عام الفيل بثلاث عشرة سنة وأما صفته الخَلْقية، فكان رضي الله عنه، أبيض أمهق، تعلوه حمرة، حسن الخدين والأنف والعينين، غليظ القدمين والكفين، مجدول اللحم، وكان طويلاً جسيماً أصلع، قد فرع الناس، كأنه راكب على دابة، وكان قوياً شديداً، لا واهناً ولا ضعيفاً، وكان يخضب بالحناء، وكان طويل السَّبلة وكان إذا مشى أسرع وإذا تكلم أسمع، وإذا ضرب أوجع. ( أمير المؤمنين عمر بن الخطاب: 1 / 13(
. وقال في الإكمال أيضا: وسب أصحاب النبي صلى الله عليه وسلم وتنقصهم أو واحد منهم من الكبائر المحرمات. وقد لعن النبي صلى الله عليه وسلم فاعل ذلك وذكر أن من آذاه وآذى الله تعالى فإنه لا يقبل منه صرف ولا عدل واختلف العلماء فيما يجب عليه فعبد الملك ومشهور مذهبه إنما فيه الاجتهاد بقدر قوله والمقول فيه وليس له في الفيء حق وأما من قال فيهم: إنهم كانوا على ضلالة وكفر فيقتل. (مواهب الجليل لشرح مختصر الخليل: 8/ 381)
Artinya: Menista shahabat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallama dan merendahkan mereka atau salah satu dari mereka termasuk dosa besar yang diharamkan …. Adapun orang yang berkata tentang shahabat bahwa mereka sesat dan kafir maka dia dibunuh. (Syamsuddin Ru’aini, Mawahib al-Jalil li Syarh Mukhtashar al-Khalil, juz 8 hlm. 381)
(ومن سب أصحابي جلد) تعزيرا ولا يقتل خلافا لبعض المالكية ولبعض منا في ساب الشيخين ولبعض فيهما والحسنين.(فيض القدير : 6 / 190)
Artinya: “ (Barang siapa menghina para shahabatku, dia wajib didera) sebagai hukuman…( al-Munawi, Faidl al-Qadir, juz 6 hlm 190)
(لعن الله من سب أصحابي) لما لهم من نصرة الدين فسبهم من أكبر الكبائر وأفجر الفجور بل ذهب بعضهم إلى أن ساب الشيخين يقتل. (فيض القدير: 5 / 350)
Artinya: (Allah melaknat orang yang menghina Shahabatku) karena jasa mereka memperjuangkan agama, menghina mereka termasuk dosa dan kedurhakaan yang paling besar. Bahkan sebagian ulama berpendapat bahwa orang yang menghina Abu bakar dan Umar bin Khattab wajib dibunuh.” (al-Munawi, Faidl al-Qadir juz 5 hlm 530).
العز بن عبد السلام الشافعي بعدم التكفير، ولفظ القرطبي لم يختلف في كفر من قال: إنهم كانوا على ضلالةٍ؛ لأنه أنكر ما علم من الدين ضرورةً وكذب الله ورسوله فيما أخبر به، واختلف هل يستتاب وتقبل توبته كالمرتد أو لا يستتاب ولا تقبل توبته كالزنديق إن ظهر عليه وإن سبهم بغير ذلك، فإن سبهم بما يوجب الحد كالقذف حد للقذف ثم ينكل النكال الشديد، وإن سبهم بغير ذلك جلد الجلد الشديد. قال ابن حبيبٍ: ويخلد في السجن إلى أن يموت. (الفواكه الدواني, أحمد بن غنيم بن سالم النفراوي : 1 /322(
Artinya: “ jika ada yang menghina para shahabatdengan tuduhan selain zina maka didera dengan sangat berat…( Ahmad bin Ghonim, al-Fawakih al-dawaani juz 1 hlm 322 ).
Mengenai pesan Gus Mus yang mengatakan “Jangan mau dibodohi oleh Setan Kebencian. Tidak ada orang muslim, umat Nabi Muhammad SAW –apalagi yang sehari-hari melakukan dakwah menyampaikan sabda Nabinya– sengaja menghina Nabinya sendiri. Jaga akal sehat. Jangan tunduk pada Setan Kebencian dan Iblis Adu domba” justru malah sebenarnya yang dibodohi setan dan iblis adalah orang-orang yang diam dan tak merasa sakit hati saat nabi dan agamanya dinistakan, bahkan malah lebih memilih menomorsatukan dan membela seorang penceramah yang menghina nabi hanya karena dia dianggap kyai NU. Seorang dai yang benar-benar paham ilmu agama tidak akan mungkin keluar kata-kata kotor dari mulutnya apalagi sampai berani melecehkan nabi, malaikat, keluarga nabi dan shahabat nabi.
Kita bukan orang bodoh yang tidak tahu bahwa orang-orang yang menistakan agama wajib dihukum baik secara syariat maupun secara hukum negara sebagaimana yang termaktub dalam KUHP Pasal 156(a) melengkapi dekret Presiden Soekarno yang dijalankan oleh Presiden Soeharto, yaitu Dekret Presiden No. 1/PNPS/1965 tentang Pencegahan Penyalahgunaan dan/atau Penodaan Agama. Bahkan sejak zaman kolonial Belanda kasus penistaan agama sudah ada dan ditindak seperti kasus penistaan agama pada 9 dan 11 Januari 1918, Martodharsono redaktur Djawi Hiswara memuat tulisan karya Djojodikoro. Tulisan yang berjudul “Pertjakapan antara Marto dan Djojo” itu menyulut kemarahan HOS Tjokroaminoto karena memuat kalimat “Gusti Kandjeng Nabi Rasoel minoem A.V.H. Gin, minoem opium dan kadang soeka mengisep opium”. Selang sebulan kemudian, 24 Februari 1918, HOS Tjokroaminoto menggalang solidaritas umat muslim di Hindia Belanda untuk turun ke jalan. Pada hari itu di 42 tempat berbeda di Jawa dan sebagian Sumatera, sekitar 150 ribu orang melangsungkan demonstrasi menuntut pemerintah kolonial menghukum Martodharsono dan Djojodikoro.
Fenomena Maraknya tindakan penistaan agama akhir-akhir ini adalah dampak dari lemahnya penindakan kasus penistaan oleh aparat yang berwajib. Kita hitung saja orang seperti Sukmawati, Ade Armando, Denny Siregar, Permadi Arya (Abu Janda), Eko Khuntadi dan muwafiq yang sampai sekarang masih bebas berkeliaran meskipun sudah dilaporkan. Dan seperti yang pernah disampaikan oleh Gus Nur hampir bisa dipastikan setiap ada penistaan agama pasti pelakunya merupakan orang yang dekat dengan rezim dan selalu dilindungi rezim.
Perlu kami ingatkan kepada semua kaum muslimin untuk tidak membuat lelucon, guyonan, penggambaran ataupun logika yang dapat mengundang tawa terbahak-bahak saat menyampaikan pengajian ataupun mauidhoh hasanah yang membahas tentang Allah subhanahu wataala, Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam, malaikat dan ayat Alquran lebih-lebih saat peringatan maulid nabi. Termasuk yang kami ingatkan dalam hal ini ialah alumni pondok pesantren Al Anwar Sarang yang dikenal alim namun dalam setiap pengajiannya selalu memakai bahasa yang kurang santun dan kurang beradab sebagaimana saat menceritakan kisah para nabi dan membandingkan nabi ini tidak selevel dengan nabi ini, nabi Muhammad lupa jumlah rakaat shalat dengan dibarengi tertawa cekikikan mengundang tawa para hadirin dan menyebut malaikat Izrail kacau serta tidak pernah mengaji.
أتتخذنا هزوا بضم الزاء وقلب الهمزة واوا وقرئ بالهمزة مع الضم والسكون أي أتجعلنا مكان هزؤ أو أهل هزؤ أو مهزوء ا بنا أو الهزؤ نفسه استبعادا لما قاله واستخفافا به قال إستئناف كما سبق أعوذ بالله أن أكون من الجاهلين لأن الهزؤ في أثناء تبليغ امر الله سبحانه جهل وسفه. (تفسير أبي السعود : 1\110)
قوله : {فَأَبَوْا أَنْ يُضَيِّفُوهُمَا} فاستحق أهل القرية لذلك أن يذموا ، وينسبوا إلى اللؤم والبخل …….الى ان قال…..ويعفو الله عن الحريري حيث استخف في هذه الآية وتمجن ، وأتى بخطل من القول وزل ؛ فاستدل بها على الكدية والإلحاح فيها ، وأن ذلك ليس بمعيب على فاعله ، ولا منقصة عليه ؛ فقال : وإن رددت فما في الرد منقصة * عليك قد رد موسى قبل والخضر
قلت : وهذا لعب بالدين ، وانسلال عن احترام النبيين ، وهي شنشنة أدبية ، وهفوة سخافية ؛ ويرحم الله السلف الصالح ، فلقد بالغوا في وصية كل ذي عقل راجح ، فقالوا : مهما كنت لاعبا بشيء فإياك أن تلعب بدينك. (الجامع لأحكام القرآن: 11\25)
Hal ini sangat berbahaya karena bisa ditiru oleh masyarakat awam bahkan para penceramah lainnya. Mereka nantinya akan terbiasa mengomentari nabi bahkan tertawa cekikikan, dan akhirnya akan muncul lebih banyak lagi Muwafiq-Muwafiq lainnya. Gaya bahasa, cara penyampaian dan guyonan semacam itu tidak ada sanad ilmiahnya. Sanad dari Mbah Maimoen dan ulama salafunasholihin saja tidak ada apalagi sanad dari Rasulullah shallallahu alaihi wasallam.
Kami menulis tanggapan ini atas permintaan KH. Ustukhri Irsyad Pengasuh PP. Al Hidayah untuk menanggapi pembelaan KH. Hanief Muslih Pengasuh PP. Futuhiyyah Mranggen Demak terhadap Muwafiq.
Terakhir, Semoga Allah subhanahu wataala senantiasa menjaga akidah umat islam dari rongrongan pemikiran sesat musuh-musuh islam berkat kecintaan kita kepada Rasulullah shallallahu alaihi wasallam, keluarganya dan para shahabatnya. Amiin.

Sarang, 14 Rabiul Tsani 1441 H.

KH. Muhammad Najih MZ.

VIRAL HUKUM MENGUCAPKAN SELAMAT NATAL BAGI UMAT ISLAM DIBOLEHKAN, ABAH NAJIH: KAMI TETAP MENGIKUTI SALAFUNA SHALIHUN YANG MENGHARAMKAN

Demikian penggalan akhir dari pernyataan Syaikh Muhammad Najih tentang mencuatnya isu pembolehan ucapan selamat natal dari umat Islam kepada umat Kristen. Tanggapan beliau dalam video yang diunggah pada 6 Desember 2019 lalu oleh akun resmi Ribath Darusshohihain menjadi viral dan telah ditonton sekitar 430 ribu kali. Dalam video berdurasi sekitar 50 menit tersebut Abah Najih membeberkan berbagai argumentasi ilmiah tentang keharaman mengucapkan natal bagi umat Islam kepada umat Kristen serta tanggapan atas beberapa tokoh yang membolehkannya. Berikut kutipan dari pernyataan beliau:

“Sungguh kasihan sekali umat Islam di seluruh negeri, lebih-lebih umat Islam di negeri Indonesia sekarang digaduhi dan dirusuhi secara besar-besaran dalam hal akidah, ekonomi, dan keagamaannya. Dihiruk pikukkan dengan langkah-langkah atau omongan-omongan yang macam-macam, lebih-lebih setelah ada medsos omongan yang jelek-jelek dan kufur-kufur bisa cepat tersebar. Bisa cepat viral. InnaliLlah wa inna ilaihi raji’un.

Sebetulnya pengrusakan akidah ini sudah lama, tapi saat ini menjadi besar-besaran menjelang natal. Mulai dari statement Bu Sukmawati yang membandingkan Nabi Muhammad ShallaLlahu ‘alaihi wa Sallama manusia paling agung dengan sosok manusia biasa yang hanya punya keahlian pidato atau orasi/agitasi. Dia punya aliran Marhaenis yang hakikatnya sama dengan komunis atau minimal sosialis, yang punya banyak kesalahan walaupun juga banyak berjasa dalam urusan negara. Punya jasa dalam urusan negara itu belum tentu diterima oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala kalau tidak diniati untuk menghormati agama Allah yaitu agama Islam.

Bapak-bapak, saudara-saudara sekalian, adik-adik, anak-anak. Dia sebelumnya sudah mencaci-maki cadar, dibilang konde lebih indah, gending lebih baik dari suara adzan. Yang terakhir dia membandingkan Sukarno lebih berjasa di Indonesia daripada Nabi Muhammad ShallaLlahu ‘alaihi wa Sallama. Padahal Sukarno sebelum proklamasi dia agak ragu-ragu atau enggan, akhirnya dipaksa oleh para Kiai Ajengan Sunda di Rengasdengklok namun di sejarah ditulis bahwa dia dipaksa oleh mahasiswa. Artinya kemerdekaan ini hakikatnya dari Allah Subhanahu wa Ta’ala, rahmat dari Tuhan Yang Maha Esa dengan dibomnya Hiroshima dan Nagasaki oleh Amerika.

Maka kesempatan diberikan seluas-luasnya oleh Allah untuk proklamasi, kemudian diikuti oleh bangsa-bangsa lain. Jadi hakikatnya berkat Rasulullah ShallaLlahu ‘alaihi wa Sallama, berkat Ramadhan, berkat habaib seperti Habib Ali bin Abdurrahman al-Habsyi, perjuangan Husni Thamrin, para santri kemudian membela kemerdekaan pada tanggal 10 November, juga para kiai seperti Kiai Abbas Buntet yang datang ke Surabaya dan ditunggu oleh Bung Tomo atas perintah Kiai Hasyim Asy’ari. Pengennya Bung Tomo menyerang Belanda tanggal 7 November, tapi karena menunggu Kiai Abbas akhirnya jadi tanggal 10 November.

Kemudian, belum sampai diproses kasus Bu Sukmawati yang ceroboh dan jahat membandingkan Rasulullah ShallaLlahu ‘alaihi wa Sallama dengan orang biasa yang banyak dosa, ditambahi oleh kasus Ahmad Muwafiq yang dielu-elukan di NU karena jadugnya dan sejarah-sejarah yang fiktif. Kemudian dia mengatakan Nabi Muhammad waktu kecil itu rembes karena tidak dirumat oleh mbahnya.

Kemudian lebih parah lagi dia mengatakan Kanjeng Nabi asik-asikan angon (menggembala), Kanjeng Nabi waktu kecil seperti anak-anak Indonesia yang senang mencuri jambu. Na’udzubiLlah min dzalika. Ini merusak kemuliaan Nabi Muhammad ShallaLlahu ‘alaihi wa Sallama sebagai basyarun la kal basyari (manusia yang tidak seperti manusia lainnya). Akidah dari umat Islam begitu, yakni umat Aswaja. Tapi ini dirusak oleh Ahmad Muwafiq dengan cemoohan itu, dengan guyonan dia terkekeh-kekeh. Peristiwa itu terjadi di Purwodadi. Kemudian setelah itu baru-baru saja dia disuruh ceramah di Banten di kalangan orang-orang jadug sampai berani melecehkan Nabi Muhammad ShallaLlahu ‘alaihi wa Sallama atau mengundang orang yang melecehkan Nabi Muhammad ShallaLlahu ‘alaihi wa Sallama karena jadugnya. Berani melawan Syari’ah. Dia juga bilang bahwa dia tidak bisa menerima akal Nabi Muhammad yang berumur 50 menikah dengan Siti Aisyah yang berumur 9 tahun, tapi kok Aisyah-nya girang. Dia berbicara begitu sambil terkekeh-kekeh. Dia tidak kapok.

Dia memang sudah klarifikasi minta maaf tapi tidak mengatakan dia salah. Dia hanya minta maaf karena menyinggung perasaan umat Islam yang sangat cinta kepada Nabi Muhammad ShallaLlahu ‘alaihi wa Sallama. Tidak mau mengatakan dia salah. Dia mengatakan itu omongan untuk anak-anak milenial. Ya benar, milenial yang belajar sama orientalis.

Memang di sejarah di Ibn Sa’d atau Ibn Jauzi nabi Muhammad ShallaLlahu ‘alaihi wa Sallama terkena penyakit mata, kemudian oleh Abdul Muthalib diperiksakan kepada seorang kahin. Katanya kahin, “Ini sakit mata, ya? Cucumu ini akan menjadi nabi akhir zaman. Sudah, ludahnya dia aja kamu oleskan ke matanya yang sakit itu.” Ramad itu sakit mata. Sakit mata itu bukan karena tidak diurusi, mungkin terkena debu. Namanya juga peyakit.

وجائز في حقهم من عرض * من غير نقص كخفيف المرض

Sakit mata termasuk penyakit ringan, bukan karena Abdul Muthalib tidak bisa mengurusi. Itu menghina Nabi Muhammad dan nasab Nabi Muhammad ShallaLlahu ‘alaihi wa Sallama. Menghina mbahnya. Abdul Muthalib ini kepalanya orang Quraisy. Dia sering ke Yaman, diberitahu oleh Raja Yaman Dzi Yazan, “Kalau tidak kamu, anakmu, nanti cucumu yang menjadi nabi.” Ini diceritakan kepada orang Quraisy. Aslinya orang Quraisy percaya kepada nabi akhir zaman, tapi setelah nabi memproklamasikan menjadi nabi malah mereka mendustakan.

Dua peristiwa ini menggegerkan, dan saya sudah lama menulis bahwa sabbu nabi yuqtal bi ijma’ ulama. Orang yang mencaci-maki nabi itu hukumannya dibunuh menurut ijma’ ulama. Ingat saya ini ada di kitabnya Qadli Iyadl dalam al-Syifa lalu dinukil oleh Imam Nawawi dalam al-Raudlah. Sekarang ada kejadian lagi. Mungkin dua orang penghina nabi peristiwa disuruh entah sengaja atau tidak sengaja. Mereka sengaja maupun tidak sengaja tetep dibunuh jika kita punya negara Islam. Kita tidak punya negara Islam, maka disini mestinya dibui. Langsung dibui aja. Penistaan agama ditangani polisi seperti zaman dulu. Dulu kalau ada penista agama langsung dijebloskan ke penjara. Tidak usah diadili, wong peradilannya saja tidak adil.

Walhasil, dua penista agama ini ingin supaya umat Islam melupakan hukum natal dan mengucapkan selamat hari natal. Supaya kita lupa. Apalagi sekarang didatangkan ulama dari kalangan habaib yang ucapannya syadz (nyeleneh) dengan membolehkan ucapan selamat natal. Tapi harus diingat-ingat. Beliau mengatakan boleh mengucapkan natal itu sebatas berbaik kata urusan dunia, artinya yang sudah kenal akrab dengan orang Kristen silahkan. Karena keakraban saja, karena mungkin saat kita hari raya Idul Fitri atau Idul Adha dia juga mengucapkan selamat hari raya. Itu memang yang beliau diinginkan, bukan kepada orang yang tidak akrab. Catatan dia juga jangan sampai membenarkan eksistensi agama Kristen. Dia hanya sebatas karena Kristen sedang senang-senang di dunia maka kita kasih ucapan selamat natal, selamat bersenang-senang. Artinya selamat itu bukan selamat dari dosa karena di akhirat nanti dia masuk neraka. Artinya harus begitu. Kemarin saat bedah buku, habib yang nyeleneh dari habaib yang lain itu juga mengatakan asal tidak masuk gereja. Tidak ikut natalan. Hanya sekedar mengirim ucapan selamat natal, tidak sampai grudak-gruduk ke gereja, tidak sampai memberi tumpeng seperti di trailer The Santri.

Natalan yang dirayakan tiap 25 desember adalah upacara umat Kristen untuk memperingati kelahiran Yesus yang mereka anggap sebagai tuhan. Mengucapkan selamat natal berarti mengakui Yesus sebagai tuhan. Ini kesyirikan yang nyata. Ini alasan yang sangat menharamkan, bahkan bisa terjerumus kufur karena mengucapkan selamat natal itu berarti meridhai kekufuran. Ridla bil kufri kufrun. Habib yang membolehkan tadi menjiplak dari Darul Ifta’ Mesir dengan alasan dulu memang meridlai kufur, sekarang sudah tidak begitu. Ini cuma berbuat baik saja. Lho, apakah imannya orang sekarang lebih baik dari imannya orang-orang dulu? Dulu orangnya agamis. Sekarang sekolah-sekolah tidak ada pelajaran agamanya. Jadi iman orang sekarang lebih lemah dari imannya orang-orang dulu dan mengkhawatirkan. Justru sekarang mestinya lebih berhati-hati.

Kemarin saya melihat video, dikirim Oleh Habib Miqdad Baharun, Habib Salim al-Syatiri mengharamkan mengucapkan natalan bahkan bisa kufur kalau ridla dan senang dengan kebesaran agama mereka. Barangsiapa berkeyakinan bahwa tuhan lebih dari satu, Isa adalah anaknya, maka dia telah musyrik seperti keterangan QS. al-Maidah: 72. Jelas bahwa natal bukan perayaan seremonial dunia semata, tapi ia adalah doktrin keagamaan Yesus yang sungguh sangat berlawanan dengan ‘Aqidah Islamiyah. Jadi yang mengatakan termasuk kebaikan ini salah, karena natal adalah sya’air dinihim (simbol agama mereka). Kenapa kita memberi selamat? Berarti kita ridla dengan kebesaran dan keramaian saat Yesus dinobatkan sebagai anak tuhan. Namun yang ironis agama Kristen menyebarkan agamanya lewat antek-anteknya, orientalis, IsNus, dan Banser yang akhirnya jadi abdi gereja.

Namun mengapa umat islam ikut-ikutan merayakan natal, padahal hukumnya sudah sangat jelas. Haram kelas berat. Sejarah natal, kata natal berasal dari bahasa Latin yang artinya lahir. Secara istilah natal berarti upacara yang dilakukan orang Kristen untuk memperingati hari kelahiran Yesus yang mereka sebut tuhan. Peringatan natal baru tercetus antara 325-350 M oleh Paus Liberius yang ditetapkan pada 25 Desember sekaligus momentum penyembhan dewa matahari yang kadang diperingati pada 6 Januari, 18 Oktober, 28 April, atau 18 Mei oleh Kaisar Konstantine. Pada 25 Desember itu akhirnya diputuskan sebagai hari kelahiran Yesus. Jadi Konstantain itu raja Romawi yang aslinya menyembah dewa matahari seperti Patung Liberty di Amerika. Kan ada mataharinya, sama dengan trailer film The Santri. Na’udzubiLlah. Padahal dalam Injil Lucas bahwa Nabi Isa lahir pada akhir musim gugur sekitar bulan Maret. Al-Quran juga mengatakan Nabi Isa lahir di bawah pohon kurma yang banyak buahnya. Berarti Nabi Isa lahir pada musim gugur. Allah Ta’ala berfirman:

فَحَمَلَتْهُ فَانْتَبَذَتْ بِهِ مَكَانًا قَصِيًّا (22) فَأَجَاءَهَا الْمَخَاضُ إِلَى جِذْعِ النَّخْلَةِ قَالَتْ يَا لَيْتَنِي مِتُّ قَبْلَ هَذَا وَكُنْتُ نَسْيًا مَنْسِيًّا (23) فَنَادَاهَا مِنْ تَحْتِهَا أَلَّا تَحْزَنِي قَدْ جَعَلَ رَبُّكِ تَحْتَكِ سَرِيًّا (24) وَهُزِّي إِلَيْكِ بِجِذْعِ النَّخْلَةِ تُسَاقِطْ عَلَيْكِ رُطَبًا جَنِيًّا (25) فَكُلِي وَاشْرَبِي وَقَرِّي عَيْنًا فَإِمَّا تَرَيِنَّ مِنَ الْبَشَرِ أَحَدًا فَقُولِي إِنِّي نَذَرْتُ لِلرَّحْمَنِ صَوْمًا فَلَنْ أُكَلِّمَ الْيَوْمَ إِنْسِيًّا (26) [مريم : 22 – 26]

Dalam ayat ini menunjukkan bahwa kelahiran Nabi Isa bukan pada tanggal 25 Desember, tapi pada musim gugur kurma karena Maryam mengambil kurma untuk makanan mereka berdua. Tidak dijelaskan secara detail kapan Nabi Isa lahir, tapi dari kitab Injil bahwa Nabi Isa lahir sekitar bulan Maret pada musim gugur. Rakyat Konstantinopel merayakan hari kelahiran Isa dengan menyembah dewa matahari pada musim gugur. Lalu mengapa tanggal 25 desember umat Kristen merayakat kelahiran Nabi Isa, padahal di Injil tidak disebutkan tanggal kelahiran Nabi Isa? Paulus Liberius merubah Injil menjadi 25 Desember, hal ini diperuntukkan untuk menyatukan umat Kristen dan Katolik dalam perayaan natal karena perayaan natal sendiri adalah budaya Katolik Roma pada masa Kaisar Konstantine.

Jadi dalam Al-Quran hari natal bukan 25 desember tapi pada musim gugur kurma. Ada keterangan Nabi Isa al-Masih lahir pada bulan November, ada nukilan lagi tepatnya pada tanggal 15 antara bulan September atau Oktober. Seingat saya abah saya berkata Nabi Isa lahir pada bulan September. Adapun perayaannya ditunda sampai Desember, ini termasuk nasi’ yang diceritakan dalam Al-Quran:

إِنَّمَا النَّسِيءُ زِيَادَةٌ فِي الْكُفْرِ يُضَلُّ بِهِ الَّذِينَ كَفَرُوا يُحِلُّونَهُ عَامًا وَيُحَرِّمُونَهُ عَامًا لِيُوَاطِئُوا عِدَّةَ مَا حَرَّمَ اللَّهُ فَيُحِلُّوا مَا حَرَّمَ اللَّهُ زُيِّنَ لَهُمْ سُوءُ أَعْمَالِهِمْ وَاللَّهُ لَا يَهْدِي الْقَوْمَ الْكَافِرِينَ [التوبة : 37]

Jadi mengucapkan natal itu berbahaya karena kita menghormati penjajah yaitu Romawi yang berkhianat disamping Paus Liberius tadi. Disamping itu tidak ada ajaran dalam Injil untuk memperingati maulid. Kalau kita ada di dalam Al-Quran:

لَقَدْ جَاءَكُمْ رَسُولٌ مِنْ أَنْفُسِكُمْ عَزِيزٌ عَلَيْهِ مَا عَنِتُّمْ حَرِيصٌ عَلَيْكُمْ بِالْمُؤْمِنِينَ رَءُوفٌ رَحِيمٌ [التوبة : 128]
وَالسَّلَامُ عَلَيَّ يَوْمَ وُلِدْتُ وَيَوْمَ أَمُوتُ وَيَوْمَ أُبْعَثُ حَيًّا [مريم : 33]

Al-Quran menyebut hari lahir.

أَلَمْ تَرَ كَيْفَ فَعَلَ رَبُّكَ بِأَصْحَابِ الْفِيلِ (1) أَلَمْ يَجْعَلْ كَيْدَهُمْ فِي تَضْلِيلٍ (2) وَأَرْسَلَ عَلَيْهِمْ طَيْرًا أَبَابِيلَ (3) تَرْمِيهِمْ بِحِجَارَةٍ مِنْ سِجِّيلٍ (4) فَجَعَلَهُمْ كَعَصْفٍ مَأْكُولٍ (5) [الفيل : 1 – 5]

Ashhabul fil (tantara gajah) dihancurkan Allah dengan burung Ababil 40 hari sebelum Rasulullah ShallaLlahu ‘alaihi wa Sallama lahir. Berarti Allah Ta’ala memperingati kelahiran Rasulullah dengan menyebut kehancuran Ashhabul Fil. Kalau dari Nabi Muhammad sudah jelas, beliau ditanya tentang puasa hari Senin. Jawab beliau, “Hari itu aku dilahirkan.” Nabi membolehkan memperingati maulid dengan puasa. Sekarang diqiyaskan dengan puasa yaitu shadaqah. Rasulullah juga menyembelih hewan Aqiqah atas nama dirinya. Maka kita bershadaqah pada saat maulid sama dengan membayar Aqiqah kepada Rasulullah ShallaLlahu ‘alaihi wa Sallama.

Pembahasan mengucapkan selamat natal tidak bisa dipahami dengan benar kecuali setelah memahami makna ucapan, apakah ucapan selamat natal termasuk tahniah yang diharamkan. Disamping itu, apakah termasuk tasyabbuh atau meniru kaum kafir. Dalam literatur Fiqh ucapan selamat lebih banyak disebut sebagai tahniah. Jika ditinjau dari segi bahasa tahniah adalah lawan dari ta’ziyah. Al-Bujairimi dalam Hasyiyah-nya mengatakan tahniah kebalikan dari ta’ziyah, yaitu mendoakan setelah kebahagiaan. Kalau ta’ziyah mengarahkan orang yang kena musibah agar sabar dengan janji pahala dan berdoa kepadanya. Dalam Lisan al-‘Arab juga sama.

Hukum tahniah kepada sesama muslim adalah sunnah seperti saat hari ‘Id, kelahiran, pernikahan, dan momen-momen gembira lainnya. Tujuannya adalah menumbuhkan kecintaan dan kegembiraan. Tahniah juga dianjurkan ketika orang terhindar dari satu bencana. (Hawasyi al-Syarwani, juz 3 hlm. 650, Bughyah al-Mustarsyidin, hlm. 185, Nihayah al-Muhtaj, juz 7 hlm. 411)

Hukum tahniah kepada kafir ada rinciannya. Jika berhubungan dengan syiar agama mereka termasuk natalan maka diharamkan mutlak, dan mereka yang melakukannya layak mendapat ta’zir dari negara. Di Indonesia sudah ada UU Penistaan Agama. Ingat saya UU ini dari Pak Karno. Jasanya Pak Karno juga ada, tapi waktu itu entah mau hilangkan Konghucu atau apa. Al-Syirbini dalam Mughni al-Muhtaj mengatakan: bahwa grudak-gruduk ikut leang-leong, natalan, ke gereja, itu haram dan dita’zir. Begitu juga orang yang mengucapkan selamat dengan hari rayanya, tidak khusus natal hatta imlek. Natal yang lahirnya Nabi Isa yang harus kita hormati sebagai nabi saja tidak boleh, apalagi imlek, waisak, atau nyepi. Na’udzubiLlah. Di Tuhfah al-Muhtaj juga ada. Bukan hanya dari al-Syirbini.
Oleh habib yang membolehkan, dia bilang tidak ada dalil nash yang qath’i, hanya dari Fiqih. Cara berfikirnya kok seperti Muhammadiyah aja ini? Tidak mau dalil dari kitab-kitab madzhab. Dia berdalil Ibn Qayyim mengatakan tahniah kepada orang kafir ada tiga qaul. Haram, makruh, mubah. Lho, itu bukan urusan natal. Urusan ada anak lahir atau orang kawin dari mereka. Kalau urusan natal tidak ada khilaf. Salah beliau. Ia ahli dakwah, kurang fiqihnya.

Imam al-Bulqini secara gamblang mengatakan kalau selamat hari raya kepada Kristen itu diucapkan muslim karena niat mengagungkan agama mereka maka kufur. Seperti sekarang waktu masuk bulan Desember ini ada banyak promo seperti di penerbangan, beli mobil dikasih diskon. Kalau tidak disengaja maka tidak kufur, tapi bukan berarti boleh. Perkataan beliau tidak jadi kafir bukan berarti boleh, karena yang ditanyakan masalah kafir atau tidak, bukan boleh atau tidak boleh. Kalau ketidakbolehnya sudah maklum. Kalau dia sengaja mengagungkan agama atau hari raya mereka, dianggap benar, atau barakah, diridai allah, maka kufur. Kalau berkah yakni urusan dunia, maka tidak kufur tapi tetap tidak boleh. Ibn Qudamah mengatakan tahniah itu sama dengan salam. Kalau tahniah seperti urusan kelahiran, pernikahan, membangun rumah, itu boleh. Tapi kalau tahniah fi sya’air dinihim (dalam simbol-simbol agama mereka) jelas haram. Sudah diamalkan oleh para shahabat dan para salaf Alawiyyin. Sama dengan dia memberi tahniah saat Kristen munduk-munduk kepada salib, karena setiap natal pasti munduk-munduk pada salib. Ini kecuali kalau dipaksa. Ini ada fatwa Habib Salim, umpama dipaksa seperti orang yang bekerja di pabrik miliknya orang lalu Cina disuruh mengucapkna natal, maka tidak apa-apa asal hatinya tetap yakin Islam itu yang bener. Yang repot ini PNS (pegawai negeri) mulai zaman Gus Dur disuruh ikut natalan sekaligus tahun baru. Pokoknya jangan sampai senang, deh. Diniati tahun baru negara Indonesia aja. Jangan diniati ikut natalan. Negara Indonesia pernah dijajah Belanda, sekarang mau dijajah cina.

Cukuplah ini, InsyaAllah. Ini tulisan dikirim kemana-mana. Semoga bermanfaat, semoga Allah menjaga bangsa Indonesia dari dijajah oleh Cina dan komunis. Selamat natal ini mau dilegalkan ini permulaan untuk perusakan Islam supaya tauhid hilang. Nanti lama-lama jadi komunis, tidak ada tuhan. Sekarang nabinya dilecehkan, nanti Allah dilecehkan. InsyaAllah kita siap melawan itu semua, walaupun dia mendatangkan Habib Ali, ulama dari Mesir atau apa, kita tetap mengikuti salafuna shalihun, mengikuti Buya Hamka yang mengharamkan natalan. Semoga saya dicatat sebagai mujahid fi sabilillah diatas kepentingan pondok, pribadi, dan duniawi. Kita mementingkan urusan akhirat dan agama.”[*]

KH. Muhammad Najih MZ

TANGGAPAN KH. MUHAMMAD NAJIH MZ TERHADAP PARA PEMBELA MUWAFIQ

Banyak sekali para pemuji Ahmad Muwafiq yang tetap bersikukuh bahwa apa yang dikatakan Muwafiq adalah pernyataan yang benar dan tendensius dengan menyertakan dalil yang sangat jauh sekali dari alur pembahasan dan tidak jujur dalam mengutip dalil. Dalil yang mereka jadikan tendensi hampir semua mengenai riwayat yang mengatakan bahwa nabi pernah menderita رَمَد (sakit mata) seperti yang terdapat pada kitab al-Sirah al-Halabiyah (juz 3 hlm. 487) dan Subul al-Huda wa al-Rasyad (juz 2 hlm. 134). Referensi semacam ini kemudian dipelintir demi melegitimasi ucapan Muwafiq yang menghina Rasulullah ShallaLlahu ‘alaihi wa Sallama dengan mengatakan bahwa masa kecil Rasulullah rembes (dekil) dan tidak terurus karena diasuh oleh sang kakek semenjak usia enam tahun.

Perlu kami sampaikan bahwa banyak dari pemuja Muwafiq yang tidak jujur dalam mengutip dalil. Riwayat-riwayat yang tertera pada kitab-kitab diatas memang menerangkan bahwa Rasulullah ShallaLlahu ‘alaihi wa Sallama pada saat dirawat oleh Abdul Muthalib pernah mengalami sakit mata, sehingga kemudian sang kakek Abdul Muthalib disarankan untuk pergi ke ‘Ukadz menemui salah satu rahib yang terkenal mampu mengobati penyakit mata, namun oleh rahib malah disarankan untuk mengobatinya sendiri dengan ludah mulia Rasulullah ShallaLlahu ‘alaihi wa Sallama. Rasulullah mengalami penyakit tersebut bukan berarti nabi dalam keadaan rembes dan tak terurus tapi memang pada saat itu Makkah sedang mengalami cuaca yang panas. Hal ini dibuktikan dengan adanya orang-orang yang meminta berkah doa kepada Abdul Muthalib agar segera diturunkan hujan.

في جهد وجدب وقد سقى الله الناس بعبدالمطلب فاقصدوه لعله يسأل الله تعالى فيكم فقدموا مكة ودخلوا على عبدالمطلب فحيوه بالسلام فقال لهم أفلحت الوجوه وقام خطيبهم فقال قد أصابتنا سنون مجدبات وقد بان لنا أثرك وصح عندنا خبرك فاشفع لنا عند من شفعك وأجرى الغمام لك فقال عبدالمطلب سمعا وطاعة موعدكم غدا عرفات ثم أصبح غاديا إليها وخرج معه الناس وولده ومعه رسول الله صلى الله عليه وسلم فنصب لعبدالمطلب كرسي فجلس عليه وأخذ رسول الله صلى الله عليه وسلم فوضعه في حجره ثم قام عبدالمطلب ورفع يديه ثم قال اللهم رب البرق الخاطف والرعد القاصف رب الأرباب وملين الصعاب هذه قيس ومضر من خير البشر قد شعثت رؤوسها وحدبت ظهورها تشكوا إليك شدة الهزال وذهاب النفوس والأموال اللهم فأتح لهم سحابا خوارة وسماء خرارة لتضحك أرضهم ويزول ضرهم فما استتم كلامه حتى نشأت سحابة دكناء لها دوى وقصدت نحو عبدالمطلب ثم قصدت نحو بلادهم فقال عبدالمطلب يا معشر قيس ومضر انصرفوا فقد سقيتم فرجعوا وقد سقوا (السيرة الحلبية – 1 / 183)

Artinya: …. Pembicara mereka berdiri lalu berkata, “Kami mengalami paceklik semalam bertahun-tahun. Kami tahu dengan jelas rekam jejak Anda dan kami paham betul kabar tentang Anda. Karena itu, doakanlah syafa’at kepada kami dari Tuhan yang memberi syafa’at kepada Anda dan menggerakkan mendung kepada Anda.” Lalu Abdul Muthalib menjawab, “Baiklah, besok tempat perjanjian kita di Arafah.” Kemudian Abdul Muthalib pagi-pagi sekali menuju Arafah bersama orang-orang, anaknya, dan Rasulullah ShallaLlahu ‘alaihi wa Sallama. diberikan kursi kepada Abdul Muthalib lalu beliau berdoa, …. (Ali Burhanuddin Halabi, al-Sirah al-Halabiyyah, juz 1 hlm. 183)

Justru peristiwa ini menunjukkan Irhas dan tanda kenabian Rasulullah ShallaLlahu ‘alaihi wa Sallama.
Kata rembes dan tak terurus juga sangat tidak pantas bahkan keji sekali jika disematkan kepada Rasulullah ShallaLlahu ‘alaihi wa Sallama, karena arti dari rembes (huruf “e” disini sama bunyinya dengan huruf “e” pada kata resiko) dalam bahasa Jawa mempunyai arti keadaan anak kecil yang ingusan atau beringus (jorok). Orang Jawa biasanya menyebut anak kecil yang beringus hingga ingusnya berada di hidung dan mengotori sekitar hidung dengan kata rembes. Arti lain dari kata ini ialah keadaan orang yang belum mandi sehingga ada kotoran entah karena liur atau ada kotoran di mata dan penampilan yang semrawut. Semua makna ini jelas sekali bertentangan dengan penjelasan para ulama dalam menerangkan keadaan nabi semasa kecil. Nabi sejak dilahirkan selalu dalam keadaan bersih, berkhitan dan bercelak:

وولد صلى الله عليه وسلم معذورا مسرورا أي مختونا مقطوع السرة ووقع إلى الأرض مقبوضة أصابع يده مشيرا بالسباحة كالمسبح بها. (عيون الأثر في فنون المغازي والشمائل والسير – 1 / 43)

Artinya: Rasulullah ShallaLlahu ‘alaihi wa Sallama dilahirkan dalam kondisi sudah dikhitan dan dipotong tali pusarnya. Rasulullah terbaring di bumi dengan jari-jari tangan menggenggam dan jari telunjuknya mengarah seperti orang yang membaca tasbih (tasyahhud). (Ibn Sayyidinnas, ‘Uyun al-Atsar fi Funun al-Maghazi wa al-Syamail wa-Siyar, juz 1 hlm 43)

Ketika dalam asuhan Abdul Muthalib keadaan nabi pun sangat sehat dan kuat. Kehadiran Rasulullah ShallaLlahu ‘alaihi wa Sallama pun sangat dimuliakan oleh sang kakek, bahkan Abdul Muthalib sangat peduli, memberi perhatian lebih, dan lebih mengutamakan nabi dari pada putranya sendiri.

سمط النجوم العوالي في أنباء الأوائل والتوالي- للعصامي – (1 / 132)
قال في تاريخ الخميس: روى نافع بن جبير: أنه كان رسول الله صلى الله عليه وسلم مع أمه آمنة بعد رد حليمة إياه لها، فلما توفيت، ضمه وكفله جده عبد المطلب، ورق عليه رقة لم يرقها على ولده، وكان يقربه منه ويدخل عليه إذا خلا وإذا نام، وكان يجلس على فراشه، وكان أولاده لا يجلسون عليه.

Artinya: Husain Bakri dalam Tarikh al-Khamis berkata: Nafi’ bin Jubair meriwayatkan bahwa Rasulullah ShallaLlahu ‘alaihi wa Sallama bersama sang ibu lagi yakni Aminah setelah Halimah memberikan kembali Rasulullah kepadanya. Maka ketika Aminah wafat, Rasulullah lalu diasuh oleh kakeknya Abdul Muthalib. Beliau sangat sayang kepada Rasulullah melebihi sayanganya kepada anaknya. Abdul Muthalib berada di dekat Rasulullah dan menghampirinya ketika sendirian dan ketika tidur. Rasulullah ShallaLlahu ‘alaihi wa Sallama duduk di permadani Abdul Muthalib dimana anak-anaknya tidak ada yang berani duduk di sana.

قال ابن إسحاق: حدثني العباس بن عبد الله بن معبد، عن بعض أهله قال: كان يوضع لعبد المطلب فراش في ظل الكعبة، وكان لا يجلس عليه أحد من بنيه إجلالاً له، وكان رسول الله صلى الله عليه وسلم يأتي حتى يجلس عليه، فيذهب أعمامه ليؤخروه عنه؛ فيقول عبد المطلب: دعوا ابني، ويمسح على ظهره، ويقول: إن لابني هذا شأناً؛ كذا قاله ابن الأثير في أسد الغابة.

Artinya: Ibn Ishaq berkata: Menceritakan kepadaku Abbas bin Abdullah bin Ma’bad, dari sebagian keluarganya, ia berkata: Abdul Muthalib diberi sebuah permadani di naungan Ka’bah dan tidak ada satupun anaknya yang berani mendudukinya sebagai penghormatan kepadanya. Suatu ketika Rasulullah ShallaLlahu ‘alaihi wa Sallama datang lalu duduk disitu, lalu paman-pamannya pun menghampiri untuk meminta Rasulullah tidak mendudukinya. Abdul Muthalib pun berkata, “Biarkan putraku,” sembari mengusap punggung Rasulullah. “Putraku ini punya sesuatu yang besar,” lanjutnya.

وقال قوم من بني مدلج – وهم مشهورون بالقيافة – : يا عبد المطلب، احتفظ به؛ فإنا لم نر قدماً أشبه بالقدم الذي في مقام إبراهيم منه، فقال عبد المطلب لأبي طالب: اسمع ما يقول هؤلاء في ابن أخيك، وقال عبد المطلب لأم أيمن وكانت تحضنه: لا تغفلي عن ابني؛ فإن أهل الكتاب يزعمون أنه نبي هذه الأمة، وكان عبد المطلب لا يأكل طعاماً إلا قال: علي بابني، فيؤتى به إليه، فلما حضرت عبد المطلب الوفاة، أوصى به أبا طالب.

Artinya: Abdul Muthalib tidak makan kecuali berkata, “Datangkan putraku kesini,” hingga Rasulullah ShallaLlahu ‘alaihi wa Sallama pun didatangkan kepadanya. Ketika Abdul Muthalib akan wafat, beliau mewasiatkan hal tersebut kepada Abu Thalib. (Abdul Malik Ishami, Simth al-Nujum al-‘Awali fi Anba’ al-Awail wa al-Tawali, juz 1 hlm. 132)

Begitupun saat dirawat oleh pamannya Abu Thalib, Rasulullah ShallaLlahu ‘alaihi wa Sallama selalu dimuliakan, sangat diperhatikan dan selalu dalam kondisi yang bersih dan sehat.

وَذَكَرَ كَوْنَ النّبِيّ – صَلّى اللّهُ عَلَيْهِ وَسَلّمَ – فِي كَفَالَةِ عَمّهِ يَكْلَؤُهُ وَيَحْفَظُهُ . فَمِنْ حِفْظِ اللّهُ لَهُ فِي ذَلِكَ أَنّهُ كَانَ يَتِيمًا لَيْسَ لَهُ أَبٌ يَرْحَمُهُ وَلَا أُمّ تَرْأَمُهُ لِأَنّهَا مَاتَتْ وَهُوَ صَغِيرٌ وَكَانَ عِيَالُ أَبِي طَالِبٍ ضَفَفًا ، وَعَيْشُهُمْ شَظَفًا ، فَكَانَ يُوضَعُ الطّعَامُ لَهُ وَلِلصّبْيَةِ مِنْ أَوْلَادِ أَبِي طَالِبٍ فَيَتَطَاوَلُونَ إلَيْهِ وَيَتَقَاصَرُ هُوَ وَتَمْتَدّ أَيْدِيهِمْ وَتَنْقَبِضُ يَدُهُ تَكَرّمًا مِنْهُ وَاسْتِحْيَاءً وَنَزَاهَةَ نَفْسٍ وَقَنَاعَةَ قَلْبٍ فَيُصْبِحُونَ غُمْصًا رُمْصًا ، مُصْفَرّةً أَلْوَانُهُمْ وَيُصْبِحُ هُوَ – عَلَيْهِ السّلَامُ – صَقِيلًا دَهِينًا كَأَنّهُ فِي أَنْعَمِ عَيْشٍ وَأَعَزّ كِفَايَةٍ لُطْفًا مِنْ اللّهِ – عَزّ وَجَلّ – بِهِ (الروض الأنف – 1/ 311)

Artinya: Didatangkan makanan kepada Rasulullah ShallaLlahu ‘alaihi wa Sallama dan anak-anak Abu Thalib. Mereka pun saling berebut makanan, namun Rasulullah menahan diri dari itu. Mereka saling mengulurkan tangan, namun Rasulullah menggenggam tangannya karena mempersilahkan, malu, perilaku yang bersih, dan hati yang terima apa adanya. Anak-anak Abu Thalib pun menjadi kotor dan belepotan warna kuning, sedangkan Rasulullah ShallaLlahu ‘alaihi wa Sallama keadaannya bersih dan wangi seperti dalam hidup yang paling nikmat dan paling kecukupan karena kasih sayang dari Allah ‘Azza wa Jalla. (Abdurrahman Suhaili, al-Raudl al-Anf, juz 1 hlm. 311)

و روي عن أمه آمنة أنها قالت : قد ولدته نظيفا ما به قذر (الشفا – (1 / 55)

Artinya: Diriwayatkan dari ibunya Aminah bahwa ia berkata, “Aku telah melahirkannya dalam kondisi bersih dan tidak ada kotoran sama sekali.” (Qadli Iyadl, al-Syifa bi Ta’rif Huquq al-Mushthafa, juz 1 hlm. 55)

(أنها قالت: ولدته نظيفا) أي نقيا (ما به قذر) بفتحتين أي وسخ ودرن كما رواه ابن سعد في طبقاته وروي أنه ولدته أمه بغير دم ولا وجع (شرح الشفا – 1/173)

Artinya: (Aisyah berkata: Saya melahirkannya dalam kondisi نَظِيْف) yakni نَقِيّ/bersih (dan tidak ada قَذَر) dengan dua fathah yakni kotoran dan debu seperti riwayat Ibn Sa’d dalam al-Thabaqat. Diriwayatkan juga bahwa Aminah melahirkan Rasulullah ShallaLlahu ‘alaihi wa Sallama tanpa ada darah maupun air ketuban. (Qadli Iyadl, Syarh al-Syifa, juz 1 hlm. 173)

Muwafiq juga mempertanyakan tentang cahaya yang keluar pada saat Rasulullah ShallaLlahu ‘alaihi wa Sallama lahir dan menganggap bahwa kelahiran Rasulullah itu biasa-biasa saja dengan membuat-buat alasan bahwa kalau ada cahaya keluar pasti ditangkap oleh Yahudi, bahkan ajaibnya oleh Abrahah yang sudah mati. Bagaimana orang yang mengaku sehari-harinya membaca sejarah nabi mempertanyakan peristiwa ini dengan alasan-alasan yang lucu dan tidak masuk akal, padahal dalam kitab-kitab Sirah soal cahaya kelahiran Rasulullah ShallaLlahu ‘alaihi wa Sallama sudah tidak diragukan lagi.

وعن همام بن يحيى عن إسحاق بن عبد الله أن أم رسول الله صلى الله عليه وسلم قالت: لما ولدته خرج من فرجي نور أضاء له قصور الشام، فولدته نظيفا ما به قذر. رواه ابن سعد وإلى هذا أشار العباس بن عبد المطلب في شعره حيث قال: وأنت لما ولدت أشرقت ال * أرض وضاءت بنورك الأفق، فنحن في ذاك الضياء وفي النو * ر وسبل الرشاد نحترق. قال في اللطائف: وخروج هذا النور عند وضعه إشارة إلى ما يجيئ به من النور الذي اهتدى به أهل الأرض وزال به ظلمة الشرك. قال تعالى: قَدْ جَاءَكُمْ مِنَ اللَّهِ نُورٌ وَكِتَابٌ مُبِينٌ (15) يَهْدِي بِهِ اللَّهُ مَنِ اتَّبَعَ رِضْوَانَهُ سُبُلَ السَّلَامِ وَيُخْرِجُهُمْ مِنَ الظُّلُمَاتِ إِلَى النُّورِ بِإِذْنِهِ وَيَهْدِيهِمْ إِلَى صِرَاطٍ مُسْتَقِيمٍ [المائدة : 15 ، 16]. وأما إضاءة قصور بصرى بالنور الذي خرج معه فهو إشاره إلى ما خص الشام من نور نبوته، فإنها دار ملكه كما ذكر كعب: أن في الكتب السالفة: محمد رسول الله صلى الله عليه وسلم مولده بمكة ومهاجره بيثرب وملكه بالشام. فمن مكة بدت نبوة نبينا عليه الصلاة والسلام وإلى الشام انتهى ملكه (المواهب اللدنية – 1/128)

Artinya: dari Hammam bin Yahya, dari Ishaq bin Abdullah, bahwa ibu Rasulullah ShallaLlahu ‘alaihi wa Sallama berkata, “Ketika saya melahirkan Nabi Muhammad keluar dari arah kemaluanku cahaya yang menyinari istana-istana Syam, lalu saya melahirkannya dalam keadaan bersih dan tidak ada kotoran sama sekali.” … Ibn Jauzi dalam Lathaif al-Ma’arif mengatakan, “Keluarnya cahaya ini ketika melahirkan Rasulullah ShallaLlahu ‘alaihi wa Sallama adalah isyarah terhadap cahaya yang memberi petunjuk kepada penduduk bumi dan menghilangkan kegelapan syirik.” … Adapun bersinarnya istana-istana Bushra dengan cahaya yang keluar bersama kelahiran Rasulullah adalah isyarah khusus kepada Syam dari cahaya kenabian beliau karena Syam akan menjadi daerah kekuasaannya. (Syihabuddin Qasthalani, al-Mawahib al-Laduniyyah, juz 1 hlm. 128)

Sekali lagi kami tegaskan, keadaan nabi semasa kecil selalu bersih dan terawat. ShallaLlahu ‘alaihi wa Sallama memang pernah mengalami رَمَد (sakit mata), tapi tidak pernah mengalamiرَمَص (belekan; matanya mengeluarkan kotoran; rembes).

Pernyataan lain yang lebih keji dan ngawur dari Ahmad Muwafiq AkhzahuLlahu wa Ahanahu fi al-daraini adalah mengandaikan jika di Arab pada masa kecil Rasulullah terdapat buah jambu, maka Rasulullah juga akan mencuri jambu pada masa kecilnya dan menganggap Rasulullah tidak bisa baca tulis karena tidak mau sekolah dan sukanya bermain-main dengan kambing saja. Pernyataan semacam ini tidak mungkin akan keluar dari mulut seorang muslim yang benar-benar berpaham Ahlussunnah wal Jamaah dan meyakini sifat ma’shum yang dimiliki setiap nabi. Dari sini kelihatan sekali bahwa Muwafiq tidak paham bagaimana pendiri NU KH. Hasyim Asyari mengajari kita cara mengisi maulid nabi dalam kitab al-Tanbihat al-Wajibat:

يؤخذ من كلام العلماء الاتي ذكره أن المولد الذي يستحبه الأئمة هو اجتماع الناس وقراءة ما تيسر من القران ورواية الأخبار الواردة في مبدأ أمر النبي صلى الله عليه و سلم وما وقع في حمله ومولده من الارهاصات وما بعده من سيره المباركات. (التنبيهات الواجبات لمن يثنأ المولد بالمنكرات: 10)

Artinya: Diambil dari kalam ulama yang akan disebutkan nanti bahwa maulid yang disunnahkan oleh imam-imama adalah berkumpulnya manusia, membaca sebagian dari Al-Quran dan riwayat-riwayat tentang ihwal pertama Rasulullah ShallaLlahu ‘alaihi wa Sallama, peristiwa yang terjadi saat mengandung dan melahirkannya dari berbagai irhas, dan sejarah hidup beliau yang diberkahi. (KH. Hasyim Asy’ari, al-Tanbihat al-Wajibat li Man Yatsna’ al-Maulid bi al-Munkarat, hlm. 10)

Selain itu, Ahmad Muwafiq membuat kebohongan besar dengan menyebut Waraqah bin Naufal (bukan Nufail seperti yang diucapkan Muwafiq) sebagai seorang dukun yang kaget begitu mengetahui Nabi Muhammad adalah seorang rasul. Tuduhan semacam ini jelas akan memberi pemahaman pada masyarakat awam bahwa Nabi Muhammad pernah mendatangi dukun dan bertanya pada dukun.

Padahal Waraqah bin Naufal adalah seorang yang alim yang mampu menerjemahkan Taurat dan Injil ke dalam bahasa Arab. Waraqah juga paham akan datangnya nabi akhir zaman jadi tidak mungkin kaget. Rasulullah ShallaLlahu ‘alaihi wa Sallama sendiri melarang mencela Waraqah bin Naufal:

( لا تسبوا ورقة بن نوفل فاني قد رأيت له جنة أو جنتين ) قال العراقي شاهد لما قاله جمع انه اسلم عند ابتداء الوحي (التيسير بشرح الجامع الصغير ـ للمناوى – 2 / 953)

Artinya: “Janganlah mencela Waraqah bin Naufal karena saya melihat baginya satu surga atau dua surga.” al-Iraqi berkata, “Hadits ini menguatkan hadits lain yang disampaikan oleh beberapa ulam bahwa Waraqah masuk Islam pada permulaan turunnya wahyu.” (al-Munawi, al-Taisir bi Syarh al-Jami’ al-Shaghir, juz 2 hlm. 953)

وأخبرنا أبو جعفر بن السمين بإسناده عن يونس بن بكير عن هشام بن عروة عن أبيه قال : ساب أخ لورقة رجلا فتناول الرجل ورقة فسبه فبلغ ذلك النبي صلى الله عليه و سلم فقال لأخيه : هل علمت أني رأيت لورقة جنة أو جنتين فنهى رسول الله صلى الله عليه و سلم عن سبه )أسد الغابة – 1 / 1107)

Artinya: Memberi kabar kepadaku Abu Ja’far bin Samin dengan jalur riwayatnya dari Yunus bin Bukair, dari Hisyam bin Urwah, dari ayahnya, ia berkata: Suatu ketika saudara Waraqah mencela seorang lelaki, lalu lelaki tersebut menemui Waraqah dan mencelanya. Berita ini sampai kepada Rasulullah ShallaLlahu ‘alaihi wa Sallama lalu beliau bersabda, “Apa kamu tahu bahwa aku melihat bagi Waraqah satu surga atau dua surga?” lalu Rasulullah ShallaLlahu ‘alaihi wa Sallama melarang celaan kepada Waraqah.” (Ibn Atsir, Usud al-Ghabah, juz 1 hlm. 1107)

Ucapan keji dari Muwafiq yang lain adalah mengatakan Nabi Sulaiman ‘alaihi al-Salam berbicara pada angin kentut yang kemudian membuat semua hadirin tertawa terbahak-bahak. Semua pemikiran dan pernyataan sesat Muwafiq merupakan benih-benih pemikiran Wahabi, Mu’tazilah, Syi’ah, bahkan benih dari pemikiran kristen, komunis, dan atheis.

Dua video permintaan maaf dari Muwafiq yang sudah beredar tidaklah cukup. Ia masih juga harus mengakui kesalahan besar yang telah diperbuat (dua video permohonan maaf yang sudah beredar di dalamnya terdapat pernyataan “jika saya salah” dan “jika saya keliru” yang tidak mencerminkan sepenuhnya mengakui kesalahan) serta wajib baginya untuk segera bertaubat dengan mengucapkan dua kalimat syahadat, dan menyesali sekaligus menarik seluruh ucapan-ucapan yang merendahkan martabat Rasulullah ShallaLlahu ‘alaihi wa Sallama karena ucapan tersebut merupakan dosa besar yang dilaknat oleh Allah sebagaimana firmannya:

إِنَّ الَّذِينَ يُؤْذُونَ اللَّهَ وَرَسُولَهُ لَعَنَهُمُ اللَّهُ فِي الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ وَأَعَدَّ لَهُمْ عَذَابًا مُهِينًا (الأحزاب : 57)

“Sesungguhnya orang-orang yang menghina Allah dan Rasul-Nya itu telah dilaknat Allah di dunia dan akhirat dan telah disiapkan baginya siksa yang menghinakan.” (QS. Al-Ahzab: 57)

وَلَئِنْ سَأَلْتَهُمْ لَيَقُولُنَّ إِنَّمَا كُنَّا نَخُوضُ وَنَلْعَبُ قُلْ أَبِاللَّهِ وَآيَاتِهِ وَرَسُولِهِ كُنْتُمْ تَسْتَهْزِئُونَ [التوبة : 65]

“Sungguh jika kau bertanya kepada mereka, mereka pasti akan berkata kami hanya bergumam dan bergurau saja. Katakanlah, “Apakah Allah, ayat-ayat-Nya, dan utusan-Nya kalian jadikan bahan ejekan?” (QS. Al-Taubah: 65)

Tidakkah Muwafiq tahu atau memang tidak mau tahu bahwa tindakan tersebut berkonsekuensi pada kekufuran dan kemurtadan, bahkan secara hukum Syari’ah wajib diganjar hukuman mati meskipun mengaku tidak sengaja?

وما ذكره ظاهر لقصد النقص وهو كفر كما مر، ثم قال من تكلم غير قاصد للسب له ولامعتقد له في جهته صلى الله غليه وسلم بكلمة الكفر من لعنه أو سبه او تكذيب أو إضافة ما لا يجوز عليه أو نفي ما يجب له مما هو في حقه صلى الله عليه وسلم … فحكمه القتل إذ لا يعذر أحد في الكفر بالجهالة ولا بدعوى زلل اللسان (الاعلام بقواطع الاسلام – 2/384)

Artinya: Maka hukuman bagi bagi penista agama adalah dibunuh, karena seseorang tidak ditoleransi atas kekufuran karena ketidaktahuan maupun dalih terpelesnya lisan. (Ibn Hajar al-Haitami, I’lam bi Qawathi’ al-Islam, juz 2 hlm. 384)

حدثنا عبيد الله بن محمد العمري القاضي بمدينة طبرية سنة سبع وسبعين ومائتين حدثنا إسماعيل بن أبي أويس حدثنا موسى بن جعفر بن محمد عن أبيه عن جده علي بن الحسين عن الحسين بن علي عن علي رضي الله عنهم قال قال رسول الله صلى الله عليه و سلم : من سب الأنبياء قتل ومن سب الأصحاب جلد (المعجم الصغير – الطبراني – 1 / 393)

Artinya: Rasulullah ShallaLlahu ‘alaihi wa Sallama bersabda, “Barangsiapa menghina para nabi maka dia dibunuh, dan barangsiapa menghina para shahabat maka dia didera.” (Abu Qasim al-Thabarani, al-Mu’jam al-Shaghir, juz 1 hlm. 393)

(من سب الأنبياء قتل) لانتهاكه حرمة من أرسلهم واستخفافه بحقه وذلك كفر قال القيصري : إيذاء الأنبياء بسبب أو غيره كعيب شئ منهم كفر حتى من قال في النبي ثوبه وسخ يريد بذلك عيبه قتل كفرا لا حدا ولا تقبل توبته عند جمع من العلماء وقبلها الشافعية (ومن سب أصحابي جلد) تعزيرا ولا يقتل خلافا لبعض المالكية ولبعض منا في ساب الشيخين ولبعض فيهما والحسنين. (فيض القدير 6/ 190)

Artinya: (Barangsiapa menghina para nabi maka dia dibunuh) karena merusak kehormatan Allah yang mengutus mereka dan meremehkan hak mereka, dan ini kufur. Al-Qaishari berkata, “Mencela para nabi baik dengan sebab atau tidak seperti halnya mencela satu hal kecil dari mereka adalah kufur. Bahkan jika orang berkata tentang nabi bahwa bajunya kotor dengan maksud mencela mereka, maka dibunuh karena kafir bukan karena hukum had. Ia tidak diterima taubatnya menurut sekelompok ulama, sedangkan menurut madzhab Syafi’i diterima taubatnya. (Abdurrauf Manawi, Faidl al-Qadir Syarh al-Jami’ al-Shaghir, juz 6 hlm. 190)

وقد نقل بن المنذر الاتفاق على أن من سب النبي صلى الله عليه و سلم صريحا وجب قتله ونقل أبو بكر أحد أئمة الشافعية في كتاب الإجماع أن من سب النبي صلى الله عليه وسلم مما هو قذف صريح كفر باتفاق العلماء ، فلو تاب لم يَسقط عنه القتل ؛ لأن حدَّ قذفه القتل ، وحد القذف لا يسقط بالتوبة … فقال الخطابي لا أعلم خلافا في وجوب قتله إذا كان مسلما (فتح الباري -12/281)

Ibn Mundzir mengutip kesepakatan bahwa penista Rasulullah ShallaLlahu ’alaihi wa Sallama secara terang-terangan wajib dibunuh. Abu Bakar seorang imam madzhab Syafi’i mengutip dalam Kitab al-Ijma’ bahwa orang yang menghina Rasulullah ShallaLlahu ’alaihi wa Sallama secara terang-terangan adalah kufur menurut konsensus ulama, dan jikapun dia bertaubat maka hukum dibunuh tidak bisa gugur.” (Ibn Hajar al-Asqalani, Fath al-Bari, juz 12 hlm. 281)

“من سبّ نبياً أو ملكاً أو عرّض به أو لعنه أو عابه أو قذفه أو استخف بحقه وما أشبه فإنه يقتل ولا يستتاب. ولا تقبل منه التوبة لو أعلنها ولو جاء تائباً قبل أن يطلع عليه، لان القتل في هذه الحالة حد خاص وإن كان يدخل تحت الردة”. “التشريع الجنائي” لعبد القادر عودة -2/724(

Artinya: Barangsiapa menghina nabi atau raja, menyindir, melaknat, menghujat, meremehkan haknya, dan lain-lain, maka dia dibunuh dan tidak dimintai pertaubatan dulu karena tidak diterima taubatnya. (Abdul Qadir Audah, al-Tasyri’ al-Janai, juz 2 hlm. 724)
وقد أفتى أكثر فقهاء الحنفية بناء عليه بقتل من أكثر من سب النبي صلّى الله عليه وسلم من أهل الذمة، وإن أسلم بعد أخذه، وقالوا: يقتل سياسة. وأجمع العلماء كما قال القاضي عياض في الشفا على وجوب قتل المسلم إذا سب النبي صلّى الله عليه وسلم ، لقوله تعالى: {إن الذين يؤذون الله ورسوله لعنهم الله في الدنيا والآخرة وأعد لهم عذاباً مهيناً} [الأحزاب:57/33]. (الفقه الإسلامي وأدلته – (7 / 517)

Artinya: Para ulama sepakat seperti keterangan Qadli Iyadl dalam al-Syifa atas kewajiban membunuh seorang Muslim ketika dia menghina Rasulullah ShallaLlahu ‘alaihi wa Sallama. (Wahbah al-Zuhaili, al-Fiqh al-Islamiy, juz 7 hlm. 517)

أما سب النبي صلى الله عليه وسلم فالإجماع منعقد على أنه كفر والاستهزاء به كفر قال الله تعالى} قل أبالله وآياته ورسوله كنتم تستهزئون{ }لا تعتذروا قد كفرتم بعد إيمانكم{ بل لو لم تستهزئوا قال أبو عبيد القاسم بن سلام فيمن حفظ شطر بيت مما هجي به النبي صلى الله عليه وسلم فهو كفر وقد ذكر بعض من ألف في الإجماع إجماع المسلمين على تحريم ما هجي به النبي صلى الله عليه وسلم وكتابته وقراءته وتركه متى وجد دون محوه (فتاوى السبكي – 2/573)

Artinya: Adapun penista Rasulullah ShallaLlahu ‘alaihi wa Sallama maka menurut konsensus ulama dia kafir, dan meremehkan Rasulullah juga kufur. (Taqiyuddin Subki, al-Fatawa, juz 2 hlm. 573)

وقال ابن المنذر – رحمه الله تعالى -: “أجمع عامة أهل العلم على أن من سب النبي صلى الله عليه وسلم عليه القتل، وممن قال ذلك: مالك والليث وأحمد وإسحاق، وهو مذهب الشافعي (تفسير القرطبي – 4/ 432)

Artinya: Mayoritas ahli ilmu bersepakat bahwa orang yang menghina Rasulullah ShallaLlahu ‘alaihi wa Sallama berhak untuk dibunuh. Termasuk yang mengatakan itu adalah Imam Malik, Laits, Ahmad, dan Ishaq, sedangkan itu adalah pendapat madzhab Syafi’i. (Abu Abdullah Qurthubi, al-Jami’ li Ahkam al-Quran (Tafsir al-Qurthubi), juz 4 hlm. 432)

Dalam video yang lain, Muwafiq AkhzahuLlahu wa Ahanahu fi al-daraini juga telah lancang berani melecehkan Sayyidah Aisyah dengan mengatakan pernikahan Sayyidah Aisyah dengan Rasulullah ShallaLlahu ‘alaihi wa Sallama tidak bisa dinalar dan tidak logis. Bahkan Sayyidina Umar pun dilecehkan dan dianggap berwajah sangat seram dan sadis. Padahal hukuman bagi orang yang melakukan penistaan semacam ini berat sekali.

ومن سب عائشة رضي الله عنها قتل لأن الله تعالى يقول فيها يعظكم الله أن تعودوا لمثله أبدا إن كنتم مؤمنين فمن رماها فقد خالف القرآن ومن خالف القرآن قتل (فتاوى السبكي – 2/ 569)

Artinya: Orang yang menghina Aisyah RadliyaLlahu ‘anha berhak dibunuh. (Taqiyuddin Subki, al-Fatawa, juz 2 hlm. 569)

وقد روي عن مالك فيمن سب عائشة أنه يقتل مطلقا ويمكن حمله على السب بالقذف انتهى. وقال في الإكمال في حديث الإفك: وأما اليوم فمن قال ذلك في عائشة قتل لتكذيب القرآن وكفره بذلك وأما غيرها من أزواجه فالمشهور أنه يحد لما فيه من ذلك ويعاقب لغيره وحكى ابن شعبان قولا آخر أنه يقتل على كل حال وكأن هذا التفت إلى أذى النبي صلى الله عليه وسلم حيا وميتا انتهى (مواهب الجليل لشرح مختصر الخليل – 8/ 381)

Artinya: Diriwayatkan dari Imam Malik tentang orang yang menista Aisyah bahwa dia berhak dibunuh secara mutlak. (Syamsuddin Ru’aini, Mawahib al-Jalil li Syarh Mukhtashar al-Khalil, juz 8 hlm. 381)

وقال في الإكمال أيضا: وسب أصحاب النبي صلى الله عليه وسلم وتنقصهم أو واحد منهم من الكبائر المحرمات. وقد لعن النبي صلى الله عليه وسلم فاعل ذلك وذكر أن من آذاه وآذى الله تعالى فإنه لا يقبل منه صرف ولا عدل واختلف العلماء فيما يجب عليه فعبد الملك ومشهور مذهبه إنما فيه الاجتهاد بقدر قوله والمقول فيه وليس له في الفيء حق وأما من قال فيهم: إنهم كانوا على ضلالة وكفر فيقتل (مواهب الجليل لشرح مختصر الخليل – 8/ 381)

Artinya: Menista shahabat Rasulullah ShallaLlahu ‘alaihi wa Sallama dan merendahkan mereka atau salah satu dari mereka termasuk dosa besar yang diharamkan …. Adapun orang yang berkata tentang shahabat bahwa mereka sesat dan kafir maka dia dibunuh. (Syamsuddin Ru’aini, Mawahib al-Jalil li Syarh Mukhtashar al-Khalil, juz 8 hlm. 381)

Mengenai pesan Gus Mus yang mengatakan “Jangan mau dibodohi oleh Setan Kebencian. Tidak ada orang muslim, umat Nabi Muhammad SAW –apalagi yang sehari-hari melakukan dakwah menyampaikan sabda Nabinya– sengaja menghina Nabinya sendiri. Jaga akal sehat. Jangan tunduk pada Setan Kebencian dan Iblis Adu domba” justru malah sebenarnya yang dibodohi setan dan iblis adalah orang-orang yang diam dan tak merasa sakit hati saat nabi dan agamanya dinistakan, bahkan malah lebih memilih menomorsatukan dan membela seorang penceramah yang menghina nabi hanya karena dia dianggap kyai NU. Seorang dai yang benar-benar paham ilmu agama tidak akan mungkin keluar kata-kata kotor dari mulutnya apalagi sampai berani melecehkan nabi, keluarga nabi dan shahabat nabi.

Kita bukan orang bodoh yang tidak tahu bahwa menistakan agama wajib dihukum baik secara Syari’ah maupun secara hukum negara sebagaimana termaktub dalam KUHP Pasal 156(a) melengkapi dekret Presiden Soekarno yang dijalankan oleh Presiden Soeharto, yaitu Dekrit Presiden No. 1/PNPS/1965 tentang Pencegahan Penyalahgunaan dan/atau Penodaan Agama. Bahkan sejak zaman kolonial Belanda kasus penistaan agama sudah ada dan ditindak seperti kasus penistaan agama pada 9 dan 11 Januari 1918, Martodharsono redaktur Djawi Hiswara memuat tulisan karya Djojodikoro. Tulisan yang berjudul “Pertjakapan antara Marto dan Djojo” itu menyulut kemarahan HOS Tjokroaminoto karena memuat kalimat “Gusti Kandjeng Nabi Rasoel minoem A.V.H. Gin, minoem opium dan kadang soeka mengisep opium”. Selang sebulan kemudian, 24 Februari 1918, HOS Tjokroaminoto menggalang solidaritas umat Muslim di Hindia Belanda untuk turun ke jalan. Pada hari itu di 42 tempat berbeda di Jawa dan sebagian Sumatera, sekitar 150 ribu orang melangsungkan demonstrasi menuntut pemerintah kolonial menghukum Martodharsono dan Djojodikoro.

Fenomena maraknya tindakan penistaan agama akhir-akhir ini adalah dampak dari lemahnya penindakan kasus penistaan oleh aparat yang berwajib. Kita hitung saja orang seperti Sukmawati, Ade Armando, Denny Siregar, Permadi Arya (Abu Janda), Eko Khuntadi dan Muwafiq yang sampai sekarang masih bebas berkeliaran meskipun sudah dilaporkan, dan seperti yang pernah disampaikan oleh Gus Nur hampir bisa dipastikan setiap ada penistaan agama pasti pelakunya merupakan orang yang dekat dengan rezim ini.

Perlu kami ingatkan kepada semua kaum Muslimin untuk tidak membuat lelucon, guyonan, penggambaran ataupun logika yang dapat mengundang tawa terbahak-bahak saat menyampaikan pengajian ataupun mauidhoh hasanah yang membahas tentang Allah Subhanahu wa Ta’ala, Rasulullah ShallaLlahu ‘alaihi wa Sallama, dan ayat Al-Quran lebih-lebih saat peringatan maulid nabi. Termasuk yang kami ingatkan dalam hal ini ialah alumni pondok pesantren Al-Anwar Sarang yang dikenal alim namun dalam setiap pengajiannya selalu memakai bahasa yang kurang santun dan kurang beradab sebagaimana saat menceritakan kisah para nabi dan menyatakan bahwa Nabi Harun menjadi nabi berkat proposal yang diajukan Nabi Musa kepada Allah, nabi-nabi lain tidak selevel dengan Nabi Muhammad, Nabi Musa hasud kepada Nabi Muhammad, nabi seringkali lupa ketika shalat, dan masih banyak contoh lainnya. Tidak benar jika ia mengaku apa yang ia sampaikan dalam pengajiannya memiliki sanad yang muttasil kepada al-Maghfur lahu Mbah Maimoen apalagi sampai ke Rasulullah. Al-Maghfur lahu justru selalu santun dan memilih bahasa yang tidak serampangan dalam setiap pengajiannya lebih-lebih saat menceritakan kehidupan para nabi.

Kami menulis tanggapan ini atas permintaan KH. Ustukhri Irsyad Pengasuh PP. Al-Hidayah untuk menanggapi pembelaan KH. Hanief Muslih pengasuh PP. Futuhiyyah Mranggen Demak terhadap Muwafiq.
Terakhir, semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala senantiasa menjaga akidah umat Islam dari rongrongan pemikiran sesat musuh-musuh Islam berkat kecintaan kita kepada Rasulullah ShallaLlahu ‘alaihi wa Sallama, keluarganya, dan para shahabatnya. Amin.

Sarang, 14 Rabiul Tsani 1441 H.

KH. Muhammad Najih MZ.

situs pindah ribathdarushohihain.com

%d blogger menyukai ini: