“Pengantar Menelaah kitab Mafahim” Karya Syaikhina M. Najih Maimoen Versi Arab-Indo 

Islam merupakan agama yang senantiasa mampu mengarahkan perkembangan zaman serta mampu menjawab berbagai macam problematikanya, dari waktu ke waktu akan selalu lahir ulama yang saling berkesinambungan dari berbagai penjuru sehingga setiap kali muncul pihak-pihak yang mengupayakan penyesatan terhadap pemahaman agama yang hanif ini (baik pihak tersebut dari internal Islam yang sudah mengalami brainwash ataupun dari musuh islam) Allah SWT akan mendatangkan golongan orang-orang yang siap berjuang di jalan Allah SWT tanpa peduli banyaknya kecaman atau cercaaan, mereka mengemban tugas mulia untuk melindungi dan mengembalikan pemahaman sebagai mana mestinya. Guru kami Sayyid Muhammad Alawi Al-Maliki merupakan salah satu dari golongan yang membentengi alur pemikiran islam melalui karangan-karangannya, salah satunya ialah kitab ”Mafahim Yajibu Antushohah.” Kitab ini merupakan karya besar beliau yang  dinilai sangat fenomenal karena mengkaji permasalahan-permasalahan substansial yang seringkali tidak diketahui oleh umat islam sehingga menjadi celah bagi musuh islam untuk melakukan penyesatan. Dalam kitab ini beliau menyanggah pihak-pihak yang berseberangan dengan beliau  melalui argumen yang ilmiyah, tegas serta sistematis.

Dan Alhamdulillah, atas anugerah Allah beberapa waktu lalu kami telah menyelesaikan karya kami yang kami beri nama:

“جل المواقف وكلمات الإمام السيد محمد علوي المالكي المسطورة في غير كتابه المفاهيم حول القضايا المهمة معرفتها”

Kitab ini sengaja kami dedikasikan untuk guru tercinta kami Sayyid Muhammad Alawi Al-Maliki rahimahullahu ta’ala. Sebenarnya kami tidak berani lancang untuk membedah keterangan-keterangan serta pandangan-pandangan beliau yang tertuang pada kitab Mafahim yang sudah sangat terkenal dan tersohor. Namun karena banyaknya permintaan dari para santri Madrasah Mafahim serta adanya mandat dari kantor Hai’ah Assofwah Al-Malikiyah kami sedikit menulis seputar isi dari kitab Mafahim yang luar biasa ini. Isi dari kitab Mafahim merupakan intisari dari pemikiran guru kami Sayyid Muhammad Alawi Al-Maliki yakni konklusi dari hasil diskusi beliau dengan para ulama besar Arab Saudi tepatnya di kota Thaif pada akhir dekade 70 sampai awal dekade 80 M. Namun Alasan inilah yang memotivasi kami untuk kemudian menulis risalah ini dan kami menamainya dengan nama:

“المدخل الى دراسة مفاهيم يجب أن تصحح”

sebagai jawaban atas permintaan dari Forum Alumnus Abuya Sayyid Alawi Al-Maliki. Hal ini kami angggap sebagai perintah langsung dari beliau. Semoga Allah SWT menjadikan risalah ini sebagai risalah yang bermanfaat dan bisa menjadi rujukan generasi Ahlussunah Wal Jamaah pada khususnya, serta bermanfaat bagi ummat islam secara menyeluruh dengan barokah kedudukan Rasulullah Alaihi Shalatu Wassalam yang agung dan keluarga beserta shahabat-shahabatnya di sisi Allah SWT, Alhamdulillahirobbil Alamin.
** KH. M. Najih Maimoen.

Iklan

Cara Nabi Muhammad SAW Mengajar dan Berdakwah

Dalam mengajar dan berdakwah, Nabi Muhammad SAW selalu mengikuti cara yang telah digariskan Allah SWT dalam al-Qur’an: 

ادْعُ إِلَى سَبِيلِ رَبِّكَ بِالْحِكْمَةِ وَالْمَوْعِظَةِ الْحَسَنَةِ وَجَادِلْهُمْ بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ إِنَّ رَبَّكَ هُوَ أَعْلَمُ بِمَنْ ضَلَّ عَنْ سَبِيلِهِ وَهُوَ أَعْلَمُ بِالْمُهْتَدِينَ 

Artinya: ”Ajaklah manusia ke jalan Allah dengan hikmah dan penerangan yang baik. Dan bantahlah mereka dengan cara yang baik pula. Sesungguhnya tuhanmu, Dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya. Dan Dialah yang lebih mengetahui orang yang mendapat petunjuk.”(QS. An-Nahl:125)

Ayat diatas merupakan gambaran lengkap tentang cara menyampaikan ajaran Allah SWT kepada manusia yang berbeda-beda sifat, tabiat dan pembawaannya. Ada manusia yang gandrung mencari kebenaran, ada juga golongan awam, dan adapula yang apriori dan menolak. Maka, untuk menghadapi kelompok-kelompok yang beraneka ragam itu perlu diterapkan cara yang sesuai dan tepat. Karena itu, Rasulullah SAW dalam menyampaikan sesuatu selalu menilai lebih dahulu tingkat kecerdasan dan daya tangkap masing-masing orang. Sebelum berbicara, beliau selalu melihat apa dan siapa yang dihadapi. Kepada setiap kelompok atau golongan, beliau menggunakan tutur kata yang dapat dimengerti dan dipahami dengan sebaik-baiknya, apalagi didukung  kepribadian beliau yang sangat berwibawa. Sehingga, segala ucapannya selalu berkenan dihati dan didengarkan dengan penuh minat.

Al-Qadli ‘Iyadl berkata: “Allah SWT telah menyelubungi segala yang diucapkan Nabi Muhammad SAW dengan rasa cinta dan mudah diterima, indah dan sedap didengar telinga. Oleh karena itu kata-kata beliau tidak selalu diulang-ulang hingga  berkali-kali. Sebab tidak ada sepatah kata pun yang tergelincir dan tidak pernah kekurangan argumentasi yang diperlukan.”

Bila kita melihat kenyataan itu, maka ayat tersebut diatas menjadi pegangan Nabi Muhammad SAW di dalam menyampaikan ajarannya. Dan pada hakikatnya telah ditentukan garis dan tata cara menghadapi tiga golongan yang ada dalam masyarakat disetiap waktu dan tempat.

Golongan pertama: ialah kelompok khusus. Dalam menyampaikan dakwah kepada mereka, perlu dilakukan dengan cara hikmah dan rasional. Yakni setiap keterangan hendaknya disertai dengan dalil dan argumentasi yang meyakinkan. Karena golongan ini tidak akan puas  dan mudah menerima, kecuali disertai dengan keterangan yang berdasarkan alasan kuat dan mantap, yang akhirnya membuat mereka bisa menerima dan mengikuti jalan yang haq dan benar.

Golongan kedua; ialah masyarakat awam atau rakyat biasa. Mereka cukup diberi keterangan dan tuntunan dengan uraian dan keterangan yang baik dan mengesankan. Dan untuk meyakinkan bahwa apa yang disampaikan dan diberikan kepada mereka itu semata-mata untuk kebaikan dan keuntungan mereka. Kalimat yang terlalu tinggi dan argumentasi yang mendetail tidak diperlukan lagi bagi kelompok ini. Karena biasanya mereka tidak banyak cingcong dan tidak ada hal-hal sulit yang dipersoalkan.

Golongan ketiga: ialah golongan yang menentang dan ngotot dalam menerima kebenaran, betapa pun jelas dan gamblangnya. Golongan yang satu ini harus dihadapi dengan sikap yang lunak, lemah lembut, dan bijaksana guna menenangkan gejolak hati yang dirangsang emosi, kalau-kalau mereka insyaf dan kembali ke jalan Allah SWT.

#KH. M. NAJIH MAIMOEN

PENJELASAN SYAIKH MUHAMMAD NAJIH TERHADAP NAZHAM JAUHARAH AL-TAUHID KARYA SYAIKH IBRAHIM AL-LAQQANI

 Syaikhina KH. M. Najih Maimoen Dawuh;
على نبي جاء بالتوحيد # وقد عرى الدين عن التوحيد
Sebelum Rasulullah ShallaLlahu ‘alaihi wa Sallama datang membawa tauhid, dunia atau agama-agama di dunia ini sepi dari tauhid. Artinya sudah cacat tauhidnya apalagi Musyrik, Yahudi, dan Nasrani. Saya sering sampaikan bahwa cacatnya teologi Nasrani adalah karena mereka punya itikad trinitas. Sedangkan kecacatan teologi Yahudi adalah karena tidak beriman kepada nabi-nabi selain nabi Musa. Keimanan mereka kepada nabi Daud pun hanya setengah-setengah saja karena beliau memiliki pangkat sebagai raja. Nabi Sulaiman dipercayai orang Yahudi tapi bukan karena perannya sebagai nabi, tapi lebih karena kerajaaannya. Bahkan Yahudi mengatakan nabi Sulaiman bisa menjadi raja lewat sihir seperti dalam Firman Allah Ta’ala:

وَاتَّبَعُوا مَا تَتْلُو الشَّيَاطِينُ عَلَى مُلْكِ سُلَيْمَانَ وَمَا كَفَرَ سُلَيْمَانُ وَلَكِنَّ الشَّيَاطِينَ كَفَرُوا يُعَلِّمُونَ النَّاسَ السِّحْرَ  [البقرة : 102]

“Dan mereka mengikuti apa yang dibaca oleh syaitan-syaitan pada masa kerajaan Sulaiman (dan mereka mengatakan bahwa Sulaiman itu mengerjakan sihir), padahal Sulaiman tidak kafir (tidak mengerjakan sihir). Hanya syaitan-syaitan lah yang kafir (mengerjakan sihir).” (QS. Al-Baqarah: 102)

Dalam berbagai literatur Asy’ariyah, Yahudi dikategorikan sebagai mujassimah yang mengatakan Allah itu jisim. Sedangkan menurut Nasrani Allah merupakan sebuah jauhar, yang implikasinya apabila jauhar maka berarti butuh hayyiz (tempat). Jisim itu selain butuh hayyiz juga butuh ajza’, dan hal ini menurut konsekuensi akidah Asya’irah adalah kufur.

فأرشد الخلق بدين الحق # بسيفه وهديه للحق

Bait ini sudah mencakup akidah bahwa Rasulullah ShallaLlahu ‘alaihi wa Sallama datang menyebarkan agama ini menggunakan dua cara yaitu metode dakwah atau ta’lim (hadyihi li al-Haqq), seperti keterangan Firman Allah Ta’ala:

كَمَا أَرْسَلْنَا فِيكُمْ رَسُولًا مِنْكُمْ يَتْلُو عَلَيْكُمْ آيَاتِنَا وَيُزَكِّيكُمْ وَيُعَلِّمُكُمُ الْكِتَابَ وَالْحِكْمَةَ وَيُعَلِّمُكُمْ مَا لَمْ تَكُونُوا تَعْلَمُونَ [البقرة : 151]

“Sebagaimana (Kami telah menyempurnakan nikmat kami kepadamu), kami telah mengutus kepadamu rasul diantara kamu yang membacakan ayat-ayat Kami kepadamu, mensucikanmu, dan mengajarkan kepadamu Al-Kitab dan Al-Hikmah, serta mengajarkan kepada kamu apa yang belum kamu ketahui.” (QS. Al-Baqarah: 150)

Serta dengan metode saif atau jihad fi sabiliLlah. Namu Rasulullah melakukan jihad setelah memiliki negara di Madinah dan tidak melakukannya ketika masih di Makkah. Karena itu, kelompok-kelompok radikal telah bertindak ngawur dengan mengadakan jihad namun belum punya kekuasaan, padahal mereka hanya seperti kelompok preman atau ishabah (kelompok-kelompok kecil) saja.

محمد العاقب لرسل ربه # وآله وصحبه وحزبه

Bait ini mencakup akidah bahwa Muhammad adalah nabi akhir zaman. Yang mengingkari hal ini jelas kufur, seperti orang-orang Ahmadiyah pengikut Mirza Ghulam Ahmad.

وكل من كلف شرعا وجبا # عليه أن يعرف ما قد وجبا

لله والجائز والممتنعا # ومثل ذا لرسله فاستمعا

Semua kitab-kitab tauhid Asya’irah dimulai dengan pernyataan ini, bahwa seorang Muslim harus tahu tentang al-ahkam al-‘aqliyah (hukum-hukum akal). Pakar-pakar tauhid membuat istilah ini untuk mengamankan akidah umat Islam dari tasybih (penyerupaan Allah dengan makhluk) dan tajsim (pemahaman Allah adalah jisim). Orang yang memiliki dua persepsi tersebut tidak tahu mana yang wajib, mustahil, atau jaiz  secara akal bagi Allah Ta’ala sampai berani tasybih maupun tajsim.

Secara pribadi mengamankan akidah seperti ini wajib, tapi jangan sampai kita gampang mengkafirkan orang. Kalau Yahudi Nasrani kita kafirkan maklum karena mereka tidak masuk Islam. Akan tetapi musyabbihah-mujassimah dari umat Muhammad ShallaLlahu ‘alaihi wa Sallama menurut kami tidak segampang itu dikafirkan.

Seingat saya di kita al-Raudhah karangan Imam al-Nawawi ada khilaf antar ulama Syafi’iyah apakah musyabbihah itu kafir atau tidak. Sebagian ulama berpendapat musyabbihah adalah kafir secara mutlak. Sebagian ulama lain berpendapat musyabbihah yang meyakini Allah adalah jism la ka al-ajsam (jisim yang tidak seperti jisim-jisim makhluk) maka tidak kafir, tapi yang meyakini jisim Allah seperti jisim manusia maka divonis kafir.

Namun bagaimanapun, tasybih adalah kesesatan yang harus diwaspadai. Adapun masalah kekufuran orangnya belum bisa kita tetapkan secara langsung karena harus melihat situasi dan kondisi di sekitar orang itu. WaLlahu A’lam.

Sama halnya dengan Syi’ah. Syi’ah itu sesat, tapi apakah mereka kafir? Hal ini masih belum jelas, apalagi Syi’ah Zaidiyah. Adapun Syi’ah Houtsi sekarang kok bisa sekeras itu mungkin karena disuplai oleh Iran. Syi’ah Itsna Asyariah yang benar-benar berakidah  bada’ dan meyakini Sayyidah Aisyah selingkuh, mari kita katakan kufur. Kalau hanya ikut-ikutan atau cari uang saja maka cukup kita katakan fasik, kecuali kalau orang tersebut getol mendakwahkan ajarannya dan semangat serta fanatik kepada akidah-akidah kufurnya. Akidah Syiah Iran itu banyak kufurnya, akan tetapi para pengikutnya kami keberatan dikatakan kafir kecuali apabila sudah tahu kesalahan ajarannya namun masih fanatik dengannya.

إذ كل من قلد في التوحيد # إيمانه لم يخل من ترديد

Seorang mukallaf wajib mengetahi mana hal yang wajib, jaiz, dan mustahil secara hukum akal. Hal ini karena orang yang imannya hanya taklid atau ikut-ikutan imannya mudah digoyah. Contohnya, kalau orang tidak tahu Allah itu bukan jisim, maka dia bisa mengikuti makna zahir beberapa ayat Al-Quran-Hadits yang terlihat menunjukkan tajsim lalu menetapkan tasybih dan tajsim kepada Allah. Akhirnya dia menjadi sesat atau mengikuti cara pandang Yahudi dan Nasrani.

ففيه بعض القوم يحكي الخلفا # وبعضهم حقق فيه الكشفا

Orang yang berislam secara taklid atau ikut-ikutan hukumnya khilaf. Orang yang beriman namun bukan lewat mengaji dalil-dalil keimanan itu ulama kita khilaf dalam menghukuminya.

وقال إن يجزم بقول الغير # كفى وإلا لم يزل في الضير

Ada sebagian ulama mengatakan bahwa apabila orang yang taklid tersebut yakin akan keimanannya maka sah imannya. Keterangan ini merupakan pendapat para ahli tahqiq (muhaqqiqun) dari kalangan Ahlussunnah yang diambil dari pendapat Tajuddin al-Subki. Ini adalah pendapat yang rajih (unggul). Alasan kaum Ahlussunnah menerima ini adalah Firman Allah Ta’ala:

وَلَا تَقُولُوا لِمَنْ أَلْقَى إِلَيْكُمُ السَّلَامَ لَسْتَ مُؤْمِنًا تَبْتَغُونَ عَرَضَ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا فَعِنْدَ اللَّهِ مَغَانِمُ كَثِيرَةٌ كَذَلِكَ كُنْتُمْ مِنْ قَبْلُ فَمَنَّ اللَّهُ عَلَيْكُمْ فَتَبَيَّنُوا إِنَّ اللَّهَ كَانَ بِمَا تَعْمَلُونَ خَبِيرًا [النساء : 94]

“Janganlah kamu mengatakan kepada orang yang mengucapkan “salam” kepadamu: “Kamu bukan seorang mukmin” (lalu kamu membunuhnya), dengan maksud mencari harta benda kehidupan di dunia, karena di sisi Allah ada harta yang banyak. Begitu jugalah keadaan kamu dahulu, lalu Allah menganugerahkan nikmat-Nya atas kamu. Maka telitilah. Sesungguhnya Allah Maha mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (QS. Al-Nisa’: 94)

Dan sabda Rasulullah ShallaLlahu ‘alaihi wa Sallama:

من صلى صلاتنا واستقبل قبلتنا وأكل ذبيحتنا فذلك المسلم الذي له ذمة الله وذمة رسوله (رواه البخاري)

“Barangsiapa shalat seperti shalat kita, menghadap kiblat kita, dan memakan hewan sembelihan kita, maka dia adalah Muslim yang berada dalam tanggungan Allah dan rasul-Nya.” (HR. Bukhari)

Dalil ini ditolak oleh Muktazilah dengan mengatakan bahwa hadits diatas hanya untuk urusan hukum-hukum duniawi saja. Lalu ulama Ahlussunnah menjawab bahwa tidak ada pilah-pilah dalil dalam hal ini sehingga pengkhususan Muktazilah diatas menjadi keliru.

Pada awalnya ulama Ahlussunnah mengatakan bahwa keimanan muqallid adalah sah secara mutlak. Ini menurut Ahlussunnah kurun awal (mutaqaddimin). Namun dalam perjalanan pendapat ini lalu dikritik oleh Muktazilah dengan mengatakan tidak sah secara mutlak. Akhirnya ulama Ahlussunnah kurun akhir (mutaakhirin) melakukan tafsil seperti keterangan diatas.

واجزم بأن أولا ممن يجب # معرفة …

Menurut ahli Kalam Ahlussunnah kewajiban pertama kali seorang manusia adalah mengetahui wujudnya Allah. Jadi, dalam masalah hukum jelas yang wajib pertama kali adalah membaca syahadain. Tapi apakah membaca syahadain segampang itu tanpa didasari dengan pembuktian (istidlal) dan perenungan (nazhar) terlebih dahulu? Maka ulama ahli kalam mengatakan manusia wajib nazhar. Orang Arab kuno zaman dulu masih banyak sisa-sisa agama Ibrahim, artinya seumpama mereka tidak nazhar tetap masih mungkin mendengar sisa-sisa ajaran tauhid Nabi Ibrahim ‘alaihi al-salam. Mereka bisa tahu bahwa nabi Ibrahim tidak menyembah berhala. Semua ini bisa dilacak dari sisa-sisa peninggalan tersebut. Tapi kita sebagai orang non-Arab (‘Ajam) jauh sekali dari tauhid Islam, sehingga cocok kebijakan ulama ahli kalam bahwa manusia wajib mengetahui Allah Ta’ala melalui nazhar.

… وفيه خلق منتصب

Ihwal kewajiban nazhar ini para ulama khilaf. Abu Ishaq al-Isfirayini mengatakan yang wajib adalah nazhar secara mutlak. Abu Bakr al-Baqillani mengatakan yang wajib adalah awal nazhar. Imam Haramain mengatakan yang wajib adalah niat untuk nazhar. Sebagian ulama lain mengatakan yang wajib adalah taklid, sebagian lain mengatakan yang wajib adalah membaca syahadatain.

Yang aneh, tokoh Muktazilah Abu Hasyim al-Jubai mengatakan bahwa yang pertama kali wajib adalah ragu (syakk). Ini yang terjadi di UIN-UIN di Indonesia. Para akademisinya disuruh untuk ragu terlebih dahulu. Ini yang repot. Belum bisa berislam secara kaffah tapi malah kafir terus-menerus. Akan tetapi, kalau kita mau ber-husnuzzhan mungkin maksud pernyataan syakk dari al-Jubai tadi adalah nazhar.

فانظر إلى نفسك ثم انتقل # للعالم العلوي ثم السفلي

Cara seseorang melakukan nazhar adalah merenungkan bagaimana dirinya sendiri diciptakan. Allah Ta’ala berfirman:

وَفِي الْأَرْضِ آيَاتٌ لِلْمُوقِنِينَ (20) وَفِي أَنْفُسِكُمْ أَفَلَا تُبْصِرُونَ [الذاريات : 20 ، 21]

“Dan di bumi itu terdapat tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi orang-orang yang yakin. (20) Dan (juga) pada dirimu sendiri. Maka apakah kamu tidak memperhatikan? (21)” (QS. Al-Dzariyat: 20-21)

Di bumi ada begitu banyak tumbuhan ijo royo-royo yang dapat dipanen untuk kebutuhan manusia, lalu pada musim kemarau tumbuhan-tumbuhan tersebut pun mulai mengering. Namun pada musim hujan akhirnya bisa tumbuh lagi. Berarti ada yang Dzat yang memberi dan mengekang hujan, dan tidak ada satupun yang mampu kecuali Allah.

Diri kita juga begitu. Asalnya tidak ada menjadi ada, kecil menjadi besar, lalu menjadi tua seperti kembali menjadi anak kecil lagi. Berarti ada Dzat yang menciptakan semua itu. Manusia tercipta dari jisim, ruh, dan a’rad (sifat). Siapa yg bisa menyusun itu? Berarti ada pencipta. Tidak mungkin orang tua kita membuat kita sendiri.

Lalu ada langit yang memiliki bintang-bintang dan tidak bertabrakan satu sama lain. Alam semesta ini semuanya berbicara bahwa Allah adalah Sang Pencipta. Lalu kita melihat bumi. Ada udara, mendung, bumi, air, laut, tambang, hewan, tumbuhan, ada yang murakkab dan ada yang tidak. Ini semua mesti Allah yang mengatur.

Kita harus menjauh dari ocehan filosof yang merupakan dasar dari ilmu umum bahwa langit dan bumi itu qadim (tidak ada permulaan). Falasifah itu ada dua, yaitu filosof Yunani (hukama) yang mengatakan alam itu qadim fi al-dzat, dan filosof Muslimin (Ibn Sina, al-Farabi, Ibn Hayyan) yang mengatakan alam itu qadim fi al-zaman. Kepercayaan filosof dari kalangan Muslimin ini juga berbahaya karena mendekati filosof Yunani. Bahkan kepercayaannya itu sudah dikafirkan oleh Imam al-Ghazali. Mengatakan alam qadim fi al-zaman itu sudah kafir, bahwa langit tidak ada yang mendahului. Ajaran filosof Muslimin ini malah akhirnya didukung oleh Ibn Taimiyyah ketika membahas pernyataan:

كان الله ولم يكن شيء غيره، وكان الله ولم يكن معه شيء غيره.

Ibn Taimiyyah dalam hal ini mentarjih pendapat yang kedua. Berarti menurut beliau alam bisa qadim fi al-zaman.

تجد به صنعا بديع الحكم # لكن به قام دليل العدم

Langit bumi seisinya meskipun begitu indah, namun di dalamnya terdapat dalil ketiadaan. Karena alam semesta ini berasal dari ketiadaaan dan bisa kembali kepada ketiadaan, maka dengan begitu alam ini hadits (baru), dan setiap hal yang baru pasti ada yang menciptakannya. Sedangkan Allah Ta’ala berbeda dengan ciptaan-Nya, tidak ada permulaan dan tidak ada akhir bagi-Nya.

وكل ما جاز عليه العدم # عليه قطعا يستحيل القدم

Segala hal yang bisa tiada mustahil qadim. Karena itu apabila ahli filsafat dari kaum Muslimin mengatakan alam ini qadim fi al-zaman, maka ini bahaya sekali. Imam al-Ghazali pun mengkafirkan konsep tersebut, alhamduliLlah. Ngono ae masih dibela oleh Ibn Taimiyyah karena iri dengan pamor Imam al-Ghazali, naudzu biLlahi min dzalik. Al-Ghazali anti filsafat malah disalahkan oleh beliau. Katanya Ibn Taimiyyah anti bid’ah, namun ternyata malah membela bid’ah yang divonis al-Ghazali kufur saking bencinya dengan al-Ghazali.

وفسر الإيمان بالتصديق # …

Iman menurut ahli kalam dimulai dari Abu Hanifah adalah:

تصديق جازم بما جاء به رسول الله ﷺ

“Membenarkan secara tegas ajaran yang dibawa Rasulullah ShallaLlahu ‘alaihi wa Sallama.”

Ini adalah pendapat mayoritas ulama Asya’irah dan Maturidiyah. Sedangkan menurut Muktazilah dan Khawarij, yang dimaksud iman adalah:

تصديق ونطق وسائر الطاعات والأعمال الصالحات وترك المعاصي

“Membenarkan, mengucapkan syahadatain, melakukan ketaatan-ketaatan yang lain dan amal-amal shalih, dan meninggalkan maksiat.”

Menurut kita kaum Ahlussunnah, konsep Muktazilah dan Khawarij diatas adalah konsep iman yang sempurna, bukan hakikat iman itu sendiri. Dalil kita adalah sabda Rasulullah ShallaLlahu ‘alaihi wa Sallama ketika ditanya oleh malaikat Jibril ‘alaihi al-salam:

فقال: ما الإيمان ؟ قال: ( أن تؤمن بالله وملائكته وبلقائه ورسله وتؤمن بالعبث )

“Jibril bertanya: “Apa itu iman?” Rasulullah ShallaLlahu ‘alaihi wa Sallama menjawab, “Iman adalah percaya adanya Allah, percaya adanya malaikat, percaya akan bertemu Allah, percaya dengan utusan Allah, dan percaya dengan kebangkitan manusia di Hari Kiamat.” (HR. Bukhari)

Redaksi yang dipakai dalam hadits diatas bermakna tashdiq (membenarkan).

Yang jadi masalah adalah menurut ulama salaf iman adalah i’tiqad bi al-qalb wa nuthq bi al-lisan wa ‘amal bi al-arkan (membenarkan dengan hati, mengucapkan dengan lisan, dan mengamalkan dengan badan). Sedangkan Murji’ah mengatakan iman adalah i’tiqad dan nuthq saja. Karramiyah mengatakan iman adalah nuthq saja.

Hanya saja, perbedaan Muktazilah dan ulama salaf dalam konsep iman adalah bahwa menurut salaf amal merupakan syarat sempurnanya iman. Iman itu menurut salaf: kumpulan tiga perkara: membenarkan, mengucapkan syahadat, dan mengamalkan ajaran Islam seperti shalat, puasa, dan zakat. Akan tetapi pengamalan ini merupakan syarat kesempurnaan iman. Berbeda dengan Muktazilah mengatakan orang Islam yang tidak mau shalat, zakat, dan puasa dihukumi kafir dan keluar dari keimanan. Orang yang mau shalat namun berzina menurut Muktazilah berada di manzilah baina manzilatain (tidak beriman, juga tidak kafir). Inilah perbedaan paling mendasar antara akidah Ahlussunnah dan Muktazilah dalam hal ini.

… والنطق فيه الخلف بالتحقيق

فقيل شرط كالعمل وقيل بل # شطر …

Tentang nuthq (mengucapkan dua syahadat) sebagian ulama mengatakan termasuk syarat iman, yakni syarat untuk memberlakukan hukum Islam kepadanya seperti halnya amal kecuali ditemukan tanda-tanda orang tersebut melakukan amal-amal kufur seperti sujud kepada berhala. Sebagian ulama lain mengatakan membaca syahadat adalah syathr (bagian) dari keimanan atau dengan kata lain syarat sahnya iman.

Sekarang bagaimana menghukumi perkataan kufur? Apakah orang yang mengucapkannya bisa langsung divonis kafir? Kalau yang saya tahu, kita tidak boleh gegabah memvonis kufur seseorang. Statementnya kita kufurkan, namun status orangnya kita tangguhkan. Kalau ada hakim Islam laporkan saja orang seperti itu biar dia yang menghukumi.

… والإسلام اشرحن بالعمل

مثال هذه الحج والصلاة # كذا الصيام فادر والزكاة

Islam itu harus diaktualisasikan dengan amal. Adapun seperti membaca syahadain menurut saya juga bagian dari Islam tapi menjadi syarat sahnya keimanan atau berlakunya hukum Islam.

ورجحت زيادة الإيمان # بما تزيد طاعة الإنسان

ونقصه بنقصها وقيل لا # وقيل لا خلف كما قد نقلا

Sekarang meskipun iman ditafsiri ulama salaf sebagai tashdiq (pembenaran), namun ulama ahli kalam mengunggulkan pendapat bahwa iman bisa bertambah dan berkurang. Hanya perbedaan definisi saja yang terjadi, namun ulama sepakat iman bisa bertambah dan berkurang. Bertambah dengan menjalankan ketaatan dan berkurang karena melakukan maksiat. Disini maka ketemu antara ulama salaf dan ulama khalaf (ahli kalam).

Sebagian ulama lain mengatakan iman tidak bisa bertambah atau berkurang, namun pendapat ini cenderung terlalu fanatik dengan kata-kata tashdiq. Seingat saya Abu Hanifah yang berpendapat demikian. Ada yang menganggap beliau Ahlussunnah dan ada yang menganggap beliau tidak Ahlussunnah gara-gara statement beliau ini.

Sebagian ulama mencari jalan tengah bahwa sebenarnya tidak ada khilaf antara dua pandangan diatas, ini menurut al-Razi dan Imam Haramain. Perbedaan yang ada hanya secara lafzhiy. Menurut pendapat ketiga ini, iman tidak bisa bertambah atau berkurang jika dipandang dari kesempurnaan iman yang dapat tercapai dengan amal. Yang bertambah atau berkurang adalah amalnya. Sedangkan yang tidak dapat bertambah ataupun berkurang adalah hakikat iman itu sendiri. Pembenaran dari hati tidak bertambah maupun berkurang. Ini pendapat yang moderat atau tengah-tengah.

Kalau kami sendiri terus terang lebih cocok mengikuti ulama salaf tapi bukan berarti ikut kaum salafi. Artinya kami berpandangan bahwa iman adalah membenarkan dengan hati, mengucapkan dengan lisan, dan mengamalkan dengan badan. Akan tetapi, pengamalan Islam dengan badan adalah syarat kesempurnaan iman, bukan syarat sahnya iman. WaLlahu A’lam. Kalau kita bilang tidak shalat berarti tidak punya iman, wah repot nanti bisa jadi Khawarij. Kita tetap salaf namun diberi penafsiran yang tidak radikal biar tidak menjadi Khawarij dan Wahabi.

وواجب له الوجود والقدم # كذا بقاء لا يشاب بالعدم

Allah wajib wujud secara akal (al-wujud al-wajib), yakni tidak mungkin ketiadaannya. Wujud Allah dengan wujud kita berbeda. Wujud kita dapat menerima ketiadaan dan wujud kita muncul setelah ketiadaan. Sedangkan wujud Allah tidak berasal dari ketiadaan dan tidak kembali kepada ketiadaan. 

Sifat qidam (tidak bermula) menurut saya adalah tafsir dari wujud itu sendiri. Mestinya yang lebih tepat diringkas dalam sifat wujud saja. Wujud Allah juga bersifat baqa’ (tidak berakhir).

وأنه لما ينال العدم # مخالف برهان هذا القدم

Sifat Allah ketiga adalah Allah berbeda dengan segala hal yang bisa menerima ketiadaan yaitu hawadits (makhluk). Bukti sifat ini adalah sifat qidam.

Sekarang apa dalil Allah bersifat qidam? Dalam Syarh Hidayah al-Murid karangan Mbah Abul Fadhol Senori diterangkan bahwa qidam ada dua yaitu qidam dzatiy dan qidam zamaniy. Qidam dzatiy adalah wujud Allah, sehingga qidam dzatiy menjadi sifat nafsiyah. Konsekuensi wujud Allah wajib adalah mesti qadim dan baqi.

Jika demikian, lalu mengapa sifat qidam dan baqa’ disebut lagi oleh ulama ahli kalam, padahal kata-kata wujud sudah mencakup keduanya? Dijawab bahwa ulama tauhid tidak mencukupkan dengan dalalah iltizam (makna kelaziman). Pada dasarnya mengakui qidam dan baqa’ adalah tafsiran dari wujud, namun kemudian ahli kalam berkata bahwa kedua sifat ini adalah sifat salbiyah sedangkan wujud adalah sifat nafsiyah, yaitu sifat yang menunjukkan hakikat (esensi) dari dzat.

Allah itu wujud, tidak ada tambahan jisim atau bukan jisim. Adapun ahli kalam berbicara Allah mustahil berupa jisim karena adanya konsep mukhalafah li al-hawadits bagi Allah. Wujud adalah hakikat kewujudan itu sendiri, sedangkan qidam dan baqa’ adalah tafsir dari wujud tadi. 

Adapun sifat salbiyah adalah setiap sifat yang menunjukkan tidak adanya perkara yang tidak patut bagi Allah. Sifat salbiyah sebenarnya banyak sekali, namun mengapa ahli kalam hanya menyebutkan lima saja? Sebenarnya konsep ini mengikuti sebagian ulama, barangkali dari Imam al-Sanusi. Pembatasan hanya ada lima ini tidak ada dalilnya, namun hanya karena termasuk sifat-sifat salbiyah yang dianggap penting.

Allah adalah Dzat yang berbeda dengan makhluk-Nya, tidak berupa jisim, jauhar, ataupun aradh. Alasannya karena Allah Dzat yang qadim. Sedangkan anggapan orang-orang Wahabi bahwa Allah duduk diatas ‘Arsy memuat banyak kesesatan. Istawa itu kan maknanya banyak, bisa naik, sama, matang, puncak, sempurna, dan bertempat. Lha kok Wahabi bisa memaknai duduk itu bagaimana? Kalau Allah duduk berarti memiliki bokong, kaki, dan seterusnya.

Kalau sekedar Allah berada di atas ‘Arsy apabila sampai menganggap tajsim (Allah butuh tempat) berarti kufur, kecuali apabila bilang Allah adalah jisim yang tidak seperti jisim makhluk, maka tidak bisa dikafirkan. Begitupun ada yang bilang kafir juga.

Wahabi berkata Allah duduk diatas ‘Arsy ini sangat berbahaya, terjerumus dalam tajsim. Kalau dalil mereka adalah istawa ‘ala al-‘Arsy, padahal istawa maknanya banyak. Ada yang bilang maknanya luhur (‘ala wa irtafa’a), adan yang bilang maknanya tetap (istaqarra). Istaqarra belum mesti bermakna duduk, kan? Mungkin mereka memakai Atsar-atsar atau tafsiran dari sebagian mujassimah, padahal sanadnya banyak yang terputus.

قيامه بالنفس …

Termasuk sifat salbiyah yaitu qiyamuhu bi nafsihi. Sifat mukhalafah li al-hawadits merupakan sanggahan untuk Wahabi. Namun sekarang Wahabi kafir atau tidak? Kalau mereka bilang Allah jisim seperti jisim makhluk ya kafir, tapi kalau tidak maka kita tidak berani mengkafirkan namun tetap merupakan pemikiran berbahaya karena serupa dengan doktrin Yahudi.

Sifat qiyamuhu bi nafsihi juga menolak Wahabi yang berkata bahwa Allah butuh tangan, kaki, dan wajah. Kita Ahlussunnah tidak menolak wajah dan tangan yang disebutkan dalam Al-Quran-Hadits, namun pemahaman wajah dan tangan tidak kita pahami sebagai anggota badan. Sedangkan Wahabi mengatakan keduanya adalah anggota badan.

Sekarang terkadang mereka nutupi cacat teologi mereka dengan suka membicarakan sifat. Padahal, seringkali kita dengar dahulu Wahabi condong meyakini adanya anggota badan di Dzat Allah karena bilang yadani haqiqatan (kedua tangan sebenarnya). Ucapan ini berarti menjurus kepada anggota badan.

… وحدانية # منزها أوصافه سنية

عن ضد أو شبه شريك مطلقا # ووالد كذا الولد والأصدقا

Menurut ahli kalam wahdaniyah termasuk sifat salbiyah. Namun bagi saya pribadi lebih cocok termasuk sifat ma’ani karena Allah Ta’ala berfirman:

قُلْ هُوَ اللَّهُ أَحَدٌ [الإخلاص : 1]

“Katakanlah (Muhammad), Allah Maha Satu.” (QS. Al-Ikhlash: 1)

Allah itu Maha Tunggal, itulah yang membedakan Allah dengan yang lain. Wahdaniyah (satu) menafikan kamm (berbilang).

Semua sifat Allah itu luhur dan bersih dari kamm. Saya setuju dengan ini karena bahasa dalam Al-Quran:

وَإِلَهُكُمْ إِلَهٌ وَاحِدٌ [البقرة : 163]

“Dan Tuhanmu adalah Tuhan yang Maha Esa.” (QS. Al-Baqarah: 163)

Allah itu sifatnya adalah “Tuhan Yang Satu”, berarti Wahid disini menjadi sifat. Saya condong sifat Allah adalah al-uluhiyyah al-wahidah. Allah adalah Tuhan yang satu, menjadi sifat ma’ani. Hal ini juga menafikan uluhiyah selain Allah.

Selanjutnya, wajib diyakini bahwa Allah memiliki sifat-sifat salbiyah dalam keadaan bersih dari saingan baik terhadap Dzat atau Sifat-sifat-Nya serta bersih dari yang menyerupai-Nya. Allah juga suci dari yang melahirkan, anak, maupun teman.

وعلمه ولا يقال مكتسب # فاتبع سبيل الحق واطرح الريب

حياته كذا الكلام السمع # ثم البصر به أتانا السمع

Ilmu Allah tidak muktasab (diusahakan). Allah di zaman azal sudah tahu segala perkara yang akan terjadi, bahkan yang tidak terjadi dan yang bisa terjadi. Allah tahu semuanya. Setelah itu Allah memiliki sifat qudrah dan iradah kepada yang Dia ketahui akan ada. Kemudian Allah menjalankan Kalam dengan mengatakan “kun” (adalah!). Menurut ahli kalam, Kalam Allah tidak terdiri dari hufur dan suara.

فهل له إدراك أو لا خلف # وعند قوم صح فيه الوقف

Selanjutnya, apakah Allah memiliki sifat idrak? Yang dimaksud idrak adalah sifat tambahan dari sama’ dan bashar yang berhubungan dengan hal-hal yang diraba, dicium, dan dirasa seperti mengetahui sesuatu ini enak, wangi, halus, dan sebagainya. Ini namanya idrak.

Tentang keberadaannya ulama khilaf, sebagian condong kepada tawaqquf (tidak meneruskan pembahasan). Qadli Abu Bakr al-Baqilani dan Imam Haramain setuju bahwa Allah memiliki idrak, karena menurut mereka jika Allah tidak memilikinya maka berarti Allah kurang (naqsh). Sebagian ulama lain mengatakan Allah tidak memiliki idrak karena Allah tidak berinteraksi dengan hal-hal yang berhubungan (muta’allaqat) dengan idrak. Allah tidak jisim dan tidak mencium bau jisim sehingga tidak usah ada idrak. Akan tetapi yang mengatakan Allah memiliki idrak tetap berpandangan bahwa Allah tidak jisim.

حي عليم قادر مريد # سميع بصير ما يشا يريد

متْكلم ثم صفات الذات # ليست بغير أو بعين الذات

Sifat-sifat diatas menurut ahli kalam dinamakan sifat maknawiyyah. Menurut Syaikh Abul Fadhol Senori penulis nazham diatas (Syaikh Ibrahil al-Laqqani) tidak mengatakan kaunuhu dan hanya mengatakan hayyun qadirun adalah sifat Allah karena beliau memang tidak yakin bahwa ini adalah sifat, namun menurut ulama adalah ahwal/hal yaitu sifat yang tidak wujud namun juga tidak tiada (la maujud wa la ma’dum).

Lalu alasan sebagian ulama menambahkan sifat maknawiyyah untuk menolak sebagian sekte sesat bahwa kalam tidak qaim bi dzatillah. Menurut mereka Allah adalah Mutakallimun dalam dzat-Nya dan bukan sifat-Nya. Yang jelas keberadaan Allah Hayyun Sami’un Bashirun merupakan mufakat umat Islam. Sama’ (pendengaran) dan Bashar (penglihatan) Allah bersifat qadim, akan tetapi hal-hal yang didengar dan dilihat bersifat hadits. Begitu pula qudrah dan iradah Allah ta’alluq kepada hal-hal yang hadits. 

Ada ulama mengatakan bahwa istilah kaunuhu menerangkan bahwa sifat-sifat yang dipasangkan kepadanya wajib ada di Dzat Allah, bukannya Dzat Allah adalah sama’ dan bashar itu sendiri. Jadi lafazh kaunuhu menunjukkan kewajiban wujudnya sifat ma’ani di Dzat Allah, bukan sifat tersendiri dari dzat.

Kemudian sifat-sifat yang berada di dalam Dzat Allah tidak boleh dikatakan selain dari dzat atau merupakan dzat itu sendiri. Berbeda dengan Muktazilah yang menafikan sifat-sifat tersebut. Argumen mereka karena sifat-sifat wajib ada kalanya hadits dan ada kalanya qadim. Jika sifat-sifat tersebut dianggap hadits berarti ada sifat-sifat hadits di dalam Dzat Allah Ta’ala, dan jika dianggap qadim berarti ada hal-hal qadim yang banyak. Untuk menjawab pemikiran Muktazilah ini, maka Ahlussunnah mengatakan Allah adalah Mutakallimun (Dzat Maha Berbicara) namun Mutakallimun bukan selain Dzat Allah maupun hakikat Dzat Allah itu sendiri.

وقدرة بممكن تعلقت # بلا تناهي ما به تعلقت

Qudrah merupakan sifat ma’ani. Allah menciptakan alam ini dengan iradah dan qudrah-Nya, yakni dengan qadla’ dan qadr. Sifat iradah Allah adalah azali, qudrahnya juga azali. Namun qudrah berbeda dengan amr (perintah), ilmu, dan ridha. Allah menghendaki ada yang baik dan ada yang buruk, akan tetapi Allah tidak ridha dengan yang buruk dan ridha dengan yang baik. Muktazilah mencampur adukkan antara ridha dan iradah. Makanya mereka mengatakan keburukan bukan kehendak Allah, karena jika demikian berarti Allah tidak menjalankan al-shalah (kebaikan) dan al-ashlah (yang lebih baik), dan ini wajib menurut mereka.

Pemikiran seperti inilah yang berbahaya dan diikuti oleh orang-orang modern sekarang ini seperti Yusuf Qardhawi, Ikhwanul Muslimin, dan HTI. Sesuatu yang baik ditakdirkan oleh Allah, sedangkan sesuatu yang buruk tidak ditakdirkan-Nya. Ini namanya pemikiran Majusi dan Qadariyah yang mengingkari takdir buruknya Allah. Lalu siapa yang menentukan keburukan? Kata mereka adalah manusia sendiri. Jika demikian, berarti manusia menciptakan pekerjaaannya sendiri, dengan kata lain ada pencipta selain  Allah. Ini akidah syirik.

Akan tetapi, jika begitu apakah bisa langsung kita kafirkan mereka? Ini yang susah, karena mereka punya syubhat (semu alasan). Selain itu mereka punya jabatan, sehingga mereka malu jika harus mengikuti Ahlussunnah. Mereka telah terperangkap dalam hawa nafsu. Karena itu kita cukup katakan mereka sesat namun bisa menggiring kepada kekufuran yaitu mengingkari takdir Allah tentang keburukan. Pemikiran seperti ini sama halnya mengakui ada dua tuhan seperti agama Majusi. Ada tuhan kegelapan, ada tuhan cahaya.

ووحدة أوجب لها ومثل ذي # إرادة والعلم لكت عم ذي

وعم أيضا واجبا والممتنع # ومثل ذا كلامه فلنتبع

Sifat qudrah menurut ulama berhubungan dengan hal-hal yang mungkin (al-mumkinat) yang tidak terhingga, begitu halnya dengan iradah. Sedangkan ilmu Allah berhubungan dengan segala hal yang wajib, mustahil, dan mungkin seperti halnya Kalam Allah. Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.

وكل موجود أنط للسمع به # كذا البصر إدراكه  إن قيل به

Sifat sama’ bagi Allah berhubungan dengan segala yang wujud, begitu halnya dengan sifat bashar.

وعندنا أسماؤه عظيمة # كذا الصفات ذاته قديمة

Menurut kita kaum Ahlussunnah semua Asma Allah Ta’ala bersifat qadim. Bait diatas  menunjukkan bahwa Asy’ariah menetapkan Asma-asma Allah. Adapun sifat-sifat yang dibahas sebelumnya adalah sifat yang ditemukan menggunakan akal dan dikaji oleh ulama ahli kalam. Bukan berarti sifat Allah hanya itu saja. Ini poin penting kita mengaji ilmu tauhid.

Maka bohong jika Wahabi mengatakan kita tidak menetapkan Asma Allah yang jumlahnya 99. Kita juga menetapkan “wajh” (wajah) dan “yad” (tangan) bagi Allah seperti nash Al-Quran, akan tetapi bukan seperti pemahaman mereka. Kita golongan Ahlussunnah melakukan tafwidl yakni menyerahkan hakikat maknanya kepada Allah Ta’ala. Walaupun kita tahu makna secara literal yad artinya tangan dam wajh artinya wajah, namun bagi Allah kita serahkan hakikat makna kedua lafazh tersebut kepada-Nya.

واختير أن اسماه توقيفية # كذا الصفات فاحفظ السمعية

Pendapat yang dipilih mayoritas ulama bahwa Asma Allah harus ditetapkan sesuai ajaran Rasulullah ShallaLlahu ‘alaihi wa Sallama, begitu pula sifat-sifat Allah. Sekarang yang dipermasalahkan Wahabi adalah sifat wujud dan qidam. Maka menurut Syaikh Abul Fadhol Senori bahwa sifat Allah seperti al-Shani’, al-Maujud, al-Wajid, dan al-Qadim ditetapkan melalui ijma’ ulama, dam ijma’ disamakan kedudukannya dengan nash. Bahkan ada ulama yang mengatakan sebagian sifat yang dianggap Wahabi bid’ah ternyata ada dalilnya dari nash. Sifat al-Hannan dan al-Mannan itu warid (datang) dari keterangan Rasulullah.

وكل نص أوهم التشبيها # أوله أو فوض ورم تنزيها

Allah Ta’ala memiliki sifat mukhalafah li al-hawadits, sehingga ketika di dalam Al-Quran dan Hadits ada lafazh-lafazh yang makna zahirnya tidak sesuai dengan Dzat Allah maka Allah wajib diyakini bersih dari makna zahir lafazh tersebut. Ini persamaan antara Ahlussunnah dan Muktazilah, yang berbeda hanya Mujassimah-Musyabbihah. Makanya Wahabi tidak menggunakan dalil akal karena akan menyerang madzhab mereka sendiri. Tasybih dan tajsim tidak sesuai akal, maka menurut Wahabi akal tidak diterima. Seperti itu mereka saking terlalu fanatik. 

Kemudian ada khilaf, apakah zhahir lafazh tersebut harus ditakwil? Sebagian ulama melakukan takwil secara tafshil (detail), sebagian yang lain hanya mentakwil secara ijmal (global) yaitu bukan tasybih tadi. Sebagai contoh Firman Allah Ta’ala:

الرَّحْمَنُ عَلَى الْعَرْشِ اسْتَوَى [طه : 5]

“Tuhan yang Maha Pemurah. yang Istawa di atas ‘Arsy.” (QS. Thaha: 5)

Istawa dimaknai sebagai istiwa’ bi la kaif (bersemayam tanpa diketahui caranya), ini yang dinamakan takwil ijmal atau biasa disebut tafwidl. Tafwidl termasuk takwil tapi secara ijmal. Ibn Taimiyyah benci dengan takwil dan tafwidl sehingga melakukan tajsim,  akan tetapi dia tidak mau mengakui. Lebih suka berkata haqiqatan.

Contoh pemaknaan Ahlussunnah terhadap nash-nash seperti diatas diantaranya:

الرَّحْمَنُ عَلَى الْعَرْشِ اسْتَوَى [طه : 5]

“Tuhan yang Maha Pemurah. yang Istawa di atas ‘Arsy.” (QS. Thaha: 5)

Istiwa dimaknai sebagai istila’, bermaharaja di atas ‘Arsy.

تَعْرُجُ الْمَلَائِكَةُ وَالرُّوحُ إِلَيْهِ فِي يَوْمٍ كَانَ مِقْدَارُهُ خَمْسِينَ أَلْفَ سَنَةٍ [المعارج : 4]

“Malaikat-malaikat dan Jibril naik (menghadap) kepada Tuhan dalam sehari yang kadarnya limapuluh ribu tahun.” (QS. Al-Ma’arij: 4)

Takwil ayat ini adalah malaikat naik ke tempat mereka menyembah Allah, bukan Allah berada disana. Secara zahir ayat ini menunjukkn Allah Ta’ala berada diatas. Jika Allah memiliki arah maka berarti Allah terbatas sehingga seperti jisim. Ini saja sudah dikatakan mustahil oleh ahli kalam, apalagi itikad Allah duduk-duduk di atas ‘Arsy seperti kaum Wahabi tadi.

هَلْ يَنْظُرُونَ إِلَّا أَنْ يَأْتِيَهُمُ اللَّهُ فِي ظُلَلٍ مِنَ الْغَمَامِ وَالْمَلَائِكَةُ وَقُضِيَ الْأَمْرُ وَإِلَى اللَّهِ تُرْجَعُ الْأُمُورُ [البقرة : 210]

“Tiada yang mereka nanti-nantikan melainkan datangnya Allah dan malaikat (pada Hari Kiamat) dalam naungan awan, dan diputuskanlah perkaranya. Hanya kepada Allah dikembalikan segala urusan.” (QS. Al-Baqarah: 210)

Datangnya Allah dalam ayat diatas ditakwil sebagai datangnya utusan atau siksa-Nya.

إن الله خلق آدم على صورته (الحديث) 

Terkait makna Hadits ini, dalam Shahih Muslim ada keterangan bahwa ketika seseorang berkelahi dengan temannya lalu menunjuk untuk memukul wajahnya, maka Allah menciptakan Nabi Adam seperti bentuk rupa temannya tadi. Atau maksud dari lafazh  shurah (bentuk) adalah shifah (sifat). Sifat bisa sama namun substansinya berbeda.

وَيَبْقَى وَجْهُ رَبِّكَ ذُو الْجَلَالِ وَالْإِكْرَامِ [الرحمن : 27]

“Dan tetap kekal Dzat Tuhanmu yang mempunyai kebesaran dan kemuliaan.” (QS. Al-Rahman: 27)

Wajah dalam ayat diatas dimaknai sebagai Dzat atau Wujud Allah.

وَاصْبِرْ لِحُكْمِ رَبِّكَ فَإِنَّكَ بِأَعْيُنِنَا [الطور : 48]

“Dan bersabarlah dalam menunggu ketetapan Tuhanmu. Sesungguhnya engkau (Muhammad) berada dalam penglihatan Kami.” (QS. Al-Thur: 48)

Maksud ayat ini adalah engkau (Muhammad) berada dalam penjagaan Kami (Allah).

يَدُ اللَّهِ فَوْقَ أَيْدِيهِمْ [الفتح : 10]

“Tangan Allah di atas tangan mereka.” (QS. Al-Fath: 10)

Tangan dalam ayat ini dimaknai sebagai kekuatan.

Penulis nazham mendahulukan takwil daripada tafwidl mengikuti pendapat yang lebih unggul dari Izzuddin ibn Abdissalam. Imam haramain dalam al-Irsyad juga berkata seperti itu, namun di dalam al-Risalah al-Nizhamiyyah beliau memilih takwil ijmali atau tafwidl. Menurut Ibn Daqiq al-‘Id apabila takwil tafsili lebih dekat dengan  tuntunan akidah maka lebih baik, dan apabila jauh maka lebih baik tafwidl. Kamal bin Humam berpendapat apabila ada kebutuhan untuk takwil tafsili dan jika tidak demikian akan membuat geger orang awam maka lebih baik mentakwil. Pendapat ini didukung oleh Sayyid Ahmad Zarruq dari Abu Hamid al-Ghazali. Ibn Abdissalam berkata bahwa orang yang berkeyakinan Allah memiliki arah tidak kafir seperti halnya orang-orang awam ketika mereka sulit menafikan arah. Ibn Abi Jamrah juga berpendapat seperti itu. Akan tetapi Wahabi tidak bisa memahami sesuatu yang wujud kecuali memiliki arah.

Menurut Ahlussunnah Al-Quran adalah Kalam Allah namun Kalam Nafsi bagi Allah tidak hadits dan tidak terdiri dari huruf, kalimat, dan susunan. Maka nash-nash yang menunjukkan bahwa Al-Quran itu hadits dimaknai sebagai lafazh yang menunjukkan Kalam Nafsi Allah Ta’ala. Al-Quran yang berupa lafazh ini memiliki kekhususan kepada Allah, meski ahli kalam menganggapnya hadits/makhluk. Kekhususan tersebut yaitu lafazh-lafazh Al-Quran diwujudkan di Lauh Mahfuzh:

بَلْ هُوَ قُرْآنٌ مَجِيدٌ (21) فِي لَوْحٍ مَحْفُوظٍ (22) [البروج : 21 ، 22]

“Bahkan yang didustakan mereka itu ialah Al Quran yang mulia, (21) yang (tersimpan) dalam Lauh Mahfuzh. (22)” (QS. Al-Buruj: 21-22)

Atau Allah Ta’ala mewujudkan suara-suara dari lisan kita pada lisan malaikat Jibril’alaihi al-salam:

إِنَّهُ لَقَوْلُ رَسُولٍ كَرِيمٍ (19) ذِي قُوَّةٍ عِنْدَ ذِي الْعَرْشِ مَكِينٍ (20) مُطَاعٍ ثَمَّ أَمِينٍ (21) [التكوير : 19 – 21]

“Sesungguhnya Al-Quran benar-benar firman (Allah yang dibawa oleh) utusan yang mulia (Jibril), (19) yang mempunyai kekuatan, yang mempunyai kedudukan tinggi di sisi Allah yang mempunyai ‘Arsy, (20) yang ditaati di sana (di alam malaikat) lagi dipercaya. (21)” (QS. Al-Takwir: 19-21)

Atau suara tersebut diwujudkan Allah di lisan Kanjeng Nabi Muhammad ShallaLlahu ‘alaihi wa Sallama:

نَزَلَ بِهِ الرُّوحُ الْأَمِينُ (193) عَلَى قَلْبِكَ لِتَكُونَ مِنَ الْمُنْذِرِينَ (194) [الشعراء : 193 ، 194]

“Dia dibawa turun oleh Ar-Ruh Al-Amin (Jibril), (193) ke dalam hatimu (Muhammad) agar kamu menjadi salah seorang di antara orang-orang yang memberi peringatan, (194)” (QS. Al-Syu’ara: 193-194)

Yang turun kepada hati Rasulullah adalah makna, bukan lafazh Al-Quran. Namun lafazh Al-Quran dikhususkan Allah melalui lisan beliau.

ونزه القرآن أى كلامه # عن الحدوث واحذر انتقامه

وكل نص للحدوث دلا # احمل على اللفظ الذي قد دلا

Nazham ini menjelaskan akidah Asy’ariyyah dan Maturidiyyah bahwa Kalamullah adalah sifat yang ada pada Allah Ta’ala tanpa huruf dan suara. Apabila di dalam Al-Quran ada ayat seperti:

تَبَارَكَ الَّذِي نَزَّلَ الْفُرْقَانَ عَلَى عَبْدِهِ [الفرقان : 1]

“Maha Suci Allah yang telah menurunkan Al-Furqaan (Al-Quran) kepada hamba-Nya.” (QS. Al-Furqan: 1)

إِنَّا أَنْزَلْنَاهُ فِي لَيْلَةِ الْقَدْرِ [القدر : 1]

“Sesungguhnya kami telah menurunkannya (Al Quran) pada malam kemuliaan.” (QS. Al-Qadr: 1)

Maka nash-nash yang menunjukkan bahwa Al-Quran itu baru seperti ayat diatas, maka harus diarahkan kepada Al-Quran yang berupa lafazh (Al-Quran al-Lafzhi). Meski Al-Quran al-Lafzhi baru atau kasarnya adalah makhluk, namun menunjukkan pada makna yang dituju Kalam Nafsi. Penjelasan ini kita sampaikan khusus pada kajian ilmiah. Kalau di forum selain itu maka kita harus mengatakan Al-Quran meskipun berupa Al-Quran al-Lafzhi tidak boleh kita katakan baru untuk menjaga keagungan Kalamullah. Ini yang diperjuangkan mati-matian oleh Imam Ahmad bin Hanbal bahwa Kalamullah bukan makhluk, karena khawatir bila ditafsil seperti ini di selain majelis pembelajaran nanti dipahami bahwa Al-Quran bisa dihina, bisa dikatakan bukan dari Allah, karangan Muhammad, atau bahkan karangan Jibril.

Walhasil, apa yang disampaikan syaikh diatas khusus untuk kalangan terpelajar, tidak untuk dimanfaatkan oleh kalangan liberal dan musuh Islam, namun hanya pemikiran belaka. Kita harus satu kata bahwa Al-Quran adalah Kalamullah dan bukan makhluk. Ini yang lebih tepat sebagai sikap ta’zhim kepada Al-Quran, dan itu kami kira disepakati. Adapun bahwa Al-Quran al-Lafzhi dikatakan baru itu hanya membahas suaranya para pembacanya dan huruf yang ada dalam Al-Quran dimana zahirnya menurut akal adalah tersusun, ada awalan dan akhiran,  dan seterunya sehingga memiliki batas dan berarti baru. Itu hanya retorika ilmu kalam atau logika akal belaka yang membahas tentang bacaan-bacaan makhluk. Kita sendiri tidak pernah mendengar langsung dari Jibril, apalagi seperti Jibril mendengar langsung dari Allah. Hal-hal ini menurut kami tidak patut dibesar-besarkan. Cukuplah kebesaran Ahmad bin Hanbal diakui oleh Imam Syafi’i, itu bukti salaf telah ijma’ tentang kebenaran Al-Quran sebagai Kalamullah dan bukan makhluk. WaLlahu A’lam.

فيستحيل ضد ذي الصفات # في حقه كالكون في الجهات

Kebalikan dari sifat-sifat wajib bagi Allah adalah mustahil seperti halnya Allah memiliki arah. Diantaranya lagi adalah mumatsalah li al-hawadits, mempunyai perimbangan. Allah berada di timur atau barat, ini mustahil. Sekarang Allah di ‘Arsy atau di atas, ini berarti Allah memiliki bandingan berupa alam. Maka dari itu arti Allah di atas ‘Arsy adalah Allah bersifat luhur dan berkuasa. Sifat-sifat-Nya luhur. Ini untuk menyangkal Mujassimah Musyabbihah. Arah itu bisa berupa tempat dan dimensi, dan ini namanya seperti pandangan falasifah. Termasuk pula argumen untuk menyanggap Wahabi adalah arah atas belum mesti timur. Contoh ilustrasinya adalah penjaga seorang raja terkadang bertempat di atasnya, namun tetap saja raja pangkatnya lebih luhur. Tanda tangan itu tempat di bawah, namun paling penting dalam sebuah surat.

Setiap makhluk pasti ada bandingannya. Laki-laki dan perempuan, barat dan timur, selatan dan utara, atas dan bawah. Tapi karena Allah Ta’ala berbeda dengan makhluk-Nya dan tidak sebanding dengan makhluk, maka mustahil Allah berada di arah persis seperti arah makhluk.

وجائز في حقة ما أمكنا # إيجادا إعداما كرزقه الغنى

Nazham ini membahas tentang hal yang jaiz (boleh) bagi Allah Ta’ala seperti menjadikan seseorang kaya atau miskin. Sifat jaiz Allah adalah mewujudkan atau meniadakan sesuatu yang mungkin. Orang mukmin bisa miskin di dunia, tapi tidak di akhirat. Orang mukmin juga bisa kaya di dunia dengan catatan dari pekerjaan halal, kecuali taqdir Allah mengatakan rizkinya haram maka harus segera ditaubati. Orang kafir bisa miskin di dunia dan itu pantas baginya, apalagi di akhirat maka dia maha miskin. Kalo di dunia mereka kaya itu boleh-boleh saja, tapi kebanyakan kekayaan mereka berasal dari barang haram.

وخالق لعبده وما عمل # موافق لما أراد أن يصل

Allah menciptakan hamba-Nya seperti yang dilakukannya. Pekerjaan manusia menurut Ahlussunnah tercipta atas qudrah Allah saja, menurut Muktazilah atas kemampuan manusia saja, dan menurut ulama lain dengan kumpulan dua qudrah tersebut. Sedangkan menurut filosof karena qudrah yang diciptakan Allah di dalam diri manusia, lalu apa bedanya dengan Muktazilah? 

Kita Ahlussunnah berselisih dengan Muktazilah dalam hal pekerjaan manusia. menurut Muktazilah, pekerjaan manusia diciptakan oleh manusia sendiri. Akan tetapi kita dan Muktazilah sepakat bahwa pekerjaan manusia adalah pekerjaan mereka sendiri, bukan pekerjaan Allah. Yang makan, minum, dan berdiri adalah manusia, bukan Allah. Allah adalah penciptanya.

وخاذل لمن أراد بعده # ومنجز لمن أراد وعده

Allah Ta’ala memberi taufiq kepada orang yang dikehendaki dekat dengan-Nya dengan iman dan menghinakan orang yang dikehendaki kekufurannya. Pekerjaan manusia adalah ciptaan Allah, bahagia dan celakanya manusia itu kehendak Allah. Kalau tidak demikian, berarti Allah hanya pencipta manusia yang tidak tahu apa-apa tentang pekerjaan dan nasibnya. Itu melecehkan Allah, dan itulah bahaya modern. Muktazilah itu termasuk modern.

Orang bisa ngomong yang tidak karuan, yang menurut kami ucapan mereka kufur. Akan tetapi karena mereka punya alasan kalau Allah menghendaki kejelekan lalu mengapa Allah menyiksa kejelekan itu? Hal inilah yang jadi unek-unek mereka. Kita jawab bahwa menghendaki tidak identik dengan ridha. Muktazilah tertipu bahwa menghendaki mesti meridhai, padahal tidak. Seperti dunia sekarang ada gubernur di Jakarta yang beragama Kristen dan dari keturunan Cina, dibantu oleh kaum komunis atau dia malah komunis sendiri. Kalau kita mengatakan hal ini tidak dikehendaki Allah, maka Allah berarti hanya penonton seperti kita yang tidak punya kekuatan apa-apa. Maksud dikehendaki disini adalah eksistensinya, bukannya berarti diberi izin atau direstui. Itu ujian agar kita melawan zalim dan kufur. 

Orang yang dijanjikan beruntung pasti orangnya baik, minimal ketika akan mati dia membaca syahadat.

فوز السعيد عنده في الأزل # كذا الشقي ثم لم يعتدل

Keberuntungan dan celaka seseorang sudah ditulis di dalam zaman Azal, ditulis di Lauh Mahfuzh, dan ditulis juga di rahim ibunya. Beruntung dan celaka itu tidak berubah-ubah. Lha sekarang kita alhamduliLlah diciptakan senang berdoa semoga mendapat hidayah dan jadi orang yang beruntung, ini tanda-tanda kita diciptakan beruntung. Umpama kita diciptakan celaka tentu kita tidak diberi taufiq kepada doa-doa seperti itu.

Sebaliknya walaupun ada orang terlihat bagus, pencitraan bagus, sekarang dipuja-puja, jauh dari korupsi, padahal juga korupsi di Sumber Waras. Ini semua adalah rekayasa, apalagi sekarang dengan kecanggihan alat-alat publikasi. Mari kita berdoa semoga hal-hal yang zalim dihancurkan oleh Allah Ta’ala.

Awas jangan terkecoh dengan Perindo! Nanti dia akan bekerjasama dengan orang-orang seperti Ahok, komunis, dan mungkin saja jadi partai komunis. Dulu kita membantai komunis kelas teri, mungkin sewaktu-waktu kita akan dibantai komunis kelas kakapnya. Ini sudah pernah direkayasa pada waktu peristiwa ninja dulu.

وعندنا للعبد كسب كلفا # به ولكن لم يؤثر فاعرفا

وليس مجبورا ولا اختيارا # وليس كل يفعل اختيارا

Menurut Asy’ariyyah manusia memiliki kasb (usaha) yakni keinginan kuat yang mendorong seseorang melakukan kebaikan atau keburukan. Namun kasb ini tidak mempengaruhi takdir Allah. Seseorang terkadang ingin shalat tapi karena dia suka makan haram akhirnya tidak jadi shalat. Terkadang orang tidak ingin khusyuk tapi karena memiliki guru akhirnya bisa jadi khusyuk. Manusia tidak dipaksa, tapi tiap kehendaknya belum mesti tercapai. Tidak semua yang dilakukan manusia berasal dari kehendak hatinya, terkadang dia terpaksa juga. Madzhab kita tidak serba Jabariyah, juga tidak seperti Qadariyah. 

Muktazilah berdalil dengan Firman Allah Ta’ala:

مَا اسْتَطَعْتُمْ [الأنفال : 60]

Menurut Muktazilah, ayat ini menunjukkan bahwa istitha’ah (kemampuan) ada sebelum fi’il (pelaksanaan). Alasan mereka karena sebelum mengerjakan dia sudah mukallaf. Maka Ahlussunnah menjawab dengan Firman Allah Ta’ala yang lain:

وَلِلَّهِ عَلَى النَّاسِ حِجُّ الْبَيْتِ مَنِ اسْتَطَاعَ إِلَيْهِ سَبِيلًا [آل عمران : 97]

Ayat ini artinya adalah orang wajib berhaji ketika tidak ada halangan, yakni memiliki bekal dan kendaraan. Adapun kekuatan atau istitha’ah yang maknanya aradl muqarin li al-fi’l al-ikhtiyariy (kemampuan yang bersamaan dengan pelaksanaan perbuatan yang dipilih), maka kekuatan manusia untuk berhaji bersamaan dengan pekerjaan. Kalau  mempersiapkan haji itu sebelum melaksanakan haji, tapi kekuatan berhaji berbarengan dengan pelaksanaannya dan bukan sebelumnya. Yang ada sebelumnya adalah kondisi yang aman dan fasilitas yang memadai. Kita punya kesiapan shalat, sehat, dan seterusnya.

Menurut Asya’irah, manusia memiliki kasb yaitu pengarahan kemampuan yang baru (qudrah haditsah) dan kehendak yang baru (iradah haditsah) kepada melakukan kebaikan atau keburukan. Jika arahnya baik maka mendapat pahala, dan jika buruk maka mendapat siksa. Akan tetapi kasb oleh imam-imam ulama kita tidak berpengaruh dalam menciptakan wujud, yang mewujudkan adalah Kemampuan Tanpa Awal (Qudrah Qadimah) milik Allah. Namun karena manusia ingin sesuatu yang buruk maka qudrahnya juga mengarah kepadanya. Allah Ta’ala berfirman:

وَمَا ظَلَمَهُمُ اللَّهُ وَلَكِنْ أَنْفُسَهُمْ يَظْلِمُونَ [آل عمران : 117]

“Allah tidak menganiaya mereka, akan tetapi merekalah yang menganiaya diri mereka sendiri.” (QS. Ali Imran: 117)

Ini merupakan sifat adil Allah Ta’ala.

فإن يثبنا فبمحض الفضل # وإن يعذب فبمحض العدل

Ketika Allah Ta’ala memberi pahala maka hal itu merupakan kemurahan dari-Nya, dan ketika Allah memberi siksa maka hal itu adalah sifat adil-Nya. Karena kita menjadi penampakan dari keburukan, maka kita patut mendapat siksaan. Karena kita memiliki kasb/ikhtiar (usaha), maka kita pantas mendapatkan pahala atau siksa. Apabila kita menjadi baik, meskipun keinginan baik belum tentu mendapat pahala, maka hal ini adalah kemurahan dari Allah.

وقولهم إن الصلاح واجب # عليه زور ما عليه واجب

Muktazilah mengatakan Allah wajib melakukan hal baik. Ini adalah kebohongan, bahasa yang manis untuk menipu kita agar kita menganggap Allah tidak menakdirkan keburukan. Hakikat ucapan mereka adalah penghinaan, tidak ada yang wajib bagi Allah.

ألم يروا إيلامه الأطفالا # وشبهها فحاذر المحالا

فجائز عليه خلق الشر # والخير كالإسلام وجهل الكفر

Apakah Muktazilah tidak tahu bahwa Allah membuat sakit anak-anak kecil? Ini kan kelihatannya tidak ada kemaslahatan. Namun saya tahu bahwa itu ada maslahatnya, yakni agar orang tuanya memberi kasih sayang kepada anaknya dan ketika sudah besar agar dia bisa bersyukur kepada orang tuanya. Namun secara hakikatnya memberi rasa sakit itu tidak ada maslahatnya.

وواجب إيماننا بالقدر # وبالقضا كما أتى في الخبر

ومنه أن ينظر بالأبصار # لكن بلا كيف ولا انحصار

Termasuk hal yang jaiz secara akal adalah Allah dilihat dengan mata kepala kita. Namun kita sekarang tidak boleh menetapkan bagaimana penglihatan kita kepada Allah, apakah berhadapan atau bagaimana, ini tidak boleh. Membayangkan Allah mempunyai ruangan khusus juga tidak boleh.

Keterangan di dalam hadits-hadits bahwa kelak di Hari Kiamat secara umum Allah dapat dilihat kecuali oleh orang-orang kafir. Sedangkan ketika di surga orang melihat Allah di gundukan pasir yang wangi sekali, ada lapangan yang luas dimana nantinya manusia melihat Allah dari arah atas. Secara fikiran rasional ahli kalam ini mustahil karena Allah tidak jisim, tidak bertempat, dan seterusnya.

Mengapa manusia bisa melihat Allah? Karena melihat Allah termasuk perkara jaiz. Bahkan di dunia hal ini telah terjadi.

قَالَ رَبِّ أَرِنِي أَنْظُرْ إِلَيْكَ قَالَ لَنْ تَرَانِي وَلَكِنِ انْظُرْ إِلَى الْجَبَلِ فَإِنِ اسْتَقَرَّ مَكَانَهُ فَسَوْفَ تَرَانِي [الأعراف : 143]

“Dan tatkala Musa datang untuk (munajat dengan Kami) pada waktu yang telah Kami tentukan dan Tuhan telah berfirman (langsung) kepadanya. Berkatalah Musa: “Ya Tuhanku, nampakkanlah (diri Engkau) kepadaku agar aku dapat melihat kepada Engkau”. Tuhan berfirman: “Kamu sekali-kali tidak sanggup melihat-Ku, tapi lihatlah ke bukit itu. Maka jika ia tetap di tempatnya (sebagai sediakala) niscaya kamu dapat melihat-Ku”. Tatkala Tuhannya menampakkan diri kepada gunung itu, dijadikannya gunung itu hancur luluh dan Musa pun jatuh pingsan. Maka setelah Musa sadar kembali, dia berkata: “Maha Suci Engkau, aku bertaubat kepada Engkau dan aku orang yang pertama-tama beriman”. (QS. Al-A’raf: 143)

​TEMU ALUMNI DEHA 1438 H, ABAH NAJIH: DIBERI TIDAK PUNYA PANGKAT ITU HARUS DISYUKURI

Demikian sepetik ngendikane Syaikh Muhammad Najih dalam acara Temu Alumni Santri Ribath Darusshohihain dan Tahfizhul Quran yang berlangsung pada Kamis 3 Dzul Qa’dah 1438 H atau 27 Juli 2017 M.
Di dalam acara rutin tiap tahun tersebut, Syaikh Muhammad Najih mengawali dengan mengatakan bahwa tawassul itu ada. Beliau lalu menceritakan bahwa tanah Ribath Darusshohihain ini dhawuh Mbah Maimoen Zubair adalah tanah milik Haji Miftah, teman Mbah Manaf Lirboyo ketika mondok dan berguru kepada Mbah Kholil Bangkalan. “Beliau itu tukang adzan. Orang Sarang terkenal suaranya bagus ketika adzan, sehingga Mbah Kholil katanya senang. Mbah Miftah ketika akan boyong diberi isyarah Mbah Kholil bakal punya pangkat. Akhirnya beliau ketika sudah berada di rumah menjadi carik (sekretaris desa). Beliau punya keponakan juga menjadi naib di Rembang,” kata beliau.

“Saya bertawassul kepada Mbah Manaf. AlhamduliLlah punya ta’alluq dengan Mbah Kholil Bangkalan,” lanjut beliau.

Abah Najih menjelaskan bahwa ada berkah dari Kiai Kholil sampai Mbah Zubair sempat diajar oleh Syaikh Said al-Yamani. “Saya pernah ke Demak menghadiri haul seorang kiai yang merupakan muridnya Mbah Kholil. Kalau disini dulu beliau jabatannya lurah pondok. Berkah Mbah Kholil tidak hanya bagi orang Madura saja, kok bisa sampai Demak juga? Di daerah Ciamis juga ada yang membaca shalawat yang berasal dari mbah Kholil. Bahkan khutbah nikah di Kajen Pati itu juga karangannya Mbah kholil.”

Kemudian, Abah Najih menceritakan bahwa zaman dulu Mbah Zubair Dahlan di Makkah ngaji kepada Syaikh Said al-Yamani, belajar Nahwu dan I’rab. “Di Sarang sini Mbah Zubair tidak pernah sekolah, tidak pernah madrasah. Namun waktu itu semarak pendidikan madrasah, barangjali karena didukung Syaikh Said itu. Kalau disini Syaikh Said sama dengan guru guru privat, tapi tidak digaji. Syaikh Said berkata kepada orang Madura bernama Syarqawi bahwa beliau giat mengajar ini karena ingin membalas kebaikan Mbah Kholil Bangkalan yang sudah mengajar tetangga-tetangganya,” ujar beliau.

“Kiai Kholil Bangkalan tiap tahun ketika ada orang haji selalu kirim uang dihaturkan kepada ulama Makkah. Dahulu ulama makkah ekonominya rendah, tapi pakaiannya necis. Pakaian ulama, pakai serban. Memang dulu belum ada tambang minyak. Saudi kaya kan setelah ada minyak. Mungkin Mbah Kholil khidmah kepada ulama begitu karena kepengen anak cucunya alim, tapi takdir Allah ya begitu. Mungkin yang alim bukan anak cucunya, tapi muhibbin beliau seperti Mbah Zubair. Memang begitu Allah Ta’ala, semuanya takdir Allah,” lanjut Abah Najih.

Beliau melanjutkan bahwa biasanya orang alim juga ingin anak cucunya jadi orang alim. “Orang yang hormat kiai biasanya anaknya menjadi kiai. Itu dulu. Tapi sekarang kok tidak? Ya mboh. Sudah mau mondok itu sudah bagus. Nanti jadi kiai malah diundang di istana, tambah repot. Jadi kiai NU, kiai liberal.”

“Jadi terkadang orang kalau banyak muridnya itu anaknya kurang terurus. Begitu ya jangan diejek. Memang begitu takdir Allah. Tapi sudah mending tidak liberal. Imam Tebuireng itu malah cucunya jadi liberal.”

Pada kesempatan tersebut Abah Najih juga menghimbau kepada para santri alumni agar ikut berpartisipasi ketika ada pelaksanaan coblosan saat Pemilu. “Maksud saya kita juga harus punya sifat nasionalis sedikit-sedikit, tapi tidak harus ikut organisasi. Kalau tidak nyoblos ini gimana? Kan namanya tidak taat dengan pemerintah,” tandas Abah mengingatkan.

Lanjutnya, “Kiai Sarang kuno itu tidak ada yang jadi pengurus NU, apalagi Mbah Mad. Orang NU tidak akan berani. Mbah Zubair seingat saya juga bukan pengurus NU, tapi kalo ada Muktamar diundang tapi ya hanya Bahtsul Masailnya saja. Kiai Sarang mendukung NU tapi tidak sepenuh hati. Masih senang mengucapkan “kamubtaghi jahin wa malan man nahadl” (syathr tsani bait Alfiyyah Ibn Malik nomor 436). Kita tidak anti NU, tapi juga tidak NU tenanan. Yang penting ngaji, itu sikap kiai Sarang kuno.”

Beliau menandaskan kembali bahwa umat Islam harus ada nasionalismenya tapi jangan sampai merasuk ke hati. “Pilkada-pilkada apalagi demokrasi itu tidak usah mlebu ati. Tapi kalo tidak ikut Pemilu itu kurang bijak. Yang repot itu besok milihnya gimana? PPP-nya sudah dipimpin orangnya Gus Dur. Romahurmuzi itu pengagum Gus Dur, aslinya PKB,” ujar beliau.

Selanjutnya, Syaikh Muhammad Najih mengharapkan agar santri Deha fokus untuk mengajar dan melakukan aktivitas untuk tujuan akhirat.

“Saya pengen pekerjaanmu untuk akhirat adalah pekerjaan khususmu. Kalau shalat jamaah dan seterusnya itu sudah maklum. Pekerjaan sampeyan dari Deha ini mengajar, ngaji atau ngajar. Kalau bisa mengajar ya AlhamduliLlah, tapi kalau tidak bisa ngajar ya muthala’ah sendiri atau mengajar anak istrinya. Ngajar ‘Uqud al-Lujain atau kitab-kitab kecil lain dalam masalah wanita itu sudah baik. Tidak harus mengajar kitab di sekolahan yang ada ijazahnya itu. Kalau ditawari ijazah sekiranya tidak mengganggu agamamu terima saja. Tapi kalau uang pemerintah ya gimana gitu. Hendaknya tidak digunakan untuk makan, paling-paling untuk beli bensin, bayar pajak, atau listrik. Kalau bisa begitu. Apalagi dapat uang 1 triliun, itu uang bancakane Islam Nusantara. Bisa juga ambil dari Naga Sembilan atau Cina, bisa juga dari dana haji. Sekarang Jokowi rencana ambil dana haji untuk infrastruktur, berarti mungkin sudah pernah ambil. Dulu untuk Islam Nusantara, sekarang untuk dzikir kebangsaan. Harus hati-hati,” tandas beliau.

Beliau kemudian membahas sedikit tentang sejarah kiprah etnis Cina di Indonesia. “Saya kemarin tidak sengaja ngomong di Sumenep, dulu zaman Belanda etnis Cina itu sudah dinomorsatukan oleh penjajah. Kasta pertama tentu Belanda, kedua Cina, ketiga kaum priyayi, kaum santri paling terakhir. Kan ada cerita bahwa dulu di Pandeglang, Cilegon, atau Tangerang orang Cina ditugaskan Belanda untuk memungut pajak. Patungnya ada di TMII, kemudian disindir oleh Habib Rizieq. Patung Cina itu lalu diabadikan oleh Cahyo Kumolo yang keturunan Cina itu. Cina sudah lama dikader oleh Belanda untuk memimpin Indonesia, ini yang bahaya. Dia kelihatannya baik di hadapan kiai, tokoh, apalagi kaum priyayi. Ngerti unggah ungguh, kalau membunuh orang mengerti aturannya untuk tidak banyak-banyak. Beda dengan Perancis,” kata Abah Najih.

Lanjut beliau, “Saya kemarin membaca di Whatsapp grup Brebes, ada info tesis dari doktor perempuan dari Jerman bahwa Perancis telah membantai sejuta lebih orang Aljazair atau Tunisia. Kalau Belanda kan tidak seperti itu, tapi tetap saja jenenge Barat yang tetap mangkel. Akhirnya Cina yang diperintahkan untuk memecah belah dengan menjadi tukang narik pajak. Akhirnya saya ngomong Cina itu bisa kaya karena pajaknya dikurangi, kalau pribumi dipungut penuh. WaLlahu A’lam. Mereka sudah lama digadang untuk memimpin Indonesia, makanya harus hati-hati. Nanti akhirnya jadi komunis. Kerjasama antara orang Cina di daerah asalnya dengan orang Cina di Indonesia lewat komunis.”

Abah Najih menandaskan kembali bahwa berkah itu ada, ketika santri tidak memiliki pangkat itu adalah kondisi yang harus disyukuri, dan agar selalu giat berdoa dan wiridan untuk menjaga dirinya. “Sekarang ada orang ngomong kita ini tidak maksum, kita ini hatta ulama hatta kiai adalah manusia. Kalau kita sewaktu-waktu diundang ke acara yang berbau liberal, ya ngomong saja ada udzur syar’i seperti sakit. Sakit hatinya. Pokoknya giat wiridan, membaca Hizib Sakron, Ratib Atthas, Ratib Haddad, Hizib Nawawi. Diniati untuk menjaga dirinya. Kalau niatnya hanya untuk menolak orang yang ngomel, caci maki, ya kecil itu. Dicaci maki itu fitnah kecil, biasa itu. Yang berat itu kamu dipuja-puja, itu yang paling bahaya. Penting kuat imannya, dicaci tidak apa-apa. Sebenarnya alim tapi dibuat tidak bisa bicara, itu sudah biasa biar tidak diberi pangkat kok. Seng tenang, seng syukur. Dibuat tidak bisa ngomong itu harus syukur. Sekarang bisa mengajar ya syukur tapi harus hati-hati, apalagi yang pinter orasi itu. Nanti direkrut HTI, direkrut NU kan repot. Apalagi direkrut PKB,” ujar Abah Najih.

“Berkah itu ada. Kalian tidak terlalu terlihat di ormas itu harus disyukuri. Yang penting bisa ngajar, kan? Gak dianggep alim ya wes. Nanti dianggep alim malah diincar. Pokoknya santai, banyak-banyak tawadlu’ semoga anak cucunya diselamatkan Allah.”

Di akhir mauizhah, Abah Najih mengajak para alumni untuk selalu berdoa agar diselamatkan oleh Allah Ta’ala. “Moga-moga pondoknya tetap salaf, agar besok bisa untuk mondok anak-anaknya, anak cucu sampeyan. Semoga saya punya keturunan, dan sebelum punya keturunan pokoknya ada yang meneruskan.”

“Yang penting ngajar, muthala’ah, ngaji Al-Quran, dan wiridan untuk keselamatan dan tetap salaf dan lurus. Semoga bisa meneruskan. Semua ini dari Allah. Dulu saya pernah cerita kalau Sayyid Muhammad pernah bertanya, “Kalo kamu punya uang satu juta mau kamu gunakan untuk apa?.” Terus saya jawab ingin bangun zawiyah atau rubath yang banyak wiridannya tapi bukan untuk ndukun, tapi bantu ilmu dan perjuangan Islam.”

Beliau mengakhiri mauizhah beliau dengan membaca doa yang diamini oleh seluruh alumni putra putri yang hadir di acara tersebut. AthalaLlahu baqa’ahu wa razaqahu al-shihhah wa al-‘afiyah wa al-istiqamah ‘ala al-thariqah al-salafiyyah, wa nafa’ana bi ‘ulumihi wa a’malihi wa akhlaqihi. Amin ya Rabb al-‘alami. WaLlahu A’lam.

​PENJELASAN WAWANCARA DI SIDOGIRI

Sekitar dua tahun lalu kami diwawancarai tim media Sidogiri terkait pandangan sikap terhadap Pancasila, slogan NKRI Harga Mati, dan penetapan Hari Santri.

Kami tegaskan kembali, bahwa kaum pesantren tidak anti Pancasila juga tidak anti NKRI, jadi siapapun yang menuduhnya demikian itu adalah fitnah dan sengaja mengadu domba masyarakat pesantren dengan pemerintah.

Kami justru bersyukur kepada Allah SWT atas berdirinya NKRI di bumi pertiwi ini dan Pancasila sebagai dasar negaranya. Namun yang perlu digaris bawahi adalah kaum santri tidak mengenal selain sistem Islam dalam hidup bernegara, seperti yang termaktub dalam kitab minhajut Thalibin. Oleh sebab itu, karena Pancasila sudah terlanjur menjadi dasar Negara dan UUD 45 tidak melarang Pancasila ditafsirkan sesuai ajaran Islam, maka mengislamikan Pancasila bagi kaum santri adalah sebuah keniscayaan. Contoh mudahnya adalah kaum pesantren tetap berkeyakinan pengikut agama lain berada pada jalur yang salah, namun tidak kemudian diperbolehkan berbuat anarkis kepada mereka, karena secara kemanusiaan, mereka masih termasuk bagian daripada penduduk Indonesia. Tidak seperti ajaran Pluraslisme yang membenarkan semua agama dan sama-sama menuju ke Surga.  

Kemudian masalah NKRI, kami sangat tidak setuju ada embel-embel “Harga Mati”. Sebab istilah tambahan tersebut berkonotasi sangat negatif, bahkan bisa saja menodai ruh NKRI itu sendiri. Salah satu contoh kongkritnya, “Tidak mengapa kekayaan alam Indonesia dikeruk oleh penjajah, asalkan NKRI tetap  utuh! Tidak merugi tambang emas papua, migas blok cepu, pulau sipadan dan ligitan, Indosat dan aset-aset negeri ini dikuasai bangsa asing, yang penting NKRI aman! Tidak masalah berjuta-juta tanah bumi pertiwi dikuasai oleh segelintir pendatang dan uang Negara digarong oleh sekelompok begundal aseng, pokoknya NKRI langgeng! Dan tidak bahaya generasi penerus bangsa ini pikirannya diracuni narkoba yang diselundupkan oleh asing, yang penting NKRI jaya!” China-Komunis luar dan dalam negeri telah bersatu merusak moral bangsa, terbukti 1 ton sabu-sabu diselundupkan dari China, bahkan Limbah impor yang ditemukan di Surabaya berasal dari korea. Inilah sebenarnya virus ganas yang selama ini menggerogoti kekebalan tubuh Negara Kesatuan Republik Indonesia.

NKRI yang kami banggakan adalah bangsa yang berdikari dan selalu menghormati hak konstitusional penduduk mayoritas tanpa mengabaikan hak minoritas. Oleh karena itu, jangan ada teror dan segala bentuk intimidasi  terhadap umat Islam yang memperjuangkan agamanya dengan dalih “NKRI Harga Mati”, hormati hak mereka selaku umat mayoritas. Jangan dikebiri spirit dakwah umat Islam dalam amar ma’ruf nahi munkar dengan jargon menjaga NKRI, apalagi dengan cara menerbitkan Perppu Ormas yang jelas-jelas memberangus gerakan-gerakan Islam yang bervisi-misi amar ma’ruf nahi munkar.

Sekali lagi kami tidak mempermasalahkan NKRI. Akan tetapi istilah “Harga Mati” itu yang membuat Islam diamputasi. Islam dipojokkan tidak apa-apa, non muslim atau Syi’ah menjadi pemimpin umat Islam tidak masalah, minoritas menuntut hak setara dikabulkan saja, yang penting NKRI Harga Mati! Ini pembodohan dan pengelabuhan belaka yang sengaja disebarkan oleh musuh-musuh Islam Zionis, Salibis, Komunis dan Liberalis.

Kami merindukan konsep ber-NKRI yang sudah diteladankan oleh para ulama pejuang Islam di awal kemerdekaan bangsa ini, gerakan NU tempo dulu, Masyumi dan seterusnya. Mereka semua bersungguh-sungguh memperjuangkan hak-hak konstitusional umat Islam selaku mayoritas, mengusulkan perda-perda Islami,  melaksanakan amar ma’ruf-nahi munkar sekalipun itu kepada pemimpin (tapi tidak dengan berbuat “anarkis”), dan yang perlu diingat mereka sama sekali tidak menindas atau bahkan menteror minoritas, kecuali ketika dari pihak minoritas mencari masalah atau bahkan sampai menodai tuhan, kitab suci, dan agama mayoritas, maka sudah tentu mayoritas akan bereaksi sebagai bentuk pengamalan izzul islam wal muslimin.

Konsep Revolusi Syi’ah sangat kami tentang untuk dipraktekkan di Negara ini, oleh karena itu waspadailah Syi’ah. Begitu pula konsep Khilafah HTI, kami tidak menyetujuinya, karena teknis penerapan syari’ah dan kiprah mereka dalam memperjuangkan khilafah dalam sebuah negara  tidak sesuai dengan apa yang diajarkan oleh para ulama dalam kutub-kutub mu’tabarahnya, seperti gegampang proses pemakzulan dan mereka juga mengadopsi konsep Muktazilah yang menurut ulama kita termasuk ahli bid’ah, dan mungkin saja dibalik ide khilafahnya, HTI main mata dengan Syi’ah dan revolusioner lainnya. Kami juga telah menulis buku mengcounter sepak terjang HTI. Hanya hukum-hukum Islamnya yang kami cocoki bukan methode penerapannya, ini yang perlu diperhatikan, agar tidak salah paham!

Kami juga anti Wahhabi, karena kelompok ini hobinya mengkafir-kafirkan orang yang bertawassul dengan Anbiya’, Auliya’, dan sholikhin. Hakikat tawassul itu meminta do’a kepada orang yang ditawassuli. Tawassul itu hukumnya boleh asalkan tidak dengan arwah-arwah jahat, jin, syetan, danyang dan sejenisnya. Banyak sekali buku kami kami yang membahas tentang penyimpangan Wahhabi, jadi salah alamat jika ada yang menganggap kami condong ke Wahhabi. Cuma terkadang kami mendukung amar ma’ruf-nahi munkar mereka dalam hal-hal yang tidak bertentangan dengan ajaran Ahlussunnah wal Jama’ah.  

Kami mengajak semua komponen umat Islam, untuk kembali ke masa lalu, di mana ruh jihad dalam beramar ma’ruf nahi munkar bergelora di mana-mana, lewat organisasi NU, Muhammadiyah atau lewat partai politik,  partai-partai Islam seperti PPP. Mereka gigih melakukan amar ma’ruf nahi munkar kepada siapa saja yang berbuat zhalim dan munkar. Nasib NU dan Muhammadiyah sekarang hanya dijadikan pendulang suara pada saat Pilpres, Pilgub dan Pilkada saja.

Pelaku kemunkaran ini bisa siapa saja, baik individu, kelompok, atau penguasa. Dalam konteks kekinian, tentunya tempat kemunkaran itu semakin luas dan banyak, seperti kemunkaran di tempat rekreasi, tempat hiburan, hotel, penginapan, salon, kafe, bioskop, kampus, buka warung dengan dengan tanpa sungkan pada bulan Ramadhan dan sebagainya. Kemunkaran yang dilakukan kelompok, misalkan kemungkaran segerombolan perampok, partai politik nasionalis (sekuler) yang tidak berasaskan Islam, sebagian partai politik Islam yang mempunyai ide, program, atau langkah yang menyalahi Islam, serta kelompok yang mengadopsi ide liberal yang kafir dan menafsirkan Islam agar tunduk pada kaidah-kaidah ideologi kapitalisme yang sekuler. Kemunkaran penguasa, misalnya menjadikan sekularisme sebagai dasar kehidupan bernegara, menjalankan sistem demokrasi liberal dalam bidang politik dan sistem kapitalisme dalam bidang ekonomi.

Semua itu termasuk kemunkaran dan kezhaliman yang kita diwajibkan untuk menghilangkannya sesuai kesanggupan yang kita miliki. Jika umat diam saja serta rela terhadap semua itu, serta tidak melakukan amar ma’ruf nahi munkar, maka berhati-hatilah dan waspadalah, karena berbagai cobaan, bencana, dan kerusakan akan bisa menimpa kita semua secara merata. Hancurnya kewibawaan umat, amburadulnya kondisi politik, serta porak porandanya kondisi ekonomi, merupakan sekelumit akibat buruk yang kita alami secara bersama-sama akibat kelalaian kita beramar ma’ruf nahi munkar.

Islam mengajarkan adanya kepedulian dan tanggung jawab terhadap kepentingan dan kebaikan masyarakat, bukan ideologi individualis yang hanya mementingkan diri sendiri dan mengabaikan kepentingan bersama. 

Sekali lagi, kami tidak setuju “NKRI Harga Mati” dijadikan jargon andalan yang pada realitas praksisnya justru banyak elit negeri ini yang melacurkan NKRI dan Pancasila untuk memenuhi nafsu serakahnya.
Sarang, 25 Syawwal 1438 H

KH. Muh. Najih Maimoen

Bahaya Wacana “Full Day Scholl” ala Mendikbud

PERNYATAAN SIKAP

Terkait Wacana

“Full Day School ala Mendikbud”

Assalamu’alaikum War. Wab.

Kami ingin menyampaikan kegelisahan dari para orang tua yang berlatar belakang religius, para ulama, elemen pendidikan ajaran Islam, khususnya dari Lembaga Madrasah Diniyah (Madin) dan TPQ, baik perkotaan maupun pedesaan. Kebijakan memaksakan perubahan jam belajar siswa sekolah akan memicu banyak sekali kegaduhan. Sebenarnya apa yang kurang dari lembaga pesantren dan madrasah-Madrasah Diniyah?.

Madin dan Pesantren misalnya, terbukti selama ini menjadi pusat pembentukan karakter anak. Tidak hanya pengajaran nilai-nilai agama semata, tetapi juga pengamalannya, disamping dengan tingkat pembiayaan yang sangat ringan. Menurut kami program Full Day School pasti menggerus pola pendidikan diniyah, dan mutlak akan menutup pintu masuk pengenalan ajaran pondok pesantren. Dan seandainya tidak ditentang, maka FDS akan melunturkan kesadaran hidup beragama, mencerabut khazanah kaum muslimin yang sekian lama mengisi tatanan sosial masyarakat Indonesia.

Mendikbud seharusnya memperhatikan dampak sosial yang akan timbul dari penerapan kebijakan tersebut. Pendidikan agama sudah berakar di tengah masyarakat sejak lama, keberadaannya justru sebelum NKRI ada. Full Day School mau menghapus pendidikan madrasah dari NKRI, apakah para pelakunya tidak malu dengan para pahlawan muslim yang merebut kemerdekaan Indonesia dari tangan penjajah? Silahkan adakan sensus makam pahlawan, pasti menemukan hampir semuanya adalah kaum santri, minimal lulusan madrasah diniyyah.

Terkait wacana penerapan kebijakan sekolah hanya Senin hingga Jumat dan Full Day Scool di tahun ajaran baru 2017-2018 nanti, maka kami menolak keras kebijakan tersebut. Ada beberapa point yang menjadi landasan penolakan kami;

  1. Kebijakan menerapkan Full Day School pasti akan memunahkan ratusan ribu -sekali lagi- ratusan ribu lembaga Pendidikan TPQ/TPA dan Madin (Madrasah Diniyah) di seluruh Indonesia. Padahal mayoritas masyarakat muslim Indonesia adalah kaum nadhiyyin yang semuanya butuh pemahaman dan pengamalan agama. Dan pasti akan membawa imbas mengacaukan tatanan Pondok Pesantren, terutama yang berbasis salaf.
  2. Memaksakan FDS akan menyulut api permusuhan, atau paling tidak akan memantik kecurigaan antar ormas umat Islam. Ini bahaya, karena mengancam keutuhan hidup bernegara.
  3. Penetapan FDS membawa misi pendangkalan akidah, amaliah generasi-generasi Ahlussunnah wal Jamaah. Masyarakat santri sudah sekian lama terdzolimi oleh kebijakan warisan belanda, senasib kaum santri zaman dulu yang selalu ditindas para penjajah.
  4. Coba direnungkan, dari sisi maslahat kebijakan, dimanakah letak kesalahan lembaga TPQ dan Madin? atau dimanakah letak cacat tatanan di Pesantren? Ayo silahkan diadakan survey?! Dari Jutaan Narapidana, baik kasus Korupsi, kriminal maupun pelanggaran-pelanggaran lain, hanya berapa persen yang tamatan Ponpes dan Madin?? kami yakin seyakin-yakinnya 99%, bahkan lebih adalah jebolan pendidikan umum murni. Bukan lulusan dari Madin/Pesantren.
  5. Kalau sisi keberhasilan mencetak para pelaksana roda ekonomi, ayo disurvei !! kami jamin jebolan Madin dan Ponpes hampir mustahil adatan jadi pengangguran apalagi GePeng (Gelandang dan Pengemis). Karena pada dasarnya Pendidikan Madin dan PonPes selalu menanamkan kemandirian dan tanggung jawab hidup. Prinsipnya adalah “Wajib cari rizki untuk menafkahi keluarga asal yang halal”. Tidak pilah pilih pekerjaan. Sebaliknya, silahkan tanya kepada para GePeng itu jebolan pendidikan apa?. Pasti akan dijawab, tentu tamatan pendidikan umum. Bahkan, coba dihitung berapa juta Sarjana di Indonesia yang masih menganggur…??
  6. Siapakah sebenarnya yang diajak rembukan dan olah fikir sehingga muncul gagasan FDS yang menteror Madin dan Pesantren…?? Apakah para cukong? Menurut kami, program FDS adalah kongkalikong antara Kapitalis-Komunis untuk menghancurkan Islam Tradisionalis, NU. Jangan dikira musuh-musuh Islam tidak bersatu memberangus kaum muslim Ahlussunnah Wal Jamaah. Timur tengah buktinya, perang antara Israel dengan Hizbullah (Syiah) yang menjadi korban justeru penduduk sipil Aswaja. Jadi menurut kami FDS menjadi bukti kebenaran al Qur’an;

وَلَن تَرْضَىٰ عَنكَ الْيَهُودُ وَلَا النَّصَارَىٰ حَتَّىٰ تَتَّبِعَ مِلَّتَهُمْ

Hari libur sabtu ahad itu ittibaul Yahud wan Nashara, sementara hari jumat adalah hari raya umat Islam malah dikebiri. Tidak diliburkan, sehingga orang mukmin tidak bisa bersiap-siap tabakkur untuk melaksanakan ibadah shalat jumat. Mengabaikan hari jumat, dan memanfaatkan hari-hari libur untuk pergaulan bebas (kumpul kebo) adalah bagian dari misi Zionis, Komunis yang berlindung dibawah nasionalis.

Adanya gagasan FDS juga bukti kebenaran hadits

يوشك الأمم أن تداعى عليكم، كما تداعى الأكلة إلى قصعتها. فقال قائل: ومِن قلَّةٍ نحن يومئذ؟ قال: بل أنتم يومئذٍ كثير، ولكنكم غثاء كغثاء السَّيل، ولينزعنَّ الله مِن صدور عدوِّكم المهابة منكم، وليقذفنَّ الله في قلوبكم الوَهَن. فقال قائل: يا رسول الله، وما الوَهَنُ؟ قال: حبُّ الدُّنيا، وكراهية الموت

Timur tengah sudah dihancurkan lewat perang, maka jangan sampai kaum muslim Indonesia yang mayoritas ini (terutama kaum santri) dijajah sistem pendidikan sekuler yang semakin lama tambah merajalela.

  1. Kami dengan sistem pendidikan pemerintah yang sekarang saja sudah memangkas Madin untuk tingkat kelas 5 dan 6, itu gara-gara lembaga formal yang menerapkan program ekstrakulikuler. Kalau ditambah lagi dengan FDS, maka tamat sudah masa depan kaum muslim. Sudah terdzalimi, masih ditambah lagi dengan yang lebih parah. Pemberangusan yang melebihi penjajahan belanda, yang notabene masih menghargai pendidikan local waktu itu. Semoga penggagas ide ini dilaknat oleh Allah SWT.
  2. Kemungkinan besar program FDS ini justeru malah mencetak para koruptor negara. Anda bayangkan, pendidikan sehari penuh tanpa pengajaran agama. Setidaknya para siswa akan terlibat pergaulan bebas, pacaran kelewat batas yang bisa jadi melakukan perzinahan (Naudzu billah min dzalik), atau minimal yang anak laki-laki sulit berkonsentrasi belajar karena setiap hari harus bergumul dengan siswi-siswi bukan mahram. Inilah rencana keji Zionis dan antek-anteknya, oknum Cina dan si Naga Sembilan. Mereka berkomplot menjajah ekonomi, politik, budaya, pendidikan dan agama. Dan perlu diingat, PT.Freeport memperpanjang kontrak dengan pemerintah Indonesia sampai tahun 2031. Kemungkinan besar kafir Amerika ikut menjadi biang komplotan segitiga, Salibis-Komunis-Etnis Cina.
  3. Kita kaum nahdliyyin dengan jumlah kaum muslim terbanyak. Jadi jangan sampai hak-hak mayoritas dikebiri.
  4. Kalangan awam nahdhiyyin selalu tertindas, yang untung hanya kalangan elit saja. Mari kita angkat harkat martabat warga nadhiyyin. Kenapa Bapak Menteri Agama diam saja, apa yang anda takuti? apakah Ormas Muhammadiyyah..? Dan seharusnya MD tidak perlu dilibatkan dalam Sidang Istbat penentuan Ramadlan atau tanggal 1 Syawal. Bukankah jauh-jauh hari mereka sudah menetapkan tanggal istimewa tersebut dengan almanak. MD, yang usianya lebih tua dari ormas NU harus bersikap lebih dewasa, jangan kekanak-kanakan, maunya menang sendiri menguasai pendidikan agama. Dan jangan merasa paling benar memaknai hadits “صُومُوا لِرُؤْيَتِهِ وَأَفْطِرُوا لِرُؤْيَتِهِ،” dengan takwil metode hisab demi modernitas. Dan perlu diperhatikan, apakah Ormas Muhammadiyah tidak merasa rugi dengan hilangnya TPA. Padahal jargon yang digemborkan” kembali ke al Qur’an dan al-Hadits”.
  5. Cukup Banser saja yang menjadi abdi PKI karena ulah para okmumnya, golongan lain jangan sampai ikut-ikutan. Walau kami berharap dan sangat bersyukur bilamana Banom NU tersebut mau sadar kemudian bertaubat.

Omongan Sekjen Kemdikbud Didik Suhardi,Phd “Madin bisa setelah Ashar sampai bakda Magrib”. Kalau ini dipraktekkan, jelas ada pemangkasan waktu belajar dan akan memvorsir tenaga, baik bagi para pendidik maupun anak didik karena tidak ada waktu istirahat dan pastinya menyingkat ibadah shalat ashar & maghrib. Full Day School tidak ber-Peri Ketuhanan Yang Maha Esa, tidak ber-Peri Kemanusiaan, dan tidak patuh pada UUD 45.

  1. Gagasan Boarding School yang ideal untuk bangsa kita adalah yang ditulis Ki Hajar Dewantoro dengan slogannya “Ing Ngarso Sung Tulodho, Ing Madyo Mangun Karso, Tut Wuri Handayani”, karena gagasan ini diilhami dari pendidikan pesantren, pendidikan akhlak dan moral, karakteristik ikhlas, disertai ajaran-ajaran ibadah sekaligus wiridan, serta cara-cara untuk menghormati yang tua, menyayangi yang muda serta menjalin shilaturrahim dengan para kerabat, bersosial dengan para tetangga dan bergotong royong dengan sesama umat islam. Dan konon Negara Finlandia yang terkenal sistem pendidikannya itupun nyontek dari sebagian ajaran Ki Hajar Dewantoro. Wallahu a’lam.
  2. Jangan terlena dengan perayaan hari santri, karena jiwa-jiwa kesantrian akan mulai terkikis dari sini. Dan istilah Full Day School pasti akan menghilangkan keharuman nama besar Pondok Pesantren.
  3. Andaikan KH. Ahmad Dahlan masih hidup, pasti tidak akan merestui sistem pendidikan seperti ini, karena beliau adalah lulusan pesantren. Apalagi kalau masih ada Buya Hamka, tokoh Muhammadiyyah yang alim, putra kyai alim yang berjuluk tuan guru bermadzhab Syafii dan ahli thariqah. Beliau yang diakhir hayatnya melakukan doa qunut dan wafat husnul khatimah, bahkan insyaallh mati syahid, karena menfatwakan keharaman mengucapkan selamat Natal dan merayakannya. FDS pasti ditolak mentah-mentah oleh kedua ulama panutan Muhammadiyyah ini.
  4. Warga Indonesia kini sedang ditipu, karena Full Day School bukan solusi. FDS tidak bisa mendidik akhlak, dan malah menjajah para orang tua. Anak-anak akan jauh dari pantauan, sementara biaya sekolah meningkat yang mencekik orang tua.
  5. Muhammadiyah bisa saja ditunggangi modernis perusak agama, ajaran Kristen bahkan paham komunis yang dendam kesumat dengan kaum nahdliyyin.
  6. Kita semua tahu bagaimana kondisi TPQ, Madin dan Pondok Pesantren salaf didaerah-daerah. Kebanyakan tidak punya gedung sendiri. Masih numpang di serambi Masjid, Mushola dan emperan rumah warga. Biaya operasional, beli papan tulis, bangku dan kapur masih urunan para wali santri. Belum lagi ustadz dan ustadzahnya yang ikhlas dan telaten mengajar tanpa gaji. Mereka korbankan waktu kerja demi anak didik. Apa bukan kedzaliman namanya?!, sudah kecil dianggap kecil masih pula mau ditiadakan.
  7. Alokasi pendidikan 20% dari APBN itu tidak sedikit. Sekalipun TPQ, Madin dan Ponpes tidak masuk dalam daftar alokasi itu, mereka tidak akan menuntut. Jadi sangat ironis bila pendidikan berbasis akhlak dan ukhrowi (yang notabene lebih penting dari pendidikan umum) anak-anak didiknya hendak diungsikan untuk menjadi penganut hedonis barat. Kasihan nasib mereka tidak pernah diperhatikan para pejabat legislative dan eksekutif.
  8. Pendidikan Pesantren paling tua, jauh sebelum Indonesia ada, apalagi Ormas Muhammadiyyah. Madin yang juga sudah berdiri sebelum negara ini merdeka adalah lahan dakwah para alumni pesantren dalam nashrul ilmi. Para pengajar bebas menentukan mata pelajaran menurut hasil ngaji selama di pesantren. Tapi kenapa pemerintah malah menganaktirikan, dan malah mendahulukan kepentingan MD. Inilah nasib pesantren yang selalu teraniaya. Pendidikan Madrasah tidak pernah diakui pemerintah, kecuali yang ikut program kurikulum. Sungguh ini pembodohan. Kurikulum MTS ma’arif NU apakah sudah maksimal dan relevan?, Lihat saja prosentase 20% Agama, 70% lainnya Sekuler. Innalillah wainnalillahi rajiun.
  9. Kini Alhamdulillah banyak tokoh-tokoh Negeri ini yang menolak rencana pemberlakuan FDS. Bahkan PBNU dan MUI sudah resmi mengeluarkan penolakannya. Dan pasti akan ada usaha-usaha lain yang lebih massif lagi. Perlawanan terhadap FDS adalah harga mati. Jangan ada tipu-tipu lagi, kami tidak ingin mendengar ada bahasa, “Kebijakan ini masih uji coba atau Kebijakan ini tidak mengikat. Boleh dilasanakan oleh sekolah-sekolah umum juga boleh tidak”. Hanya satu yang kami minta dipenuhi, rencana itu harus dibatalkan!
  10. Di saat sebagian Pemerintah Daerah, Gubernur, Bupati membuat perda tentang kewajiban bagi setiap siswa sekolah umum untuk bersekolah Madrasah diniyah, mengapa Bapak Menteri tidak mendukungnya, tapi justru malah membuat wacana konyol. Proses belajar sore hari itu bagi anak-anak muslim yang bersekolah umum akan mendapatkan bimbingan akidah, etika dan moral yang matang, lewat panduan kitab fasholatan, Adab lil Banin, Aqidatul Awam, Aqoid Khamsin dan lain sebagainya, bukan di sekolah dan lembaga yang targetnya hanya tingginya nilai dan kelulusan.
  11. Mana pernyataan anda sekalian wahai umat Islam tentang Full Day School, harusnya mari bersama-sama menolak program yang membikin kegaduhan, mengganggu stabilitas negara yang mengadu domba antara Umat Islam NU, Muhammadiyyah dan ormas-ormas yang lain.
  12. Terakhir, apakah para elemen pemerintah sudah lupa atau pura-pura lupa (takut tidak dapat bagian dari UNICEF) dengan UUD 1945 Pasal 31 tentang Pendidikan dan Kebudayaan Pasal 31 ayat 3:

(3) Pemerintah mengusahakan dan menyelenggarakan satu sistem pendidikan nasional, yang meningkatkan keimanan dan ketakwaan serta akhlak mulia dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, yang diatur dengan undang-undang.

Dengan UUD ini harusnya seluruh lembaga pendidikan di Indonesia memberikan porsi lebih pada pembelajaran agama kira-kira 80 %, sedangkan 20%nya untuk  ilmu umum. Namun kenyataan di sekolah formal malah terbalik. Itu berarti lembaga-lembaga formal telah tidak konsekwen dan menciderai UUD pasal 31 ini. Jadi bukan sekolahan umum, harusnya Madin dan Pesantren yang diakui pemerintah. Karena lembaga ini selalu meningkatkan keimanan dan memantau perkembangan ilmu, akhlak dan nilai-nilai ibadah, yang pastinya akan lebih mencerdaskan anak bangsa. Seperti; pengajaran sholat berjamaah. Tapi kenapa justeru lembaga lain yang berani melawan undang-undang malah yang diakui pemerintah. Sungguh ini penindasan yang luar biasa. Kalau memang tidak mau mengalah, ya berbagi 50%-50%.

Walhasil, Full Day School adalah program Zionis Yahudi dan Komunis yang berlindung dibawah Kristen, dan Kristen menyusup kedalam Nasionalis. Penolakan kami ini harga mati, sampai Bapak Prof, Muhajir Effendi membatalkan kebijakan tersebut. Kami akan terus menyuarakannya dengan mengajak semua elemen masyarakat, tokoh, para kiai, para asatidz untuk bersatu bersama-sama menolak kebijakan bapak yang kurang mashlahah dan tidak sesuai dengan kultur budaya muslim di Indonesia. Dengan wacana penghapusan pelajaran agama, sebagai salah satu paket FDS , maka ini semakin menunjukkan bahwa Mendikbud adalah agen liberal cekek, anak buah Syafi’i Ma’arif, dan sama sekali tidak meneladani pendiri Muhammadiyah,  KH. Ahmad Dahlan. Kalau di zaman SBY saja undang-undang usulan Partai Islam Sisdiknas dimandulkan, apalagi pada pemerintahan sekarang, undang-undang yang melindungi pendidikan agama pastilah akan dihapus. Dan tidak menutup kemungkinan Full Day School adalah sebuah paketan dibawah perintah para bos pengusung Liberalisme, Sekulerisme dan Komunisme. Mensetujui penghilangan agama dari ranah pendidikan akan menjadi bukti bahwa pemerintahan sekarang adalah penganut Pan-Kiri.

Wassalamu’alaikum War. Wab.

Sarang, 13 Juni 2017 H.

KH. Muhammad Najih Maimoen

​KRITIK TAJAM IMAM HAROMAIN TERHADAP IMAM AL-MAWARDI TERKAIT PELEGALAN KEPEMIMPINAN NON MUSLIM DZIMMI

Pengarang Kitab Al-Ahkam As-Sultoniyah, Imam Al-Mawardi menegaskan bahwa jabatan menteri dapat diisi oleh Non Muslim Dzimmi. 

Pernyataan ini dimentahkan oleh Imam Haromain bahkan beliau menilai sebagai ‘atsroh (terpeleset) dalam berpendapat. Setidaknya ada beberapa sanggahan ilmiah yang diajukan oleh Sang Guru Imam Ghozali, diantaranya;
1. Secara Normatif, Islam tidak mempercayai segala ucapan, pekerjaan,     riwayat, bahkan persaksian non muslim dzimmi yang memberatkan umat Islam. Lalu, bagaimana mungkin ucapannya yang mengatasnamakan Pemimpin umat Islam dapat diterima?!
2. Mustahilkan orang yang persaksiannya sedikitpun tidak diterima diangkat menjadi menteri?!
3. Bagaimana bisa menjadi tangan panjang Amirul Mu’minin orang-orang yang kita -umat Islam- dituntut selalu mewaspadai kejelekannya dalam urusan agama?
4. Banyak sekali dalil-dalil agama, baik Al-Qur’an maupun Al-Hadits yang menegaskan larangan bersimpati kepada kafir, apalagi menjadikannya “Kepercayaan” yang mengetahui rahasia-rahasia muslimin. Diantaranya:
– Ali Imran ayat 118
{يأيها الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَتَّخِذُوا بِطَانَة} أَصْفِيَاء تُطْلِعُونَهُمْ عَلَى سِرّكُمْ {مِنْ دُونكُمْ} أَيْ غَيْركُمْ مِنْ الْيَهُود وَالنَّصَارَى وَالْمُنَافِقِينَ {لَا يَأْلُونَكُمْ خَبَالًا} نُصِبَ بِنَزْعِ الْخَافِض أَيْ لَا يُقَصِّرُونَ لَكُمْ فِي الْفَسَاد
– Al-maidah Ayat 51
{يأيها الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَتَّخِذُوا الْيَهُود وَالنَّصَارَىأَوْلِيَاء} تُوَالُونَهُمْ وَتُوَادُّونَهُمْ {بَعْضهمْ أَوْلِيَاء بَعْض} لِاتِّحَادِهِمْ فِي الْكُفْر
-Sabda Nabi Muhammad SAW
قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: أنا بريء من كل مسلم مع مشرك لا تتراءى ناراهما
– Sayyidina Umar bin Khattab RA murka besar pasca mengetahui Shahabat Abu Musa Asy’ari mempunyai sekretaris nashrani.
– Imam Syafi’i berpendapat, seorang ahli penerjemah bahasa yang menjadi tangan kanan Qodli harus muslim adil.
Imam Haramain mengakhiri pembahasan dengan dawuhan:

ولست اعرف في ذلك خلافا بين علماء الأقطار.

Yang Intinya TIDAK ADA KHILAF ANTAR ULAMA dalam masalah ini.
Demikian spesial pengajian Ramadhan kitab Al-ghiyatsi oleh KH. M. Najih Maimoen.

“Tela’ah Demokrasi dalam Prespektif Islam” Tanggapan Untuk Ansor

Demokrasi modern sekarang ini, kemunculannya dijadikan solusi atas problem dan permasalahan kehidupan beragama berbangsa dan bernegara. Tak ketinggalan Ansor dalam keputusan bahsul masailnya pun menjadikan demokrasi sebagai landasan dan dalil untuk meligitimasi diperbolehkannya kepemimpinan kafir atas mayoritas muslim. Ada dana berpuluh-puluh milyar untuk mengampanyekan sistem kufur ala barat, demokrasi ke negara-negara muslim se-dunia, termasuk Indonesia.

Sebagai agama yang sesuai fitrah manusia, Islam memberikan prinsip-prinsip dasar dan tata nilai dalam mengelola organisasi atau pemerintahan. Al Qur’an dan as Sunnah dalam permasalahan ini telah mengisyaratkan beberapa prinsip pokok dan tata nilai yang berkaitan dengan kepemimpinan, kehidupan bermasyarakat, berorganisasi dan bernegara, termasuk di dalamnya adalah sistem pemerintahan yang notabenenya merupakan kontrak sosial. 
Saat menerangkan sifat orang-orang beriman, Allah SWT berfirman:
وَأَمْرُهُمْ شُورَىٰ بَيْنَهُمْ (الشورى ٣٨)
Banyak kalangan yang menyamakan antara musyawarah islami dengan demokrasi, namun benarkah kedua hal tersebut sama…?
Perbedaan Demokrasi Dan Syura
Banyak kalangan Islam berkesimpulan bahwa Islam dan demokrasi tidak hanya kompatibel, sebaliknya, asosiasi keduanya tidak terhindarkan, karena politik Islam adalah berdasarkan pada Syura (musyawarah). Namun, jika kita kaji lebih dalam, kita akan menemukan beberapa perbedaan antara demokrasi dengan Syura yang dianjurkan dalam Islam.
Pertama, demokrasi mengajarkan segala hal harus diputuskan dengan musyawarah, termasuk hal-hal yang hukumnya sudah ditentukan oleh Allah SWT. Bahkan menentukan halal, haram, baik dan buruk yang telah ditetapkan oleh Allah, masih dimusyawarahkan.
Dalam Islam, yang dimusyawarahkan adalah persoalan-persoalan teknis dalam melaksanakan perintah Allah SWT. Manakala persoalan teknis itu belum ditetapkan caranya oleh Allah, musyawarah dibutuhkan untuk menerjemahkan syariat dalam hubungannya dengan konstitusi, hukum, sosial dan masalah-masalah ekonomi. Musyawarah juga berlaku pada perkara-perkara yang tidak dijelaskan secara rinci dalam Al Qur’an dan as Sunnah atau dalam permasalahan ijtihadi. Dalam Islam, tidak semua urusan harus dimusyawarahkan. Perkara-perkara yang sudah di Nash atau sudah ada ijma’ diantara ulama, tidak bisa diganggu gugat lagi.
Sementara dalam demokrasi, semuanya masih bisa dirubah. Bahkan sebab demokrasi, sebuah hukum yang sudah qoth’i pun bisa berubah. Padahal Allah SWT berfirman:
وَمَنْ لَمْ يَحْكُمْ بِمَا أَنْزَلَ اللَّهُ فَأُولَئِكَ هُمُ الْكَافِرُونَ (المائدة: ٤٤) وَمَنْ لَمْ يَحْكُمْ بِمَا أَنْزَلَ اللَّهُ فَأُولَئِكَ هُمُ الظَّالِمُون َ(المائدة: ٤٥) وَمَنْ لَمْ يَحْكُمْ بِمَا أَنْزَلَ اللَّهُ فَأُولَئِكَ هُمُ الْفَاسِقُون َ(المائدة: ٤٧)

أَفَحُكْمَ الْجَاهِلِيَّةِ يَبْغُونَ ۚ وَمَنْ أَحْسَنُ مِنَ اللَّهِ حُكْمًا لِّقَوْمٍ يُوقِنُونَ (المائدة ٥٠)
Dalam demokrasi juga memungkinkan orang-orang muslim dipimpin oleh orang kafir, padahal dalam islam, hal tersebut tidak diperbolehkan dan kepemimpinannya tidak diakui. 
Kedua, dalam demokrasi, manusia mempunyai kedudukan yang sama derajatnya, baik muslim maupun kafir, laki-laki ataupun perempuan. Suara mereka dianggap setara untuk menentukan suatu keputusan. Karena demokrasi sangat mengedepankan kesetaraan antar umat manusia di depan hukum dengan tanpa membedakan agama mereka. Siapapun orangnya, orang baik maupun jahat, memiliki hak suara yang sama. Demokrasi tidak mempersoalkan identitas, keimanan, kekufuran dan jenis nilai yang dibawa oleh seseorang.
Adapun dalam Islam, orang muslim lebih tinggi derajatnya daripada orang kafir. Allah SWT berfirman:
وَلَا تَهِنُوا وَلَا تَحْزَنُوا وَأَنتُمُ الْأَعْلَوْنَ إِن كُنتُم مُّؤْمِنِينَ

(ال عمران ١٣٩)
Dan seorang muslim juga memiliki hak yang tidak dimiliki oleh non muslim. Dalam Islam dibedakan antara hak dan kewajiban seorang muslim dengan kafir. Hal ini, dalam demokrasi tidak diperbolehkan, sebab sama saja tidak lagi menjunjung nilai persamaan, karena dalam demokrasi, ada prinsip kesamaan antara warga negara, sehingga lebih cenderung menyamakan suara mereka. 
Majlis Syura sendiri terdiri dari orang yang memiliki kedudukan dalam fiqih, ilmu, pemahaman dan akhlaq yang tinggi, atau dalam istilah pengangkatan imam disebut sebagai ahli hal wal aqdi. Dalam bermusyawarah tidak dilibatkan orang-orang bodoh dan orang-orang yang berbuat kerusakan, apalagi orang kafir atau atheis.
Ketiga, dalam demokrasi, suara terbanyak merupakan kunci utama untuk menetapkan perkara. Sedangkan dalam Islam, suara mayoritas tidaklah bersifat mutlak, meskipun menjadi pertimbangan utama dalam bermusyawarah. Syura tidak bersifat mengikat bagi penguasa. Boleh jadi pemerintah memilih salah satu pandangan anggota majlis yang kuat argumennya karena menganggapnya lebih benar dibanding sisa anggota majlis lainnya. 
Contohnya kasus sayyidina Abu Bakar RA ketika mengambil suara minoritas yang menghendaki untuk memerangi kaum yang tidak mau membayar zakat. Juga ketika sayyidina Umar RA tidak mau membagi-bagikan tanah hasil rampasan perang dengan tidak memakai pendapat mayoritas. Hal tersebut dilakukan agar tanah tersebut dibiarkan kepada pemiliknya dengan cukup mengambil pajaknya. 
Bahkan Allah melarang Rasul-Nya mengikuti mayoritas manusia, karena mereka akan menjerumuskan ke jalan yang sesat. Allah berfirman:
وَإِن تُطِعْ أَكْثَرَ مَن فِي الْأَرْضِ يُضِلُّوكَ عَن سَبِيلِ اللَّهِ ۚ إِن يَتَّبِعُونَ إِلَّا الظَّنَّ وَإِنْ هُمْ إِلَّا يَخْرُصُونَ  (الانعام ١١٦)
Selama ini, jika kita melihat kata اكثر dalam Al Qur’an saat menerangkan mayoritas manusia, pasti mereka disebut dengan sifat buruk. Di samping itu Allah menyatakan bahwa kebanyakan mereka tidak suka dengan kebenaran yang dibawa oleh Rasulullah. Allah SWT berfirman:
بَلْ جَاءَهُم بِالْحَقِّ وَأَكْثَرُهُمْ لِلْحَقِّ كَارِهُونَ (المؤمنون ٧٠)

وَلَوِ اتَّبَعَ الْحَقُّ أَهْوَاءَهُمْ لَفَسَدَتِ السَّمَاوَاتُ وَالْأَرْضُ وَمَن فِيهِنَّ ۚ بَلْ أَتَيْنَاهُم بِذِكْرِهِمْ فَهُمْ عَن ذِكْرِهِم مُّعْرِضُونَ (المؤمنون ٧١)
Demokrasi secara subtansial adalah penolakan terhadap teokrasi, yaitu sebuah sistem pemerintahan berdasarkan kekuasaan agama. Kelahiran demokrasi di dunia barat menurut perjalanan sejarahnya adalah sebagai akibat dari pertikaian negara melawan gereja, hukum buatan manusia melawan hukum agama. Dengan kata lain, kita bisa katakan bahwa demokrasi itu adalah sisi lain dari sekularisme. Di antara dampak dari demokrasi adalah terhapusnya sifat kesucian dari semua posisi, selama tidak ditetapkan oleh rakyat sebagai sesuatu yang suci, dan yang halal atau haram pun mengikuti suara mayoritas, dengan menutup mata dari setiap referensi lain, baik yang bersifat religius maupun yang lainnya.
Fakta yang paling dirugikan setelah demokrasi dipraktikkan adalah agama. Demokrasi lebih terdengar bunyi kalimat “pluralisme” daripada agama. Oleh sebab itu, di negara-negara Islam yang menerapkan demokrasi posisi agama Islam keberadaannya lebih terancam. Belum lagi, demokrasi di negara-negara Islam justru membuka celah masuknya kekuatan-kekuatan asing yang juga sangat bersemangat untuk membendung laju perkembangan Islam.

Banyak yang berpendapat bahwa demokrasi dapat menyejahterakan rakyat. Padahal seringkali demokrasi tidak selalu berbanding lurus dengan kesejahteraan rakyat. Banyak negara yang dinilai tidak demokratis seperti Saudi Arabia, Singapura dan Libya (semasa Muammar Khadafi berkuasa) dapat menyejahterakan rakyatnya, ini menunjukkan korelasi yang negatif antara demokrasi dengan kesejahteraan rakyat. Pada aspek ini bisa saja kita membandingkan satu negara sebelum menerapkan demokrasi dan sesudahnya. Bisa jadi, ada negara yang sebelumnya tidak demokratis seperti Indonesia kemudian memilih demokrasi dapat relatif berkembang kesejahteraannya dibandingkan dengan masa lalu. Akan tetapi akan terlalu simplitis kalau kemudian kita katakan kesejahteraan itu disebabkan oleh demokrasi.
Di samping itu, demokrasi sangat menghargai toleransi dalam kehidupan sosial, termasuk dalam maksiat sekalipun. Seperti pacaran dan perzinaan. Sedangkan dalam Islam hal ini jelas dilarang dalam Al Qur’an.
Kesimpulan
Konsep demokrasi banyak yang bertentangan dan tidak sejalan dengan Islam, apalagi pada tingkat implementatif seringkali nilai-nilai demokrasi berseberangan dengan ajaran Islam. Karena itu kita perlu menerapkan system musyawarah yang sesuai dengan syariat Islam yang sudah lama kita kenal, kita harus menerima islam dengan kesuluruhannya. Allah berfirman:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا ادْخُلُوا فِي السِّلْمِ كَافَّةً وَلَا تَتَّبِعُوا خُطُوَاتِ الشَّيْطَانِ ۚ إِنَّهُ لَكُمْ عَدُوٌّ مُّبِينٌ  (البقرة ٢٠٨)
Wa llahu ‘alam bis showab.

“HITAM PUTIH TOLERANSI” Oleh KH. M. Najih Maimoen

​SEMINAR TOLERANSI DI PESANTREN SIDOGIRI, ABAH NAJIH: “KITA SUDAH TOLERANSI. KITA SUDAH BANYAK MENGALAHNYA DI NEGERI INI.”

Demikian penggalan kalimat yang diucapkan oleh Syaikh Muhammad Najih Maimoen ketika diundang sebagai keynote speaker dalam Kuliah Umum bertajuk “Hitam Putih Toleransi” di Pondok Pesantren Sidogiri Pasuruan Jawa Timur, Senin siang (11 Sya’ban 1438 H/8 Mei 2017 M). Ini merupakan salah satu rangkaian acara untuk menyemarakkan Milad Pondok Pesantren Sidogiri ke-280 dimana puncak acaranya berlangsung pada hari Kamis 14 Sya’ban 1438 H atau 11 Mei 2017 M. Acara ini diselenggarakan oleh Organisasi Murid Intra Madrasah (OMIM) melalui Unit Kegiatan Pengembangan Intelektual (UKPI) di aula kantor Laz-Sidogiri, dengan dihadiri oleh seluruh murid MMU Aliyah.

Lakum Dinukum Wa Liya Din: Larangan Berbarengan dalam Beribadah

Dalam acara tersebut, Syaikh Muhammad Najih memaparkan beberapa ayat yang sering digunakan sebagai dalil toleransi kaum liberal. Pertama yang beliau bahas adalah QS. Al-Kafirun: 6:

لَكُمْ دِينُكُمْ وَلِيَ دِينِ [الكافرون : 6]

“Untukmu agamamu dan untukkulah agamaku.” (QS. Al-Kafirun: 6)

Tentang ayat tersebut, Abah Najih menjelaskan bahwa sabab nuzulnya adalah ketika kafir Quraisy mengajak Rasulullah untuk saling bergantian dalam menyembah agama. Lalu turunlah Surah Al-Kafirun sebagai larangan untuk melakukan hal tersebut. Menurut beliau, ayat lakum dinukum wa liya din juga melarang untuk berbarengan dalam beribadah (seperti halnya doa lintas agama, red.)

“Sekarang lagi ngetren ayat lakum dinukum wa liya din. Tapi dari kalangan liberal memaknai ayat ini dalil kebebasan beragama dan kebenaran agama-agama selain Islam. Padahal ayat sebelumnya qul ya ayyuhal kafirun. Kalau kita kaitkan dengan ayat sebelumnya sangat zhahir menyebutkan perbedaan Islam dan agama lainnya. Sama halnya mereka berdalil fawailul lil mushallin (QS. Al-Ma’un: 4), tapi tidak diteruskan. Ini bahaya sekali,” tegas Abah Najih.

Lanjut beliau, “Lakum artinya hanyalah bagimu agamamu, waliya din artinya hanyalah bagiku agamaku. Bukan kok membolehkan, tapi tidak mau agama dicampur-campur, tidak mau diliberalkan, tidak mau dipluralkan. Maknanya sharih sekali. Sama dengan ayat waddu lau tudhinu fayudhinun (QS. Al-Qalam: 9).”

Setelah itu beliau menjelaskan bahwa kaum liberal menyebarkan ajaran seperti itu supaya umat Islam lemah. “Liberal itu  kepengen kamu lemah, dikasih toleran ini kan, dan akhirnya mereka juga bersikap lemah. Artinya umat Islam tidak protes agamanya dikurang-kurangi, non-Muslim masuk ke masjid, orang Islam masuk ke gereja. Ini agama campursari, agama blonthang-blontheng.” tandas beliau.

Maksudnya Yahudi dan Nasrani yang Masuk Islam

Selanjutnya, beliau mengupas tentang dalil toleransi lain versi kaum liberal yaitu QS. Al-Baqarah: 62.

إِنَّ الَّذِينَ آمَنُوا وَالَّذِينَ هَادُوا وَالنَّصَارَى وَالصَّابِئِينَ مَنْ آمَنَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ وَعَمِلَ صَالِحًا فَلَهُمْ أَجْرُهُمْ عِنْدَ رَبِّهِمْ وَلَا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلَا هُمْ يَحْزَنُونَ [البقرة : 62]

“Sesungguhnya orang-orang mukmin, orang-orang Yahudi, orang-orang Nasrani dan orang-orang Shabiin, siapa saja diantara mereka yang benar-benar beriman kepada Allah, Hari Kemudian dan beramal saleh, mereka akan menerima pahala dari Tuhan mereka, tidak ada kekhawatiran kepada mereka, dan tidak (pula) mereka bersedih hati.” (QS. Al-Baqarah: 62)

Syaikh Muhammad Najih menjelaskan bahwa makna ayat innalladzina amanu walladzina hadu wa al-nashara diatas adalah orang Islam yang sebelumnya memeluk agama Yahudi dan Nasrani, atau orang Yahudi dan Nasrani yang meninggal sebelum datangnya Islam namun yakin bahkan akan ada nabi akhir zaman. Mereka yang sepert ini akan masuk surga asal mau beriman kepada Allah dan beramal shalih.

Beliau juga mengutip keterangan Dr. Wahbah al-Zuhaili dalam kitab tafsirnya bahwa yang orang-orang yang dimaksud dalam ayat diatas adalah para pemuka agamanya (syuyukh) Salman al-Farisi di daerah asalnya, kekuasaan Persia. Beliau menceritakan bahwa Salman Al-Farisi adalah putra saudagar kaya atau menteri kerajaan Persia yang beragama Majusi. Waktu masih kecil, ayahnya ingin beliau jadi tokoh Majusi di masyarakatnya. “Tapi waktu itu di Persia sudah ada Kristen. Kristen sudah menyebar banyak. Di Arab, di Ethiopia, di Somalia, di Mesir, bahkan Syria menjadi pusatnya. Di Irak dan Iran juga ada Kristen,” kata Abah Najih.

“Bahkan Tahun Gajah adalah penyerangan kaum Kristen kepada Ka’bah. Aslinya tentara gajah dan pemimpinnya Abrahah berasal dari Habasyah. Kemudian jadi raja di Yaman, lalu membangun Ka’bah tandingan di Yaman supaya orang Arab mau kesana. Sama halnya masjid yang baru dibangun di Jakarta Barat kemarin. Masjid kok ada salibnya. Semoga saja arahnya tidak kesitu, Amin. Tujuan kaum liberal adalah agar banyak kader-kader Kristen dan kader-kader penghormat Kristen,” lanjut beliau.

Beliau melanjutkan bahwa QS. Al-Baqarah: 62 ini seringkali digunakan sebagai dalil kaum liberal bahwa Yahudi dan Kristen masuk surga. “Ayat ini turun, tentang orang Arab, orang ajam (non-Arab), atau orang yang asalnya penyembah berhala lalu masuk Islam. Lalu orang Yahudi dan Nasrani yang tidak hidup sekurun dengan Kanjeng Nabi tapi beriman kepada Allah, beramal shalih, dan mengakui adanya nabi akhir zaman, serta niat jika nabi tersebut sudah diutus maka akan mereka ikuti, atau mereka hidup sekurun dengan Kanjeng Nabi dan masuk Islam. Ini kata Tafsir Jalalain. Tapi ayat ini sekarang dibuat dalil bahwa Yahudi Nasrani sama-sama masuk surga, dalilnya orang liberal.”

Abah Najih kemudian menyinggung sekilas tentang QS. Al-Baqarah: 120:

وَلَنْ تَرْضَى عَنْكَ الْيَهُودُ وَلَا النَّصَارَى حَتَّى تَتَّبِعَ مِلَّتَهُمْ [البقرة : 120]

“Orang-orang Yahudi dan Nasrani tidak akan senang kepada kamu hingga kamu mengikuti agama mereka.” (QS. Al-Baqarah: 120)

“Ayat ini menjelaskan aslinya mereka (Kristen) ingin mengkristenkan umat Islam. Tapi kemudian setelah pengalaman Perang Salib dan penjajahan, mereka sekarang alih strategi. Kalau dahulu ingin mengkristenkan, tapi kalau sekarang ingin umat Islam menghormati Kristen. Menghormati Nabi Isa di atas Nabi Muhammad ShallaLlahu ‘alaihi wa Sallama. Bagaimana supaya umat Islam ketika perayaan natal ikut natalan, kayak-kayak mengemis rotinya Kristen,” papar beliau.

Umat Islam Sudah Toleransi, Sudah Banyak Mengalahnya

Selanjutnya, Syaikh Muhammad Najih menyayangkan sikap kaum liberal dan orang-orang yang terpengaruh oleh mereka yang suka menuduh umat Islam yang menegaskan ajaran agamanya ini sebagai kaum yang tidak toleran dan penebar kebencian. Padahal, kata beliau, umat Islam di Indonesia ini sudah begitu toleran dengan non-Muslim dalam banyak hal.

“Kita itu sudah toleransi, artinya kita sudah tidak perang di negara ini. Banyak gereja di tengah-tengah umat Islam, itu sudah melanggar undang-undang sebenarnya. Kalau kita berontak itu mestinya harus dimaklumi. Kita sudah banyak mengalahnya. Yang penting kita doakan kalo perlu dibacakan wirid, supaya gereja-gereja itu tidak payu (oleh umat Islam, red.). Allahumma Amin,” doa beliau dengan diamini oleh seluruh peserta kuliah umum tersebut.

Lanjut beliau, “Mereka biasa bilang di acara-acara televisi, bahwa kita yang teguh dengan akidah kita ini menebar kebencian. Kita seperti ini dianggap menebar kebencian. Kita ini bukan menebar kebencian, kita mengamalkan tauhid, mengamalkan Islam, cemburu kepada tauhid jika dinodai oleh orang-orang liberal itu, oleh Ansor-Ansor itu. Dulu mereka Ansorul Ulama (Pembela Ulama), sekarang jadi Ansorul Qissisin (Pembela Pastor), Ansorul Kanais (Pembela Gereja), Ansoru Ahok (Pembela Ahok)!” Sontak peserta tertawa riuh sejenak.

“Kita bukan menebar kebencian. Kita takut kalau kita ikut mereka, kita menjadi sesat menyesatkan. Kita takut umat Islam ketarik kesana. Kita itu benci bukan artinya benci marah, tapi kita diajarkan untuk benci kufur. Maksud saya, kita tidak benci secara umum atau yang melanggar Pancasila atau UUD 45. Bahkan kita sudah banyak mengalahnya. Ya itu tadi gereja-gereja di tengah-tengah umat Islam. Iki kon diidek-dek maneh, ini kita mau diinjak-injak lagi.”

Abah Najih mewanti-wanti para peserta yang hadir dalam forum tersebut khususnya dan seluruh umat Islam seluruhnya agar selalu sabar dan meminta perlindungan kepada Allah agar terhindar dari fitnah besar liberalisme ini. “Kita sudah tidak bisa jihad, sudah tidak bisa apa-apa. Kita mau menyampaikan akidah kita tidak boleh, dianggap menebar kebencian. Kita di zaman akhir ini harus sabar dan kuat. Sabar itu artinya kuat. Mereka bilang kita menebar kebencian biar kita lemah. Kita bukan benci yang melanggar aturan, tapi benci dalam hati. Wong benci temannya setan kok gak boleh? Anak buah setan, kita harus benci. Kita isti’adzah biar tidak seperti mereka,” pesan beliau.

“Yang susah ini teman-teman kita, anak-anak kita, keponakan-keponakan kita, yang sekolah umum, tidak ada pendidikan tauhid, tidak ada pendidikan innaddina indaLlahil Islam (sesungguhnya agama yang diterima Allah hanya Islam), tidak pernah mendengar ayat itu, atau bahkan mungkin ayat itu dilarang. Kasihan mereka. Beruntung kita berada di pondok, AlhamduliLlah. Yang susah itu adalah yang tidak di pondok, atau di pondok tapi Pondok Lintas Agama di Semarang punya Nuril Arifin. Bahkan ada yang namanya Pondok Gus Dur atau apa itu. Itu membahayakan sekali. Mari dicabut anak-anak kita atau saudara-saudara kita yang ada disitu.”

Beliau lalu mengupas lebih dalam masalah toleransi umat Indonesia yang sebenarnya sudah sangat toleran sebelum kata toleransi ini digembor-gemborkan oleh kalangan liberal. “Kata mereka, demi HAM, demi toleransi, demi humanisme, kita harus baik-baikan dengan orang kafir. Kita sudah baik-baikan kan? Kita tidak melawan, tidak menyerang, bahkan kita tidak boikot produk-produk mereka. Seperti Alfamart dan Indomaret, itu kan milik Kristen. Ada dana dari mereka untuk kristenisasi. Kadang-kadang mereka merekrut orang Islam jadi pelayan mereka. Bahkan kadang-kadang tiap bulan ada ustadz untuk mencerahami mereka. Tapi tujuannya hanya bisnis. Kan pelayan mereka Muslim, kalau dinasihati pendeta non-Muslim tidak akan mau hadir, tapi kalau yang menasihati ustadz dan kiyai mereka mau hadir agar mereka tidak mencuri dan tidak korupsi. Tujuannya hanya bisnis saja, bukan liLlahi Ta’ala. Disitu ada dana pasti, sama dengan Djarum dsb, untuk kristenisasi. NaudzubiLlah min dzalik.”

“Sama dengan travel Armina yang sekarang dipromosikan di Jawa Pos dan TV9, itu milik Kristen. Orang Islam yang menggunakan jasanya diberi fasilitas yang enak. Dibuatkan testimoni ada orang yang asalnya tukang laundri ikut usaha bisnis travel Armina ini kemudian menjadi kaya dan tiap tahun bisa haji, tiap bulan bisa umrah. Memang umat Islam di situ dimanjakan, tapi pasti ada dana untuk kristenisasi,” lanjut beliau.

Uang dari Kegiatan Liberal: Uang Apa Itu?

Selanjutnya, Syaikh Muhammad Najih menyinggung tentang uang yang didapat dari memasarkan ideologi dan kegiatan liberal. Beliau menegaskan bahwa kaum liberal melakukan berbagai kegiatan dan menyebarkan pahamnya itu niatnya untuk mencari uang saja, meskipun mereka selalu menggembor-gemborkan tujuan kemanusiaan dan semacamnya. “Apakah cari uang lewat itu mesti halal? Wong bantu Kristen, bantu Yahudi Nasrani, bantu Hindu Budha kok cari uang. Apakah uang yang kamu ambil itu halal? Itu transaksi apa itu? Anda menjadi jurkam-jurkam mereka, jadi karyawan-karyawan mereka untuk meliberalkan umat islam. Uang apa itu?,” kritik beliau terhadap kegiatan para aktivis liberal.

“Sama dengan fenomena anak dan teman kita kerja di luar negeri menjadi TKI atau TKW. Apa ada jaminan disana anda bisa shalat dengan tenang? Emang dapat uang, tapi apakah mesti halal? Terus, uang anda bisa saja dibuat royokan agen-agen itu. Kan enak cari uang di daerah sendiri, liLlahi Ta’ala dan seadanya. Tidak usah keluar negeri demi dapat uang banyak. Itu uang ‘panas’. Di negara luar seperti Hongkong belum mesti bisa shalat.”

“Kalau perempuan dikirim ke Saudi, itu bisa dibuat main-mainan saja sama majikannya. Dinikmati orang sana. Kalau dia sudah punya suami akhirnya cerai dengan suaminya. Kenapa anda tidak kerja disini saja bisa tenang, qanaah, dan seterusnya?”

Abah Najih ingin menunjukkan bahwa budaya pesantren yang sudah mendarah daging di masyarakat terutama daerah pedesaan itu bisa memberi ketenangan dengan memberi pengajaran masyarakat untuk hidup sederhana dan seadanya. “Pesantren ini bikin tenang masyarakat, tidak membuat orang bekerja terlalu keras, ambisius, dan mengejar dunia yang keterlaluan. Sayang pesantren seperti ini tidak diakui oleh pemerintah sebagai Pendidikan Nasional. Hanya sebagian kecil saja pesantren yang diberi pengakuan-pengakuan ijasah itu. Padahal pesantren inilah yang berjasa besar di negara ini. Tidak suka memberontak, tidak suka ke luar negeri, juga siap kerja di negara sendiri. Kenapa tidak ada penghargaan dari pemerintah?,” ujar beliau.

Bertetangga Boleh, Berteman Akrab Tidak Boleh

Abah Najih melanjutkan ke permasalahan bagaimana batasan Muslim menjalin komunikasi dan hubungan sosial dengan non-Muslim.

Beliau berkata, “Jadi masalahnya, bukan kita menebar kebencian. Tapi di nash-nash Al-Quran kita tidak boleh mudahanah (bersikap lemah) dengan non-Muslim, tidak boleh terlalu baik dengan mereka, mencari ketenangan hidup lewat mereka, menganggap mereka teman akrab, apalagi dijadikan pemimpin. Teman akrab saja tidak boleh. Mengobrol lama-lama aslinya juga tidak boleh. Seperti di film-film di televisi yang ada pluralismenya itu gak boleh, apalagi dijadikan pemimpin. Apalagi kita ikut menyembah-nyembah di tempat ibadah mereka.”

“Kalau sekedar bertetangga boleh, yakni karena menjadi tetangga atau teman di kantor bolehlah kadang-kadang menyapa. Itu boleh-boleh saja, itu kebiasaan orang Jawa. yang penting jangan sampai ada rasa simpati kepada agama mereka. Kalau sampai akrab, apalagi sampai membocorkan rahasia umat Islam, maka bahaya sekali. Kalau kita toleran sebatas bertetangga atau sebagai teman sepekerjaan itu boleh-boleh saja karena kita menjadi masyarakat juga ingin hidup rukun, tenang, dan dapat bekerja dengan tenang. Namun tidak boleh akrab seperti dengan umat Islam,” lanjut beliau.

Setelah itu Abah Najih menyinggung pula tentang kebiasaan yang sering berlaku di masyarakat Jawa. beliau mengkritik kebiasaan sebagian orang Jawa yang lebih memilih mendatangkan kyai atau ustadz dari luar daerah, namun tidak memberi kesempatan kepada ustadz atau kyai di daerahnya sendiri untuk menasihati masyarakatnya, padahal dia mumpuni atau bahkan lebih alim dari orang yang didatangkan itu.

“Budaya kita ini kadang-kadang, maaf, perlu dibenahi. Orang Jawa ini yang saya tahu, biasanya kalau sama teman sendiri berani nakal, tapi kalau sama orang lain tidak berani. Kita kadang suka menghormati yang jauh. Pengajian umum mesti mengundang penceramah yang jauh-jauh, tidak pernah yang dari daerahnya sendiri diberi kesempatan memberi pitutur. Mestinya mereka berhak menasihati kaumnya sendiri. Tapi budaya kita senang mendatangkan yang jauh-jauh. Yang dekat daerahnya sendiri paling-paling hanya diundang tahlilan saja. Tidak pernah diberi waktu mituturi. Kalau ada yang diberi waktu paling hanya memberi sambutan. Ini mendingan,” kata beliau.

“Adat kita itu kalau ada yang pakaiannya meniru habaib-habaib mancanegara itu lebih dihormati, tapi yang pakaiannya biasa-biasa tidak. Bagaimana ini? Kadang-kadang kita juga menghormati orang lain dengan menganggukkan kepala. Itu adat. Tapi kepada orang kafir apa boleh? Kemarin saya sudah ceritakan kisah Barsesha itu, kan? Akhirnya dia sujud kepada iblis dalam keadaan disalib. Dia ingin melakukan perintah Iblis untuk bersujud kepadanya supaya selamat, tapi dia bingung karena dalam keadaan disalib. Lalu dia bertanya, “Aku seperti ini, bagaimana aku bersujud kepadamu?” Iblis menjawab, “Kamu menganggukkan kepalamu saja sudah aku anggap sujud.” Lha, ini gimana? Ahok saja menganggukkan kepala sama hakim jaksa di persidangan. Ini jadi masalah yang musykil (sulit),” lanjut beliau.

Rahmatan lil ‘Alamin Itu untuk Umat Islam

Dalam pungkasan kuliah beliau, Syaikh Muhammad Najih menjelaskan tentang makna Rahmatan lil ‘Alamin dalam QS. Al-Anbiya’: 107:

وَمَا أَرْسَلْنَاكَ إِلَّا رَحْمَةً لِلْعَالَمِينَ [الأنبياء : 107]

“Dan tiadalah kami mengutus kamu, melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam.” (QS. Al-Anbiya’: 107)

Beliau menjelaskan, “Saya lebih memilih lil ‘alamin maknanya adalah umat Islam. Jadi Kanjeng Nabi Muhammad ShallaLlahu ‘alaihi wa Sallama adalah rahmat dan berkah bukan hanya untuk Ahlul Bayt saja, atau bagi shahabat saja. Bagi siapapun yang mengikuti Kanjeng Nabi akan mendapat rahmat dan mesti masuk surga. Bukan Arab saja, hatta non-Arab asal ikut Kanjeng Nabi, senang ngaji, mau mengamalkan Islam, cinta Islam, mesti masuk surga. Kenapa saya condong pendapat ini? Karena ayat sebelumnya:

وَلَقَدْ كَتَبْنَا فِي الزَّبُورِ مِنْ بَعْدِ الذِّكْرِ أَنَّ الْأَرْضَ يَرِثُهَا عِبَادِيَ الصَّالِحُونَ (105) إِنَّ فِي هَذَا لَبَلَاغًا لِقَوْمٍ عَابِدِينَ [الأنبياء : 105 ، 106]

“(105) Dan sungguh telah Kami tulis dalam Zabur sesudah (Kami tulis dalam) Lauh Mahfuzh, bahwa bumi Ini dipusakai hamba-hambaKu yang saleh. (106) Sesungguhnya (apa yang disebutkan) dalam (Surat) ini, benar-benar menjadi peringatan bagi kaum yang menyembah (Allah).” (QS. Al-Anbiya’: 105-106)

Ayat ini kan ditujukan untuk Muslim yaitu lafazh shalihun. Masa’ ini membahas orang kafir? Kan tidak pantas. Kalau dipaksakan ya pas-pas saja, tapi thariqah saya ketika memahami ayat itu disesuaikan dengan ayat sebelum dan setelahnya,” ujar Abah Najih.

Lanjut beliau, “Saya tidak menolak, Rasulullah diutus juga sebagai rahmat untuk orang kafir. Akan tetapi bentuk rahmatnya adalah raf’ul adzab al-musta’shil (diangkatnya siksa yang membinasakan seluruhnya) seperti yang terjadi pada Kaum ‘Ad dan Tsamud. Hatta di zaman Nabi Ibrahim dan Nabi Musa pun sudah tidak ada siksa yang menyeluruh seperti ini, apalagi di zaman Nabi Isa dan Nabi Muhammad ShallaLlahu ‘alaihi wa Sallama. Kalau sekedar itu, sudah terjadi jauh sebelum zaman Rasulullah. WaLlahu A’lam.”

Acara kuliah umum tersebut ditutup dengan doa yang dibaca oleh Syaikh Muhammad Najih dan diamini oleh ratusan santri Pondok Pesantren Sidogiri yang hadir di acara tersebut.[]

Atas ↑

%d blogger menyukai ini: