MENJAWAB LIMA KICAUAN “PECINTA BUKA BERSAMA LINTAS AGAMA” (Bag. 2)

untitled-scanned-30.jpg

Ketiga: Kesatuan NKRI dalam Kebhinnekaan

Pejuang bukber lintas agama yang kebetulan menjadi pejabat tinggi di Semarang ini beralasan acara tersebut sebagai wujud kesatuan yang sangat sesuai dengan semangat keIndonesiaan. “Mari kita kemudian bisa memahami hal-hal yang ada di sekitar kita ini dalam satu bingkai NKRI,” katanya. (kompas.com)

Lagi-lagi, nasionalisme kembali dijadikan alat legitimasi berbagai kegiatan lintas agama di masyarakat. Seakan jika ada yang menolak acara-acara semacam itu akan dipertanyakan sikap nasionalisme dan cinta tanah airnya. Anehnya, ketika rakyat Indonesia ditimpa berbagai bencana alam, peraturan-peraturan bernuansa Syari’ah berusaha dihapuskan, berbagai kasus mutilasi dan pemerkosaan brutal terjadi serentak, mereka pun banyak yang tidak tanggap. Dimana nasionalisme dan cinta tanah air mereka?

NKRI kita ini mayoritas penduduknya adalah umat Islam, dimana hak-haknya menjalankan agama secara baik sesuai aturan Islam harus dipenuhi oleh negara. Ingat, Indonesia bisa berjaya mengusir kaum imperialis Barat dan mencapai kemerdekaan juga karena darah umat Islam di Indonesia selama 350 tahun lamanya dalam perjuangan. Paham kebangsaan yang dimiliki bangsa Indonesia seharusnya mengakomodasi ajaran Islam yang benar, bukannya orang yang tegas dalam beragama dicap ‘sok Islamis’ dan ‘anti Pancasilais’.

Perlu direnungkan kata-kata salah satu ulama pejuang Indonesia KH. Saifuddin Zuhri, “Dihapuskannya 7 kata-kata dalam Piagam Jakarta itu boleh dibilang tidak “diributkan” oleh Ummat Islam, demi memelihara persatuan dan demi ketahanan perjuangan dalam revolusi Bangsa Indonesia, althans untuk menjaga kekompakan seluruh potensi nasional mempertahankan Proklamasi 17 Agustus 1945 yang baru berusia 1 hari. Apakah ini bukan suatu toleransi terbesar dari Ummat Islam Indonesia? Jika pada tanggal 18 Agustus 1945 yaitu tatkala UUD 1945 disahkan Ummat Islam “ngotot” mempertahankan 7 kata-kata dalam Piagam Jakarta, barangkali sejarah akan menjadi lain, tetapi segalnya telah terjadi. Ummat Islam hanya mengharapkan prospek di masa depan, semoga segalanya akan menjadi hikmah.”

Keempat: Yang penting Silaturrahminya, bukan Buka Puasanya

Demikian pernyataan salah satu pejuang bukber lintas agama lainnya. (cnn.com) Menurutnya, yang penting dari acara tersebut adalah silaturahmi antar pemeluk agama, bukan buka puasa yang dipermasalahkan.

Jika memang niat para pejuang bukber lintas agama ini hanya untuk menjalin silaturahmi, mengapa tidak dilakukan di selain waktu ibadah umat Islam? Mengapa harus dilaksanakan di waktu berbuka yang waktu mepet shalat Maghrib dan Isya’ serta Tarawih? Apalagi tempatnya berada di dalam gereja. Jelas hal ini sangat mengganggu kesempatan umat Islam melaksanakan ibadah.

Jika memang niatnya silaturahmi, alangkah lebih bijaknya jika dilakukan di waktu siang harinya, bukan di waktu umat Islam fokus melaksanakan ibadah. Apalagi di bulan Ramadhan sangat dianjurkan untuk memperbanyak ibadah dan amal shalih. Di tempat manapun juga, mayoritas umat Islam ramai menyibukkan diri dengan berbagai ibadah di bulan Ramadhan mulai setelah berbuka hingga rata-rata jam 21.00-22.00 seperti shalat Tarawih berjamaah, tadarrus Al-Quran, mendengarkan ceramah agama, dan lain sebagainya. Mengapa harus dipilih waktu itu untuk “menjalin silaturahmi” oleh para pejuang bukber lintas agama ini, apalagi tempatnya di dalam gereja dan terdapat berbagai rangkaian acara?
Marilah berpikir secara sehat dan cerdas, jangan selalu mengganggu kekhidmatan bulan Ramadhan dengan kegiatan aneh-aneh semacam itu. Apalagi seorang pastur yang ikut menyanyi dalam acara tersebut bilang, “Saya pandang semuanya positif, seperti yang saya nyanyikan dalam lagu, bagaimana tangan tuhan menuntun agar semakin banyak orang menerima berkah dan rahmat.” (www.islamnkri.com) Umat Islam mau menadah berkah dan rahmat dari siapa, dari Tuhan Yesus?!

Kelima: Cinta Persatuan Pengikut Agama Ibrahim

Ini adalah argumen pejuang bukber lintas agama yang paling jelas salahnya dan paling jelas pluralismenya. Islam dan Kristen bertemu dalam satu agama, yakni Agama Ibrahim (Abrahamic Religion). Al-Quran sudah menjelaskan berkali-kali bahwa Kristen telah mengalami penyimpangan akut sehingga tidak lagi diterima oleh Allah Ta’ala.

لَقَدْ كَفَرَ الَّذِينَ قَالُوا إِنَّ اللَّهَ هُوَ الْمَسِيحُ ابْنُ مَرْيَمَ [المائدة : 17]

“Sesungguhnya telah kafirlah orang-orang yang berkata sesungguhnya Allah itu ialah Al-Masih putera Maryam.” (QS. Al-Maidah: 17)

لَقَدْ كَفَرَ الَّذِينَ قَالُوا إِنَّ اللَّهَ ثَالِثُ ثَلَاثَةٍ [المائدة : 73]

“Sesungguhnya kafirlah orang-orang yang mengatakan bahwasanya Allah salah seorang dari yang tiga, padahal sekali-kali tidak ada Tuhan selain dari Tuhan yang Esa.” (QS. Al-Maidah: 73)

وَمَنْ يَبْتَغِ غَيْرَ الْإِسْلَامِ دِينًا فَلَنْ يُقْبَلَ مِنْهُ وَهُوَ فِي الْآخِرَةِ مِنَ الْخَاسِرِينَ [آل عمران : 85]

“Barangsiapa mencari agama selain agama Islam, Maka sekali-kali tidaklah akan diterima (agama itu) daripadanya, dan dia di akhirat termasuk orang-orang yang rugi.” (QS. Ali Imran: 85)
Nabi Ibrahim juga hanya memiliki satu agama yakni agama Islam, tidak Yahudi, Kristen, ataupun Paganisme.

مَا كَانَ إِبْرَاهِيمُ يَهُودِيًّا وَلَا نَصْرَانِيًّا وَلَكِنْ كَانَ حَنِيفًا مُسْلِمًا وَمَا كَانَ مِنَ الْمُشْرِكِينَ [آل عمران : 67]

“Ibrahim bukan seorang Yahudi dan bukan (pula) seorang Nasrani, akan tetapi dia adalah seorang yang lurus lagi berserah diri (kepada Allah) dan sekali-kali bukanlah dia termasuk golongan orang-orang musyrik.” (QS. Ali Imran: 67)

Jadi, agama Islam tidak bisa disatukan dengan Kristen dan Yahudi dalam satu istilah Abrahamic Religion. Persatuan antar ketiga pemeluk agama tersebut juga tidak seharusnya bersinggungan dalam hal yang bersifat ibadah seperti buka puasa tersebut, apalagi jika di dalamnya terselubung makna pluralisme agama.

Epilog

Demikian beberapa tanggapan terhadap lima alasan yang dikemukakan para pejuang bukber lintas agama diatas. Marilah kita semua beragama yang benar dan sehat. Sangat tidak perlu mencampuradukkan kegiatan agama bersama dengan umat non-Muslim. Jika kalian memang peduli dengan Umat Islam, jagalah kekhidmatan dan ketenangan mereka memperbanyak ibadah di bulan Ramadhan, bukannya membuat “bola panas” di tengah umat Islam yang semakin memperbanyak daftar fitnah. Janganlah cinta kasih membuat kalian buta dengan kewajiban agama dan kondisi umat Islam sehingga membuat kalian suka mencari-cari masalah di depan publik semacam ini. Ingatlah, amal baik jika ditiru orang banyak maka akan jadi ladang pahala berlipat-lipat. Sebaliknya, amal buruk jika ditiru orang banyak akan menjadi jurang kehancuran tiada berujung bagi orang yang memulai dan juga yang mengikutinya. WaLlahu A’lam.

Iklan

MENJAWAB LIMA KICAUAN “PECINTA BUKA BERSAMA LINTAS AGAMA” (Bag. I)

untitled-scanned-30.jpg

Bulan Ramadhan tahun ini umat Islam di Indonesia disuguhi pemandangan yang aneh di mata masyarakat umum tentang beberapa orang yang menggelar buka bersama yang dilakukan bersama pemeluk agama lain. Pelaksanaannya pun tidak di masjid atau di rumah warga, akan tetapi di gereja atau wihara. Tak tanggung-tanggung, acara “bukber lintas agama” ini diprakarsai dan ditelateni oleh Shinta Nuriyah istri mantan Presiden Indonesia Abdurrahman Wahid alias Gus Dur.

Acara bukber Shinta Nuriyah bersama para pendeta Kristen di Semarang beberapa waktu kemarin menjadi trending topic di berbagai media sosial. Hampir situs berita pun menayangkan berita tersebut dengan bumbu bahasa yang begitu manis, sehingga terlihat acara tersebut terlaksana dengan begitu khidmat, toleran, dan penuh kehangatan, meski faktanya mereka dibubarkan paksa oleh ormas Islam dan masyarakat sekitar. Setelah acara tersebut, banyak lagi tempat lain di Indonesia yang ikut-ikutan menyelenggarakan acara yang sama.Tujuannya (katanya) adalah satu, kerukunan antarumat beragama.

Meskipun banyak menuai kritik dari umat Islam, pihak penyelenggara bukber lintas agama tersebut terlihat tidak menggubrisnya secara serius dan dianggap angin lalu saja. Mereka mengajukan pembelaan terhadap acara tersebut dengan berbagai alasan manis. Para tokoh nasional dan ormas Islam menjadi “pagar betis” dalam usaha membela-bela terlaksananya acara tersebut. Tulisan ini akan menyebutkan lima alasan yang dikemukakan oleh para “pejuang buka lintas agama” yang kami temukan di berbagai media nasional, sekaligus tanggapan seperlunya untuk menilai keabsahan dan tujuan acara bukber lintas agama tersebut.

Pertama: Adakah Dalil Al-Quran Hadits yang Melarang Buka Bersama Lintas Agama?

Ini merupakan pernyataan yang dikeluarkan oleh salah satu tokoh politik PKB dan dekat dengan tokoh-tokoh NU yang sangat apresiatif dengan acara buka bersama lintas agama tersebut. Dalam akun twitter-nya ia berkicau mempertanyakan penolakan beberapa ormas dan tokoh ulama terhadap acara tersebut, apakah ada landasan dalilnya atau tidak?
Jika dia bertanya apakah ada dalil Al-Quran Hadits yang melarang acara tersebut? Maka kita menjawab: ADA. Banyak ayat Al-Quran yang melarang kaum Muslimin muwalah (akrab) dengan non-Muslim.

وَدُّوا لَوْ تَكْفُرُونَ كَمَا كَفَرُوا فَتَكُونُونَ سَوَاءً فَلَا تَتَّخِذُوا مِنْهُمْ أَوْلِيَاءَ حَتَّى يُهَاجِرُوا فِي سَبِيلِ اللَّهِ

“Mereka ingin supaya kamu menjadi kafir sebagaimana mereka telah menjadi kafir, lalu kamu menjadi sama (dengan mereka). Maka janganlah kamu jadikan diantara mereka penolong-penolong(mu), hingga mereka berhijrah pada jalan Allah.” (QS. Al-Nisa: 89)

لَا يَتَّخِذِ الْمُؤْمِنُونَ الْكَافِرِينَ أَوْلِيَاءَ مِنْ دُونِ الْمُؤْمِنِينَ وَمَنْ يَفْعَلْ ذَلِكَ فَلَيْسَ مِنَ اللَّهِ فِي شَيْءٍ [آل عمران : 28]

“Janganlah orang-orang mukmin mengambil orang-orang kafir menjadi wali dengan meninggalkan orang-orang mukmin. Barangsiapa berbuat demikian, niscaya lepaslah ia dari pertolongan Allah.” (QS. Ali Imran: 28)

وَلَنْ تَرْضَى عَنْكَ الْيَهُودُ وَلَا النَّصَارَى حَتَّى تَتَّبِعَ مِلَّتَهُمْ قُلْ إِنَّ هُدَى اللَّهِ هُوَ الْهُدَى وَلَئِنِ اتَّبَعْتَ أَهْوَاءَهُمْ بَعْدَ الَّذِي جَاءَكَ مِنَ الْعِلْمِ مَا لَكَ مِنَ اللَّهِ مِنْ وَلِيٍّ وَلَا نَصِيرٍ [البقرة : 120]

“Orang-orang Yahudi dan Nasrani tidak akan senang kepada kamu hingga kamu mengikuti agama mereka. Katakanlah: “Sesungguhnya petunjuk Allah itulah petunjuk (yang benar)”. Sesungguhnya jika kamu mengikuti kemauan mereka setelah pengetahuan datang kepadamu, maka Allah tidak lagi menjadi pelindung dan penolong bagimu.” (QS. Al-Baqarah: 120)

Pakar tafsir Imam Fakhruddin al-Razi menjelaskan bahwa akrab dengan non-Muslim yakni percaya dan memberi bantuan serta pertolongan karena hubungan kekerabatan atau cinta kasih sesama manusia hukumnya dilarang meskipun tetap meyakini agama mereka keliru, karena interaksi semacam ini dapat menggiring umat Islam untuk menganggap benar ajaran agama mereka (pluralisme agama). (Fakhruddin al-Razi, al-Tafsir al-Kabir, juz 4 hlm. 168)

Dari keterangan diatas, dapat diketahui bahwa ternyata berabad-abad silam umat Islam sudah diperingatkan oleh Al-Quran tentang bahaya laten pluralisme agama yang diselundupkan dalam berbagai kegiatan lintas keagamaan. Sampai sekarang pun, kegiatan lintas agama seperti acara bukber diatas juga tidak lepas dari propaganda cinta dan kasih sayang antar pemeluk agama (pintu masuk pluralisme dan pemurtadan).

Pakar hukum Islam al-Bujairimi menegaskan bahwa haram hukumnya berkasih sayang dengan non-Muslim. Jika ditanyakan bahwa mukhalathah (berbaur) dengan non-Muslim hukumnya hanya makruh, beliau menjawab bahwa berbaur dengan non-Muslim hanya pada hal-hal zahir duniawi, sedangkan kasih sayang kepada non-Muslim berimbas pada pemihakan hati kepada mereka. (al-Bujairimi, al-Hasyiyah ‘ala al-Khathib, juz 4 hlm. 292) Bandingkan keterangan ulama pakar Fiqh ini dengan berbagai pernyataan para “pejuang bukber lintas agama” tentang kasih sayang sesama manusia tanpa pandang agama.

Tentu sebagian orang akan berkata, “Lho, kami kan hanya duduk dan makan bersama-sama. Bedanya kami yang Muslim ini niatnya buka, yang non-Muslim hanya makan biasa.” Pernyataan seperti ini tentu sangat aneh. Jika memang mereka hanya ingin duduk dan makan bersama, mengapa hal itu diusahakan berlangsung di dalam gereja dan tidak di restoran atau warung makan? Mengapa acara tersebut dibuat secara seremonial dan diteruskan dengan dialog antarumat beragama? Mengapa harus ada Muslim yang memberi ceramah di podium  gereja dan menganjurkan agar semua mementingkan kasih sayang tanpa pandang agama? Orang yang cerdas tentu dapat menilai ada sesuatu di balik semua ini.

Dalam beberapa perkara yang bukan agama saja, interaksi yang disinyalir terdapat pengagungan dan penghormatan terhadap agama lain hukumnya haram bagi Muslim. Contohnya seperti membantu keperluan natal kepada non-Muslim (Is’ad al-Rafiq, juz 2 hlm. 93), mengosongkan jalan untuk non-Muslim (Tuhfah al-Muhtaj, juz 9 hlm. 299), menunjukkan jalan menuju gereja (Fatawi al-Fiqhiyyah al-Kubra, juz 4 hlm. 248), dan lain sebagainya. Apalagi ini adalah acara berbuka yang menjadi rangkaian ibadah puasa Ramadhan kaum Muslimin. Muslim yang agamanya kuat tidak akan mengikuti acara “agama gado-gado” semacam ini.

Kedua: Mengutamakan Kebersamaan dengan Penganut Agama Lain

Pejuang bukber lintas agama lainnya beralasan bahwa acara tersebut sebagai bentuk kerukunan dan kebersamaan. “Umat Muslim selalu mengutamakan kebersamaan dengan penganut agama lain dan melindungi minoritas. Nabi Muhammad diutus untuk melindungi seluruh makhluk hidup,” katanya. (www.idntimes.com)

Jika para pejuang bukber lintas agama tersebut selalu mengutamakan kebersamaan dan melindungi minoritas, mengapa tidak dilaksanakan saja bersama fakir miskin, yatim piatu, anak-anak jalanan, dan gelandangan yang jelas lebih membutuhkan uluran tangan kaum Muslimin lainnya yang berkecukupan? Apalagi di beberapa daerah di Jawa Tengah kemarin banyak saudara-saudara Muslim kita yang tertimpa musibah banjir dan longsor yang menimbulkan banyak korban dan meludeskan harta benda masyarakat. Mengapa yang diajak buka bersama malah orang-orang yang tidak ada kepentingan berbuka puasa seperti non-Muslim, apalagi dibuatkan serangkaian acara lintas agama dengan diisi nyanyi-nyanyian Kristen dan tempatnya pun berada di gereja?
Alangkah lebih bijaksananya jika acara buka bersama ini dilaksanakan bersama Muslim lainnya yang membutuhkan uluran tangan kita, bukannya dengan non-Muslim yang tidak berkepentingan untuk berbuka puasa. Selain sudah melanggar larangan Al-Quran, tujuan mereka untuk menjalin kebersamaan juga sangat dipertanyakan.

Bersambung…

Abah Najih: Begini Lho Arti Rahmatan lil Alaminnya Islam

images.jpg

وَلَقَدْ كَتَبْنَا فِي الزَّبُورِ مِنْ بَعْدِ الذِّكْرِ أَنَّ الْأَرْضَ يَرِثُهَا عِبَادِيَ الصَّالِحُونَ (105) إِنَّ فِي هَذَا لَبَلَاغًا لِقَوْمٍ عَابِدِينَ (106) وَمَا أَرْسَلْنَاكَ إِلَّا رَحْمَةً لِلْعَالَمِينَ (107)

“Dan sungguh Telah kami tulis didalam Zabur sesudah (Kami tulis dalam) Lauh Mahfuzh, bahwasanya bumi Ini dipusakai hamba-hambaKu yang saleh. Mereka berkata: “Ya Tuhan kami, kami Telah dikuasai oleh kejahatan kami, dan adalah kami orang-orang yang sesat. Ya Tuhan kami, keluarkanlah kami daripadanya (dan kembalikanlah kami ke dunia), Maka jika kami kembali (juga kepada kekafiran), Sesungguhnya kami adalah orang-orang yang zalim.” (QS. Al Anbiyaa’:105-107)

Syaikh Muhammad Najih menjelaskan tentang kandungan makna dalam ayat tersebut dalam pengajian tafsir beliau. Beliau pertama-tama menjelaskan bahwa pada lafadl أَنَّ الْأَرْضَ يَرِثُهَا عِبَادِيَ الصَّالِحُونَ maksud ayat ini adalah Allah Ta’ala mewariskan daerah-daerah orang kafir kepada hamba-hambaNya yang shalih, yitu kaum muslimin yang kuat imannya dan berjihad untuk menaklukkan daerah tersebut. Janji Allah tersebut beserta seluruh isi Al Quran menjadi sumber inspirasi dan harapan bagi kaum muslimin yang mengamalkan ajarannya. (إِنَّ فِي هَذَا لَبَلَاغًا لِقَوْمٍ عَابِدِينَ)

Lalu Syaikh Muhammad Najih menjelaskan tentang makna kedatangan Nabi Muhammad yang membawa ajaran Islam sebagai rahmatan lil ‘alamin (rahmat semesta alam). Beliau memaparkan bahwa yang dimaksud dengan rahmat dalam ayat tersebut adalah دفع العذاب  (menolak siksa), karena dengan kedatangan Rasulullah beserta ajaran Islam manusia dihindarkan dari siksa dunia yang ditimpakan kepada umat-umat sebelumnya seperti khasaf (ditelan bumi), isti’shal (genosida/pembunuhan massal), dan lainnya. Rahmat juga berarti jihad meninjau arti ayat sebelumnya bahwa Allah mewariskan tanah orang-orang kafir kepada kaum muslimin.

Setelah orang-orang memeluk Islam, maka Islam berkembang begitu pesat dan menjadi satu kekuatan peradaban yang mampu menaklukkan imperium-imperium besar dunia dalam waktu yang begitu cepat. Tidak lama setelah Nabi wafat umat Islam mengusir tentara Romawi dan menduduki Syria. Di zaman Umar Ibn Khaththab kekaisaran Persia ditaklukkan dan Palestina dikuasai. Pada awal abad ke delapan Spanyol dibawah kerajaan Hispania yang dikuasai oleh orang Kristen Visigoth ditundukkan oleh Tariq bin Ziyad. Di Mesir Muslim dibawah komando Amr bin al-As memukul mundur pasukan Byzantium dan mengusai orang-orang Kristen Coptic. Pada abad ke 15 Konstantinople, salah satu bagian dari kekaisaran Romawi ditaklukkan panglima muda al-Fatih. Di dunia Melayu umat Islam mengusir kepercayaan animism, dinamisme dan agama-agama kultural lainnya.

Istilah-istilah mengusir, menduduki, menaklukkan, menguasai, mendesak dan sebagainya adalah bahasa politik dan bersifat negatif.  Tapi apa yang sebenarnya terjadi jauh dari kesan itu. Sebab ketika Islam masuk Syria orang-orang Kristen yang merasa selamat dari Romawi dan Yunani. Michael the Elder, Patriach dari Jacobus mengakui Tuhan telah membangkitkan putera-putera Ismail dari Selatan (maksudnya Muslim) untuk menyelamatkan kita dari Romawi.

Pada waktu Umar memasuki Yerussalem ia menandatangai perjanjian. Diantara isinya:gereja tidak akan dirubah menjadi tempat kediaman, tidak akan dirusak, salib-salib atau harta mereka tidak akan diganggu dan tidak seorangpun diantara mereka akan dianiaya. Orang tidak pernah konflik dengan umat Kristen. Justru konflik antar sekte di Gereja Holy Sepulchre, atau the Church of the Resurrection didamaikan orang Islam. Anehnya, Bernard Lewis, seorang politikus terkemuka yang menentukan kebijakan ppolitik luar negeri AS menganggap toleransi dalam Islam tidak ada asal usulnya. Ia mengatakan bahwa Muslim –dalam jumlah yang signifikan, baik yang fundamentalis maupun yang tidak adalah jahat dan berbahaya, bukan karena Barat membutuhkan musuh, tetapi karena mereka memang seperti itu. (The Crisis of Islam, hal. 24)

Padahal, realita yang ada justru peradaban kafirlah yang tidak toleran dan menjadi momok berbahaya bagi umat manusia. Setelah imperium Romawi diperintah oleh kuasa gereja, pada abad X mereka mebuat lembaga inquisisi yang merupakan instrumen teror dalam tubuh gereja Katholik yang paling jahat sampai abad XVII. Robert Held, dalam bukunya, Inquisition, memuat foto-foto dan lukisan-lukisan yang sangat mengerikan tentang kejahatan Inquisisi yang dilakukan tokoh-tokoh gereja ketika itu. Dia paparkan lebih dari 50 jenis dan model alat-alat siksaan yang sangat brutal, seperti pembakaran hidup-hidup, pencungkilan mata, gergaji pembelah tubuh manusia, pemotongan lidah, alat penghancur kepala, pengebor vagina, dan berbagai alat dan model siksaan lain yang sangat brutal. Ironisnya lagi, sekitar 85 persen korban penyiksaan dan pembunuhan adalah wanita. Antara tahun 1450-1800, diperkirakan antara dua-empat juta wanita dibakar hidup-hidup di daratan Katholik maupun Protestan Eropa.

Salah satu kisah paling mengerikan adalah pembantaian  kaum Protestan –terutama Calivinistis- di paris, oleh kaum Katholik tahun 1572 yang dikenal dengan “The St. Bartholomew’s Day Massacre”. Diperkirakan  10.000 orang mati. Selama berminggu-minggu jalan-jalan di Paris dipenuhi dengan mayat-mayat laki-laki, wanita, dan anak-anak, yang membusuk.

Pada masa Perang Salib (Crusade), kaum Kristen juga membantai umat Islam di Jerusalem habis-habisan tanpa ampun. Seorang tentara Salib menulis dalam Gesta Francorum, bagaimana perlakuan tentara Salib terhadap kaum muslimin dan penduduk Jerusalem lainnya dengan menyatakan, “Belum pernah seorang menyaksikan atau mendengar pembantaian terhadap ‘kaum pagan’ yang dibakar dalam tumpukan manusia seperti piramid dan hanya Tuhan yanh tahu berapa jumlah mereka yang dibantai.” Diperkirakan penduduk Jerusalem yang dibantai pasukan Salib sekitar 30.000 orang. Hampir semua penduduknya dibantai. Laki-laki, wanita, anak-anak, tanpa pandang bulu dibantai di jalan-jalan, lorong-lorong, rumah-rumah, dan di mana saja mereka temui. Para tawanan pasukan Salib kemudian dipaksa membersihkan jalanan, rumah, dan halaman Haram al Syarif, dari puluhan ribu mayat manusia. Beberapa bulan setelah peristiwa pembantaian tersebut, bau mayat manusia yang membusuk masih menyengat udara Kota Jerusalem.

Anehnya lagi, istilah rahmatan lil ‘alamin digunakan sebagai slogan untuk memasarkan dan melegitimasi liberalisasi Islam oleh sebagian kalangan muslim yang dangkal pemahaman agamanya dan pro pemikiran orientalis Barat. Musdah Mulia, dosen UIN Jakarta, menulis makalah yang berjudul Islam Agama Rahmat bagi Alam Semesta. Ia menulis, ““Menurut hemat saya, yang dilarang dalam teks-teks suci tersebut lebih tertuju kepada perilaku seksualnya, bukan pada orientasi seksualnya. Mengapa? Sebab, menjadi heteroseksual, homoseksual (gay dan lesbi), dan biseksual adalah kodrati, sesuatu yang “given” atau dalam bahasa fikih disebut sunnatullah. Sementara perilaku seksual bersifat konstruksi manusia… Jika hubungan sejenis atau homo, baik gay atau lesbi sungguh-sungguh menjamin kepada pencapaian-pencapaian tujuan dasar tadi maka hubungan demikian dapat diterima.”

Islam sebagai rahmatan lil ‘alamin juga sering disalahpahami sebagai Islam yang toleran terhadap segala hal termasuk dalam masalah kemusyrikan dan kekufuran. Ulil Abshar Abdalla berkata, “Semua agama sama. Semuanya menuju jalan kebenaran. Jadi, Islam bukan yang  paling benar.” Nurcholish Madjid menganggap pluralisme sebagai sebuah aturan Tuhan (sunnatullah) yang tidak akan berubah. Bahkan, Abdul Munir Mulkhan, dosen UIN Yogya, telah mampu melihat ‘surga’ yang memiliki banyak ‘kamar’ dan ‘pintu’ bagi tiap-tiap pemeluk agama apa pun, asal dia mampu membebaskan manusia dari kelaparan dan inhumanitas serta mau berdialog dengan pemeluk agama lain. Luthfi Assyaukani menganggap percaya kitab suci, Nabi, Malaikat, dan konsep agama hanya lainnya menjadi tidak penting.

Maka, Islam akan selalu menjadi rahmat bagi semesta tanpa harus mengorbankan keimanan dan ketakwaan. Islam dalam sejarah dunia akan selalu membawa nilai-nilai universal yang toleran dan membawa kedamaian bagi pemeluk agama lain tanpa harus mencampuradukkan kepercayaan dan akidah mereka. Wallahu A’lam.

KONSEP PENDIDIKAN SYAIKH MUHAMMAD NAJIH MAIMOEN: KONSISTEN TERHADAP WARISAN ULAMA

abahSyaikh Muhammad Najih Maimoen dikenal sebagai sosok yang begitu getol dan istiqomah dalam mempertahankan nilai-nilai dan ajaran-ajaran Islam yang diwarisi dari para ulama Ahlussunnah Wal Jama’ah. Beliau menyiarkan secara konsisten ilmu-ilmu warisan ulama salafusshalih dalam setiap pengajian, ceramah, dan kajian ilmiah beliau yang lain dalam Aqidah, Fiqh, Tafsir, Hadits, Tashawwuf, dsb serta selalu memberikan penjelasan dan pelurusan yang diperlukan dalam memahami kitab-kitab. Beliau begitu perhatian terhadap permasalahan-permasalahan dalam dunia Islam dan Barat yang terungkap dalam berbagai pemikiran beliau, salah satunya dalam ilmu pendidikan.

Seiring dengan pesatnya laju modernisasi Barat yang terpengaruh dengan nilai-nilai liberal dan sekuler dimana banyak para cendekiawan muslim terpengaruh bahkan taklid buta dengan paradigma Barat, Syaikh Muhammad Najih Maimoen masih mempertahankan ajaran-ajaran dan metodologi pendidikan ulama salaf yang terhimpun dalam suatu pendidikan yang bernama pesantren.

Pesantren merupakan sebuah lembaga pendidikan yang tidak hanya mendidik kecerdasan intelektual dan emosional semata, namun juga kecerdasan spiritual. Pesantren salaf merupakan salah satu lembaga pendidikan Islam yang sangat relevan dengan zaman dalam mempersiapkan ulama masa depan sekaligus sebagai garda depan dalam memfilter dampak negatif kehidupan modern.

Menurut beliau, tujuan seorang santri untuk mondok adalah semata untuk mendapatkan keselamatan di dunia dan akhirat yang diraih dengan konsistensi dan mempertahankan keyakinan dan pengamalan ajaran Islam yang benar sesuai tuntutan para ulama. Santri harus belajar lillahi Ta’ala, tidak boleh karena ingin mendapatkan keramat, kedudukan tinggi, pengaruh di masyarakat, bahkan hanya untuk mencari imbalan harta, karena hal itulah yang sebenarnya menjadi ancaman serius bagi para santri dalam beristiqamah dengan ajarn Islam sehingga akhirnya terseret dalam tindakan-tindakan khurafat, bid’ah-bid’ah buruk, bahkan liberal dan sekuler.

Ketika banyak cendekiawan muslim seperti Muhammad Abduh, Fazlur Rahman, dan Wahid Hasyim menekankan intregasi pendidikan agama dengan pendidikan umum dalam satu lembaga, Syaikh Muhammad Najih Maimoen tetap membela sistem pembelajaran di pesantren salaf yang bersumber dari kitab-kitab para ulama salaf meski juga tetap membolehkan adanya sistem klasikal seperti halnya kebijakan para kyai-kyai pendahulu.

Ilmu agama di pesantren salaf yang sudah mapan selama berabad-abad lamanya tidak perlu dicampur dengan ilmu-ilmu umum yang biasa diajarkan di sekolah-sekolah umu seperti IPA, IPS, Bahasa Inggris, sosiologi, dsb kecuali sebagai penunjang seperlunya terhadap pelajaran-pelajaran di pesantren. Kelembagaan pendidikan umum dan pendidikan agama di pesantren harus terpisah. Meski bagi kebanyakan pemikir muslim bersifat dikotomis, kebijakan ini sangatlah sesuai karena kebanyakan lembaga pendidikan yang mencampur antara pelajaran umum dan agama menelurkan lulusan yang mentah dalam keduanya. Selain itu, pelajaran-pelajaran umum yang diajarkan di sekolah juga banyak mengandung unsur-unsur peradaban Barat seperti sekularisme, liberalisme, feminisme, dsb.

Pendidikan yang diajarkan oleh Syaikh Muhammad Najih Maimoen adalah perpaduan antara ilmu, amal, dan adab. Beliau menekankan pengajaran yang mampu menguatkan iman, menstimulasi pengamalan ilmu, serta mementingkan adab terhadap ilmu dan para ulama. Kombinasi tiga komponen inilah yang menjadikan pendidikan yang dilakukan beliau menjadi unik dan jarang ditemukan di lembaga pendidikan bahkan pesantren lain.

Keteguhan beliau dalam mempertahankan eksistensi pendidikan pesantren salaf ini selain sebagai rasa hormat dan loyalitas meneruskan perjuangan para ulama terdahulu, juga karena fakta bahwa pendidikan pesantren telah berdiri kokoh selama berabad-abad lamanya dan tetap akan selalu eksis dan relevan terhadap kebtuhan dan pembangunan masyarakat yang menjunjung tinggi nilai-nilai Islam.

KREASI SANTRI RIBATH DH ISLAM LIBERAL: KONSEPSI, AKTUALISASI, DAN TANGGAPANNYA (6 Terakhir)

Sekularisme
Istilah  sekuler  berasal  dari  bahasa  latin  Saeculum  yang  memiliki dua  konotasi  yaitu  time  (waktu)  dan  location  (tempat).  Waktu menunjukan  sekarang  sedangkan  tempat  dinisbahkan  kepada  dunia. Jadi saeculum berarti zaman ini atau masa kini, dan zaman ini atau masa kini  menunjukan  peristiwa  di  dunia  ini  dan  itu  juga  berarti  peristiwa-peristiwa  masa  kini.  Adapun  sekulerisasi  dalam  kamus  ilmiah  adalah hal  usaha  yang  merampas  milik  gereja  atau  penduniawian.  Sedangkan Sekulerisme  adalah  sebuah  gerakan  yang  menyeru  kepada  kehidupan duniawi tanpa campur tangan agama.
Dalam  bukunya  yang  berjudul  Islam  dan  Sekulerisme,  al-Attas menjelaskan  bahwa  sekulerisasi  didefinisikan  sebagai  pembebasan manusia,  yaitu  mula-mula  dari  agama  dan  kemudian  dari  metafisika. Itu  berarti  terlepasnya  dunia  dari  pengertian-pengertian  religius  dan religius-semu,  terhalaunya  semua  pandangan-pandangan  dunia  yang tertutup,  terpatahkannya  semua  mitos  supranatural  dan  lambing-lambang  suci.  Sekulerisme  lebih  condong  kepada  proses  peralihan fungsi-fungsi  dan  sifat-sifat  keagamaan  kearah  fungsi-fungsi  dan  sifat-sifat  yang  tak  bernilai  atau  yang  tidak  ada  hubungannya  dengan keagamaan.
Dari  pengertian-pengertian  diatas,  kata  sekular,  sekularisasi  dan sekularisme  mempunyai  makna  dan  pengertian  yang  berbeda–beda. Kata secular berasal dari kata latin saeculum diartikan dengan masa dan tempat yang berlaku sekarang atau masa kini. Kata sekulerisasi banyak diartikan sebagai proses menuju ke secular dan sekulerisme, sedangkan sekulerisme  banyak  diartikan  sebagai  ideologi  yang  dihasilkan  dari proses sekulerisasi. Namun keduanya memiliki esensi yang sama. Syed Naquib al Attas menyatakan bahwa sekularisasi dan sekularisme memiliki persamaan yaitu relativisme sejarah yang sekuler.
Sekulerisme adalah ideologi yang muncul dari proses sekulerisasi. Yang  menjadi  perdebatan  para  ahli  sejarah  adalah  bagaimana  proses munculnya  secular,  sekulerisasi  dan  sekulerisme.  Eropa  barat  telah mengalami  sekulerisasi  selama  sejak  250  tahun  terakhir  dan  para  ahli sejarah sepakat dengan pendapat tersebut.
Gerakan sekulerisme tumbuh di Eropa dan berkembang ke seluruh penjuru  dunia  seiring  dengan  pengaruh  penjajahan,  kristenisasi  dan komunisme.  Banyak  faktor  yang  mengakibatkan  tersebarnya  gerakan ini,  baik  sebelum  dan  sesudah  meletusnya  revolusi  Prancis  pada  tahun 1799 M. 
Dr.  Camile  Al-Hajj  mengatakan  sekulerisme  adalah  gerakan  yang muncul akibat konflik sejarah yang terjadi antara Gereja dan kekuasaan di Eropa. Untuk memisahkan antara agama dan negara disatu sisi serta pemisahan antara ajaran-ajaran gereja dan ilmu pengetahuan di sisi lain. Al-Attas  menyatakan  bahwa  kemunculan  sekulerisasi  adalah  hasil  dari sejarah  pengalaman  barat  untuk  mendamaikan  ketegangan  antara Filsafat  dan  Agama.  Antara  pandangan  alam  yang  semata-mata berdasar  pada  pandangan  akal  jasmani  dan  pandangan  alam  yang semata–mata  berdasar  pada  pandangan  indra  khayali.  Akan  tetapi sebenarnya  ketegangan  yang  terjadi  di  Barat  antara  filsafat  dan  agama sudah  ada  pada  zaman  Yunani  purbakala  kira-kira  empat  ratus  tahun sebelum zaman Nabi Isa hingga berlanjut sampai sekarang.
Adian  Husaini  menyimpulkan  bahwa  mengapa  Barat  menjadi secular  dan  mengapa  di  Barat  proses  sekulerisasi  sangat  cepat berkembang.  Setidaknya  ada  tiga  faktor  yaitu; Pertama,  trauma  sejarah khususnya  yang  berhubungan  dengan  dominasi  agama  di  zaman pertengahan kedua. Kedua, problem teks bible. Ketiga, problem teologi Kristen.
Dalam bukunya The Secular City, Harvey Cox menjelaskan tiga komponen oenting dalam proses sekularisasi, yaitu pengosongan dunia dari nilai-nilai rohani (disenchantment of nature), desakralisasi politik (desacralization of politics), dan relativisme nilai (deconsecration of values).
Dunia,  kata  Harvey  Cox,  perlu  dikosongkan  dari  nilai­nilai  ruhani  dan  agama. Dalam  istilah  Cox,  ini  disebut   ‘disenchantment of  nature’,  sains  bisa  berkembang  dan  maju,   jika  dunia  ini  dikosongkan  dari tradisi  atau  agama  yang   menyatakan  bahwa ada  kekuatan supernatural yang menjaga  dunia  ini. Disebabkan  kekuatan  ghaib  itulah, maka  bagi  tokoh­tokoh agama konservatif, dunia  ini tidak boleh  diperlakukan sewenang­wenang. Padahal, pembebasan dunia  ini  dari  nilai­nilai  ghaib  itu  menjadi syarat   penting   bagi  usaha­usaha  urbanisasi  dan  modernisasi. Manusia harus me geksploitasi  alam  seoptimal  mungkin, tanpa  perlu dibatasi  oleh  pandangan  hidup agama  apa  pun.
Konsep  sekularisasi  dalam  politik  diistilahkan  dengan  ‘Desacralization  of  politics’ , yang bermakna bahwa politik tidaklah sakral. Jadi, unsur­unsur ruhani dan agama  harus disingkirkan  dari  politik.  Oleh  sebab  itu  juga,  peran  ajaran   agama   ke  atas  institusi  politik   harus  disingkirkan.  Ini  menjadi  syarat untuk   melakukan  perubahan  politik  dan  sosial  yang   juga  akan  membenarkan  munculnya  proses  sejarah. 
Sekulariasi  juga terjadi  dalam  kehidupan  dengan  penyingkiran  nilai­ nilai  agama  (deconsecration  of  values).  Dalam  pandangan  sekular,  kebenaran  adalah  relatif. Tidak ada nilai  yang  mutlak. Sistem  nilai manusia sekular harus dikosongkan dari nilai­nilai ag ama. Karena  perspektif  seseorang  dipengaruhi  oleh  faktor   sosial  dan  budaya,   maka  tidak  ada seorang  pun  yang   berhak  memaksakan  sistem  nilainya  ke atas  orang   lain.
Gagasan tentang sekularisasi pertama kali digulirkan oleh Nurcholish Madjid. Pada 3  Januari  1970,  Ketua Umum  Pengurus  Besar Himpunan  Mahasiswa  Islam Indonesia  (HMI),  Nurcholish  Madjid,  secara  resmi  menggulirkan  perlunya  dilakukan sekularisasi  Islam.  Dalam  makalahnya  yang  berjudul  “Keharusan  Pembaruan  Pemikiran Islam dan Masalah Integrasi Umat”, Nurcholish Madjid menyatakan:  
“…  pembaruan  harus  dimulai  dengan  dua  tindakan  yang  saling  erat  hubungannya,  yaitu melepaskan diri dari nilai-nilai tradisional dan mencari nilai-nilai yang berorientasi ke masa depan.  Nostalgia,  atau  orientasi  dan  kerinduan  pada  masa  lampau  yang  berlebihan,  harus diganti  dengan  pandangan  ke  masa  depan.  Untuk  itu  diperlukan  suatu  proses  liberalisasi. Proses  itu  dikenakan  terhadap  “ajaran-ajaran  dan  pandangan-pandangan  Islam”  yang  ada sekarang  ini…”  Untuk  itu,  menurut  Nurcholish,  ada  tiga  proses  yang  harus  dilakukan  dan saling  kait-mengait:  (1) sekularisasi,  (2)  kebebasan intelektual,  dan (3)  ‘Gagasan  mengenai kemajuan’ dan ‘Sikap Terbuka’.”
Ide sekularisasi ini banyak ditentang oleh para cendekiawan muslim, karena memisahkan ajaran agama dari kehidupan manusia. Berbeda dengan Nurcholish Madjid yang menelan dan menyebarluaskan gagasan sekularisasi, khususnya dari Harvey Cox, Syed Naquib al Attas melakukan perlawanan yang sengit terhadap penyebaran “penyakit menular” tersebut. Pada awal tahun 1973, al Attas sudah menulis sebuah buku yang mengkritik gagasan sekularisasi.
Endang Saifuddin Anshari, pengkritik Nurcholish lainnya, menyatakan bahwa berbicara tentang sekularisasi, mau tidak mau mesti mengacu pada sekularisme. “Baik sekularisasi (menurut rumusan sdr. Nurcholish dan yang dianjurkannya itu) maupun sekularisme (yang ditentangnya itu) sama-sama mau membebaskan diri dari ‘tutelage’ (asuhan) agama.” Dalam sebua buku berjudul Anatomi Budak Kuffar dalam Perspektif al Quran, Muhammad Yaqzan menyebutkan, “Puncak gagasan Nurcholish Madjid dalam upaya menyeret manusia ke dalam comberan ateisme baru yang intinya menggusur syariah, bahkan menuduhnya sebagai simbolisme yang mengarah pada berhalaisme.”
Tijan Purnomo dalam bukunya Konsep Agama dalam Pandangan Islam dan Barat (Sekuler) menyebutkan, bahwa Bahaya yang ditimbulkan  dari  sekulerisme  terhadap  dunia  Islam  sangat  banyak diantaranya:
1.  Diputarbalikannya hakikat Islam, al-Qur’an dan Rasulullah.
2.  Menganggap  bahwa  Islam  telah  menyederhanakan  tujuan-tujuannya,  yakni  dianggap  bahwa  Islam hanyalah  berupa  upacara-upacara keagamaan dan ritual belaka.
3.  Bahwa  Islam  tidak  sesuai  dengan  peradaban  dan  hanya  akan mengakibatkan kemunduran.
4.  Segala sistem dan aliran sekuler barat ditransfer untuk dimasukan ke dunia Islam.
5.  Apabila  ada  suatu  alasan  tentang  keberadaan  sekulerisme  di  Barat, maka tak satupun alasan bagi Timur untuk menolak sekulerisme. 
Selain bahaya  yang  telah  disebutkan  diatas,  masih  banyak  bahaya sekulerisme yang lainnya diantaranya yaitu sebagai berikut:
1.  Menghalangi  campur  tangan  Tuhan  (agama)  dalam  persoalan duniawi.
2.  Aspek  kehidupan,  politik,  ekonomi,  budaya  dan  sebagainya  tidak perlu didasarkan pada agama.
3.  Ormas, parpol, maupun negara tidak perlu berbasis agama.
4.  Negara tidak usah mengurus agama, karena agama urusan pribadi.
Meski telah banyak menuai  banyak kritik dari kalangan Islam sendiri, sekularisme dalam tubuh Islam masih saja terjadi bahkan berkembang sangat pesat. Hal ini karena adanya dukungan dari negara-negara Barat yang berusaha agar produk peradaban mereka tersebut diterima oleh Islam  untuk melanggengkan kekuasaanya.
Kasus Turki merupakan contoh menarik untuk dicermati. Adalah Musthafa Kemal Attaturk, seorang muslim sekuler Turki yang melakukan sekularisasi secara besar-besaran setelah diangkat menjadi presiden pertama. Dia bersama CUP (Committee an Union Progress –organisasi yang dibentuk oleh Gerakan Turki Muda didikan Freemason) berhasil menumbangkan kekhalifahan Utsmaniyyah di bawah pimpinan Sulat Abdul Hamid II dan mengubah negara tersebut menjadi Republik Sekular Turki pada tanggal 25 Oktober 1923. Turki secara tegas menyebut dirinya sebagai negara sekuler. UUD Tuki pasal 1 menegaskan Turki adalah negara (1) Republik, (2) Nasionalis, (3) Kerakyatan, (4) Kenegaraan, (5) Sekularis, (6) Revolusionis.
Setelah itu terjadi reformasi agama besara-besaran. Azan untuk pertama kalinya secara resmi dikumandangkan dalam bahasa Turki Januari 1932. Tahun 1933, keluar keputusan pemerintah bahwa azan dalam bahasa Arab adalah pelanggaran hukum. Tahun 1935, libur mingguan hari Jumat diganti dengan libur mingguan mulai pukul 01.00 hari Sabtu hingga Senin pagi. Mereka juga berusaha mengubah bacaan shalat menjadi bahasa Turki dan merubah masjid menjadi gereja Islam modern, walaupun upaya mereka gagal terlaksana. tahun 1924, kementerian agama dihapuskan dari sekolah-sekolah. 1928, bahasa dan tulisan Arab dan Persia dihapus dan diganti dengan bahasa dan tulisan Latin. Wanita tidak boleh memakai kerudung di tempat umum dan diharuskan mengenakan pakaian ala Barat. Poligami dilarang dan wanita mendapat hak cerai sama dengan laki-laki. Hak untuk pindah agama dijamin undang-undang.
Di Indonesia, sejak awal-awal zaman perjuangan kemerdekaan, pemikiran untuk menjiplak Barat dengan menjadikan Indonesia sebagai negara sekuler juga sudah muncul. Soekarno merupakan orang yang turut memuji langkah-langkah sekularisasi yang dijalankan Attaturk di Turki. Bung Karno menyebut langkah pemisahan agama dari negara oleh Attaturk sebagai langkah ”paling modern” dan “paling radikal”. Menurutnya, dengan tidak adanya kuasa agama dalam negara, umat bisa mempermodern agamanya seperti yang terjadi di Turki.
Sekularisme berperan penting dalam upaya penolakan pemberlakuan syariat Islam dalam konstitusi negara. Badan Penyelidik Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI) dibentuk oleh pemerintah Jepang sebagai persiapan bangsa Indonesia mendapatkan kemerdekaan. Salah satu hal yang penting adalah pembentukan konstitusi negara Indonesia merdeka. Dalam siding-sidang BPUPKI terjadi perdebatan sengit antara dua kelompok, yaitu kelompok nasionalis Islam dan kelompok nasionalis sekuler (golongan kebangsaan). Kelompok nasionalis Islam mengusulkan agar Indonesia merdeka nantinya adalah sebuah negara Islam. Tetapi hal ini ditolak keras oleh kelompok nasionalis secular dan Kristen. Untuk menyelesaikan masalah tersebut, BPUPKI membentuk Panitia Sembilan yang merupakan perwakilan golongan nasionalis Islam dan nasionalis sekuler. Pihak Kristen diwakili oleh AA. Maramis. Pada tanggal 9 Juli 1945, Panitia Sembilan berhasil menyusun suatu Gentlemen’s Agreement, yang dikenal dengan Piagam Jakarta. Ketika itu, Ketua Panitia Sembilan, Ir. Soekarno menyebut Piagam Jakarta adalah “satu kompromis untuk menydahi kesulitan antara kita bersama.
Namun, pada tanggal 11 Agustus 1945, Piagam Jakarta digugat oleh pihak Kristen. Latuharhary, Seorang Kristen dari Maluku, meminta agar “tujuh kata” dalam Piagam Jakarta dihapus dengan alasan akan dapat mengalami kesulitan dalam aplikasinya di berbagai daerah, khususnya ketika berhadapan dengan adat istiadat. Tujuh kata itu berbunyi, “dengan kewajiban menjalankan syariat Islam bagi pemeluknya”. Dari pihak Islam seperti Wachid Hasyim dan Soekarno meminta agar “tujuh kata” tersebut tidak dipersoalkan lagi. Namun, akhirnya pada 18 Agustus 1945, Piagam Jakarta yang sudah disepakati di BPUPKI dihapus, dengan alasan keberatan dari pihak Kristen Bagian Timur. Dr. Muhammad Natsir menyebut peristiwa 18 Agustus 1`945 itu sebagai “Peristiwa ultimatum terhadap Republik Indonesia yang baru saja diplokamirkan”. “Menyambut hari Proklamasi 17 Agustus kita bertahmid. Menyambut hari besoknya, 18 Agustus 1945, kita beristighfar.” Ujar beliau.
Sejumlah tokoh Islam memang menerima perncoretan “tujuh kata” dalam Piagam Jakarta, karena pertimbangan situasional. Mereka berpikir, setelah kemerdekaan mereka akan dapat mengembalikannya lagi melalui pemilihan umum. Mereka kemudian gigih kembali memperjuangkan konsep “Piagam Jakarta” tersebut dalam Majelis Konstituante.
Namun seperti diketahui, usaha kaum muslimin selalu gagal. Bahkan, setelah reformasi tahun 1998, terjadi perubahan besar dalam sikap tokoh-tokoh Islam dalam memperjuangkan syariat Islam seiring dengan derasnya arus sekularisasi dan liberalisasi. Penolakan syariat semakin menjadi, bahkan klaim eksklusif terhadap agama ditolak.
Penolakan terhadap pemberlakuan hukum Islam oleh kaum sekuler didasarkan pada berbagai alasan. Sebagian mereka mengatakan bahwa jika hukum satu agama diterapkan, maka itu merupakan ketidakadilan terhadap pemeluk agama lain. Juga mengganggu konsep unifikasi hukum dalam suatu negara. Penerapan hukum Islam biasanya juga dibenturkan dengan konsepsi pluralitas masyarakat. Jika kewajiban melaksanakan syariat Islam menjadi suatu ketetapan dalam konstitusi, maka –menurut mereka- hal itu akan menimbulkan tuntutan yang sama pada kelompok-kelompok agama lain. Jika hal itu dibiarkan, maka sudah pasti akan ada gesekan-gesekan antarumat beragama yang akan mengancam kesatuan nasional.
Logika semacam itu kurang tepat. Setiap agama sebenarnya memiliki tata aturan dan hukum sendiri-sendiri. Kaum muslimin justru senang jika pihak agama lain juga mengajukan tuntutan agar mereka juga “diwajibkan” melaksanakan ajaran dan hukum agama mereka. anehnya, pihak agama lain justru tidak mengajukan hal itu, dan lebih suka menggunakan hukum sekuler yang jelas-jelas bertentangan dengan hukum-hukum agamanya sendiri.
Jika penerapan hukum Islam dalam kehidupan berbangsa dan bernegara dikatakan sebagai “penindasan” dan “pemaksaan” terhadap kelompok agama lain, apakah penerapan hukum sekuler kolonialis terhadap kaum muslimin bukan merupakan suatu penindasan juga? Bukankah banyak kaum muslimin yang tidak ridla dipaksa mengikuti hukum-hukum kolonial? Tetapi, karena tidak ada pilihan lain, mereka terpaksa mengikutinya. Penerapan hukum-hukum kolonial di negeri-negeri Islam juga dilakukan dengan paksa, tanpa kompromi.
Jika penerapan hukum Islam terhadap masyarakat plurak dikatakan sebagai suatu “penindasan”, maka Rasulullah saw berarti telah melakukan penindasan. Sebab, beliau menerapkan hukum Islam terhadap seluruh masyarakat baik muslim maupun non muslim. Na’udzubiLlahi, jika ada yang berani menyatakan seperti itu.
Logika tersebut juga tidak sesuai fakta sejarah. Islam selalu memberikan kebebasan pada pemeluk agama lain untuk menjalankan ajaran agamanya. Dalam teks Piagam Madinah yang diriwayatkan Ibnu Ishaq dalam al Sirah al Nabawiyyah, Nabi menyatakan, “Sesungguhnya Yahudi Bani ‘Auf adalah satu umat bersama kaum Mukmin”.  Beliau juga menyatakan, “Kaum Yahudi menjalankan agamanya sendiri, sebagaimana kaum Muslim juga menjalankan agamanya sendiri. Ini berlaku bagi orang-orang yang terikat hubungan dengan Yahudi dan diri Yahudi sendiri.”
Abdul Aziz Marwan Gubernur Mesir memberi izin orang-orang Kristen pegawai istana untuk mendirikan gereja di Halwan. Di Andalus Islam, Kristen dan Yahudi hidup damai bertahun-tahun. Seorang specialist sastra Iberia di Universitas Yale, Maria Rosa Mencoal dalam karyanya berjudul The Ornament of the World (2003) berterus terang. Ia menulis “Toleransi merupakan aspek melekat pada masyarakat Andalus dan nasib non-Muslim lebih baik daripada dibawah Kristen Eropah”. Tapi berakhirnya kekuasaan Islam, berakhir pula toleransi itu.
Jika fakta-fakta ini dicermati, istilah menguasai, menaklukkan, mengusir dan bahkan menjajah tidak layak untuk dipakai. Yang lebih cocok, sesuai dengan namanya, Islam ‘menyelamatkan’ atau ‘membebaskan’ bangsa-bangsa tertindas. Maka tidak heran jika Thomas Arnold dalam bukunya The Preaching of Islam menyatakan:” Kemenangan kaum Muslimin berarti kebebasan beragama (bagi non-Muslim), sesuatu yang telah berabad-abad mereka dambakan”. Anehnya Bernard Lewis menganggap toleransi dalam Islam tidak ada asal usulnya.
Fakta­fakta  yang  telah   terungkap  menunjukkan  bahwasekularisasi  yang  berangkat  dari  konsep dan pengalaman sejarah  agama  Kristen. Banyak  yang  menyebutkan, bahwa  sekularisasi  sudah  merupakan keharusan  bagi  dunia, karena kuatnya dominasi Barat. Seharusnya, ilmuwan Muslim kritis saat mengadopsi gagasan­gagasan seperti ini, karena  konsep  sekularisasi memang  bertentangan dengan  konsep Islam. Sejarah Islam juga tidak pernah  mengalami  pengalaman  pahit  dalam  hubungan antara agama  dengan negara,  atau pertentangan  antara agama dengan sains  seperti  dalam sejarah  Kristen. Karena itu, tidak bijak, jika konsep dan gagasan sekularisasi ini kemudian  diadopsi dan  diterapkan  dalam  masyarakat Muslim, yang memiliki pandangan­alam  (Islamic worldview) sendiri.
Politik Pemikiran
Ketika segelintir ulama dan cendekiawan Muslim menolak RUU APP, mereka tidak hanya membenarkan gambar-gambar dan tarian atau goyang tabu (baca porno), atau bicara halal haram, moralitas atau akhlak bangsa. Mereka tengah memasarkan paham relativisme, hedonisme dan kebebasan (liberalisme). Ketika Aminah Wadud menjadi imam Jumat di sebuah gereja di Amerika, ia tidak sedang mengaplikasikan ijtihad Fiqhiyyahnya. Ia tengah memasarkan paham gender dan feminisme. Pernyataan seorang anak muda Muslim “semua agama sama benarnya”, “tidak ada syariat Islam, tidak ada hukum Tuhan”, bukan pernyataan tentang teologi atau syariat Islam, tapi pelaksanaan proyek globalisasi biaya tinggi. Buku berjudul “Fiqih Lintas Agama” bukan buku bacaan tentang Fiqih, tapi buku “pesanan” untuk proyek pluralisme agama.
Betulkah mereka bermaksud begitu? Tentu tidak menurut mereka. Tapi benar menurut pemikiran Barat postmodern. Sebab baginya segala sesuatu harus dipahami berdasarkan motif kepentingan sosial yang didekengi kepentingan kuasa politik (power interest) Pemahaman seperti ini sudah sangat jamak dikalangan aktifis liberal dan postmodernis. Mereka sendiri memahami Islam dengan cara yang sama. Islam bagi mereka adalah produk dari sebuah kepentingan dan kekuasaan. Dan karena itu mereka tidak merasa bersalah jika memahami Islam juga untuk kepentingan tertentu. Itulah yang, kalau boleh saya katakan, politik pemikiran.
Benarkah pemikiran liberal itu sarat kepentingan? Benar ! sebab liberal adalah posmodernis dan posmodernis, tulis Akbar S Ahmed, adalah pendukung pluralisme, anti fundamentalisme, banyak protes terhadap tradisi, dan cara berfikirnya eklektik (Akbar S. Ahmed, Postmodernism). Pemikiran bukan untuk pengetahuan, tapi untuk kepentingan (kekuasaan atau politik). Buktinya dari pemikiran mereka tiba-tiba menggalang komunitas, gerakan sosial dan bahkan menjelma menjadi pressure group. Demi “memasarkan” paham pluralisme agama, misalnya, pertama-tama mereka menolak adanya kebenaran mutlak, yang ada hanya kebenaran relatif. Kepentingannya adalah untuk menghilangkan fundamentalisme dan sikap merasa benar. Inilah politik pemikiran.
Untuk mendekonstruksi institusi agama, diperkenalkanlah teori dualisme dan relativisme: agama dan pemikian keagamaan adalah dua hal yang berbeda. Yang pertama absolut dan yang kedua relatif. Pemikiran ini secara politis ditujukan untuk memberantas sikap-sikap keagamaan ekslusif, fundamentalis dan absolutis. Jika dualisme pemikiran dianut, maka semua pemikiran keagamaan akan menjadi relatif, yang mutlak hanyalah agama dan yang tahu agama hanya Tuhan. Siapapun boleh berfikir tentang apapun dalam soal agama. Tidak ada kebenaran mutlak, tidak ada yang berhak menyalahkan pemikiran orang lain, tidak ada yang bisa mencegah kemunkaran. Tidak ada lembaga atau kelompok yang boleh mengeluarkan fatwa-fatwa keagamaan. Baik buruk, salah benar tergantung kepada individu. Semua bebas. Inilah politik pemikiran.
Untuk mengetahui bagaimana sebuah pemikiran berubah menjadi kebijakan strategis, kita rujuk sebuah buku berjudul Civil Democratic Islam, Partner, Resources and Strategies (2003), ditulis oleh Cheryl Bernard. Dia adalah sosiologis yang pernah novel-novel feminis yang memojokkan ulama dan menyatakan wanita dalam Islam itu tertindas. Jilbab menurutnya diambil dari pemahaman yang salah terhadap al-Qur’an, dan merupakan simbol pemaksanaan dan intimidasi.
Cheryl Bernard menulis ini dibawah proyek penelitian sebuah lembaga swadaya masyarakat di Amerika lembaga itu bernama Rand Corporation. Sebuah lembaga riset yang mengklaim sebagai lembaga independen yang membuat “analisa obyektif dan solusi efektif terhadap persoalan yang dihadapi oleh masyarakat ataupun individu diseluruh dunia”. Lembaga ini dibiayai oleh Smith Richardson Foundation. Di lembaga ini Cheril menulis untuk Divisi Riset Keamanan Nasional (National Security Research Division) dimana suaminya bekerja.
Tujuan dari buku ini adalah untuk membuat suatu laporan dan usulan dalam rangka membantu kebijakan pemerintah Amerika, khususnya dalam soal pemberantasan ekstrimisme, dan pengembangan bidang sosial, ekonomi, politik melalui proses demokratisasi. Yang jelas divisi ini bertugas memberi saran-saran kepada pemerintah Amerika bagaimana menghadapi “fundamentalisme” dalam Islam dan menyebarkan pemikiran liberal ketengah-tengah umat Islam.
Politik pemikiran Cheryl nampak jelas ketika ia mengemukakan suatu strategi yang bertujuan untuk merobah dunia Islam agar sesuai dengan “tatanan” dunia internasional kontemporer, Amerika Serikat dan Barat. Karena tujuannya untuk mem-Barat-kan umat Islam, maka ia hanya memilih elemen-elemen dan nilai-nilai Islam yang sesuai dengan Barat saja untuk dikembangkan. Ini tentu untuk memuluskan jalannya modernisasi, westernisasi dan Amerikanisasi. Bahkan lebih praktis lagi Bernard menyarankan agar Barat memberikan “bantuan” bagi pengembangan nilai-nilai Barat tersebut kedalam pemikiran ummat Islam. Bantuan itu kini telah mengucur ke berbagai LSM-LSM di Indonesia.
Saran-saran strategis yang diberikan Cheryl kepada pemerintah AS adalah sbb: 1) Ciptakan tokoh atau pemimpin panutan yang membawa nilai-nilai modernitas 2) Dukung terciptanya masyarakat sipil (civil society) didunia Islam.3) Kembangkan gagasan Islam warna-warni, seperti Islam Jerman, Islam Amerika, Islam Inggris dst. 4) Serang terus menerus kalompok fundamentalis dengan cara pembusukan person-personnya melalui media masa. 5) Promosikan nilai-nilai demokrasi Barat modern 6) Tantang kelompok tradisionalis dan fundamentalis dalam soal kemakmuran, keadilan sosial, kesehatan, ketertiban masyarakat dsb. 7) Fokuskan ini semua kepada dunia pendidikan dan generasi muda Muslim.
Lebih lanjut Cheryl Bernard memberi masukan tentang langkah praktis yang perlu dilakukan untuk mendukung strategi dan taktik diatas. Kegiatan-kegiatan yang ia usulkan adalah sbb: 1) Rebut atau rusaklah “monopoli” kelompok fundamentalis dan tradisionalis dalam menjelaskan dan menafsirkan Islam. 2) Cari kelompok modernis/liberal yang dapat membuat website yang menjawab berbagai pertanyaan yang berkaitan dengan perilaku harian dan kemudian menawarkan pendapat Muslim modernis tentang hukum-hukumnya. 3) Doronglah cendekiawan Modernis/liberal untuk menulis buku teks dan mengembangkan kurikulum dan berilah bantuan finansial. 4) Gunakan media regional yang populer, seperti radio, untuk memperkenalkan pemikiran-pemikiran Muslim modernis/liberal agar membuat dunia internasional melek tentang apa arti Islam dan dapat berarti apa Islam itu.
Meski disini tidak dapat dihadirkan bukti bahwa Amerika menerima dan melaksankan saran-saran Cheryl Bernard, tapi kita bisa saksikan saran-saran Cheryl Bernard di implementasikan di Indonesia secara perlahan-lahan tapi pasti. Fenomenanya jelas. Muslim pendukung Barat dipromosikan media masa menjadi tokoh baru. Kini istilah civil society sudah sering keluar mulut cendekiawan Muslim dan akrab ditelinga mahasiswa.  Konsep civil society pun dianggap sepadan dengan konsep masyarakat madani.
Modernis dan Liberal Muslim pendukung Barat adalah pembela aliran “sesat”, atau aliran-aliran sempalan. Muslim yang tidak sejalan dengan liberal, sekuler, demokrasi Barat, akan segera dicap teroris, fundamentalis dan anti Barat. LSM-LSM kini tidak lagi berorientasi pada pemberdayaan masyarakat, tapi lebih kepada pembaratan masyarakat.
Proposal proyek untuk “mengekspor” kemiskinan masyarakat ke Negara-negara Barat tidak laku lagi. Sementara proposal untuk menjual paham masyarakat sipil, demokrasi, gender, liberalisme, pluralisme agama, multikulturalisme dan semacamnya tidak lagi mencari bantuan Barat, tapi dicari-cari Barat untuk dibantu. Bahkan yang paling keras mengkritik ajaran Islam dan tradisi pemikiran Islam serta membawa gagasan-gagasan “aneh” kini mudah mendapat dana dan biasiswa dari Barat. Inilah barangkali yang disindir al-Baqarah (Q.S. 2:41, 79, 173), Ali Imran (Q.S. 3:77,187, 199), al-Mai’dah (Q.S. 9:44),  al-Taubah (Q.S. 9:9) dan al-Nahl (Q.S. 16: 95).  sebagai “menjual” ayat-ayat Tuhan dengan harga murah.
Di tengah ujian berat proyek liberalisasi Islam secara besar-besaran ini, kita berdoa, mudah-mudahan   tidak  banyak  kyai,  ulama,  cendekiawan,  atau  mahasiswa,  yang  tergoda oleh  berbagai  bujukan  dan  tipuan  duniawi  yang  ditujukan  untuk  menghancurkan  kekuatan Islam  dari  dalam.  Pemikiran-pemikiran  yang  destruktif  terhadap  Islam,  saat  ini  sering dikemas  dengan  bungkusan  yang  menarik  dan  dijajakan  oleh  pengasong-pengasong  yang piawai dalam bersilat-lidah dan tak jarang mereka juga “berhujjah” dengan al-Qur’an.
Bisa  dikatakan,  liberalisasi  Islam  di  Indonesia,  saat  ini dan sampai kapan pun,  adalah  tantangan  yang terbesar  yang  harus dihadapi  semua  komponen  umat  Islam,  baik  pondok  pesantren,  ormas  Islam,  lembaga  ekonomi  Islam,  maupun  partai  politik  Islam. Sebab, liberalisasi Islam telah menampakkan wajah yang sangat jelas dalam menghancurkan Islam dari asasnya, baik aqidah Islam, al-Qur’an, maupun syariat Islam. 
Tidak  ada  cara  lain  untuk  membentengi  keimanan  kita,  keluarga  kita,  dan  jamaah kita,  kecuali  dengan  meningkatkan  ilmu-ilmu  keislaman  ‘ala Ahlussunnah wal Jama’ah dan  memohon pertolongan  kepada  Allah  SWT.

KREASI SANTRI RIBATH DH ISLAM LIBERAL: KONSEPSI, AKTUALISASI, DAN TANGGAPANNYA (5)

Kesetaraan Gender dan Feminisme

Salah  satu  ide  favorit  kaum  liberal  di  Indonesia  yang  sangat  gencar  disebarkan  di tengah masyarakat dan juga Ormas-ormas Islam adalah paham Kesetaraan Gender. Kucuran dana untuk penyebaran ini sangat luar biasa. 
Disamping paham Sekularisme, Libralisme, dan Pluralisme, salah satu proyek besar yang  kini  dijejalkan  kepada  kaum  Muslim  adalah  proyek  KKG  (Keadilan  dan  Kesetaraan Gender).  Dalam  situs  Kementerian  Negara  Pemberdayaan  Perempuan (http://www.menegpp.go.id),  disebutkan:”Kesetaraan  dan  Keadilan  Gender  (KKG)  sudah menjadi  isu  yang  sangat  penting  dan  sudah  menjadi  komitmen  bangsa-bangsa  di  dunia termasuk  Indonesia  sehingga  seluruh  negara  menjadi  terikat  dan  harus  melaksanakan komitmen tersebut.”
Pengertian paham kesetaraan jender –seperti yang dikutip Nasaruddin Umar dari Women’s Studies Encyclopedia–,  adalah  “konsep  kultural  yang  berupaya  membuat  pembedaan  (distinction)  dalam  hal peran, perilaku, mentalitas dan karakteristik emosional antara laki-laki dan perempuan yang berkembang dalam masyarakat”.
Karena  sudah  menjadi  proyek  global,  maka  umat  Islam  kemudian  dipaksa  untuk mengikutinya.  Ketertinggalan  perempuan  dan  rendahnya  keterlibatan  mereka  dalam  ruang publik  ini  dijadikan  sebagai  sebab  rendahnya  Indeks  Pembangunan  Manusia/Human  Development Index (HDI) suatu negara.   Tahun  1995,    HDI  Indonesia  berada  pada peringkat ke-96. Tahun 1998, peringkat itu turun menjadi 109 dari 174 negara.  Tahun 2003, HDI  Indonesia  menempati  urutan  ke-112  dari  175  negara.  Maka,  untuk  menggenjot peringkat  HDI,  dilaksanakanlah  proyek-proyek  KKG.
Kesetaraan gender merupakan proyek yang gencar dikembangkan oleh kaum feminis. Istilah femina, feminisme, feminist, berasal dari bahasa Latin fei-minus. Fei artinya iman, minus artinya kurang. Jadi “feminus” artinya “kurang iman”. Wanita di Barat, sejarahnya, memang diperlakukan seperti manusia kurang iman. Wajah dunia Barat pun dianggap terlalu macho. Tapi lawan kata feminis, yakni masculine tidak lantas berarti penuh iman. Masculinus atau masculinity sering diartikan sebagai strength of sexuality. Maka dari itu dalam agama, wanita Barat itu korban inquisisi dan di masyakarat jadi korban perkosaan laki-laki. Tak pelak lagi agama dan laki-laki menjadi musuh wanita Barat.
Munculnya  gerakan  feminisme  pada  masyarakat  Barat  tidak  terlepas  dari  sejarah  masyarakat  Barat  yang  memandang  rendah  terhadap  kedudukan perempuan,  dan  kekecewaan  masyarakat  Barat  terhadap  pernyataan  kitab  suci mereka  terhadap  perempuan.  Pakar  sejarah  Barat,    Philip  J.Adler  dalam  buku “World  Civilization” menggambarkan bagaimana kekejaman masyarakat  Barat dalam  memandang  dan  memperlakukan  perempuan.  Sampai  abad  ke  17, masyarakat  Eropah  masih  memandang  perempuan  sebagai  jelmaan  syaitan atau  alat  bagi  syaitan  untuk  menggoda  manusia,  dan  meyakini  bahawa  sejak awal penciptaannya, perempuan merupakan ciptaan yang tidak sempurna.
Dalam  kitab  Bible  terdapat  banyak  ayat  yang  memberikan  pandangan  rendah terhadap kedudukan perempuan, seperti :
“Kejahatan lelaki  lebih  baik  daripada  kebajikan  perempuan  dan  perempuanlah yang mendatangkan malu dan nista” ( Sirakh 42 : 14 )
“Setiap  keburukan  hanya  kecil  dibandingkan  dengan  keburukan  perempuan, mudah-mudahan ia ditimpa nasib orang yang berdosa” ( Sirakh 25 :19)
“Darjatnya (perempuan)  di  bawah  lelaki  dan  harus  tunduk  seperti  tunduknya manusia kepada Tuhan” (Efesus 5 : 22 )
“Permulaan  dosa  dari  perempuan  dan  kerana  dialah  kita  semua  mesti  mati” (Sirakh 25 : 4)
Hingga abad ke-18 pun dimana gerakana penentangan gereja terjadi dimana-mana, posisi wanita tetap saja dianggap ‘orang pinggiran’. Sebuah ungkapan popular ketika itu, “Berhati-hatilah, jika anda berada di depan seorang wanita, berhati-hatilah jika anda berada di belakang keledai, dan berhati-hatilah jika anda berada di depan dan di belakang pendeta.” Imanuel  Kant menyatakan  bahwa,  “Perempuan  mempunyai  perasaan  yang  kuat  tentang kecantikan dan keanggunan dan sebagainya, tetapi kurang dalam bidang kognitif dan tidak dapat memutuskan tindakan moral“
Karena terlalu lama ditindas, maka kaum feminis bergerak untuk menentang penindasan. Seperti liberalisme, tuntutan feminis liberal adalah hak ekonomi dan kemudian hak politik. Dalam bukunya A Vindication of the Rights of Women, Mary Wollstonecraft menyimpulkan di abad ke 18, wanita mulai kerja luar rumah karena didorong oleh kapitalisme industri. Awalnya untuk memenuhi kebutuhan jasmani (perut), tapi berkembang menjadi ambisi sosial. Taylor dalam Enfranchisement of Women (1851) malah memprovokasi agar perempuan memilih jadi ibu atau wanita karier.
Tapi berkarier bukan tanpa masalah. Para feminis itu ternyata berkarier di luar rumah, tapi di rumah ia mempekerjakan pembantu wanita. Taylor sendiri begitu. Bagi feminis liberal, berkarier apapun wanita harus dibela. Bahkan, menurut Rosemarie Putnam Tong dalam Feminist Thought-nya feminis liberal, terang-terangan membela “karier” wanita pelacur dan ibu yang mengkomersialkan rahimnya.
“Semua berhak melakukan semua dan harus dibela,” begitu kira-kira doktrin. Membela wanita berarti membela wanita yang melecehkan dirinya sekalipun. Memberdayakan wanita berarti membenci laki-laki. Aroma adagium barbar masih kental, “membela diri artinya menyakiti orang lain”. Biar wirang asal menang. Begitulah, gerakan ini memang tanpa iman.
Namun, nampaknya feminisme liberal atau Marxis masih dianggap kurang nendang. Mereka perlu lebih radikal lagi. Bahasanya bukan lagi reformasi, tapi revolusi. Fokusnya tidak lagi menuntut hak sipil, tapi memberontak sistim seks/gender yang opressif. Pembagian hak dan tanggung jawab seksual serta reproduksi wanita dan laki-laki, dianggap tidak adil. Bible pun tak luput dari kritikan. Kristen itu menindas perempuan, kata Stanton dalam The Women’s Bible.
Selain itu perempuan sering diposisikan sebagai alat pemuas lelaki. Inilah sebabnya feminis radikal lalu marah. “Tanpa lelaki wanita dapat hidup dan memenuhi kebutuhan seksnya,” begitulah kemarahan mereka. Lesbianisme pun dianggap keniscayaan. Padahal dalam The Vatican Declaration on Sexual Ethics tahun 1975 diputuskan bahwa perilaku lesbian dan homoseks “are intrinsically disordered and can in no case be approved of.” Paus Benediktus XVI pada malam Tahun Baru 2006, mengutuk hubungan seks sejenis itu. Tapi apa arti agama jika iman tidak di dada. Begitulah, gerakan ini memang tanpa iman.
Feminisme adalah gerakan nafsu amarah. Pemicunya adalah penindasan dan ketidakadilan. Obyeknya adalah laki-laki, konstruk sosial, politik dan ekonomi. Ketika diimpor ke negeri ini, ia berwajah gerakan pemberdayaan wanita. Bagus. Tapi nilai, prinsip, ide dan konsep gerakannya masih orisinal Barat. Buktinya nafsu amarah lesbianisme ikut diimpor dan dijual bagai keniscayaan, dibela dengan penuh kepercayaan, dan dijustifikasi dengan ayat-ayat keagamaan.
Demikianlah, bahwa para pegiat KKG Indonesia berjalan selaras dengan revolusi kaum feminis di Barat yang ingin keluar dari ‘dominasi’ laki-laki. Kaum  pegiat  KKG  ini  juga  sangat  rajin  dalam  menggugat  konsep  poligami,  sebab konsep  ini  dinilai  bertentangan  dengan  konsep  ”kesetaraan”  laki-laki  dan  perempuan. Beberapa  diantaranya  bahkan  secara  terbuka  lebih  mendukung  perzinahan  daripada poligami.  Seorang  aktivis  feminis,  Debra  Yatim,  saat  diwawancara  majalah  Tiara  (179, 23/3/1997), menyatakan: ”Saya  lebih  setuju lembaga perkawinan dilenyapkan  sama sekali. Open  marriage  jauh  lebih  sehat  daripada  poligami.  Lebih  bagus  kita  kenalan,  jatuh  cinta, hidup  bersama,  membina  suatu  rumah  tangga  sampai  kita  tidak  cocok  lagi.  Mau  sampai berapa tahun pun, kalau kita nggak cocok, kita cari lagi partner lain yang cocok…”
Banyak pula feminis pegiat KKG yang ingin membuang jauh-jauh istilah “pengabdian kepada suami”. Karena  ideologi  kebencian  pada  laki-laki  dan  menganggap  peran  Ibu  rumah tangga sebagai ”penjara perempuan”,  maka banyak pegiat KKG yang menggugat apa yang mereka sebut sebagai dominasi laki-laki. Tahun 2004,  Pusat Studi Wanita UIN Yogyakarta, menerbitkan  buku  berjudul  Isu-Isu  Gender  dalam  Kurikulum  Pendidikan  Dasar  dan Menengah yang menulis pada sampul belakangnya: 
“Sudah  menjadi  keprihatinan  bersama  bahwa  kedudukan  kaum  perempuan  dalam sejarah peradaban dunia, secara umum, dan peradaban Islam secara khusus, telah dan  sedang  mengalami  penindasan.  Mereka  tertindas  oleh  sebuah  rezim  laki-laki: sebuah rezim yang memproduksi pandangan dan praktik patriakhisme dunia hingga saat ini.”
Bahkan,  bagi  sebagian  aktivis  KKG,  lesbianisme  dianggap  sebagai  sesuatu  bentuk kesetaraan yang ideal, dimana perempuan benar-benar bebas dari dominasi laki-laki. Gadis Arivia,  seorang  pegiat  KKG,  dalam  artikelnya  yang  berjudul  ”Etika  Lesbian”  di  Jurnal Perempuan (Maret, 2008), menulis: ”Etika lesbian merupakan konsep perjalanan kebebasan yang  datang  dari  pengalaman  merasakan  penindasan.  Etika  lesbian  menghadirkan posibilitas-posibilitas  baru.  Etika  ini  hendak  melakukan  perubahan  moral  atau  lebih  tepat revolusi  moral.”    Lebih  jauh,  Gadis  Arivia  menulis  tentang keindahan  hubungan  pasangan sesama  perempuan: ”Cinta antar  perempuan tidak mengikuti kaidah atau  norma  laki-laki.
Untuk memuluskan pengembangan paham equality (kesetaraan) gender kaum feminis liberal, mereka berupaya mendapatkan legalisasi proyek tersebut dalam konstitusi negara. Hal ini terbukti pada kasus RUU KKG. Harian Republika (Jumat, 16/3/2012) memberitakan bahwa Rancangan Undang-undang Keadilan dan Kesetaraan Gender (RUU KKG) sudah dibahas secara terbuka di DPR. Suara pro-kontra mulia bermunculan.
Jika menelaah Draf RUU KKG, maka sepatutnya kaum muslimin menolak draf RUU ini. Sebab, secara mendasar berbagai konsep dalam RUU tersebut bertentangan dengan konsep-konsep dasar ajaran Islam. Ada sejumlah alasan yang mengharuskan kita sebagai muslim dan sebagai orang Indonesia menolak RUU KKG ini.
Di  ketentuan  umum    Pasal  1,  tertera:  “Kesetaraan  gender adalah kesamaan kondisi dan posisi bagi perempuan dan laki-laki untuk  mendapatkan  kesempatan  mengakses,  berpartisipasi, mengontrol  dan  memperoleh  manfaat  pembangunan  di  semua bidang  kehidupan”.  Sedang  “Keadilan  gender  adalah  suatu keadaan  dan  perlakuan  yang  menggambarkan  adanya  kesamaan hak  dan  kewajiban  perempuan  dan  laki-laki  sebagai  individu, anggota keluarga, masyarakat dan warga Negara”.
Difinisi  tersebut  memandang  Islam  diskriminatif  terhadap perempuan.  Aturan  syari‟ah  seperti  terkait  pakaian,  larangan perempuan  menjadi  pemimpin  Negara,  tanggung  jawab  keibuan, relasi suami istri, perkawinan, perwalian, nusyuz, ketentuan waris dan  lainnya  dianggap  diskriminasi  dan  tak  adil  atas  perempuan. Islam  dilekatkan  bias  patriarkhis,  bahkan  banyak  ayat  dan  hadits dituduh  bermuatan  misogynist  (membenci  wanita).  Spirit  RUU ini pada hakikatnya menjadi gugatan terhadap Islam.
Dalam pasal 1 juga disebutkan, “Gender adalah pembedaan peran dan tanggung jawab laki-laki dan perempuan yang merupakan hasil konstruksi sosial budaya yang sifatnya tidak tetap dan dapat dipelajari, serta dapat dipertukarkan menurut waktu, tempat, dan budaya tertentu dari satu jenis kelamin ke jenis kelamin lainnya.”
Definisi gender seperti itu jelas keliru. Sebab, menurut konsep Islam, tugas, peran, dan tanggung jawab perempuan dan laki-laki dalam keluarga maupun di masyarakat didasarkan pada wahyu Allah, dan tidak semuanya produk budaya. Kewajiban laki-laki sebagai pencari nafkah, tidak bolehnya wali dan khatib dari wanita, hukum waris, hak talak dan imamah hanya pada laki-laki, batasan aurat yang berbeda antara laki-laki dan wanita, dan lain-lain ditetapkan oleh wahyu yang bersifat universal dan kekal hingga akhir zaman dan lintas budaya dan perkara yang lazim diketahui dalam agama (ma’lum fi al din bi al dlarurah). Perombakan terhadapnya merupakan bentuk pembangkangan terhadap hukum Allah.
Di pasal 4:1 disebutkan, “Diskriminasi adalah segala bentuk pembedaan, atau pembatasan, dan segala bentuk kekerasan yang dibuat atas dasar jenis kelamin tertentu, yang mempunyai pengaruh atau tujuan untuk mengurangi atau menghapuskan pengakuan, penikmatan manfaat atau penggunaan hak asasi manusia dan kebebasan pokok di bidang politik, ekonomi, sosial, budaya, sipil, atau bidang lainnya terlepas dari status perkawinan, atas dasar persamaan antara perempuan dan laki-laki.”
RUU  ini  melarang  perbuatan  yang  memiliki  unsur pembedaan,  pembatasan,  dan/atau  pengucilan  atas  dasar  jenis kelamin tertentu (Bab VIII Pasal 67). Siapa saja yang melaksanakan ketentuan syari‟ah dalma melaksanakan waris, aqiqoh, kesaksian, melarang  perempuan,  menjadi  khatib  Jum‟at,  wali  nikah,  imam shalat  bagi  makmum  laki-laki,  dan  melarang  nikah  beda  agama maupun sesame jenis dan sebagainya berarti telah melanggar Bab VIII, pasal 67 dan Bab III pasal 12 RUU KKG ini.
Pasal  20  mencantumkan  administratif  atau  pemberian disinsentif  bagi  pihak  yang  mencederai  komitmen  Pengarus Utamaan Gender (PUG). Bahkan pasal 21 ayat 2 menentukan bila terjadi  tindak  pidana  yang  dilatar  belakangi  diskriminasi  gender, pidananya  dapat  ditambah  sepertiga  dari  ancaman  maksimum pidana  yang  diancamkan  dalam  KUHP  dan  UU  lainnya.  Lebih parah lagi, pasal 70 RUU ini memberikan ancaman pidana penjara bagi setiap orang yang sengaja melanggar pasal 67. Dengan pasal ini,  penjara  nantinya  akan  terpenuhi  oleh  kaum  muslimin  yang melaksanakan  ketentuan  syari‟ah  yang  dianggap  tidak  sejalan dengan ide gender dan KKG yang diusung RUU ini.
Konsep kesetaraan gender  yang diusung kaum feminis dijadikan sebagai ukuran keberhasilan pembangunan. Ukuran keberhasilan  pembangunan  nasional  yang  diukur  oleh  UNDP  adalah  GDI  (Gender Development  Index),  yaitu  kesetaraan  antara  laki-laki  dan  perempuan  dalam  usia  harapan hidup, pendidikan,  jumlah  pendapatan,  serta  GEM (Gender Empowerment Measure),  yang mengukur  kesetaraan  dalam  partisipasi  politik  dan  beberapa  sektor  lainnya.
Tapi benarkah peran wanita dapat menjadi neraca pembangunan? Ternyata tidak. Korelasi antara equality dan kemajuan pembangunan tidak terbukti. Prosentase anggota perlemen wanita di AS misalnya hanya 10,3%, di Jepang 6,7%, di Singapura hanya 3,7%, sedangkan Indonesia 12,2%, masih jauh di bawah target pemerintah yaitu 30%. Meski begitu Indonesia juga tidak lebih maju dari AS, Singapura dan Jepang dalam semua bidang, khususnya pembangunan ekonomi.
Maka, konsep kesetaraan gender kaum feminis ini jelas sangat merugikan bagi kaum muslimin karena menghalang-halangi pelaksanaan syariat. Pada akhirnya, seseorang harus memilih untuk menempatkan dirinya: apakah dia rela menerima Allah sebagai Tuhan yang diakui kedaulatannya untuk mengatur hidupnya? Seorang muslim, pasti tidak mau mengikuti jejak Iblis, yang hanya mengakui keberadaan Allah sebagai Tuhan, tetapi menolak diatur olehNya. Na’udzubillahi min dzalika.

KREASI SANTRI RIBATH DH ISLAM LIBERAL: KONSEPSI, AKTUALISASI, DAN TANGGAPANNYA (4)

Dekonstruksi Kitab Suci

Hampir satu abad lalu, para orientalis dalam bidang studi al-Qur’an bekerja keras untuk  menunjukkan bahwa al-Qur’an adalah kitab bermasalah sebagaimana Bible. Mereka tidak pernah berhasil. Tapi, anehnya, kini, imbauan itu sudah diikuti begitu banyak manusia dari  kalangan Muslim sendiri, termasuk yang ada di Indonesia. Sesuai paham pluralisme agama,  maka semua agama harus didudukkan pada posisi yang sejajar, sederajat, tidak boleh ada  yang  mengklaim lebih tinggi, lebih benar, atau paling benar sendiri. Begitu juga dengan pemahaman tentang Kitab Suci. Tidak boleh ada kelompok agama yang mengklaim hanya kitab sucinya saja yang suci. 
Maka, proyek liberalisasi Islam tidak akan lengkap jika tidak menyentuh aspek kesucian  al-Qur’an. Mereka berusaha keras untuk meruntuhkan keyakinan kaum Muslim, bahwa al-Qur’an adalah Kalamullah, bahwa al-Qur’an adalah satu-satunya Kitab Suci yang suci, bebas  dari kesalahan. Mereka mengabaikan bukti-bukti al-Qur’an yang menjelaskan tentang  otentisitas  al-Qur’an,  dan  kekeliruan  dari  kitab-kitab  agama  lain.  Ulil  Abshar Abdalla, mantan Koordinator Jaringan Islam Liberal menulis di Harian Jawa Pos, 11 Januari 2004: “Tapi, bagi saya, all scriptures are miracles, semua kitab suci adalah mukjizat. (Jawa Pos, 11 Jan. 2004).
Kaum Islam Liberal menggulirkan asumsi bahwa al Quran adalah buatan Muhammad dan mempunyai  kedudukan sama dengan kitab suci lainnya. Aktivis Islam Liberal, Dr.  Luthfi Assyaukanie berusaha membongkar konsep dasar Islam tentang al-Qur’an: 
“Sebagian besar kaum Muslim meyakini bahwa AlQuran dari halaman pertama hingga  terakhir merupakan kata-kata Allah yang diturunkan kepada Nabi Muhammad secara  verbatim, baik kata-katanya (lafdhan) maupun maknanya (ma’nan). Kaum Muslim juga  meyakini bahwa Alquran yang mereka lihat dan baca hari ini adalah persis sama seperti yang ada pada masa Nabi lebih dari seribu empat ratus tahun silam. Keyakinan semacam itu sesungguhnya lebih merupakan formulasi dan angan-angan  teologis  (al-khayal  al-dini) yang dibuat oleh para ulama sebagai bagian dari formalisasi doktrin-doktrin Islam. Hakikat dan sejarah penulisan AlQuran sendiri sesungguhnya penuh dengan berbagai nuansa yang delicate (rumit), dan tidak sunyi dari perdebatan, pertentangan, intrik (tipu daya), dan rekayasa.” (lihat: Abd. Muqsith Ghazali (ed), Ijtihad Islam Liberal, hal.1)
Sumanto  Al-Qurtubhy, alumnus Fakultas Syariah IAIN Semarang menulis:
“Dengan demikian, wahyu sebetulnya ada dua: “wahyu verbal” (“wahyu eksplisit”  dalam bentuk redaksional bikinan Muhammad) dan “wahyu non verbal” (“wahyu implisit” berupa konteks sosial waktu itu).” (Jurnal Justisia Fakultas Syariah IAIN Walisongo Semarang, edisi 27/2005)
Pendapat yang menyamakan al­Qur’an dengan teks­teks lain tidaklah tepat. Sebab, al Qur’an bukanlah kata­kata Muhammad tetapi bersumber dari Allah. Al-Qur’an adalah wahyu Allah swt yang menjadi petunjuk (hudan) dan rahmat dan kabar  gembira bagi kaum Muslimin, (QS. 16:89),  yang mengeluarkan manusia dari kegelapan  menuju cahaya. (QS. 14:1) Al-Qur’an bukan perkataan Muhammad saw, (QS. 69:44-46) bukan juga perkataan  seorang penyair, (QS. 37:36) tukang tenun, (QS. 52:29) atau orang gila. (QS.15:6) Sekalipun  manusia dan jin berkumpul, mereka tidak akan bisa membuat al-Qur’an. (QS. 17:88)
Al Quran juga dipandang sebagai produk budaya Arab Jahiliyyah yang diberi legitimasi sebagai agama untuk mengukuhkan hegemoni kaumnya. Nasr Hamid Abu Zayd, seorang intelektual asal Mesir, berpendapat bahwa al Quran adalah “produk budaya” (muntaj tsaqafy). Artinya, teks al Quran, kata dia, terbentuk dalam realitas dan budaya, selama lebih dari 20 tahun. Namun, al Quran juga mengubah budaya, karena ia juga produsen budaya (muntij li al tsaqafah). Al Quran menjadi teks yang hegemonik dan menjadi rujukan bagi teks yang lain. (Mafhum al Nash: Dirasah fi ‘Ulum al Quran, Beirut: 1994)
Selain Nasr, Mohammed Arkoun, seorang guru besar dalam pemikiran Islam di  Universitas Sorbon, Perancis, misalnya berpendapat Mushaf Utsmani tidak lain hanyalah hasil sosial dan  budaya  masyarakat  yang  dijadikan  “tak  terfikirkan”  disebabkan  semata-mata kekuatan dan pemaksaan penguasa resmi.  Menurut  Mohammed  Arkoun,  konsep  al-Qur’an  merupakan  hasil  rumusan  tokoh-tokoh  historis,  yang  mengangkat  statusnya menjadi  kitab  suci. (Mohammed Arkoun, “Rethinking Islam Today” dalam Mapping Islamic Studies: Genealogy, Continuity and Change, editor Azim Nanji (Berlin: Mouton de Gruyter, 1997), 237)
Pendapat Nasr Hamid problematis. Kapan al Quran menjadi produk budaya dan kapan ia menjadi produsen budaya? Pendapat bahwa al Quran adalah produk budaya bangsa Arab waktu diturunkannya adalah keliru dan ga’ nyambung, karena ketika diturunkan secara bertahap (gradual), al Quran ditentang dan menentang budaya Arab Jahiliyyah. Jadi, Al Quran bukanlah produk budaya, karena al Quran bukanlah hasil kesinambungan dari budaya yang ada. Al Quran justru membawa budaya baru dengan mengubah budaya yang ada. Ia produsen budaya dari Allah Ta’ala sebagai rahmat bagi makhluk-Nya.
Bahasa al Quran juga bukanlah teks bahasa Arab biasa. Menurut Prof. Naquib al Attas, bahasa Arab al Quran adalah bahasa Arab yang kosa katanya telah di-Islam-kan maknanya, diberi makna baru yang tidak ada pada zaman Jahiliyyah. Kata ‘karamah’, misalnya, yang sebelumnya bermakna ‘memiliki banyak anak, harta, dan karakter maskulin’, diubah al Quran dengan memasukkan unsur ketakwaan (inna akramakum ‘indaLlahi atqakum, QS. 49:13). Kata ‘ikhwah’, yang dulunya berkonotasi kekuatan dan kesombongan, diubah maknanya oleh al Quran dengan gagasan persaudaraan yang dibangun atas dasar keimanan yang lebih tinggi dari persaudaraan darah. (lihat Wan Mohd Nor Wan Daud, The Educational Philosophy and Practice of Syed Muhammad Naquib al Attas, Kuala Lumpur: ISTAC, 1998)
Kritik kalangan Islam Liberal terhadap adanya hegemoni kuasa Arab Quraisy dalam Al Quran ditarik benang lurus hingga zaman kodifikasi khalifah Abu Bakr dan Utsman ra. Menurut mereka, standardisasi mushaf yang dilakukan oleh Abu Bakr dan Utsman hanyalah merupakan upaya klan Quraisy untuk melanggengkan kuasanya atas bangsa Arab dan Islam secara umum.
Jurnal Justisia Fakultas Syariah, Edisi 23 Th XI, 2003, memuat tulisan yang secara  terang-terangan menyerang al-Qur’an dan sahabat Nabi Muhammad saw:
“Namun, setelah Muhammad wafat, generasi pasca Muhammad terlihat tidak kreatif.  Jangankan meniru kritisisme dan kreativitas Muhammad dalam memperjuangkan perubahan  realitas zamannya, generasi pasca-Muhammad tampak kerdil dan hanya mem-bebek pada apa saja yang asalkan itu dikonstruk Muhammad. Dari sekian banyak daftar ketidakkreatifan generasi pasca-Muhammad, yang paling mencelakakan adalah pembukuan Qur’an dengan  dialek Quraisy, oleh Khalifah Usman Ibn Affan yang diikuti dengan klaim otoritas  mushafnya sebagai mushaf terabsah dan membakar (menghilangkan pengaruh) mushaf-mushaf milik sahabat lain. Imbas dari sikap Utsman yang tidak kreatif ini adalah terjadinya  militerisme nalar Islam untuk tunduk/mensakralkan Qur’an produk Quraisy. Karenanya,  wajar jika muncul asumsi bahwa pembukuan Qur’an hanya siasat bangsa Quraisy, melalui Usman, untuk mempertahankan hegemoninya atas masyarakat Arab [dan Islam].”
Menganggap pembakuan bacaan zaman khalifah Abu Bakr dan Utsman ra sebagai bentuk pengukuhan hegemoni Arab Quraisy adalah sangat keliru dan tidak beradab. Abu Bakr melakukan kompilasi al Quran didorong oleh banyaknya qurra’ (para penghafal al Quran) yang wafat di medan perang Yamamah tahun 11-12 H. diperkirakan sekitar 600-700 kaum muslimin wafat dalam perang tersebut, 70 diantaranya adalah para qurra’. Dalam sebuah riwayat disebutkan bahwa qurra’ yang tersisa tinggal 4, ada yang mengatakan 7, sehingga penghimpunan al Quran tertulis menjadi keniscayaan.
Lalu pada masa selanjutnya, khalifah Utsman bin ‘Affan melakukan kodifikasi Al Quran dalam satu mushaf atas rekomendasi Hudzaifah bin al Yaman untuk mempersatukan bacaan kaum muslimin. Hal ini disebabkan adanya perbedaanbacaan diantara kaum muslimin dan mulai munculnya fanatisme buta terhadap satu bacaan yang berakibat saling berkompetisi satu sama lain dan munculnya bacaan-bacaan Al Quran yang tidak shahih sehingga dikhawatirkan munculnya perpecahan umat Islam tentang Al Quran sebagaimana terjadi pada kaum Yahudi dan Nashrani. Lalu khalifah Utsman membuat tim kodifikasi yang terdiri 4 orang yaitu Zaid bin Tsabit sebagai ketua tim, Abdullah bin Zubair, Sa’d bin Abi Waqqash, dan Abdurrahman bin al Harits. Zaid dipilih sebagai ketua tim mempertimbangkan pengalaman beliau sebagai sekretaris Nabi dalam menulis Al Quran dan keterlibatannya dalam pengumpulan Al Quran pada zaman khalifah Abu Bakr.
Dalam kodifikasi Al Quran ini ada dua rujukan standar dalam menyeleksi bacaan yang benar yaitu bacaan yang terdapat dalam mushaf Abu Bakr dan bacaan yang telah diakui dan dipersaksikan oleh minimal dua Hafizh yang adil. Maka tersusunlah Al Quran dalam satu mushaf bernama “Mushaf Imam” yang disepakati oleh kaum muslimin dan tidak ada yang menentang, termasuk Ibn Mas’ud. Meski beliau juga memiliki mushaf khusus, beliau tidak menentang mushaf hasil ijma’ para shahabat tersebut. Mushaf Imam lalu dikopi menjadi belasan eksmplar lalu dikirim ke kota-kota besar seperti Kufah, Basrah, dll.
Para shahabat saat itu menerima dengan senang hati keputusan khalifah Utsman untuk melakukan standardisasi. Menurut Mush’ab bin ‘Umair, tak ada seorangpun dari Muhajirin, Anshar, dan orang-orang yang berilmu yang mengingkari perbuatan khalifah Utsman. Shahabat Ali pun menyatakan ketika khalifah ‘Utsman membakar mushaf-mushaf, “Seandainya ia belum melakukannya, maka aku yang membakarnya.”
Maka, anggapan penulisan Al Quran sebagai pengukuhan hegemoni Arab merupakan pernyataan yang tidak beradab dan tidak sesuai fakta sejarah.
Selain permasalahan otentisitas al Quran, dalam melakukan penafsiran terhadap al Quran kalangan Islam Liberal menggugat penafsiran para ulama yang dianggap beku dan ketinggalan zaman. Nasr  Hamid berpendapat studi al-Qur’an tidak memerlukan metode yang khusus. Jika metode khusus dibutuhkan, maka hanya sebagian manusia saja yang  memiliki kemampuan yang bisa memahaminya. Manusia biasa akan tertutup untuk  memahami  teks-teks agama. Nasr Hamid menyalahkan penafsiran yang telah dilakukan oleh  mayoritas mufasir yang selalu menafsirkan al-Qur’an dengan muatan metafisis Islam. Dalam pandangan Nasr Hamid, metodologi seperti itu tidak akan melahirkan sikap ilmiah. Disebabkan status al-Qur’an sama dengan teks-teks yang lain, maka Nasr Hamid meyatakan  siapa saja bisa mengkaji al-Qur’an. Nasr Hamid menyatakan: “Saya mengkaji al-Qur’an  sebagai sebuah teks berbahasa Arab agar dapat dikaji baik oleh kaum Muslim, Kristen maupun Ateis.” (Nasr Hamid Abu Zayd, Mafhum al-Nash, hal. 24)
Pemisahan tafsir al Quran dengan metafisis (keimanan) adalah tidak tepat. dalam  menafsirkan al-Qur’an, keimanan seseorang merupakan syarat. Ini merupakan metode yang  khusus bagi yang ingin menafsirkan al-Qur’an. Al-Tabari, misalnya, menegaskan bahwa  syarat utama seorang penafsir adalah akidah yang benar dan komitmen mengikut sunnah. Orang yang akidahnya cacat tidak bisa dipercayai untuk mengemban amanah yang berkaitan  dengan urusan keduniawian apalagi urusan keagamaan.
Studi-studi kritis terhadap al Quran telah dikembangkan di Perguruan Tinggi. Nasr Hamid  yang terkenal dengan teorinya “al-Qur’an merupakan produk budaya Arab (muntaj tsaqafi) sudah memiliki sejumlah murid yang kini mengajar di sejumlah perguruan tinggi  Islam di Indonesia. Salah satu murid yang dibanggakannya adalah Dr. Nur Kholish Setiawan, yang baru saja menerbitkan disertasinya dengan  judul “Al-Qur’an Kitab Sastra Terbesar”. Buku Arkoun, Rethinking Islam, bahkan dijadikan buku rujukan utama dalam mata kuliah  “Kajian Orientalisme terhadap al-Qur’an dan Hadits” di Program Tafsir Hadits Fakultas  Ushuluddin UIN Jakarta. Padahal, dalam buku ini, Arkoun secara terang-terangan  menyesalkan, mengapa para cendekiawan Muslim tidak mau mengikuti para orientalis  Yahudi dan Kristen yang telah melakukan kritik terhadap Bible. Kajian hermeneutika sebagai metode tafsir pengganti ilmu tafsir klasik pun sudah menjadi mata kuliah wajib di Program Studi Tafsir Hadits UIN Jakarta dan sejumlah perguruan tinggi Islam lainnya. Padahal,  metode ini jelas-jelas berbeda dengan ilmu tafsir dan bersifat dekonstruktif terhadap al-Qur’an dan syariat Islam.
Kaum Muslim perlu merenungkan masalah ini dengan serius. Jika al-Qur’an dan ilmu tafsir al-Qur’an dirusak dan dihancurkan, apa lagi yang tersisa dari Islam?
Penghancuran Syariat Islam
Seperti disebutkan oleh Dr. Greg Barton, salah satu program liberalisasi Islam di  Indonesia adalah ‘’kontekstualisasi ijtihad’’. Para tokoh liberal biasanya memang  menggunakan metode ‘kontekstualisasi’ sebagai salah satu mekanisme dalam merombak  hukum Islam. Sebagai contoh, salah satu hukum Islam yang banyak dijadikan objek  liberalisasi adalah hukum dalam bidang keluarga. Misalnya, dalam masalah perkawinan antar-agama, khususnya antara Muslimah dengan laki-laki non-Muslim.
Misalnya, dalam soal perkawinan antar-agama, buku Fiqih Lintas Agama menulis:
“Soal pernikahan laki-laki non-Muslim dengan wanita Muslim merupakan wilayah ijtihadi dan terikat dengan konteks tertentu, diantaranya konteks dakwah Islam pada saat itu. Yang mana jumlah umat Islam tidak sebesar saat ini, sehingga pernikahan  antar agama merupakan sesuatu yang terlarang. Karena kedudukannya sebagai hukum  yang lahir atas proses ijtihad, maka amat dimungkinkan bila dicetuskan pendapat baru, bahwa wanita Muslim boleh menikah dengan laki-laki non-Muslim, atau pernikahan  beda agama secara lebih luas amat diperbolehkan, apapun agama dan aliran kepercayaannya…”
Padahal, perlu dicatat, larangan muslimah  menikah dengan laki-laki non-Muslim sudah menjadi Ijma’ ulama dengan dalil-dalil yang sangat meyakinkan (seperti QS 60: 10). Buku  Ensiklopedi  Ijma’ yang diterjemahkan oleh KH Sahal Mahfudz juga menyebutkan bahwa soal  ini termasuk masalah Ijma’ yang tidak menimbulkan perbedaan di kalangan kaum Muslim.  Memorandum Organisasi Konferensi Islam (OKI) menyatakan, “Perkawinan tidak sah kecuali atas persetujuan kedua belah pihak, dengan tetap memegang teguh keimanannya  kepada Allah bagi setiap muslim, dan kesatuan agama bagi setiap muslimat.”
Demikianlah cara kaum liberal dalam merombak hukum Islam, dengan mengubah metodologi ijtihad yang lebih menekankan aspek konteks, ketimbang makna teks itu sendiri. Gagasan-gagasan mereka bisa berlangsung  sangat  liar  tanpa  batasan  dan  teori  yang  jelas. Mereka bisa menyusun teori konteks itu sekehendak hati mereka. Itu bisa dilihat dalam Counter Legal Draft Kompilasi Hukum Islam yang disusun oleh Tim Pangarusutamaan Gender Departemen Agama –yang telah dibubarkan– garapan Prof. Dr. Musdah Mulia dkk.  Ada beberapa gagasan konsep hukum yang  sangat kontroversial :
Pertama, asas perkawinan adalah monogami (pasal 3 ayat 1), dan perkawinan di luar  ayat  1 (poligami) adalah tidak sah dan  harus dinyatakan batal secara hukum (pasal 3 ayat 2). Kedua, batas umur calon suami atau calon istri minimal 19 tahun (pasal 7 ayat 1). Ketiga,  perkawinan beda agama antara muslim atau muslimah dengan orang non muslim disahkan  (pasal  54). Keempat, calon suami atau istri dapat mengawinkan dirinya sendiri (tanpa wali),  asalkan calon suami atau istri itu berumur 21 tahun, berakal sehat, dan rasyid/rasyidah. (pasal 7 ayat 2). Kelima, ijab-qabul boleh dilakukan oleh istri-suami atau sebaliknya suami-istri.  (pasal 9). Keenam, masa iddah bukan hanya dimiliki oleh wanita tetapi juga untuk laki-laki.  Masa iddah bagi laki-laki adalah seratus tiga puluh hari (pasal 88 ayat 7(a)). Ketujuh, talak  tidak dijatuhkan oleh pihak laki-laki, tetapi boleh dilakukan oleh suami atau istri di depan  Sidang Pengadilan Agama (pasal 59).
Jadi, ketika hukum-hukum Islam yang sudah qath’i dirombak, maka terbukalah pintu untuk membongkar seluruh sistem nilai dan hukum dalam Islam. Dari IAIN Yogyakarta,  seorang jebolannya yang bernama Muhidin M. Dahlan, pernah menulis buku memoar berjudul “Tuhan Izinkan Aku Menjadi Pelacur” yang mengkritik hukum pernikahan dan mendukung perzinaan. Ia menulis:
Pernikahan yang dikatakan sebagai pembirokrasian seks ini, tak lain tak bukan adalah  lembaga yang berisi tong-tong sampah penampung sperma yang secara anarkis telah  membelah-belah manusia dengan klaim-klaim yang sangat menyakitkan. Istilah  pelacur dan anak haram pun muncul dari rezim ini. Perempuan yang melakukan seks  di luar lembaga ini dengan sangat kejam diposisikan sebagai perempuan yang sangat  hina, tuna, lacur, dan tak pantas menyandang harga diri. Padahal, apa bedanya pelacur  dengan perempuan yang berstatus istri? Posisinya sama. Mereka adalah penikmat dan pelayan seks laki-laki. Seks akan tetap bernama seks meski dilakukan dengan satu atau  banyak orang. Tidak, pernikahan adalah konsep aneh, dan menurutku mengerikan  untuk bisa kupercaya.”
Sungguh sangat  mengherankan, bagaimana seorang yang mengaku Islam bahkan belajar di lembaga pendidikan Islam bisa berkata seperti itu. Padahal, nash al Quran Hadits tentang haramnya perzinaan dan ancaman hukuman dunia dan siksa yang pedih bagi pelakunya sudah terlalu gamblang dan menjadi Ijma’ para ulama sejak dulu hingga sekarang. Allah Ta’ala berfirman:
وَلَا تَقْرَبُوا الزِّنَا إِنَّهُ كَانَ فَاحِشَةً وَسَاءَ سَبِيلًا
“Dan janganlah kamu mendekati zina; Sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji. dan suatu jalan yang buruk.” (QS. Al Israa’:32)
الزَّانِيَةُ وَالزَّانِي فَاجْلِدُوا كُلَّ وَاحِدٍ مِنْهُمَا مِائَةَ جَلْدَةٍ وَلَا تَأْخُذْكُمْ بِهِمَا رَأْفَةٌ فِي دِينِ اللَّهِ إِنْ كُنْتُمْ تُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ وَلْيَشْهَدْ عَذَابَهُمَا طَائِفَةٌ مِنَ الْمُؤْمِنِينَ (2) الزَّانِي لَا يَنْكِحُ إِلَّا زَانِيَةً أَوْ مُشْرِكَةً وَالزَّانِيَةُ لَا يَنْكِحُهَا إِلَّا زَانٍ أَوْ مُشْرِكٌ وَحُرِّمَ ذَلِكَ عَلَى الْمُؤْمِنِينَ
“Perempuan yang berzina dan laki-laki yang berzina, Maka deralah tiap-tiap seorang dari keduanya seratus dali dera, dan janganlah belas kasihan kepada keduanya mencegah kamu untuk (menjalankan) agama Allah, jika kamu beriman kepada Allah, dan hari akhirat, dan hendaklah (pelaksanaan) hukuman mereka disaksikan oleh sekumpulan orang-orang yang beriman. Laki-laki yang berzina tidak mengawini melainkan perempuan yang berzina, atau perempuan yang musyrik; dan perempuan yang berzina tidak dikawini melainkan oleh laki-laki yang berzina atau laki-laki musyrik, dan yang demikian itu diharamkan atas oran-orang yang mukmin.” (QS. Al Nuur:2-3)
Namun karena kadung liberal, para pendukungnya tidak mau menerima hukum yang berasal dari makna literal teks Al Quran.
Dari Fakultas Syariah IAIN Semarang, bahkan muncul gerakan legalisasi perkawinan  homoseksual. Mereka menerbitkan buku berjudul: Indahnya Kawin Sesama Jenis:  Demokratisasi dan Perlindungan Hak-hak Kaum Homoseksual. Buku ini adalah kumpulan artikel di Jurnal Justisia Fakultas Syariah IAIN Semarang edisi 25, Th XI, 2004. Dalam buku ini ditulis strategi gerakan yang harus dilakukan untuk melegalkan perkawinan homoseksual di Indonesia: 
“Bentuk riil gerakan yang harus dibangun adalah (1) mengorganisir kaum homoseksual untuk bersatu dan berjuang  merebut  hak-haknya  yang  telah  dirampas  oleh  negara,  (2) memberi pemahaman kepada masyarakat bahwa apa yang terjadi pada diri kaum homoseksual adalah sesuatu yang normal dan fithrah, sehingga masyarakat tidak mengucilkannya bahkan sebaliknya, masyarakat ikut terlibat mendukung setiap gerakan kaum homoseksual dalam menuntut hak-haknya, (3) melakukan kritik dan reaktualisasi tafsir keagamaan (tafsir kisah Luth dan konsep pernikahan) yang tidak  memihak  kaum homoseksual, (4) menyuarakan  perubahan UU Perkawinan No 1/1974 yang mendefinisikan perkawinan harus antara laki-laki dan wanita.”
Selain lembaga keluarga, kaum Islam Liberal juga mendekonstruksi hukum batas aurat laki-laki dan wanita. Muhammad Syahrur, tokoh liberal kenamaan asal Syiria berpendapat bahwa aurat tidak ada kaitannya dengan halal dan haram, baik dilihat dari dekat maupun dari jauh. Maka secara kebahasaan, aurat itu relatif. Relatifnya makna aurat ini, dia kuatkan dengan menguti Hadits Nabi saw, “Barangsiapa menutupi aurat mukmin, niscaya Allah akan menutupi auratnya.” Menurutnya, dalam hadits tersebut bukan berarti meletakkan baju hingga tidak kelihatan.
Maka Syahrur pun menegaskan bahwa, “Aurat itu datang dari rasa malu, yakni ketidaksukaan seseorang dalam menampakkan sesuatu, baik dari tubuhnya maupun perilakunya. Dan rasa malu ini relatif, bisa berubah sesuai dengan adat istiadat. Maka dada (al juyub) adalah permanen, sedangkan aurat berubah-ubah menurut zaman dan tempat.” (Nahwa Ushul Jaddah li al Fiqhi al Islami, 2000:370)
Di samping itu, Syahrur juga menafsirkan QS. Al-Ahzab:59 Hai Nabi, katakanlah kepada isteri-isterimu, anak-anak perempuanmu dan isteri-isteri orang mukmin: “Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka.” Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak di ganggu. Dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. Menurutnya: “Ayat ini didahului dengan lafadz ‘Hai Nabi’ (ya ayyuha l-nabi), yang berarti bahwa di satu sisi, ayat ini adalah ayat pengajaran (ayat al-ta’lim) dan bukan ayat pemberlakuan syariat (ayat al-tasyri’). Di sisi lain, ayat  yang  turun di  Madinah ini harus dipahami dengan pemahaman temporal (fahman marhaliyyan), karena  terkait  dengan  tujuan  keamanan  dari  gangguan  orang-orang  iseng,  ketika  para  wanita  tengah bepergian untuk suatu keperluan. Namun, syarat-syarat ini (yaitu alasan keamanan) sekarang telah hilang semuanya”. 
Karena  ayat  di  atas  adalah  ayat  al-ta’lim  yang  bersifat  anjuran,  maka  menurut  Syahrur, hendaknya  bagi  wanita  mukminah,  -dianjurkan  bukan  diwajibkan-,  untuk  menutup  bagian-bagian tubuhnya yang bila terlihat menyebabkannya dapat gangguan (al-adha). Ada dua jenis gangguan: alam (tabi’i) dan sosial (ijtima’i). Gangguan alam terkait dengan cuaca seperti suhu panas dan dingin. Maka wanita mukminah hendaknya berpakaian menurut standar cuaca, sehingga ia terhindar dari gangguan alam. Sedangkan gangguan sosial (al-adha al-ijtima’i) terkait dengan kondisi dan adat istiadat suatu masyarakat, maka  pakaian  mukminah  untuk  keluar  menyesuaikan  dengan  lingkungan  masyarakat,  sehingga  tidak mengundang cemoohan dan gangguan mereka.
Penafsiran semacam ini sangat aneh dan tidak pernah dikenal sebelumnya. Entah darimana ia mendapatkan penafsiran semacam itu. Padahal, para ulama sepakat tentang kewajiban bagi wanita untuk menutupi semua bagian tubuhnya kecuali wajah dan telapak tangan.
Allah juga memerintahkan para wanita untuk menutupi auratnya. Allah berfirman:
وَقُلْ لِلْمُؤْمِنَاتِ يَغْضُضْنَ مِنْ أَبْصَارِهِنَّ وَيَحْفَظْنَ فُرُوجَهُنَّ وَلَا يُبْدِينَ زِينَتَهُنَّ إِلَّا مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَلْيَضْرِبْنَ بِخُمُرِهِنَّ عَلَى جُيُوبِهِنَّ وَلَا يُبْدِينَ زِينَتَهُنَّ إِلَّا لِبُعُولَتِهِنَّ أَوْ آبَائِهِنَّ أَوْ آبَاءِ بُعُولَتِهِنَّ أَوْ أَبْنَائِهِنَّ أَوْ أَبْنَاءِ بُعُولَتِهِنَّ أَوْ إِخْوَانِهِنَّ أَوْ بَنِي إِخْوَانِهِنَّ أَوْ بَنِي أَخَوَاتِهِنَّ أَوْ نِسَائِهِنَّ أَوْ مَا مَلَكَتْ أَيْمَانُهُنَّ أَوِ التَّابِعِينَ غَيْرِ أُولِي الْإِرْبَةِ مِنَ الرِّجَالِ أَوِ الطِّفْلِ الَّذِينَ لَمْ يَظْهَرُوا عَلَى عَوْرَاتِ النِّسَاءِ وَلَا يَضْرِبْنَ بِأَرْجُلِهِنَّ لِيُعْلَمَ مَا يُخْفِينَ مِنْ زِينَتِهِنَّ وَتُوبُوا إِلَى اللَّهِ جَمِيعًا أَيُّهَ الْمُؤْمِنُونَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ
“Katakanlah kepada wanita yang beriman: “Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan kemaluannya, dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) nampak dari padanya. dan hendaklah mereka menutupkan kain kudung kedadanya, dan janganlah menampakkan perhiasannya kecuali kepada suami mereka, atau ayah mereka, atau ayah suami mereka, atau putera-putera mereka, atau putera-putera suami mereka, atau Saudara-saudara laki-laki mereka, atau putera-putera saudara lelaki mereka, atau putera-putera saudara perempuan mereka, atau wanita-wanita islam, atau budak- budak yang mereka miliki, atau pelayan-pelayan laki-laki yang tidak mempunyai keinginan (terhadap wanita) atau anak-anak yang belum mengerti tentang aurat wanita. dan janganlah mereka memukulkan kakinyua agar diketahui perhiasan yang mereka sembunyikan. dan bertaubatlah kamu sekalian kepada Allah, Hai orang-orang yang beriman supaya kamu beruntung.” (QS. Al Nuur:31)
Al Baghawi menjelaskan arti kata zinatahunna (perhiasaanya) dengan semua anggota tubuh kecuali wajah dan telapak tangan. (Tafsir al Baghawi, vol. 6 hal.34) Senada dengan al Baghawi, Ibnu Katsir menukil pendapat Ibnu Abbas bahwa yang dimaksud illa ma zhahara minha (kecuali yang (biasa) nampak dari padanya) adalah wajah, telapak tangan, dan cincin.(Tafsir Ibnu Katsir, vol. 6 hal. 45)
Dengan menggunakan teori batas Syahrur, apa yang disebut aurat bagi wanita menjadi sangat fleksibel dan mendorong wanita muslimah berbondong-bondong terjun ke dunia hiburan yang permisif. Mereka tidak ragu lagi berbikini di pantai-pantai maupun di pusat perbelanjaan, karena semuanya tergantung pada kondisi cuaca dan kesepakatan masyarakat setempat. Jika minoritas masyarakat ada yang mengusili wanita, maka negara bisa menugaskan polisi ‘aurat’ untuk memastikan bahwa kebebasan kaum wanita berekspresi di ruang publik terlindungi dengan baik.
Permasalahan-permasalahan diatas hanyalah merupakan bagian kecil dari penghancuran syariat Islam yang dilakukan oleh kalangan liberal. Jika umat Islam tidak segera mengambil tindakan tegas, maka dikhawatirkan beberapa puluh tahun kemudian syariat Islam hanya tinggal namanya karena dilalap habis oleh virus liberalisme.

KREASI SANTRI RIBATH DH ISLAM LIBERAL: KONSEPSI, AKTUALISASI, DAN TANGGAPANNYA (3)

Isu-isu Sentral Program Islam Liberal

Dalam disertasinya di Monash University, Australia, Dr. Greg Barton, memberikan sejumlah  program Islam Liberal di Indonesia, yaitu: (a) Pentingnya konstekstualisasi ijtihad, (b) Komitmen  terhadap rasionalitas dan pembaruan, (c) Penerimaan terhadap pluralisme sosial dan pluralisme agama-agama, (d) Pemisahan agama dari partai politik dan adanya posisi non-sektarian negara.
Dari disertasi Barton tersebut dapat diketahui, bahwa memang ada strategi dan program yang sistematis dan metodologis dalam liberalisasi Islam di Indonesia. Penyebaran paham Pluralisme  Agama –yang jelas-jelas merupakan paham syirik modern, karena membenarkan semua tindakan  syirik– dilakukan dengan cara yang sangat massif, melalui berbagai saluran, dan dukungan dana yang luar biasa.

Pluralisme Agama yang Berbahaya

Liberalisasi aqidah Islam dilakukan dengan menyebarkan paham Pluralisme Agama. Paham  ini, pada dasarnya  menyatakan, bahwa semua agama adalah jalan yang sama-sama sah menuju Tuhan yang sama. Jadi, menurut penganut paham ini, semua agama adalah jalan yang berbeda-beda menuju  Tuhan yang sama. Atau, mereka menyatakan, bahwa agama adalah persepsi relatif terhadap Tuhan  yang mutlak, sehingga –karena kerelativannya– maka setiap pemeluk agama tidak boleh mengklaim atau meyakini, bahwa agamanya sendiri yang lebih benar atau lebih baik dari agama lain; atau mengklaim bahwa hanya agamanya sendiri yang benar. Bahkan, menurut Charles Kimball, salah satu  ciri agama jahat (evil) adalah agama yang memiliki klaim kebenaran mutlak (absolute truth claim) atas agamanya sendiri.
Ulil Abshar Abdalla mengatakan: “Semua agama sama. Semuanya menuju jalan kebenaran.  Jadi, Islam bukan yang paling benar.” (Majalah GATRA, 21 Desember 2002). Ulil juga menulis: “Dengan tanpa rasa sungkan dan kikuk, saya mengatakan, semua agama adalah tepat berada pada jalan seperti itu, jalan panjang menuju Yang Mahabenar. Semua agama, dengan demikian, adalah  benar, dengan variasi, tingkat dan kadar kedalaman yang berbeda-beda dalam menghayati jalan  religiusitas itu. Semua agama ada dalam satu keluarga besar yang sama: yaitu keluarga pencinta jalan  menuju kebenaran yang tak pernah ada ujungnya.” (Kompas,  18-11-2002, dalam artikelnya berjudul “Menyegarkan Kembali Pemahaman Islam”)
Prof. Dr. Nurcholish Madjid, menyatakan, bahwa ada tiga sikap dialog agama yang dapat  diambil. Yaitu, pertama, sikap eksklusif  dalam melihat Agama lain (Agama-agama lain adalah jalan  yang salah, yang menyesatkan bagi pengikutnya). Kedua, sikap inklusif (Agama-Agama lain adalah  bentuk  implisit agama kita). Ketiga, sikap pluralis –yang bisa terekspresi dalam macam-macam  rumusan, misalnya: “Agama-Agama lain adalah jalan yang sama-sama sah untuk mencapai  Kebenaran yang Sama”, “Agama-Agama lain berbicara secara berbeda, tetapi merupakan  Kebenaran-kebenaran  yang  sama  sah”, atau “Setiap agama mengekspresikan bagian penting sebuah Kebenaran”. (lihat buku Tiga Agama Satu Tuhan, Bandung: Mizan, 1999, hal.xix)
Penyamaan antara Islam dengan agama-agama lain jelas sangat keliru dan bertentangan dengan Al Quran Hadits. Banyak sekali ayat-ayat al Quran yang menegaskan perbedaan yang tajam antara orang yang beriman dan beramal saleh, dengan orang-orang kafir. Allah Ta’ala hanya mengakui Islam sebagai agama yang benar dan diterima. Allah berfirman:
إِنَّ الدِّينَ عِنْدَ اللَّهِ الْإِسْلَامُ وَمَا اخْتَلَفَ الَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ إِلَّا مِنْ بَعْدِ مَا جَاءَهُمُ الْعِلْمُ بَغْيًا بَيْنَهُمْ وَمَنْ يَكْفُرْ بِآيَاتِ اللَّهِ فَإِنَّ اللَّهَ سَرِيعُ الْحِسَابِ
“Sesungguhnya agama (yang diridhai) disisi Allah hanyalah Islam. tiada berselisih orang-orang yang Telah diberi Al Kitab kecuali sesudah datang pengetahuan kepada mereka, Karena kedengkian (yang ada) di antara mereka. barangsiapa yang kafir terhadap ayat-ayat Allah Maka Sesungguhnya Allah sangat cepat hisab-Nya.” (QS. Ali ‘Imran:19)
وَمَنْ يَبْتَغِ غَيْرَ الْإِسْلَامِ دِينًا فَلَنْ يُقْبَلَ مِنْهُ وَهُوَ فِي الْآخِرَةِ مِنَ الْخَاسِرِينَ
“Barangsiapa mencari agama selain agama Islam, Maka sekali-kali tidaklah akan diterima (agama itu)daripadanya, dan dia di akhirat termasuk orang-orang yang rugi.” (QS. Ali ‘Imran:85)
Surat al Fatihah juga mengajarkan akar kaum muslimin senantiasa berdoa supaya berada di jalan yang lurus (al shirath al mustaqim) dan bukan berada di jalan orang kafir yang dimurkai (al maghdlub ‘alaihim) dan tersesat (al dlaallin).
Andai saja Islam menerima kebenaran dan keselematan agama lain, maka apa gunanya Rasulullah berjuang dan berdakwah kepada bangsa Arab untuk memeluk ajaran Islam selama 23 tahun umur beliau? Apa gunanya pula beliau mengirimkan surat-surat dakwah kepada orang-orang non muslim seperti Kaisar Heraklitus dan raja Najasyi yang beragama Nasrani, dan Kisra Persia yang beragama Majusi?
Tidak jarang pula dalam melegitimasi teologi inklusif-pluralis kalangan liberal mencari justifikasi dari ayat-ayat Al Qoran yang ditafsiri sesuai kehendak mereka sendiri atau mengutip tafsir-tafsir yang ada dengan tidak lengkap.
Dr. Abd Moqsith, menulis dalam disertasinya di UIN Jakarta:  
”Jika diperhatikan dengan seksama, maka jelas bahwa dalam ayat itu [QS 2 :62] tak ada  ungkapan agar orang Yahudi, Nashrani, dan orang-orang Shabi’ah beriman kepada  Nabi  Muhammad. Dengan mengikuti bunyi harfiah ayat tersebut, maka orang-orang beriman yang tetap dalam keimanannya, orang-orang Yahudi, Nashrani, dan Shabi’ah yang beriman kepada  Allah dan Hari Akhir serta melakukan amal shaleh –sekalipun tak beriman kepada Nabi  Muhammad, maka mereka akan memperoleh balasan dari Allah. Pernyataan agar orang-orang Yahudi, Nashrani, dan Shabi’ah beriman kepada Nabi Muhammad adalah pernyataan para  mufasir dan bukan ungkapan al-Qur’an. Muhammad Rasyid Ridla berkata, tak ada persyaratan bagi orang Yahudi, Nashrani, dan Shabi’ah untuk beriman kepada Nabi Muhammad.” 
Kesimpulan disertasi seperti itu sangat aneh. Apalagi, kalangan liberal sering sekali mengutip  pendapat Rasyid Ridla dalam Tafsir al-Manar.  Padahal, jika ditelaah dengan seksama pendapat Rasyid  Ridla dalam Tafsir al-Manar, maka akan ditemukan, bahwa QS 2:62 dan 5:69 adalah membicarakan  keselamatan Ahlul Kitab yang risalah Nabi Muhammad saw tidak sampai kepada mereka. Karena itu, mereka tidak diwajibkan beriman kepada Nabi Muhammad saw. Sedangkan bagi Ahlul Kitab yang  dakwah Islam sampai kepada mereka, menurut Rasyid Ridla, maka QS 3:199, ada lima syarat untuk keselamatan mereka. Diantaranya, (1) beriman kepada Allah dengan iman yang benar, yakni iman yang tidak bercampur dengan kemusyrikan dan disertai dengan ketundukan yang mendorong untuk  melakukan kebaikan, (2) beriman kepada al-Qur’an yang diwahyukan kepada Nabi Muhammad. 
Karena itu, sangat disayangkan, sebagaimana perilaku sejumlah kaum Pluralis Agama, penulis  disertasi ini pun tidak benar dan tidak fair dalam mengutip pendapat-pendapat Rasyid Ridla. Padahal, dalam soal ini, Nabi Muhammad saw sudah menegaskan: 
”Demi Allah, yang diriku ada dalam genggaman tanganNya, tidaklah mendengar dari hal aku ini seorangpun dari ummat sekarang ini, baik Yahud, maupun Nasrani, kemudian mereka tidak mau beriman kepadaku, melainkan masuklah dia ke dalam neraka.” (HR Muslim).
Dalam bukunya berjudul Islam Inklusif: Menuju Sikap Terbuka dalam Beragama (hal. 108-109), Alwi Shihab menulis:
“Prinsip lain yang digariskan oleh Al Quran, adalah pengakuan eksistensi orang-orang yang berbuat baik dalam setiap komunitas beragama dan, dengan begitu, layak memperoleh pahala dari Tuhan. Lagi-lagi, prinsip ini memperkokoh ide mengenaik pluralisme keagamaan dan menolak eksklusifisme. Dalam pengertian lain, eksklusifisme keagamaan tidak sesuai dengan semangat Al Quran. Sebab, Al Quran tidak membeda-bedakan antara satu komunitas agama dari lainnya. Prinsip ini digariskan oleh dua ayat Al Quran, sebuah ekposisi yang jarang sekali terjadi sebuah ayat tampil dua kali dan hamper mirip kata per kata, yang menyatakan, “Sesungguhnya mereka telah beriman, Yahudi, Kristen, dan Shabi-in. Mereka yang percaya kepada Tuhan dan Hari Akhir dan berbuat saleh, akan menerima pahala dari Tuhan mereka. Mereka tidak akan merugi dan dan tidak akan berduka cita. (al Baqarah:62 dan al Maa’idah:69)
Pendapat “luar biasa berani” ini dikuatkan oleh KH Said Aqil Sirajd tentang persamaan konsepsi Tauhid antara Islam, Kristen, dan Yahudi:
“Agama yang membawa misi Tauhid adalah Yahudi, Nasrani (Kristen), dan Islam. Agama yahudi diturunkan melalui Musa, Nasrani diturunkan melalui Isa (Yesus), dan Islam melalui Muhammad. Kedekatan ketiga agama samawi yang sampai saat ini masih dianut oleh umat manusia itu semakin tampak jika dilihat dari genealogi ketiga utusan (Musa, ‘Isa, dan Muhammad) yang bertemu pada Ibrahim (Abraham).” (Bambang Noorsena, Menuju Dialog Teologis Kristen-Islam, hal. 165-169)
Sekali lagi, pendapat yang menyamakan antara Islam, Yahudi, dan Kristen sangat bertentangan dengan Al Quran. Meski ketiganya pernah bertemu dalam satu ajaran Tauhid yang dibawa oleh Nabi Ibrahim as, namun Al Quran telah menjelaskan bahwa ajaran Yahudi dan Kristen sekarang telah dirubah. (QS. 4:46) Allah telah mengecap kafir Yahudi yang menganggap Uzair adalah anak Allah dan Nasrani yang menganggap ‘Isa adalah anak-Nya. (QS. 9:30)
Sungguh sangat mengherankan, bahwa kalangan Islam Liberal begitu gencar menyuarakan dan memasarkan paham pluralisme agama kepada masyarakat melalui jalur politik, media massa, dan pendidikan, seakan kaum muslimin memiliki kebutuhan mendesak untuk menerima paham tersebut. Biasanya mereka beralasan dengan maraknya berbagai kerusuhan dan tindakan anarkis di masyarakat yang didorong karena konflik umat seagama atau antar umat beda agama. Mereka menganggap bahwa pemahaman agama yang eksklusif dapat memicu pertikaian dan membangkitkan radikalisme.
Jurnal Tashwirul  Afkar edisi No 11 tahun 2001, menampilkan laporan utama berjudul “Menuju Pendidikan Islam Pluralis”. Di tulis dalam Jurnal ini:
“Filosofi pendidikan Islam yang hanya membenarkan agamanya sendiri, tanpa mau menerima kebenaran agama lain mesti mendapat kritik untuk selanjutnya dilakukan reorientasi. Konsep  iman-kafir, muslim-nonmuslim, dan baik-benar (truth claim), yang sangat berpengaruh  terhadap cara pandang Islam terhadap agama lain, mesti dibongkar agar  umat  Islam tidak  lagi  menganggap agama lain sebagai agama yang salah dan tidak ada jalan keselamatan. Jika cara  pandangnya bersifat eksklusif dan intoleran, maka teologi yang diterima adalah teologi  eksklusif dan intoleran, yang pada gilirannya akan merusak harmonisasi agama-agama, dan sikap tidak menghargai kebenaran agama lain. Kegagalan dalam mengembangkan semangat toleransi dan pluralisme agama dalam pendidikan Islam akan membangkitkan sayap radikal Islam.”
Di Jurnal ini juga, Rektor UIN Yogyakarta, Prof. Dr. Amin Abdullah menulis:
“Pendidikan agama semata-mata menekankan keselamatan individu dan kelompoknya sendiri  menjadikan anak didik kurang begitu sensitif atau kurang begitu peka terhadap nasib,  penderitaan, kesulitan yang dialami oleh sesama, yang kebetulan memeluk agama lain. Hal  demikian bisa saja terjadi oleh karena adanya keyakinan yang tertanam kuat bahwa orang atau  kelompok yang tidak seiman atau tidak seagama adalah “lawan” secara aqidah.”
Jadi, menurut pengasong paham pluralisme agama, seseorang yang menganggap keyakinannya saja yang benar dianggap ‘radikal’, ‘tidak toleran’, dan menimbulkan ‘kekerasan’. Asumsi tersebut jelas keliru. Sebab, keyakinan setiap umat beragama pada agamanya masing-masing –disertai dengan  keyakinan bahwa agama lain adalah salah– adalah  faktor  yang  sah-sah  saja  dalam  soal  keyakinan.  Keyakinan eksklusif bukanlah pemicu konflik antar-umat beragama. Toh, apabila berpegang teguh dengan ajaran agama dianggap ‘radikal’, maka hal tersebut tetap harus dilakukan karena merupakan kewajiban dan konsekuensi setiap pemeluk agama.
Asumsi bahwa eksklusifitas Islam tidak toleran juga tidak sesuai fakta sejarah. Dalam perjalanannya, Islam sejak kelahirannya telah menunjukkan toleransi yang begitu baik dengan pemeluk agama lain, tapi harus mengorbankan iman dan takwanya.
Nabi Muhammad telah memberi contoh toleransi beragama dengan mengeluarkan Piagam Madinah. Berdasarkan teks Piagam Madinah yang diriwayatkan Ibnu Ishaq dalam al Sirah al Nabawiyyah, Nabi menyatakan, “Sesungguhnya Yahudi Bani ‘Auf adalah satu umat bersama kaum Mukmin”.  Beliau juga menyatakan, “Kaum Yahudi menjalankan agamanya sendiri, sebagaimana kaum Muslim juga menjalankan agamanya sendiri. Ini berlaku bagi orang-orang yang terikat hubungan dengan Yahudi dan diri Yahudi sendiri.”
Dengan adanya jaminan konstitusional terhadap kebebasan beragama ini, kaum Yahudi di Madinah dapat menjalankan kegiatan keagamaan dengan tenang di lingkungannya. Begitu juga dalam bidang pendidikan, sekolah-sekolah agama Yahudi yang disebut bayt al midras beraktifitas lebih giat dari sebelumnya. Dalam hal keamanan, kaum Muslim dan Yahudi saling bahu membahu mempertahankan Madinah dari serangah pihak luar. Dalam muamalat, jual beli dan pelbagai bentuk transaksi lainnya yang tidak bertentangan dengan syariat Islam, kaum muslim juga dibolehkan melakukannya dengan Yahudi. Ali bin Abi Thalib, menantu Rasulullah, sebagian persiapan walimahnya ditangani oleh seorang dari Bani Qainuqa’. (Shahih Muslim, no. 5242) Rasulullah sendiri pernah menjual pohon kurma dari Bani Nadhir (Shahih Bukhari, no. 4938)
Pada waktu Umar memasuki Yerussalem ia menandatangai perjanjian. Diantara isinya:”…gereja tidak akan dirubah menjadi tempat kediaman, tidak akan dirusak, ….salib-salib atau harta mereka tidak akan diganggu…dan tidak seorangpun diantara mereka akan dianiaya”. Orang tidak pernah konflik dengan umat Kristen.
Abdul Aziz Marwan Gubernur Mesir memberi izin orang-orang Kristen pegawai istana untuk mendirikan gereja di Halwan. Di Andalus Islam, Kristen dan Yahudi hidup damai bertahun-tahun. Seorang specialist sastra Iberia di Universitas Yale, Maria Rosa Mencoal dalam karyanya berjudul The Ornament of the World (2003) berterus terang. Ia menulis “Toleransi merupakan aspek melekat pada masyarakat Andalus dan nasib non-Muslim lebih baik daripada dibawah Kristen Eropah”.
Maka, Islam jelas menolak pluralisme. Namun, meskipun Islam tidak mengandung ajaran yang pluralistis namun Islam adalah agama yang memiliki toleransi tinggi. Ayat-ayat Ali ‘Imran:20 dan al Kaafirun:2-6 menunjukkan bahwa Islam adalah eksklusif tapi tidak memaksa manusia untuk mengikutinya. Demikianlah Islam diturunkan sebagai ajaran yang menjadi rahmatan lil ‘alamin.

ISLAM LIBERAL: KONSEPSI, AKTUALISASI, DAN TANGGAPANNYA (2)

Dari Tradisi Yahudi dan Kristen

Agama Yahudi  telah  lama  mengalami  liberalisasi,  sehingga  saat  ini,  “Liberal  Judaism”  (Yahudi Liberal) secara resmi masuk dalam salah satu aliran dalam agama Yahudi. Dalam situsnya, http://www.ulps.org,  kaum  Yahudi  Liberal  menjelaskan,  bahwa  Yahdudi  Liberal  (Liberal Judaism)  mulai  muncul  pada  abad  ke-19,  sebagai  satu  upaya  untuk  menyesuaikan  dasar-dasar  ajaran  agama  Yahudi  dengan  nilai-nilai  zaman  pencerahan  Eropa  (Enlightenment) tentang  pemikiran  rasional  dan  bukti-bukti  sains.  Kaum  Yahudi  liberal  berharap mereka dapat menyesuaikan  agama  mereka dengan masyarakat modern. Kaum Yahudi liberal juga percaya  bahwa  Kitab-kitab Yahudi (Hebrew Scriptures) – termasuk Taurat – adalah upaya manusia  untuk  memahami  Kehendak  Tuhan,  dan  karena  itu,  mereka  menggunakan  Kitab-kitab  itu  sebagai  titik  awal  dalam  pengambilan  keputusan.  Mereka  pun  sadar  akan kemungkinan kesalahan  Kitab  mereka dan  menghargai nilai-nilai pengetahuan diluar Kitab agama mereka.
Zionisme bisa dikatakan satu ideologi secular liberal yang sangat dramatis dan sukses mencapai tujuannya di abad ke-20. Berangkat dari rumusan sederhana terhadap kondisi riil fenomena “anti-semitisme” (lebih tepatnya: Anti-Jews) di Eropa, ideologi ini disusun dengan sasaran jelas: membentuk sebuah begara Yahudi. Dalam tempo 50 tahun sejak Kongres Zionis pertama tahun 1897, negara yahudi –yang diberi nama Israel- itu berdiri pada 14 Mei 1948. Menghadapi berbagai penindasdan atas Yahudi di Eropa, kalangan Yahudi ketika itu terbelah menjadi dua. Satu berpikiran, “asimilasi” dengan masyarakat Kristen Eropa-Amerika adalah cara yang tepat untuk mengatasi problema itu. pikiran lain adalah Zionisme politik, yang berpendapat bahwa masalah Yahudi hanya bisa diselesaikan dengan mendirikan sebuah negara khusus untuk kaum Yahudi.
Bagi Yahudi, istilah Zion memang mengandung makna religious, dan memiliki akar sejarah yang panjang. Di sinilah nanti akan terlihat, bagaimana lihainya kaum Zionis yang sebenarnya sekuler, menggunakan istilah “Zionisme” untuk menamai gerakan mereka sehingga mampu menarik banyak dukungan orang Yahudi. Mazmur 137:1 menyebutkan, “Di tepi sungai-sungia Babel, di sanalah kita duduk sambil menangis, apabila kita mengingat Sion.” Yesaya 52:1 menyebutkan, “Terjagalah, terjagalah! Kenakanlah kekuatanmu seperti pakaian, hai Sion! Kenakanlah pakaian kehormatanmu, hai Yerusalem, kota yang kudus!”
Tampak bahwa istilah “Zionisme” digunakan dalam kerangka kepercayaan dan harapan ini. Orang-orang Yahudi yang sedang diusir dan dianiaya di Eropa kemudian diidentikkan dengan kondisi Yahudi yang berada dalam pengusiran di Babylonia, setelah kota mereka dihancurkan oleh Nebuchadnezzar (Bukhtanashr) pada 586 SM.
Proyek Zionisme sendiri sebenarnya ditentang oleh kaum Yahudi yang konsisten dan taat dengan ajaran kitab suci mereka seperti the Haredim Movement dan Naturei Karta. Kelompok Haredim memandang bahwa jika Yahudi menaati Taurat, kata mereka, maka Tuhan akan mengembalikan tanah itu kepada Yahudi. Usaha apa pun untuk mempercepat penempatan Yahudi di “tanah yang dijanjikan” adalah suatu ketidaksabaran atas janji Tuhan. Kelompok keras Yahudi lainnya, Naturei Karta, menganggap negara Israel sebagai produk dari “Zionisme tak bertuhan” (godless Zionism). Mereka memandang bahwa Zionisme telah mengubah konsep orisinal dari The promised land  ke dalam bentuk konsep “nasionalisme”, dimana tanah dan bahasa Hebrew memungkinkan mereka menjadi yahudi tanpa Tuhan. (bandingkan dengan kasus pembentukan negara sekuler Turki oleh Musthafa Kemal Attaturk yang didasarkan atas nasionalisme bangsa Turki)
Pada kenyataannya, istilah “Jewish state” memang menunjukkan negara Israel merupakan negara yang rasialis (nasionalis). Identifikasi ke-Yahudi-an ditentukan tahun 1950-1954 dalam cara yang sama dengan definisi Hitler (dan berbagai ideologi atau kelompok anti-Semitisme) lainnya, yaitu siapa saja yang memiliki “darah Yahudi”. Tahun 1970, the Law of Return (aturan kembali ke tanah Yahudi, pen) diubah dengan mendefinisikan Yahudi sebagai “orang yang dilahirkan dari ibu Yahudi, atau yang memeluk agama Yahudi, dan tidak menjadi pemeluk agama lain”.
Sebagian Yahudi religious yang mengunjungi Yerusalem sebelum para Zionis juga memandang bahwa suatu negara secular dan demokratis bagi Yahudi adalah suatu barang haram. Pada tahun 1881, para rabbi Yahudi di Yerusalem mengecam para pendatang Zionis dan menyebut mereka sebagai ‘para pendatang agresif yang mencemari tanah ini’ dan mendesakralisasi kesucian Yerusalem.
Pemikiran liberal mempunyai akar sejarah sangat panjang dalam sejarah peradaban Barat,  Kristen. Pada tiga abad pertama Masehi, agama Kristen mengalami penindasan di bawah Imperium  Romawi sejak berkuasanya Kaisar Nero (tahun 65 M). Kaisar Nero bahkan memproklamirkan agama  Kristen sebagai suatu kejahatan. Menurut Abdullah Nashih Ulwan, pada era awal ini pengamalan  agama Kristen sejalan dengan Injil Matius yang menyatakan, “Berikanlah kepada Kaisar apa yang menjadi milik Kaisar dan berikanlah kepada Tuhan apa yang menjadi milik Tuhan.” (Matius, 22:21).
Namun kondisi tersebut berubah pada tahun 313, ketika Kaisar Konstantin (w. 337)  mengeluarkan dekrit Edict of Milan untuk melindungi agama Nasrani. Selanjutnya pada tahun 392  keluar Edict of Theodosius yang menjadikan agama Nasrani sebagai agama negara (state-religion) bagi  Imperium Romawi. Pada tahun 476 Kerajaan Romawi Barat runtuh dan dimulailah Abad  Pertengahan (Medieval  Ages) atau Abad Kegelapan (Dark Ages). Sejak itu Gereja Kristen mulai  menjadi institusi dominan. Dengan disusunnya sistem kepausan (papacy power) oleh Gregory I (540-609 M), Paus pun dijadikan sumber kekuasaan agama dan kekuasaan dunia dengan otoritas mutlak tanpa batas dalam seluruh sendi kehidupan, khususnya aspek politik, sosial, dan pemikiran.
Abad Pertengahan itu ternyata penuh dengan penyimpangan dan penindasan oleh kolaborasi Gereja dan raja/kaisar, seperti kemandegan ilmu pengetahuan dan merajalelanya surat pengampunan  dosa. Maka Abad Pertengahan pun meredup dengan adanya upaya koreksi atas Gereja yang disebut  gerakan Reformasi Gereja (1294-1517), dengan tokohnya semisal Marthin Luther (w. 1546), Zwingly (w. 1531), dan John Calvin (w. 1564).
Gerakan ini disertai dengan munculnya para pemikir Renaissans pada abad XVI seperti Machiaveli (w. 1528) dan Michael Montaigne (w. 1592), yang menentang dominasi Gereja, menghendaki disingkirkannya agama dari kehidupan, dan menuntut kebebasan.
Selanjutnya pada era Pencerahan (Enlightenment) abad XVII-XVIII, seruan untuk memisahkan agama dari kehidupan semakin mengkristal dengan tokohnya Montesquieu (w.  1755), Voltaire  (w.  1778), dan Rousseau (1778). Puncak penentangan terhadap Gereja ini adalah Revolusi  Perancis  tahun  1789  yang  secara  total  akhirnya  memisahkan Gereja dari masyarakat, negara, dan politik. (Qashash, 1995:30-31). Sejak itulah lahir sekulerisme-liberalisme yang menjadi dasar bagi seluruh konsep ideologi dan peradaban Barat.
Pada abad ke-20, liberalisasi dalam tubuh Kristen semakin menjadi-jadi. Pada 1987, di Jerman,  menurut laporan Institute for Public Research, 46 persen penduduknya mengatakan, bahwa “agama  sudah tidak diperlukan lagi.” Di Finlandia, yang 97 persen Kristen, hanya 3 persen saja yang pergi ke gereja tiap minggu. Di Norwegia, yang 90 persen Kristen, hanya setengahnya saja yang percaya pada  dasar-dasar kepercayaan Kristen. Juga, hanya sekitar 3 persen saja yang rutin ke gereja tiap minggu. 
Masyarakat Kristen Eropa juga tergila-gila pada paranormal, mengalahkan kepercayaan  mereka pada pendeta atau imam Katolik. Di Jerman Barat –sebelum bersatu dengan Jerman Timur —  terdapat 30.000 pendeta. Tetapi jumlah peramal (dukun klenik/witchcraft) mencapai 90.000 orang. Di Perancis terdapat 26.000 imam Katolik, tetapi jumlah peramal bintang (astrolog) yang terdaftar mencapai 40.000 orang. 
Fenomena Kristen Eropa menunjukkan, agama Kristen kelabakan menghadapi serbuan arus  budaya Barat yang didominasi nilai-nilai liberalisme, sekulerisme, dan hedonisme. Serbuan praktik perdukunan juga tidak mampu dibendung. Di sejumlah gereja, arus liberalisasi mulai melanda.  Misalnya, gereja mulai menerima praktik-praktik homoseksualitas. Eric James, seorang pejabat gereja  Inggris, dalam bukunya berjudul “Homosexuality and a Pastoral Church” mengimbau agar gereja  memberikan toleransi pada kehidupan homoseksual dan mengijinkan perkawinan homoseksual antara pria dengan pria atau wanita dengan wanita. 
Sejumlah negara Barat telah melakukan “revolusi jingga”, karena secara resmi telah mengesahkan perkawinan sejenis. Parlemen Jerman masih terus memperdebatkan undang-undang  serupa. Di berbagai negara Barat, praktik homoseksual bukanlah dianggap sebagai kejahatan. Begitu  juga praktik-praktik perzinahan, minuman keras, pornografi, dan sebagainya. Barat tidak mengenal  sistem dan standar nilai (baik-buruk) yang pasti. Semua serba relatif; diserahkan kepada “kesepakatan” dan “kepantasan” umum yang berlaku. 
Maka, orang berzina, menenggak alkohol, mempertontonkan aurat, dan sejenisnya bukanlah dipandang sebagai suatu kejahatan, kecuali jika masyarakat menganggapnya jahat. Homoseksual dianggap baik dan disahkan oleh negara. Bahkan, pada November 2003, para pastor Gereja Anglikan di New Hampshire AS, sepakat untuk mengangkat seorang Uskup homoseks bernama Gene Robinson. Kaum Kristen yang homo itu melakukan perombakan terhadap ajaran Kristen, terutama  mengubah tafsir lama yang masih melarang tindakan homoseksual.

Atas ↑

%d blogger menyukai ini: