Nilai-nilai ASWAJA Dalam Kehidupan pluralitas-kebangsaan

بِسْمِ الله الرحمنِ الرحيمِ
الحمْدُ لله ربِّ العَالَمِيْن أَشْهَدُ أنْ لَا إله إلَّا الله وَحْدَه لَا شَرِيْكَ لَه وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدا عَبْدُه وَرَسُوْلُه صَلَّى الله عَلَيهِ وَعَلَى آلهِ الطَّاهِرِيْن وأَصْحابِهِ المُكْرَمِيْن الْمَهْدِيِّيْن، أمَّا بَعْدُ:

Muqaddimah
Islam sebagai agama yang berasal dari Allah Taala bersifat komprehensif dan relevan di berbagai dimensi ruang dan zaman. Terbukti bahwa ajaran Islam yang berkembang di daerah manapun selalu menjadikan masyarakatnya memiliki pribadi dan peradaban yang baik. Hal ini karena sifat ajaran Islam yang tidak ekstrim dalam menyikapi segala sesuatu, sehingga manusia merasa terayomi dan terlindungi dengan hukum Islam tanpa mencerabut prinsip dan asas Islam itu sendiri. Sifat ini merupakan ciri khas Islam ala Ahlussunnah wal Jamaah dibandingkan dengan berbagai firqah Islam dan agama lainnya.
Indonesia merupakan negara yang memiliki pluralitas dan kemajemukan masyarakat yang tinggi. Dalam kondisi demikian, Islam ala Ahlussunnah wal Jamaah telah terbukti mampu berkembang begitu pesat di seluruh penjuru negeri hingga menjadikan mayoritas masyarakatnya memeluk agama Islam. Selain itu, ajaran Aswaja yang diajarkan oleh ulama dan kyai telah mendarah daging di masyarakat sehingga sikap sopan santun, ramah, dan tawadlu menjadi ciri khas bangsa Indonesia di mata dunia, sekaligus memiliki sikap militan dan teguh dengan agamanya, sehingga selama tiga setengah abad hingga sekarang bangsa Indonesia tidak mudah dimurtadkan oleh penjajahan yang datang silih berganti.

Sekilas Tentang Ahlussunnah wal Jamaah
Islam merupakan agama Allah SWT yang diturunkan untuk seluruh manusia. Di dalamnya terdapat pedoman dan aturan demi meraih kebahagiaan dan keselamatan di dunia dan akhirat. Ada tiga hal yang menjadi sendi utama dalam agama Islam itu, yaitu Iman, Islam dan Ihsan.
Dari sisi keilmuan, semula ketiganya merupakan satu kesatuan yang tidak terbagi-bagi. Namun selanjutnya para ulama mengadakan pemisahan, sehingga menjadi bagian ilmu tersendiri. Bagian-bagian tersebut mereka elaborasi sehingga menjadi bagian ilmu yang berbeda. Perhatian terhadap Iman memunculkan ilmu tauhid atau ilmu kalam. Perhatian khusus pada aspek Islam menghadirkan ilmu fiqh atau ilmu hukum Islam. Sedangkan penelitian terhadap dimensi Ihsan melahirkan ilmu tashawwuf atau ilmu akhlak. Ketiga aspek inilah yang menjadi inti daripada ajaran Ahlussunnah wal Jamaah.
Secara etimologis, Ahlussunnah Wal-Jamaah adalah istilah yang tersusun dari tiga kata:
Pertama, kata Ahl, berarti keluarga, pengikut atau golongan.
Kedua, kata al-sunnah, yang memiliki dua arti kemungkinan;
Segala sesuatu yang telah diajarkan oleh Kanjeng Nabi Muhammad SAW, baik melalui perbuatan, ucapan dan pengakuan Kanjeng Nabi Muhammad SAW dan,
Al-thariqah (jalan dan jejak), maksudnya Ahlussunnah wal Jama’ah itu mengikuti jalan dan jejak para sahabat Kanjeng Nabi Muhammad SAW dan tabi’in dalam memahami teks-teks keagamaan dan mengamalkan ajaran agama.
Ketiga, kata al-Jamaah, yang secara kebahasaan dapat diartikan dengan sejumlah besar orang-orang yang menjalin dan menjaga kebersamaan dalam mencapai suatu tujuan yang sama, sebagai kebalikan dari al-firqah (orang-orang yang memisahkan diri dari golongannya). Dalam beberapa hadits shahih, Kanjeng Nabi Muhammad SAW menyebut kelompok yang selamat dengan nama al-jama’ah.
Kata al-Jamaah menjadi identitas bagi Ahlussunnah wal Jamaah sebagai golongan yang selalu memelihara sikap kebersamaan (Persatuan dalam satu negara atau komunitas Islam Sunni, sejak Awal hingga sekarang, Sunni selalu menjadi aliran mayoritas, maka tidak berlebihan jika dikatakan mempertahankan Sunni berarti mempertahankan Islam. Oleh karena itu, jangan ada usaha-usaha mempertahankan apalagi memperjuangkan sekte-sekte minoritas seperti sekte Syi’ah, Mu’tazilah, Wahhabi dst… karena disamping paham-pahamnya yang sesat juga hanya akan menambah perpecahan dan memperkeruh keadaan).

Akidah Asyariyah adalah Ahlussunnah wal Jamaah
Di antara kriteria dan ciri khas Ahlussunnah wal Jamaah ialah ulama-ulama mereka selalu tampil sebagai penyebar ilmu agama dan rujukan kaum muslimin dalam setiap generasi. Pertanyaannya sekarang, di antara sekian aliran yang ada, golongan manakah yang para ulamanya berperan sebagai penyebar ilmu agama dan penjaga kemurnian ajarannya? Jawaban terhadap pertanyaan tersebut adalah mayoritas ulama yang mengikuti madzhab al-Asyari dan al-Maturidi, seperti Imam al-Asyari, Abu Ishaq al-Isfirayini, al-Baqillani dan lain-lain. Hal ini seperti ditegaskan oleh hadlrotussyaikh KH. Hasyim Asyari berikut ini;
قَالَ الشِّهَابُ الخَفَاجِي رَحِمَهُ الله فِي نَسِيْمِ الرِّيَاض: الفِرْقَة النَّاجِيَة هُمْ أَهْلُ السُّنَّة وَالجَمَاعَةِ وَفِي حَاشِيَةِ الشَّنْوَانِي عَلَى مُخْتَصَر ابْنِ أَبِيْ جَمْرَة: هُمْ أَبُو الحَسَن الأَشْعَرِي وَجَمَاعَتُهُ أَهْلُ السُّنَّةِ وَأَئِمَّة العُلَمَاءِ لِأَنَّ الله تَعَالَى جَعَلَهُمْ حُجَّةً عَلَى خَلْقِهِ وَ إِلَيْهِم يَفْزَعُ العَامَّة فِي دِيْنِهِمْ وَهُمْ المَعْنِيُّوْنَ بِقَوْلِهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وًَسَلَّم: «إِنَّ اللهَ لَا يَجْمَعُ أُمَّتِي عَلَى ضَلَالَةٍ».
Mayoritas umat Islam di seluruh dunia, mengikuti madzhab Imam al-Asyari dan al-Maturidi, karena para ulama yang menyebarkan Islam juga bermadzhab Imam al-Asyari dan al-Maturidi. Imam Ibnu Asyakir RHA berkata:
وَأَكْثَرُ العُلَمَاءِ فِي جَمِيْعِ الأَقْطَارِ عَلَيْهِ أَيْ عَلَى مَذْهَبِ الأَشْعَرِي وَأَئِمَّةُ الأَمْصَارِ فِي سَائِرِ الأَعْصَارِ يَدْعُوْنَ إِلَيْهِ وَمُنْتَحِلُوْهُ هُمُ الَّذِيْنَ عَلَيْهِمْ مَدَارُ الأَحْكَامِ وَإِلَيْهِمْ يُرْجَعُ فِي مَعْرِفَةِ الحَلَالِ وَاْلحَرَامِ وَهُمْ الَّذِيْنَ يُفْتُوْنَ النَّاسَ فِي صِعَابِ المَسَائِلِ وَيَعْتَمِدُ عَلَيْهِمْ الخَلْقُ فِي إِيْضَاحِ المُشْكِلَاتِ وَالنَّوَازِلِ وَهَلْ مِنَ الفُقَهَاءِ مِنَ الحَنَفِيَّةِ وَاْلمَالِكِيَّةِ وَالشَّافِعِيَّةِ إِلَّا مُوَافِقٌ لَهُ أَوْ مُنْتَسِبٌ إِلَيْهِ أَوْ رَاضٍ بِحَمِيْدٍ فِي دِيْنِ اللهِ.

Tataran Praktis Prinsip Ahlussunnah
Aqidah
Dalam hal aqidah, Ahlussunnah wal Jamaah mempertimbangkan dan menetapkan beberapa hal di bawah ini.
Keseimbangan dalam telaah dan penggunaan dalil akal (tajsim dan tasybih) dan dalil syara (mutsbit maa tanzih) agar tidak mengalahkan salah satunya.
Memurnikan aqidah dengan cara membersihkan dan meluruskannya dari pengaruh aqidah yang sesat, baik dari dalam maupun dari luar Islam.
Menjaga keseimbangan berfikir supaya tidak mudah menilai salah, menjatuhkan vonis syirik, bidah pada orang lain yang seaqidah, apalagi mengkafirkannya.
Syariah
Dalam hal syariah, Ahlussunnah wal Jamaah mempertimbangkan dan menetapkan beberapa hal di bawah ini.
Berpegang pada al-Quran dan al-Hadits dengan cara-cara yang benar menurut ahlinya, yakni ulama salaf yang dapat dipertanggungjawabkan kebenarannya.
Akal dapat digunakan ketika terjadi masalah dan tidak ditemukan dalil nash (al-Quran dan Hadits) yang jelas dan mengikat.
Menerima setiap perbedaan pendapat para imam sunni mujtahidin dalam menilai suatu masalah, ketika dalil nash masih mungkin ditafsirkan yang lain.
Selalu mempertimbangkan aspek kemaslahatan dalam mengamalkan syariat di tengah-tengah lapisan masyarakat yang plural.
Tashawwuf
Dalam hal tashawwuf, Ahlussunnah selalu berpegang teguh dan berhati-hati dalam beberapa hal penting, yaitu:
Mendorong dan mengajarkan faham Ahlussunnah dalam bidang tashawwuf dengan menggunakan cara-cara ma’rifat Allah SWT, dzikir, riyadloh dan mujahadah yang tidak bertentangan dengan syariat Islam.
Tidak merasa diri lebih baik dan lebih sempurna dibanding orang lain.
Bersikap sopan santun, rendah diri dan menjaga hati dengan kekhusyuan dan keikhlasan dengan siapapun dan dimanapun berada.
Selalu berusaha mewujudkan rasa aman, tentram pada diri sendiri khususnya dan lapisan masyarakat pada umumnya.
Tidak terlalu berlebihan dalam menilai sesuatu, tenang, dan bijak dalam mengambil sikap serta mempertimbangkan kemaslahatan.
Bergaul antar Kelompok
Dalam pergaulan, Ahlussunnah menilai adanya hal-hal yang terpenting, antara lain:
Bersikap santun dengan keluarga, tetangga dan orang lain demi untuk tujuan dakwah.
Bersikap tegas, bijak dan mengambil posisi yang tepat terhadap pihak-pihak yang ingin merusak Islam.
Kehidupan Bernegara
Dalam kehidupan bernegara, Ahlussunnah menentukan beberapa hal berikut:
Mempertahankan nilai-nilai agama Islam Ahlussunnah wal Jamaah dan UUD 45 dalam bingkai NKRI (Negara Kesatuan Republik Indonesia) sebagai negara yang sah menurut hukum Internasional, atau sah menurut agama Islam dalam setiap undang-undang yang tidak bertentangan dengan syari’atnya.
Mentaati dan mematuhi pemerintah atas semua peraturan dan kebijakan yang berlaku selama tidak bertentangan dengan ajaran Islam.
Tidak melakukan bentuk perbuatan apapun yang berakibat pada jatuhnya kewibawaan, memicu pemberontakan dan penggulingan terhadap pemerintah yang sah.
Jika pemerintah melakukan penyimpangan dari aturan agama Islam, membuat rakyat sengsara, maka harus mengingatkannya dengan cara yang baik.
Mengawal dan mengkritisi kebijakan-kebijakan pemerintah yang melanggar syariat dan UUD 45, demi tercapainya sebuah pemerintah yang adil bersih dan berwibawa.
Tradisi
Dalam masalah tradisi umat Islam, Ahlussunnah memberikan batasan-batasan sebagai berikut:
Meletakkan tradisi umat Islam pada posisi yang tepat serta menilai dan mengukur dengan nilai-nilai ajaran Islam.
Menerima tradisi yang baik dan tidak bertentangan dengan agama Islam siapa-pun yang membawa dan dari manapun datangnya.
Melestarikan tradisi umat Islam lama yang lebih baik dan mengambil tradisi baru yang sesuai dengan syara.
Sebab Rasulullah SAW bersabda:

أَبْغَض النَّاسِ إلَى الله ثَلاَثَةٌ : مُلْحِدٌ فِي الحَرَمِ ، وَمُبْتَغٍ فِي الإسْلاَمِ سُنَّةَ الجَاهِلَيَّة ، وَمُطَّلِبُ دَمِ امْرِئٍ بِغَيْرِ حَق ، لِيُهْرِيقَ دَمَهُ.
أخرجه البخاري في صحيحه
ستة لعنتهم، لعنهم الله وكل نبي مجاب : الزائد في كتاب الله، والمكذب بقدر الله تعالى، والمتسلط بالجبروت فيعز بذلك من أذل الله ويذل من أعز الله، والمستحل لحرم الله، والمستحل من عترتي ما حرم الله، والتارك لسنتي- ( ت ك ) عن عائشة ( ك ) عن ابن عمر (الجامع الصغير من حديث البشير النذير) – (1 / 465)
Dakwah
Dalam hal dakwah, Ahlussunnah menganjurkan berdakwah yang ditujukan kepada seluruh lapisan
masyarakat dengan memperhatikan beberapa ketentuan sebagai berikut:
Dakwah dilakukan dengan nilai yang ikhlas, tulus memberikan bimbingan, pencerahan dan pengarahan demi tercapainya tujuan utama, yaitu mendapatkan kebahagiaan di dunia dan kemuliaan di akhirat.
Materi dakwah disesuaikan dengan kondisi dan kemampuan berfikir masyarakatnya.
Berdakwah bukan bertujuan untuk menyalahkan, menghukumi ataupun mengkafirkan orang lain, akan tetapi untuk memupuk rasa persaudaraan dan mengajak masyarakat menuju jalan yang diridlai Allah SWT.

Realitas ke-Indonesiaan
Dalam konteks berbangsa dan bernegara (sosial kemasyarakatan) Ahlussunnah wal Jamaah mengakui realitas kemajemukan atau pluralistik. Terbukti tatkala tercetus Piagam Madinah, Kanjeng Nabi Muhammad SAW menjumpai adanya pemeluk Yahudi, Nasrani, beliau tetap menegaskan, bahwa Islam adalah satu-satunya agama yang benar. Bahkan beliau mengirim surat ke beberapa Raja Eropa, seperti Heraklius, Muqauqis berupa ajakan untuk memeluk agama Islam.
قَالَ أَبُو سُفْيَانَ: كَتَبَ النَّبِيُّ صَلَّى الله عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِلَى هِرَقْلَ: «تَعَالَوْا إِلَى كَلِمَةٍ سَوَاءٍ بَيْنَنَا وَبَيْنَكُمْ» [آل عمران: 64[[رواه البخاري]
Abu Sufyan RA berkata: Kanjeng Nabi Muhammad SAW mengirimkan surat kepada Raja Hiraklius yang artinya: “Hai ahli Kitab, Marilah (berpegang) kepada suatu kalimat (ketetapan) yang tidak ada perselisihan antara Kami dan kamu” (HR. Bukhori).
Perlu dicatat, agama-agama selain Islam yang para pemeluknya diberi hak hidup oleh Rasulullah SAW hanya agama Yahudi dan Nashrani (Ahli Kitab), Majusi juga seperti Ahli Kitab, karena Rasulullah SAW bersabda: سنوا بهم سنة أهل الكتاب (HR. Imam Malik fil Muwathta’, wa imam Abdurrozaq fil Mushonnaf). Islam mengakui keberadaan kedua agama tersebut bukan berarti membenarkannya, akan tetapi Islam masih menghormati sisa-sisa kebenaran dari ajarannya. Penyembah Berhala tidak ditolerir oleh Rasulullah SAW, terbukti beliau mengusir mereka dari tanah haram dan seluruh jazirah arab, sampai membuat ultimatum pasca penaklukan Makkah, barangsiapa yang tidak keluar dari tanah haram setelah 4 bulan, pasti akan kami perangi. Jadi sekali lagi kami tegaskan bahwa negara Madinah yang dibangun oleh Baginda Rasul SAW tidak menampung para penyembah berhala, apalagi melindunginya. Oleh karenanya sangat tidak masuk akal, jika para liberalis menggunakan “Piagam Madinah” sebagai dalil pembenaran perlindungan negara Indonesia terhadap kafir non ahli kitab (Hindu, Budha, Konghucu dll…).
Meski demikian, bukan berarti kita umat Islam Indonesia kemudian berlaku intoleran atau bertindak diskriminasi kepada mereka, karena pada dasarnya, ada kode etik khusus ketika berinteraksi sosial dengan non muslim dalam konteks ke-Indonesiaa. “Rukun tapi Suloyo, Suloyo tapi Rukun” atau “Sebongso tapi Suloyo, Suloyo tapi Sebongso”, atau yang lebih tepatnya “Sak negoro tapi Suloyo, Suloyo tapi sak negoro”, begitulah kode etiknya, sebab rukun dengan non muslim Indonesia itu sifatnya hanya dharurat, agar supaya umat Islam tidak dituduh Radikal, Ekstrim, Intoleran dan cap-cap buruk lainnya, sedangkan rukun sesama muslim hukumnya wajib, apapun sekte dan alirannya, semisal Santri-non Santri, NU-Muhammadiyah, Wahhabi, HTI, JTA dst… kami mengistilahkan interaksi sosial antar sesama umat Islam di Indonesia dengan jargon “Podo Tapi Bedo, Bedo Tapi Podo”, atau “Seagomo tapi Bedo, Bedo tapi Seagomo”.
Fenomena mengerikan semisal umat Islam ikut natalan, Banser Jaga Gereja, memilih pemimpin non muslim, do’a bersama, FKUB dan lain sebagainya adalah imbas pemahaman keliru terhadap tata cara interaksi antar muslim-non muslim.
Kami tambahkan lagi, bahwa maqolah ulama (Seperti KH. Zubair Dahlan dan KH. Maimoen Zubair) عليكم بالدثار والشعار, hakikat pemahaman Ditsar dan Syi’ar itu sama, yakni kembali pada taqwallah, jika syi’ar adalah urusan membersihkan hati dari sombong, iri, dengki, ujub dan segala penyakit hati (domain thoriqoh), maka ditsar adalah urusuan dhohir, seperti sholat, zakat, puasa, haji dll. Pokoknya syi’ar itu “noto ati” sedangkan ditsar “noto awak”. Tidak seperti orang-orang yang menafsiri syi’ar dengan menetapkan pendidikan salaf, sedangkan ditsar dengan menerima pendidikan umum.
Adapun maqolah: حق عل العاقل أن يعرف زمانه ويحفظ لسانه ويقبل على شأنه (termasuk salah satu hikmah ‘Ali Dawud, dalam kitab al-Bidayah wa an-Nihayah Juz 1. Hal: 102, dan termasuk isi suhuf Ibrahim, dalam kitab Syarah Arba’in Nawawiyah hal: 40) maksudnya arif bizamanih adalah: Seseorang ketika berdakwah harus menggunakan bahasa kaumnya yang kekinian (terupdate), berlandaskan hukum dan tidak menimbulkan fitnah dan kegaduhan, agar mudah dipaham, hal ini senada dengan firman Allah SWT: وَمَا أَرْسَلْنَا مِنْ رَسُولٍ إِلَّا بِلِسَانِ قَوْمِهِ لِيُبَيِّنَ لَهُمْ فَيُضِلُّ اللَّهُ مَنْ يَشَاءُ وَيَهْدِي مَنْ يَشَاءُ وَهُوَ الْعَزِيزُ الْحَكِيم. خذ ما Jadi tidak boleh mengikuti arus zaman dengan dalih maqolah tersebut, karena ada maqolah ulama yang berbunyi: خذ ما صفا ودع ما كدر (setiap perkara menguntungkan akhirat harus diambil, dan yang merugikannya harus ditinggal). Begitu juga tidak boleh berdalil dengan maqolah ulama moderen yang masih diragukan kevalidannya, تتغير الأحكام بتغير الأحوال والأزمان. Kalau zaman rusak, masak kita ikutan rusak?, seperti sekarang lagi marak Pluralisme, Liberalisme, Miras, LGBT, kepemimpinan non muslim, bermesraan dengan kuffar, natalan, perzinaan dan seterusnya… apa dengan dalil tersebut, umat Islam diperbolehkan ikut-ikutan zaman? Naudzubillah min dzalik.
Kanjeng Nabi Muhammad SAW juga melakukan pergaulan sosial secara baik dengan komunitas orang kafir (ahli kitab), seperti Kristen Najron, Yahudi Madinah sebelum mereka mengkhianati Perjanjian Madinah atau yang dikenal dengan Piagam Madinah. Namun, setelah mereka mengkhianati perjanjian tersebut, Kanjeng Nabi SAW menerapkan kebijakan yang berbeda-beda. Terhadap Bani Qoinuqo dan Bani Nadlir, Kanjeng Nabi Muhammad SAW memerangi dan mengusir mereka dari Madinah, terhadap Bani Quroidloh, beliau memerangi dan menumpas mereka. Begitu juga orang tuanya istri Kanjeng Nabi SAW yang bernama Huyay bin al-Akhthob yang merupakan tokoh Yahudi Bani Quroidhoh terbunuh dalam perang khandaq, kemudian putrinya, Shofiyyah yang suaminya Kinanah bin Rabi’ bin Abil Huqaiq terbunuh di perang Khaibar diperistri kanjeng Nabi Muhammad SAW.
Aswaja juga menerima konsep kebangsaan, kebhinekaan dalam konteks berbangsa dan bernegara, sosial kemasyarakatan sebagai bentuk loyalitas tanggungjawab aswaja terhadap stabilitas dan keutuhan NKRI serta demi mewujudkan dan menjaga persatuan dan kesatuan antar komponen bangsa Indonesia, asalkan untuk kemaslahatan umat Islam, dan semua itu tidak bertentangan dengan syari’at Islam itu sendiri (الإسلام يعلو ولا يعلى عليه).
Namun ketika nilai-nilai kebangsaan dan ke-bhinekaan tersebut dikhianati oleh orang-orang liberal dengan dibuat kedok untuk memasarkan ide-ide pluralisme agama, maka Aswaja mempunyai kewajiban untuk membendungnya serta membentengi umat agar tidak ikut-kutan terjebak hanyut ke dalam propaganda untuk meninggalkan dan membuang Islam dengan slogan “pluralisme agama”.
Dampak Pluralisme adalah pendangkalan aqidah. Di negeri ini, kegiatan yang mengandung benih-benih dan aroma pluralisme agama sudah menjadi tren. Kegiatan do’a bersama lintas agama yang melibatkan tokoh-tokoh NU bukan pemandangan asing lagi. Acara yang diberi tema “Forum Silaturahmi Nasional Lintas Agama” di GOR Sidoarjo pada hari Jumat, 22 Januari 2010. Begitu juga sungguh sangat memiriskan umat Islam yang setiap tahun disuguhi berita ”pelamaran” pihak NU (puluhan ribu GP Ansor-Banser) “melamar” kepada orang Kristen dan Katolik untuk menjadi penjaga gereja di upacara natalan. Padahal bukan keadaan darurat, sedangkan polisi pun sudah dikerahkan hingga 93.000 polisi untuk pengamanan. Di zaman Gus Dur, pembangunan gereja besar-besaran marak direalisasikan pada daerah komunitas Muslim. (Sumber: m.tribbunnews.com)
Tindakan salah tokoh NU dan pengasuh pondok pesantren Saka Tunggal di Jl. Sendang Guwo 40-42 Semarang yang dikenal sebagai dedengkot PBM (Pasukan Berani Mati), ceramah di sebuah gereja Bethany Tayu, Pati, Jawa Tengah, Rabo 25 Desember 2013 (Sumber: m.kaskus.co.id) sebagai tindak lanjut dari isu NKRI harga mati, keBhinekaan, dan toleransi kebangsaan yang merupakan kedok untuk menyebarkan paham pluralisme agama.
Entah mengapa orang-orang tersebut begitu getol dan giat melakukan kegiatan-kegiatan pluralisme diatas, padahal tidak ada kondisi darurat sedikitpun yang sah menjadi pendorong umat Islam harus berperilaku seperti, bahkan yang terjadi hal ini lebih terlihat dipaksakan. Buktinya setiap acara tersebut selalu di-blow up besar-besaran di media massa dan bagi Muslim yang mengingkarinya otomatis mendapat cap intoleran, radikalis, anti-kemajemukan, dan cap-cap teror lainnya. Padahal umat Islam sudah dilarang dan diwanti-wanti oleh Allah agar jangan akrab (muwalah) dengan orang kafir.

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَتَّخِذُوا بِطَانَةً مِنْ دُونِكُمْ لَا يَأْلُونَكُمْ خَبَالًا وَدُّوا مَا عَنِتُّمْ قَدْ بَدَتِ الْبَغْضَاءُ مِنْ أَفْوَاهِهِمْ وَمَا تُخْفِي صُدُورُهُمْ أَكْبَرُ قَدْ بَيَّنَّا لَكُمُ الْآيَاتِ إِنْ كُنْتُمْ تَعْقِلُونَ [آل عمران : 118]
“Wahai orang-orang yang beriman, janganlah kamu menjadikan teman orang-orang yang diluar kalanganmu (seagama) sebagai teman kepercayaanmu, (karena) mereka tidak henti-hentinya menyusahkanmu. Mereka mengharapkan kehancuranmu. Sungguh telah nyata kebencian dari mulut mereka, dan apa yang tersembunyi di hati mereka lebih jahat. Sungguh telah kami terangkan kepadamu ayat-ayat (kami), jika kamu mengerti” (QS. Ali Imran: 118)

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَتَّخِذُوا الْيَهُودَ وَالنَّصَارَى أَوْلِيَاءَ بَعْضُهُمْ أَوْلِيَاءُ بَعْضٍ وَمَنْ يَتَوَلَّهُمْ مِنْكُمْ فَإِنَّهُ مِنْهُمْ إِنَّ اللَّهَ لَا يَهْدِي الْقَوْمَ الظَّالِمِينَ [المائدة : 51]
“Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah kamu menjadikan orang Yahudi dan Nashrani sebagai teman setia(mu) mereka satu sama lain saling melindungi. Barangsiapa diantara kamu menjadikan mereka teman setia, maka sesungguhnya dia termasuk golongan mereka, sungguh Allah tidak memberi petunjuk kepada orang yang zhalim.” (QS. Al-Maaidah: 51)

وَدُّوا لَوْ تَكْفُرُونَ كَمَا كَفَرُوا فَتَكُونُونَ سَوَاءً فَلَا تَتَّخِذُوا مِنْهُمْ أَوْلِيَاءَ حَتَّى يُهَاجِرُوا فِي سَبِيلِ اللَّهِ
“Mereka ingin supaya kamu menjadi kafir sebagaimana mereka telah menjadi kafir, lalu kamu menjadi sama (dengan mereka). Maka janganlah kamu jadikan diantara mereka penolong-penolong(mu), hingga mereka berhijrah pada jalan Allah.” (QS. Al-Nisa: 89)
Keputusan Bahtsul Masail PBNU tanggal 21 Januari 2014 tentang wajibnya kondom dan perlunya lokalisasi prostitusi dalam rangka mencegah penyebaran HIV dan AIDS. Menurut siaran pers Komisi Penanggulangan AIDS Nasional (KPAN), PBNU termasuk dari empat penerima dana utama The Global Fund untuk penanggulangan HIV/AIDS. Dari USD. 111,09 juta yang dihibahkan ke Indonesia, PBNU menerima dana sebesar USD. 13,391,651. (161 Milyar) (Sumber: PEPFAR-US President’s Emergency Plan for AIDS Relief), Salah satu bentuk realisasi bantuan dana tersebut adalah diterbitkannya dua buku berjudul “Panduan Penanggulangan AIDS, Perspektif Nahdlatul Ulama” dan Khutbah Jumat “Jihad Melawan HIV & AIDS”. Sudah menjadi rahasia umum jika KB adalah salah satu program Kristenisasi, karena sasaran program ini adalah umat Islam, sedangkan China-Kristen tidak perlu KB, yang lebih mengerikan lagi, umat Islam saat ini diajari LGBT dan dicekoki Miras, naudzubillah min dzalik.
Ini semua adalah bentuk dari propaganda pluralisme agama dan program kristenisasi yang terorganisir. Karena pemakaian kondom bisa menekan kehamilan dan memutuskan keturunan. Allah Taala berfirman:
وَإِذَا تَوَلَّى سَعَى فِي الْأَرْضِ لِيُفْسِدَ فِيهَا وَيُهْلِكَ الْحَرْثَ وَالنَّسْلَ وَالله لَا يُحِبُّ الْفَسَادَ. [البقرة: 205]
Dan apabila ia berpaling (dari kamu), ia berjalan di bumi untuk mengadakan kerusakan padanya, dan merusak tanam-tanaman dan binatang ternak, dan Allah SWT tidak menyukai kebinasaan. (QS. Al-Baqoroh: 205)
Keputusan PBNU ikut melegalkan lokalisasi juga bertentangan dengan keputusan Bahtsul Masail pada Muktamar Nahdlatul Ulama ke- XXXI di Boyolali Solo Jawa Tengah 29 November-01 Desember 2004 yang memutuskan bahwa melegalkan lokalisasi prostitusi bukan taghyir munkarat, tapi justru membenarkan, menolong, dan melestarikan kemaksiatan tersebut dan hukumnya adalah haram. Upaya taghyir munkarat harus dilakukan dengan cara penutupan tempat-tempat maksiat dan memberikan hukuman kepada para pelakunya. Allah SWT berfirman:
وَلَا تَقْرَبُوا الزِّنَا إِنَّهُ كَانَ فَاحِشَةً وَسَآءَ سَبِيلًا. [الإسراء: 32[
Dan janganlah kamu mendekati zina; Sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji dan suatu jalan yang buruk. (QS. Al-Isro: 32)
وَتَعَاوَنُوا عَلَى الْبِرِّ وَالتَّقْوَى وَلَا تَعَاوَنُوا عَلَى الْإِثْمِ وَالْعُدْوَانِ وَاتَّقُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ شَدِيدُ الْعِقَابِ. [المائدة: 2[
Dan tolong-menolonglah kamu dalam (menger-jakan) kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran. (QS: al-Maidah: 2)
Inilah deretan dari berbagai konspirasi dan propaganda Kristen-Liberal lewat tokoh-tokoh Islam dalam memporak-porandakan keutuhan dan kekuatan umat Islam. Mereka kelompok minoritas, namun mereka telah lancang dan terang-terangan menyulut api permusuhan antar umat Islam. Oleh karena itu, jika dikembangkan, apalagi di negara yang mayoritas muslim, seperti Indonesia maka akan melahirkan permasalahan teologis, sosio-politik, dan bahkan HAM yang sangat di luar biasakan.

Ikhtitam
Berbagai bencana telah melanda negara ini, marilah bermuhasabah diri, dengan kembali ke fitrah, memposisikan diri dan berkiprah sesuai dengan karakter dan keahliannya masing-masing, seorang tokoh yang mempunyai kapasitas keilmuan hendaknya mengamalkan ilmunya sesuai syariat Islam dengan mengatakan bahwa benar adalah sebuah kebenaran dan bathil adalah sebuah kebathilan, hendaknya yang kaya mendermakan sebagian hartanya di jalan Allah SWT dan yang miskin hendaknya memperbanyak istighfar.
Pesantren mempunyai tugas melahirkan generasi paripurna untuk menjawab berbagai persoalan umat, menjadi garda depan dalam menolak dan membendung pengaruh pemikiran-pemikiran sesat Liberalisme, Pluralisme, Sekulerisme, Syiah, Wahhabi, MTA dan aliran-aliran sesat lainnya yang semakin tumbuh berkembang di Indonesia, demi menjaga kemurnian aqidah dan umat Islam dari kekufuran.
Semoga Allah SWT memberi rahmat, taufiq dan hidayah-Nya kepada kita semua. Amiin…

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s

Atas ↑

%d blogger menyukai ini: