Demikian sepetik ngendikane Syaikh Muhammad Najih dalam acara Temu Alumni Santri Ribath Darusshohihain dan Tahfizhul Quran yang berlangsung pada Kamis 3 Dzul Qa’dah 1438 H atau 27 Juli 2017 M.
Di dalam acara rutin tiap tahun tersebut, Syaikh Muhammad Najih mengawali dengan mengatakan bahwa tawassul itu ada. Beliau lalu menceritakan bahwa tanah Ribath Darusshohihain ini dhawuh Mbah Maimoen Zubair adalah tanah milik Haji Miftah, teman Mbah Manaf Lirboyo ketika mondok dan berguru kepada Mbah Kholil Bangkalan. “Beliau itu tukang adzan. Orang Sarang terkenal suaranya bagus ketika adzan, sehingga Mbah Kholil katanya senang. Mbah Miftah ketika akan boyong diberi isyarah Mbah Kholil bakal punya pangkat. Akhirnya beliau ketika sudah berada di rumah menjadi carik (sekretaris desa). Beliau punya keponakan juga menjadi naib di Rembang,” kata beliau.

“Saya bertawassul kepada Mbah Manaf. AlhamduliLlah punya ta’alluq dengan Mbah Kholil Bangkalan,” lanjut beliau.

Abah Najih menjelaskan bahwa ada berkah dari Kiai Kholil sampai Mbah Zubair sempat diajar oleh Syaikh Said al-Yamani. “Saya pernah ke Demak menghadiri haul seorang kiai yang merupakan muridnya Mbah Kholil. Kalau disini dulu beliau jabatannya lurah pondok. Berkah Mbah Kholil tidak hanya bagi orang Madura saja, kok bisa sampai Demak juga? Di daerah Ciamis juga ada yang membaca shalawat yang berasal dari mbah Kholil. Bahkan khutbah nikah di Kajen Pati itu juga karangannya Mbah kholil.”

Kemudian, Abah Najih menceritakan bahwa zaman dulu Mbah Zubair Dahlan di Makkah ngaji kepada Syaikh Said al-Yamani, belajar Nahwu dan I’rab. “Di Sarang sini Mbah Zubair tidak pernah sekolah, tidak pernah madrasah. Namun waktu itu semarak pendidikan madrasah, barangjali karena didukung Syaikh Said itu. Kalau disini Syaikh Said sama dengan guru guru privat, tapi tidak digaji. Syaikh Said berkata kepada orang Madura bernama Syarqawi bahwa beliau giat mengajar ini karena ingin membalas kebaikan Mbah Kholil Bangkalan yang sudah mengajar tetangga-tetangganya,” ujar beliau.

“Kiai Kholil Bangkalan tiap tahun ketika ada orang haji selalu kirim uang dihaturkan kepada ulama Makkah. Dahulu ulama makkah ekonominya rendah, tapi pakaiannya necis. Pakaian ulama, pakai serban. Memang dulu belum ada tambang minyak. Saudi kaya kan setelah ada minyak. Mungkin Mbah Kholil khidmah kepada ulama begitu karena kepengen anak cucunya alim, tapi takdir Allah ya begitu. Mungkin yang alim bukan anak cucunya, tapi muhibbin beliau seperti Mbah Zubair. Memang begitu Allah Ta’ala, semuanya takdir Allah,” lanjut Abah Najih.

Beliau melanjutkan bahwa biasanya orang alim juga ingin anak cucunya jadi orang alim. “Orang yang hormat kiai biasanya anaknya menjadi kiai. Itu dulu. Tapi sekarang kok tidak? Ya mboh. Sudah mau mondok itu sudah bagus. Nanti jadi kiai malah diundang di istana, tambah repot. Jadi kiai NU, kiai liberal.”

“Jadi terkadang orang kalau banyak muridnya itu anaknya kurang terurus. Begitu ya jangan diejek. Memang begitu takdir Allah. Tapi sudah mending tidak liberal. Imam Tebuireng itu malah cucunya jadi liberal.”

Pada kesempatan tersebut Abah Najih juga menghimbau kepada para santri alumni agar ikut berpartisipasi ketika ada pelaksanaan coblosan saat Pemilu. “Maksud saya kita juga harus punya sifat nasionalis sedikit-sedikit, tapi tidak harus ikut organisasi. Kalau tidak nyoblos ini gimana? Kan namanya tidak taat dengan pemerintah,” tandas Abah mengingatkan.

Lanjutnya, “Kiai Sarang kuno itu tidak ada yang jadi pengurus NU, apalagi Mbah Mad. Orang NU tidak akan berani. Mbah Zubair seingat saya juga bukan pengurus NU, tapi kalo ada Muktamar diundang tapi ya hanya Bahtsul Masailnya saja. Kiai Sarang mendukung NU tapi tidak sepenuh hati. Masih senang mengucapkan “kamubtaghi jahin wa malan man nahadl” (syathr tsani bait Alfiyyah Ibn Malik nomor 436). Kita tidak anti NU, tapi juga tidak NU tenanan. Yang penting ngaji, itu sikap kiai Sarang kuno.”

Beliau menandaskan kembali bahwa umat Islam harus ada nasionalismenya tapi jangan sampai merasuk ke hati. “Pilkada-pilkada apalagi demokrasi itu tidak usah mlebu ati. Tapi kalo tidak ikut Pemilu itu kurang bijak. Yang repot itu besok milihnya gimana? PPP-nya sudah dipimpin orangnya Gus Dur. Romahurmuzi itu pengagum Gus Dur, aslinya PKB,” ujar beliau.

Selanjutnya, Syaikh Muhammad Najih mengharapkan agar santri Deha fokus untuk mengajar dan melakukan aktivitas untuk tujuan akhirat.

“Saya pengen pekerjaanmu untuk akhirat adalah pekerjaan khususmu. Kalau shalat jamaah dan seterusnya itu sudah maklum. Pekerjaan sampeyan dari Deha ini mengajar, ngaji atau ngajar. Kalau bisa mengajar ya AlhamduliLlah, tapi kalau tidak bisa ngajar ya muthala’ah sendiri atau mengajar anak istrinya. Ngajar ‘Uqud al-Lujain atau kitab-kitab kecil lain dalam masalah wanita itu sudah baik. Tidak harus mengajar kitab di sekolahan yang ada ijazahnya itu. Kalau ditawari ijazah sekiranya tidak mengganggu agamamu terima saja. Tapi kalau uang pemerintah ya gimana gitu. Hendaknya tidak digunakan untuk makan, paling-paling untuk beli bensin, bayar pajak, atau listrik. Kalau bisa begitu. Apalagi dapat uang 1 triliun, itu uang bancakane Islam Nusantara. Bisa juga ambil dari Naga Sembilan atau Cina, bisa juga dari dana haji. Sekarang Jokowi rencana ambil dana haji untuk infrastruktur, berarti mungkin sudah pernah ambil. Dulu untuk Islam Nusantara, sekarang untuk dzikir kebangsaan. Harus hati-hati,” tandas beliau.

Beliau kemudian membahas sedikit tentang sejarah kiprah etnis Cina di Indonesia. “Saya kemarin tidak sengaja ngomong di Sumenep, dulu zaman Belanda etnis Cina itu sudah dinomorsatukan oleh penjajah. Kasta pertama tentu Belanda, kedua Cina, ketiga kaum priyayi, kaum santri paling terakhir. Kan ada cerita bahwa dulu di Pandeglang, Cilegon, atau Tangerang orang Cina ditugaskan Belanda untuk memungut pajak. Patungnya ada di TMII, kemudian disindir oleh Habib Rizieq. Patung Cina itu lalu diabadikan oleh Cahyo Kumolo yang keturunan Cina itu. Cina sudah lama dikader oleh Belanda untuk memimpin Indonesia, ini yang bahaya. Dia kelihatannya baik di hadapan kiai, tokoh, apalagi kaum priyayi. Ngerti unggah ungguh, kalau membunuh orang mengerti aturannya untuk tidak banyak-banyak. Beda dengan Perancis,” kata Abah Najih.

Lanjut beliau, “Saya kemarin membaca di Whatsapp grup Brebes, ada info tesis dari doktor perempuan dari Jerman bahwa Perancis telah membantai sejuta lebih orang Aljazair atau Tunisia. Kalau Belanda kan tidak seperti itu, tapi tetap saja jenenge Barat yang tetap mangkel. Akhirnya Cina yang diperintahkan untuk memecah belah dengan menjadi tukang narik pajak. Akhirnya saya ngomong Cina itu bisa kaya karena pajaknya dikurangi, kalau pribumi dipungut penuh. WaLlahu A’lam. Mereka sudah lama digadang untuk memimpin Indonesia, makanya harus hati-hati. Nanti akhirnya jadi komunis. Kerjasama antara orang Cina di daerah asalnya dengan orang Cina di Indonesia lewat komunis.”

Abah Najih menandaskan kembali bahwa berkah itu ada, ketika santri tidak memiliki pangkat itu adalah kondisi yang harus disyukuri, dan agar selalu giat berdoa dan wiridan untuk menjaga dirinya. “Sekarang ada orang ngomong kita ini tidak maksum, kita ini hatta ulama hatta kiai adalah manusia. Kalau kita sewaktu-waktu diundang ke acara yang berbau liberal, ya ngomong saja ada udzur syar’i seperti sakit. Sakit hatinya. Pokoknya giat wiridan, membaca Hizib Sakron, Ratib Atthas, Ratib Haddad, Hizib Nawawi. Diniati untuk menjaga dirinya. Kalau niatnya hanya untuk menolak orang yang ngomel, caci maki, ya kecil itu. Dicaci maki itu fitnah kecil, biasa itu. Yang berat itu kamu dipuja-puja, itu yang paling bahaya. Penting kuat imannya, dicaci tidak apa-apa. Sebenarnya alim tapi dibuat tidak bisa bicara, itu sudah biasa biar tidak diberi pangkat kok. Seng tenang, seng syukur. Dibuat tidak bisa ngomong itu harus syukur. Sekarang bisa mengajar ya syukur tapi harus hati-hati, apalagi yang pinter orasi itu. Nanti direkrut HTI, direkrut NU kan repot. Apalagi direkrut PKB,” ujar Abah Najih.

“Berkah itu ada. Kalian tidak terlalu terlihat di ormas itu harus disyukuri. Yang penting bisa ngajar, kan? Gak dianggep alim ya wes. Nanti dianggep alim malah diincar. Pokoknya santai, banyak-banyak tawadlu’ semoga anak cucunya diselamatkan Allah.”

Di akhir mauizhah, Abah Najih mengajak para alumni untuk selalu berdoa agar diselamatkan oleh Allah Ta’ala. “Moga-moga pondoknya tetap salaf, agar besok bisa untuk mondok anak-anaknya, anak cucu sampeyan. Semoga saya punya keturunan, dan sebelum punya keturunan pokoknya ada yang meneruskan.”

“Yang penting ngajar, muthala’ah, ngaji Al-Quran, dan wiridan untuk keselamatan dan tetap salaf dan lurus. Semoga bisa meneruskan. Semua ini dari Allah. Dulu saya pernah cerita kalau Sayyid Muhammad pernah bertanya, “Kalo kamu punya uang satu juta mau kamu gunakan untuk apa?.” Terus saya jawab ingin bangun zawiyah atau rubath yang banyak wiridannya tapi bukan untuk ndukun, tapi bantu ilmu dan perjuangan Islam.”

Beliau mengakhiri mauizhah beliau dengan membaca doa yang diamini oleh seluruh alumni putra putri yang hadir di acara tersebut. AthalaLlahu baqa’ahu wa razaqahu al-shihhah wa al-‘afiyah wa al-istiqamah ‘ala al-thariqah al-salafiyyah, wa nafa’ana bi ‘ulumihi wa a’malihi wa akhlaqihi. Amin ya Rabb al-‘alami. WaLlahu A’lam.

Iklan