​SEMINAR TOLERANSI DI PESANTREN SIDOGIRI, ABAH NAJIH: “KITA SUDAH TOLERANSI. KITA SUDAH BANYAK MENGALAHNYA DI NEGERI INI.”

Demikian penggalan kalimat yang diucapkan oleh Syaikh Muhammad Najih Maimoen ketika diundang sebagai keynote speaker dalam Kuliah Umum bertajuk “Hitam Putih Toleransi” di Pondok Pesantren Sidogiri Pasuruan Jawa Timur, Senin siang (11 Sya’ban 1438 H/8 Mei 2017 M). Ini merupakan salah satu rangkaian acara untuk menyemarakkan Milad Pondok Pesantren Sidogiri ke-280 dimana puncak acaranya berlangsung pada hari Kamis 14 Sya’ban 1438 H atau 11 Mei 2017 M. Acara ini diselenggarakan oleh Organisasi Murid Intra Madrasah (OMIM) melalui Unit Kegiatan Pengembangan Intelektual (UKPI) di aula kantor Laz-Sidogiri, dengan dihadiri oleh seluruh murid MMU Aliyah.

Lakum Dinukum Wa Liya Din: Larangan Berbarengan dalam Beribadah

Dalam acara tersebut, Syaikh Muhammad Najih memaparkan beberapa ayat yang sering digunakan sebagai dalil toleransi kaum liberal. Pertama yang beliau bahas adalah QS. Al-Kafirun: 6:

لَكُمْ دِينُكُمْ وَلِيَ دِينِ [الكافرون : 6]

“Untukmu agamamu dan untukkulah agamaku.” (QS. Al-Kafirun: 6)

Tentang ayat tersebut, Abah Najih menjelaskan bahwa sabab nuzulnya adalah ketika kafir Quraisy mengajak Rasulullah untuk saling bergantian dalam menyembah agama. Lalu turunlah Surah Al-Kafirun sebagai larangan untuk melakukan hal tersebut. Menurut beliau, ayat lakum dinukum wa liya din juga melarang untuk berbarengan dalam beribadah (seperti halnya doa lintas agama, red.)

“Sekarang lagi ngetren ayat lakum dinukum wa liya din. Tapi dari kalangan liberal memaknai ayat ini dalil kebebasan beragama dan kebenaran agama-agama selain Islam. Padahal ayat sebelumnya qul ya ayyuhal kafirun. Kalau kita kaitkan dengan ayat sebelumnya sangat zhahir menyebutkan perbedaan Islam dan agama lainnya. Sama halnya mereka berdalil fawailul lil mushallin (QS. Al-Ma’un: 4), tapi tidak diteruskan. Ini bahaya sekali,” tegas Abah Najih.

Lanjut beliau, “Lakum artinya hanyalah bagimu agamamu, waliya din artinya hanyalah bagiku agamaku. Bukan kok membolehkan, tapi tidak mau agama dicampur-campur, tidak mau diliberalkan, tidak mau dipluralkan. Maknanya sharih sekali. Sama dengan ayat waddu lau tudhinu fayudhinun (QS. Al-Qalam: 9).”

Setelah itu beliau menjelaskan bahwa kaum liberal menyebarkan ajaran seperti itu supaya umat Islam lemah. “Liberal itu  kepengen kamu lemah, dikasih toleran ini kan, dan akhirnya mereka juga bersikap lemah. Artinya umat Islam tidak protes agamanya dikurang-kurangi, non-Muslim masuk ke masjid, orang Islam masuk ke gereja. Ini agama campursari, agama blonthang-blontheng.” tandas beliau.

Maksudnya Yahudi dan Nasrani yang Masuk Islam

Selanjutnya, beliau mengupas tentang dalil toleransi lain versi kaum liberal yaitu QS. Al-Baqarah: 62.

إِنَّ الَّذِينَ آمَنُوا وَالَّذِينَ هَادُوا وَالنَّصَارَى وَالصَّابِئِينَ مَنْ آمَنَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ وَعَمِلَ صَالِحًا فَلَهُمْ أَجْرُهُمْ عِنْدَ رَبِّهِمْ وَلَا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلَا هُمْ يَحْزَنُونَ [البقرة : 62]

“Sesungguhnya orang-orang mukmin, orang-orang Yahudi, orang-orang Nasrani dan orang-orang Shabiin, siapa saja diantara mereka yang benar-benar beriman kepada Allah, Hari Kemudian dan beramal saleh, mereka akan menerima pahala dari Tuhan mereka, tidak ada kekhawatiran kepada mereka, dan tidak (pula) mereka bersedih hati.” (QS. Al-Baqarah: 62)

Syaikh Muhammad Najih menjelaskan bahwa makna ayat innalladzina amanu walladzina hadu wa al-nashara diatas adalah orang Islam yang sebelumnya memeluk agama Yahudi dan Nasrani, atau orang Yahudi dan Nasrani yang meninggal sebelum datangnya Islam namun yakin bahkan akan ada nabi akhir zaman. Mereka yang sepert ini akan masuk surga asal mau beriman kepada Allah dan beramal shalih.

Beliau juga mengutip keterangan Dr. Wahbah al-Zuhaili dalam kitab tafsirnya bahwa yang orang-orang yang dimaksud dalam ayat diatas adalah para pemuka agamanya (syuyukh) Salman al-Farisi di daerah asalnya, kekuasaan Persia. Beliau menceritakan bahwa Salman Al-Farisi adalah putra saudagar kaya atau menteri kerajaan Persia yang beragama Majusi. Waktu masih kecil, ayahnya ingin beliau jadi tokoh Majusi di masyarakatnya. “Tapi waktu itu di Persia sudah ada Kristen. Kristen sudah menyebar banyak. Di Arab, di Ethiopia, di Somalia, di Mesir, bahkan Syria menjadi pusatnya. Di Irak dan Iran juga ada Kristen,” kata Abah Najih.

“Bahkan Tahun Gajah adalah penyerangan kaum Kristen kepada Ka’bah. Aslinya tentara gajah dan pemimpinnya Abrahah berasal dari Habasyah. Kemudian jadi raja di Yaman, lalu membangun Ka’bah tandingan di Yaman supaya orang Arab mau kesana. Sama halnya masjid yang baru dibangun di Jakarta Barat kemarin. Masjid kok ada salibnya. Semoga saja arahnya tidak kesitu, Amin. Tujuan kaum liberal adalah agar banyak kader-kader Kristen dan kader-kader penghormat Kristen,” lanjut beliau.

Beliau melanjutkan bahwa QS. Al-Baqarah: 62 ini seringkali digunakan sebagai dalil kaum liberal bahwa Yahudi dan Kristen masuk surga. “Ayat ini turun, tentang orang Arab, orang ajam (non-Arab), atau orang yang asalnya penyembah berhala lalu masuk Islam. Lalu orang Yahudi dan Nasrani yang tidak hidup sekurun dengan Kanjeng Nabi tapi beriman kepada Allah, beramal shalih, dan mengakui adanya nabi akhir zaman, serta niat jika nabi tersebut sudah diutus maka akan mereka ikuti, atau mereka hidup sekurun dengan Kanjeng Nabi dan masuk Islam. Ini kata Tafsir Jalalain. Tapi ayat ini sekarang dibuat dalil bahwa Yahudi Nasrani sama-sama masuk surga, dalilnya orang liberal.”

Abah Najih kemudian menyinggung sekilas tentang QS. Al-Baqarah: 120:

وَلَنْ تَرْضَى عَنْكَ الْيَهُودُ وَلَا النَّصَارَى حَتَّى تَتَّبِعَ مِلَّتَهُمْ [البقرة : 120]

“Orang-orang Yahudi dan Nasrani tidak akan senang kepada kamu hingga kamu mengikuti agama mereka.” (QS. Al-Baqarah: 120)

“Ayat ini menjelaskan aslinya mereka (Kristen) ingin mengkristenkan umat Islam. Tapi kemudian setelah pengalaman Perang Salib dan penjajahan, mereka sekarang alih strategi. Kalau dahulu ingin mengkristenkan, tapi kalau sekarang ingin umat Islam menghormati Kristen. Menghormati Nabi Isa di atas Nabi Muhammad ShallaLlahu ‘alaihi wa Sallama. Bagaimana supaya umat Islam ketika perayaan natal ikut natalan, kayak-kayak mengemis rotinya Kristen,” papar beliau.

Umat Islam Sudah Toleransi, Sudah Banyak Mengalahnya

Selanjutnya, Syaikh Muhammad Najih menyayangkan sikap kaum liberal dan orang-orang yang terpengaruh oleh mereka yang suka menuduh umat Islam yang menegaskan ajaran agamanya ini sebagai kaum yang tidak toleran dan penebar kebencian. Padahal, kata beliau, umat Islam di Indonesia ini sudah begitu toleran dengan non-Muslim dalam banyak hal.

“Kita itu sudah toleransi, artinya kita sudah tidak perang di negara ini. Banyak gereja di tengah-tengah umat Islam, itu sudah melanggar undang-undang sebenarnya. Kalau kita berontak itu mestinya harus dimaklumi. Kita sudah banyak mengalahnya. Yang penting kita doakan kalo perlu dibacakan wirid, supaya gereja-gereja itu tidak payu (oleh umat Islam, red.). Allahumma Amin,” doa beliau dengan diamini oleh seluruh peserta kuliah umum tersebut.

Lanjut beliau, “Mereka biasa bilang di acara-acara televisi, bahwa kita yang teguh dengan akidah kita ini menebar kebencian. Kita seperti ini dianggap menebar kebencian. Kita ini bukan menebar kebencian, kita mengamalkan tauhid, mengamalkan Islam, cemburu kepada tauhid jika dinodai oleh orang-orang liberal itu, oleh Ansor-Ansor itu. Dulu mereka Ansorul Ulama (Pembela Ulama), sekarang jadi Ansorul Qissisin (Pembela Pastor), Ansorul Kanais (Pembela Gereja), Ansoru Ahok (Pembela Ahok)!” Sontak peserta tertawa riuh sejenak.

“Kita bukan menebar kebencian. Kita takut kalau kita ikut mereka, kita menjadi sesat menyesatkan. Kita takut umat Islam ketarik kesana. Kita itu benci bukan artinya benci marah, tapi kita diajarkan untuk benci kufur. Maksud saya, kita tidak benci secara umum atau yang melanggar Pancasila atau UUD 45. Bahkan kita sudah banyak mengalahnya. Ya itu tadi gereja-gereja di tengah-tengah umat Islam. Iki kon diidek-dek maneh, ini kita mau diinjak-injak lagi.”

Abah Najih mewanti-wanti para peserta yang hadir dalam forum tersebut khususnya dan seluruh umat Islam seluruhnya agar selalu sabar dan meminta perlindungan kepada Allah agar terhindar dari fitnah besar liberalisme ini. “Kita sudah tidak bisa jihad, sudah tidak bisa apa-apa. Kita mau menyampaikan akidah kita tidak boleh, dianggap menebar kebencian. Kita di zaman akhir ini harus sabar dan kuat. Sabar itu artinya kuat. Mereka bilang kita menebar kebencian biar kita lemah. Kita bukan benci yang melanggar aturan, tapi benci dalam hati. Wong benci temannya setan kok gak boleh? Anak buah setan, kita harus benci. Kita isti’adzah biar tidak seperti mereka,” pesan beliau.

“Yang susah ini teman-teman kita, anak-anak kita, keponakan-keponakan kita, yang sekolah umum, tidak ada pendidikan tauhid, tidak ada pendidikan innaddina indaLlahil Islam (sesungguhnya agama yang diterima Allah hanya Islam), tidak pernah mendengar ayat itu, atau bahkan mungkin ayat itu dilarang. Kasihan mereka. Beruntung kita berada di pondok, AlhamduliLlah. Yang susah itu adalah yang tidak di pondok, atau di pondok tapi Pondok Lintas Agama di Semarang punya Nuril Arifin. Bahkan ada yang namanya Pondok Gus Dur atau apa itu. Itu membahayakan sekali. Mari dicabut anak-anak kita atau saudara-saudara kita yang ada disitu.”

Beliau lalu mengupas lebih dalam masalah toleransi umat Indonesia yang sebenarnya sudah sangat toleran sebelum kata toleransi ini digembor-gemborkan oleh kalangan liberal. “Kata mereka, demi HAM, demi toleransi, demi humanisme, kita harus baik-baikan dengan orang kafir. Kita sudah baik-baikan kan? Kita tidak melawan, tidak menyerang, bahkan kita tidak boikot produk-produk mereka. Seperti Alfamart dan Indomaret, itu kan milik Kristen. Ada dana dari mereka untuk kristenisasi. Kadang-kadang mereka merekrut orang Islam jadi pelayan mereka. Bahkan kadang-kadang tiap bulan ada ustadz untuk mencerahami mereka. Tapi tujuannya hanya bisnis. Kan pelayan mereka Muslim, kalau dinasihati pendeta non-Muslim tidak akan mau hadir, tapi kalau yang menasihati ustadz dan kiyai mereka mau hadir agar mereka tidak mencuri dan tidak korupsi. Tujuannya hanya bisnis saja, bukan liLlahi Ta’ala. Disitu ada dana pasti, sama dengan Djarum dsb, untuk kristenisasi. NaudzubiLlah min dzalik.”

“Sama dengan travel Armina yang sekarang dipromosikan di Jawa Pos dan TV9, itu milik Kristen. Orang Islam yang menggunakan jasanya diberi fasilitas yang enak. Dibuatkan testimoni ada orang yang asalnya tukang laundri ikut usaha bisnis travel Armina ini kemudian menjadi kaya dan tiap tahun bisa haji, tiap bulan bisa umrah. Memang umat Islam di situ dimanjakan, tapi pasti ada dana untuk kristenisasi,” lanjut beliau.

Uang dari Kegiatan Liberal: Uang Apa Itu?

Selanjutnya, Syaikh Muhammad Najih menyinggung tentang uang yang didapat dari memasarkan ideologi dan kegiatan liberal. Beliau menegaskan bahwa kaum liberal melakukan berbagai kegiatan dan menyebarkan pahamnya itu niatnya untuk mencari uang saja, meskipun mereka selalu menggembor-gemborkan tujuan kemanusiaan dan semacamnya. “Apakah cari uang lewat itu mesti halal? Wong bantu Kristen, bantu Yahudi Nasrani, bantu Hindu Budha kok cari uang. Apakah uang yang kamu ambil itu halal? Itu transaksi apa itu? Anda menjadi jurkam-jurkam mereka, jadi karyawan-karyawan mereka untuk meliberalkan umat islam. Uang apa itu?,” kritik beliau terhadap kegiatan para aktivis liberal.

“Sama dengan fenomena anak dan teman kita kerja di luar negeri menjadi TKI atau TKW. Apa ada jaminan disana anda bisa shalat dengan tenang? Emang dapat uang, tapi apakah mesti halal? Terus, uang anda bisa saja dibuat royokan agen-agen itu. Kan enak cari uang di daerah sendiri, liLlahi Ta’ala dan seadanya. Tidak usah keluar negeri demi dapat uang banyak. Itu uang ‘panas’. Di negara luar seperti Hongkong belum mesti bisa shalat.”

“Kalau perempuan dikirim ke Saudi, itu bisa dibuat main-mainan saja sama majikannya. Dinikmati orang sana. Kalau dia sudah punya suami akhirnya cerai dengan suaminya. Kenapa anda tidak kerja disini saja bisa tenang, qanaah, dan seterusnya?”

Abah Najih ingin menunjukkan bahwa budaya pesantren yang sudah mendarah daging di masyarakat terutama daerah pedesaan itu bisa memberi ketenangan dengan memberi pengajaran masyarakat untuk hidup sederhana dan seadanya. “Pesantren ini bikin tenang masyarakat, tidak membuat orang bekerja terlalu keras, ambisius, dan mengejar dunia yang keterlaluan. Sayang pesantren seperti ini tidak diakui oleh pemerintah sebagai Pendidikan Nasional. Hanya sebagian kecil saja pesantren yang diberi pengakuan-pengakuan ijasah itu. Padahal pesantren inilah yang berjasa besar di negara ini. Tidak suka memberontak, tidak suka ke luar negeri, juga siap kerja di negara sendiri. Kenapa tidak ada penghargaan dari pemerintah?,” ujar beliau.

Bertetangga Boleh, Berteman Akrab Tidak Boleh

Abah Najih melanjutkan ke permasalahan bagaimana batasan Muslim menjalin komunikasi dan hubungan sosial dengan non-Muslim.

Beliau berkata, “Jadi masalahnya, bukan kita menebar kebencian. Tapi di nash-nash Al-Quran kita tidak boleh mudahanah (bersikap lemah) dengan non-Muslim, tidak boleh terlalu baik dengan mereka, mencari ketenangan hidup lewat mereka, menganggap mereka teman akrab, apalagi dijadikan pemimpin. Teman akrab saja tidak boleh. Mengobrol lama-lama aslinya juga tidak boleh. Seperti di film-film di televisi yang ada pluralismenya itu gak boleh, apalagi dijadikan pemimpin. Apalagi kita ikut menyembah-nyembah di tempat ibadah mereka.”

“Kalau sekedar bertetangga boleh, yakni karena menjadi tetangga atau teman di kantor bolehlah kadang-kadang menyapa. Itu boleh-boleh saja, itu kebiasaan orang Jawa. yang penting jangan sampai ada rasa simpati kepada agama mereka. Kalau sampai akrab, apalagi sampai membocorkan rahasia umat Islam, maka bahaya sekali. Kalau kita toleran sebatas bertetangga atau sebagai teman sepekerjaan itu boleh-boleh saja karena kita menjadi masyarakat juga ingin hidup rukun, tenang, dan dapat bekerja dengan tenang. Namun tidak boleh akrab seperti dengan umat Islam,” lanjut beliau.

Setelah itu Abah Najih menyinggung pula tentang kebiasaan yang sering berlaku di masyarakat Jawa. beliau mengkritik kebiasaan sebagian orang Jawa yang lebih memilih mendatangkan kyai atau ustadz dari luar daerah, namun tidak memberi kesempatan kepada ustadz atau kyai di daerahnya sendiri untuk menasihati masyarakatnya, padahal dia mumpuni atau bahkan lebih alim dari orang yang didatangkan itu.

“Budaya kita ini kadang-kadang, maaf, perlu dibenahi. Orang Jawa ini yang saya tahu, biasanya kalau sama teman sendiri berani nakal, tapi kalau sama orang lain tidak berani. Kita kadang suka menghormati yang jauh. Pengajian umum mesti mengundang penceramah yang jauh-jauh, tidak pernah yang dari daerahnya sendiri diberi kesempatan memberi pitutur. Mestinya mereka berhak menasihati kaumnya sendiri. Tapi budaya kita senang mendatangkan yang jauh-jauh. Yang dekat daerahnya sendiri paling-paling hanya diundang tahlilan saja. Tidak pernah diberi waktu mituturi. Kalau ada yang diberi waktu paling hanya memberi sambutan. Ini mendingan,” kata beliau.

“Adat kita itu kalau ada yang pakaiannya meniru habaib-habaib mancanegara itu lebih dihormati, tapi yang pakaiannya biasa-biasa tidak. Bagaimana ini? Kadang-kadang kita juga menghormati orang lain dengan menganggukkan kepala. Itu adat. Tapi kepada orang kafir apa boleh? Kemarin saya sudah ceritakan kisah Barsesha itu, kan? Akhirnya dia sujud kepada iblis dalam keadaan disalib. Dia ingin melakukan perintah Iblis untuk bersujud kepadanya supaya selamat, tapi dia bingung karena dalam keadaan disalib. Lalu dia bertanya, “Aku seperti ini, bagaimana aku bersujud kepadamu?” Iblis menjawab, “Kamu menganggukkan kepalamu saja sudah aku anggap sujud.” Lha, ini gimana? Ahok saja menganggukkan kepala sama hakim jaksa di persidangan. Ini jadi masalah yang musykil (sulit),” lanjut beliau.

Rahmatan lil ‘Alamin Itu untuk Umat Islam

Dalam pungkasan kuliah beliau, Syaikh Muhammad Najih menjelaskan tentang makna Rahmatan lil ‘Alamin dalam QS. Al-Anbiya’: 107:

وَمَا أَرْسَلْنَاكَ إِلَّا رَحْمَةً لِلْعَالَمِينَ [الأنبياء : 107]

“Dan tiadalah kami mengutus kamu, melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam.” (QS. Al-Anbiya’: 107)

Beliau menjelaskan, “Saya lebih memilih lil ‘alamin maknanya adalah umat Islam. Jadi Kanjeng Nabi Muhammad ShallaLlahu ‘alaihi wa Sallama adalah rahmat dan berkah bukan hanya untuk Ahlul Bayt saja, atau bagi shahabat saja. Bagi siapapun yang mengikuti Kanjeng Nabi akan mendapat rahmat dan mesti masuk surga. Bukan Arab saja, hatta non-Arab asal ikut Kanjeng Nabi, senang ngaji, mau mengamalkan Islam, cinta Islam, mesti masuk surga. Kenapa saya condong pendapat ini? Karena ayat sebelumnya:

وَلَقَدْ كَتَبْنَا فِي الزَّبُورِ مِنْ بَعْدِ الذِّكْرِ أَنَّ الْأَرْضَ يَرِثُهَا عِبَادِيَ الصَّالِحُونَ (105) إِنَّ فِي هَذَا لَبَلَاغًا لِقَوْمٍ عَابِدِينَ [الأنبياء : 105 ، 106]

“(105) Dan sungguh telah Kami tulis dalam Zabur sesudah (Kami tulis dalam) Lauh Mahfuzh, bahwa bumi Ini dipusakai hamba-hambaKu yang saleh. (106) Sesungguhnya (apa yang disebutkan) dalam (Surat) ini, benar-benar menjadi peringatan bagi kaum yang menyembah (Allah).” (QS. Al-Anbiya’: 105-106)

Ayat ini kan ditujukan untuk Muslim yaitu lafazh shalihun. Masa’ ini membahas orang kafir? Kan tidak pantas. Kalau dipaksakan ya pas-pas saja, tapi thariqah saya ketika memahami ayat itu disesuaikan dengan ayat sebelum dan setelahnya,” ujar Abah Najih.

Lanjut beliau, “Saya tidak menolak, Rasulullah diutus juga sebagai rahmat untuk orang kafir. Akan tetapi bentuk rahmatnya adalah raf’ul adzab al-musta’shil (diangkatnya siksa yang membinasakan seluruhnya) seperti yang terjadi pada Kaum ‘Ad dan Tsamud. Hatta di zaman Nabi Ibrahim dan Nabi Musa pun sudah tidak ada siksa yang menyeluruh seperti ini, apalagi di zaman Nabi Isa dan Nabi Muhammad ShallaLlahu ‘alaihi wa Sallama. Kalau sekedar itu, sudah terjadi jauh sebelum zaman Rasulullah. WaLlahu A’lam.”

Acara kuliah umum tersebut ditutup dengan doa yang dibaca oleh Syaikh Muhammad Najih dan diamini oleh ratusan santri Pondok Pesantren Sidogiri yang hadir di acara tersebut.[]

Iklan