Dalam karyanya berjudul Bada’I al Fawa’id (3:153) Ibnu al Qoyyim yang mengutip Ibnu ‘Aqil yang mengatakan bahwa politik (al siyasah) adalah suatu langkah dan tindakan yang diambil untuk mengantarkan umat manusia menuju kemaslahatan dan menghindari kerusakan dan bahaya, meskipun Nabi Saw tidak pernah menetapkan hal ini dan tidak ada wahyu yang pernah berkenaan dengannya. Dalam hal ini, yang penting adalah bahwa tindakan yang diambil tidak boleh bertentangan dengan berbagai ketentuan Syari’at Islam. Di kalangan al Khulafa’ al Rasyidin Juga terjadi semacam pembunuhan dan penyiksaan.orang yang mengetahui Sunnah Nabi tidak mengingkari hal ini, sekiranya tidak ada cara lain untuk mencapai kemaslahatan kecuali dengan membakar mushaf, maka mereka akan mengikuti pendapat seperti dan melakukaannya. Diriwayatkan bahwa khalifah Umar bin Khatthab Ra. pernah membuang dan mengasingkan Nashr bin Hajjaj ke luar kota Madinah.
Menurut hemat saya, hal seperti inilah yang menggelincirkan banyak orang. Inilah juga tempat dan medan sempit yang menyedihkan dan pertempuran sengit yang menyebabkan tidak sedikit orang mengbaikan nilai-nilai dan norma-norma. akibatnya, mereka berani melanggar batas-batas hukum (al Hudud), menyia-nyiakan hak dan kewajiban, dan memberi dorongan kepada orang-orang jahat untuk melakukan kerusakan. Mereka juga berani menjadikan syariat sebagai tata aturan yang sangat terbatas dan tidak cukup andal untuk memenuhi kemaslahatan manusia. Bahkan, mereka pun tidak segansegan menutup diri dari jalan-jalan kebenaran dengan mengikuti kebatilan. Lebih jauh lagi, mereka berani mengingkari jalan-jalan kebenaran, padahal mereka mengetahuinya secara pasti dan malahan mengajarkannya kepada orang lain sebagai rambu-rambu yang akan mengantar mereka menuju kebenaran. Mereka menduga bahwa jalan-jalan kebenaran itu bertentangan dengan kaidah-kaidah fiqh islam. tentu saja, yang membuat mereka bersikap picik adalah ketidakmampu-an dan kelemahan mereka dalam mengenali dan mengetahui fiqh islam (baca: syariat islam) yang sesungguhnya.

Ketika para pemimpin mengetahui situasi demikian dan bahwa urusan manusia akan bisa dibereskan dengan aturan tambahan berdasarkan apa yang mereka pahami dari syariat islam, mereka lalu membuat undang-undang politis-strategis untuk mengatur berbagai urusan duniawi. Karena pengetahuan mereka tentang syariat masih sedikit, bahkan jauh dari memadai ditambah peraturan-peraturan baru yang bersifat politis-strategis yang mereka buat sendiri, maka munculah bencana yang berkelanjutan, bahaya yang meluas, dan kekacauan dahsyat yang sulit diperbaiki. sementara itu, ada pula kelompok lain yang melekukan tindakan berlebihan. Mereka ini berani membuat kebijakan-kebijakan dan mengambil tindakan-tindakan yang sebenar-nya bertentangan dengan hukum-hukum Allah Swt dan Rasul-Nya. Kedua kelompok itu sama-sama bertolak dengan bekal ilmu dan pengetahuan yang minim  dan jauh dari memadai. Mereka bahkan tidak memehami tujuan utama diutusnya rasul. Allah Swt mengutus para rasul-Nya yang di bekali dengan kitab-kitabnya untuk mengajak manusia  berlaku dan bertindak adil serta hidup dalam keseimbangan.

Dengan keadilan atau keseimbangan langit dan bumi  bisa tegak berdiri dan aman. Jika simbol-simbol dan tanda-tanda keadilan tampak dan wajahnya demikian terang dengan cara dan teknis apapun, maka disitulah syariat allah ditegakkan, dan disanalah agama Allah Swt di hidupkan. Sebab, Allah Swt tidak membatasi jalan-jalan menuju keadilan. Berbagai dalil, bukti  dan tanda-tandanya tidak terbatas pada sesuatu dan meniadakan jalan-jalan lain yamg sebenarnya masih serupa atau bahkan lebih kuat darinya. Allah bahkan menegaskan bahwa tujuan utama dari jalan-jalan  (Ath- thuruq) allah adalah menegakkan keadilan dan agar manusia hidup dalam keadilan dan keseimbangan. Dengan demikian, jalan apapun yang ditempuh dan melahirkan keadian dan keseimbangan, maka hal itu merupakan wujud konkret dari pengamalan agama. Yang demikian itu tidak bertentangan dengan agama. Oleh karena itu, kita tidak dapat mengatakan bahwa politik berkeadilan bertentatangan dengan apa yang ditetapkan syariat allah. Justru, yang benar adalah politik sejalan dan cocok dengan syariat islam. Bahkan, politik berkeadilan adalah bagian dari fiqh islam (baca: syariat islam) itu sendiri. Kita menyebutnya sebagai “politik” (as-siyasah) mengikuti terminologi yang berkembang sekarang.

Politik berkeadilan adalah bagian dari fiqh islam yang benar. Bukankah Nabi Saw pernah menawan orang-orang yang melakukan adu-domba? Beliau juga pernah menghukum karena suatu tuduhan ketika tanda-tanda keraguan tampak dalam tuduhan itu. Oleh karena itu, jika ada yang melepaskan semua tertuduh dan membiarkan pergi, padahal ia mengetahui tertuduh sebagai pelaku kerusakan di muka bumi dengan merusak rumah-rumah dan banyak mencuri, dan yang melepaskan itu berkata, “Aku tidak akan menghukumnya kecuali bila ada dua orang saksi yang adil dan menyaksikan kejahatannya” maka kenyataanya ini bertentangan dengan politik yang ditetapkan oleh fiqh islam. Demikian pula, Nabi Saw pernah tidak memberikan bagian rampasan perang (al-ghanimah) kepada orang yang berkhianat dalam urusan ini, sementara Al-khulafa’ Al-rasyidin membakar semua barang milik orang itu. Nabi Saw pernah mengambil setengah harta orang yang tidak membayar zakat. Begitu pula beliau pernah melipatgandakan denda atas pencuri yang tidak dipotong tangannya dan menghukumnya dengan didera. Beliau juga pernah melipatgandakan denda atas orang yang menyebunyikan barang yang hilang. Begitu juga, Umar bin al-Khothob pernah membakar warung khamr dan tempat air yang berisi khamr.  Bahkan,  ia  pernah  membakar  gedung  milik  Sa’ad  bin  Abi 

Waqqash karena menutup diri dari rakyat di dalam gedung itu. Ia pernah menggunduli kepala Nasr bin Hajjaj dan bahkan mengusirnya. Umar juga pernah menyita harta pegawainya. Ia pernah menghimbau secara keras sejumlah shahabat untuk tidak banyak meriwayatkan hadis dari Nabi Saw agar mereka lebih mengfokuskan perhatiannya kepada Al-qur’an dan tidak menyia-nyiakannya.  

Masih banyak lagi contoh langkah-langkah politik yang ditempuh para sahabat dalam memimpin dan mengatur urusan kaum muslim. Politik tetap menjadi sunnah yang baik sampai hari kiamat, meskipun mungkin masih banyak oang yang mengingkari dan tidak mengakuinya. Misalnya saja, Abu Bakar ash-Shiddiq R.a. pernah membakar orang yang melakukan sodomi atau homoseksual. ‘Usman bin Affan juga pernah membakar seluruh mushaf Alqur’an yang bertentangan lisan Quraisy. ‘Umar bin al- Khaththab Ra. pun memerintahkan kaum muslim melakukan haji ifrad agar mereka melakukan umrah di bulan-bulan lain dan bukan di bulan-bulan haji. Akibatnya, Baitullah al-Haram senantiasa penuh diziarahi oleh jutaan kaum muslim berkat politik para sahabat dalam mengatur umat lewat penta’wilan atas Alqur’an dan sunnah Nabi Saw.

Ada sebagian orang yang mengklasifikasikan hukum menjadi syariat dan politik, sebagaimana orang mengklasifikasikan syari’at, dan tharekat, dan hakekat. Klasifikasi demikian adalah batil dan tidak benar. Sebab, yang disebut hakekat ada dua macam. Ada hakikat yang benar dan shahih. Inilah inti atau subtansi syari’at, tetapi bukan bagian kecil dari syariat. Ada juga hakikat batil yang bertentangan dengan syariat islam. Begitu juga politik. Ada dua macam politik, pertama: politik berkeadilan yang merupakan bagian dari syariat; kedua: politik yang batil dan bertentangan dengan syariat islam, seperti halnya pertentangan kedholiman dengan keadilan. Demikian pula halnya klasifikasi sebagian orang tentang bahasa agama dalam dua bagian, yakni syariat dan akal. Ini pun klasifikasi batil. Yang rasional justru ada dua: yang pertama: bagian agama yang sesuai dengan apa yang dibawa Nabi Saw; bagian ini tertentunya rasional, baik bahasan maupun teksnya, bukan bagian dari apa yang beliau bawa, sementara yang kedua: adalah bagian yang bertentangan dengan apa yang dibawa Nabi Saw. Bagian ini tentu saja tidak rasional, malah hanya berupa lamunan dan kayalan belaka, dan sekaligus ajaran yang batil. Namun. Menurut anggapan pencetusnya, bagian itu rasional, padahal sesungguhnya hanyalah kayalan semata dan ajaran batil yang mencampurkan kebenaran dengan kebatilan. 

Demikian pula halnya masalah qiyas atau analogi (al-qiyas) dan syariat (asy-syar’). Qiyas yang shahih adalah teks-teks rasional, sementara qiyas yang batil bertentangan dengan syariat. Ini adalah masalah perbedaan antara ahli waris para nabi dengan mereka yang bukan. Akar perbedaannya hanyalah satu, yakni keumuman risalah islam dengan sunnah Nabi Saw. Untuk menjelaskan segala sesuatu yang dibutuhkan oleh seluruh hamba Allah Swt dalam hal ilmu pengetahuan, tradisi, dan amal yang memberikan kemaslahatan kepada mereka dalam kehidupan di dunia ini dan di akhirat nanti. Kita membutuhkan hanya Nabi Saw. 

Selain itu,kita juga memerlukan orang yang akan menyampaikan kita kapada Beliau untuk mangenali lebih jauh apa yang Beliau bawa. Barang siapa belum memiliki pikiran yang meresap dalam hati seperti pikiran dan keyakinan ini, maka ini berarti bahwa belum benar-benar mantab keimanannya kepada diri Nabi Saw. Padahal, wajib hukumnya bagi setiap mukallaf mengimani keumuman risalah Nabi Saw dalam hal-hal seperti ini. Sebagaimana tidak ada seorang pun bisa menghindar dari keimanan dari risalah Nabi Saw, demikian pula tidak ada sedikit pun peluang bagi siapa pun untuk  tidak mengakui sunnah Nabi Saw dan tidak mengamalkan apa yang beliau bawa. Apa yang beliau bawa sudah cukup dan kaum muslim memerlukan hanya sunnah Nabi Saw. Sesungguhnya, orang masih memerlukan selain sunnah Nabi Saw hanyalah orang yang nasibnya tidak mujur, tidak memahami, dan tidak mengenal Beliau karena kurangnya perhatian dan kepedulian, kebutuhan akan sunah Nabi Saw pun hanya sedikit sekali. Padahal sesudah Nabi Saw wafat, bahkan burung-burung yang beterbangan di angkasa pun menyebut ilmu Beliau dan mengenal Beliau sangat baik. Beliau telah mengajarkan kepada kaum muslim segala sesuatu, termasuk adab-adab di kamar kecil, saat menggauli istri, tidur dan bangun dari tidur. Nabi Saw juga mengajari mereka cara duduk, makan, minum, naik dan turun dari kendaraan. Beliau juga menjelaskan ihwal ‘arasy, kursi, malaikat, jin, surga dan neraka. Tidak lupa Beliau juga menerangkan kepada umatnya ihwal hari kiamat dan hal-hal lain yang berhubungan dengannya. Beliau menjelaskan semuanya itu seakan-akan melihat dengan mata sendiri. Beliau mengajari umatnya dan mengenalkan mereka pada Tuhan mereka dengan pengenalan dan penjelasan demikian sempurna sampai-sampai seolah-olah mereka bisa melihat Allah dengan segala sifat kesempurnaan dan keagungan-Nya. Beliau juga mengenalkan kepada umatnya masing-masing dan apa yang terjadi pada mereka bersama kaumnya. Uraian dan penjelasan Nabi Saw .demikian gamblang sampai-sampai umat-umat nabi terdahulu seakan hadir di hadapan mereka. Beliau mengenalkan kapada umatnya jalan-jalan kebaikan dan kejahatan, keselamatan dan kecelakaan mulai dari urusan yang paling kecil sampai urusan yang paling besar.

Seluruh penjelasan Nabi Saw kepada kaum muslim tidaklah seperti penjelasan yang pernah diberikan oleh seorang nabi pun kepada umat mereka sebelumnya. Beliau juga tidak lupa mengenalkan umatnya tentang kematian dan apa yang akan terjadi sesudah kematian di alam Barzakh, berikut apa yang akan dialami dan didapatkan oleh mereka yang mati, baik berupa kenikmatan abadi maupun kesengsaraan yang tiada henti. 

Semua kenikmatan atau kesengsaraan itu akan dirasakan oleh ruh dan badan manusia sekaligus. Seluruh penjelasan dari Nabi Saw kepada umatnya ini dirasa demikian jelas dan bahkan mereka seakan-akan menyaksikannya dengan mata kepala sendiri. Beliau menjelaskan kepada umatnya dalil-dalil tauhid, kenabian, dan kehidupan di dalam akhirat. Dijelaskan ihwal jawaban atas berbagai kelompok yang tetap dalam kekufuran dan kesesatan dengan penjelasan sangat gamblang, sehingga mereka yang mengetahui penjelasan itu akan merasa puas. Bahkan, mereka sama sekali tidak memerlukan penjelasan lagi dari siapa pun. 

Kemudian, Nabi Muhammad Saw juga memperkenalkan umatnya taktik dan strategi perangan, berbagai cara menghadapi musuh, dan metode-metode perangan yang akan membuahkan kemenangan. Jika apa yang beliau jelaskan difahami betul dan dipraktekkan dengan benar, maka tidak akan ada seorang musuh pun yang berani menghadapi kaum muslim untuk selama-lamanya. Beliau menunjukkan kepada umatnya berbagai tipu daya iblis dan jalan-jalan yang biasa dilaluinya untuk menjerumuskan kaum muslim. Tidak lupa beliau juga memperkenalkan cara-cara untuk menyelamatkan diri dari berbagai tipu muslihat iblis berikut metode-metode yang tepat untuk menolak bujuk rayunya dengan cara yang sederhana, mudah difahami, dan tidak sulit diamalkan. Dengan cara seperti itu, Nabi Saw jelas telah memberikan arahan dan petunjuk kepada umatnya. Seandainya saja mereka memahami dan mengikuti petunjuk beliau dengan benar, pastilah mereka akan mampu menghadapi berbagai problem kehidupan di dunia ini secara konsisten yakni tetap tegak dalam kebenaran, tidak akan celaka, dan rugi untuk selama-lamanya. 

Ringkasnya, Nabi Saw telah datang kepada umat manusia dengan membawa apa yang akan membuat hidup mereka bahagia di dunia dan di akhirat dengan segala sisinya. Setelah itu, Allah Swt tidak perlu mengutus lagi seorang rasul dan nabi sesudah beliau. Oleh karena itu, umat manusia tidak lagi membutuhkan siapa pun selain Nabi Saw yang agung. Allah Swt pun menutup pintu kenabian dan tidak lagi mengutus seorang nabi atau rosul sesudah Beliau. Sebab, umat manusia sudah merasa cukup dengan kehadiran beliau, Nabi Muhammad Saw. Lantas, bagaimana mungkin ada anggapan bahwa syariat Nabi Saw yang demikian lengkap masih memerlukan politik yang bersumber darinya? Atau, ada pandangan bahwa fiqh islam (baca: syariat islam) masih membutuhkan sebuah hakikat selain dirinya, qiyas selain dalam syariat islam; atau masih memerlukan ajaran-ajaran rasional di luar dirinya? Barangsiapa mempunyai anggapan seperti itu, maka ia sama saja dengan orang yang masih membutuhkan seorang rosul lain sesudah Nabi Saw. Tentu saja, penyebab utamanya adalah bahwa ia belum begitu mengenal dan memahami apa yang dibawa oleh Nabi Saw. Dan Allah pun berfirman: 

لَمْ يَكْفِهِمْ أَنَّا أَنْزَلْنَا عَلَيْكَ الْكِتَابَ يُتْلَى عَلَيْهِمْ إِنَّ فِيْ ذَلِكَ لَرَحْمَةً وَذِكْرَىْ لِقَوْمٍ يُؤْمِنُوْنَ. [سورة العنكبوت: 51] 

“Dan apakah tidak cukup bagi mereka bahwasanya kami Telah menurunkan kepadamu Al Kitab (Al-Qur’an) sedang dia dibacakan kepada mereka? Sesungguhnya dalam (Al-Qur’an) itu terdapat rahmat yang besar dan pelajaran bagi orang-orang yang beriman”(QS. Al Ankabut: 51)

وَيَوْمَ نَبْعَثُ فِيْ كُلِّ أُمَّةٍ شَهِيْدًا عَلَيْهِمْ مِنْ أَنْفُسِهِمْ وَجِئْنَا بِكَ شَهِيْدًا عَلَى هَؤُلاَءِ وَنَزَّلْنَا عَلَيْكَ اْلكِتَابَ تِبْيَانًا لِكُلِّ شِيْءٍ وَهُدًى وَرَحْمَةً وَبُشْرَى لِلْمُسْلِمِيْنَ. [النحل: 89]

“(dan ingatlah) akan hari (ketika) kami bangkitkan pada tiap-tiap umat seorang saksi atas mereka dari mereka sendiri dan kami datangkan kamu (Muhammad) menjadi saksi atas seluruh umat manusia. dan kami turunkan kepadamu Al Kitab (Al-Quran) untuk menjelaskan segala sesuatu dan petunjuk serta rahmat dan kabassr gembira bagi orang-orang yang berserah diri” (QS. Al Nah: 89)

إِنَّ هَذَا الْقُرْآنَ يَهْدِيْ لِلَّتِيْ هِيَ أَقْوَمُ وَيُبَشِّرُ الْمُؤْمِنِيْنَ الذِيْنَ يَعْمَلُوْنَ الصَّالِحَاتِ أَنَّ لَهُمْ 

أَجْرًا كَبِيْرًا [سورة الإسراء: 9].

“Sesungguhnya Al-Qur’an Ini memberikan petunjuk kepada (jalan) yang lebih lurus dan memberi khabar gembira kepada orang-orang Mu’min yang mengerjakan amal saleh bahwa bagi mereka ada pahala yang besar”(QS. Al Isra’: 9)

يَاأَيُّهَا النَّاسُ قَدْ جَاءَتْكُمْ مَوْعِظَةٌ مِنْ رَبِّكُمْ وَشِفَاءٌ لِمَا فِي الصُّدُوْرِ وَهُدًى وَرَحْمَةٌ لِلْمُؤْمِنِيْنَ

“Hai manusia, Sesungguhnya Telah datang kepadamu pelajaran dari Tuhanmu dan penyembuh bagi penyakit-penyakit (yang berada) dalam dada dan petunjuk serta rahmat bagi orang-orang yang beriman”(QS. Yunus: 57)

Bagaimana mungkin sebuah “kitab” bisa menyembuhkan apa yang ada dalam dada manusia, padahal ia bahkan tidak bisa memenuhi sepersepuluh kebutuhan manusia? Demikian kira-kira menurut pandangan mereka yang batil. Sungguh, ini sangat aneh. Sebelum diciptakan undang-undang (positif) ini dan dikeluarkannya berbagai pendapat ini, berikut berbagai analogi rasional, dan pandangan kaum intelektual andal ini, apakah para sahabat Nabi Saw dan generasi sesudah mereka mengikuti petunjuk-petunjuk tekstual Al-Quran dan sunnah Nabi, ataukah mereka mengikuti berbagai peraturan dan undang-undang selain itu sampai kemudian datang kelompok intelektual mutakhir yang lebih cerdas ketimbang mereka dan lebih benar? Tentu saja, pikiran seperti ini tidak pernah diduga oleh seorang dengan kecerdasan sederhana sekalipun dan masih memiliki rasa malu. Kita berlindung kepada Allah Swt  dari kehinaan seperti itu. Akan tetapi, jika ada orang yang dianugerahi pemahaman yang baik untuk mengambil ilmu dari Alquran dan sunnah Nabi, pastilah ia tidak akan memerlukan lagi kitab undang-undang selain keduanya. Inilah karunia Allah Swt yang dianugerahkan kepada siapa saja yang dikehendaki-Nya. Dan Allah Swt mempunyai anugerah yang besar.  
**Kajian Islam KH. M. Najih Maimoen

Iklan