Demikian yang disampaikan oleh KH. Muhammad Najih Maimoen ketika menjadi narasumber pertama dalam acara Halaqah Pengasuh Pondok Pesantren bertajuk “Pondok Pesantren sebagai Pilar Tafaqquh Fiddin dengan Mengkaji Kitab Kuning” yang diselenggarakan di Hotel Muria pada hari Kamis-Jumat tanggal 25-26 Jumadal Ula 1438 H/22-23 Februari 2017 M. Acara tersebut adalah hasil kerjasama MUI Provinsi Jawa Tengah dan Universitas Sultan Agung (UNISSULA) dan dihadiri oleh ratusan kyai dari berbagai pondok pesantren di Jawa Tengah. Selain Abah Najih, ada tiga narasumber lain yang dihadirkan yaitu KH. Taufiqurrahman Hakim dari Pondok Pesantren Amstilati Jepara, KH. Mukhlas, dan KH. Harits Shadaqah.
Kampus Islam Zaman Dahulu Bisa Baca Kitab

Syaikhina Muhammad Najih mengawali dengan membahas kondisi kampus Islam zaman dulu yang sebelumnya sempat disinggung oleh moderator. Beliau menuturkan bahwa zaman dulu kampus Islam begitu semangat berbahasa Arab dan dosen-dosennya biasa belajar dan membaca kitab. “Para dosen bisa membaca dan paham kitab salaf meskipun tanpa I’rab namun tidak maksimal, sama halnya seperti orang Arab. Hal ini karena dzauq (daya rasa) mereka yang terbiasa berbahasa Arab,” kata beliau.

Beliau bercerita bahwa Kyai Suyuthi, adik dari Mbah Baidhawi Lasem dulu ketika membaca kitab juga tidak memakai Nahwu, tapi memahami isinya. “Kalau mbah dari Ibu saya, Mbah Baidhawi, kalau dia ahli Nahwu. Beliau sebelum ke Makkah belajar di Sarang, dan Sarang dari dulu adalah gudangnya Nahwu, kemudian mondok di pesantren di Jamsaren. Disana beliau sudah mengajar kitab Mughni al-Labib. Tapi kalau Kyai Suyuthi itu fiqihnya yang kuat dan pintar bahtsul masail. Mbah Baidhawi kalau bahtsul masail di NU, yang menjadi lisannya adalah Kyai Suyuthi. Memang ada orang bisa bahasa Arab tapi dengan dzauq dan malakah saking biasanya membaca dan mendengar bahasa Arab atau kitab-kitab,” tutur beliau.

Abah Najih dapat cerita lagi dari Pak Fajar seorang dokter di Sarang, bahwa dulu tahun 80-an kampus-kampus di Semarang masih banyak yang bisa baca kitab. Banyak alumni pesantren yang jadi mahasiswa. “Jadi kampus kayak pesantren, mahasiswa kayak santri. Belum begitu banyak orangnya, saling mengenal.”

Gaya hidup seperti inilah yang menurut Abah Najih menjadi nikmat dan indahnya pesantren. “Bisa belajar dan mengaji, banyak kenalan, mukhalathah dan mu’asyarah dengan baik, dan merasa ada pembimbing. Inilah indahnya pesantren zaman dulu. Karena itu, mari pesantren ini kita hidupkan, agar keistimewaan dan kebaikan yang ada di kita ini tidak hilang. Hasilnya di pesantren sangat dirasakan mungkin sangat dibutuhkan.”

Syaikhina Muhammad Najih mengajak kepada hadirin untuk sama-sama menghidupkan kembali pesantren salaf atau pesantren yang ngaji dan tidak cukup hanya bisa bahasa Arab. “Maaf, mana pesantren bahasa Arab yang bisa baca kitab, apalagi yang ngalim. Ini bukan menyindir, tapi kenyataan yang ada yang saya tahu.”

Yahudi Nasrani Hanya Memetik-metik Ayat Kitab Mereka

Setelah muqaddimah diatas, Syaikhina Muhammad Najih lalu membacakan makalah yang beliau susun bersama dengan para santri Ribath Darusshohihain yang topiknya adalah pentingnya sistem sanad sebagai mata rantai penghubung ajaran Ahlussunnah wal Jamaah. Pada waktu pembacaan makalah tersebut ada beberapa topik lain yang beliau singgung, diantaranya adalah tentang perilaku Yahudi Nasrani.

Abah Najih menjelaskan bahwa Yahudi Nasrani tidak melestarikan kitab suci yang diturunkan kepada mereka dan hanya memetik ayat-ayat yang sesuai dengan kepentingan mereka. “Kita sekarang juga begitu. Mengajar Al-Quran tidak semuanya. Ngaji Al-Quran mestinya harus sepenuhnya. AlhamduliLlah, di Jawa masih ada Tahfizhul Quran, ini lumayan. Kebanyakan sekarang yang ngajar Al-Quran perempuan-perempuan yang sering haid. Yang dulu kyai-kyai desa yang mengajar Al-Quran sudah hilang. Tahfizh Al-Quran kebanyakan perempuan, akhirnya kadang-kadang dibuat bisnis saja sama suaminya,” ujar beliau diiringi suara tawa dari para hadirin.

Ngaji Sanad agar Hadits Tidak Disusupi Ahli Bid’ah

Selanjutnya, Syaikh Muhammad Najih menyinggung soal pentingnya mengaji sanad atau jalur keilmuan dari kitab-kitab yang dipelajari baik kitab Hadits atau yang lain.

“Orang dahulu mengkaji sanad supaya jangan sampai Hadits disusupi ahli bid’ah dari membuat hadits-hadits palsu. Sekarang bukan zamannya riwayat hadits secara komplik, maka mari mencari Hadits Shahih menurut ulama kita yang agak longgar seperti al-Zarkasyi, al-Iraqi, Ibn Hajar al-Asqalani, Ibn Jama’ah, dan al-Suyuthi. Bukan dari ulama yang tasyaddud (terlalu ketat) seperti al-Dzahabi, Ibn Taimiyah, dan Ibn Katsir. Namun menurut sebagian ulama, al-Suyuthi itu Mutasahil (terlalu longgar) dalam menshahihkan hadits.”

“Sekarang bukan masa riwayat, namun masanya ngaji. Namun harus tetap menjaga sanad semampunya. Kalau tidak punya ya minta ijazah kepada yang punya sanad agar kita masih punya tradisi atau syi’ar ilmu salaf masih ada, walaupun kita hakikatnya sudah tidak seperti dulu. Dulu orang bisa punya sanad itu benar-benar ngaji. Kalau kita sekarang ngaji lebih banyak tabarrukan, apalagi yang hanya biasa Ramadhanan yang biasa sambil ngantuk itu. Namun dengan adanya sanad, InsyaAllah ada barakahnya dari menyebut nama-nama ulama salaf,” jelas beliau.

Mukhtashar Ibn Abi Jamrah Sangat Barakah

Berikutnya, beliau sempat menyinggung tentang Mukhtashar Ibn Abi Jamrah yaitu salah satu kitab ringkasan dari Shahih Bukhari yang pernah disyarahi oleh Syaikh Muhammad bin Ali al-Syanwani. Abah Najih menyebutkan bahwa Mukhtashar Ibn Abi Jamrah adalah kitab yang sangat barakah dan wajib dibaca.

“Di madrasah kami di Sarang, ayah saya pendiri madrasah mewanti-wanti agar Mukhtashar Ibn Abi Jamrah ini dibaca karena ini sangat penting. Ada keterangan bahwa membaca Shahih Bukhari bisa untuk tolak bala’. Kalau terlalu besar maka cukup baca Mukhtashar ibn Abi Jamrah. Membacanya tidak harus dengan makna utawi iki iku, cukup seperti sema’an.”

Sanad Keilmuwan Pondok Sarang Sampai ke Hadlratus Syaikh Hasyim Asy’ari

Termasuk kitab yang disebutkan penting oleh Abah Najih pada waktu itu adalah Kifayah al-Mustafid, kitab sanad yang ditulis oleh Syaikh Mahfuzh al-Turmusi.

“Kitab ini sangat penting, karena ini adalah andalannya Syaikh Hasyim Asy’ari. Setiap Ramadlan, Syaikh Hasyim Asyari membaca Shahih Bukhari dan Shahih Muslim bergantian, dimana sanadnya dari Syaikh Mahfuzh al-Turmusi dari kitab Kifayah al-Mustafid itu. Anehnya, Syaikh Hasyim Asy’ari ketika akan wafat memberikan kitab sanad dari Syaikh Mahfuzh Termas itu kepada seorang santri Sarang asal Sedan yang lalu menjadi ahli falak yaitu Kyai Ghazali, lalu dari beliau diberikan kepada DEMU,” demikian cerita beliau.

Dari sini, dapat dipahami bahwa sanad keilmuan di pondok pesantren Sarang sampai kepada Hadlratus Syaikh Hasyim Asy’ari lalu melewati Syaikh Mahfuzh al-Turmusi.

Silsilah Keilmuan Abu Hasan al-Asy’ari bukan dari Mu’tazilah

Dalam makalah yang dibaca oleh Syaikhina Muhammad Najih, disebutkan pula tentang silsilah keilmuan Ahlussunnah wal Jama’ah hingga sampai kepada Rasulullah ShallaLlahu ‘alaihi wa Sallama hingga Allah Ta’ala.

Beliau menyebutkan bahwa sanad keilmuan Abu Hasan al-Asy’ari sebagai tokoh manifes Aswaja adalah sebagai berikut: Abu Hasan al-Asy’ari, dari Zakaria Ahmad bin Yahya al-Saji, dari Sufyan, dari al-Zuhri, dan Mahmud bin Rabi’, dari Ubadah bin Shamit, dari Rasulullah ShallaLlahu ‘alaihi wa Sallama, dari Jibril ‘alaihi al-Salam, dari Allah Ta’ala. Sanad ini disarikan dari kitab Syaikh Mahfuzh Termas Kifayah al-Mustafid.

Abah Najih menyatakan bahwa penyebutan sanad keilmuan Abu Hasan al-Asy’ari ini penting, untuk menanggapi pernyataan Ketua Umum PBNU Said Aqil Siradj yang menyebutkan sanad keilmuan Abu Hasan al-Asy’ari melewati jalur tokoh-tokoh Mu’tazilah seperti yang banyak beredar di Youtube.

“Sanad Abu Hasan al-Asy’ari, menurut Kyai Said Aqil Siradj, adalah berikut: Abu Hasan al-Asy’ari, dari Abu Ali al-Jubai’, dari ABu Hasyim al-Jubai’I, dari Abu Hudzail al-‘Allaf, dari al-Nazzham, dari ‘Amr bin Ubaid, dari Muhammad bin Ali bin Thalib, dari Rasulullah ShallaLlahu ‘alaihi wa Sallama, dari Jibril ‘alaihi al-Salam, dari Allah Ta’ala. Ada berbagai kejanggalan dalam sanad ini,” tutur beliau.

Hidupkan Kembali Ngaji Sulam-Safinah

Di akhir presentasi beliau, Syaikhina Muhammad Najih berpesan agar pondok pesantren menghidupkan kembali mengaji empat kitab, yaitu Aqidah al-‘Awam, Sullam al-Taufiq, Safinah al-Naja, dan Bidayah al-Hidayah.

“Ada seorang kyai bercerita kepada saya, bahwa Mbah Baidhawi Lasem pernah dhawuhan: “Termasuk tanda akhir zaman adalah orang sudah sulit mengaji Sullam-Safinah (Sullam al-Taufiq dan Safinah al-Najah, red).” Jadi saya hidupkan kembali, terutama di pondok-pondok pesantren baru yang ada kurikulumnya. Di masyarakat juga bisanya mengajar kitab-kitab itu, arep mengajar kitab-kitab besar tidak bisa.”

Beliau juga berpesan agar pondok pesantren tidak dipersulit dengan administrasi yang rumit-rumit. Ini menanggapi fenomena pendataan pesantren dan majelis ta’lim yang terjadi di Jawa Timur. “Masa’ pesantren dan pengajian harus tidak ada izin dari Menkopolhukam? Pesantren salaf sebelum kemerdekaan saja sudah berjuang, kok masih dicurigai. Kalau pesantren-pesantren tua tidak perlu dicurigai, namun kalau pesantren-pesantren baru mungkin saja begitu. Kecuali pesantren baru yang jadi cabang pesantren salaf atau kyainya alumni pesantren salaf. Yang penting ada kyainya dan diutamakan jebolan salaf, serta harus ada pelajaran salaf,” tutur beliau.

Menyikapi Pondok Pesantren yang Ada Kurikulum

Dalam sesi tanya jawab, Syaikh Muhammad Najih ditanya tanggapannya tentang pondok pesantren yang menerapkan kurikulum pemerintah. Beliau menjawab bahwa pesantren memang ada dua kelompok dalam masalah ini, ada yang tetap murni salaf dan ada yang terbuka dengan kurikulum.

“Namun yang saya tahu, tafaqquh fiddin tidak bisa kecuali dengan pendidikan salaf murni. Namun, bagi pesantren atau madrasah yang menerapkan kurikulum pemerintah, pelajaran-pelajaran yang tidak pokok untuk ikhtibar (ujian) bisa diganti dengan mengaji, baik Nahwu, Sharaf, dan lebih baik lagi Fiqih. Ini ada percontohannya. Di Pasuruan ada keputusan daerah semua pendidikan harus ada pelajaran agamanya atau minimal banyak pelajaran agamanya. Memang disana banyak kyainya, banyak yang bisa baca kitab,” kata beliau.

Abah Najih menegaskan, bahwa beliau sama sekali tidak ada niat untuk memusuhi pondok pesantren yang ada kurikulumnya. “Bukannya kami musuhan dengan orang yang punya kurikulum. Pelajaran umum juga diperlukan. Siapa nanti yang jadi dokter dan pegawai? Kalau tidak ada dari mereka yang alumni pesantren kan repot juga. Hanya saja, apakah MUI dan Unissula butuh tidak dengan tafaqquh fiddin? Padahal NU yang mestinya potensial tafaqquh fiddin, tapi malah mengabaikan. Ini kan aneh.”

Beliau menegaskan juga, bahwa pembimbing itu dimana-mana sangat dibutuhkan, baik di pesantren apalagi di masyarakat. “Di Banyumas banyak yang kecolongan MTA, mungkin karena pembimbingnya kurang di kampung-kampung atau terlalu rebutan politik. Kalau sudah terbiasa tahlil, pelaksanaannya ikhlas, kyainya juga ikhlas dan tidak hanya mementingkan yang kaya, insyaAllah masyarakat nyaman. Kalau tidak begitu ya masyarakat gentayangan ke MTA,” tegas Abah Najih.

Risalah Pekalongan

Selanjutnya, beliau menanggapi pertanyaan tentang kutipan beliau terhadap hukum membaca kitab Daqaiq al-Akhbar, Durrah al-Nashihin, dan al-Mawaizh al-‘Ushfuriyyah. Beliau menjawab bahwa beliau hanya mengutip pernyataan ahli Hadits Universitas al-Azhar bahwa kitab-kitab itu banyak hadits-hadits Maudlu’.

“Saya bukan berarti ikut mengharamkan, namun hendaknya waspada. Kenapa tidak mengaji kitab-kitab ringkas yang memuat hadits-hadits Shahih saja seperti Mukhtashar Ibn Abi Jamrah, Riyadh al-Shalihin, atau Mukhtar al-Ahadits? Adapun kalau Ihya’ Ulum al-Din yang dituduh begitu jelas kami tidak setuju,” tandas beliau.

“Adapun hukum Hadits, saya sudah menyinggung pakai dari Muhaddits yang longgar, bukan dari Wahabi apalagi dari Nashiruddin al-Albani. Dia pernah membela Yahudi-Israel. Dia hanya mempelajari sanad, tapi membantai ulama madzhab. Bahkan yang saya pahami, kitab kuning yang bisa jadi sarana tafaqquh fiddin adalah kutub al-madzahib al-arba’ah atau kitab yang berasal dari Ahlussunnah wal Jama’ah, bukan yang dari ahli-ahli bid’ah apalagi kafir. Tapi kita kadang-kadang butuh seperti halnya Maktabah Syamilah, tapi harus waspada jika ada yang dikurang-kurangi khususnya masalah tawasul, tahlil, dan sebagainya.”

Jihad atas Nama Agama dan Pemerintahan

Setelah menjawab berbagai pertanyaan diatas, Syaikh Muhammad Najih menyinggung penjelasan tentang jihad dari narasumber lain yang dimintakan pendapat kepada beliau. Beliau menegaskan bahwa jihad atau perang atas nama agama itu ada. “Ini juga merupakan keistimewaan Nabi Muhammad ShallaLlahu ‘alaihi wa Sallama yang dijuluki Nabiyyul Jihad (Nabi Jihad), sekaligus pula Nabiyyur Rahmah (Nabi Rahmat). Tidak ada pertentangan antara jihad dan rahmat, yakni tidak serta merta semuanya dibunuh. Kalau sudah kalah ya selesai. Wa qatilu al-musyrikin bukan uqtulu al-musyrikin.”

Beliau mengutip keterangan dalam Fathul Wahhab bahwa perang asalnya diharamkan, lalu menjadi mubah untuk memerangi orang yang memulai kezaliman, kemudian menjadi fardlu kifayah zaman Rasulullah ShallaLlahu ‘alaihi wa Sallama. Kemudian hukumnya fardlu kifayah bagi negara Islam berperang setiap tahun sekali.

Lanjut beliau, “Hanya saja, kalau kita alim maka kita tahu bahwa perang itu harus punya negara. Kita kan tidak punya pemimpin yang melindungi perang. Hukum Islam saja seperti jinayah sudah tidak bisa karena tidak pemerintahan yang melindunginya. Kalau kita mau memberontak atau membuat Negara Islam itu sukar sekali, karena kita tidak punya cantolan. Khilafah Utsmaniyah sudah dihabisi.”

“Jadi sekali lagi, bukannya jihad atas nama agama tidak ada, namun karena keterbatasan kita. Dalam hadits disebutkan bahwa tali-tali Islam akan semakin pudar, yang pertama adalah pemerintahan Islam, yang terakhir adalah shalat.”

“Hukum Islam sudah lama tidak berjalan, hatta di zaman Abbasiyah. Di Mesir saja, kata DR. Ali Jumah (Mufti Mesir, red), sudah seribu tahun lebih tidak berjalan hukum qishash, padahal ada Negara Islam. Hukum Islam tidak bisa diterapkan secara kaffah, bukan berarti kita menerima semua kita anggap konsensus kita (Pancasila, red) sebagai kalimatun sawa’. Kalimatun sawa’ dalam Al-Quran itu bermakna Tauhid.”

Abah Najih menyinggung pula tentang makna laa ikraha fiddin dalam Al-Quran. Menurut beliau, la ikraha fiddin itu arahannya kepada Ahli Kitab. “Jadi di Madinah itu Aus dan Khazraj sudah sering dengar dari ajaran Taurat bahwa nanti akan akhir zaman. Jadi mereka dikhithabi la ikraha fiddin karena mereka sudah mendengar dari kitab. Adapun kalau orang-orang kafir musyrikin itu tetap diperangi ketika Rasulullah ShallaLlahu ‘alaihi wa Sallama punya negara di Madinah. Ketika di Makkah memang tidak punya negara. Begitu juga, lakum dinukum wa liya diin itu artinya adalah baraah min al-syirk (terbebas dari syirik). Maka dari itu, pluralisme itu gak bisa. Apalagi masjid kemarin rencananya mau dijadikan tempat acara Cap Go Meh, itu memalukan. alhamduliLlah acara tersebut batal,” tutur beliau.

Beliau menegaskan bahwa jangan sampai umat Islam terjebak meniru Kristen yang sudah meragukan kitab suci mereka. “Mari kita jangan mau dijebak meniru orang Kristen. Protestan itu melawan gereja. Kita harus meyakini Al-Quran, kitab kuning kita yakini, walaupun kita belum bisa mengamalkan. Cocok dengan kaidah  al-maisur ya yasquthu bi al-ma’sur (yang mudah tidak bisa gugur dengan yang sulit).”

Beliau lalu menambahi catatan tentang penggunaan dalil ini. “Namun dalil memakai kaidah Fiqh itu juga agak gimana. Menurut kyai kuno, pernah ada bahtsul masail yang dihadiri Kyai Masduki dan Mbah Baidhawi. Kyai Masduki berdalil hanya memakai kaidah. Lalu Mbah Baidhawi mengkritik, “Ora iso nganggo kaidah, kudu ta’bir disik. Iku dhak bagiane mujtahid.”

Bahtsul Masail Fiqh Sekarang Lebih Penting dari Bahtsul Ijtihad/Manhaj

Terakhir, Abah Najih menganggapi tentang adanya usulan untuk penggalakan kajian manhaj atau ijtihad bagi kader-kader muda Islam. “Menurut saya, bahtsul masail yang pesantren dan NU itu sudah semi ijtihad. Jadi nggak perlu, yang paling penting adalah pengkaderan ulama dan mutakharrijin pesantren. Kita ini sudah krisis kepercayaan kepada ulama, karena ulama sekarang hanya title-titel saja.”

Acara yang berakhir pada Jumat siang tersebut kemudian ditutup oleh rektor Universitas Islam Sultan Agung, Anis Malik Thaha dan ketua MUI Jawa Tengah, Ahmad Daroji. Dalam sambutan penutup tersebut, Anis Malik Thaha mengucapkan terima kasih sedalam-dalamnya kepada para narasumber dan kyai-kyai tamu undangan yang sangat bersemangat, dengan bukti kursi undangan semuanya penuh mulai awal hingga akhir acara. Beliau juga sangat membuka diri untuk bekerjasama menyelenggarakan halaqah-halaqah keilmuan seperti ini di waktu yang akan datang. []

Iklan