Dalam permasalahan syâhadah (kesaksian) jika dua orang wanita dianggap sama nilanya dengan seorang pria, maka hal itu bukan identik dengan rendahnya derajat wanita, lebih dari itu Islam sebenarnya bertindak lebih proporsional dan hati-hati dalam menjaga obyektifitas syahadah. Perlu diketahui bahwa kemantapan dalam memberikan kesaksian mutlak diperlukan, sedangkan menurut disiplin ilmu psikologi seorang wanita sering kali lupa, bingung atau ragu dalam memastikan sesuatu. Apalagi pada masa menstruasi, ia sering mengalami gejala-gejala tegang dan gelisah (tension), lemah dan kehilangan daya (energy loss), kurang bersemangat dan lesu (depresi), serta rasa nyeri diperut. Perubahan-perubahan psikologis dan biologis yang kerap melanda wanita ini mengakibatkannya mudah diserang kebingungan dan keragu-raguan, maka tepatlah kiranya jika Alqurân menetapkan dua saksi wanita sebagai pengganti dari seorang saksi laki-laki dengan tujuan agar bila salah seorang wanita itu lupa yang lain bisa mengingatkannya. 

Begitu juga dalam permasalahan diyât, ditetapkannya diyât seorang perempuan yang terbunuh sebanyak separo dari diyât seorang laki-laki, sekali lagi tidak dimaksudkan untuk merendahkan perempuan, baik secara moral maupun material. Karena dalam hal ini yang menjadi pertimbangan para ulama adalah nilai pengganti yang diperlukan keluarga. Kerugian ekonomi keluarga korban atas terbunuhnya laki-laki yang nota bene sebagai tulang pungung ekonomi jelas lebih besar dibanding jika yang menjadi korban pembunuhan adalah wanita yang secara ekonomi justru ditanggung oleh laki-laki. 

Dengan prinsip keadilan ini, Islam tetap konsis dengan konsep bahwa wanita dan pria atas dasar kenyataan yang satu adalah wanita dan yang lainnya adalah pria tidaklah identik dalam banyak hal. Dunia mereka tidak persis sama, watak dan pembawaan mereka tidak dimaksudkan supaya sama. Oleh sebab itu, maka dalam banyak hak, kewajiban dan hukum keduanya tidak harus menempati kedudukan yang sama. Namun apakah jumlah total dari semua hak yang telah ditentukan untuk wanita kurang nilainya dibanding dengan yang dianugerahkan kepada pria ? pastilah tidak.

Di dunia Barat sekarang sedang diusahakan untuk menciptakan keseragaman dan kesamaan hak, tugas, dan kewajiban antara wanita dan pria, dengan mengabaikan perbedaan-perbedaan yang kodrati dan alami. Menurut hemat kami, hal ini merupakan kejahatan hak asasi terbesar sepanjang sejarah manusia. Dengan label palsu persamaan hak, mereka berpura-pura memperjuang-kan hak asasi kaum hawa, namun pada dasarnya mereka adalah penjahat nomor wahid yang berusaha menghancur-kan pagar ayu hak asasi kaum hawa yang alami dan kodrati. Betapa tidak ?

Wanita dan pria itu ibarat dua bintang yang beredar pada orbit yang berbeda. Tidaklah patut bagi matahari untuk mendahului bulan dan malampun tidak patut mendahului siang, masing-masing beredar pada orbitnya (QS:16; 40). Kondisi dasar bagi kebahagian pria maupun wanita sebenarnya terletak ketika masing-masing selalu bergerak pada orbitnya sendiri-sendiri. Kebebasan dan persamaan akan bermanfaat selama mereka berdua tidak meninggalkan orbit dan arahnya yang alami. Hanya itu.
#KH. MUHAMMAD NAJIH MAIMOEN

Iklan