​MENUJU KEMAJEMUKAN RELIGIUS

Seperti tak pernah ada kata henti umat islam di negri ini terus menerus mengalami nasib yang menyedihkan mulai dari keruntuhan Turki Ustmani, penghapusan sistem khilafah oleh mustofa kemal attaruk pada tahun 1924, sampai dengan pembantaian yang dialami saudara sausara kita di maluku, padahal komponen terbesar bangsa ini adalah umat islam, dan para pemegang kebijaksanaan negeri ini mulai dari RT sampai presiden adalah mereka yang berstatus muslim.

Ada apa…….?

Dalam sejarah umat islam, peristiwa-peristiwa yang mengarah pada disintregrasi, dimana bentrok antar sesama muslim  yang disulut oleh sikap fanatik  (Ta’ashub) terhadap satu kelompok, atau terhadap orang-perorang, sudah beberapa kali terjadi.

Beberapa saat setelah Rosulullah SAW meninggal dunia, orang- orang islam dari golongan Muhajirin (orang orang islam dari Mekkah yang hijrah ke Madinah) terlibat perdebatan sengit dengan orang-orang islam dari kalangan Anshor (orang-orang islam madinah yang menolong saat orang orang islam Mekkah datang mengungsi ke madinah) perdebatan itu berkisar soal siapa yang paling pantas menjadi kholifah (pemimpin) sepeninggal Rosulullah SAW.

Kalangan Muhajirin berpendapat, bahwa merekalah yang berhak, sebab mereka lebih dulu masuk islam, dan yang paling banyak membantu perjuangan Rosulullah SAW dan mereka dari kalangan Anshor berpendapat bahwa mereka inilah yang berhak, karena mereka yang banyak membantu orang-orang Muhajirin. Mereka menyatakan jika tanpa orang-orang Anshor, maka orag orang Muhajirin tidak bisa sukses di tempat yang baru di madinah. Abu Bakar RA. Dari kalangan Muhajirin akhirnya terpilih menjadi kholifah pertama. Dan Sa’ad bin Ubaidah (Anshor) akhirnya terbunuh yang di anggap sebagai  provokator diantara kedua pihak.

Terjadinya perang onta (Waq’atul Jamal) antara tentara islam yang di komandani Siti A’isah (istri Rosulullah) dengan tentara islam yang dikomandani oleh Ali bin Abi Tholib (menantu Rosulullah) salah satu penyulutnya adalah sikap fanatisme  (Ta’ashub) 

Munculnya aliran Syiah dalam islam, salah satu penyulutnya juga sikap fanatisme sebagian orang islam terhadap Ali bin Abi Tholib. Mereka menyamakan kedudukan Ali disamping Rosulullah laksana nabi Harun AS di samping nabi Musa AS mereka juga berpandangan bahwa Ali yang paling berhak menjadi kholifah  setelah Rosulullah SAW meninggal dunia. Karena itu, menurut mereka kholifah sebelum Ali adalah merampas hak Ali .

Itulah beberapa contoh dampak mengerikan dari adanya sikap fanatisme yang berlebihan yang tidak terkontrol dengan baik. Mereka yang fanatic mendukung satu kelompok atau seseorang, selalu menganggap yang di idolakan yang paling sempurna.

Dalam panggung politik umat islam pernah merasakan beberapa pengalaman yang paling menyakitkan. Mereka yang dapat  disatukan dalam satu wadah masyumi (1944) (Majlis Syuro Muslimin Indonesia) akhirnya satu persatu keluar akibat adanya perbedaan pendapat dan perasaan kecewa diantara ormas-ormas islam. NU keluar dari masyumi pada tahun 1952, dan kemudian menjad partai politik (porpol) sendiri dan ikut pemilu pada tahun 1955. Pada tahun 1973, empat partai islam. NU, PSSI, PERTI, PARMUSI, sepakat untuk menfusikan diri dalam satu wadah partai politik, Partai Persatuan Pembangunan (PPP). Menjelang pemilu 1977  barang kali bisa di sebut sebagai klimaks, partai-partai islam dalam satu wadah PPP . sebab keadaan yang harmonis itu. Hanya beberapa tahun saja, dimana pada pemilu 1982 mulai ada pro dan kontra, dan akhirnya NU menyatakan kembali ke khitoh 1926 dalam muktamarnya ke-27, pada tanggal 8-12 Desember 1984 di Situbondo.

Dari ilustrasi di atas dapat di simpulkan, bahwa usaha untuk menyatukan kelompok-kelompok islam tradisional (NU) dan kelompok kelompok islam modern (MUHAMADIYAH) masih sulit untuk diwujutkan. itu semua disebabkan adanya saling curiga mencurigai diantara sesama muslim .

Sementara itu, sudah menjadi keharusan, bahwa kita sebagai umat islam akan senantiasa berusaha mencari ridlo allah SWT dalam setiap denyut nadi  dan perjalanan dalam menapaki kehidupan fana ini. Sebuah cita cita besar yang berbenderakan Izzul islam wal muslimin dan li I’laii kalimatillah hiyal ulya adalah sesuatu yang harus kita realisasikan . 

Ketika diadakan aksi sejuta umat dalam rangka solidaritas terhadap penderitaan umat islam di ambon, maluku utara, Halmahera, Ternate, Tidore dan tempat-tempat lainnya, pada hari terakhir bulan ramadhon 1420 H. jum’at 7 januari 2000 M, mengemukakan pula harapan dan keinginan kuat agar para pemimpin pemimpin islam di Indonesia makin merapatkan barisan dan merakit ukhuwah, demi izzul islam wal muslimin.

Sebuah keinginan dan kerinduan. Yang wajib mendapatkan sambutan positif dari kalangan pemimpin itu sendiri. Karena di yakini bersama, bahwa keinginan untuk menyatu tersebut bukan semata di dorong dengan adanya konflik yang berbau sara antara umat islam dan kaum nasroni, tetapi lantaran kesatuan dan ukhuwah itu merupakan bagian integral dari keimanan kaum muslimin, melakukan ishlah terhadap hubungan sesama muslim merupakan konsekwensi aqidah. 

     Firmannya:

إنما المؤمنون إخوة فأصلحوا بين اخويكم واتقو الله لعلكم ترحمون

“Sesungguhnya orang-orang muslim itu bersaudara, karena itu  damaikanlah antara kedua saudaramu dan bertaqwalah kepada allah SWT supaya kamu mendapat rahmat” ( Qs Hujurat 10)

Disamping itu ukhuwah islamiyah yang solid akan melahirkan ta’awun, kerja sama dan saling membantu antar sesama kaum muslimin didalam melaksanakan berbagai tugas pengabdian kepada allah SWT maupun tugas melakukan perbaikan perbaikan dalam berbagai bidang kehidupan.

Satu hal yang harus kita sadari bersama, bahwasanya untuk mewujudkan semua itu dibutuhkan kerangka berfikir yang baik dan terus menerus meningkatkan TAQORUB (mendekatkan diri) kepada Allah SWT dengan tartil al Quran yang kontinyu, selalu membaca Rotibul Haddad, Wirdul latif, melakukan Qiyamul lail, serta kesamaan aqidah, (Syartul Murofaqoh Muwafaqoh) ibadah, adat dan perilaku,  sejarah, bahasa, jalan dan dustur yang bersumber pada firman-firman Allah SWT (al Quran) dan sabda-sabda  Rosulnya ( Assunah).

Hal ini sangat di perlukan, karena merakit ukhuwah dan kesatuan itu memerlukan keikhlasan yang luar biasa yakni keikhlasan menerima perbedaan pendapat, keikhlasan untuk menerima  nasehat, dan menasehati, keikhlasan untuk tidak mendapatkan jabatan dan kedudukan, dan juga keikhlasan untuk menerima apapun yang sudah menjadi keputusan bersama apalagi jika keinginan untuk menjadikan satu partai islam itu akan diwujudkan, bagaimanapun hambatan psikologis akan jauh lebih berat dibandingkan hambatan teknis.

Sementara itu bagi para tokoh dan pemimpin islam harus terus-menerus melakukan penguatan komponen ukhuwah islamiyah, seperti melakukan silaturahim, tukar menukar pendapat dan pikiran, melakukan berbagai macam dialog secara terbuka tentang berbagai hal yang menyangkut kepentingan bersama. Melaksanakan aktifitas bersama, mulai dari tingkat pusat sampai daerah-daerah dan segera melakukan ishlah bila terjadi berbagai konflik antar sesama muslim. mengedepankan sikap dan budaya husnudzon dan mengembangkan sikap tabayyun, yakni menyeleksi setiap informasi yang bertujuan mengadu-domba dan memecah belah sesama kaum muslimin .

Tranformasai budaya dan komunikasi sebagai dampak bergeloranya modernisasi, ternyata membawa implikasi yang mengarah pada kebingungan psikologis, untuk itu diperlukan figur-figur yang paripurna  sebagai kekuatan moral yang siap beradabtasi dan mengadaptasi zaman yang bisa menyatukan umat, tampil dimasyarakat melakoni teater zaman dengan membawakan peran masing-masing semaksimal mungkin dengan berbenderakan panji- panji aqidah yang bersumberkan pada teksredaksional al Quran dan as Sunah. dua elemen inilah yang memberikan inspirasi serta motivasi  kepada pejuang-pejuang muslim di Indonesia sejak wali songo dilanjutkan oleh Abdul Hamid Diponegoro, Imam Bonjol, Sultan Hasanudin, Sultan Babullah, Tjikditiro, dan lain lainnya untuk berhadapan dengan kaum penjajah kafir yang bercokol di bumi pertiwi selama 350 tahun yang berusaha memisahkan agama dengan politik (Fasluddin A’niddaulah) dalam kehidupan berbangsa dan bernegara dengan sebuah cita-cita agung yaitu “izzul islam wal muslimin”, juga sebuah pengorbanan yang besar untuk mempertahankan sebuah keyakinan dan aqidah yaitu islam.

Ajaran islam jualah yang memberikan semangat bapak-bapak kita para mujahid seperti KH. Wahab Hasbullah, KH. Saifudin Zuhri, Buya Hamka, KH. Bisri Syamsuri KH. Moh Anshori, Moh Natsir, RH kasman Singoedimedjo dan ulama’ ulama’ lainya yang dengan gemuruh suara takbir mereka kumandangkan dalam sidang sidang konstuante pada tahun  50 -an mereka satu kata satu fisi satu semangat yaitu islam sebuah agama yang mengatur segala aspek kehidupan yang di ridloi oleh Allah SWT akan tetapi perjuangan para mujahid-mujahid tersebut harus kandas dan tercabik-cabik ditangan bung Karno yang dengan otoriter dan aroganya membubarkan konstituante pada tahun 1959 .

Sebagai umat islam sudah seharusnya kita bertanya kepada nurani kita masing-masing akan di kemanakan cita-cita pejuang- pejuang islam yang menginginkan dan konsisten dalam mengaplikasikan pesan-pesan Allah SWT dan bahasa bahasa kebenaran yang keluar dari bibir Rosulullah SAW ……?

Muhadloroh sebagai salah satu lembaga pendidikan relegius juga turut serta menelurkan dan melahirkan cendekiawan cendikiawan muslim yang siap menjadi abdi atau pelayan masyarakat mendidik generasi muda untuk di persiapkan secara ekslusif menjadi seniman strategi yang bisa menyiasati zaman dengan dijejali ilmu ilmu Exact tentu saja eksistensi dan keberadaannya di perlukan kegigihan serta di barengi dengan bersungguh sungguh dalam bertafaqquh fiddin .

Akhirul kalam penulis wanti wanti kepada konco konco Muhadloroh lebih-lebih pada diri sendiri tinggalkan semaksimal mungkin tindakan pengkultusan yang akhir akhir ini sedang melanda bangsa kita.

Benih-benih kultus terhadap penguasa di negeri ini begitu tampak merajalela,  sang penguasa telah dimitoskan sebagai The Man Can Do No Wrong  (berbuat tanpa bisa salah ) semua ucapanya adalah sabda padahal dilihat dari segi apapun bahaya kultus sangat mengerikan, secara aqidah kultus menjarah pada kemusyrikan.

Sekarang bagaimana kalau yang dikultuskan itu seorang     wali ……..? justru kalau betul dia seorang wali dia akan menindak tegas (duko) siapa yang mengultuskannya jika dia diam saja dan bahkan malah bangga sangat tidaklah layak bila dia disebut wali. Firmanya :

ألا إن اولياء الله لا خوف عليهم ولا يحزنون .   الذين أمنوا وكانوا يتقون

“Ingatlah …….! Sesungguhnya wali-wali Allah SWT itu tidak pernah dihinggapi kekawatiran dan kesedihan. Mereka adalah orang orang yang beriman dan bertaqwa” (QS. YUNUS 62-63) 

Wali bukanlah martabat yang membuat seseorang  kebal terhadap hukum Allah SWT dia tetap berada dalam jangkauan hukum syariat dengan kata lain jadikanlah al Quran dan as sunnah sebagai pegangan dalam melaksanakan proses dinamisasi kehidupan. 

Semoga bermanfaat.

                                         Sarang, 25 Juli 2000

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s