TIDAK SEMUA BID’AH HARAM

Karena jika demikian adanya, maka apa yang dilakukan Ubay, Umar dan Zaid dalam usaha mengumpulkan dan menulis mushaf lantaran khawatir kocar kacir tak terpelihara dan akhirnya hilang dengan sebab wafatnya para sahabat (Qurro’) dihukumi haram juga. Begitu pula gagasan Umar melaksanakan sholat Tarawih pada malam-malam Ramadlan serta ungkapan beliau: نعمة البدعة هذه (bagus sekali bid’ah ini), juga komentar Ali: نوّر الله قبر عمر، فقد نوّر مساجدنا (semoga Allah senantiasa menerangi kubur Umar, karena beliau telah meramaikan masjid-masjid kami) dengan sholat Tarawih, demikian pula produk-produk karangan dari berbagai disiplin ilmu yang bermanfaat, kewajiban memerangi orang-orang kafir dengan tombak, pedang dan panah di kala mereka menggunakan senjata peluru-peluru panas dan bom, adzan di atas menara, membangun madrasah-madrasah dan pondok-pondok yang semuanya mempunyai kontribusi besar dalam menjaga syari’at dan tak dijumpai pada masa Nabi. 
Adapun hadits: كل بدعة ضلالة (setiap bid’ah adalah sesat), menurut komentar pengarang al-Azhar dan ulama-ulama besar lainnya adalah berstatus ‘am makhshush (umum yang terfokus) dan yang dikehendaki adalah: setiap bid’ah sayyi-ah, dan yang menjelaskan batasan ini adalah apa yang dilakukan sahabat-sahabat senior dan para tabi’in yang tak ditemui pada masa Rasul seperti penulisan al-Qur’an dan melestarikan shalat Tarawih. 

Imam as-Syafi’I berkata: mewujudkan perkara baru dan bertentangan dengan al-Qur’an, Hadits, Ijma’ atau Atsar adalah Bid’ah Dlolaly dan bila tidak bertentangan disebut Bid’ah Mahmudah (terpuji). 

‘Izzuddin bin Abdis Salam, Imam an-Nawawi dll. berkata: Bid’ah terkadang Wajib, seperti; mengarang berbagai disiplin ilmu dan mengajarkan nahwu, mengCounter kelompok-kelompok sesat, menjaga dan melestarikan syari’at. Ada juga yang Sunnah, seperti; membuat pondok dan madrasah, adzan di atas menara dan berbagai kebajikan yang tak ditemui pada kurun-kurun awal. Ada juga yang Makruh, seperti; menghias masjid-masjid dan mushaf. Ada juga yang Mubah, seperti; bersalaman setelah shalat Subuh dan Ashar, pola hidup mewah yang mencakup rumah, makanan dan minuman. Ada pula yang Haram, yaitu: apa saja yang bertentangan dengan al-Qur’an dan al-Hadits serta dalil-dalil syar’I lainnya, dan inilah yang dikehendaki dalam hadits: Kullu Bi’datin Dlolalah.

Ibnul Atsir berkata: Bid’ah ada dua, yaitu: Bid’ah Huda dan Dholalah. Kemudian beliau mendefinisikan bid’ah dholalah, yaitu: bid’ah yang bertentangan dengan Kitab dan Sunnah, juga dalil-dalil syar’I lainnya dan tidak ditemui  pada zaman dahulu. Sedangkan bid’ah Huda yang terpuji adalah: apa saja yang termasuk dalam keuniversal¬an perintah-perintah Allah dan RasulNya, atau memang tidak bertentangan dan tak ditemui pada kurun-kurun sebelumnya, seperti pola hidup dermawan dengan model yang tidak ditemui pada kurun-kurun awal. 

Kemudian beliau berkomentar: bahwa tidak boleh mengi’tiqodkan bahwa Bid’atul Huda adalah sesat, bertentangan dengan syara’, karena syara’ telah menyebutnya dengan istilah “Sunnah” dan bagi pelakunya mendapatkan pahala. Nabi bersabda: 

مَنْ سَنَّ فِي الإِسْلاَمِ سُنَّةً حَسَنَةً فَعَمِلَ بِهَا بَعْدَهُ كُتِبَ لَهُ مِثْلُ أَجْرِ مَنْ عَمِلَ بِهَا وَلاَ يُنْقَصُ مِنْ أُجُوْرِهِمْ شَيْءٌ.

Artinya: Barang siapa yang melakukan tindakan kebaikan (hal baru) dalam Islam, lalu di hari kemudian di amalkan oleh generasi selanjutnya, maka dia akan mendapatkan pahala plus pahala-pahala orang yang melakukannya tanpa mengurangi sedikitpun dari pahala-pahala mereka (generasi sesudahnya).

Adapun hadits Nabi: مَنْ أَحْدَثَ فِيْ أَمْرِنَا هَذَا مَا لَيْسَ مِنْهُ فَهُوَ رَدٌّ  (Barang siapa yang membuat hal baru yang tidak termasuk ajaranku, maka amalnya tidak diterima). Menurut beliau para ulama telah membatasi Laisa Minhu (apa yang tidak termasuk ajaran Rasul) dengan apa yang bertentangan dengan syara’, dan tidak ada penguat kaidah-kaidah syara’ lainnya, maka perilaku yang bertentangan dengan syara’ itulah yang ditolak, seperti ibadah dengan mengabaikan syarat-syarat dan hukumnya, misalnya shalat tanpa wudlu atau tanpa ruku’ dan sujud, juga seperti akad-akad fasid semisal jual beli barang-barang yang dilarang. 

Ibnu Hajar menandaskan bahwa apa saja yang tidak bertentangan dengan syara’, maka tidak ditolak, seperti berbagai tindak kebajikan yang tidak ditemui pada kurun-kurun awal, dan beliau mencontohkan hasil-hasil karangan dari berbagai disiplin ilmu, kemudian beliau berkata: “Semua itu dan apa saja yang menyerupainya sangat jelas manfaatnya dan disambut hangat kehadirannya oleh masyarakat dunia, dan tentu pencetusnya mendapat pahala. 

Imam Abu Syaamah (guru Imam an-Nawawi) juga berkata: termasuk kategori Bid’ah Hasanah adalah merayakan hari kelahiran Nabi setiap tahun dengan bershodaqoh dan berbuat berbagai kebajikan lainnya serta menyambut gembira datangnya Maulid Nabi. Semua itu mencerminkan mahabbah, ta’dhim kepada Nabi Muhammad saw di hati para pelakunya, sekaligus mensyukuri ni’mat Allah yang besar ini. Jadi, bid’ah yang tercela adalah yang bertentangan dengan syara’, seperti ibadah-ibadah fasid, semisal meyakini wajibnya inkar terhadap perilaku-perilaku sunnah seperti membaca surat al-Kahfi dalam masjid, juga seperti inkar yang ber-konsekuensi terjadinya saling benci, hasud dan permusuhan antara umat Islam yang merupakan tindakan paling tercela dibanding melakukan larangan-larangan syara’. Juga seperti masa bodoh terhadap tindakan-tindakan haram yang mujma’ ‘alaih, ingkar berlebihan terhadap apa yang masuk kategori sunnah atau makruh, sampai terjadinya pengumpatan dan permusuhan yang akhirnya mengakibatkan kerusakan materi, melukai bahkan membunuh. Demikianlah komentar syekh Yusuf as-Syalabi. 
#Cuplikan buku syaikhina: Pedoman Komprehenship dalam Menyikapi Prosesi Ritual Maulid Nabi

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s