​SEKILAS TENTANG WAHHABI (Bag 1)

Berbarengan dengan hadirnya era reformasi pasca kejatuhan rezim Soeharto, jagad Indonesia dipusingkan oleh hiruk-piruk partai-partai yang serentak bermunculan dengan berbagai simbol, kemasan, dan ideologinya masing-masing, termasuk ikut meramaikan panggung sejarah Indonesia adalah semaraknya gerakan da’wah, front-front, dan laskar yang seakan-akan muncul dengan tiba-tiba dan membesar begitu saja, mencengangkan dan teramat fenomenal bak jamur di musim hujan. Kita menjadi sering menyaksikan orang-orang berjubah, bersurban putih, berjenggot, juga wanita bercadar sering muncul dalam tayangan media elektronik juga berita-berita yang menghiasi banyak mass media. Aktivitas mereka menampakkan mobilitas yang teramat tingi, terorganisir dan merambah banyak sektor. Orang-orang kemudian dengan tiba-tiba mengenal dan mendengar nama-nama seperti Jama’ah salafi/wahabi, Hizbut Tahrir, Jama’ah Tabligh, Laskar jihad, Jama’ah Al muslimin (Jamus), dan yang lainnya. Yang menarik secara lahiriyah mereka sering tampil justru lebih islami, lebih khusyu’ dan lebih berkomitmen kepada Islam dari pada kelompok yang muncul dan besar lebih awal (baca : NU dan Muhammadiyyah) yang ironisnya sering nampak mengendur dalam memegangi hal-hal yang prinsipil semisal dengan memberi hak hidup kepada Islam Liberal dan Ahmadiyyah di Negara kita.
Dari fenomena di atas kami berusaha mengungkapkan sikap kami terhadap sebagian dari mereka, dalam rangka membentengi aqidah umat islam dari hal-hal yang bisa merusak dan menghancurkannya.

Nama wahabi di ambil dari nama Abdul Wahhab, sementara pendiri dari gerakan ini adalah anak dari Abdul Wahhab yang bernama Muhammad. Ia mulai menyebar luaskan gerakannya di tanah kelahirannya yaitu Najd,dengan di dukung oleh Raja  Muhammad Sa’ud (tokoh politikus yang mendirikan Saudi Arabia) gerakan ini pun akhirnya menjadi besar dan tersebar luas di Jazirah Arab, bahkan sekarang sudah sampai di negeri kita tercinta Indonesia. Kita harus mawas diri dengan gerakan ini, karena ajaran-ajarannya banyak yang menyimpang dari ajaran Ahlu Sunnah wal Jama’ah semisal :

Memerangi para  kaum shufi dan tarekat-tarekat tasawwuf serta menyatakan kesesatannya kecuali yang bisa menjadi patner mereka seperti JT (Jama’ah Tabligh).

Membid’ahkan para pengikut Imam Asy’ari dan Imam Maturidi serta mensejajarkan mereka dengan golongan jahmiyyah (pengikut Jahm bin Shofwan) dan kaum Mu’tazilah.

Menetapkan yad, wajah, jihah kepada Allah dalam bentuk jisim (condong ke Mujassimah).

Mengkafirkan orang yang bertawassul dengan para Nabi maupun para wali dan orang-orang sholih karena di anggap syirik (menyekutkan Allah).

Mengharamkan ziarah dengan menghadap agak lama ke maqbaroh Rasul, syaddu al rihal (berangkat dari daerah yang jauh untuk ziarah kepada Rasulullah), Maulid Nabi, membaca Sholawat Nariyah, Sholawat Fatih, Dala-il al-Khoirot dan yang lainnya . 

Dan tentunya masih banyak lagi ajaran–ajaran yang menyimpang dari aqidah kita Ahlus sunnah wal Jama’ah.

2 pemikiran pada “​SEKILAS TENTANG WAHHABI (Bag 1)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s