Pandangan Ulama Tentang “Islam Radikal”

​Agama Islam sangat memperhatikan kemaslahatan individual maupun kolektif secara keseluruhan. Karenanya, tidak ada suatu kemaslahatan individu ataupun kolektif yang melampui kemaslahatan lainnya. Akan tetapi, jika ada benturan antara dua kepentingan (kemaslahatan) itu, maka kepentingan kolektif akan di utamakan daripada kepentingan individu. Demikian pula, jika terjadi benturan antara kemaslahatan dua individu, maka yang didahulukan adalah kemaslahatan orang yang lebih banyak menderita. Ini sejalan dengan kaidah, “tidak boleh ada kemadlaratan dan menimbulkan kemadlaratan” (ladhororo wala dhiroro) dan juga kaidah, “jika ada dua madlarat maka yang lebih besar ditolak (dijaga) dengan mengesampingkan madlarat yang lebih kecil” (yudfa’u akbar adh dhororain bi al akhaff minhuma).

Dalam Islam juga tidak ada ajaran kekerasan yang bisa menimbulkan kerugian kepada masyarakat umum atau meresahkannya, seperti fatwa MUI tentang gerakan teroris yang berisi:

“Terorisme adalah tindakan kejahatan terhadap kemanusian dan peradaban yang menimbulkan ancaman serius terhadap kedaulatan Negara, bahaya terhadap keamanan, perdamaian dunia serta merugikan kesejahteraan masyarakat. Terorisme adalah salah satu bentuk kejahatan yang diorganisasi dengan baik (well organized), bersifat trans-nasional dan digolongkan sebagai kejahatan luar biasa (extra-ordinari crime) yang tidak membeda-bedakan sasaran.” Maka MUI berpendapat kalau gerakan teroris hukumnya adalah haram dengan pertimbangan tersebut  .

Namun tidaklah semua tidakan kekerasan itu salah, terkadang Islam juga memerintahkan kita untuk tegas dan keras kalau itu lebih memberikan manfaat kepada Islam maupun Muslimin, seperti halnya:

1. Kita harus tegas dan keras terhadap orang-orang yang meremehkan Al Quran, syari’at islam, hukum-hukum islam atau terhadap orang-orang yang ingin merusak akidah umat islam (misal: dengan mengatakan adanya Nabi setelah Nabi Muhammad Saw), walaupun sikap tegas dan keras tersebut kita aplikasikan menurut kadar kemampuan kita masing-masing (bisa dengan perbuatan atau perkataan). Allah berfirman:

أَلَمْ تَرَ إِلَى الَّذِينَ يَزْعُمُونَ أَنَّهُمْ آَمَنُوا بِمَا أُنْزِلَ إِلَيْكَ وَمَا أُنْزِلَ مِنْ قَبْلِكَ يُرِيدُونَ أَنْ يَتَحَاكَمُوا إِلَى الطَّاغُوتِ وَقَدْ أُمِرُوا أَنْ يَكْفُرُوا بِهِ وَيُرِيدُ الشَّيْطَانُ أَنْ يُضِلَّهُمْ ضَلَالًا بَعِيدًا [النساء/60]

“Apakah kamu tidak memperhatikan orang-orang yang mengaku dirinya telah beriman kepada apa yang diturunkan kepadamu dan kepada apa yang diturunkan sebelum kamu? Mereka hendak berhakim kepada thaghut, padahal mereka telah diperintah mengingkari thaghut itu. Dan syaitan bermaksud menyesatkan mereka (dengan) penyesatan yang sejauh-jauhnya.” (QS. An Nisaa’:60)

Ayat ini turun pada orang yahudi yang bersengkta dengan orang munafik, si munafik mengajak meminta putusan kepada Ka’b bin Al Asrof sedangkan si yahudi mengajak meminta putusan kepada Nabi Saw, kemudian mereka berdua mendatangi Nabi Saw dan oleh Nabi Saw di putuskan bahwa pemenang (yang benar) dalam perkara tersebut adalah si yahudi, sehingga si munafik tidak terima dengan putusan Nabi Saw lalu mereka berdua mendatangi Sayyidina Umar Ra. Si yahudi bercerita tentang kejadian yang terjadi kepada Sayyidina Umar Ra. Lalu Sayyidina Umar Ra. Bertanya kepad si munafik “ benarkah demikian?” si munafik menjawab : ya benar, seketika Sayyidina Umar Ra. Membunuh orang munafik tadi.

Dari cerita di atas dapat kita simpulkan betapa kerasnya sikap Sayyidina Umar Ra. terhadap orang yang tidak terima putusan Rasulullah tapi malah ingin mencari putusan dari pengikut syetan.

Adalagi satu cerita lagi tentang sikap tegas dan kerasnya orang islam karena hukum Allah telah di lecehkan, yaitu cerita seorang sahabat Nabi yaitu Abu Burdah (menurut riwayat lain: Ibnu Umar) yang di utus oleh Nabi Saw untuk membunuh lelaki yang menikah dengan mantan istri ayahnya sendiri  yang dalam Al Quran hal tersebut jelas-jelas di larang oleh Allah dalam firmanNya:

وَلَا تَنْكِحُوا مَا نَكَحَ آَبَاؤُكُمْ مِنَ النِّسَاءِ إِلَّا مَا قَدْ سَلَفَ إِنَّهُ كَانَ فَاحِشَةً وَمَقْتًا وَسَاءَ سَبِيلًا [النساء/22]

“Dan janganlah kamu kawini wanita-wanita yang telah dikawini oleh ayahmu, terkecuali pada masa yang telah lampau. Sesungguhnya perbuatan itu amat keji dan dibenci Allah dan seburuk-buruk jalan (yang ditempuh)”(QS. An Nisaa’ : 22)

Tentunya hal itu juga menunjukkan betapa kita harus tegas dan keras apabila syariat islam di abaikan atau bahkan di lecehkan.

2. Kita harus tegas dan keras dalam memerangi kemaksiatan yang merajalela sebagai wujud amar ma’ruf nahi munkar, bahkan kita wajib menghilangkan kemungkaran selagi kita mampu, sabda Nabi Saw:

من رأى منكم منكرا فليغير بيده، فإن لم يستطع فبلسانه فإن لم يستطع فبقلبه وذلك أضعف الإيمان  .

3. Kita harus keras terhadap musuh kita supaya mereka takut terhadap kita, hal itu kita lakukan jika mereka meremehkan orang Islam. Allah Swt berfirman :

إِنَّ شَرَّ الدَّوَابِّ عِنْدَ اللَّهِ الَّذِينَ كَفَرُوا فَهُمْ لَا يُؤْمِنُونَ (55) الَّذِينَ عَاهَدْتَ مِنْهُمْ ثُمَّ يَنْقُضُونَ عَهْدَهُمْ فِي كُلِّ مَرَّةٍ وَهُمْ لَا يَتَّقُونَ (56) فَإِمَّا تَثْقَفَنَّهُمْ فِي الْحَرْبِ فَشَرِّدْ بِهِمْ مَنْ خَلْفَهُمْ لَعَلَّهُمْ يَذَّكَّرُونَ (57) [الأنفال/55-57]

“Sesungguhnya binatang (makhluk) yang paling buruk di sisi Allah ialah orang-orang yang kafir, karena mereka itu tidak beriman. (Yaitu) orang-orang yang kamu telah mengambil perjanjian dari mereka, sesudah itu mereka mengkhianati janjinya pada setiap kalinya, dan mereka tidak takut (akibat-akibatnya). Jika kamu menemui mereka dalam peperangan, maka cerai beraikanlah orang-orang yang di belakang mereka dengan (menumpas) mereka, supaya mereka mengambil pelajaran. )”(QS. Al Anfaal : 55-57)

As Syaikh Muhammad at Thohir ibn ‘Asyur menjelaskan tentang arti ayat ke-57 di atas dengan ‘ibarot  berikut ini:

والمعنى : فاجعلهم مثلا وعبرة لغيرهم من الكفار الذين يترقبون ماذا يجتني هؤلاء من نقض عهدهم فيفعلون مثل فعلهم ولأجل هذا الأمر نكل النبي صلى الله عليه و سلم بقريظة حين حاصرهم ونزلوا على حكم سعد بن معاذ فحكم بأن تقتل المقاتلة وتسبى الذرية فقتلهم رسول الله صلى الله عليه و سلم بالمدينة وكانوا أكثر من ثمانمائة رجل,  وقد أمر الله رسوله صلى الله عليه و سلم في هذا الأمر بالإغلاظ على العدو لما في ذلك من مصلحة إرهاب أعدائه فإنهم كانوا يستضعفون المسلمين فكان في هذا الإغلاظ على الناكثين تحريض على عقوبتهم لأنهم استحقوها  .

Dan ini semua tidak bertentangan dengan adanya Islam sebagai rahmat bagi semua alam, karena itu demi kebaikan yang kembali pada Islam dan Muslimin sebagaimana sikap tegasnya Rasulullah Saw di dalam memperjuangkan agama Allah, yang tersirat dalam sabda beliau:

 أمرت أن أقاتل الناس حتى يشهدوا أن لا إله إلا الله وأن محمدا رسول الله ويقيموا الصلاة ويؤتوا الزكاة فإذا فعلوا ذلك عصموا مني دماءهم وأموالهم إلا بحق الإسلام وحسابهم على الله  . 

_______________________

_______________________

Referensi: 

 Tafsir Al Khozin Vol: 2 Hal: 121, Tafsir Al Kabir Vol: 10 Hal: 123, Tafsir Jalalin Vol: I Hal: 110 

  Tafsir Ibnu Katsir Vol: II Hal: 246. Maktaba Syamela

  Shahih Muslim Bab. Bayani Kauni Al Nahyi An Al Munkar Min Al Iman, vol: I Hal: 50

  Al-Tahrir wa al—Tanwir vol:I Hal:1783

  Shahih Bukhori Vol: I Hal : 17

  Al-Fiqh al-Islami, Wahbah al-Zuhaili, Vol:VI hal: 417

  Shohih Muslim, Bab Imaroh, Vol:VI hal:17 Maktaba Syamela.

  Sunan Abi Dawud, Bab Ghozwu ma’a a’immati al-jur, Vol: II Hal:22 Maktaba Syamela

  Fatwa MUI tentang Teroris Th. 2005.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s