​MENYOAL BALIK PARA PEJUANG PIMPINAN BEDA AGAMA TERKAIT QS. AL-MAIDAH: 51 DAN MUI

Beberapa waktu terakhir ini QS. Al-Maidah: 51 dan Majelis Ulama Indonesia (MUI) menjadi perbincangan yang sangat hangat di media. Pasalnya, masyarakat lagi-lagi diresahkan dengan pernyataan sumir dari Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaya Purnama, yang mengatakan bahwa masyarakat tidak boleh dibodohi oleh Al-Maidah ayat 51 sehingga tidak mau memilih dirinya dalam Pilkada tahun 2017 mendatang. Sontak ucapan Ahok tersebut mendapat kecaman dari umat Islam, hingga banyak sekali ormas Islam yang turun ke jalan untuk menuntut pihak kepolisian agar menindak Ahok di ranah hukum karena telah melecehkan Al-Quran dan menyulut konflik SARA. Setelah dimintai keterangan oleh kepolisian, MUI juga memutuskan bahwa Basuki Tjahaya Purnama telah melakukan penistaan agama karena melecehkan QS. Al-Maidah: 51.
Setelah keputusan itu dibuat dan Ahok kembali dipanggil pihak berwajib di meja hijau, tiba-tiba muncul pemberitaan yang begitu massif, isinya adalah kritik terhadap sikap MUI tersebut dan (lagi-lagi) kajian terhadap tafsir QS. Al-Maidah: 51. Saking emosinya pihak yang menentang keputusan MUI tersebut, hingga situs change.org membuat sebuah laman voting bertajuk “Petisi Bubarkan MUI” yang telah didukung oleh sekitar 15.000 vote. Tak ketinggalan, beberapa tokoh dan ‘tukang nulis’ berlomba-lomba menulis artikel tentang kecaman terhadap MUI dan penafsiran kembali QS. Al-Maidah: 51 yang mereka klaim sangat kaku dan tidak sesuai dengan Pancasila dan keindonesiaan. Entah bagaimana, setelah Ahok diproses hukum oleh kepolisian, dukungan terhadap gubernur petahana ini tiba-tiba menjadi begitu santer, mereka tanpa kikuk dan malu menjelek-jelekkan serta membodoh-bodohkan lembaga nasional yang telah menaungi Syariah Islam dan kehidupan masyarakat Indonesia selama bertahun-tahun dengan berbagai argumentasi.

Oleh karena itu, tulisan ini akan mengulas dan menanggapi beberapa pernyataan dari para “pejuang pimpinan beda agama anti-MUI” ini, sehingga kita mampu menilai seberapa kadar kekuatan dan ketepatan argumentasi mereka hingga berani memberikan penafsiran terhadap QS. Al-Maidah: 51 dan menyerang MUI sebagai lembaga ulama Indonesia.
Menjaga Spesies Manusia

Berangkat dari pembahasan Maqashid al-Syari’ah, pejuang pimpinan beda agama mengarahkan agar umat Islam lebih mementingkan hifzh al-nafs (menjaga kelangsungan hidup) manusia, meskipun harus mengorbankan hukum yang berasal dari teks Al-Quran Hadits. Mereka menyatakan:

“Maka para ulama itu menyebutkan bahwa paling utama dari semua hal adalah menjaga nyawa manusia. Mereka katakan bahwa asas hukum Islam adalah menolak bahaya dan mudarat bagi manusia. Yang dimaksud manusia di sini tentu bukan sebagai individu tapi sebagai keseluruhan. Dengan demikian, teks atau konteks apa pun yang dapat dipahami sebagai menimpulkan bahaya atau mudarat bagi sebagian terbesar manusia maka wajib disingkirkan atau ditundukkan demi teks dan konteks yang mampu memberi manfaat dan maslahat yang sebesar-besarnya bagi sebanyak mungkin manusia.”

“Dalam kaitan dengan tafsir Al-Maidah 51, teks dan konteks harus tunduk pada 5 prinsip agama yang telah dirumuskan oleh para ulama tersebut, sehingga apa saja tafsir yang dapat menimbulkan bahaya bagi kelima hal yang paling wajib dijaga itu harus ditundukkan dan dinomorduakan atas tafsir yang mampu menjaga kelangsungan kelimanya. Tafsir tekstual dan kontekstual yang mampu menjaga kelangsungan dan kemaslahatan spesies manusia (bangsa) lebih diutamakan daripada tafsir teks dan konteks yang merusaknya.” (islamindonesia.id)

Pernyataan diatas tentu aneh. Di satu sisi pejuang pimpinan beda agama ini mengakui 5 prinsip agama yang biasanya disebut Maqashid al-Syari’ah atau al-Kulliyyat al-Khams, akan tetapi mengajak orang untuk menjaga nyawa manusia meski dengan menggugurkan hukum dari Al-Quran. Sepertinya ada inkonsistensi dalam cara berfikirnya.

Pakar hukum Islam kenamaan dari universitas al-Azhar, Syaikh Ibrahim al-Baijuri menjelaskan bahwa yang dimaksud sebagai hifzh al-din (perlindungan agama) adalah mempertahankan hukum-hukum Tuhan, menjaga dari kekufuran, serta rusaknya hukum halal dan haram. Dari tujuan inilah maka diwajibkan memerangi kafir harbi dan kaum murtad. Sedangkan dari tujuan hifzh al-nafs (perlindungan nyawa) maka disyari’ahkan hukum pidana qishash bagi pembunuh dan perusak organ tubuh manusia. (Syaikh Ibrahim al-Baijuri, Tuhfah al-Murid Syarh Jauharah al-Tauhid, hlm. 217)

Dari keterangan ulama diatas, terlihat bahwa perlindungan hukum dan ajaran Islam menjadi prioritas utama dalam agama Islam meskipun konsekuensinya adalah menghilangkan nyawa seseorang. Dari sini dapat disimpulkan bahwa perlindungan terhadap agama lebih diutamakan daripada perlindungan terhadap nyawa.

Tentang QS. Al-Maidah: 51, sebenarnya apa yang penulis diatas maksud sebagai tafsir yang berbahaya dan memberikan mudharat? Kandungan QS. Al-Maidah: 51 baik secara eksplisit (manthuq sharih) maupun implisit (manthuq ghairu sharih dan mafhum) tidak pernah menganjurkan umat Islam untuk saling membunuh karena topiknya adalah masalah kepemimpinan. Lalu mengapa ayat ini dikaitkan dengan masalah perlindungan nyawa? Ada pemikiran yang tidak nyambung. Yang jelas, ayat ini mewajibkan umat Islam untuk tidak menjadikan kaum Yahudi Nasrani sebagai teman karib, apalagi sebagai pemimpin umat Islam.
Perbedaan Konteks

Sebagian pejuang pimpinan beda agama kembali mengangkat perbedaan konteks sebagai alasan untuk menolak larangan mengangkat non-Muslim sebagai pemimpin umat Islam. Dia mengatakan bahwa kebijakan khalifah Umar bin Khatthab menolak non-Muslim masuk dalam jabatan pemerintahannya adalah karena bukan karena keharaman mengangkat non-Muslim sebagai pemimpin, namun karena kesucian wilayah Madinah serta potensi bocornya rahasia potensi bocornya rahasia negara yang tengah melakukan ekspansi dakwah. (nu.or.id) 

Yang menjadi masalah, benarkah memang kepemimpinan non-Muslim dilarang hanya karena itu saja? Jika demikian, mengapa khalifah Ali bin Abu Thalib juga menulis surat kepada gubernur Umar bin Maslamah yang isinya adalah peringatan kepadanya agar tidak mengangkat non-Muslim sebagai pejabat pemerintahan dengan dasar QS. Al-Maidah: 51 dan QS. Ali Imran: 118, padahal posisi pemerintahannya berada di Baghdad? (al-Ya’qubi, al-Tarikh, juz 1 hlm. 189) Khalifah Umar bin Abdul Aziz juga menulis peringatan yang sama kepada para gubernurnya? (Ibn Atsir, al-Kamil fi al-Tarikh, juz 2 hlm. 372) Khalifah Imaduddin Zanki dari Dinasti Islam Turki juga memperingatkan agar tidak mengangkat non-Muslim sebagai bagian dari pemerintahan, padahal pusat pemerintahan sangat jauh dari Makkah dan Madinah? (al-Daulah al-Zankiyyah, hlm. 187) Alasan kesucian Madinah diatas jelas merupakan alasan yang mengada-ada dan kesannya dipaksakan.
Kesahihan Riwayat

Ini merupakan alasan kedua yang digunakan pejuang pimpinan beda agama untuk menganalisa riwayat penolakan Khalifah Umar terhadap kepemimpinan non-Muslim diatas. Ia mengatakan bahwa riwayat tersebut bukanlah Hadits tapi Atsar shahabat, sehingga mungkin menurutnya tidak dapat menjadi sumber hukum. (nu.or id)

Benarkah Atsar Shahabat tidak dapat digunakan untuk menggali hukum Islam? Jika demikian, lalu bagaimana dengan kesunnahan Shalat Tarawih berjamaah di bulan Ramadhan yang merupakan kebijakan dari khalifah Umar? Bagaimana dengan kebijakan kodifikasi Al-Quran oleh khalifah Abu Bakr dan standardisasi Al-Quran oleh khalifah Utsman? Padahal kesemuanya ini tidak ada di zaman Rasulullah dan murni inovasi dari para shahabat. Menolak larangan mengangkat pimpinan non-Muslim hanya karena riwayatnya berupa Atsar Shahabat merupakan alasan yang tidak tepat dan mereduksi makna Ahlussunnah wal Jama’ah sendiri yang berarti “pengikut Sunnah Nabi dan Ijma’ Shahabat”.

Selanjutnya, anggapan bahwa tidak ada dalil Hadits Rasulullah ShallaLlahu ‘alaihi wa Sallama yang menunjukkan keharaman mengangkat non-Muslim sebagai pimpinan juga keliru. Banyak hadits-hadits yang menunjukkan hal ini, diantaranya:

عَنْ أَبِي سَعِيدٍ الْخُدْرِيِّ رضي الله عنه، أَنَّهُ سَمِعَ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ: «لَا تُصَاحِبْ إِلَّا مُؤْمِنًا، وَلَا يَأْكُلْ طَعَامَكَ إِلَّا تَقِيٌّ» )رواه الترمذي( 

Dari Abu Sa’id al-Khudri RadliyaLlahu ‘anhu, ia berkata: Rasulullah ShallaLlahu ‘alaihi wa Sallama bersabda, “Janganlah berkawan kecuali dengan orang mukmin, dan janganlah memakan makananmu kecuali orang yang bertakwa.” (HR. al-Tirmidzi)

عَنْ عَبْدِ اللهِ بْنِ مَسْعُودٍ رَضِىَ اللهُ عَنْهُ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللهِ صلى الله عليه وسلم :« يَا عَبْدَ اللهِ أَىُّ عُرَى الإِسْلاَمِ أَوْثَقُ؟ ». قَالَ قُلْتُ : اللهُ وَرَسُولُهُ أَعْلَمُ. قَالَ :« الْوَلاَيَةُ فِى اللهِ الْحُبُّ فِى اللهِ وَالْبُغْضُ فِى اللهِ ». (رواه البيهقي)

Dari Abdullah bin Mas’ud RadliyaLlahu ‘anhu, ia berkata: Rasulullah ShallaLlahu ‘alaihi wa Sallama bersabda, “Wahai Abdullah, apa tali Islam yang paling kokoh?” Aku menjawab, “Allah dan Rasul-Nya lebih mengetahui.” Kemudian Rasulullah bersabda, “Yaitu kesetiaan karena Allah, cinta karena Allah, dan benci karena Allah.” (HR. al-Baihaqi)

عَنْ عَبْدِ اللهِ بْنِ عَباسْ -رضي الله عنهما- : قال: سَمِعْتُ رَسُوْلَ الله -صلى الله عليه وسلم- اللَّهُمَّ اجْعَلْنَا هَادِيْنَ مُهْتَدِيْنَ، غَيْرَ ضَالِّينَ وَلَا مُضِلِّينَ، سِلْمًا لِأَوْلِيَائِكَ، وَعَدُوًّا لِأَعْدَائِكَ، نُحِبُّ بِحُبِّكَ مَنْ أَحَبَّكَ، وَنُعَادِي بِعَدَاوَتِكَ مَنْ خَالَفَكَ (رواه الترمذي)

Dari Abdullah bin Abbas RadliyaLlahu ‘anhu, ia berkata: Aku mendengar Rasulullah ShallaLlahu ‘alaihi wa Sallama berdoa, “Ya Allah, jadikanlah kami sebagai orang-orang yang memberi petunjuk (kepada selain kami) dan dianugerahi petunjuk (dari Engkau), janganlah Engkau jadikan kami termasuk orang-orang tersesat lagi menyesatkan, dan jadikanlah kami sebagai orang-orang pendamai kepada setiap kekasih-Mu dan (sebagai) pemusuh kepada setiap musuh-Mu. Dengan dasar cinta-Mu kami dapat mencintai setiap orang yang mencintai-Mu, dan karena benci-Mu (pula) kami memusuhi setiap orang yang mendurhakai-Mu.” (HR. al-Tirmidzi)

Hadits-hadits di atas ketika ditinjau secara Ushul Fiqh menunjukkan bahwa berkawan dan berteman dengan orang-orang kafir saja dilarang oleh agama Islam, apalagi menjadikan mereka sebagai pimpinan umat Islam. Hal ini dalam tataran Ushul Fiqh dinamakan Qiyas Aulawiy.

عَنْ أَبِيْ بَكْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: لَنْ يُفْلِحَ قَوْمٌ وَلَّوْا أَمْرَهُمْ اِمْرَأَةً  )رواه البخاري(

Dari Abu Bakrah RadliyaLlahu ‘anhu, ia berkata: Rasulullah ShallaLlahu ‘alaihi wa Sallama bersabda: “Tidak akan berhasil (baik) suatu kaum yang menguasakan urusannya kepada seorang perempuan (menjadikannya pemimpin).” (HR.  al-Bukhari)

Dari hadits diatas, Rasulullah ShallaLlahu ‘alaihi wa Sallama menjelaskan bahwa suatu kaum yang menjadikan wanita sebagai pimpinannya maka urusan mereka tidak akan pernah baik alias tidak akan memperoleh keberhasilan, apalagi menjadikan kafir yang notabenenya musuh Allah Ta’ala sebagai pimpinan. WaLlahu A’lam.

Dengan demikian, dapat semakin terkuak berbagai kesalahan yang dilakukan oleh pejuang pimpinan beda agama dalam membela mati-matian non-Muslim agar mendapatkan kedudukan politis dengan permainan dalil yang beraneka macam, entah kesalahan tersebut murni kealpaan atau memang sengaja ingin memutarbalikkan fakta dan membohongi umat Islam. Inna liLlahi wa Inna Ilaihi Raji’un.
Keputusan Khalifah Umar adalah Qaulus Shahabi

Ini adalah alasan ketiga dari pejuang pimpinan beda agama diatas untuk mengkritik kebijakan khalifah Umar. Ia mengatakan: 

“Umar bin Khattab adalah sahabat Nabi. Abu Musa al-Asy’ari juga sahabat Nabi. Keduanya berbeda pandangan dalam hal ini. Pendapat keduanya dalam usul al-fiqh disebut sebagai qaulus shahabi. Singkatnya ini adalah ijtihad para sahabat Nabi yang tidak disandarkan kepada Nabi. Artinya murni pemahaman mereka sepeninggal Nabi SAW.”

“Itu kalau kita memahami dari sudut usul al-fiqh. Kalau kita melihatnya dari sudut Fiqh Siyasah, maka keputusan Umar lebih kuat karena ia memutuskan dalam posisi sebagai khalifah, dan suka atau tidak suka, sebagai Gubernur bawahan Khalifah, Abu Musa harus ikut keputusan Umar. Namun keputusan Khalifah itu tidak otomatis dianggap ijma’ (kesepakatan) karena jelas ada perbedaan pendapat dikalangan sahabat.

Dengan kata lain, sikap Umar itu adalah kebijaksanaan beliau saat itu, yang seperti dicatat oleh sejarah, berbeda dengan kebijakan para Khalifah lainnya yang mengangkat non-Muslim sebagai pejabat seperti yang dilakukan oleh Khalifah Mu’awiyah, Khalifah al-Mu’tadhid, Khalifah al-Mu’tamid, dan Khalifah al-Muqtadir.” (nu.or.id)

Memang ada khilaf antar madzhab tentang Qaul Shahabat. Akan tetapi, jika dikatakan bahwa masalah larangan mengangkat pemimpin non-Muslim bukan ijma’ maka ucapan ini keliru karena beberapa hal. 

Pertama, keputusan khalifah Umar untuk tidak mengangkat non-Muslim sebagai pemimpin juga diikuti oleh khalifah Ali dalam surat peringatannya kepada gubernur Umar bin Maslamah (al-Ya’qubi, al-Tarikh, juz 1 hlm. 189), dan secara praksis kebijakan ini diikuti oleh seluruh Khulafa Rasyidun. Kedua, kebijakan hukum Khulafa Rasyidun tersebut sudah dianggap sebagai ijma’ dan dapat menjadi hujjah karena tidak ada shahabat yang menentang kebijakan tersebut. (lihat: Wahbah al-Zuhaili, Ushul al-Fiqh al-Islami, juz 1 hlm. 491) Ketiga, Abu Musa al-Asy’ari menerima keputusan khalifah Umar tersebut setelah mengetahui dalil yang jelas yakni dari QS. Al-Maidah: 51, bukan karena terpaksa sebagai seorang bawahan khalifah. 

Oleh karena itu, klaim pejuang pimpinan beda agama bahwa tidak ada ijma’ tentang keharaman mengangkat pimpinan dari non-Muslim keliru dan tidak sesuai fakta.

Adapun catatan sejarah tentang beberapa khalifah yang memberikan jabatan politik kepada non-Muslim, maka data sejarah tersebut tidak dapat menjadi landasan dalil hukum Islam karena jelas sekali berseberangan dengan nash Al-Quran Hadits dan perilaku para Shahabat.

Terkait hal ini, penulis kitab al-Ayyubiyyun ba’da Shalah al-Din menjelaskan, “Adapun pada masa pemerintahan Sultan Kamil maka pelaksanaan al-wala wa al-bara’ lemah sekali. Hal ini terlihat dari kebijakan menyerahkan al-Quds kepada Kaisar Frederick II dengan imbalan emas dan tanpa ada perlawanan sama sekali. Sontak hal ini menjadikan kaum Muslim sangat kecewa, menyesal, dan sedih tiada terkira. Sultan Kamil juga menjalin hubungan diplomasi dengan kaum Kristen untuk menyerang saudaranya Mu’azham yang menjalin diplomasi dengan kaum Khawarizm. Seperti halnya juga Sultan Najmuddin Ismail yang menjalin hubungan bilateral dengan Pasukan Salib, menyerahkan salah satu benteng pertahanan kepada mereka, dan memenjarakan Syaikh Ibn Abdissalam dan Ibn Hajib selama beberapa waktu kemudian memberikan mereka status tahanan rumah. Sultan Najmuddin juga bekerjasama dengan Pasukan Salib memerangi Sultan Shalih Najmuddin Ayyub yang menentang penyerahan al-Quds…” (al-Ayyubiyyun ba’da Shalah al-Din, juz 2 hlm. 412)
Lembaga Fatwa Mesir Bolehkan Pimpinan Beda Agama

Ini merupakan argumen yang disebutkan oleh salah satu pejuang pimpinan beda agama, setelah ia mengaku bertanya kepada lembaga fatwa Mesir (tanpa menyebutkan secara jelas nama lembaganya) tentang masalah kepemimpinan non-Muslim terhadap kaum Muslimin. Dalam pengakuannya ia mengatakan:

“Untuk menjawab polemik ini, beberapa hari lalu, tepatnya tanggal 14 Oktober 2016, akun twitter intelektual  Zuhairi Misrawi mengunggah potongan gambar berisi istifta (permonohan fatwa) seseorang dari Indonesia kepada Lembaga Fatwa Mesir. Permohonan fatwa ini dilayangkan pada 12 Oktober 2016.

Isi pertanyaannya: “Apa hukum pencalonan non Muslim untuk jabatan gubernur di daerah yang mayoritasnya berpenduduk Muslim tetapi negara memiliki sistem demokratis yang membolehkan semua warganegara, Muslim ataupun non Muslim, untuk mencalonkan diri dalam pemilihan umum secara langsung? Apa pendapat fiqih terhadap status gubernur maupun anggota parlemen seperti dalam khazanah fiqih Islam?”

Dalam surat jawaban bernomor 983348 atas istifta (permohonan fatwa) tersebut, Lembaga Fatwa Mesir berfatwa: “Konsep penguasa/pemegang wewenang (al-hakim) dalam negara modern telah berubah. Dia sudah menjadi bagian dari lembaga dan pranata (seperti undang-undang dasar, peraturan perundang-undangan, eksekutif, legislatif, yudikatif) yang ada, sehingga orang yang duduk di pucuk pimpinan lembaga dan institusi seperti raja, presiden, kaisar atau sejenisnya tidak lagi dapat melanggar seluruh aturan dan undang-undang yang ada. Maka itu, pemegang jabatan dalam situasi seperti ini lebih mirip dengan pegawai yang dibatasi oleh kompetensi dan kewenangan tertentu yang diatur dalam sistem tersebut. Pemilihan orang ini dari kalangan Muslim maupun non Muslim, laki-laki maupun perempuan, tidak bertentangan dengan hukum-hukum syariah Islam, karena penguasa/pimpinan ini telah menjadi bagian dari badan hukum (syakhsh i’itibari/rechtspersoon) dan bukan manusia pribadi (syakhsh thabi’i/natuurlijke persoon).” (islamindonesia.id)

Dari keterangan diatas, ada beberapa catatan yang perlu diperhatikan. Catatan pertama, dalam berbagai literatur kitab salaf banyak sekali keterangan ulama yang melarang pengangkatan non-Muslim sebagai pemimpin kaum Muslimin baik kekuasaan universal, regional, maupun sektoral.

Pakar hukum Fiqh Syafi’I al-Mawardi menegaskan bahwa jabatan kementerian atau wazir harus diisi oleh orang yang memenuhi syarat Imam A’zham kecuali syarat dari Quraisy, sehingga memasukkan syarat harus Muslim. (Abu Hasan al-Mawardi, al-Ahkam al-Sulthaniyyah, hlm. 41) Selain itu, al-imarah al-khasshah atau kekuasaan yang mengurusi kewenangan tertentu baik regional maupun sektoral juga disyaratkan harus Muslim dan merdeka. (Abu Hasan al-Mawardi, al-Ahkam al-Sulthaniyyah, hlm. 54)

Al-Nawawi juga mengatakan bahwa mengangkat pejabat penarik iuran wajib dari non-Muslim jika ditujukan untuk masyarakat Muslim hukumnya tidak boleh. (Muhammad Syaraf al-Nawawi, Raudlah al-Thalibin, juz 6 hlm. 367)

Melihat keterangan ulama salaf diatas, maka aneh jika pejuang pimpinan beda agama diatas mengaku bahwa lembaga fatwa Mesir bersikap kontras dengan ulama-ulama pendahulunya. Meski seumpama memang faktanya demikian, maka fatwa tersebut berseberangan dengan keterangan ulama salaf.

Catatan kedua, setelah fatwa yang disebutkan oleh Zuhairi Misrawi diatas menjadi viral di media sosial, banyak pula yang memberikan kritik atas fatwa tersebut, diantaranya adalah situs http://www.albayan.co.uk. (www.albayan.co.uk/Mobile/Article2.aspx?id=1531) Dalam situs majalah Islam ternama di Arab Saudi pimpinan Ahmad bin Abdurrahman al-Shawayan tersebut dimuat sebuah tulisan berjudul Hukm I’tha al-Muslim Shautahu al-Intikhabiy li Ghair al-Muslim (Hukum Muslim Memberikan Suaranya saat Pemilu kepada Non-Muslim), yang isinya mengkritik pernyataan tentang kebolehan memilih non-Muslim memegang jabatan dalam pemerintahan sistem parlementer negara Islam. Tulisan ini dimuat pada hari Ahad 22 Muharram 1438 H atau 23 Oktober 2016 M, satu minggu setelah tulisan dari Zuhairi Misrawi tersebut dilayangkan.

Artikel tersebut mengawali pembahasan dengan mengkritik analisa tentang status anggota parlemen sebagai wakil karena tidak sesuai dengan kaidah-kaidah perwakilan dalam kitab-kitab Fiqh. Pertama, anggota parlemen tersebut merupakan wakil dari seluruh rakyat suatu negara, bukan hanya wakil dari orang-orang yang memilihnya. Lalu bagaimana dia menjadi berstatus wakil dari orang-orang yang tidak memberikan suara kepadanya? Hal ini menjadikan statusnya sebagai wakil dalam Fiqh menjadi janggal.

Kedua, anggota pemerintahan parlementer setelah menjadi anggota di dalamnya tidak dapat mengundurkan diri dari sesuai kehendaknya sendiri. Hal ini tidak sesuai dengan hak seorang wakil yang dapat mengundurkan diri dari apa yang diwakilkan kepada dirinya kapanpun dia mau. Dua hal ini menjadi posisinya sebagai wakil menjadi tidak tepat, akan tetapi jika ditinjau dari kewenangannya menduduki posisi di parlemen berdasarkan suara para pendukungnya maka status wakilnya dapat dikatakan sebagai wakalah naqishah (wakil yang tidak sempurna).

Ketiga, pemerintahan parlementer memiliki wewenang untuk mengawasi dan mengangkat pemerintahan eksekutif, sehingga mereka bertindak sebagai ahlul halli wal ‘aqdi yang bertindak sebagai pengawal berbagai kekuasaan eksekutif dan memiliki kekuasaan penuh dalam menjalankan roda pemerintahan, dimana non-Muslim tidak memiliki wewenang menjabat kekuasaan tersebut.

Keempat, anggota parlemen juga memiliki wewenang membuat serta melaksanakan undang-undang dan kebijakan dimana dalam negara yang mayoritas umatnya adalah Muslim harus selalu sesuai dengan Syari’ah Islam. Adapun non-Muslim tidak memiliki kecakapan dalam memahami agama Islam, sehingga tidak patut menduduki jabatan di pemerintahan ini.

Karena posisi dan tugas pemerintahan yang sangat krusial bagi masyarakat khususnya umat Islam ini, maka posisi ini tidak boleh diberikan kepada non-Muslim seperti halnya tidak boleh diberikan kepada Muslim yang tidak memiliki integritas keislaman yang kuat. (selengkapnya lihat link berikut: http://www.albayan.co.uk/Mobile/Article2.aspx?id=1531)

Dari beberapa argumentasi diatas, maka kebolehan mengangkat non-Muslim sebagai pimpinan umat Islam adalah pendapat yang lemah dan tidak memahami seberapa pentingnya posisi politik sebagai penentu kehidupan masyarakat.
Ibn Taimiyah: Non-Muslim Adil Lebih Baik daripada Muslim Zalim (?)

Untuk mendukung pendapatnya, pejuang pimpinan beda agama seringkali mengangkat berbagai pernyataan ulama yang kemudian dimaknai sesuai keinginannya. Termasuk yang seringkali dikutip adalah pendapat Ibn Taimiyyah:

فَإِنَّ النَّاسَ لَمْ يَتَنَازَعُوا فِي أَنَّ عَاقِبَةَ الظُّلْمِ وَخِيمَةٌ وَعَاقِبَةُ الْعَدْلِ كَرِيمَةٌ وَلِهَذَا يُرْوَى : ” اللَّهُ يَنْصُرُ الدَّوْلَةَ الْعَادِلَةَ وَإِنْ كَانَتْ كَافِرَةً وَلَا يَنْصُرُ الدَّوْلَةَ الظَّالِمَةَ وَإِنْ كَانَتْ مُؤْمِنَةً ”

“Sesungguhnya manusia telah sepakat bahwa akibat (atau efek) sikap zhalim adalah kebinasaan dan akibat sikap adil adalah kemuliaan. Oleh karena itu diriwayatkan bahwa Allah akan menolong negara yang adil meski ia kafir dan tidak akan menolong negara yang zalim, meski ia mukmin.”

Dengan demikian, spirit Islam adalah keadilan, dan lawannya adalah kezhaliman. Kalau ada orang yang adil (mampu berbuat adil dan menegakkan keadilan) ya kita dukung meskipun dia bukan Muslim dan Allah akan menolong orang yang adil tersebut. (MusliModerat.Com)

Pernyataan Ibn Taimiyah ini berasal dari kitab beliau Majmu’ Fatawa (juz 8 hlm. 63-64, shamela ishdar 3.15). Akan tetapi, makna dari pernyataan tersebut jika diteliti lebih lanjut sangat berbeda dengan yang disebutkan oleh pejuang pimpinan beda agama diatas. Kutipan ucapan Ibn Taimiyyah tersebut adalah sebagai berikut:

وَكُلُّ بَنِي آدَمَ لَا تَتِمُّ مَصْلَحَتُهُمْ لَا فِي الدُّنْيَا وَلَا فِي الْآخِرَةِ إلَّا بِالِاجْتِمَاعِ وَالتَّعَاوُنِ وَالتَّنَاصُرِ فَالتَّعَاوُنُ وَالتَّنَاصُرُ عَلَى جَلْبِ مَنَافِعِهِمْ ؛ وَالتَّنَاصُرُ لِدَفْعِ مَضَارِّهِمْ ؛ وَلِهَذَا يُقَالُ : الْإِنْسَانُ مَدَنِيٌّ بِالطَّبْعِ . فَإِذَا اجْتَمَعُوا فَلَا بُدَّ لَهُمْ مِنْ أُمُورٍ يَفْعَلُونَهَا يَجْتَلِبُونَ بِهَا الْمَصْلَحَةَ . وَأُمُورٍ يَجْتَنِبُونَهَا لِمَا فِيهَا مِنْ الْمَفْسَدَةِ ؛ وَيَكُونُونَ مُطِيعِينَ لِلْآمِرِ بِتِلْكَ الْمَقَاصِدِ وَالنَّاهِي عَنْ تِلْكَ الْمَفَاسِدِ فَجَمِيعُ بَنِي آدَمَ لَا بُدَّ لَهُمْ مِنْ طَاعَةِ آمِرٍ وَنَاهٍ ……… وَلَكِنَّ الْجَزَاءَ فِي الدُّنْيَا مُتَّفِقٌ عَلَيْهِ أَهْلُ الْأَرْضِ . فَإِنَّ النَّاسَ لَمْ يَتَنَازَعُوا فِي أَنَّ عَاقِبَةَ الظُّلْمِ وَخِيمَةٌ وَعَاقِبَةُ الْعَدْلِ كَرِيمَةٌ وَلِهَذَا يُرْوَى : ” { اللَّهُ يَنْصُرُ الدَّوْلَةَ الْعَادِلَةَ وَإِنْ كَانَتْ كَافِرَةً وَلَا يَنْصُرُ الدَّوْلَةَ الظَّالِمَةَ وَإِنْ كَانَتْ مُؤْمِنَةً } ” (مجموع الفتاوى – 28 / 63-64)

“Seluruh manusia tidak dapat sempurna kemaslahatannya di dunia maupun di akhirat kecuali dengan persatuan, kerjasama, dan tolong-menolong. Saling kerjasama dalam mencapai berbagai kemanfaatan, dan saling tolong-menolong dalam menghadapi berbagai bahaya. Karena itu, dikatakan bahwa manusia dapat maju peradabannya secara alami. Jika manusia bermasyarakat maka mereka harus melakukan berbagai usaha untuk mencapai kemajuan dan menolak kemudharatan, serta harus patuh terhadap orang yang memerintahkan untuk mencapai kemajuan dan mencegah dari bahaya tersebut. Karena itulah, maka manusia harus patuh terhadap pimpinan yang memberikan perintah dan larangan….. Akan tetapi balasan di dunia diakui adanya oleh seluruh penduduk bumi. Semua manusia tidak menyangkal bahwa akibat kezaliman adalah kemunduran, sedangkan akibat keadilan adalah kemuliaan. Karena itu dikatakan bahwa Allah menolong negara yang adil meski kafir dan tidak menolong negara zalim meski Mu’min.” (Ibn Taimiyah, Majmu’ Fatawa, juz 28 hlm. 63-64)

Jika dilihat pernyataan Ibn Taimiyah diatas, maka terlihat bahwa tema yang beliau bahas adalah ketaatan dan sikap kooperatif terhadap pemimpin, bukan masalah kepemimpinan non-Muslim. Beliau mengakui ketaatan terhadap pemimpin merupakan modal utama kemajuan suatu bangsa, tanpa melihat status negara tersebut Islam atau kafir. Namun dalam hal ini, tidak ada yang menyebutkan bahwa Ibn Taimiyah memerintahkan Muslim untuk memilih non-Muslim sebagai pimpinan umat Islam.

Namun yang perlu diperhatikan, bahwa Ibn Taimiyyah juga menyatakan bahwa pengangkatan pemimpin ditujukan untuk menjadi jalan umat Islam melakukan amar ma’ruf nahi munkar, jihad, serta penegakan hukum-hukum had. Menurutnya, agama dan dunia tidak dapat berjalan kecuali dengan ada pemerintahan. (al-Siyasah al-Syari’yyah, hlm. 168) Tentu semua ini secara faktual dari dulu sampai sekarang tidak akan pernah terwujud kecuali jika kepemimpinan umat Islam dipegang oleh orang Islam juga. Oleh karena itu, jika disimpulkan bahwa Ibn Taimiyyah membolehkan umat Islam dipimpin oleh non-Muslim akan menjadi sangat janggal, terlebih lagi melihat sosok Ibn Taimiyyah yang jauh lebih radikal dalam masalah kekafiran dibanding ulama-ulama al-madzahib al-arba’ah.

Selain itu, menurut Syaikh Muhammad Najih dalam makalahnya berjudul Kepemimpinan Non Muslim Sumber Malapetaka, beliau menyebutkan bahwa ucapan Ibn Taimiyah ini termasuk Syawadzdzi ibn Taimiyah (pendapat-pendapat syadz Ibn Taimiyah). Pasalnya, banyak beberapa pernyataan Ibn Taimiyah yang tidak sah dibuat pijakan dalil, seperti pendapatnya dalam masalah talak yang menyatakan ‘jatuh talak satu’ bagi istri yang ditalak suaminya tiga talakan dalam satu majlis, pendapatnya yang membolehkan pajak (lihat: al-Fatawa al-Kubra li Ibn Taimiyah) dan masih banyak lagi. (selengkapnya lihat: Syaikh Muhammad Najih Maimoen, al-Tahdzir al-Mubin; Syaikh Abdullah al-Harari, Sharih al-Bayan). Kecorobahan Ibn Taimiyah ini  sebagai bukti kurang wira’i/ berhati-hati dalam berpendapat. 

Logika Ibn Taimiyah yang menyatakan sebuah negara akan tenteram sejahtera apabila keadilan diterapkan meski pemimpinnya non muslim itu jelas bertentangan dengan Al-Quran. Pasalnya, di dalam kitab-kitab tafsir telah maklum bahwa tiang utama keadilan adalah tauhid, sehingga mustahil non-Muslim memiliki sifat keadilan. WaLlahu A’lam.
Ikhtitam

Dari beberapa pemaparan diatas, dapat ditarik kesimpulan besar bahwa berbagai alasan dan argumentasi yang disodorkan oleh para pejuang pimpinan beda agama untuk mendiskreditkan dan mementahkan fatwa MUI terhadap Basuki Tjahaya Purnama hanyalah menjadi buih dan sarat dengan pembohongan serta penyelewengan dalil. Karena itu, berkali-kali kami sampaikan bahwa jangan mudah terbujuk dan tertipu dengan alasan-alasan manis yang dibuat-buat oleh para pejuang pimpinan beda agama, selama mereka tidak kapok untuk menentang ajaran ulama Islam Salafusshalih dan menjerumuskan umat Islam kedalam kebodohan.

Karena begitu maraknya kejahatan yang dilakukan oleh para penjahat dalil inilah, maka masyarakat sudah seharusnya waspada dan segera bertindak serta melapor kepada ulama ketika timbul kasus munculnya hukum-hukum aneh semacam ini. Ingatlah, rasa sakit dan pedih karena memperjuangkan ajaran yang benar lebih mudah pertanggungjawabannya di hadapan Allah Ta’ala daripada gelimang harta yang didapat dari menjual agama. WaLlahu A’lam.

Iklan

TIDAK SEMUA BID’AH HARAM

Karena jika demikian adanya, maka apa yang dilakukan Ubay, Umar dan Zaid dalam usaha mengumpulkan dan menulis mushaf lantaran khawatir kocar kacir tak terpelihara dan akhirnya hilang dengan sebab wafatnya para sahabat (Qurro’) dihukumi haram juga. Begitu pula gagasan Umar melaksanakan sholat Tarawih pada malam-malam Ramadlan serta ungkapan beliau: نعمة البدعة هذه (bagus sekali bid’ah ini), juga komentar Ali: نوّر الله قبر عمر، فقد نوّر مساجدنا (semoga Allah senantiasa menerangi kubur Umar, karena beliau telah meramaikan masjid-masjid kami) dengan sholat Tarawih, demikian pula produk-produk karangan dari berbagai disiplin ilmu yang bermanfaat, kewajiban memerangi orang-orang kafir dengan tombak, pedang dan panah di kala mereka menggunakan senjata peluru-peluru panas dan bom, adzan di atas menara, membangun madrasah-madrasah dan pondok-pondok yang semuanya mempunyai kontribusi besar dalam menjaga syari’at dan tak dijumpai pada masa Nabi. 
Adapun hadits: كل بدعة ضلالة (setiap bid’ah adalah sesat), menurut komentar pengarang al-Azhar dan ulama-ulama besar lainnya adalah berstatus ‘am makhshush (umum yang terfokus) dan yang dikehendaki adalah: setiap bid’ah sayyi-ah, dan yang menjelaskan batasan ini adalah apa yang dilakukan sahabat-sahabat senior dan para tabi’in yang tak ditemui pada masa Rasul seperti penulisan al-Qur’an dan melestarikan shalat Tarawih. 

Imam as-Syafi’I berkata: mewujudkan perkara baru dan bertentangan dengan al-Qur’an, Hadits, Ijma’ atau Atsar adalah Bid’ah Dlolaly dan bila tidak bertentangan disebut Bid’ah Mahmudah (terpuji). 

‘Izzuddin bin Abdis Salam, Imam an-Nawawi dll. berkata: Bid’ah terkadang Wajib, seperti; mengarang berbagai disiplin ilmu dan mengajarkan nahwu, mengCounter kelompok-kelompok sesat, menjaga dan melestarikan syari’at. Ada juga yang Sunnah, seperti; membuat pondok dan madrasah, adzan di atas menara dan berbagai kebajikan yang tak ditemui pada kurun-kurun awal. Ada juga yang Makruh, seperti; menghias masjid-masjid dan mushaf. Ada juga yang Mubah, seperti; bersalaman setelah shalat Subuh dan Ashar, pola hidup mewah yang mencakup rumah, makanan dan minuman. Ada pula yang Haram, yaitu: apa saja yang bertentangan dengan al-Qur’an dan al-Hadits serta dalil-dalil syar’I lainnya, dan inilah yang dikehendaki dalam hadits: Kullu Bi’datin Dlolalah.

Ibnul Atsir berkata: Bid’ah ada dua, yaitu: Bid’ah Huda dan Dholalah. Kemudian beliau mendefinisikan bid’ah dholalah, yaitu: bid’ah yang bertentangan dengan Kitab dan Sunnah, juga dalil-dalil syar’I lainnya dan tidak ditemui  pada zaman dahulu. Sedangkan bid’ah Huda yang terpuji adalah: apa saja yang termasuk dalam keuniversal¬an perintah-perintah Allah dan RasulNya, atau memang tidak bertentangan dan tak ditemui pada kurun-kurun sebelumnya, seperti pola hidup dermawan dengan model yang tidak ditemui pada kurun-kurun awal. 

Kemudian beliau berkomentar: bahwa tidak boleh mengi’tiqodkan bahwa Bid’atul Huda adalah sesat, bertentangan dengan syara’, karena syara’ telah menyebutnya dengan istilah “Sunnah” dan bagi pelakunya mendapatkan pahala. Nabi bersabda: 

مَنْ سَنَّ فِي الإِسْلاَمِ سُنَّةً حَسَنَةً فَعَمِلَ بِهَا بَعْدَهُ كُتِبَ لَهُ مِثْلُ أَجْرِ مَنْ عَمِلَ بِهَا وَلاَ يُنْقَصُ مِنْ أُجُوْرِهِمْ شَيْءٌ.

Artinya: Barang siapa yang melakukan tindakan kebaikan (hal baru) dalam Islam, lalu di hari kemudian di amalkan oleh generasi selanjutnya, maka dia akan mendapatkan pahala plus pahala-pahala orang yang melakukannya tanpa mengurangi sedikitpun dari pahala-pahala mereka (generasi sesudahnya).

Adapun hadits Nabi: مَنْ أَحْدَثَ فِيْ أَمْرِنَا هَذَا مَا لَيْسَ مِنْهُ فَهُوَ رَدٌّ  (Barang siapa yang membuat hal baru yang tidak termasuk ajaranku, maka amalnya tidak diterima). Menurut beliau para ulama telah membatasi Laisa Minhu (apa yang tidak termasuk ajaran Rasul) dengan apa yang bertentangan dengan syara’, dan tidak ada penguat kaidah-kaidah syara’ lainnya, maka perilaku yang bertentangan dengan syara’ itulah yang ditolak, seperti ibadah dengan mengabaikan syarat-syarat dan hukumnya, misalnya shalat tanpa wudlu atau tanpa ruku’ dan sujud, juga seperti akad-akad fasid semisal jual beli barang-barang yang dilarang. 

Ibnu Hajar menandaskan bahwa apa saja yang tidak bertentangan dengan syara’, maka tidak ditolak, seperti berbagai tindak kebajikan yang tidak ditemui pada kurun-kurun awal, dan beliau mencontohkan hasil-hasil karangan dari berbagai disiplin ilmu, kemudian beliau berkata: “Semua itu dan apa saja yang menyerupainya sangat jelas manfaatnya dan disambut hangat kehadirannya oleh masyarakat dunia, dan tentu pencetusnya mendapat pahala. 

Imam Abu Syaamah (guru Imam an-Nawawi) juga berkata: termasuk kategori Bid’ah Hasanah adalah merayakan hari kelahiran Nabi setiap tahun dengan bershodaqoh dan berbuat berbagai kebajikan lainnya serta menyambut gembira datangnya Maulid Nabi. Semua itu mencerminkan mahabbah, ta’dhim kepada Nabi Muhammad saw di hati para pelakunya, sekaligus mensyukuri ni’mat Allah yang besar ini. Jadi, bid’ah yang tercela adalah yang bertentangan dengan syara’, seperti ibadah-ibadah fasid, semisal meyakini wajibnya inkar terhadap perilaku-perilaku sunnah seperti membaca surat al-Kahfi dalam masjid, juga seperti inkar yang ber-konsekuensi terjadinya saling benci, hasud dan permusuhan antara umat Islam yang merupakan tindakan paling tercela dibanding melakukan larangan-larangan syara’. Juga seperti masa bodoh terhadap tindakan-tindakan haram yang mujma’ ‘alaih, ingkar berlebihan terhadap apa yang masuk kategori sunnah atau makruh, sampai terjadinya pengumpatan dan permusuhan yang akhirnya mengakibatkan kerusakan materi, melukai bahkan membunuh. Demikianlah komentar syekh Yusuf as-Syalabi. 
#Cuplikan buku syaikhina: Pedoman Komprehenship dalam Menyikapi Prosesi Ritual Maulid Nabi

SEKILAS TENTANG WAHHABI (BAG 2)

​Pokok-pokok ajarannya

Mengkafirkan orang-orang islam

Gerakan yang satu ini memang bisa di bilang radikal/beraliran keras, walaupun secara dzohir mereka kelihatannya tidak melakukan tindak kekerasan, tapi hakikatnya mereka ini adalah kelompok radikalis/ekstrimis, hal ini bisa kita buktikan dengan tindakan mereka dalam mengkafirkan orang-orang islam karena telah melakukan hal-hal  yang menurut mereka adalah haram atau bahkan bisa menjadikan kufur, (misal: tawassul dan ziarah dengan menghadap agak lama ke maqbaroh Rasul, Sayyidah Khadijah dll). Seolah-olah mereka tidak suka dengan adanya orang-orang yang menghormati Nabi SAW, hal ini dapat kita buktikan dengan adanya larangan tawassul dengan Nabi, larangan mengadakan maulid dan lain sebagainya dengan dalih khawatir sampai adanya pengkultusan terhadap Nabi SAW, padahal menurut kami setiap ta’dzim belum tentu menuhankan dengan bukti Allah memerintahkan para Malaikat dan Iblis untuk sujud kepada Nabi Adam AS yang pada akhirnya Iblis dilaknat oleh Allah karena kesombongannya dengan tidak mau sujud kepada Nabi Adam AS. Dan aliran ini memberi motifasi dan inspirasi munculnya gerakan-gerakan Al-irsyad, Muhammadiyah, gerakan Ikhwanul Muslimin di Mesir dan lain-lain di Indonesia.

Menurut mereka tauhid di bagi menjadi tiga bagian : Tauhid Uluhiyyah, Tauhid Rububiyyah dan Tauhid asma’ wa sifat. Ulama Asy’ariyyah dan Maturidiyyah tidak memberi penjelasan tentang Tauhid Uluhiyyah,dan kurang memberi penjelasan tentang Tauhid asma’ wa sifat, hal inilah yang menyebabkan masyarakat Islam banyak menjadi musyrik karena bertawassul dengan orang yang sudah mati. Ulama Asy’ariyyah dan Maturidiyyah juga tidak menetapkan yad, wajah, jihah dan istiwa’ alal ‘arys kepada Allah Swt, ujar mereka.

Membagi tauhid menjadi tiga bagian ini adalah bid’ah terbesar mereka dan senjata utama mereka untuk mengkafirkan mayoritas umat islam yang yang bermadzhab asy’ari, Maturidi ataupun Shufi.

Condong ke tajsim

Wahabi adalah termasuk aliran yang menolak adanya ta’wil pada ayat-ayat mutasyabihat, sehingga mereka berkeyakinan bahwab istiwa’nya Allah di ‘Arsy adalah bersemayamnya Allah di atas ‘Arsy. Mereka pun berkeyakinan bahwa Allah mempunyai wajah dan tangan, mereka juga beranggapan bahwa Allah memegang langit, bumi, pepohonan dengan jari jemariNya. 

Dari uraian tadi sebenarnya keyakinan mereka dalam permasalahan di atas ini lebih mirip dengan golongan mujassimah, yang menurut kita (Ahlus sunnah) mujassimah adalah termasuk ahli bid’ah walaupun tidak sampai kafir. Sebenarnya pendapat bahwa Allah itu Jisim ini adalah pendapatnya orang-orang yahudi yang di usung oleh mujassimah, tapi kita tidak sampai mengatakan bahwa Mujassimah adalah ahli bid’ah yang kafir seperti halnya kita mengatakan bahwa yahudi adalah orang-orang kafir, karena memang vonis Al quran bahwa yahudi orang kafir adalah karena perilaku-perilaku mereka menyembah anak sapi, membunuh para Nabi, orang-orang yang beramar ma’ruf nahi munkar, mengakui ‘Uzair sebagai anak Allah dan meninggalkan hukum-hukum Taurot (menolak rajam, qishos dan potong tangan seorang pencuri) dengan tidak pernah mengamalkannya sama sekali bahkan mereka berani merubah ayat-ayat yang ada dalam Taurot dan mentafsirkannya secara liberal, bukanlah vonis kufur itu karena mereka itu mujassim.

Secara umum mereka mereka adalah kelompok yang anti ta’wil, mereka memahami Al Quran menurut dzahirnya saja, sehingga hal tersebut dipaksakan terhadap ayat-ayat mutasyabihat yang akhirnya membawa mereka lebih condong ke golongan Mujassimah. Beda dengan kita yang bisa menerima ta’wil dengan syarat tidak sampai ta’thil (menafikan sifat-sifat Allah), tidak terlalu bebas seperti apa yang di lakukan golongan mu’tazilah, tidak terlalu keluar dai tatanan bahasa Arab, tapi juga tidak menyamakan Allah dengan makhluknya.

Kami sendiri (penulis) sebenarnya lebih condong kepada tafwidl, tapi kami tidaklah menyalahkan adanya ta’wil dengan syarat-syarat tersebut karena sebagian shohabat dan tabi’in juga melakukan, sebagaimana disebutkan oleh DR. Said Romdhon al-Buthi , kami juga menetapkan yad, wajah, jihhah, dlohku, ghodlob, hubb, ridho dan makr sebagai sifat-sifat Allah (baik sifat Dzat maupun sifat Af’al), kami juga menetapkan sifat kalam, sama’, bashor bagi Allah Swt apalagi sifat qudroh, irodah, ilmu, hayat, qidam dan baqo’. 

Melarang tawassul dan ziarah menghadap maqbaroh Rasul Saw

Dalam pandangan orang wahabi masalah tawassul dan ziarah kubur menjadi salah isu sensitif yang menjadi kajian mereka, mereka mengatakan bahwa pelaku tawassul dan ziarah kubur para wali dan bertawassul termasuk orang kafir karena telah melakukan perbuatan syirik. Mereka mengusung ayat-ayat Alquran yang mestiya sebagai dalil kafirnya orang musyrikin pada masa Nabi untuk di gunakan sebagai dalil kufurnya pelaku tawassul dan ziarah kubur tanpa mengkaji lebih dalam apa arti dan maksud dari ayat-ayat tersebut.

Ketika kita meneliti dalil-dalil mereka pastilah kita temukan perbedaan antara pelaku tawassul dengan orang musyrik zaman dahulu, orang musyrik zaman dahulu di katakan kufur karena memang mereka menyembah pada selain Allah, beda dengan pelaku tawassul atau ziarah kubur, mereka tidaklah menyembah selain kepada Allah, tidak menyekutukan Allah, mereka hanya bertabarruk (berdo’a) kepada Allah dengan perantara menyebut kekasih-kekasih Allah, tidak lebih. Sedangkan dalil-dalil tentang bolehnya tawassul tentunya banyak sekali di dalam Al quran, seperti firman Allah : 

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَابْتَغُوا إِلَيْهِ الْوَسِيلَةَ  [المائدة/35]

“Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan carilah jalan yang mendekatkan diri kepada-Nya”(QS. Al Maaidah: 35)

أُولَئِكَ الَّذِينَ يَدْعُونَ يَبْتَغُونَ إِلَى رَبِّهِمُ الْوَسِيلَةَ أَيُّهُمْ أَقْرَبُ وَيَرْجُونَ رَحْمَتَهُ وَيَخَافُونَ عَذَابَهُ [الإسراء/57]

“Orang-orang yang mereka seru itu, mereka sendiri mencari jalan kepada Tuhan mereka siapa di antara mereka yang lebih dekat (kepada Allah) dan mengharapkan rahmat-Nya dan takut akan azab-Nya”(QS. Al Israa’: 57) 

Menurut Ibnu Abbas Ra. yang di maksud dengan wasilah adalah setiap perkara yang bisa mendekatkan diri kepada Allah Swt .

وَلَمَّا جَاءَهُمْ كِتَابٌ مِنْ عِنْدِ اللَّهِ مُصَدِّقٌ لِمَا مَعَهُمْ وَكَانُوا مِنْ قَبْلُ يَسْتَفْتِحُونَ عَلَى الَّذِينَ كَفَرُوا فَلَمَّا جَاءَهُمْ مَا عَرَفُوا كَفَرُوا بِهِ فَلَعْنَةُ اللَّهِ عَلَى الْكَافِرِينَ [البقرة 89 ]

”Dan setelah datang kepada mereka Al Qur’an dari Allah yang membenarkan apa yang ada pada mereka, padahal sebelumnya mereka biasa memohon (kedatangan Nabi) untuk mendapat kemenangan atas orang-orang kafir, maka setelah datang kepada mereka apa yang telah mereka ketahui, mereka lalu ingkar kepadanya. Maka laknat Allah-lah atas orang-orang yang ingkar itu. (QS. Al Baqoroh: 89)

Dari Ayat di atas dapat kita simpulkan bahwa mereka (orang yahudi) bertawassul dengan Nabi akhir zaman (Nabi Muhammad) agar bisa mengalahkan musuh-musuh mereka. Dan untuk lebih gamblangnya silahkan lihat kita-kitab tafsir seperti Tafsir al Thobari, al Qurthubi, al Jalalain dan lain sebagainya.

Nabi SAW juga bersabda:

لما اقترف آدم الخطيئة قال يا رب أسألك بحق محمد لما غفرت لي فقال الله : يا آدم و كيف عرفت محمدا و لم أخلقه ؟ قال : يا رب لأنك لما خلقتني بيدك و نفخت في من روحك رفعت رأسي فرأيت على قوائم العرش مكتوبا لا إله إلا الله محمد رسول الله فعلمت أنك لم تضف إلى اسمك إلا أحب الخلق إليك فقال الله : صدقت يا آدم إنه لأحب الخلق إلي ادعني بحقه فقد غفرت لك و لولا محمد ما خلقتك

“Ketika Nabi Adam melakukan kesalahan, beliau memohon kepada Allah:”Wahai Tuhanku dengan hak Muhammad aku mohon ampunanMu untukku”. Allah bertanya:”Wahai Adam, bagaimana kamu bisa mengenal Muhammad padahal aku belum menciptakannya?”. Adam menjawab:”Wahai Tuhanku, sungguh ketika Engkau menciptakan aku dan Engkau tiupkan ruh ke dalam jasadku, aku mengangkat kepalaku dan aku melihat tertulis di tiang-tiang ‘Arsy “Tiada Tuhan Selain Allah, Muhammad utusan Allah”. Maka aku tahu bahwasanya Engkau tidak akan menyandingkan dengan namaMu keculai makhluk yang paling Engkau cintai”. Allah berkata:”Engkau benar, sesungguhnya Muhammad adalah makhluk yang paling Aku cintai. Berdoalah kepadaKu dengan hak Muhammad. Aku telah mengampunimu. Seandainya tidak ada Muhammad, Aku tidak akan menciptakanmu”.” 

Itulah Nabi Adam, manusia yang sudah punya derajat sebagai Nabi ternyata masih bertawassul terhadap Nabi Akhir zaman (Nabi Muhammad Saw). Apakah dengan bertawassul Nabi Adam menjadi kufur karena menyekutukan Allah?  Tentunya bagi orang yang punya iman tidak akan mungkin mengatakan hal tersebut.

Dan berikut dalil-dalil tentang bolehnya ziarah kubur. Allah berfirman:

وَلَوْ أَنَّهُمْ إِذْ ظَلَمُوا أَنْفُسَهُمْ جَاءُوكَ فَاسْتَغْفَرُوا اللَّهَ وَاسْتَغْفَرَ لَهُمُ الرَّسُولُ لَوَجَدُوا اللَّهَ تَوَّابًا رَحِيمًا (64) [النساء/64]

“Sesungguhnya jika mereka ketika menganiaya dirinya datang kepadamu, lalu memohon ampun kepada Allah, dan Rasul pun memohonkan ampun untuk mereka, tentulah mereka mendapati Allah Maha Penerima tobat lagi Maha Penyayang”. (QS. An Nisaa’ 64)

Di ceritakan dari Imam al ‘Utbi saat beliau duduk di sisi maqbaroh Rasul, tiba-tiba datang seseorang  seraya berkata: “Assalaamu’alaikum Ya Rasulallah, aku mendengar firman Allah –lantas dia membaca Ayat di atas – dan sekarang aku datang kepadamu agar kamu memintakan ampunan kepada Allah atas dosa-dosaku” dan setelah orang tadi pergi Imam al ‘Utbi kemudian tertidur, dalam tidurnya beliau bermimpi bertemu Nabi, nabi bersabda: “ temuailah orang tadi, beri ia kabar gembira dengan diampuni dosa-dosanya oleh Allah .

Ayat ini, di samping menjadi dalil akan baiknya ziarah Rasulullah Saw menurut kami ayat ini juga menjadi dalil diperbolehkannya bertawassul  dengan Nabi Muhammad Saw.

Nabi SAW juga bersabda:

كنت نهيتكم عن زيارة القبور فزوروها  ( رواه مسلم )

 “Dulu aku melarang kalian dari ziarah kubur, tapi sekarang berziarahlah kalian semua ”.

من زار قبري وجبت له شفاعتي ( رواه البزار ) 

“barang siapa yang berziarah ke kuburanku maka ia akan mendapatkan pertolonganku ”.

Pengaruhnya Terhadap Islam

Gerakan ini mempunyai pengaruh yang tidak bisa di anggap remeh dalam perkembangan Islam, walaupun mereka secara dzahir tidak pernah merusak fasislitas umum, tapi sebenarnya gerakan ini justru merusak dan menggerogoti aqidah kita dari dalam, karena ajaran yang mereka sampaikan sudah banyak yang menyimpang dari riil-riil ajaran Nabi SAW, walupun mereka mengaku sebagai penganut Al Quran dan As Sunnah yang masih murni, oleh karenanya kita harus berhati-hati dan selalu waspada dengan aliran yang satu ini. Dan perlu diketahui bahwa para teroris, fundamentalis dan radikalis  kebanyakan adalah jebolan dari aliran ini.

​SEKILAS TENTANG WAHHABI (Bag 1)

Berbarengan dengan hadirnya era reformasi pasca kejatuhan rezim Soeharto, jagad Indonesia dipusingkan oleh hiruk-piruk partai-partai yang serentak bermunculan dengan berbagai simbol, kemasan, dan ideologinya masing-masing, termasuk ikut meramaikan panggung sejarah Indonesia adalah semaraknya gerakan da’wah, front-front, dan laskar yang seakan-akan muncul dengan tiba-tiba dan membesar begitu saja, mencengangkan dan teramat fenomenal bak jamur di musim hujan. Kita menjadi sering menyaksikan orang-orang berjubah, bersurban putih, berjenggot, juga wanita bercadar sering muncul dalam tayangan media elektronik juga berita-berita yang menghiasi banyak mass media. Aktivitas mereka menampakkan mobilitas yang teramat tingi, terorganisir dan merambah banyak sektor. Orang-orang kemudian dengan tiba-tiba mengenal dan mendengar nama-nama seperti Jama’ah salafi/wahabi, Hizbut Tahrir, Jama’ah Tabligh, Laskar jihad, Jama’ah Al muslimin (Jamus), dan yang lainnya. Yang menarik secara lahiriyah mereka sering tampil justru lebih islami, lebih khusyu’ dan lebih berkomitmen kepada Islam dari pada kelompok yang muncul dan besar lebih awal (baca : NU dan Muhammadiyyah) yang ironisnya sering nampak mengendur dalam memegangi hal-hal yang prinsipil semisal dengan memberi hak hidup kepada Islam Liberal dan Ahmadiyyah di Negara kita.
Dari fenomena di atas kami berusaha mengungkapkan sikap kami terhadap sebagian dari mereka, dalam rangka membentengi aqidah umat islam dari hal-hal yang bisa merusak dan menghancurkannya.

Nama wahabi di ambil dari nama Abdul Wahhab, sementara pendiri dari gerakan ini adalah anak dari Abdul Wahhab yang bernama Muhammad. Ia mulai menyebar luaskan gerakannya di tanah kelahirannya yaitu Najd,dengan di dukung oleh Raja  Muhammad Sa’ud (tokoh politikus yang mendirikan Saudi Arabia) gerakan ini pun akhirnya menjadi besar dan tersebar luas di Jazirah Arab, bahkan sekarang sudah sampai di negeri kita tercinta Indonesia. Kita harus mawas diri dengan gerakan ini, karena ajaran-ajarannya banyak yang menyimpang dari ajaran Ahlu Sunnah wal Jama’ah semisal :

Memerangi para  kaum shufi dan tarekat-tarekat tasawwuf serta menyatakan kesesatannya kecuali yang bisa menjadi patner mereka seperti JT (Jama’ah Tabligh).

Membid’ahkan para pengikut Imam Asy’ari dan Imam Maturidi serta mensejajarkan mereka dengan golongan jahmiyyah (pengikut Jahm bin Shofwan) dan kaum Mu’tazilah.

Menetapkan yad, wajah, jihah kepada Allah dalam bentuk jisim (condong ke Mujassimah).

Mengkafirkan orang yang bertawassul dengan para Nabi maupun para wali dan orang-orang sholih karena di anggap syirik (menyekutkan Allah).

Mengharamkan ziarah dengan menghadap agak lama ke maqbaroh Rasul, syaddu al rihal (berangkat dari daerah yang jauh untuk ziarah kepada Rasulullah), Maulid Nabi, membaca Sholawat Nariyah, Sholawat Fatih, Dala-il al-Khoirot dan yang lainnya . 

Dan tentunya masih banyak lagi ajaran–ajaran yang menyimpang dari aqidah kita Ahlus sunnah wal Jama’ah.

Islam, ya Islam

​Islam tidak mengajarkan adanya pembagian kelompok seperti Islam radikal, fundamentalis, teroris maupun Islam moderat. Bahkan umat Islam yang perpegang teguh terhadap ajaran Rasulullah Saw yang murni dan bersih dari pengaruh-pengaruh pemikiran kafir adalah umat yang satu dan tidak terkotak-kotak. Kebersamaan dan kesatuan umat islam adalah perintah Allah dan rasulNya. Oleh sebab itu penyebutan terhadap umat islam yang berjihad demi terlaksananya syari’at islam di muka bumi termasuk di Indonesia dengan kelompok radikal, fundamentalis, garis keras apalagi teroris atau memberi label dengan sebutan kelompok moderat terhadap para penentang pemberlakuan Syariat Islam dikalangan umat adalah bid’ah dholalah. Sebab penyebutan itu berkonotasi adanya dua kubu dalam Islam. Pembagian serta pengotakan itu pada hakikatnya adalah setrategi musuh dalam menghadapi umat Islam.
Kekerasan, pemaksaan kehendak dan tindakan konyol lainnya tidak pernah dianjurkan dalam Islam dalam situasi agamanya (terutama) tidak dirugikan atau ditindas oleh pihak lain sehingga mengharuskan adanya perlawanan. Islam jua tidak pernah mengajarkan untuk serampangan dalam mengkafirkan seseorang, apalagi yang di kafirkan adalah orang muslim sendiri, Islam sangat melarang hal tersebut, sehingga orang yang menyebut muslim lainnya dengan sebutan kafir maka orang tersebut menjadi murtad. (Na’uudzu billah min dzalik).
Demikian juga keberadan Islam radikal/garis keras tidaklah pernah ada (diakui) dalam Islam, hanya saja, kadang oknum orang islamlah yang terlihat radikal/keras karena kondisi lingkungan yang menuntut mereka untuk bersikap lebih tegas atau bahkan menjurus keras dalam rangka membela akidah, agama dan hak-hak Mereka.  
Menurut hemat kami keberadaan Islam radikal/garis keras (dengan meminjam istilah mereka), walaupun kurang sesuai dengan ajaran-ajaran agama Islam memang di perlukan untuk mengimbangi kecongkakan, kesombongan atau bahkan kebiadaban Amerika dan barat yang sudah kelewat batas (misal: invasi militer ke Afganistan dan Irak, penempatan militer Amerika di Filipina dengan dalih melatih cara menumpas pejuang Muslim MORO dan MINDANAU, kejadian di Guantanamo dll) walupun sebenarnya kami sendiri juga masih meragukan apakah tindakan mereka (Islam radikal) murni untuk memperjuangkan agama Allah atau sebenarnya mereka itu adalah buatan Amerika dan sekutunya untuk dijadikan sebagai alasan atas perilaku keji mereka (para musuh-musuh Islam) atau mungkin juga mereka itu buatan golongan syi’ah (musuh dalam selimut kita yang sudah ada mulai zaman dahulu) dan mungkin juga mereka itu adalah buatan kelompok komunis/sosialis untuk menyudutkan kita.
Kami juga tidak setuju dengan adanya kelompok Liberalis, Pluralis, Sekuleris, maupun golongan Ahmadiyyah dan sangat menyayangkan dengan organisasi-organisasi dan tokoh-tokoh yang melindungi keberadaan mereka, apalagi sampai mendukung program-program meraka (na’uudzu billah min Dzalik), karena semua itu sudah sangat melenceng dari ajaran Agama Islam dan mengotori kemurnian serta kesucian aqidah Islam. mereka juga sebenarnya merupakan antek-antek Amerika dan barat untuk menghancurkan Islam. 
Inilah sedikit paparan dari kami mengenai perpecahan-perpecahan umat islam, tujuan kami bukanlah menyerang atau menyudutkan kelompok-kelompok tertentu, namun kami hanya ingin mengingatkan dan mengajak untuk selalu menjaga persatuan umat Islam berdasarkan Al Qur’an dan Al Hadits serta mengacu pada kaidah-kaidah yang telah di tetapkan madzaahib al-arba’ah sebelum datangnya Imam Mahdi dan Nabi Isa AS. 

Wallohu a’lam bi al showab
 

#Cuplikan Makalah KH. Muhammad Najih

Pandangan Ulama Tentang “Islam Radikal”

​Agama Islam sangat memperhatikan kemaslahatan individual maupun kolektif secara keseluruhan. Karenanya, tidak ada suatu kemaslahatan individu ataupun kolektif yang melampui kemaslahatan lainnya. Akan tetapi, jika ada benturan antara dua kepentingan (kemaslahatan) itu, maka kepentingan kolektif akan di utamakan daripada kepentingan individu. Demikian pula, jika terjadi benturan antara kemaslahatan dua individu, maka yang didahulukan adalah kemaslahatan orang yang lebih banyak menderita. Ini sejalan dengan kaidah, “tidak boleh ada kemadlaratan dan menimbulkan kemadlaratan” (ladhororo wala dhiroro) dan juga kaidah, “jika ada dua madlarat maka yang lebih besar ditolak (dijaga) dengan mengesampingkan madlarat yang lebih kecil” (yudfa’u akbar adh dhororain bi al akhaff minhuma).

Dalam Islam juga tidak ada ajaran kekerasan yang bisa menimbulkan kerugian kepada masyarakat umum atau meresahkannya, seperti fatwa MUI tentang gerakan teroris yang berisi:

“Terorisme adalah tindakan kejahatan terhadap kemanusian dan peradaban yang menimbulkan ancaman serius terhadap kedaulatan Negara, bahaya terhadap keamanan, perdamaian dunia serta merugikan kesejahteraan masyarakat. Terorisme adalah salah satu bentuk kejahatan yang diorganisasi dengan baik (well organized), bersifat trans-nasional dan digolongkan sebagai kejahatan luar biasa (extra-ordinari crime) yang tidak membeda-bedakan sasaran.” Maka MUI berpendapat kalau gerakan teroris hukumnya adalah haram dengan pertimbangan tersebut  .

Namun tidaklah semua tidakan kekerasan itu salah, terkadang Islam juga memerintahkan kita untuk tegas dan keras kalau itu lebih memberikan manfaat kepada Islam maupun Muslimin, seperti halnya:

1. Kita harus tegas dan keras terhadap orang-orang yang meremehkan Al Quran, syari’at islam, hukum-hukum islam atau terhadap orang-orang yang ingin merusak akidah umat islam (misal: dengan mengatakan adanya Nabi setelah Nabi Muhammad Saw), walaupun sikap tegas dan keras tersebut kita aplikasikan menurut kadar kemampuan kita masing-masing (bisa dengan perbuatan atau perkataan). Allah berfirman:

أَلَمْ تَرَ إِلَى الَّذِينَ يَزْعُمُونَ أَنَّهُمْ آَمَنُوا بِمَا أُنْزِلَ إِلَيْكَ وَمَا أُنْزِلَ مِنْ قَبْلِكَ يُرِيدُونَ أَنْ يَتَحَاكَمُوا إِلَى الطَّاغُوتِ وَقَدْ أُمِرُوا أَنْ يَكْفُرُوا بِهِ وَيُرِيدُ الشَّيْطَانُ أَنْ يُضِلَّهُمْ ضَلَالًا بَعِيدًا [النساء/60]

“Apakah kamu tidak memperhatikan orang-orang yang mengaku dirinya telah beriman kepada apa yang diturunkan kepadamu dan kepada apa yang diturunkan sebelum kamu? Mereka hendak berhakim kepada thaghut, padahal mereka telah diperintah mengingkari thaghut itu. Dan syaitan bermaksud menyesatkan mereka (dengan) penyesatan yang sejauh-jauhnya.” (QS. An Nisaa’:60)

Ayat ini turun pada orang yahudi yang bersengkta dengan orang munafik, si munafik mengajak meminta putusan kepada Ka’b bin Al Asrof sedangkan si yahudi mengajak meminta putusan kepada Nabi Saw, kemudian mereka berdua mendatangi Nabi Saw dan oleh Nabi Saw di putuskan bahwa pemenang (yang benar) dalam perkara tersebut adalah si yahudi, sehingga si munafik tidak terima dengan putusan Nabi Saw lalu mereka berdua mendatangi Sayyidina Umar Ra. Si yahudi bercerita tentang kejadian yang terjadi kepada Sayyidina Umar Ra. Lalu Sayyidina Umar Ra. Bertanya kepad si munafik “ benarkah demikian?” si munafik menjawab : ya benar, seketika Sayyidina Umar Ra. Membunuh orang munafik tadi.

Dari cerita di atas dapat kita simpulkan betapa kerasnya sikap Sayyidina Umar Ra. terhadap orang yang tidak terima putusan Rasulullah tapi malah ingin mencari putusan dari pengikut syetan.

Adalagi satu cerita lagi tentang sikap tegas dan kerasnya orang islam karena hukum Allah telah di lecehkan, yaitu cerita seorang sahabat Nabi yaitu Abu Burdah (menurut riwayat lain: Ibnu Umar) yang di utus oleh Nabi Saw untuk membunuh lelaki yang menikah dengan mantan istri ayahnya sendiri  yang dalam Al Quran hal tersebut jelas-jelas di larang oleh Allah dalam firmanNya:

وَلَا تَنْكِحُوا مَا نَكَحَ آَبَاؤُكُمْ مِنَ النِّسَاءِ إِلَّا مَا قَدْ سَلَفَ إِنَّهُ كَانَ فَاحِشَةً وَمَقْتًا وَسَاءَ سَبِيلًا [النساء/22]

“Dan janganlah kamu kawini wanita-wanita yang telah dikawini oleh ayahmu, terkecuali pada masa yang telah lampau. Sesungguhnya perbuatan itu amat keji dan dibenci Allah dan seburuk-buruk jalan (yang ditempuh)”(QS. An Nisaa’ : 22)

Tentunya hal itu juga menunjukkan betapa kita harus tegas dan keras apabila syariat islam di abaikan atau bahkan di lecehkan.

2. Kita harus tegas dan keras dalam memerangi kemaksiatan yang merajalela sebagai wujud amar ma’ruf nahi munkar, bahkan kita wajib menghilangkan kemungkaran selagi kita mampu, sabda Nabi Saw:

من رأى منكم منكرا فليغير بيده، فإن لم يستطع فبلسانه فإن لم يستطع فبقلبه وذلك أضعف الإيمان  .

3. Kita harus keras terhadap musuh kita supaya mereka takut terhadap kita, hal itu kita lakukan jika mereka meremehkan orang Islam. Allah Swt berfirman :

إِنَّ شَرَّ الدَّوَابِّ عِنْدَ اللَّهِ الَّذِينَ كَفَرُوا فَهُمْ لَا يُؤْمِنُونَ (55) الَّذِينَ عَاهَدْتَ مِنْهُمْ ثُمَّ يَنْقُضُونَ عَهْدَهُمْ فِي كُلِّ مَرَّةٍ وَهُمْ لَا يَتَّقُونَ (56) فَإِمَّا تَثْقَفَنَّهُمْ فِي الْحَرْبِ فَشَرِّدْ بِهِمْ مَنْ خَلْفَهُمْ لَعَلَّهُمْ يَذَّكَّرُونَ (57) [الأنفال/55-57]

“Sesungguhnya binatang (makhluk) yang paling buruk di sisi Allah ialah orang-orang yang kafir, karena mereka itu tidak beriman. (Yaitu) orang-orang yang kamu telah mengambil perjanjian dari mereka, sesudah itu mereka mengkhianati janjinya pada setiap kalinya, dan mereka tidak takut (akibat-akibatnya). Jika kamu menemui mereka dalam peperangan, maka cerai beraikanlah orang-orang yang di belakang mereka dengan (menumpas) mereka, supaya mereka mengambil pelajaran. )”(QS. Al Anfaal : 55-57)

As Syaikh Muhammad at Thohir ibn ‘Asyur menjelaskan tentang arti ayat ke-57 di atas dengan ‘ibarot  berikut ini:

والمعنى : فاجعلهم مثلا وعبرة لغيرهم من الكفار الذين يترقبون ماذا يجتني هؤلاء من نقض عهدهم فيفعلون مثل فعلهم ولأجل هذا الأمر نكل النبي صلى الله عليه و سلم بقريظة حين حاصرهم ونزلوا على حكم سعد بن معاذ فحكم بأن تقتل المقاتلة وتسبى الذرية فقتلهم رسول الله صلى الله عليه و سلم بالمدينة وكانوا أكثر من ثمانمائة رجل,  وقد أمر الله رسوله صلى الله عليه و سلم في هذا الأمر بالإغلاظ على العدو لما في ذلك من مصلحة إرهاب أعدائه فإنهم كانوا يستضعفون المسلمين فكان في هذا الإغلاظ على الناكثين تحريض على عقوبتهم لأنهم استحقوها  .

Dan ini semua tidak bertentangan dengan adanya Islam sebagai rahmat bagi semua alam, karena itu demi kebaikan yang kembali pada Islam dan Muslimin sebagaimana sikap tegasnya Rasulullah Saw di dalam memperjuangkan agama Allah, yang tersirat dalam sabda beliau:

 أمرت أن أقاتل الناس حتى يشهدوا أن لا إله إلا الله وأن محمدا رسول الله ويقيموا الصلاة ويؤتوا الزكاة فإذا فعلوا ذلك عصموا مني دماءهم وأموالهم إلا بحق الإسلام وحسابهم على الله  . 

_______________________

_______________________

Referensi: 

 Tafsir Al Khozin Vol: 2 Hal: 121, Tafsir Al Kabir Vol: 10 Hal: 123, Tafsir Jalalin Vol: I Hal: 110 

  Tafsir Ibnu Katsir Vol: II Hal: 246. Maktaba Syamela

  Shahih Muslim Bab. Bayani Kauni Al Nahyi An Al Munkar Min Al Iman, vol: I Hal: 50

  Al-Tahrir wa al—Tanwir vol:I Hal:1783

  Shahih Bukhori Vol: I Hal : 17

  Al-Fiqh al-Islami, Wahbah al-Zuhaili, Vol:VI hal: 417

  Shohih Muslim, Bab Imaroh, Vol:VI hal:17 Maktaba Syamela.

  Sunan Abi Dawud, Bab Ghozwu ma’a a’immati al-jur, Vol: II Hal:22 Maktaba Syamela

  Fatwa MUI tentang Teroris Th. 2005.

Atas ↑

%d blogger menyukai ini: