“NABI SAW MENYUAPI YAHUDI” HADITS FIKTIF

Dalam acara “Kongkow Budaya” seringkali disebutkan hadits “Nabi Muhammad SAW menyuapi Yahudi padahal ia tukang mencaci dan menghina bahkan menyebut Nabi sebagai orang gila” dan hadits “Kanjeng Nabi dilempari Yahudi, kemudian Beliau menanyakan dan mencari si Yahudi tersebut….”

Perlu diketahui bahwa hadits tersebut “FIKTIF” dan hanya sebagai pembenaran “Agama Kemanusiaan”, sepengetahuan kami dalam kutubussittah tidak ada, apalagi divonis kesohihannya. Na’as sekali hadits tersebut dibuat dalil tentang Aqidah.

Kalau Orang baca kitab-kitab hadits, tentu ia akan tahu bagaimana besar dosa Si pencaci Nabi dan sulitnya mendapat hidayah dari Allah Swt. Ada beberapa sahabat Nabi SAW yang membunuh Wanita Yahudi yang mencaci maki Rasululloh, ternyata beliau membenarkan tindakan tersebut, padahal membunuh Wanita itu dilarang (dalam perang). Ini membuktikan betapa hina dan terlaknat orang – orang pencacimaki Rasulullah SAW.

Yang paling menyakitkan adalah sebagian tokoh masyarakat yang mengaku ulama justru berdalil إنما بعثت لأتمم مكارم الأخلاق, dengan ngawurnya dia bilang ” Kanjeng Nabi akhlaqnya suuuaaaaee dengan bukti memaafkan orang yang mencacinya bahkan bersedia menyuapinya meskipun ia kafir”, Subhanalloh Ini kebohongan Besar. Menyuapi adalah pekerjaan khodim, berarti kanjeng nabi adalah khodimnya Yahudi?!, Naudzubillah…. Dalam sebuah hadits Muslim disebutkan, ketika ada seorang yahudi berbicara dengan “Nada Keras” dan memanggil “Muhammad bukan Rasulullah” kepada Rasulullah SAW, para shahabat mendorong dengan keras si Yahudi sampai tersungkur, dan Rasululloh SAW melihatnya tanpa meningkari, andai benar Rasululloh SAW khodim Yahudi tentu beliau akan bersabda “Jangan begitu wahai Shahabat, akhlakmu harus dijaga, kamunharus mengalah, biarkan saja si yahudi, Islam itu menjunjung tinggi Akhlaq mulia” إنا لله وإنا إليه راجعون

Sekali lagi, jika anda paham hadits dan fiqh, Keberadaan Yahudi di Madinah benar benar dikucilkan, sama seperti kafir kafir dzimmi yang lain. Tidak seperti tuduhan intelektual intelektual abal abal yang menyatakan “Piagam Madinah Menyamakan semua Hak Hak Penduduknya”, padahal yang dimaksud persamaan antara muslim dan kafir adalah masalah hukum perdata dan pidana dst sebagai bentuk keadilan ISLAM… Kalau masalah IZZAH/ kemuliaan, jelas sekali ولله العزة ولرسوله وللمسلمين ولكن المنافقين لا يعلمون.

Dalam kitab kitab hadits diterangkan bahwa Rasululloh SAW pernah melakukan tindakan kayak kayak “Ta’zhim” kepada Yahudi, yaitu ketika ada jenazah Yahudi lewat di hadapan Rasululloh SAW, seketika itu beliau Berdiri, padahal jika anda baca syarah syarah hadits, tentu akan anda ketemukan alasan dibalik berdirinya Rasulullah SAW, yaitu karena ingat Alloh Sang Kholiq lewat malaikat maut, pekerjaan berdiri sebagai bentuk kekhawatiran tentang kematian bukan MENGHORMATI BANGKAINYA YAHUDI, camkan itu!

أو كما قال رسول الله صلى الله عليه وسلم

#sekelumitdawuhsyaikhinanajih
#pagi10syawwal

Iklan

HAK-HAK RASULULLAH SAW ATAS UMAT ISLAM

wp-1468433636438.jpg

Jika ada yang bertanya, “Apa hak-hak Rasulullah yang harus dijalankan oleh umatnya”?

Maka Jawabannya adalah: Hak Rasulullah yang harus dipenuhi oleh umatnya itu merupakan hak-hak besar dan wajib sesudah hak Allah swt. Di antara hak-hak Rasulullah adalah:

1. Mengikuti sunnahnya, membela agama dan syariatnya

Allah swt berfirman: katakanlah: jika kamu benar-benar mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosamu. (QS. Ali Imron: 31)

Dalam hadits disebutkan:
Nabi Muhammad bersabda: orang yang berpegang dengan sunnahku, disaat umatku rusak itu baginya mendapat pahala seratus orang yang mati syahid.
Nabi bersabda: Barangsiapa menghidupkan sunnahku, maka ia benar-benar menghidupkan aku, dan barangsiapa meng-hidupkan aku, maka ia bersamaku di surga (HR. at-Turmudzi)

2. Cinta dan senang kepada beliau secara sepenuhnya, sehingga beliau lebih dicintainya daripada dirinya sendiri, anaknya dan semua makhluk. Demikian juga halnya mencintai keluarga, sahabat-sahabat dan keturunan beliau.

Ada beberapa hadits yang menjadi dalil. Antara lain:
Nabi Muhammad bersabda, Tidak beriman salah seorang diantara kamu semua, sehingga aku lebih disukainya daripada anaknya, kedua orang tuanya, dan orang-orang seluruhnya.

Nabi Muhammad bersabda, Cintalah kamu semua kepada Allah, karena Dia memberimu makan dari nikmat-nikmatNya, cintailah aku kerena cinta Allah dan cintailah ahli baitku karena cinta kepadaku.

Nabi Muhammad bersabda, Takutlah kepada Allah, takutlah kepada Allah dalam urusan sahabat-sahabatku. Janganlah kamu semua menjadikan mereka sebagai sasaran sesudahku nanti. Barangsiapa mencintai mereka, maka sebab cintaku aku mencintai mereka. Barangsiapa membenci mereka, maka sebab benciku aku membenci mereka. Barangsiapa menyakiti mereka, maka ia berarti menyakiti aku, dan barangsiapa menyakiti aku, berarti ia menyakiti Allah, dan barangsiapa menyakiti Allah, maka Dia akan menyiksa-nya.

3. Mengagungkan dan menjunjung tinggi beliau

Dasarnya adalah firman Allah swt:
“Sesungguhnya kami mengutus kamu sebagai saksi, pembawa berita gembira dan pemberi peringatan, supaya kamu sekalian beriman kepada Allah dan Rasul-Nya, menguatkan (agama)Nya, membesarkan-Nya. dan bertasbih kepada-Nya di waktu pagi dan petang. (QS. Fath: 8-9).

Mengagungkan Rasulullah bagian dari mengagung-kan Allah swt., sebagaimana taat kepada beliau merupakan taat kepada Allah, dan mencintai beliau merupakan cinta kepada-Nya. Allah berfirman:
Barangsiapa yang mentaati Rasul itu, sesungguhnya ia telah mentaati Allah. (QS. an-Nisa: 80).
Bahwasanya orang-orang yang berjanji setia kepada kamu, sesungguhnya mereka berjanji kepada Allah. (QS. Fath: 10).
Katakanlah: Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi kamu semua. (QS. Ali Imron: 31).

Para sahabat r.a. adalah teladan yang paling mulia dalam mencintai  dan mengagungkan Rasulullah. Imam Al- Bukhari dan lainnya dalam kisah Al-Khudaibiyyah  meriwayatkan,  Sesungguhnya Urwah bin Masud as-Tsaqafi ketika ditugaskan oleh orang-orang Quraisy menghadap Rasulullah melihat secara langsung sikap tadhim/ mengagungkan para sahabat kepada beliau. Ketika kembali kepada orang-orang Quraisyy ia berkata kepada kaumnya: Hai kaumku, demi Allah, aku sering diutus kepada kisra dan kaisar juga kepada raja Negus, tapi aku sama sekali tidak pernah melihat seorang raja diagungkan oleh kawan-kawannya, seperti sahabat-sahabat Muhammad mengagungkan kepada beliau. Sesungguhnya Muhammad tidak berdahak kecuali dahaknya jatuh pada telapak tangan salah satu di antara mereka, lalu mengusapkan dahak itu ke wajah dan tangannya. Apabila beliau memerintahkan mereka tentang suatu perkara, maka mereka cepat-cepat melaksanakan. Apabila beliau berwudlu, maka hampir-hampir mereka bertengkar karena berebut sisa air wudlunya. Apabila beliau berbicara, mereka diam di hadapannya dan mereka tidak mau mengarahkan pandangan ke arahnya, karena tadhim padanya.      
       
4. Memperbanyak membaca sholawat dan salam kepada beliau

Karena Allah memerintahkannya sebagaimana dalam firmannya:
Sesungguhnya  Allah dan malaikat-malaikat-Nya bershalawat untuk Nabi. Hai orang-orang yang beriman, bershalawatlah kamu untuk nabi dan ucapkanlah salam penghormatan kepadanya. (QS. Al-Ahzab: 56)

Di dalam hadits banyak disebutkan anjuran membaca shalawat :
Nabi bersabda : Barangsiapa membaca shalawat kepadaku satu kali, maka Allah memberinya rahmat sebanyak sepuluh dan menghapus sepuluh kesalahannya dan mengangkat derajatnya samoai sepuluh kali. (H.R Imam Ahmad)

Nabi bersabda : Orang yang paling mulia menurutku di hari kiamat nanti adalah yang paling banyak membaca sholawat kepadaku. (H.R. Imam Ahmad).

Nabi bersabda : Sesungguhnya orang yang paling selamat di antara kamu pada hari kiamat nanti dari ketakutan dan keributan hari kiamat adakah siapa di antara kaum yang paling banyak membaca sholawat kepadaku.

Demikian al-Qodli  Iyadl menyebutkan dalam kitab Asy-Syifa.

Menyoal Pemikiran Kiai-kiai Pro KB

abahe-joz.jpg.jpg

Apakah para kyai-kyai itu tidak mengetahui surat edaran dari Tiem Sinar Garuda Timur wilayah Jawa, Madura dan Bali dengan akte 1 tanggal 13 Desember 1973 pengalihan No. 2/ 1973 tanggal 20 Desember 1975, Ditjen Sospol No. Lit. Kristenisasi usaha Perwira pejuang angkatan 45, penanggung jawab Pendeta Imbas T.G.M.A. perwira PKRI NPV. 10. 041. 726 alamat sekretariat Komplek Jalabewangi 20 Salatiga (dahulu Tiem Rohani Kristen/Pantekosta)? Surat edaran tersebut tertanggal 20 November 1991 ditujukan kepada para pendeta dan pimpinan wali gereja calon para penginjil di seluruh Jawa, Bali dan Madura.

Surat tersebut berisi tentang program kristenisasi di Indonesia sampai dengan tahun 2000. isinya, untuk menjadikan umat Kristen di Indonesia semakin banyak mengalahkan umat Islam di Indonesia, maka diantaranya harus ditempuh dengan jalan sebagai berikut:

Semua gereja di Indonesia harus menginstruksikan kepada semua warganya untuk larangan mengikuti program Keluarga Berencana (KB). Ingat bahwa mengikuti KB (birth control) di dalam ajaran Kristen adalah dosa besar, dan melanggar aturan serta ajaran gereja yang akan mendapat kutukan dari Tuhan Yesus Kristus.

Mengintensifkan gerakan KB di kalangan umat Islam dengan bermacam cara, dengan memberikan penataran-penataran tentang KB kepada tokoh-tokoh Islam seperti kyai, ulama dan para santri di pondok-pondok pesantren. Memasang poster serta plakat-plakat dengan anjuran untuk ber-KB di daerah-daerah yang penduduknya mayoritas Islam agar mereka menjalankan KB. Sedang pemasangan slogan KB di daerah Kristen hanya untuk mengelabui yang dasarnya mengingatkan orang Kristen untuk tidak ber-KB. Untuk menjalankan kebijaksanaan ini, maka 80% dokter harus orang Kristen, semua bidan dan juru rawat pun demikian juga, agar dapat memberikan kemudahan di dalam memasang kontrasepsi bagi orang Islam dan dapat berpura-pura memasang alat kontrasepsi bagi orang Kristen.

Memerintahkan kepada semua warga Kristen untuk memperbanyak anak dan membantu orang miskin dengan segala kebutuhan baik moral maupun material. Kita harus memberikan kesempatan kerja kepada warga Kristen membatasi bahkan menutup kesempatan kerja kepada orang-orang Islam, terutama pengusaha-pengusaha yang beragama Kristen untuk tidak memberi kesempatan kerja kepada pegawai yang beragama Islam untuk beribadah.

Itulah di antara program kristenisasi di bidang KB yang telah disepakati oleh Tim Sinar Garuda Timur yang bekerjasama dengan Amerika, dengan kunjungan mereka ke Amerika  pada tanggal 15 Oktober 1991, mereka meminta petunjuk tentang misi kristenisasi, menjadikan agama Kristen sebagai agama bangsa Indonesia. Surat edaran tersebut ditandantangani oleh Pendeta Umbas T.G.M.A., perwira PKRI Npv. 10. 041 726/ Salatiga, atas nama Dewan Pengurus Tiem dan Penanggungjawab.

Kalau para kyai-kyai dalam mengkampanyekan dan melegalkan program KB itu berpijak pada surat An-Nisa’ ayat 9, apa tidak perlu ditinjau ulang penafsirannya?

وَلْيَخْشَ الَّذِيْنَ لَوْ تَرَكُوْا مِن خَلْفِهِمْ ذُرِّيَةً ضِعَافاً خَافُوْا عَلَيْهِمْ فَلْيتَّقُوا اللَّهَ وَلْيَقُوْلُوْا قَوْلاً سَدِيْدًا

“Dan hendaklah takut kepada Allah  orang-orang yang seandainya meninggalkan di belakang mereka anak-anak yang lemah, yang mereka khawatir terhadap (kesejahteraan) mereka, oleh sebab itu hendaklah mereka bertaqwa kepada Allah dan hendaklah mereka mengucapkan perkataan yang benar.” (QS. An-Nisa’: 9)

(وَلْيَخْشَ…) أخرج ابن جرير عنه أنه قال فى الأية: يعنى بذلك الرجل يموت وله أولاد صغار ضعاف يخاف عليهم العيلة والضيعة ويخاف بعده ان لا يحسن اليهم من يليهم يقول: فان ولى مثل ذريته ضعافا يتامى فليحسن اليهم ولا يأكل أموالهم (إسْرَافًا وَبِدَارًا اَنْ يَكْبَرُوْا) والأية على هذا مرتبة بما قبلها لأنّ قوله تعالى: (لِلرِّجَالِ)الخ… فى معنى الأمر للورثة أي اعطوهم حقهم دفعا لأمر الجاهلية وليحفظ الأوصياء ما أعطوه ويخاف عليهم كما يخافون على أولادهم. (تفسير الطبري ج 4/ ص 181)

Ayat ini untuk seseorang yang meninggal dunia serta meninggalkan anak yang masih kecil dan dia dikhawatirkan mewasiatkan seluruh hartanya kepada orang lain. Sehingga anaknya menjadi terlantar dan menjadi beban orang lain.

(وَلْيَخْشَ…) أمر للمؤمنين ان ينظروا للورثة فلا يسرفوا فى الوصية. وقد روي عن السلف أنهم كانوا يستحبون ان لا تبلغ الوصية الثلث ويقولون: إن الخمس افضل من الربع  والربع افضل من الثلث وورد فى الخبر ما يؤيّده. (تفسير روح المعانى للألوسى ج 4/ ص 213 )

عَنْ عَامِرِ بْنِ سَعْدٍ عَنْ أَبِيهِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ: مَرِضْتُ فَعَادَنِي النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ ادْعُ اللَّهَ أَنْ لَا يَرُدَّنِي عَلَى عَقِبِي قَالَ “لَعَلَّ اللَّهَ يَرْفَعُكَ وَيَنْفَعُ بِكَ نَاسًا” قُلْتُ أُرِيدُ أَنْ أُوصِيَ وَإِنَّمَا لِي ابْنَةٌ قُلْتُ أُوصِي بِالنِّصْفِ؟ قَالَ: النِّصْفُ كَثِيرٌ. قُلْتُ فَالثُّلُثِ؟ قَالَ “الثُّلُثُ وَالثُّلُثُ كَثِيرٌ أَوْ كَبِيرٌ” قَالَ فَأَوْصَى النَّاسُ بِالثُّلُثِ وَجَازَ ذَلِكَ لَهُمْ. (صحيح البخاري فى باب الوصية بالثلث)

Ayat ini perintah bagi orang-orang mukmin agar memperhatikan ahli warisnya jangan sampai kebanyakan dalam berwasiat. Diriwayatkan dari ulama salaf bahwasanya berwasiat itu jangan sampai melebihi sepertiga dan mereka berkata bahwasanya seperlima itu lebih utama daripada seperempat dan seperempat lebih utama dari sepertiga. Seperti yang diterangkan dalam Hadits di atas.

Jadi, kalau ayat tersebut dibuat dalil untuk melegalkan KB, menurut kami tidak sesuai dan bertentangan dengan ayat:

وَلَا تَقْتُلُوا أَوْلاَدكُمْ خَشْيَةً إمْلاَقٍ نَحْنُ نَرْزُقُهُمْ وإيّاَكُم إنَّ قَتْلَهُمْ كَانَ خِطْئاً كَبِيْراً. (الإسراء : 31)

“Dan janganlah kamu membunuh anak-anakmu Karena takut kemiskinan. kamilah yang akan memberi rezeki kepada mereka dan juga kepadamu. Sesungguhnya membunuh mereka adalah suatu dosa yang besar.” (QS. Al-Israa’: 31)

وَمَا مِنْ دَابَّةٍ فِى الأَرْضِ إلاَّ علَى اللَّهِ رِزْقُهَا وَيَعْلَمُ مُسْتَقَرَّهَا وَمُسْتَوْدَعَهَا كُلٌّ فِى كِتَابٍ مُبِيْنٍ. (هود : 6)

“Dan tidak ada suatu binatang melata pun di bumi melainkan Allah-lah yang memberi rezekinya, dan dia mengetahui tempat berdiam binatang itu dan tempat penyimpanannya. Semuanya tertulis dalam Kitab yang nyata (Lauh mahfuzh).” (QS. Huud: 6)

Dan juga bertentangan dengan kaidah:

المُحَافَظَةُ عَلَى النَّسْلِ
“Melestarikan keturunan”, yang mana hal tersebut sudah menjadi kesepakatan para ulama, seperti dikatakan Syaikh Abu Zahrah.

بحث الشيخ أبى زهرة عن تحديد النّسل )موسوعة القضايا الفقهية المعاصرة. ص: 36 (

Juga keputusan Lembaga Kajian Islam di Cairo.
قَرار مَجْمَعِ البُحوثِ الإسلامية بالقاهِرة:
أنّ الإسلام رغَّب فى زيادة النّسل وتكثيره لأن كثرة النّسل تُقوِّى الأمّة الإسلامية إجتماعيا واقتصاديا وحربيا و تَزيدُها عِزّة ومَنعة.
إذا كانت هناك ضرورة شخصية (ككون المرأة  لا تلد ولادة عادية وتضطَرُّ معها إلا إجراءَ عملية جِراحية لإخراج الجنين)  تحتَمُّ تنظيم النّسل فللزّوجين ان يتصرّفا طِبْقا لما تقتضيه الضّرورة, وتقدير هذه الضرورة متروك لضمير الفرد ودينه. 
لا يصح شرعا وضع قوانين تُجبر الناسَ على تحديد النّسْل بأيّ وجه من الوجوه.
أنّ الإجهاض بقصد تحديد النّسْل اواستعمال الوسائل التى تُؤدِّى الى العَقِم لهذا الغرض: أمر لاتجوز مُمارَستُه شرعا للزّوجين او لغيرهما. (موسوعة القضايا الفقهية المعاصرة. صـ: 50)

* Kajian Ilmiah KH. M. Najih Maimoen

Benarkah Hadits ستفترق أمتي Tidak Shohih?

abahe-joz.jpg.jpg

Membaca makalah Said Aqil Siradj yang dipresentasikan dalam Seminar Nasional PMII di Jakarta, 8 Agustus 1995, dan di Kantor PBNU pada tanggal 19 Oktober 1996, kami ketemukan beberapa kejanggalan dan kesalahan yang amat fatal, diantaranya adalah:

“Sejak Mutawakkil mendapat gelar Nashirullah (pembela madzhab Ahlussunah Wal Jamaah) mulailah lahir Hadits “Sataftariqu Umaty/ ستفترق أمتي”……..dst, bahwa umat Islam akan terpecah menjadi 73 golongan hanya satu yang selamat. Ada lagi riwayat yang mengatakan “Kulluha Fil Jannah Illa Wahid/ كلها في النار إلا واحد” (semua masuk surga kecuali satu). Persoalannya, kalau kita terima versi “Kulluha Finnar Illa Wahid” timbul pertanyaan: Siapa yang satu itu? Diriwayatkan bahwa Nabi  menjawab; “orang yang seperti aku dan Shahabatku” lalu siapa atau madzhab mana, partai mana yang mampu dan berhak menyatakan kami inilah seperti Rasulullah  dan Shahabat-Shahabatnya. Dengan demikian Hadits ini sulit diterima keshahihannya. Yang jelas Hadits ini dilatarbelakangi oleh kondisi politik ketika Mutawwakil naik menjadi Khalifah. (Halaman 15 alenia III).”

Bagaimana bisa, dan memakai apa, orang semacam Said Aqil menyatakan Hadits “Sataftariqu Umaty” sulit diterima keshahihannya, bahkan sampai mengatakan Hadits tersebut dilatar belakangi politik ketika Mutawakkil menjadi Khalifah? Padahal Hadits di atas oleh Imam Turmudzi dikategorikan Hadits yang Hasan dan shahih? Dengan demikian Said Aqil berarti memandulkan Hadits yang dinyatakan shahih Imam Turmudzi dan lainnya.

عن أبي هريرة رضي الله عنه أن رسول الله صلى الله عليه وسلم قال: (تَفَرَّقَتِ اليَهُوْدُ عَلَى إِحْدَى وَسَبْعِيْنَ فِرْقَةً أَو اثْنَتَيْنِ وَسَبْعِيْنَ فِرْقَةً وَالنَّصَارَى مِثْل ذَلِكَ وَتَفَرَّقَ أُمَّتِي عَلَى ثَلاَثٍ وَسَبْعِيْنَ فِرْقَةً) رواه الترمذي.

وعن عبد الله بن عمر رضي الله عنهما قال : قال رسول الله صلى الله عليه وسلم (لَيَأْتِيَنَّ عَلَى أُمَّتِي مَا أَتَى عَلَى بَنِي إسْرَائِيْلَ حذو النَّعْل باِلنَّعْل حَتَّى أَنْ كَانَ مِنْهُمْ مِنْ أُمَّتِي أُمَّة عَلاَنِية لَكَانَ مِنْ أُمَّتِي مَنْ يَصْنَع ذَلِكَ وَإِنَّ بَنِي إسْرَائِيْلَ تَفَرَّقَتْ عَلَى اثْنَتَيْنِ وَسَبْعِيْنَ مِلَّةً وَتَفَرَّقَ أُمَّتِي عَلَى ثَلاَثٍ وَسَبْعِيْنَ مِلَّةً كُلُّهُمْ فِى النَّارِ إلاَّ مِلَّة وَاحِدَة )، قال : من هي يا رسول الله ؟ قال : (مَا أَناَ عَلَيْهِ وَأَصْحَابِيْ)، رواه الترمذي.

PEMIMPIN NON MUSLIM, HARAM!

wp-1467901694399.jpg

Setelah membaca buku yang mengupas beberapa ijtihad Islam Nusantara, kami terkejut dengan kajian pada halaman 28, disitu ditulis:

“Dalam paradigma seperti ini, tentu syarat seorang pemimpin yang paling mendasar adalah faktor integritasnya, bukan agamanya. Lebih-lebih jika melihat fenomena keagamaan masyarakat kontemporer, dimana identitas tidak lagi menjadi jaminan bagi perilaku dan integritasnya, sehingga tidak jarang dijumpai seorang pemimpin muslim tapi korup, sementara ada pemimpin non muslim tapi amanah dan anti korupsi. Di samping itu, tidak terdapat dalil yang tegas melarang non muslim dijadikan sebagai pemimpin.”

Tanggapan: Kewajiban tentang mengangkat pemimpin muslim sudah tertera jelas dalam al-Qur’an dan al-Hadits, Allah SWT berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لاَ تَتَّخِذُوا الْيَهُودَ وَالنَّصَارَى أَوْلِيَاءَ بَعْضُهُمْ أَوْلِيَاءُ بَعْضٍ وَمَنْ يَتَوَلَّهُمْ مِنْكُمْ فَإِنَّهُ مِنْهُمْ إِنَّ اللهَ لاَ يَهْدِي الْقَوْمَ الظَّالِمِينَ [المائدة : 51]

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil orang-orang Yahudi dan Nasrani menjadi pemimpin-pemimpin-mu; sebagian mereka adalah pemimpin bagi sebagian yang lain. Barangsiapa diantara kamu mengambil mereka menjadi pemimpin, maka Sesungguhnya orang itu termasuk golongan mereka. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zalim. (QS. Al-Ma-idah: 51)

وَلَنْ يَجْعَلَ اللهُ لِلْكَافِرِينَ عَلَى الْمُؤْمِنِينَ سَبِيلًا [النساء : 141]

“Dan Allah sekali-kali tidak akan memberi jalan kepada orang-orang kafir untuk memusnahkan orang-orang yang beriman.” (QS. An-Nisa’: 141)

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَتَّخِذُوا الْكَافِرِينَ أَوْلِيَاءَ مِنْ دُونِ الْمُؤْمِنِينَ أَتُرِيدُونَ أَنْ تَجْعَلُوا لِلهِ عَلَيْكُمْ سُلْطَانًا مُبِينًا  [النساء : 144]

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil orang-orang kafir menjadi wali dengan meninggalkan orang-orang yang mu’min. Inginkah kamu mengadakan alasan yang nyata bagi Allah (untuk menyiksamu)?” (QS. An-Nisa’: 144)

فَإِنَّ اللهَ عَدُوٌّ لِلْكَافِرِينَ [البقرة : 98]

“Sesungguhnya Allah SWT adalah musuh orang-orang kafir” (QS. An-Nisa’: 144)

عَنْ أَبِيْ بَكْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: لَنْ يُفْلِحَ قَوْمٌ وَلَّوْا أَمْرَهُمْ اِمْرَأَةً  [رواه البخاري]

“Dari Abu Bakroh RA, berkata bahwa Rasulullah SAW bersabda:”Tidak akan berhasil (baik) suatu kaum yang menguasakan urusannya kepada seorang perempuan (menjadikannya pemimpin)”. (HR. Imam al-Bukhari)

عَنْ أَبِي سَعِيدٍ الْخُدْرِيِّ رضي الله عنه، أَنَّهُ سَمِعَ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ: «لَا تُصَاحِبْ إِلَّا مُؤْمِنًا، وَلَا يَأْكُلْ طَعَامَكَ إِلَّا تَقِيٌّ» [رواه الترمذي]

“Dari Abu Sa’id al-Khudri RA, berkata bahwa Rasulullah SAW bersabda: “Janganlah berkawan kecuali dengan orang mukmin, dan janganlah memakan makanmu kecuali orang yang bertaqwa”. (HR. Imam at-Tirmidzi)

عَنْ عَبْدِ اللهِ بْنِ مَسْعُودٍ رَضِىَ اللهُ عَنْهُ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللهِ -صلى الله عليه وسلم- :« يَا عَبْدَ اللهِ أَىُّ عُرَى الإِسْلاَمِ أَوْثَقُ؟ ». قَالَ قُلْتُ : اللهُ وَرَسُولُهُ أَعْلَمُ. قَالَ :« الْوَلاَيَةُ فِى اللهِ الْحُبُّ فِى اللهِ وَالْبُغْضُ فِى اللهِ ». (رواه البيهقي)

“Dari Abdullah bin Mas’ud RA, berkata bahwa Rasulullah SAW bersabda: “Wahai Abdullah, apa tali Islam yang paling kokoh?, aku menjawab: ‘Allah dan Rasul-Nya lebih mengetahui’, kemudian Rasulullah SAW bersabda: Yaitu al-walayah fillah (cinta dan benci karena Allah) ”. (HR. Imam al-Baihaqi)

عبد الله بن عباس – رضي الله عنهما – : قال : سمعتُ رسولَ الله -صلى الله عليه وسلم- يقول اللهم اجعلنا هَادِينَ مهتدينَ ، غير ضالِّينَ ، ولا مُضِلِّينَ ، سِلْما لأوليَائِكَ ، وحَرْبا لأعدائِكَ ، نُحِبُّ بِحُبِّكَ مَنْ أَحَبَّكَ ، ونُعَادي بِعَدَاوتِكَ مَن خالَفَكَ (رواه الترمذي)

“Dari Abdullah bin Abbas RA, berkata saya mendengar Rasulullah SAW bersabda (dalam do’anya): “Ya Allah, jadikanlah kami sebagai orang-orang yang memberi petunjuk (kepada selain kami) dan dianugerahi petunjuk (dari Engkau), janganlah Engkau jadikan kami termasuk orang-orang tersesat lagi menyesatkan, dan jadikanlah kami sebagai orang-orang pendamai kepada setiap kekasih-Mu dan (sebagai) pemusuh kepada setiap musuh-Mu. Dengan dasar cinta-Mu kami dapat mencintai setiap orang yang mencintai-Mu, dan karena benci-Mu (pula) kami memusuhi setiap orang yang mendurhakai-Mu. (HR. Imam at-Tirmidzi)

Ayat-ayat al-Qur’an dan hadits-hadits  di atas secara tegas menunjukkan berkawan dan berteman dengan orang-orang kafir saja dilarang oleh agama Islam, apalagi menjadikan mereka sebagai pimpinan umat Islam! Kemudian dijelaskan pula, Rasulullah SAW memastikan bahwa suatu kaum yang menjadikan wanita sebagai pimpinannya, urusan mereka tidak akan pernah baik alias tidak akan memperoleh keberhasilan, apalagi menjadikan kafir yang notabenenya musuh Allah SWT sebagai pimpinan! Dalam diskursus ushul fiqh, seringkali permasalahan semacam ini dibuat contoh konsep qiyas awlawi.

Dalam kitab al Mufasshol fi Syarhi Ayatil Bala wal Baro  menyitir al Quran surat al Hujurot: 9-10 juga dijelaskan bahwa memilih pemimpin muslim yang buruk dan jahat (korup) lebih baik dari pada memilih pemimpin kafir yang baik dan bagus.

وَلْيُعْلَم أنَّ المؤْمِن تَجِب مُوالاتُه وَإِنْ ظَلَمكَ وَاعْتَدَي عَلَيْك ، وَالكَافِر تَجِب مُعَادَاتُه وَإِنْ أَعْطَاكَ وَأحْسَنَ إِلَيك. [المفصل في شرح آية الولاء والبراء]

“Dan harus diketahui bahwa orang mukmin wajib dijadikan teman walaupun dia berbuat dzolim dan memusuhi kamu, sedangkan orang kafir wajib dimusuhi walaupun dermawan dan berbuat baik kepadamu.”

Fenomena ibu kota Jakarta yang dipimpin Kafir Ahok patut menjadi bukti nyata bahwa kepemimpinan musuh Allah SWT di suatu daerah yang mayoritas muslim sudah tentu menyebabkan puluhan krisis (krisis aqidah, syariah seperti pelarangan penyembelihan hewan qurban di tempat umum oleh Ahok, ekonomi seperti rupiah tidak stabil dan rakyat jelata semakin miskin dan sengsara, politik dan kepercayaan), malapetaka, carut marut, tidak barokah, fitnah di sana sini, dan kerusakan-kerusakan di seluruh lapisan masyarakat, seperti penggusuran luar batang, pasar ikan, kampung pulo dst…

Dukungan Parpol-parpol besar seperti Golkar, Nasdem, Hanura terhadap Ahok dalam Pilgub mendatang merupakan konspirasi musuh-musuh Islam yang ingin menghancurkan umat Islam.

Oleh karena itu, umat Islam di Indonesia wajib bersatu memilih pemimpin muslim adil dan melawan kebiadaban si kafir Arogan Ahok. Jika berdiam diri, maka di kesempatan berikutnya umat ini betul-betul akan menjadi sekerumunan manusia yang hilang haibah-nya (kemuliaan dan kewibawaannya) di hadapan musuh-musuhnya yang siang dan malam mengintai untuk menghancurkan dirinya.

Wallahu A’lam

*PemikiranSyaikhina

LIONS CLUB DAN FKUB MENURUT PRESPEKTIF ISLAM

images.jpg

c_lions_logo_web.jpg

PERTANYAAN:
Bagaimana hukum menjadi anggota  Lions Club dan FKUB dalam prespektif Islam?   

JAWABAN:
Sebelum menjawab pertanyaan, terlebih dahulu akan kami paparkan data dan fakta yang didapatkan dari berbagai sumber (buku, majalah, buletin, internet dll…) tentang Lions Club yang substansi sebagian doktrinnya berujung pada pendangkalan aqidah, pelumpuhan syari’at, pengkerdilan ghiroh Islamiyah, dan pengebirian dakwah agama Islam. Inilah wajah pemurtadan terselubung berbaju kemanusiaan.

Data-fakta Lions Club:

A. Lions Club adalah sebuah organisasi yang didirikan oleh Melvin Jones –seorang yahudi yang menjadi agen perusahaan asuransi- dengan nama International Association of Lions Club bulan Mei 1917 di Chicago. Pada hakikatnya perkumpulan ini termasuk salah satu organisasi Internasional yang berafiliasi kepada gerakan Freemasonry. Keduanya adalah kaki tangan Zionis yang berkedok kemanusiaan untuk “merusak” dunia kemudian membangunnya kembali dan mendominasinya agar mengabdi kepada kepentingan Yahudi. Lions Club Indonesia lahir pada tanggal 18 November 1969 yaitu saat Orde Baru berkuasa, padahal sebelumnya, aliran-aliran tersebut telah dilarang oleh Presiden Soekarno (Orde Lama) lewat KEPPRES No 264 Tahun 1962. Namun 38 tahun kemudian KEPPRES 264/ 1962 dicabut oleh abdi yahudi (Gus Dur) dengan mengeluarkan KEPPRES No 69 Tahun 2000. Sejak itulah kelompok-kelompok Yahudi seperti Organisasi Liga Demokrasi, Rotary Club, Divine Life Society, Freemasonry, Lions Club,  Moral Rearmament Movement dll. menjadi resmi dan sah di Indonesia, Naudzubillah!  

B. Sebagian aktivitas Lions Club yang membahayakan Iman seorang muslim:
– Menyerukan slogan “Kebebasan, Persamaan, Persaudaraan, HAM dan kebangsaan”. 
– Membangun semangat kerukunan di antara pribadi-pribadi dengan cara melonggarakan dan menjauhkan ikatan-ikatan aqidah (keyakinan).
– Mengumandangkan jargon “Agama untuk Tuhan, Tanah air untuk semua”, yang mendorong orang berpaling dari Sang Pencipta, dan fokus kepada diri mereka sendiri (ajaran humanisme).
** Selengkapnya baca: “Fakta dan Data Yahudi di Indonesia” buku karya Ridwan Saidi dan Rizki Ridyasmara.

Dengan demikian, kami menjawab, “HARAM hukumnya bagi umat Islam menjadi anggota Lions Club “, karena memasuki organisasi tersebut sama seperti memasuki organisasi PKI tempo dulu, adapun alasan-alasan keharamannya sebagai berikut:

1. Ideologi organisasi Lions Club mengajak kekufuran melalui isu-isu “kemanusiaan, kebebasan, persamaan, persaudaraan, HAM dan Kebangsaan”.

2. Orang Islam masuk ke dalam organisasi Yahudi-Zionisme (kerja sama dan menjadi mitra orang kafir).

3. Organisasi tersebut menyamaratakan antar agama (Agama mayoritas yang haq disamakan dengan agama minoritas yang batil).

4. Orang Islam memperjuangkan ideologi busuk Yahudi, padahal ini termasuk jerat-jerat Zionisme untuk mengelabuhi umat manusia untuk menguasai dunia, karena isu tersebut merupakan bagian dari 24 protokol-protokol Zionis.
Dan masih banyak bahaya-bahaya lain yang ditimbulkan dari aktif mengikuti organisasi tersebut.  

Syari’at Islam dengan tegas melarang empat hal tersebut, Allah SWT berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَتَّخِذُوا الْيَهُودَ وَالنَّصَارَى أَوْلِيَاءَ بَعْضُهُمْ أَوْلِيَاءُ بَعْضٍ وَمَنْ يَتَوَلَّهُمْ مِنْكُمْ فَإِنَّهُ مِنْهُمْ إِنَّ اللَّهَ لَا يَهْدِي الْقَوْمَ الظَّالِمِينَ [المائدة : 51]

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil orang-orang Yahudi dan Nasrani menjadi teman akrab (apalagi) pemimpin-pemimpin(mu); sebahagian mereka adalah pemimpin bagi sebahagian yang lain. Barangsiapa diantara kamu mengambil mereka menjadi teman akrab (apalagi) pemimpin, Maka Sesungguhnya orang itu Termasuk golongan mereka. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zalim.” (QS. Al-Maaidah: 51)

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَتَّخِذُوا بِطَانَةً مِنْ دُونِكُمْ لَا يَأْلُونَكُمْ خَبَالًا وَدُّوا مَا عَنِتُّمْ قَدْ بَدَتِ الْبَغْضَاءُ مِنْ أَفْوَاهِهِمْ وَمَا تُخْفِي صُدُورُهُمْ أَكْبَرُ قَدْ بَيَّنَّا لَكُمُ الْآيَاتِ إِنْ كُنْتُمْ تَعْقِلُونَ [آل عمران : 118]

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu ambil menjadi teman kepercayaanmu orang-orang yang, di luar kalanganmu (karena) mereka tidak henti-hentinya (menimbulkan) kemudharatan bagimu. mereka menyukai apa yang menyusahkan kamu. telah nyata kebencian dari mulut mereka, dan apa yang disembunyikan oleh hati mereka adalah lebih besar lagi. sungguh telah Kami terangkan kepadamu ayat-ayat (Kami), jika kamu memahaminya.” (QS. Ali Imran: 118)

لَا تَجِدُ قَوْمًا يُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ يُوَادُّونَ مَنْ حَادَّ اللَّهَ وَرَسُولَهُ وَلَوْ كَانُوا آبَاءَهُمْ أَوْ أَبْنَاءَهُمْ أَوْ إِخْوَانَهُمْ أَوْ عَشِيرَتَهُمْ [المجادلة : 22]

“Kamu tak akan mendapati kaum yang beriman pada Allah dan hari akhirat, saling berkasih-sayang dengan orang-orang yang menentang Allah dan Rasul-Nya, Sekalipun orang-orang itu bapak-bapak, atau anak-anak atau saudara-saudara ataupun keluarga mereka.” (QS. Al-Mujadilah: 22)

Mengenai organisasi FKUB, yang pemberdayaannya sudah disahkan pemerintah Indonesia melalui SKB  dua menteri (Menteri Agama dan Menteri dalam Negeri) No: 9 dan 8 Tahun: 2006 tentang; “Pedoman Pelaksanaan Tugas Kepala Daerah/ Wakil Daerah dalam Pemeliharaan Forum Kerukunan Umat Beragama, dan Pendirian Rumah Ibadat”. Kami berpandangan bahwa masuk ke dalam organisasi FKUB akan menimbulkan mudlarat-mudlarat agama, diantaranya:

-Tujuan didirikannya forum ini adalah untuk “Menumbuhkembangkan keharmonisan, saling pengertian, saling menghormati, dan saling percaya di antara umat beragama”, ini adalah bunyi pasal 5 ayat 1.

Dalam konsep Islam, seorang muslim boleh berinteraksi atau bergaul dengan orang kafir sebatas urusan  sosial kemasyarakatan (huququl jiwar), bertransaksi (mu’amalah), berlaku baik (al-birr wasshilah) ketika salah satu kerabatnya kafir dan seterusnya. Meski demikian, hati si muslim tetap wajib ingkar, benci dan tidak mentolerir sedikit pun kekufuran si kafir.

Dalam masalah aqidah dan ibadah, umat Islam wajib bersikap eksklusif, yaitu haram mencampur adukkan aqidah dan ibadah umat Islam dengan aqidah dan ibadah pemeluk agama lain (pluralisme agama). Bagi umat Islam yang tinggal dan bertetangga dengan pemeluk agama lain (pluralitas agama) dalam berhubungan sosial kemasyarakatan yang tidak ada hubungannya dengan aqidah dan ibadah, umat Islam bersikap inklusif, dalam arti tetap melakukan pergaulan sosial dengan pemeluk agama lain selama tidak saling merugikan.

-Aktif dalam FKUB pasti menimbulkan rasa simpati, peduli dan  hormat dari pihak muslim terhadap pihak kafir (ميل القلب إلى الكفار), memper-erat keakraban yang berlebihan antar keduanya, dan berujung pada penyetaraan antar agama mayoritas (Islam) yang benar dengan agama minoritas (selain Islam) yang salah, inilah hakikat paham pluralisme. Fenomena ini merupakan proses pengikisan nilai-nilai keimanan secara halus, dan membunuh ghirah Islamiyah.

-Dalam undang-undang dasar FKUB, yang konon katanya tidak ada praktek do’a bersama, namun realitanya, organisasi FKUB-lah yang paling getol mengadakan doa bersama dengan dalih perekat bangsa. Do’a bersama mengakibatkan orang muslim terbiasa mendatangi gereja, biara, klenteng dan tempat peribadatan agama lain, begitu pula orang kafir akan terbiasa memasuki masjid, padahal al-Qur’an dengan  tegas melarangnya:

  يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِنَّمَا الْمُشْرِكُونَ نَجَسٌ فَلَا يَقْرَبُوا الْمَسْجِدَ الْحَرَامَ [التوبة : 28]

“Hai orang-orang yang beriman, Sesungguhnya orang-orang yang musyrik itu najis, Maka janganlah mereka mendekati Masjidilharam” (QS. At-Taubah: 28)

Do’a bersama juga menyebabkan keintiman (kedekatan batin) antar muslim dan kafir, padahal dalam Islam, yahudi-nashrani saja tidak boleh dijadikan sebagai teman dekat, apalagi penyembah berhala (Hindu, Budha, Konghucu dst…)?!

Berikut adalah tambahan dalil syar’i tentang keharaman berbelas kasih dengan orang kafir:

(دليل الفالحين إلى طرق رياض الصالحين، ج 4، ص: 40)
(وعن أبي سعيد الخدري رضي الله عنه عن النبي قال: لا تصاحب إلا مؤمناً) فيه نهي عن موالاة الكفار ومودتهم ومصاحبتهم، قال تعالى: {لا تجد قوماً يؤمنون با واليوم الآخر يوادّون من حادّ الله ورسوله} (المجادلة:22) الآية.

أسنى المطالب شرح روض الطالب – (21 / 215)
( وَتَحْرُمُ مَوَادَّتُهُ ) لِقَوْلِهِ تَعَالَى { لَا تَجِدُ قَوْمًا يُؤْمِنُونَ بِاَللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ يُوَادُّونَ مَنْ حَادَّ اللَّهَ وَرَسُولَهُ } الْآيَةَ وَلَا يُنَافِي هَذَا مَا مَرَّ فِي الْوَلِيمَةِ مِنْ أَنَّهُ تُكْرَهُ مُخَالَطَتُهُ ؛ لِأَنَّ الْمُخَالَطَةَ تَرْجِعُ إلَى الظَّاهِرِ وَالْمُوَادَّةُ إلَى الْمَيْلِ الْقَلْبِيِّ

تحفة الحبيب على شرح الخطيب – (5 / 183)
(تحرم مودّة الكافر ) أي المحبة والميل بالقلب وأما المخالطة الظاهرية فمكروهة وعبارة شرح م ر وتحرم موادّتهم وهو الميل القلبي لا من حيث الكفر وإلا كانت كفراً وسواء في ذلك أكانت لأصل أو فرع أم غيرهما

Dalam kitab-kitab ushul fiqh termaktub sebuah qo’idah سد الذريعة yang memiliki pengertian: “Memotong (melarang) suatu perkara yang kelahirannya diperbolehkan, namun kenyataannya akan mengantarkan kepada perbuatan yang dilarang (al-mahzhur)”. Jadi, aktif dalam organisasi FKUB (Dengan dalih “Kami bergaul hanya sebatas dhohiriyah saja”, “Tujuan kami adalah menjalin kerukunan umat beragama dalam bingkai ke-Indonesiaan”, atau “Kami berusaha menarik mereka ke agama Islam” dst…), meskipun secara konsep fiqh hal tersebut mungkin termasuk perkara mubah (minimal makruh), namun berpotensi menimbulkan mafsadah yang lebih besar, yaitu menjadi ajang kampanye penyetaraan antar agama (paham pluralisme), praktek do’a bersama, simpati-peduli kepada orang kafir (ميل القلب إلى الكفار) bahkan membela segala aktifitas keagamaan kaum kafir.

Jadi kesimpulannya FKUB adalah organisasi penyebar pluralisme yang diskenariokan pihak kafir untuk merusak keimanan umat Islam, yang sudah nyata bahayanya. Maka sebagai langkah sadd adz-Dzari’ah dan niat tulus membentengi aqidah umat Islam, kami menegaskan ‘HARAM’ bagi umat Islam -apalagi kaum santri- menjadi anggota organisasi FKUB, kecuali orang-orang yang dipaksa masuk oleh pemerintah zhalim, itupun mereka harus mengakui kesalahannya dan tidak aktif menjalankan program-program yang mendukung paham Pluralisme dan Liberalisme.  

Sebagai umat mayoritas penduduk negeri yang berasas pancasila, sudah pasti umat Islam menjaga kerukunan antar umat beragama, namun jangan kemudian langkah-langkah picik berkedok ‘kerukunan antar umat beragama’ seperti FKUB dan organisasi sejenis justru memporak-porandakan tatanan aqidah, syari’ah dan akhlaq karimah yang sudah tertata rapi dalam keseharian kaum Ahlussunnah wal Jama’ah Indonesia. Mayoritas kaum santri merupakan penganut Islam Sunni bukan Islam radikal, mereka sudah paham dan mandiri dalam urusan “Kode etik berinteraksi dan bergaul dengan penganut agama lain”, karena sumber-sumber agama Islam, seperti al-Qur’an, al-Hadits, Tafsir, Fiqh dll. telah paripurna membahas tema tersebut, dan pembahasannya pun (baik kitab salaf maupun kontemporer) bervariasi sesuai tuntutan zaman.

Justru, kalau kita berfikir realistis, FKUB lebih cocok untuk aliran Islam Garis Keras atau penganut Radikalisme, Terorisme dan Anarkisme, seperti kelompoknya Abu Bakar Ba’asyir, karena mereka-lah kelompok yang memiliki senjata, bom, dan pasukan, yang eksistensinya selama ini menimbulkan huru-hara dan situasi tidak kondusif dalam Negara Indonesia, dan seringkali Islam tercoreng (dimata penganut agama lain) dengan tindak-tanduk mereka. FKUB tidak cocok untuk kaum santri, karena sejarah mencatat, kaum sarungan tidak pernah angkat senjata (kecuali di zaman penjajahan untuk berjihad) apalagi menebarkan teror (meledakkan bom) di seluruh Nusantara. Jadi, jika ada santri atau bahkan kiai yang masuk FKUB, berarti ia telah berusaha merongrong aqidah umat Islam, Na’udzubillah.   

Sebagai langkah preventif, para santri dituntut istiqomah ngaji dan beristifadah kepada para masyayikh (mulazamatul masyayikh), melayani beliau dengan penuh keikhlasan (khidmah), dan bergaul baik dengan sesama santri (Mu’asyarah bil ma’ruf bainal muslimin), sehingga jebolan pesantren menjadi sosok paripurna, mandiri, dan siap menjawab tantangan zaman yang kian kompleks dengan tanpa menanggalkan prinsip-prinsip ke-pesantrenan, termasuk tantangan ‘Isu kerukunan beragama’!

Wallahu a’lam!

KH. M. NAJIH MAIMOEN

BUDAYA AHLUSSUNNAH WAL JAMA’AH

file104.jpg

Ciri-ciri spesifik yang menonjol dan dipertahankan Ahlussunnah wal-Jama’ah banyak  sekali, sehingga ciri-ciri tersebut menjadi tanda khusus yang membedakan Ahlussunnah dengan lainnya. Diantaranya adalah:

* Meramaikan bulan suci Romadlon dengan pengkajian kitab-kitab Hadits, Tafsir maupun lainnya serta bertadarus al-Quran dan sholat Tarawih.

* Membudayakan halal bi halal sebagai ajang silaturrahim antar kerabat, saudara, sesama muslim, selama tidak terjadi kemaksiatan, seperti ikhtilath bainal rijal wan nisa, salam-salaman antara laki-laki dan perempuan yang tidak mahram, nyanyi-nyanyian, dll.  

*Menjalankan qunut subuh meskipun masih terdapat khilafiyyah antara para Ulama dalam masalah tersebut.

*Menempatkan putra-putri sunniyyin di pondok-pondok pesantren maupun madrasah diniyyah untuk mengkaji dan menghidupkan ilmu agama.

*Adanya beberapa thoriqoh demi taqorrub ilalloh, namun dengan syarat tidak terjadi ikhtilath antara lelaki dan perempuan atau fanatik berlebihan.

*Memperhatikan jamaah sholat fardlu di Masjid dan surau-surau pada awwal waktu, dan harus ikhlas serta khusyu dalam menjalankanya.

*Ziarah kubur Auliya untuk bertawassul dengan tanpa adanya hal-hal munkar (iktilath bainarrijal wannisa), Tahlilan, Berjanzenan dan manaqiban, namun dengan syarat tidak berlebihan dalam Itiqodnya pada syaikh Abdul Qodir, seperti membaca dengan serentak Syaikh Abdul Qodir Waliyulloh setelah membaca dua kalimat Syahadat. Dan amalan-amalan di atas tidaklah budaya Syiah, sebab ziarahnya orang syiah tidak memakai bacaan ayat-ayat al-Quran, juga tidak membaca tahlil tasbih tahmid, biasanya cuma memberi kata-kata pujaan berlebihan pada Imam-imam mereka.

*Menyantuni anak yatim, faqir miskin maupun para janda yang punya anak banyak, serta melindungi mereka dari penindasan.

*Bagi alumni pesantren hendaknya sering sowan kepada gurunya untuk konsultasi dengan memohon petunjuk di dalam menjalankan dawahnya. Demikian pula bagi para kiainya hendaknya mengunjungi/ mengecek  mereka; apakah benar-benar sudah melaksanakan tugasnya dengan baik.

*Takbiran pada malam hari raya dengan tanpa diikuti penabuhan beduk. Sebab mengiringi dzikrulloh dengan tabuhan adalah  bid’ah, apalagi aalatul malaahi.

*Mempermudah urusan Haji dan Umroh sehingga tidak menimbulkan keresahan dikalangan kaum Muslimin.

*Mengadakan bahtsul masail dengan dihadiri tokoh yang benar-benar ahli dalam bidang agama. Mengamalkan ruyatul hilal untuk mengetahui awwal Romadlon dan Syawwal.

*Mendirikan paguyuban keluarga demi mempererat persaudaraan.
Menghafalkan al-Quran dengan memperhatikan tajwidnya, dan lain sebagainya.

قال الإمام الغزالي في الإحياء: الثاني: المبتدع الذي يدعو إلى بدعته. فإن كانت البدعة بحيث يكفر بها فأمره أشد من الذمي لأنه لا يقر بجزية ولا يسامح بعقد ذمة وإن كان ممن لا يكفر به فأمره بينه وبين اللـه أخف من أمر الكافر لا محالة, ولكن الأمر في الإنكار عليه أشد منه على الكفر لأن شر الكافر غير متعد, فإن المسلمين اعتقدوا كفره فلا يلتفتون إلى قولـه إذ لا يدعي لنفسه الإسلام واعتقاد الحق. أما المبتدع الذي يدعوا إلى البدعة ويزعم أن ما يدعو إليه حق فهو سبب لغواية الخلق فشره متعد, فالاستحباب في إظهار بغضه ومعاداته والانقطاع عنه وتحقيره والتشنيع عليه ببدعته وتنفير الناس عنه أشد – إلى أن قال – قال صلى اللـه عليه وسلم: (من انتهر صاحب بدعة ملأ اللـه قلبه أمنا وإيمانا, ومن أهان صاحب بدعة أمنه اللـه يوم الفزع الأكبر, ومن ألان لـه وأكرمه أو لقيه ببشر فقد ا ستخف بما أنزل اللـه على محمد صلى اللـه عليه وسلم). (رواه أبو نعيم في الحلية والـهروي في ذم الكلام من حديث ابن عمر). الثالث: المبتدع العامي الذي لا يقدر على الدعوة ولا يخاف الاقتداء به فأمره أهون فالاولى أن لايقابل بالتغليظ والإهانة بل يتلطف به في النصح. (إحياء علوم الدين: جـ:2/ صـ:184-183).

قال الشيخ هاشم أشعري رحمه اللـه في القانون الأساسي لجمعية نهضة العلماء: وإذا تعين الاعتماد على أقاويل السلف فلا بد من أن تكون أقاويلـهم التي يعتمد عليها مروية بالإسناد الصحيح أو مدونة في كتب مشهورة وأن تكون مخدومة بأن يبين الراجح من محتملاتها ويخصص عمومها في بعض المواضع ويقيد مطلقها في بعض المواضع ويجمع المختلف فيها ويبين علل أحكامها وإلا لم يصح الاعتماد عليها. وليس مذهب في هذه الأزمنة المتأخرة بهذه الصفة إلا هذه المذاهب الأربعة. اللـهم إلا مذهب الإمامية والزيدية وهم أهل البدعة لا يجوز الاعتماد على أقاويلـهم. (صـ: 55-57/ طـ: منارا قدس).

Adapun bentuk-bentuk tradisi masyarakat yang tidak mencerminkan budaya Ahlussunnah, agar dihindari oleh warga Ahlussunnah. Di antarnya:

*Mengagung-agungkan berbagai kesenian yang munkar, seperti seni musik, seni rupa, wayang, kethoprak, ludruk, seni tari, dsb.

*Mencurahkan segala daya dan upaya untuk mengkaji pengetahuan ilmu umum sampai menelantarkan pendidikan agama yang merupakan bekal untuk meraih kesejahteraan dunia akhirat.

*Semaraknya Musabaqoh Tilawatil Qur’an dengan menekankan model irama yang menghilangkan ketajwidan al-Qur’an dan at-Tadabbur. Dan celaka lagi musabaqoh tersebut dijadikan sebagai sarana untuk ikhtilath bainar rijaal wan nisaa’/ ajang menampilkan alunan suara wanita.

*Ditinggalkannya pelatihan diri dan perlombaan yang mengarah pada persiapan membela agama dan negara, seperti latihan naik kuda, memanah (munadlolah) dan lain-lain.

*Terlalu menghabiskan waktu untuk memperhatikan perlombaan yang sifatnya hanya gerak badan saja dan hura-hura, sampai mengesampingkan urusan sholat, seperti sepak bola dan lain-lain.

MENANGKIS TUDUHAN DUSTA “PERANG ZAMAN RASULULLOH PERANG DEFENSIF”

fb_img_1455372613140.jpg

Ulil Abshar Abdalla pernah menjadi narasumber pada Studium General (Kuliah Umum) untuk mahasiswa baru STAIN Kudus pada hari Selasa, 1 September 2015, dengan tema “Memperbincangkan Islam Arab dan Islam Nusantara”. Ulil menjelaskan bahwa ciri Islam Nusantara adalah Islam datang ke Nusantara tidak melalui jalan perang, tapi melalui jalan damai. Setelah itu Ulil menyinggung tentang jihad dengan peperangan. Menurutnya, perang dalam Islam hanya bersifat defensif (membela diri dari serangan kafir). Umat Islam tidak boleh menyerang non-Muslim ketika mereka tidak menyerang. Dalam pemaparan Ulil, perang dalam zaman awal Islam adalah untuk mempertahankan diri. Adapun perang setelah zaman Rasulullah SAW tidak seluruhnya karena dasar agama, melainkan hanya perluasan wilayah saja yang pada zaman itu adalah hal yang normal. Sekarang tidak boleh lagi melakukan itu karena bisa melanggar konvensi internasional. Ini bukan lagi perang jihad, ujar Ulil.

Pernyataan Ulil diatas tentu semakin membuktikan bahwa ulil tak layak disebut intelektual Islam, sebab ia sama sekali tidak paham sejarah peperangan Rasulullah SAW. Perlu diingat, kitab-kitab sirah nabawiyyah telah menjelaskan bahwa peperangan di zaman Rasulullah SAW terdapat dua istilah; Pertama, ghozwah yaitu peperangan yang diikuti langsung oleh Nabi Muhammad SAW, ini berjumlah 19. Kedua, sariyyah atau ba’ts yakni peperangan yang tidak dihadiri oleh Rasulullah SAW, akan tetapi beliau yang mengirim pasukan perang tersebut, yang ini berjumlah 24. Jadi jumlah keseluruhannya adalah: 43. Kesimpulan Ulil yang menyatakan perang zaman Rasulullah SAW hanyalah perang defensif adalah kebohongan besar. Sebab banyak sekali perang ofensif yang dilakukan oleh beliau, seperti perang Badar (Nabi SAW berusaha mengahalangi iir quraisy atau kafilah quraisy dari Syam yang dipimpin Abu Sufyan, namun kafilah tersebut dapat menyelamatkan diri, kemudian Rasulullah SAW bersama kaum muslimin menantang perang kafir quraisy yang pada saat itu sudah siap berperang) perang Hunain, Fathu Makkah, perang Bani Quraidloh, Bani Qunaiqo, Bani Nadhir (Rasulullah SAW menyerang kaum Yahudi terlebih dahulu karena mereka terbukti menghianati Piagam Madinah), perang Tabuk dan perang Mutah (Nabi Muhammad SAW sengaja menginvasi kaum Nashrani sebab beliau mendapatkan kabar bahwa mereka berencana menyerang umat Islam) dan masih banyak lagi peperangan beliau yang ofensif, termasuk ketika memerangi kaum musyrikin.Yang perlu dicatat, perang ofensif Rasulullah SAW yang menuai kemenangan terbesar dan ghonimah terbanyak adalah perang Khoibar. Perang defensif (bertahan diri) yang dilakukan Rasulullah SAW adalah perang Uhud dan perang Khandaq/ Ahzab.  

Kalau kita banyak membaca kitab-kitab sirah nabawiyyah, kita akan paham betul kesempurnaan, kebijaksanaan dan keagungan pangkat Rasulullah SAW. Beliau adalah sosok pemimpin yang ahli strategi dan ahli taktik perang, diantara taktik beliau adalah Lawan Jangan dikasih Kesempatan Menyerang, oleh karena itu peperangan ofensif sering beliau praktekkan. Beliau juga seorang pemimpin yang ahli diplomasi, suluh hudaibiyyah sampai penaklukan Makkah menjadi bukti nyata kejeniusan beliau dalam berdiplomasi. Beliau adalah satu-satunya panglima perang di dunia yang patut dijadikan teladan, karena peperangan Rasulullah SAW tidak dipersenjatai dengan senjata yang lengkap apalagi berlebihan, persenjataan beliau sangat sederhana, meski demikian, kubu beliau terlihat sangat berwibawa, menakjubkan dan menakutkan lawan. Dalam medan peperangan, beliau adalah sosok paling bijaksana, beliau bukan pemimpin kejam, sadis, bengis, penindas, apalagi penjagal yang melakukan pembunuhan massal dan pemusnahan etnis, seperti yang sering dilakukan para pemimpin kafir, yahudi dan nashrani. Perlu ditandaskan lagi, pemberlakuan Piagam Madinah di kota madinah tidak mengikutsertakan umat Kristen, karena pada waktu itu di Madinah tidak ada umat kristen apalagi Majusi dan Hindu-Budha (penyembah berhala) seperti yang sering dikoar-koarkan orang-orang Liberal, ini jelas ngawur dan tak ada dasar ilmiahnya, karena mereka tidak pernah mengaji kitab sirah nabawiyyah. Rasulullah SAW bersabda:

عَنْ سُلَيْمَانَ بْنِ صُرَدٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ: قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَوْمَ الْأَحْزَابِ: «نَغْزُوهُمْ، وَلاَ يَغْزُونَنَا» [رواه البخاري]

“Diriwayatkan dari Sulaiman bin Shurod, beliau berkata, Nabi SAW pada saat perang Ahzab bersabda: Mulai sekarang kita yang akan menyerang mereka, dan mereka tidak akan menyerang kita (karena masih trauma pasca kekalahan telak di perang Ahzab).(HR. Imam al-Bukhari)

Penegasan ulil bahwa peperangan setelah Rasulullah SAW bukan atas nama jihad akan tetapi untuk perluasan wilayah Islam dan perang jihad sudah terlarang, itu jelas bertentangan dengan sabda Nabi Muhammad SAW:

عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا، قَالَ: قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَوْمَ افْتَتَحَ مَكَّةَ: «لاَ هِجْرَةَ، وَلَكِنْ جِهَادٌ وَنِيَّةٌ، وَإِذَا اسْتُنْفِرْتُمْ، فَانْفِرُوا. [رواه البخاري]

“Diriwayatkan dari Ibn Abbas RA, beliau berkata, Nabi Muhammad SAW pada saat penaklukan kota Makkah bersabda: Tidak akan ada lagi hijrah, yang ada adalah niat dan jihad. Maka jika kalian diminta untuk berangkat perang, maka berangkatlah”(HR. Imam al-Bukhari)

Walhasil, hukum jihad selamanya akan tetap ada sampai Hari Kiamat karena begitu banyak ayat-ayat al-Qur’an dan Hadits-hadits Rasulullah yang memerintahkan perang. Adapun kondisi umat Islam sekarang memang tidak memungkinkan untuk melaksanakan jihad bil qital, namun hal ini tidak bisa menghapus Syariah Islam yang sifatnya qathiyyah al-tsubut tersebut. Umat Islam tetap harus memiliki keyakinan bahwa jika suatu saat diberi kekuasaan dan kekuatan untuk melaksanakan jihad perang kepada non-Muslim, maka mereka harus siap untuk melakukannya. Penghapusan hukum jihad oleh Ulil Abshar diatas adalah ciri khas omongan kaum liberal untuk meruntuhkan ajaran Islam lewat ide Islam Nusantara, ini sama saja taqlid dengan ideologi Ahmadiyah al-Qodliyaniah yang telah menghapus kewajiban Jihad. Apalagi selama ini, mereka tidak henti-hentinya gembar-gembor Islam Nusantara adalah Islamnya Walisongo, Islam damai, toleran, anti perang. Apa mata mereka sudah buta tentang sejarah Walisongo (kerajaan Demak, Raden Fatah) Jihad melawan Majapahit?.

Dalam Kitab Ahlal Musamarah hal. 47-48, Kyai Abul Fadlol Senori menyebutkan bahwa setelah Raden Fatah dilantik menjadi Raja Demak, beliau mengumpulkan para wali dan tokoh kerajaan seraya menyampaikan sambutan: Wahai para tokoh, Saya mengumpulkan kalian semua di sini untuk membahas suatu kewajiban dalam agama Islam, yaitu saya memandang kaum muslimin pada saat ini telah menjadi penduduk mayoritas dan saya berkeyakinan bahwa sesungguhnya jihad termasuk kewajiban bagi muslimin. Sekarang ini Raja Brawijaya dan para pengikutnya telah tertanam kekufuran. Maka, apakah menurut kalian, bagi kita (umat Islam) wajib memerangi mereka?. Semua yang hadir dalam majlis tersebut sepakat menyetujui titah Raden Fatah.

Kisah peperangan antara Kerajaan Demak di bawah pimpinan Raden Fatah dan Kerajaan Majapahit di bawah Pimpinan Brawijaya bisa dibaca secara lengkap dalam Ahlal Musamaroh fi Hikayati al-Auliya al Asyroh hal. 48-86 karya al-Mukarram Kyai Abul Fadlol Senori. Andai di zaman Walisongo dahulu kala tidak terjadi peperangan, lalu kenapa para tokoh-tokoh Majapahit banyak yang pindah ke Gunung Tengger Lumajang, Lawu Magetan dan ke Bali?. Jika para pengusung Islam Nusantara tidak percaya terealisasinya jihad zaman Walisongo, berarti mereka meragukan dan merendahkan keilmuan Kyai Abul Fadlol, bahkan telah melakukan pembohongan publik dengan menyebarkan pemahaman keliru ke khalayak umum.

#KH.M.NAJIH.MAIMOEN