MENJAWAB LIMA KICAUAN “PECINTA BUKA BERSAMA LINTAS AGAMA” (Bag. I)

untitled-scanned-30.jpg

Bulan Ramadhan tahun ini umat Islam di Indonesia disuguhi pemandangan yang aneh di mata masyarakat umum tentang beberapa orang yang menggelar buka bersama yang dilakukan bersama pemeluk agama lain. Pelaksanaannya pun tidak di masjid atau di rumah warga, akan tetapi di gereja atau wihara. Tak tanggung-tanggung, acara “bukber lintas agama” ini diprakarsai dan ditelateni oleh Shinta Nuriyah istri mantan Presiden Indonesia Abdurrahman Wahid alias Gus Dur.

Acara bukber Shinta Nuriyah bersama para pendeta Kristen di Semarang beberapa waktu kemarin menjadi trending topic di berbagai media sosial. Hampir situs berita pun menayangkan berita tersebut dengan bumbu bahasa yang begitu manis, sehingga terlihat acara tersebut terlaksana dengan begitu khidmat, toleran, dan penuh kehangatan, meski faktanya mereka dibubarkan paksa oleh ormas Islam dan masyarakat sekitar. Setelah acara tersebut, banyak lagi tempat lain di Indonesia yang ikut-ikutan menyelenggarakan acara yang sama.Tujuannya (katanya) adalah satu, kerukunan antarumat beragama.

Meskipun banyak menuai kritik dari umat Islam, pihak penyelenggara bukber lintas agama tersebut terlihat tidak menggubrisnya secara serius dan dianggap angin lalu saja. Mereka mengajukan pembelaan terhadap acara tersebut dengan berbagai alasan manis. Para tokoh nasional dan ormas Islam menjadi “pagar betis” dalam usaha membela-bela terlaksananya acara tersebut. Tulisan ini akan menyebutkan lima alasan yang dikemukakan oleh para “pejuang buka lintas agama” yang kami temukan di berbagai media nasional, sekaligus tanggapan seperlunya untuk menilai keabsahan dan tujuan acara bukber lintas agama tersebut.

Pertama: Adakah Dalil Al-Quran Hadits yang Melarang Buka Bersama Lintas Agama?

Ini merupakan pernyataan yang dikeluarkan oleh salah satu tokoh politik PKB dan dekat dengan tokoh-tokoh NU yang sangat apresiatif dengan acara buka bersama lintas agama tersebut. Dalam akun twitter-nya ia berkicau mempertanyakan penolakan beberapa ormas dan tokoh ulama terhadap acara tersebut, apakah ada landasan dalilnya atau tidak?
Jika dia bertanya apakah ada dalil Al-Quran Hadits yang melarang acara tersebut? Maka kita menjawab: ADA. Banyak ayat Al-Quran yang melarang kaum Muslimin muwalah (akrab) dengan non-Muslim.

وَدُّوا لَوْ تَكْفُرُونَ كَمَا كَفَرُوا فَتَكُونُونَ سَوَاءً فَلَا تَتَّخِذُوا مِنْهُمْ أَوْلِيَاءَ حَتَّى يُهَاجِرُوا فِي سَبِيلِ اللَّهِ

“Mereka ingin supaya kamu menjadi kafir sebagaimana mereka telah menjadi kafir, lalu kamu menjadi sama (dengan mereka). Maka janganlah kamu jadikan diantara mereka penolong-penolong(mu), hingga mereka berhijrah pada jalan Allah.” (QS. Al-Nisa: 89)

لَا يَتَّخِذِ الْمُؤْمِنُونَ الْكَافِرِينَ أَوْلِيَاءَ مِنْ دُونِ الْمُؤْمِنِينَ وَمَنْ يَفْعَلْ ذَلِكَ فَلَيْسَ مِنَ اللَّهِ فِي شَيْءٍ [آل عمران : 28]

“Janganlah orang-orang mukmin mengambil orang-orang kafir menjadi wali dengan meninggalkan orang-orang mukmin. Barangsiapa berbuat demikian, niscaya lepaslah ia dari pertolongan Allah.” (QS. Ali Imran: 28)

وَلَنْ تَرْضَى عَنْكَ الْيَهُودُ وَلَا النَّصَارَى حَتَّى تَتَّبِعَ مِلَّتَهُمْ قُلْ إِنَّ هُدَى اللَّهِ هُوَ الْهُدَى وَلَئِنِ اتَّبَعْتَ أَهْوَاءَهُمْ بَعْدَ الَّذِي جَاءَكَ مِنَ الْعِلْمِ مَا لَكَ مِنَ اللَّهِ مِنْ وَلِيٍّ وَلَا نَصِيرٍ [البقرة : 120]

“Orang-orang Yahudi dan Nasrani tidak akan senang kepada kamu hingga kamu mengikuti agama mereka. Katakanlah: “Sesungguhnya petunjuk Allah itulah petunjuk (yang benar)”. Sesungguhnya jika kamu mengikuti kemauan mereka setelah pengetahuan datang kepadamu, maka Allah tidak lagi menjadi pelindung dan penolong bagimu.” (QS. Al-Baqarah: 120)

Pakar tafsir Imam Fakhruddin al-Razi menjelaskan bahwa akrab dengan non-Muslim yakni percaya dan memberi bantuan serta pertolongan karena hubungan kekerabatan atau cinta kasih sesama manusia hukumnya dilarang meskipun tetap meyakini agama mereka keliru, karena interaksi semacam ini dapat menggiring umat Islam untuk menganggap benar ajaran agama mereka (pluralisme agama). (Fakhruddin al-Razi, al-Tafsir al-Kabir, juz 4 hlm. 168)

Dari keterangan diatas, dapat diketahui bahwa ternyata berabad-abad silam umat Islam sudah diperingatkan oleh Al-Quran tentang bahaya laten pluralisme agama yang diselundupkan dalam berbagai kegiatan lintas keagamaan. Sampai sekarang pun, kegiatan lintas agama seperti acara bukber diatas juga tidak lepas dari propaganda cinta dan kasih sayang antar pemeluk agama (pintu masuk pluralisme dan pemurtadan).

Pakar hukum Islam al-Bujairimi menegaskan bahwa haram hukumnya berkasih sayang dengan non-Muslim. Jika ditanyakan bahwa mukhalathah (berbaur) dengan non-Muslim hukumnya hanya makruh, beliau menjawab bahwa berbaur dengan non-Muslim hanya pada hal-hal zahir duniawi, sedangkan kasih sayang kepada non-Muslim berimbas pada pemihakan hati kepada mereka. (al-Bujairimi, al-Hasyiyah ‘ala al-Khathib, juz 4 hlm. 292) Bandingkan keterangan ulama pakar Fiqh ini dengan berbagai pernyataan para “pejuang bukber lintas agama” tentang kasih sayang sesama manusia tanpa pandang agama.

Tentu sebagian orang akan berkata, “Lho, kami kan hanya duduk dan makan bersama-sama. Bedanya kami yang Muslim ini niatnya buka, yang non-Muslim hanya makan biasa.” Pernyataan seperti ini tentu sangat aneh. Jika memang mereka hanya ingin duduk dan makan bersama, mengapa hal itu diusahakan berlangsung di dalam gereja dan tidak di restoran atau warung makan? Mengapa acara tersebut dibuat secara seremonial dan diteruskan dengan dialog antarumat beragama? Mengapa harus ada Muslim yang memberi ceramah di podium  gereja dan menganjurkan agar semua mementingkan kasih sayang tanpa pandang agama? Orang yang cerdas tentu dapat menilai ada sesuatu di balik semua ini.

Dalam beberapa perkara yang bukan agama saja, interaksi yang disinyalir terdapat pengagungan dan penghormatan terhadap agama lain hukumnya haram bagi Muslim. Contohnya seperti membantu keperluan natal kepada non-Muslim (Is’ad al-Rafiq, juz 2 hlm. 93), mengosongkan jalan untuk non-Muslim (Tuhfah al-Muhtaj, juz 9 hlm. 299), menunjukkan jalan menuju gereja (Fatawi al-Fiqhiyyah al-Kubra, juz 4 hlm. 248), dan lain sebagainya. Apalagi ini adalah acara berbuka yang menjadi rangkaian ibadah puasa Ramadhan kaum Muslimin. Muslim yang agamanya kuat tidak akan mengikuti acara “agama gado-gado” semacam ini.

Kedua: Mengutamakan Kebersamaan dengan Penganut Agama Lain

Pejuang bukber lintas agama lainnya beralasan bahwa acara tersebut sebagai bentuk kerukunan dan kebersamaan. “Umat Muslim selalu mengutamakan kebersamaan dengan penganut agama lain dan melindungi minoritas. Nabi Muhammad diutus untuk melindungi seluruh makhluk hidup,” katanya. (www.idntimes.com)

Jika para pejuang bukber lintas agama tersebut selalu mengutamakan kebersamaan dan melindungi minoritas, mengapa tidak dilaksanakan saja bersama fakir miskin, yatim piatu, anak-anak jalanan, dan gelandangan yang jelas lebih membutuhkan uluran tangan kaum Muslimin lainnya yang berkecukupan? Apalagi di beberapa daerah di Jawa Tengah kemarin banyak saudara-saudara Muslim kita yang tertimpa musibah banjir dan longsor yang menimbulkan banyak korban dan meludeskan harta benda masyarakat. Mengapa yang diajak buka bersama malah orang-orang yang tidak ada kepentingan berbuka puasa seperti non-Muslim, apalagi dibuatkan serangkaian acara lintas agama dengan diisi nyanyi-nyanyian Kristen dan tempatnya pun berada di gereja?
Alangkah lebih bijaksananya jika acara buka bersama ini dilaksanakan bersama Muslim lainnya yang membutuhkan uluran tangan kita, bukannya dengan non-Muslim yang tidak berkepentingan untuk berbuka puasa. Selain sudah melanggar larangan Al-Quran, tujuan mereka untuk menjalin kebersamaan juga sangat dipertanyakan.

Bersambung…

Satu pemikiran pada “MENJAWAB LIMA KICAUAN “PECINTA BUKA BERSAMA LINTAS AGAMA” (Bag. I)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s