MENJAWAB LIMA KICAUAN “PECINTA BUKA BERSAMA LINTAS AGAMA” (Bag. 2)

untitled-scanned-30.jpg

Ketiga: Kesatuan NKRI dalam Kebhinnekaan

Pejuang bukber lintas agama yang kebetulan menjadi pejabat tinggi di Semarang ini beralasan acara tersebut sebagai wujud kesatuan yang sangat sesuai dengan semangat keIndonesiaan. “Mari kita kemudian bisa memahami hal-hal yang ada di sekitar kita ini dalam satu bingkai NKRI,” katanya. (kompas.com)

Lagi-lagi, nasionalisme kembali dijadikan alat legitimasi berbagai kegiatan lintas agama di masyarakat. Seakan jika ada yang menolak acara-acara semacam itu akan dipertanyakan sikap nasionalisme dan cinta tanah airnya. Anehnya, ketika rakyat Indonesia ditimpa berbagai bencana alam, peraturan-peraturan bernuansa Syari’ah berusaha dihapuskan, berbagai kasus mutilasi dan pemerkosaan brutal terjadi serentak, mereka pun banyak yang tidak tanggap. Dimana nasionalisme dan cinta tanah air mereka?

NKRI kita ini mayoritas penduduknya adalah umat Islam, dimana hak-haknya menjalankan agama secara baik sesuai aturan Islam harus dipenuhi oleh negara. Ingat, Indonesia bisa berjaya mengusir kaum imperialis Barat dan mencapai kemerdekaan juga karena darah umat Islam di Indonesia selama 350 tahun lamanya dalam perjuangan. Paham kebangsaan yang dimiliki bangsa Indonesia seharusnya mengakomodasi ajaran Islam yang benar, bukannya orang yang tegas dalam beragama dicap ‘sok Islamis’ dan ‘anti Pancasilais’.

Perlu direnungkan kata-kata salah satu ulama pejuang Indonesia KH. Saifuddin Zuhri, “Dihapuskannya 7 kata-kata dalam Piagam Jakarta itu boleh dibilang tidak “diributkan” oleh Ummat Islam, demi memelihara persatuan dan demi ketahanan perjuangan dalam revolusi Bangsa Indonesia, althans untuk menjaga kekompakan seluruh potensi nasional mempertahankan Proklamasi 17 Agustus 1945 yang baru berusia 1 hari. Apakah ini bukan suatu toleransi terbesar dari Ummat Islam Indonesia? Jika pada tanggal 18 Agustus 1945 yaitu tatkala UUD 1945 disahkan Ummat Islam “ngotot” mempertahankan 7 kata-kata dalam Piagam Jakarta, barangkali sejarah akan menjadi lain, tetapi segalnya telah terjadi. Ummat Islam hanya mengharapkan prospek di masa depan, semoga segalanya akan menjadi hikmah.”

Keempat: Yang penting Silaturrahminya, bukan Buka Puasanya

Demikian pernyataan salah satu pejuang bukber lintas agama lainnya. (cnn.com) Menurutnya, yang penting dari acara tersebut adalah silaturahmi antar pemeluk agama, bukan buka puasa yang dipermasalahkan.

Jika memang niat para pejuang bukber lintas agama ini hanya untuk menjalin silaturahmi, mengapa tidak dilakukan di selain waktu ibadah umat Islam? Mengapa harus dilaksanakan di waktu berbuka yang waktu mepet shalat Maghrib dan Isya’ serta Tarawih? Apalagi tempatnya berada di dalam gereja. Jelas hal ini sangat mengganggu kesempatan umat Islam melaksanakan ibadah.

Jika memang niatnya silaturahmi, alangkah lebih bijaknya jika dilakukan di waktu siang harinya, bukan di waktu umat Islam fokus melaksanakan ibadah. Apalagi di bulan Ramadhan sangat dianjurkan untuk memperbanyak ibadah dan amal shalih. Di tempat manapun juga, mayoritas umat Islam ramai menyibukkan diri dengan berbagai ibadah di bulan Ramadhan mulai setelah berbuka hingga rata-rata jam 21.00-22.00 seperti shalat Tarawih berjamaah, tadarrus Al-Quran, mendengarkan ceramah agama, dan lain sebagainya. Mengapa harus dipilih waktu itu untuk “menjalin silaturahmi” oleh para pejuang bukber lintas agama ini, apalagi tempatnya di dalam gereja dan terdapat berbagai rangkaian acara?
Marilah berpikir secara sehat dan cerdas, jangan selalu mengganggu kekhidmatan bulan Ramadhan dengan kegiatan aneh-aneh semacam itu. Apalagi seorang pastur yang ikut menyanyi dalam acara tersebut bilang, “Saya pandang semuanya positif, seperti yang saya nyanyikan dalam lagu, bagaimana tangan tuhan menuntun agar semakin banyak orang menerima berkah dan rahmat.” (www.islamnkri.com) Umat Islam mau menadah berkah dan rahmat dari siapa, dari Tuhan Yesus?!

Kelima: Cinta Persatuan Pengikut Agama Ibrahim

Ini adalah argumen pejuang bukber lintas agama yang paling jelas salahnya dan paling jelas pluralismenya. Islam dan Kristen bertemu dalam satu agama, yakni Agama Ibrahim (Abrahamic Religion). Al-Quran sudah menjelaskan berkali-kali bahwa Kristen telah mengalami penyimpangan akut sehingga tidak lagi diterima oleh Allah Ta’ala.

لَقَدْ كَفَرَ الَّذِينَ قَالُوا إِنَّ اللَّهَ هُوَ الْمَسِيحُ ابْنُ مَرْيَمَ [المائدة : 17]

“Sesungguhnya telah kafirlah orang-orang yang berkata sesungguhnya Allah itu ialah Al-Masih putera Maryam.” (QS. Al-Maidah: 17)

لَقَدْ كَفَرَ الَّذِينَ قَالُوا إِنَّ اللَّهَ ثَالِثُ ثَلَاثَةٍ [المائدة : 73]

“Sesungguhnya kafirlah orang-orang yang mengatakan bahwasanya Allah salah seorang dari yang tiga, padahal sekali-kali tidak ada Tuhan selain dari Tuhan yang Esa.” (QS. Al-Maidah: 73)

وَمَنْ يَبْتَغِ غَيْرَ الْإِسْلَامِ دِينًا فَلَنْ يُقْبَلَ مِنْهُ وَهُوَ فِي الْآخِرَةِ مِنَ الْخَاسِرِينَ [آل عمران : 85]

“Barangsiapa mencari agama selain agama Islam, Maka sekali-kali tidaklah akan diterima (agama itu) daripadanya, dan dia di akhirat termasuk orang-orang yang rugi.” (QS. Ali Imran: 85)
Nabi Ibrahim juga hanya memiliki satu agama yakni agama Islam, tidak Yahudi, Kristen, ataupun Paganisme.

مَا كَانَ إِبْرَاهِيمُ يَهُودِيًّا وَلَا نَصْرَانِيًّا وَلَكِنْ كَانَ حَنِيفًا مُسْلِمًا وَمَا كَانَ مِنَ الْمُشْرِكِينَ [آل عمران : 67]

“Ibrahim bukan seorang Yahudi dan bukan (pula) seorang Nasrani, akan tetapi dia adalah seorang yang lurus lagi berserah diri (kepada Allah) dan sekali-kali bukanlah dia termasuk golongan orang-orang musyrik.” (QS. Ali Imran: 67)

Jadi, agama Islam tidak bisa disatukan dengan Kristen dan Yahudi dalam satu istilah Abrahamic Religion. Persatuan antar ketiga pemeluk agama tersebut juga tidak seharusnya bersinggungan dalam hal yang bersifat ibadah seperti buka puasa tersebut, apalagi jika di dalamnya terselubung makna pluralisme agama.

Epilog

Demikian beberapa tanggapan terhadap lima alasan yang dikemukakan para pejuang bukber lintas agama diatas. Marilah kita semua beragama yang benar dan sehat. Sangat tidak perlu mencampuradukkan kegiatan agama bersama dengan umat non-Muslim. Jika kalian memang peduli dengan Umat Islam, jagalah kekhidmatan dan ketenangan mereka memperbanyak ibadah di bulan Ramadhan, bukannya membuat “bola panas” di tengah umat Islam yang semakin memperbanyak daftar fitnah. Janganlah cinta kasih membuat kalian buta dengan kewajiban agama dan kondisi umat Islam sehingga membuat kalian suka mencari-cari masalah di depan publik semacam ini. Ingatlah, amal baik jika ditiru orang banyak maka akan jadi ladang pahala berlipat-lipat. Sebaliknya, amal buruk jika ditiru orang banyak akan menjadi jurang kehancuran tiada berujung bagi orang yang memulai dan juga yang mengikutinya. WaLlahu A’lam.

Iklan

MENJAWAB LIMA KICAUAN “PECINTA BUKA BERSAMA LINTAS AGAMA” (Bag. I)

untitled-scanned-30.jpg

Bulan Ramadhan tahun ini umat Islam di Indonesia disuguhi pemandangan yang aneh di mata masyarakat umum tentang beberapa orang yang menggelar buka bersama yang dilakukan bersama pemeluk agama lain. Pelaksanaannya pun tidak di masjid atau di rumah warga, akan tetapi di gereja atau wihara. Tak tanggung-tanggung, acara “bukber lintas agama” ini diprakarsai dan ditelateni oleh Shinta Nuriyah istri mantan Presiden Indonesia Abdurrahman Wahid alias Gus Dur.

Acara bukber Shinta Nuriyah bersama para pendeta Kristen di Semarang beberapa waktu kemarin menjadi trending topic di berbagai media sosial. Hampir situs berita pun menayangkan berita tersebut dengan bumbu bahasa yang begitu manis, sehingga terlihat acara tersebut terlaksana dengan begitu khidmat, toleran, dan penuh kehangatan, meski faktanya mereka dibubarkan paksa oleh ormas Islam dan masyarakat sekitar. Setelah acara tersebut, banyak lagi tempat lain di Indonesia yang ikut-ikutan menyelenggarakan acara yang sama.Tujuannya (katanya) adalah satu, kerukunan antarumat beragama.

Meskipun banyak menuai kritik dari umat Islam, pihak penyelenggara bukber lintas agama tersebut terlihat tidak menggubrisnya secara serius dan dianggap angin lalu saja. Mereka mengajukan pembelaan terhadap acara tersebut dengan berbagai alasan manis. Para tokoh nasional dan ormas Islam menjadi “pagar betis” dalam usaha membela-bela terlaksananya acara tersebut. Tulisan ini akan menyebutkan lima alasan yang dikemukakan oleh para “pejuang buka lintas agama” yang kami temukan di berbagai media nasional, sekaligus tanggapan seperlunya untuk menilai keabsahan dan tujuan acara bukber lintas agama tersebut.

Pertama: Adakah Dalil Al-Quran Hadits yang Melarang Buka Bersama Lintas Agama?

Ini merupakan pernyataan yang dikeluarkan oleh salah satu tokoh politik PKB dan dekat dengan tokoh-tokoh NU yang sangat apresiatif dengan acara buka bersama lintas agama tersebut. Dalam akun twitter-nya ia berkicau mempertanyakan penolakan beberapa ormas dan tokoh ulama terhadap acara tersebut, apakah ada landasan dalilnya atau tidak?
Jika dia bertanya apakah ada dalil Al-Quran Hadits yang melarang acara tersebut? Maka kita menjawab: ADA. Banyak ayat Al-Quran yang melarang kaum Muslimin muwalah (akrab) dengan non-Muslim.

وَدُّوا لَوْ تَكْفُرُونَ كَمَا كَفَرُوا فَتَكُونُونَ سَوَاءً فَلَا تَتَّخِذُوا مِنْهُمْ أَوْلِيَاءَ حَتَّى يُهَاجِرُوا فِي سَبِيلِ اللَّهِ

“Mereka ingin supaya kamu menjadi kafir sebagaimana mereka telah menjadi kafir, lalu kamu menjadi sama (dengan mereka). Maka janganlah kamu jadikan diantara mereka penolong-penolong(mu), hingga mereka berhijrah pada jalan Allah.” (QS. Al-Nisa: 89)

لَا يَتَّخِذِ الْمُؤْمِنُونَ الْكَافِرِينَ أَوْلِيَاءَ مِنْ دُونِ الْمُؤْمِنِينَ وَمَنْ يَفْعَلْ ذَلِكَ فَلَيْسَ مِنَ اللَّهِ فِي شَيْءٍ [آل عمران : 28]

“Janganlah orang-orang mukmin mengambil orang-orang kafir menjadi wali dengan meninggalkan orang-orang mukmin. Barangsiapa berbuat demikian, niscaya lepaslah ia dari pertolongan Allah.” (QS. Ali Imran: 28)

وَلَنْ تَرْضَى عَنْكَ الْيَهُودُ وَلَا النَّصَارَى حَتَّى تَتَّبِعَ مِلَّتَهُمْ قُلْ إِنَّ هُدَى اللَّهِ هُوَ الْهُدَى وَلَئِنِ اتَّبَعْتَ أَهْوَاءَهُمْ بَعْدَ الَّذِي جَاءَكَ مِنَ الْعِلْمِ مَا لَكَ مِنَ اللَّهِ مِنْ وَلِيٍّ وَلَا نَصِيرٍ [البقرة : 120]

“Orang-orang Yahudi dan Nasrani tidak akan senang kepada kamu hingga kamu mengikuti agama mereka. Katakanlah: “Sesungguhnya petunjuk Allah itulah petunjuk (yang benar)”. Sesungguhnya jika kamu mengikuti kemauan mereka setelah pengetahuan datang kepadamu, maka Allah tidak lagi menjadi pelindung dan penolong bagimu.” (QS. Al-Baqarah: 120)

Pakar tafsir Imam Fakhruddin al-Razi menjelaskan bahwa akrab dengan non-Muslim yakni percaya dan memberi bantuan serta pertolongan karena hubungan kekerabatan atau cinta kasih sesama manusia hukumnya dilarang meskipun tetap meyakini agama mereka keliru, karena interaksi semacam ini dapat menggiring umat Islam untuk menganggap benar ajaran agama mereka (pluralisme agama). (Fakhruddin al-Razi, al-Tafsir al-Kabir, juz 4 hlm. 168)

Dari keterangan diatas, dapat diketahui bahwa ternyata berabad-abad silam umat Islam sudah diperingatkan oleh Al-Quran tentang bahaya laten pluralisme agama yang diselundupkan dalam berbagai kegiatan lintas keagamaan. Sampai sekarang pun, kegiatan lintas agama seperti acara bukber diatas juga tidak lepas dari propaganda cinta dan kasih sayang antar pemeluk agama (pintu masuk pluralisme dan pemurtadan).

Pakar hukum Islam al-Bujairimi menegaskan bahwa haram hukumnya berkasih sayang dengan non-Muslim. Jika ditanyakan bahwa mukhalathah (berbaur) dengan non-Muslim hukumnya hanya makruh, beliau menjawab bahwa berbaur dengan non-Muslim hanya pada hal-hal zahir duniawi, sedangkan kasih sayang kepada non-Muslim berimbas pada pemihakan hati kepada mereka. (al-Bujairimi, al-Hasyiyah ‘ala al-Khathib, juz 4 hlm. 292) Bandingkan keterangan ulama pakar Fiqh ini dengan berbagai pernyataan para “pejuang bukber lintas agama” tentang kasih sayang sesama manusia tanpa pandang agama.

Tentu sebagian orang akan berkata, “Lho, kami kan hanya duduk dan makan bersama-sama. Bedanya kami yang Muslim ini niatnya buka, yang non-Muslim hanya makan biasa.” Pernyataan seperti ini tentu sangat aneh. Jika memang mereka hanya ingin duduk dan makan bersama, mengapa hal itu diusahakan berlangsung di dalam gereja dan tidak di restoran atau warung makan? Mengapa acara tersebut dibuat secara seremonial dan diteruskan dengan dialog antarumat beragama? Mengapa harus ada Muslim yang memberi ceramah di podium  gereja dan menganjurkan agar semua mementingkan kasih sayang tanpa pandang agama? Orang yang cerdas tentu dapat menilai ada sesuatu di balik semua ini.

Dalam beberapa perkara yang bukan agama saja, interaksi yang disinyalir terdapat pengagungan dan penghormatan terhadap agama lain hukumnya haram bagi Muslim. Contohnya seperti membantu keperluan natal kepada non-Muslim (Is’ad al-Rafiq, juz 2 hlm. 93), mengosongkan jalan untuk non-Muslim (Tuhfah al-Muhtaj, juz 9 hlm. 299), menunjukkan jalan menuju gereja (Fatawi al-Fiqhiyyah al-Kubra, juz 4 hlm. 248), dan lain sebagainya. Apalagi ini adalah acara berbuka yang menjadi rangkaian ibadah puasa Ramadhan kaum Muslimin. Muslim yang agamanya kuat tidak akan mengikuti acara “agama gado-gado” semacam ini.

Kedua: Mengutamakan Kebersamaan dengan Penganut Agama Lain

Pejuang bukber lintas agama lainnya beralasan bahwa acara tersebut sebagai bentuk kerukunan dan kebersamaan. “Umat Muslim selalu mengutamakan kebersamaan dengan penganut agama lain dan melindungi minoritas. Nabi Muhammad diutus untuk melindungi seluruh makhluk hidup,” katanya. (www.idntimes.com)

Jika para pejuang bukber lintas agama tersebut selalu mengutamakan kebersamaan dan melindungi minoritas, mengapa tidak dilaksanakan saja bersama fakir miskin, yatim piatu, anak-anak jalanan, dan gelandangan yang jelas lebih membutuhkan uluran tangan kaum Muslimin lainnya yang berkecukupan? Apalagi di beberapa daerah di Jawa Tengah kemarin banyak saudara-saudara Muslim kita yang tertimpa musibah banjir dan longsor yang menimbulkan banyak korban dan meludeskan harta benda masyarakat. Mengapa yang diajak buka bersama malah orang-orang yang tidak ada kepentingan berbuka puasa seperti non-Muslim, apalagi dibuatkan serangkaian acara lintas agama dengan diisi nyanyi-nyanyian Kristen dan tempatnya pun berada di gereja?
Alangkah lebih bijaksananya jika acara buka bersama ini dilaksanakan bersama Muslim lainnya yang membutuhkan uluran tangan kita, bukannya dengan non-Muslim yang tidak berkepentingan untuk berbuka puasa. Selain sudah melanggar larangan Al-Quran, tujuan mereka untuk menjalin kebersamaan juga sangat dipertanyakan.

Bersambung…

Abah Najih: Begini Lho Arti Rahmatan lil Alaminnya Islam

images.jpg

وَلَقَدْ كَتَبْنَا فِي الزَّبُورِ مِنْ بَعْدِ الذِّكْرِ أَنَّ الْأَرْضَ يَرِثُهَا عِبَادِيَ الصَّالِحُونَ (105) إِنَّ فِي هَذَا لَبَلَاغًا لِقَوْمٍ عَابِدِينَ (106) وَمَا أَرْسَلْنَاكَ إِلَّا رَحْمَةً لِلْعَالَمِينَ (107)

“Dan sungguh Telah kami tulis didalam Zabur sesudah (Kami tulis dalam) Lauh Mahfuzh, bahwasanya bumi Ini dipusakai hamba-hambaKu yang saleh. Mereka berkata: “Ya Tuhan kami, kami Telah dikuasai oleh kejahatan kami, dan adalah kami orang-orang yang sesat. Ya Tuhan kami, keluarkanlah kami daripadanya (dan kembalikanlah kami ke dunia), Maka jika kami kembali (juga kepada kekafiran), Sesungguhnya kami adalah orang-orang yang zalim.” (QS. Al Anbiyaa’:105-107)

Syaikh Muhammad Najih menjelaskan tentang kandungan makna dalam ayat tersebut dalam pengajian tafsir beliau. Beliau pertama-tama menjelaskan bahwa pada lafadl أَنَّ الْأَرْضَ يَرِثُهَا عِبَادِيَ الصَّالِحُونَ maksud ayat ini adalah Allah Ta’ala mewariskan daerah-daerah orang kafir kepada hamba-hambaNya yang shalih, yitu kaum muslimin yang kuat imannya dan berjihad untuk menaklukkan daerah tersebut. Janji Allah tersebut beserta seluruh isi Al Quran menjadi sumber inspirasi dan harapan bagi kaum muslimin yang mengamalkan ajarannya. (إِنَّ فِي هَذَا لَبَلَاغًا لِقَوْمٍ عَابِدِينَ)

Lalu Syaikh Muhammad Najih menjelaskan tentang makna kedatangan Nabi Muhammad yang membawa ajaran Islam sebagai rahmatan lil ‘alamin (rahmat semesta alam). Beliau memaparkan bahwa yang dimaksud dengan rahmat dalam ayat tersebut adalah دفع العذاب  (menolak siksa), karena dengan kedatangan Rasulullah beserta ajaran Islam manusia dihindarkan dari siksa dunia yang ditimpakan kepada umat-umat sebelumnya seperti khasaf (ditelan bumi), isti’shal (genosida/pembunuhan massal), dan lainnya. Rahmat juga berarti jihad meninjau arti ayat sebelumnya bahwa Allah mewariskan tanah orang-orang kafir kepada kaum muslimin.

Setelah orang-orang memeluk Islam, maka Islam berkembang begitu pesat dan menjadi satu kekuatan peradaban yang mampu menaklukkan imperium-imperium besar dunia dalam waktu yang begitu cepat. Tidak lama setelah Nabi wafat umat Islam mengusir tentara Romawi dan menduduki Syria. Di zaman Umar Ibn Khaththab kekaisaran Persia ditaklukkan dan Palestina dikuasai. Pada awal abad ke delapan Spanyol dibawah kerajaan Hispania yang dikuasai oleh orang Kristen Visigoth ditundukkan oleh Tariq bin Ziyad. Di Mesir Muslim dibawah komando Amr bin al-As memukul mundur pasukan Byzantium dan mengusai orang-orang Kristen Coptic. Pada abad ke 15 Konstantinople, salah satu bagian dari kekaisaran Romawi ditaklukkan panglima muda al-Fatih. Di dunia Melayu umat Islam mengusir kepercayaan animism, dinamisme dan agama-agama kultural lainnya.

Istilah-istilah mengusir, menduduki, menaklukkan, menguasai, mendesak dan sebagainya adalah bahasa politik dan bersifat negatif.  Tapi apa yang sebenarnya terjadi jauh dari kesan itu. Sebab ketika Islam masuk Syria orang-orang Kristen yang merasa selamat dari Romawi dan Yunani. Michael the Elder, Patriach dari Jacobus mengakui Tuhan telah membangkitkan putera-putera Ismail dari Selatan (maksudnya Muslim) untuk menyelamatkan kita dari Romawi.

Pada waktu Umar memasuki Yerussalem ia menandatangai perjanjian. Diantara isinya:gereja tidak akan dirubah menjadi tempat kediaman, tidak akan dirusak, salib-salib atau harta mereka tidak akan diganggu dan tidak seorangpun diantara mereka akan dianiaya. Orang tidak pernah konflik dengan umat Kristen. Justru konflik antar sekte di Gereja Holy Sepulchre, atau the Church of the Resurrection didamaikan orang Islam. Anehnya, Bernard Lewis, seorang politikus terkemuka yang menentukan kebijakan ppolitik luar negeri AS menganggap toleransi dalam Islam tidak ada asal usulnya. Ia mengatakan bahwa Muslim –dalam jumlah yang signifikan, baik yang fundamentalis maupun yang tidak adalah jahat dan berbahaya, bukan karena Barat membutuhkan musuh, tetapi karena mereka memang seperti itu. (The Crisis of Islam, hal. 24)

Padahal, realita yang ada justru peradaban kafirlah yang tidak toleran dan menjadi momok berbahaya bagi umat manusia. Setelah imperium Romawi diperintah oleh kuasa gereja, pada abad X mereka mebuat lembaga inquisisi yang merupakan instrumen teror dalam tubuh gereja Katholik yang paling jahat sampai abad XVII. Robert Held, dalam bukunya, Inquisition, memuat foto-foto dan lukisan-lukisan yang sangat mengerikan tentang kejahatan Inquisisi yang dilakukan tokoh-tokoh gereja ketika itu. Dia paparkan lebih dari 50 jenis dan model alat-alat siksaan yang sangat brutal, seperti pembakaran hidup-hidup, pencungkilan mata, gergaji pembelah tubuh manusia, pemotongan lidah, alat penghancur kepala, pengebor vagina, dan berbagai alat dan model siksaan lain yang sangat brutal. Ironisnya lagi, sekitar 85 persen korban penyiksaan dan pembunuhan adalah wanita. Antara tahun 1450-1800, diperkirakan antara dua-empat juta wanita dibakar hidup-hidup di daratan Katholik maupun Protestan Eropa.

Salah satu kisah paling mengerikan adalah pembantaian  kaum Protestan –terutama Calivinistis- di paris, oleh kaum Katholik tahun 1572 yang dikenal dengan “The St. Bartholomew’s Day Massacre”. Diperkirakan  10.000 orang mati. Selama berminggu-minggu jalan-jalan di Paris dipenuhi dengan mayat-mayat laki-laki, wanita, dan anak-anak, yang membusuk.

Pada masa Perang Salib (Crusade), kaum Kristen juga membantai umat Islam di Jerusalem habis-habisan tanpa ampun. Seorang tentara Salib menulis dalam Gesta Francorum, bagaimana perlakuan tentara Salib terhadap kaum muslimin dan penduduk Jerusalem lainnya dengan menyatakan, “Belum pernah seorang menyaksikan atau mendengar pembantaian terhadap ‘kaum pagan’ yang dibakar dalam tumpukan manusia seperti piramid dan hanya Tuhan yanh tahu berapa jumlah mereka yang dibantai.” Diperkirakan penduduk Jerusalem yang dibantai pasukan Salib sekitar 30.000 orang. Hampir semua penduduknya dibantai. Laki-laki, wanita, anak-anak, tanpa pandang bulu dibantai di jalan-jalan, lorong-lorong, rumah-rumah, dan di mana saja mereka temui. Para tawanan pasukan Salib kemudian dipaksa membersihkan jalanan, rumah, dan halaman Haram al Syarif, dari puluhan ribu mayat manusia. Beberapa bulan setelah peristiwa pembantaian tersebut, bau mayat manusia yang membusuk masih menyengat udara Kota Jerusalem.

Anehnya lagi, istilah rahmatan lil ‘alamin digunakan sebagai slogan untuk memasarkan dan melegitimasi liberalisasi Islam oleh sebagian kalangan muslim yang dangkal pemahaman agamanya dan pro pemikiran orientalis Barat. Musdah Mulia, dosen UIN Jakarta, menulis makalah yang berjudul Islam Agama Rahmat bagi Alam Semesta. Ia menulis, ““Menurut hemat saya, yang dilarang dalam teks-teks suci tersebut lebih tertuju kepada perilaku seksualnya, bukan pada orientasi seksualnya. Mengapa? Sebab, menjadi heteroseksual, homoseksual (gay dan lesbi), dan biseksual adalah kodrati, sesuatu yang “given” atau dalam bahasa fikih disebut sunnatullah. Sementara perilaku seksual bersifat konstruksi manusia… Jika hubungan sejenis atau homo, baik gay atau lesbi sungguh-sungguh menjamin kepada pencapaian-pencapaian tujuan dasar tadi maka hubungan demikian dapat diterima.”

Islam sebagai rahmatan lil ‘alamin juga sering disalahpahami sebagai Islam yang toleran terhadap segala hal termasuk dalam masalah kemusyrikan dan kekufuran. Ulil Abshar Abdalla berkata, “Semua agama sama. Semuanya menuju jalan kebenaran. Jadi, Islam bukan yang  paling benar.” Nurcholish Madjid menganggap pluralisme sebagai sebuah aturan Tuhan (sunnatullah) yang tidak akan berubah. Bahkan, Abdul Munir Mulkhan, dosen UIN Yogya, telah mampu melihat ‘surga’ yang memiliki banyak ‘kamar’ dan ‘pintu’ bagi tiap-tiap pemeluk agama apa pun, asal dia mampu membebaskan manusia dari kelaparan dan inhumanitas serta mau berdialog dengan pemeluk agama lain. Luthfi Assyaukani menganggap percaya kitab suci, Nabi, Malaikat, dan konsep agama hanya lainnya menjadi tidak penting.

Maka, Islam akan selalu menjadi rahmat bagi semesta tanpa harus mengorbankan keimanan dan ketakwaan. Islam dalam sejarah dunia akan selalu membawa nilai-nilai universal yang toleran dan membawa kedamaian bagi pemeluk agama lain tanpa harus mencampuradukkan kepercayaan dan akidah mereka. Wallahu A’lam.

KONSEP PENDIDIKAN SYAIKH MUHAMMAD NAJIH MAIMOEN: KONSISTEN TERHADAP WARISAN ULAMA

abahSyaikh Muhammad Najih Maimoen dikenal sebagai sosok yang begitu getol dan istiqomah dalam mempertahankan nilai-nilai dan ajaran-ajaran Islam yang diwarisi dari para ulama Ahlussunnah Wal Jama’ah. Beliau menyiarkan secara konsisten ilmu-ilmu warisan ulama salafusshalih dalam setiap pengajian, ceramah, dan kajian ilmiah beliau yang lain dalam Aqidah, Fiqh, Tafsir, Hadits, Tashawwuf, dsb serta selalu memberikan penjelasan dan pelurusan yang diperlukan dalam memahami kitab-kitab. Beliau begitu perhatian terhadap permasalahan-permasalahan dalam dunia Islam dan Barat yang terungkap dalam berbagai pemikiran beliau, salah satunya dalam ilmu pendidikan.

Seiring dengan pesatnya laju modernisasi Barat yang terpengaruh dengan nilai-nilai liberal dan sekuler dimana banyak para cendekiawan muslim terpengaruh bahkan taklid buta dengan paradigma Barat, Syaikh Muhammad Najih Maimoen masih mempertahankan ajaran-ajaran dan metodologi pendidikan ulama salaf yang terhimpun dalam suatu pendidikan yang bernama pesantren.

Pesantren merupakan sebuah lembaga pendidikan yang tidak hanya mendidik kecerdasan intelektual dan emosional semata, namun juga kecerdasan spiritual. Pesantren salaf merupakan salah satu lembaga pendidikan Islam yang sangat relevan dengan zaman dalam mempersiapkan ulama masa depan sekaligus sebagai garda depan dalam memfilter dampak negatif kehidupan modern.

Menurut beliau, tujuan seorang santri untuk mondok adalah semata untuk mendapatkan keselamatan di dunia dan akhirat yang diraih dengan konsistensi dan mempertahankan keyakinan dan pengamalan ajaran Islam yang benar sesuai tuntutan para ulama. Santri harus belajar lillahi Ta’ala, tidak boleh karena ingin mendapatkan keramat, kedudukan tinggi, pengaruh di masyarakat, bahkan hanya untuk mencari imbalan harta, karena hal itulah yang sebenarnya menjadi ancaman serius bagi para santri dalam beristiqamah dengan ajarn Islam sehingga akhirnya terseret dalam tindakan-tindakan khurafat, bid’ah-bid’ah buruk, bahkan liberal dan sekuler.

Ketika banyak cendekiawan muslim seperti Muhammad Abduh, Fazlur Rahman, dan Wahid Hasyim menekankan intregasi pendidikan agama dengan pendidikan umum dalam satu lembaga, Syaikh Muhammad Najih Maimoen tetap membela sistem pembelajaran di pesantren salaf yang bersumber dari kitab-kitab para ulama salaf meski juga tetap membolehkan adanya sistem klasikal seperti halnya kebijakan para kyai-kyai pendahulu.

Ilmu agama di pesantren salaf yang sudah mapan selama berabad-abad lamanya tidak perlu dicampur dengan ilmu-ilmu umum yang biasa diajarkan di sekolah-sekolah umu seperti IPA, IPS, Bahasa Inggris, sosiologi, dsb kecuali sebagai penunjang seperlunya terhadap pelajaran-pelajaran di pesantren. Kelembagaan pendidikan umum dan pendidikan agama di pesantren harus terpisah. Meski bagi kebanyakan pemikir muslim bersifat dikotomis, kebijakan ini sangatlah sesuai karena kebanyakan lembaga pendidikan yang mencampur antara pelajaran umum dan agama menelurkan lulusan yang mentah dalam keduanya. Selain itu, pelajaran-pelajaran umum yang diajarkan di sekolah juga banyak mengandung unsur-unsur peradaban Barat seperti sekularisme, liberalisme, feminisme, dsb.

Pendidikan yang diajarkan oleh Syaikh Muhammad Najih Maimoen adalah perpaduan antara ilmu, amal, dan adab. Beliau menekankan pengajaran yang mampu menguatkan iman, menstimulasi pengamalan ilmu, serta mementingkan adab terhadap ilmu dan para ulama. Kombinasi tiga komponen inilah yang menjadikan pendidikan yang dilakukan beliau menjadi unik dan jarang ditemukan di lembaga pendidikan bahkan pesantren lain.

Keteguhan beliau dalam mempertahankan eksistensi pendidikan pesantren salaf ini selain sebagai rasa hormat dan loyalitas meneruskan perjuangan para ulama terdahulu, juga karena fakta bahwa pendidikan pesantren telah berdiri kokoh selama berabad-abad lamanya dan tetap akan selalu eksis dan relevan terhadap kebtuhan dan pembangunan masyarakat yang menjunjung tinggi nilai-nilai Islam.

PERNYATAAN SIKAP KH. M. NAJIH MAIMOEN

Kami sangat menyayangkan langkah pemerintah Indonesia memberikan izin import daging beku dari Australia yang katanya bertujuan untuk menstabilkan harga daging sesuai dengan target Presiden Joko Widodo sebesar Rp 80 ribu per kilogram di bulan Ramadhan tahun ini.

Kebijakan ini tentu melukai hati peternak nasional dan semakin memperlihatkan wajah asli rezim kepala besi yang tidak pro rakyat. Kami menilai penurunan harga daging sapi sangat tidak memihak kepada peternak lokal sehingga langkah impor tersebut sangat disayangkan.

Menteri Perdagangan Thomas Lembong setelah menggelar rapat koordinasi dengan sejumlah kementerian di Gedung Kementerian Pertanian, Selasa, 31 Mei 2016, menegaskan “Untuk mencapai target presiden, kami akan terus menambah pasokan daging dan impor daging sapi”. Menurut dia, saat ini sudah terkumpul 27.400 ton daging sapi dari berbagai negara. Ia menyebutkan Australia adalah pemasok utama daging sapi mentah dan potong saat ini”, demikian Tempo mewartakan.

Penstabilan harga adalah bentuk pengelabuhan dan penipuan, bahkan menjadi kedok pemerintah dalam mengimplementasikan ide sosialis-komunis di negeri ini. Dengan kebijakan diatas, seolah-olah peternak tidak boleh mendapatkan laba banyak alias tidak boleh kaya, sehingga bisa disimpulkan kebijakan-kebijakan pemerintah sekarang adalah menghalang-halangi rakyatnya menjadi kaya, dan mengeksploitasi kekayaan negeri hanya untuk pemerintah, inilah hakikat Sosialisme-Komunisme-nya Karl Max, Lenin, Stalin, dan Mao Tse Tung.

Seharusnya pemerintah menangkap mafia-mafia pasar, mencegah terjadinya penimbunan, dan melakukan operasi pasar secara berkala. Kemudian pemerintah harus bisa mengendalikan harga pupuk, sentrat dan obat-obatan untuk tumbuhan dan hewan ternak, sehingga petani, peternak dan pembeli berimbang pendapatannya. Karena sudah menjadi rahasia umum, cukong-cukong china bermain licik di balik ekonomi Indonesia.

Aroma komunisme sangat kental mewarnai kebijakan pemerintah Indonesia saat ini. Bagaimana tidak, baru kali ini ada presiden Indonesia melarang TNI dan Polri melakukan Sweping terhadap orang-orang yang mengkampanyekan PKI, padahal UUD sudah jelas melarang PKI, apa pak presiden merasa berhasil jika bahaya laten PKI bangkit kembali di bumi pertiwi?!, sungguh mencengangkan.

Meski Panglima TNI Gatot Nurmantyo menegaskan PKI tidak akan bangkit kembali di bumi pertiwi, namun perlu diketahui, bahwa kader-kader partai politik nasionalis bahkan mungkin partai Islam banyak sekali yang terjangkit virus komunisme, jadi bukan tidak mungkin bendera PKI akan berkibar dikemudian hari, dan pemerintah tidak menyadari hal ini.

Sebagai negara berpenduduk mayoritas muslim, pemerintah Indonesia dituntut lebih hati-hati dalam urusan makanan (ikhtiyath). Dalam tinjauan Fiqh Islam, import daging (Sapi, Kambing, Ayam dst) dari luar negeri sangat beresiko, pertama memandang tata cara  penyembelihannya yang tidak sesuai aturan syar’i, yakni dengan menggunakan mesin (ada unsur mencekik), kedua melihat penyembelihnya yang berstatus non muslim yang bukan ahli kitab, sembelihan model seperti ini jelas diharamkan oleh Fiqh Islam.

Pemerintah juga dituntut untuk lebih fokus menjaga konsumsi rakyat muslim agar benar benar halal dan steril dari daging daging yang diharamkan seperti babi, anjing dan sejenisnya. Oleh karena itu, segala produk makanan terlebih obat masak, seperti Ajinomoto yang disinyalir ada campuran babinya harus ditindak tegas. Inilah hak hak konstitusional umat Islam sebagai penduduk mayoritas negeri yang harus dipenuhi pemerintah.

Akibat kelalaian pemerintah dalam menjaga kehalalan makanan penduduk mayoritas, umat Islam Indonesia mengalami degradasi aqidah (terpengaruh ide Sekulerisme, Liberalisme, dan pluralisme, kalah dengan kristenisasi dan komunisme, dan lebih mengidolakan pemimpin kafir daripada pemimpin muslim, dan luntur ghiroh Islamiyahnya), kelemahan dalam mempertahankan syi’ar syi’ar Islam seperti masjid, majlis ta’lim, dan kuburan para wali, padahal semua itu adalah saksi sejarah peradaban Islam Indonesia. Apalagi para remaja Muslim Indonesia yang semakin rusak moralnya. Pembunuhan, pemerkosaan, penggunaan Narkoba dan Miras semakin hari semakin menunjukkan angka kenaikannya yang signifikan.

Krisis sosial ini bukan hanya tanggung jawab pemerintah saja akan tetapi seluruh elemen masyarakat, termasuknya para ulama dan tokoh masyarakat agar lebih istiqomah memberi suri tauladan yang baik dan tahdzir kepada umat akan bahaya penyakit sosial (Pembunuhan, Perzinaan, Miras, Narkoba).

Umat Islam Indonesia harus divaksin Sholat berjamaah di Masjid, Ngaji Al-Quran, memperbanyak sholat sunnah, Ngaji Syari’at Islam dengan karya karya imam imam umat Islam, Ngaji di Madrasah diniyah, dan pengamalan  dengan ikhlas terhadap semua ilmu yang sudah dipelajari. Dengan demikian, haqqul yakin kemakmuran dan kesejahteraan rakyat Indonesia akan segera terealisasi, karena Allah SWT berfirman:
إن الصلاة تنهى عن الفحشاء والمنكر

{وَلَوْ أَنَّ أَهْل الْقُرَى} الْمُكَذِّبِينَ {آمَنُوا} بِاَللَّهِ وَرُسُلهمْ {وَاتَّقَوْا} الْكُفْر وَالْمَعَاصِي {لَفَتَحْنَا} بِالتَّخْفِيفِ وَالتَّشْدِيد {عَلَيْهِمْ بَرَكَات مِنْ السَّمَاء} بِالْمَطَرِ {وَالْأَرْض} بِالنَّبَات

Sarang, 1 Juni 2016
KH. M. Najih Maimoen

Atas ↑

%d blogger menyukai ini: