Nilai-nilai Aswaja dalam Realitas ke-Indonesiaan

Salah satu agenda besar dalam kehidupan berbangsa dan bernegara adalah menjaga persatuan dan kesatuan dan membangun kesejahteraan hidup bersama seluruh warga negara dengan berbagai elemen masyarakat yang telah ada.

Problem yang tak kunjung usai dalam menjaga dan melestarikan keutuhan dan kesejahteraan adalah masalah kerukunan sosial, termasuk di dalamnya ialah hubungan antara agama dan kerukunan hidup umat
beragama.

Persoalan ini semakin krusial karena terdapat serangkaian kondisi sosial yang menyuburkan konflik, sehingga terganggu kebersamaan dalam membangun keadaan yang lebih dinamis dan kondusif.

Demikian pula kebanggaan terhadap kerukunan yang telah dirasakan
selama berpuluh-puluh tahun mengalami degradasi, bahkan menimbulkan kecemasan terjadinya disintegrasi bangsa.

Masyarakat Indonesia dikenal sebagai masyarakat majemuk (pluralistic society). Hal tersebut dapat dilihat
pada kenyataan sosial dan semboyan Bhinneka Tunggal Eka (berbeda-beda namun satu jua). Kemajemukan masyarakat Indonesia ditandai oleh
berbagai perbedaan tapi bukan berarti itu menjadi jurang pemisah akan tetapi menjadi kesatuan yang utuh.

Oleh karenanya semua usaha dilakukan dalam membangun budaya dan kerukunan beragama akan terwujud jika masing-masing masyarakat telah dapat menerima bahwa keragaman, kemajemukan itu adalah suatu keniscayaan.

Dalam konteks berbangsa dan bernegara (sosial kemasyarakatan) Ahlussunnah wal Jama’ah mengakui
realitas kemajemukan atau pluralistik. Terbukti tatkala tercetus Piagam Madinah, Kanjeng Nabi Muhammad SAW menjumpai adanya pemeluk Yahudi, Nasrani, beliau tetap
menegaskan, bahwa Islam adalah satu-satunya agama yang benar. Bahkan beliau mengirim surat ke beberapa
Raja Eropa, seperti Heraklius, Muqauqis berupa ajakan untuk memeluk agama Islam.

Abu Sufyan RA berkata: Kanjeng Nabi Muhammad SAW mengirimkan surat kepada Raja Hiraklius yang artinya: “Hai ahli Kitab, Marilah (berpegang) kepada
suatu kalimat (ketetapan) yang tidak ada perselisihan antara Kami dan kamu” (HR. Bukhori)

Rasulullah SAW mengutus Hatib bin Abi Balta’ah alLakhmi kepada al-Muqouqis, selaku raja Iskandariyah, pembesar suku Qibthi, agar mengajaknya masuk agama Islam dan mengirimkan surat kepadanya.

Kanjeng Nabi Muhammad SAW juga melakukan pergaulan sosial secara baik dengan komunitas orang kafir
(ahli kitab), seperti Kristen Najron, Yahudi Madinah sebelum mereka mengkhianati Perjanjian Madinah atau yang dikenal dengan Piagam Madinah. Namun, setelah mereka mengkhianati perjanjian tersebut, Kanjeng Nabi
SAW menerapkan kebijakan yang berbeda-beda.

Terhadap Bani Qoinuqo’ dan Bani Nadlir, Kanjeng Nabi Muhammad SAW memerangi dan mengusir mereka dari
Madinah, terhadap Bani Quroidloh, beliau memerangi dan menumpas mereka. Begitu juga mertua Kanjeng Nabi SAW sendiri yang bernama Huyay bin al-Akhthob yang merupakan tokoh Yahudi Bani Quroidhoh terbunuh dalam
perang khandaq, kemudian putrinya, Shofiyyah yang suaminya Kinanah bin Rabi’ bin Abil Huqaiq yang terbunuh di
perang Khaibar diperistri kanjeng Nabi Muhammad SAW.

Konsep yang sudah mapan dan sempurna itu kini diserang dan dilemahkan serta dikaburkan melalui isu-isu kebangsaan, kebhinekaan, NKRI harga mati yang dibumbui dengan paham pluralisme agama. Isu-isu
tersebut kini sudah menjadi serangan pemikiran terhadap keharmonisan dan keseimbangan ajaran Ahlussunnah wal
Jama’ah yang mengandung ajaran selalu dalam garis tengah, tidak ekstrim pada salah satu pandangan, tidak matrealistis, kapitalis, liberalis dan tidak pula sosialis.

Ahlussunnah wal Jama’ah memandang hidup secara utuh dan seimbang antara realitas dan idealitas. Kehadiran Ahlussunnah wal Jama’ah menjadikan umatnya sebagai saksi yang berada di garis tengah terhadap seluruh Aswaja sangat menjunjung tinggi konsep
kebangsaan, ke-bhinekaan, NKRI harga mati dalam konteks berbangsa dan bernegara, sosial kemasyarakatan
sebagai bentuk loyalitas tanggungjawab aswaja terhadap
stabilitas dan keutuhan NKRI serta demi mewujudkan dan menjaga persantuan dan kesatuan antar komponen bangsa Indonesia.

Namun ketika nilai-nilai kebangsaan, ke-bhinekaan dan slogan NKRI harga mati tersebut dikhianati oleh orang-orang liberal dengan dibuat kedok untuk memasarkan ide-ide pluralisme agama, maka aswaja mempunyai kewajiban untuk membendungnya serta
membentengi umat agar tidak ikut-kutan terjebak hanyut ke dalam propaganda untuk meninggalkan dan
membuang Islam dengan slogan “pluralisme agama”, dengan selalu
mengedepankan persatuan dan kesatuan umat. (21)

(21) H. Muhammad Najih Maimoen, Ancaman Liberalisme, Salafy-Wahhaby dan Sekularisme terhadap eksistensi Ahlussunnah wal Jama’ah.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s