KREASI SANTRI RIBATH DH ISLAM LIBERAL: KONSEPSI, AKTUALISASI, DAN TANGGAPANNYA (4)

Dekonstruksi Kitab Suci

Hampir satu abad lalu, para orientalis dalam bidang studi al-Qur’an bekerja keras untuk  menunjukkan bahwa al-Qur’an adalah kitab bermasalah sebagaimana Bible. Mereka tidak pernah berhasil. Tapi, anehnya, kini, imbauan itu sudah diikuti begitu banyak manusia dari  kalangan Muslim sendiri, termasuk yang ada di Indonesia. Sesuai paham pluralisme agama,  maka semua agama harus didudukkan pada posisi yang sejajar, sederajat, tidak boleh ada  yang  mengklaim lebih tinggi, lebih benar, atau paling benar sendiri. Begitu juga dengan pemahaman tentang Kitab Suci. Tidak boleh ada kelompok agama yang mengklaim hanya kitab sucinya saja yang suci. 
Maka, proyek liberalisasi Islam tidak akan lengkap jika tidak menyentuh aspek kesucian  al-Qur’an. Mereka berusaha keras untuk meruntuhkan keyakinan kaum Muslim, bahwa al-Qur’an adalah Kalamullah, bahwa al-Qur’an adalah satu-satunya Kitab Suci yang suci, bebas  dari kesalahan. Mereka mengabaikan bukti-bukti al-Qur’an yang menjelaskan tentang  otentisitas  al-Qur’an,  dan  kekeliruan  dari  kitab-kitab  agama  lain.  Ulil  Abshar Abdalla, mantan Koordinator Jaringan Islam Liberal menulis di Harian Jawa Pos, 11 Januari 2004: “Tapi, bagi saya, all scriptures are miracles, semua kitab suci adalah mukjizat. (Jawa Pos, 11 Jan. 2004).
Kaum Islam Liberal menggulirkan asumsi bahwa al Quran adalah buatan Muhammad dan mempunyai  kedudukan sama dengan kitab suci lainnya. Aktivis Islam Liberal, Dr.  Luthfi Assyaukanie berusaha membongkar konsep dasar Islam tentang al-Qur’an: 
“Sebagian besar kaum Muslim meyakini bahwa AlQuran dari halaman pertama hingga  terakhir merupakan kata-kata Allah yang diturunkan kepada Nabi Muhammad secara  verbatim, baik kata-katanya (lafdhan) maupun maknanya (ma’nan). Kaum Muslim juga  meyakini bahwa Alquran yang mereka lihat dan baca hari ini adalah persis sama seperti yang ada pada masa Nabi lebih dari seribu empat ratus tahun silam. Keyakinan semacam itu sesungguhnya lebih merupakan formulasi dan angan-angan  teologis  (al-khayal  al-dini) yang dibuat oleh para ulama sebagai bagian dari formalisasi doktrin-doktrin Islam. Hakikat dan sejarah penulisan AlQuran sendiri sesungguhnya penuh dengan berbagai nuansa yang delicate (rumit), dan tidak sunyi dari perdebatan, pertentangan, intrik (tipu daya), dan rekayasa.” (lihat: Abd. Muqsith Ghazali (ed), Ijtihad Islam Liberal, hal.1)
Sumanto  Al-Qurtubhy, alumnus Fakultas Syariah IAIN Semarang menulis:
“Dengan demikian, wahyu sebetulnya ada dua: “wahyu verbal” (“wahyu eksplisit”  dalam bentuk redaksional bikinan Muhammad) dan “wahyu non verbal” (“wahyu implisit” berupa konteks sosial waktu itu).” (Jurnal Justisia Fakultas Syariah IAIN Walisongo Semarang, edisi 27/2005)
Pendapat yang menyamakan al­Qur’an dengan teks­teks lain tidaklah tepat. Sebab, al Qur’an bukanlah kata­kata Muhammad tetapi bersumber dari Allah. Al-Qur’an adalah wahyu Allah swt yang menjadi petunjuk (hudan) dan rahmat dan kabar  gembira bagi kaum Muslimin, (QS. 16:89),  yang mengeluarkan manusia dari kegelapan  menuju cahaya. (QS. 14:1) Al-Qur’an bukan perkataan Muhammad saw, (QS. 69:44-46) bukan juga perkataan  seorang penyair, (QS. 37:36) tukang tenun, (QS. 52:29) atau orang gila. (QS.15:6) Sekalipun  manusia dan jin berkumpul, mereka tidak akan bisa membuat al-Qur’an. (QS. 17:88)
Al Quran juga dipandang sebagai produk budaya Arab Jahiliyyah yang diberi legitimasi sebagai agama untuk mengukuhkan hegemoni kaumnya. Nasr Hamid Abu Zayd, seorang intelektual asal Mesir, berpendapat bahwa al Quran adalah “produk budaya” (muntaj tsaqafy). Artinya, teks al Quran, kata dia, terbentuk dalam realitas dan budaya, selama lebih dari 20 tahun. Namun, al Quran juga mengubah budaya, karena ia juga produsen budaya (muntij li al tsaqafah). Al Quran menjadi teks yang hegemonik dan menjadi rujukan bagi teks yang lain. (Mafhum al Nash: Dirasah fi ‘Ulum al Quran, Beirut: 1994)
Selain Nasr, Mohammed Arkoun, seorang guru besar dalam pemikiran Islam di  Universitas Sorbon, Perancis, misalnya berpendapat Mushaf Utsmani tidak lain hanyalah hasil sosial dan  budaya  masyarakat  yang  dijadikan  “tak  terfikirkan”  disebabkan  semata-mata kekuatan dan pemaksaan penguasa resmi.  Menurut  Mohammed  Arkoun,  konsep  al-Qur’an  merupakan  hasil  rumusan  tokoh-tokoh  historis,  yang  mengangkat  statusnya menjadi  kitab  suci. (Mohammed Arkoun, “Rethinking Islam Today” dalam Mapping Islamic Studies: Genealogy, Continuity and Change, editor Azim Nanji (Berlin: Mouton de Gruyter, 1997), 237)
Pendapat Nasr Hamid problematis. Kapan al Quran menjadi produk budaya dan kapan ia menjadi produsen budaya? Pendapat bahwa al Quran adalah produk budaya bangsa Arab waktu diturunkannya adalah keliru dan ga’ nyambung, karena ketika diturunkan secara bertahap (gradual), al Quran ditentang dan menentang budaya Arab Jahiliyyah. Jadi, Al Quran bukanlah produk budaya, karena al Quran bukanlah hasil kesinambungan dari budaya yang ada. Al Quran justru membawa budaya baru dengan mengubah budaya yang ada. Ia produsen budaya dari Allah Ta’ala sebagai rahmat bagi makhluk-Nya.
Bahasa al Quran juga bukanlah teks bahasa Arab biasa. Menurut Prof. Naquib al Attas, bahasa Arab al Quran adalah bahasa Arab yang kosa katanya telah di-Islam-kan maknanya, diberi makna baru yang tidak ada pada zaman Jahiliyyah. Kata ‘karamah’, misalnya, yang sebelumnya bermakna ‘memiliki banyak anak, harta, dan karakter maskulin’, diubah al Quran dengan memasukkan unsur ketakwaan (inna akramakum ‘indaLlahi atqakum, QS. 49:13). Kata ‘ikhwah’, yang dulunya berkonotasi kekuatan dan kesombongan, diubah maknanya oleh al Quran dengan gagasan persaudaraan yang dibangun atas dasar keimanan yang lebih tinggi dari persaudaraan darah. (lihat Wan Mohd Nor Wan Daud, The Educational Philosophy and Practice of Syed Muhammad Naquib al Attas, Kuala Lumpur: ISTAC, 1998)
Kritik kalangan Islam Liberal terhadap adanya hegemoni kuasa Arab Quraisy dalam Al Quran ditarik benang lurus hingga zaman kodifikasi khalifah Abu Bakr dan Utsman ra. Menurut mereka, standardisasi mushaf yang dilakukan oleh Abu Bakr dan Utsman hanyalah merupakan upaya klan Quraisy untuk melanggengkan kuasanya atas bangsa Arab dan Islam secara umum.
Jurnal Justisia Fakultas Syariah, Edisi 23 Th XI, 2003, memuat tulisan yang secara  terang-terangan menyerang al-Qur’an dan sahabat Nabi Muhammad saw:
“Namun, setelah Muhammad wafat, generasi pasca Muhammad terlihat tidak kreatif.  Jangankan meniru kritisisme dan kreativitas Muhammad dalam memperjuangkan perubahan  realitas zamannya, generasi pasca-Muhammad tampak kerdil dan hanya mem-bebek pada apa saja yang asalkan itu dikonstruk Muhammad. Dari sekian banyak daftar ketidakkreatifan generasi pasca-Muhammad, yang paling mencelakakan adalah pembukuan Qur’an dengan  dialek Quraisy, oleh Khalifah Usman Ibn Affan yang diikuti dengan klaim otoritas  mushafnya sebagai mushaf terabsah dan membakar (menghilangkan pengaruh) mushaf-mushaf milik sahabat lain. Imbas dari sikap Utsman yang tidak kreatif ini adalah terjadinya  militerisme nalar Islam untuk tunduk/mensakralkan Qur’an produk Quraisy. Karenanya,  wajar jika muncul asumsi bahwa pembukuan Qur’an hanya siasat bangsa Quraisy, melalui Usman, untuk mempertahankan hegemoninya atas masyarakat Arab [dan Islam].”
Menganggap pembakuan bacaan zaman khalifah Abu Bakr dan Utsman ra sebagai bentuk pengukuhan hegemoni Arab Quraisy adalah sangat keliru dan tidak beradab. Abu Bakr melakukan kompilasi al Quran didorong oleh banyaknya qurra’ (para penghafal al Quran) yang wafat di medan perang Yamamah tahun 11-12 H. diperkirakan sekitar 600-700 kaum muslimin wafat dalam perang tersebut, 70 diantaranya adalah para qurra’. Dalam sebuah riwayat disebutkan bahwa qurra’ yang tersisa tinggal 4, ada yang mengatakan 7, sehingga penghimpunan al Quran tertulis menjadi keniscayaan.
Lalu pada masa selanjutnya, khalifah Utsman bin ‘Affan melakukan kodifikasi Al Quran dalam satu mushaf atas rekomendasi Hudzaifah bin al Yaman untuk mempersatukan bacaan kaum muslimin. Hal ini disebabkan adanya perbedaanbacaan diantara kaum muslimin dan mulai munculnya fanatisme buta terhadap satu bacaan yang berakibat saling berkompetisi satu sama lain dan munculnya bacaan-bacaan Al Quran yang tidak shahih sehingga dikhawatirkan munculnya perpecahan umat Islam tentang Al Quran sebagaimana terjadi pada kaum Yahudi dan Nashrani. Lalu khalifah Utsman membuat tim kodifikasi yang terdiri 4 orang yaitu Zaid bin Tsabit sebagai ketua tim, Abdullah bin Zubair, Sa’d bin Abi Waqqash, dan Abdurrahman bin al Harits. Zaid dipilih sebagai ketua tim mempertimbangkan pengalaman beliau sebagai sekretaris Nabi dalam menulis Al Quran dan keterlibatannya dalam pengumpulan Al Quran pada zaman khalifah Abu Bakr.
Dalam kodifikasi Al Quran ini ada dua rujukan standar dalam menyeleksi bacaan yang benar yaitu bacaan yang terdapat dalam mushaf Abu Bakr dan bacaan yang telah diakui dan dipersaksikan oleh minimal dua Hafizh yang adil. Maka tersusunlah Al Quran dalam satu mushaf bernama “Mushaf Imam” yang disepakati oleh kaum muslimin dan tidak ada yang menentang, termasuk Ibn Mas’ud. Meski beliau juga memiliki mushaf khusus, beliau tidak menentang mushaf hasil ijma’ para shahabat tersebut. Mushaf Imam lalu dikopi menjadi belasan eksmplar lalu dikirim ke kota-kota besar seperti Kufah, Basrah, dll.
Para shahabat saat itu menerima dengan senang hati keputusan khalifah Utsman untuk melakukan standardisasi. Menurut Mush’ab bin ‘Umair, tak ada seorangpun dari Muhajirin, Anshar, dan orang-orang yang berilmu yang mengingkari perbuatan khalifah Utsman. Shahabat Ali pun menyatakan ketika khalifah ‘Utsman membakar mushaf-mushaf, “Seandainya ia belum melakukannya, maka aku yang membakarnya.”
Maka, anggapan penulisan Al Quran sebagai pengukuhan hegemoni Arab merupakan pernyataan yang tidak beradab dan tidak sesuai fakta sejarah.
Selain permasalahan otentisitas al Quran, dalam melakukan penafsiran terhadap al Quran kalangan Islam Liberal menggugat penafsiran para ulama yang dianggap beku dan ketinggalan zaman. Nasr  Hamid berpendapat studi al-Qur’an tidak memerlukan metode yang khusus. Jika metode khusus dibutuhkan, maka hanya sebagian manusia saja yang  memiliki kemampuan yang bisa memahaminya. Manusia biasa akan tertutup untuk  memahami  teks-teks agama. Nasr Hamid menyalahkan penafsiran yang telah dilakukan oleh  mayoritas mufasir yang selalu menafsirkan al-Qur’an dengan muatan metafisis Islam. Dalam pandangan Nasr Hamid, metodologi seperti itu tidak akan melahirkan sikap ilmiah. Disebabkan status al-Qur’an sama dengan teks-teks yang lain, maka Nasr Hamid meyatakan  siapa saja bisa mengkaji al-Qur’an. Nasr Hamid menyatakan: “Saya mengkaji al-Qur’an  sebagai sebuah teks berbahasa Arab agar dapat dikaji baik oleh kaum Muslim, Kristen maupun Ateis.” (Nasr Hamid Abu Zayd, Mafhum al-Nash, hal. 24)
Pemisahan tafsir al Quran dengan metafisis (keimanan) adalah tidak tepat. dalam  menafsirkan al-Qur’an, keimanan seseorang merupakan syarat. Ini merupakan metode yang  khusus bagi yang ingin menafsirkan al-Qur’an. Al-Tabari, misalnya, menegaskan bahwa  syarat utama seorang penafsir adalah akidah yang benar dan komitmen mengikut sunnah. Orang yang akidahnya cacat tidak bisa dipercayai untuk mengemban amanah yang berkaitan  dengan urusan keduniawian apalagi urusan keagamaan.
Studi-studi kritis terhadap al Quran telah dikembangkan di Perguruan Tinggi. Nasr Hamid  yang terkenal dengan teorinya “al-Qur’an merupakan produk budaya Arab (muntaj tsaqafi) sudah memiliki sejumlah murid yang kini mengajar di sejumlah perguruan tinggi  Islam di Indonesia. Salah satu murid yang dibanggakannya adalah Dr. Nur Kholish Setiawan, yang baru saja menerbitkan disertasinya dengan  judul “Al-Qur’an Kitab Sastra Terbesar”. Buku Arkoun, Rethinking Islam, bahkan dijadikan buku rujukan utama dalam mata kuliah  “Kajian Orientalisme terhadap al-Qur’an dan Hadits” di Program Tafsir Hadits Fakultas  Ushuluddin UIN Jakarta. Padahal, dalam buku ini, Arkoun secara terang-terangan  menyesalkan, mengapa para cendekiawan Muslim tidak mau mengikuti para orientalis  Yahudi dan Kristen yang telah melakukan kritik terhadap Bible. Kajian hermeneutika sebagai metode tafsir pengganti ilmu tafsir klasik pun sudah menjadi mata kuliah wajib di Program Studi Tafsir Hadits UIN Jakarta dan sejumlah perguruan tinggi Islam lainnya. Padahal,  metode ini jelas-jelas berbeda dengan ilmu tafsir dan bersifat dekonstruktif terhadap al-Qur’an dan syariat Islam.
Kaum Muslim perlu merenungkan masalah ini dengan serius. Jika al-Qur’an dan ilmu tafsir al-Qur’an dirusak dan dihancurkan, apa lagi yang tersisa dari Islam?
Penghancuran Syariat Islam
Seperti disebutkan oleh Dr. Greg Barton, salah satu program liberalisasi Islam di  Indonesia adalah ‘’kontekstualisasi ijtihad’’. Para tokoh liberal biasanya memang  menggunakan metode ‘kontekstualisasi’ sebagai salah satu mekanisme dalam merombak  hukum Islam. Sebagai contoh, salah satu hukum Islam yang banyak dijadikan objek  liberalisasi adalah hukum dalam bidang keluarga. Misalnya, dalam masalah perkawinan antar-agama, khususnya antara Muslimah dengan laki-laki non-Muslim.
Misalnya, dalam soal perkawinan antar-agama, buku Fiqih Lintas Agama menulis:
“Soal pernikahan laki-laki non-Muslim dengan wanita Muslim merupakan wilayah ijtihadi dan terikat dengan konteks tertentu, diantaranya konteks dakwah Islam pada saat itu. Yang mana jumlah umat Islam tidak sebesar saat ini, sehingga pernikahan  antar agama merupakan sesuatu yang terlarang. Karena kedudukannya sebagai hukum  yang lahir atas proses ijtihad, maka amat dimungkinkan bila dicetuskan pendapat baru, bahwa wanita Muslim boleh menikah dengan laki-laki non-Muslim, atau pernikahan  beda agama secara lebih luas amat diperbolehkan, apapun agama dan aliran kepercayaannya…”
Padahal, perlu dicatat, larangan muslimah  menikah dengan laki-laki non-Muslim sudah menjadi Ijma’ ulama dengan dalil-dalil yang sangat meyakinkan (seperti QS 60: 10). Buku  Ensiklopedi  Ijma’ yang diterjemahkan oleh KH Sahal Mahfudz juga menyebutkan bahwa soal  ini termasuk masalah Ijma’ yang tidak menimbulkan perbedaan di kalangan kaum Muslim.  Memorandum Organisasi Konferensi Islam (OKI) menyatakan, “Perkawinan tidak sah kecuali atas persetujuan kedua belah pihak, dengan tetap memegang teguh keimanannya  kepada Allah bagi setiap muslim, dan kesatuan agama bagi setiap muslimat.”
Demikianlah cara kaum liberal dalam merombak hukum Islam, dengan mengubah metodologi ijtihad yang lebih menekankan aspek konteks, ketimbang makna teks itu sendiri. Gagasan-gagasan mereka bisa berlangsung  sangat  liar  tanpa  batasan  dan  teori  yang  jelas. Mereka bisa menyusun teori konteks itu sekehendak hati mereka. Itu bisa dilihat dalam Counter Legal Draft Kompilasi Hukum Islam yang disusun oleh Tim Pangarusutamaan Gender Departemen Agama –yang telah dibubarkan– garapan Prof. Dr. Musdah Mulia dkk.  Ada beberapa gagasan konsep hukum yang  sangat kontroversial :
Pertama, asas perkawinan adalah monogami (pasal 3 ayat 1), dan perkawinan di luar  ayat  1 (poligami) adalah tidak sah dan  harus dinyatakan batal secara hukum (pasal 3 ayat 2). Kedua, batas umur calon suami atau calon istri minimal 19 tahun (pasal 7 ayat 1). Ketiga,  perkawinan beda agama antara muslim atau muslimah dengan orang non muslim disahkan  (pasal  54). Keempat, calon suami atau istri dapat mengawinkan dirinya sendiri (tanpa wali),  asalkan calon suami atau istri itu berumur 21 tahun, berakal sehat, dan rasyid/rasyidah. (pasal 7 ayat 2). Kelima, ijab-qabul boleh dilakukan oleh istri-suami atau sebaliknya suami-istri.  (pasal 9). Keenam, masa iddah bukan hanya dimiliki oleh wanita tetapi juga untuk laki-laki.  Masa iddah bagi laki-laki adalah seratus tiga puluh hari (pasal 88 ayat 7(a)). Ketujuh, talak  tidak dijatuhkan oleh pihak laki-laki, tetapi boleh dilakukan oleh suami atau istri di depan  Sidang Pengadilan Agama (pasal 59).
Jadi, ketika hukum-hukum Islam yang sudah qath’i dirombak, maka terbukalah pintu untuk membongkar seluruh sistem nilai dan hukum dalam Islam. Dari IAIN Yogyakarta,  seorang jebolannya yang bernama Muhidin M. Dahlan, pernah menulis buku memoar berjudul “Tuhan Izinkan Aku Menjadi Pelacur” yang mengkritik hukum pernikahan dan mendukung perzinaan. Ia menulis:
Pernikahan yang dikatakan sebagai pembirokrasian seks ini, tak lain tak bukan adalah  lembaga yang berisi tong-tong sampah penampung sperma yang secara anarkis telah  membelah-belah manusia dengan klaim-klaim yang sangat menyakitkan. Istilah  pelacur dan anak haram pun muncul dari rezim ini. Perempuan yang melakukan seks  di luar lembaga ini dengan sangat kejam diposisikan sebagai perempuan yang sangat  hina, tuna, lacur, dan tak pantas menyandang harga diri. Padahal, apa bedanya pelacur  dengan perempuan yang berstatus istri? Posisinya sama. Mereka adalah penikmat dan pelayan seks laki-laki. Seks akan tetap bernama seks meski dilakukan dengan satu atau  banyak orang. Tidak, pernikahan adalah konsep aneh, dan menurutku mengerikan  untuk bisa kupercaya.”
Sungguh sangat  mengherankan, bagaimana seorang yang mengaku Islam bahkan belajar di lembaga pendidikan Islam bisa berkata seperti itu. Padahal, nash al Quran Hadits tentang haramnya perzinaan dan ancaman hukuman dunia dan siksa yang pedih bagi pelakunya sudah terlalu gamblang dan menjadi Ijma’ para ulama sejak dulu hingga sekarang. Allah Ta’ala berfirman:
وَلَا تَقْرَبُوا الزِّنَا إِنَّهُ كَانَ فَاحِشَةً وَسَاءَ سَبِيلًا
“Dan janganlah kamu mendekati zina; Sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji. dan suatu jalan yang buruk.” (QS. Al Israa’:32)
الزَّانِيَةُ وَالزَّانِي فَاجْلِدُوا كُلَّ وَاحِدٍ مِنْهُمَا مِائَةَ جَلْدَةٍ وَلَا تَأْخُذْكُمْ بِهِمَا رَأْفَةٌ فِي دِينِ اللَّهِ إِنْ كُنْتُمْ تُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ وَلْيَشْهَدْ عَذَابَهُمَا طَائِفَةٌ مِنَ الْمُؤْمِنِينَ (2) الزَّانِي لَا يَنْكِحُ إِلَّا زَانِيَةً أَوْ مُشْرِكَةً وَالزَّانِيَةُ لَا يَنْكِحُهَا إِلَّا زَانٍ أَوْ مُشْرِكٌ وَحُرِّمَ ذَلِكَ عَلَى الْمُؤْمِنِينَ
“Perempuan yang berzina dan laki-laki yang berzina, Maka deralah tiap-tiap seorang dari keduanya seratus dali dera, dan janganlah belas kasihan kepada keduanya mencegah kamu untuk (menjalankan) agama Allah, jika kamu beriman kepada Allah, dan hari akhirat, dan hendaklah (pelaksanaan) hukuman mereka disaksikan oleh sekumpulan orang-orang yang beriman. Laki-laki yang berzina tidak mengawini melainkan perempuan yang berzina, atau perempuan yang musyrik; dan perempuan yang berzina tidak dikawini melainkan oleh laki-laki yang berzina atau laki-laki musyrik, dan yang demikian itu diharamkan atas oran-orang yang mukmin.” (QS. Al Nuur:2-3)
Namun karena kadung liberal, para pendukungnya tidak mau menerima hukum yang berasal dari makna literal teks Al Quran.
Dari Fakultas Syariah IAIN Semarang, bahkan muncul gerakan legalisasi perkawinan  homoseksual. Mereka menerbitkan buku berjudul: Indahnya Kawin Sesama Jenis:  Demokratisasi dan Perlindungan Hak-hak Kaum Homoseksual. Buku ini adalah kumpulan artikel di Jurnal Justisia Fakultas Syariah IAIN Semarang edisi 25, Th XI, 2004. Dalam buku ini ditulis strategi gerakan yang harus dilakukan untuk melegalkan perkawinan homoseksual di Indonesia: 
“Bentuk riil gerakan yang harus dibangun adalah (1) mengorganisir kaum homoseksual untuk bersatu dan berjuang  merebut  hak-haknya  yang  telah  dirampas  oleh  negara,  (2) memberi pemahaman kepada masyarakat bahwa apa yang terjadi pada diri kaum homoseksual adalah sesuatu yang normal dan fithrah, sehingga masyarakat tidak mengucilkannya bahkan sebaliknya, masyarakat ikut terlibat mendukung setiap gerakan kaum homoseksual dalam menuntut hak-haknya, (3) melakukan kritik dan reaktualisasi tafsir keagamaan (tafsir kisah Luth dan konsep pernikahan) yang tidak  memihak  kaum homoseksual, (4) menyuarakan  perubahan UU Perkawinan No 1/1974 yang mendefinisikan perkawinan harus antara laki-laki dan wanita.”
Selain lembaga keluarga, kaum Islam Liberal juga mendekonstruksi hukum batas aurat laki-laki dan wanita. Muhammad Syahrur, tokoh liberal kenamaan asal Syiria berpendapat bahwa aurat tidak ada kaitannya dengan halal dan haram, baik dilihat dari dekat maupun dari jauh. Maka secara kebahasaan, aurat itu relatif. Relatifnya makna aurat ini, dia kuatkan dengan menguti Hadits Nabi saw, “Barangsiapa menutupi aurat mukmin, niscaya Allah akan menutupi auratnya.” Menurutnya, dalam hadits tersebut bukan berarti meletakkan baju hingga tidak kelihatan.
Maka Syahrur pun menegaskan bahwa, “Aurat itu datang dari rasa malu, yakni ketidaksukaan seseorang dalam menampakkan sesuatu, baik dari tubuhnya maupun perilakunya. Dan rasa malu ini relatif, bisa berubah sesuai dengan adat istiadat. Maka dada (al juyub) adalah permanen, sedangkan aurat berubah-ubah menurut zaman dan tempat.” (Nahwa Ushul Jaddah li al Fiqhi al Islami, 2000:370)
Di samping itu, Syahrur juga menafsirkan QS. Al-Ahzab:59 Hai Nabi, katakanlah kepada isteri-isterimu, anak-anak perempuanmu dan isteri-isteri orang mukmin: “Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka.” Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak di ganggu. Dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. Menurutnya: “Ayat ini didahului dengan lafadz ‘Hai Nabi’ (ya ayyuha l-nabi), yang berarti bahwa di satu sisi, ayat ini adalah ayat pengajaran (ayat al-ta’lim) dan bukan ayat pemberlakuan syariat (ayat al-tasyri’). Di sisi lain, ayat  yang  turun di  Madinah ini harus dipahami dengan pemahaman temporal (fahman marhaliyyan), karena  terkait  dengan  tujuan  keamanan  dari  gangguan  orang-orang  iseng,  ketika  para  wanita  tengah bepergian untuk suatu keperluan. Namun, syarat-syarat ini (yaitu alasan keamanan) sekarang telah hilang semuanya”. 
Karena  ayat  di  atas  adalah  ayat  al-ta’lim  yang  bersifat  anjuran,  maka  menurut  Syahrur, hendaknya  bagi  wanita  mukminah,  -dianjurkan  bukan  diwajibkan-,  untuk  menutup  bagian-bagian tubuhnya yang bila terlihat menyebabkannya dapat gangguan (al-adha). Ada dua jenis gangguan: alam (tabi’i) dan sosial (ijtima’i). Gangguan alam terkait dengan cuaca seperti suhu panas dan dingin. Maka wanita mukminah hendaknya berpakaian menurut standar cuaca, sehingga ia terhindar dari gangguan alam. Sedangkan gangguan sosial (al-adha al-ijtima’i) terkait dengan kondisi dan adat istiadat suatu masyarakat, maka  pakaian  mukminah  untuk  keluar  menyesuaikan  dengan  lingkungan  masyarakat,  sehingga  tidak mengundang cemoohan dan gangguan mereka.
Penafsiran semacam ini sangat aneh dan tidak pernah dikenal sebelumnya. Entah darimana ia mendapatkan penafsiran semacam itu. Padahal, para ulama sepakat tentang kewajiban bagi wanita untuk menutupi semua bagian tubuhnya kecuali wajah dan telapak tangan.
Allah juga memerintahkan para wanita untuk menutupi auratnya. Allah berfirman:
وَقُلْ لِلْمُؤْمِنَاتِ يَغْضُضْنَ مِنْ أَبْصَارِهِنَّ وَيَحْفَظْنَ فُرُوجَهُنَّ وَلَا يُبْدِينَ زِينَتَهُنَّ إِلَّا مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَلْيَضْرِبْنَ بِخُمُرِهِنَّ عَلَى جُيُوبِهِنَّ وَلَا يُبْدِينَ زِينَتَهُنَّ إِلَّا لِبُعُولَتِهِنَّ أَوْ آبَائِهِنَّ أَوْ آبَاءِ بُعُولَتِهِنَّ أَوْ أَبْنَائِهِنَّ أَوْ أَبْنَاءِ بُعُولَتِهِنَّ أَوْ إِخْوَانِهِنَّ أَوْ بَنِي إِخْوَانِهِنَّ أَوْ بَنِي أَخَوَاتِهِنَّ أَوْ نِسَائِهِنَّ أَوْ مَا مَلَكَتْ أَيْمَانُهُنَّ أَوِ التَّابِعِينَ غَيْرِ أُولِي الْإِرْبَةِ مِنَ الرِّجَالِ أَوِ الطِّفْلِ الَّذِينَ لَمْ يَظْهَرُوا عَلَى عَوْرَاتِ النِّسَاءِ وَلَا يَضْرِبْنَ بِأَرْجُلِهِنَّ لِيُعْلَمَ مَا يُخْفِينَ مِنْ زِينَتِهِنَّ وَتُوبُوا إِلَى اللَّهِ جَمِيعًا أَيُّهَ الْمُؤْمِنُونَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ
“Katakanlah kepada wanita yang beriman: “Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan kemaluannya, dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) nampak dari padanya. dan hendaklah mereka menutupkan kain kudung kedadanya, dan janganlah menampakkan perhiasannya kecuali kepada suami mereka, atau ayah mereka, atau ayah suami mereka, atau putera-putera mereka, atau putera-putera suami mereka, atau Saudara-saudara laki-laki mereka, atau putera-putera saudara lelaki mereka, atau putera-putera saudara perempuan mereka, atau wanita-wanita islam, atau budak- budak yang mereka miliki, atau pelayan-pelayan laki-laki yang tidak mempunyai keinginan (terhadap wanita) atau anak-anak yang belum mengerti tentang aurat wanita. dan janganlah mereka memukulkan kakinyua agar diketahui perhiasan yang mereka sembunyikan. dan bertaubatlah kamu sekalian kepada Allah, Hai orang-orang yang beriman supaya kamu beruntung.” (QS. Al Nuur:31)
Al Baghawi menjelaskan arti kata zinatahunna (perhiasaanya) dengan semua anggota tubuh kecuali wajah dan telapak tangan. (Tafsir al Baghawi, vol. 6 hal.34) Senada dengan al Baghawi, Ibnu Katsir menukil pendapat Ibnu Abbas bahwa yang dimaksud illa ma zhahara minha (kecuali yang (biasa) nampak dari padanya) adalah wajah, telapak tangan, dan cincin.(Tafsir Ibnu Katsir, vol. 6 hal. 45)
Dengan menggunakan teori batas Syahrur, apa yang disebut aurat bagi wanita menjadi sangat fleksibel dan mendorong wanita muslimah berbondong-bondong terjun ke dunia hiburan yang permisif. Mereka tidak ragu lagi berbikini di pantai-pantai maupun di pusat perbelanjaan, karena semuanya tergantung pada kondisi cuaca dan kesepakatan masyarakat setempat. Jika minoritas masyarakat ada yang mengusili wanita, maka negara bisa menugaskan polisi ‘aurat’ untuk memastikan bahwa kebebasan kaum wanita berekspresi di ruang publik terlindungi dengan baik.
Permasalahan-permasalahan diatas hanyalah merupakan bagian kecil dari penghancuran syariat Islam yang dilakukan oleh kalangan liberal. Jika umat Islam tidak segera mengambil tindakan tegas, maka dikhawatirkan beberapa puluh tahun kemudian syariat Islam hanya tinggal namanya karena dilalap habis oleh virus liberalisme.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s