ISLAM LIBERAL: KONSEPSI, AKTUALISASI, DAN TANGGAPANNYA (1)

Hakikat

Entah mengapa Charles Kurzman dalam bukunya Wacana Islam Liberal, memulai pengantarnya dengan membantah istilah “Islam Liberal” yang merupakan judul bukunya sendiri. Menurut Kurzman, ungkapan “Islam Liberal” (liberal Islam) mungkin terdengar seperti sebuah kontradiksi dalam peristilahan (a contradiction in terms). Mungkin ia bingung dengan istilahnya sendiri: Islam kok liberal? Meski ia menjawab di akhir tulisannya bahwa istilah Islam Liberal itu tidak kontradiktif, tapi ketidakjelasan uraiannya masih tampak sana-sini.
‘Islam’ itu sendiri, secara lughawi, bermakna “pasrah”, tunduk kepada Tuhan (Allah) dan terikat dengan hukum-hukum yang dibawa Nabi Muhammad Saw. dalam hal ini, Islam tidak bebas. Tetapi, di samping Islam tunduk kepada Allah SWT, Islam sebenarnya membebaskan manusia dari belenggu peribadahan kepada manusia atau makhluk lainnya. Bisa disimpulkan, Islam itu “bebas” dan “tidak bebas”.
Untuk menghindari definisi itu, ia mengutip sarjana hukum India, Ali Asghar Fyzee (1899-1981) yang menulis, “Kita tidak perlu menghiraukan nomenklatur, tetapi jika sebuah nama harus diberikan padanya, marilah kita sebut itu sebagai Islam Liberal.”
Kemunculan istilah Islam Liberal ini, menurut Luthfi Assyaukanie salah satu pengajar di Paramadina, mulai dipopulerkan tahun 1950-an. Tapi, mulai berkembang pesat terutama di Indonesia tahun 1970-an, yaitu oleh tokoh utama dan sumber rujukan utama komunitas atau Jaringan Islam Liberal, Nurcholish Madjid. Meski dia sendiri mengaku tidak pernah menggunakan istilah Islam Liberal untuk mengembangkan gagasan-gagasan pemikiran Islamnya, tapi ia tidak menentang ide-ide Islam Liberal.
Pada 3 Januari 1970, Ketua Umum Pengurus Besar Himpunan Mahasiswa Islam Indonesia (HMI), Nurcholish Madjid, secara resmi menggulirkan perlunya dilakukan sekularisasi Islam. Dalam makalahnya yang berjudul “Keharusan Pembaruan Pemikiran Islam dan Masalah Integrasi Umat”. Ia menulis:
“…  pembaruan  harus  dimulai  dengan  dua  tindakan  yang  saling  erat  hubungannya,  yaitu melepaskan diri dari nilai-nilai tradisional dan mencari nilai-nilai yang berorientasi ke masa depan.  Nostalgia,  atau  orientasi  dan  kerinduan  pada  masa  lampau  yang  berlebihan,  harus diganti  dengan  pandangan  ke  masa  depan.  Untuk  itu  diperlukan  suatu  proses  liberalisasi. Proses  itu  dikenakan  terhadap  “ajaran-ajaran  dan  pandangan-pandangan  Islam”  yang  ada sekarang  ini…”  Untuk  itu,  menurut  Nurcholish,  ada  tiga  proses  yang  harus  dilakukan  dan saling  kait-mengait:  (1) sekularisasi,  (2)  kebebasan intelektual,  dan (3)  ‘Gagasan  mengenai kemajuan’ dan ‘Sikap Terbuka’.
Demikian seruan liberalisasi Nurcholish Madjid, di awal 1970-an. Sejak itu, banyak pihak  memanfaatkan  semangat dan  pemikiran  itu  untuk  menggulirkan  ide-ide  liberal  lebih jauh di Indonesia. Kemudian, peristiwa-peristiwa tragis dalam dunia pemikiran Islam susul-menyusul  dan  berlangsung  secara  liar,  sulit  dikendalikan  lagi.  Dan  kini,  di  tengah-tengah era liberalisasi dalam berbagai bidang, liberalisasi pemikiran Islam juga menemukan medan yang  sangat  kondusif,  karena  didukung  secara  besar-besaran  oleh  negara-negara  Barat. Dengan mengadopsi gagasan Harvey Cox –melalui bukunya The Secular City – Nurcholish Madjid  ketika  itu  mulai  membuka  pintu  masuk  arus  sekularisasi  dan  liberalisasi  dalam Islam, menyusul kasus serupa dalam tradisi Yahudi dan Kristen.
Karena itu, Islam Liberal sebenarnya “tidak beda” dengan gagasan-gagasan Islam yang dikembangkan oleh Nurcholish Madjid dan kelompoknya. Yaitu, kelompok Islam yang tidak setuju dengan pemberlakuan syariat Islam (secara formal oleh negara), kelompok yang getol memperjuangkan sekularisasi, emansipasi wanita, kesetaraan gender, “menyamakan” agama Islam dengan agama lain (pluralisme agama), memperjuangkan demokrasi Barat dan sejenisnya.
Bagi banyak kaum Kristen, sekularisasi dianggap menjadi satu keharusan yang tidak dapat ditolak. Harvey Cox membuka buku terkenalnya, The Secular City, dengan bab “The Biblical Source of Secularization”, yang diawali kutipan pendapat teolog Jerman  Friedrich Gogarten:  “Secularization  is  the  legitimate  consequence  of  the  impact  of  biblical  faith  on history.”  Bahwa  sekularisasi  adalah  akibat  logis  dari  dampak  kepercayaan  Bible  terhadap sejarah.  Menurut Cox, ada tiga komponen penting dalam Bible yang menjadi kerangka asas kepada  sekularisasi,  yaitu:  ‘disenchantment  of  nature’  yang  dikaitkan  dengan  penciptaan (Creation),  ‘desacralization  of  politics’  dengan  migrasi  besar-besaran  (Exodus)  kaum Yahudi  dari  Mesir,    dan  ‘deconsecration  of  values’  dengan  Perjanjian  Sinai  (Sinai Covenant).
Pengaruh  Cox  baru  tampak  jelas  di  Indonesia  pada  pemikiran  Nurcholish  Madjid secara  resmi  meluncurkan  gagasan  sekularisasinya  dalam  diskusi  di  Markas  PB  Pelajar Islam  Indonesia  (PII)  di  Jakarta.  Ketika  itu,  Nurcholish  meluncurkan  makalah  berjudul “Keharusan  Pembaharuan  Pemikiran  Islam  dan  Masalah  Integrasi  Umat”.    Dua  puluh tahun  kemudian,  gagasan  itu  kemudian  diperkuat  lagi  dengan  pidatonya  di  Taman  Ismail Marzuki Jakarta,  pada tanggal 21 Oktober 1992, yang dia beri judul “Beberapa Renungan tentang Kehidupan Keagamaan di Indonesia”. 
Seperti  diketahui,  arus  sekularisasi  dan  liberalisasi  terus  berlangsung    begitu  deras dalam  berbagai  sisi kehidupan: sosial, ekonomi, politik, dan bahkan pemikiran keagamaan. Kini, setelah 30 tahun  berlangsung, arus  besar  itu semakin  sulit dikendalikan, dan berjalan semakin liar. Penyebaran paham “pluralisme agama”, “dekonstruksi agama”, “dekonstruksi Kitab Suci” dan sebagainya, kini justru berpusat di kampus-kampus dan organisasi Islam – sebuah  fenomena  yang  ‘khas  Indonesia’.  Paham-paham  ini  menusuk  jantung  Islam  dan merobohkan Islam dari pondasinya yang paling dasar.

Munculnya Islam Liberal: Kasus JIL

Setelah Nurcholish Madjid gagasan sekularisasi dan ide-ide teologi inklusif-pluralis dengan Paramadina-nya, “kader-kader” Nurcholish mengembangkan gagasannya lebih intensif lewat yang mereka sebut “Jaringan Islam Liberal”. Jaringan Islam Liberal yang mereka singkat dengan JIL ini mulia aktif pada Maret 2001 lalu. Kegiatan awal mereka dengan menggelar kelompok diskusi maya (milis) yang tergabung dalam islamliberal@yahoogroups.com, selain menyebarkan gagasannya lewat website http://www.islamlib.com.
Kemunculan  JIL  berawal  dari  kongko-kongko  antara  Ulil  Abshar Abdalla (Lakpesdam NU), Ahmad Sahal (Jurnal Kalam), dan Goenawan Mohamad (ISAI) di Jalan Utan Kayu 68 H, Jakarta Timur, Februari 2001. Tempat  ini  kemudian  menjadi  markas  JIL.  Kemudian  Lutfi  asy-Syaukani, Ihsan Ali Fauzi, Hamid Basyaib, dan Saiful Mujani, menyusul bergabung.  Dalam  perkembangannya,  Ulil  disepakati  sebagai koordinator.
Gelora JIL banyak diprakarsai para mahasiswa, kolomnis, peneliti, atau jurnalis. Tujuan utamanya ialah menyebarkan gagasan Islam liberal seluas-luasnya. “Untuk  itu  kami  memilih  bentuk  jaringan,  bukan organisasi  kemasyarakatan,  maupun  partai  politik,”  tulis situs islamlib.com.
JIL  mendaftar  28  kontributor  domestik  dan  luar  negeri  sebagai “juru  kampanye”  Islam  liberal.  Mulai  Nurcholish  Madjid,  Djohan Effendi,  Jalaluddin  Rakhmat,  Said  Agiel  Siradj,  Azyumardi  Azra, Masdar F. Mas‘udi, sampai Komaruddin Hidayat. Di antara kontributor mancanegaranya:  Asghar  Ali  Engineer  (India),  Abdullahi  Ahmed  an-Na‘im  (Sudan),  Mohammed  Arkoun  (Prancis),  dan  Abdallah  Laroui (Maroko).
Jaringan  ini  menyediakan  pentas  –berupa  koran,  radio,  buku, booklet,  dan  website–  bagi  kontributor  untuk  mengungkapkan pandangannya  pada  publik.  Kegiatan  pertamanya  lewat  diskusi  maya (milis). Lalu sejak 25 Juni 2001, JIL mengisi rubrik Kajian Utan Kayu di Jawa Pos Minggu, yang juga dimuat 40-an koran Grup Jawa Pos. Isinya artikel dan wawancara seputar perspektif Islam Liberal.
Tiap Kamis sore, JIL menyiarkan wawancara langsung dan diskusi interaktif dengan para  kontributornya, lewat radio 68H dan 15 radio jaringannya. Tema kajiannya berada dalam lingkup  agama dan demokrasi. Misalnya jihad, penerapan syariat Islam, tafsir kritis, keadilan  gender,  jilbab,  atau negara sekuler. Perspektif yang disampaikan  berujung pada tesis bahwa Islam selaras dengan demokrasi.
JIL tak hanya terang-terangan menetapkan musuh pemikirannya,juga lugas mengungkapkan  ide-ide “gila”-nya.  Gaya  kampanyenya menggebrak,  menyalak-nyalak,  dan  provokatif.  Akumulasi  gaya ini memuncak pada artikel kontroversial  Ulil di Kompas yang divonis FUUI telah menghina  lima pihak sekaligus yaitu: Allah, Nabi Muhammad, Islam, ulama, dan umat Islam. “Tulisan  saya  sengaja provokatif, karena saya berhadapan dengan audiens yang juga provokatif,” kata Ulil.
Dengan gaya demikian, reaksi bermunculan. Tahun 2002 bisa dicatat sebagai tahun paling  polemis dalam perjalanan JIL. Spektrumnya beragam: mulai reaksi ancaman mati, somasi, teguran, sampai kritik berbentuk buku. Teguran, misalnya, datang dari rekomendasi (taushiyah) Konferensi  Wilayah Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Jawa Timur, 11-13 Oktober 2002. Bunyinya,  “Kepada PWNU Jawa Timur agar segera menginstruksikan kepada warga NU mewaspadai dan  mencegah pemikiran Islam Liberal dalam masyarakat. Apabila pemikiran Islam Liberal dimunculkan  oleh Pengurus NU (di semua tingkatan) diharap ada sanksi, baik berupa teguran keras maupun  sanksi organisasi (sekalipun dianulir dari kepengurusan).”
Somasi dilancarkan Ketua Departemen Data dan Informasi Majelis Mujahidin Indonesia  (MMI), Fauzan al-Anshari, kepada RCTI dan SCTV, pada 4 Agustus 2002, karena menayangkan iklan “Islam Warna-warni” dari JIL. Iklan itu pun dibatalkan. Kubu Utan Kayu membalas dengan mengadukan Fauzan ke polisi.
Sementara kritik metodologi datang, salah satunya, dari Haidar Bagir, Direktur Mizan,  Bandung. Ia menulis kolom di Republika, 20 Maret 2002, “Islam Liberal Butuh Metodologi”. JIL dikatakan tak punya metodologi. Istilah  ‘liberal’, Haidar menulis, cenderung menjadi “keranjang yang ke dalamnya apa saja bisa masuk”. Tanpa metodologi yang jelas akan menguatkan kesan, Islam  liberal adalah “konspirasi manipulatif untuk menggerus Islam justru dengan meng-abuse sebutan Islam itu sendiri”.
Reaksi berbentuk buku pun bermunculan seperti buku Adian Husaini, Islam  Liberal: Sejarah, Konsepsi, Penyimpangan dan Jawabannya (Jakarta, Juni 2002). Ada tiga agenda JIL  yang disorot: pengembangan teologi inklusif-pluralis dinilai menyamakan semua agama dan  mendangkalkan akidah; isu penolakan syariat Islam dipandang bagian penghancuran global; upaya  penghancuran Islam fundamentalis dituding bagian proyek Amerika atas usulan zionis Israel.
Buku lain, karya Adnin Armas, Pengaruh Kristen-Orientalis terhadap Islam Liberal (Jakarta,  Agustus  2003). Isinya, kumpulan perdebatan Adnin dengan para aktivis JIL di milis Islam liberal. Energi personel JIL akhirnya memang tersedot untuk meladeni berbagai reaksi sepanjang 2002 itu. Mulai  berbentuk adu pernyataan, debat ilmiah, sampai balasan mengadukan Fauzan ke polisi.
Menjelang akhir 2003 ini, hiruk-pikuk kontroversi JIL cenderung mereda. Nasib aduan FUUI  dan aduan JIL terhadap Fauzan ke Mabes Polri menguap begitu saja. Dalam suasana lebih tenang,  JIL mulai menempuh fase baru yang lebih konstruktif, tak lagi meledak-ledak.
Meski geliat JIL sudah tidak terlihat di permukaan, bukan berarti liberalisasi Islam di Indonesia telah selesai. JIL hanyalah salah satu “pedagang asongan” dari proyek besar liberalisasi Islam di Indonesia. Bahkan, liberalisasi Islam yang lebih serius telah dan sedang terjadi di berbagai sektor kehidupan di Indonesia baik agama, politik, pendidikan, sosial budaya, dan ekonomi.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s