Menyoal Balik Pemikiran Liberalis: Sekulerisme dan Semua Agama Sama ( Bag 3/ Akhir)

1. Sekulerisme

Islam adalah al-Quran dan Nabi Muhammad, dalam mengemban tugas suci ini beliau selalu berpijak pada ajaran-ajaran Al-Quran, tak terkecuali sebagai seorang pemimpin negara Madinah. Memang dalam Al-Quran tidak disebut secara jelas model pemerintahan Islam, tapi kita diperintahkan untuk mengikuti Rasulullah dalam segala hal, sampai pada ajaran-ajaran yang berbau ekspresi budaya, seperti jubah, jenggot, jilbab. Allah berfirman :
(آل عمران : 31 )
“Katakanlah! “Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutlah aku, niscaya Allah akan mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu. Allah maha Pengampun lagi maha Penyayang.

Begitu pula masalah model pemerintahan, Muhammad disamping sebagai seorang Nabi juga sebagai komandan perang, ini dapat kita lihat di surat Al Anfal ayat 65 :
“Hai nabi, Kobarkanlah semangat para mumin itu untuk berperang”

Juga sebagai pengendali perekonomian negara, dalam surat al-Hasyr; 07 disebutkan :
“supaya harta itu jangan hanya beredar di antara orang-orang kaya saja di antara kamu”

Juga sebagai penjaga stabilitas keamanan, ini dapat kita lihat dalam Al-Anam: 82:
“Orang-orang yang beriman dan tidak mencampur adukkan iman mereka dengan kedzaliman (syirik), mereka itulah orang-orang yang mendapat keamanan dan mereka itu adalah orang-orang yang mendapat petunjuk.
Dan Rasulullah adalah pemimpin orang-orang yang beriman”

2. Semua Agama Itu Sama

Islam menjamin hak beragama, (agama samawi yang memiliki kitab suci) seperti yang tersebut dalam Surat Al-Baqoroh 256: Laa Ikraaha fiddin, tapi toleran seperti itu sebatas pengakuan keberagamaan orang lain, tidak sampai pada kenyakinan bahwa semua pengikut agama sama-sama menuju kebenaran. Kalau demikian, lalu apa gunanya seorang memilih dan menyakini diantara sekian agama?. Kalau teori ini diteruskan, maka bisa dipratekkan sehari Islam, lain hari budha misalnya, dan ini tidak masalah karena semuanya benar, padahal itu merupakan toleransi intern yang mustahil terjadi, sebab menimbulkan kemurtadan.

Jadi fanatisme agama adalah naluri manusia yang tidak bisa dipungkiri, sebab ketika kita sudah masuk suatu agama, pasti yakin inilah yang benar, yang lain batil. Seperti Nabi Ibrahim ketika mencari Tuhannya, pertama, dia menganggap bintang sebagai Tuhannya, lalu bulan, dan matahari, Karena benda-benda inilah yang menerangi alam semesta, namun setelah semuanya tenggelam, beliau diberi petunjuk Allah bahwa Tuhannya adalah Pencipta Langit dan Bumi, bukan yang disembah kaumnya. Allah mengabadikannya dalam surat Al-Anam ayat 74-82. Pengakuan Nabi Ibrahim pada ayat 79 :
“Sesungguhnya aku menghadapkan diriku pada Tuhan yang menciptakan langit dan bumi dengan cenderung kepada agama yang benar dan aku bukanlah termasuk orang-orang yang mempersekutukan tuhan.”

Jadi kebenaran itu satu, karena Tuhan itu hanya satu, mereka yang berbuat syirik terhadap Allah itulah yang sesat, sehingga logis sekali kalau dalam Alquran ada ayat-ayat seperti:
[من سورة آل عمران: 19].
“Sesungguhnya agama (yang diridloi) di sisi Allah hanyalah Islam.”
(آل عمران: 85).
“Barang siapa mencari agama selain agama Islam, maka sekali-kali tidaklah akan diterima (agama itu) daripadanya, dan dia di akhirat termasuk orang-orang yang rugi.

Karena inilah satu-satunya agama yang meng-Esa-kan Allah, sebab rasio tidak menerima kalau Tuhan itu lebih dari satu.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s