Menyoal Balik Pemikiran Liberalis “Kebekuan Pemikiran Islam dan Kesederajatan Universal” (Bag 2)

1. Kebekuan Pemikiran Islam

Islam sangat menjunjung hak berpendapat, sampai mengharamkan usaha-usaha penghilangan fungsi akal dengan cara mengkonsumsi narkoba, miras, dan lain-lain. Allah berfirman:

“Hai orang-orang yang beriman, sesungguhnya (meminum) khamr, berjudi, (berkorban untuk) berhala, mengundi nasib dengan panah, adalah perbuatan keji termasuk perbuatan syaitan. Maka jauhilah perbuatan-perbuatan itu agar kamu mendapat keberuntungan.”

Tapi kebebasan berfikir dibatasi pada doktrin- doktrin yang ijtihadi tidak sampai mengambah kepada doktrin yang qoth’i ( fundamental ) sebab disitulah akal manusia diuji mengakui kehamba-annya atau tidak. Dan lucunya, dia malah mengajak kelompok-kelompok yang kontra dengannya untuk berdialog, dengan menembus batas-batas ruang diskusi yang mustahil dilakukan. lalu apakah dengan mencari kelemahan ayat-ayat qishos, jihad, rajam, kekafiran yahudi nasrani, dia mengajak berdialog? inikan sama saja memper-masalahkan, keotentikan Al-qur`an, padahal qur’an diturunkan untuk diimani dan diamalkan bukan untuk diragukan dan diingkari dengan menggelar forum diskusi. Rasulullah SAW bersabda :
الْمِرَاء فِي القرآن كُفرٌ ( رواه أبو داود )

2. Kesederajatan Universal

Hak beragama, hidup, punya keturunan, kepemilikan barang, berbicara, serta ekspresi budaya yang kesemuanya merupakan hak asasi manusia, Islam melindunginya dengan pranata-pranata samawi yang suci. Tapi tidak harus diseragamkan seperti mana adil yang kenal manusia, manusia sengaja diciptakan dengan beraneka kekurangan dan kelebihan untuk saling melengkapi.

Doktrin-doktrin yang melarang kawin beda agama, kedudukan non-muslim yang dibedakan, kepemimpinan laki-laki terhadap wanita dituduh tidak manusiawi tadak menghormati emansipasi wanita, diskriminatif. Tapi coba kita pikir apakah rumus adil produk manusia itu sama dengan rumus Allah SWT? Tentu jawabannya tidak, sebab alam semesta ini sepenuhnya milik Allah bukan seperti manusia yang hak-haknya dibatasi, jadi apapun yang dilakukan Allah itu adalah keadilan hakiki. Allah berfirman :

“Kepunyaan Allah-lah segala apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi”

Logikanya, Allah berhak memberikan kelebihan-kelebihan spesifik terhadap hamba-hamba-Nya yang taat dan memberi sanksi terhadap mereka yang berpaling dari tuntunan-Nya.

Jadi kalau wanita dipimpin pria itu adil, karena kapasitas fisik serta rohani lebih memungkinkan dibanding wanita, fisik wanita jelas, rohaninya kurang karena setiap bulan ada gangguan dalam ibadahnya. Firman Allah : 
“Kaum laki-laki itu adalah pemimpin bagi kaum wanita, oleh karena Allah telah melebihkan sebahagian mereka (laki-laki) atas sebahagian yang lain (wanita), dan karena mereka (laki-laki) telah menafkahkan sebagian dari harta mereka.”[النساء: 34].

Perkawinan beda agama, dihawatirkan aqidah si pelaku yang muslim terkontaminasi atau justru hanyut dalam agama lain yang menyengsarakan mereka ke neraka. Allah berfirman : [من سورة البقرة: 221].

“Dan janganlah kamu nikahi wanita-wanita musyrik, sebelum mereka beriman. Sesungguhnya wanita budak yang mu’min lebih baik dari wanita musyrik walaupun dia menarik hatimu dan janganlah kamu menikahkan orang-orang musyrik (dengan wanita-wanita mumin) sebelum mereka beriman. Sesungguh-nya budak yang mumin lebih baik dari orang musyrik walaupun dia menarik hatimu. Mereka mengajak ke neraka, sedang Allah mengajak ke syurga dan ampunan dengan izin-Nya (perintah-perintah-Nya) kepada manusia supaya mereka mengambil palajaran.” [من سورة البقرة: 221].

Perlakuan non-muslim yang dibedakan, ini merupakan sinyal abstrak alam rahim untuk mengingatkan persaksian mereka terhadap Tuhannya. Didalam Al quran Allah menceritakan persaksian mereka.

“Dan (ingatlah), ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman); Bukankah Aku ini Tuhanmu? Mereka menjawab: Betul (Engkau Tuhan kami), kami menjadi saksi. (Kami lakukan yang demikian itu) agar di hari kiamat kamu tidak mengatakan: Sesungguhnya kami (bani Adam) adalah orang-orang yang lengah terhadap ini (ke-Esa-an Tuhan).” ( الأعراف : 172 )

Di situ manusia ketika akan diberi ruh oleh Allah disuruh bersaksi bahwa Allah-lah Tuhannya, tapi setelah di dunia mereka lupa (kafir) terhadap janjinya. Jadi kalau dalam pemerintahan Islam mereka diwajibkan membayar pajak (jizyah) itu adalah keadilan Allah. Firman Allah :

“Perangilah orang-orang yang tidak beriman kepada Allah dan tidak (pula) kepada hari kemudian dan mereka tidak mengharamkan apa yang telah diharamkan oleh Allah dan Rasul-Nya dan tidak beragama dengan agama yang benar (agama Allah). (yaitu orang-orang) yang diberikan al-Kitab kepada mereka, sampai mereka membayar jizyah dengan patuh, sedang mereka dalam keadaan tunduk.” ( التوبة : 29 )

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s