Sesepuhnya Anti Takfir tapi Kacung Wahhabi malah Kecanduan

Syaikh Ibn Taimiyah al-Harrani menandaskan, “Pengkafiran hanya dilegalkan dalam hal pengingkaran terhadap perkara yang pasti diketahui dalam agama Islam (seperti kewajiban shalat, zakat, puasa dll) atau terhadap hukum-hukum yang mutawatir dan mujma’ ‘alaih (disepakati ulama).”
Perhatikan dengan seksama pernyataan demikian ini. Apakah ucapan tokoh ulama yang kalian anggap sebagai panutan tertinggi sama dengan ucapanmu, “Orang ini kafir dan yang tidak mengkafirkannya juga kafir”? Mohon pikirkanlah kembali pernyataan-pernyataan Syaikh Ibn Taimiyah diatas.
Beliau menambahkan, “Banyak sekali suatu ucapan atau pekerjaan berbau kufur akan tetapi tidak secara otomatis pelakunya dicap kafir, karena sangat mungkin orang tersebut tidak mengetahui hal-hal yang mengakibatkan kekufuran, atau mengetahuinya namun tidak begitu paham, atau memahaminya dengan baik namun menurutnya terjadi kontradiksi (dengan dalil lain) sehingga perlu adanya pentakwilan, dan lain sebagainya.”
Wahai hamba-hamba Allah! Sadarlah, kembalilah ke jalan kebenaran, dan tetaplah mengikuti langkah-langkah para ulama salafusshalih. Janganlah kalian terfitnah oleh tipu daya setan dengan gemar mengkafirkan umat Islam dan menilai manusia kafir apabila ia melawan kelompokmu, dan sebaliknya menilai keimanannya apabila ia telah mengikuti kelompokmu. Inna liLlahi wa inna ilaihi raji’un.
Saya beriman kepada Allah SWT dan ajaran-ajaran yang datang dari-Nya sesuai tuntunan-Nya dan Rasul-Nya SAW. Semoga Allah SWT menyelamatkan kita semua dari menjadi budak hawa nafsu.
Syaikh Ibn Qayyim menegaskan hakikat kufur ketika menjelaskan macam-macam kekufuran, “Kekufuran yang disebabkan pengingkaran terbagi menjadi dua; Pertama, kufur mutlak yang umum. Kedua, kufur muqayyad (dibatasi) yang khusus. Contoh pertama adalah seperti mengingkari semua bentuk (risalah Nabi Muhammad SAW) yang diturunkan Allah SWT. Sedangkan contoh yang kedua adalah mengingkari salah satu dari kefardluan dan yang diharamkan agama Islam, atau ingkar terhadap sifat-sifat Allah atau kisah-kisah yang telah ditetapkan oleh Allah SWT dengan sengaja dan sadar bahwa hal itu dapat menyebabkan kekufuran.”
Adapun jika hal diatas dilakukan atas dasar kebodohan atau takwil yang riil maka pelakunya tidaklah dihukumi kafir. Hal ini mengacu Hadits dalam Shahih Bukhari Muslim, Sunan dan Musnad yang diriwayatkan dari Abu Hurairah RA, beliau berkata: Rasulullah SAW bersabda, “Seorang lelaki mengaku tidak pernah berbuat baik kepada keluarganya selama seumur hidupnya, dalam satu riwayat, lelaki tersebut adalah pria pemboros. Pada saat ajal hendak menjemputnya, dia berwasiat kepada anak-anaknya agar jasadnya dibakar dan sebagian debunya disebarkan di lautan dan sebagian lain di daratan. Demi Allah SWT, jika Dia menetapkan takdir terhadap lelaki tersebut, maka pasti Dia menyiksanya dengan siksaan pedih yang tidak pernah dirasakan oleh satupun makhluk-Nya. Sesudah dilakukan wasiat orang tersebut, Allah memerintahkan lautan dan daratan untuk mengumpulkan debu jasadnya, dan menanyakan tujuan ia melakukanya?, ia menjawab, “Aku melakukannya karena takut kepada-Mu dan Engkau Mengetahuinya.” Maka Allah SWT mengampuninya.” (HR. Ahmad, Bukhari, Muslim, Ibn Majah)
Hadits diatas bercerita tentang seorang yang mengingkari sifat qudrat Allah dan hari kebangkitan setelah kematian bisa mendapatkan amnesti dari Allah SWT karena bodoh, tidak berwawasan luas dan pengingkaran yang tidak didasari keangkuhan. Cukuplah hadits ini menjadi bukti kongkret kesalahan orang yang berasumsi “Allah SWT tidak akan mengampuni (menyiksa) hamba-Nya karena kepandirannya, meskipun itu puncak pengetahuannya.””
Syaikhul Islam Ibn Taimiyah pernah disodori pertanyaan tentang asal mula ide “pengkafiran” dalam sejarah umat Islam. Dengan tegas beliau menjawab, sang pelopor ide pengkafiran adalah sekte Muktazilah dan aliran derivatifnya. Begitu juga aliran Khawarij, kelompok pertama yang menggagas dan mengimplementasikan ide pengkafiran di masa awal Islam. Sebagian ulama meriwayatkan dua pendapat seperti diceritakan Imam Malik, begitu juga Imam Syafi’i, Imam Ahmad, Imam Abu Hasan al-Asy’ari dan para ulama pendukungnya.
Pada dasarnya permasalahan pengkafiran sangatlah gamblang. Suatu ucapan kadang mengandung kekufuran sehingga pelakunya berhak divonis kafir dan akhirnya muncul statemen “barangsiapa mengucapkan ini, maka dia kafir”. Akan tetapi jika ada orang yang mengucapkannya maka tidak bisa langsung dicap kafir hingga terdapat hujjah qath’i (aksiomatis) yang ketika diingkari akan menimbulkan kekufuran, seperti teguran atau penjelasan ilmiah dari seorang raja atau pemimpin Islam. Apabila ia sudah mendapatkan teguran atau penjelasan ilmiah, namun tetap saja pada pendiriannya, maka ia dapat divonis kafir. Demikian ketentuan hukum yang tertera dalam kitab-kitab salaf.
“Pengkafiran” dapat dianalogkan dengan “ancaman” yang banyak tertulis dalam nash-nash Al-Quran dan al-Sunnah. Aplikasi sebuah ancaman harus bersifat umum dan universal, tidak tertentu pada satu orang. Oleh karenanya, siapapun yang melanggar ancaman, maka berhak divonis kafir, fasik, terlaknat, dimurka Allah atau akan masuk neraka lebih-lebih orang yang mempunyai pangkat dan kedudukan. Hal ini karena manusia selain nabi baik bergelar shiddiq, syahid ataupun shalih tidaklah ma’shum (terjaga dari dosa)/bisa saja melakukan dosa besar dan kecil. Namun, konsekuensi ancaman dapat dibatalkan dengan taubat, istighfar, amal kebaikan yang menghapus kejelekan, musibah yang melebur dosa, syafa’at maqbulah, atau dengan kehendak dan belas kasih Allah SWT.
Andai kita berbicara konsekuensi Firman Allah SWT yang berbunyi:
وَمَنْ يَقْتُلْ مُؤْمِنًا مُتَعَمِّدًا فَجَزَاؤُهُ جَهَنَّمُ خَالِدًا فِيهَا وَغَضِبَ اللَّهُ عَلَيْهِ وَلَعَنَهُ وَأَعَدَّ لَهُ عَذَابًا عَظِيمًا
“Dan barangsiapa yang membunuh seorang mukmin dengan sengaja maka balasannya ialah Jahannam, kekal ia di dalamnya dan Allah murka kepadanya, dan mengutukinya serta menyediakan azab yang besar baginya. (QS. Al-Nisa: 93)
إِنَّ الَّذِينَ يَأْكُلُونَ أَمْوَالَ الْيَتَامَى ظُلْمًا إِنَّمَا يَأْكُلُونَ فِي بُطُونِهِمْ نَارًا وَسَيَصْلَوْنَ سَعِيرًا
“Sesungguhnya orang-orang yang memakan harta anak yatim secara zalim, sebenarnya mereka itu menelan api sepenuh perutnya dan mereka akan masuk ke dalam api yang menyala-nyala (neraka)”. (QS. Al-Nisa: 10)
وَمَنْ يَعْصِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ وَيَتَعَدَّ حُدُودَهُ يُدْخِلْهُ نَارًا خَالِدًا فِيهَا وَلَهُ عَذَابٌ مُهِينٌ
“Dan barangsiapa yang mendurhakai Allah dan Rasul-Nya dan melanggar ketentuan-ketentuan-Nya, niscaya Allah memasukkannya ke dalam api neraka sedang ia kekal di dalamnya; dan baginya siksa yang menghinakan.” (QS. Al-Nisa: 14)
وَلَا تَأْكُلُوا أَمْوَالَكُمْ بَيْنَكُمْ بِالْبَاطِلِ وَتُدْلُوا بِهَا إِلَى الْحُكَّامِ لِتَأْكُلُوا فَرِيقًا مِنْ أَمْوَالِ النَّاسِ بِالْإِثْمِ وَأَنْتُمْ تَعْلَمُونَ
“Dan janganlah sebahagian kamu memakan harta sebahagian yang lain di antara kamu dengan jalan yang bathil dan (janganlah) kamu membawa (urusan) harta itu kepada hakim, supaya kamu dapat memakan sebahagian daripada harta benda orang lain itu dengan (jalan berbuat) dosa, padahal kamu mengetahui.” (QS. Al-Baqarah: 188)
وَمَنْ يَفْعَلْ ذَلِكَ عُدْوَانًا وَظُلْمًا فَسَوْفَ نُصْلِيهِ نَارًا وَكَانَ ذَلِكَ عَلَى اللَّهِ يَسِيرًا
“Dan barangsiapa berbuat demikian dengan melanggar hak dan aniaya, Maka Kami kelak akan memasukkannya ke dalam neraka. yang demikian itu adalah mudah bagi Allah.” (QS. Al-Nisaa’: 30)
Dan ayat-ayat lain yang memuat ancaman Allah SWT, tentu sama dengan konsekuensi dari sabda Rasulullah SAW seperti, “Barangsiapa meminum arak, atau mendurhakai orang tuanya, atau merubah batas-batas bumi (kepemilikan), atau menyembelih karena selain Allah.” (HR. Ahmad, Abu Ya’la, al-Thabarani, al-Baihaqi)
“Allah melaknat seorang pencuri.” (HR. Bukhari, Muslim, al-Baihaqi, Hakim, Ibn Majah)
“Allah melaknat pemakan riba, orang yang mewakilkannya, para saksi dan penulisnya.” (HR. Bukhari, Ibn Majah, al-Tirmidzi, Ahmad, Abu Ya’la)
“Allah melaknat penyeleweng shadaqah dan yang melewati batas dalam mengurusinya.” (HR. Ibn Khuzaimah)
“Siapapun yang membuat atau melindungi bid’ah dan ahlinya dalam kota Madinah, maka ia mendapatkan laknat dari Allah SWT, para malaikat dan seluruh manusia.” (HR. Bukhari, Muslim, Ahmad)
Dan sabda-sabda Nabi SAW yang berkaitan dengan ancaman. Kalian dilarang memvonis orang tertentu yang melakukan sebagian perkara diatas dan menuduhnya berhak menerima ancaman Allah dan Rasulullah. Ketidakbolehan menvonis ini tak lain karena sangat terbuka peluang untuk bertaubat dan kesempatan melebur siksaan.
Larangan-larangan diatas terkadang dilakukan oleh sebagian orang yang berijtihad atau taklid ulama yang memperbolehkan perkara tersebut. Pada akhirnya ia tidak berhak mendapatkan ancaman karena suatu penghalang seperti halnya terbebasnya suatu kaum dari ancaman karena bertaubat, melakukan kebaikan atau tertimpa musibah yang keduanya bisa melebur kesalahan, dan lain sebagainya.
Begitulah metode dan cara bersikap yang benar yang harus kita anut. Karena selain itu ada dua jalan yang sangat hina dan kotor. Salah satunya perkataan kafir dan laknat yang menyatakan ancaman diatas berhak ditimpakan bagi setiap orang yang melakukan pekerjaan yang diancam dengan dalih pemberlakuan tekstual nash-nash agama. Sungguh hal demikian lebih buruk dari pada ucapan sekte Khawarij -sebuah aliran takfiri berdasarakan melakukan dosa-dosa-, sekte Muktazilah, dan lain sebagainya. Kerusakannya sudah sangat jelas, begitupun bukti-bukti dalilnya juga telah maklum dalam tempat selain ini.
Nash-nash agama yang memuat ancaman pengkafiran memang benar adanya. Namun seseorang yang telah melanggar ancaman tersebut tidak serta merta dikatakan ia berhak mendapatkan ancaman. Oleh karena itu jangan sekali-kali memvonis ahli kiblat sebagai penghuni neraka, karena syarat vonisnya belum lengkap atau masih ada suatu perkara yang mencegahnya. Demikianlah cara-cara yang arif menghadapi setiap ucapan atau tindakan yang dapat menjadikan pelakunya sebagai orang kafir. Kadang-kadang si pelaku tidak pernah mendengarkan nash-nash agama yang membimbingnya ke arah yang benar, atau pernah mendengarkannya namun tidak mantap, dalam mengetahui dan memahaminya, atau terdapat syubhat (kekaburan hukum) yang ada jaminan toleransi dari Allah SWT.
Oleh karena itu, siapapun orangnya asal menyatakan iman kepada Allah SWT dan Rasul-Nya, memperlihatkan keislaman dan kecintaannya terhadap Tuhan dan Rasul-Nya, maka sungguh Allah SWT akan memberinya maaf meski ia telah melakukan sebagian dosa perkataan atau perbuatan yang semestinya menyeret si pelaku ke dalam kesyirikan atau kemaksiatan. Inilah cara bersikap yang diajarkan oleh para shahabat Rasulullah SAW dan mayoritas para Imam umat Islam.
Pada intinya, madzhab para imam umat didasarkan pada sebuah asas yang membedakan antara nau’ (macam kekafiran) dan ‘ain (pelaku kekafiran). Bahkan dalam menyikapi aliran Murji’ah, para imam madzhab seperti Abu Hanifah, Imam Malik, Imam Syafi’i dan Imam Ahmad bin Hanbal dan selainnya telah bersepakat untuk tidak mengkafirkan aliran tersebut. Padahal ajaran pokoknya sangat menyesatkan, “Iman itu hanya ucapan tanpa amal.”
Justru jika ditelusuri lebih lanjut, statement-statement para imam madzhab jelas melarang pengkafiran terhadap aliran Khawarij, Qadariyah, dan aliran-aliran sejenis lainnya. Adapun pengkafiran Imam Ahmad bin Hanbal terhadap aliran Jahmiyah itu tak lain karena beliau tahu betul ajaran-ajaran Jahmiyah sehingga mengetahui hakikat fitnahnya, ditambah lagi aliran tersebut menekankan ta’thil (mengkosongkan sifat-sifat Allah SWT). Para ulama salaf juga masyhur telah mengkafirkan aliran yang terakhir ini, namun sekali lagi bukan orangnya yang dikafirkan, tapi pemikirannya! Karena seorang yang mengajak kekufuran lebih berdosa daripada yang melakukan kekufuran tapi tidak menyebarkannya. Dan orang yang menghukum umat yang menolak kekufuran lebih berdosa daripada penyebar kekufuran. Dan orang yang mengkafirkan setiap orang yang berbeda dengannya lebih berdosa daripada pihak yang menyiksa.
Kendati demikian, para pajabat pemerintahan di masa itu mengikuti pemikiran-pemikiran sesat Jahmiyah seperti pendapat Al-Quran itu makhluk, Allah SWT tidak bisa dilihat dan nash sharih Al-Quran dan al-Hadits ash-Shahihah tidak patut dijadikan bukti kemungkinan Allah akan terlihat, dan yang lebih parah lagi pernyataan bahwa Islam tidak akan sempurna jika belum mengadopsi pemikiran-pemikiran sesat dan rusak mereka. Mereka beranggapan kelakuan konyol dan cara berfikir tumpul yang mereka usung itu lebih akurat dari pada kitab Allah atau Al-Quran, Sunnah Rasul-Nya, konsensus para shahabat dan tabi’in atau yang lebih populer dengan istilah ijma’. Aliran Jahmiyyah dan Muaththilah (Muktazilah) yang menitikberatkan pada penafian dan penetapan sebagian sifat-sifat Allah SWT pun menjadi cobaan bagi umat Islam.
Dengan dasar inilah, para pejabat pemerintahan melakukan tindakan diskriminatif kepada umat Islam, memenjarakan Imam Ahmad bin Hanbal serta mencambukinya, membunuh sekumpulan ulama dan mensalib yang lain hanya karena tidak patuh terhadap ideologi sesat. Mereka juga tidak akan melepaskan tahanan dan akan memberi bantuan dana dari Baitul Mal kepada pihak-pihak tertentu saja yang patuh kepada madzhabnya.
Meski madzhab Jahmiyah dipenuhi paham ta’thil (menafikan Dzat Allah SWT dari sifat-sifat-Nya) yang jauh lebih buruk dari syirik, Imam Ahmad bin Hanbal masih saja mengkasihaninya bahkan memintakan ampunan untuk mereka. Beliau berkata, “Saya tidak meyakini bahwa mereka -Jahmiyah- mendustakan Nabi Muhammad SAW dan tidak pula mengingkari agama yang dibawanya, akan tetapi mereka telah salah dalam pentakwilan -terhadap sebagian teks keagamaan- dan mengikuti paham ta’thil (menafikan dzat Allah SWT dari sifat-sifat-Nya).”
Sikap serupa juga ditunjukkan oleh Imam Syafi’i ketika beliau berdebat dengan Hafs al-Fard salah satu pemuka kaum ta’thil perihal Al-Quran, ia menandaskan bahwa ‘Al-Quran diciptakan (makhluq), kemudian Imam Syafi’i berkata: ‘Kamu telah kafir (terhadap Allah SWT yang Maha Agung). Kendati demikian, beliau tidak menghukuminya murtad (keluar dari Islam). Sungguh, andaikan beliau menyakini kemurtadan dan kekafiran Hafs al-Fard, pasti beliau akan membunuhnya.
Para ulama telah memfatwakan untuk membunuh para pendakwah paham ta’thil semisal Ghailan al-Qadari, Ja’d bin Dirham, Jahm bin Shafwan –pimpinan kelompok Jahmiyyah-, dan selainnya. Meski difatwakan untuk dibunuh, jenazah mereka tetap dishalati oleh kaum Muslimin dan dikebumikan di pemakaman umat Islam. Perlu digaris bawahi, bahwa fatwa tersebut termasuk bab pembunuhan perampok karena menolak bahayanya, sekali-kali bukan atas dasar kemurtadan! Bilamana mereka telah kafir, tentu kaum Muslimin pada waktu itu memperlakukannya seperti halnya orang kafir. Keterangan seperti ini telah dijabarkan di selain bab ini.” Demikianlah pendapat Syaikhul Islam Ibn Taimiyah.
Kami sengaja menuturkan pendapat Ibn Taimiyah dengan panjang lebar agar apa yang kami isyaratkan menjadi lebih jelas, karena di dalamnya terkandung ijma’ para shahabat dan ulama salaf dan keterangan-keterangan yang lain.
Paham sesat “Al-Quran makhluk” yang dianggap bisa menjerumuskan penganutnya ke jurang kekufuran yakni dosa yang lebih besar dari pada syirik -dan sudah kami ulas berulang kali dengan mengutip perkataan syaikhain (Ibn Taimiyah dan Ibn Qayyim)- itu tidak benar. Buktinya, para ulama di era shahabat, tabi’in sampai Imam Ahmad bin Hanbal tidak pernah menvonis kufur para pengikut paham “Al-Quran makhluq”. Merekalah ulama yang getol menolak paham tersebut dan menjelaskan pemahaman yang benar kepada penggagas dan pengasongnya bahwa secara eksplisit paham ini jelas kontradiksi dengan esensi ajaran Al-Quran, al-Sunnah, ijma’ para shahabat dan tabi’in, dan tidak sejalan dengan dalil aqli maupun naqli. Juga sudah ada peringatan dan pelurusan dari ahli ilmu. Meskipun demikian, penganut paham tersebut tidak divonis kafir oleh ulama salaf, bahkan kepada para penggagasnya yang telah dieksekusi hukuman mati.
Renungilah sejarah ini, jadikanlah ibrah (teladan baik) bagi kalian semua, -wahai kaum Wahhabi!- yang hobinya mentakfir umat Islam yang masih awam, menghalalkan darah dan hartanya, serta menganggap negaranya seperti negara harbi (negara yang berhak diperangi). Padahal, tidak ditemukan seperseratus dari masyarakat awam yang melakukan itu. Ketika ditemukan dari mereka beberapa macam tindak syirik baik syirik kecil atau besar, hal itu karena kebodohan mereka sehingga tidak dapat divonis kafir.
Apa kalian percaya bahwa tidak terdapat vonis dalam berbagai pernyataan para pimpinan ulama Islam, akan tetapi kalian malah melakukannya? Bahkan demi Allah, kalian mengkafirkan orang yang tidak mereka kafirkan padahal tidak ada perilaku syirik atau kafir terhadap Allah muncul darinya. Sungguh kalian telah melakukan perkara munkar!
Wahai hamba Allah, bertakwalah kepada Allah dan takutlah dengan pukulan keras-Nya. Kalian telah menyakiti orang-orang Mukmin.
وَالَّذِينَ يُؤْذُونَ الْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ بِغَيْرِ مَا اكْتَسَبُوا فَقَدِ احْتَمَلُوا بُهْتَانًا وَإِثْمًا مُبِينًا
“Dan orang-orang yang menyakiti orang-orang yang mukmin dan mukminat tanpa kesalahan yang mereka perbuat, Maka Sesungguhnya mereka Telah memikul kebohongan dan dosa yang nyata.” (QS. Al-Ahzab: 58)
Demi Allah, tidak ada dosa bagi hamba Allah kecuali ketika mereka mengikuti kalian dalam mengkafirkan orang yang telah ditetapkan Al-Quran dan disepakati kaum Muslimin tentang keislamannya. Jika perilaku kalian ini dilakukan maka akan mendatangkan murka Allah dan Rasul-Nya SAW, dan jika tidak maka kalian menganggapnya kafir dan murtad. Padahal, Rasulullah SAW bersabda, “Aku tidak khawatir umatku dikeroyok massa atau musuh. Tapi yang aku khawatirkan adalah pimpinan yang menyesatkan yang jika diikuti maka menimbulkan fitnah, dan jika tidak diikuti maka ia membunuhnya.” (HR. al-Thabarani dari Abu Umamah)
Abu Bakr al-Shiddiq RA berkata, “Patuhilah amal ketaatanku kepada Allah. Namun jika aku bermaksiat maka jangan kalian ikuti.” (al-Muntazham fi Tarikh al-Umam wa al-Muluk, juz 7 hlm. 68-70) Di kesempatan lain ia berkata, “Aku juga manusia, bisa salah dan bisa berdosa.” (al-Muntazham fi Tarikh al-Umam wa al-Muluk, juz 7 hlm. 68-70) Ketika ada hal genting yang merepotkan, maka beliau mengumpulkan para shahabat untuk diajak musyawarah. Shahabat Umar, Utsman, Ali, dan para pimpinan ahli ilmu juga begitu. Tidak ada yang memaksakan pendapatnya. Bahkan ketika raja Harun Rasyid berencana mewajibkan rakyat mengikuti kitab al-Muwaththa’, Imam Malik pun berkata, “Wahai raja, jangan lakukan itu! Orang lain juga punya ilmu.”, atau ucapan yang serupa.
Semua ulama Ahlussunnah wal Jama’ah tidak pernah mewajibkan seseorang mengikuti pendapatnya. Akan tetapi, kalian mengkafirkan orang yang tidak sependapat dengan kalian. Saya bertanya pada kalian, “Demi Allah, apa kalian terjaga dari dosa hingga wajib mengikuti ucapan kalian?” Jika kalian menjawab tidak, lalu kenapa kalian mewajib-wajibkan orang lain mengikuti pendapat kalian? Ataukah kalian merasa jadi imam yang wajib ditaati? Jika iya, maka saya pun bertanya, “Demi Allah, apa orang macam kalian memenuhi syarat-syarat seorang imam yang disebutkan para ulama atau mungkin satu saja dari syarat-syarat tersebut?”
Demi Allah, hentikan tindakan dan fanatisme buta kalian! Kami masih bisa memberi pembelaan karena masyarakat kita ini masih awam dan jahil dari kalam para ulama. Akan tetapi apa pembelaan kalian nanti ketika menghadap Allah SWT? Sadarlah, takutlah siksa Allah Yang Maha Perkasa di langit dan bumi.

** Penggalan dari terjemahan kitab Ash-Shawaiqul Ilahiyyah, karya santri  Ribath Darushohihain.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s