Tataran Praktis Prinsip Ahlussunnah

Ahlussunnah wal Jamaah memandang perlu adanya aturan khusus dalam mengamalkan prinsip yang meliputi akidah, syariah, tashawwuf, pergaulan antar golongan, kehidupan bernegara, kebudayaan dan dakwah supaya tercapai kesempurnaan yang hakiki dalam melaksanakan perintah syara dan tercapainya keseimbangan antar unsur dalam kehidupan bermasyarakat. Prinsip-prinsip tersebut adalah sebagai berikut:

1. Akidah
Dalam hal akidah Ahlussunnah wal Jamaah mempertimbangankan dan menetapkan beberapa hal di bawah ini.
Keseimbangan dalam telaah dan penggunaan dalil akal (tajsim dan tasybih) dan dalil syara (mutsbit maa tanzih) agar tidak mengalahkan salah satunya.
Memurnikan akidah dengan cara membersihkan dan meluruskannya dari pengaruh akidah yang sesat, baik dari dalam maupun dari luar Islam.
Menjaga keseimbangan berfikir supaya tidak mudah menilai salah, menjatuhkan vonis syirik, bidah pada orang lain yang seakidah, apalagi mengkafirkannya.

2. Syariah
Dalam hal syariah, Ahlussunnah wal Jamaah mempertimbangkan dan menetapkan beberapa hal di bawah ini.
Berpegang pada al-Quran dan al-Hadits dengan cara-cara yang benar menurut ahlinya, yakni ulama salaf yang dapat dipertanggungjawabkan kebenarannya.
Akal dapat digunakan ketika terjadi masalah dan tidak ditemukan dalil nash (al-Quran dan Hadits) yang jelas dan mengikat.
Menerima setiap perbedaan pendapat para imam mujtahidin dalam menilai suatu masalah, ketika dalil nash masih mungkin ditafsirkan yang lain.
Selalu mempertimbangkan aspek kemaslahatan dalam mengamalkan syariat di tengah-tengah lapisan masyarakat yang plural.

3. Tashawwuf
Dalam hal tashawwuf, Ahlussunnah selalu berpegang teguh dan berhati-hati dalam beberapa hal penting, yaitu:
Mendorong dan mengajarkan faham Ahlussunnah dalam bidang tashawwuf dnegan menggunakan cara-cara yang tidak bertentangan dengan syariat Islam.
Tidak merasa diri lebih baik dan lebih sempurna dibanding orang lain.
Bersikap sopan santun, rendah diri dan menjaga hati dengan kekhusyuan dan keikhlasan dengan siapapun dan dimanapun berada.
Selalu berusaha mewujudkan rasa aman, tentram pada diri sendiri khususnya dan lapisan masyarakat pada umumnya.
Tidak mudah tergoyah, tergoda, dan termakan isu-isu yang menyesatkan dan tidak bertanggungjawab.
Tidak terlalu berlebihan dalam menilai sesuatu, tenang, dan bijak dalam mengambil sikap serta mempertimbangkan kemaslahatan.

4. Bergaul antar Kelompok
Dalam pergaulan, Ahlussunnah menilai adanya hal-hal yang terpenting, antara lain.
Bersikap santun dengan keluarga, tetangga dan orang lain demi untuk tujuan dakwah.
Bersikap tegas, bijak dan mengambil posisi yang tepat terhadap pihak-pihak yang ingin merusak Islam.

5. Kehidupan Bernegara
Dalam kehidupan bernegara, Ahlussunnah menentukan beberapa hal berikut:
Mempertahankan nilai-nilai agama Islam Ahlussunnah wal Jamaah dan UUD 45 dalam bingkai NKRI (Negara Kesatuan Republik Indonesia) sebagai negara yang sah.
Mentaati dan mematuhi pemerintah atas semua peraturan dan kebijakan yang berlaku selama tidak bertentangan dengan ajaran Islam.
Tidak melakukan bentuk perbuatan apapun yang berakibat pada jatuhnya kewibawaan, memicu pemberontakan dan penggulingan terhadap pemerintah yang sah.
Jika pemerintah melakukan penyimpangan dari aturan agama Islam, membuat rakyat sengsara, maka harus mengingatkannya dengan cara yang baik.
Mengawal dan mengkritisi kebijakan pemerintah yang melanggar syariat dan UUD 45, demi tercapainya sebuah pemerintah yang adil bersih dan berwibawa.

6. Tradisi
Dalam masalah tradisi, Ahlussunnah memberikan batasan-batasan sebagai berikut:
Meletakkan tradisi pada posisi yang tepat serta menilai dan mengukur dengan nilai-nilai ajaran Islam.
Menerima tradisi yang baik dan tidak bertentangan dengan agama Islam siapapun yang membawa dan dari manapun datangnya.
Melestarikan tradisi lama yang lebih baik dan mengambil tradisi baru yang seuai dengan syara.

7. Dakwah
Dalam hal dakwah, Ahlussunnah menganjurkan berdakwah yang ditujukan kepada seluruh lapisan masyarakat dengan memperhatikan beberapa ketentuan sebagai berikut:
Dakwah dilakukan dengan nilai yang ikhlas, tulus memberikan bimbingan, pencerahan dan pengarahan demi tercapainya tujuan utama, yaitu mendapatkan kebahagiaan di dunia dan kemuliaan di akhirat.
Materi dakwah disesuaikan dengan kondisi dan kemampuan berfikir masyarakatnya.
Berdakwah bukan bertujuan untuk menyalahkan, menghukumi ataupun mengkafirkan orang lain, akan tetapi untuk memupuk rasa persaudaraan dan mengajak masyarakat menuju jalan yang diridlai Allah SWT.

#kutipan dari karya Syaikhina KH. M. Najih Maimoen yang berjudul “Nilai-Nilai Aswaja dalam Kehidupan Pluralitas Kebangsaan”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s