URGENSITAS SYARI’AT ISLAM DALAM REALITAS KEHIDUPAN

Syariat Islam adalah satu-satunya syariat yang sesuai dengan perkembangan zaman, cocok untuk segala generasi, dan selaras dengan realitas kehidupan. Dalam prinsip-prinsip Syariat Islam, terdapat kekuatan paripurna yang akan selalu membantu kita dalam menetapkan hukum yang selalu hidup,t umbuh, dan berkembang bagi kehidupan manusia dengan beragam latar-belakang budayanya.

Syariat Islam yang dinamis ini sungguh rasa keadilan, ketenangan, dan kehidupan yang mulia dan bersih.
Syariat Islam telah membuktikan kekuatan argumentasi, dalil, dan kemampuannya untuk membuktikan dirinya relevan dengan zaman.Demikian pula kemampuannya untuk bertahan hidup dalam menghadapi kehidupan ketika diberi kesempatan untuk membuktikan kemampuan dirinya dalam menyesuaikan diri dengan dunia nyata. kesempatan bagi Syariat Islam untuk membuktikan keandalannya adalah kesempatan yang demikian mulia. sebab, di dalam kesempatan ini, tampak jelas keadilan sosial, kemuilian manusia, dan menjadinya citra mulia yang menjadi menara cemerlang dan menyinari genaerasi manusia yang sedang menapak tangga kebaikan dan kemuliaan.

Di dalamnya, umat manusia dapat menikmati kehidupan yang sangat membahagikan. Bahkan, lebih dari itu, mereka kaum Muslimin menyiapkan diri untuk mengemban misi pembebasan dunia dari belenggu kezaliman, kebodohan, dan gelapnya kesesatan. Realitas umat manusia lainnya yang memberlakukan sistem hukum yang bertentangan dengan Syariat Islam menyaksikan dengan jelas sekali keluhuran dan kesempurnaan Syariat Islam. Bahkan, lebih dari sekedar mengakui, mereka ternyata bersedia menggugurkurkan sebagian peraturan dan udanng-udangnya dan tidak ada jalan lain kecuali meniru sebagian apa yang ditetapkan Syariat Islam.

Sungguh, cakupan dan kandungan Syariat Islam meliputi segala problem manusia. Oleh karena itu, Syariat Islam dapat mengatur segala keadaan manusia dan memenuhi segala kebutuhan hidupnya, meskipun tempat tinggal mereka saling berjahuan, berbeda bangsa, dan bahkan tradisi serta adat-istiadatnya pun sangat berjauhan. Kemuliaan dan kesempurnaan Syariat Islam ini pasti dipahami dan diterima oleh semua orang kecuali mereka yang sangat bodoh dan merendahkan diri sendiri.

Akan tetapi, berbagai problem pelik manusia tidak jelas batasannya dan bahkan hampir tidak terbatas, adalah suatu kebodohan dan kekerdilan bila ada yang mminta dalil tekstual yang jelas dari al-qur’an dan sunnah Nabi SAW yang sesai dengan problem-problem terbaru manusia ini, hari demi hari. Disini, banyak peneliti yang mempertanyakan berbagai persoalan yang munkin mereka kaji ulang, diubah atau tidak diubah. Selain itu, ada juga masalah-masalah yang tidak munkin diutak-atik lagi. Problem-problem seperti ini akan nampak jelas dan akan mudah dipecahkan bila sudah diketahui bahwa hukum-hukum dalam Syariat Islam itu, baik masalah yang halal atau pun yang haram, dikembalikan pada empat prinsip berikut:

Pertama: Berupa dalil-dalil yang pasti (qoth’i) yang sampai kepada kita melalui jalur yang pasti pula, dalil-dalil seperti ini masuk kedalam kategori yang di tetapkan secara tegas (qoth’iyah al-tsubut) yang termasuk kedalam kategori ini adalah dalil-dalil tekstual (al-nushush) yang sampai kepada kita melalui jalur mutawatir, dan pengertianya hanya satu seperti dalil perintah sholat dan haramnya berzina. Dalil-dalil seperti ini menjadi kaidah-kaidah dan hukum-hukum pasti yang harus di akui, tidak boleh diragukan oleh setiap Muslim, tidak memiliki kemungkinan makna lain, dan tidak ada kekaburan di dalamnya. Bahkan tidak terjadi perbedaan dikalangan para ulama’ Fiqih. Dalil-dalil yang pasti ini merupakan kaidah-kaidah pokok dalam Syariat Islam, dan merupakan induk jagalah keutamaan yang disanjung dan dipuji oleh dunia mengingat manfaatnya yang demikian besar. Oleh karena itu, Allah menjadikanya sebagai ungkapan-ungkapan yang jelas dan mudah, dalil-dalil tekstual yang jelas dan tidak munkin disimpangkan dan diselewengkan maknanya, tidak menerima ta’wil atau tidak layak didebat, dan tidak mengandung keraguan. Bahkan kesemuanya itu dijadikan sebagai induk kitab yang memuat berbagai masalah hukum, dan menjadi rujukan setiap makna kata-kata yang bermuatan hukum. Dalil-dalil itu demikian penting. Sehingga tidak memberi kesempatan kepada seseorang untuk keluar darinya, bahkan tidak boleh mempermainkan makna dengan menakwilkanya dan apalagi melakukan pemaknaan sesuka hawa nafsu sendiri.

Kedua: Dalil-dalil bersifat spekulatif (zhanniyyah) yang kurang cukup memenuhi kriteria kepastian ketika sampai kepada kita. contoh dalil-dalil seperti ini adalah hadits-hadtis Ahadi dengan segala macamnya. Atau, pengertiannya juga tidak tegas dan tidak jelas. Misalnya saja, dalil-dalil itu mempunyai kemungkinan makna-makna yang lain. Di wilayah inilah terbuka pintu ijtihad dan penalaran atau pengkajian lebih mendalam. sebagai pelaku ijtihad, seorang mujtahid berperan melakukan penafsiran atas dalil-dalil zhaniyyah dan menjelaskan maksudnya saja, tetapi ia tidak berhak keluar dari wilayah dalil-dalil itu dan kemudian menentangnya. ia juga tidak boleh keluar darinya tanpa alasan yang benar dan pasti.
Hal yang penting ini perlu di perhtikan secara cermat karena satu dalil tekstual kadangkadang memepunyai kemungkinan makna lebih dari satu dan tidak ada indikasi yang memastikan kebenaran suatu makna tertentu tanpa makna-makna lainnya. Cara yang tepat dan kuat untuk mengambil satu makna dan mendahulukannya atas makna yang lain dalam sebuah dalil tekstual adalah ijtihad (al-ijtihad), penalaran mendalam (al-nazhar), dan pengkajian (al-bahts). Meskipun dilakukan pengkajian mendalam, penalaran, dan penalaran cermat, masih dimungklinkan adanya penguat (al-tarjih) atas suatu makna yang lemah (al-marjuh) dalam kurun waktu tertentu demi kemaslahatan tertentu.

Ketiga: adalah kaidah tentang ibadah. Dalam kaidah tentang ibadah, ditetapkan bahwa Allah disembah hanya melalui apa yang disyariatkan-Nya. Oleh karena itu, seluruh tata cara ibadah ritual tidak perlu dipertanyakan (tauqifiyyah) dan hanya Allah sajalah yang mengetahui hakikatnya. Hanya Allah sajalah yang mengetahui ibadah apa yang diridhai-Nya dan tidak diridhoi-Nya. Dalam Alquran dan Sunnah Nabi saw dikelaskan segala sesuatu yang berkaitan dengannya, jadi, ibadah kepada Allah haruslah merujuk pada-Nya dan ditepkan oleh Alquran, Sunnah Nabi saw dan mengikuti tradisi para salaf salih. Allah berfirman:
“Katakanlah: “Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu.”Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang “.
(QS: Ali Imron: 31)
dan Allah juga berfirman:
“Sesungguhnya Telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah.”(QS: Al-Ahzab: 21)
Dan sabda Nabi SAW:
“Barang siapa menciptakan hal baru dalam agama maka hal itu di tolak”.
dan sebagian ulama’ salaf berkata:
“Baik-baiknya parkara adalah yang sesuai dengan sunah nabi dan para sahabatnya, dan jelek-jeleknya perkara adalah yang baru dan bid’ah”.
Keempat: Adalah Kaidah dalam Muamalah. Menurut hukum asalnya, muamalah boleh dilakukan sampai diketahui ada larangan atasnya. Apa yang didiamkan oleh sang pembuat syariat , yakni Allah, dan tidak ada perintah, larangan atau hak memilih berarti boleh dipertimbangkan. Ringkasnya, apa yang didiamkan oleh Allah dan tidak mengandung bahaya atau madarat menurut hukum asalnya dinilai sah dan diperbolehkan. Dalil pandangan ini adalah segala bentuk transaksi atau akad dan muamalah didasarkan pada kebiasaan dan tradisi. Oleh karena itu, muamalah pun berjalan dan berlaku seperti itu selama tidak ada larangan. Allah berfirman:
“Dan sesungguhnya Allah telah menjelaskan kepadamu apa yang diharamkan-Nya atasmu”,(QS Al-An’am:119)

Berdasarkan ayat ini, segala bentuk transaksi dan muamalah dinilai halal dan sah, kecuali apa yang telah dijelaskan ke-haramannya dalam Alquran dan Sunnah Nabi saw. karenannya, segala bentuk syarat atau akad atau muamalah yang belum (tidak) disebutkan oleh Allah tidak boleh diharamkan kecuali bila sudah dalil yang melarangnya atau ada indikasi yang menjelaskan bahayanya. Sebab, ketika Allah tidak menyebutkan-nya, dia sesungguhnya justru lebih menyayagi hamba-hamba-Nya dan bukan lantaran lupa.
Imam At-Tirmidzi meriwayatkan dari salman al Farisi bahwa nabi saw bersabda,
“Yang halal adalah apa yang di halalkan Allah dalam kitabnya, sementara yang di diamkannya termasuk dalam apa yang dimaafkannya atas kaliana”.
Imam at Daruquthni juga meriwayatkan dari Abu Tsalabah bahwa nabi saw bersabda:
“Sesungguhnya Allah telah mewajibkan beberapa perkara yang fardhu dan, karena itu, janganlah kalian menyia-nyiakannya. Dia telah menetapkan beberapa ketentuan dan, kerena itu, janganlah kalian melampauinya. Dia tidak menyebutkan hukum beberapa perkara karena menyayagi kalian dan bukan karena lupa. Oleh sebab itu, janganlah kalian mencari-carinya. ”
Berdasarkan beberapa hadist dan ayat Al Qur’an diatas, diketahui bahwa hukum asal perkara selain Ibadah adalah dibolehkan (al Ibahah) sampai ada dalil khusus yang menunjukkan kebalikannya. Makna inilah yang dimaksudkan oleh para ulama fiqih dalam kaidah berikut ini: “muamalah boleh dilakukan sampai diketahui ada larangan atasnya”(al muamalat thalq hatta yu’lam al man’u) “.

** Kajian Ilmiah KH. M. Najih Maimoen

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s