MAKALAH SEMINAR NASIONAL ISLAM NUSANTARA DI UNIVERSITAS NEGERI MALANG

ِ
الْحَمْدُ لِلهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِينُهُ وَنَعُوذُ بِاللهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلهَ إِلَّا اللهُ وَأَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ  وَرَسُوْلُهُ، صَلَّى اللهُ وَسَلَّمَ عَلَى رَسُولِ الله ِ وَعَلى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَمَنْ وَالَاه، أَمَّا بَعْدُ:
Islam Nusantara hadir disaat kaum liberal dan para pembajak akidah beranggapan bahwa Islam yang sekarang dianggap gersang, terkekang, ke-Arab-araban, anti seni, anti budaya, anti kemajuan sekaligus anti emansipasi wanita. Gejala puritanisme menjadi alasan lahirnya wacana Islam Nusantara. Menurut mereka, toleransi antar umat beragama semakin memudar dan jauh dari pertemuan peradaban dengan agama lainnya. Bagi mereka, Islam, Hindu, Budha, Kristen, Protestan, dan Konghucu sama-sama agama samawi yang mengajarkan kebaikan yang bisa menghantarkan pemeluknya masuk surga. Dengan Islam Nusantara, mereka menginginkan Islam yang fleksibel, toleran, dan sinkretis.
Islam Nusantara hadir untuk men-sinkronkan Islam dengan budaya dan kultur Indonesia. Ada doktrin sesat dibalik lahirnya wacana Islam Nusantara. Dengan Islam Nusantara mereka mengajak umat untuk mengakui dan menerima berbagai budaya sekalipun budaya tersebut kufur, seperti doa bersama antar agama, pernikahan beda agama, menjaga Gereja, merayakan Imlek, Natalan dst. Mereka juga ingin meng-hidupkan kembali budaya-budaya kaum abangan seperti nyekar, ruwatan, sesajen, blangkonan, sedekah laut dan sedekah bumi (yang dahulu bernama nyadran).
Dalam anggapan mereka, Islam di Indonesia adalah agama pendatang yang harus patuh dan tunduk terhadap budaya-budaya Nusantara. Tujuannya agar umat Islam di Indonesia terkesan ramah, tidak lagi fanatik dengan ke-Islamannya, luntur ghiroh islamiyahnya. Ada misi “Pluralisme Agama” dibalik istilah Islam Nusantara, disamping  juga ada tujuan politik (baca; partai) tertentu, yang jelas munculnya ide tersebut telah menimbulkan konflik, pendangkalan akidah serta menambah perpecahan di tengah-tengah umat.
Menurut KH. Idrus Ramli, saat jumpa pers di media center muktamar NU ke-33 di Jombang menyatakan:”Ada tiga kelompok yang menyusup masuk dalam struktur PBNU. Ada kelompok pengurus yang berlatar belakang membela Syi’ah, ada yang berkepentingan untuk wahhabiyah dan ada yang mempunyai misi menyebarkan ideologi liberal” (www.jatimtimes.com). Beliau menolak kehadiran Islam Nusantara dengan mengemukakan beberapa alasan, diantaranya: 1. Nusantara Adalah Istilah Pra-Islam. 2. Istilah Islam Nusantara Mengkaburkan Aswaja 3. Konsep Islam Nusantara Asal-Asalan.
Seperti dikutip dari Suara Islam Online, Buya Yahya menyatakan, secara istilah, Islam Nusantara sebenarnya tidak masalah, akan tetapi saat ini sedang digunakan sebagian orang untuk tujuan jahat. Menurutnya, kalau Islam  di Indonesia atau Islam di Nusantara maksudnya Islam disebarkan di Nusantara, bukan berarti tidak mau dengan Arab. Tapi manusia liberal ini memfitnah menggunakan istilah ini untuk memasukkan macam-macam yang ngaco itu, kalau seandainya tidak ada liberalisme, tidak ada orang-orang liberal, kita mengucapkan Islam Nusantara memang indah. Sederhananya, Islam nusantara itu ada dua makna, kalau menurut orang yang paham syariat itu maknanya kelembutan, tapi kalau dimaknai orang-orang liberal itu jadi beda.
Kaum Liberal secara struktural dan terorganisir bergerak ingin mengacak-acak dan merubah tatanan ideologi NU, yaitu ideologi Sunni, Asya’irah dan Maturidiyah, berpegang pada al-Qur’an dan Hadits serta qaul-qaul ulama salafus sholih dalam bermadzhab empat, diganti menjadi ideologi liberal ala Islam Nusantara sebagai bentuk kelangsungan ide Gus Dur “Pribumisasi Islam”. Lewat Islam Nusantara mereka ingin menghidupkan kembali sistem Hindu-Budha ala Majapahit. Ada aroma komunis di balik wacana Islam Nusantara.

Al-Quran Langgam Jawa; Syubhat Syi’ar Islam Nusantara
Allah SWT memerintahkan kita untuk membaca al-Qur’an dengan tartil, menghayati makna-makna yang terkandung di dalamnya, dan khusyu’ ketika membacanya, sehingga orang yang mendengarkannya juga dapat menghayati makna-makna yang terkandung didalamnya. Para ulama’ telah konsensus tentang kewajiban membaca al-Qur’an dengan tartil yakni memberikan hak-hak setiap hurufnya atau yang dikenal dengan istilah tajwid. Oleh karena itu Rasulullah SAW melarang membaca al-Qur’an dengan irama yang bisa mengubah panjang pendek huruf al-Qur’an.
Mengenai pembacaan al-Qur’an dengan lagu yang tidak dikenal, irama, cengkok, dan nada musik, Ibn al-Qayyim dalam kitab Zaad Al-Ma’ad menilainya sebagai perkara bidah, ini pernyataannya:
وَكُلُّ مَنْ لَهُ عِلْمٌ بِأَحْوَالِ السَّلَفِ يَعْلَمُ قَطْعًا أَنَّهُمْ بُرَآءُ مِنَ الْقِرَاءَةِ بِأَلْحَانِ الْمُوسِيْقَى الْمُتَكَلَّفَةِ، الَّتِي هِيَ إِيقَاعَاتٌ وَحَرَكَاتٌ مَوْزُونَةٌ مَعْدُودَةٌ مَحْدُودَةٌ، وَأَنَّهُمْ أَتْقَى لِلهِ مِنْ أَنْ يَقْرَءُوا بِهَا وَيُسَوِّغُوْهَا (زاد المعاد، 1/ 474)
Namun realitanya sekarang dalam dunia Islam sudah dikenal ilmu taghanni dengan beberapa aturan dan tatanan baku dan dipraktekkan pada acara-acara musabaqoh tilawatil qur’an yang diselenggarakan diberbagai negara Islam, seperti Saudi Arabia, Suriah, Turki, Indonesia, Malaysia, Brunei dan lain-lain. Kami kurang tahu sejak kapan munculnya ilmu taghanni tersebut, yang jelas dari sekian model lagu yang dibuat musabaqoh tilawatil quran, tidak pernah diketemukan pemakaian Langgam Jawa, karena memang langgam Jawa menyalahi aturan dan ketetapan ilmu taghanni, dan pasti dianggap aneh oleh masyarakat Islam dunia. Jadi kesimpulannya, pembacaan al-Quran dengan langgam jawa itu dikategorikan bidah menurut Ibn al-Qayyim, dan tidak dikenal bahkan tidak pernah dipakai dalam acara musabaqoh tilawatil quran pada zaman sekarang. Menurut kami pembacaan al-Quran dengan langgam jawa hukumnya haram demi menjaga keagungan dan kemuliaan al-Quran, berikut kami paparkan beberapa argumentasi keharamannya:
Tasyabbuh dengan ahlul ahwa’ wal fussaq. Jika al-Quran dibaca dengan langgam Jawa, tentu bacaan tersebut menyerupai ucapan dalang, sinden dan dukun kebatinan Jawa (kejawen) yang biasa menggunakan langgam jawa dalam tayub, sindir, pewayangan, dan paguyuban Jawa. Jika al-Quran dibaca dengan langgam Jawa, tentu bacaan tersebut menyerupai ucapan dalang, sinden dan dukun kebatinan Jawa (kejawen) yang biasa menggunakan langgam jawa dalam tayub, sindir, pewayangan, dan paguyuban Jawa. Padahal Rasulullah SAW bersabda:
قال رسول الله صلى الله عليه وسلم وَمَنْ تَشَبَّهَ بِقَوْمٍ فَهُوَ مِنْهُمْ (رواه أبو داود، والبيهقي، وأحمد، وابن حبان)
“Barangsiapa yang menyerupai suatu kaum, maka dia termasuk golongan kaum tersebut”. (HR. Abu Dawud, Al-Baihaqi, Ahmad,dan Ibnu Hibban)
Para ulama telah membahas tidak diperbolehkan menyerupai hal-hal yang sudah menjadi syi’ar ahlul ahwa’ wal Fussaq, lihat kitab Ihya’ Ulumuddin (Juz 2/hal. 305), Ithaf As-Saadah (Juz 7/Hal. 591-592) Fiqhu Al-Islam (Juz 5/Hal. 468) Is’adu Ar-rofiq (Juz 2/Hal. 67).
Mengabaikan perintah Rasulullah SAW tentang tata cara membaca al-Quran, Rasulullah SAW bersabda;
عن حذيفة رضي الله عنه أنّ رسول الله صلى الله عليه وسلم قال : إقْرَءُوْا القُرْآنَ بِلُحُونِ العَرَبِ وأصْوَاتِهَا وَإيَّاكُمْ وَلُحُونَ أهْلِ الكِتابَيْنِ وأهْلِ الفِسْقِ فإنَّهُ سَيَجِيءُ بَعْدِي قَوْمٌ يُرجِّعُونَ بالقُرْآنِ تَرْجِيعَ الغِناءِ والرَّهْبانِيَةِ والنَّوْحِ لَا يُجاوِزُ حَناجِرَهُمْ مَفْتُونَةً قُلُوبُهُمْ وقُلوبُ مَنْ يُعْجِبُهُمْ شأنهم.  ** أخرجه الطبراني في ( الأوسط )) – كما في (( المجمع )) ( 7/ 169) – وابن عدي في ( الكامل )) (2/ 510-511)، وابن الجوزي في (( الواهيات )) ( 1/ 118) من طريق بقية بن الوليد ، عن الحصين بن مالك الفزاري ، عن أبي محمد ، عن حذيفة مرفوعاً .. فذكره . وعزاه التبريزي في (( المشكاة )) ( 1/ 676) للبيهقي في (( شعب الإيمان )) ، ولرزين في كتابه . وعزاه القرطبي في (( تفسيره )) (1/ 17) للحكيم في (( نوادر الأصول ))، والسيوطي: الإتقان ج 1 ص 101 و 102
Imam Al-Qurthubi dalam tafsirnya (Juz: 1, Hal: 17) berkata:
ذكر الإمام الحافظ أبو الحسين رزين وأبو عبدالله الترمذي الحكيم في نوادر الأصول من حديث حذيفة أن رسول الله صلى الله عليه وسلم قال: ” اقرءوا القرآن بلحون العرب وأصواتها وإياكم ولحون أهل العشق ولحون أهل الكتابين وسيجيء بعدي قوم يرجعون بالقرآن ترجيع الغناء والنوح لا يجاوز حناجرهم مفتونة قلوبهم وقلوب الذين يعجبهم شأنهم” . اللحون جمع لحن وهو التطريب وترجيع الصوت وتحسينه بالقراءة والشعر والغناء. قال علماؤنا: ويشبه أن يكون هذا الذي يفعله قراء زماننا بين يدي الوعاظ وفي المجالس من اللحون الأعجمية التي يقرءون بها ما نهى عنه رسول الله صلى الله عليه وسلم والترجيع في القراءة ترديد الحروف كقراءة النصارى.
Imam As-Suyuthi dalam kitabnya, Al-Itqon fi Ulumil Qur’an (Juz: 1, Hal: 286) berkata:
قال في زوائد الروضة والصحيح أن الإفراط على الوجه المذكور حرام يفسق به القارئ ويأثم المستمع لأنه عدل به عن نهجه القويم قال وهذا مراد الشافعي بالكراهة قلت وفيه حديث اقرؤوا القرآن بلحون العرب وأصواتها وإياكم ولحون أهل الكتابين وأهل الفسق فإنه سيجيء أقوام يرجعون بالقرآن ترجيع الغناء والرهبانية لا يجاوز حناجرهم مفتونة قلوبهم وقلوب من يعجبهم شأنهم أخرجه الطبراني والبيهقي
Tidak menghormati al-Qur’an, karena diantara tata cara mengagungkannya adalah tidak membaca al-Qur’an dengan lagu-lagu orang fasiq, Imam Al-Hakim At-Tirmidzi dalam kitabnya Nawadirul Ushul (Juz: 3 Hal: 255) menandaskan:
ومن حرمته أن لا يقرأه بألحان الغناء كلحون أهل العشق ولا بترجيع النصارى ولا نوح الرهبانية فإن ذلك كله زيغ
Pelanggaman Jawa menuntut dan mengakibatkan pembacanya harus menyesuaikan al-Quran dengan nada dan irama khasnya, seperti halnya pembacaan al-Quran dengan model lagu rock, dangdut dan lain sebagainya. Ini jelas akan menyalahi aturan Tajwid dan tergolong takalluf fil Qiraah yang diharamkan. Imam al-Mawardi dalam kitabnya Al-Hawi Al-Kabir (Juz: 17 Hal: 403) berkata;
فإذا أخرجت الألحان ألفاظ القرآن عن صيغته ، بإدخال حركات فيه وإخراج حركات منه ، يقصد بها وزن الكلام وانتظام اللحن ، أو مد مقصور ، أو قصر ممدود ، أو مطط حتى خفي اللفظ ، والتبس المعنى ، فهذا محظور ، يفسق به القارئ ، ويأثم به المستمع ، لأنه قد عدل به عن نهجه إلى اعوجاجه، والله تعالى يقول: قُرْآنًا عَرَبِيًّا غَيْرَ ذِي عِوَجٍ لَعَلَّهُمْ يَتَّقُونَ [الزمر : 28]
Imam Zakariya al-Anshari dalam kitabnya Asnal Mathalib (Juz: 4, Hal: 344) berkata;
قال في الأصل ولا بأس بترديد الآية للتدبر ولا باجتماع الجماعة في القراءة ولا قراءته بالألحان إن لم يفرط فإن أفرط في المد والإشباع حتى ولد حروفا أو أسقط حروفا بأن ولدها من الحركات فتولد من الفتحة ألف ومن الضمة واو ومن الكسرة ياء أو أدغم في غير موضع الإدغام حرم ويفسق به القارئ ويأثم المستمع لأنه عدل به عن نهجه القويم
Imam Ibnu Hajar al-Haitami dalam kitabnya Asyaroful Wasa’il ila Fahmi as-Syama’il berkata;
قد كثر الخلاف في التطريب والتغني في القرآن، والحق أن ما كان منه طبيعيا وسجيا  (نسبة لسجية) كان محمودا، وما كان منه بالتكلف والألحان المخترعة فهذا هو الذي كرهه السلف. (الكراهية هنا: تحريمية)
Imam Ali al-Qori kitabnya Syarah Muqaddimah al-Jazariyah berkata;
والمراد بلحون العرب القراءة بالطبع وبالأصوات السليقة، وبلحون أهل الفسق الانعام المستفادة من الموسيقى والامر محمول على الندب، والنهى محمول على الكراهية إن حصل مع المنهى عنه المحافظة على صحنه ألفاظ الحروف، وإلا فمحمول على التحريم.
Demikianlah pendapat kami seputar pembacaan Al-Qur’an dengan langgam Jawa. Sebenarnya pertunjukan pembacaan al-Qur’an dengan Langgam Jawa dan sejenisnya adalah rentetan pengamalan dan syiar Islam Nusantara yang diusung kaum liberal, Wallahu A’lam.

Aroma Kental Liberalisme dalam Konsep Islam Nusantara  Ala Quraisy Shihab
Statement: Dalam situs http://www.nu.or.id, Quraish Shihab menyatakan istilah Islam Nusantara bisa saja diperselisihkan. Terlepas setuju atau tidaknya dengan istilah tersebut, ia lebih terfokus pada substansi. Islam sebagai substansi ajaran. Islam pertama turun di Makkah lalu tersebar ke Madinah dan ke daerah-daerah lain, Negara Yaman, Mesir, Irak, India, Pakistan, Indonesia dan seluruh dunia.
Islam yang menyebar itu bertemu dengan budaya setempat. Dia memberi contoh, sejak dahulu sebelum Islam orang Makkah sudah melakukan thawaf (ritual mengelilingi Kabah). Namun, kaum perempuan ketika thawaf tanpa busana. Alasan mereka karena harus suci, kalau mengenakan pakaian bisa jadi tidak suci, maka mereka menghadap Tuhannya dengan apa adanya alias telanjang. Kemudian Islam datang tetap mentradisikan thawaf akan tetapi merevisinya dengan harus berpakaian suci dan bersih, serta ada pakaian ihram bagi yang menjalankan haji dan umrah.
Alhasil, jika ada budaya yang bertentangan dengan Islam maka harus ditolak atau direvisi, dan jika sejalan maka diterima. Inilah prinsip Islam dalam beradaptasi dengan budaya. Jadi Islam itu bisa bermacam-macam akibat keragaman budaya setempat. Bahkan adat, kebiasaan dan budaya bisa menjadi salah satu sumber penetapan hukum Islam, katanya.
Tanggapan: Dari pernyataan Quraish Shihab diatas terdapat kekeliruan dalam berpikir. Jika ia menyatakan semua hukum-hukum Islam itu akomodatif dan terkena akulturasi, berarti ia menyamaratakan seluruh hukum Islam, baik yang berubah-ubah mengikuti perubahan zaman dan tempat/masail ijtihadi (objek ijtihad) bahkan yang bersifat Qathiyy al-Tsubut (aksiomatis permanen) sekalipun, seperti Rukun Lima Islam, kewajiban jilbab (berhijab/ satrul aurat), keharaman khamr dan zina, dan seterusnya. Jika demikian, maka hal ini bertentangan dengan prinsip Ahlussunnah wa Jamaah, bahwa tidak boleh merubah hukum-hukum Islam yang bersifat malum min al-din bi al-dlarurah, karena termasuk kekufuran meski kami tetap menahan diri untuk mengecap pelakunya kafir. Syaikh Ibrahim al-Laqqani dalam Nazham Jauharah al-Tauhid menyebutkan:
مِنْ دِيْنِنَا يُقْتَلُ كُفْرًا لَيْسَ حَدّْ
وَمَنْ لِمَعْلُوْمٍ ضَرُوْرَةً جَحَدْ

أَوِ اسْتَبَاحَ كَالزِّنَا فَلْتَسْمَعِ
وَمِثْلُ هَذَا مَنْ نَفَى لِمُجْمَعِ

Islam tidaklah berakulturasi dan beradaptasi dengan budaya, bahkan justru budaya setempat yang di-Islamisasi atau disesuaikan dengan hukum-hukum Islam, hal ini dibuktikan dengan adanya seleksi ketat dalam memilih adat/budaya yang sah dijadikan acuan hukum dalam Islam, seperti adat/budayanya harus Mutthorid atau Ghalib, tidak bertentangan dengan dalil-dalil syara, harus bersifat mengikat, tidak terdapat ucapan atau perbuatan lain yang bertentangan dengan adat tersebut, dan seterusnya yang sudah termaktub dalam kitab-kitab Qowaidul Fiqh. Jadi budaya daerah belum tentu bisa dijadikan dasar pencetusan hukum Islam, apalagi kok mengaturnya!  
Adapun keberagaman pengamalan Islam di berbagai tempat di dunia itu sama sekali tidak membuat Islam jadi bermacam-macam. Ada Islam Nusantara, Islam Amerika, Islam Arab, dan seterusnya. Justru pemahaman seperti inilah yang mengakibatkan terjadinya pengkotak-kotakan Islam, sehingga umat Islam pun menjadi kabur tentang manakah Islam yang benar, sehingga dapat pula nilai dan ajaran Islam bersifat relatif mengikuti kultur budaya masyarakat, ini jelas mengarah pada pemikiran Liberalisme.
Quraisy Syihab juga keliru jika mengatakan bahwa thawaf adalah tradisi Jahiliyyah yang direvisi. Thawaf adalah Syariah yang ditetapkan langsung oleh Allah SWT. Thawaf di Baitullah merupakan perintah Allah SWT kepada malaikat lalu diperintahkan kepada Nabi Adam AS hingga menjadikan taubatnya diterima. Thawaf menjadi amalan nabi-nabi setelahnya hingga pada zaman Nabi Ibrahim ditetapkan oleh Allah SWT sebagai bagian dari Syariah agama Ibrahim. (lihat: Jalaluddin al-Suyuthi, al-Durr al-Mantsur, juz 1 hlm. 247; Sirajuddin al-Dimasyqi, al-Lubab fi Ulum al-Kitab, juz 4 hlm. 225; al-Baidlawi, al-Tafsir, juz 1 hlm. 370) Demikianlah thawaf menjadi salah satu ajaran agama Allah, hingga kemudian Syariah Nabi Muhammad SAW mengembalikan kesucian thawaf dari penyembahan berhala dan tradisi Jahiliyyah. Jadi, thawaf bukanlah tradisi orang Arab seperti yang Quraish Shihab katakan.
Statement:  Selanjutnya, di situs news.merahputih.com pada Rabu 8 Juli 2015 menurunkan berita berjudul Quraish Shihab Setuju Islam Nusantara. Dalam artikel tersebut Quraish Shihab mengatakan bahwa Islam Nusatara bukanlah agama yang baru. Ini pemahaman ajaran agama yang dipengaruhi budaya.”
Dia mengatakan, al-Qur’an harus dipahami sesuai dengan konteks budaya dan ilmu pengetahuan yang berkembang. Dia mencontohkan, kaum perempuan, baik dari Muhammadiyah maupun Nahdlatul Ulama, pada zaman dahulu tidak memakai jilbab karena menganggap kebaya adalah pakaian terhormat. Kemudian, bisa jadi di negeri-negeri yang airnya kurang ulama-ulamanya membolehkan bertayammum saja, sambung mantan Menteri Agama ini.
Tanggapan: Dari keterangan diatas, terlihat sekali bahwa Quraish Shihab berupaya menginjeksikan pendapatnya tentang jilbab adalah budaya bukan kewajiban agama dalam menerangkan tentang Islam Nusantara. Dia mengatakan bahwa jilbab termasuk pemahaman ajaran agama yang dipengaruhi budaya, yang berarti penggunaan jilbab dipengaruhi oleh tradisi masyarakat yang dapat selalu berubah hukumnya. Jika Quraish Shihab menyamakan hukum berjilbab dengan tayammum maka hal itu adalah kesalahan besar. Tayammum dilakukan ketika suatu tempat atau daerah dilanda kekurangan air, sedangkan jilbab tetap wajib bagi Muslimah dimanapun dan kapanpun.
Argumentasi Quraish Shihab tentang sebagian orang terdahulu dari kalangan Muhammadiyah dan Nahdlatul Ulama tidak mengenakan jilbab juga tidak dapat diterima. Penggalian hukum semestinya menggunakan pendekatan sumber-sumber hukum baik al-Qur’an Hadits maupun turots ulama, bukannya dengan amalan sebagian Muslim yang terlihat berbeda dengan pendapat mainstream ulama. Jelas sekali dalam hal ini Quraish Shihab tidak menggunakan metodologi ilmiah dalam menyatakan pendapatnya.
Dalam bukunya berjudul Jilbab, Pakaian Wanita Muslimah: Pandangan Ulama Masa Lalu dan Cendekiawan Kontemporer, Quraish menyimpulkan bahwa, Ayat-ayat al-Qur’an yang berbicara tentang pakaian wanita mengandung aneka interpretasi. Juga, dia katakan, Bahwa ketetapan hukum tentang batas yang ditoleransi dari aurat atau badan wanita bersifat zhanniy yakni dugaan. Masih menurut  Quraish, Perbedaan para pakar hukum itu adalah perbedaan antara pendapat-pendapat manusia yang mereka kemukakan dalam konteks situasi zaman serta kondisi masa dan masyarakat mereka, serta pertimbangan-pertimbangan nalar mereka, dan sama sekali bukan hukum Allah SWT yang jelas, pasti dan tegas. Di sini, tidaklah keliru jika dikatakan bahwa masalah batas aurat wanita merupakan salah satu masalah khilafiyah, yang tidak harus menimbulkan tuduh-menuduh apalagi kafir mengkafirkan.” (hal. 165-167).
Dalam berbagai pernyataannya bahwa terjadi khilaf ulama tentang wajib tidaknya berjilbab bagi wanita di ruang publik, Quraish Shihab tidak pernah menyebutkan satupun ulama baik salaf maupun khalaf yang berpendapat bahwa jilbab di ruang publik bagi wanita adalah tidak wajib. Hal ini karena para ulama sepakat bahwa jilbab merupakan kewajiban bagi wanita yang ditegaskan secara sharih oleh Nash al-Qur’an. Allah SWT berfirman:
وَقُلْ لِلْمُؤْمِنَاتِ يَغْضُضْنَ مِنْ أَبْصَارِهِنَّ وَيَحْفَظْنَ فُرُوجَهُنَّ وَلَا يُبْدِينَ زِينَتَهُنَّ إِلَّا مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَلْيَضْرِبْنَ بِخُمُرِهِنَّ عَلَى جُيُوبِهِنَّ
Ayat al-Qur’an sendiri sudah secara tegas (nash sharih) menyebutkan batas aurat wanita, yaitu seluruh tubuh, kecuali yang biasa tampak, yakni muka dan telapak tangan. Para ulama tidak berbeda pendapat tentang masalah ini. Yang berbeda adalah pada masalah: apakah wajah dan telapak tangan wajib ditutup? Sebagian mengatakan wajib menutup wajah, dan sebagian lain menyatakan, wajah boleh dibuka (lihat keterangan-keterangan ulama seperti Ibn Juzay dalam al-Tashil li Ulum al-Tanzil, Jalaluddin al-Suyuthi dalam al-Durr al-Mantsur, Ibn Katsir dalam Tafsir al-Quran al-Azhim, dan lain-lainnya). Tentu akan menjadi aneh jika Allah SWT membatasi aurat wanita kecuali muka dan telapak tangan, akan tetapi membolehkan kepala dan lekuk dadanya terbuka.
Lalu, bagaimana Quraish Shihab mengklaim bahwa terjadi khilaf ulama tentang masalah jilbab? Ternyata, pendapatnya Quraish Syihab tentang jilbab tersebut banyak dipengaruhi oleh pemikiran Muhammad Thahir bin Asyur dan Muhammad Said Al-Asymawi, dua tokoh berpikiran liberal asal Tunis dan Mesir, yang berpendapat bahwa jilbab adalah produk budaya Arab. Contohnya, Quraish Shihab mengutip Muhammad Thahir bin Asyur yang menulis dalam bukunya Maqashid al-Syariah, Kami percaya bahwa adat kebiasaan satu kaum tidak boleh dalam kedudukannya sebagai adat untuk dipaksakan terhadap kaum lain atas nama agama, bahka tidak dapat dipaksakan pula terhadap kaum itu. (Quraish Syihab, Wawasan Al-Quran (Bandung: Mizan) hal. 178)
Sedangkan Asymawi menulis sebuah buku yang berjudul Kritik Atas Jilbab, yang diterbitkan oleh Jaringan Islam Liberal dan The Asia Foundation, April 2003, editor Nong Darol Mahmada, seorang aktivis liberal. Menurut Asymawi, illat hukum pada ayat ini (Al-Ahzab ayat 59/ ayat tentang jilbab), atau tujuan dari penguluran jilbab adalah agar wanita-wanita merdeka dapat dikenal dan dibedakan dengan wanita-wanita yang berstatus hamba sahaya dan wanita-wanita yang tidak terhormat, supaya tidak terjadi kerancuan di antara mereka. Illat hukum pada ayat di atas -yaitu membedakan antara orang-orang merdeka dan hamba sahaya- kini telah tiada, karena zaman sekarang sudah tidak ada lagi hamba sahaya.
Dengan demikian, tidak ada lagi keharusan membedakan antara yang merdeka dengan yang berstatus budak, maka ketetapan hukum yang dimaksud menjadi batal dan tidak wajib diterapkan berdasar syariat agama. Demikian pendapat Muhammad Said Al-Asymawi sebagaimana dikutip oleh Quraish Shihab. (http://www.blogger.com/blogger.g?blogID=3386765101577885756, diakses tanggal 4 oktober 2012).
Argumentasi Said Asymawi diatas berpangkal dari penolakannya terhadap kaidah Ushul Fiqh al-ibrah bi umum al-lafzhi la bi khushush al-sabab (yang diperhatikan dalam menentukan petunjuk teks adalah keumuman redaksi/teks, bukan kekhususan peristiwa yang melatarinya). Di tempat lain ia mengatakan bahwa kaidah tersebut bukanlah metode syari, akan tetapi produk fuqaha di tengah masa kegelapan peradaban dan stagnasi pemikiran. (lihat: Maalim al-Islam, hlm. 64; al-Khilafah al-Islamiyyah, hlm. 149; al-Islam al-Siyasi, hlm. 261)
Padahal, kaidah keumuman redaksi sebagai prioritas dalam menentukan hukum Islam merupakan kesepakatan jumhur ulama. Saifuddin al-Amidi (w. 631 H) dalam al-Ihkam fi Ushul al-Ahkam menjelaskan, Argumentasi madzhab mayoritas ulama dapat dijelaskan bahwa jika lafazh itu kosong dari sebab turunnya, maka itu artinya lafazh itu berlaku umum. Hal ini tak lain karena makna asli lafazh itu memang bersifat umum, bukan karena tidak adanya sebab yang menjadikan lafazh itu umum. (lebih rinci lihat Saifuddin al-Amidi, al-Ihkam fi Ushul al-Ahkam, juz 2 hlm. 347-351)
Dari keterangan diatas, jelaslah bahwa pendapat Quraish Shihab tentang tidak wajibnya jilbab hanya membebek pada pendapat-pendapat kaum liberal yang sangat lemah dan menyimpang dari metodologi ulama. Sayangnya, pendapat miring seperti ini mendapatkan tempat yang begitu tinggi untuk mendukung konsep Islam Nusantara, sehingga semakin nyata bahwa Islam Nusantara telah menjadi gerbang besar liberalisasi Islam di Indonesia. Wallahu Alam.
Statement: Pada tayangan Tafsir Al-Misbah yang disiarkan oleh Metro TV pada Sabtu, 12 Juli 2014, Prof DR Quraish Shihab mengeluarkan pernyataan kontroversial bahwa Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi Wasallam tidak dijamin masuk surga.
Tayangan yang akhirnya diunggah di Youtube itu, alumni universitas Al Azhar ini berdalil dengan hadits tentang amalan shalih itu merupakan salah satu faktor yang bisa memasukkan seseorang ke dalam surga.
Tidak benar. Saya ulangi lagi tidak benar bahwa Nabi Muhammad mendapat jaminan Surga. Nah.. surga itu hak prerogratif Allah. Ya tho? memang kita yakin bahwa beliau mulia. kenapa saya katakan begitu? Karena ada seorang sahabat nabi dikenal orang terus teman-teman disekitarnya berkata, bahagialah engkau akan mendapat surga. Kemudian nabi dengar, siapa yang bilang begitu, nabi berkata, tidak seorang pun orang masuk surga karena amalnya, dia berkata baik amalnya akan masuk surga, surga adalah hak prerogratif Tuhan, ujar Quraish Shihab dalam rekaman yang diunggah di Youtube.
Tanggapan: Pernyataan Quraish Shihab seperti ini jelas menyesatkan dan berbahaya bagi akidah umat Islam. Rasulullah Muhammad SAW adalah manusia yang sangat dicintai oleh Allah SWT, bahkan disandingkan dengan nama-Nya dalam dua kalimat syahadat. Rasulullah SAW diutus oleh Allah SWT sebagai rahmatan lil alamin (rahmat semesta alam) dan uswatun hasanah (teladan yang baik) bagi seluruh umat manusia. Lalu bagaimana logikanya bahwa kekasih tertinggi Allah tersebut tidak dijamin masuk surga? Allah SWT berfirman:
وَمَا أَرْسَلْنَاكَ إِلَّا رَحْمَةً لِلْعَالَمِينَ [الأنبياء : 107]
لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ [الأحزاب : 21]
Rasulullah SAW juga bersabda bahwa beliau adalah pemimpin umat manusia kelak di Hari Qiyamat:
عَنْ أَبِيْ هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ : قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَا سَيِّدُ وَلَدِ آدَمَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ (رواه مسلم وأبو داود والترمذي وأحمد)
Setiap muslim yang istiqomah membaca kitab-kitab hadits pasti mempunyai akidah bahwa Rasulullah SAW sebagai manusia pertama yang dibukakan pintu surga dan beliau menjadi penghulu penduduk surga (berarti dijamin masuk surga). Adapun ketika Quraish Shihab berdalil dengan sabda Rasulullah SAW bahwa tidak ada seorangpun yang masuk surga karena amalnya, maka argumentasi tersebut tidak ada hubungannya sama sekali dengan jaminan surga bagi Rasulullah. Tidak ada kontradiksi antar keduanya, karena manusia dapat masuk surga bukan karena amalnya melainkan dengan rahmat Allah, sedangkan Rasulullah SAW adalah manusia sempurna yang memiliki kedudukan yang sangat mulia di sisi Allah. Beliau tidak hanya pasti dirahmati oleh Allah, bahkan Allah SWT menjadikannya sebagai rahmat itu sendiri. Dan ketika Rasulullah SAW beramal itu justru sebagai uswah hasanah bagi umatnya serta meninggikan derajatnya di sisi Tuhannya. 
Pernyataan Quraish Shihab diatas malah sangat rentan dipahami salah oleh para pendengarnya. Pasalnya, jika Rasulullah SAW sendiri tidak dijamin surga oleh Allah SWT, berarti orang yang mengikuti ajaran beliau juga tidak dijamin masuk surga. Kesimpulan seperti ini jelas berbahaya bagi akidah umat Islam dan dikhawatirkan menimbulkan keragu-raguan masyarakat terhadap kebenaran agama Islam dan ajarannya. Pernyataan seperti ini juga sangat khas aroma liberalisme dan pluralisme, karena hal ini dapat berimplikasi tidak boleh ada agama yang mengklaim dirinya sebagai jalan satu-satunya masuk surga karena surga adalah hak prerogratif Tuhan. Nabi pun tidak menjamin pengikutnya masuk surga karena dia sendiri tidak dijamin surga oleh Tuhan. Kesimpulan semacam ini sangat berbahaya bagi akidah umat Islam bahkan dapat berujung pemurtadan.
Pernyataan-pernyataan Ngawur Pencetus Islam Nusantara
Statement: Beberapa waktu lalu kaum muslimin digegerkan dengan pernyataan nyeleneh Ketua Umum PBNU Said Aqil Siradj yang tak lain adalah penggagas ide Islam Nusantara, dalam cuplikan videonya yang beredar di Youtube, dia menyatakan;
Orang berjenggot itu mengurangi kecerdasan, jadi saraf yang sebenarnya untuk mendukung kecerdasan otak itu ketarik untuk memanjangkan jenggot. Coba lihat, Gus Dur tidak berjenggot, Nur Cholish Madjid tidak berjenggot, Pak Quraisy Shihab tidak berjenggot, yang cerdas-cerdas nggak ada yang berjenggot. Kalau berjenggot, emosinya meledak-ledak, dedel otaknya, karena saraf untuk mensupport otak supaya cerdas ketarik oleh jenggot itu, semakin panjang, semakin goblok!
Tanggapan: Pernyataannya tersebut sontak membuat geger para ulama dan kaum Muslimin di Indonesia . Dia pun dituntut oleh banyak pihak untuk mempertanggungjawabkan pendapatnya tersebut di depan publik. Setelah beberapa lama menuai kecaman keras, akhirnya Said Aqil memberikan klarifikasi atas pernyataannya tersebut. Namun hal ini tidak lantas membuatnya mencabut kembali pernyataannya tentang jenggot tersebut, apalagi meminta maaf kepada umat Islam!
Dalam klarifikasinya, Said Aqil Siradj malah membela mati-matian pendapatnya tersebut dengan mengklaim bahwa pernyataannya didukung oleh kitab-kitab ulama salaf. Salah satu yang sering dia jadikan senjata andalan adalah keterangan Ibn al-Jauzi dalam Akhbar al-Hamqa wa al-Mughaffalin yang menyatakan bahwa termasuk ‘alamat al-humqi (tanda-tanda orang bodoh) adalah thul al-lihyah (berjenggot panjang), berikut ini ibarat aslinya;
ومن العلامات التى لا تخطىء طول اللحية فان صاحبها لا يخلو من الحمق وقد روي انه مكتوب فى التوراة إن اللحية مخرجها من الدماغ فمن أفرط عليه طولها قل دماغه ومن قل دماغه قل عقله ومن قل عقله كان أحمق قال بعض الحكماء الحمق سماد اللحية فمن طالت لحيته كثر حمقه  -إلى أن قال- قال زياد بن أبيه مازادت لحية رجل على قبضته إلا كان ما زاد فيها نقصا من عقله، قال بعض الشعراء إذا عرضت للفتى لحية وطالت فصارت إلى سرته فنقصان عقل الفتى عندنا بمقدار ما زاد في لحيته.  (أخبار الحمقى والمغفلين – 1 / 29)   
Padahal jika kita koreksi dengan teliti, kitab Akhbar al-Hamqa wa al-Mughaffalin tidak sah dijadikan refrensi hukum dalam permasalahan memanjangkan jenggot, karena kitab tersebut hanyalah menerangkan  dongeng-dongeng, cerita-cerita lucu dan anekdot, mungkin bisa saja dibenarkan isi-isi ceritanya, namun dari sudut pandang agama hal itu tidak boleh dibuat istidlal. Dan lagi, salah satu pijakan kitab tersebut dalam menghujat panjangnya jenggot adalah kitab taurat, padahal sudah maklum keberadaan taurat sudah muharrof (terdistorsi) sehingga tidak mutabar. Kemudian pengarang kitab yakni Ibn al-Jauzi adalah tipikal ulama yang  sering mengkritik amalan kaum shufiyah dan menghujat para imam panutan umat Islam seperti Imam Ghozali dengan tuduhan sering meriwayatkan hadits dloif bahkan maudhu, kitab Talbis Iblis adalah salah satu buktinya.
Andaikan yang dicela Ibn al-Jauzi dalam kitab tersebut adalah jenggot yang terlalu panjang (melebihi satu qabdah) mungkin dapat dibenarkan menurut tinjauan fiqh, karena memang dalam permasalahan ini ada perkhilafan ulama. Sebab ada sebagian dari mereka yang berpendapat Salah satu bentuk jenggot yang makruh adalah melebihi kadar satu qabdah (panjang dan lebar satu genggaman), lihat Mirqah al-Mafatih Syarh Misykah al-Mashabih, juz 13 hlm. 162, Al-Mulla Ali al-Qari, Mirqah al-Mafatih Syarh Misykah al-Mashabih, juz 13 hlm. 162; Alauddin al-Muttaqi al-Hindi, Kanz al-Ummal fi Sunan al-Aqwal wa al-Afal, juz 6 hlm. 652; al-Mubarakfuri, Tuhfah al-Ahwadzi, juz 8 hlm. 38).   
Akan tetapi dalam prespektif ilmu aqidah islamiyah, melecehkan jenggot panjang secara mutlak itu tidak benarkan, baik kadar panjangnya kurang dari satu qabdah atau bahkan melebihi. Karena kitab-kitab hadits dan syamail menjelaskan bahwa Rasulullah SAW dan para shahabatnya berjenggot panjang (thowilullihyah), tentunya tidak berlebihan seperti jenggot Wahhabi yang terlalu besar dan panjang. Qadli Iyadl dalam kitabnya al-Syifa bi Tarif Huquq al-Mushthafa (1/60) berkata:
وقال القاضي عياض في الشفا: أما الصورة وجمالها وتناسب أعضائه في حسنها وقد جاءت الآثار الصحيحة والمشهورة الكثيرة بذلكs من حديث علي وأنس بن مالك وأبي هريرة والبراء بن عازب وعائشة أم المؤمنين وابن أبي هالة وأبي جحيفة وجابر بن سمرة وأم معبد وابن عباس ومعرض بن معيقيب وأبي طفيل والعداء بن خالد وخريم بن فاتك وحكيم بن حزام وغيرهم رضي الله عنهم من أنه صلى الله عليه وسلم كان أزهر اللون . . . . . . . كثّ اللحية تملأ صدره. انتهى
At-tirmidzi meriwayatkan:
عن يزيد الفارسي قال: رأيت رسول الله صلى الله عليه وسلم في النوم زمن ابن عباس فقلت له: إني رأيت رسول الله صلى الله عليه وسلم في النوم. قال ابن عباس: فإن رسول الله كان يقول: إن الشيطان لا يستطيع أن يتشبه بي فمن رآني في النوم فقد رآني. فهل تستطيع أن تنعت لنا هذا الرجل الذي رأيت؟ قلت: نعم، رأيت رجلين… قد ملأت لحيته من هذه إلى هذه حتى كادت تملأ نحره… فقال ابن عباس: لو رأيته في اليقظة ما استطعت أن تنعته فوق هذا. (رواه الترمذي في الشمائل، 1/352، وقال الهيثمي: رواه أحمد ورجاله ثقات) 
Jenggot Para Shahabat Nabi Muhammad SAW juga diriwayatkan dengan redaksi Thowilullihyah:
عن أبي عبد الله مولى شداد بن الهاد قال : رأيت عثمان بن عفان على المنبر يوم الجمعة و عليه إزار عدني غليط قيمته أربعة دراهم أو خمسة دراهم و ريطة كوفية ضرب اللحم طويل اللحية حسن الوجه (رواه الطبراني في المعجم الكبير وشعب الإيمان)
عن الواقدي قال : يقال : كان علي بن أبي طالب آدم ربعة مسمنا ضخم المنكبين طويل اللحية أصلع عظيم البطن غليظ العينين أبيض الرأس واللحية (رواه الطبراني في المعجم الكبير)

Adapun pernyataan Said Aqil Siradj sama sekali tidak bisa dibenarkan, karena ia secara tegas merendahkan jenggot panjang dan menyamaratakan semua bentuk jenggot adalah simbol kedunguan. Ini jelas pelecehan dan penghinaan terhadap pribadi Rasulullah SAW dan para shahabatnya serta perintah beliau kepada umatnya  untuk memanjangkan jenggot, Naudzubillah min dzalik.
Statement: Dalam bukunya berjudul Tasawwuf sebagai Kritik Sosial, Mengedepankan Islam sebagai Inspirasi bukan Aspirasi hal: 84, Said Aqil Siradj menulis, ”Syiah, Mutazilah, Asyariyah dan al-Maturidiyah adalah Ahlussunnah wal jamaah dan dalam buku tersebut sama sekali tidak menyinggung Syiah sesat.  
Tanggapan: Para ulama-ulama NU sendiri telah mengecap Syiah sebagai kelompok sesat seperti founding father Nahdlatul Ulama KH. Hasyim Asyari. MUI Jatim juga telah memutuskan bahwa Syiah adalah kelompok sesat yang harus ditolak dan diwaspadai keberadaannya oleh masyarakat. Apabila Said Aqil Siradj malah membuat statement-statement yang mendukung Syiah, maka jelas dia telah melakukan penghinaan dan pengkhianatan terhadap kiai-kiai NU sendiri.
Aliran Mutazilah adalah kelompok yang menolak hadits shohih tentang ruyatullah fil jannah, dan pendapatnya dalam teologi banyak sekali yang bertentangan dengan mainstream umat Islam, para ulama salaf pun mengkategorikan mereka ke dalam ahlul bidah. Lalu, dari sisi mana Said Aqil Siradj mengklaimnya sebagai Ahlussunnah wal Jamaah?
Klarifikasi Said Aqil Siradj tentang Syiah di Sidogiri beberapa waktu lalu justru semakin memperlihatkan keeogisan dirinya yang tidak mau disalahkan. Masak dia tidak malu berkelit di depan para ulama yang hadir dengan berkata Syiah dapat dikatakan Ahlussunnah memandang mereka juga berdasarkan hadits, tapi hadits menurut perawi mereka, seperti kitab Biharul Anwar, 110 jilid, karya Muhammad Baqir al-Majlisi”,?!
Statement: Bahkan dalam bukunya tersebut, Said Aqil mengatakan bahwa, Imam Syafii adalah simpatisan Syiah.
Tanggapan: Ini adalah pernyataan yang jelas ngawur. Mungkin Said Aqil pernah mendengar syair Imam Syafii:
فَرْضٌ مِنَ اللهِ فِيْ  الْقُرْآنِ أَنْزَلَهُ
يَا أَهْلَ بَيْتِ رَسُوْلِ اللهِ حُبُّـكُمْ

مَنْ لَمْ يُصَلِّ عَلَيْكُمْ لاَ صَلاَةَ لَهُ
يَكْفِيْكُمْ مِنْ عَظِيْمِ الْفَخْرِ أَنَّكُمْ

Namun terlalu dangkal pemahaman Said Aqil, jika hanya karena Imam Syafi’I mengatakan حُبُّكُمْ فَرْضٌ مِنَ اللهِ lalu dia menyimpulkan bahwa Imam Syafi’i simpatisan Syi’ah. Padahal, memang sudah menjadi bagian dari ajaran Ahlussunnah wa Jama’ah bahwa mencintai Ahlul Bait seperti Sayyidah Khadijah, Sayyidah Fathimah, Sayyidina Ali, Sayyidina Hasan dan Sayyidina Husein adalah kewajiban. Bedanya, Ahlussunnah wal Jamaah mencintai Ahlul Bait dengan cara-cara yang dibenarkan oleh Syari’ah, bukan seperti kaum Syiah yang berekspresi berlebihan seperti meratap, melukai badan, dan mereka telah malaknat dan mencaci maki sayyidah Aisyah, Abu Bakar, Umar dan shahabat nabi lainnya, menginjak-injak nama Abu Bakar dan Umar, dan masih banyak penyimpangan Syiah berkedok mahabbah ahlul bait.
Statement: Masih dalam bukunya tersebut, Said Aqil menafikan Ukhuwah Islamiyah, dan mengatakan yang penting Ukhuwah Imaniyah, seperti Umat Islam, Konghucu dan Budha, dia menambahkan bahwa al-Quran tidak menekankan Ukhuwah Islamiyah.
Tanggapan: Subhanallah,  ini adalah kebohongan besar, banyak sekali dalil-dalil agama yang menetapkan Ukhuwah Islamiyah, dan dalam kitab-kitab tafsir diterangkan bahwa yang dimaksud orang-orang beriman dalam ayat-ayat al-Quran adalah orang Islam, bukan Yahudi-Kristen (yang sudah tahrif) apalagi Hidhu, Budha dan Konghucu, berikut ini ayat-ayatnya:
إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ إِخْوَةٌ فَأَصْلِحُوا بَيْنَ أَخَوَيْكُمْ وَاتَّقُوا اللَّهَ لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُونَ [الحجرات : 10]
وَالَّذِينَ جَاءُوا مِنْ بَعْدِهِمْ يَقُولُونَ رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا وَلِإِخْوَانِنَا الَّذِينَ سَبَقُونَا بِالْإِيمَانِ وَلَا تَجْعَلْ فِي قُلُوبِنَا غِلًّا لِلَّذِينَ آمَنُوا رَبَّنَا إِنَّكَ رَءُوفٌ رَحِيمٌ  [الحشر : 10]
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ (102) وَاعْتَصِمُوا بِحَبْلِ اللَّهِ جَمِيعًا وَلَا تَفَرَّقُوا وَاذْكُرُوا نِعْمَتَ اللَّهِ عَلَيْكُمْ إِذْ كُنْتُمْ أَعْدَاءً فَأَلَّفَ بَيْنَ قُلُوبِكُمْ فَأَصْبَحْتُمْ بِنِعْمَتِهِ إِخْوَانًا وَكُنْتُمْ عَلَى شَفَا حُفْرَةٍ مِنَ النَّارِ فَأَنْقَذَكُمْ مِنْهَا كَذَلِكَ يُبَيِّنُ اللَّهُ لَكُمْ آيَاتِهِ لَعَلَّكُمْ تَهْتَدُونَ (103) [آل عمران : 102 ، 103]
وَالْمُؤْمِنُونَ وَالْمُؤْمِنَاتُ بَعْضُهُمْ أَوْلِيَاءُ بَعْضٍ يَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَيُقِيمُونَ الصَّلَاةَ وَيُؤْتُونَ الزَّكَاةَ وَيُطِيعُونَ اللَّهَ وَرَسُولَهُ أُولَئِكَ سَيَرْحَمُهُمُ اللَّهُ إِنَّ اللَّهَ عَزِيزٌ حَكِيمٌ  [التوبة : 71]
Adapun Ukhuwwah Basyariyah jika terlalu diprioritaskan, maka akan berakibat Muwalatul Kuffar yang jelas haram dalam agama Islam, dalil tentang ini sudah maklum dalam al-Qur’an dan as-Sunnah.
Statement: Yang sangat berbahaya dalam buku tersebut adalah di halaman 309. Said Aqil menafsiri Surah al-Maidah ayat 69:
إِنَّ الَّذِينَ آمَنُوا وَالَّذِينَ هَادُوا وَالصَّابِئُونَ وَالنَّصَارَى مَنْ آمَنَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ وَعَمِلَ صَالِحًا فَلَا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلَا هُمْ يَحْزَنُونَ [المائدة : 69]
Said Aqil mengatakan,”Ayat yang dikutip diatas mengingatkan kita bahwa umat beriman itu bukanlah monopoli umat Islam, baik kaum Yahudi, Kristen, Shobi’un, penyembah berhala, penganut Budha, Hindu, Konghucu, maupun penganut kepercayaan lainnya, semua adalah umat beriman sepanjang dalam keyakinan mereka terselip butir-butir keimanan kepada Allah Tuhan yang Sang Hyang Widi atau apapun namanya. Tuhanpun tidak akan marah seandainya tidak dipanggil Allah seperti orang Jawa memanggil Pengeran atau Gusti Allah.”
Tanggapan: Pernyataan Said Aqil diatas jelas sangat berbahaya, menyesatkan, dan semakin memperlihatkan posisinya dalam mendukung liberalisme. Apa ia tidak tahu bahwa ulama salaf telah menyatakan sesungguhnya lafadz Iman dan Islam meski secara etimologi bisa berbeda makna, namun dalam terminologi syara’ keduanya adalah dua lafadz yang kedua maknanya saling berkaitan dan tak terpisahkan. Maka setiap muslim itulah yang benar keimanannya dan setiap mukmin harus masuk Islam. Sebaliknya, setiap non muslim imannya dianggap cacat dan setiap non mukmin Islamnya tidak sempurna. Jadi kesimpulannya orang Yahudi, Kristen, Shobi’un, penyembah berhala dst… tidak bisa dikategorikan mu’minun, karena mereka tidak muslim (Bersyahadat, menunaikan sholat, zakat dst…) sebab syarat keimanan adalah Islam, sebaliknya orang yang mengaku muslim tapi tidak ada iman itu namanya munafiq (kafir hakikatnya walaupun dzahirnya muslim).    
Tentang Surah Al Maidah:69 diatas, Ibnu Katsir dan Fakhruddin al-Razi juga menjelaskan bahwa beriman kepada Allah dan Hari Akhir serta berbuat saleh tidak bisa terealisasi kecuali jika mereka telah mengakui syariat Nabi Muhammad SAW setelah diutus kepada manusia dan jin. (lihat: Tafsir al-Quran al-‘Azhim karya Ibn Katsir dan Mafatih al-Ghaib karya Fakhruddin al-Razi)
Jadi salah jika kaum Liberal seperti Said Aqil menjadikan ayat ini sebagai dalil untuk umumnya kaum Yahudi dan Kristen sekarang yang telah dianggap kafir oleh Allah dan dibongkar kekafiran ajaran agama mereka karena banyak pengubahan (tahrif). Pendapat bahwa Yahudi dan Kristen tidak perlu beriman kepada Nabi Muhammad merupakan penafsiran yang sangat bertentangan dengan Al-Quran dan penafsiran ulama selama ratusan tahun lalu, dan hal itu menunjukkan kedangkalan ilmu agama atau ghirah mereka terhadap Islam. Allah Ta’ala berfirman:
مِنَ الَّذِينَ هَادُوا يُحَرِّفُونَ الْكَلِمَ عَنْ مَوَاضِعِهِ وَيَقُولُونَ سَمِعْنَا وَعَصَيْنَا وَاسْمَعْ غَيْرَ مُسْمَعٍ وَرَاعِنَا لَيًّا بِأَلْسِنَتِهِمْ وَطَعْنًا فِي الدِّينِ وَلَوْ أَنَّهُمْ قَالُوا سَمِعْنَا وَأَطَعْنَا وَاسْمَعْ وَانْظُرْنَا لَكَانَ خَيْرًا لَهُمْ وَأَقْوَمَ وَلَكِنْ لَعَنَهُمُ اللَّهُ بِكُفْرِهِمْ فَلَا يُؤْمِنُونَ إِلَّا قَلِيلًا [النساء : 46]
وَقَالَتِ الْيَهُودُ عُزَيْرٌ ابْنُ اللَّهِ وَقَالَتِ النَّصَارَى الْمَسِيحُ ابْنُ اللَّهِ ذَلِكَ قَوْلُهُمْ بِأَفْوَاهِهِمْ يُضَاهِئُونَ قَوْلَ الَّذِينَ كَفَرُوا مِنْ قَبْلُ قَاتَلَهُمُ اللَّهُ أَنَّى يُؤْفَكُونَ [التوبة : 30]
Selain itu, kalangan liberal sering sekali mengutip pendapat Rasyid Ridla dalam Tafsir al-Manar untuk membenarkan pluralisme agama.  Padahal, jika ditelaah dengan seksama pendapat Rasyid  Ridla dalam Tafsir al-Manar, maka akan ditemukan, bahwa QS. Al-Baqarah:62 dan al-Maidah:69 adalah membicarakan  keselamatan Ahlul Kitab yang risalah Nabi Muhammad saw tidak sampai kepada mereka. Karena itu, mereka tidak diwajibkan beriman kepada Nabi Muhammad saw. Sedangkan bagi Ahlul Kitab yang dakwah Islam sampai kepada mereka, menurut Rasyid Ridla, maka dalam QS. Al-Nisa:199, ada lima syarat untuk keselamatan mereka. Diantaranya, (1) beriman kepada Allah dengan iman yang benar, yakni iman yang tidak bercampur dengan kemusyrikan dan disertai dengan ketundukan yang mendorong untuk  melakukan kebaikan, (2) beriman kepada al-Qur’an yang diwahyukan kepada Nabi Muhammad. Menurut kami, pendapat Rasyid Ridla terlalu bertele-tele, dan kelima syarat yang diajukan olehnya dapat diringkas dengan ungkapan “Syaratnya harus masuk Islam”, karena Islam sudah mencakup kelima syarat diatas. 
Karena itu, sangat disayangkan sebagaimana perilaku sejumlah kaum Pluralis Agama, kalangan liberal tidak benar dan tidak fair dalam mengutip pendapat-pendapat Rasyid Ridla. Padahal, dalam soal ini, Nabi Muhammad saw sudah menegaskan: 
”Demi Allah, yang diriku ada dalam genggaman tanganNya, tidaklah mendengar dari hal aku ini seorangpun dari ummat sekarang ini, baik Yahudi, maupun Nasrani, kemudian mereka tidak mau beriman kepadaku, melainkan masuklah dia ke dalam neraka.” (HR. Muslim)
Dari beberapa penuturan diatas, dapat disimpulkan bahwa pernyataan pluralis Said Aqil dengan dalil ayat Al-Quran merupakan pendapat yang mengada-ada dan sangat kontras dengan Al Quran sendiri. Andai pluralisme sampai di’iya’kan oleh Al-Quran, kita tidak bisa membayangkan bahwa kita sebagai muslim harus membenarkan ajaran Kristen yang mengatakan Isa adalah anak Tuhan dan ajaran Yahudi bahwa Uzair adalah anak Tuhan, belum lagi mendukung bahkan bekerjasama dengan mereka memurtadkan saudara kita sesama muslim. Naudzu biLlahi min dzalika.
Pernyataan pluralisme juga dapat ditemukan dalam buku Said Aqil yang lainnya. Dalam bukunya Islam Kebangsaan: Fiqih Demokratik Kaum Santri, Said Aqil mengatakan bahwa, “Keputusan kafir atau mukmin, sesat atau lurus pada suatu keyakinan sebenarnya bukan kewenangan manusia. Tuhan saja yang maha pengasih dan penyantun baru akan memutuskan mereka di hari kiamat.” (hlm. 216)
Ungkapan ini jelas bertentangan dengan dalil-dalil Syar’i. Banyak sekali ayat-ayat Al-Quran dan Hadits yang memvonis seseorang murtad.

وَمَنْ يَرْتَدِدْ مِنْكُمْ عَنْ دِينِهِ فَيَمُتْ وَهُوَ كَافِرٌ فَأُولَئِكَ حَبِطَتْ أَعْمَالُهُمْ فِي الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ وَأُولَئِكَ أَصْحَابُ النَّارِ هُمْ فِيهَا خَالِدُونَ [البقرة : 217]
وَلَا تَرْتَدُّوا عَلَى أَدْبَارِكُمْ فَتَنْقَلِبُوا خَاسِرِينَ [المائدة : 21]
Rasulullah SAW bersabda:
يُصْبِحُ الرَّجُلُ فِيْهَا مُسْلِمًا وَيُمْسِيْ كَافِرًا
Kitab-kitab ulama salaf baik dalam diskursus akidah, Fiqh, dan tafsir juga memuat bab-bab khusus tentang pemurtadan. Masalah kemurtadan ini tidak hanya berlaku di agama Islam saja. Dalam Kristen dan Yahudi juga terdapat beberapa hal yang dapat mengeluarkan penganutnya dari agama mereka. Mengapa pendukung liberalisme seperti Said Aqil menolak hal-hal pasti dan gamblang semacam itu?
Adapun klarifikasinya tentang masalah ini, bahwa yang ia tulis adalah pendapatnya Ibnu Arabi, itu justru malah membuktikan bahwa dia tidak paham mana ulama yang sah dibuat panutan dalam ilmu tashawwuf dan mana yang tidak sah. Ibnu Arabi tidak bisa dijadikan panutan, karena ia penganut tashawwuf falsafi dan yang terkenal dengan pengusung  pemikiran wahdatul wujud. Jika kita ber-husnudzon kepada Ibnu Arabi, kalau memang ada pendapat beliau seperti dilontarkan Sa’id Aqil Siradj, ya harus kita takwili, bahwa yang dimaksud oleh Ibnu Arabi adalah kaum Yahudi dan Nashrani yang ajarannya masih murni tauhid dalam artian belum terdistorsi dengan berbagai penyimpangan kufur, seperti menyakini trinitas, bada’, mengatakan Uzair Ibnullah, mendustakan Nabi Isa AS, Nabi Muhammad SAW dan risalahnya dst. Jadi, Yahudi dan Nashrani yang ajarannya sudah terdistorsi itu bukan yang dimaksud oleh Ibnu Arabi, apalagi Hindu, Budha, dan Konghucu! 
Demikianlah beberapa statement ngawur sang ketua PBNU Said Aqil Siradj. Selama ini tidak pernah terdengar bahwa Said Aqil mencabut kembali pendapat-pendapatnya tersebut. Terbukti buku-bukunya tetap terbit, dan dia terus mengulang-ulang kembali ‘lagu lama’nya tentang Syiah dan pluralisme agama yang sudah basi tersebut di berbagai acara dan seminar Sekarang, pendapat-pendapat seperti itu disusupkan dalam konsep Islam Nusantara yang diusungnya. Kalau Islam dengan Yahudi-Nasrani saja mau diselaraskan dan di-gathuk-gathuk-kan, Syi’ah dan Ahlussunnah mau disama-samakan, tentu lebih mudah bagi Said Aqil untuk mencocokan Islam dengan budaya Nusantara.

Penutup
Penggunaan istilah Islam Nusantara sebenarnya telah mengurangi bahkan merusak universalitas Islam. Pada dasarnya jika Islam dimaknai dengan hal partikular, maka justru akan mereduksi makna Islam itu sendiri, sehingga Istilah dan konsep Islam Nusantara menjadi sangat problematis. Problem akidah misalnya. Jika Islam Nusantara itu berkompromi dengan budaya lokal yang terindikasi syirik, maka Islam Nusantara telah melanggar akidah. Karena dalam masalah akidah tidak ada ijtihad. Konsep Islam Nusantara ini merupakan salah satu agenda penyebaran paham Pluralisme.
Islam Nusantara sebenarnya gambaran Islam yang tidak perlu dipermasalahkan. Islam tahlilan, yasinan, ziarah kubur, tawassul, muludan dan lain sebagainya, inilah Islam Nusantara, sebuah tatanan yang sudah baku dan mengakar di tengah-tengah umat. Sebuah syari’at dan ajaran Islam yang dibawa para Walisongo untuk meng-Islamkan Nusantara. Masalahnya, kalau tiba-tiba istilah tersebut sekarang dimunculkan lagi, diobok-diobok dan digembar-gemborkan oleh beberapa tokoh dan orang-orang yang mempunyai rekam sepak terjang yang menyimpang dari Syari’at dan mempunyai raport merah dalam berakidah, ini perlu dicurigai dan diwaspadai. Kalau mereka mengatakan bahwa Islam Nusantara hadir untuk melestarikan dan menjaga budaya dan tradisi nahdliyin, sebagaimana yang dipahami dan dipublikasikan kepada para kiai dan tokoh masyarakat, itu merupakan pengelabuhan dan sebuah kebohongan besar. Namun bukan hanya itu, Islam Nusantara sebenarnya “wajah baru” dari proyek Liberalisasi Islam di Indonesia.
Jika yang mengawal Islam Nusantara adalah para ulama pesantren yang istiqamah mengajar kitab salaf, membela, memperjuangkan ajaran dan membentengi akidahnya, maka kita dapat husnudhan, konsep Islam Nusantara ala ulama salaf dapat mempertahankan estafet ajaran Islam yang benar dan lurus serta dakwah Islam yang tegas namun tetap santun dan merakyat sesuai warisan ulama-ulama Nusantara pendahulu, namun untuk konteks zaman sekarang, pejuang-pejuang syari’at seperti diatas sudah jarang alias langka, karena para kiai sudah banyak yang sepuh sementara generasi mudanya semakin luntur ghirah islamiyahnya. Akan tetapi, jika Islam Nusantara ini diusung dan didakwahkan oleh tokoh-tokoh nyleneh yang sering menggembar-gemborkan ide Sekularisme, Pluralisme dan Liberalisme seperti yang terjadi sekarang ini, maka  hal ini akan menjadi pintu gerbang potensial untuk merusak tatanan aqidah dan syari’at Islam di negara Indonesia tercinta ini. Wallahu A’lam.
وَصَلَّى اللهُ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلَّمَ
وَالْحَمْدُ لِلهِ رَبِّ الْعَالَمِيْن

2 pemikiran pada “MAKALAH SEMINAR NASIONAL ISLAM NUSANTARA DI UNIVERSITAS NEGERI MALANG

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s