MEMOHON KEPADA SELAIN ALLAH SWT, BERIKUT PANDANGAN SYAIKH IBN TAIMIYAH

Permasalahan meminta kepada selain Allah SWT telah diperinci oleh Syaikh Ibn Taimiyah. Apabila si peminta meminta sesuatu yang seharusnya ditujukan kepada Allah SWT selaku Tuhan seperti memohon ampunan dosa, masuk surga, selamat dari Neraka, turun hujan, menghidupkan tumbuh-tumbuhan dan semisalnya, maka dia melakukan syirik dan sesat, dan harus segera bertaubat. Jika mau bertaubat maka alhamduliLlah. Namun  jika masih tetap bersikeras melukannya maka wajib dibunuh.
Akan tetapi, seseorang yang telah terbukti melakukan hal demikian tidak bisa langsung divonis kafir sebelum ada bukti dalil kuat yang jikalau diingkari akan berimbas kekufuran yang akan diterangkan nanti.
Andaikan kalian menolaknya dengan berkata “Kami menukil salah satu pernyataan Ibn Taimiyah dalam al-Iqna’:
من جعل بينه وبين الله وسائط يدعوهم ويسألهم ويتوكل عليهم كفر إجماعا
“Barangsiapa yang menjadikan antara dia dan Allah SWT suatu perantara yang kepadanya ia berdoa, meminta dan bertawakkal, maka menurut Ijma’ ulama dia telah kafir.”
Maka kami menjawab, “Pernyataan seperti itu memang benar, namun kendalanya lagi-lagi kesalahfahaman. Jika kalian angan-angan dengan nalar sehat, niscaya kalian sadar ternyata telah melakukan pentakwilan salah pada redaksi ucapan Ibn Taimiyah. Anehnya lagi, kalian mengabaikan pernyataan beliau yang sangat jelas dan gambling dan lebih memilih pernyataan yang lebih umum yang kalian gunakan untuk menggali hukum yang 100 persen berseberangan dengan pendapat para ulama Ahli ilmu. Lebih ironis lagi jika ucapan dan pemahaman seperti itu kalian anggap sebagai Ijma’! Adakah ulama terdahulu yang berucap seperti kalian? Subhanallah, apa kalian tidak takut kepada Allah SWT?
Coba perhatikan redaksinya yaitu pada poin “يدعوهم ويتوكل عليهم ويسألهم”. Mengapa Ibn Taimiyah menggunakan huruf ‘athaf (konjungsi) wawu dalam menyambung kata doa, tawakkal, dan memohon?
Dalam kamus bahasa Arab lafazh al-Du’a mempunyai orientasi makna ibadah secara mutlak, lafazh al-Tawakkul berarti pekerjaan hati, dan al-Sual berarti permintaan –yang menurut persepsi kalian adalah doa-. Dan ingatlah, bahwa dalam ibarat tersebut tidak mencantumkan huruf athaf auw (atau), bahkan menggabungkan semua kalimat diatas dengan huruf athaf wawu yang pemahamannya seperti diatas.
Jadi, yang menjadi pertanyaan sekarang adalah: Apa parameter klaim syirik kalian terhadap orang yang hanya melakukan permintaan kepada selain Allah SWT? Padahal Ibn Taimiyah dalam kesempatan lain sudah menjelaskan keumuman pernyataannya diatas. Walhasil, pemahaman kalian tentang ibarat diatas perlu dikoreksi dan diluruskan kembali.
Ibn Qayyim juga menjelaskan keumuman pernyataan Ibn Taimiyah. Beliau berkata, “Aktivitas diatas adalah salah satu ritual kaum Musyrikin Shabi’in yang menampakkan Islam namun memuja bintang-bintang yang diyakini bisa mengabulkan semua hajat sehingga mereka menyembah, berkorban, dan berdoa kepadanya. Sebagian orang yang menisbatkan dirinya kepada Islam menulis kitab tentang sekte Musyrikin Shabi’in dan Barahimah (agama Brahma/Hindu) yang menerangkan ajaran penyembahan bintang yang menurutnya berasal dari sihir-sihir kaum Kan’aniyun dibawah kuasa Raja-raja Numrud, yaitu raja yang diutus kepadanya seorang nabi bernama Nabi Ibrahim al-Khalil AS dengan membawa agama Tauhid atau agama fitrah.”
Ibn Qayyim di tempat lain berkata senada diatas:
“Kaum Kan’aniyun mempunyai keyakinan wujudnya Sang Pencipta alam yang Maha Mulia, Maha Bijaksana, dan Maha Suci dari segala kekurangan. Namun, untuk bisa sampai kepada Dzat tersebut haruslah membutuhkan suatu mediator (perantara),  sehingga kewajiban menurut mereka adalah mendekatkan diri kepada perantara-perantara tersebut yang berupa roh-roh suci yang dekat dengan Sang Pencipta agar menjadi dekat dengan-Nya, mendekatkan diri kepadanya dan melalui perantaranya. Roh-roh suci itu menjelma sebagai Tuhan-tuhan dan pemberi syafaat kepada mereka di sisi Tuhannya Tuhan (Allah SWT). Oleh karenanya mereka berkata seperti diceritakan Al-Quran:
مَا نَعْبُدُهُمْ إِلاَّ لِيُقَرِّبُونَا إِلَى اللَّهِ زُلْفَى
“Kami tidak menyembah mereka melainkan supaya mereka mendekatkan kami kepada Allah SWT dengan sedekat-dekatnya.” (QS. Al-Zumar: 3)
Berawal dari situ, kaum Shabi’in meminta kepada roh-roh tersebut, mengadukan berbagai keluhan mereka, dan mempercayakan segala urusan mereka kepadanya. Dengan begitu mereka memintakan syafaat kepada Tuhan kita dan tuhan-tuhan mereka. Usaha tersebut tidak bisa tercapai kecuali dengan meminta pertolongan kepada roh-roh suci dengan bertawadlu’, melakukan shalat dan zakat, menyembelih hewan-hewan kurban serta membakar kemenyan.
Kekafiran kaum Kan’aniyun sangat jelas dan gamblang, karena mereka mengabaikan dua hal paling mendasar dalam Syari’ah yang dibawa para Rasul Allah SWT. Pertama, kewajiban menyembah Allah SWT semata dan mengingkari aneka sesembahan selain-Nya. Kedua, mengimani, membenarkan, serta tunduk dan patuh kepada para Rasul Allah SWT dan semua ajaran yang mereka bawa.”
Renungilah penjelasan diatas tentang “perantara” yang sangat gamblang. Kini menjadi terbukti bagaimana kalian mengarahkan pemahaman “perantara” bukan pada tempatnya. Namun, yang lebih menyayat hati adalah langkah kalian yang memaknai Kalam Allah SWT (Al-Quran), Sunnah Rasul dan ucapan para imam Islam dengan arti salah yang jelas melawan ijma’.
Yang lebih mengherankan lagi, kalian masih saja melakukan distorsi dalil-dalil yang diambilkan dari ucapan Ibn Taimiyah dan Ibn Qayyim sebagai argumen penguat madzhab kalian. Memang begitulah langkah orang-orang yang mengikuti keraguan dan meninggalkan kejelasan. Semoga Allah SWT menyelamatkan kita dari mengikuti hawa nafsu. Amin.
Perihal tabarruk, mengusap-usap kuburan, mengambil tanahnya dan berkeliling di sekitarnya telah dibahas dan ada perbedaan pendapat diantara Ahli ilmu. Ada yang menghukumi makruh dan ada pula yang mengharamkannya. Namun tidak satupun yang mengatakan hal tersebut menyebabkan kemurtadan seperti ucapan kalian selama ini! Keterangan para ulama dapat kalian lihat pada karya-karya mereka tepatnya dalam bab Jenazah, mengubur dan menziarahi mayit. Jika ingin mengetahui lebih lanjut dan jelas bukalah kitab al-Furu’ karya Ibn Muflih al-Hanbali, al-Iqna’ karya al-Hajjawi al-Hanbali, dan kitab-kitab Fiqh lainnya.
Tidak menjadi persoalan jika kalian masih berani menghujat penulis kitab-kitab tersebut. Namun perlu kalian ingat bahwa mereka tidak hanya menceritakan pendapat mereka sendiri melainkan pendapat Ahmad bin Hanbal dan para pendukungnya dari imam-imam yang telah disepakati umat atas hidayah dan ilmunya. Jika kalian keras kepala dan bersikukuh mengambil hukum secara langsung dari dalil-dalilnya dengan tanpa taqlid kepada imam-imam yang mendapat hidayah Allah SWT, berarti kalian melawan Ijma’.

 

Sumber: Kitab Ash-Shawa’iqul Ilahiyah, karya Syaikh Sulaiman bin Abdul Wahhab.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s