SEDEKAH BUMI DAN LAUT, HARAMKAH?

Sedekah bumi merupakan ritual permohonan keselamatan kepada makhluk yang dianggap oleh orang-orang kejawen Nusantara sebagai penguasa atau penunggu (danyang) daerah atau tempat yang dikeramatkan, dan biasanya ritual tersebut dilaksanakan pada hari-hari tertentu, semisal musim tanam, musim panen, bersih desa (besik deso) dan seterusnya. Ritual mempersembahkan sesajen kepada makhuk halus/ jin yang dianggap sebagai penunggu atau penguasa tempat keramat tertentu adalah kebiasaan syirik yang sudah berlangsung turun-temurun di masyarakat Jawa-Nusantara. Mereka meyakini makhluk halus tersebut punya kemampuan untuk memberikan kebaikan atau menimpakan malapetaka kepada siapa saja tanpa izin Allah SWT, sehingga dengan mempersembahkan sesajen tersebut, mereka berharap dapat meredam kemarahan makhluk halus itu, dan agar segala permohonan mereka dipenuhinya. Kebiasan seperti ini juga sudah ada di zaman arab Jahiliyyah.
Dalam perspektif Islam, hukumnya haram menyelenggarakan dan mengikuti ritual dan tradisi diatas, karena mereka telah melakukan tasyabbuh bi ahlil Jahiliyyah al-Kuffar, Rasulullah SAW bersabda:
عَنِ ابْنِ عُمَرَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «مَنْ تَشَبَّهَ بِقَوْمٍ فَهُوَ مِنْهُمْ» (رواه أحمد والطبراني)
“Dari Ibn Umar RA, beliau berkata, Rasulullah SAW bersabda: ‘Siapapun yang menyerupai satu kaum, maka ia tergolong dari kaum tersebut’(HR. Ahmad dan ath-Thabarani)
Adapun sesajen dan persembahan itu tergolong perilaku syirik dan kufur, hanya saja kita tidak berani mengklaim seluruh pelaku pekerjaan tersebut (yang muslim) sebagai kafir, karena dimungkinkan mereka hanya berniat menjalankan tradisi para leluhur, namun jangan kemudian ditarik kesimpulan mereka semua terbebas dari kekafiran secara mutlak, karena dalam konteks seperti ini, sebagian dari mereka bisa jadi terjerumus dalam jurang kekafiran, seperti halnya ketika dalam hatinya terdapat i’tiqod bahwa jin dan setan mampu mendatangkan keberuntungan dan menolak kesialan tanpa izin Allah SWT, maka kita baru berani memvonis mereka kafir, karena Allah SWT berfirman:
قُلْ مَنْ رَبُّ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ قُلِ الله قُلْ أَفَاتَّخَذْتُمْ مِنْ دُونِهِ أَوْلِيَاءَ لَا يَمْلِكُونَ لِأَنْفُسِهِمْ نَفْعًا وَلَا ضَرًّا قُلْ هَلْ يَسْتَوِي الْأَعْمَى وَالْبَصِيرُ أَمْ هَلْ تَسْتَوِي الظُّلُمَاتُ وَالنُّورُ أَمْ جَعَلُوا لله شُرَكَاءَ خَلَقُوا كَخَلْقِهِ فَتَشَابَهَ الْخَلْقُ عَلَيْهِمْ قُلِ الله خَالِقُ كُلِّ شَيْءٍ وَهُوَ الْوَاحِدُ الْقَهَّارُ.
“Katakanlah: “Siapakah Tuhan langit dan bumi?” Jawabnya: “Allah”. Katakanlah: “Maka patutkah kamu mengambil pelindung-pelindungmu dari selain Allah, padahal mereka tidak menguasai kemanfaatan dan tidak (pula) kemudharatan bagi diri mereka sendiri?. Katakanlah: Adakah sama orang buta dan yang dapat melihat, atau samakah gelap gulita dan terang benderang; apakah mereka menjadikan beberapa sekutu bagi Allah yang dapat menciptakan seperti ciptaan-Nya sehingga kedua ciptaan itu serupa menurut pandangan mereka? Katakanlah: Allah adalah Pencipta segala sesuatu dan Dia-lah Tuhan yang Maha Esa lagi Maha Perkasa. (QS. Al-Rad: 16)
وَيَوْمَ يَحْشُرُهُمْ جَمِيعًا ثُمَّ يَقُولُ لِلْمَلَائِكَةِ أَهَؤُلَاءِ إِيَّاكُمْ كَانُوا يَعْبُدُونَ (40) قَالُوا سُبْحَانَكَ أَنْتَ وَلِيُّنَا مِنْ دُونِهِمْ بَلْ كَانُوا يَعْبُدُونَ الْجِنَّ أَكْثَرُهُمْ بِهِمْ مُؤْمِنُونَ  [سبأ: 40، 41]
“Dan (ingatlah) hari (yang di waktu itu) Allah mengumpulkan mereka semuanya kemudian Allah berfirman kepada Malaikat: “Apakah mereka ini dahulu menyembah kamu?”.malaikat-malaikat itu menjawab: “Maha suci Engkau. Engkaulah pelindung Kami, bukan mereka; bahkan mereka telah menyembah jin; kebanyakan mereka beriman kepada jin itu”.(QS. Saba:40-41)
Rasulullah SAW bersabda:
عَنْ عَمْرِو بْنِ شُعَيْبٍ، عَنِ ابْنَةِ كَرْدَمَةَ، عَنْ أَبِيهَا، أَنَّهُ سَأَلَ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ: إِنِّي نَذَرْتُ أَنْ أَنْحَرَ ثَلَاثَةً مِنْ إِبِلِي فَقَالَ: «إِنْ كَانَ عَلَى جَمْعٍ مِنْ جَمْعِ الْجَاهِلِيَّةِ، أَوْ عَلَى عِيدٍ مِنْ أَعْيَادِ الْجَاهِلِيَّةِ، أَوْ عَلَى وَثَنٍ فَلَا، وَإِنْ كَانَ عَلَى غَيْرِ ذَلِكَ فَاقْضِ نَذْرَكَ» [أخرجه أحمد وأبو داود]
“Dari Amr bin Syu’aib, dari putrinya Kardamah, dari bapaknya (yaitu Kardamah), ia bertanya kepada Rasulullah SAW seraya berkata, saya telah bernadzar menyembelih tiga ontaku (di daerah Buwanah, perairan di dekat benteng kota Najd, -dalam riwayat lain-), lalu Rasulullah SAW bersabda, apabila tujuan penyembelihan untuk sebuah perkumpulan jahiliyyah, atau untuk memperingati hari-hari besar jahiliyyah, atau untuk persembahan berhala, maka tinggalkanlah nadzar tersebut. Namun jika tidak bertujuan demikian, maka laksanakanlah (HR. Imam Ahmad dan Abu Dawud)
Menurut kami, kalimat watsan dalam hadits diatas mencakup semua benda dan tempat yang dianggap keramat, sakral, angker, sangar dan singit, seperti batu Parang Tritis, pohon tua & besar (jati, beringin, asem dst), gua, gunung kawi, gunung lawu, dan sejenisnya yang biasa dibuat tempat pesugihan, pemujaan, pertapaan dan pengiriman sesajen, kecuali kuburan para wali yang diisi dengan bacaan-bacaan ayat-ayat al-Quran, tahlil dan doa dalam waktu yang tidak lama-lama (setengah atau satu jam).
Begitu juga ied min ayadil jahiliyyah, kalimat ini juga mencakup tradisi ruwatan, brokohan, sesajenan, acara imlek, natalan, dan hari raya orang kafir yang jelas perilaku syirik. Sebenarnya praktek-praktek syirik semacam ini sudah ada di zaman arab jahiliyyah, apalagi di daerah ajam seperti Jawa-Nusantara, perbedaan antar keduanya hanya dalam masalah teknis persembahan. Orang arab jahiliyyah menyembelih hewan persembahan dengan cara menempelkannya ke berhala kemudian dagingnya dimakan oleh orang-orang fakir, sedangkan orang Jawa-Nusantara menyembelihnya di rumah kemudian dimasak lalu mengirimkan makanan tersebut ke tempat yang dianggap keramat, jika tempat tujuannya adalah kuburan orang-orang sholih dan makanannya diberikan kepada juru kunci kuburan dan orang-orang fakir sekitar, insyaallah pekerjaan seperti ini tidak apa-apa, karena termasuk tabarruk bi ash-sholihin, namun jika tempat tujuannya adalah tempat jin-setan (danyang), apalagi makanannya dibiarkan di situ dengan niat memberi makan kepada jin-setan, maka hal ini jelas kufur atau minimal mendekati kekufuran, karena termasuk tabarruk bi asy-syaithan.
Meski agama Islam sudah memasuki tanah Jawa-Nusantara, namun orang-orang abangan masih saja menetapkan tradisi-tradisi syirik ala Hindu-Budha di kehidupan keseharian mereka, bahkan mereka sengaja mengkaburkan tradisi syirik tersebut dengan memunculkan istilah baru yaitu ‘sedekah bumi dan laut’ untuk mengelabuhi umat Islam, apalagi mereka juga beralasan bahwa Sunan Kali Jaga dan Siti Jenar membolehkan tradisi-tradisi diatas, padahal itu hanya klaim semata, dan kebenaran haqiqinya wallahu alam. Untuk lebih jelas pembahasan seputar ruwatan, brokohan, sesajenan dan tradisi sejenis dapat dilihat di buku kami yang berjudul Mengamalkan Ajaran Syariat & Membenahi Adat Istiadat”.
Fakta dan realita membuktikan bahwa sedekah bumi tidak bisa dilepaskan dari bermacam kemungkaran, seperti nanggap wayang semalam suntuk (mengganggu orang tidur), ketoprak, ronggeng, kuda kepang, kuda lumping, orkes melayu, dangdutan dan lain-lain, dan tentunya hiburan seperti ini tidak bisa dihindarkan dari kasyful aurat (terlebih para artis panggungnya), ikhtilath bainar rijal wan nisa’, ajang pacaran, mabuk-mabukan, tawuran, dan seterusnya.
Sedekah bumi juga tidak bisa terhindar dari praktek Idhoatul mal, Tabdzir, dan Israf, karena acara tersebut seringkali menghabiskan uang banyak hanya untuk nanggap hiburan-hiburan yang penuh kemaksiatan seperti yang diterangkan diatas, yang lebih berbahaya lagi tradisi tersebut sebagai ajang riya’ bagi orang-orang kaya, karena dalam pelaksanaannya selalu meriah, rame-rame dan berlebihan. Syari’at Islam jelas melarang praktek Idho’atul mal (menyia-nyiakan harta), Tabdzir (pemborosan) dan Israf (berlebih-lebihan). Berikut ini dalil-dalil keharamannya;
{وَلَا تُبَذِّرْ تَبْذِيرًا . إِنَّ الْمُبَذِّرِينَ كَانُوا إِخْوَانَ الشَّيَاطِينِ وَكَانَ الشَّيْطَانُ لِرَبِّهِ كَفُورًا} [الإسراء: 26، 27]
“Dan janganlah kamu menghambur-hamburkan (hartamu) secara boros. Sesungguhnya pemboros-pemboros itu adalah saudara-saudar syaithan dan syaithan itu adalah sangat ingkar kepada tuhannya” (QS. al-Isra’: 26)
{وَلَا تُسْرِفُوا إِنَّهُ لَا يُحِبُّ الْمُسْرِفِينَ} [الأعراف: 31]
“Dan janganlah berlebih-lebihan, Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebih-lebihan.” (QS. al-A’raaf: 31)
{وَالَّذِينَ إِذَا أَنْفَقُوا لَمْ يُسْرِفُوا وَلَمْ يَقْتُرُوا وَكَانَ بَيْنَ ذَلِكَ قَوَامًا} [الفرقان: 67]
“Dan orang-orang yang apabila membelanjakan (harta), mereka tidak berlebihan, dan tidak (pula) kikir, dan adalah (pembelanjaan itu) di tengah-tengah antara yang demikian.” (QS. al-Furqon: 67)
عَنِ الشَّعْبِيِّ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ حَدَّثَنِي كَاتِبُ المُغِيرَةِ بْنِ شُعْبَةَ، قَالَ: كَتَبَ مُعَاوِيَةُ إِلَى المُغِيرَةِ بْنِ شُعْبَةَ: أَنِ اكْتُبْ إِلَيَّ بِشَيْءٍ سَمِعْتَهُ مِنَ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، فَكَتَبَ إِلَيْهِ: سَمِعْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ: ” إِنَّ اللَّهَ كَرِهَ لَكُمْ ثَلاَثًا: قِيلَ وَقَالَ، وَإِضَاعَةَ المَالِ، وَكَثْرَةَ السُّؤَالِ” (متفق عليه)
“Dari Sya’bi RA, bercerita kepadaku juru tulis Mughirah bin Syu’bah, ia berkata: Mu’awiyah RA mengirim surat kepada Mughirah bin Syubah RA yang isinya: Tulislah untukku sesuatu yang engkau dengar langsung dari Nabi Muhammad SAW. Kemudian Mughirah bin Syubah RA menuliskan kepadanya sebuah hadits: Saya (Mughirah) mendengar Rasulullah SAW bersabda, ‘Sesungguhnya Allah SWT membenci tiga perkara dari kalian: Qil wa Qal (terlalu banyak bicara atau menceritakan omongan orang lain untuk dibahas dan disebarluaskan), menyia-nyiakan harta benda (dengan mentasharrufkan ke arah maksiat atau berlebih-lebihan dalam membelanjakannya) dan terlalu banyak bertanya (masalah yang tidak penting)” (HR. Bukhari-Muslim)
عَنْ عَمْرٍو بْنِ شُعَيْبٍ، عَنْ أَبِيهِ، عَنْ جَدِّهِ، أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: «كُلُوا وَاشْرَبُوا وَتَصَدَّقُوا فِي غَيْرِ سَرَفٍ وَلَا مَخِيلَةٍ (رواه النسائي والحاكم)
“Dari ‘Amr bin Syu’aib, dari ayahnya, dari kakek ayahya (Amr bin Ash RA), bahwa Rasulullah SAW bersabda: Makan, minum dan bersedekahlah kalian semua dengan tidak berlebih-lebihan dan tidak dengan kesombongan.” (HR. An-Nasa’i dan al-Hakim)
عَنْ أَبِي الْعُبَيْدَيْنِ الْعَامِرِيِّ قَالَ: قُلْتُ لِابْنِ مَسْعُودٍ مَا التَّبْذِيرُ؟ قَالَ: ” إِنْفَاقُ الْمَالِ فِي غَيْرِ حَقِّهِ ”
(رواه الطبراني)
“Dari Abil ‘ubaidain, beliau berkata: Aku bertanya kepada Ibnu Mas’ud RA apa yang dinamakan tabdzir (menghambur-hamburkan harta secara boros)? Ibnu Mas’ud menjawab: ‘tabdzir ialah mentasharrufkan harta tidak sesuai haknya “. (HR. Ath-Thabarani)
عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ، فِي قَوْلِهِ: {إِنَّ الْمُبَذِّرِينَ كَانُوا إِخْوَانَ الشَّيَاطِينِ} [الإسراء: 27] قَالَ: ” هُمُ الَّذِينَ يُنْفِقُونَ الْمَالَ فِي غَيْرِ حَقِّهِ ” (رواه البيهقي في شعب الإيمان)
“Dari Ibn Abbas RA, beliau menafsiri ayat ”Sesungguhnya orang yang menghambur-hamburkan harta secara boros termasuk temannya syaithon“ dengan berkata “bahwa mereka adalah orang menafkahkan hartanya tidak sesuai dengan haknya (HR. Al-Baihaqi dalam syu’abul iman)
Imam Badruddin al-Aini dalam Umdatul qori (Juz: 9 Hal: 61) memberi tafsiran yang sangat banyak mengenai makna Idho’atul mal, diantaranya: 1. Membelanjakan harta untuk bangunan rumah, pakaian dan makanan secara berlebih-lebihan. 2. Mentasharrufkan harta untuk kemaksiatan. 3. Mengelola harta untuk selain tujuan semestinya. Bahkan Imam Ibn Hajar al-Asqallani dalam Fath al-Bari (Juz: 10. Hal: 408) menyatakan bahwa pendapat yang paling kuat dalam menafsiri Idho’atul mal adalah: Mentasharrufkan harta pada tujuan yang dilarang syara’, baik itu urusan duniawi maupun ukhrawi.
Akan tetapi perlu diingat, sesungguhnya mafsadah dan mudharat yang ada dalam acara sedekah laut jauh lebih besar dari pada sedekah bumi, karena didalam sedekah laut seringkali dipraktekkan pengiriman sesajen kepala kerbau kepada sang ratu pantai yang dikenal dengan istilah nglarung, berbeda dengan sedekah bumi, karena di acara tersebut kadang dilakukan pengiriman sesajen dan kadang pula tidak. Dan hiburan-hiburan dalam sedekah laut jauh lebih mungkar dari pada sedekah bumi, seperti anak muda laki-laki yang berpakaian dan berlagak seperti wanita (waria), hiburan dangdutnya lebih merusak moral masyarakat (anak-anak kecil diajari orang tuanya nyawer artis panggung), dan seterusnya.
Islam telah mengajarkan tata cara memakmurkan dan mensejahterakan penduduk suatu daerah, yaitu dengan cara mereka harus beriman dan bertakwa kepada Allah SWT semata (bukannya malah melakukan pekerjaan syirik, semisal ritual ruwatan, brokohan dan sesajenan), karena Dia telah berfirman:
{وَلَوْ أَنَّ أَهْلَ الْقُرَى آمَنُوا وَاتَّقَوْا لَفَتَحْنَا عَلَيْهِمْ بَرَكَاتٍ مِنَ السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ وَلَكِنْ كَذَّبُوا فَأَخَذْنَاهُمْ بِمَا كَانُوا يَكْسِبُونَ} [الأعراف: 96]
“ Jikalau Sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, Maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya. (QS. al-A’raaf: 96)
Kemudian dalam kitab I’anatut tholibiin juz 3 hal. 413 Syaikh Abu bakar Syato menuturkan bahwa Imam Ibn al-Jauzi berkata: “Diantara kemanfaatan merayakan maulid adalah menolak bala’ satu tahun bagi yang merayakannya”.
Oleh karena itu, sebagai langkah perbaikan, seharusnya sedekah bumi diisi dengan acara istighotsah, pembacaan tahlil yang dihadiahkan kepada arwah para leluhur desa yang beragama Islam, pembacaan maulid Nabi SAW (baik bertepatan dengan bulan Rabi’ul Awwal ataupun tidak), pembacaan do’a dan diakhiri makan bersama, dan kegiatan ini diikuti oleh seluruh lapisan masyarakat desa dengan kewajiban memisah antara laki-laki dan perempuan, semua ini diniati agar penduduk desa tersebut terselamatkan dari bala’ selama setahun.
Dalam kondisi tertentu, kaum santri bisa dilibatkan dalam kepanitiaan acara sedekah bumi atau laut, dengan syarat tidak ada praktek syirik seperti sesajen, dan dimungkinkan baginya melakukan amar ma’ruf nahi mungkar, atau ia bisa meminimalisir kemungkaran. Hal ini diperbolehkan karena ada unsur dharurat dan demi memperbaiki keadaan masyarakat secara bertahap. Apabila kaum santri sudah berusaha menghilangkan kemungkaran, namun keadaannya tetap sama (kemungkaran tidak bisa dihilangkan), atau bahkan ada praktek sesajennya (perilaku syirik), maka kaum santri harus menghindari acara tersebut, karena pada dasarnya budaya atau tradisi sedekah bumi merupakan budaya kaum abangan (kejawen) yang berbau syirik.
Sebagai penutup, kami tandaskan kembali bahwa ‘sedekah bumi’ adalah istilah baru yang sebelumnya bernama ruwatan desa, istilah baru ini sengaja dimunculkan oleh kaum abangan untuk mengkelabuhi umat Islam, karena dengan adanya embel-embel kalimat ‘sedekah’, umat gampang terperdaya dan kemudian mempunyai anggapan tradisi tersebut legal menurut Islam. Dan perlu dicatat, bahwa ritual ruwatan, brokohan, sesajenan, sedekah bumi-laut, ajaran kejawen dan ajaran bekas peninggalan Hindu-Budha seperti inilah yang ingin dihidupkan kembali oleh para pengusung gerakan Islam Nusantara, yang notabenenya liberalis yang ingin menghidupkan aliran kebatinan bahkan komunis!
Wallahu a’lam bishshowab.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s