KEUTAMAAN NGAJI SALAF

{وَأَنْفِقُوا فِي سَبِيل اللَّه} طَاعَته بِالْجِهَادِ وَغَيْره {وَلَا تُلْقُوا بِأَيْدِيكُمْ} أَيْ أَنْفُسكُمْ وَالْبَاء زَائِدَة {إلَى التَّهْلُكَة} الْهَلَاك بِالْإِمْسَاكِ عَنْ النَّفَقَة فِي الْجِهَاد أَوْ تَرْكه لِأَنَّهُ يُقَوِّي الْعَدُوّ عَلَيْكُمْ {وَأَحْسِنُوا} بِالنَّفَقَةِ وَغَيْرهَا {إنَّ اللَّه يُحِبّ الْمُحْسِنِينَ} أي يثيبهم 

——–——————-
{يأيها الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَأْكُلُوا أَمْوَالكُمْ بَيْنكُمْ بِالْبَاطِلِ} بِالْحَرَامِ فِي الشَّرْع كَالرِّبَا وَالْغَصْب {إلَّا} لَكِنْ {أَنْ تَكُون} تَقَع {تِجَارَة} وَفِي قِرَاءَة بِالنَّصْبِ أَنْ تَكُون الْأَمْوَال أَمْوَال تِجَارَة صَادِرَة {عَنْ تَرَاضٍ مِنْكُمْ} وَطِيب نَفْس فَلَكُمْ أَنْ تَأْكُلُوهَا {وَلَا تَقْتُلُوا أَنْفُسكُمْ} بِارْتِكَابِ مَا يُؤَدِّي إلَى هَلَاكهَا أَيًّا كَانَ فِي الدُّنْيَا أَوْ الْآخِرَة بِقَرِينَةِ {إنَّ اللَّه كَانَ بِكُمْ رَحِيمًا} فِي مَنْعه لَكُمْ مِنْ ذَلِك

َ (تفسير الجلالين)

Dalam kajian ushul fiqh, ayat ولا تلقوا بأيديكم إلى التهلكة  & ولا تقتلوا أنفسكم seringkali dibuat dalil keharaman menyakiti diri sendiri dan orang lain (la dhororo wa la dhiroro). Bahkan dalam bab fiqh, apapun yang berhubungan dengan idhror pasti mengutip dalil tersebut, seperti dhoror bunuh diri, menyakiti orang lain, mengkonsumsi bangkai, memakan barang curian, riba, barang ghosoban dan sejenisnya.

Akan tetapi dalam kajian tafsir, ayat diatas seringkali diinterpretasikan dengan “Janganlah kalian menjerumuskan diri sendiri pada kerusakan dengan TIDAK MAU BERINFAQ FI SABILILLAH / TIDAK IKUT BERPERANG”. Jika hal ini dilakukan oleh seorang muslim, sama halnya ia memperlemah kawannya dan memperkuat para musuhnya.

Jika kita pakai methode qiyas/ analogi sesuai Ushul Fiqh, dalam konteks kekinian seorang muslim WAJIB MEMPELAJARI ILMU AGAMA (NGAJI KITAB), karena dengan meninggalkannya, berarti ia telah MENJERUMUSKAN DIRINYA KE JURANG KEBINASAAN (Amal tanpa ilmu, Hidup tanpa prinsip, semua dianggap benar, baik, maslahat…..hatta sekuler). Tiada hari tanpa berpikir DUNIA, DUNIA DAN DUNIA.

Oleh karena itu, kita harus bersyukur, kaum santri diberi nikmat oleh Allah SWT bisa mengaji kepada para masyayikh ditengah rusaknya zaman.

Wallahu A’lam….

#kajianushulfiqhsyaikhinaabahnajih

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s