SEJARAH DAN PERKEMBANGAN FIQH ISLAM

SEJARAH DAN PERKEMBANGAN

FIQH ISLAM

 

 

Masa Rasulullah Saw.

Masa Nabi Saw ini juga disebut sebagai periode risalah, karena pada masa ini agama Islam baru muncul dibawa oleh Nabi Muhammad Saw, pada periode ini semua problematika keagamaan, baik aqidah, fiqh atau yang lainnya diserahkan sepenuhnya kepada Rasulullah Saw. Pada masa ini semua persoalan dapat diselesaikan langsung oleh beliau dan diterima oleh semua kalangan shahabat. Sumber fiqh saat itu adalah Al-Qur’an dan Sunnah Nabi, dan ketika terpaksa berijtihad semuanya akan ditanyakan langsung kepada Rasulullah Saw.

 

Masa Khulafa’ur Rasyidin

Masa ini dimulai sejak wafatnya Nabi Saw sampai pada masa berdirinya Khilafah Bani Umayyah. pada masa shahabat muncul beberapa masalah baru yang timbul di tengah-tengah masyarakat yang belum pernah terjadi pada masa Rasulullah Saw. Dalam menyikapinya, para shahabat menggali hukum dari Al-Qur’an dan Sunnah Nabi. Sehingga ketika hukum tidak ditemukan dalam Al-Qur’an dan Sunnah Nabi, maka terjadilah perbedaan pandangan di antara mereka.

Karena sulitnya mencari konsep dalam menentukan suatu hukum dari Al-Qur’an dan Sunnah Nabi, maka, tidak semua shahabat mampu melakukannya. Sehingga dari sekian banyaknya Shahabat, hanya sekitar 130 Shababat yang mampu berijtihad dan berfatwa. Dan hanya 7 Shahabat yang menonjol fatwanya, yaitu: Aisyah, Umar bin Khatthab Ra., Ali bin Abi Tholib, Zaid bin Tsabit, Abdullah bin Mas’ud, Abdullah bin Umar dan Abdullah bin Abbas. Berarti kelahiran madzhab (baca: fiqh) dimulai dari masa shahabat dan diteruskan pada masa Tabi’in.

 

Masa Awal Pertumbuhan Fiqh Islam

Masa ini berlangsung sejak berkuasanya Mu’awiyah bin Abi Sufyan sampai sekitar awal abad ke-2 Hijriyah. Rujukan dalam menggali hukum suatu permasalahan masih tetap sama yaitu, Al-Qur’an, Sunnah Nabi dan Ijtihad para ahli fiqh. Pada masa itu kedudukan ijtihad sebagai metode penggalian hukum semakin kokoh dan diterima oleh semua komponen masyarakat sehingga munculah beberapa madzhab dalam bidang fiqh.

Jumhur al ulama sepakat mengatakan bahwa madzhab saat itu ada 13 madzhab ahlissunnah wal jama’ah yaitu :

  1. Madzhab Sufyan bin ‘Uyainah (198 H.) di Makkah
  2. Madzhab Maliki (179 H.) di Madinah
  3. Madzhab Hasan Bashri (110) di Bashrah
  4. Madzhab Abu Hanifah (80-150 H.) di Kufah
  5. Madzhab Sufyan al Tsauriy (161 H.) di Kufah
  6. Madzhab Auza’iy (157 H.) di Syam
  7. Madzhab Syafi’i (150-204 H.) di Mesir
  8. Madzhab Laits bin Sa’ad (175 H.) di Mesir
  9. Madzhab Ishaq bin Rohawaih (238 H.) di Naisabur
  10. Madzhab Abu Tsaur (240 H.) di Baghdad
  11. Madzhab Ahmad bin Hambal (241 H.) di Baghdad
  12. Madzhab Daud al Dzahiriy (270 H.) di Baghdad
  13. Madzhab Muhammad Ibnu Jarir al Thobariy (310 H.) di Baghdad

Dari sekian madzhab yang ada hanya empat yang masih eksis sampai sekarang, yaitu : Madzhab Abu Hanifah, Madzhab Maliki, Madzhab Syafi’i dan Madzhab Ahmad bin Hambal, adapun madzhab-madzhab yang lainnya masih dapat kita jumpai qoul-qoulnya dalam kitab-kitab seperti hilyah al ulama fi ma’rifah aqwal al fuqoha’ karya Imam al Qoffal, bidayah al Mujtahid karya Ibnu Rusyd, al Muhalla karya Ibnu Hazm, Rohmah al Ummah karya Abu Abdilllah Shodr al Din al Dimasyqi, Nail al Author karya al Syaukani, bahkan dalam kitab-kitab tersebut seringkali kita jumpai qoul-qoul Shahabat dan ulama-ulama tabi’in.

Kelahiran beberapa madzhab tersebut menunjukkan perkembangan hukum Islam pada masa itu. Hal ini disebabkan munculnya beberapa problem di tengah-tengah masyarakat akibat meluasnya kekuasaan Islam sehingga menuntut untuk menugaskan para ulama ke wilayah-wilayah yang telah berhasil dikuasai oleh kekhalifahan Islam. Dan masa ini dikenal dengan masa pembukuan (‘ashru al tadwin) dalam berbagai disiplin ilmu  [1].

 

 

PERKEMBANGAN FIQH ISLAM

DI PESANTREN DAN KALANGAN NU

 

Pesantren dengan sistem salafi telah membuktikan diri sebagai lembaga pendidikan yang kokoh dan mapan yang berorientasi dalam ta’lim wa ta’allum. Mampu merespon berbagai permasalahan-permasalahan aktual yang terjadi di tengah-tengah masyarakat dengan penuh tanggung jawab agar prosesnya benar-benar sistematis, terarah dan akurat.

Untuk mewujudkan cita-cita luhur tersebut, di pesantren dikaji berbagai macam kitab-kitab fiqh yang populer yang banyak didominasi oleh fiqh al Syafi’iyyah, mulai dari kitab-kitab matan seperti Fathul Qoqrib, Fathul Mu’in, Fathul Wahhab, Minhaj al Tholibin atau kitab-kitab Syarah dan Hasyiyah seperti Hasyiyah al Bujairamiy ‘ala al kothib, Hasiyah Al Jamal, I’anah al Tholibin, Mughni al Muhtaj, Raudlah al Tholibin dll. Kenyataan ini tidak berarti bahwa tradisi keilmuan pesantren terbatas pada disiplin fiqh saja, tapi juga mencakup disiplin ilmu lainnya seperti Tafsir, hadits, akidah (ushuluddin), tasawwuf, akhlaq,  sastra arab (nahwu, sharaf, balaghoh) dll. Kitab-kitab tersebut difungsikan oleh kalangan pesantren sebagai referensi nilai universal dalam mensikapi problematika kehidupan.

Keberhasilan pesantren dalam mengatur tatanan kehidupan bukan sebuah kebetulan, tapi dengan selalu mempertahankan sistem salaf juga selektif merespon dan mengadopsi kitab-kitab karya ulama-ulama mutaakhirin yang ahlissunnah wal jama’ah, semisal kitab Muhammad Al insan Al kamil,Mafahim, Manhaj Al Salaf karya Al sayid Muhammad Alawy Al maliky, Tafsir Ayatil Al ahkam,karya Dr. Aly Al shobuny, Fiqh Al siroh, Kubro Al Yaqiniyat, Al Salafiyya karya Dr. Said Romdlon Al Bouthy, Al siroh Al Nabawiyyah karya Abu al Hasan al Nadawy dll. Sejak awal keberadaan pesantren telah banyak melahirkan intelektual-intelektual Islam yang mampu menjadi rujukan umat dalam mengkaji sebuah hukum.

Tidak ketinggalan Nahdlotul Ulama (NU) sebagai Jam’iyyah sekaligus gerakan Diniyyah Islamiyyah dan Ijtima’iyyah telah menjadikan fiqh sebagai pijakan dalam memutuskan sebuah hukum, sebagimana dimaklumi, NU mempunyai forum Bahtsul Masail yang dari segi historis maupun operasionalitas merupakan forum yang dinamis, demokratis dan berwawasan luas. Hal ini tentu tidak mengherankan, sebab tokoh-tokoh Nahdlatul Ulama’ (NU) sendiri, kebanyakan adalah jebolan dari pesantren, sehingga selama mereka tidak tergerus oleh arus pemikiran liberal, mereka akan tetap berusaha untuk mengaplikasikan fiqh Islam dalam realitas kehidupan menuju kebahagiaan yang abadi.


[1].  I’lam al Muwaqqi’in, Karya: Ibnu al Qoyyim Al Jauziyyah, Tarikh al Madzahib al Islamiyah, Karya: Syaikh  Muhammad Abu Zahro

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s