SUASANA RAMADHAN 1434 H.

MALAM I RAMADHAN 1434 H.

DI RIBATH DARUSSHOHIHAIN PONDOK PESANTREN AL-ANWAR

KARANGMANGU SARANG REMBANG

                Sinar matahari menembus kaca tebal jendela sebelah selatan Mushola, lantunan suara adzan dari penjuru arah menggema menelisik setiap telinga, jam dinding menunjukkan pukul 15.30 WIS pertanda waktu sholat ashar tiba. Sedangkan para santri sedang asyik mendengarkan wejangan Syaikhina wa murabbi ruhina Muh. Najih Maimoen pada saat pengajian As-Syari’ah.

Selang beberapa waktu pengajian-pun selesai dan dikumandangkan adzan kemudian sholat berjama’ah di Mushola Ribath DH . Namun sebelum meninggalkan Mushola, Abah Najih berpesan agar para santri berziarah ke makam Simpek dan Setumbun (Nama pemakaman di desa Karangmangu) dan menitipkan salam kepada para leluhur ulama sarang, khususnya kepada Kakek dan Ibunda tercintanya, KH. Zubair Dahlan & Nyai Hj. Fahimah Maimoen. Spontan para santri melaksanakan amanat agung Sang Murabbi.

Setelah kepulangannya dari Maqbaroh,  para santri disambut dengan hidangan wolu-wolu menu opor ayam dengan minuman khasnya, es popi susu. Tak ayal, depan asrama Ribath DH menjadi tempat pertunjukan aksi-aksi unik para santri menghabiskan Nasi. aaajiiiiibbbbbI!!!

Pada saat waktu isya’ tiba, para santri silih berganti ngantri di kulah dan bersiap-siap untuk melaksakan jama’ah sholat isya’ dan tarawih/ Qiyam Ramadhan bersama Syaikhina. Para santri dengan khusu’ & khidmat melakukan ibadah tahunan itu. Setelah shalat tarawih, para santri rehat sejenak dan diteruskan dengan aktifitas ngaji masal kepada para masyayikh dan asatidz. Syaikhina wa murabbi ruhina KH. Maimoen Zubair membacakan kitab Asy-Syama’il al-Muhammadiyyah, alhamdulillah pada ramadhan kali ini, pengajian beliau diikuti lebih 3000 santri, masyaallah. atholallahu umrahu wa mattaana biulumi wa barokatihi amin.

Qiyam Ramadhan atau yang lebih masyhur dengan sebutan Sholat Tarawih adalah salah satu praktek ibadah kaum muslimin yang di-Cap bid’ah oleh musuh-musuh umat Islam, seperti sekte wahhabi dan sejenisnya. Apa mereka tidak pernah membuka mata zhahir dan batin untuk melihat dalil-dalil yang menerangkan disyari’atkannya Qiyam Ramadhan???!!! Innalillahi wa inna ilaihi raji’un.

Berikut ini ringkasan dalil-dalil perihal qiyam ramadhan dan adad raka’at-nya:

  1. Hadits yang diriwayatkan oleh Sayyidatina Aisyah jelas menerangkan bahwa Rasulullah SAW tidak pernah menambahi shalat lebih dari dua belas raka’at baik dalam bulan Ramadhan atau tidak. Imam Ibnu Hibban juga meriwayatkan hadits dalam kitab shahih­-nya dari shahabat Jabir bahwa Rasulullah SAW melakukan shalat dengan para shahabat delapan raka’at, kemudian melakukan shalat Witir.

Imam al-Baihaqi meriwayatkan hadits dari shahabat Saib bin Yazid –sanadnya shahih- seperti halnya dikutip Imam an-Nawawi dalam kitab al-Majmu’, bahwa beliau berkata: “Orang-orang pada zaman khalifah Umar bin al-Khaththab telah melakukan shalat Qiyam Ramadhan  dua puluh raka’at, dan pada zaman khalifah Utsman bin Affan mereka melakukannya dua ratus raka’at dan mereka bersandar pada tongkatnya karena lamanya berdiri”.

  1. Penduduk Makkah melakukan shalat Qiyam Ramadhan  dua puluh raka’at dengan lima kali istirahat, dan ketika istirahat mereka melakukan thawaf tujuh kali putaran.

Ketika penduduk Madinah mengetahui apa yang dilakukan penduduk Makkah dan mereka sadar mereka sulit untuk melaksanakan thawaf, maka mereka bersemangat dalam beribadah dan menambahi empat raka’at dalam setiap waktu istirahat (sedangkan penduduk Makkah mengisinya dengan thawaf). Maka jumlah shalat yang mereka kerjakan adalah tiga puluh enam raka’at, kemudian melakuan shalat witir. Dan kebiasaan seperti ini berlangsung hingga akhir masa shahabat (awal masa Tabi’in).

Diriwayatkan dari Nafi’: “Saya menemui masa dimana orang-orang muslim di kota Madinah melakukan shalat Qiyam Ramadhan tiga puluh sembilan raka’at dengan melakukan shalat Witir pada tiga raka’at terakhir”.

Muhammad bin Nasr meriwayatkan hadits dari riwayat Daud bin Qois, bahwa beliau berkata: “Saya menemui masa dimana orang-orang muslim melakukan shalat Qiyam Ramadhan tiga puluh enam raka’at, dan itu terjadi pada waktu Aban bin Utsman menjadi gubernur.

Penambahan raka’at ini bukanlah dari sunnah Rasulullah SAW dan juga bukan perintah dari Umar bin al-Khaththab, namun itu adalah fenomena yang terjadi di kalangan penduduk Madinah, dan para shahabat pada waktu itu tidak mengingkarinya.

  1. Umat Islam melakukan shalat Qiyam Ramadhan secara berjama’ah dalam satu masjid dan mereka semua adalah para shahabat Nabi atau sebagian besarnya, setidaknya seperti fenomena yang terjadi pada masa kepemimpinan khalifah Umar bin al-Khaththab yang tercatat dalam hadits riwayat Imam al-Bukhari: “Umat muslim melakukan shalat Qiyam Ramadhan dalam kelompok yang terpisah-pisah. Ada seorang yang shalat sendiri dan ada juga yang shalat berjamaah dengan satu golongan”. Dan mereka mengerti sabda Rasulullah SAW tentang shalat Qiyam Ramadhan “Wahai umat muslim! Lakukanlah shalat (Qiyam Ramadhan) di rumah kalian masing-masing!”. Lalu apakah shalat yang dikerjakan oleh para shahabat di dalam masjid itu dikatakan bid’ah yang sesat??? (jika setiap bid’ah adalah kesesatan), atau mungkin para shahabat telah paham tentang makna yang dikehendaki dari bid’ah dalam sabda Nabi SAW “Setiap bid’ah adalah kesesatan”!!!
  2. Inisiatif Umar bin al-khaththab agar seluruh umat muslim dikumpulkan menjadi satu jamaah di bawah kepemimpinan Imam tunggal. Beliau memandang bahwa demikian itu lebih baik daripada mereka melakukan shalat sendiri-sendiri. Ketika melihat umat muslim berkumpul dalam satu jamaah, beliau berkata “Ini adalah bid’ah yang paling baik”. Dan persetujuan para shahabat yang meliputi senior-seniornya, seperti Utsman bin Affan, Ali bin Abi Thalib, dan lain-lain dari sepuluh orang yang dijamin masuk Surga, dan shahabat yang ahli fiqh. Tidak ada satupun dari mereka yang mengingkari terhadap inisiatif tersebut, bahkan mereka mengikutinya. Fenomena ini telah menjadi tradisi umat Islam mulai zaman Umar bin al-khaththab sampai sekarang.
  3. Umat Islam pada zaman Umar bin Khaththab melakukan shalat Qiyam Ramadhan dua puluh raka’at yang sebelumnya diperintahkan Umar bin Khaththab untuk melakukannya sebelas raka’at, seperti yang diterangkan Imam Malik dalam kitabnya Al-Muwaththo’: “Diriwayatkan dari Muhammad bin Yusuf bahwa beliau berkata: Umar bin Khaththab memerintahkan kepada Ubay bin Ka’ab dan Tamim ad-Dari agar menjadi Imam umat muslim dalam melakukan shalat Qiyam Ramadhan sebanyak sebelas raka’at, padahal sebelumnya umat muslim melakukan shalat Qiyam Ramadhan sebelas raka’at. Namun setelah itu mereka disuruh untuk melakukannya dua puluh raka’at”. Apakah penambahan raka’at tersebut dianggap bid’ah?, dan apabila hal itu termasuk bid’ah, kenapa tidak ada protes atau pengingkaran dari para shahabat yang lain?. Kami mengakui bahwa hal tersebut adalah bid’ah muhdatsah (suatu hal baru), namun apakah itu termasuk kategori bid’ah dholalah (bid’ah yang sesat) atau justru sebaliknya (sebaik-baiknya bid’ah)?!!
  4. Kegiatan yang dilakukan penduduk Madinah, yaitu menambahi raka’at shalat Qiyam Ramadhan sampai tiga puluh enam raka’at dalam rangka berlomba dengan penduduk Makkah dalam memperbanyak amal kebaikan pada bulan suci Ramadhan. Penambahan ini berlangsung pada masa Umar bin Khaththab atau masa Utsman bin Affan, dan tidak ada pengingkaran dari shahabat lain, dan telah berlangsung dalam waktu yang cukup lama. Imam Malik menukil bahwa shalat Qiyam Ramadhan untuk penduduk kota Madinah adalah tiga puluh enam raka’at kemudian ditambahi shalat Witir.

KESIMPULAN DALIL

Sesungguhnya setiap orang yang hanya memahami keumuman hadits “Setiap bid’ah itu sesat”, mereka tidak merasa kalau mereka sudah menuduh generasi awal Islam telah melakukan bid’ah, padahal pada masa-masa itu terdapat Khulafaur Rasyidin. Dan sudah menjadi kewajiban bagi mereka untuk meninggalkan pola berpikir seperti itu dan kembali kepada kebenaran yang sudah ditetapkan oleh para ulama ahli tahqiq yang dulu pernah dilakukan oleh Umar al-Faruq. Mereka juga harus mempelajari kembali konsep dasar tentang tata cara meneliti dan mengkaji nash-nash al-Qur’an dan al-hadits yang telah digariskan oleh para pakar ulama ushul, yaitu, “Setiap nash yang maknanya umum harus ada pengkhususan”. Adalah kesalahan besar dan fatal jika memahami nash-nash al-Qur’an dan Hadits hanya berdasarkan arti umumnya saja, tanpa memandang nash-nash lain yang berkaitan dengannya. Karena dalam memahami sebuah nash harus ada perbandingan seluruh nash-nash al-Qur’an dan Hadits lain yang saling berkaitan.

Satu contoh: Hadits yang diriwayatkan oleh al-Bazzar dari al-Walid bin Sari’ bahwa dia berkata: “Pada suatu hari raya, kami keluar bersama Amirul Mu’minin Ali bin Abi Thalib RA. Lalu beberapa orang dari shahabat beliau menanyakan tentang hukum melakukan shalat sunnah sebelum Shalat ‘Id dan sesudahnya. Tetapi beliau tidak menjawabnya. Lalu datang lagi beberapa orang yang menanyakan hal yang sama pada beliau dan beliau pun tidak menjawabnya. Setelah kami tiba di tempat shalat, beliau menjadi imam shalat dan bertakbir tujuh kali dan lima kali. Kemudian diteruskan dengan khutbah. Setelah turun dari mimbar, beliau menaiki kendaraannya. Kemudian mereka bertanya; “Hai Amirul Mu’minin mereka melakukan shalat sunnah sesudah shalat ‘id! Beliau menjawab: “Apa yang akan aku lakukan? Kalian bertanya kepadaku tentang sunnah, sesungguhnya Nabi SAW belum pernah melakukan shalat sunnah sebelum shalat ‘id dan sesudahnya. Tetapi siapa saja yang mau melakukan, lakukanlah dan siapa yang mau meninggalkan, tinggalkanlah. Aku tidak akan menghalangi orang yang mau shalat, agar tidak termasuk “orang yang melarang seorang hamba ketika dia mengerjakan shalat”. Hadits ini shahih menurut  riwayat Ibnu Hibban karena beliau telah meriwayatkannya dari rawi-rawi tsiqoh, dan Hadits ini juga diriwayatkan Abdul Rozaq as-Shan’ani dalam kitab al-Mushannaf, dan di akhir kitab beliau menambahkan riwayat lain: “Aku tidak suka jika disamakan dengan orang yang melarang hamba yang hendak melakukan shalat!!!.

Dengan ringkasan ini, dapat kita simpulkan bahwa sesungguhnya yang dimaksud dengan bid’ah dholalah (bid’ah yang sesat) adalah setiap bid’ah yang diajarkan dan bertentangan dengan syariat Islam, atau melawan nash-nash al-Qur’an dan Hadits, atau telah keluar dari syari’at Islam. Dengan demikian, pernyataan Umar bin al-Khaththab “Sebaik-baik bid’ah adalah ini” dengan memakai shighot memuji itu menjadi bukti kongkret bahwa inisiatif beliau memang berlandaskan syari’at. Walaupun jika dipandang dari segi bahasa hal itu termasuk bid’ah, namun bukan bid’ah yang dimaksudkan dalam hadits tersebut.

By: B@#!r

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s