FATWA-FATWA NYLENEH HTI

Demikianlah fatwa-fatwa Hizbut Tahrir yang bernuansa liberal dan menebarkan dekadensi moral serta menyesatkan umat Islam. Na’udzubillahi min dzalik…

Fatwa Nyleneh
1. Hizbut Tahrir mengajak kepada perbuatan-perbuatan hina, mendustakan Rasulullah SAW dan menghalalkan yang haram, di antaranya perkataan mereka tentang kebolehan ciuman laki-laki terhadap perempuan yang ajnabi ketika saat perpisahan atau datang dari suatu perjalanan, menyentuh, berjalan untuk berbuat maksiat dan lainnya.
Demikian ini mereka fatwakan dalam bentuk buletin yang mereka sebarkan di Tripoli, Libya pada tanggal 8 Muharram 1390 H dengan redaksi:
وَمَنْ قَبَّلَ قَادِمًا مِنْ سَفَرٍ رَجُلاً كَانَ أَوِ امْرَأَةً أَوْ صَافَحَ آخَر رَجُلاً كَانَ أَوِ امْرَأَةً وَلَمْ يَقُمْ بِهذَا العَمَلِ مِنْ أَجْلِ الوُصُوْلِ إِلىَ الزِّنَا أَوِ اللِّوَاطِ فَإِنَّ هذَا التَّقْبِيْلَ لَيْسَ مُحَرَّمًا وَلِذلِكَ كَانَا حَلَالَيْنِ. [منشور جواب وسؤال بتاريخ 8 محرم 1390 هـ]
“Barang siapa mencium orang yang tiba dari perjalanan, laki-laki atau perempuan atau berjabatan tangan dengan laki-laki atau perempuan dan dia melakukan itu bukan untuk berzina atau liwath maka ciuman tersebut tidaklah haram, karenanya baik ciuman maupun jabatan tangan tersebut boleh.” (Buletin Hizbut Tahrir edisi 8/1/1390 H)
Dan juga dalam selebaran tanya jawab Hizbut Tahrir pada tanggal 20 Shafar 1390 H mengeluarkan fatwa yang sama. Naskah aslinya bisa dilihat pada buku Hizbut Tahrir dalam Sorotan karya Ust. Muhamad Idrus Ramli.
2. Dalam kitab an Nidzam al Ijtima’i fil Islam Taqiyuddin an Nabhani melegalkan berjabat tangan antara lelaki dan perempuan ajnabi (bukan istri dan bukan mahrom) dengan mengatakan:
يَجُوْزُ لِلرَّجُلِ أَنْ يُصَافِحَ اْلمَرْأَةَ وَلِلْمَرْأَةِ أَنْ تُصَافِحَ الرَّجُلَ دُوْنَ حَائِلٍ بَيْنَهُمَا. [النظام الاجتماعي في الإسلام ص 57]
“Bagi orang laki-laki boleh berjabat tangan dengan orang perempuan dan sebaliknya orang perempuan boleh berjabat tangan dengan orang laki-laki tanpa menggunakan hail (penghalang).” (an Nidzam al Ijtima’i fil Islam hal 57)
Mereka mengatakan bahwa kebolehan laki-laki menjabat tangan perempuan ajnabi dengan dalih bahwa Rasulullah SAW berjabatan tangan dengan perempuan dengan dalil hadits Ummi ‘Athiyyah ketika melakukan bai’at yang diriwayatkan al Bukhari, beliau berkata:
فَقَبَضَتْ امْرَأَةٌ مِنَّا يَدَهَا
“Salah seorang di antara kita (perempuan-perempuan) menggenggam tangannya.”
Dengan hadits ini mereka menyatakan bahwa ada sebagian perempuan yang tidak menggenggam tangannya, bersalaman dengan Kanjeng Nabi SAW. Sementara Ahlussunnah menyatakan, dalam hadits ini tidak ada penyebutan bahwa perempuan yang lain menjabat tangan Kanjeng Nabi SAW. Jadi, yang dikatakan oleh Hizbut Tahrir merupakan kesalahpahaman dan kebohongan terhadap Rasulullah SAW.
Hadits ini bukanlah nash yang menjelaskan hukum bersentuhnya kulit dengan kulit. Namun, sebaliknya hadits ini menegaskan bahwa para wanita saat membaiat mereka memberi isyarat tanpa ada sentuh-menyentuh, sebagaimana dikuatkan oleh Hadits Imam al Bukhari di bab yang sama melalui riwayat Ummi ‘Athiyyah dari Sayyidah Aisyah RA, beliau mengatakan:
كَانَ النَّبِـيُّ يُبَايِعُ النِّسَاءَ بِالْكَلاَمِ
“Nabi SAW membaiat para wanita dengan berbicara” (HR. Imam al Bukhari)
Sayyidah Aisyah RA juga mengatakan:
لاَ وَالله مَا مَسَّتْ يَدُهُ يَدَ امْرَأَةٍ قَطُّ فِي الْمُبَايَعَةِ، مَا يُبَايِعُهُنَّ إِلاَّ بِقَوْلِهِ قَدْ بَايَعْتُكَ عَلَى ذَلِكَ.
“Tidak, demi Allah tidak pernah sekalipun tangan Nabi menyentuh tangan seorang perempuan ketika baiat, beliau tidak membaiat para wanita kecuali hanya dengan mengatakan: aku telah menerima baiat kalian atas hal-hal tersebut” (HR. Imam al Bukhari)
Sedangkan dalil keharaman jabat tangan laki-laki dan perempuan ajnabi ialah hadits berikut:
وَالْيَدُ زِنَاهَا البَطْشُ.
“Zina tangan ialah menyentuh.”
dan dalam riwayat Imam Ahmad dan Ibnu Hibban dengan redaksi:
وَالْيَدُ زِنَاهَا اللَّمْسُ
“Zina tangan ialah menyentuh.”
Juga diperkuat oleh Hadits Imam ath-Thobaroni dalam al Mu’jam al Kabir berikut:
عَنْ مَعْقِل بنِ يَسَار قَالَ: قَالَ رَسُوْلُ الله صلى الله عليه و سلم: لَأَنْ يُطْعَنَ فِي رَأْسِ رَجُلٍ بِمِخْيَطٍ مِنْ حَدِيْدٍ خَيْرٌ لَهُ مِنْ أَنْ يَمَسَّ امْرَأَةً لاَ تَحِلُّ لَهُ. [المعجم الكبير للطبراني]
“Dari Ma’qil bin Yasar, beliau berkata: Rasulullah SAW bersabda: semestinya ditusuk pada bagian kepala seseorang dengan jarum dari besi itu lebih baik baginya daripada menyentuh perempuan yang tidak halal baginya.” (HR. Imam ath-Thobaroni)
Sementara hadits tersebut diklaim Hizbut Tahrir tidak bisa dibuat hujjah karena termasuk hadits Ahad yang menurut mereka tidak dapat dijadikan hujjah dalam beristidlal. Inilah kedangkalan paradigma berfikir mereka dalam berpendapat.
Hukum halalnya bersalaman dengan ajnabiyah ini ternyata juga tidak dipungkiri oleh Syabab HTI sendiri. Mereka menjustifikasi fatwa sesat dan bejat ini dengan argument yang ditulis oleh Syaikh Wahbah az Zuhaili dalam kitab al Fiqhu al Islami wa Adillatuhu sebagai berikut:
وَتَحْرُمُ مُصَافَحَةُ الْمَرْأَةِ، لِقَوْلِهِ صلّى الله عَلَيْه وسلَّم: إِنِّي لاَ أُصَافِحُ النِّسَاءَ، لكِنَّ الْجُمْهُوْر غَيْرَ الشَّافِعِيَّة أَجَازُوا مُصَافَحَةَ العَجُوْز الَّتِي لاَ تُشْتَهَى، وَمَسَّ يَدِها، لِانْعِدَام خَوْفِ اْلفِتْنَة. [الفقه الإسلامي وأدلته ج 3 ص 567 ]
Dan haram bersalaman dengan wanita ajnabiyah, karena sabda Nabi Muhammad SAW: “Sesungguhnya aku tidak bersalaman dengan kaum wanita”. Akan tetapi mayoritas ulama selain madzhab syafi’iyah membolehkan bersalaman dengan wanita tua yang tidak disyahwati dan menyentuh tangannya, karena tidak adanya kekhawatiran timbulnya fitnah.
Di sini, Syaikh Wahbah memberi kesimpulan bahwa pada dasarnya hukum bersalaman dengan wanita ajnabiyah ialah haram. Akan tetapi, mayoritas ulama selain madzhab syafi’i mendispensasi bersalaman dengan ajnabiyah dengan dua syarat yang harus dipenuhi. Yaitu, wanita tersebut sudah tua dan tidak disyahwati. Kesimpulan seperti ini, berbeda dengan ‘fatwa’ an Nabhani yang memperbolehkannya secara muthlak tanpa syarat sama sekali. Keberadaan kedua syarat ini lah yang tidak dipahami secara teliti oleh syabab HTI yang mentransmisi dengan fanatik buta pendapat pentolan mereka, an Nabhani tanpa kritik-konstruktif.
3. Hizbut Tahrir menyatakan bahwa larangan melihat aurat sesama laki-laki atau sesama perempuan terbatas pada aurat utama yaitu dua kemaluan saja. Seperti fatwa mereka dalam kitab Qiro’at fi Fikri Hizbit Tahrir al Islami sebagai berikut:
اَلْمُرَادُ فِي النَّهْيِ عَنْ نَظْرِ الرَّجُلِ إِلَى عَوْرَةِ الرَّجُلِ وَاْلمَرْأَةِ إِلَى عَوْرَةِ اْلمَرْأَةِ. اَلْمُرَادُ مِنْهُ العَوْرَةُ المُغَلَّظَةُ أي السَّوْأَتَيْنِ وَهُمَا القُبُل والدُّبُرُ وَليْسَ مُطْلَقَ اْلعَوْرَةِ. [قراءة في فكر حزب التحرير الإسلامي ص 107]
“yang dimaksud dengan larangan laki-laki melihat aurat laki-laki, dan perempuan melihat aurat perempuan, maksudnya adalah aurat besar yaitu dua kemaluan, jalan depan dan jalan belakang, dan bukan aurat secara muthlak.”
Begitu juga, mereka memperbolehkan seorang laki-laki melihat aurat mahramnya dalam keadaan telanjang, baik dalam keadaan darurat atau tidak. Fatwa ini bisa dilihat pada selebaran Hizbut Tahrir, tanggal 7 Rabi’ul Awwal 1390 H/12 Mei 1970 M.
Mereka juga memperbolehkan bekerja sama dengan agen negara kafir untuk menghancurkan negara Islam. Naskah asli fatwa ini bisa dilihat dalam buku Hizbut Tahrir dalam Sorotan karya Ust. Muhammad Idrus Ramli.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s